Isolasi dan identifikasi bakteri termofilik dari sumber

advertisement
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5
1
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI
TERMOFILIK DARI SUMBER MATA AIR
PANAS DI SONGGORITI SETELAH DUA
HARI INKUBASI
Maria Yuli Endah Pratita, Surya Rosa Putra*
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
(*) Dosen Pembimbing
E-mail: [email protected]
Abstrak— Isolasi dan identifikasi bakteri termofilik
dari sumber mata air panas Songgoriti, Malang telah dilakukan
di Laboratorium Kimia Mikroorganisme. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui bakteri-bakteri termofilik yang
terdapat di sumber mata air panas Songgoriti dan mencari
bakteri termofilik yang berpotensial untuk dikembangkan secara
aplikatif. Bakteri termofilik yang diisolasi setelah inkubasi hari
kedua, diberi nama isolat A,B, C dan D. Bakteri A,B dan D
merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang sedangkan
bakteri C merupakan bakteri Gram positif berbentuk batang.
Identifikasi bakteri ditentukan dengan berbagai uji, yaitu: uji
oksidasi, uji fermentasi glukosa, dan uji Na+. Menurut morfologi
dan fisiologinya, isolat A, B dan D merupakan bakteri yang
berasal dari genus Vibrio sp sedangkan isolat C merupakan
bakteri dari genus Bacillus sp.
Kata kunci: Bacillus sp, bakteri termofilik, sumber mata
air panas, Vibrio sp,
I. PENDAHULUAN
merupakan negara yang memiliki keadaan
Indonesia
geografis yang sangat dimungkinkan mengandung
bakteri-bakteri termofilik karena Indonesia memiliki banyak
gunung berapi serta sumber air panas. Beberapa bakteri
termofilik berhasil diisolasi dari berbagai sumber air panas di
Indonesia antara lain bakteri termofil sumber mata air panas di
Pacet (8 genus bakteri antara lain Thermus sp, Acetogenium
sp,
Bacillus
sp,
Thermodesulfobacterium
sp,
Thermomicobrium sp, Thermotrix sp, Pseudomonas sp, dan
Sulfobacillus sp) (Asnawi, 2006). Selain itu, mikroorganisme
termofilik juga berhasil diisolasi dari sumber air panas Danau
Ranau Sumatera Selatan dan didapat dua isolat yang
merupakan genus Bacillus sp (Muharni, 2010). Bakteri
termofilik juga ditemukan dari sumur minyak bumi Jatibarang.
Isolat-isolat tersebut hidup dalam kondisi oksigen yang relatif
sedikit dengan suhu 40-90 °C. Isolat-isolat tersebut diinkubasi
pada suhu 45 °C dan didapatkan 12 isolat. Beberapa bakteri
mampu hidup dengan suhu di atas 55 °C. Isolat tersebut
diidentifikasi sebagai Pseudomonas aeruginosa , P. putida ,
P. diminuta , Bacillus circulans dan Geobacillus
stearothermophilus (Mustafa, 2006).
Mikroorganisme termofilik memiliki kemampuan bertahan
pada suhu tinggi karena adanya enzim termostabil (Brock,
1978). Selain itu, protein yang terdapat pada sel
mikroorganisme termofilik memiliki ikatan hidrofobik dan
ikatan ionik yang sangat kuat. Komposisi membran sel pada
bakteri termofilik tersusun oleh asam lemak jenuh sehingga
dapat bersifat stabil pada suhu tinggi (Lasa & Berenguer,
1993).
Bakteri termofilik dapat dimanfaatkan dalam bidang
bioteknologi karena memiliki efisiensi dalam keadaan suhu
tinggi. Semakin tinggi temperatur maka semakin tinggi pula
laju difusi. Selain itu, enzim pada bakteri termofilik juga
mampu mengakatalisis reaksi biokimia pada suhu tinggi dan
umumnya lebih stabil dari bakteri mesofilik. Enzim yang
terdapat pada bakteri termofilik juga dapat dimanfaatkan pada
industri antara lain enzim amylase, selulase, xilanase, kitinase
dan protease (Brock, 1986). Protease dapat digunakan untuk
beberapa aplikasi seperti detergen, farmasi, pengempukan
daging dan proses pengolahan limbah industri (Nascimento &
Martin, 2006).
Mikroorganisme termofilik di Indonesia banyak
ditemukan di sumber air panas atau di daerah gunung berapi
sehingga mikroorganisme tersebut biasanya hidup pada pH
asam dan hidup pada daerah yang banyak mengandung
belerang.
Penelitian mengenai bakteri termofilik dari Sumber Mata
Air Panas Songgoriti belum banyak dilakukan. Selain itu,
penelitian ini dilakukan karena daerah tersebut memiliki
struktur batuan andesit dan basal yang menyebabkan adanya
aktivitas geotermal yang cukup besar sehingga dimungkinan
adanya bakteri termofilik . Penelitian ini dilakukan dengan
cara mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri termofilik dari
sumber air panas Songgoriti hingga diketahui genus dari isolat
bakteri tersebut. Isolat bakteri tersebut diidentifikasi dengan
menggunakan metode yang terdapat pada second edition of
Bergeys Manual. Identifikasi bakteri dilakukan melalui
pengamatan mikroskopis dengan metode pewarnaan gram, uji
oksidasi, uji fermentasi glukosa, uji Na+ , pewarnaan spora
dan uji strict anaerob.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5
2
ditandaidengan munculnya warna merah muda. Uji diulang
untuk isolat bakteri B dan D
II. METODE PENELITIAN
2.1 Pengambilan Sampel Air Panas
Pengambilan sampel dilakukan di sumber air panas
Songgoriti. Pengukuran parameter fisika dan kimia dilakukan
terlebih dahulu sebelum sampel air diambil. Parameter yang
diamati adalah suhu dan pH. Parameter suhu diukur
menggunakan thermometer yang dimasukkan ke dalam air dan
dibiarkan selama 1 menit. Parameter suhu dilakukan
menggunakan kertas pH meter yang dicelupkan di permukaan
air. Sampel air diambil dari kolam pada kedalaman 50 cm dari
permukaan air lalu dimasukkan ke dalam termos. Sampel air
tersebut lalu dibawa ke Laboratorium Kimia Mikroorganisme
Jurusan kimia ITS supaya dapat dilakukan isolasi.
2.2 Isolasi dan Pemurnian Bakteri
Sampel air diambil sebanyak 100µL dan ditambahkan ke
dalam 10 ml media thermos broth. Setelah itu larutan tersebut
diinkubasi selama 2 hari di dalam oven dengan suhu 55 °C.
Setelah diinkubasi, media tersebut diambil sebanyak 10 µL
dan dilakukan pengenceran hingga 10-12. Hasil pengenceran
tersebut lalu diambil 10 µL dan dipindahkan ke media agar
lalu diratakan dengan menggunakan stik L. Setelah itu
dilakukan inkubasi selama 1 hari. Setelah itu koloni bakteri
yang nampak dipindahkan ke media agar yang telah steril.
Isolat Bakteri tersebut diberi nama A, B, C dan D.
2.3 Identifikasi dan Karakterisasi Isolat Bakteri
2.3.1 Pewarnaan Gram
Isolat bakteri A diambil 1 ose dan digores-goreskan
pada permukaan preparat steril kemudian dilakukan fiksasi.
Kristal violet sebanyak 1 tetes ditambahkan ke permukaan
preparat yang terdapat lapisan bakteri tersebut dan didiamkan
selama 1 menit. Setelah 1 menit, preparat dibilas dengan air
sampai zat warna luntur. Preparat dikeringkan di atas api
spiritus. Setelah kering, larutan iod sebanyak 1 tetes
ditambahkan ke permukaan preparat tersebut dan didiamkan
selama 1 menit. Setelah 1 menit, preparat dibilas dengan air.
Preparat dibilas dengan alkohol 96% sampai semua zat warna
luntur kemudian dicuci dengan air. Preparat dikeringkan di
atas api spiritus. Setelah kering, safranin sebanyak 1 tetes
ditambahkan ke permukaan preparat dan didiamkan selama 45
detik. Preparat dicuci dengan air dan dikeringkan. Preparat
diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 1000x.
Pewarnaan diulang untuk isolat bakteri B, C dan D.
2.3.2 Uji Oksidasi
Reagen oksidasi, yaitu N,N,N,N-tetrametil-pfenildiamin (TMPD) dituang pada kertas saring. Isolat bakteri
A diambil dan digoreskan pada kertas saring tersebut.
Pengambilan isolat bakteri tidak boleh menggunakan alat yang
berasal dari logam (harus dari kayu atau plastik). Reaksi
ditunggu selama 30 detik. Hasil positif ditandai dengan
munculnya warna ungu, sedangkan hasil negatif
2.3.3 Uji Fermentasi Glukosa
Isolat bakteri A diambil 1 ose dan dimasukkan ke
dalam media Phenol red broth glucose lalu diaduk. Media
yang telah berisi isolat, diinkubasi selama 2 hari. Perubahan
warna yang terjadi diamati. Warna merah mengindikasikan
tidak adanya asam, sedangkan warna kuning mengindikasikan
adanya asam. Uji diulang untuk isolat bakteri B dan D
2.3.4 Uji Na+
Isolat bakteri A diambil 1 ose dan digoreskan ke
dalam tabung reaksi yang berisi media uji Na+ kemudian
diinkubasi 1 hari. Hasil positif ditandai dengan adanya
pertumbuhan bakteri pada media Na+, sedangkan hasil negatif
ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan bakteri. Uji
diulang untuk isolat bakteri B dan D
2.3.5 Pewarnaan Endospora
Pewarnaan spora dilakukan untuk isolat bakteri C. Isolat
bakteri c diambil sebanyak 1 ose dan digoreskan pada
permukaan preparat steril kemudian dilakukan fiksasi.
Preparat yang telah diberi bakteri tersebut lalu dibungkus
dengan menggunakan kertas saring lalu ditetesi malachite
green sebanyak 1 tetes dan didiamkan selama 4 menit. Setelah
itu kertas saring dilepaskan dan preparat dibilas dengan air
mengalir. Setelah itu preparat dikeringkan di atas api spiritus.
Setelah preparat kering, safranin sebanyak 1 tetes
ditambahkan ke permukaan preparat. Preparat tersebut
kemudian didiamkan selama 5 menit. Preparat kemudian
diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 1000x.
2.3.6 Uji Strict Anaerob
Isolat C diinokulasi pada media Thioglycollate agar yang
telah dipanaskan pada suhu 50°C selama beberapa menit lalu
dihomogenkan. Tabung tersebut kemudian diinkubasi selama
2-3 hari pada suhu 37°C.
III. HASIL DAN DISKUSI
3.1 Karakteristik Sampel Air
Sampel air diperoleh dari sumber mata air Songgoriti
dengan pH 5,5 dan suhu 50 °C. Bakteri yang dapat hidup pada
suhu 50 °C merupakan jenis bakteri termofilik. Bakteri
termofilik adalah bakteri yang dapat hidup pada suhu antara
40-70 °C. Pada suhu diatas 50 °C , oksigen masih dapat
terlarut dengan baik sehingga kemungkinan besar bakteri di
dalamnya merupakan bakteri aerob. pH 5,5 menunjukkan
bahwa sampel air panas tersebut bersifat asam tetapi
kandungan sulfur pada daerah tersebut tidak melimpah.
Kandungan sulfur yang melimpah dapat ditunjukkan dengan
air yang bersifat sangat asam yaitu air yang memiliki pH
antara 1-2(Edwards,1990).
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5
3.2 Karakterisasi Bakteri Termofilik Setelah Hari Kedua
Inkubasi
Pada inkubasi hari pertama didapatkan 4 koloni bakteri
sedangkan pada inkubasi hari ke-2 diperoleh 94 koloni dan
dipilih 4 koloni. Inkubasi dilakukan dan pemurnian bakteri
dilakukan pada media padat NA. Isolat yang diperoleh pada
hari pertama diberi nama isolat S1, S2, S3, dan S4 sedangkan
isolat yang diperoleh pada hari kedua inkubasi diberi nama
isolat A, B, C, dan D. Identifikasi dan karakterisasi dilakukan
berdasarkan metode dari referensi second edition of Bergeys
Manual. Isolat-isolat yang ada ditentukan morfologinya
terlebih dahulu untuk membantu uji kimia yang dilakukan
selanjutnya. Uji biokimia yang dilakukan dapat ditentukan
dari jenis morfologi dari isolat-isolat tersebut.
3.2.1 Pewarnaan Gram
Pewarnaan Gram dilakukan untuk mengelompokkan
bakteri menjadi 2 yaitu bakteri Gram positif dan bakteri Gram
negatif. Pada pewarnaan Gram, hasil yang didapat akan
ditentukan dari komposisi dinding sel pada bakteri. Pada
pewarnaan Gram ini, reagen yang digunakan ada 4 jenis, yaitu
kristal violet, iodin, alkohol dan safranin. Bakteri Gram positif
akan mempertahankan warna ungu dari kristal violet sehingga
ketika diamati dengan mikroskop akan menunjukkan warna
ungu sedangkan bakteri Gram negatif tidak dapat
mempertahankan warna ungu dari Kristal violet tetapi zat
warna safranin dapat terserap pada dinding sel sehingga pada
saat dilihat menggunakan mikroskop akan memperlihatkan
warna merah.Hasil pewarnaan Gram dapat digunakan untuk
mengetahui bentuk morfologi dari keempat jenis isolat yaitu
warna dan bentuk sel bakteri tersebut. Berdasarkan referensi
second edition of Bergeys Manual, uji biokimia untuk Gram
negatif adalah uji oksidasi sedangkan untuk Gram positif
dapat dilakukan pewarnaan endospora.
Hasil dari pewarnaan Gram isolat A, B, C dan D dapat
dilihat pada gambar 4.1.
A
B
D
C
Gambar 4.1 Hasl pewarnaan Gram Isolat A, B, C dan D
Hasil pewarnaan Gram untuk isolat A,B dan D
menunjukkan bentuk sel batang (bacill) berwarna merah. Dari
hasil tersebut dapat diketahui bahwa isolat A merupakan
bakteri Gram negatif.
3
Hasil pewarnaan gram untuk isolat C menunjukkan
bentuk sel batang (bacill) berwarna ungu. Dari hasil tersebut
dapat diketahui bahwa isolat C merupakan bakteri Gram
positif.
Setelah mengetahui Gram dari isolat-isolat A, B, C dan D
maka dilakukan uji oksidasi untuk isolat bakteri Gram negatif
dan pewarnaan spora untuk isolat bakteri Gram positif. Uji
oksidasi dan pewarnaan endospora dilakukan untuk
mendapatkan genus yang lebih spesifik dari isolat-isolat
tersebut.
3.2.2 Uji Oksidasi
Uji oksidasi digunakan ini untuk mengetahui bakteri yang
menghasilkan enzim sitokrom oksidase. Pada uji oksidasi ini
digunakan
reagen
berupa
N,N,N,N-tetramethyl-pphenylenediamine (TMPD). Reagen tersebut merupakan
indikator redoks dalam mengukur aktivitas enzim sitokrom
oksidase yang terjadi pada bakteri. Enzim sitokrom oksidase
merupakn enzim kompleks yang berperan dalam fosforilasi
oksidatif.
Hasil pada isolat bakteri A menunjukkan hasil positif
untuk uji ini dengan timbulnya warna ungu setelah
direaksikan dengan reagen ini. Hal tersebut menunjukkan
bahwa bakteri tersebut merupakan bakteri aerob yang
memiliki enzim sitokrom c oksidase. Menurut buku panduan
second edition of Bergeys Manual , kemungkinan isolat
berasal dari kelompok bakteri Aeromonas sp, Pseudomonas sp
dan Vibrio sp.
Hasil pada isolat bakteri B dan D juga menunjukkan hasil
positif untuk uji oksidasi yang ditandai dengan timbulnya
warna ungu setelah direaksikan reagen TMPD. Isolat bakteri
tersebut merupakan bakteri aerob yang juga memiliki enzim
sitokrom c oksidase. Isolat bakteri B juga merupakan isolat
bakteri yang berasal dari dari kelompok bakteri Aeromonas
sp, Pseudomonas sp dan Vibrio sp.
Uji biokimia untuk isolat A, B dan D adalah uji
fermentasi glukosa untuk mengelompokkan bakteri menjadi
kelompok yang lebih kecil yaitu Aeromonas sp dan Vibrio sp.
3.2.3 Uji Fermentasi Glukosa
Uji fermentasi glukosa digunakan untuk mengetahui
apakah isolat bakteri tersebut dapat melakukan fermentasi
glukosa. Perubahan warna yang terjadi pada media
menunjukkan adanya asam sebagai hasil dari proses
fermentasi glukosa. Pada saat fermentasi, hanya bakteri yang
bersifat aerob fakultatif yang dapat melakukan fermentasi
glukosa sedangkan bakteri yang bersifat aerob obligat tidak
dapat melakukan proses fermentasi glukosa ini.
Hasil pada isolat bakteri A, B dan D menunjukkan bahwa
isolat dapat melakukan fermentasi glukosa ditunjukkan
dengan adanya perubahan warna pada media dari warna
merah menjadi kuning. Kemungkinan genus untuk isolat C
berasal dari kelompok bakteri Vibrio sp dan Aeromonas sp.
Pada hari kedua inkubasi dapat dilihat bahwa isolat A,B
dan D merupakan bakteri aerob fakultatif yang mampu
memfermentasikan glukosa menjadi asam piruvat.
Uji berikutnya untuk isolat A, B dan D adalah uji Na+
yang dilakukan untuk mendapatkan genus dari isolat bakteri
A, B dan D.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5
4.3.4 Uji Na+
Uji Na+ dilakukan untuk membedakan antara kelompok
bakteri Vibrio sp dan Aeromonas sp. Kelompok bakteri Vibrio
sp merupakan kelompok bakteri halotoleran yang akan
mampu bertahan pada lingkungan yang memiliki kadar
mineral yang tinggi.Uji Na+ dilakukan untuk membedakan
antara kelompok bakteri Vibrio sp dan Aeromonas sp.
Hasil pada isolat bakteri A, B dan D menunjukkan bahwa
bakteri tersebut positif terhadap uji Na+ dengan adanya
pertumbuhan bakteri pada media yang mengandung 6% NaCl.
Berdasarkan hasil uji-uji biokimia tersebut, isolat A, B dan D
merupakan bakteri dari genus Vibrio sp.
Kelompok bakteri Vibrio sp merupakan bakteri yang
dapat hidup pada lingkungan yang memiliki kadar mineral
yang cukup tinggi. Pada bakteri Vibrio sp terdapat kandungan
KCl yang memampukan bakteri tersebut dapat bertahan hidup
dari tekanan osmosis. Kelompok bakteri Vibrio biasa
ditemukan pada daerah yang memiliki kadar Na+ yang cukup
tinggi seperti air laut dan pegunungan. Hal tersebut yang
memungkinkan bakteri Vibrio ditemukan di lingkungan
Songgoriti.
4.3.5 Pewarnaan Endospora
Bakteri C merupakan bakteri gram positif. Menurut
second edition of Bergeys Manual untuk mengetahui genus
dari bakteri gram positif tersebut harus dilakukan pewarnaan
endospora.
Pada pewarnaan endospora, reagen yang digunakan
adalah malachite green dan safranin untuk pewarnaan spora.
Hasil dari pewarnaan endospora pada bakteri C setelah dilihat
dengan menggunakan mikroskop menunjukkan warna hijau
yang menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki
endospora.
Endospora merupakan struktur yang tahan terhadap
keadaan lingkungan yang ekstrim seperti kering, pemanasan
dan keadaan asam. Endospora berbentuk sangat padat dan
refraktil karena memiliki kandungan air yang sangat rendah.
Bakteri yang memiliki endospora sangat sulit diwarnai
sehingga dibutuhkan pewarnaan spesifik. Pewarna spesifik
yang digunakan adalah malachite green. Bakteri penghasil
spora tahan terhadap pewarnaan. Bakteri yang menghasilkan
spora akan mengikat kuat senyawa pewarna yaitu malachite
green dan ketika dilakukan pewarnaan selanjutnya
menggunakan safranin, sel spora tidak dapat berikatan dengan
pewarna lain karena sudah berikatan dengan malachite green.
Oleh karena itu warna bakteri spora adalah hijau. Bakteri
yang tidak memiliki spora cenderung tidak tahan terhadap
pengecatan karena hanya memiliki sel vegetatif. Saat diwarnai
dengan malachite, sel vegetatif akan mampu berikatan dengan
pewarna tersebut tetapi dapat dilunturkan setelah dilakukan
pencucian karena tidak berikatan kuat dengan pewarna
malachite green. Setelah itu dilakukan pengecatan dengan
menggunakan safranin dan sel vegetatif akan berikatan
dengan pewarna safranin sehingga warna yang dihasilkan
ketika diamati oleh mikroskop akan menunjukkan warna
merah muda (Assani,1994).
Hasil dari pewarnaan endospora isolat C menunjukkan
bahwa bakteri C menunjukkan hasil positif dengan adanya
warna hijau setelah dilakukan pewarnaan endospora. Hal
4
tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan bakteri untuk
isolat C adalah bakteri Clostridium sp dan Bacillus sp. Uji
selanjutnya untuk isolat C menurut second edition of Bergeys
Manual adalah uji strict anaerob.
Endospora yang dimiliki oleh isolat C tersebut yang
memungkinkan isolat bakteri tersebut ditemukan
di
lingkungan Sumber Air Panas Songgoriti. Endospora pada
bakteri ini berfungsi untuk melindungi bakteri dari suhu
tinggi.
4.3.6 Uji Strict Anaerob
Pada uji strict anaerob ini, media yang digunakan
merupakan media Thioglycollate agar. Thyoglycollate agar ini
digunakan untuk mengetahui hubungan antara oksigen dengan
mikroorganisme. Media ini terbuat dari asam thyoglicolic
dengan agar yang akan mencegah masuknya oksigen ke dalam
media. Media ini juga memiliki indikator berupa resazurin
yang digunakan untuk mengetahui keberadaan oksigen pada
media. Resazurin akan berwarna merah ketika di dalam media
terdapat oksigen dan akan semakin memudar dengan
berkurangnya kandungan oksigen pada media.
Berdasarkan hasil dari uji strict anaerob, diketahui bahwa
bakteri tersebut negatif terhadap uji ini karena bakteri tersebut
tumbuh pada permukaan media thioglycollate agar. Bakteri
yang tumbuh pada permukaan media merupakan bakteri yang
bersifat aerob karena pada inokulasi awal oksigen hanya
berada di daerah permukaan media. Hal tersebut ditunjukkan
dengan adanya perbedaan warna pada media awal uji strict
anaerob. Pada media thioglycollate agar yang belum ditanami
bakteri, media akan memiliki dua warna yaitu merah muda
dan kuning. Menurut second edition of Bergeys manual ,
bakteri yang ditemukan merupakan bakteri dari genus Bacillus
sp. Bacillus sp merupakan bakteri yang berasal dari genus
Gram positif yang memiliki sifat aerob obligat maupun aerob
fakultatif dan membentuk endospora pada kondisi lingkungan
tertentu.
IV. KESIMPULAN
Empat koloni bakteri termofilik telah diperoleh dari
sampel air panas Songgoriti setelah 2 hari inkubasi (A, B, C,
dan D). Koloni ini diperlakukan lebih lanjut untuk
menentukan genus dari tiap-tiap koloni. Perlakuan yang
dilakukan pada tiap-tiap koloni meliputi: pewarnaan Gram, uji
oksidasi, uji fermentasi glukosa, uji Na+, pewarnaan
endospora dan uji strict anaerob. Berdasarkan uji yang telah
dilakukan, diperoleh informasi bahwa A, B dan D
diidentifikasi berasal dari genus yang Vibrio sp dengan
karakteristik sbb: termasuk bakteri Gram negatif, sel
berbentuk batang, positif terhadap uji oksidasi, positif
terhadap uji fermentasi, dan positif terhadap uji Na+. Isolat C
diidentifikasi berasal dari genus Bacillus sp dengan
karakteristik sbb : termasuk bakteri gram positif, sel berbentuk
batang, bersifat aerob , positif terhadap pewarnaan spora, dan
negatif terhadap uji strict anaerob.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5
DAFTAR PUSTAKA
[1] Asnawi, Hafid, “Keanekaragaman Bakteri Termofilik yang
Terdapat Dalam Sumber Mata Air Panas di Taman
Wisata Padusan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa
Timur”, Jurusan Biologi FMIPA, UM, (2006).
[2] Assani, S., Mikrobiologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, (1994).
[3] Brock, Thomas D., “Thermophilic Microorganisms and
Life at High Temperatures”, Springer-Verlag. ISBN 0387-90309-7, (1978).
[4] Edwards C., “Thermophiles”. In: Edwards C (ed)
Microbiology of extreme environments. Open
University, Oxford, (1990), P1-32.
[5] Lasa I., Berenguer J., “Thermophilic enzymes and their
biotechnological potential”, Microbiologia SEM, 9,
(1993), 77-89.
[6] Muharni, “”Isolasi dan Identifikasi Bakteri penghasil
Kitinase dari Sumber Air Panas Danau Ranau Sumatera
Selatan”, Jurusan Biologi FMIPA, Universitas
Sriwijaya, Sumatera Utara, (2010).
[7] Mustafa, Irfan, “Pengkajian Potensi Bakteri Penerapan
Meor”, Program Studi Bioteknologi, ITB, (2006).
[8] Nascimento, W.C.A. and Martins, M.L.L., “Studies on
stability of protease from Bacillus sp. and its
compatibility with commercial detergent”, Brazilia,
Microbiol, 37, (2006), 307-311.
5
Download