Sumber dari Akhlak Islami yaitu Al-Qur`an dan As

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
AGAMA ISLAM
( MEMBANGUN MASYARAKAT ISLAM MODERN)
AKHLAK ISLAMI
Fakultas
Program Studi
FEB
MANAJEMEN
Abstract
Tatap Muka
05
Kode MK
Disusun Oleh
90001
H. JAZULI SURYADHI. M.Si
Kompetensi
Pembahasan
AKHLAK ISLAMI
(H. Jazuli Suryadhi)
Secara sederhana akhlak islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan
ajaran islam atau akhlak yang bersifat islami. Kata islam yang berada di belakang kata akhlak
dalam hal menempati sebagai sifat.
Dengan demikian akhlak islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah,
disengaja, mendarah daging dan sebenarnya yang didasarkan pada islam. Dilihat dari segi
sifatnya yang universal, maka akhlak islami juga bersifat universal. Namun dalam rangka
menjabarkan akhak islami yang universal ini diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan
kesempatan sosial yang terkandung dalam ajaran etika dan moral.
Dengan kata lain Akhlak Islami adalah akhlak yang disamping mengakui adanya
nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai yang bersifat lokal
dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal itu. Sebagai contoh yaitu
menghormati kedua orang tua, adalah akhlak yang bersifat mutlak dan universal. Sedangkan
bagaimana bentuk dan cara menghormati kedua orang tua itu dapat dimanifestasikan oleh
hasil pemikiran menusia yang dipengaruhi oleh kondisi dan situasi di mana orang yang
menjabarkan nilai universal itu berada.
Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika atau moral,
walau etika dan moral itu di perlukan dalam rangka menjabarkan akhlak yang berdasarkan
agama (akhlak Islami). Hal ini disebabkan karena etika terbatas pada sopan santun antara
sesama manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Jadi ketika etika
digunakan untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti akhlak Islami dapat dijabarkan
sepenuhnya oleh etika dan moral.
Akhlak (Islami) menurut Quraish Shihab lebih luas maknanya daripada yang
telah dikemukakan terdahulu secara mencangkup pula beberapa hal yang tidak merupakan
sikap lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran.
2016
2
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Akhlak Islami adalah akhlak yang menggunakan tolak ukur ketentuan Allah.
Quraish shihab dalam hubungan ini mengatakan, bahwa tolak ukur kelakuan baik mestilah
merujuk kepada ketentuan Allah. Apa yang dinilai baik oleh Allah pasti aik dalam esensinya.
Demikian pula sebaliknya, tidak munkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik,
karena kebohongan esensinya buruk.
Sumber akhlak Islam
Akhlak yang benar akan terbentuk bila sumbernya benar. Sumber akhlak bagi
seorang muslim adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruk, patut
atau tidak secara utuh diukur dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan tradisi
merupakan pelengkap selama hal itu tidak bertentangan dengan apa yang telah digariskan
oleh Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber akhlak
merupakan suatu kewajaran bahkan keharusan. Sebab keduanya berasal dari Allah dan olehNya manusia diciptakan. Pasti ada kesesuaian antara manusia sebagai makhluk dengan sistem
norma yang datang dari Allah SWT.
Faktor- faktor Pembentuk Akhlak
a.
Al-Wiratsiyyah (Genetik)
Misalnya: seseorang yang berasal dari daerah Sumatera Utara cenderung berbicara “keras”,
tetapi hal ini bukan melegitimasi seorang muslim untuk berbicara keras atau kasar karena
Islam dapat memperhalus dan memperbaikinya.
b. An-Nafsiyyah (Psikologis)
Faktor ini berasal dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga (misalnya ibu dan ayah)
tempat seseorang tumbuh dan berkembang sejak lahir. Semua anak dilahirkan dalam keadaan
fitrah, orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (Hadits). Seseorang
yang lahir dalam keluarga yang orangtuanya bercerai akan berbeda dengan keluarga yang
orangtuanya lengkap.
c. Syari’ah Ijtima’iyyah (Sosial)
Faktor lingkungan tempat seseorang mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada pada dirinya
berpengaruh pula dalam pembentukan akhlak seseorang.
2016
3
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
d. Al-Qiyam (Nilai Islami)
Nilai Islami akan membentuk akhlak Islami.Akhlak Islami ialah seperangkat tindakan/gaya
hidup yang terpuji yang merupakan refleksi nilai-nilai Islam yang diyakini dengan motivasi
semata-mata mencari keridhaan Allah.
4. Ruang Lingkup Akhlak Islami
Ruang lingkup akhlak islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran islam itu
sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah (agama/ islami)
mencangkup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hinga kepada sesama
makhluk (manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda yang tak bernyawa). Berbagai
bentuk dan ruang lingkup akhlak islami yang demikian itu dapat dipaparkan sebagai berikut :
a. Akhlak Terhadap Allah
Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang
seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada tuhan sebagai Khalik. Sikap
atau perbuatan tersebut memiliki ciri-ciri perbuatan akhlaki sebagaimana telah disebutkan
diatas.
Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada
Allah. Pertama, karena Allah-lah yang telah menciptakan manusia. Dia menciptakan manusia
dari tanah yang diproses menjadi benih. Degan demikian sebagai yang diciptakan sudah
sepantasnya berterima kasih kepada yang menciptakannya. Sebagaimana firman Allah SWT
dalam QS. Al-Thariq, 86: 5-7 :
Artinya : “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia
diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
Kedua, karena Allah-lah yang telah memberikan perlengkapan pancaindera,
berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari, disamping anggota tubuh
yang kokoh dan sempurna kepada manusia.
Ketiga, karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang
dibutuhkan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan sebagainya.
Keempat, Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya
kemampuan menguasai daratan dan lautan.
2016
4
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Banyak cara yang dapat dilakuka dalam berakhlak kepada Allah. Di antaranya
dengan cara tidak menyekutukan-Nya, takwa kepada-Nya, mencintai-Nya, ridho dan ikhlas
terhadap segala ketentuan-Nya da bertaubat, mensyukuri nikmat-Nya, selal bedoa kepadaNya, beribadah, dan selalu mencari keridhoan-Nya.
Quraish shihab mengatakan bahwa titik tolak akhlak terhadap Allah adalah
pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji
demikian agung sifat itu, jangankan manusia, malaikat pun tidak akan menjangkaunya.
Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara banyak memujinya.
Selajutnya sikap tersebut dilanjutkan dengan senantiasa bertawakkal kepada-Nya, yaitu
denganmenjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang menguasai diri manusia.
b. Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur’an berkaitan dengan perilaku
terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan
melakukan hal-hal negative seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa
alasan yang benar, melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan menceritakan
aib seseorang dibelakangnya, tidak peduli aib itu benar atau salah, walaupun sambil
memberikan materi kepada yang disakiti hatinya itu.
Artinya : “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi
dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha
Penyantun.”(QS. Al-Baqarah ;263)
Disisi lain Al-Qur’an menerangkan bahwa setiap orang hendaknya didudukan
secara wajar. Tidak masuk kerumah orang lain tanpa izin, jika bertemu saling mengucapkan
salam, dan ucapan yang dikeluarkan adalah ucapan yang baik.
Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah
kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat,
anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada
manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu,
kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS.Al-Baqarah : 83)
Setiap ucapan yang diucapkan adalah ucapan yang benar,
2016
5
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah
Perkataan yang benar” (QS. Al-ahzab :70)
Jangan mengucilkan seseorang atau kelompok lain, tidak wajar pula berprasangka
buruk tanpa alasan, atau menceritakan keburukan seseorang, dan menyapa atau memanggil
dengan sebutan buruk. Selanjutnya yang melakukan kesalahan hendaknya dimaafkan.
Pemaafan ini hendaknya disertai dengan kesadaran bahwa yang memaafkan berpotensi pula
melakukan kesalahan. Selain itu juga dianjurkan agar menjadi orang yang pandai
mengendalikan nafsu amarah, mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepetingan
sendiri.
c. Akhlak terhadap Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan disini ialah segala sesuatu yang di sekitar
manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.
Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Al-Qur’an terhadap lingkungan bersumber
dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menurut adanya interaksi antara manusia
dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman,
pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum
matang, atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak member kesempatan
kepada mahkluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang
sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikian
mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan
dengan kata lain setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada
diri manusia sendiri.
Binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya
diciptaka oleh Allah SWT, dan menjadi milik-Nya, serta semuanya memiliki ketergantungan
kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang muslim untuk menyadari bahwa semuanya
adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Pada saat jaman peperangan terdapat petunjuk Al-Qur’an yang melarang
melakukan penganiayaan. Jangankan terhadap menusia dan binatang, bahkan mencabut dan
menebang pohonpun terlarang, kecuali kalau terpaksa, tetapi itu pun harus seizin Allah,
2016
6
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dalam arti harus sejalan dengan tujuan-tujuan penciptaan dan demi kemashlatan terbesar.
Allah berfirman :
Artinya : “ Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau
yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, Maka (semua itu) adalah dengan izin
Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.” (QS. AlHasyr :5)
Alam dengan segala isinya telah ditundukan Tuhan kepada manusia, sehinga
dengan mudah manusia dapat memanfaatkannya. Jika demikian, manusia tidak mencari
kemenangan, tetap keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehimgga
mereka harus dapat bersahabat.
Selain itu akhlak Islami juga memperhatikan kelestarian dan keselamatan
binatang. nabi Muhammad SAW. Bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dalam
perlakuanmu terhadap binatang, kendarailah, dan beri makanlah dengan baik “.
Uraian tersebut di atas memperlihatkan bahwa akhlak Islami sangat
komprehensif, menyeluruh dan mencangkup berbagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Hal
yang demikan dilakuka karena secara fungsional seluruh makhluk tersebut satu sama lain
saling membutuhkan. Punah dan rusaknya salah satu bagian dari makhluk Tuhan itu akan
berdampak negative bagi makhluk lainnya.
Pentingnya Akhlak Islami
Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat keislaman dan keimanan
seseorang. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya aqidah dan syariah yang diyakini
seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap
aqidah dan syariah.
“Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur
aqidahnya.”(HR.Tirmidi).
“Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam dan
sesungguhnya
sebaik-baik
manusia
keislamannya
adalah
yang
paling
baik
akhlaknya.”(HR.Thabrani, Ahmad dan Abu Ya’la).
Akhlak adalah buah dari ibadah.
Artinya : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al Kitab (Al Quran) dan
dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
2016
7
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya
dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45)”
Keluhuran akhlak merupakan amal terberat hamba di akhirat, “Tidak ada yang
lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya” (HR.
Abu Daud dan At-Tirmizi).
Akhlak merupakan lambang kualitas seorang manusia, masyarakat, umat karena
itulah akhlak pulalah yang menentukan eksistensi seorang muslim sebagai makhluk Allah
SWT.
“Sesungguhnya termasuk insan pilihan di antara kalian adalah yang terbaik
akhlaknya” (Muttafaq ‘alaih).
Cara Mencapai Akhlak Mulia
a.
Menjadikan iman sebagai pondasi dan sumber
Iman artinya percaya yaitu percaya bahwa Allah selalu melihat segala perbuatan manusia.
Bila melakukan perbuatan baik, balasannya akan menyenangkan. Bila perbuatan jahat maka
balasan pedih siap menanti. Hal ini akan melibatkan iman kepada Hari Akhir. Akhlak yang
baik akan dibalas dengan syurga dan kenikmatannya.
b.
Pendekatan secara langsung Artinya melaui Al-Qur’an. Sebagai seorang muslim
harus menerima Al-Qur’an secara mutlak dan menyeluruh. Jadi, apapun yang tertera di
dalamnya wajib diikuti. Misalnya, Al-Qur’an melarang untuk saling berburuk sangka firman
Allah dalam QS. 49:12
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari
kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
c.
2016
Pendekatan tidak secara langsung
8
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Yaitu dengan upaya mempelajari pengalaman masa lalu, yakni agar kejadian-kejadian
malapetaka yang telah terjadi tak akan terulangi lagi di masa kini dan yang akan datang.
Dari hal di atas, intinya adalah latihan dan kesungguhan. Latihan artinya berusaha
mengulang-ulang perbuatan yang akan dijadikan kebiasaan. Kemudian bersungguh-sungguh
berkaitan dengan motivasi. Motivasi yang terbaik dan paling potensial adalah karena ingin
memenuhi perintah Allah dan takut akan siksa-Nya.
Prinsip Dasar Akhlak Dalam Islam
Islam adalah agama yang sangat mementingkan Akhlak dari pada masalahmasalah lain. karena misi Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan Akhlak. Hal itu
dapat kita lihat pada zaman Jahiliyah kondisi Akhlak yang sangat semrawut tidak karuan
mereka melakukan hal-hal yang menyimpang seperti minum khomer dan berjudi. Hal-hal
tersebut mereka lakukan dengan biasa bahkan menjadi adat yang diturunkan untuk generasi
setelah mereka. Karena kebiasaan itu telah turun temurun maka pada awal pertama nabi
mengalami kesulitan.
Prinsip Akhlak dalam Islam terletak pada Moral Force. Moral Force Akhlak Islam
adalah terletak pada iman sebagai Internal Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin
yang berfungsi sebagai motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk
merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, dan tata karya yang kongkret. Dalam hubungan ini
Abu Huroiroh meriwayatkan hadist dari Rasulullah SAW:
Artinya : "Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik
akhlaknya. Dan sebaik-baik diantara kamu ialah yang paling baik kepada istrinya.”
Al-Qur'an menggambarkan bahwa setiap orang yang beriman itu niscaya
memiliki akhlak yang mulia yang diandaikan seperti pohon iman yang indah hal ini dapat
dilihat pada surat Ibrahim ayat 24-27 :
Artinya : "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat
yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan
perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan
akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan
(iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia
2016
9
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang
Dia kehendaki".
Dari ayat diatas dapat kita ambil contoh bahwa ciri khas orang yang beriman
adalah indah perangainya dan santun tutur katanya, tegar dan teguh pendirian (tidak
terombang ambing), mengayomi atau melindungi sesama, mengerjakan buah amal yang dapat
dinikmati oleh lingkungan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak
Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan Akhlak antara lain adalah:
a.
Insting (Naluri)
Aneka corak refleksi sikap, tindakan dan perbuatan manusia dimotivasi oleh kehendak yang
dimotori oleh Insting seseorang ( dalam bahasa Arab gharizah). Insting merupakan tabiat
yang dibawa manusia sejak lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai
motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara lain adalah:

Naluri Makan (nutrive instinct). Manusia lahir telah membawa suatu hasrat makan tanpa
didorang oleh orang lain.

Naluri Berjodoh (seksul instinct). Dalam Al-Quran diterangkan:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak".

Naluri Keibuan (peternal instinct) tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya dan
sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.

Naluri Berjuang (combative instinct). Tabiat manusia untuk mempertahnkan diri dari
gangguan dan tantangan.

Naluri Bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya.
Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu
dipelajrari terlebih dahulu.
b. Adat/Kebiasaan
Adat/Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara
berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Abu Bakar Zikir
berpendapat: perbutan manusia, apabila dikerjakan secara berulang-ulang sehingga mudah
melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan.
c.
2016
Wirotsah (keturunan) adapun warisan adalah:
10
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan).
Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya. Kadang-kadang anak
itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya.
d. MILIEU
Artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara sedangkan
lingkungan manusia, ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan
masyarakat. milieu ada 2 macam:

Lingkungan Alam
Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan
tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhn bakat
yang dibawa oleh seseorang. Pada zaman Nabi Muhammad pernah terjadi seorang badui
yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tapi nabi melarangnya.
Kejadian diatas dapat menjadi contoh bahwa badui yang menempati lingkungan yang jauh
dari masyarakat luas tidak akan tau norma-norma yang berlaku.

Lingkungan Pergaulan
Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus
bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan
tingkah laku. Contohnya Akhlak orang tua dirumah dapat pula mempengaruhi akhlak
anaknya, begitu juga akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut pendidikan
yang diberikan oleh guru-guru disekolah.
KESIMPULAN
Simpulan yang dapat disampaikan penulis dari makalah ini yaitu Akhlak Islami itu
jauh lebih sempurna dibandingkan dengan akhlak lainnya. Jika akhlak lainnya hanya
berbicara tentang hubungan dengan manusia, maka akhlak Islami berbicara pula tentang cara
berhubungan dengan binatang, tumbuh-tumbuhan, air, udara, da lain sebagainya. Dengan
cara demikian, masing-masing makhluk akan merasakan fungsi dan eksistensinya di dunia
ini.
Allah adalah Khalik yang menciptakan segala sesuatu di luar diri-Nya. Sedangkan
segala sesuatu yang diciptakan-Nya disebut makhluk. Manusia dan segala sesuatu yang
menyertainya adalah juga makhluk. Akhlak ialah semua tingkah laku dan gerak-gerik
2016
11
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
makhluk dan yang dimaksud makhluk di sini (telah dipersempit) ialah manusia (hanya
menyangkut tingkah laku manusia saja).
Sumber dari Akhlak Islami yaitu Al-Qur’an dan As-sunnah. Banyak faktor yang
dapat membentuk akhlak seseorang yaitu, faktor genetic, faktor lingkungan (social), faktor
psikologis, dan faktor nilai Islami seseorang.
Prinsip Akhlak dalam Islam terletak pada Moral Force. Moral Force Akhlak Islam
adalah terletak pada iman sebagai Internal Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin
yang berfungsi sebagai motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk
merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, dan tata karya yang kongkret.
DAFTAR PUSTAKA
1. Purwanto, Jazuli, Agus, 2016. Membangun Masyarakat Islam Modern. Graha Ilmu,
Jogyakarta
2. Departemen Agama RI. 1971. Al-Quran dan Terjemahnya. Departemen Agama.
Jakarta.
3. Ibrahim Hamid Al-Qu’ayyid. 2005. 10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas.
Maghfirah Pustaka. Jakarta.
4. Abdullah, Abd. Malik. 2009. Pendidikan Agama Islam. Makassar : Tim Dosen
Penididikan Agama Islam UNM.
5. Muhammadong. 2009. Pendidikan Agama Islam. Makassar : Tim Dosen Pendidikan
Agama Islam UNM.
6. Sanusi A. 2006. Jalan Kebahagiaan. Gema Insani Press. Jakarta.
http://allaboutmensains.blogspot.com/2010/12/makalah-akhlak-islami.html
http://indonesia-admin.blogspot.com/2010/02/prinsip-dasar-pembentukan-akhlak.html
http://www.quranexplorer.com/quran/
2016
12
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
2016
13
Agama Islam
H. Jazuli Suryadhi. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download