Penciptaan Alam Semesta fix

advertisement
PENCIPTAAN ALAM SEMESTA DI TINJAU DARI SAINS DAN AGAMA
Oleh:
Romaidi
Penciptaan Alam Semesta Menurut Perspektif Sains
Menurut prinsip Kosmologi modern, dasar terbentuknya alam semesta dapat
dikelompokkan ke dalam tiga teori :
1. Teori Keadaan Tetap
“Alam semasta sama di manapun atau bilamanapun atau dengan kata
lain alam semesta sama di mana-mana setiap saat.”
Hipotesis ini disebut Kosmologi Keadaan Tetap (Steady-State Cosmology).
Namun teori ini tergoyahkan karena alam semesta cenderung mengembang
dan tidak tetap.
2. Teori Osilasi
“Materi alam semesta bergerak saling menjauhi kemudian akan
berhenti, lalu akan mengalami pemampatan demikian seterusnya secara
periodik.”
Teori ini mengemukakan bahwa alam semesta sekarang sedang
mengembang karena sebelumnya telah terjadi penyusutan. Dalam proses ini
tidak ada materi yang rusak atau hilang ataupun tercipta, hanya mampat atau
merenggang.
3. Teori Dentuman Besar / Big Bang
“Seluruh materi dan energi dalam alam semesta pernah bersatu
membentuk sebuah bola raksasa. Kemudian bola raksasa ini meledak sehingga
seluruh materi mengembang karena pengaruh energi ledakan yang sangat
besar.”
Tahapan terjadinya Dentuman Besar :
1) Segera setelah terjadi dentuman besar, alam semesta mengembang
dengan cepat hingga kira-kira 2000 kali matahari.
2) Sebelum berusia satu detik, semua partikel hadir dalam keseimbangan.
Satu detik setelah dentuman, alam semesta membentuk partikelpartikel dasar, yaitu elektron, proton, neutron, dan neutrino pada suhu
10 miliar kelvin.
3) Kira-kira 500 ribu tahun setelah terjadi ledakan, lambat laun alam
semesta menjadi dingin hingga mencapai suhu 3000K. Partikel-partikel
dasar membentuk benih kehidupan alam semesta.
4) Gas hidrogen dan helium membentuk kelompok-kelompok gas rapat
yang tak teratur. Dalam kelompok-kelompok tersebut mulai terbentuk
protogalaksi.
5) Antar satu dan dua miliar tahun setelah terjadinya dentuman besar,
protogalaksi-protogalaksi melahirkan bintang-bintang yang lambat laun
berkembang menjadi raksasa merah dan supernova yang merupakan
bahan baku kelahiran bintang-bintang baru dalam galaksi.
6) Satu di antara miliaran galaksi ytang terbentuk adalah galaksi
Bimasakti. Di dalam galaksi ini terdapat tata surya kita, dengan matahri
adalah bintang yang terdekat dengan bumi.1
Kronologi Alam Semesta
Distribusi radiasi CMB meyakinkan ilmuwan bahwa jauh di masa lampau
telah terjadi kesetimbangan termal di alam semesta. Karena alam semesta
terus berkembang hingga kini, masuk akal jika temperatur saat itu
diperkirakan sangat tinggi. Para ilmuwan menggunakan hukum-hukum fisika
untuk memperkirakan sifat-sifat alam semesta di awal terciptanya, bahkan
ekstrapolasi dapat dilakukan hingga mendekati Big Bang. Meski demikian,
karena temperatur saat ledakan (pada usia 0 detik) sangat tinggi, menuju nilai
tak berhingga, hukum-hukum fisika tidak lagi valid di sini. Dalam matematika
keadaan seperti ini dinamakan keadaan singular. Karena matematika tidak
dapat sepenuhnya berurusan dengan bilangan tak berhingga, hukum-hukum
fisika yang diformulasikan dalam matematika tidak lagi memiliki arti pada
kondisi singularitas. Pada awal terciptanya, alam semesta memiliki ukuran tak
berhingga kecil (menuju nol) namun kerapatan materinya sangat tinggi. Baru
setelah 10-43 detik (satu per sepuluh juta triliun triliun triliun detik) dari
ledakan situasi jagad raya dapat diakses dengan menggunakan teori-teori
fisika mutakhir. Diperkirakan pada saat itu temperatur jagad raya mencapai
1032 K atau sepuluh triliun triliun kali lebih tinggi dari temperatur inti
matahari. Periode yang dimulai pada usia 0 hingga 10-43 detik dikenal sebagai
periode (masa) Planck yang hingga saat ini masih merupakan misteri bagi
sains. Para ilmuwan mengimpikan sebuah teori yang dapat menggabungkan
teori kuantum dengan teori gravitasi yang diharapkan dapat menguak apa
yang terjadi pada masa Planck. Teori yang dinamakan teori gravitasi kuantum
ini tentulah sangat sulit mengingat bahwa domain kuantum (daerah dimana
efek kuantum dominan) berukuran mikroskopik maksimal sebesar atom atau
molekul, sedangkan gaya gravitasi terlihat superior pada skala planet atau
galaksi. Meski demikian, usaha ke arah sana sudah banyak dilakukan, misalnya
melalui gagasan teori Superstring yang mempostulasikan ruang dengan
dimensi 10 atau 26 pada masa Planck. Dimensi-dimensi tersebut berkontraksi
setelah masa Planck dan menyisakan hanya 3 dimensi ruang serta satu dimensi
waktu saat ini.
Setelah masa Planck alam semesta memasuki masa Penggabungan
Agung (Grand Unification). Pada masa ini semua gaya fundamental kecuali
gaya gravitasi sama kuatnya. Saat itu alam semesta masih belum berisi apaapa kecuali sup plasma dengan temperatur lebih dari seratus ribu triliun
triliun Kelvin. Periode ini tidak berlangsung lama dan alam semesta
mengalami inflasi (pengembangan secara cepat) yang diakhiri dengan
pemisahan gaya lemah dan gaya elektromagnetik. Setelah kedua macam gaya
tersebut terbedakan, sup plasma panas berubah menjadi sup elektron-quark
beserta partikel-partikel pembawa gaya elektrolemah yaitu partikel W dan Z.
Partikel-partikel tersebut eksis di alam semesta bersama anti partikel mereka
yang jika bergabung akan bertransformasi menjadi radiasi dan sebaliknya
radiasi yang ada dapat segera berubah menjadi partikel dan anti-partikel.
Seperseratus ribu detik setelah ledakan temperatur alam semesta turun
menjadi 10 triliun Kelvin atau sekitar seribu kali lebih panas dari temperatur
pusat matahari. Pada saat ini sup quark berkondensasi menjadi proton dan
netron yang merupakan komponen dasar dari nukleus atau inti atom.
Sekitar tiga menit kemudian temperatur terus menurun menjadi satu
milyar Kelvin. Energi kinetik yang dihasilkan temperatur sebesar ini sudah
tidak mampu lagi menahan gaya nuklir kuat antara proton dan netron yang
selanjutnya bergabung menjadi nucleus-nukleus ringan. Proses ini dinamakan
sebagai proses nukleosintesis. Proton dan netron bergabung menjadi nukleus
deuterium. Deuterium kemudian menangkap sebuah netron membentuk inti
tritium. Selanjutnya Tritium bergabung dengan sebuah proton menjadi inti
Helium. Proses ini berlanjut terus hingga mencapai inti atom Lithium, namun
dengan peluang yang semakin kecil. Dengan demikian teori Big Bang
meramalkan kelimpahan Hidrogen dan Helium di dalam alam ini. Konfirmasi
ramalan ini diperoleh melalui spektrum bintang-bintang serta galaksi yang
dapat diamati dari bumi.
Setelah 3 menit pertama berlalu tidak banyak perubahan yang terjadi
kecuali temperatur terus menurun dan alam semesta semakin besar hingga
usia jagad raya mencapai 300.000 tahun. Di usia ini alam semesta telah
mendingin menjadi 3000 Kelvin, suatu kondisi temperatur yang masih mampu
melelehkan kebanyakan logam yang kita kenal. Walaupun temperatur ini
masih sangat tinggi, energi kinetik yang dimiliki oleh elektron tidak mampu
lagi menahan gaya tarik menarik Coulomb antara elektron dan nukleus.
Elektron kemudian bergabung dengan nukleus membentuk atom sehingga
seluruh sup plasma tadi akhirnya berubah menjadi atom-atom. Mulai saat ini
radiasi tidak lagi bertransformasi menjadi partikel dan anti-partikel, sehingga
dikatakan bahwa alam semesta mulai terlihat transparan oleh radiasi. Radiasi
foton selanjutnya dapat bergerak bebas bersama mengembangnya alam
semesta. Dengan demikian, radiasi CMB yang teramati oleh para ilmuwan
adalah fosil radiasi yang berasal dari 300.000 tahun setelah terjadinya Big
Bang.
Dalam beberapa jam setelah Big Bang pembentukan Helium serta
elemen-elemen ringan lainnya berhenti. Alam semesta terus berkembang dan
mendingin, namun dibeberapa lokasi yang memiliki kerapatan jauh lebih besar
dibandingkan di tempat lain proses pengembangan tersebut agak lambat
akibat gaya tarik menarik gravitasi yang relatif lebih besar. Bahkan di tempattempat tertentu di alam semesta proses pengembangan berhenti sama sekali
dan elemen-elemen yang ada di tempat itu mulai merapat. Karena gaya
gravitasi semakin bertambah, gas-gas Hidrogen dan Helium mulai berrotasi
untuk mengimbangi tarikan gravitasi. Proses ini selanjutnya melahirkan
galaksi-galaksi yang berputar dan memiliki berbagai macam bentuk seperti
cakram dan elips, bergantung pada kecepatan rotasi serta gaya gravitasinya.
Selanjutnya gas-gas Hidrogen dan Helium dalam galaksi akan pecah
menjadi awan-awan yang lebih kecil dan juga mengalami proses kontraksi
karena masing-masing memiliki gaya gravitasi sendiri. Karena atom-atom di
dalam awan-awan tersebut saling bertumbukan, tarikan gravitasi
mengakibatkan tekanan bertambah dan temperatur terus meningkat yang
pada akhirnya sanggup untuk menyulut reaksi nuklir fusi. Reaksi ini akan
mengubah Hidrogen menjadi Helium dan berlangsung relatif lama karena
persediaan Hidrogen yang berlimpah dan terjadi keseimbangan antara gaya
gravitasi dengan gaya ledakan nuklir. Helium kemudian diubah menjadi
elemen-elemen yang lebih berat melalui proses fusi hingga menjadi Karbon
dan Oksigen. Tahapan selanjutnya menghasilkan bintang-bintang di dalam
galaksi yang sebagian meledak sambil melemparkan bahan bakar untuk
membentuk bintang-bintang generasi baru. Matahari kita adalah salah satu
contoh dari bintang jenis generasi baru ini. Sebagian kecil pecahan ledakan
yang mengandung element-elemen lebih berat tidak lagi sanggup untuk
menyalakan reaksi fusi nuklir karena elemen-elemennya relatif sudah stabil
dan temperaturnya tidak cukup tinggi. Bagian ini akhirnya membentuk planetplanet yang mengorbit bintang seperti bumi kita yang mengorbit matahari.
Pada saat bumi terbentuk, sekitar 5 milyar tahun yang lalu,
temperaturnya sangat tinggi dan tidak memiliki atmosfir. Setelah agak lama
barulah temperatur bumi menurun dan atmosfir mulai terbentuk karena
adanya emisi gas dari batu-batuan di atas permukaan bumi. Namun, atmosfir
pertama ini bukanlah atmosfir yang dapat mendukung kehidupan seperti saat
ini, karena atmosfir bumi mula-mula terdiri dari gas-gas beracun seperti
Hidrogen Sulfida. Untungnya beberapa makhluk primitif yang ada saat itu
membutuhkan gas-gas tersebut untuk bernafas dan menghasilkan Oksigen
sebagai gas buangan ke permukaan bumi, sehingga permukaan bumi akhirnya
dipenuhi oleh gas Oksigen. Karena gas Oksigen sendiri merupakan racun bagi
makhluk primitif ini, sebagian besar dari mereka akhirnya punah secara alami,
sedangkan sebagian lagi dapat menyesuaikan diri dengan mengkonsumsi
Oksigen sebagai kebutuhan hidupnya.2
Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Qur’an
Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur'an pada ayat
berikut:
>óx« Èe≅ä3Î/ uθèδuρ ( &óx« ¨≅ä. t,n=yzuρ ( ×πt6Ås≈|¹ …ã&©! ä3s? óΟs9uρ Ó$s!uρ …çµs9 ãβθä3tƒ 4’‾Τr& ( ÇÚö‘F{$#uρ ÏN≡uθ≈yϑ¡¡9$# ßìƒÏ‰t/
∩⊇⊃⊇∪ ×ΛÎ=tæ
“ Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana dia mempunyai anak padahal dia
tidak mempunyai isteri. dia menciptakan segala sesuatu; dan dia mengetahui
segala sesuatu”. (Al Qur'an, 6:101)
Keterangan yang diberikan Al Qur'an ini bersesuaian penuh dengan
penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika
saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan
waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang
tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan "Big Bang",
membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya
tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal.
Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satusatunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula
alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.
Dalam Al Qur'an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi
masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana
berikut ini:
∩⊆∠∪ tβθãèÅ™θßϑs9 $‾ΡÎ)uρ 7‰&‹÷ƒr'Î/ $yγ≈oΨø‹t⊥t/ u!$uΚ¡¡9$#uρ
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami
benar-benar meluaskannya." (Al Qur'an, 51:47)
Kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di
banyak tempat dalam Al Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam
semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan
kata lain, dalam Al Qur'an dikatakan bahwa alam semesta "mengalami
perluasan atau mengembang". Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu
pengetahuan masa kini.
Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang
secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan
menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan
balon yang sedang ditiup.
Pemisahan Langit dan Bumi
Gambar ini menampakkan peristiwa Big Bang, yang sekali lagi
mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan jagat raya dari ketiadaan. Big
Bang adalah teori yang telah dibuktikan secara ilmiah. Meskipun sejumlah
ilmuwan berusaha mengemukakan sejumlah teori tandingan guna
menentangnya, namun bukti-bukti ilmiah malah menjadikan teori Big Bang
diterima secara penuh oleh masyarakat ilmiah.
Satu ayat lagi tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut:
@cyr >óx« ¨≅ä. Ï!$yϑø9$# zÏΒ $oΨù=yèy_uρ ( $yϑßγ≈oΨø)tFxsù $Z)ø?u‘ $tFtΡ%Ÿ2 uÚö‘F{$#uρ ÏN≡uθ≈yϑ¡¡9$# ¨βr& (#ÿρãxx. tÏ%©!$# ttƒ óΟs9uρr&
∩⊂⊃∪ tβθãΖÏΒ÷σムŸξsùr& (
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan
bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan
antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka
mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Al Qur'an, 21:30)
Garis Edar
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur'an,
ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar
tertentu.
∩⊂⊂∪ tβθßst7ó¡o„ ;7n=sù ’Îû @≅ä. ( tyϑs)ø9$#uρ }§ôϑ¤±9$#uρ u‘$pκ¨]9$#uρ Ÿ≅ø‹©9$# t,n=y{ “Ï%©!$# uθèδuρ
"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al Qur'an,
21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam,
tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
∩⊂∇∪ ÉΟŠÎ=yèø9$# Í“ƒÍ•yèø9$# ㍃ωø)s? y7Ï9≡sŒ 4 $yγ©9 9hs)tGó¡ßϑÏ9 “̍øgrB ߧôϑ¤±9$#uρ
"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang
Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Al Qur'an, 36:38).
Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur'an ini telah ditemukan
melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli
astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720
ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut
Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000
kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam
sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya,
semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang
terencana.
Sebagaimana komet-komet lain di alam raya, komet Halley,
sebagaimana terlihat di atas, juga bergerak mengikuti orbit atau garis edarnya
yang telah ditetapkan. Komet ini memiliki garis edar khusus dan bergerak
mengikuti garis edar ini secara harmonis bersama-sama dengan benda-benda
langit lainnya.
Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti
ini, dinyatakan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
∩∠∪ Å7ç6çtø:$# ÏN#sŒ Ï!$uΚ¡¡9$#uρ
"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (Al Qur'an, 51:7)
Bentuk Bulat Planet Bumi
}§ôϑ¤±9$# t¤‚y™uρ ( È≅øŠ©9$# †n?tã u‘$yγ¨Ψ9$# â‘Èhθs3ãƒuρ Í‘$pκ¨]9$# ’n?tã Ÿ≅øŠ©9$# â‘Èhθs3ム( Èd,ysø9$$Î/ uÚö‘F{$#uρ ÏN≡uθ≈yϑ¡¡9$# t,n=y{
∩∈∪ ã≈¤tóø9$# Ⓝ͓yèø9$# uθèδ Ÿωr& 3 ‘‡Κ|¡•Β 9≅y_L{ “̍øgs† @≅à2 ( tyϑs)ø9$#uρ
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; dia
menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan
menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu
yang ditentukan. ingatlah dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."
(Al Qur'an, 39:5) .
Dalam Al Qur'an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang
alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai
"menutupkan" dalam ayat di atas adalah "takwir". Dalam kamus bahasa Arab,
misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus
atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban
dipakaikan pada kepala.
Atap yang Terpelihara
Gambar ini memperlihatkan sejumlah meteor yang hendak menumbuk
bumi. Benda-benda langit yang berlalu lalang di ruang angkasa dapat menjadi
ancaman serius bagi Bumi. Tapi Allah, Pencipta Maha Sempurna, telah
menjadikan atmosfir sebagai atap yang melindungi bumi. Berkat pelindung
istimewa ini, kebanyakan meteorid tidak mampu menghantam bumi karena
terlanjur hancur berkeping-keping ketika masih berada di atmosfir.
Dalam Al Qur'an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang
sangat menarik tentang langit:
∩⊂⊄∪ tβθàÊ̍÷èãΒ $pκÉJ≈tƒ#u ôtã öΝèδuρ ( $Wßθàøt¤Χ $Zø)y™ u!$yϑ¡¡9$# $uΖù=yèy_uρ
"Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang
mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada
padanya." (Al Qur'an, 21:32)
Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.
Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi
berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar
ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka
jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.
Energi yang dipancarkan oleh sebuah letusan pada Matahari sungguh
amat dahsyat sehingga sulit dibayangkan akal manusia: Letusan tunggal pada
matahari setara dengan ledakan 100 juta bom atom yang pernah dijatuhkan di
Hiroshima. Bumi terlindungi dari pengaruh merusak akibat pancaran energi
ini.
Download