LAPORAN UJI PETIK PEMBUKUAN BKM PERIODE TRIWULAN KE

advertisement
LAPORAN
UJI PETIK PEMBUKUAN BKM PERIODE TRIWULAN KE-2
BULAN : APRIL-JUNI 2015
P2KP - WILAYAH 2
A. PENDAHULUAN
Periode pelaporan uji petik ini merupakan kelanjutan dari pelaporan uji petik periode
sebelumnya yaitu triwulan ke-1 (Januari – Maret 2015), Kegiatan uji petik pembukuan
dilakukan dengan membadingkan data pengukuran kinerja pembukuan bulanan di SIM
MK yang dilakukan oleh fasilitator ekonomi dengan hasil kunjungan yang dilakukan oleh
TA MK dan Askot MK pada periode bulan yang sama, harapannya diperoleh gambaran
akurasi dan validitas data serta terjadinya capacity building jika ada pemahaman
substansi yang berbeda yang pada akhirnya akan ada perbaikan pada periode
pendampingan bulan berikutnya.
Kegiatan uji petik dilakukan secara berjenjang, karena itu uji petik di desain dengan
standarisasi pada sisi instrumen, waktu pelaksanaan, lokasi sampling, metode
penggalian informasi, sumber informasi (pelaku yang dikonfirmasi), maupun dokumen
pembuktiannya sehingga objektifitas dan validitas dari hasil uji petik dapat
dipertahankan lebih "stabil". Kegiatan pengendalian dalam bentuk uji petik langsung ke
lapangan selama ini sudah berjalan diseluruh tingkatan manajemen dengan metode dan
pengelolaan uji petik yang cukup baik, namun demikian seiring dengan pengalaman
pengendaliaan serta tuntutan para pihak yang terus berkembang maka metodologi uji
petik juga mengalami penyempurnaan agar pengelolaan kegiatannya dapat lebih
dioptimalkan dan hasil-hasilnya dapat lebih didayagunakan untuk upaya-upaya
perbaikan pelaksanaan program secara menerus.
Telah dijelaskan dalam TOR Uji Petik, bahwa KMP (unit Manajemen Keuangan)
berkewajiban melakukan uji petik tematik Pembukuan bersamaan dengan pelaksanaan
uji petik siklus masyarakat minimal di 1% lokasi sasaran program setiap triwulan,
sementara untuk proporsi kewajiban uji petik OSP (TA dan SUB TA Manajemen
Keuangan) bervariasi 3%-10% jumlah kelurahan per-triwulan, dan Korkot/Askot
ekonomi Ekonomi dengan proporsi 50% per-bulan berbagi dengan Askot Infrastruktur,
sederhananya Askot MK minimal melakukan uji petik pembukuan di 25% lokasi
dampingan tingkat Kota/Kabupaten.
Pelaporan hasil uji petik dilakukan dengan upload/input melalui SIM uji petik
(http://p2kp.org/ujipetik/) baik yang dilakukan oleh KMP, OSP maupun Korkot (Askot
Manajemen Keuangan) terhadap hal tersebut telah dikeluarkan surat KMP Nomor :
32/NMC/PNPM-Perkotaan/II/2015.
1|Halaman
B. REALISASI KEGIATAN UJI PETIK
Realaisasi kegiatan uji petik pembukuan dilaksanakan periode 1 April 2015 s/d 31 Juni
2015 dengan melakukan kunjungan ke Sekretariat BKM dan UPK untuk melihat dan
melakukan supervisi terhadap pengelolaan keuangan secara keseluruhan adalah
sebagai berikut :
1. Kegiatan uji petik tematik pembukuan yang dilakukan oleh KMP (Unit Manajemen
Keuangan) ke Kelurahan/Desa sasaran tidak terjadi/tidak dilakukan.
2. Kegiatan Uji Petik tematik pembukuan yang dilakukan oleh OSP (TA dan Sub TA
Manajemen Keuangan) secara nasional terjadi di 1,3% Kelurahan dampingan untuk
pembukuan Sekretariat dan 1,2% untuk pembukuan UPK. Terdapat 12 Provinsi yang
tidak melakukan/melaporkan kegiatan uji petik, jumlah ini lebih banyak dari jumlah
lokasi triwulan ke-1, 12 Provinsi tersebut adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Bali
Provinsi NTB
Provinsi Kalimantan Selatan
Provinsi Kalimantan Utara
Provinsi Kaliamantan Timur
Provinsi Sulawesi Tengah
Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Maluku
Provinsi Papua
3. Kegiatan uji petik khusus ekonomi (pembukuan) yang dilakukan oleh Askot
Manajemen Keuangan secara nasional dilakukan di 18,8% kelurahan dampingan
untuk pembukuan Sekretariat dan 18,7% kelurahan untuk pembukuan UPK.
Terdapat 9 Provinsi yang Askot MK tidak sekalipun melakukan/melaporkan uji petik
yaitu di Provinsi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
Provinsi Jatim
Provinsi NTT
Provinsi Kalteng
Provinsi Kaltim
Provinsi Kaltara
Provinsi Sulteng
Provinsi Maluku
Provinsi Papua
Provinsi Papua Barat
Jumlah kunjungan ke lokasi dampingan (sampel) antar provinsi tidak sama, baik yang
dilakukan OSP mapun Askot MK, tentunya terdapat perbedaan kendala dalam
pemenuhan kegiatan uji petik tematik/khusus.
2|Halaman
Berikut adalah 5 Provinsi tertinggi dalam melaksanakan uji petik dalam periode ini :
No
1.
2.
3.
4.
5.
Tingkat OSP (TA dan Sub TA)
Sekretariat
UPK
NTT
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta
Papua Barat
Papua Barat
NTT
Gorontalo
Gorontalo
Sulawesi Utara
Sulaesi Utara
No
1.
2.
3.
4.
5.
Tingkat Korkot/Askot MK
Seketariat
UPK
Sulut
Sulut
DIY
DIY
Jateng
Jateng
NTB
NTB
Gorontalo
Gorontalo
Perbandingan masing-masong provinsi, kegiatan uji petik yang dilakukan oleh KMP, OSP
dan Askot MK seperti dalam tabel berikut :
Jumlah Kelurahan Uji Petik Nasional – Pembukuan Sekretariat
Periode : April - Juni 2015
Jumlah Kelurahan Uji Petik Nasional – Pembukuan UPK
Periode : April -Juni 2015
3|Halaman
Secara umum realisasi pelaksanaan uji petik triwulan ke-2 Tahun 2015 belum maksimal
dilakukan oleh KMP, OSP dan Askot MK hal ini dapat dilihat dari lebih besar jumlah
Provinsi yang tidak melakukan/melaporkan Uji Petik pada Triwulan ke-2 ini.
C. ANALISA HASIL UJI PETIK
Analisa hasil uji petik menjadi bagian terpenting dalan memperoleh gambaran secara
utuh tentang hasil kegiatan uji petik pembukuan yang telah dilakukan oleh KMP, OSP
maupun Askot Manajemen Keuangan.
Harapannya melalui kegiatan uji petik khusus ini tingkat akurasi data kinerja
pembukuan semakin akurat dari bulan ke bulan serta adanya peningkatan pemahaman
substansi pengelolaan keuangan bagi pendamping dan masyarakat secara berjenjang.
Dari sejumlah sampel yang telah disampaikan pada bagian sebelumnya, diperoleh hasil
sebagai berikut :
1. Akurasi Hasil Uji Petik
Salah satu hasil yang yang dapat dianalisa adalah akurasi uji petik terhadap
pengukuran kinerja pembukuan yang dilakukan oleh fasilitator ekonomi dan
melaporkannya melalui SIM MK dengan hasil uji petik yang dilakukan oleh askot MK
maupun TA MK (sebagai supervisor Faskel ekonomi), hasilnya adalah seperti dalam
grafik berikut :
4|Halaman
Dari grafik diatas dapat dijelaskan bahwa pada kegiatan uji petik khusus
(pembukuan) triwulan ke-2 Tahun 2015, tingkat akurasi rerata wilayah 2 untuk
pengukuran kinerja pembukuan sekretariat (75,1%) lebih tinggi dibanding UPK tanpa
PAR (71,4%).
Akurasi hasil uji petik pembukuan tertinggi terjadi pada bulan April 2015 dan
terendah pada bulan Juni 2015 baik untuk pembukuan sekretariat maupun UPK. Uji
petik yang dilakuklan oleh Askot MK lebih tinggi daripada yang dilakukan oleh
TA/Sub TA MK.
Mengetahui tingkat akurasi uji petik yang dilakukan oleh TA MK maupun Askot MK
menjadi penting, karena selain daat mengukur validitas data yang dilaporkan oleh
faskel ekonomi melalui SIM MK juga dapat menggambarkan adanya pemahaman
yang masih ada perbedaan terhadap substansi dan mekanisme pengukuran kinerja
pembukuan diantara pendamping sesuai jenjang penugasan terhadap serta dapat
mengetahui penerapan prosedur pengukuran kinerja yang dilakukan.
Jika melihat KPI pelaporan data melalui SIM seharusnya adalah 90% Akurat, dengan
melihat hasil uji petik yang dilakukan oleh TA MK dan Askot MK masih dibawah
target tersebut.
2. Aspek terendah dalam pengukuran kinerja pembukuan
Hal yang menjadi penyebab hasil pengukuran kinerja Sangat Baik, Memadai atau
Tidak Memadai adalah tergantung pemenuhan item dalam setiap aspek pengukuran
kinerja. Jika seluruh item dapat terpenuhi maka kinerja akan menjadi Sangat Baik
begitu juga sebaliknya.
5|Halaman
Berikut adalah hasil uji petik yang dilakukan oleh KMP, TA MK Provinsi dan Askot MK
terhadap pemenuhan aspek yang menyebabkan kinerja menjadi Sangat Baik,
Memadai dan Tidak Memadai :
a) Pembukuan Sekretariat
Dari sampel uji petik pembukuan sekretariat yang dilakukan oleh OSP dan Askot
MK diperoleh hasil pemenuhan item aspek pengukuran kinerja pembukuan
sebagai berikut :
Dari 11 item pengukuran kinerja Sekretariat yang harus dipenuhi, 2 aspek terendah
dalam pemenuhannya adalah :
1) Laporan bulanan dipasang di lima titik stategis selambat-lambatnya tanggal 5
bulan berikutnya, pemenuhannya sebesar 79,0% (aspek nomor 11)
2) Seluruh transaksi penerimaan dan pengeluaran dicatat dan diarsipkan sesuai
tanggal transaksi, pemenuhannya sebesar 92,1% (aspek nomor 4)
6|Halaman
b). Pembukuan UPK tanpa PAR
Dari sampel uji petik pembukuan UPK yang dilakukan oleh OSP (TA dan Sub TA MK)
dan Askot MK diperoleh hasil pemenuhan item aspek pengukuran kinerja
pembukuan sebagai berikut :
Dari 9 item pengukuran kinerja UPK tanpa PAR yang harus dipenuhi, 2 aspek
terendah dalam pemenuhannya adalah :
1) Laporan bulanan dipasang di lima titik stategis selambat-lambatnya tanggal 5
bulan berikutnya, pemenuhannya sebesar 80,3% (Aspek nomor 20)
2) Dana operasional tunai tidak lebih dari Rp. 1.500.000, pemenuhannya sebesar
90,4% (Aspek nomor 14)
7|Halaman
3. Perbandingan Kinerja Sangat Baik data SIM versus hasil Uji Petik
Setiap bulan, faskel ekonomi melakukan pengukuran kinerja pembukuan sekretariat
maupun UPK dan dilaporkan oleh Askot MK melalui SIM MK. Dari laporan itu akan
terlihat prosentase kinerja sangat baik, memadai dan tidak memadai. Pada kegiatan
uji petik ini juga melihat seberapa akurat kinerja sangat baik dari yang dilihat
dibandingkan dengan data SIM. Berikut perbandingannya dalam grafik seperti dalam
tabel dibaah ini :
Dari tabel diatas, terlihat ada perbedaan kinerja sangat baik antara data SIM dengan
hasil uji petik, hasil pelaporan data SIM lebih baik dari hasil uji petik dan perbedaan
selisih paling besar terjadi di bulan Juni 2015. Dengan informasi sebagai berikut :
8|Halaman
a) Pada bulan April 2015, terdapat selisih 8,6% untuk Sekretariat dan 0,7% untuk
UPK.
b) Pada bulan Mei 2015, terdapat selisih 9,8% untuk Sekretariat dan 1,3% untuk
UPK.
c) Pada bulan Juni 2015, terdapat selisih 13,8% untuk sekretariat dan 11,7% untuk
UPK.
D. KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan dalam uji petik triwulan 2 ini adalah sebagai berikut :
1.
Sampel Kelurahan/Desa uji petik baik yang dilakukan oleh Provinsi maupun
Askot MK menurun dibanding Uji Petik Triwulan sebelumnya.
2.
Kegiatan uji petik siklus/tematik pembukuan yang dilakukan oleh KMP tidak
terjadi/dilakukan.
3.
Terdapat selisih kinerja Sangat Baik data versi SIM dan hasil uji petik,
kecenderungannya data SIM lebih baik, selisih paling banyak ada pada bulan Juni
2015.
4.
Masih terdapat 12 Provinsi tidak melakukan/melaporkan kegiatan uji petik
tematik pembukuan sekretariat, hal ini lebih banyak dibanding uji petik triwulan
sebelumnya yang hanya terjadi di 6 Provinsi untuk Sekretariat dan 4 Provinsi
pembukuan UPK.
5. Prosentase uji petik yang dilakukan oleh TA MK OSP sebesar 1,3%, kurang dari
3% seperti yang harus dilakukan sesuai kontrak.
6. Prosentase uji petik yang dilakukan oleh Askot MK baru terpenuhi 18,8% dari
25% yang ditargetkan sesuai ketentuan yang ada.
7. Akurasi uji petik pembukuan sekretariat sebesar 75,1% dan pembukuan UPK
tanpa PAR sebesar 71,4%, lebih baik dari uji petik triwulan sebelumnya.
8. 2 Aspek terendah sekretariat adalah : penempelan informasi di 5 titik strategis
dan seluruh transaksi dicatat dan diarsipkan sesuai tanggal transaksi, serta 2
Aspek terendah UPK adalah pada aspek penempelan papan informasi dan uang
kas melebihi 1,5jt lebih dari 2 hari kerja.
9. Kegiatan uji petik tematik/khusus belum menjadi kebutuhan pendamping dalam
kerangka pengendalian hasil kegiatan, hal tersebut terbukti beberpa provinsi
dan kabupaten tidak melakukannya dengan alasan tidak ada pendanaan. Dalam
EGM telah disepakati ada dan tidak ada EGM kegiatan berkunjung
(monitoring/supervisi) ke wilayah dampingan menjadi kewajiban yang harus
dilakukan sebagai upaya pemastian prosedur dilakukan oleh pendamping level
bawahnya dan prosedur dipahami utuh oleh masyarakat.
10. Kegiatan uji petik tematik/khusus belum mendapat dukungan yang baik dari
Manajemeen OSP, terlihat sebagian besar kegiatan uji petik khusus dilakukan
secara swadaya walaupun di kontrak OSP alokasi dana tersedia.
9|Halaman
E. RENCANA TINDAK LANJUT
Rencana tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :
1.
Perlu ada pertemuan rutin lintas unit di KMP untuk membahas permasalahan uji
petik baik terkait aplikasi maupun implementasi.
2.
Meminta TL OSP agar membuat perencanaan uji petik terpadu dengan
pemilihan lokasi, metode yang telah ditentukan dalam TOR Uji Petik.
3.
Meminta TA MK membuat dan melaporkan hasil uji petik triwulanan kepada TL
masing-masing serta membuat strategi pengendaliannya.
4.
Meminta PD dan TL OSP untuk mendukung pendanaan uji petik dari Manajemen
OSP
10 | H a l a m a n
Download