BAB VI FAKTOR-FAKTOR PEMENGARUH

advertisement
184
BAB VI
FAKTOR-FAKTOR PEMENGARUH IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI
KOTA DENPASAR
Implementasi kebijakan pembelajaran bahasa Inggris pada jenjang SD di
Kota
Denpasar
tidak dapat dipisahkan dengan berbagai perubahan dan
kepentingan. Dalam hal ini berbagai perubahan dan kepentingan itu, seperti:
globalisasi dan kecenderungan ekonomi, citra pariwisata Bali, kepentingan
kekuasaan pemerintah, kebutuhan masyarakat terhadap keseimbangan budaya
global, serta kesadaran dan prestise sekolah.
6. 1 Globalisasi dan Kecenderungan Ekonomi
Pada era globalisasi ini penguasaan bahasa asing, baik bahasa Inggris
maupun bahasa asing lainnya mempunyai peran yang sangat strategis. Oleh
karena
perkembangan
menunjukkan
bahwa
banyak
negara
yang
dulu
memposisikan bahasa Inggris sebagai bahasa asing kini mulai memposisikan
bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Alasan perpindahan tersebut adalah karena
pada era globalisasi ini diperlukan penguasaan ilmu dan teknologi dalam
hubungannya dengan ekonomi.
Bali sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia, sudah tentu
memerlukan sumberdaya manusia yang mampu berkomunikasi dalam bahasa
Inggris. Sudah lama penguasaan bahasa Inggris menjadi pengetahuan dan
kebutuhan yang perlu dipelajari dan dipenuhi oleh orang Bali. Sejak tahun 1960-
184
185
an hingga sekarang, pelajaran bahasa Inggris menjadi mata pelajaran yang tidak
kalah gengsinya dari pelajaran lain seperti Matematika dan IPA. Besarnya
kebutuhan untuk belajar bahasa Inggris telah membuat pengetahuan ini menjadi
sebuah komoditas bisnis tersendiri. Saat ini banyak kursus-kursus bahasa Inggris
yang menjamur di Kota Denpasar. Orangtua kemudian seperti berlomba-lomba
mengirimkan anak mereka untuk mengikuti kursus bahasa Inggris pada salah satu
lembaga kursus pengajaran bahasa Inggris yang ada di Kota Denpasar. Apabila
dulu siswa baru mempelajari bahasa Inggris pada tingkat SMA, tetapi sekarang
mereka memulainya pada tingkat yang lebih dini, yaitu SD dan bahkan beberapa
TK telah memberikan pengajaran bahasa Inggris.
Seperti yang kita rasakan dan saksikan, saat ini prekonomian Bali sangat
tergantung dengan pariwisata. Pemerintah dan para pengusaha telah membangun
infrastruktur kepariwisataan yang sudah memadai di Pulau Bali sebagai daerah
tujuan wisata utama di Indonesia. Kabupaten Badung yang berbatasan dengan
Kota Denpasar adalah daerah yang paling banyak mempunyai fasilitas
kepariwisataan. Untuk bisa bersaing dalam merebut peluang kerja di sektor
pariwisata, warga harus menyiapkan diri dalam merebut pekerjaan di sektor
tersebut yang sudah tentu mengutamakan kemampuan berbahasa Inggris. Oleh
karena itu, orangtua harus menyiapkan putra-putrinya agar mampu berbahasa
Inggris dengan baik kalau mau bersaing dengan para pencari kerja dari daerah
lain. Pada era globalisasi ini para pencari kerja dituntut agar mampu berbahasa
Inggris sehingga kebijakan pembelajaran bahasa Inggris dimulai sejak SD
merupakan kebijakan untuk mempersiapkan sumber daya manusia di bidang
186
kepariwisataan. Memang banyak kelemahan yang mesti diperbaiki dalam
melaksanakan suatu kebijakan yang melibatkan banyak komponen, seperti:
pemerintah, sekolah, dan orangtua siswa, serta masyarakat luas.
Oleh karena orang Bali masih menganut budaya timur, maka anak tidak
boleh protes jika diharuskan ayah ibunya untuk mempelajari bahasa Inggris.
Banyak orangtua yang mengharuskan anaknya mengikuti kursus bahasa Inggris
tanpa mampu memberikan alasan yang jelas mengapa bahasa Inggris itu penting
bagi mereka seperti pentingnya belajar matematika. Anak pun belajar bahasa
asing ini hanya karena orangtuanya mengatakan sebagai mata pelajaran yang
penting. Masih banyak orangtua murid yang beranggapan bahwa bahasa Inggris
dapat membuat seseorang sukses dalam hidup, mampu membuat orang mendapat
pekerjaan bagus, mampu membuat orang pergi ke luar negeri, dan yang lainnya.
Ada tiga alasan pentingnya mempelajari bahasa Inggris bagi orang Bali, yaitu
faktor pariwisata, komunikasi, dan akses pada informasi.
Pertama, yakni faktor pariwisata, Bali sangat dekat dengan Australia yang
penduduknya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama. Di samping
Australia, Bali sangat dekat dengan negara-negara tetangga yang kebanyakan
penduduknya menggunakan bahasa Inggris, baik sebagai bahasa pertama maupun
bahasa kedua, seperti: Singapura, Malaysia, Filipina, Selandia Baru, dan Papua
Nugini. Bahasa Indonesia hanya digunakan di Indonesia sebagai bahasa ibu.
Bahasa Melayu dan Indonesia memang masih bersaudara tetapi belum tentu
orang-orang dari Malaysia dan Indonesia saling memahami satu sama lainnya saat
berbicara dengan bahasanya masing-masing. Dalam hal ini yang menguasai
187
bahasa Indonesia di Singapura saja tidak banyak apalagi di Australia, Papua
Nugini, atau Filipina. Faktor geografis menjadi alasan pertama mengapa orang
Indonesia perlu mempelajari bahasa Inggris. Apabila suatu saat nanti seorang
warga Bali bepergian ke salah satu negara yang disebutkan di atas, modal
pengetahuan dan keterampilan berbahasa Inggris akan mempermudah orang itu
dalam berkomunikasi dengan warga negara setempat.
Kedua, yakni paling umum, bahasa Inggris perlu dipelajari karena
penggunaannya yang menyebar luas sebagai bahasa komunikasi internasional.
Agar dapat melakukan komunikasi dengan orang-orang yang berbeda latar
belakang budaya, kebangsaan, dan kenegaraan, bahasa Inggris menjadi pilihan
utama yang sering dipakai dalam melakukan komunikasi. Contoh yang mudah
dapat dilihat adalah di dunia pariwisata. Para wisatawan dari berbagai bangsa
yang melakukan perjalanan di negara asing lazim menggunakan bahasa Inggris
untuk dapat berkomunikasi dengan warga negara asli yang dikunjunginya. Dalam
hal ini bukan hanya penutur asli bahasa Inggris, wisatawan yang tidak
menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu juga memilih bahasa Inggris
sebagai lingua franca-nya.
Informasi dan buku-buku yang bersikulasi di dunia ini kebanyakan
diterbitkan dalam bahasa Inggris. Dalam hal ini tidak menjadi masalah siapa yang
menerbitkannya. Namun, yang pasti untuk memperoleh pasar yang luas banyak
penerbit menerbitkan bacaan dalam bahasa Inggris. Majalah besar, seperti:
Newsweek, Time, Vogue, Bazaar, People, Life, National Geographic, MacWorld,
dan lain-lain ditulis dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Koran, seperti:
188
Washington Post, New York Times, dan Wall Street Journal juga terbit dengan
bahasa Inggris. Buku-buku ilmiah dan juga karya ilmiah terakreditasi
internasional juga terbit dalam bahasa Inggris. Apabila ada bahan bacaan yang
terbit dalam bahasa non-Inggris, maka terjemahan bahasa Inggris pun pasti
langsung dibuat dan dipasarkan. Website populer di dunia internet lebih banyak
menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar untuk artikel di dalamnya, lihat
saja Yahoo dan Google, disajikan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris.
Stasiun televisi terkenal di dunia juga disiarkan dalam bahasa Inggris, seperti:
CNN, BBC, NBC, Discovery, National Geographic, Animal Planet, dan masih
banyak yang lainnya.
Jurnal ilmiah yang bersirkulasi di antara universitas elite dunia juga
tercetak dalam bahasa Inggris. Bahan referensi yang tersedia di universitasuniversitas di Indonesia pun secara tidak langsung mengharuskan mahasiswa
untuk memiliki bekal pengetahuan bahasa Inggris. Apa pun minat warga
masyarakat, informasi yang tersedia di sekitar Anda saat ini mensyaratkan
pengetahuan dan penguasaan bahasa Inggris karena akan sangat membantu dalam
menambah pengetahuan dan memperluas wawasan. Keterampilan berbahasa
Inggris yang dimiliki warga Indonesia, termasuk di Kota Denpasar akan menolong
mereka untuk mengakses hal-hal yang selama ini tidak ada di dalam bacaanbacaan yang terbit di Indonesia. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Inggris
memudahkan orang Indonesia untuk mengembangkan wawasan pengetahuannya
dengan memberikan akses pada pengetahuan yang ada di luar Indonesia.
Berdasarkan alasan tersebut di atas, pengetahuan bahasa Inggris untuk
189
perkembangan seorang individu di negara Indonesia menjadi suatu hal yang tidak
terelakkan. Suka tidak suka, bahasa Inggris sangat penting dipelajari oleh setiap
orang Indonesia. Pernyataan tersebut di atas didukung oleh data hasil wawancara
dengan Bapak I Gusti Ngurah Anom, orangtua siswa dan selaku warga
masyarakat Kota Denpasar.
“Saya sangat mendukung pembelajaran bahasa Inggris diberikan di
sekolah dasar pada era globalisasi ini. Sebagai daerah tujuan wisata utama,
Bali harus menyiapkan sumber daya yang mampu berbahasa Inggris
dengan baik. Kemajuan tekhnologi informasi mengharuskan para siswa
dan mahasiswa untuk menguasai bahasa Inggris. Sumber utama
prekonomian Bali adalah dari sektor pariwisata dan oleh sebab itu sumber
daya manusia Bali harus mampu berbahasa Inggris, baik lisan maupun
tulisan kalau mau bersaing dalam merebut pekerjaan di sektor pariwisata.
Tanpa menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris akan sulit bagi
pencari kerja pada era globalisasi ini untuk mampu merebut peluang yang
ada. Persaingan tidak akan terjadi di antara orang Indonesia, tetapi akan
bersaing dengan orang asing yang pada umumnya sudah menguasai bahasa
Inggris. Kegunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari sangat
besar manfaatnya seperti pada acara televisi yang banyak disiarkan dalam
bahasa Inggris. Saya sangat setuju apabila jumlah jam pelajaran bahasa
Inggris perlu ditambah dan bila perlu berikan saja dari kelas satu karena
saya rasakan pelajaran bahasa Inggris yang diberikan sekarang masih
kurang. Saya sebagai orangtua siap untuk membayar guru bahasa Inggris
kalau sekolah tidak mampu membayar guru tersebut. Untuk itu saya rasa
bahasa Inggris sebaiknya diberikan lebih awal.” (wawancara 20 September
2009).
Dari ungkapan hasil wawancara tersebut di atas jelas menunjukkan bahwa dalam
kehidupan sehari-hari, manfaat bahasa Inggris akan terasa secara langsung dalam
media-media hiburan, film asing berbahasa Inggris. Sebaliknya, jika tidak
memahami bahasa Inggris, banyak hal akan berlalu tanpa makna. Misalnya, acaraacara televisi, iklan-iklan yang menarik, film-film, lagu-lagu, dan sebagainya yang
memakai bahasa Inggris. Penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia sering keliru,
bahkan menyesatkan.
190
Ketidakmampuan memahami bahasa Inggris, menyebabkan masyarakat
menjadi konsumen media massa yang tidak dialogis dan kritis, malahan salah atau
tidak mengerti isi pesan yang disampaikan kepada kita. Padahal saluran media itu
membuka dan memperkaya wawasan. Dari sisi arus informasi, telah terjadi aliran
informasi yang dahsyat bahkan menjangkau lokasi-lokasi yang secara geografis
terpencil. Perubahan dan kemajuan teknologi informasi yang amat melonjak
didukung adanya kemajuan dalam komunikasi optik fiber, pemanfaatan satelit,
dan ketersediaan fasilitas telepon dan internet yang telah meluas di masyarakat.
Kemudahan komunikasi secara mengglobal ini meletakkan bahasa Inggris sebagai
bahasa yang paling banyak digunakan seperti program radio serta pemakaian
bahasa Inggris di internet.
6.2 Citra Pariwisata Bali
Pulau Bali yang lebih dikenal dengan Pulau Dewata merupakan salah satu
pulau wisata yang sudah sangat terkenal di mancanegara. Kekayaan alam dan
budaya yang bernilai religius, membuat
pulau ini mendapat banyak julukan
seperti: the island of gods, the island of paradise dan terakhir sebagai the island of
peace and love setelah bintang film terkenal bernama Julia Roberts, membintangi
film dengan judul ”the island of peace and love”. Selain keindahan alam yang
dimilikinya, hal ini menjadikan Pulau Bali sebagai salah satu pulau wisata paling
terkemuka di dunia. Hal ini juga yang mendukung pengajaran bahasa Inggris
untuk SD sehingga mendapat sambutan yang positif dari masyarakat Bali,
terutama dalam kaitannya dengan penguasaan bahasa asing yang sangat
dibutuhkan dalam dunia pariwisata. Pentingnya pengajaran bahasa Inggris dimulai
191
dari sekolah dasar, mendapat tanggapan dari I.G.N. Rai Indrawan, S.S., M.Si.,
orangtua siswa dan juga seorang guru sekolah dasar SD. No. 8 Dauh Puri seperti
berikut ini.
“Selaku orangtua dan sebagai guru, saya sangat mendukung pemberian
pelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar sebagai mata pelajaran muatan
lokal. Dimunculkannya muatan lokal di sekolah dasar adalah bahwa
kegiatan pendidikan di mana pun selalu berlangsung dalam suatu
lingkungan tertentu. Lingkungan ini dapat memberi pengaruh kepada
perkembangan anak didik. Dengan muatan lokal ini pula di Bali banyak
sekolah dasar memberikan pelajaran bahasa Inggris mulai dari kelas
empat, dan bahkan ada yang mulai dari kelas satu. Sebagai orangtua, saya
berharap agar para siswa mempunyai keterampilan dalam berbahasa
Inggris yang sangat diperlukan dalam lingkungannya yang merupakan
daerah tujuan wisata terkenal di dunia dengan pariwisata budayanya. Kita
semua tahu bahwa sumber devisa terbesar untuk Bali adalah dari sektor
pariwisata.” (Wawancara 2 Oktober 2009).
Data hasil wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa manfaat penguasaan
bahasa Inggris yang paling menonjol tentunya yang berhubungan dengan
pariwisata. Industri pariwisata Bali, yang menjadi andalan untuk menarik devisa,
membutuhkan tenaga kerja trampil berbahasa Inggris, minimal pada taraf dasar
dan pasif. Bali memiliki potensi wisata budaya, alam, serta agrowisata. Pariwisata
merupakan salah satu lahan yang dapat digarap dengan sumber daya manusia
Bali, baik sebagai penyedia jasa maupun barang. Pada saat seperti itulah bahasa
Inggris merupakan persyaratan pokok bagi tenaga kerja yang terlibat langsung
dengan dunia pariwisata.
Dalam kenyataan hingga saat ini Bali masih memegang peran sangat
penting dalam kehidupan pariwisata Indonesia. Bahkan di kalangan pariwisata
dunia, Bali dianggap sebagai pulau pesiar terbaik sedunia (the best destination
192
island). Dalam riwayatnya, sejalan dengan perjalanan waktu sejak zaman
Belanda, Bali memang sudah menjadi buah bibir di kalangan warga Belanda yang
berada di Indonesia (ketika itu Hindia Belanda). Di antara warga Belanda yang
bermukim di Indonesia kala itu menganjurkan berkunjung ke Bali sebelum
meninggalkan Indonesia. Demikian kuatnya daya tarik Bali untuk warga Belanda
sehingga perusahaan penerbangan Belanda KLM (Koninklijke Luchtsvaart
Maatschapij) ketika mempromosikan penerbangannya ke Indonesia pada awal
tahun 1970-an menggunakan slogan, “Fly to Bali with KLM“, padahal ketika itu
KLM tidak terbang ke Bali karena di Bali belum ada bandara internasional.
Mereka harus melalui Jakarta terlebih dahulu. Bali semakin populer setelah
perusahaan-perusahaan penerbangan negara lain, seperti: Japan Airlines, Cathay
Pacific, Pan Am, Qantas dan lain-lain menawarkan terbang ke Bali.
Untuk menjaga citra Bali sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia,
bahasa Inggris memegang peranan sangat penting dalam menunjang aktivitas
kepariwisataan yang merupakan sumber devisa utama bagi perekonomian
masyarakat Bali. Pariwisata merupakan industri perdagangan jasa karena dalam
kegiatannya semata-mata menjual jasa sehingga produknya hanya dapat
dikonsumsi dan dinikmati pada saat berada di suatu tempat. Dalam hal ini sangat
berbeda dengan produk perdagangan komesial lainnya yang barangnya dapat
dibawa pulang setelah transaksi jual-beli. Pelayanan, yang juga menggunakan
bahasa Inggris merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam industri pariwisata,
di samping merupakan salah satu tuntutan wisatawan pada saat melakukan
kegiatan menghabiskan waktu luang untuk perjalanan wisata. Selanjutnya untuk
193
memberikan jaminan pelayanan yang memuaskan kepada wisatawan diperlukan
penyediaan sumber daya manusia (human resource) yang berkompetensi,
berkualitas, profesional, dan berstandar internasional serta paling tidak harus
mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, baik lisan maupun tulisan. Namun,
kenyataannya sumber daya manusia pariwisata Bali, khususnya orang-orang Bali,
belum memiliki kualifikasi yang sesuai dengan permintaan wisatawan. Hal ini
terlihat jelas pada kebanyakan industri pariwisata bahwa orang-orang Bali hanya
menduduki posisi-posisi sebagai front liner yang memiliki pekerjaan yang cukup
berat, tetapi mendapatkan penghasilan yang jauh lebih sedikit daripada posisiposisi di tingkat manajer (managerial position) yang umumnya dipegang oleh
orang-orang dari luar Bali bahkan dari luar negeri. Hal ini terjadi karena
kemampuan sumber daya pekerja Bali masih kalah dengan orang luar yang
memang datang ke Bali untuk ikut terlibat dalam dunia pariwisata. Pekerja asing
pada umumnya mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang lebih baik,
terutama para level manager yang datang dari negara tetangga, seperti: Philipina,
Singapura, dan Malaysia.
Pemberian pelajaran bahasa Inggris dimulai dari SD mendapat dukungan
penuh dari orangtua siswa. Mereka mengatakan bahwa bahasa Inggris mempunyai
peranan yang sangat penting dalam era globalisasi, terlebih Bali merupakan
daerah kunjungan wisata utama saat ini. Di samping bantuan finansial lewat
komite sekolah, dukungan nyata yang mereka lakukan adalah mengeluarkan biaya
untuk mendatangkan guru private ataupun memberikan kesempatan kepada putraputrinya untuk mengikuti kursus baik di lembaga-lembaga pendidikan maupun
194
kursus-kursus bahasa Inggris yang sedang menjamur di Denpasar saat ini.
Pernyataan tersebut diperkuat dari data hasil wawancara dengan Ibu Ulima
Febriani, orangtua siswa SD 1 Sesetan, seperti berikut ini.
“Saya sangat setuju bahasa Inggris diajarkan di sekolah dasar karena
bahasa Inggris dipergunakan oleh banyak negara. Siswa akan bisa pergi ke
luar negeri apabila dia mampu berbahasa Inggris. Bahasa Inggris sangat
penting karena Denpasar adalah kota wisata. Saya juga membantu anak
saya di rumah dalam belajar bahasa Inggris, terutama untuk kosa kata yang
saya ketahui. Di samping itu juga, saya daftarkan anak saya ke lembaga
kursus IEC. Harapan saya sebagai orangtua, supaya pemerintah
memasukkan pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib dan
bukan muatan lokal sehingga pemerintah memberikan guru tetap yang
bersatus sebagai PNS. Guru yang ada sekarang adalah guru honor yang
diambil dari lembaga kursus dan guru kelas yang senang bahasa Inggris
atau pernah ikut kursus bahasa Inggris. Guru bahasa Inggris semestinya
tamatan FKIP yang mempunyai kemampuan untuk mengajarkan siswa
sekolah dasar.” (wawancara 2 september 2009).
Ungkapan di atas menggambarkan bahwa siswa yang mendapatkan pelajaran
bahasa Inggris dari sekolah saja sudah tentu mempunyai prestasi akademik yang
kurang dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan pelajaran tambahan di
luar sekolah. Harapan orangtua ke depan pada umumnya adalah
pemberian
pelajaran bahasa Inggris hendaknya diberikan bukan dari kelas empat saja, tetapi
hendaknya dari kelas satu. Mereka sangat berharap kepada pemerintah provinsi
maupun pemerintah kabupaten agar lebih serius melanjutkan kebijakan ini dengan
menyiapkan guru bahasa Inggris yang khusus tamatan LPTK. Guru ini memang
dipersiapkan untuk mengajar pembelajar pemula atau bahasa Inggris untuk young
learners. Mereka juga berharap kepada Dinas Pendidikan supaya secara rutin
mengadakan workshop, penataran, serta pelatihan lainnya yang bertujuan
meningkatkan kemampuan guru bahasa Inggris yang ada. Hal ini sangat penting
195
karena guru yang ada kebanyakan belum disiapkan untuk mengajarkan bahasa
Inggris untuk pembelajar pemula. Orangtua menganggap bahasa Inggris harus
diajarkan dengan baik sejak awal. Jikalau tidak, akan menyebabkan siswa tidak
ada minat belajar bahasa Inggris pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. Kalau
pendidikan awal tidak bagus, maka mereka akan menjadi tidak tertarik untuk
belajar bahasa Inggris.
Pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah pariwisata dari tingkat SMK
sampai dengan diploma atau program setara diploma adalah lembaga pendidikan
yang mendidik sumber daya manusia untuk menjadi pekerja pariwisata yang
berkompetensi (memiliki pengetahuan, keahlian, dan perilaku), tetapi sayangnya
pendidikan dan pelatihan yang diberikan ditujukan untuk posisi-posisi kelas
bawah, seperti: waiter, waitress, cook, bellboy, room attendant, engineer, dan
lain-lain. Secara jujur dan berdasarkan pengamatan yang dilakukan, tamatan atau
produk sekolah atau lembaga setingkat diploma bidang kepariwisataan belum
mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang bagus. Mereka mendapatkan
pengetahuan dan keterampilan tentang kepariwisataan, tetapi kemampuan
berbahasa Inggris mereka masih kurang. Situasi dan kondisi ini pula yang
mendorong pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota untuk memberikan
pendidikan bahasa Inggris mulai SD dengan harapan supaya sumber daya manusia
Bali dapat menjadi tenaga yang siap pakai dan mampu merebut peluang kerja
pada semua sektor kepariwisataan. Kita semua mengetahui bahwa Bali sekarang
ini diserbu bukan hanya oleh tenaga kasar dalam pembangunan infrastruktur ,
melainkan juga oleh tenaga kerja dari luar Bali untuk tenaga bidang
196
kepariwisataan yang relatif mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang lebih
baik. Sehubungan dengan hal itu, maka ke depan sumber daya manusia Bali harus
mampu menangkap peluang kerja pada sektor pariwisata dengan bekal bahasa
asing yang bagus terutama bahasa Inggris.
Marak dan menjamurnya sekolah-sekolah menengah kejuruan pariwisata
dan lembaga pendidikan yang memberikan pelatihan setingkat D I memang dapat
membantu mengurangi jumlah pengangguran karena setelah tamat mereka
mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan sejumlah uang. Namun, jika dilihat dari
posisi yang diperoleh di tempatnya bekerja apabila ditelusuri lebih jauh, maka
secara tidak langsung telah turut serta berkontribusi terhadap penciptaan
kemiskinan yang terstruktur (structural poverty) karena penghasilan yang
diperoleh biasanya hanya cukup untuk makan, transportasi, dan menyewa rumah
atau kamar. Dengan demikian, uang yang diperoleh tidak dapat lagi dialokasikan
untuk meningkatkan kesejahteraannya dan menjamin kehidupannya kelak.
Di samping pentingnya penguasaan bahasa Inggris sebagai sumber daya
manusia (SDM) Bali, faktor keanekaragaman adat dan budaya yang dimiliki Bali
juga akan memengaruhi persaingan dalam merebut peluang kerja pada sektor
pariwisata di Bali. Adat dan budaya Bali yang sangat terkenal dan dikagumi oleh
wisatawan mancanegara merupakan daya tarik wisata Bali perlu dikemas dan
diinformasikan kepada dunia dan wisatawan yang menikmati Bali dan Kota
Denpasar dengan menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan keagamaan dan adat
istiadat yang merupakan bagian dari budaya Bali merupakan faktor pendukung
majunya industri pariwisata, tetapi kegiatan tersebut jika tidak disikapi dengan
197
baik dan diadakan penyesuaian terhadap kesepakatan yang dijadikan oleh anggota
desa adat (awig-awig), maka akan menjadi faktor penghambat majunya sumber
daya manusia Bali pada industri pariwisata. Kewajiban untuk mengikuti kegiatan
keagamaan dan adat merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh setiap orang Bali
karena mereka sebagai masyarakat sosial yang terikat dengan adat istiadat di desa
asalnya. Melihat kondisi ini, maka sangat tidak mungkin bagi orang Bali untuk
dapat bekerja secara profesional sesuai dengan tuntutan industri pariwisata. Dalam
hal ini sumber daya manusia luar Bali yang bekerja di industri pariwisata sangat
siap untuk bekerja secara profesional karena mereka tidak dituntut untuk
melaksanakan kewajiban sebagaimana layaknya sumber daya manusia Bali.
Penguasaan bahasa Inggris, baik secara umum maupun secara khusus
memberikan andil yang sangat besar di bidang pariwisata. Untuk mampu bersaing
dengan sumber daya manusia dari negara-negara tetangga atau dari negara lain,
maka orang Bali harus dapat atau paling tidak mempunyai kemampuan
komunikasi yang setingkat dengan tenaga asing tersebut. Sehubungan dengan hal
ini, pemberian pelajaran bahasa Inggris dari sekolah dasar merupakan kebijakan
yang sangat tepat untuk pengadaan sumber daya manusia Bali, di samping untuk
merebut peluang kerja yang saat ini belum sepenuhnya bagi orang Bali.
6.3 Kepentingan Kekuasaan Pemerintah Lewat Pendidikan Nasional
Perkembangan zaman serta berlangsungnya era pasar bebas dunia
menyebabkan percakapan dan transaksi dengan menggunakan bahasa Inggris
sangatlah penting. Di ranah (domain) inilah secara spesifik, fungsi transaksional
bahasa lintas negara, dalam hal ini bahasa Inggris sangat diperlukan di sisi bahasa-
198
bahasa internasional lainnya, terutama yang berkaitan dengan teknologi, bisnis,
serta kebudayaan yang selalu berkembang. Bahasa Inggris adalah bahasa
pengantar internasional sehingga bahasa tersebut menjadi bahasa pengantar dunia.
Alangkah ironisnya jika bangsa kita tidak dapat berbaur dengan bangsa di dunia
disebabkan ketidakmampuan berbahasa Inggris. Dalam hal ini disadari dan diakui
bahwa dalam era globalisasi ini sangat penting untuk menguasai paling tidak
bahasa Inggris ataupun bahasa asing lainnya. Tanpa penguasaan bahasa Inggris
yang baik, suatu negara tidak akan maju. Banyak yang mengambil contoh dari
penguasaan bahasa Inggris seperti di Malaysia dan India. Pernyataan tersebut di
atas mendapat tanggapan dari Putu Pujana, guru SD 5 Saraswati Denpasar, yakni
sebagai berikut.
“Bahasa Inggris sebagai muatan lokal di sekolah dasar mendapat
tanggapan yang positif, baik dari orangtua maupun siswa. Mereka sadar
bahwa dalam pasar bebas ini bahasa Inggris mempunyai peran yang sangat
strategis dalam komunikasi internasional. Dalam menghadapi pasar bebas
nanti, tenaga kerja Indonesia harus mampu bersaing dengan para tenaga
kerja asing seperti Malaysia, Philipines, Singapura dan India yang pada
umumnya mereka menguasai bahasa Inggris lebih baik dari orang
Indonesia. Kebijakan pemberian bahasa Inggris melalui lembaga
pendidikan formal di sekolah dasar merupakan keputusan yang tepat untuk
memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar bahasa Inggris lebih
baik” (wawancara 1 Oktober 2009).
Ungkapan tersebut di atas didasarkan kepada kenyataan bahwa memasuki era
globalisasi atau yang lebih dikenal dengan pasar bebas menuntut setiap individu
agar mempersiapkan sumber daya yang handal, terutama di bidang IPTEK. Agar
dapat menguasai teknologi dengan baik diperlukan pengetahuan yang memadai
sehingga warga Indonesia, termasuk warga Bali umumnya dan warga Kota
Denpasar khususnya, dapat memanfaatkannya dalam menghadapi tuntutan dunia
199
global yang syarat dengan persaingan. Dalam hal ini peranan bahasa Inggris
sangat diperlukan, baik dalam menguasai teknologi komunikasi maupun dalam
berinteraksi secara langsung.
Salah satu upaya strategis untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam
hal penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris adalah melalui jalur
pendidikan. Sistem dan kurikulum pendidikan harus memihak kepada peningkatan
penguasaan bahasa asing, di samping bahasa Indonesia yang sudah menjadi
keharusan. Saat ini Indonesia secara umum masih dihadapkan pada permasalahanpermasalahan paling mendasar, seperti rendahnya kemampuan dan tingkat
membaca masyarakat serta rendahnya tingkat kesejahteraan. Semua hal ini tentu
saja memerlukan waktu agar dapat diselesaikan dengan baik melalui jalur
pendidikan yang mampu memainkan aktor penting dalam tumbuh kembangnya
bangsa ini.
Memasuki era globalisasi atau yang lebih dikenal dengan pasar bebas
menuntut setiap individu untuk mempersiapkan sumber daya yang handal,
termasuk di bidang komunikasi. Dalam hal ini peranan bahasa Inggris sangat
diperlukan, baik dalam menguasai teknologi komunikasi maupun dalam
berinteraksi secara langsung. Sebagai sarana komunikasi global, bahasa Inggris
harus dikuasai secara aktif, baik lisan maupun tulisan. Sayangnya, dewasa ini
sebagian masyarakat masih berparadigma bahwa dengan adanya bahasa Inggris,
maka akan lahirlah generasi-generasi penerus bangsa yang kehilangan jati dirinya,
terutama dalam aspek bahasa (sebagai salah satu elemen budaya nasional/ jati diri
bangsa). Mereka berpikir bahwa generasi muda itu akan lebih sering
200
menggunakan bahasa Inggris (yang nota bene memang berasal dari budaya Barat)
sebagai bahasa kebanggaan mereka, sedangkan bahasa Indonesia sendiri yang
memang sudah menjadi bahasa nasional kita justru akan terbengkalaikan,
termasuk bahasa Bali.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut, setiap orang yang tidak
membuat dirinya mahir, setidaknya dalam dua bahasa lain akan mengalami
kesulitan untuk merebut peluang kerja dalam menghadapi pasar bebas yang segera
dilakukan di kawasan Asia. Oleh karena itu, dalam konteks tersebut, perlu adanya
perubahan paradigma berpikir tentang pentingnya bahasa Inggris. Persepsi baru
bahwa dalam era globalisasi menghadapi AFTA 2015 nanti, daya saing tiap-tiap
individu dari berbagai negara saling berlomba dalam mendominasi berbagai
macam lapangan kerja. Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu (bahasa
nasional) yang wajib dikuasai, bahasa internasional pun menjadi bahasa kedua
yang patut dan wajib dikuasai. Sebab bahasa Inggris adalah bahasa global yang
sangat berperan dalam interaksi dan komunikasi global seiring dengan kemajuan
dan persaingan global. Singkatnya, pemahaman dan penguasaan bahasa Inggris
sebagai bahasa global hendaknya tidak dikaitkan dengan kepunahan atau ancaman
dan gangguan terhadap bahasa asli atau bahasa ibu, termasuk juga bahasa
Indonesia.
Kehadiran bahasa Inggris secara fungsional, dalam arti tidak sebatas
pengetahuan
kebahasaan
(grammatical
competence),
tetapi
kemampuan
berkomunikasi verbal (verbal communicative competence), seharusnya semakin
menumbuhkan kecintaan, kesetiaan, dan sikap positip terhadap bahasa daerah,
201
bahasa ibu, dan bahasa Indonesia. Dahulu, mungkin bahasa Inggris masih menjadi
hal yang sedikit tabu untuk dipelajari dan dipahami lebih dalam lagi. Namun, saat
ini justru sebaliknya, bahasa Inggris yang merupakan alat komunikasi dalam era
globalisasi menjadi kunci utama keberhasilan seseorang dalam mencapai karier
masa depannya. Dengan kata lain, kemampuan dalam berbahasa Inggris dapat
pula dijadikan sebagai investasi (investasi ilmu) yang selalu memperoleh manfaat.
Hasil yang diperoleh dari sebuah investasi, biasanya relatif dalam jangka panjang.
Sebab investasi itu memerlukan proses. Ibarat orang menanam, harus sabar untuk
memetik hasilnya. Demikin pula dalam belajar bahasa Inggris, sabar tetapi pasti.
Adapun keuntungan dari investasi tersebut adalah bahwa dalam pasar global atau
Asian Free Trade Association (AFTA) nanti kita tidak akan kalah bersaing dan
dapat terus bertahan dengan kemampuan yang telah kita miliki ditunjang dengan
kemampuan dalam berbahasa Inggris.
Di samping itu, jika kita berniat bekerja di perusahaan multinasional atau
perusahaan asing, otomatis kemampuan berbahasa Inggris pula yang sangat
diandalkan dan menjadi persyaratan utama yang harus dipenuhi. Berdasarkan
alasan-alasan di atas, tidaklah mustahil perkembangan teknologi yang semakin
pesat menuntut masyarakat untuk lebih proaktif dalam menanggapi arus informasi
global sebagai aset dalam memenuhi kebutuhan pasar. Sebagai bahasa pergaulan
dunia, bahasa Inggris bukan hanya sebagai kebutuhan akademis karena
penguasaannya tidak hanya terbatas pada aspek pengetahuan bahasa, tetapi
sebagai media komunikasi global. Untuk menguasai bahasa Inggris dengan baik
mestinya proses belajar mengajar menekankan aspek latihan (trial and error)
202
sehingga siswa akan terlibat secara aktif dalam menyampaikan pendapat/ gagasan
secara bebas sesuai dengan kondisi nyata. Hal tersebut sangat dianjurkan sebab
pengetahuan bahasa Inggris untuk perkembangan seorang individu di negara
Indonesia menjadi suatu hal yang tidak terelakan. Bagaimanapun subjek yang satu
ini menjadi hal yang perlu dipelajari oleh setiap orang Indonesia. Biarpun Anda
tidak yakin akan mendapat kesempatan untuk ke keluar negeri, pengetahuan ini
juga tetap diperlukan. Minimal, Anda tidak perlu terbengong-bengong ketika
menonton siaran berita CNN lantaran tidak ada terjemahan di bagian bawah layar
televisi atau bingung saat membaca buku manual penggunaan alat elektronik yang
hanya tercetak dalam bahasa Inggris, terlebih lagi anda tidak perlu merasa resah
dalam detik-detik menjelang AFTA (pasar global) 2015 nanti.
6. 4 Kesadaran dan Prestise Sekolah
Pada era globalisasi ini, bahasa Inggris sudah menjadi kewajiban untuk
dipelajari dan digunakan. Oleh karena itu, belajar bahasa Inggris perlu diterapkan
pada anak sejak dini. Peranan bahasa Inggris lebih terasa diperlukan anak-anak di
kota-kota, terutama di kota-kota besar. Jadi, mempersiapkan anak lebih awal akan
jauh lebih baik karena anak menjadi siap apabila masa itu sudah datang. Selain
itu, manfaat yang lain adalah pada saat ini buku dan bacaan yang bagus untuk
mereka, juga banyak terdapat di dalam bahasa Inggris. Mereka akan lebih
diuntungkan apabila menguasai bahasa Inggris karena mereka akan lebih banyak
memperoleh informasi. Di samping itu, dalam mengoperasikan komputer dan
internet, bahasa Inggris sangat dominan menjadi bahasa pengantarnya. Pernyataan
203
tersebut di atas didukung oleh data hasil wawancara dengan Ni Made Sukerti,
guru bahasa Inggris SD No 1 Saraswati, yakni sebagai berikut.
“Pada umumnya bahasa Inggris sangat diminati oleh siswa dan ini
dibuktikan kebanyakan dari mereka ikut les tambahan diluar jam pelajaran
bahasa Inggris. Saya juga sering menerima masukan dari orangtua murid
supaya jam pelajaran bahasa Inggris ditambah serta diberikan mulai dari
kelas satu. Saya merasakan pelajaran bahasa Inggris sangat diminati oleh
siswa, terlebih materi pelajaran dapat disampaikan oleh guru dengan
membawa alat-alat peraga atau benda benda nyata yang dapat membantu
siswa dalam suatu proses belajar-mengajar. Para siswa mengatakan bahwa
mereka belajar bahasa Inggris untuk bisa bekerja di luar negeri atau
bekerja di perusahaan asing. Mereka juga mengatakan bahwa pelajaran
bahasa Inggris sangat berguna untuk mengakses internet.” (wawancara 6
Oktober 2009).
Tuturan di atas menggambarkan kebijakan yang diambil oleh pemerintah provinsi
Bali dan pemerintah Kota Denpasar untuk memberikan pelajaran bahasa Inggris
di SD sangatlah tepat. Hal ini dilakukan untuk menyiapkan generasi muda penerus
yang lebih cerdas dan mampu bersaing pada era globalisasi saat ini. Pengajaran
bahasa asing memang harus disesuaikan di mana kita mengajar dan bagaimana
budayanya. Jadi, sisipkanlah budaya kita dalam pengajaran bahasa Inggris kepada
anak-anak kita nantinya. Sangat menarik untuk dipetik pelajaran bilamana suatu
pengajaran bahasa Inggris diajarkan melalui struktur budaya masyarakat yang
heterogen dengan mempertimbangkan
budaya
mereka. Alasan utama ialah
budaya yang merupakan wujud etik dan generik kebahasaan. Apa yang diajarkan
tidak sesuai dengan budaya mereka, maka substansi dianggap tidak relevan.
Bahasa Inggris sangat penting bagi setiap individu yang mau maju sebab semua
peralatan yang kita pakai dipandu oleh bahasa Inggris agar melihat dunia yang
lebih luas. Bahasa Inggris merupakan bahasa wajib yang harus dimiliki oleh setiap
pemain di dunia usaha. Oleh karena itu suka atau tidak suka bagi siapa yang ingin
204
hidup atau bertahan di dalam kompetisi bisnis yang cepat dan selalu dinamis maka
diharapkan menguasai bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional yang
layak dikuasai dan digunakan.
Saat ini di beberapa kota besar sedang ramainya orang berbicara sekolah
bertaraf international (SBI) dan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)
yang jumlahnya sudah, sedang, dan akan semakin berkembang. Selain
mempunyai arti seperti itu, SBI juga mempunyai arti lain, yakni sekolah bertarif
internasional dan sekolah berbahasa Inggris. Dalam hal ini SBI menawarkan
pengajaran dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Jadi, semua mata pelajaran
akan diajarkan pada putra-putri Indonesia dalam bahasa Inggris. Guru-guru yang
ada merupakan orang Indonesia dan tenaga asing. Kecuali tentu saja mata
pelajaran bahasa Indonesia yang tidak mungkin diajarkan dengan bahasa Inggris.
Di samping itu, dalam SBI, istilah „internasional‟, selain dimaknai dengan segala
fasilitas sekolah berstandar internasional, juga erat kaitannya dengan bahasa
Inggris.
Tujuan pembelajaran bahasa Inggris pada jenjang SD adalah untuk
menyiapkan peserta didik supaya mempunyai kemampuan dasar bahasa Inggris
sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi seperti SMP dan SMA. Bahasa
asing jangan sampai menjadi bahasa pengantar pendidikan di sekolah, tetapi
sebagai bahasa pengantar mata pelajaran bahasa Inggris saja. Saat ini sejumlah
sekolah yang berlabel RSBI dan SBI menempatkan bahasa Inggris sebagai bahasa
pengantar pendidikan. Hal ini tentu bertentangan dengan Pasal 33 UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Untuk
205
mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran di sekolah, hindari
penggunaan bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Dengan bahasa asing siswa
dikhawatirkan justru akan bingung dan tidak mengerti persoalan atau malah salah
pengertian. Penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pendidikan akan
mereduksi peran bahasa Indonesia dari dunia keilmuan dan kehidupan masa depan
bangsa. Pengetahuan apa pun akan lebih cepat dimengerti siswa apabila
disampaikan dengan bahasa mereka sendiri. Pernyataan tersebut diatas didukung
oleh data hasil wawancara dengan Putu Sarjana, S.Pd., orangtua siswa dan juga guru di
SD Santo Yosep Denpasar berikut ini.
“Bahasa Inggris hendaknya dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah
dasar, bukan merupakan mata pelajaran muatan lokal pilihan. Di era global
ini sumber daya manusia Indonesia umumnya atau Bali khususnya, harus
mampu berbahasa Inggris untuk merebut peluang kerja di sektor
pariwisata. Saya mengharapkan pelajaran bahasa Inggris ini supaya
diajarkan oleh guru yang profesional. Bahasa Inggris sangat perlu
diajarkan pada pendidikan dasar, asalkan menjadi salah satu mata
pelajaran dan bukan bahasa pengantar. Jadi bahasa Indonesia harus tetap
dipergunakan sebagai bahasa pengantar mata pelajaran selain mata
pelajaran bahasa Inggris. Guru supaya menyajikan materi pengajaran yang
disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa. Jangan terlalu banyak
diberikan tugas dan tes agar siswa tidak terbebani serta untuk menjaga
motivasi mereka dalam belajar. Ajarkan kepada mereka tentang kegiatan
sehari-hari sehingga siswa dapat menerima bahasa baru secara bertahap”
(wawancara tgl 8 September 2009).
Tuturan di atas menunjukkan bahwa pemerintah tidak melarang sekolah
mengajarkan bahasa asing. Namun, bahasa Indonesia harus mendapat prioritas
utama untuk diajarkan kepada siswa. Banyak orangtua berlomba-lomba mendidik
anak mereka dengan bahasa asing, tetapi lupa bahwa bahasa Indonesia adalah
bahasa yang dapat membentuk karakter dan kepribadian bangsa. Memang ada
anggapan atau penilaian penggunaan bahasa asing yang terlalu dini mulai dari
206
taman kanak-kanak justru akan mengacaukan kemampuan berbahasa anak.
Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar bukan untuk mengganti peran
bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, melainkan bahasa Inggris
dipergunakan untuk menyampaikan materi pelajaran bahasa Inggris saja.
Dengan situasi dan kondisi sekarang ini sudah tentu dengan landasan
hukum yang ada, pengajaran bahasa Inggris yang ditetapkan sebagai muatan lokal
pilihan masih banyak ditemukan kendala di lapangan, terutama masalah guru
bahasa Inggris. Jadi, pengajaran bahasa Inggris di SD sangat penting untuk
diperhatikan oleh Disdikpora tingkat kecamatan dalam rangka mempersiapkan
siswa tamatan SD untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi atau menuju sekolah
bertaraf internasional (SBI) yang sedang menjamur saat ini atau paling tidak akan
dapat diterima di sekolah- sekolah yang menjadi RSBI. Memang saat ini
keberadaan sekolah-sekolah tersebut sedang dievaluasi, bahkan banyak kalangan
yang mendesak pemerintah untuk menyiapkan aturan yang jelas tentang standar
SBI di Indonesia.
Dengan adanya fenomena seperti dipaparkan sebelumnya banyak,
orangtua siswa, terutama yang
berasal dari kalangan menengah ke atas
berkeinginan agar anak-anak mereka menguasai bahasa Inggris sejak dini. Tujuan
yang sangat mulia ini didasari atas kesadaran bahwa tantangan hidup pada masa
depan sangatlah berat. Oleh karena mempersiapkan anak sebaik mungkin
merupakan strategi pembangunan sumber daya manusia yang harus dihargai.
Dari pihak sekolah juga memberikan respon yang positif, yakni dengan
memberikan pelajaran bahasa Inggris sejak kelas empat sesuai dengan kebijakan
207
yang ditetapkan oleh pemerintah, bahkan beberapa SD sudah merintis pengajaran
bahasa Inggris sejak kelas satu. Dalam hal ini sekolah yang telah memberikan
pelajaran bahasa Inggris dengan hasil yang bagus akan mempunyai nilai tambah
dan kebanggaan tersendiri karena banyak permintaan dari masyarakat untuk
memilih sekolah yang bersangkutan. Hal ini sudah tentu memberikan nilai tambah
terhadap sekolah tersebut karena dapat memilih calon siswa baru yang
mempunyai kemampuan bagus. Jadi, sekolah yang bisa memberikan pelajaran
bahasa Inggris yang baik dan dengan sarana dan prasarana yang memadai akan
mempunyai kebanggaan tersendiri, di samping merupakan prestise tersendiri bagi
sekolah bersangkutan, seperti yang dikatakan oleh I Ketut Yoel, Kepala SD 1
Harapan Denpasar di bawah ini.
“Sebenarnya pelajaran bahasa Inggris ini sudah diberikan di sekolah kami
sejak 1987, sebelum ditetapkannya sebagai muatan lokal pilihan. Alasan
sekolah memperkenalkan bahasa Inggris adalah untuk memenuhi harapan
akan sumber daya manusia yang mampu merebut peluang kerja di sektor
pariwisata. Yayasan sangat mendukung memperkenalkan bahasa Inggris
dalam rangka menjaga prestise sekolah. Permintaan untuk
memperkenalkan bahasa Inggris, juga atas kehendak orangtua siswa.
Mereka mempercayakan putra-putrinya di sekolah kami karena ada
anggapan bahwa sekolah yang mampu memberikan pelajaran bahasa
Inggris dengan baik merupakan sekolah yang bergengsi. Kenyataan
menunjukkan minat masyarakat untuk mempercayakan pendidikan putra
putrinya di sekolah kami terus meningkat.” (wawancara 7 September
2009).
Lebih dari itu, dalam kaitan dengan pendidikan formal secara umum,
bahasa Inggris adalah persyaratan untuk belajar komputer. Program-program
pokok, terutama di bidang komputer hanya tersedia dalam bahasa Inggris.
Perintah-perintah sederhana dalam penggunaan komputer pun dalam bahasa
Inggris. Ketiadaan kaitan nyata, antara hidup sehari-hari para siswa, dengan bahan
208
pelajaran bahasa Inggris, adalah persoalan yang telah ada sejak lama. Pengajaran
bahasa Inggris yang kaku dijamin akan membuat para siswa jenuh, apalagi bila
tema yang diberikan tidak menarik minat mereka sebagai remaja. Untuk
mengatasi masalah ini dan membuat bahasa Inggris menjadi pelajaran yang
menarik, para pengajar dapat memodifikasi cara pengajaran sehingga tercipta
keterkaitan antara pengalaman nyata para siswa dan bahan pelajaran. Belajar
bahasa asing adalah kegiatan belajar yang berlangsung bukan saja di ruang kelas.
Menjamurnya kepemilikan video (VCD) merupakan sarana belajar bahasa Inggris
yang sangat luas kegunaannya di sekolah-sekolah. Demikian pula, tayangan
televisi yang berbahasa Inggris merupakan peluang untuk menjadikan bahasa
Inggris akrab dengan kehidupan nyata sehingga dalam mempelajarinya tidak lagi
dirasakan sebagai beban seperti yang dikatakan oleh Nabila Ulfa Jayanti, siswa
SD No.1 Saraswati Denpasar.
“Saya senang belajar bahasa Inggris karena saya ingin mengerti bahasa
Inggris yang ada pada program komputer. Saya lebih suka belajar bahasa
Inggris kalau guru menunjukkan gambar-gambar yang berwarna. Saya
tidak suka kalau guru terlalu banyak menerangkan tata bahasa dan sering
memberikan pekerjaan rumah. Saya senang apabila guru mengajak belajar
di luar kelas. Belajar sambil bermain sangat meyenangkan. Kalau bisa,
guru lebih sering mengajar dengan mempergunakan video.” (wawancara 6
Oktober 2009).
Dalam hal ini pemberian pelajaran bahasa Inggris untuk siswa sekolah
dasar merupakan harapan orangtua, siswa, dan komite sekolah. Sekolah yang bisa
memberikan pelajaran bahasa Inggris yang bagus dan menyenangkan akan
diminati oleh masyarakat. Dengan demikian, akan menambah prestise sekolah
tersebut sehingga menjadi sekolah favorite yang diminati oleh masyarakat. Dari
209
uraian sebelumnya sangatlah jelas bahwa memberikan pelajaran bahasa Inggris
sejak awal secara baik dan menyenangkan akan menanbah prestise sekolah yang
bersangkutan.
Download