Modul Hukum dan Etika Penyiaran [TM4].

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
HUKUM DAN ETIKA
PENYIARAN
Modul Standar untuk
digunakan dalam Perkuliahan
di Universitas Mercu Buana
Fakultas
Program Studi
Ilmu Komunikasi
Btoadcasting
Tatap Muka
04
Kode MK
Disusun Oleh
41013
Afdal Makkuraga Putra, M.Si
Abstract
Kompetensi
Pada bab ini mehasiswa akan
mempelajari tentang konsep hukum
dan Etika dalam perspektif Penyiaran
Setelah mengikuti mata kuliah ini
mahasiwa diharapkan dapat
menjelaskan kembali tentang konsep
hukum dan Etika dalam perspektif
Penyiaran
Hukum dan Etika dalam Perspektif Penyiaran
Dalam perspektif sosiologi, manusia tidak bisa hidup tanpa berhubungan dengan manusia
lainnya. Melalui hubungan antar sesama manusia mempertunjukkan eksistensi dirinya.
Singkat kata tanpa hubungan antar manusia niscaya tak akan ada kehidupan sosial.
Hubungan antarmanusia itulah disebut sebagai interaksi sosial. Interkasi sosial dibentuk
oleh dua kegiatan; kontak sosial dan komunikasi.1
Kontak sosial berasal dari bahasa Latin Con atau Cum yang artinya bersama-sama dan
Tango yang artinya menyentuh. Secara harfiah kontak sosial dapat diartikan “bersamasama
menyentuh.” Secara fisik kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniyah, seperti
bersalaman dll. Namun perlu ditekankan sebagai gejala sosial hubungan badaniyah
bukanlah suatu kemutlakan. Dengan bantuan teknologi,orang berbicara melalui telepon
misalnya sudah bisa disebut terjadi kontak sosial. Sedangkan komunikasi diartikan sebagai
penyampaian pesan antar manusia dengan menggunakan bahasa berbal maupun non
verbal, menggunakan atau tanpa menggunakan saluran untuk mencapai tujuan bersama.2
Interaksi sosial dapat berupa kerjasama (co-operation), persaingan (competition) dan
bahkan berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflik). Kerjasama diartikan disini sebagai
suatu aktivitas yang dikerjakan antara orang-perorang atau kelompok manusia untuk
mencapai tujuan bersama. Di dalam kerja-sama terdapat unsur pembagian kerja
berdasarkan kemampuan dan kecapakan masing-masing anggota kelompok. Sedangkan
persaingan menurut Soerjono Soekanto adalah suatu proses sosial di mana orangperorangan atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui
bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian dari
publik (baik perseorang maupun kelompok manusia) dengan cara usaha-usaha menarik
perhatian publik atau dengan cara mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa
mempergunakan ancaman atau kekerasan.3
Berbeda dengan persaingan, konflik didasari pada adanya perbedaan pada masing-masing
individu atau kelompok-kelompok. Perbedaan-perbedaan tersebut bisa berwujud perbedaan
kebudayaan, latar belakang pemikiran dan perbedaan lainnya. Dalam melakukan hubungan
sosial atau berkomunikasi yang makin dipertajam adalah pebedaan-perbedaan tersebut
1
Soerjono Seekamto memberikan pengertian interkasi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang
menyangkut hubungan antar orang-orang perorangan, antar kelompok-kelompok manusia, maupun antara orangperorangan dengan kelompok manusia. Lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu Pengantar, CV Rajawali, Jakarta, 1986.
2
Pengertian komunikasi sangat beragam dan berbeda-beda menurut ahli yang memberikannya. Pengertian diatas
disimpulkan dari berbagai sumber.
3
Soerjono Seekamto, op cit hal 78
‘13
2
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sehingga muncul pertentangan atau konflik. Dalam posisi berkonflik masing-masing perserta
konflik selalu ingin menghancurkan satu sama lainnya. Yang ada dalam dirinya hanyalah
nafsu dan amarah.
Interaksi sosial manusia bisa juga dilihat dari aspek antropologi. Dalam ilmu tersebut
gambaran manusia terungkap dalam berbagai dimensi, sebagai makhluk yang beradab
yang dengan kemampuan berpikirnya mempunyai keinginan untuk hidup berbudaya dalam
komunitas bersama.
Namun demikian Thomas Hobbes berusaha mengajukan sebuah tesis bahwa manusia
terlahir dengan sifat yang biadab, yakni bagaikan serigala. Kehidupan liar ini terlihat dalam
gambaran Hobbes yang dikenal dengan “homo homini lupus” yang pengertiannya manusia
akan menjadi serigala bagi manusia lainya. Dalam hal ini tergambar siapa yang kuat dialah
yang akan menang. Berbeda dengan Hobbes, filsuf Yunani, Aristoteles membantah
pandangan Hobbes, ia mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya mempunyai sifat
zoon politicon yang memiliki keinginan kuat untuk hidup berkelompok dan berkumpul
dengan manusia lainya. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan manusia lainnya
untuk memenuhi kebutuhannya.4
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam interkasi antar manusia tidak
hanya kerjasama yang muncul melaikan juga persaingan dan pertentangan. Oleh karena itu
diperlukan adanya aturan yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam
mengadakan kontak atau hubungan. Aturan itu adalah hukum.
1.1 Pengertian Hukum
Pengertian hukum sulit diberikan secara perdefenisi. Ini disebabkan oleh keberagaman
disiplin ilmu dan latar belakang seseorang yang memberikan defenisi. Namun bukan berarti
hukum sulit dimengerti dan dipelajari. Jika kita hendak merumuskan pengertian hukum,
setidaknya unsur-unsur hukum harus kita ketahui. Unsur-unsur pengertian hukum tersebut
antara lain:
(1) hukum dipahami sebagai perangkat peraturan
(2) hukum dibuat oleh ”penguasa” berwenang
(3) Bentuk hukum bisa tertulis atau tidak tertulis
(4) Mengandung sifat memaksa
(5) Ada sanksi bagi pelanggarnya
4
Lihat Wasis SP, Pengantar Ilmu Hukum, UMM Press, Malang 2002 halaman 5 dan seterusnya
‘13
3
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
(6) Ditujukan bagi aspek perilaku manusia dan
(7) Bertujuan menciptakan keamanan, ketertiban dan keadilan.
Secara etimologis kata hukum sering disamakan dengan law (Inggris) dan recht (Belanda)
yang berasal dari bahasa Arab, yakni Ahkam, artinya segala hukum, undang-undang atau
peraturan yang dihasilkan dari proses musyawarah para wakil rakyat. Sedangkan dalam
konteks kedaulatan, kata “hakim-iyah” diartikan bahwa kedaulatan hukum yang merupakan
kekuasaan tertinggi.5
Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang hukum, berikut ini dikemukakan
beberapa defenisi tentang hukum untuk dapat dijadikan pegangan dalam menemukan
pengertian hukum:
a. Hukum adalah semua peraturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan,
ditujukan pada tingkah laku manusia dalam masyarakat dan menjadi pedoman bagi
penguasa-penguasa negara dalam melakukan tugasnya (Prof. Mr. EM. Meyers)
b. Hukum adalah aturan tingkah laku para anggota masyarakat, aturan yang daya
penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh suatu masyarakat sebagai
jaminan dari kepentingan bersama dan jika dilanggar menimbulkan reaksi bersama
terhadap orang yang melakukan pelanggaran itu (Leon Dequit)
c. Hukum adalah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari
seseorang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang
lain menurut peraturan hukum tentang kemerdekaan (Immanuel Kant)
d. Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yang berisi perintah dan larangan
yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karenanya harus ditaati oleh
masyarakat itu (Utrecht, 1996)
e. Hukum adalah kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma-norma dan
sanksi-sanksi yang disebut
hukum dan tujuan hukum itu adalah mengadakan
ketatatertiban dalam pergaulan manusia sehingga keamanan dan ketertban terjamin
(SM. Amin, SH)
f.
Hukum adalah seluruh aturan (norma) yang harus diturut dalam tingkah laku
tindakan-tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti
kerugian jika melanggar aturan-aturan itu, akan membahagiakan diri sendiri atau
harta, misalnya orang akan kehilangan kemerdekaan dan didenda (MH. Tirtaatmaja,
SH)
5
ibid
‘13
4
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
g. Hukum adalah perangkat peraturan baik yang bentuknya tertulis atau tidak tertulis,
dibuat oleh penguasa yang berwenang, mempunyai sifat memaksa dan atau
mengatur, mengandung sanksi bagi pelanggarnya, ditujukan pada tingkah laku
manusia dengan maksud agar kehidupan individu dan masyarakat terjamin
keamanannya dan ketertibannya.
Dari serangkaian defenisi di atas, umumnya hukum diartikan sangat beragam sebagai
berikut:6
1. Hukum diartikan sebagai produk keputusan penguasa
2. Hukum diartikan sebagai produk keputusan hakim
3. Hukum diartikan sebagai petugas/pekerja hukum
4. Hukum diartikan sebagai wujud sikap tindak/perilaku
5. Hukum diartikan sebagai norma dan kaidah
6. Hukum diartikan sebagai tata hukum
7. Hukum diartikan sebagai tata nilai
8. Hukum diartikan Ilmu
9. Hukum diartikan sebagai sistem ajaran (disiplin hukum)
10. Hukum sebagai gejala sosial.
Tujuan Hukum
Karena hukum bersifat memaksa, maka barang siapa yang melangar hukum wajib
mempertangung jawabkan secara hukum dan dapat dikenai sanksi sesuai dengan
pelanggarannya. Hukum diperlukan untuk:7
1. Menjaga keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat, terutama
mengenai pelaksanaan hak-hak pribadi.
2. Menjaga agar tidak terjadi konflik antar bermasyarakat sehingga keseimbangan
hidup bermasyarakat dapat tercapai. Hukum hadir untuk menyelesaikan konflik-
6
ibid
7
Ibid. Tentang tujuan hukum, masing-masing ahli hukum menerjemahkannya secara berbeda-beda. Lebih lanjut baca E.
Utrecht Pengantar dalam Hukum Indonesia, Jakarta, 1966.
‘13
5
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
konflik yang terjadi agar kondisi sosial yang tidak seimbang dapat dipulihkan kembali
seperti sedia kala.
3. Menjamin terciptanya suasana aman, tertib dan nyaman untuk mendukung
tercapainya tujuan hidup bersama dan sejahtera.
Pengertian Hukum Dalam Konteks Komunikasi
Ada pepatah dalam bahasa latin yang berbunyi “Ubi ius ubi societas” artinya di mana ada
hukum di situ ada masyarakat. Dalam konteks ilmu komunikasi pepatah itu berbunyi “Ubi
comunicatio ubi ius” artinya tidak ada hukum seandainya tidak ada proses penyampaian
pesan antar manusia (komunikasi).
Kalau kita merujuk pada pengertian hukum berdasarkan etimologis bahasa Arab tersebut
maka hukum dalam konteks ilmu komunikasi diartikan undang-undang atau peraturan yang
dihasilkan dari proses musyawarah wakil rakyat yang ditujukan untuk mengatur proses
penyampaian pesan antar manusia. Disini kita kemudian mengenal UU Pers, UU Penyiaran,
UU Perfilman dll.
Menurut A, Muis hubungan antara komunikasi dan hukum menghasilkan dua pengertian
yakni komunikasi hukum dan hukum komunikasi. Komunikasi hukum adalah mempelajari
komunikasi dan hukum secara imperatif normatif. Dalam kontek ini undang-undang,
peraturan dan yurisprudensi adalah proses penyampaian pesan (komunikasi dan informasi)
kepada masyarakat dengan tujuan memaksakan prilaku tertentu sesuai kaidah hukum itu
sendiri. Pengertian ini merujuk pada pengertian hukum berdasarkan etmologis tersebut di
atas.
Sedangkan hukum komunikasi adalah akibat-akibat hukum yang muncul dari proses
penyampaian pesan antar manusia.8 Yang termasuk dalam pengetian ini misalnya,
pencemaran nama baik melalui media massa, menghinaan terhadap kepala negara melalui
media massa, dan lain-lain.
Pengertian Etika
Mengapa seluruh sektor kehidupan manusia memerlukan etika? Pertanyaan ini sungguh
mengelitik, karena hampir setiap profesi memerlukan etika. Dalam dunia kedokteran
misalnya ada etika kedokteran, dalam dunia pengacara (lawyer) ada etika pengacara
demikian juga dalam dunia jurnalis ada etika wartawan.
8
. A.Muis, Kotroversi Sekitar kebebasan Pers, Mario Grafika, 1996.
‘13
6
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Etika berasal dari kata Ethos yang berarti watak atau adat dan asal kata moral yang sama
artinya dengan kata etik dari bahasa Latin, ”mos” jamaknya ialah ”mores” yang juga berarti
adat atau cara hidup.9
Aristoteles, di dalam uraian teorinya tentang moral menggunakan istilah ”ethe” yang berarti
baik-buruknya suatu sifat (kejahatan dan keutamaan) dalam bahasa latin kata ethikos
diterjemahkan menjadi mores yang berarti kebiasaan. Istilah itu kemudian berubah arti
dalam buku Aristoteles ”Ethique a Nicomaque, karena selain kata ethos
yang berarti
”kualitas suatu sifat” digunakan juga istilah etos berarti suatu cara berfikir dan merasakan,
suatu cara bertindak dan bertingkah laku yang memberi ciri khas kepemilikan seseorang
terhadap kelompok dan sekaligus merupakan tugas. Istilah yang kedua ini sesuai dengan
terjemahan dalam bahasa latin ”moralis” (mos, moris = adat, kebiasaan). Istilah ”moralis” ini
kemudian menjadi istilah teknis yang tidak lagi berarti kebiasaan tetapi mengandung makna
”moral” seperti digunakan dalam pengertian sekarang. ”Moral” selalu dikaitkan dengan
kewajiban khusus, dihubungkan dengan norma sebagai cara bertindak yang berupa tuntutan
entah relatif entah mutlak. Jadi ”moral” merupakan wacana normatif dan imperatif yang
diungkapkan dalam kerangka yang baik dan buruk, yang dianggap sebagai nilai mutlak atau
transenden, yaitu keseluruhan dari kewajiban-kewajiban kita. Jadi, kata moral mengacu
pada
baik
buruknya
manusia
terkait
dengan
tindakannya,
sikapnya
dan
cara
mengungkapkannya10
Moral mencoba menjawab pertanyaan: ”Apa yang harus saya lakukan?” Dengan demikian,
konsep ”moral” ini mengandung dua makna: 1) keseluruhan aturan dan norma yang berlaku,
yang diterima oleh suatu masyarakat tertentu sebagai arah atau pengangan dalm bertindak,
dan diungkapkan dalam kerangka yang baik dan yang buruk; 2) disiplin filsafat yang
merefleksikan tentang aturan-aturan tersebut dalam rangka mencari pendasaran dan tujuan
atau finalitasnya.
Etika biasanya dimengerti sebagai refleksi filosofis tentang moral. Jadi, etika merupakan
wacana normatif, tetapi tidak selalu harus imperatif, karena bisa juga hipotetetis, yang
membicarakan pertentangan antara yang baik dan yang buruk, yang dianggap sebagai nilai
relatif.
9
Said.. Etik Masyarakat Indonesia. 1976 hal 23
10
Haryatmoko, Etika: Politik dan Kekuasaan, Kompas: Jakarta, 2003 hal 187
‘13
7
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Jadi dalam pengertian yang lebih luas etika berarti nilai-nilai dan norma-norma moral yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Atau bisa juga berati “kumpulan asas atau nilai moral.”11
Menjawab pertanyaan di atas James J Spilane mengungkapkan bahwa etika itu
mempertimbangkan tingka laku dalam pengambilan keputusan moral. Etika mengarahkan
atau menghubungkan penggunaan akal budi individu dengan objektivitas untuk menentukan
“kebenaran” atau “kesalahan” dan tingkah laku seseorang terhadap orang lain.Substansi
dalam etika menunjuk pada orientasi kontrol atau pengawasan perilaku supaya tidak terjadi
dan terhindar praktek-peraktek (perbuatan) yang mengacaukan kehidupan.12
Etika dalam Konteks Komunikasi
Etika berasal dari kata Ethos yang berarti watak atau adat dan asal kata moral yang
sama artinya dengan kata etik dari bahasa Latin, ”mos” jamaknya ialah ”mores” yang juga
berarti adat atau cara hidup.13
Aristoteles, di dalam uraian teorinya tentang moral menggunakan istilah ”ethe” yang berarti
baik-buruknya suatu sifat (kejahatan dan keutamaan) dalam bahasa latin kata ethikos
diterjemahkan menjadi mores yang berarti kebiasaan. Istilah itu kemudian berubah arti
dalam buku Aristoteles ”Ethique a Nicomaque, karena selain kata ethos
yang berarti
”kualitas suatu sifat” digunakan juga istilah etos berarti suatu cara berfikir dan merasakan,
suatu cara bertindak dan bertingkah laku yang memberi ciri khas kepemilikan seseorang
terhadap kelompok dan sekaligus merupakan tugas.
Etika sama artinya kata Indonesia ”kesusilaan” yang terdiri dari bahasa sangsakerta ”su”
yang berarti baik, dan sila yang berarti norma kehidupan. Etika menyangkut kelakukan yang
menuruti norma-norma yang baik.14 Pengertian ini menempatkan etika sebagai perangkat
norma dalam kehidupan manusia yang tidak berbeda dengan norma-norma kesusilaan.
11
K. Bertens, Etika. PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.
12
Abdul Wahid dan Anang Sulistyono, Etika Profesi Hukum dan Nuansa Tantangan Profesi Hukum di Indonesia, Tarsito,
Bandung, 1997, hal6
13
Said.. Etik Masyarakat Indonesia. 1976 hal 23
14
Abdul Wahid & Anang Sulistyo, Etika Profesi Hukum dan Nuansa Tantangan Profesi Hukum di Indonesia,
1997 hal 3.
‘13
8
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
WJS Poerwodarminto mengemukakan bahwa pengertian etika adalah ilmu pengetahuan
tentang asas-asas akhlak. Pandangan Poerwodarminto ini selain menyamakan antara etika
dengan moral. Juga menyamakan dengan akhlak yang dalam Islam dikategorikannya pada
dua akhlak, yaitu akhlak yang baik (akhlakul mahmudah) dan akhlak-akhlak yang berkaitan
dengan prilaku buruk (akhlakul madzmumah).
Hamzah Ya’kub etika itu dikatakan sebagai imu yang menyelidiki mana yang baik dan mana
yang buruk dan memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh
akal-pikirannya. Begitupun menurut M. Sastra Praja tersebut menempatkan soal baik-birik
sebagai subastansi etika. Perbuatan manusia diantara sesama hidupnya ditentukan oleh
seperangkat etika yang diakuinya dan diabsahkannya.
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas
akhlak (moral). Menurut Ahmad Amin, “etika adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan
arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia,
menyatakan tujuan yang harus dicapai oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan
menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia."
Menurut Soegarda Poerbakawatja, “etika adalah filsafat nilai, pengetahuan tentang nilainilai, ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia
semuanya, terutama mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan
dan perasaan sampai mengenai tujuannya bentuk perbuatan”.
Menurut Martin [1993], etika didefinisikan sebagai "the discipline which can act as the
performance index or reference for our control system". Dengan demikian, etika akan
memberikan semacam batasan maupun standard yang akan mengatur pergaulan manusia
didalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan
seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis
yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada; dan
pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala
macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang
dari kode etik Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan "self
control", karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan
kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Mencermati dari sekian rumusan tentang etika (moral), maka dapat disimpulkan, bahwa
etika itu suatu studi dan panduan tetang prilaku yang harus dikerjakan atau sebaliknya tidak
dilakukan oleh manusia
‘13
9
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Karena etika merupakan nilai-nilai moral yang menjadi pegangan kelompok tertentu, maka
dalam konteks jurnalistik, etika adalah nilai-nilai moral yang menjadi pegangan para
wartawan dalam melakukan aktivitasnya sebagai wartawan. Tentu saja yang membuat etika
wartawan adalah kelompok wartawan masing-masing. Dalam hal dikenal dengan Kode Etik
(code of conduct). Kode etik inilah yang menjadi pegangan bagi wartawan dalam
melaksanakan aktivitasnya sebagai wartawan.
Berbeda dengan hukum, sanksi terhadap pelanggaran kode etika juga bersifat moral yang
diberikan berdasarkan kesepakatan masing-masing anggota kelompok. Sedangkan sanksi
hukum diberikan oleh negara melalui aparat yang ditunjuk.
Kaitan Hukum dan Etika
Dimanakah kaitanya antara hukum dan etika? Bila kita telisik pada pengertiaan hukum dan
etika pada penjelasan sebelumnya dapat kita tarik kesimpulan bahwa kaitan hukum dan
etika terletak pada kesamaan subtansial dan orientasi terhadap kepentingan dan tata
kehidupan manusia.
Paul Scholten menyebutkan baik hukum maupun moral (etika) kedua-duanya mengatur
perbuatan manusia. Sedangkan Von Savigny mengatakan bahwa hukum itu harus
dipandang sebagai suatu penjelmaan dari jiwa atau rohani suatu bangsa. Selalu ada suatu
hubungan yang erat antara hukum dengan kepribadian suatu bangsa.
Daftar Pustaka
Stephen W. Littlejhon & Karen A.Fross, Teori Komunikasi. Salemba Komunika: Jakarta,
2010
West, Richard & Lynn Turner, Pengantar Teori Komunikasi Salemba Komunika: Jakarta,
2009.
Black, James & Dean Champion, 1992 Metode dan Masalah Penelitian Sosial .
(terjemahan), Bandung : Eresco
Denzin, Norman & Yvonna. Lincoln, 2005, The Sage Handbook of Qualitative Research.
London : Sage Publication
Moleong, Lexy J. 2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya
‘13
10
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Ritzer, George & Douglas J.Goodman, 2003, Teori Sosiologi Modern (terjemahan) Jakarta:
Kencana Prenada:
Haryatmoko, Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi. Kanisius:
Yogyakarta, 2007.
Suseno, Frans Magnis. Etika Dasar Kanisius: Yogyakarta, 1989.
‘13
11
Nama Mata Kuliah dari Modul
Dosen Pengampu
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download