Jurnal LIA DAHLIA - Institutional Repository UIN Syarif

advertisement
TINDAKAN SCHOOL BULLYING PADA SISWA KELAS IX
SMP AL FAJAR CIPUTAT TANGERANG SELATAN
Hasyim Asy;ari & Lia Dahlia,
FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, [email protected]
PENDAHULUAN
Di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Sisdiknas Pasal 1 menjelaskan
bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
1
Guna mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan kondisi belajar yang
kondusif, aman, dan nyaman serta jauh dari berbagai tindakan yang mungkin
dapat membahayakan diri siswa.
Sebagai salah satu institusi pendidikan, sekolah seharusnya mampu
memberikan rasa aman dan nyaman bagi para peserta didik, seperti telah yang
diamanatkan dalam Pasal 54 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan
anak, yang menjelaskan bahwa “Anak didalam dan dilingkungan sekolah
wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola
sekolah atau teman-temanya didalam sekolah yang bersangkutan atau
lembaga pendidikan lainnya”. 2
Namun dewasa ini, kita sering dikejutkan dengan berbagai kasus mengenai
kekerasan yang sering kali terjadi dalam dunia pendidikan. Secara umum,
tindakan kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang merugikan
orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Dan tindakan kekerasan yang
terjadi dalam dunia pendidikan lebih dikenal dengan istilah bullying. Sekolah
yang harusnya menjadi tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan,
pembangan potensi serta membantu membentuk karakter pribadi yang positif
untuk siswa ternyata malah menjadi tempat tumbuhnya praktik bullying.
1
2
Undang –Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003
UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 54
1
Kasus ini seakan seperti fenomena gunung es yang hanya terlihat sedikit
dipermukaan, namun sebenarnya akan terlihat lebih besar jika kita teliti
secara lebih dalam. Tindakan kekerasan mungkin seringkali kita jumpai
dalam kehidupan sehari-hari, baik yang terjadi dalam ruang lingkup,
keluarga, masyarakat, maupun sekolah. Dalam lingkungan sekolah, tindakan
kekerasan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, misalnya antara teman sekelas,
kaka kelas dengan adik kelas (senior terhadap junior), pemimpin sekolah
terhadap staffnya, bahkan guru terhadap muridnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan UNICEF (2006) dibeberapa
daerah di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 80% tindakan kekerasan
yang terjadi pada siswa dilakukan oleh guru. Seperti yang terjadi di Solo pada
awal Mei tahun ini, menjelaskan bahwa ada kasus siswa kelas IV SD dipukuli
Guru (Radar Solo, 4/05/2013). Pada Tahun 2009, kepolisian mencatat dari
seluruh laporan kasus kekerasan, 30% diantaranya dilakukan oleh anak-anak,
dan 48% kasus kekerasan tersebut terjadi dilingkungan sekolah dengan motif
dan kadar yang bervariasi. 3
Dalam ceramah pendidikan pada upacara hari pendidikan pada tahun 2012
lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah menegaskan bahwa
tidak boleh ada lagi pendidikan yang disertai kekerasan baik di sekolah
maupun perguruan tinggi. Pernyataan itu disampaikan menanggapi kekerasan
di beberapa sekolah terkait masa orientasi sekolah baru-baru ini.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2012 juga telah
merilis data kasus kekerasan yang terjadi pada anak disekolah. Disebutkan
bahwa, 87,6 % anak Indonesia masih mengalami kasus kekerasan disekolah,
dengan perincian, 29% dari guru, dan 28% dari teman sekelas (Unsur
Kekerasan, 2012). Dan belum lama salah satu kasus yang terjadi disekolah
adalah beredarnya video asusila yang dilakukan oleh pelajar SMP di Jakarta.
Dalam hal ini ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait
menyatakan bahwa, “sekolah gagal membentuk lingkungan pendidikan
sebagai zona anti kekerasan psikis, bully, kekerasan seksual dan bentuk
3
(Sumber: edukasi.kompas.com), diakses pada tanggal 2 November 2013 pukul 13.45
2
lainnya”. Hal ini menunjukkan bukti bahwa manajemen sekolah gagal untuk
menjalankan fungsinya dalam hal pengawasan. (Kompas, 29/10/2013).
Dari hasil penelitian tersebut terlihat jelas bahwa berbagai kasus kekerasan
yang terjadi di Indonesia sampai saat ini kiranya belum mendapatkan
perhatian dan penanganan yang serius baik dari pemerintah (Kemendikbud),
kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Untuk mengatasi
permasalahan school bullying ini, sekolah memiliki peranan yang sangat
penting sebagai bagian internal pendidikan, dan salah satu upaya yang bisa
dilakukan khususnya dari pihak sekolah adalah dengan memperbaiki
pelaksanaan fungsi manajemen pengawasan disekolah yang selama ini
pelaksanaanya belum berjalan secara optimal.
Landasan Teori Bullying
Bullying berasal dari kata bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada
pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang kepada orang lain
(yang umumnya lebih lemah dari pelaku), sehingga menimbulkan
gangguan fisik maupun psikis bagi korbanya.4
Definisi bullying menurut PeKA (Peduli Karakter Anak) adalah
penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain secara fisik
ataupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional,
dan seksual.
Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan dimana terjadi
pemaksaaan secara psikologis maupun fisik terhadap seseorang atau
sekelompok orang. Pelaku bullying atau yang biasa disebut bully bisa dari
seseorang, bisa juga sekelompok orang, dan ia atau mereka
mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk melakukan apa
saja terhadap korbannya. Korban juga mempersepsikan dirinya sebagai
pihak yang lemah tak berdaya, dan selalu merasa terancam oleh bully.5
4
(http://harunnihaya.blogspot.com/2011/12/bullying-dan-solusinya.html diakses pada tanggal 22
september pukul 11.30 WIB)
5
Jurnal Pengalaman Intervensi dari Beberapa Kasus Bullying, (Djuwita, 2005 : 8).
3
Komnas Perlindungan Anak memberikan definisi bullying sebagai
kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang
atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri
dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti atau
membuat orang tertekan, trauma, atau depresi dan tidak berdaya.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas mengenai bullying, maka
dapat penulis simpulkan bahwa bullying adalah salah satu bentuk
kekerasan baik secara fisik maupun psikologis yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang yang merasa memiliki kekuasaan
terhadap orang/kelompok yang lebih lemah darinya.
Berbagai definisi mengenai bullying diatas menunjukkan bahwa
bullying bisa terjadi dimana saja, dan salah satunya disekolah, maka dalam
hal ini penulis hanya akan membatasi konteksnya dalam school bullying.
Menurut Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan
school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang
oleh seseorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap
siswa/i lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti siwa/i tersebut.6
Dalam konteks bullying disekolah, korban bullying adalah seorang
siswa. Dari beberapa penjelasan menurut para ahli tersebut dapat
disimpulkan bahwa school bullying merupakan salah satu bentuk agresi
fisik maupun psikologis yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok
siswa yang memiliki kekuasaan, dan dilakukan secara sengaja dan
berulang-ulang dalam periode waktu tertentu terhadap siswa lain yang
lebih lemah.
Karakteristik Tindakan Bullying
Sullivan menjelaskan bahwa suatu tindakan dapat dikategorikan ke
dalam tindakan bullying, jika memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Ada niatan untuk melukai orang lain.
6
Jurnal Psikologi Sosial 12 (01), 2005 : (1 – 13).
4
2) Ada ketidakseimbangan kekuatan, dimana pelaku lebih kuat atau
lebih berkuasa dari korban.
3) Seringkali terorganisasi, sistematis, dan sembunyi.
4) Dilakukan secara berulang-ulang dalam suatu periode waktu.
5) Korban bullying tersakiti secara fisik dan/atau psikologis.7
Seperti hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, salah
satunya menurut Rigby dalam Astuti (2008:8), tindakan bullying yang
banyak dilakukan disekolah atau beberapa hal yang mencirikan bahwa
sekolah yang mudah terkena kasus bullying pada umumnya yaitu:
a. Sekolah yang didalamnya terdapat perilaku diskriminatif baik
dikalangan guru maupun siswa.
b. Kurangnya pengawasan dan bimbingan etika dari kepala sekolah,
para guru dan petugas sekolah.
c. Terdapat kesenjangan besar antara siswa yang kaya dan miskin.
d. Adanya pola kedisiplinan yang terlalu kaku ataupun lemahnya
tingkat kedisiplinan disekolah baik oleh siswa maupun guru.
e. Bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten.8
Selain dari hal diatas, berdasarkan hasil beberapa penelitian
menunjukkan bahwa perilaku yang bisa dikategorikan sebagai bullying
adalah sebagai berikut:
1) Perilaku yang berupa kontak fisik langsung seperti memukul,
mendorong, menggigit, menjambak, serta berbagai serangan fisik
lainnya, termasuk merusak barang-barang yang dimiliki oleh orang
lain
2) Perilaku yang berupa kontak verbal langsung seperti mengancam,
mempermalukan,
merendahkan,
memberi
panggilan
nama,
sarkasme, mengintimidasi, dan juga menyebarkan gosip.
7
Sali sulisiana, Perlindungan Anak, (Yogyakarta: Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan
Informasi, 2012), h.66.
8
Andrian Ariesto. Pelaksanaan Program Anti Bullying. FISIP UI, 2009.
5
3) Perilaku yang berupa perilaku non verbal langsung seperti melihat
dengan
sinis,
menampilkan
ekspresi
muka
merendahkkan,
mengejek, dan mengancam.
4) Perilaku yang berupa perilaku non verbal tidak langsung seperti
mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga
hubunganya menjadi retak, dengan sengaja mengucilkan seseorang.
5) Perilaku yang berbentuk pelecehan seksual (kadang dikategorikan
sebagai perilaku agresi fisik atau verbal). Pelecehan seksual
biasanya dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan.
Pelecehan seksual dilakukan ssecara fisik atau lisan menggunakan
ejekan atau kata-kata yang tidak sopan untuk menunjuk pada
sekitar hal yang sensitif. Pada tindak kekerasan seksual bisa juga
terjadi dalam bentuk penghinaan-penghinaan terhadap lawan jenis
atau sejanis seperti halnya mengatakan teman laki-laki “banci” bagi
laki-laki yang feminim. Terjadinya tindak kekerasan ini bisa terjadi
di dalam kelas ataupun di luar kelas, baik dalam situasi yang serius
atau saat bersenda gurau. 9
Berdasarkan karakteristik diatas, banyak pelaku bullying memiliki
karakteristik psikologi. Tetapi pada umumnya perilaku bullying siswa
dipengaruhi oleh toleransi sekolah atas perilaku bullying, sikap guru, dan
faktor lingkungan termasuk lingkungan keluarga. Bully biasanya berasal
dari keluarga yang memperlakukan mereka dengan kasar. (Craig, Peters
& Konarski, 1998, dan Pepler & Sedighdellam, 1998 dalam Sciarra
(2004; 353).
Alasan yang paling jelas mengapa seseorang menjadi pelaku
bullying adalah bahwa pelaku bullying merasakan kepuasan apabila ia
berkuasa di kalangan teman sebayanya. Selain itu, tawa teman-teman
sekelompok saat ia mempermainkan sang korban memberikan penguatan
Intan Indira Riauskina, dkk. “Gencet-gencetan” dimata siswa/siswi Kelas 1 SMA: naskah
kognitif tentang arti, skenario, dan dampak “gencet-gencetan (Depok: Fakultas Psikologi UI,
2005).
9
6
terhadap perilaku bullyingnya. (Tim Yayasan Semai Jiwa Amini, 2008;
14). Selanjutnya Barbara Coloroso (2007; 55-56) memaparkan sifat-sifat
yang dimiliki bully, yakni:
a) Suka
memanfaatkan
orang
lain
untuk
mendapatkan
keinginannya
b) Hanya peduli pada keinginan dan kesenangan sendiri, bukan
pada kebutuhan, hak-hak, dan perasaan-perasaan orang lain
c) Cenderung melukai anak lain ketika tidak ada pengawasan dari
orang tua atau orang dewasa lainnya
d) Memandang anak yang lebih lemah sebagai mangsa
e) Menggunakan kesalahan, kritikan, dan tuduhan-tuduhan yang
keliru untuk memproyeksikan ketidakcakapannya pada target
f)
Tidak mau bertanggung jawab pada tindakannya
Faktor-faktor yang menyebabkan perilaku Bullying.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perilaku
bullying. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
a.
Faktor Keluarga.
Seseorang yang melakukan bullying seringkali berasal dari
keluarga bermasalah, dimana orang tua kerap menghukum anaknya
secara berlebihan atau siatuasi rumah yang penuh agresi dan
permusuhan. Hal ini terjadi, karena ia pernah menerima perlakuan
bullying pada dirinya, yang mungkin dilakukan oleh seseorang di
dalam keluarga.
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang agresif dan berlaku
kasar akan meniru kebiasaan tersebut dalam kesehariannya. Kekerasan
fisik dan verbal yang dilakukan orangtua kepada anak akan menjadi
contoh perilaku. Hal ini akan diperparah dengan kurangnya
kehangatan kasih sayang dan tiadanya dukungan dan pengarahan
membuat anak memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pelaku
bullying. Sebuah studi membuktikan bahwa perilaku agresif
7
meningkat pada anak yang menyaksikan kekerasan yang dilakukan
sang ayah terhadap ibunya.
Pengawasan dan disiplin orang tua yang keras dan berubah-ubah,
sikap orang tua yang dingin, atau menolak. Konflik keluarga,
perpisahan orang tua, sikap orang tua yang memaklumi perilaku
bermasalah,
kehilangan
hak
sosial
dan
ekonomi.
Keluarga
berpenghasilan rendah dan perumahan kumuh, serta teman-teman
yang terlibat perilaku bermasalah juga menjadi penyebab terjadinya
school bullying.
b. Faktor Kepribadian
Salah satu faktor terbesar penyebab anak melakukan bullying
adalah tempramen. Tempramen adalah karakterisktik atau kebiasaan
yang terbentuk dari respon emosional. Hal ini mengarah pada
perkembangan tingkah laku personalitas dan sosial anak. Seseorang
yang aktif dan impulsif lebih mungkin untuk berlaku bullying
dibandingkan orang yang pasif atau pemalu.
Beberapa anak pelaku bullying sebagai jalan untuk mendapatkan
popularitas,
perhatian,
atau
memperoleh
barang-barang
yang
diinginkannya. Biasanya mereka takut jika tindakan bullying menimpa
diri mereka sehingga mereka mendahului berlaku bullying pada orang
lain untuk membentuk citra sebagai pemberani. Meskipun beberapa
pelaku bullying merasa tidak suka dengan perbuatan mereka, mereka
tidak sungguh-sungguh menyadari akibat perbuatan mereka terhadap
orang lain.
c.
Faktor Sekolah
Tingkat pengawasan di sekolah menentukan seberapa banyak dan
seringnya terjadi peristiwa bullying. Sebagaimana rendahnya tingkat
pengawasan di rumah, rendahnya pengawasan di sekolah berkaitan
8
erat dengan berkembangnya perlaku bullying di kalangan siswa.
Pentingnya pengawasan dilakukan terutama di tempat bermain dan
lapangan, karena biasanya di kedua tempat tersebut perilaku bullying
kerap dilakukan. Penanganan yang tepat dari guru atau pengawas
terhadap peristiwa bullying adalah hal yang penting karena perilaku
bullying yang tidak ditangani dengan baik akan meyebabkan
kemungkinan perilaku itu terulang.
Intelegensi rendah dan kinerja buruk sekolah, kurangnya komitmen
bagi sekolah termasuk suka membolos, sikap-sikap yang memaklumi
perilaku bermasalah (narkoba, kriminalitas anak muda, kehamilan
dimasa sekolah dan kegagalan disekolah juga merupakan faktor
penyebab terjadinya masalah bullying, hal ini juga menjadi ancaman
besar yang sangat berpengaruh pada perkembangan siswa dan sekolah
untuk kedepanya.10
Selain ketiga faktor tersebut, ada beberapa faktor pendorong atau
faktor penyebab timbulnya kekerasan terhadap siswa/remaja antara
lain sebagai berikut:
1) Kekerasan muncul akibat adanya pelanggaran yang disertai
dengan hukuman terutama dengan hukuman fisik.
2) Kekerasan bisa terjadi karena guru tidak paham akan makna
kekerasan dan akibat negatifnya. Guru mengira bahwa peserta
didika akan jera dengan hukuman fisik yang diberinya.
Padahal sebaliknya, mereka akan benci, dendam, dan tidak
respek lagi padanya.
3) Komunitas Sekolah, karena tidak teraturnya organisasi sekolah
termasuk daya juang yang rendah dari para staf, manajemen
kelas yang buruk, sehingga muridnya dijatuhi hukuman,
tiadanya pujian bagi murid, dan lemahnya kepemimpinan dari
10
http://muhamadmarwans.blogspot.com/2011/08/perilaku-school-bullying-masalah.html, artikel
ini diakses pada tanggal 2 November 2013 pukul 13.30
9
para guru dan pengurus sekolah, kehadiranya geng, senjata,
dan narkoba.
4) Lingkungan atau masyarakat yang lebih luas. Dalam hal ini,
ketidaksetaraan ekonomi dan sosial antar kelompok yang
berbeda. Susunan politis seperti sampai pada tingkat mana
masyarakat mampu menegakkan hukum yang ada terhadap
kekerasan dan perlindungan sosial oleh negara.
Dampak Negatif Kekerasan Sekolah (shchool Bullying)
Ali As’ad Wathifah dalam penelitianya yang sangat luas, mengenai
segala bentuk tindakan kekerasan yang kerap kali terjadi dalam proses
pendidikan, baik itu sekolah ataupun dirumah, akan memiliki dampak
buruk yang sangat besar bagi perkembangan akhlak dan tingkah laku anak.
Beliau mengatakan “sikap semena-mena dalam mendidik sangat berbahaya
dan mengancam proses pendidikan. kemuncullanya melahirkan sikap
kebencian, kemarahan, keras hati, susah diatur, malu, takut, merasa
bersalah, merasa kurang, hilang rasa percaya diri, suka diremehkan, dan
larut dalam perasaan bersalah...”.11
Perilaku bullying, merupakan tindak kekerasan yang bisa menimbulkan
kerugian pada korban, baik dalam hal fisik maupun psikis. Carlise
menguraikan efek pengalaman menjadi korban bullying yang terjadi pada
siswa yaitu:
a. Psikologis, Perasaan kesepian, malu, timbul perkara untuk balas
dendam, cemas, mudah merasa tertekan, tidak percaya diri, kesulitan
membaur dengan kelompok, dan sebagainya.12
b. Dampak Psikologis juga meliputi rasa takut, rasa tidak aman, dendam,
dan menurunya semangat belajar siswa, daya konsentrasi, kreatifitas,
hilang inisiatif, daya tahan (mental), menurunya rasa percaya diri,
11
Muhammad Nabil Khazim, Mendidik Anak Tanpa Kekerasan, (Pustaka Al-Kautsar, 2010),
cet ke-1, h. 156
12
Hoasel waluyo Erlan, Gambaran Percieved Long tern Effect dari Bullying pada Individu
Dewasa yang pernah menjadi korban, h. 114
10
stress, depresi, dan sebagainya. Dan dalam jangka panjang bisa
berakibat pada penurunan prestasi dan perubahan perilaku siswa.
c. Fisik, mengakibatkan organ-organ tubuh siswa mengalami kerusakan,
seperti memar, luka-luka, dan sebagainya.
Secara spesifik, Rigby membagi dampak psikologis korban bullying
menjadi empat kategori, yaitu:
1) Memiliki kesejahteraan psikologis yang rendah. pada ketegori ini
kesadaran mental korban menjadi lemah, namun kodisi ini tidak
terlalu berbahaya. Perasaan tidak bahagia muncul pada diri korban,
selain juga perasaan mudah marah, sensitif, serta harga dirinya yang
rendah.
2) Memiliki pandangan dan kemampuan sosial yang rendah. korban yang
berada pada kategori ini seringkali menarik diri dari pergaulan, dan
sebaliknya lebih suka mengisolasi diri dari dan cenderung untuk
membolos sekolah.
3) Psychological distress, pada kategori ini korban memiliki tingkat
kecemasan yang sangat tinggi. Korban merasa depresi dan memiliki
dorongan untuk melakukan tindakan bunuh diri.
4) Dampak negatif secara fisik, misalnya luka-luka akibat serangan fisik,
serta penyakit lainnya seperti sakit kepala, deman, flu dan batuk.13
Cara Mengatasi tindakan bullying
Kekerasan telah menjadi ciri yang biasa dari kehidupan sekolah,
banyak faktor yang menyebabkan munculnya tindakan kekerasan tersebut.
World Health Organizaton (WHO) mendefinisikan bahwa kekerasan
adalah “digunakanya daya atau kekuatan fisik, baik berupa ancaman
maupun sebenarnya, terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap
13
Irwan Indera Putra, Hubungan Antara Perlikau Bullying dengan Permasalahan
Penyesuaian Psikososial pada siswa sisiwi SMA, h. 32
11
kelompok yang memiliki kemungkinan cedera, kematian, bahaya fisik, dan
perkembangan atau kehilangan”. (2002:5). (hlm 14)
Kekerasan terhadap anak-anak juga dianggap sebagai pelenggaran
hak-hak dasar mereka, terutama hak keselamatan fisik, psikologis dan
kesejahteraanya. Maka munculah kepedulian untuk memahami akar
permasalahan tersebut sekaligus untuk menemukan cara-cara untuk
mengurangi bahkan mencegahnya.
Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2002)
tentang kekerasan dan kesehatan merekomendasikan empat langkah utama
dalam proses mengurangi dan mencegah kekerasan.
a. Mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin tentang fenomena
kekerasan pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
b. Menyelidiki penyebab terjadinya kekerasan.
c. Mencari cara untuk mencegah kekerasan dengan merancang,
mengimplementasikan, memantau, dan mengevaluasi intervensi.
d. Mengimplementasikan intervensi dari berbagai pihak, menentukan
evektivitas biaya dari intervensi tersebut serta menyebarluaskan
invormasi tentang mereka.
Banyak pendidik dan akademis diseluruh eropa menolak pandangan
bahwa prestasi akademis merupakan tujuan tunggal, yang harus
ditekuni oleh anak-anak dan kaum muda jika mereka ingin
berpendidikan dan suskses. Ada bukti riset yang menyatakan bahwa
“Lingkungan sekolah adalah penentu terbesar tingkat kompetensi
emosional dan sosial, serta kesejahteraan murid dan guru”. (Weare dan
Grey 2003).
Dan sebagian negara-negara eropa (spanyol, Irlandia, Norwegia,
Belgia, dan Bulgaria) telah mengembangkan ide dari proyek VISTA
(Violence in School Training Action) yaitu dengan melibatkan
komunitas sebanyak mungkin
termasuk guru, manajemen sekolah,
anggota staff bukan pengajar, organisasi dan perwakilan luar dari
masyarakat yang lebih luas secara keseluruhan. Tujuan dari pendekatan
12
ini adalah untuk mempromosikan meniadakan tindakan kekerasan,
meningkatkan pedoman keyakinan sekolah, meningkatkan hubungan
antar staf, anak-anak, remaja, orang tua, guru, dan mendukung
kesehatan emosi dan kesejahteraan remaja, sertas seluruh anggota dari
komunitas sekolah. 14
Selain dengan cara tersebut, peranan kebijakan sekolah juga
berperan penting untuk mencegah terjadinya bullying. Hal ini lebih
dikhususkan pada saat proses pembelajaran, maka diperlukan metode
pembelajaran yang dapat mempromosikan nilai-nilai kerjasama
sekaligus melatih murid dalam berkomunikasi dengan efektif. Guru
dapat meneladani cara saling berhubungan dengan mengasuh kelompok
kerja kooperatif (pendekatan konpetitif) didalam kelas, agar terjalinya
hubungan yang harmonis antara guru dengan siswa maupun antar
siswa.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMP Islam Al Fajar yang berlokasi di Jl.
Aria Putra No. 102 Kedaung, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang
Selatan, Banten. Adapun waktu penelitian ini dilaksanakan selama empat
bulan yang dimulai dari bulan September sampai dengan bulan Desember
2013.
14
Helen Cowie dan Dawn Jennifer, Penanganan Kekerasan Disekolah Pendekaran Lingkup
Sekolah Untuk Mencapai Praktik Terbaik, cet 1, PT Indeks, 2009, h. 3
13
Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah
kualitatif untuk mendeskripsikan tentang peranan manajemen pengawasan
sekolah dalam mengatasi masalah school bullying di SMP Al Fajar. Dimana
pelaksanaan fungsi manajemen pengawasan sekolah memegang peranan
penting dalam penyelenggaraan pendidikan dan proses pembelajaran
disekolah dalam upaya mengatasi atau bahkan mencegah terjadinya berbagai
kasus kekerasan (bullying) yang terjadi dalam lembaga pendidikan khususnya
dikalangan pelajar.
Responden dari penelitian ini adalah Kepala sekolah SMP Al Fajar,
Waka bidang Kesiswaan SMP, dan dua orang siswa/siswi Kelas IX di SMP
Islam Al Fajar.
HASIL PENELITIAN
Deskripsi dan Analisa Data Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian terlihat bahwa kasus school bullying ini sebenarnya
sudah berlangsung lama, sehingga dapat menjadi tradisi di lingkungan
sekolah jika dibiarkan terus-menerus. Kasus ini tentu bukan hanya terjadi di
SMP Al Fajar, tetapi juga beberapa sekolah lainya.
Seperti salah satu hasil penelitian yang dilakukan Plan Indonesia dan
Yayasan Sejiwa dengan melakukan survei yang melibatkan 1.500 pelajar
SMP dan SMK di 3 kota besar yaitu, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya pada
tahun 2008. Hasilnya, 67% pelajar SMP dan SMK menyatakan bahwa
tindakan bullying pernah terjadi disekolah mereka, dan kategori tertinggi
tindakan bullying berupa mengucilkan, peringkat kedua ditempati kekerasan
verbal (mengejek) dan terakhir kekerasan fisik (memukul).
15
Namun
ternyata, masih ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa tindakan
bullying bukan merupakan masalah besar karena dianggap sudah menjadi
sesuatu yang biasa terjadi dalam pendidikan, dan ternyata ada juga yang
15
http://bigloveadagio.files.wordpress.com/2010/03/informasi_perihal_bullying.pdf,
artikel ini diakses pada tanggal 15 November 2013
14
menganggap bullying ini sebenarnya dapat memberikan dampak positif bagi
perkembangan pribadi siswa untuk menegakkan disiplin, menguji mental, dan
lain-lain.
Perilaku bullying ini sebenarnya sudah mengakar dalam kehidupan
remaja di sekolah, dalam masalah ini khusunya yaitu siswa SMP. Jika hal ini
terus dibiarkan, masalah bullying akan menjadi semakin besar, dan
membahayakan bukan hanya bagi korban dan pelaku bully, tetapi juga bagi
perkembangan sekolah untuk kedepanya.
Peran Kepala Sekolah
Selain pentingnya peranan guru dalam hal pengawasan, kepala sekolah juga
memiliki peranan yang sangat penting terutama sebagai supervisor sekolah.
Dari hasil wawancara dengan wali kelas memang terlihat, kepala sekolah
jarang melakukan supervisi kelas atau mengawasi ketika guru sedang
melaksanakan proses pembelajaran.
Sebagai supervisor, tugas kepala sekolah adalah mensupervisi
pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga pendidik dan kependidikan untuk
memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan
sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang
lebih efektif.
Kepala sekolah harus
mampu melakukan berbagai
macam
pengawasan dan pengendalian bukan hanya untuk meningkatkan kinerja
tenaga pendidik dan kependidikanya sebagai tindakan preventif agar para
pendidiknya tidak melakukan penyimpangan, tetapi juga mengawasi sikap
dan perilaku siswa disekolah, dengan cara melakukan koordinasi dengan
berbagai pihak agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang
telah ditetapkan.
Dengan menyadari pentingnya peranan kepala sekolah dan guru
sebagai pengawas pendidikan disekolah, koordinasi antara kepala sekolah,
guru, dan petugas sekolah lainnya dalam hal pengawasan itu sangat penting,
15
dengan harapan berbagai kasus school bullying ini bisa diminimalisir atau
bahkan dihilangkan.
Cara Mengatasi Bullying di SMP Islam Al Fajar
Pada umumnya kualitas sekolah itu dilihat dari segi akademik atau
nilai prestasi siswa yang tinggi, fasilitas sarana dan pasarana sekolah yang
memadai, tenaga pendidik dan kependidikan yang berkualitas, tetapi yang
jauh tidak kalah penting dilihat adalah manajemen sekolah yang baik.
Pelaksanaan manajemen sekolah yang baik tentu akan mempengaruhi
penyelenggaraan proses pendidikan yang lebih efektif.
Implementasi manajemen sekolah ini tidak hanya berkaitan dengan
perencanaan dan pelaksanaan, tetapi juga pengawasan dan evaluasi, dalam hal
ini khusunya melakukan pengawasan terhadap perilaku siswa yang melanggar
peraturan dan tata tertib sekolah, agar membentuk pribadi mereka yang bukan
hanya cerdas secara kognitif, tapi juga afektif (sikap/akhlaknya). Sekolah
telah menyadari bahwa kurangnya manajemen pengawasan sekolah menjadi
salah satu penyebab munculnya kasus bullying disekolah. Dan berbagai upaya
telah dilakukan pihak sekolah untuk mengatasi masalah ketidakdisiplinan dan
khususnya untuk mengatasi berbagai kasus bullying yang akhir-akhir ini
sering terjadi. Seperti yang di ungkapkan Bapak Hasbih selaku waka
kesiswaan bahwa untuk meningkatkan kedisiplinan siswa bukanlah hal
mudah, terutama melihat kondisi siswa di SMP Al Fajar ini. Sejak awal
pendaftaran siswa baru, sekolah telah menyiapkan form yang berisikan surat
perjanjian yang ditandatangani orang tua terhadap siswanya untuk mematuhi
dan menaati tata tertib sekolah.
Selain itu, sekolah juga menerapkan sistem point bagi siswa yang
melanggar peraturan sekolah, mulai dari jenis pelanggaran yang masih bisa
ditolerir sampai pada pelanggaran dengan point. Semua itu telah ada
aturanya, tetapi dalam pelaksanaanya tetap saja masih ada siswa yang
melanggar bahkan sampai dipanggil orangtuanya untuk menghadap
kesekolah atas dasar pelanggaran yang ia lakukan. Kiranya hal ini belum
16
cukup jika hanya dilakukan oleh waka kesiswaaan sendiri, untuk itulah ada
beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kasus bullying disekolah
yaitu:
1) Menjalin hubungan komunikasi yang harmonis baik antara guru dengan
siswa, kepala sekolah dengan guru dan komunikasi sekolah dengan para
orang tua siswa.
2) Meningkatkan
dan
mengoptimalkan
peranan
fungsi
manajemen
pangawasan sekolah, baik secara internal, eksternal, maupun melekat.
3) Harus adanya ketegasan dari kepala sekolah dan guru terhadap siswasiswa yang melanggar peraturan sekolah baik dalam masalah ringan dan
khususnya yang berat, wali kelas juga harus lebih aktif mencari informasi
tentang siswanya dan mengetahui perkembangan setiap siswanya.
4) Meningkatkan jalinan kerjasama dari semua pihak antara kepala sekolah,
orang tua, guru, masyarakat, pemerintah dan seluruh stakeholders sekolah.
5) Memperdalam ilmu agama khususnya tentang akhlak, dengan mengadakan
kembali pengajian rutin dan sholat dhuha berjamaah yang selama ini telah
vakum untuk mengisi waktu luang siswa ketika jam istirahat sekolah.
PENUTUP
Berbagai pelanggaran, sikap tidak disiplin, dan kasus kekerasan yang terjadi
pada siswa sebenarnya bukan sepenuhnya menjadi kesalahan pribadi siswa, tetapi
juga bisa disebabkan oleh faktor guru. Hal ini terlihat dari kurangnya tanggung
jawab guru sebagai pendidik serta lemahnya pengawasan dari guru juga bisa
membuat siswa mudah untuk melakukan tindakan bullying pada teman sekelasnya
ketika proses pembelajaran.
17
Dari hasil observasi memang terlihat pengawasan dari kepala sekolah
belum optimal, karena jarang melakukan supervisi kelas atau mengawasi ketika
guru sedang melaksanakan proses pembelajaran. Walaupun memang tugas kepala
sekolah bukan hanya mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga pendidik,
tetapi juga mengawasi perilaku siswa
disekolah dalam upaya memberikan
layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah.
Untuk mencegah terjadinya tindakan bullying disekolah antara lain perlu;
Menjalin komunikasi yang baik dan efektif antara pihak sekolah dengan orang tua
siswa, agar dapat mendidik dan mengawasi perkembangan siswa secara bersama
guna mencegah terjadinya tindakan bullying agar dapat membentuk pribadi siswa
yang berkhlakul karimah sesuai dengan visinya. Kepala sekolah bersama dengan
guru
harus
bekerjasama
dan
berkoordinasi
untuk
meningkatkan
dan
mengoptimalakan kembali fungsi manajemen pengawasan sekolah agar
terciptanya masyarakat belajar yang taat pada aturan dan tata tertib sekolah. Pihak
sekolah seharusnya menjalin kerjasama dengan masyarakat dan lingkungan
sekitar sebagai upaya untuk mencegah terjadinya perilaku bullying yang terjadi di
luar lingkungan sekolah.
Daftar Pustaka
Ariesto, Andrian. Pelaksanaan Program Anti Bullying. FISIP UI, 2009.
Muhammad Nabil Khazim, Mendidik Anak Tanpa Kekerasan, (Pustaka Al-Kautsar, 2010), cet ke1, h. 156
Helen Cowie dan Dawn Jennifer, Penanganan Kekerasan Disekolah Pendekaran Lingkup Sekolah
Untuk Mencapai Praktik Terbaik, cet 1, PT Indeks, 2009.
Indera Putra, Irwan, Hubungan Antara Perlikau Bullying dengan Permasalahan Penyesuaian
Psikososial pada siswa sisiwi SMA, h. 32
Riauskina, Intan Indira, dkk. “Gencet-gencetan” dimata siswa/siswi Kelas 1 SMA: naskah kognitif
tentang arti, skenario, dan dampak “gencet-gencetan (Depok: Fakultas Psikologi UI, 2005).
Sali Sulisiana, Perlindungan Anak, Yogyakarta: Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan
Informasi, 2012.
Undang –Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003
UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 54
http://bigloveadagio.files.wordpress.com/2010/03/informasi_perihal_bullying.pdf,
Sumber: edukasi.kompas.com), diakses pada tanggal 2 November 2013 pukul 13.45
http://harunnihaya.blogspot.com/2011/12/bullying-dan-solusinya.html
Jurnal Pengalaman Intervensi dari Beberapa Kasus Bullying, Djuwita, 2005.
Jurnal Psikologi Sosial 12 (01), 2005 : (1 – 13).
http://muhamadmarwans.blogspot.com/2011/08/perilaku-school-bullying-masalah.html,
18
19
Download