Social Security System: Alternatif Peningkatan

advertisement
Social Security System: Alternatif
Peningkatan Kesejahteraan Rakyat
Each country has its own social security system which is
constructed based on ideologi, economic condition, and political
system. In designing social security mechanism, ditermining of
system type, either in the form of social insurance or social aids,
mostly depend on the aim and content of the system, as well as
internally historical changes of a country.
Key words: System, Social Security, alternative, improvement, dan
people prosperity.
Oleh Augustin Rina Herawati
Dalam proses pembangunan yang dilakukan bangsa-bangsa di dunia,
kemiskinan merupakan fenomena yang selalu diusahakan untuk diminimalisasi,
bahkan mungkin dihilangkan. Namun kenyataannya, kemiskinan masih selalu
melekat dalam setiap sendi kehidupan manusia, sehingga membutuhkan upaya
penanggulangan yang komprehensif, integral, dan berkelanjutan. Berkaitan
dengan hal itu, para pemimpin negara sedunia pada Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) Millenium di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York tahun 2000,
menetapkan upaya mengurangi separuh dari kemiskinan di dunia sebagai
“Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals)” bagi negaranegara anggota PBB yang harus dicapai pada tahun 2015 melalui 8 (delapan) jalur
sasaran, yaitu: (1) Mengurangi separuh proporsi penduduk dunia yang
berpenghasilan kurang dari 1 dollar AS per hari dan proporsi penduduk yang
menderita kelaparan; (2) Mengurangi separuh proporsi jumlah penduduk yang
tidak memiliki akses pada air minum yang sehat; (3) Menjamin semua anak, lakilaki dan perempuan, menyelesaikan sekolah dasar; (4) Menurunkan hingga 2/3
kematian bayi dan anak dibawah usia lima tahun; (5) Menghentikan penyebaran
penyakit HIV/AIDS, malaria, dan jenis penyakit menular lainnya; (6)
Menghilangkan ketidaksetaraan gender di sekolah; (7) Menerapkan dengan
1
konsekuen kebijakan pembangunan berkelanjutan; dan (8) Mengembangkan
kemitraan untuk pembangunan di semua tingkatan.
Komitmen semua bangsa di dunia untuk menghapus kemiskinan dari muka
bumi ini ditegaskan dan dikokohkan kembali dalam “Deklarasi Johannesburg
mengenai Pembangunan Berkelanjutan” yang disepakati oleh para Kepala
Negara/Pemerintahan dari 165 negara yang hadir pada Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg, Afrika Selatan, bulan
September 2002, dan kemudian dituangkan dalam dokumen “Rencana
Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan,” yang juga telah ditandatangani
oleh Presiden RI, untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di
Indonesia. Dengan demikian, Indonesia telah membuat komitmen nasional untuk
memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan,
dimana pemerintah dan semua perangkat negara bersama dengan berbagai unsur
masyarakat memikul tanggung jawab utama untuk mewujudkan pembangunan
berkelanjutan dan sekaligus pengentasan kemiskinan tersebut, paling lambat
tahun 2015.
Sebagaimana diketahui, pembangunan ekonomi jelas sangat mempengaruhi
tingkat kemakmuran suatu negara. Namun, pembangunan ekonomi yang
sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar tidak akan secara otomatis
membawa kesejahteraan kepada seluruh lapisan masyarakat. Pengalaman negara
maju dan berkembang membuktikan bahwa meskipun mekanisme pasar mampu
menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang optimal, ia
selalu gagal menciptakan pemerataan pendapatan dan memberantas masalah
sosial.
Orang miskin dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah
kelompok yang sering tidak tersentuh oleh strategi pembangunan yang bertumpu
pada mekanisme pasar. Kelompok rentan ini, karena hambatan fisiknya (orang
cacat), kulturalnya (suku terasing) maupun strukturalnya (penganggur), tidak
mampu merespon secepat perubahan sosial di sekitarnya, terpelanting ke pinggir
dalam proses pembangunan yang tidak adil. Itulah salah satu dasarnya mengapa
negara-negara maju berusaha mengurangi kesenjangan itu dengan menerapkan
welfare state (negara kesejahteraan). Suatu sistem yang memberi peran lebih besar
kepada negara (pemerintah) dalam pembangunan kesejahteraan sosial yang
terencana, melembaga dan berkesinambungan.
Karena ketidaksempurnaan mekanisme pasar ini, peranan pemerintah banyak
ditampilkan pada fungsinya sebagai agent of economic and social development.
Artinya, pemerintah tidak hanya bertugas mendorong pertumbuhan ekonomi,
melainkan juga memperluas distribusi ekonomi melalui pengalokasian public
expenditure dalam APBN dan kebijakan publik yang mengikat. Selain dalam policy
pengelolaan nation-state-nya pemerintah memberi penghargaan terhadap pelaku
ekonomi yang produktif, ia juga menyediakan alokasi dana dan daya untuk
2
menjamin pemerataan dan kompensasi bagi mereka yang tercecer dari persaingan
pembangunan.
Berbagai upaya penanggulangan masalah sosial di Indonesia terus dilakukan,
namun pendekatan yang digunakan masih bersifat tambal sulam (ad-hoc), tidak
terpadu dan tidak berkelanjutan. Kebijakan dan program anti kemiskinan,
misalnya, masih berorientasi proyek yang bertumpu pada strategi kiss and run.
Artinya, kemiskinan ditangani secara parsial dengan skema dan cakupan geografis
yang sangat terbatas. Model pendekatan seperti ini tidak akan pernah tuntas
memberantas kemiskinan, karena strateginya tidak diarahkan untuk menggusur
problema kemiskinan (eradicating poverty), melainkan menggusur si miskin
(eradicating the poor). Penanganan kemiskinan tidak akan pernah efektif dengan
hanya menyentuh si miskinnya saja. Kemiskinan adalah produk struktural dari
sebuah sistem yang saling terkait, yakni sistem ekonomi (pertumbuhan dan
pemerataan
pendapatan
nasional),
pendidikan
(pemberdayaan
dan
pengembangan SDM) dan jaminan sosial (bantuan sosial dan asuransi sosial).
Strategi pembangunan nasional selama ini masih berkutat pada bagaimana
membangun sistem ekonomi agar tumbuh setinggi mungkin, dan belum
diarahkan secara sungguh-sungguh untuk membangun sistem jaminan sosial yang
kuat. Akibatnya, selain Indonesia terus dihadang permasalahan sosial yang
semakin kompleks, keberhasilan di bidang ekonomi ternyata sangat rentan
terhadap goncangan. Indonesia memerlukan pendekatan pembangunan yang
tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan pula berorientasi pada
aspek perlindungan sosial. Jaminan sosial pada hakikatnya merupakan strategi
perlindungan guna menopang dan menjaga kestabilan ekonomi. Komitmen
internasional dan nasional sangat menekankan pentingnya jaminan sosial,
terutama sebagai strategi penanganan kemiskinan secara sistemik, melembaga dan
terpadu.
Oleh karena itu, diperlukan kebijaksanaan program pembangunan dalam
upaya penanggulangan kemiskinan untuk menjawab persoalan dan memenuhi
kebutuhan yang sifatnya mendesak, realistis, dan operasional agar kondisi sosial
ekonomi masyarakat tidak merosot lebih dalam lagi. Dengan kata lain, diperlukan
penyempurnaan dan pengembangan program yang ada untuk dikembangkan
agar lebih tepat sasaran dan berkelanjutan, sehingga mengubah paradigma
program pembangunan sebelumnya yang bersifat temporer, relatif, dan kuratif ke
arah program yang merupakan bagian dari sistem keterjaminan sosial terpadu
yang preventif, proaktif, dan berjangka panjang.
Dalam perspektif ini, terdapat pemikiran tentang perlunya sistem
penanggulangan kemiskinan melalui model sistem keterjaminan sosial. Model
sistem keterjaminan sosial menuntut perubahan paradigma terutama menyangkut
sistem pengelolaan dana masyarakat dalam mewujudkan masyarakat sejahtera
dan mandiri di tingkat lokal (kabupaten/kota), maupun di tingkat hierarki yang
3
lebih rendah dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance. Pengembangan
sistem keterjaminan sosial dilakukan dengan beberapa pendekatan pokok, yaitu
pendekatan sistem, pendekatan pemberdayaan masyarakat, serta pendekatan
institusional. Berbagai pendekatan tersebut membutuhkan penanganan yang
berbeda. Pendekatan pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat lebih menonjol
dengan pendekatan program dan proyek pemerintah sebagai penunjang.
Kehadiran model sistem keterjaminan sosial ini menumbuhkan harapan baru bagi
penanggulangan kemiskinan menuju masyarakat yang mandiri.
Tulisan ini mencoba memberikan sumbangan pemikiran tentang Social Security
System, dengan mengkaji pengalaman negara Thailand yang menggunakan
pendekatan sistem keterjaminan sosial dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.
A. Pengertian Sistem Jaminan Sosial
Pengembangan suatu sistem keterjaminan sosial untuk mendukung
pencapaian kesejahteraan rakyat perlu dipandang sebagai suatu usaha untuk
mengembalikan kemampuan masyarakat mencapai kesejahteraannya sendiri. Oleh
sebab itu, keterjaminan sosial secara normatif harus mengacu pada kemampuan
masyarakat menghadapi krisis, apa pun penyebabnya. Pengertian jaminan sosial
(social security) dapat didefinisikan secara luas sebagai tindakan publik, termasuk
yang dilakukan oleh masyarakat, untuk melindungi kaum miskin dan lemah dari
perubahan yang merugikan dalam standar hidup, sehingga mereka memiliki
standar hidup yang dapat diterima (The World Bank Researcher Observer, 1991).
Instrumen yang terkait adalah jaminan pekerjaan dan pendapatan, serta beberapa
instrumen kebijakan formal, seperti : asistensi, asuransi sosial, dan tunjangan
keluarga. Jaminan sosial bukan untuk melindungi kaum kaya tetapi untuk
memberikan efek insentif.
Dalam studi ILO 1984, digambarkan ada 3 (tiga) tahap evolusi Jaminan sosial,
yaitu: a) Sumbangan/derma dari kaum kaya yang disediakan untuk para fakir
miskin, tetapi kondisi dan stigma keras yang diterapkan sering tidak dapat
diterima; b) Skema asuransi sosial dikembangkan berdasarkan suatu kewajiban
premi yang diberikan pada peserta berupa pensiun dan pembayaran masa sakit;
dan c) Konsep pencegahan dengan tujuan untuk menjaga dan meningkatkan
kualitas hidup.
Dalam literatur pekerjaan sosial (social work), jaminan sosial (social security)
merupakan salah satu jenis kebijakan sosial untuk mengatasi kemiskinan dan
ketimpangan dalam masyarakat. Setiap negara memiliki definisi, sistem, dan
pendekatan yang berbeda dalam mengatasi kemiskinan dan ketimpangan, dan
karenanya, memiliki sistem dan strategi jaminan sosial yang berbeda pula.
Jaminan sosial umumnya diimplementasikan ke dalam berbagai bentuk tunjangan
4
pendapatan secara langsung (income support) yang terkait erat dengan kebijakan
perpajakan dan pemeliharaan pendapatan (taxation and income-maintenance
policies). Namun demikian, jaminan sosial kerap meliputi pula berbagai skema
peningkatan akses terhadap pelayanan sosial dasar, seperti perawatan kesehatan,
pendidikan, dan perumahan (Huttman, 1981; Gilbert dan Specht, 1986; Cheyne,
O’Brien dan Belgrave, 1998). Jaminan sosial yang berbentuk tunjangan pendapatan
dapat disebut benefits in cash, sedangkan yang berwujud bantuan barang atau
pelayanan sosial sering disebut benefits in kind (Shannon, 1991; Hill, 1996; MHLW,
1999).
Kata “Jaminan sosial” berasal dari kata social dan security. Security diambil dari
Bahasa Latin “se-curus” yang bermakna “se” (pembebasan atau liberation) dan
“curus” yang berarti (kesulitan atau uneasiness). Sementara itu, kata “social”
menunjuk pada istilah masyarakat atau orang banyak (society). Dengan demikian,
jaminan sosial secara harafiah adalah “pembebasan kesulitan masyarakat” atau
“suatu upaya untuk membebaskan masyarakat dari kesulitan.” Jaminan sosial
(social security) dapat didefinisikan sebagai sistem pemberian uang dan/atau
pelayanan sosial guna melindungi seseorang dari resiko tidak memiliki atau
kehilangan pendapatan akibat kecelakaan, kecacatan, sakit, menganggur,
kehamilan, masa tua, dan kematian.
Spicker (1995) dan MHLW (1999), memberi batasan dan penjelasan mengenai
jaminan sosial yaitu “The term ‘social security’ is mainly now related to financial
assistance, but the general sense of the term is much wider, and it is still used in many
countries to refer to provisions for health care as well as income. Although the benefits of
security are not themselves material, they do have monetary value; people in Britain, where
there is a National Health Service, are receiving support which people in the US have to
pay for through private insurance or a Health Maintenance Organisation (Spicker, 1995:
60).” “Social security systems mean the systems to enable every citizen to lead a worthy life
as a member of cultured society. Social security systems provide countermeasures against
the causes for needy circumstances including illness, injury, childbirth, disablement, death,
old age, unemployment and having a lot of children by implementing economic security
measures through insurance or by direct public spending” (MHLW, 1999: 2).
Jaminan sosial merupakan istilah “baru” yang lahir pada Abad 20. Sistem ini
pertama-tama diterapkan sebagai alternatif untuk mengatasi kemiskinan dan
ketimpangan sosial akibat krisis ekonomi dan untuk mengubah kapitalisme agar
menjadi lebih manusiawi (compassionate capitalism) (Spicker, 1995; Cheyne, O’Brien
dan Belgrave, 1998; MHLW, 1999; Suharto, 2001a; 2001b; 2001c; 2002a). Jaminan
sosial merupakan komitmen dan piranti negara dalam mewujudkan keadilan
sosial melalui mekanisme income transfer atau redistribusi pendapatan (Spicker,
1995). Misalnya, sejalan dengan kebijakan full-employment, warga negara yang
belum (anak-anak), tidak dapat (cacat, masa tua), sedang tidak (temporary
unemployed) bekerja mendapat social benefits dari pemerintah. Dalam literatur
5
maupun praktik di negara maju dan berkembang, jaminan sosial ini umumnya
diselenggarakan secara terstandar melalui mekanisme dan sistem jaminan sosial
nasional di bawah otoritas Ministry of Social Welfare (atau yang sejenis).
Alasan utama yang melandasi mengapa jaminan sosial perlu diberikan kepada
warga negara adalah karena selain jaminan sosial dapat melindungi warganya
dari resiko-resiko yang tidak terduga, juga karena jaminan sosial secara ekonomi
maupun sosial tidak merugikan baik kepada penyelenggara maupun penerima
pelayanan. Jaminan sosial bukanlah pengeluaran publik yang sia-sia. Melainkan
sebuah bentuk investasi sosial yang menguntungkan dalam jangka panjang yang
dilandasi oleh dua pilar utama, yakni redistribusi pendapatan dan solidaritas sosial
(Spicker, 1995: 58-60). Dua prinsip ini menjelaskan bagaimana mekanisme jaminan
sosial bekerja. Misalnya, bagaimana peredaran uang berputar diantara anggota
atau peserta jaminan sosial sehingga terjadi mekanisme saling melindungi diantara
mereka yang pada gilirannya menjadi sebuah investasi sosial yang memberi
kontribusi dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup negara-bangsa secara
berkelanjutan.
Redistribusi pendapatan dapat berbentuk vertikal dan horisontal. Redistribusi
vertikal menunjuk pada transfer uang dari orang kaya ke orang miskin. Di sini,
jaminan sosial merupakan bentuk dukungan warga masyarakat yang kuat kepada
warga masyarakat yang lemah secara ekonomi. Redistribusi horisontal adalah
transfer uang “antar-kelompok”, yaitu dari kelompok satu ke kelompok lain.
Misalnya, dari laki-laki ke perempuan, dari orang dewasa kepada anak-anak, dari
remaja ke orang tua. Redistribusi horisontal dapat pula bersifat “antar-pribadi”,
yakni dari satu siklus kehidupan seseorang ke siklus lainnya (from one part of an
individual’s life-cycle to another) yang oleh Spicker (1995:60) disebut sebagai “income
smoothing”. Dalam konteks ini, Spicker menjelaskan bahwa jaminan sosial pada
hakekatnya adalah dukungan finansial yang diberikan kepada anak-anak yang
kelak membayar manakala dewasa; yang diberikan kepada orang sakit yang
membayar manakala sehat; atau yang diberikan kepada para pensiunan yang
telah membayar pada saat mereka masih bekerja.
Solidaritas sosial dapat berbentuk dukungan yang saling mengun-tungkan atau
gotong royong (mutual aid) dan aksi kolektif. Dukungan yang saling
menguntungkan menunjuk pada ide diversification of risks dimana setiap anggota
masyarakat atau organisasi setuju untuk berbagi resiko dan tanggungjawab
menghadapi ketidakpastian yang mungkin dialami di masa depan (Spicker, 1995;
MHLW, 1999). Aksi kolektif menunjuk pada ide “fraternity” yang melihat bahwa
usaha kesejahteraan sosial merupakan tanggungjawab bersama seluruh anggota
masyarakat. Jaminan sosial merupakan bentuk solidaritas sosial kepada anggota
masyarakat, terutama kelompok lemah atau rentan (vulnerable groups). Negara
adalah representasi masyarakat yang bertanggungjawab membantu kelompok ini,
yang karena hambatan fisiknya (orang cacat), kulturalnya (suku terasing) maupun
6
strukturalnya (penganggur), tidak mampu merespon secepat perubahan sosial di
sekitarnya, terpelanting ke pinggir dalam proses pembangunan yang tidak adil
(Suharto, 2001a; 2001b; 2001c; 2002).
Pandangan mengenai pentingnya jaminan sosial didasari oleh perspektif
teoretis dan keputusan normatif mengenai bagaimana pendapatan harus
didistribusikan dan peranan apa yang harus dilakukan oleh negara, keluarga,
individu, dan pasar dalam menjamin bahwa seseorang memiliki pendapatan yang
layak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam konteks ini, maka fungsi
jaminan sosial dapat dipilah menjadi dua spektrum sebagaimana dijelaskan oleh
Cheyne, O’Brien dan Belgrave (1998: 176), yaitu a) As a system of state financial
support that is paid to those persons who are not provided for adequately by the market;
dan b) As a system of state financial support paid to those persons who are unable to
secure adequately.
Pada pengertian pertama, tunjangan finansial negara diberikan terhadap warga
negara dikarenakan kegagalan pasar dalam menyediakan sumber-sumber
pendapatan (lapangan pekerjaan). Pada pengertian kedua, bantuan negara
diberikan terhadap orang yang karena sesuatu sebab (cacat, hamil, sakit) tidak
mampu memperoleh pendapatan sebagaimana telah disediakan oleh pasar.
Apabila dipolakan secara tajam, kedua pengertian di atas sangat dipengaruhi oleh
dua paradigma neo-liberal dan demokrat sosial yang memandang kemiskinan dari
kacamata individual dan struktural. Pandangan ini kemudian menjadi basis
perumusan jaminan sosial serta pendekatan-pendekatannya (lihat Tabel 1).
Tabel 1 : Pandangan Neo Liberal dan Demokrat Sosial terhadap Kemiskinan
Landasan Teori
Penyebab
Kemiskinan
Strategi
Penanggulangan
Kemiskinan
Sistem Jaminan
Sosial
Prinsip
Neo Liberal
Individual
Kelemahan dan pilihan-pilihan
individu; lemahnya pengaturan
pendapatan; lemahnya
kepribadian (malas, pasrah,
bodoh)
Penyaluran pendapatan
terhadap orang miskin secara
selektif; memberi pelatihan
ketrampilan pengelolaan
keuangan
Asuransi Sosial
Demokrat Sosial
Struktural
Ketimpangan struktur ekonomi dan
politik; ketidakadilan sosial
Bantuan Sosial
Dukungan yang saling
menguntungkan (mutual aid)
Redistribusi pendapatan vertikal dan
horisontal; aksi kolektif
Penyaluran pendapatan dasar secara
universal; perubahan fumdamental
dalam pola-pola pendistribusian
pendapatan melalui intervensi negara
Sumber: Dikembangkan dari Cheyne, O’Brien dan Belgrave (1998 : 176).
7
Teori neo-liberal berakar pada karya politik klasik yang ditulis oleh Thomas
Hobbes, John Lock dan John Stuart Mill yang intinya menyerukan bahwa
komponen penting dari sebuah masyarakat adalah kebebasan individu. Dalam
bidang ekonomi, karya monumental Adam Smith, the Wealth of Nation (1776), dan
Frederick Hayek, The Road to Serfdom (1944), dipandang sebagai rujukan kaum neoliberal yang mengedepankan azas laissez faire, yang oleh Cheyne, O’Brien dan
Belgrave (1998:72) disebut sebagai ide yang mengusulkan “the almost complete
absence of state’s intervention in the economy.” Secara garis besar, para pendukung
neo-liberal berargumen bahwa jaminan sosial harus disediakan oleh kelompokkelompok swadaya, lembaga-lembaga keagamaan atau oleh keluarga. Peran
negara hanyalah sebagai “agen residual” atau “penjaga malam” yang baru boleh
ikut campur manakala lembaga-lembaga di atas tidak mampu lagi menjalankan
tugasnya (Shannon, 1991; Spicker, 1995; Cheyne, O’Brien dan Belgrave, 1998).
Meskipun secara teoretis kaum neo-liberal menolak tanggungjawab negara
dalam usaha kesejahteraan sosial, dalam praktiknya mereka hanya mengusulkan
penyesuaian kembali program-program kesejahteraan sosial, ketimbang
menghapuskannya sama sekali. Berpijak pada public-choice theory, agency theory,
dan transaction-cost theory, mereka pada intinya ingin mengganti pengaruh para
politisi dan kelompok-kelompok kepentingan dalam pembuatan kebijakan,
dengan keputusan-keputusan yang berdasarkan kepentingan konsumen sejalan
dengan prinsip ekonomi pasar bebas. Penerapan program-program structural
adjustment di beberapa negara merupakan contoh kongkrit dari pengaruh neoliberal dalam bidang kesejahteraan sosial ini.
Keyakinan yang berlebihan tehadap keunggulan mekanisme pasar yang secara
alamiah dianggap mampu mengatasi kemiskinan dan ketidakdilan sosial
mendapat kritik dari kaum demokrat sosial. Berpijak pada analisis Karl Marx dan
Frederick Engels, pendukung demokrat sosial menyatakan bahwa “a free market
did not lead to greater social wealth, but to greater poverty and exploitation…a society is
just when people’s needs are met, and when inequality and exploitation in economic and
social relations are eliminated” (Cheyne, O’Brien dan Belgrave, 1998: 91 dan 97).
Teori demokrat sosial berporos pada prinsip-prinsip ekonomi campuran (mixed
economy) dan majemen ekonomi Keynesian. Teori ini muncul sebagai jawaban
terhadap depresi ekonomi yang terjadi pada tahun 1920-an dan awal 1930-an.
Sistem negara kesejahteraan yang menekankan pentingnya manajemen dan
pendanaan negara dalam pemberian pelayanan sosial dasar, seperti pendidikan,
kesehatan, perumahan dan jaminan sosial, sangat dipengaruhi oleh pendekatan
“ekonomi manajemen-permintaan” (demand-management economics) gaya
Keynesian ini. Meskipun tidak setuju sepenuhnya terhadap sistem pasar bebas,
kaum demokrat sosial tidak memandang sistem ekonomi kapitalis sebagai evil.
Bahkan kapitalis masih dipandang sebagai bentuk pengorganisasian ekonomi
yang paling efektif. Hanya saja, kapitalisme perlu dilengkapi dengan sistem
8
negara kesejahteraan agar lebih berwajah manusiawi. “The welfare state acts as the
human face of capitalism,” demikian menurut Cheyne, O’Brien dan Belgrave,
(1998:79).
Pendukung demokrat sosial berpendapat bahwa kesetaraan merupakan
prasyarat penting dalam memperoleh kemandirian dan kebebasan. Pencapaian
kebebasan hanya dimungkinkan jika setiap orang memiliki atau mampu
menjangkau sumber-sumber, seperti pendidikian, kesehatan yang baik dan
pendapatan yang cukup. Kebebasan lebih dari sekadar bebas dari pengaruh luar;
melainkan pula bebas dalam menentukan pilihan-pilihan (choices). Dengan kata
lain kebebasan berarti memiliki kemampuan (capabilities) untuk melakukan atau
tidak melakukan sesuatu. Misalnya, kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya,
kemampuan menghindari kematian dini, kemampuan menghindari kekurangan
gizi, kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi. Negara karenanya
memiliki peranan dalam menjamin bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dalam
transaksi-transaksi kemasyarakatan yang memungkinkan mereka menentukan
pilihan-pilihannya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Jaminan sosial,
menurut pandangan demokrat sosial, dapat meningkatkan kebebasan karena ia
dapat menyediakan penghasilan dasar dengan mana orang akan memiliki
kemampuan (capabilities) untuk memenuhi kebutuhan dan menentukan pilihanpilihannya (choices). Sebaliknya, ketiadaan jaminan sosial dasar dapat
menyebabkan ketergantungan (dependency) karena dapat membuat orang tidak
memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dan menentukan pilihanpilihannya.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan jaminan sosial adalah kemampuan
masyarakat secara mandiri untuk terus berkembang serta mewaspadai, mencegah,
dan mengatasi terjadinya krisis, yang bersumber dari faktor internal maupun
faktor eksternal, sehingga dapat terwujud suatu kesejahteraan sosial yang adil.
Dalam pengertian tersebut, beberapa hal perlu mendapat perhatian, yaitu:
1) Pengertian dan ruang lingkup masyarakat. Seringkali, wacana pembicaraan
mengenai kesejahteraan masyarakat menempatkan masyarakat sebagai pihak yang
berbeda dengan pemerintah, bahkan sering berbeda dengan pengusaha-swastabesar. Jika dilihat dari perspektif kemanusiaan seperti di atas, yang dimaksud
dengan masyarakat adalah manusia-manusia yang terhimpun berdasarkan suatu
alasan, seperti organisatoris, geografis, kelembagaan, dan hal lainnya. Perbedaan
posisi atau status hanya merupakan bentuk diferensiasi peran dan fungsi dalam
satu kesatuan masyarakat yang utuh. Oleh sebab itu, pengertian masyarakat
(community) dapat pula diartikan sebagai rakyat (people), lebih dari citizen, yang
mencakup unsur-unsur penduduk, pemerintah, pengusaha, NGO, dan sebagainya.
Kemudian, sistem pemerintahannya disebut governance.
2) Pengertian mandiri. Mandiri atau kemandirian seringkali diterjemahkan
sebagai kemampuan sendiri, artinya menggunakan sumber daya sendiri, kerja
9
sendiri, dan dalam lingkungan yang diciptakan sendiri (tertutup). Pada masa lalu,
hal ini mungkin memiliki pendukung yang cukup kuat. Namun, dalam
lingkungan serba global dan terbuka, hal tersebut tidak dapat lagi dipertahankan.
Oleh sebab itu, pengertian “secara mandiri” diartikan sebagai kemampuan untuk
mengambil keputusan sendiri dalam mendayagunakan seluruh sumber daya yang
memungkinkan, termasuk bantuan luar untuk mencapai tujuan. Hal ini sesuai
dengan kecenderungan dunia saat ini, yaitu perubahan dari global dependence
menjadi local interdependence atau lebih kecil lagi individual interdependence yang
identik dengan relationship (keterhubungan).
3) Pengertian mewaspadai, mencegah, dan mengatasi. Hal ini memiliki dimensi
dinamis dan antisipatif. Hanya dengan kemampuan mewaspadai, kejadian buruk
atau krisis yang akan terjadi dapat dicegah atau diminimalkan resikonya.
Kalaupun kejadian buruk ini terjadi juga karena faktor bencana atau malapetaka,
masyarakat secara mandiri masih bisa meminimalkan resiko. Dengan demikian,
mereka juga memiliki pengertian sebagai suatu proses yang berkesinambungan
dan berkelanjutan ( continuos process).
4) Pengertian “krisis” itu sendiri. Dalam batasan ini, yang dimaksud dengan
krisis adalah segala sesuatu yang mengganggu dan merusak banyak sendi
masyarakat dalam luasan lingkup dan waktu yang sangat substansial sehingga
membahayakan dan menjauhkan masyarakat dari pencapaian tujuan
kesejahteraan.
5) Pengertian kesejahteraan yang adil. Yaitu kesejahteraan yang diperoleh tanpa
eksploitasi terhadap salah satu anggota, atau salah satu bagian masyarakat, atau
masyarakat itu sendiri secara keseluruhan, dan imbalan (reward) kesejahteraan
yang diterima sesuai dengan kontribusi yang diberikan. Dalam konteks ini,
hubungan manusia lebih bersifat substantive-functional.
Berdasarkan pengertian keterjaminan sosial di atas, maka yang dimaksud
dengan sistem keterjaminan sosial adalah rangkaian komponen terkait yang
sinergis untuk mewujudkan keterjaminan sosial di suatu wilayah. Batasan
mengenai sistem keterjaminan sosial (SKS) ini kemudian membatasi lingkup
keterjaminan sosial itu sendiri, yaitu:
a) Pemberdayaan Keluarga. Sistem keterjaminan sosial dalam suatu wilayah
masyarakat ditentukan oleh proses pemberdayaan keluarga sebagai unit sosial dan
kekerabatan paling kecil dalam masyarakat. Bila keluarga mampu mewujudkan
kemampuan dalam memenuhi kebutuhan, maka keterjaminan sosial akan lebih
mudah diwujudkan.
b) Pemberdayaan Wilayah Komunitas. Keterjaminan sosial melingkupi
pemberdayaan wilayah, dalam arti sistem keterjaminan sosial dibangun mulai dari
ketahanan wilayah komunitas masyarakat terkecil yang memungkinkan
dilakukannya perencanaan dan pengambilan keputusan bagi pengembangan
sistem keterjaminan sosial. Lingkup terkecil yang dipandang paling tepat adalah
10
tingkat desa, mukim, atau – dalam beberapa kondisi tertentu – dusun atau
kekerabatan adat yang setara. Dengan demikian, keterjaminan sosial di tingkat
nasional dibangun atas keterjaminan sosial masing-masing daerah dengan
memperhatikan karakteristik masing-masing daerah.
c) Pemberdayaan Energi Sosial Kreatif. Energi sosial adalah kemampuan
masyarakat secara bersama-sama memanfaatkan berbagai sumber daya yang
tersedia. Energi ini merupakan kekuatan pokok yang memungkinkan tumbuhnya
sistem yang berkedaulatan rakyat (Sumardjo, 1994; Sayogyo, 1994; Uphoff, 1992).
Sistem keterjaminan sosial dibangun dan dilaksanakan dengan
memberdayakan energi sosial kreatif yang ada dalam masyarakat. Sejalan dengan
lingkup ketahanan wilayah komunitas dan pengertian kemandirian maka basis
utama pengembangan SKS bertumpu pada energi sosial masyarakat sendiri.
Kalaupun diperlukan dukungan eksternal, dukungan tersebut merupakan
pembukaan dan kemudahan aksesibilitas masyarakat pada sumber daya dan cara
penggunaannya. Dukungan lain adalah proses penyadaran dan pemberian
pengetahuan mengenai kemampuan yang sebenarnya dimiliki masyarakat untuk
mampu mengatasi masalahnya sendiri.
Mengacu pada batasan Uphoff (Sayogyo, 1994), energi sosial bersumber pada 3
(tiga) unsur yang saling terkait, yaitu: i) Gagasan (ideas) adalah hasil pikiran
progresif yang tampil dan diterima bersama. Gagasan dapat datang dari dalam
atau dari luar satuan sosial; dari dalam atau dari luar kelompok masyarakat.
Biasanya, gagasan semacam ini diterima oleh masyarakat karena dinilai
bermanfaat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup warga
masyarakat. Gagasan semacam itu bisa berubah sesuai dengan perkembangan
kebutuhan masyarakat, sehingga senantiasa mengandung nilai manfaat yang
nyata dan akan dapat menjadi acuan pola pikir dan pola tindak masyarakat dalam
kehidupan sosial; ii) Idaman (ideal) adalah harapan atau kepentingan bersama yaitu
wujud kesejahteraan bersama sebagai buah realisasi gagasan (ideals). Dalam hal
ini, berlaku norma dasar : “berbuat bagi orang lain sebagaimana orang lain
berbuat bagimu.” Idaman ini dapat menjadi semacam idealisme dari masyarakat
yang bersangkutan, sehingga dalam diri setiap warga masyarakat ada dorongan
atau motivasi untuk mewujudkannya; dan iii) Persaudaraan (friendship) merupakan
wujud solidaritas dalam suatu satuan sosial sebagai daya utama dalam proses
mencapai idaman yang telah dikukuhkan. Solidaritas muncul secara melembaga
dalam kelembagaan lokal karena berbasis pada kesamaan dan kesepakatan atas
harapan atau kepentingan (ideals) yang disadari dan dimiliki bersama, serta ingin
diwujudkan dalam sistem sosial tertentu. Keberadaan ketiga unsur energi sosial
tersebut menjadi dasar terjadinya kerjasama saling tolong menolong, dan
berkembangnya kepedulian sosial dalam suatu konteks keterjaminan sosial.
11
d) Pemberdayaan Kelembagaan Lokal. Konsisten dengan pemikiran di atas, SKS
dibangun dan dilaksanakan dengan memanfaatkan kelembagaan lokal yang sudah
ada. Pembentukan lembaga baru bukan merupakan prioritas pengembangan.
Lembaga baru akan dibangun jika masyarakat sendiri yang membentuknya dan
lembaga lama tidak mampu lagi menjalankan fungsi yang dibutuhkan dalam
pengembangan SKS sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Salah satu
aspek penting yang perlu dilakukan oleh dan dengan pemberdayaan kelembagaan
lokal adalah menentukan atau mengevaluasi kemiskinan (poverty assessments).
Pelaksanaan poverty assessments membutuhkan waktu yang lebih lama dan juga
membutuhkan sumber daya yang lebih banyak. Namun, hasil yang diperoleh bisa
sangat menentukan keberhasilan seluruh sistem keterjaminan sosial itu sendiri.
Pelibatan kelembagaan lokal dalam arti organisasi, norma, tata aturan, hingga
individu lokal akan memberikan manfaat: (a) Consistency, peningkatan
pemahaman terhadap dinamika aspek-aspek kultural, sosial, ekonomi, dan politik
yang berkaitan dengan aspek-aspek keterjaminan sosial itu sendiri; (b) Reality,
menjamin bahwa strategi pengembangan yang akan dilakukan benar-benar
merefleksikan kondisi nyata dalam masyarakat, realistis, dan dapat dilakukan oleh
masyarakat itu sendiri; (c) Sustainability, mendorong tumbuhnya rasa memiliki
sehingga lahir tanggung jawab untuk menjaga dan mempertahankan
kelangsungan sistem; dan (d) Stimulation, membangun kapasitas sosial untuk
mengembangkan program yang mungkin pada awalnya dibangun atas bantuan
dari luar.
B. Aspek-aspek Jaminan Sosial
Aspek-aspek jaminan sosial yang akan dibangun perlu mencakup : ketahanan
pangan, kesehatan, sandang, kerja dan usaha, perumahan dan pendidikan. Urutan
tersebut diperkirakan merupakan urutan kepekaan masyarakat terhadap krisis.
Artinya, jika krisis melanda maka yang pertama kali akan dikorbankan adalah
pendidikan, dan jika telah mencapai krisis pangan maka kondisi yang terjadi
sudah merupakan bencana yang sangat serius. Tetapi ditinjau dari sudut pandang
pemerintah, layanan harus diprioritaskan kepada aspek pendidikan, kesehatan,
pangan, serta kerja dan usaha.
1) Pangan. Ketahanan pangan dapat diamati dari 3 (tiga) dimensi, yaitu: a)
Dimensi sasaran nasional; b) Dimensi waktu atau musim; dan c) Dimensi sosial
ekonomi pangan. Pencapaian ketahanan pangan dapat terlihat dari ketersediaan
pangan, produksi pangan, konsumsi pangan, konsumsi gizi, dan status gizi. Usaha
untuk mewujudkan ketahanan pangan sampai tingkat rumah tangga dapat
ditempuh melalui peningkatan keefektifan dan efisiensi distribusi pangan,
peningkatan daya beli masyarakat, peningkatan kemampuan penyediaan pangan,
12
peningkatan pembentukan cadangan pangan, dan peningkatan pengetahuan
pangan dan gizi (Suharjo, 1996).
Berdasarkan kesepakatan World Food Summit (1996), ketahanan pangan adalah
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota rumah tangga dalam
jumlah, mutu, dan ragam sesuai budaya setempat dari waktu ke waktu agar hidup
sehat dan produktif. Definisi ketahanan pangan rumah tangga yang digunakan di
Indonesia belum mensosialisasikan kesepakatan internasional tersebut, karena
definisi formal ketahanan pangan yang digunakan terbatas pada kondisi
tersedianya pangan yang cukup, bermutu, dan aman di rumah tangga, seperti
yang diamanatkan dalam UU No. 7/1996. Jika pangan merupakan kebutuhan
dasar (basic needs) suatu rumah tangga atau masyarakat, maka ketahanan pangan
menjadi aspek yang paling utama dalam sistem keterjaminan sosial.
2) Kesehatan. Kesehatan setiap anggota keluarga merupakan syarat mutlak
untuk dapat bekerja produktif, menghasilkan pendapatan yang akan digunakan
untuk pemenuhan kebutuhan hidup lainnya. Meskipun ketahanan pangan
keluarga akan menentukan kesehatan anggota keluarga, tetapi kesehatan anggota
keluarga juga dapat ditentukan oleh faktor-faktor nonpangan, seperti infeksi
patogen, pelayanan kesehatan dan perubahan lingkungan. Oleh karena itu,
keterjaminan kesehatan merupakan salah satu aspek dalam keterjaminan sosial.
Upaya minimal untuk bertahan hidup adalah bebas dari penyakit serius. Hal ini
seringkali tidak dapat dipenuhi oleh anggota keluarga. Berdasarkan pertimbangan
ini, aspek kesehatan dalam keterjaminan sosial menunjukkan kemampuan
keluarga untuk mengakses pelayanan kesehatan bagi setiap anggota keluarga
yang mengalami gangguan kesehatan serius.
3) Sandang dan Perumahan. Pakaian dan perumahan merupakan kebutuhan
untuk meminimalkan resiko perubahan lingkungan yang akan berdampak pada
gangguan kesehatan. Disamping itu, pakaian dan perumahan juga merupakan
wahana untuk mewujudkan pemenuhan kebutuhan sosial-psikologis keluarga dan
anggotanya. Berdasarkan hal tersebut, pemilihan pakaian secara kuantitas
maupun kualitas dapat dijadikan sebagai indikator keterjaminan sandang.
Demikian pula halnya dengan perumahan. Kualitas dan luas lantai rumah yang
dimiliki dapat dijadikan sebagai indikator pemenuhan kebutuhan papan atau
perumahan dalam konteks keterjaminan sosial.
4) Usaha dan Kerja. Kerja merupakan sumber utama pendapatan masyarakat.
Namun, kerja seringkali merupakan basis eksistensi seseorang atau suatu
keluarga. Sebagaimana ditunjukkan oleh kondisi krisis, kehilangan pekerjaan
merupakan pukulan pertama yang memicu bentuk ketidaksejahteraan lain.
Pecantuman keterjaminan kerja dan usaha sebagai aspek keterjaminan sosial dan
bukan pendapatan merupakan usaha untuk memberikan jaminan keberlanjutan
yang lebih baik, juga untuk mengoreksi kemungkinan masalah daya beli,
13
aksesibilitas yang tertutup, ketiadaan kebutuhan, serta mengurangi pelaksanaan
yang manipulatif.
Aspek keterjaminan kerja dan usaha dapat diartikan sebagai kemampuan
masyarakat untuk terus menjaga ketersediaan lapangan pekerjaan dan
memberikan kesempatan berusaha bagi anggota masyarakat dalam berbagai
kondisi dan melalui mekanisme sosial tertentu. Hal ini melahirkan banyak
konsekuensi kebijakan, mulai dari tingkat makro (nasional) hingga ke tingkat
rumah tangga. Beberapa di antaranya adalah: a) Promosi kegiatan ekonomi yang
berbasis pada sumber daya lokal dan pasar lokal; b) Mengembangkan berbagai
pengubah ekonomi (nilai tukar, tingkat bunga, anggaran pemerintah, pajak, dan
lain-lain), yang bersahabat dengan pengembangan kegiatan ekonomi sebagian
besar rakyat; c) Membiasakan tabungan dan cadangan mulai dari tingkat nasional,
daerah, desa, hingga rumah tangga; dan d) Membudayakan kebiasaan berusaha
secara baik melalui pengenalan sumber daya yang dimiliki dan prospek jenis
usaha.
C. Mekanisme Jaminan Sosial
Sistem jaminan sosial secara garis besar mengikuti dua metode, yaitu asuransi
sosial (social insurance) dan bantuan sosial (social assistance) (MHLW, 1999).
Asuransi sosial adalah jaminan sosial yang diberikan kepada para peserta asuransi
berdasarkan premi yang dibayarkannya. Sistem asuransi kesehatan dan pensiun
adalah dua bentuk asuransi sosial yang umum diterapkan di banyak negara.
Bantuan sosial adalah jaminan sosial yang umumnya diberikan kepada kelompok
lemah dalam masyarakat yang meskipun tidak membayar premi tetapi dapat
memperoleh tunjangan pendapatan atau pelayanan sosial. Program-program
kesejahteraan sosial bagi anak-anak, penyandang cacat, lanjut usia merupakan
beberapa contoh bantuan sosial.
Baik jaminan sosial yang berbentuk asuransi sosial maupun bantuan sosial,
secara umum dikelola dengan mengikuti strategi dasar, yaitu: 1) Universal dan
selektifitas, yaitu jaminan sosial yang bersifat universal diberikan secara
menyeluruh kepada semua warga negara. Sedangkan jaminan sosial selektifitas
hanya diberikan kepada kelompok tertentu saja melalui pentargetan (selektifitas),
misalnya kelompok miskin; 2) In-cash dan in-kind menunjuk pada jenis manfaat
atau tunjangan dalam jaminan sosial yang diberikan dalam bentuk uang (income
transfer), sedangkan in-kind adalah jenis manfaat jaminan sosial yang berbentuk
barang atau pelayanan sosial (benefits in kind); dan 3) Publik dan swasta bahwa
jaminan sosial dapat diselenggarakan oleh negara (publik) atau oleh
lembaga-lembaga swasta yang umumnya berbentuk Perseroan Terbatas.
14
Jaminan sosial dapat diberikan melalui sistem asuransi sosial yang didanai oleh
premi asuransi maupun melalui bantuan sosial yang dananya diperoleh dari
pendapatan pajak. Asuransi sosial ditetapkan berdasarkan insurance expertise.
Pemberian manfaat asuransi diperhitungkan berdasarkan premi asuransi. Secara
prinsip, pemerintah pusat bersama dengan lembaga-lembaga publik lainnya
menjadi penyelenggara asuransi sosial. Kepesertaan asuransi sosial bersifat wajib
(obligatory). Sistem asuransi medis dan asuransi pensiun adalah dua tipe asuransi
sosial yang sangat luas dikenal.
Bantuan sosial tidak ditetapkan berdasarkan insurance expertis. Manfaat
bantuan sosial diberikan berdasarkan dana yang dihimpun dari pendapatan pajak.
Pemerintah pusat dan daerah memberikan uang atau pelayanan sosial kepada
penduduk sebagai bentuk kepedulian atau kewajiban negara terhadap pemenuhan
hak-hak dasar warganya. Sistem bantuan publik adalah sebuah contoh tipikal dari
bantuan sosial. Disamping program-program kesejahteraan sosial untuk anakanak, orang dengan kecacatan (ODK), dan orang lanjut usia; bantuan sosial juga
meliputi tunjangan untuk keluaga (umumnya keluarga tunggal atau tidak
mampu) yang memiliki tanggungan anak dan pensiun kesejahteraan (welfare
pension). Di Amerika Serikat, salah satu bentuk bantuan sosial yang terkenal adalaf
AFDC (Aid for Families with Dependent Children) yang kini berubah menjadi TANF
(Temporary Assistance for Needy Families) (Chambers, 2000).
Dalam mendesain mekanisme jaminan sosial, penentuan tipe sistem, apakah
akan berbentuk asuransi sosial atau bantuan sosial, sangat tergantung pada tujuan
dan isi dari sistem tersebut, serta perubahan-perubahan historis dalam lingkungan
negara yang bersangkutan. Di seluruh dunia, sistem jaminan medis (medical
security) dan jaminan pendapatan orang lanjut usia (old-age income security)
umumnya diberikan dalam bentuk asuransi sosial, seperti asuransi medis dan
asuransi pensiun.
D. Komponen Jaminan Sosial
Sistem Keterjaminan Sosial yang akan dibangun perlu disusun atas komponenkomponen dalam suatu sistem kerja yang utuh, yaitu:
1) Sistem ketahanan lokal menggambarkan mekanisme dan organisasi
masyarakat untuk mampu mengatasi masalah krisis di tingkat lokal dengan
memanfaatkan atau mendayagunakan sumber daya yang tersedia di daerah. Hal
ini dapat diwujudkan melalui: a) Pengembangan sumber daya lokal; dan b)
Pengembangan organisasi lokal.
2) Dana atau program pemerintah untuk menangani masalah dan krisis sosial
ekonomi. Berbagai program bantuan telah dilaksanakan pemerintah sebagai upaya
untuk membantu keluarga-keluarga yang tergolong miskin agar mereka dapat
15
meningkatkan kualitas hidupnya menuju kondisi yang lebih baik. Dalam gerakan
pembangunan keluarga sejahtera, bantuan program diberikan sesuai dengan
masalah yang dihadapi oleh setiap keluarga. Namun, secara garis besar, program
bantuan pemerintah ini diarahkan pada perbaikan dan peningkatan penguasaan
ekonomi keluarga.
3) Mekanisme kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat (Asuransi Sosial).
Sistem asuransi sosial pada dasarnya merupakan perwujudan komitmen
pemerintah bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan yang
wajar untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Program asuransi sosial
berhubungan dengan penanggulangan resiko dasar seseorang. Berdasarkan UU
No. 2/1992 tentang usaha pengasuransian, terdapat beberapa ciri yang
membedakannya dengan asuransi sosial, yaitu: a) Bersifat wajib, asuransi sosial
berlaku konsep open ended group karena adanya prinsip penyertaan wajib bagi
seluruh pekerja yang berada dalam kelompok pekerja formal, maupun yang
berada dalam kelompok nonformal; b) Maslahat dasar, harus dapat memberikan
manfaat yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat
tanpa harus mengurangi secara signifikan pangsa pemasaran sektor asuransi
komersial; c) Subsidi silang, berfungsi sebagai sarana untuk dapat melaksanakan
redistribution of income yang merupakan salah satu tujuan pembangunan.
Pelaksanaannya diperlukan secara terencana dan secara gotong royong sehingga
yang mampu membantu yang kurang mampu, dan kelompok yang beresiko tinggi
dibantu oleh kelompok yang beresiko rendah; dan d) Dijalankan oleh BUMN,
badan pelaksana asuransi sosial harus diciptakan oleh pemerintah. Program
penempatan dana hanya dilakukan pada instrumen pemerintah yang sepenuhnya
dijamin dan harus dipastikan bahwa pemerintah memanfaatkan dana tersebut
untuk membiayai program pembangunan nasional.
4) Bantuan luar negeri. Dengan keterbatasan dana pemerintah, masyarakat
sekarang ini dapat meningkatkan akses dengan pihak luar negeri. Dalam sistem
keterjaminan sosial, bantuan luar negeri masih dapat dijadikan salah satu alternatif
pendanaan namun tidak dalam jumlah yang besar. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari ketergantungan dan kemanjaan yang menyebabkan kesulitan untuk
mandiri. Oleh karena itu, bantuan luar negeri menjadi salah satu komponen sistem
keterjaminan sosial. Kreativitas untuk membuat kerjasama yang bersifat
mutualistik dengan pihak luar negeri harus dirangsang seluas-luasnya.
5) Pembangunan Ekonomi Nasional. Pembangunan ekonomi nasional
mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang penting bagi penyediaan kesempatan
kerja dan menumbuhkan pendapatan, permintaan, dan penawaran. Sistem
keterjaminan sosial sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pembangunan nasional,
karena daya untuk mengembangkan sistem keterjaminan sosial di masing-masing
komponen subsistem sangat ditentukan oleh keberdayaan masyarakat secara
umum, terutama dalam memenuhi kebutuhan, meningkatkan pendapatan,
16
meningkatkan tabungan, dan sebagainya; yang merupakan unsur kemajuan
tingkat ekonomi masyarakat.
Gambar 1: Kaitan antar komponen
Masyarakat
Sistem Ketahanan
Dana/Program
Pemerintah untuk
Penanganan Masalah
dan Krisis Sosial
Pembangunan
Ekonomi Nasional
Mekanisme
Kesejahteraan
Sosial Ekonomi
Masyarakat
Bantuan
Luar Negeri
Sumber: Tim Crescent, 2003
Pada dasarnya, arah dari pengembangan sistem keterjaminan sosial adalah
perlunya perubahan paradigma terutama menyangkut masalah sistem
pengelolaan dana masyarakat dalam mewujudkan masyarakat sejahtera, menuju
masyarakat yang adil dan makmur, dengan ciri pengembangan kemandirian, baik
kemandirian di tingkat lokal (kabupaten) maupun di tingkat hierarki yang lebih
rendah, dengan menerapkan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good
governance).
Dalam perspektif ini, pengembangan suatu sistem keterjaminan sosial untuk
mendukung pencapaian kesejahteraan sosial bukan sesuatu yang mengada-ada.
Pengembangan sistem tersebut perlu dipandang sebagai suatu usaha untuk
mengembalikan kemampuan masyarakat mencapai kesejahteraannya sendiri.
Dengan kata lain, dalam mewujudkan pembangunan yang bersifat humanistik
dan berkelanjutan dimana setiap elemen masyarakat ikut merasakan hasilhasilnya, pengembangan pendekatan pemberdayaan masyarakat akan
meningkatkan efektifitas dan efesiensi penggunaan sumber daya pembangunan
17
yang makin langka. Pendekatan ini akan meningkatkan relevansi program
pembangunan (pemerintah) terhadap masyarakat lokal dan meningkatkan
kesinambungannya, dengan mendorong rasa memiliki dan tanggung jawab
masyarakat. Selain itu, pendekatan ini juga memiliki kontribusi dalam
meningkatkan kinerja staf pemerintah dan kepuasan pelanggan atas pelayanan
pemerintah.
E. Kesimpulan
Sebagai kesimpulan bahwa lesson learn bagi Indonesia untuk mengatasi kendala
yang dihadapi dalam pengembangan social security system sebagai alternatif
meningkatkan kesejahteraan rakyat, yaitu:
Pembenahan mekanisme pelaksanaan program bantuan sosial yang tidak
sentralistik, yang mengakomodasi keanekaragaman karakteristik dan tuntutan
lokal. Misalnya dalam pelaksanaan program Bantuan Langsung Tunai (BLT),
dimana secara nasional ditetapkan bahwa besar bantuan BLT adalah Rp. 100
ribu/bulan selama tiga bulan, berlaku untuk semua daerah. Sementara setiap
daerah di Indonesia mempunyai standar hidup yang berbeda.
Integrasi dan hubungan yang kuat antara pengelolaan bidang-bidang
pembangunan ekonomi (perindustrian, perdagangan, ketenagakerjaan);
pembangunan sosial (kesehatan, pendidikan, perumahan); dengan bidang
kesejahteraan sosial. Agar efektivitas pencapaian program bidang kesejahteraan
rakyat dapat tercapai, yang ditandai dengan bertambahnya tingkat kesejahteraan
rakyat.
Jaminan asuransi dan jaminan sosial dapat meningkatkan kualitas hidup
masyarakat miskin dan memberikan semangat hidup yang lebih berarti. Sistem
asuransi dan jaminan sosial yang ada saat ini, masih diberlakukan secara
diskriminatif, hanya terbatas kepada mereka yang memiliki uang saja. Untuk itu,
pemerintah berkewajiban memberikan jaminan asuransi yang memadai kepada
masyarakat miskin.
Agenda pembangunan daerah memprioritaskan pemberantasan kemiskinan
sebagai skala prioritas yang utama, mendorong tekad semua pihak untuk
mengakui kegagalan penanggulangan kemiskinan selama ini, membangkitkan
kesadaran kolektif agar memahami kemiskinan sebagai musuh bersama, dan
meningkatkan partisipasi semua pihak dalam memberantas kemiskinan. Mereka
yang bertanggungjawab dalam menyusun anggaran belanja harus menyadari
pentingnya peningkatan kesejahteraan rakyat, sehingga upaya ini ditempatkan
dan mendapat prioritas utama dalam setiap program di setiap instansi.
Menyediakan ruang gerak yang seluas-luasnya, bagi munculnya aneka inisiatif
dan kreativitas masyarakat di berbagai tingkat (pemberdayaan masyarakat).
18
Dalam hal ini, pemerintah lebih berperan hanya sebagai inisiator, selanjutnya
bertindak sebagai fasilitator dalam proses tersebut, sehingga akhirnya, kerangka
dan pendekatan penanggulangan kemiskinan disepakati bersama.
F. Rekomendasi
Membuka peluang dan kesempatan berusaha bagi orang miskin untuk
berpartisipasi dalam proses pembangunan ekonomi. Pemerintah harus
menciptakan iklim agar pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati oleh semua
lapisan masyarakat, terutama oleh penduduk miskin. Karena itu, kebijakan dan
program yang memihak orang miskin perlu difokuskan kepada sektor ekonomi
riil (misalnya; pertanian, perikanan, manufaktur, usaha kecil menengah), terutama
di sektor informal yang menjadi tulang punggung orang miskin.
Perlu adanya Kebijakan dan Program yang Melindungi Kelompok Miskin.
Kelompok masyarakat miskin sangat rentan terhadap goncangan internal
(misalnya kepala keluarga meninggal, jatuh sakit, kena PHK) maupun goncangan
eksternal (misalnya kehilangan pekerjaan, bencana alam, konflik sosial), karena
tidak memiliki ketahanan atau jaminan dalam menghadapi goncangan-goncangan
tersebut. Kebijakan dan program yang diperlukan mencakup upaya untuk; (a)
mengurangi sumber-sumber resiko goncangan; (b) meningkatkan kemampuan
kelompok miskin untuk mengatasi goncangan dan; (c) menciptakan sistem
perlindungan sosial yang efektif.
Perlu merumuskan kembali makna solidaritas sosial diantara anggota
masyarakat melalui peningkatan pemahaman mengenai perlunya membagi
tanggungan dan manfaat jaminan sosial bagi kelompok-kelompok dan generasigenerasi yang berbeda. Selain itu, sistem jaminan sosial perlu diperkuat sebagai
infrastruktur modal sosial (social capital) bagi masyarakat menuju kehidupan yang
stabil. Sejalan dengan menguatnya semangat civil society, menjamurnya organisasiorganisasi sosial merupakan wahana bagi pengentalan modal sosial. Desentralisasi
dan otonomi daerah perlu diikuti dengan penguatan integritas dan potensi lokal
dalam mengelola sumber-sumber pendanaan bagi jaminan sosial (misalnya, zakat
mal) melalui program-program pengembangan masyarkat dan partisipasi sosial.
Dra. Augustin Rina Hearwati, M.Si adalah Dosen Tetap STIA LAN Jakarta, Kepala
Bagian Administrasi Pusat Kajian Administrasi Internasional LAN.
Email: [email protected]
19
Daftar Pustaka
A Victorian Government Initiative. 2006. A Fairer Victoria: Progress and Next Steps.
Australia, State of Victoria.
Beddie, Francesca. 2001. Putting Life Into Years. Australia: The Commonwealth
Department of Health and Aged Care.
Best of OTOP. 2006. The Unlimited Wisdom. Bangkok.
Colin Morison. 2006. Local Government in Victoria. Victoria: Department for
Victorian Communities.
Crescent, Tim. 2003. Menuju Masyarakat Mandiri: Pengembangan Model Sistem
Keterjaminan Sosial (Terjemahan). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Department of Human Service. 2004. Need for Improvement, National Reform Agenda
and DHS Productivity. Australia, Melbourne, Victoria.
Department of Education and Training. 2006. Summary Statistics for Victorian
Schools.
Departemen Sosial RI. 2005. Petunjuk Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Melalui
Asuransi Kesejahteraan Sosial (Askesos) Bagi Pekerja Mandiri di Sektor Informal.
Jakarta.
Departemen Sosial RI. 2005. Panduan Manejemen Asuransi Kesejahteraan Sosial
(Askesos). Jakarta.
Department of Human Service. 2005. A Guide to Concessions in Victoria: Assistance
for People on Low Incomes. Australia, Victoria.
Department of Human Service, Concessions Unit. 2006. Utility Relief Grant Scheme
Guidelines. Australia, Victoria.
Department of Human Service, Concessions Unit. 2005. State Concessions 2003-2004,
Helping Lower Income Victorians Afford Essential Services. Australia, Melbourne,
Victoria.
Department of Human Service. 2005. Concessions and Rebates. Australia, Melbourne,
Victoria.
Department of Health and Ageing. 2005. Australian Government Directory of Services
for Older People. Australia.
Edmonds, Adrian. 2006. Department of Human Services. Victoria.
Jamasy, Owin. 2004. Keadilan, Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan.
Bandung: PT. Mizan Publika.
Maas, Frank . 2006. A Fairer Victoria: The Victorian Government’s Social Policy
Statements 2005-2006. Victoria.
Ministry of Labour. 2005. Social Security Scheme in Thailand. Thailand.
Ministry of Social Development and Human Security. 2004. Thailand.
Ministry of Interior. 2003. Roles and Responsibilities Community Development
Department. Bangkok.
20
Office of Women’s Affairs and Family Development (OWAFD), Ministry of Social
Development and Human Security. 2006. Convention on the Elimination of All
Forms of Discrimination Against Women and Optional Protocol. Bangkok, Thailand.
Pusat Kajian Administrasi Internasional. 2006. Kajian Analisis Kebijakan Sistem
Keterjaminan Sosial Menuju Masyarakat Mandiri. Jakarta: LAN.
Rich, Jeff . 2006. DVC Presentation to Indonesian Delegation. Victoria: Department for
Victorian Communities.
Social Security Office. 2004. Annual Report. Bangkok.
The Department for Victorian Communities and Community Development
Finance. 2005. Victoria.
Undang-Undang Dasar 1945 beserta Amandemen
Undang-Undang No. 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Kesejahteraan Sosial
Yayasan TIFA. 2005. Semua Bisa Seperti Jembrana. Jakarta.
21
22
Download