penggunaan radio frequency identification pada sistem informasi

advertisement
PENGGUNAAN RADIO FREQUENCY IDENTIFICATION PADA
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PERUSAHAAN
M. Anggionaldi
Akuntansi, Unjani
Jl. Terusan Jenderal Sudirman Cimahi
email: [email protected]
Abstrak – Tingginya kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa pada jaman modern ini mempengaruhi
tingkat aktivitas bisnis perusahaan menjadi semakin rumit. Hal ini mendorong perkembangan teknologi yang
semakin maju untuk memfasilitasi perusahaan baik yang bergerak dalam barang maupun jasa dalam hal
menyediakan informasi keuangan dan non keuangan. Dibutuhkan teknologi yang mampu mengotomatisasi
setiap pergerakan barang mulai dari proses produksi hingga proses penjualan. Pada saat ini berkembang
teknologi bernama RFID (Radio Frequency Identification) yang mampu mengidentifikasi, mencatat, memantau,
memonitoring, dan menyediakan informasi aktivitas barang. RFID memiliki kegunaan dan manfaat dalam
aktivitas bisnis yang dijalankan dibeberapa perusahaan mulai dari perusahaan manufaktur, jasa pengiriman
barang, dan supermarket.
Kata Kunci : Radio Frequency Identification, Sistem Informasi Akuntansi
Abstrak SNEB 2014: Hlm. 1
I. PENDAHULUAN
Pada jaman modern saat ini, dimana
pergerakan manusia menjadi tidak terbatas.
Manusia dapat pindah atau melakukan transportasi
dari satu benua ke benua lainnya dapat ditempuh
dalam waktu yang relatif cepat dikarenakan
kemajuan teknologi transportasi yang berkembang
saat ini. Begitu juga dengan teknologi komunikasi,
manusia jaman modern saat ini mampu
berkomunikasi dengan manusia lain antar benua
dengan menggunakan aplikasi multimedia teks,
suara dan gambar. Hal ini mempengaruhi tingkat
aktivitas
bisnis menjadi
semakin
rumit,
dikarenakan tingkat kebutuhan manusia terhadap
barang dan jasa semakin tinggi. Hal ini mendorong
perkembangan teknologi yang semakin maju untuk
memfasilitasi perusahaan baik yang bergerak dalam
barang maupun jasa. Dibutuhkan teknologi yang
mampu mengotomatisasi setiap pergerakan barang
mulai dari proses produksi hingga proses
penjualan.
Pada saat ini berkembang teknologi bernama
RFID (Radio Frequency Identification) yang
mampu membantu mengidentifikasi, memantau,
memonitoring dan menyediakan informasi aktivitas
barang. RFID berawal diciptakan pada tahun 1945
digunakan dengan tujuan semula sebagai alat matamata oleh Leon Theremin untuk pemerintahan Uni
Soviet. Kemudian dikembangkan oleh Mario
Cardullo pada tahun 1973 yang dikenal sebagai
nenek moyang pertama dari RFID modern yang
didemonstrasikan kepada Perusahaan Pelabuhan
New York (New York Port Authority). Hingga saat
ini teknologi tersebut berkembang tidak hanya
digunakan di perusahaan pelabuhan saja, namun
juga digunakan oleh perusahaan manufaktur, jasa
pengiriman barang,dan supermarket.
Untuk itu penulis mencoba memaparkan
mengenai kegunaan, fungsi serta manfaat teknologi
RFID ini dalam membantu aktivitas bisnis
perusahaan dalam beberapa bidang usaha.
II. LANDASAN TEORI
2.1. Radio frequency identification
Perangkat Radio Frequency Identification
(RFID) adalah perangkat elektronika yang
memiliki kemampuan untuk melacak posisi obyek
di suatu ruang menggunakan gelombang radio.
Selain melacak posisi perangkat ini juga mampu
melakukan identifikasi suatu obyek sehingga
mampu membedakan beberapa obyek berbeda.
RFID tags adalah komponen berukuran kecil yang
biasanya
mudah
untuk disematkan atau
ditempelkan pada obyek seperti barang produksi.
RFID tags memiliki identitas yang unik. Sistem
RFID memerlukan tags, pemancar gelombang
radio dengan frekuensi tertentu, serta penerima
gelombang radio. Pemancar dan penerima RFID
biasanya menyatu dalam satu modul (RFID
transceiver) dan seringkali disebut RFID reader
yang dapat dihubungkan ke sistem komputer.
Ada dua macam RFID tags. Tag pasif akan
memantulkan gelombang radio dengan frekuensi
tertentu. Gelombang yang dipantulkan akan
membawa identitas sesuai tag tersebut. Tag pasif
tidak memiliki sumber energi mandiri, melainkan
memperoleh energi dari gelombang radio yang
dipantulkan. Biaya penerapan tag pasif relatif
murah namun jarak efektif dari tag ke perangkat
penerima gelombang radio juga terbatas untuk
jarak dekat (kurang dari satu meter). Tag aktif
memiliki sumber energi mandiri. Dengan fungsi
yang serupa dengan tag pasif, tag aktif dapat
digunakan untuk jarak yang lebih jauh, namun
dengan biaya penerapan yang lebih mahal.
2.2. Sejarah RFID
Pada tahun 1945, Léon Theremin menemukan
alat mata-mata untuk pemerintah Uni Soviet yang
dapat memancarkan kembali gelombang radio
dengan informasi suara. Gelombang suara
menggetarkan sebuah diafragma (diaphragm) yang
mengubah sedikit bentuk resonator, yang kemudian
memodulasi frekuensi radio yang terpantul.
Walaupun alat ini adalah sebuah alat pendengar
mata-mata yang pasif dan bukan sebuah kartu/label
identitas, alat ini diakui sebagai benda pertama dan
salah satu nenek-moyang teknologi RFID.
Beberapa publikasi menyatakan bahwa teknologi
yang digunakan RFID telah ada semenjak awal era
1920-an, sementara beberapa sumber lainnya
menyatakan bahwa sistem RFID baru muncul
sekitar akhir era 1960-an.
Sebuah teknologi yang lebih mirip, IFF
Transponder, ditemukan oleh Inggris pada tahun
1939, dan secara rutin digunakan oleh tentara
sekutu
di
Perang
Dunia
II
untuk
mengidentifikasikan pesawat tempur kawan atau
lawan. Transponder semacam itu masih digunakan
oleh pihak militer dan maskapai penerbangan
hingga hari ini.
Karya awal lainnya yang mengeksplorasi
RFID adalah karya tulis ilmiah penting Harry
Stockman pada tahun 1948 yang berjudul
Communication
by Means of
Reflected
Power(Komunikasi
Menggunakan
Tenaga
Pantulan) yang terbit di IRE, halaman 1196–1204,
Oktober 1948. Stockman memperkirakan bahwa
"...riset dan pengembangan yang lebih serius harus
dilakukan sebelum problem-problem mendasar di
dalam komunikasi tenaga pantulan dapat
dipecahkan, dan sebelum aplikasi-aplikasi (dari
teknologi ini) dieksplorasi lebih jauh."
Paten Amerika Serikat nomor 3,713,148 atas
nama Mario Cardullo pada tahun 1973 adalah
nenek moyang pertama dari RFID modern; sebuah
Abstrak SNEB 2014: Hlm. 2
transponder radio pasif dengan memori ingatan.
Alat
pantulan
tenaga
pasif
pertama
didemonstrasikan pada tahun 1971 kepada
Perusahaan Pelabuhan New York (New York Port
Authority) dan pengguna potensial lainnya. Alat ini
terdiri dari sebuah transponder dengan memori 16
bit untuk digunakan sebagai alat pembayaran bea.
Pada dasarnya, paten Cardullo meliputi
penggunaan frekuensi radio, suara dan cahaya
sebagai media transmisi. Rencana bisnis pertama
yang diajukan kepada para investor pada tahun
1969 menampilkan penggunaan teknologi ini di
bidang transportasi (identifikasi kendaraan
otomotif, sistem pembayaran tol otomatis, plat
nomor elektronik, manifest [daftar barang]
elektronik, pendata rute kendaraan, pengawas
kelaikan kendaraan), bidang perbankan (buku cek
elektronik, kartu kredit elektronik), bidang
keamanan (tanda pengenal pegawai, pintu gerbang
otomatis, pengawas akses) dan bidang kesehatan
(identifikasi dan sejarah medis pasien).
Demonstrasi label RFID dengan teknologi
tenaga pantulan, baik yang pasif maupun yang
aktif, dilakukan di Laboratorium Sains Los Alamos
pada tahun 1973. Alat ini diperasikan pada
gelombang 915 MHz dan menggunakan label yang
berkapasitas 12 bit.
Paten pertama yang menggunakan kata RFID
diberikan kepada Charles Walton pada tahun 1983
(Paten Amerika Serikat nomor 4,384,288).
2.3. Aplikasi
Sebuah label RFID dapat ditempelkan ke
sebuah obyek dan digunakan untuk melacak dan
mengelola inventaris, aset, orang, dan lain-lain.
Sebagai contoh, label RFID bisa ditempelkan di
mobil, peralatan komputer, buku-buku, ponsel, dan
lain-lain.
RFID menawarkan keunggulan dibandingkan
sistem
manual
atau
penggunaan kode
batang. Label dapat dibaca jika melewati dekat
pembaca label, bahkan jika pembaca tertutup oleh
objek atau tidak terlihat. Label dapat dibaca di
dalam sebuah wadah, karton, kotak atau
lainnya. Label RFID dapat membaca ratusan pada
satu waktu, sedangkan kode batang hanya dapat
dibaca satu per satu.
RFID dapat digunakan dalam berbagai
aplikasi, seperti:
1. Manajement Akses
2. Pelacakan barang
3. Pengumpulan dan pembayaran toll tanpa
kontak langsung
4. Mesin pembaca dokumen berjalan
5. Pelacakan identitas untuk memverifikasi
keaslian
6. Pelacakan bagasi di bandara
III. PEMBAHASAN
3.1. Penerapan RFID di Supermarket
Permasalahan internal supermarket adalah
aktivitas stock opname periodik dengan mengecek
masing-masing barang di rak-rak penjualan,
kebijakan manajemen untuk memaksimalkan
fungsi gudang dan ketidaktahuan manajemen
tentang jumlah barang saat ini secara real time. Hal
ini sering menyebabkan keterlambatan dalam
pengiriman barang, sehingga berakibat terjadinya
stockouts. Selain itu, ketidaktahuan manajemen
tentang jumlah barang saat ini secara real time
memungkinkan pemesanan kembali untuk barang
yang secara fisik jumlah stoknya masih cukup.
Sehingga hal ini berakibat terjadinya over stock.
Selain faktor tersebut, persaingan supermarket di
pasar global terjadi dalam kompetisi yang sangat
ketat. Dalam kompetisi semacam ini diperlukan
strategi kebijakan supermarket agar tidak terjadi
permasalahan stockouts dan over stock
Pemanfaatan teknologi informasi selain dapat
digunakan sebagai media otomatisasi data dan
akurasi informasi dalam optimalisasi stok, juga
memungkinkan adanya koordinasi antar bagian di
supermarket, menyederhanakan proses, serta
mempermudah kontrol dan perencanaan bisnis.
Dimana tujuan akhirnya adalah kepuasan
pelanggan. Oleh sebab itu, optimalisasi stok dapat
dilakukan dengan memanfaatkan teknologi
informasi, dalam hal ini Radio Frequency
Identification (RFID) sebagai media input data
dalam rangkaian aktivitas supermarket. RFID
difungsikan sebagai alat komunikasi yang mampu
membaca data barang dan merubah stok akhir yang
pada akhirnya akan mengirimkan data ke database
di bagian gudang supermarket.
Pembacaan data barang dengan menggunakan
RFID lebih baik daripada barcode, karena bisa dari
berbagai arah tanpa penempatan yang presisi
sehingga mengoptimalkan fungsi kasir. Ketika stok
barang sudah mencapai titik minimal, teknologi
RFID memungkinkan secara cepat dan otomatis
mengirim Tinformasi ke bagian gudangT untuk
dilakukan pengiriman ke rak-rak penjualan. Jika
stok di gudang juga sudah mencapai titik minimal
maka sistem ini memungkinkan mengirim
informasi pemesanan secara cepat dan otomatis ke
pusat distribusi. Suatu bisnis termasuk supermarket
memerlukan alat komunikasi yang mampu
mengirimkan atau menerima informasi secara
efisien dan efektif [2]. RFID [3] dapat
diintegrasikan sebagai teknologi untuk akurasi data.
Hal ini dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan
Baars et. al. yang berjudul Combining RFID
Technology and Business Intelligence for Supply
Chain Optimization - Scenarios for Retail
Logistics. Dalam penelitian tersebut, teknologi
RFID dirancang sebagai media automaic collection
dari data rantai pasok di supermarket yang
terintegrasi dengan infrastruktur bisnis. Juga
dijelaskan konsep dan skenario integrasi data dalam
rantai pasok dengan menggunakan tabel data
Abstrak SNEB 2014: Hlm. 3
Goods Distribution Center, retailer, consolidator,
manufacturer dan logistics [1]. Berdasarkan hal
tersebut di atas, maka ada suatu pemikiran untuk
merancang bangun alat RFID yang bertujuan untuk
mengoptimalkan stok, dalam hal ini meminimalkan
stockouts
dan
over
stock
dengan
mempertimbangkan faktor akurasi informasi.
dalam pengiriman barang. Selain itu, penggunaan
algoritma Dijkstra juga memberitahukan informasi
kepada konsumen estimasi waktu yang dibutuhkan
dalam pengiriman barang dan efisiensi ongkos
produksi perusahaan dalam mengirimkan barang.
3.2. Penerapan RFID di Perusahaan Kereta Api
Di perusahaan manufaktur, biaya dipisahkan
menjadi dua kategori utama yaitu biaya manufaktur
(manufacturing cost) dan biaya nonmanufaktur
(nonmanufacturing cost). Biaya-biaya manufaktur
adalah semua biaya-biaya yang habis terpakai
dalam pabrik yang diasosiasikan dengan
pengubahan bahan mentah menjadi produk akhir.
Biaya-biaya nonmanufaktur adalah biaya-biaya
pada suatu organisasi selain yang habis terpakai
untuk membuat produk, misalnya biaya-biaya
distribusi, biaya-biaya penjualan, biaya-biaya
pemasaran, biaya-biaya purnajual, biaya-biaya
penelitian dan pengembangan, dan biaya-biaya
umum serta administrasi. Biaya nonmanufaktur
biasanya disebut juga expenses atau biaya periodik
karena dianggap memiliki manfaat atau terpakai
selama perioda tertentu (tiap bulan, tiap tahun).
Contohnya, biaya pengecatan badan sedan di
pabrik mobil adalah biaya manufaktur, biaya bahan
baku baja untuk rangka sedan adalah biaya
manufaktur, biaya promosi untuk memperkenalkan
produk sedan ke masyarakat adalah biaya
nonmanufaktur, biaya upah buruh perakitan sedan
di pabrik adalah biaya manufaktur, gaji petugas
administrasi di pabrik mobil adalah biaya
nonmanufaktur.
Biaya manufaktur secara umum dibagi lagi
menjadi tiga kategori yaitu bahan langsung (direct
material), tenaga kerja produksi langsung (direct
labor), dan overhead manufaktur. Bahan langsung
yaitu bahan-bahan yang menjadi bagian terintegrasi
pada produk akhir dan dapat secara fisik dan
dengan mudah ditelusuri (kepada produk tersebut).
Contohnya, biaya bahan baku kayu di pabrik
pembuat meja dan kursi.
Tenaga kerja produksi langsung yaitu biayabiaya upah tenaga kerja yang dapat secara fisik dan
dengan mudah ditelusuri kepada satuan-satuan
produk, di mana tenaga kerja tersebut terlibat
dalam proses produksi secara langsung. Contohnya,
biaya upah buruh perakit meja di pabrik.
Overhead manufaktur mencakup semua
biaya-biaya manufaktur kecuali bahan langsung
dan tenaga kerja produksi langsung. Contoh-contoh
overhead manufaktur adalah tenaga kerja produksi
tidak langsung, perawatan dan perbaikan peralatan
produksi, energi listrik, pajak bumi dan bangunan,
depresiasi dan asuransi di lokasi fasilitas pabrik.
Istilah-istilah lain yang merupakan sinonim dari
overhead
manufaktur
adalah
indirect
manufacturing cost (biaya manufaktur tidak
Pengiriman barang dan jasa merupakan salah
satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh
manusia dalam kehidupan sehari-hari misalnya
mengirimkan barang dari suatu tempat ke tempat
yang lain melalui perusahaan jasa pengiriman
barang atau ekspedisi juga berkaitan dengan
kegiatan ekspor-impor. Pengriman barang terdiri
dari dua macam yaitu: pengriman barang dalam
negeri dan luar negeri. Cara pengiriman barang
dalam negeri terbagi tiga macam yaitu: pengiriman
melalui laut, udara, kombinasi udara dan darat.
Sedangkan cara pengiriman barang ke luar negeri
terbagi dua macam yaitu: pengiriman melalui laut
dan udara.
Permasalahan yang menyebabkan barang
lama sampai tujuan atau tidak sampai tujuan dapat
berupa:
1. Paket tertahan lama di kantor cabang atau
pusat atau tertahan di transportasi udara,
darat, dan laut.
2. Konsumen tidak mengetahui estimasi
waktu yang dibutuhkan dalam pengiriman
barang.
3. Jalur yang dilalui untuk pengiriman barang
tidak efisien,
4. Berkas resi pengiriman hilang atau
penulisan alamat pengiriman salah karena
data tidak dalam bentuk digital,
5. Barang rusak atau hilang saat pengiriman
karena tidak diamankan atau disimpan
dalam logistik,
6. Pendataan informasi logistik tidak
terpusat, dan
7. Lonjakan pengiriman barang pada saatsaat tertentu.
Untuk mempermudah perusahaan jasa
pengiriman barang dalam mengatasi masalahmasalah tersebut dan meningkatkan pelayanan
pelanggan, penggunaan teknologi RFID dan
alogritma Dijkstra merupakan salah satu solusi
terbaik. Tag RFID yang dilekatkan pada barang
sebagai identitas elektronik untuk memudahkan
petugas mengidentifikasikan barang secara cepat
kemudian informasi barang dapat disimpan secara
digital dalam sistem database terpusat. Sedangkan
algoritma Dijksta digunakan untuk mempermudah
pencarian jalur terpendek yang dilalui dalam
pengiriman barang lalu menganalisa jalur yang
dilalui dan mengestimasi waktu yang ditempuh
3.3.Penerapan RFID di perusahaan manufaktur
Abstrak SNEB 2014: Hlm. 4
langsung), factory overhead (overhead pabrik), dan
factory burden (beban pabrik).
3.3.1. Biaya simpan dan biaya transit
Biaya simpan dan biaya transit barang hasil
produksi di perusahaan manufaktur merupakan
biaya tidak langsung. Meskipun biaya simpan
bukan merupakan biaya tetap, biaya yang
cenderung variabel ini tidaklah proporsional
dengan jumlah unit produk yang diproduksi. Saat
barang berada di tempat tertentu baik karena
disimpan sementara atau karena transit untuk
mendapatkan perlakuan tertentu pada proses
produksi di pabrik, maka berbagai biaya dapat
timbul di tempat tersebut. Biaya timbul karena
pemanfaatan berbagai sumberdaya, contohnya
listrik, tenaga kerja, dan pemakaian ruangan (sewa
tempat). Berbagai sumberdaya pendukung yang
dimanfaatkan ini biasanya tidak dapat ditelusuri
langsung karena nilainya seringkali tidak
proporsional dengan jumlah unit barang. Seperti
dalam contoh yang diilustrasikan di bagian
pendahuluan, jenis barang yang jumlah unitnya
sedikit bisa saja di suatu tempat memanfaatkan
sumberdaya lebih banyak, misalnya karena
tersimpan atau transit lebih lama, atau lebih sering
(berada di suatu tempat secara repetitif).
3.3.2. Pool biaya
Biaya-biaya sumberdaya yang timbul di suatu
tempat penyimpanan atau tempat barang transit
dapat dikelompokkan menjadi satu pool biaya dan
didefinisikan sebagai biaya keseluruhan di tempat
yang spesifik. Jumlah biaya dalam satu pool biaya
kemudian dapat dialokasikan menjadi komponen
biaya produk menggunakan pemicu biaya tertentu.
Dalam penelitian ini, suatu tempat di mana barang
disimpan atau transit dapat didefinisikan sebagai
satu pool biaya. Penggabungan biaya dalam satu
pool dapat juga dilakukan untuk menyederhanakan
perhitungan biaya terutama akibat adanya unsur
biaya yang sulit untuk dicari faktor pemicunya
secara spesifik sehingga dengan pertimbangan
tertentu, digabungkan dengan unsur biaya lain yang
dianggap
sesuai
karakteristiknya
untuk
menghindari usaha pencatatan yang sulit dan
menimbulkan biaya pencatatan yang tidak
ekonomis.
3.3.3. Pemicu biaya (cost driver)
Pemicu biaya adalah suatu faktor yang
menyebabkan adanya perubahan biaya dari suatu
aktivitas. Pada tempat penyimpanan atau tempat
transit tertentu di pabrik, di mana terjadi
pemanfaatan beberapa macam sumberdaya, pemicu
biaya mengindikasikan adanya suatu aktivitas
tertentu. Sumberdaya dimanfaatkan selama
perlakuan tertentu terjadi terhadap barang saat
transit, termasuk saat barang tersimpan tanpa
tindakan atau perlakuan lain terhadapnya pun dapat
dianggap sebagai aktivitas (aktivitas penyimpanan)
karena tetap ada sumberdaya yang dimanfaatkan
(misalnya sewa tempat, sumberdaya listrik).
Pemicu biaya dapat berupa pemicu biaya
sumberdaya sebagai faktor yang memperhitungkan
penggunaan sumberdaya dan dapat berupa faktor
yang memperhitungkan penggunaan suatu pool
biaya.
3.3.4. Model Konseptual
Perancangan sistem dengan teknologi RFID
untuk keperluan deteksi posisi barang di area
pabrik, dapat dengan memanfaatkan modul RFID
reader yang dipasang di setiap ruang aktivitas
produksi (transit maupun simpan). Tiap barang
diberi kode identitas yang berbeda pada tag nya
sehingga sistem dapat mengenali barang yang mana
yang terbaca posisinya. Modul RFID reader
diposisikan di dekat jalur barang masuk dan keluar
sedemikian sehingga ketika barang masuk ke ruang
aktivitas tertentu, tag yang terpasang pada barang
dapat dipastikan terbaca oleh RFID reader.
Barang akan dianggap sedang bergerak masuk
ke suatu ruang aktivitas apabila pembacaan
sekuensial terjadi oleh T1 kemudian T2.
Sebaliknya jika pembacaan sekuensial terjadi oleh
T2 kemudian T1, maka sistem dapat mengenali
bahwa barang tertentu bergerak keluar dari ruang
aktivitas. Sistem akan mencatat identitas barang
dan seberapa lama waktu yang digunakan oleh
barang tersebut di suatu ruang aktivitas.
Konfigurasi ini dimaksudkan untuk asumsi bahwa
tiap ruang aktivitas di pabrik memiliki hanya satu
pintu atau bukaan untuk keluar-masuk barang. Jika
barang masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu
lainnya dari suatu ruang seperti umunya pada
sistem produksi dengan ban berjalan, maka dapat
digunakan konfigurasi lain misalnya T1 pada pintu
masuk dan T2 pada pintu keluar. Barang yang
terdeteksi oleh T1 menandakan barang masuk dan
barang keluar jika terdeteksi oleh T2.
Perangkat RFID reader diintegrasikan dengan
sistem komputer pribadi. Saat suatu barang
terdeteksi masuk sebuah area atau ruang di pabrik
maka sistem komputer akan mencatat kode barang,
kode area atau ruang yang dimasuki, dan waktu
barang tersebut masuk. Saat terdeteksi ada barang
keluar dari area atau ruang, sistem komputer
kembali mencatat kode barang, kode ruang dan
waktunya,
kemudian
sistem
komputer
mengkalkulasi berapa lama waktu yang diperlukan
oleh barang di suatu ruang dengan mengurangi
nilai waktu antara saat keluar dengan saat
masuknya.
IV. KESIMPULAN
RFID merupakan teknologi yang masih baru,
dan akan terus berkembang. Seiring dengan
Abstrak SNEB 2014: Hlm. 5
kemajuan teknologi rangkaian terintegrasi, maka
dapat dipastikan bahwa harga tag RFID dapat
ditekan sangat murah. Kebutuhan akan tag RFID
juga akan bertambah di waktu yang akan datang,
karena kebutuhan akan proses yang berhubungan
dengan identifikasi dan keamanan yang lebih
nyaman, efisien, dan hemat waktu..
Semakin
berkembangnya
teknologi
informasi maka akuntan harus mampu
menggunakan
teknologi
informasi
untuk
menghadapi tantangan kemajuan jaman di bidang
akuntansi. Teknologi RFID membantu dalam
bidang sistem informasi akuntansi dalam
berbagai bidang bisnis. Diharapkan teknologi ini
terus dikembangkan sehingga mampu menjawab
segala tantangan di bidang sistem informasi
akuntansi di kemudian hari.
Biodata Penulis
M. Anggionaldi, memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi (SE), Jurusan Akuntansi Universitas
Islam Bandung lulus tahun 2009. Saat ini sedang
menempuh studi S2 Magister Akuntansi
Universitas Padjadjaran Bandung
Referensi
Junartho Halomoan (2010). Pengiriman
Barang Dengan Menggunakan
Teknologi RFID dan Algoritma
Dijkstra. Institut Teknologi Telkom
Bandung
Rindra Yusianto (2010). Akurasi Informasi
Dengan Menggunakan Teknologi
RFID Pada Pengendalian Persediaan
Barang Di Supermarket. Universitas
Dwi Nuswantoro Semarang
Markus Tanubrata (2013). Penggunaan RFID
untuk Mendukung Otomasi
Perhitungan Biaya Simpan Dan Transit
Barang Produksi Di Pabrik.
Universitas Kristen Maranatha
Bandung.
Abstrak SNEB 2014: Hlm. 6
Download