KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA PROSES

advertisement
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA PROSES ENKULTURASI
MAHASISWA TURKI DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH-JAKARTA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi
Islam
(S. Kom. I)
Oleh:
Dewi Mufarrikhah
NIM: 1112051000101
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H/ 2016 M
ABSTRAK
Dewi Mufarrikhah, NIM: 1112051000101, Komunikasi Antarbudaya Pada
Proses Enkulturasi Mahasiswa Turki di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah-Jakarta, Di Bawah Bimbingan Dr. Arief Subhan, MA
Dalam proses komunikasi, perbedaan budaya dapat memengaruhi orang
yang berkomunikasi. Demikian juga yang terjadi pada mahasiswa Turki di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta yang bertemu mahasiswa
Indonesia yang memiliki beragam budaya. Setiap pelaku komunikasi tentunya
berharap komunikasi yang mereka lakukan dapat berjalan efektif. Namun, terlepas
dari keefektifan tersebut tentunya ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi
komunikasi antarbudaya pada proses enkulturasi mahasiswa Turki di UIN Jakarta.
Berdasarkan konteks di atas, pertanyaan mayor pada penelitian ini adalah:
Bagaimana komunikasi antarbudaya pada proses enkulturasi mahasiswa Turki di
UIN Jakarta? Bagaimana proses adaptasi yang dilalui mahasiswa Turki di UIN
Jakarta?
Untuk menganalisis dan memahami komunikasi antarbudaya pada proses
enkulturasi mahasiswa Turki di UIN Jakarta, penelitian ini menggunakan teori
Joseph A. Devito yang menyatakan bahwa komunikasi antarbudaya mengacu
pada komunikasi antara orang-orang dari kultur yang berbeda serta orang-orang
yang memiliki pekerjaan, nilai bahkan cara berperilaku kultural yang berbeda.
Dan teori dari Adamson Hoebel yang menyatakan bahwa enkulturasi merupakan
kondisi saat seseorang secara sadar maupun tidak sadar mencapai kompetensi
suatu budaya dan menginternalisasikan budaya tersebut ke dalam kehidupan
sehari-hari.
Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu
prosedur yang menghasilkan data deskriptif yang didapat melalui data lisan atau
wawancara dari para informan penelitian serta data dokumentasi sesuai dengan
fokus penelitian terkait komunikasi antarbudaya pada proses enkulturasi
mahasiswa Turki di UIN Jakarta. Kemudian akan dituangkan dalam bentuk katakata sebagai bentuk dari hasil penelitian ini.
Komunikasi antarbudaya mahasiswa Turki di UIN Jakarta berjalan dengan
baik karena mereka dapat memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan
dengan mahasiswa Indonesia. Komunikasi yang mereka lakukan adalah
komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok. Proses adaptasi mahasiswa
Turki di UIN Jakarta dilalui penuh dengan rintangan dan banyak mengalami
kesulitan. Proses enkulturasi yang dialami mahasiswa Turki belum berjalan
dengan semestinya, karena sampai saat ini mereka masih merasa bingung dan
mengalami kesulitan dalam proses komunikasi.
Kata kunci: Komunikasi, Antarbudaya, Enkulturasi, Mahasiswa, Turki.
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil „aalamiin, segala puji dan syukur penulis
haturkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya, serta shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Komunikasi Antarbudaya pada Proses Enkulturasi Mahasiswa
Turki di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta”.
Sepenuhnya penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi
ini banyak mengalami kesulitan, sehingga rasa putus asa kerap kali datang
dan selalu dirasakan. Namun, berkat bantuan, motivasi, bimbingan dan
pengarahan yang sangat berharga dari berbagai pihak, menjadikan penulis
semakin bersemangat untuk menyelesaikan skripsi ini dan pada akhirnya
skripsi ini dapat terselesaikan.
Oleh karena itu dengan segala ketulusan, perkenankan penulis untuk
menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
penulis, dengan bimbingan, arahan, serta semua kebaikan yang telah
diberikan kepada penulis, terutama kepada:
1. Dr. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, sekaligus Dosen Pembimbing yang telah bersedia
meluangkan waktu dikalapadatnya aktifitas dan meluangkan pikiran
untuk memberikan pengarahan dan inspirasinya kepada penulis dikala
berkonsultasi, serta teramat sabar dalam membimbing dan mengarahkan
penulis. Terima kasih juga kepada Suparto, M. Ed, Ph. D selaku Wakil
Dekan I Bidang Akademik, Dr. Hj. Roudhonah, M.Ag selaku wakil
Dekan II Bidang Administrasi Umum, serta Dr. Suhaimi, M.Si selaku
Wkil Dekan III Bidang Kemahasiswaan.
2. Drs. Masran, MA selaku Ketuan Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam dan Fita Fathurokhmah, M.Si selaku Sekretaris Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam.
ii
3. Prof. Andi Faisal Bakti, MA, Ph. D selaku Dosen Pembimbing
Akademik.
4. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta yang telah memberikan ilmu
dan
pengetahuannya
kepada
penulis
selama
penulis
mengikuti
perkuliahan.
5. Seluruh Staff dan Karyawan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi UIN Jakarta yang telah membantu penulis dalam hal
peminjaman
buku-buku
yang
digunakan
sebagai
referensi
dan
memberikan pelayanan dengan baik kepada penulis sehingga penyusunan
skripsi ini dapat terselesaikan.
6. Seluruh Staff dan Karyawan Tata Usaha Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi yang telah membantu penulis dalam pembuatan suratmenyurat.
7. Dr. Ali Unsal selaku Direktur Fethullah Gulen Chair, Indah Kusuma
selaku staff di Kantor PLKI, Zakir Ekin, Kadar Turker, Meryam Sari dan
Elci Nurullah selaku teman-teman mahasiswa Turki dan juga Kaisan
Putera serta Iqlima selaku teman-teman mahasiswa Indonesia yang telah
membantu penulis untuk dijadikan narasumber dan telah meluangkan
waktu serta banyak memberikan informasi yang bermanfaat selama
penyusunan skripsi ini.
8. Orang tua tercinta, Bapak yang sudah berada di surga dan Mama yang
selalu memberikan dukungan yang tulus demi keberhasilan anaknya
dalam menyelesaikan skripsi ini. Dan juga Kakak Adi dan Temi yang
selalu menghibur penulis dengan cara mereka.
9. Andriko Robianto Wibowo, yang telah menjadi pahlawan super dalam
proses pengerjaan skripsi ini. Terima kasih atas segala usaha dan
bantuannya.
iii
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK....................................................................................................i
KATA PENGANTAR................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................v
DAFTAR TABEL...................................................................................viii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah............................................1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah........................4
1. Pembatasan Masalah............................................4
2. Perumusan Masalah.............................................4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian..................................5
1. Tujuan Penelitian.................................................5
2. Manfaat Penelitian...............................................5
D. Metodologi Penelitian................................................6
1. Metode Penelitian................................................6
2. Paradigma Penelitian...........................................6
3. Subjek dan Objek Penelitian...............................7
4. Lokasi dan Waktu Penelitian...............................8
5. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis
Data....................................................................10
E. Tinjauan Pustaka......................................................12
F. Sistematika Penulisan..............................................14
BAB II
TINJAUAN TEORETIS
A. Landasan Komunikasi..............................................16
v
1. Pengertian Komunikasi......................................16
2. Prinsip-prinsip Komunikasi...............................17
3. Unsur-unsur Komunikasi...................................18
4. Karakteristik Komunikasi..................................21
5. Jenis Pesan dalam Komunikasi..........................21
B. Landasan Kebudayaan.............................................22
1. Pengetian Budaya..............................................22
2. Pengertian Komunikasi Antarbudaya................23
3. Model Komunikasi Antarbudaya.......................24
4. Unsur-unsur Material dan Non-Material
Kebudayaan.......................................................25
5. Pentingnya Komunkasi Antarbudaya................28
6. Fungsi Komunikasi Antarbudaya......................29
7. Prinsip komunikasi Antarbudaya.......................30
8. Hambatan Komunikasi Antarbudaya.................30
C. Adaptasi dengan Budaya Baru.................................32
BAB III
GAMBARAN
CHAIR
UMUM
DAN
UNIVERSITAS
FETHULLAH
MAHASISWA
ISLAM
GULEN
TURKI
NEGERI
DI
SYARIF
HIDAYATULLAH-JAKARTA
A. Fethullah Gulen Chair..............................................36
1. Biografi Fethullah Gulen Hoja Effendi..............36
2. Fethulah Gulen Chair.........................................38
3. Visi & Misi........................................................42
B. Daftar Mahasiswa Turki di UIN Jakarta..................43
BAB IV
ANALISIS KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA
PROSES ENKULTURASI MAHASISWA TURKI DI
UNIVERSITAS
ISLAM
HIDAYATULLAH-JAKARTA
vi
NEGERI
SYARIF
1. Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Turki di UIN
Jakarta......................................................................44
2. Adaptasi dengan Budaya Baru.................................60
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................67
B. Saran.............................................................................68
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................69
LAMPIRAN-LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Daftar Mahasiswa Turki di UIN Jakarta..................................................43
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Prinsip dasar komunikasi..................................................................18
Gambar 2.
Unsur-unsur komunikasi...................................................................19
Gambar 3.
Model komunikasi antarbudaya........................................................24
Gambar 4.
Muhammad Fethullah Gulen Hoja Effendi.......................................36
Gambar 5.
Rombongan dari Indonesia bersama Direktur Fethullah Gulen Chair
mengunjungi lembaga hizmet di laos...............................................40
Gambar 6.
Pembukaan acara Turkish Cultural Day 2012..................................40
Gambar 7.
Kursus bahasa Turki yang dilakukan mahasiswa Indonesia.............41
Gambar 8.
Seorang guru yang mengajarkan bahasa Turki.................................41
Gambar 9.
Model komunikasi antarbudaya........................................................58
ix
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian ini mencoba memberikan gambaran mengenai komunikasi
antarbudaya yang dilakukan mahasiswa Turki selama berkuliah di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta.
Dalam proses komunikasi, perbedaan budaya dapat memengaruhi
orang yang berkomunikasi. Dengan kata lain, perbedaan yang ada dapat
mengakibatkan berbagai macam kesulitan atas solusi pada proses
komunikasi.1 Dapat disadari perbedaan-perbedaan yang terjadi pada orang
lain dan sistem kultur yang dibawa orang tersebut.
Semua tindakan komunikasi berasal dari konsep kebudayaan. Berlo
berasumsi bahwa kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya untuk
melaksanakan tindakan itu.2 Berarti kontribusi latar belakang kebudayaan
sangat
penting
terhadap
perilaku
komunikasi
seseorang
termasuk
memahami makna-makna yang dipersepsi terhadap tindakan komunikasi
yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda. Dalam konteks hubungan
sosial budaya, manusia akan terus melakukan interaksi dengan manusia lain,
dengan segala maksud dan tujuan masing-masing.
Pengajaran terhadap komunikasi antarbudaya menjadi penting adanya.
Dalam roda kehidupan yang dilalui, pertemuan dengan orang-orang yang
1
Joseph. A. Devito, Komunikasi Antarmanusia (Jakarta: Profesional Books, 1997), h.
478.
2
Alo liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya (Yogyakarta: PUSTAKA
PELAJAR, 2011), h. 2.
1
2
berbeda budaya sukar untuk dihindari. Sehingga, komunikasi yang
diharapkan dapat memberi pemahaman dan saling menghormati bagi orang
yang juga berbeda budaya.3 Maka, pada akhirnya besarnya pemahaman dan
penghormatan terhadap budaya menjadikan peluang untuk memahami
komunikasi yang efektif.4
Di UIN Jakarta, terdapat mahasiswa yang berasal dari berbagai
macam budaya, bahkan yang melintasi batas negara. Bukan hanya yang
berkebangsaan Indonesia saja, melainkan ada pula mahasiswa asing yang
berasal dari berbagai negara. Menurut data Pusat Layanan Kerja
Internasional/PLKI, terdapat 117 orang mahasiswa asing yang terdaftar
sebagai mahasiswa aktif di UIN Jakarta, yang berasal dari beberapa negara,
yaitu Afrika Selatan, Rusia, Malaysia, Thailand, Somalia, Palestina, Turki,
Turkmenistan, Tajikistan, Korea Selatan, Jepang, Iran, Kenya, Timor Leste,
Yaman, dan Mesir.5
Perbedaan kebudayaan ini kerapkali membuat kelompok-kelompok
kecil berdasarkan budaya dari asal mereka tinggal. Salah satunya para
mahasiswa Turki di UIN Jakarta. Masuknya budaya Turki ke wilayah
Indonesia, secara tidak langsung akan terjadi proses enkulturasi. Menurut
Adamson Hoebel, enkulturasi adalah kondisi saat seseorang secara sadar
ataupun
3
tidak
sadar,
mencapai
kompetensi
suatu
budaya
Deddy Mulyana, Komunikasi Antarbudaya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009),
h.20.
4
dan
Alo Liliweri, Makna Komunikasi dalam Komunikasi Antarbudaya (Yogyakarta: PT.
Lkis Pelangi Askara, 2007), h. 14.
5
http://www.uinjkt.ac.id/?p=7986, diakses 04 Februari pada pukul 20.03.
3
menginternalisasikan budaya tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.6 Hal
ini tentunya diawali dari gaya hidup dan kebiasaan-kebiasaan para
mahasiswa Turki di UIN Jakarta yang berbeda dengan mahasiswa lainnya,
terutama mahasiswa Indonesia.
Mengutip Mochtar Lubis7, etos kerja orang Indonesia adalah sebagai
berikut:
1. Munafik atau hipokrit. Suka berpura-pura, lain di mulut lain di
hati.
2. Enggan bertanggung jawab. Suka mencari kambing hitam.
3. Berjiwa feodal. Suka dihormati daripada menghormati.
4. Percaya takhayul. Gemar hal keramat, mistis dan gaib.
5. Berwatak lemah. Kurang kuat mempertahankan keyakinan,
plinplan dan gampang terintimidasi.
Keberadaan mereka yang cenderung minoritas, membuat mereka
banyak belajar agar terhindar dari kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
Kesalahpahaman seringkali terjadi ketika seseorang berinteraksi dengan
orang dari kelompok budaya yang berbeda. Masalah utamanya adalah
setiap individu memiliki kecenderungan untuk menjadikan budayanya
sebagai sesuatu yang dianggap sangat penting. Oleh karenanya setiap
orang atau kelompok akan menggunakan budayanya sebagai standardisasi
untuk mengukur budaya-budaya lain.
6
7
Larry A. Samovar, Komunikasi Lintas Budaya, (Jakarta: Salemba Humanika).
Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, (Jakarta: Idayu Press, 1977).
4
Dari penjelasan di atas, peneliti mengidentifikasikan bahwa terdapat
komunikasi antarbudaya yang terjadi pada proses enkulturasi antara
mahasiswa Turki di UIN Jakarta. Melihat hal tersebut, maka peneliti ingin
meneliti skripsi yang berjudul “KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA
PROSES ENKULTURASI MAHASISWA TURKI DI UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Agar penulisan skripsi ini tidak meluas hingga keluar dari
pembahasan dan lebih fokus, maka penulis memokuskan hanya pada
komunikasi antarbudaya pada proses enkulturasi antara mahasiswa
Turki di UIN Jakarta.
2. Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan menjadi objek penelitian ini
dibagi dalam pertanyaan utama (major) dan pertanyaan tambahan
(minor).
a. Bagaimana komunikasi antarbudaya pada proses enkulturasi
mahasiswa Turki di UIN Jakarta?
b. Bagaimana proses adaptasi yang dilalui mahasiswa Turki di UIN
Jakarta?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
5
Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka tujuan yang
hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
a. Mengetahui dan mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan
mahasiswa Turki di UIN Jakarta dalam melakukan proses
enkulturasi dengan mahasiswa Indonesia.
b. Mengetahui dan mendeskripsikan proses adaptasi yang dilalui
mahasiswa Turki dalam melakukan komunikasi dengan mahasiswa
Indonesia di UIN Jakarta.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademis
1) Diharapkan dengan adanya penulisan skripsi ini dapat
menambah referensi bagi Studi Komunikasi.
2) Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada semua
kalangan dan menambah wawasan mengenai komunikasi
antarbudaya di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Universitas
Islam
Negeri
Syarif
Hidayatullah-Jakarta,
khususnya Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
b. Manfaat Praktis
Diharapkan dengan diselesaikannya penelitian ini dapat
ditemukan komunikasi antarbudaya
yang tepat bagi
para
mahasiswa Turki di UIN Jakarta melalui proses enkulturasi yang
dilakukan, dalam upaya membangun komunikasi yang baik dengan
mahasiswa lainnya.
6
D. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Penelitian
ini
menggunakan
pendekatan
kualitatif
dengan
menggunakan metode deskriptif analisis, dimana pendekatan ini
bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan secara
sistematis, faktual dan akurat, mengenai faktor-faktor, sifat, serta
hubungan antara fenomena yang diteliti.8
Penulis berharap dengan menggunakan pendekatan kualitatif
deskriptif dapat mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dan
selengkap-lengkapnya. Kemudian penulis dapat mengolah data agar
memperoleh gambaran atau informasi yang luas dan mendalam
mengenai pola komunikasi antarbudaya melalui proses enkulturasi.
2. Paradigma Penelitian
Paradigma
yang
digunakan
dalam
penelitian
ini
adalah
konstruktivis yang memandang realitas sosial bukanlah realitas yang
natural, tetapi dari hasil konstruksi.
Paradigma konstruktivis memandang suatu realitas atau temuan
suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan
yang diteliti. Paradigma ini lebih menekankan kepada empati dan
interaksi dialektis antara peneliti-responden untuk mengkonstruk
realitas yang diteliti melalui metode-metode kualitatif.
3. Subjek dan Objek Penelitian
8
Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung, Rosdakarya, 2007), cet.
Ke-23, h. 9-10.
7
Berdasarkan karakteristik penelitian kualitatif, “teknik pemilihan
informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan
(purposive sampling)”.9 Penulis memilih subjek yang dianggap
memiliki dan dapat memberikan data serta informasi yang dibutuhkan
dalam penelitian ini.
Subjek utama dalam penelitian ini adalah mahasiswa Turki di UIN
Jakarta yang aktif dan bersosialisasi dengan mahasiswa lain
diantaranya adalah Zakir Ekin, Kadar Turker, Elci Nurullah dan
Meryam Sari. Pemilihan subjek ini dilakukan karena mereka memiliki
perhatian, keinginan serta perannya dalam melakukan komunikasi
antarbudaya dengan mahasiswa Indonesia. Menurut data PLKI
terdapat delapan mahasiswa Turki yang terdaftar sebagai mahasiswa
aktif, dan hasil temuan peneliti terdapat sembilan mahasiswa aktif dari
Turki di UIN Jakarta. Mahasiswa asal Turki ini akan dijadikan sebagai
subjek utama dalam penelitian. Sedangkan subjek pendukung dalam
penelitian ini adalah mahasiswa Indonesia di UIN Jakarta, yaitu Kaisan
Putera dan Iqlima, serta Staff PLKI yaitu Indah Kusuma.
Objek dalam penelitian ini adalah komunikasi antarbudaya
terhadap proses enkulturasi mahasiswa Turki di UIN Jakarta.
4. Lokasi dan Waktu Penelitian
Adapun tempat dan waktu penelitian yang peneliti lakukan, yaitu:
9
Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h.4.
8
a. Pada tanggal 04 April 2016, peneliti pertama kali bertemu dengan
Zakir Ekin dan sedikit bertanya mengenai komunikasi antarbudaya
yang dilakukan Zakir selama berkuliah di UIN Jakarta, serta
mengamati aktivitas Zakir selama berkomunikasi dengan temanteman satu kelompok KKN (Kuliah Kerja Nyata).
b. Pada tanggal 19 April 2016, peneliti melakukan wawancara dengan
Dr. Ali Unsal di kantor Fethullah Gulen Chair untuk mendapatkan
gambaran umum mengenai gambaran umum mengenai kantor
Fethullah Gulen Chair di UIN Jakarta. Di hari yang sama, peneliti
juga datang ke kantor PLKI untuk meminta data lengkap
mahasiswa Turki di UIN Jakarta.
c. Pada tanggal 16 Mei 2016, peneliti datang ke kantor PLKI untuk
mendapatkan data lebih lengkap mengenai mahasiswa Turki di
UIN Jakarta. Peneliti mendapat data wawancara yang dibantu oleh
Indah Kusuma selaku staff PLKI di UIN Jakarta
d. Pada tanggal 16-19 Mei 2016, peneliti melakukan wawancara
dengan Zakir Kein selaku mahasiswa Turki di UIN Jakarta melalui
via email.
e. Pada tanggal 20 Mei 2016, peneliti melakukan wawancara dengan
Kadar Turker selaku mahasiswi Turki di UIN Jakarta yang sedang
menjalankan tugas akhirnya sebagai guru di sekolah Kharisma
Bangsa, Pondok Cabe. Di hari yang sama peneliti juga melakukan
wawancara dengan Kaisan Putera selaku mahasiswa Indonesia
yang berteman dengan Zakir Ekin dan melakukan wawancara di
9
Fakultas Ushuluddin, untuk mendapatkan data lebih lengkap
mengenai komunikasi antarbudaya yang dilakukan Zakir Ekin
selama berkuliah di UIN Jakarta.
f. Pada tanggal 21-23 Mei 2016, peneliti melakukan wawancara
dengan Elci Nurullah selaku mahasiswa Turki di UIN Jakarta
melalui via email.
g. Pada tanggal 24 Mei, peneliti melakukan wawancara dengan
mahasiswa Turki bernama Meryam Sari di perpustakaan Fetullah
Gulen Chair.
h. Pada tanggal 28 Mei 2016, peneliti bertemu dengan Iqlima yang
pada saat itu sedang melakukan acara penutupan untuk tugas
akhirnya di MAN 4 Jakarta. Iqlima membantu peneliti untuk
memberikan gambaran mengenai komunikasi antarbudaya Kadar
Turker selama berkuliah di UIN Jakarta
Pemilihan lokasi ini didasarkan pada 4D dalam penelitian, yaitu
data, date, daya dan dana.10 Pertama, data yang diperoleh penulis lebih
mudah diperoleh karena penulis berasal dari UIN Jakarta. Kedua, date
atau waktu penelitian yang tersedia sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan. Ketiga, daya yang ditempuh penulis dalam penelitian ini
terjangkau karena lokasi yang tidak terlalu jauh sehingga memberi
kemudahan bagi penulis dalam melakukan penelitian. Keempat, dana
yang dibutuhkan juga mencukupi mengingat lokasi yang ditempuh
tidak terlalu jauh.
10
Jumroni dan Suhaimi, Metode-metode Penelitian Komunikasi, (Jakarta: UIN press,
2006), cet. Ke-1, h. 123.
10
5. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data
a. Teknik Pengumpulan Data
1) Observasi
Secara luas, observasi atau pengamatan berarti kegiatan
untuk melakukan pengukuran mengenai suatu fenomena.11
Observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah observasi
partisipan, yaitu peneliti melakukan pengamatan langsung
terhadap objek penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti mengamati langsung di
lapangan untuk melihat bentuk komunikasi antarbudaya yang
dilakukan mahasiswa Turki. Pada tanggal 04 April 2016,
peneliti melakukan pengamatan kepada Zakir Kein, mahasiswa
Turki dari Fakultas Saintek yang sedang bertemu dengan
teman-teman kelompok KKN. Pada tanggal 20 Mei 2016,
peneliti mengamati Kadar Turker yang berbicara dengan teman
dari Fakultas Tarbiyah yang menemuinya di sekolah Karisma
Bangsa.
2) Wawancara
Wawancara adalah “percakapan dengan maksud tertentu.
Berbentuk tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara
langsung. Pewawancara disebut interviewer, yaitu yang
mengajukan pertanyaan. Sedangkan orang yang diwawancarai
11
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2011), h. 69.
11
disebut
interviewee,
yang
memberikan
jawaban
atas
pertanyaan-pertanyaan itu.”12
Pada penelitian ini, yang menjadi narasumber adalah Dr.
Ali Unsal selaku Direktur kantor Fethullah Gulen Chair,
mahasiswa Turki di UIN Jakarta yang diantaranya ialah Zakir
Kein (Fakultas Saintek), Kadar Turker (Fakultas Tarbiyah),
Elci Nurullah (Fakultas Tarbiyah), Meryam Sari (Fakultas
Tarbiyah), mahasiswa Indonesia di UIN Jakarta yang
diantaranya ialah teman Zakir Kein yaitu Kaisan Putra
(Fakultas Dakwah), teman Kadar Turker yaitu Iqlima (Fakultas
Tarbiyah), dan juga Staff di kantor PLKI bernama Indah
Kusuma.
3) Dokumentasi
Pengumpulan dokumentasi yaitu pengumpulan catatan
yang diungkapkan dalam bentuk tulisan, lisan dan bentuk karya
yang
berhasil
didokumentasikan
oleh
pihak
tertentu.13
Selanjutnya dokumen yang telah terkumpul akan diolah dengan
pola analisis. Dokumen yang dimaksud dalam sebuah
penelitian adalah berupa dokumen tertulis, dokumen gambar
(foto), dan artikel terkait komunikasi antarbudaya, enkulturasi
dan mahasiswa Turki, dan juga hasil dokumnetasi (foto)
12
Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung, Rosdakarya, 2007), cet.
Ke-23, h. 186.
13
Djam‟an Satori dan Aan Komariah, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta,
2010), h. 148.
12
pribadi dari hasil penelitian serta data mentah (video atau
rekaman wawancara) terkait penelitian yang dilakukan.
b. Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data, peneliti mengolah data yang
diperoleh agar sistematis. Data tersebut disusun dan dikategorikan
berdasarkan hasil wawancara, observasi, dokumen maupun laporan
yang kemudian dideskripsikan ke dalam bentuk bahasa yang
mudah dipahami.
1) Tahap pertama adalah reduksi data, peneliti mencoba memilah
data yang relevan dengan komunikasi antarbudaya pada proses
enkulturasi mahasiswa Turki di Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah-Jakarta.
2) Tahap kedua adalah penyajian data setelah data mengenai
komunikasi antarbudaya pada proses enkulturasi mahasiswa
Turki di UIN Jakarta diperoleh, maka data tersebut disusun
dalam bentuk narasi, visual gambar, tabel dan sebagainya.
3) Tahap ketiga adalah penyimpulan atas yang disajikan.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam penyusunan skripsi ini, ada beberapa buku primer yang
digunakan, antara lain yaitu; William Gudykunst (Communicating with
Strangers)14, Julia T. Woods (Communication in Our Lives)15, Hafied
14
William Gudykunst, Communicating with Strangers, (Library of Congress Cataloging
in Publication Data, 1984),
15
Julia T. Wood, Communication in Our Lives, (Wadsworth Cengage Learning: Boston,
2009).
13
Cangara (Pengantar Ilmu Komunikasi)16, Deddy Mulyana (Komunikasi
Antarbudaya)17 dan Lexy J. Moleong (Metode Penelitian Kualitatif)18.
Dari pengamatan peneliti di lingkungan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah-Jakarta, peneliti tidak menemukan penelitian skripsi
yang memiliki persamaan subjek dan objek dengan skripsi peneliti.
Tetapi, peneliti
menemukan judul-judul
skripsi
terdahulu
yang
membahas mengenai komunikasi antarbudaya, di antaranya adalah:
1. Komunikasi Antarbudaya di Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami
oleh Upik Anila. Komunikasi Penyiaran Islam 2015. Yang menjadi
objek dalam penelitian ini adalah komunikasi antarbudaya yang
dilakukan para santri di pesantren Darunnajah yang berasal dari
berbagai daerah yang ada di Indonesia.
2. Akulturasi Budaya Antara Tradisi Sunda Wiwitan dengan Islam
Dalam Bentuk Ritual Sesajen di Desa Narimbang, Kecamatan
Conggeang, Kabupaten Sumedang oleh Pipit Pitriani. Komunikasi
dan Penyiaran Islam 2010. Penelitian ini membahas perubahan makna
atau unsur inti yang ada pada ritual sesajen yang telah terakulturasi
dengan Islam.
3. Komunikasi Antarbudaya: Studi pada Pola Komunikasi masyarakat
suku Betawi dengan Madura di Kelurahan Condet Batu Ampar oleh
Ahmad Syukri. Komunikasi Penyiaran Islam 2013. Penelitian ini
16
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007).
Deddy Mulyana, Komunikasi Antarbudaya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009).
18
Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung, Rosdakarya, 2007), cet.
17
Ke-23.
14
membahas objek penelitian, yakni kajian komunikasi antarbudaya
tentang pola komunikasi yang terjadi antara suku budaya Betawi dan
Madura.
F. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini, penulis membagi menjadi lima bab yang pada
tiap-tiap babnya terdiri dari sub bab sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri atas latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan
pustaka dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORETIS
Berisi tentang: pertama, ruang lingkup komunikasi yang terdiri dari
landasan komunikasi, landasan kebudayaan dan adaptasi dengan budaya
baru.
BAB III GAMBARAN UMUM FETHULLAH GULEN CHAIR DAN
MAHASISWA TURKI DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH-JAKARTA
Bab ini memuat tentang sejarah dan kegiatan kantor Fethullah
Gulen Chair serta profil mahasiswa Turki di UIN Jakarta yang terdiri dari
latar belakang dan aktivitas mahasiswa Turki di UIN Jakarta.
15
BAB
IV
ANALISIS
KOMUNIKASI
ANTARBUDAYA
PADA
PROSES ENKULTURASI MAHASISWA TURKI DI UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Berisi tentang komunikasi antarbudaya yang dilakukan mahasiswa
Turki di UIN Jakarta, proses adaptasi yang dilalui mahasiswa Turki dalam
berkomunikasi antarbudaya pada proses enkulturasi dengan mahasiswa
Indonesia di UIN Jakarta.
BAB V PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran-saran berkaitan dengan komunikasi
antarbudaya pada proses enkulturasi mahasiswa Turki di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta.
BAB II
TINJAUAN TEORETIS
A. Landasan Komunikasi
1. Pengertian Komunikasi
Secara etimologis menurut Onong Ucjhana Effendi19, istilah
komunikasi berasal dari bahasa Inggris yaitu communication yang
bersumber dari bahasa latin. Communication memiliki arti sebagai
suatu pemberitahuan atau pertukaran pikiran yang dilalui oleh para
pelaku komunikasi.
Adapun pengertian komunikasi menurut pendapat beberapa ahli,
mengutip dari Willbur Schramm20, komunikasi merupakan bentuk
kontak antara pengirim dan penerima pesan. Pesan dari pengirim dan
penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti
pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim dan diterima serta
ditafsirkan oleh penerima. Komunikasi yang terjadi antara pengirim
dan penerima pesan yang memiliki pengalaman berbeda, dapat saling
bertukar pikiran dan memberi arti dari penafsiran masing-masing
sehingga terjadi komunikasi yang efektif.
Mengutip dari Hovland, Janis dan Kelly21, komunikasi adalah
proses yang dilalui oleh individu dalam mengirim stimulus yang
biasanya dalam bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang
1, h. 4.
19
Onong Uchjana Effendi, Spektrum Komunikasi, (Bandung: Bandar Maju, 1992), cet ke-
20
Suranto AW, Komunikasi Sosial Budaya, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h. 3
Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), Cet. Ke-8, h.
21
2.
16
17
lain. Dalam proses komunikasi, para pelaku komunikasi dapat
mengubah stimulus atau pemikiran seseorang dengan cara melakukan
komunikasi verbal yang merupakan daya rangsang seseorang untuk
melakukan komunikasi dan membawa pengaruh atau efek yang
signifikan serta membangkitkan efek yang dapat mengendalikan diri
seseorang.
Dan yang terakhir, mengutip dari Everett M. Rogers22,
komunikasi adalah proses interaksi melalui suatu ide yang dialihkan
dari sumber kepada penerima atau lebih dengan maksud untuk
mengubah tingkah laku mereka. Komunikasi dapat diterima dan
dicerna dengan baik serta dapat mengubah dan memengaruhi
seseorang sehingga bertingkah laku sesuai dengan lingkungannya.
2. Prinsip-prinsip Komunikasi
Kesamaan dalam berkomunikasi dapat diibaratkan dengan dua
buah lingkaran yang bertindihan satu sama lain. Daerah yang tertindih
itu disebut kerangka pengalaman (Field of Experience) yang
menunjukkan adanya persamaan anatara A dan B dalam hal tertentu,
misalnya bahasa atau simbol.23
h. 20.
22
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007),
23
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 20.
18
A
B
Gambar 1: prinsip dasar komunikasi
Dari gambar di atas, terdapat tiga prinsip dasar komunikasi.
Pertama, dikatakan bahwa komunikasi hanya dapat terjadi jika
diantara orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi saling
bertukar pengalaman (sharing similiar of experiences). Kedua, apabila
dari gambar di atas terjadi tumpang tindih (the field experiences), lalu
menyebar dan menutupi lingakaran yang sama, maka akan semakin
besar kemungkinan akan terjadi proses komunikasi yang efektif.
Ketiga, apabila lingkaran yang tumpang tindih semakin mengecil dan
menjauhi kedua lingkaran, maka kemungkinan besar komunikasi yang
terjadi
menjadi
lebih
canggung dan
menyebabkan
gagalnya
komunikasi yang efektif.
3. Unsur-unsur Komunikasi
Menurut Joseph Dominick, setiap peristiwa komunikasi akan
melibatkan delapan elemen komunikasi yang meliputi sumber,
19
enkoding, pesan, saluran, dekoding, penerima, umpan balik, dan
gangguan.24
Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa unsur komunikasi
terbagi atas hal-hal di bawah ini, yaitu:
Sumber
Pesan
Media
Penerima
Efek
Umpan balik
Lingkungan
Gambar 2: Unsur-unsur komunikasi
Dari gambar di atas dapat terlihat unsur-unsur komunikasi yang
diawali dengan sumber (source), dalam setiap proses komunikasi,
tentunya akan melibatkan sumber sebagai pihak yang mengirim
informasi. Dalam proses komunikasi yang dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari, sumber bisa saja terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga
dalam bentuk kelompok yang jumlahnya lebih banyak, misalnya
organisasi atau lembaga.
Kedua, pesan (message) yang dalam proses komunikasi disebut
sebagai sesuatu yang disampaikan oleh pengirim kepada penerima.
Pesan dapat disampaikan dengan berbagai cara, bisa disampaikan
dengan bertatap muka, bisa juga disampaikan melalui media
komunikasi. Pesan yang disampaikan pengirim kepada penerima harus
24
Joseph R. Dominick, The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age,
7th edition, (McGraw Hill, 2002), h. 4.
20
memiliki inti yang penting dalam usaha mengubah sikap dan tingkah
laku komunikan.
Ketiga, media yang memiliki arti sebagai sesuatu yang digunakan
untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Media
komunikasi dapat berbentuk apapun misalkan, surat, pager atau
bahkan handphone.
Keempat, penerima yang dalam komunikasi diartikan sebagai
pihak yang menjadi sasaran bagi sumber dalam pengiriman pesan.
Seperti halnya sumber, penerima juga dapat terdiri dari satu orang
atau lebih, bisa juga dalam bentuk kelompok. Ada beberapa istilah
bagi penerima, seperti khalayak, sasaran, komunikan yang dalam
bahasa Inggris disebut dengan audience atau receiver.
Kelima, pengaruh atau efek diartikan sebagai perbedaan yang
dirasakan, dipikirkan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan
sesudah menerima pesan. Pengaruh dapat berupa positif dan negatif,
tergantung dari pesan yang diterima oleh komunikan.
Keenam, umpan balik (feedback) merupakan salah satu bentuk dari
pengaruh yang diperoleh dari kenyamanan dalam berkomunikasi yang
dilalui oleh pengirim dan penerima pesan. Umpan balik berasal dari
penerima pesan.
Dan yang terakhir lingkungan, lingkungan dapat diartikan sebagai
faktor-faktor yang terdapat disekitar pengirim dan penerima pesan
yang dapat memengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat
21
digolongkan ke dalam empat macam, diantaranya lingkungan fisik,
lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis dan dimensi.
4. Karakteristik Komunikasi
Ada beberapa karakteristik komunikasi yang akan penulis
jabarkan, diantaranya, komunikasi sebagai suatu proses yang diartikan
sebagai tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan dalam
kurun waktu tertentu. Komunikasi dilakukan dengan sengaja, memiliki
tujuan, dilakukan secara sadar dan disesuaikan dengan tujuan dan
keinginan para pelaku komunikasi. Komunikasi dapat berjalan dengan
baik apabila terlihat adanya partisipasi dari pengirim dan penerima
pesan (dua orang atau lebih).
Ada juga komunikasi yang bersifat simbolik, dan komunikasi jenis
ini dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Komunikasi
bersifat transaksional yang pada dasarnya menuntut dua tindakan yaitu
memberi dan menerima (keep and take).
5. Jenis Pesan dalam Komunikasi
Pada umumnya, pesan dalam komunikasi terbagi dalam dua jenis,
yaitu pesan verbal dan pesan nonverbal. Pesan komunikasi verbal
diartikan sebagai sarana untuk menyatakan pikiran, perasaan dan
harapan kepada orang lain. Pesan verbal dilakukan dengan
menggunakan kata-kata sebagai ungkapan perasaan yang terbagi
dalam dua cara, yaitu secara vokal (lisan) dan nonvokal (tertulis).
Sedangkan pesan non verbal adalah pesan yang disampaikan
melalui simbol-simbol tertentu untuk menyatakan suatu hal.
22
B. Landasan Kebudayaan
1. Pengertian Budaya
Secara bahasa, kata budaya berasal dari kata budi, yang diambil
dari bahasa Sangsekerta yang artinya akal.25 Budaya didefinisikan
sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap,
makna, hirarki, agama, waktu, peranan, konsep alam semesta dan
kepemilikan yang diperoleh sekelompok orang dari generasi ke
generasi melalui usaha individu dan kelompok tertentu.
Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam
bentuk-bentuk kegiatan serta perilaku yang berfungsi sebagai modelmodel bagi tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang
memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu
lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis
tertentu serta pada saat-saat tertentu.
Sedangkan arti dari kebudayaan itu sendiri menurut Edward
Burnett Tylor26, kebudayaan adalah kompleks yang mencangkup
semua pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat-istiadat dan
semua kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang terdapat dalam diri
manusia yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Sedangkan dari sudut pandang pandang komunikasi, budaya dapat
diartikan sebagai kombinasi yang kompleks dari simbol-simbol umum,
pengetahuan, cerita rakyat, adat, bahasa, pola pengolahan informasi,
25
Yusron Rozak, Sosiologi Sebuah Pengantar: Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif
Islam, (Jakarta: Laboratorium Sosiologi Agama, 2008) h. 136.
26
Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1999), ed. Ke-27, h. 188.
23
ritual, kebiasaan dan pola perilaku lain yang berkaitan serta memberi
identitas bersama kepada sebuah kelompok orang tertentu pada suatu
titik waktu tertentu.
2. Pengertian Komunikasi Antarbudaya
Berbicara mengenai komunikasi antarbudaya, tentunya tidak dapat
dipisahkan dari pengertian kebudayaan. Budaya dan komunikasi
berinteraksi secara erat dan dinamis. Inti budaya adalah komunikasi,
karena budaya muncul melalui komunikasi. Hubungan antara budaya
dan komunikasi adalah hubungan timbal balik. Budaya tidak dapat
dipahami tanpa mempelajari komunikasi dan komunikasi hanya dapat
dipahami dengan memahami budaya yang mendukungnya.
Mengutip dari Joseph A. Devito27, ia mengatakan bahwa
komunikasi antarbudaya mengacu pada komunikasi antara orang-orang
dari kultur yang berbeda antara orang-orang yang memiliki pekerjaan,
nilai atau cara berperilaku kultural yang berbeda.
27
Joseph. A. Devito, Komunikasi Antarmanusia (Tangerang Selatan: KARISMA
Publishing Group, 2011), h. 535.
24
3. Model Komunikasi Antarbudaya
Strategi
Komunikasi yang
akomodatif
Kebudayaan
Kebudayaan
C
Kepribadian
Kepribadian
A
Persepsi
terhadap
relasi
antarpribadi
B
Persepsi
terhadap
relasi
antarpribadi
Ketidakpastian
Kecemasan
Gambar 3: Model komunikasi antarbudaya
Gambar di atas menunjukkan A dan B merupakan dua orang yang
berbeda
latar
belakang
kebudayaan
dan
memiliki
perbedaan
kepribadian serta persepsi terhadap relasi antarpribadi.28 Ketika A dan
B saling berbicara, itulah yang disebut komunikasi antarbudaya, karena
dua pihak saling “menerima” perbedaan sehingga bermanfaat untuk
menurunkan tingkat ketidakpastian dan kecemasan dalam relasi
antarpribadi.
28
Alo Liliweri, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2011), cet. Ke- 5, h. 32.
25
Menurunnya tingkat ketidakpastian dan kecemasan dapat menjadi
motivasi bagi komunikasi yang bersifat akomodatif.
Komunikasi
tersebut dihasilkan karena terbentuknya sebuah “kebudayaan” baru “C”
yang secara psikologis menyenangkan kedua orang tersebut. Hasil akhir
adalah komunikasi yang bersifat adaktif yakni A dan B saling
menyesuaikan diri
dan menghasilkan komunikasi
antarpribadi-
antarbudaya yang efektif.
4. Unsur-unsur Material dan Non-Material Kebudayaan
Pada dasarnya, budaya terbagi menjadi dua komponen atau unsur,
yaitu material dan non-material. Komponen material diartikan sebagai
benda nyata yang mengandung zat fisik yang telah diubah oleh campur
tangan manusia. Benda budaya tersebut menciptakan nilai-nilai,
kebutuhan, tujuan dan hiburan. Contohnya mobil, telepon, komputer,
sekop dan palu. Benda tersebut dibangun dengan bahan baku alami
seperti logam dan pohon yang dibentuk dan dijadikan sebagai
penggunaan baru.
Sedangkan komponen non-material adalah sesuatu yang berwujud
yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan memengaruhi perilaku
pribadi dan sosial di sekitarnya. Ada empat unsur utama komponen
non material, diantaranya keyakinan, nilai, norma dan bahasa.
Keyakinan dapat diartikan sebagai sesuatu yang dianggap benar,
faktual dan valid. Keyakinan berakar pada iman, pengalaman serta
ilmu pengetahuan. Keyakinan budaya sering dianggap sebagai suatu
kebenaran meskipun kerap kali salah. Pada tahun 1600-an, masyarakat
26
Amerika Serikat percaya pada penyihir dan siapapun yang diduga
sebagai penyihir akan ditenggelamkan atau dibakar. Ada juga yang
meyakini bahwa bumi itu datar dan matahari berputar mengenlilingin
bumi.
Keyakinan
budaya,
meski
tidak
akurat
tetapi
dapat
memengaruhi perilaku pribadi dan sosial seseorang.29
Nilai pada umumnya terdiri dari berbagai pandangan mengenai
sesuatu yang baik, benar, berharga dan penting ketika melakukan
suatu hal dalam kehidupan. Budaya yang berbeda memiliki nilai yang
berbeda pula dalam memaknai dunia sekitar. Nilai didukung oleh
budaya yang diekspresikan melalui komunikasi para anggotanya.
Seseorang menganggap sesuatu dianggap benar atau baik, semua
bergantung pada budaya itu sendiri. Budaya memiliki nilai yang
berbeda
terhadap
alam.
Banyak
suku
Indian-Amerika
yang
menghargai hidup secara harmonis dengan alam, serta dengan
makhluk lain yang ada di bumi. Oleh karena itu, mereka
menyesuaikan diri dengan irama musim, menciptakan ritual
komunikasi
untuk merayakan perubahan musim, bekerja dengan
bahan tanah dan berburu untuk memenuhi kebutuhan hiudp, bukan
untuk berolahraga. Menganut nilai-nilai yang sangat berbeda,
masyarakat Eropa yang menetap di Amerika Serikat, melihat alam
sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan untuk melayani manusia.
Norma diartikan sebagai aturan yang menuntun para anggota
budaya
29
dalam
berpikir
dan
mengambil
Julia T. Wood, Communication in Our Lives, h. 165.
tindakan.
Norma
27
mendefinisikan sesuatu yang dianggap normal atau telah sesuai dalam
situasi tertentu. Aturan-aturan tersebut bersifat mutlak dan diwariskan
dari zaman ke zaman. Norma mencerminkan nilai-nilai budaya. Di
Amerika Serikat, banyak norma yang mencerminkan penghormatan
terhadap privasi dan properti individu. Misalnya, kebiasaan untuk
mengetuk pintu yang tertutup, alat makan yang terpisah untuk
mengambil makanan dan memiliki tempat sendiri bagi setiap orang
dengan alat makan yang terpisah juga.. Namun demikian, di negaranegara lain, terdapat norma komunikatif yang berbeda. Misalkan,
orang Korea yang tidak menentukan tempat sendiri, mereka
menggunakan alat makan yang sama untuk mengambil makanan dan
untuk makan.
Bahasa dapat membentuk seseorang dalam berpikir mengenai
dunia, diri sendiri, dan hal-hal disekitarnya. Dalam hal ini, seseorang
dapat belajar mengenai keyakinan suatu budaya, nilai dan norma.
Bahasa, keyakinan, nilai-nilai dan norma merupakan sesuatu yang
akan dibawa oleh budaya dalam kehidupan ke masa yang akan datang,
dari hari ke hari dan dari generasi ke generasi. Bahasa dan budaya
berjalan bersama karena bahasa merupakan suatu bentuk ikatan sosial
dan identifikasi yang terjadi setiap waktu dalam roda kehidupan.30
Dalam proses mempelajari bahasa, seseorang juga akan mempelajari
nilai-nilai budayanya.
30
Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi, (Jakarta: Salemba
Humanika, 2008), cet. Ke- 9, h. 491.
28
5. Pentingnya Komunikasi Antarbudaya
Kesulitan berkomunikasi dengan orang lain, khususnya yang
berbeda budaya, bukan hanya sulitnya memahami bahasa mereka yang
tidak dikuasai, melainkan juga sistem nilai dan bahasa nonverbal.
Keberhasilan komunikasi bergantung pada sejauh mana seseorang
memahami umpan-balik dari orang lain. Komunikasi tidak akan
berhasil jika seseorang mengabaikan umpan-balik nonverbal dari
orang lain. Beberapa faktor yang menyebabkan pentingnya komunikasi
antarbudaya adalah mobilitas, saling ketergantungan ekonomi,
teknologi komunikasi dan pola imigrasi.
Mobilitas sosial yang terjadi pada warga dari negara lain, terlihat
dari perjalanan dari satu negara ke negara lain dan dari satu benua ke
benua lain yang saat ini sedang banyak dilakukan. Beberapa orang
kerap kali mengunjungi budaya-budaya lain untu mengenal daerah
baru dan orang-orang yang berbeda serta menggali peluang ekonomis.
Saat ini, kebanyakan negara secara ekonomis juga bergantung pada
negara lain. Oleh karena itu, komunikasi antarbudaya menjadi sangat
penting.
Meningkatnya teknologi komunikasi, secara tidak langsung telah
membawa budaya luar masuk ke suatu negara tertentu. Pada hampir
setiap kota besar di dunia, orang-orang dari bangsa lain kerap kali
ditemui. Mereka bergaul, bekerja atau bersekolah dengan orang-orang
yang berbeda budaya. Pengalaman sehari-hari tersebut secara tidak
langsung telah terjadi komunikasi antarbudaya.
29
6. Fungsi Komunikasi Antarbudaya
Secara umum, terdapat dua fungsi dari komunikasi antarbudaya.
Fungsi pribadi yang merupakan beberapa fungsi komunikasi yang
ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang berasal dari seorang
individu. Ada beberapa hal yang terdapat dalam fungsi pribadi yang
harus dilakukan oleh seorang individu. Seorang individu yang
melakukan proses komunikasi antarbudaya harus menyatakan identitas
dirinya maupun identitas
sosial.
Dengan
adanya komunikasi
antarbudaya, seseorang dapat memperkenalkan dirinya kepada orangorang yang ada disekitarnya. Para pelaku komunikasi juga harus bisa
menyatakan integrasi sosial, dapat menerima kesatuan dan persatuan
antarpribadi dan antarkelompok, tetapi juga tetap mau mengakui
perbedaan-perbedaan yang terjadi satu sama lain. Kesatuan pada
masyarakat majemuk akan tercipta, sehingga tidak ada lagi perdebatan
mengenai perbedaan diantara mereka.
Terdapat pula fungsi sosial dalam komunikasi antarbudaya yang
mengharuskan para pelaku komunikasi untuk saling mengawasi,
menjembatani perbedaan yang terjadi diantara para pelaku komunikasi
dan mengajarkan serta memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu
masyarakat kepada masyarakat lain.
30
7. Prinsip Komunikasi Antarbudaya
Menurut Devito31, seseorang dapat memahami komunikasi
antarbudaya dengan menelaah prinsip-prinsip umum yang terdapat
dalam budaya tersebut. Prinsip-prinsip ini sebagian besar diturunkan
dari teori-teori komunikasi yang sekarang diterapkan ke dalam
komunikasi antarbudaya.
Semakin besar perbedaan komunikasi, semakin besar perbedaan
budaya, baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal.
Semakin
besar
ketidakpastian
perbedaan
dalam
antarbudaya,
komunikasi.
semakin
Semakin
besar
besar
pula
perbedaan
antarbudaya, semakin besar pula kesadaran diri (mindfulness) para
partisipan komunikasi.
Dalam interaksi awal, orang-orang yang memiliki perbedaan
budaya, tingkat kepentingan yang terjadi secara berangsur akan
berkurang ketika hubungan menjadi lebih akrab. Dalam setiap
komunikasi,
termasuk
komunikasi
antarbudaya,
para
pelaku
senantiasa berusaha memaksimalkan hasil interaksi.
8. Hambatan Komunikasi Antarbudaya
Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya, pasti akan
menghadapi hambatan dan masalah. Ada baiknya jika pelaku
komunikasi menghindari atau menanggulangi hal tersebut. Ada
beberapa hambatan komunikasi antarbudaya yang menunjukkan sifat
31
Joseph. A. Devito, Komunikasi Antarmanusia ( Tangerang Selatan: KARISMA
Publishing Group, 2011), h. 542-545.
31
unik sebagaimana yang dikatakan oleh Barna32, yang mengatakan
bahwa kejutan budaya mengacu pada reaksi psikologis yang dialami
seseorang karena berada di tengah suatu budaya yang berbeda dengan
budayanya. Kejutan budaya merupakan hal yang wajar. Sebagian
besar orang mengalaminya apabila memasuki budaya baru dan
berbeda. Hal ini menimbulkan ketidaksenangan dan frustasi bagi
sebagian orang. Kejutan ini timbul karena perasaan terasing yang
menonjol dan berbeda dari yang lain. Contoh beberapa hal yang
menimbulkan kejutan budaya adalah masuk ke perguruan tinggi,
menikah, memasuki dinas militer dll.
Mengutip Devito33, setiap kultur memiliki aturan komunikasi
masing-masing. Aturan tersebut menetapkan hal yang patut dan yang
tidak patut untuk dilakukan. Sebagai contoh, pada beberapa kultur,
ada yang menunjukkan rasa hormat dengan menghindari kontak mata
langsung dengan lawan bicaranya. Dalam kultur lain, penghindaran
kontak mata seperti ini dianggap mengisyaratkan tidak adanya
ketertarikan atau minat. Di sisi lain, para pelaku juga tidak
diperbolehkan menilai perbedaan tersebut sebagai suatu hal yang
negatif meskipun para pelaku menyadari adanya perbedaan di antara
beberapa
budaya.
Contohnya,
meludah.
Kebanyakan
budaya,
menganggap meludah sebagai tanda penghinaan dan ketidaksenangan
yang tidak boleh dilakukan di muka umum.
306-310.
306-310.
32
Marheini Fajar, Ilmu Komunikasi Teori & Praktik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h.
33
Marheini Fajar, Ilmu Komunikasi Teori & Praktik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h.
32
C. Adaptasi dengan Budaya Baru
Memasuki lingkungan dan budaya baru, tentunya menjadi proses
adaptasi yang sulit bagi seorang imigran. Berkomunikasi dengan budaya
baru dapat mengubah perilaku seorang imigran dalam beradaptasi dengan
lingkungan baru tersebut. Biasanya adaptasi dilakukan oleh para imigran
yang berpindah tempat dari satu lokasi ke lokasi lain.
Mengutip dari Taft34, ada beberapa situasi yang terjadi pada proses
adaptasi lintas budaya. Contohnya, pada saat seorang imigran memasuki
universitas baru, perpindahan diri dari sekolah lalu bekerja, profesi yang
berubah, menikah, bercerai, pensiun, menua, juga perubahan teknologi dan
inovasi baru.
Situasi seperti ini merupakan situasi yang wajar bagi seorang
imigran
yang
baru
memasuki
suatu
wilayah
dan
mengalami
ketidakpastian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan budaya,
pengalaman baru yang memberikan ilmu bagi proses adaptasi lintas
budaya.
Seorang imigran yang melakukan perpindahan wilayah pasti
memiliki alasan yang bervariasi. Karena sifat keberangkatan yang
berbeda-beda, sebagian imigran memiliki sedikit kesempatan untuk
mempersiapkan diri dengan wilayah barunya. Pada tahap awal, biasanya
para imigran banyak mengalami rasa rindu dengan kampung halamannya.
34
William Gudykunst, Communicating with Strangers, (Library of Congress Cataloging
in Publication Data, 1984), h. 336.
33
Hal ini akan membuat seorang imigran termotivasi untuk beradaptasi
dengan lingkungan baru untuk menciptakan suasana baru.
Imigran akan merasa peduli dengan lingkungan baru ketika mereka
merasa membutuhkan wilayah tersebut, contohnya untuk mendapatkan
gelar di suatu universitas. Hal ini akan membuat imigran melakukan
perilaku yang sama dengan penduduk pribumi.
Ketika seorang imigran pindah dan memasuki peraturan sebuah
budaya baru, mereka akan berinteraksi pada budaya tersebut. Proses yang
dilalui oleh para imigran untuk memperoleh aturan-aturan baru dalam
suatu budaya, dimulai pada saat awal pertemuan dengan orang-orang yang
memiliki budaya yang berbeda. Melalui proses sosialisasi dan pendidikan,
pola-pola budaya ditanamkan dan menjadi bagian dari kepribadian dan
perilaku seseorang. Proses pembelajaran yang terinternalisasikan tersebut
memungkinkan untuk dapat berinteraksi dengan anggota-anggota budaya
lain yang juga memiliki pola komunikasi serupa. Proses pembelajaran ini
disebut dengan enkulturasi.
Adamson Hoebel dan Fost35 mengatakan bahwa, enkulturasi
merupakan kondisi saat seseorang secara sadar ataupun tidak menyadari
bahwa
dirinya
telah
mencapai
kompetensi
suatu
budaya
dan
menginternalisasikan budaya tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan kebiasaan, perilaku, nilai dan norma akan terlihat bagi
para pendatang baru, secara bertahap mereka akan mengalami proses
35
Larry A. Samovar, Komunikasi Lintas Budaya, (Jakarta: Salemba Humanika), h. 33.
34
adaptasi lintas budaya. Mengutip dari Brim36, seorang imigran akan
menunjukkan perubahan yang signifikan. Mereka dapat dipaksa untuk
memenuhi persyaratan dalam interaksi sosial, tetapi tidak dapat dipaksa
untuk menerima dan menghargai nilai-nilai dasar pada wilayah baru
tersebut. Melalui adanya dukungan suatu kelompok, lembaga yang diakui
dan keberadaan teman yang dapat dipercaya bagi seorang imigran, hal ini
memiliki pengaruh yang besar bagi perubahan perilaku psikologis dan
sosial seorang imigran.
Seorang imigran akan mengalami perubahan-perubahan secara
bertahap dan perlahan-lahan. Biasanya, hal ini akan membawa rasa
bingung yang besar dari diri seorang imigran yang akan memperjuangkan
keinginan untuk mempertahankan kebiasaan lama dari budaya sebelumnya
atau keinginan untuk mengadopsi budaya yang ada di lingkungan barunya.
Mengutip dari Dyal & Dyal37, inti dari adaptasi budaya adalah
bentuk perubahan. Berbeda dengan masyarakat pribumi yang lahir di
wilayah tersebut dan berhasil menjadikan lingkungan sebagai suatu
kebutuhan dalam hidup. Seorang imigran, dalam jangka waktu yang
singkat harus meresapi inti dari budaya baru yang ada di lingkungannya.
Pada dasarnya, proses adaptasi adalah proses komunikasi yang
dilakukan oleh para imigran. Seperti halnya masyarakat pribumi yang
telah memperoleh pola budaya di lingkungannya, seorang imigran juga
harus mendapatkan suasana lingkungannya melalui interaksi dengan orang
36
William Gudykunst, Communicating with Strangers, (Library of Congress Cataloging
in Publication Data, 1984), h. 336.
37
William Gudykunst, Communicating with Strangers, (Library of Congress Cataloging
in Publication Data, 1984), h. 338.
35
lain. melalui komunikasi yang dilakukan secara terus-menerus dan
mendapatkan banyak pengalaman baru, seorang imigran secara bertahap
akan belajar dan menginternalisasikan simbol-simbol yang terdapat dalam
wilayah baru tersebut. Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki seorang
imigran, akan berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pribadi
dan sosialnya.
BAB III
GAMBARAN UMUM FETHULLAH GULEN CHAIR DAN MAHASISWA
TURKI DI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
A. Fethullah Gulen Chair
1.
Biografi Fethullah Gulen Hoja Effendi
Gambar 4. Muhammad Fethullah Gulen Hoja Effendi
Sumber: www.fgulenchair.com38
Muhammad Fethullah Gulen atau yang biasa dikenal dengan
Fethullah Gulen Hoja Effendi lahir pada 27 April 1941 di desa
Korucuk, kota Erzurum, Turki Timur. Ia merupakan sosok ulama
paling berpengaruh di Turki bahkan seluruh dunia. Sejak kecil ia
sudah hafal Al-qur‟an dan belajar ilmu agama di madrasah. Ia juga
38
www.fgulenchair.com, diakses pada 20 April 2016 pada pukul 19.38.
36
37
secara autodidak mempelajari berbagai ilmu lain, seperti Ilmu
Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Filsafat serta kesustraan
Timur dan Barat.
“...Hoja Effendi, Fethullah Gulen, dulu dia baca, apapun
dia dapat, ia baca. Ia hatam al-quran pertama kali, empat
tahun, anak kecil. Sepuluh tahun ia hafal semua qur‟an dan
menghafalnya Allah kasih hadiah, sangat kuat. Kalau ia
dengar satu kalimat saja, dia langsung hafal. Dia baca
buku history, sains, kimia, biologi, sastra barat, sastra
timur, semuanya, rahasia dia baca. dia bilang, di madrasah
tidak bisa baca buku-buku yang lain, harus fokus ke hadits
saja. Dia dididik sendiri, fokus pendidikan sendiri.”39
Sejumlah pemikirannya mengenai isu-isu sosial, politik dan agama
serta ilmu pengetahuan tersebar di seluruh dunia. Sekitar 80 buku
telah ia tulis dan telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa.40 Begitu
juga lebih dari 1000 kaset dan CD mengenai ceramah-ceramahnya
telah dipublikasikan.41
Pada tahun 1994 ia juga berpartisipasi dalam pendirian Journalist
and Writers Foundation (Lembaga Jurnalis dan Penulis) dan
memperoleh jabatan Presiden Kehormatan. Sejumlah penghargaan
dunia telah diberikan kepadanya, salah satunya di tahun 2008,
Majalah
39
populer
di
Amerika,
Foreign
Policy
Magazine,
Wawancara Pribadi dengan Dr. Ali Unsal, Jakarta, 19 April 2016.
Mengenal lebih Dekat Fethullah Gulen Chair, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, 2014), h. 9.
41
Wawancara Pribadi dengan Dr. Ali Unsal, Jakarta, 19 April 2016.
40
38
menobatkannya sebagai orang nomer satu dari 100 tokoh paling
berpengaruh di seluruh dunia.42
Perhatiannya kepada pendidikan dan kesejahteraan manusia
diwujudkan
dengan
usahanya
membangun
berbagai
lembaga
pendidikan yang diawali di Turki dan berlanjut ke seluruh dunia.
Impiannya untuk mendidik generasi baru dengan nilai-nilai Islam,
berakhlak seperti Rasulullah SAW dan dapat berbicara dengan
beberapa bahasa mendapat respon positif dari beberapa pihak. Ia
mendorong masyarakat umum seperti pebisnis, orang yang memiliki
materi berlebih, dokter untuk membuat sekolah dengan pendidikan
modern dan berakhlak mulia. Orang-orang dermawan didorong untuk
menjadi guru.
“...dia mendorong masyarakat yang orang bisnis, orang kaya,
orang muslim, orang dermawan untuk bangun sekolah. Sekolah
modern. Ayo buka sekolah sendiri dengan pendidikan modern
dan akhlak yang mulia. Hoja Effendi mengajak orang dermawan
supaya jadi guru. Kami menyebut ini hizmet, gerakan sosial.”43
Ia dan para sukarelawan yang kemudian disebut dengan hizmet
(pelayanan terhadap umat manusia) memulai kegiatan dialog antar
agama dan budaya demi membuat generasi baru yang cinta damai dan
hidup dengan menghidupkan orang lain.
2. Fethullah Gulen Chair
Fethullah Gulen Chair merupakan lembaga swasta hasil kerjasama
antara Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan
42
Mengenal lebih Dekat Fethullah Gulen Chair, (Jakarta: Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah, 2014), h. 9.
43
Wawancara Pribadi dengan Dr. Ali Unsal, Jakarta, 19 April 2016.
39
PASIAD (Pacific Countries Social and Economic Solidarity
Association). Sejak bulan April tahun 2009, Fethullah Gulen Chair
memulai kegiatan kiprahnya di UIN Jakarta dengan menyelenggarakan
kegiatan yang melibatkan masyarakat dengan membawa misi
menyebarkan perdamaian dan cinta ke seluruh dunia.44
Menurut Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Fethullah Gulen Chair
adalah representasi dari gerakan yang menebarkan ilmu pengetahuan,
peradaban serta dialog yang disampaikan dengan damai dan intelek.45
Fethullah Gulen Chair memiliki peran yang sangat penting untuk
memperkuat kerjasama dalam bidang akademik antara Turki dan
Indonesia.
Selama tujuh tahun, Fethullah Gulen Chair mengadakan puluhan
seminar, konferensi, panel dan forum akademik untuk mengenalkan
pemikiran Fethullah Gulen yang sangat memperhatikan pendidikan,
mendukung toleransi dan cinta serta merangkul manusia dengan
perhatian dunia. Fethullah Gulen juga mewujudkan pemikirannya
didalam kehidupan agar jauh dari politik, menutup diri terhadap
pemikiran materialisme, mengabdikan diri untuk melayani umat
manusia, menjauhkan diri dari semua kenikmatan dunia, harta, jabatan,
bahkan berhijrah untuk meninggalkan tanah air untuk berdakwah.46
Fethullah Gulen Chair mengadakan kegiatan kunjungan ke negara
Amerika, Australia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Jordania,
44
Mengenal lebih Dekat Fethullah Gulen Chair, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, 2014), h. 6.
45
Mengenal lebih Dekat Fethullah Gulen Chair, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, 2014), h. 12.
46
Wawancara Pribadi dengan Dr. Ali Unsal, Jakarta, 19 April 2016.
40
Qatar, Singapura dan Turki, untuk memberikan kesempatan kepada
intelektual Indonesia agar mengenal lebih dekat dengan Hizmet yang
ada di negara-negara tersebut.47
Gambar 5. Rombongan dari Indonesia bersama Direktur Fethullah
Gulen Chair mengunjungi lembaga hizmet di Laos
Sumber: www.fgulenchair.com48
Fethullah Gulen Chair juga mengadakan kegiatan “Cultural Day”
sebagai jembatan antara dua warga negara Turki dan Indonesia dengan
memperkenalkan kerajinan tangan, tarian dan masakan khas Turki.
Gambar 6. Pembukaan acara Turkish Cultural Day 2012
Sumber: www.fgulenchair.com49
47
Mengenal lebih Dekat Fethullah Gulen Chair, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, 2014), h. 5.
48
www.fgulenchair.com, diakses pada 20 April 2016 pada pukul 19.38.
49
www.fgulenchair.com, diakses pada 20 April 2016 pada pukul 19.38.
41
Atas kerjasama dengan rektorat dan International Office, Fethullah
Gulen Chair dapat memberikan kursus bahasa Arab, Turki, Inggris dan
Rusia. Para peserta juga difasilitasi untuk melakukan kunjungan ke
lembaga pendidikan mitra hizmet di Indonesia.
Gambar 7. Kursus bahasa Turki yang dilakukan mahasiswa
Indonesia
Sumber: www.fgulenchair.com50
Gambar 8. Seorang guru yang mengajarkan bahasa Turki
Sumber: www.fgulenchair.com51
Fethullah Gulen Chair juga memberikan kursus di sekolah
pascasarjana, serta memberikan bimbingann dan sumber penelitian
50
51
www.fgulenchair.com, diakses pada 20 April 2016 pada pukul 19.38.
www.fgulenchair.com, diakses pada 20 April 2016 pada pukul 19.38.
42
kepada mahasiswa S1, S2 dan S3 yang sedang melakukan penelitian
mengenai hizmet, Fethullah Gulen dan Turki.52
3. Visi & Misi
Visi:
Mempromosikan penelitian diberbagai
bidang akademik
yang
merupakan akar dari berbagai aktifitas yang menuju pada perubahan
sosial positif dalam pembentukan tercapainya perdamaian abadi,
keadilan dan harmonisasi sosial.53
Misi:
Mencapai tujuan-tujuan dengan berfokus pada pendidikan yang
bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan yang ada di
Indonesia, penelitian akademik, pengabdian sosial dan inisiatif
masyarakat. Fethullah Gulen Chair percaya bahwa setiap solusi harus
melibatkan inisiatif sipil dan mencangkup komponen pendidikan.
Fethullah Gulen Chair juga berusaha menunjukkan pentingnya
keterlibatan dan peran orang-orang yang berasal dari berbagai latar
belakang etnis agar tercipta masyarakat yang harmonis dalam berbagai
bidang kehidupan.54
B. Daftar Mahasiswa Turki di UIN Jakarta
52
Mengenal lebih Dekat Fethullah Gulen Chair, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, 2014), h. 5.
53
www.fgulenchair.com, diakses pada 30 April 2016 pukul 13.03.
54
www.fgulenchair.com, diakses pada 30 April 2016 pukul 13.16.
43
No.
Fak/Jurusan
Nama
1.
FST/TI
Hudai Hangun
Jenis
No. Hp
No. Paspor
Kelamin
L
085883378569 U02495213
2.
FST/TI
Zakir Ekin
L
085774995484 U02818561
3.
FITK/PAI
Elci Nurullah
L
083895459353 U02690607
4.
FITK/Pend.IPA Meral Ozturk
P
085781815359 U00219650
5.
FITK/PMTK
Kader Turker
P
083877191312 U00043175
6.
FITK/PMTK
Seyma Cicek
P
087809081577 U00099640
7.
FITK/PAI
Muhammet
L
085881538114 U06994996
P
085893983927 U02745479
Centinkaya
8.
FITK/PBI
Zehra Kartal
Tabel 1. Data mahasiswa Turki di Universitas Islam Negeri Jakarta periode
2015/2016
Sumber: Pusat Layanan Kerja Internasional UIN Jakarta
BAB IV
ANALISIS KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA PROSES
ENKULTURASI MAHASISWA TURKI DI UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1. Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Turki di UIN Jakarta
Dari hasil pengamatan peneliti di lapangan dan wawancara dengan
beberapa mahasiswa Turki dan mahasiswa Indonesia yang telah
ditetapkan, dapat ditemukan bahwa proses komunikasi antarbudaya yang
terjadi pada mahasiswa Turki di UIN Jakarta antara lain adalah
komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok.
Komunikasi interpersonal melibatkan dua orang dalam situasi
berinteraksi. Mahasiswa Turki dapat menjadi komunikator yang menjadi
sumber pesan, lalu menyampaikan kepada mahasiswa Indonesia dan
mahasiswa Indonesia akan memaknai pesan yang disampaikan oleh
mahasiswa Turki. Hal ini terjadi di antara mahasiswa Turki dan
mahasiswa Indonesia selama mereka berkuliah di UIN Jakarta, seperti
bertanya atau bahkan saling bertukar cerita satu sama lain. Hal ini
menjadikan antara mahasiswa Turki dan mahasiswa Indonesia dapat
mengenal satu sama lain.
Dalam hal ini, mahasiswa Turki memiliki peran ganda, yaitu
sebagai komunikator dan sebagai komunikan. Mereka mencoba untuk
menyesuaikan diri agar komunikasi yang terjalin selama mereka berkuliah
di UIN Jakarta menjadi efektif.
44
45
Sebagaimana mahasiswa pada umumnya, biasanya mereka
berkomunikasi dengan cara membuat kerumunan yang semula terdiri dari
dua
orang
dan
kemudian
membentuk
suatu
kelompok
untuk
mendiskusikan suatu hal yang dianggap penting dan menarik. Mereka
berkumpul dengan teman sekelas untuk membahas pelajaran atau hal yang
dianggap menarik.
“Saya diskusi dan bicara dengan teman-teman dimana-mana kita
bisa ketemu. Kadang-kadang saya mungkin bicaranya salah gitu
mereka bantu saya. Tapi yang kelas saya sudah mengerti saya
karena mereka, kalo saya bicara nanti mereka bisa berbalik ke
saya. Tapi teman-teman juga mengerti kalau saya butuh belajar
banyak mengenai Indonesia dan bahasanya jadi mereka bantu saya
kalau saya ada yang bingung. misalkan saya tau budaya yang lain
kan seneng kan, jadi pintar gitu ya. Saya tau budayanya mereka
juga senang gitu kan. Kalo misalkan dari orang Indonesia juga
anak-anak mau belajar budaya kita mau belajar gitu, itu kita juga
seneng karena mereka pahamin kita.”55
Dan hal ini diperkuat oleh ucapan dari mahasiswa Indonesia, yang
juga merupakan teman dari Kadar Turker.
”Ga unsos banget ko kalo di kelas mereka masih suka ngobrol kalo
ada tugas yang dia ga paham. Maklum wi kan orang jauh. Dia
suka nanya kalo Indonesia kerudungannya yang khas kaya gimana,
lebih ke fashion si. Terus nanya tempat-tempat traveling di
Indonesia. Dan kalo Kadar tuh tipe yang suka jalan-jalan loh wi.
Kan dia pernah ke Bandung waktu itu trus ke Semarang apa Yogya
gitu, apa dua-duanya kali ya, mungkin pernah juga.”56
Berdasarkan hal di atas dapat diketahui bahwa komunikasi
antarbudaya yang dilakukan mahasiswa Turki di UIN Jakarta berlangsung
dengan baik. Hal ini terbukti dengan adanya feed back dari mahasiswa
55
56
Wawancara pribadi dengan Kadar Turker, mahasiswa Turki, 13 Mei 2016.
Wawancara pribadi dengan Iqlima, mahasiswa Indonesia, 28 Mei 2016.
46
Indonesia yang turut membantu proses komunikasi antarbudaya yang
dilakukan mahasiswa Turki.
Komunikasi yang terjadi antara Kadar dan Iqlima berjalan dengan
efektif (sharing similiar of experiences), karena kedua pihak saling
bertukar pengalaman dan saling belajar mengenai keunikan masingmasing.
Menurut Dr. Ali Unsal selaku Direktur di kantor Fethullah Gulen
Chair UIN Jakarta, mahasiswa Turki di UIN Jakarta sering mengikuti
kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa Indonesia, bahkan sebaliknya.
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Dr. Ali Unsal:
“Dulu mahasiswa dan mahasiswi. Terutama mahasiswi, mereka
mau kegiatan-kegiatan disini, dan mereka datang ke saya
bermusyawarah, kami ada mahasiswi Indonesia dan mahasiswi
Turki. Misalnya kegiatan budaya. Saya bilang ini sangat bagus.
Karena orang Turki tau Indonesia dari Merapi dan khasnya. Ini
jalan baik. Semua akan jadi ambassador. Mereka hidup disini
punya teman-teman baik dan mereka pulang ke Turki mereka
akan cerita. Mereka lomba-lomba, baca buku ada. Misalnya
siapa masak baik, siapa jahit baik, siapa cantik, yang perempuan
punya dress baik di student center, mereka juga punya picnic or
trip, mereka juga punya kegiatan-kegiatan. mereka datang, kalau
saya punya budget saya akan bantu, kalau tidak punya saya
bantu advice aja pikiran aja. Mereka sangat aktif. Dan saya
sangat senang dengan semua aktivitas mereka.”57
Berdasarkan hal di atas, terlihat bahwa antusias mahasiswa Turki
untuk mengikuti kegiatan yang terdapat di UIN Jakarta sangatlah tinggi.
Jika ada acara yang diadakan di kampus, mahasiswa Turki akan
mengikuti lomba-lomba yang diadakan dan ketika mereka kembali ke
Turki, hal ini akan diceritakan ke teman-teman disana. Tidak hanya
57
Wawancara Pribadi dengan Dr. Ali Unsal, Jakarta, 19 April 2016.
47
kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa Indonesia saja, ketika acara
Turki‟s Day pun antusias mahasiswa Indonesia juga sangat tinggi.
Komunikasi antarbudaya yang dilakukan mahasiswa Turki di UIN
Jakarta berjalan dengan baik, walaupun terdapat banyak kendala yang
dialami ketika pertama kali masuk ke UIN Jakarta. Seiring berjalannya
waktu, mahasiswa Turki mulai menyesuaikan diri dengan banyaknya
budaya dan suku yang ada di Indonesia.
Peneliti
juga
menemukan
beberapa
faktor-faktor
yang
memengaruhi komunikasi antarbudaya mahasiswa Turki di UIN Jakarta,
salah satunya adalah faktor bahasa. Dalam proses komunikasi yang
dilakukan oleh mahasiswa Turki, mereka seringkali merasa bingung
dengan bahasa di Indonesia yang sangat banyak. Bukan hanya bahasa
daerah saja, tetapi juga ada bahasa gaul yang digunakan sehari-hari oleh
mahasiswa Indonesia. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang dipelajari oleh
mahasiswa Turki yang pada saat masuk ke negara Indonesia, mereka
belajar dengan bahasa Indonesia yang resmi. Berikut adalah hasil kutipan
wawancara peneliti dengan Kadar Turker selaku mahasiswa Turki yang
berkaitan dengan bahasa di Indonesia.
“Saya nanti datang kesini saya ambil kursus bahasa Indonesia,
setelah udah selesai kursus bahasa Indonesia, saya daftar UIN
gitu. Untuk tahun pertama untuk saya susah, tapi alhamdulillah
kalau saya sudah belajar bahasa lama-lama bisa. Tapi temanteman juga bantu saya kalau saya ada yang bingung. Bahasa
Jawa yaa, karena kita disini pakai itu kan bahasa biasa ya
bahasa Indonesia semuanya, kalau kita kan mau belajar ini
nanti kalo diganti dengan yang Jawa atau Sumatera nanti beda,
tapi tidak beda banget. Misalkan saya cuman dengar dari
nomor-nomor gitu, itu dia juga beda. Satu, dua, itu jadi siji,
48
loro. Itu kan beda. Seperti bahasa yang baru lagi. Misalkan
bahasa yang gaul atau bahasa syarat gitu.”58
Berikut kutipan langsung dari Meryam Sari selaku mahasiswa
Turki yang berpendapat mengenai bahasa di Indonesia.
“Waktu awal iya karena saya takut salah perilaku, sikap. Saya
takut yang saya, sikap saya beda dengan disini. Terkadang saya
bingung karena bahasa Indonesia sangat banyak dan sering ada
yang tidak tercantum di buku terjemahan seperti itu. Saya
banyak diam dan melihat bagaimana sikap teman Indonesia
yang lain. Kami komunikasi baik tetapi cukup sulit untuk saya
karena saya sulit memahami bicara orang Indonesia.
Terkadang saya tidak tau mereka bicara apa, dan itu yaa
Indonesia bahasanya banyak pula. Dan bahasanya suka ada
bahasa apa, gaul ya. Iya saya bingung dengan disini. saya
sering dengar bahasa Jawa ya yang suka bicara opo itu saya
suka bingung dan sering sekali gitu. Kalo Indonesia kan
bahasanya beda-beda yang bicara saya dan gua ya kalau tidak
salah jadi banyak suka bingung. Tapi teman lain baik juga
dengan saya, mungkin kalau yang pulaunya jauh dengan pulau
ini sepertinya dia juga bingung seperti saya karena bahasanya
kan banyak sekali ya, jadi ya dia susah berteman juga.”59
Ada pula pendapat lain dari Zakir Ekin mengenai perbedaan bahasa
di Indonesia.
“Waktu saya datang ke Indonesia enam bulan saya belajar
Bahasa Indonesia, jadi tahun yang pertama komunikasi saya
susah. Iya saya langsung bisa akrab sama mahasiswa UIN.
Kalo Anda mau bisa akrab karena saya orang asing dan
mahasiswa UIN sangat senang jika akrab sama saya. Menurut
saya tidak sulit untuk berinteraksi dengan mahasiswa UIN.
Karena ada banyak teman saya. Saya sangat mudah untuk
menginteraksi manusia jika saya mau. Saya belum pernah
memahami yang salah tetapi ada yang banyak memahami salah
ke saya tetapi gara gara bahasa saya.”60
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan mahasiswa Turki
bernama Elci Nurulah
58
Wawancara pribadi dengan Kadar Turker, mahasiswa Turki, 13 Mei 2016.
Wawancara pribadi dengan Meryam Sari, mahasiswa Turki, 24 Mei 2016.
60
Wawancara pribadi dengan Zakir Ekin, mahasiswa Turki, 19 Mei 2016, via email.
59
49
“Waktu pertama di UIN saya susah komunikasi. Saya cukup
bingung karena tidak tahu perkenalan. Saya diam karena
perbedaan kami banyak dan saya suka bingung. Lalu mereka
baik dan mensapa saya jadi saya baik dengan mereka. Saya
sering kesulitan karena Indonesia bahasanya sulit. Dan mereka
tidak menggunakan bahasa formal di kehidupan. Banyak juga
yang tidak mengkuasain bahasa Inggris. Kalau saya kesulitan,
saya mendatangkan mereka dan minta tolong. Saya banyak
meminta tolong mereka dan mereka bantu saya. Misalkan ada
apa homework gitu yang sulit nanti saya kontak mereka dan
mereka bantu.”61
Berdasarkan hal di atas, dapat diketahui bahwa perbedaan bahasa
menjadi faktor utama yang memengaruhi komunikasi mahasiswa Turki
selama mereka berkuliah di UIN Jakarta. Banyaknya bahasa yang ada di
Indonesia menjadikan mahasiswa Turki mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi. Bukan hanya bahasa daerah saja, tetapi ada juga bahasa
gaul yang digunakan mahasiswa Indonesia dalam berkomunikasi dengan
mahasiswa lain.
Selama mahasiswa Turki kursus bahasa Indonesia, mereka tidak
dikenalkan dengan bahasa keseharian orang Indonesia yang pada
umumnya yang tidak menggunakan bahasa Indonesia resmi. Seperti
penggunaan kata “gua” yang dalam bahasa Indonesia berarti “saya” atau
“aku”. Hal seperti ini yang membuat mahasiswa Turki kerap kali merasa
bingung dengan penggunaan kata-kata yang harus digunakan.
Untuk mengatasi rasa bingungnya, ada mahassiswa Turki yang
memilih untuk diam dan bahkan ada juga yang bertanya dengan teman
mahasiswa Indonesia. Dan hal ini yang menciptakan bentuk komunikasi
antarbudaya antara mahasiswa Turki dengan mahasiswa Indonesia. Berikut
61
Wawancara pribadi dengan Elci Nurullah, mahasiswa Turki, 23 Mei 2016, via email.
50
adalah hasil kutipan wawancara dengan Kaisan Putera selaku mahasiswa
Indonesia:
“Keliatan ko kalo dia mau tau, dari cara dia pengen belajar
bahasa Indonesia, trus dia mau ngikutin bahasa-bahasa
gaulnya kita, trus cara bercandanya.”62
Berdasarkan hal di atas, peneliti sudah dapat melihat adanya proses
enkulturasi yang terjadi pada Zakir Ekin yang mulai mempelajari cara
berbicara orang Indonesia yang tidak menggunakan bahasa Indonesia
resmi.
Lalu ada juga faktor keyakinan yang peneliti artikan sebagai sesuatu
yang dianggap benar dan dijadikan patokan dalam hidup. Keyakinan
berakar pada iman, pengalaman serta ilmu pengetahuan.
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta merupakan
salah satu Universitas Islam di Indonesia yang dianggap baik oleh
mahasiswa Turki. Keyakinan (agama) yang sama menjadi salah satu faktor
bagi mahasiswa Turki memilih berkuliah di UIN Jakarta. Meskipun
memiliki agama yang sama, tetapi ada beberapa perbedaan yang dirasakan
oleh mahasiswa Turki selama berkuliah di UIN Jakarta akibat Imam yang
berbeda. Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Kadar Turker:
“Alhamdulillah agamanya kita sama cuma itu ya Imam kita
beda. Saya misalkan Imam Hanafi yang disini Imam Syafi‟i ada
cuman beberapa perbedaannya, dari Islam ga ada bedanya tapi
dari budaya makanan, culturenya itu ada. Beda banget. Di
Turki boleh makan seafood tapi kadang-kadang itu ya yang
untuk Imam kita beda ya, kita tidak bisa makan semuanya gitu
ya, cuma ikan semacamnya gitu. kadang-kadang ada temen
saya udah dekat ya, deket banget, nanti dia bilang mereka
panggil kakak atau abla. Nanti mereka panggil abla, jangan
makan itu nanti di dalamnya ada seafood”.63
62
63
Wawancara pribadi dengan Kaisan Putera, mahasiswa Indonesia, 20 Mei 2016.
Wawancara pribadi dengan Kadar Turker, mahasiswa Turki, 13 Mei 2016.
51
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Meryam Sari
terkait dengan agama di Indonesia yang sama tetapi pandangannya
berbeda.
“Waktu dulu cari informasi tentang kampus dunia yang Islam
dan bagus. Lalu teman ada yang bantu informasi dan bilang
Indonesia ada kampus bagus seperti itu. Kalo saya suka sekali
disini karena semuanya baik. Agama sama tapi kita beda
pandangan ya tetapi tidak masalah bagi saya karena Islam tetap
satu. Yaa kan kalau disini Imam Syafi‟i dan itu buat cara
kehidupan kami juga terlihat berbeda tetapi kami coba untuk
tidak terlihat berbeda dan kami tetap menghargai”64
Ada juga hasil kutipan wawancara dari Elci Nurullah yang memilih
UIN Jakarta dan Indonesia karena agama Islamnya bagus.
“UIN merupakan salah satu kampus Islam yang baik dan
jurusannya dibilang bagus. Negaranya dapat menerima kami
yang berbeda tempat jauh dengan Indonesia. Saya memilih
Indonesia karena menurut teman Indonesia Islamnya bagus.”65
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Zakir Ekin terkait
dengan alasannya memilih Indonesia sebagai tempat ia menuntut ilmu:
“Yang pertama saya orang muslim dimana saja saya bisa
melakukan ibadah saya. Yang kedua apa yang mau
menjelaskan dan apa yang mau melakukan untuk ridhoi Allah,
Anda bisa melakukan di Indonesia.”66
Berdasarkan hal di atas, dapat diketahui bahwa agama Islam yang
terdapat di Indonesia dianggap baik bagi mahasiswa Turki. Agama yang
sama menjadi salah satu faktor mahasiswa Turki datang ke Indonesia dan
memilih UIN Jakarta sebagai tempat mereka belajar. Alasan lain juga
karena Indonesia memiliki kebebasan untuk melaksanakan ibadah
sehingga mahasiswa Turki dapat melaksanakan solat dimana saja. Namun,
64
Wawancara pribadi dengan Meryam Sari, mahasiswa Turki, 24 Mei 2016.
Wawancara pribadi dengan Elci Nurullah, mahasiswa Turki, 23 Mei 2016, via email.
66
Wawancara pribadi dengan Zakir Ekin, mahasiswa Turki, 19 Mei 2016, via email.
65
52
agama yang sama tidak juga menjadikan mahasiswa Turki merasa nyaman.
Perbedaan pandangan yang terjadi pada mahasiswa Turki yang mengikuti
ajaran Imam Hanafi, membuat mereka harus banyak menyesuaikan diri
dengan mahasaiwa Indonesia yang mereka anggap menganut ajaran Imam
Syafi‟i.
Seperti yang telah dikatakan oleh Kadar Turker bahwa ajaran Imam
Hanafi tidak mengonsumsi semua jenis sea food. Ketika ia pergi dengan
mahasiswa Indonesia, mereka sering kali mengingatkan Kadar agar lebih
berhati-hati dalam mengonsumsi makanan yang diperkirakan mengandung
sea food.
Ada juga faktor nilai yang diartikan sebagai sesuatu yang dianggap
baik, benar, berharga, dan penting dalam kehidupan. Nilai didukung oleh
budaya yang diekspresikan melalui komunikasi para anggotanya.
Budaya Turki dan budaya Indonesia tentunya berbeda. Budaya
yang berbeda memiliki nilai yang berbeda pula dalam memaknai dunia
sekitar. Selama berkuliah di UIN Jakarta, begitu banyak perbedaan nilainilai yang dialami oleh mahasiswa Turki. Ada sebagian mahasiswa Turki
yang datang ke kampus untuk belajar, kerap kali merasa tidak nyaman
karena ulah mahasiswa Indonesia yang dianggap tidak baik. Hal ini
bukanlah masalah besar, karena setiap negara pasti memiliki nilai yang
berbeda. Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Zakir Ekin
mengenai pendapatnya terkait mahasiswa Indonesia:
“Hidup mereka sangat santai. Tidak ada yang memikir untuk
membangunan negaranya, agamanya dan lain-lain. Tidak ada
roh sahabat Rasullullah (SAW). Tidak ada yang sensitif
membuat yang baik untuk masyarakat Indonesia orang-orang
53
semua memikir sendiri saja seperti orang egois. Dan
mahasiswa UIN tidak menyari ilmu yang benar tidak ada yang
dapat ilmu agamanya. Contohnya mereka sholat tetapi kenapa
sholat dia tidak mengetahui ini.”67
Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Kaisan Putera
terkait Zakir Ekin:
“Zakir tuh orangnya baik banget, lama-lama kebuka ternyata
orangnya itu Islamic banget, rajin solat, orangnya suka negur
juga. Jadi kalo misalkan kita lagi berisik sampai waktu solat
dia pasti marah. Zakir itu sering nyuruh kita baca Al-Quran,
nanti pas kita baca Al-Quran, yang salah dikoreksi sama dia,
dia tuh bener-bener Islam baget deh. Trus juga Zakir itu
membedakan interaksi cowo sama cewe. Dia orangnya
pendidikan banget, mungkin kalo kita bisa ke dunia lain, dia
bakal belajar sampe kesana kali.”68
Berdasarkan hal di atas, Zakir menganggap bahwa mahasiswa
Indonesia sangat santai dengan kehidupannya karena tidak peduli dengan
negara, agama dan lain-lain. Hal ini peneliti anggap wajar karena menurut
Kaisan Putera selaku teman sekelompok KKN Zakir, Zakir memang
dikenal sebagai seseorang yang sangat mementingkan agama dan rajin
belajar. Nilai-nilai yang ada dalam diri Zakir sangatlah berbeda dengan
mahasiswa Indonesia yang ia anggap egois.
Dan yang terakhir adalah faktor norma yang diartikan sebagai
aturan yang menuntun para anggota budaya dalam berpikir dan mengambil
tindakan. Norma dianggap sebagai kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan
seseorang berdasarkan letak wilayahnya. Banyak sekali perbedaan
kebiasaan yang terjadi antara mahasiswa Turki dengan mahasiswa
Indonesia di UIN Jakarta. Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan
67
68
Wawancara pribadi dengan Zakir Ekin, mahasiswa Turki, 19 Mei 2016, via email.
Wawancara pribadi dengan Kaisan Putera, mahasiswa Indonesia, 20 Mei 2016.
54
Kaisan Putera terkait kebiasaan di Turki yang Zakir terapkan di desa
KKN:
“waktu itu di SD kan ngajar tuh, nah kalo dia, anak SD itu
dipegang-pegang sama dia, dicium keningnya, katanya si kalo
di Turki kebiasannya kaya gitu. Nah pas kita rapat, kita pada
bilang, “Zakir, lu jangan pegang-pegang anak SD, soalnya
disini beda” trus dia bales, “kalau disana kalau kita megang
dan nyium anak SD kaya gitu tandanya kita sayang sama anak
kecil”, terus akhirnya kita bilangin kalo yaa ga bisa soalnya
nanti bisa dikira pedofil. Gitu jadi, kaya beda-beda gitu doang
si karna beda budaya ya.”69
Dari cerita Kaisan di atas, terlihat bahwa terdapat kebiasaan yang
sangat berbeda antara budaya Turki dan budaya Indonesia. Di Turki,
mencium kening anak kecil dianggap sebagai hal yang biasa karena
memiliki arti bahwa orang tersebut menyayangi anak kecil. Namun, di
Indonesia hal ini bukanlah hal yang biasa, bahkan Kaisan khawatir kalau
Zakir akan dianggap sebagai pedofil di mata masyarakat di desa. Ada juga
kutipan hasil wawancara peneliti dengan Kaisan Putera terkait dengan hal
yang tidak disukai Zakir:
“Dia sempet ngeluh gara-gara makanan waktu KKN kan
paling tempe, tahu. Mungkin dia biasa makan enak yaa, jadi
dia ngomong “makanannya yang enak dong, ayam gitu”,
jadi kita ikut maunya dia, tapi dia juga yang modalin. Paling
royal deh. Dia juga ga suka rokok, menurut dia yaa rokok itu
dosa. Trus dia kan kalo tidur anteng ya, waktu KKN ada
yang tidur sama dia, namanya laki kalo tidur kan kemanamana. Nah Zakir kalo subuh udah bangun duluan, soalnya
katanya temen KKN kitanya itu rusuh. Jadi dia ga betah kali
yaa.”70
Berdasarkan hal di atas, selama berada di desa KKN, Zakir kerap
kali mengeluh karena makanan yang disajikan oleh teman sekelompoknya
69
70
Wawancara pribadi dengan Kaisan Putera, mahasiswa Indonesia, 20 Mei 2016.
Wawancara pribadi dengan Kaisan Putera, mahasiswa Indonesia, 20 Mei 2016.
55
hanya tahu dan tempe. Bagi orang Indonesia, tahu dan tempe adalah
makanan pokok khas Indonesia yang rasanya kurang jika tidak disajikan.
Selain itu, biasanya selama KKN, mahasiswa UIN Jakarta kerap kali
meminimalisir keuangan agar bisa bertahan hidup selama sebulan di
wilayah lain, salah satunya dengan menghemat pengeluaran makanan.
Berbeda dengan budaya Turki yang dianggap Kaisan terbiasa dengan
makanan enak, Zakir meminta agar temannya menyajikan ayam dan
makanan yang dianggap enak dengan modal dari Zakir sendiri. Sehingga
selama di desa KKN, Zakir dikenal sebagai teman yang royal. Menurut
Kaisan, Zakir juga tidak menyukai rokok. Menurutnya merokok adalah
dosa. Pendapat yang sama juga dikatakan oleh Elci Nurullah terkait
ketidaksukaannya terhadap rokok, berikut kutipan hasil wawancara dengan
Elci:
“Saya tidak suka rokok. Di fakultas Tarbiyah tidak boleh
merokok tetapi mereka melakukan rokok dimanapun.
Seharusnya mereka sadar supaya tidak rokok dimanapun
karena kotor dan merusak.”71
Berdasarkan hal di atas, terlihat bahwa mahasiswa Turki tidak
menyukai kebiasaan merokok orang Indonesia yang seringkali merokok di
sembarang tempat. Kesadaran yang dimiliki oleh mahasiswa Indonesia
dianggap rendah oleh mahasiswa Turki. Ketika peneliti pertama kali
bertemu dengan Zakir Ekin bersama dengan teman-teman KKN-nya, ada
beberapa teman Zakir yang merokok dan Zakir terlihat sangat tidak
nyaman dengan keadaan tersebut. Ia terlihat seringkali mengibasngibaskan tangan dan menutup hidung.
71
Wawancara pribadi dengan Elci Nurullah, mahasiswa Turki, 23 Mei 2016, via email.
56
Disinilah salah satu peran Fethullah Gulen Chair untuk membantu
mahasiswa Indonesia agar lebih baik lagi, berikut adalah kutipan hasil
wawancara dengan Dr. Ali Unsal:
“Visi misinya adalah mengenalkan pikiran-pikiran Fethullah
Gulen sebagai „alim ulama islam yang berasal dari Turki,
pikiran-pikirannya mengenalkannya di Indonesia di aspek
akademik, akademic research. Bagaimana pikiran-pikiran ini
bisa tersebar. Hidup dengan menghidupkan orang lain
Fethullah Gulen bilang, aspek hidup semua, generasi ini
harus berkhitmah. Mereka berkorban sendiri. Mereka tidak
punya akhlak yang jelek. Mereka tidak ada alkohol, tidak ada
zinah, tidak ada termasuk rokok. Mereka tidak suka merokok.
Satu anak tidak masuk kriminal, sampai 50 tahun, jutaan
orang, semua orang akan dermawan dan damai.”72
Selain menjadi Direktur di kantor Fethullah Gulen Chair, Dr. Ali
Unsal juga mengajar di beberapa Fakultas di UIN Jakarta. Di dalam kelas
ia juga sering kali mengenalkan pikiran-pikiran dari Hoja Effendy atau
biasa dikenal dengan Fethullah Gulen terkait dengan pikiran-pikirannya
yang hidup dengan menghidupkan orang lain. Hal ini dilakukan agar
mahasiswa Indonesia memiliki akhlak yang baik, terhindar dari hal-hal
yang negatif, dan peduli dengan keadaan disekitar.
Selama berkuliah di UIN Jakarta, mahasiswa Turki mencoba untuk
bergaul dan berusaha agar bisa berbaur dengan mahasiswa Indonesia
lainnya. Komunikasi antarbudaya yang terjadi antara mahasiswa Turki
dengan mahasiswa Indonesia menunjukkan adanya nilai kemanusiaan
yang mereka terapkan. Hal ini dapat dilihat dari mahasiswa Turki yang
berusaha menjaga sikap dan memilih untuk diam ketika mereka merasa
tidak nyaman dengan perilaku mahasiswa Indonesia yang berbeda dengan
72
Wawancara Pribadi dengan Dr. Ali Unsal, Jakarta, 19 April 2016.
57
kebiasaan di Turki. Meskipun sering kali terjadi kesalahpahaman akibat
perbedaan tersebut, mereka tetap mencoba untuk bisa menumbuhkan sikap
saling menghargai.
Mahasiswa Turki di UIN Jakarta menyadari, dalam mewujudkan
komunikasi yang efektif dengan latar budaya yang berbeda, tidaklah
mudah. Mereka harus berusaha agar komunikasi yang dilakukan dengan
mahasiswa Indonesia dapat berjalan dengan baik. Dalam mewujudkan
komunikasi yang efektif, tentunya ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, salah satunya munculnya sikap prasangka sosial, akibat
perbedaan yang terjadi di antara mahasiswa Turki dan mahasiswa
Indonesia. Jika hal ini dibiarkan maka akan terjadi disintegrasi sosial. Hal
seperti ini tentunya sangat tidak diharapkan oleh mahasiswa Turki di UIN
Jakarta.
Hal di atas sesuai dengan bentuk komunikasi antarbudaya yang
telah dibahas pada bab sebelumnya yang menjelaskan bahwa ketika dua
budaya (budaya Turki dan budaya Indonesia) berkomunikasi, maka akan
ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, komunikasi akan
berhasil
sehingga
menyebabkan
berkurangnya
kecemasan
antara
mahasiswa Turki dan mahasiswa Indonesia, sehingga akan muncul
keharmonisan di antara mereka. Kedua, komunikasi yang terjadi akan
gagal dan menyebabkan kecemasan semakin meningkat serta tidak adanya
relasi antarpribadi. Untuk dapat memahami mengenai komunikasi yang
terjadi pada mahasiswa Turki di UIN Jakarta, dapat dilihat pada gambar
model komunikasi antarbudaya berikut:
58
Strategi
Komunikasi yang
akomodatif
Kebudayaan
Kebudayaan
C
Kepribadian
Kepribadian
A
Persepsi
terhadap
relasi
antarpribadi
B
Ketidakpastian
Persepsi
terhadap
relasi
antarpribadi
Kecemasan
Gambar 9: Model komunikasi antarbudaya
Berdasarkan gambar di atas, komunikasi akan menjadi efektif
ketika tingkat ketidak pastian menjadi lebih sedikit. Begitu juga
sebaliknya, komunikasi menjadi kurang efektif apabila tingkat kecemasan
yang terjadi semakin meningkat. Berdasarkan latarbelakang mahasiswa
Turki dan mahasiswa Indonesia yang berbeda, tentunya semua
kemungkinan di atas dapat terjadi.
Berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan dengan beberapa
informan, maka peneliti menemukan bahwa rendahnya tingkat kecemasan
yang dialami mahasiswa Turki di UIN Jakarta. Hal tersebut tentunya akan
membawa komunikasi yang terjadi menuju ke arah yang lebih baik,
59
sehingga perbedaan di antara mereka akan tertutupi karena adanya
peleburan budaya yang dirasakan oleh mahasiswa Turki dan mahasiswa
Indonesia.
Berikut adalah kutipan hasil wawancara peneliti dengan Kadar
Turker, mahasiswa asal Turki yang mecoba untuk belajar bahasa Indonesia
dan mulai mengetahui beberapa bahasa di Indonesia:
“Saya nanti datang kesini saya ambil kursus bahasa Indonesia, setelah
udah selesai kursus bahasa Indonesia, saya daftar UIN gitu. Untuk tahun
pertama untuk saya susah, tapi alhamdulillah kalau saya sudah belajar
bahasa lama-lama bisa. Tapi teman-teman juga bantu saya kalau saya
ada yang bingung. Bahasa Jawa yaa, karena kita disini pakai itu kan
bahasa biasa ya bahasa Indonesia semuanya, kalau kita kan mau belajar
ini nanti kalo diganti dengan yang Jawa atau Sumatera nanti beda, tapi
tidak beda banget. Misalkan saya cuman dengar dari nomor-nomor gitu,
itu dia juga beda. Satu, dua, itu jadi siji, loro. Itu kan beda. Seperti bahasa
yang baru lagi. Misalkan bahasa yang gaul atau bahasa syarat gitu.”73
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat terlihat adanya usaha
yang dilakukan oleh mahasiswa Turki untuk dapat berbaur dengan
mahasiswa Indonesia. Pada awalnya ia merasa bingung, namun ia tetap
belajar sehingga seiring berjalannya waktu, ia lancar dalam berbahasa
Indonesia. Bahkan, ia mengetahui beberapa bahasa di Indonesia seperti
bahasa Jawa dan Sumatera serta bahasa gaul yang biasa digunakan oleh
mahasiswa Indonesia. Semua ini dapat terjadi karena bantuan dari
mahasiswa Indonesia. Hal ini tentunya memberikan pengaruh pada
komunikasi antarbudaya yang terjadi di antara mereka.
2. Adaptasi dengan Budaya Baru
Bagi mahasiswa Turki, adaptasi yang dilakukan dari awal mereka
datang ke Indonesia dilakukan dengan penuh rintangan. Memasuki negara
73
Wawancara pribadi dengan Kadar Turker, mahasiswa Turki, 13 Mei 2016.
60
Indonesia yang sebagian besar belum pernah mereka kunjungi menjadikan
proses adaptasi yang dilakukan menjadi amat sulit.
Dari hasil wawancara peneliti dengan para mahasiswa Turki,
alasan mereka datang ke Indonesia adalah untuk menuntut ilmu dan
mendapatkan gelar sarjana. Mereka tidak memiliki keluarga dan datang ke
Indonesia hanya seorang diri. Karena kehadiran mereka di Indonesia
karena suatu kebutuhan, pada akhirnya mereka banyak beradaptasi dengan
mahasiswa Indonesia agar memahami budaya di Indonesia dan melakukan
hal yang sama dengan mahasiswa Indonesia.
Pada tahap awal, mahasiswa Turki mempelajari bahasa Indonesia
terlebih dahulu. Mereka les bahasa Indonesia agar dapat berinteraksi
dengan mahasiswa Indonesia. Berikut adalah kutipan hasil wawancara
dengan Kadar Turker:
“Saya nanti datang kesini saya ambil kursus bahasa Indonesia,
setelah udah selesai kursus bahasa Indonesia, saya daftar UIN
gitu. Untuk tahun pertama untuk saya susah, tapi alhamdulillah
kalau saya sudah belajar bahasa lama-lama bisa. Tapi temanteman juga bantu saya kalau saya ada yang bingung. Bahasa Jawa
yaa, karena kita disini pakai itu kan bahasa biasa ya bahasa
Indonesia semuanya, kalau kita kan mau belajar ini nanti kalo
diganti dengan yang Jawa atau Sumatera nanti beda, tapi tidak
beda banget. Misalkan saya cuman dengar dari nomor-nomor gitu,
itu dia juga beda. Satu, dua, itu jadi siji, loro. Itu kan beda. Seperti
bahasa yang baru lagi. Misalkan bahasa yang gaul atau bahasa
syarat gitu.”74
Setelah mereka menyadari bahwa bahasa Indonesia yang mereka
pelajari di tempat les berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam
kehidupan sehari-hari, para mahasiswa Turki ini mulai belajar agar dapat
74
Wawancara pribadi dengan Kadar Turker, mahasiswa Turki, 13 Mei 2016.
61
berbaur dengan bahasa yang digunakan oleh mahasiswa Indonesia pada
umumnya. Hal ini akan berdampak pada perubahan kebiasaan dan perilaku
bagi para mahasiswa Turki. Hal ini terlihat dari Kadar Turker yang juga
kerap kali sudah terbiasa dan nyaman dengan budaya dan kebiasaan orang
Indonesia. Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan Kadar Turker
terkait dengan beberapa aktivitas yang pernah ia lakukan di Indonesia:
“ya saya bukan cuma yang Indonesia, saya suka dari karakter saya
juga saya ingin tau mau apa-apa gitu budayanya, saya ingin tau
dan saya sudah cari-cari tau juga culture. Misalkan ada yang
misalkan saya pakai jalan, itu angkot gitu, naik angkot nanti disitu
ada mereka lihat kita mau bicara tapi mereka sedikit. saya bicara
atau engga gitu, takut beda bahasa, nanti kalo mereka atau kita
sudah bisa bahasa Indonesia mereka juga mau ngobrol gitu,
senang gitu
Kalo nanti misalkan saya tau budaya yang lain kan seneng kan,
jadi pintar gitu ya. Batik gitu ada dimana-mana, batik juga beda
yaa, macam-macam gitu. Ke pasar gitu kan, orang asing dimanamana kalo jual harganya jadi sedikit tinggi gitu ya, soalnya kan itu
orang asing. Nanti mereka dari mahal, nanti temen-temen kita
bantu gitu. Iya saya suka dan sudah biasa juga makanannya yang
bumbu, iya rempah.”75
Berdasarkan hal di atas, Kadar Turker mengatakan bahwa ia sering
kali menggunakan angkot sebagai angkutan umum sehari-hari. Ketika
berada di angkot, ia merasa orang Indonesia yang berada di dalam angkot
ingin menyapanya, tapi mereka takut karena menganggap bahwa Kadar
tidak bisa berbahasa Indonesia. Kadar ingin menyapa mereka tetapi ia juga
khawatir kalau bahasa yang ia gunakan salah. Karena itu ia ingin
mempelajari bahasa Indonesia agar dapat berkomunikasi dengan orang
Indonesia. Selain itu, Kadar juga pernah mendatangi pasar tradisional dan
ia menyadari kalau orang asing yang belanja di pasar, harganya akan
75
Wawancara pribadi dengan Kadar Turker, mahasiswa Turki 13 Mei 2016.
62
ditinggikan. Hal ini juga diperkuat oleh Iqlima selaku teman Kadar di
Fakultas Tarbiyah terkait dengan kesukaan Kadar di Indonesia:
“dia suka nanya kalo Indonesia kerudungannya yang khas kaya
gimana, lebih ke fashion si. Terus nanya tempat-tempat traveling di
Indonesia. Dan kalo Kadar tuh tipe yang suka jalan-jalan loh wi.
Kan dia pernah ke Bandung waktu itu trus ke Semarang apa Yogya
gitu, apa dua-duanya kali ya, mungkin pernah juga.”76
Dari jawaban Iqlima, sudah terlihat bahwa ada usaha Kadar yang
ingin mempelajari budaya Indonesia dan menerapkannya ke dalam
kehidupan sehari-hari. Kadar sering menanyakan fashion Indonesia yang
sedang trend, dan menurut pengakuan Kadar, ia juga menyukai batik dan
makanan-makanan khas Indonesia. Proses enkulturasi telah terjadi pada
Kadar, ia sudah mulai menginternalisasikan budaya Indonesia ke dalam
kehidupan sehari-hari. Dan hal ini menunjukkan adanya perubahan yang
signifikan dari Kadar Turker.
Ada juga mahasiswa Turki lain yang bernama Zakir Ekin yang
terlihat ingin mempelajari budaya Indonesia dan menerapkan ke dalam
kehidupan sehari-hari. Berikut adalah kutipan hasil wawancara dengan
Kaisan Putera:
“Keliatan ko kalo dia mau tau, dari cara dia pengen belajar
bahasa Indonesia, trus dia mau ngikutin bahasa-bahasa gaulnya
kita, trus cara bercandanya, trus kaya cara dia pengen pake
sarung gitu. Kalo disana kayanya kan ga ada kali ya, sarung gitu,
dia tuh pengen make sarung, mungkin gara-gara terlalu tinggi kali
ya jadi susah nyari sarung yang pas. Kan yang kita bawa pas KKN
yaa sebadan kita, sedangkan dia tinggi banget. Kalo sate nasi
goreng keliatannya dia kurang suka deh, pernah nyobain waktu itu,
tapi mungkin gara-gara anak KKN juga yang masak si. Mungkin
juga karna masakannya yang ga enak jadi dia ga suka.”77
76
77
Wawancara pribadi dengan Iqlima, mahasiswa Indonesia, 28 Mei 2016.
Wawancara pribadi dengan Kaisan Putera, mahasiswa Indonesia, 20 Mei 2016.
63
Dari jawaban Kaisan di atas terlihat bahwa selama di desa KKN,
Zakir terlihat ingin mengikuti budaya kita dengan menggunakan kain
sarung untuk solat. Menurut sepengetahuan Kaisan, di Turki, Zakir tidak
menggunakan kain sarung sebagai alat untuk solat. Jadi ketika mereka
melaksanakan solat dengan sarung, Zakir juga ingin memakainya.
Menurut Kaisan, Zakir tidak menyukai makanan khas Indonesia seperti
nasi goreng dan sate. Namun, hal ini diduga karena teman sekelompok
KKN mereka yang memasak. Setelah peneliti bertanya dengan Zakir,
ternyata Zakir menyukai makanan khas Indonesia seperti nasi dendeng,
nasi uduk dan gorengan.78
Satu lagi mahasiswa Turki di UIN Jakarta yang terlihat ingin
mempelajari budaya Indonesia. Ketika peneliti bertemu dengan Meryam
Sari, peneliti sudah dapat melihat antusias Meryam sangat besar untuk
mempelajari budaya Indonesia. Hal tersebut terlihat dari cara Meryam
bercerita mengenai Indonesia, berikut kutipan hasil wawancara dengan
Meryam:
“ada teman yang pernah memberikan saya makan dan itu sangat
enak seperti cemilan pisang ditempelkan bubuk coklat tapi saya
lupa teman saya asal dimana, nanti saya beritahu kalau saya
bertemu. Teman UIN sangat baik kepada kami yang bukan warga
Indonesia. Mereka terlihat sangat suka tersenyum kepada kami
jadi kami juga ikut baik kepada mereka. Kalau saya mulai cocok
dengan semuanya karena kan makanan Indonesia beda rasa ya
jadi prosesnya lama juga. Kalau sekarang saya suka sama nasi
goreng yang ada di jalan dekat kampus dua yang banyak apa itu
namanya, bawang yaa Aceh atau nasi goreng Aceh. Lalu saya suka
bicara dengan teman mengenai hal-hal yang terkenal di Indonesia
dan saya pingin gitu ikut. Saya tau batik Indonesia banyak dan
motifnya bagus. Saya ada rencana ke Jawa karena menurut teman
disana batiknya banyak macam. Saya sedang tidak pakai batik
78
Wawancara pribadi dengan Zakir Ekin, mahasiswa Turki, 19 Mei 2016, via Line.
64
biasa hari saya suka pakai karena saya terlihat keren ya kalau
pakai batik. Kalau makanan saya banyak suka tapi belum semua
telah dicoba. Saya suka nasi goreng Aceh, soto ayam saya lupa
nama yang ikan lalu ada cabai, yaa pecel lele juga.”79
Berdasarkan cerita Meryam di atas, terlihat bahwa Meryam sangat
menyukai makanan, pakaian dan kebiasaan orang Indonesia yang suka
tersenyum dan hal ini membuatnya membalas keramahan mahasiswa
Indonesia. Proses enkulturasi terlihat jelas pada keseharian Meryam Sari
yang ingin mencoba banyak makanan yang ada di Indonesia, lalu rencana
Meryam untuk jalan-jalan ke pulau Jawa untuk mencari baju batik.
Bahkan, menurut pengakuan Meryam, biasanya ia suka menggunakan
baju batik ketika datang ke UIN Jakarta.
Para mahasiswa Turki di UIN Jakarta perlahan-lahan telah
mengalami perubahan tanpa mereka sadari. Hal ini tentunya juga akan
membawa rasa bingung pada diri mereka untuk mempertahankan
kebiasan lamanya atau bahkan malah mengadopsi budaya baru yang ada
di Indonesia. Menurut salah satu Teman Zakir Ekin yang bernama Kaisan
Putera, Zakir pernah ditegur karena mencoba untuk mempertahankan
kebiasaan lamanya selama ia di Turki. Berikut kutipan hasil wawancara
dengan Kaisan Putera:
“waktu itu di SD kan ngajar tuh, nah kalo dia, anak SD itu
dipegang-pegang sama dia, dicium keningnya, katanya si kalo di
Turki kebiasannya kaya gitu. Nah pas kita rapat, kita pada bilang,
“Zakir, lu jangan pegang-pegang anak SD, soalnya disini beda”
trus dia bales, “kalau disana kalau kita megang dan nyium anak
SD kaya gitu tandanya kita sayang sama anak kecil”, terus
akhirnya kita bilangin kalo yaa ga bisa soalnya nanti bisa dikira
79
Wawancara pribadi dengan Meryam Sari, mahasiswa Turki, 24 Mei 2016.
65
pedofil. Gitu jadi, kaya beda-beda gitu doang si karna beda
budaya ya.”80
Berdasarkan hasil wawancara di atas, terlihat sempat terjadi
perlawanan yang dilakukan Zakir Ekin mengenai kebiasaan yang biasa ia
lakukan selama di Turki. Namun setelah Kaisan beri tahu bahwa di
Indonesia hal tersebut tidak diperkenankan, Zakir Ekin memilih untuk
diam. Hal ini peneliti anggap wajar karena ketika seseorang memasuki
wilayah baru, tentunya ada kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan oleh
masyarakat pribumi setempat. Peneliti juga sempat mewawancarai salah
satu staff di kantor PLKI bernama Indah Kusuma. Mahasiswa Turki
dianggap tidak sopan karena kerap kali masuk ke kantor PLKI tanpa
mengucap salam atau tersenyum. Berikut hasil kutipan wawancara
dengan Indah Kusuma:
“Mereka tuh kurang gaul, kalo dateng kesini mah ya ga nyapa apa
lah atau apa kek gitu engga, duduk duduk aja. Beda maksudnya,
beda sama. Ini kan kita lagi banyak banget mahasiswa asal Gamia.
Gamia mah malah sopan, beda banget deh. Dateng mah nyegir
gitu, walaupun dia dateng segerombolan juga kita mah seneng kan
soalnya ramah. Iya mereka baru pada datang. Beda sama Turki.
Ada yang ga senyum ada yang ga salim. Dateng mah dateng aja
gitu, terkadang juga saya suka aneh si. kalo aku pribadi si aku
diemin aja, kalo dia jutek aku jadi ikutan jutek juga kan. Mungkin
ga semuanya gitu, cuma sebagian aja. Mereka ga pernah kenalan
sama aku, ga pernah. jadi aku diem aja. jadi mereka kalo kesini
yaa ga kenal muka kalo ga sama Pak Furqon soalnya udah lama
kan.”81
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Indah Kusuma,
mahasiswa Turki di UIN kerap kali datang ke kantor PLKI tanpa
mengucap kata permisi atau salam. Menurutnya, hal ini berbeda dengan
80
81
Wawancara pribadi dengan Kaisan Putera, mahasiswa Indonesia, 20 Mei 2016.
Wawancara pribadi dengan Indah Kusuma, staff di kantor PLKI, 26 Mei 2016.
66
mahasiswa asal Gambia yang kalau datang selalu tersenyum dan
mengucap salam.
Sempat dua orang asal Turki ditegur oleh Pak Furqon karena
mereka tidak sopan ketika masuk ke ruangan PLKI. Dan setelah kejadian
tersebut, mahasiswa Turki yang datang ke kantor PLKI, mulai mengucap
salam dan tersenyum.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
data-data
yang
peneliti
kumpulkan mengenai komunikasi antarbudaya pada proses enkulturasi
mahasiswa Turki di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta,
dapat peneliti tarik kesimpulan sebagai hasil penelitian, yaitu sebagai
berikut:
1. Komunikasi antarbudaya yang terjadi antara mahasiswa Turki dan
mahasiswa Indonesia terjadi dalam bentuk komunikasi interpersonal
dan komunikasi kelompok. Biasanya mereka saling berdiskusi dengan
teman satu kelas mengenai hal-hal yang penting untuk dibicarakan.
Dari dua orang yang saling berbicara, pada akhirnya mereka akan
membentuk satu kelompok untuk mendiskusikan suatu hal.
2. Proses adaptasi mahasiswa Turki di UIN Jakarta dilalui penuh dengan
rintangan dan banyak mengalami kesulitan. Pada awal mereka datang
ke Indonesia dan mulai mempelajari bahasa beserta budayanya,
mereka kerap kali merasa bingung karena bahasa Indonesia dianggap
sangat banyak dan budaya Indonesia dianggap sangat beragam. Secara
bertahap mahasiswa Turki dapat mempelajari budaya Indonesia dan
mulai menerapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Proses enkulturasi
yang dialami mahasiswa Turki belum berjalan dengan semestinya,
karena sampai saat ini mereka masih merasa bingung dan mengalami
kesulitan dalam proses komunikasi.
67
68
B. Saran
Dalam kesempatan ini, peneliti mengemukakan beberapa saran
yang berhubungan dengan komunikasi antarbudaya pada proses
enkulturasi mahasiswa Turki di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah-Jakarta:
1. Penulis berharap UIN Jakarta dapat menjadi kampus yang dapat
menyatukan mahasiswa-mahasiswa asing yang berbeda budaya,
sehingga tidak ada permasalahan yang muncul dan melibatkan
perbedaan agama, suku, ras, bahasa, ideologi dan sebagainya.
2. Semoga kiprah Fethullah Gulen Chair di Indonesia semakin baik demi
mewujudkan pikiran-pikiran Hoja Effendi dalam memanusiakan
manusia. Dan penulis berharap, kantor Fethullah Gulen Chair dapat
lebih banyak lagi untuk bekerjasama dengan lembaga-lembaga di
Indonesia bahkan mancanegara untuk menyebarkan visi-misinya.
3. Semoga mahasiswa asing, terutama mahasiswa Turki dan mahasiswa
Indonesia di seluruh dunia dapat lebih menghargai arti dari sebuah
perbedaan.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku dan Artikel
Anila, Upik, Komunikasi Antarbudaya di Pondok Pesantren Darunnajah
Ulujami, Jakarta: Skripsi Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta,
2015.
AW, Suranto, Komunikasi Sosial Budaya, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.
Brent D. Ruben & Lea P. Stewart, Komunikasi dan Prilaku Manusia,
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013.
Cangara, Hafied, Ilmu Komunikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007.
Devito, Joseph A, Komunikasi Antarmanusia, Jakarta: Profesional Books,
1997.
Djam‟an Satori dan Aan Komariah, Metode Penelitian Kualitatif,
Bandung: Alfabeta, 2010.
Dominick, Joseph R, The Dynamics of Mass Communication: Media in the
Digital Age, 7th edition, McGraw Hill, 2002.
Effendi, Onong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1992.
Effendi, Onong Uchjana, Spektrum Komunikasi, Bandung: Bandar Maju,
1992.
Fajar, Marhaeni, Ilmu Komunikasi Teori & Praktik, Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2009.
Gudykunst, William, Communicating with Strangers, Library of Congress
Cataloging in Publication Data, 1984.
Jumroni dan Suhaimi, Metode-metode Penelitian Komunikasi, Jakarta:
UIN press, 2006.
Liliweri, Alo, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2011.
Liliweri, Alo, Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta:
PUSTAKA PELAJAR, 2011.
69
70
Liliweri, Alo, Makna Komunikasi dalam Komunikasi Antarbudaya,
Yogyakarta: PT. Lkis Pelangi Askara, 2007
Lubis, Mochtar, Manusia Indonesia, Jakarta: Idayu Press, 1977.
Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Rosdakarya,
2007.
Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Mulyana, Deddy,
Komunikasi Antarbudaya, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009.
Mulyana, Deddy, Komunikasi Efektif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2005.
Pitriani, Pipit, Akulturasi Budaya Antara Tradisi Sunda Wiwitan dengan
Islam Dalam Bentuk Ritual Sesajen di Desa Narimbang,
Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang. Jakarta: Skripsi
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta, 2010.
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, Jakarta: UIN PRESS, 2007.
Rozak, Yusron, Sosiologi Sebuah Pengantar: Tinjauan Pemikiran
Sosiologi Perspektif Islam, Jakarta: Laboratorium Sosiologi
Agama, 2008.
Samovar, Larry A, Komunikasi Lintas Budaya, Jakarta: Salemba
Humanika.
Soehartono, Irawan, Metode Penelitian Sosial, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2011.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi: Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1999.
Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi, Jakarta:
Salemba Humanika, 2008.
Stewart L. Tubss & Sylvia Moss, Human Communication (Kontekskonteks Komunikasi), Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Syukri, Ahmad, Komunikasi Antarbudaya: Studi pada Pola Komunikasi
masyarakat suku Betawi dengan Madura di Kelurahan Condet
Batu Ampar, Jakarta: Skripsi Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
71
Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah-Jakarta,
2013.
Wood, Julia T, Communication in Our Lives, Wadsworth Cengage
Learning: Boston, 2009.
Mengenal lebih Dekat Fethullah Gulen Chair, Jakarta: Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah, 2014.
B. Web Site
http://www.uinjkt.ac.id/?p=7986.
www.fgulenchair.com
C. Wawancara Pribadi
1. Dr. Ali Unsal, Direktur kantor Fethullah Gulen Chair UIN Jakarta
2. Kadar Turker, mahasiswa Turki Fakultas Tarbiyah
3. Meryam Sari, mahasiswa Turki Fakultas Tarbiyah
4. Zakir Ekin, mahasiswa Turki Fakultas SAINTEK
5. Elci Nurullah, mahasiswa Turki Fakultas Tarbiyah
6. Kaisan Putera, mahasiswa Indonesia Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi
7. Iqlima, mahasiswa Indonesia Fakultas Tarbiyah
8. Indah Kusuma, Staff Pusat Layanan Kerja Internasional (PLKI) UIN
Jakarta
72
LAMPIRAN
73
74
75
HASIL WAWANCARA
Nama
: Dr. Ali Unsal
Jabatan
: Direktur Fethullah Gulen Chair
Hari/Tanggal
: Selasa, 19 April 2016
Waktu Wawancara : 13.05-13.45
Tempat Wawancara : Kantor Direktur Fethullah Gulen Chair
1. Bagaimana awal terbentuknya Fethullah Gulen Chair?
Fethullah Gulen Hojaeffendi sangat terkenal di seluruh dunia dan
menginspirasi generasi yang muda dan jutaan orang terinspirasi oleh
beliau. Dia salah satu „alim ulama. Dia memiliki sekitar 80 buku, ribuan
kasetnya dan dia punya mimpi, gimana di abad ini islam Islam tidak
present dengan baik tidak dengan damai, karena di dunia ini Islam seperti
orang-orang Islam mempresentasikannya kurang, ilmunya kurang,
praktiknya kurang, dimana-mana
Di Turki, dia berfikir kalau kami bisa mendidik generasi yang baru dengan
nilai-nilai islam, dengan akhlakul karimah dari Rasulullah SAW dan
sahabatnya, tetapi mereka beradaptasi modern. Artinya generasi ini harus
mempunyai akhlakul karimah, kejujuran, kebersihan, suci, jujur dan lainlainnya. Tetapi mereka bisa berbicara dengan beberapa bahasa, termasuk
utama ini bahasa Inggris atau bahasa Prancis atau bahasa Arab, yang
76
bahasa besar-besar dan bahasa sendiri juga. Juga mereka punya ilmu
pengetahuan. Dengan ini, dengan doa saya, generasi ini dengan ilmu
pengetahuan, ilmu Islam atau akhlakul karimah, bisa representasi Islam di
dunia ini. Islam itu Peace, damai. Tapi representasinya kurang di dunia
Gimana Islam itu Rakhmatan Lil‟alamin? Ya ini mimpinya. Ia mulai
menjalani 50 tahun yang lalu. Kalau saya mendidik generasi yang baru,
mereka bisa mengajar ke generasi yang lain. Dan dimulai di Turki. Yang
pentingnya, misalnya dakwah Rasulullah SAW, dua macam, berbicara,
kasih tau, ambil wahyu dan kasih tau serta jelas mereka. Yang kedua
temphty, temphty itu praktice, praktik. Dia melakukan sendiri. Ibadahnya,
akhlaknya, semua dari al-qur‟an, karena membaca al-quran. Akhlaknya
Rasulullah SAW, itu al-qur‟an. Ia melakukan praktiknya sendiri dulu.
Semua ada metodologinya
Apa maksud saya, Hoja Effendi, Fethullah Gulen, dulu dia baca, apapun
dia dapat, ia baca. Ia hatam al-quran pertama kali, empat tahun, anak kecil.
Sepuluh tahun ia hafal semua qur‟an dan menghafalnya Allah kasih
hadiah, sangat kuat. Kalau ia dengar satu kalimat saja, dia langsung hafal.
Di madrasah, pesantren misalnya ayahnya imam juga tapi miskin, dia tidak
punya buku. Harus kasih hafalan kepada gurunya dulu metodologinya
begitu. Dia mendengar satu kalimat langsung hafal. Jadi dia kasih
homeworknya kepada gurunya tanpa buku. Dia baca buku history, sains,
kimia, biologi, sastra barat, sastra timur, semuanya. Tapi dilarang di
madrasahnya, rahasia dia baca. Apa artinya, dia bilang, di madrasah tidak
bisa baca buku-buku yang lain, harus fokus ke hadits saja. Dia dididik
77
sendiri, fokus pendidikan sendiri. Dia mencoba hidup seperti Rasulullah
SAW dan para sahabatnya. Sangat sederhana. Dia tidur hanya dua jam,
sehari. Kalau dia tidur tiga jam, dia pusing. Makan satu kali dan roti kecil
itu. Ia fokus ilmu. Ia belum menikah. Dia fokus di agama dan ilmu.
Kemudian dia lihat generasi hampir hilang di Turki. Selalu perang. Di
Masjid-masjid, jamaah semua orang tua. Tidak ada lagi anak SMP, SMA,
Universitas. Dia khawatir, kalau generasi hilang, gimana? Ini tanggung
jawabnya. Dia punya mimpi, kami harus mendidik generasi emas, golden
generation. Apa golden generation? Mereka harus dapat ilmu pengetahuan
dan ilmu agama. Dan dia jadi penceramah. Usianya 17 tahun. Dan ilmunya
sangat kuat. Dia juga baca ensiklopedia
Di tradisi Turki ada yang namanya wa‟as, sebelum solat jumat ada
ceramah, satu setengah jam. Ada orang muda yang wa‟as, sangat bagus,
masih muda. Ada seorang anak muda datang, tapi dia minum alkohol, dia
punya senjata, kalau kami bilang, seperti geng gitu, seperti mafia. Gimana
saya pergi ke masjid? Saya datang ke masjid, tapi saya duduk disitu.
Kenapa? Karna saya tidak suka masjid, saya tidak suka solat, seperti itu.
Sang penceramah mulai ceramah, dia berbicara dengan biologi, fisika, dia
berbicara dengan ilmu-ilmu yang lain. Dia bilang, Islam tidak perang
dengan ilmu-ilmu lain. kemudian muda itu berjanji akan datang lagi dan
bertanya solat jumat berapa rakaat? Lalu di jawab, dua rakaat. Dan dia ikut
setiap minggu. Apa artinya? Orang yang lain, mereka suka Hoja Effendy.
Hoja artinya guru, Effendi artinya yang terhormat. Semua orang tau dan
suka Hoja Effendy. Dia bilang ini kredit. Saya harus pakai kredit ini,
78
bukan untuk fashion. Untuk generasi. Dan dia mendorong masyarakat
yang orang bisnis, orang kaya, orang muslim, orang dermawan untuk
bangun sekolah. Sekolah modern. Ayo buka sekolah sendiri dengan
pendidikan modern dan akhlak yang mulia
Kalau sekolah Kharisma bangsa itu pemiliknya orang Indonesia, bukan
Turki. Yayasan Indonesia tapi kerjasama dengan Fethullah Gulen.
Di Turki sangat sukses sekolahnya. Tapi Hoja Effendi mengajak orang
dermawan supaya jadi guru. Kami menyebut ini hizmet, gerakan sosial.
Bukan politik, bukan dari pemerintah, fokus pendidikan, namanya hizmet.
Apa itu? Orang-orang yang terinspirasi oleh Fethullah Gullen tapi fokus
pendidikan atau peran dengan social problem. Misalnya kebodohan,
kemiskinan dan konflik. Tiga masalah besar.
Fethullah Gulen bilang, aspek hidup semua, generasi ini harus berkhitmah.
Mereka berkorban sendiri. Mereka tidak punya akhlak yang jelek. Mereka
tidak ada alkohol, tidak ada zinah, tidak ada termasuk rokok. Mereka tidak
suka merokok. Satu anak tidak masuk kriminal, sampai 50 tahun, jutaan
orang, semua orang akan dermawan dan damai
Di Irak, ada khurdi, sunny semua campur, tapi tidak ada konflik di
sekolah-sekolah ini, ada 30an sekolah ada disana. Ada satu Thesis tentang
fungsi-fungsi hizmet, solusi masalah konflik di Timur Turki. Ada satu
teroris PKK, tapi hizmet juga disana buka reading house, rumah baca, ini
bebas, gratis, semua anak fakir miskin bisa datang. Disana ada guru,
mereka bantu. Kalau mereka tidak datang, guru akan ngambil anak-anak
ke gunung, diajak. Ini menjaga anak-anaknya dari terorisme
79
Fethullah Gullen Hojaeffendi fokus pada pendidikan, di Turki dulu, baru
dunia. Bagaimana pikiran-pikiran ini bisa tersebar. Hidup dengan
menghidupkan orang lain. Jangan konflik. Hizmet tidak untuk akternatif
yang lain. misal, di Indonesia hizmet datang kesini mau kerja sama dengan
pemerintah, kalau pemerintah ini bersih, legal, tidak ada gelap. Kami
punya pikiran, hizmet tidak punya alternatif untuk yang lain, bisa
kerjasama tapi hubungannya harus baik dan tidak gelap
Atas nama Fethullah Gullen, dibuka ini selama tujuh tahun dan kami
berorganisasi untuk mengenalkan pikiran-pikiran ini
2. Sejak kapan masuknya Fethullah Gulen Chair di Universitas Islam
Negeri Jakarta?
Fethullah Gulen Chair or the Turkies Studies, nama aslinya. Sudah
dibangun atau didiri oleh UIN Syarif Hidayatullah dan waktu itu sudah
ada wasiat, didiri dengan orang dermawan dan direktorat orang Turki
datang kesini dan kerja sama dengan orang Indonesia, waktu itu Bapak
Qomaruddin Hidayat. Dan mereka bersama, setuju untuk mendirikan
Fethullah Gulen Chair, waktu itu tahun 2009. Waktu itu saya di Amerika,
bukan disini, lalu saya diundang sebagai direktur Turki dan menjadi dosen
di beberapa fakultas disini
Selama tujuh tahun Fethullah Gulen chair melakukan kegiatannya atau visi
misinya. Visi misinya adalah mengenalkan pikiran-pikiran Fethullah
Gulen sebagai „alim ulama islam yang berasal dari Turki, pikiran-
80
pikirannya mengenalkannya di Indonesia di aspek akademik, akademic
research
3. Sejak kapan masuknya mahasiswa Turki di UIN Jakarta?
Orang hizmet datang kesini untuk promosi, memperkenalkan orang muda
di Turki. Kalau tidak mau di Turki atau tidak ada kesempatan di Turki,
ayo disini ada Indonesia, kami punya hubungan dengan universitas seperti
UIN, mereka bisa bantu, masyarakatnya sangat sopan sangat sederhana
atau rendah hati. Muda Turki sangat percaya. New Experience.
Pengalaman baru, mereka mau berkembang di luar negeri. Ini langsung
promosi dari sini ke Turki. Tapi bukan di UIN aja tapi di UI, UNJ dan
pulau-pulau lain juga ada di Kalimantan ada, di Jawa Tengah ada
Mahasiswa Turki yang pertama, kalau saya tidak salah 1994. Sebelum
chair
4. Apakah ada bentuk kegiatan yang dilakukan mahasiswa Turki dengan
mahasiswa Indonesia?
Ada. Dulu mahasiswa dan mahasiswi. Terutama mahasiswi, mereka mau
kegiatan-kegiatan disini, dan mereka datang ke saya bermusyawarah, kami
ada mahasiswi Indonesia dan mahasiswi Turki. Misalnya kegiatan budaya.
Saya bilang ini sangat bagus. Karena orang Turki tau Indonesia dari
Merapi dan khasnya. Ini jalan baik. Semua akan jadi ambassador. Mereka
hidup disini punya teman-teman baik dan mereka pulang ke Turki mereka
akan cerita. Ada 250 juta penduduk, tapi orangnya sangat rendah hati,
81
sangat senyum. Ini sangat penting, ini bagus. Mahasiswa biasanya
berorganisasi, mereka lomba-lomba, baca buku ada. Misalnya siapa masak
baik, siapa jahit baik, siapa cantik, yang perempuan punya dress baik di
student center, mereka juga punya picnic or trip, mereka juga punya
kegiatan-kegiatan. mereka datang, kalau saya punya budget saya akan
bantu, kalau tidak punya saya bantu advice aja pikiran aja. Mereka sangat
aktif. Disini ada kursus bahasa Turki, bahasa Rusia, bahasa Arab, bahasa
Belanda, bahasa Inggris. Semua ada. Mau bahasa Rusia, orang dari Rusia,
mau Belanda orang dari Belanda. Mereka berorganisasi. Dan saya sangat
senang dengan semua aktivitas mereka
Narasumber
Peneliti
82
(Dr. Ali Unsal)
(Dewi Mufarrikhah)
Nama
: Kadar Turker (Mahasiswa Turki)
Usia
: 24 tahun
Fakultas
: TARBIYAH
Jurusan
: Pendidikan Matematika
Waktu Wawancara : 20 Mei 2016
Tempat wawancara : Sekolah Kharisma Bangsa, Pondok Cabe
1. Apa alasan anda memilih UIN Jakarta sebagai tempat untuk belajar?
Saya ingin, kalau misalkan saya pilih Indonesia salah satunya kan itu, waktu
zaman saya di kuliah saya tidak bisa pakai jilbab dan alasan-alasan pertama
saya itu, nanti saya pilih-pilih tuh ya negeri yang muslim, gitu, lalu nanti itu
di Turki ada ujian seperti untuk keluar negeri, saya dapat beasiswa ke
Indonesia seneng deh saya. Iya saya nanti datang kesini saya ambil kursus
bahasa Indonesia, setelah udah selesai kursus bahasa Indonesia, saya daftar
UIN gitu, kalo misalkan ada syarat-syarat gitu kan yang UIN, kita harus tau
bahasa Indonesia ada TOEFL gitu bahasa Inggris atau bahasa Arab, kalo udah
lulus dari itu TOEFL atau bahasa-bahasa entar bisa masuk
2. Apa bahasa harian yang anda gunakan di kampus?
Biasanya kalo di kampus pakenya bahasa Indonesia. Saya kan kelas saya
semuanya orang Indonesia
83
3. Berdasarkan yang anda ketahui, dari mana saja daerah asal teman-teman
mahasiswa Indonesia di sekitar anda?
Saya itu ya kalau teman-teman yang dulu saya tidak tau, tapi saya tinggal
disini udah lama ya enam tahun gitu, saya diskusi dan bicara dengan temanteman dimana-mana kita bisa ketemu dan saya misalkan tinggal di sekolah
Turki ya dari situ juga ada temen-temen yang banyak ada sekolah Turki kita
komunikasi dengan itu. Saya dengar dan kadang-kadang saya jalan juga, saya
sudah pergi ke Yogya, Bandung, Semarang. Kan waktu ada liburan panjang
suka jalan jadinya sama teman
4. Menurut anda, bagaimana komunikasi anda dengan mahasiswa Indonesia
di UIN Jakarta?
Bukan lancar banget, tapi alhamdulillah bisa, kadang-kadang saya mungkin
bicaranya salah gitu mereka bantu saya. Tapi yang kelas saya sudah mengerti
saya karena mereka, kalo saya bicara nanti mereka bisa berbalik ke saya, saya
selalu bersama siswi Karisma Bangsa ya, kita belajar bersama mereka juga
bantu kita. Alhamdulillah jadi lancar
5. Apakah anda bisa langsung akrab dengan mahasiswa Indonesia?
Yang sebelumnya susah karena kita tidak tahu bahasa yang misalkan mereka
mau komunikasi tapi dari komunikasi mereka juga susah, kan kadang-kadang
teman saya juga tidak tahu bahasa Inggris. Kalau kita juga tau bahasa Inggris
sedikit, kita tidak bisa. Nanti kita pakai bahasa badan. Iya nanti gitu kita
jelasin, untuk tahun pertama untuk saya susah, tapi alhamdulillah kalau saya
sudah belajar bahasa lama-lama bisa. Tapi teman-teman juga mengerti kalau
84
saya butuh belajar banyak mengenai Indonesia dan bahasanya jadi mereka
bantu saya kalau saya ada yang bingung. Jadi awalnya yaa sulit
6. Bagaimana komunikasi dan interaksi yang anda lakukan dengan
mahasiswa Indonesia? Jelaskan.
Biasanya saya duluan yang mulai berkomunikasi dengan orang Indonesia,
karena itu kan kalau kita orang asing yang disini sedikit, menurut saya ini ya
saya tidak tau, takutnya mereka deket kita sedikit beda ya orang asing yang
tidak tau bahasa, kalau mereka misalkan ada yang misalkan saya pakai jalan,
itu angkot gitu, naik angkot nanti disitu ada mereka lihat kita mau bicara tapi
mereka sedikit, saya bicara atau engga gitu, takut beda bahasa, nanti kalo
mereka atau kita sudah bisa bahasa Indonesia mereka juga mau ngobrol gitu,
senang gitu
7. Dilihat dari perbedaan budaya dan bahasa antara mahasiswa Turki dan
mahasiswa Indonesia, apakah anda pernah mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi?
Kadang-kadang iya karena itu kan masih
belum beberapa itu misalkan
bahasa yang gaul atau bahasa syarat gitu, itu kita sudah bisa dan mengerti,
tapi kalau untuk bahasa ilmu masih kurang
8. Diantara teman-teman mahasiswa Indonesia, etnik manakah yang sulit
diajak untuk berteman?
Bahasa Jawa yaa, karena kita disini pakai itu kan bahasa biasa ya bahasa
Indonesia semuanya, kalau kita kan mau belajar ini nanti kalo diganti dengan
yang Jawa atau Sumatera nanti beda, tapi tidak beda banget. Misalkan saya
85
cuman dengar dari nomor-nomor gitu, itu dia juga beda. Satu, dua, itu jadi
siji, loro. Itu kan beda. Seperti bahasa yang baru lagi
9. Menurut anda, apakah anda termasuk orang yang sulit ataukah orang
yang mudah dalam berinteraksi?
Ya itu ya, kadang-kadang iya, karena itu ya orang Indonesia misalkan bicara
cepat, ga bisa paham, karena itu mereka yang hurufnya keluar beda gitu ya.
Jadi karena saya tidak paham jadi terlihat sulit gitu ya
10. Bagaimana cara anda mengatasi perbedaan-perbedaan yang terjadi agar
interaksi tetap berjalan dengan baik?
Yaa gitu saya misalkan seperti terbagi dalam bahasa, seperti semuanya kita
tidak mengerti semuanya kata-katanya ya. Cuman ambil yang kata-kata yang
tau nanti kita itu ya. Seperti magic ya, ambil kata dari situ, pasti nanti dia
bilangnya mau begitu. Kalo kita misalkan dari otak kita langsung terjemah itu
biasanya tidak cocok, yaudah nanti mungkin maksudnya dia ini gitu.
Biasanya pake bahasa badan si gitu biar mudah dipahami
11. Adakah hal-hal yang membuat anda kurang nyaman ketika berinteraksi
dengan mahasiswa Indonesia? Jika ada, hal apakah itu dan bagaimana
cara anda mengatasinya agar interaksi tetap berjalan lancar?
Yaa gitu, yang sampai sekarang saya alhamdulillah engga tapi saya cuman
dengar-dengar gitu, misalkan itu ya budaya kita makanannya, alhamdulillah
agamanya kita sama cuma itu ya Imam kita beda. Saya misalkan Imam
Hanafi yang disini Imam Syafi‟i ada cuman beberapa perbedaannya, dari
Islam ga ada bedanya tapi dari budaya makanan, culturenya itu ada. Beda
86
banget. Iya saya suka dan sudah biasa juga makanannya yang bumbu, iya
rempah
12. Apa pendapat anda mengenai INDONESIA? (Orangnya, adatnya,
makanannya, bahasa dan budaya)
Kalau saya sudah enam tahun disini, saya lihat dari Indonesia, dulu itu ya
lebih kurang, sekarang alhamdulillah membaik ke aas ya, kaya itu ya. Kan
kita semua Islam ya negeri ini, orang muslim selalu mau maju maju maju,
saya juga ingin Indonesia selalu maju
13. Apakah anda tertarik untuk mempelajari budaya Indonesia secara
mendalam?
Tertarik tentu, karena itu ya saya bukan cuma yang Indonesia, saya suka dari
karakter saya juga saya ingin tau mau apa-apa gitu budayanya, saya ingin tau
dan saya sudah cari-cari tau juga culture. Karena itu kan disini di sekolah ini
bukan Turki saja ada Indonesianya juga, campur-campur ya. Kalo nanti
misalkan saya tau budaya yang lain kan seneng kan, jadi pintar gitu ya. Saya
tau budayanya mereka juga senang gitu kan. Kalo misalkan dari orang
Indonesia juga anak-anak mau belajar budaya kita mau belajar gitu, itu kita
juga seneng karena mereka pahamin kita, kalau misalkan kadang-kadang ada
temen saya udah dekat ya, deket banget, nanti dia bilang mereka panggil
kakak atau abla. Nanti mereka panggil “abla, jangan makan itu nanti di
dalamnya ada seafood” kan kita tidak bisa makan seafood ya, mereka harus
perhatian ke kita juga. Di Turki boleh makan seafood tapi kadang-kadang itu
ya yang untuk Imam kita beda ya, kita tidak bisa makan semuanya gitu ya,
cuma ikan semacamnya gitu. Tapi ada juga yang alergi gitu. Kakak jangan
87
makan disini ada seafood atau misalkan abla jangan beli ini mahal gitu. Batik
gitu ada dimana-mana, batik juga beda yaa, macam-macam gitu. Ke pasar
gitu kan, orang asing dimana-mana kalo jual harganya jadi sedikit tinggi gitu
ya, soalnya kan itu orang asing. Nanti mereka dari mahal, nanti temen-temen
kita bantu gitu
14. Apa harapan anda terhadap teman-teman mahasiswa Indonesia?
Kalau saya, saya tidak tau kalau misalkan disini yang saya tinggal di
Indonesia tapi saya mau harapan saya kalau Indonesia selalu yang baik kan
sekarang alhamdulillah ekonominya juga bagus disini. Mau insya allah lebih
baik lagi dari education, dari culturenya, kebersihan. Dari culture bagus, tapi
mungkin dari perekonomiannya harus lebih maju dan educationnya
Narasumber
(Kadar Turker)
Peneliti
(Dewi Mufarrikhah)
88
Nama
: Meryam Sari (Mahasiswa Turki)
Usia
: 22 tahun
Fakultas
: TARBIYAH
Jurusan
: Pendidikan Guru MI
Waktu Wawancara : 24 Mei 2016
Tempat Wawancara : Perpustakaan Fethullah Gulen Chair
1. Apa alasan anda memilih UIN Jakarta sebagai tempat untuk belajar?
Dulu sebelum saya disini, waktu dulu cari informasi tentang kampus dunia
yang Islam dan bagus. Lalu teman ada yang bantu informasi dan bilang
Indonesia ada kampus bagus seperti itu. Saya cari kampus Islam karena di
Turki kampusnya bagus tapi saya pingin cari sesuatu yang baru. Di Indonesia
saya belajar bahasa Indonesia dengan guru dan sekarang saya masih kurang
lancar, begitu. Lalu saya seperti tes ya yang waktu itu ada TOEFL juga dan
saya diterima di UIN dan saya jadi mahasiswa UIN. Saya pilih jurusan
Tarbiyah karena saya ingin jadi guru dan mengajarkan hal baik kepada anakanak yang pendidikannya dicari seperti itu
2. Apa bahasa harian yang anda gunakan di kampus?
Kalo bahasa sehari-hari tentu bahasa Indonesia ya karena semua bicara
dengan bahasa formalnya Indonesia. Terkadang saya bingung karena bahasa
89
Indonesia sangat banyak dan sering ada yang tidak tercantum di buku
terjemahan seperti itu. Tetapi kalau disini kami bicara dengan bahasa kami
3. Berdasarkan yang anda ketahui, dari mana saja daerah asal teman-teman
mahasiswa Indonesia di sekitar anda?
Saya tidak tau banyak ya. Tapi saya kenal teman yang asal dari Jawa, ada
juga yang Betawi ya kalau tidak salah dan ada teman yang pernah
memberikan saya makan dan itu sangat enak seperti cemilan pisang
ditempelkan bubuk coklat tapi saya lupa teman saya asal dimana, nanti saya
beritahu kalau saya bertemu
4. Menurut anda, bagaimana komunikasi anda dengan mahasiswa Indonesia
di UIN Jakarta?
Teman UIN sangat baik kepada kami yang bukan warga Indonesia. Mereka
terlihat sangat suka tersenyum kepada kami jadi kami juga ikut baik kepada
mereka. Tetapi ada beberapa teman yang memang sudah mengerti kalau saya
kesulitan seperti itu, nanti teman itu bantu saya bicara. Kalau sulit saya akan
menggunakan gambaran-gambaran seperti itu supaya teman saya paham
maksud saya
5. Apakah anda termotivasi untuk berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia?
Hal apa yang membuat anda termotivasi?
Harus tentunya dan menjadi suatu kewajiban karena kami belajar disini jadi
kami harus komunikasi dengan lancar seperti itu. Kan itu, kalau kita belajar di
negara orang, misalkan kamu, tentu kamu harus baik dan komunikasi lancar
dengan teman disana, saya begitu. Dan mereka juga baik ke kami jadi kami
harus membalas kebaikan dengan lebih baik ya tentunya
90
6. Apakah anda bisa langsung akrab dengan mahasiswa Indonesia?
Waktu awal iya karena saya takut salah perilaku, sikap. Saya takut yang saya,
sikap saya beda dengan disini. Saya banyak diam dan melihat bagaimana
sikap teman Indonesia yang lain. Lalu saya punya teman di kelas dan saya
banyak belajar untuk apa, menyesuaikan ya, supaya diakui seperti itu. Teman
Indonesia banyak menyapa kami jadi kami tidak takut di kemudian untuk
menyapa mereka
7. Bagaimana komunikasi dan interaksi yang anda lakukan dengan
mahasiswa Indonesia?
Komunikasi kami, kami komunikasi baik tetapi cukup sulit untuk saya karena
saya sulit memahami bicara orang Indonesia. Terkadang saya tidak tau
mereka bicara apa, dan itu yaa Indonesia bahasanya banyak pula. Dan
bahasanya suka ada bahasa apa, gaul ya. Iya saya bingung dengan disini.
Tetapi saya nyaman karena Islam di Indonesia bagus
8. Dilihat dari perbedaan budaya dan bahasa antara mahasiswa Turki dan
mahasiswa Indonesia, apakah anda pernah mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi?
Sering sekali, mungkin setiap hari ya karena kami kan suka sulit paham
dengan maksud mereka dan sepertinya mereka juga suka sulit terimanya gitu.
Dan bahasa Inggris pun mereka kurang jadi yaa seperti itu
9. Diantara teman-teman mahasiswa Indonesia, etnik manakah yang sulit
diajak untuk berteman?
Sepertinya yang saya tau semua baik dan teman kelas justru terlihat sangat
ingin belajar bersama seperti itu. Tapi saya sering dengar bahasa Jawa ya
91
yang suka bicara “opo” itu saya suka bingung dan sering sekali gitu. Kalo
Indonesia kan bahasanya beda-beda yang bicara “saya” dan “gua” ya kalau
tidak salah jadi banyak suka bingung. Tapi teman lain baik juga dengan saya,
mungkin kalau yang pulaunya jauh dengan pulau ini sepertinya dia juga
bingung seperti saya karena bahasanya kan banyak sekali ya, jadi ya dia susah
berteman juga.
10. Dan menurut anda etnik manakah yang mudah untuk diajak berinteraksi?
Yaa semua teman di UIN baik sekali
11. Menurut anda, apakah anda termasuk orang yang sulit ataukah orang
yang mudah dalam berinteraksi?
Gimana itu ya, kalo saya si sepertinya ya salah satu yang sulit karena saya
masih suka bingung dan takut salah bicara juga. Tetapi alhamdulillahnya
mereka baik ke saya jadi saya suka mudah jika bingung bicaranya
12. Bagaimana cara anda mengatasi perbedaan-perbedaan yang terjadi agar
interaksi tetap berjalan dengan baik?
Makanya itu kan saya bahasa Indonesianya suka sulit ya apalagi banyak kata
yang beda diucap gitu, biasanya saya suka bicara kata Inggris supaya teman
paham atau dengan gerakan tangan gitu jadi mereka mencoba lihat, menebak
saya
13. Pernahkah anda salah memahami perilaku mahasiswa Indonesia? Apa
yang kemudian anda lakukan untuk dapat memahami perilaku tersebut?
Kalau itu hampir selalu salah karena Indonesia bicaranya suka rapat seperti
itu jadi pahamnya sulit. Terkadang saya bilang pelankan supaya paham tapi
92
tetap saja cepat. Kalau saya yang penting bahasanya formal jangan bahasa
lain supaya paham
14. Adakah hal-hal yang membuat anda kurang nyaman ketika berinteraksi
dengan mahasiswa Indonesia? Jika ada, hal apakah itu dan bagaimana
cara anda mengatasinya agar interaksi tetap berjalan lancar?
Indonesia suka pada melihat dengan serius dan sebenernya itu membuat saya
seperti tidak nyaman gitu. Mungkin karena kami tidak terlihat sama dari
badan dan lain-lain ya jadi terlihat aneh. Jadi terkadang suka pikir apa
bajunya salah padahal kalo saya coba ikuti trend Indonesia yang lagi terkenal
tapi tetap saja dilihat terus
15. Apa pendapat anda mengenai INDONESIA? (Orangnya, adatnya,
makanannya, bahasa dan budaya)
Kalo saya suka sekali disini karena semuanya baik. Agama sama tapi kita
beda pandangan ya tetapi tidak masalah bagi saya karena Islam tetap satu.
Yaa kan kalau disini Imam Syafi‟i dan itu buat cara kehidupan kami juga
terlihat berbeda tetapi kami coba untuk tidak terlihat berbeda dan kami tetap
menghargai
16. Apakah anda tertarik untuk mempelajari budaya Indonesia secara
mendalam?
Tentu ya karena kan tinggal disini jadi harus pelajarin juga. Kalau saya mulai
cocok dengan semuanya karena kan makanan Indonesia beda rasa ya jadi
prosesnya lama juga. Kalau sekarang saya suka sama nasi goreng yang ada di
jalan dekat kampus 2 yang banyak apa itu namanya, bawang yaa Aceh atau
93
nasi goreng Aceh. Lalu saya suka bicara dengan teman mengenai hal-hal
yang terkenal di Indonesia dan saya pingin gitu ikut
17. Apa saja yang anda ketahui mengenai Indonesia?
Saya tau batik Indonesia banyak dan motifnya bagus. Saya ada rencana ke
Jawa karena menurut teman disana batiknya banyak macam. Saya sedang
tidak pakai batik biasa hari saya suka pakai karena saya terlihat keren ya
kalau pakai batik. Kalau makanan saya banyak suka tapi belum semua telah
dicoba. Saya suka nasi goreng Aceh, soto ayam saya lupa nama yang ikan
lalu ada cabai, yaa pecel lele juga.
18. Apa harapan anda terhadap teman-teman mahasiswa Indonesia?
Semoga teman di Indonesia tidak lupa saya dan tetap menjadi sahabat baik
meski kita jauh dan semoga Indonesia bisa lebih baik lagi dalam banyak hal
karena kan Indonesia Islamnya baik harus bisa lebih baik harusnya gitu.
Narasumber
(Meryam Sari)
Peneliti
(Dewi Mufarrikhah)
94
Nama
: Zakir Ekin (Mahasiswa Turki)
Usia
: 25 tahun
Fakultas
: SAINS DAN TEKNOLOGI
Jurusan
: Teknik Informatika
Waktu Wawancara : 16 Mei 2016-19 Mei 2016
Tempat wawancara : Melalui via email
1. Apa alasan anda memilih UIN Jakarta sebagai tempat untuk belajar?
Karena teman-teman saya telah merekomendasikan kepada saya
2. Apa bahasa harian yang anda gunakan di kampus?
Bahasa Indonesia dan bahasa Turki
3. Berdasarkan yang anda ketahui, dari mana saja daerah asal teman-teman
mahasiswa Indonesia di sekitar anda?
Saya tidak tahu karena sebelum saya ke Indonesia saya tidak kenal sama orang
Indonesia jadi saya tidak dapat informasi tentang UIN sebelum saya ke
Indonesia.
4. Menurut anda, bagaimana komunikasi anda dengan mahasiswa Indonesia
di UIN Jakarta?
Menurut saya, Anda mau kemana saja kalo kamu tahu bahasa arah disana
pasti sangat mudah komunikasi dengan orang-orang disana. Waktu saya
datang ke Indonesia 6 bulan saya belajar Bahasa Indonesia, jadi tahun yang
pertama komunikasi saya susah tetapi tahun yang lalu komunikasi mudah
dengan mahasiswa UIN.
95
5. Apakah anda termotivasi untuk berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia?
Hal apa yang membuat anda termotivasi?
Menurut saya, Indonesia sangat bagus buat mewujudkan mimpi dan target
saya. Yang pertama saya orang muslim dimana saja saya bisa melakukan
ibadah saya. Yang kedua apa yang mau menjelaskan dan apa yang mau
melakukan untuk ridhoi Allah, Anda bisa melakukan di Indonesia. Tentu saja
saya ingin berinteraksi dengan Indonesia.
6. Apakah anda bisa langsung akrab dengan mahasiswa Indonesia?
Iya saya langsung bisa akrab sama mahasiswa UIN. Kalo Anda mau bisa
akrab karena saya orang asing dan mahasiswa UIN sangat senang jika akrab
sama saya.
7. Dilihat dari perbedaan budaya dan bahasa, apakah anda pernah mengalami
kesulitan dalam berkomunikasi?
Emang ada beda sekali di antara budaya Indonesia dan budaya Turki.
Makanan, baju tradisional, karakternya manusia, rumahnya, dan lain –lain.
Bahasa Turki seperti bahasa Arab sangat sulit tetapi bahasa Indonesia mudah
untuk komunikasi. Tetapi ada yang sama juga karena agama islam. Jadi cukup
sulit juga.
8. Bagaimana pendapat Anda mengenai mahasiswa Indonesia?
Hidup mereka sangat santai. Tidak ada yang memikir untuk membangunan
negaranya, agamanya dan lain-lain. Tidak ada roh sahabat Rasullullah (SAW).
Tidak ada yang sensitif membuat yang baik untuk masyarakat Indonesia
orang-orang semua memikir sendiri saja seperti orang egois. Dan mahasiswa
UIN tidak menyari ilmu yang benar tidak ada yang dapat ilmu agamanya.
96
Contohnya mereka sholat tetapi kenapa sholat dia tidak mengetahui ini.
Pertama bahasanya harus sama buat komunikasi, yang kedua agamanya
karena, kalo agama kalian sama budaya, karakter manusia, pikiran kalian juga
menjadi sama. Saya mendapat yang menarik Bahasa dan budaya Indonesia.
9. Menurut anda, apakah anda termasuk orang yang sulit ataukah orang yang
mudah berinteraksi?
Menurut saya tidak sulit untuk berinteraksi dengan mahasiswa UIN. Karena
ada banyak teman saya. Saya sangat mudah untuk menginteraksi manusia jika
saya mau.
10. Bagaimana cara anda mengatasi perbedaan-perbedaan yang terjadi agar
interaksi tetap berjalan dengan baik?
Apa kita yang mau lakukan harus memahami zaman ini kita harus belajar,
membaca zaman ini, harus belajar ilmu agamanya, sainsnya, teknologi zaman
ini dan lain lain.
11. Pernahkah anda salah memahami perilaku mahasiswa Indonesia? Apa
yang kemudian anda lakukan untuk dapat memahami perilaku tersebut?
Saya belum pernah memahami yang salah tetapi ada yang banyak memahami
salah ke saya tetapi gara gara bahasa saya. Saya memikir saya tidak
menjelaskan apa yang saya mau kasih tau orang yang didepan saya.
12. Adakah hal-hal yang membuat anda kurang nyaman ketika berinteraksi
dengan mahasiswa Indonesia? Jika ada, hal apakah itu dan bagaimana
cara anda mengatasinya agar interaksi tetap berjalan lancar?
Iya pasti ada yang kurang misal tidak terlalu berkomunikasi dan tidak
bersosialisasi dengan mereka, jadi ikut acara-acara yang mereka lakukan.
97
13. Apakah anda tertarik untuk mempelajari budaya Indonesia secara
mendalam?
Saya tertarik untuk mempelajari budaya Indonesia tetapi tidak secara
mendalam. Karena saya bukan orang Indonesia tetapi orang Indonesia harus
membelajari budaya Indonesia seraca mendalam kalo anda tidak tahu budaya
dan sejarah negaranya anda tidak tahu masa depannya.
14. Apa saja yang anda ketahui mengenai Indonesia?
Luas bangat, sering gempa bumi dan banyak punya pulau.
15. Apa harapan anda terhdap teman-teman mahasiswa Indonesia?
Saya harap kita selalu berkomunikasi dengan mereka dan saya berharap tidak
berhenti persahabatan kita.
Narasumber
(Zakir Ekin)
Peneliti
(Dewi Mufarrikhah)
98
Nama
: Zakir Ekin (Mahasiswa Turki)
Waktu Wawancara : 21 Mei 2016
Tempat Wawancara : Melalui via Line
1. Zakir aku mau nanya. Apakah Zakir tau daerah apa saja yang ada di
Indonesia?
Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Jambi, Pulau Seribu, Depok, Bogor, Bandung,
Tanggerang.
2. Apakah Zakir suka dan cocok dengan makanan Indonesia?
Iya Suka
3. Apa saja yang Zakir suka?
Nasi Dendeng, nasi uduk, gorengan dan lain- lain.
Narasumber
Peneliti
(Zakir Ekin)
(Dewi Mufarrikhah)
99
Nama
: Elci Nurullah (Mahasiswa Turki)
Usia
: 24 tahun
Fakultas
: TARBIYAH
Jurusan
: Pendidikan Agama Islam
Waktu Wawancara : 21-23 Mei 2016
Tempat Wawancara : Melalui via email
1. Apa alasan anda memilih UIN Jakarta sebagai tempat untuk belajar?
Karena menurut saran teman, UIN merupakan salah satu kampus Islam yang
baik dan jurusannya dibilang bagus. Negaranya dapat menerima kami yang
berbeda tempat jauh dengan Indonesia
2. Apa bahasa harian yang anda gunakan di kampus?
Bahasa Indonesia dan bahasa Turki
3. Berdasarkan yang anda ketahui, dari mana saja daerah asal teman-teman
mahasiswa Indonesia di sekitar anda?
Banyak sekali karena Indonesia banyak pulau. Ada dari Jawa, Sunda,
Bandung, Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi, Palembang dan Padang
4. Menurut anda, bagaimana komunikasi anda dengan mahasiswa Indonesia
di UIN Jakarta?
Bagus. Kami cukup dekat karena mereka baik kepada saya. Mereka banyak
bantu saya belajar bahasa mereka
100
5. Apakah anda termotivasi untuk berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia?
Hal apa yang membuat anda termotivasi?
Karena orang Indonesia sangat ramah dan sopan. Mereka sangat baik dengan
orang-orang dari negara lain. Jadi saya ikut baik dengan mereka
6. Apakah anda bisa langsung akrab dengan mahasiswa Indonesia?
Waktu pertama di UIN saya susah komunikasi. Saya cukup bingung karena
tidak tahu perkenalan. Lalu mereka baik dan mensapa saya jadi saya baik
dengan mereka
7. Bagaimana komunikasi dan interaksi yang anda lakukan dengan
mahasiswa Indonesia?
Kalau saya kesulitan, saya mendatangkan mereka dan minta tolong. Saya
banyak meminta tolong mereka dan mereka bantu saya. Misalkan ada apa
homework gitu yang sulit nanti saya kontak mereka dan mereka bantu
8. Dilihat dari perbedaan budaya dan bahasa antara mahasiswa Turki dan
mahasiswa Indonesia, apakah anda pernah mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi?
Saya sering kesulitan karena Indonesia bahasanya sulit. Dan mereka tidak
menggunakan bahasa formal di kehidupan. Banyak juga yang tidak
mengkuasain bahasa Inggris.
9. Diantara teman-teman mahasiswa Indonesia, etnik manakah yang sulit
diajak untuk berteman?
Saya tidak tahu karena mereka banyak baik ke saya. Dan saya bingung
dengan Indonesia yang banyak pulau jadi sulit membedakan
10. Dan menurut anda etnik manakah yang mudah untuk diajak berinteraksi?
101
Jawa. Banyak teman saya Jawa. Dan mereka senyum sering
11. Menurut anda, apakah anda termasuk orang yang sulit ataukah orang
yang mudah dalam berinteraksi?
Menurut saya tidak sulit karena berkomunikasi harus dan saya di negara lain.
kalau tidak komunikasi saya akan banyak kesulitan. Saya mau dan saya
bicara dengan yang lain dan saya banyak teman
12. Bagaimana cara anda mengatasi perbedaan-perbedaan yang terjadi agar
interaksi tetap berjalan dengan baik?
Saya diam karena perbedaan kami banyak dan saya suka bingung
13. Pernahkah anda salah memahami perilaku mahasiswa Indonesia? Apa
yang kemudian anda lakukan untuk dapat memahami perilaku tersebut?
Sering sekali dan kalau saya kesulitan mereka bantu saya. Saya sering
bingung karena apa yang saya pahami sering beda. Saya gunakan body
language supaya mereka bantu apa yang pahami saya.
14. Adakah hal-hal yang membuat anda kurang nyaman ketika berinteraksi
dengan mahasiswa Indonesia? Jika ada, hal apakah itu dan bagaimana
cara anda mengatasinya agar interaksi tetap berjalan lancar?
Saya tidak suka rokok. Di fakultas Tarbiyah tidak boleh merokok tetapi
mereka melakukan rokok dimanapun. Seharusnya mereka sadar supaya tidak
rokok dimanapun karena kotor dan merusak.
15. Apa pendapat anda mengenai INDONESIA? (Orangnya, adatnya,
makanannya, bahasa dan budaya)
Indonesia sangat sopan. Saya memilih Indonesia karena menurut teman
Indonesia Islamnya bagus. Adatnya sangat banyak saya suka bingung tapi
102
sangat indah. Makanannya saya suka tidak banyak. Saya suka soto dan gulay.
Untuk bahasa sangat banyak. Jawa juga bahasanya cukup sulit, dan budaya
saya suka karena indah seperti batik.
16. Apakah anda tertarik untuk mempelajari budaya Indonesia secara
mendalam?
Ya dan saya suka sekali budayanya. Batiknya banyak macam dan bagus.
Jualnya juga tidak mahal.
17. Apa saja yang anda ketahui mengenai Indonesia?
Budaya Indonesia sangat indah dan tempat wisata bagus. Saya sudah ke Jawa
dan cuacanya saya suka. Budayanya bagus saya beli banyak batik untuk
dipakai baju. Saya suka makanan di Jawa tetapi saya lupa
18. Apa harapan anda terhadap teman-teman mahasiswa Indonesia?
Saya ingin bisa jalan-jalan di Indonesia karena Indonesia pulaunya banyak
dan saya belum cukup waktu untuk berjalan-jalan ke semuanya. Saya ingin
lihat batik yang lain dari tempat lain.
Narasumber
(Elci Nurullah)
Peneliti
(Dewi Mufarrikhah)
103
Nama
: Kaisan Putra (Mahasiswa Indonesia. Teman Zakir Kein)
Usia
: 21 tahun
Fakultas
: DAKWAH
Jurusan
: Manajemen Dakwah
Waktu Wawancara : 20 Mei 2016
Tempat wawancara : Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
1. Bagaimana pendapat Kaisan mengenai Zakir?
Dia kan satu KKN tuh, bareng-bareng waktu semester 6. Pendapatnya kalau
tentang Zakir, Zakir itu waktu pertama kali ketemu pendiem si, pendiem
banget, trus kalo mau beradaptasi sama lingkungan, lama dia. Sempet
ngumpul KKN beberapa kali, 5 kali ada itu masih belum tuh, pas kita udah
seminggu di desa baru deh tuh dia mulai keliatan enak, baru mulai keliatan
lancar mau ngobrol. Tapi kalo masih awal-awal dia pendiem banget. Kita
harus mulai bercanda, gaya-gaya yaa bikin dia ketawa deh nanti baru dia enak
orangnya. Awalnya emang diem gitu si, soalnya di kosan saya ada orang
Yaman juga, nah kalo Yaman tuh kelakuannya sama banget sama Zakir.
Awalnya pendiem sampe sekarang kalo ketemu ketawa-tawa mulu. Harus
dipancing si baru bisa bercanda. Dia tuh belajar aja orangnya, jadi ga ikutikut komunitas kaya gitu-gitu, fokus sama pendidikan UIN aja gitu. Trus juga
Zakir tuh termasuk tertutup, jadi kelar KKN, udah. Ga ada komunikasi lagi
sama kita. Pas kemaren doang pas Dewi bilang mau ketemu sama kita, jadi
baru ngechat itu. Iya dia ngikutin aturan sini aja, kaku, kaku banget parah.
104
Dia orangnya pendidikan banget, mungkin kalo kita bisa ke dunia lain, dia
bakal belajar sampe kesana kali
2. Apakah setelah kaisan saling mengenal, Zakir menjadi lebih terbuka?
Zakir tuh orangnya baik banget, lama-lama kebuka ternyata orangnya itu
Islamic banget, rajin solat, orangnya suka negur juga. Jadi kalo misalkan kita
lagi berisik sampai waktu solat dia pasti marah. Zakir itu sering nyuruh kita
baca Al-Quran, nanti pas kita baca Al-Quran, yang salah dikoreksi sama dia,
dia tuh bener-bener Islam baget deh. Trus juga Zakir itu membedakan
interaksi cowo sama cewe. Justru kalo sama cewe dia rada nganggep kaya
sodara kali ya, tapi kalo ke cowo, tetep kaya temen
3. Bagaimana sikap Zakir dalam berteman dengan kamu?
Dia baik banget si. dia keliatan kalo dia tuh sama temen kaya sayang gitu.
Misalkan, kalo dia mau beli makan, nanti dia ngajak-ngajak bareng makan,
sama bayarin juga tiap kali makan, demen banget bayarin, kayanya bawaan
dianya deh suka bayarin orang gitu. Ngertiin orang si, kalo dia ga suka, dia
diem ga ngomong apa-apa
4. Apakah Zakir terlihat seperti orang yang ingin mempelajari budaya kita
selama kalian di desa KKN?
Keliatan ko kalo dia mau tau, dari cara dia pengen belajar bahasa Indonesia,
trus dia mau ngikutin bahasa-bahasa gaulnya kita, trus cara bercandanya, trus
kaya cara dia pengen pake sarung gitu. Kalo disana kayanya kan ga ada kali
ya, sarung gitu, dia tuh pengen make sarung, mungkin gara-gara terlalu tinggi
kali ya jadi susah nyari sarung yang pas. Kan yang kita bawa pas KKN yaa
sebadan kita, sedangkan dia tinggi banget. Kalo makanan si dia rada kurang
105
cocok sama tempe tahu. Kalo sate nasi goreng keliatannya dia kurang suka
deh, pernah nyobain waktu itu, tapi mungkin gara-gara anak KKN juga yang
masak si. Mungkin juga karna masakannya yang ga enak jadi dia ga suka.
Waktu KKN dia paling royal. Dia sempet ngeluh gara-gara makanan waktu
KKN kan paling tempe, tahu. Mungkin dia biasa makan enak yaa, jadi dia
ngomong “makanannya yang enak dong, ayam gitu”, jadi kita ikut maunya
dia, tapi dia juga yang modalin. Paling royal deh. Trus juga mungkin dia
nyaman karena Indonesia orangnya sopan-sopan kali ya. Kan suka ngobrol,
suka nongkrong, suka negor. Jadi, ga sibuk sama urusannya masing-masing.
Kalo dia, suka di Indonesia kaya gitu alasannya
5. Apakah pernah terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi?
Pernah, kaya apa ya, waktu itu di SD kan ngajar tuh, nah kalo dia, anak SD
itu dipegang-pegang sama dia, dicium keningnya, katanya si kalo di Turki
kebiasannya kaya gitu. Nah pas kita rapat, kita pada bilang, “Zakir, lu jangan
pegang-pegang anak SD, soalnya disini beda” trus dia bales, “kalau disana
kalau kita megang dan nyium anak SD kaya gitu tandanya kita sayang sama
anak kecil”, terus akhirnya kita bilangin kalo yaa ga bisa soalnya nanti bisa
dikira pedofil. Gitu jadi, kaya beda-beda gitu doang si karna beda budaya ya.
Yaa sampai akhirnya dia udah ga megang-megang anak kecil lagi, cuma anak
kecilnya pada demen sama dia sama guru-guru juga yaa karna dia bule. Dia
juga ga suka rokok, menurut dia yaa rokok itu dosa. Trus dia kan kalo tidur
anteng ya, waktu KKN ada yang tidur sama dia, namanya laki kalo tidur kan
kemana-mana. Nah Zakir kalo subuh udah bangun duluan, soalnya katanya
temen KKN kitanya itu rusuh. Jadi dia ga betah kali yaa. Tapi sejauh itu dia
106
ga ada masalah kayanya. Kalo ada yang dia ga paham, dia nanti gerakin
badannya gitu pake bahasa tubuh buat ngasih tau kita. Orangnya tuh penuh
dengan gerakan tubuh.
Narasumber
(Kaisan Putera)
Peneliti
(Dewi Mufarrikhah)
107
Nama
: Iqlima (Mahasiswa Indonesia, teman Kadar Turker)
Usia
: 22 tahun
Fakultas
: TARBIYAH
Jurusan
: Pendidikan Matematika
Waktu Wawancara : 20 Mei 2016
Tempat wawancara : Melalui via Line
1. Eki aku boleh minta tolong buat jawab pertanyaan tentang Kader Turker
ga ki?
Hmm aku wi
2. Gini ki, setau Eki Kader Turker orangnya gimana ki?
Pendiem wi
3. Dia suka ikut organisasi atau UKM di kampus ga ki?
Kayanya engga deh wi
Narasumber
(Iqlima)
Peneliti
(Dewi Mufarrikhah)
108
Nama
: Iqlima (Mahasiswa Indonesia, teman Kadar Turker)
Waktu Wawancara : 28 Mei 2016
Tempat wawancara : MAN4 Jakarta Selatan
1. Eqi emang setau Eqi Kadar Turker orangnya gimana deh?
Gitu wi kalo di kampus diem banget trus dia suka berduaan aja sama Seyma.
Udah sempet ketemu Seyma belum wi? Kalo Kadar si dia masih suka
ngebaur wi trus orangnya kepoan juga jadi seru. Kalo Seyma diem banget
anaknya. Yaa tapi ga unsos banget ko kalo di kelas mereka masih suka
ngobrol kalo ada tugas yang dia ga paham. Maklum wi kan orang jauh
2. Dia kepo sama budaya kita apa gimana ki?
Budaya yaa termasuk ko wi, dia suka nanya kalo Indonesia kerudungannya
yang khas kaya gimana, lebih ke fashion si. Terus nanya tempat-tempat
traveling di Indonesia. Dan kalo Kadar tuh tipe yang suka jalan-jalan loh wi.
Kan dia pernah ke Bandung waktu itu trus ke Semarang apa Yogya gitu, apa
dua-duanya kali ya, mungkin pernah juga. Trus sering deh pokonya. Kita aja
sering ngerasa kaya, kita aja yang orang Indonesia belom ampe segitunya.
Kalo makanan si kayanya aku kurang tau wi. Dia jarang jajan dan kayanya
mereka tuh suka ngumpul ke kantor yang Turki-Turki itu loh wi, nah iya
Fethullah Gulen Chair. Kayanya ada perkumpulan kali ya aku juga kurang
tau. Tapi kalo jam kosong emang mereka ga main sama kita. Tapi mereka
seru ko wi baik juga. Baiknya yaa mereka kan, ibaratnya gitu wi Indonesia
sama Turki. Awalnya aku kira mereka bakal sombong gitu. Tapi pas aku
109
pikir-pikir lagi kalo aku ada di negara orang berdua doang gitu, aku juga pasti
minder trus lebih banyak diem. Jadi wajar kalo mereka di awal pada diem.
Tapi kebelakangnya mereka seru ko
3. Tapi serius itu mereka ga ikutan organisasi?
Serius wi setau aku si engga yaa. Soalnya mereka itu bener-bener mentingin
pendidikan banget. Trus kayanya ambisius jadi guru. Dan setau aku anak
Turki di Tarbiyah lumayan banyak ko. Kayanya emang mereka pada cita-cita
dari sana atau gimana aku ga ngerti tapi keliatannya mereka pada mau jadi
guru beneran. Trus kalo di kampus yaa bener-bener semangat belajar wi ga
setengah-setengah. Kayanya si, kalo menurut aku yaa, kayanya mereka ga
ikutan organisasi.
Narasumber
(Iqlima)
Peneliti
(Dewi Mufarrikhah)
110
Nama
: Indah Kusuma. D
Jabatan
: Staff di PLKI
Waktu Wawancara : 16 Mei 2014
Tempat Wawancara : Kantor PLKI
1. Emang menurut kakak mahasiswa Turki kaya gimana deh ka?
Mereka tuh kurang gaul, kalo dateng kesini mah ya ga nyapa apa lah atau apa
kek gitu engga, duduk duduk aja. Beda maksudnya, beda sama. Ini kan kita
lagi banyak banget mahasiswa asal Gamia. Gamia mah malah sopan, beda
banget deh. Dateng mah nyegir gitu, walaupun dia dateng segerombolan juga
kita mah seneng kan soalnya ramah. Iya mereka baru pada datang. Beda sama
Turki. Ada yang ga senyum ada yang ga salim. Dateng mah dateng aja gitu,
terkadang juga saya suka aneh si. kalo aku pribadi si aku diemin aja, kalo dia
jutek aku jadi ikutan jutek juga kan. Mungkin ga semuanya gitu, cuma
sebagian aja. Soalnya aku malah sama yang cowo malah ga pernah kesini, si
Zakir cowo kan ya? Dia ga pernah keliatan kesini. Mereka ga pernah kenalan
sama aku, ga pernah. Aku juga baru si, cuma ngeliat mereka kaya gitu kan
jadi, ko gini si? jadi aku diem aja. jadi mereka kalo kesini yaa ga kenal muka
kalo ga sama Pak Furqon soalnya udah lama kan.
2. Setau kakak mereka ada pertukaran pelajar atau memang murni mau
kuliah disini?
Engga mereka tuh ada yang ngurus langsung. Ini kan sekarang ada yang
semester delapan ya, berarti kan mereka emang mau kuliah disini, tapi ngurus
111
ini itunya di Turki dan emang mau kuliah S1nya disini. Trus mungkin karna
ada Fethullah Gullen Chair juga kan ya yang kerjasama disini dari zamannya
Pak Qomaruddin Hidayat, tapi udah mau abis masa berlakunya Fethullah
Gullen Chair ini. Tapi kalo mahasiswa Turkinya kalo ada yang mau kuliah
mah masih tetep bisa aja gitu.
3. Trus mahasiswa Turki kalo kesini ngapain aja kak?
Yaa itu katanya kalo mereka kesini itu mereka ngurus imigrasi. Kebanyakan
si ngurus imigrasi kesini. Sekarang imigrasi itu buat pribadi masing-masing,
misalnya si mahasiswa itu yang ngurusin sendiri kemana-kemana. Tapi
sekarang pihak imigrasi gak mau lagi, jadi ada kantor yang ngurus gitu,
maksudnya dikolektifin gitu. Jadinya kalau misalnya visa mereka habis, ijin
belajar mereka habis, pasti kesini, gitu.
4. Mahasiswa Turki yang kakak tau seperti apa kak?
Tingginya sekita lah, cuman kadang bajunya suka gamis langsung gitu loh.
Pake gamis terus. Gak pernah liat dia pake celana atau jeans aku ga pernah
liat. Kayanya si mereka kalau ada yang ini mah, bertemannya gitu, mereka
gaulnya sama mereka-mereka doang.
Narasumber
(Indah Kusuma)
Peneliti
(Dewi Mufarrikhah)
112
Kutipan hasil wawancara dengan Zakir Ekin via email
113
Kutipan hasil wawancara dengan Elci Nurullah via email
114
Screen shoot obrolan penulis dengan Zakir Ekin via whats up pada tanggal
26 Maret 2016
115
Screen shoot obrolan penulis dengan Zakir Ekin via Line pada tanggal 16
Mei 2016
116
Screen shoot obrolan penulis dengan Iqlima via Line pada tanggal 20 Mei
2016
117
Screen shoot obrolan penulis dengan Zakir Ekin via Line pada tanggal 21
Mei 2016
118
Screen shoot obrolan penulis dengan Elci Nurullah via whats up pada
tanggal 21 Mei 2016
119
Fethullah Gulen Chair UIN Jakarta
120
Wawancara dengan Dr. Ali Unsal di kantor Direktur Fethullah Gulen Chair
121
Wawancara dengan Kadar Turker di sekolah Kharisma Bangsa Pondok
Cabe
Wawancara dengan Meryam Sari di perpustakaan Fethullah Gulen Chair
122
Wawancara dengan Kaisan Putera di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta
Wawancara dengan Indah Kusuma di kantor PLKI UIN Jakarta
123
Foto Zakir Ekin
Download