BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Pembangunan Ekonomi

advertisement
BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi dipandang sebagai kenaikan dalam pendapatan perkapita dan
lajunya pembangunan ekonomi ditunjukkan dengan menggunakan tingkat pertumbuhan PDB untuk
tingkat nasional dan PDRB untuk tingkat wilayah. Definisi pembangunan tidak dapat dipisahkan
dengan pengertian pembangunan ekonomi, karena pada dasarnya baik tujuan pembangunan maupun
pembangunan ekonomi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bedanya,
pembangunan ekonomi hanya meliputi usaha suatu masyarakat untuk mengembangkan kegiatan
ekonomi dan mempertinggi tingkat pendapatan masyarakat, sedangkan pembangunan itu dalam
pengertian yang paling mendasar harus mencakup masalah materi dan finansial dalam kehidupan
masyarakat.
Dengan demikian pengertian pembangunan ekonomi pada umumnya didefinisikan sebagai
suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat meningkat
dalam jangka panjang (Todaro, 1999). Dengan demikian pembangunan ekonomi mempunyai tiga
sifat penting, yaitu:
1. Suatu proses yang berarti merupakan perubahan yang terjadi secara terus-menerus.
2. Usaha-usaha menaikkan tingkat pendapatan perkapita.
3. Kenaikkan pendapatan perkapita harus terus berlangsung dalam jangka panjang.
2.1.1 Tujuan Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi selalu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dalam arti yang seluas-luasnya. Kegiatan pembangunan ekonomi selalu dipandang sebagai bagian
dari usaha pembangunan secara keseluruhan yang dijalankan suatu masyarakat, tetapi kenyataannya
pembangunan ekonomi hanya meliputi suatu usaha masyarakat untuk mengembangkan kegiatan
ekonominya dan mempertinggi pendapatan masyarakat, sedangkan keseluruhan pembangunan itu
meliputi juga usaha pembangunan sosial, politik dan budaya.
Adapun yang menjadi tujuan pembangunan ekonomi menurut (Todaro, 1999) adalah
sebagai berikut:
a. Menciptakan keadaan yang dapat membantu pertumbuhan rasa harga diri melalui
pembangunan sistem dan kelembagaan sosial dan ekonomi yang dapat mengembangka rasa
harga diri dan rasa hormat terhadap kemanusian.
b. Mempertinggi tingkat penghidupan bangsa yaitu tingkat pendaptan dan konsumsi pangan ,
pelayanan kesehataqn, pendidikan dan sebagainya melalui proses pembanguan ekonomi.
c. Mengembangkan kebebasan untuk memilih dengan jalan memperluas rangkaian kesempatan
untuk memilih misalnya keanekaragaman jenis barang konsumsi dan jasa yang tersedia.
2.2 Teori Pertumbuhan Klasik
Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik, ada 4 faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi, yaitu: jumlah penduduk, jumlah stok barang-barang modal, luas tanah dan
kekayaan alam, serta tingkat teknologi yang digunakan.
Dalam teori pertumbuhan mereka, dimisalkan luas tanah dan kekayaan alam adalah tetap
jumlahnya dan tingkat teknologi tidak mengalami perubahan. Berdasarkan kepada teori
pertumbuhan klasik yang baru diterangkan, dikemukakan suatu teori yang menjelaskan perkaitan di
antara pendapatan per kapita dan jumlah penduduk. Teori tersebut dinamakan teori penduduk
optimum.
Teori pertumbuhan klasik dapat dilihat bahwa apabila terdapat kekurangan penduduk,
produksi marjinal adalah lebih tinggi daripada pendapatan per kapita. Akan tetapi apabila penduduk
semakin banyak, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi
produksi, yaitu produksi marjinal akan mulai mengalami penurunan. Oleh karenanya pendapatan
nasional dan pendapatan per kapita menjadi semakin lambat pertumbuhannya. Dalam membahas
kedua persoalan ini mereka mempunyai pandangan yang agak berbeda. Oleh sebab itu, dalam
menguraikan pandangan-pandangan beberapa ahli ekonomi klasik yang terkemuka untuk dibahas
satu demi satu.
2.3 Pengertian Sektor Informal
Istilah sektor informal pertama kali dikemukakan oleh Hart (1971) seorang antropolog
Inggris, dalam rangka memecahkan masalah ketenagakerjaan di Kenya, dengan menggambaran
sektor informal sebagai bagian dari angkatan kerja di kota yang ada di luar pasar kerja yang
teroganisir. Mulai saat ini, sektor informal telah disebut sebagai suatu konsep yang memberikan
harapan dan disempurnakan lagi oleh ILO (International Labour Organization) yang mempelajari
kesempatan kerja di Kenya dalam rangka program kesempatan kerja dunia.
Dalam laporan ILO tersebut dan dari berbagai penelitian tentang sektor informal di Indonesia, telah
menghasilkan 10 ciri pokok sektor informal sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha tidak terorganisasikan secara baik, karena timbulnya unit usaha tidak
mempergunakan fasilitas/kelembagaan yang tersedia di sektor formal
2. Pada umumnya unit usaha tidak mempunyai izin usaha.
3. Pola kegiatan usaha tidak teratur baik dalam arti lokasi maupun jam kerja.
4. Pada umumnya kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak
sampai ke sektor ini.
5. Unit usaha mudah keluar masuk dari satu subsektor ke lain subsektor.
6. Teknologi yang dipergunakan bersifat primitif.
7. Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasi juga relatif kecil.
8. Pada umumnya unit usaha termasuk golongan one-man-enter prises dan kalau
mempekerjakan buruh berasal dari keluarga.
9. Sumber dana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri atau dari lembaga
keuangan yang tidak resmi.
10. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsikan oleh masyarakat desa/kota yang
berpenghasilan rendah.
Disamping itu ILO menemukan adanya kegiatan-kegiatan ekonomi yang selalu lolos dari
pencacahan, pengaturan dan perlindungan oleh pemerintahan tetapi mempunyai makna ekonomi
karena bersifat kompetitif dan padat karya, memakai input dan teknologi lokal serta beroperasi atas
dasar kepemilikan sendiri oleh masyarakat lokal. Kegiatan-kegiatan inilah yang kemudian
dinobatkan sebagai sektor informal (Permatasari, 2008).
Sektor informal pada umumnya ditandai oleh beberapa karakteristik khas seperti sangat
bervariasinya bidang kegiatan produksi barang dan jasa, berskala kecil, unit-unit produksinya
dimiliki secara perorangan atau keluarga, banyak menggunakan tenaga kerja dan teknologi yang
dipakai relatif sederhana. Para pekerja yang menciptakan sendiri lapangan kerjanya. Di sektor
informal biasanya tidak memiliki pendidikan formal. Pada umumnya mereka tidak mempunyai
ketrampilan khusus dan kekurangan modal. Oleh sebab itu produktivitas dan pendapatan mereka
cenderung lebih rendah daripada kegiatan-kegiatan bisnis yang ada di sektor formal. Selain itu
mereka yang berada di sektor informal tersebut juga tidak memiliki jaminan keselamatan kerja dan
fasilitas kesejahteraan.
Sektor informal di kota selama era pembangunan ini antara lain dipadati oleh kelompok
migrant sekuler. Motif utama mereka bermigrasi adalah alasan ekonomi. Hal ini didasari atas
adanya perbedaan tingkat perkembangan ekonomi antara daerah pedesaan dan perkotaan. Di kota
terdapat kesempatan ekonomi yang lebih luas dibandingkan dengan di pedesaan (Todaro, 1999).
Sektor informal ini memiliki banyak keterkaitan dengan sektor-sektor lainnya dalam
perekonomian perkotaan, bahkan nasional secara keseluruhan. Pertama-tama sektor informal ini
terkait dengan sektor pedesaan dalam pengertian kawasan atau sektor pedesaan merupakan sumber
kelebihan tenaga kerja miskin. Yang kemudian mengisi sektor informal di daerah perkotaan guna
menghindari kemiskinan dan pengangguran di desa.
Selain itu sektor informal juga terkait erat dengan sektor formal perkotaan dalam pengertian
sektor formal sesungguhhnya tergantung pada sektor informal dalam penyediaan input-input
produksi dan tenaga kerja murah. Keterbatasan modal kerja merupakan kendala utama bagi
kegiatan-kegiatan sektor informal. Oleh karena itu pemberian kredit lunak akan sangat membantu
unit-unit usaha kecil dalam sektor informal untuk berkembang dan membuahkan keuntungan yang
lebih banyak, sehingga pada akhirnya akan mampu menciptakan pendapatan dan lapangan kerja
yang lebih banyak lagi. Lebih dari itu sektor informal itu sendiri telah membuktikan kemampuan
dalam menciptakan lapangan kerja dan pendapatan bagi angkatan kerja di daerah-daerah perkotaan.
Karakteristik yang melekat pada sektor informal bisa merupakan kelebihan atau
kekuatannya yang potensial. Di sisi lain pada kekuatan tersebut tersirat kekurangan atau kelemahan
yang justru menjadi penghambat perkembangannya (growth constraints). Kombinasi dari kekuatan
dan kelemahan serta interaksi keduanya dengan situasi eksternal akan menentukan prospek
perkembangan sektor informal di Indonesia.
2.4 Kekuatan Sektor Informal
Beberapa kekuatan yang dimiliki sektor informal sebagai berikut:
2.4.1. Daya Tahan
Selama krisis ekonomi, terbukti sektor informal tidak hanya dapat bertahan, bahkan
berkembang pesat. Hal ini disebabkan faktor permintaan (pasar output) dan faktor penawaran. Dari
sisi permintaan, akibat krisis ekonomi pendapatan riil ratarata masyarakat turun drastic dan terjadi
pergeseran permintaan masyarakat, dari barang-barang sektor formal atau impor (yang harganya
relatif mahal) ke barangbarang sederhana buatan sektor informal (yang harganya relatif murah).
Misalnya, sebelum krisis terjadi, banyak pegawai-pegawai kantoran, mulai dari kelas menengah
hingga tinggi makan siang di restoran-restoran mahal di luar kantor. Dimasa krisis, banyak dari
mereka merubah kebiasaan dari makan siang di tempat yang mahal ke ssrumah-rumah makan
sederhana atau warung-warung murah di sekitar kantor mereka.
Dari sisi penawaran, akibat banyak orang di-PHK-kan di sektor formal selama masa krisis,
ditambah lagi dengan sulitnya angkatan kerja baru mendapat pekerjaan di sektor formal, maka
suplai tenaga kerja dan pengusaha ke sektor informal meningkat. Selain itu, relatif kuatnya daya
tahan sektor informal selama krisis, juga dijelaskan oleh tingginya motivasi pengusaha di sektor
tersebut mempertahankan kelangsungan usahanya. Sebab, bagi banyak pelaku, usaha di sektor
informal merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka. Karena itu, berbeda dengan rekan
mereka di sektor formal, pengusaha-pengusaha di sector informal sangat adaptif menghadapi
perubahan situasi dalam lingkungan usaha mereka.
2.4.2 Padat Karya.
Dibanding sektor formal, khususnya usaha skala besar, sektor informal yang pada umumnya
adalah usaha skala kecil bersifat padat karya. Sementara itu persediaan tenaga kerja di Indonesia
sangat banyak, sehingga upahnya relatif lebih murah jika dibandingkan di negara-negara lain
dengan jumlah penduduk yang kurang dari Indonesia. Dengan asumsi faktor-faktor lain mendukung
(seperti kualitas produk yang dibuat baik dan tingkat efisiensi usaha serta produktivitas pekerja
tinggi), maka upah murah merupakan salah satu keunggulan komparatif yang dimiliki usaha kecil di
Indonesia.
2.4.3 Keahlian Khusus (Tradisional).
Bila dilihat dari jenis-jenis produk yang dibuat di industri kecil (IK) dan industry rumah
tangga (IRT) di Indonesia, dapat dikatakan bahwa produk-produk yang mereka buat umumnya
sederhana dan tidak terlalu membutuhkan pendidikan formal, tetapi membutuhkan keahlian khusus
(traditional skills). Di sinilah keunggulan lain sektor informal, yang selama ini terbukti bisa
membuat mereka bertahan walaupun persaingan dari sektor formal, termasuk impor sangat tinggi.
Keahlian khusus tersebut biasanya dimiliki pekerja atau pengusaha secara turun temurun, dari
generasi kegenerasi.
2.5 Kelemahan Sektor Informal
Selain faktor-faktor kekuatan tersebut di atas, masa depan perkembangan sector informal di
Indonesia juga sangat ditentukan kemampuan sektor tersebut, dibantu maupun dengan kekuatan
sendiri, menanggulangi berbagai permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan kata lain,
mampu tidaknya sektor informal bersaing dengan sektor formal atau barang-barang impor, juga
tergantung pada seberapa serius dan sifat serta bentuk dari kelemahan-kelemahan yang dimiliki
sektor informal. Kelemahan sektor informal tercermin pada kendala-kendala yang dihadapi sektor
tersebut, yang sering sekali menjadi hambatan-hambatan serius bagi pertumbuhan dan
perkembangannya.
Kendala-kendala yang banyak dialami pengusaha-pengusaha di sektor informal terutama
adalah keterbatasan modal, khususnya modal kerja. Kendala lain adalah kesulitan pemasaran dan
penyediaan bahan-bahan baku, keterbatasan sumber daya manusia, pengetahuan minim mengenai
bisnis, dan kurang penguasaan teknologi.
Sebagian besar industri kecil, terlebih industri rumah tangga di Indonesia adalah sektor
informal. Masalah paling besar yang dialami mereka adalah keterbatasan modal dan pemasaran.
Masalah lainnya adalah pengadaan bahan baku (misalnya tempat beli terlalu jauh, harga mahal, dan
tidak selalu tersedia), kurang keahlian dalam jenis-jenis teknik produksi tertentu (misalnya tenaga
ahli/perancang sulit dicari atau mahal), dan kurang keahlian dalam pengelolaan. Yang juga jadi
persoalan adalah mereka menghadapi persaingan yang tajam dan kemampuan mereka
berkomunikasi sangat rendah, termasuk akses mereka ke fasilitas-fasilitas untuk berkomunikasi
sangat terbatas.
Dalam hal persaingan, industri kecil dan industri rumah tangga menghadapi mendapat
persaingan sangat ketat, baik dari industri menengah dan besar (IMB) maupun dari barang-barang
impor. Persaingan itu tidak saja dalam hal kualitas dan harga, tetapi juga dalam pelayananpelayanan setelah penjualan dan penampilan produk. Dengan berbagai keterbatasan yang ada, mulai
dari keterbatasan dana, skills, hingga kesulitan mendapatkan bahan baku dengan kualitas baik,
membuat banyak industri kecil dan indurstri rumah tangga di Indonesia kesulitan meningkatkan
kualitas produk mereka agar mampu bersaing di pasar domestik dan ekspor. Apalagi ketika mereka
harus menangani masalah-masalah tersebut sendirian.
2.6 Tantangan Sektor Informal
Tantangan yang dihadapi sektor informal saat ini dan di masa akan datang, terutama dalam
aspek-aspek berikut ini:
2.6.1 Persaingan Makin Bebas
Dengan diterapkannya sistem pasar bebas dengan pola atau sistem persaingan yang berbeda
dan intensifitas lebih tinggi, 3 ditambah lagi dengan perubahan tenologi dan selera masyarakat
akibat pendapatan masyarakat yang terus meningkat, maka setiap pengusaha di sektor informal,
baik di sektor industri manufaktur, sektor perdagangan, maupun di sektorjasa ditantang apakah
mereka san ggup menghadapi/menyesuaikan usaha mereka dengan semua perubahan ini. Misalnya,
dengan makin banyaknya orang menyukai fast food services, maka pemilik-pemilik warung dan
rumah makan tradisional harus memikirkan strategi agar tetap dapat bertahan di pasar yang sama
(walapun di dalam segmen yang berbeda).
2.6.2 Perkembangan Pesat Teknologi
Perubahan teknologi mempengaruhi ekonomi atau dunia usaha, dari dua sisi, yakni sisi
penawaran dan sisi permintaan. Dari sisi penawaran, perkembangan teknologi mempengaruhi
antara lain metode atau pola produksi, komposisi serta jenis material/input dan serta kualitas produk
yang dibuat. Sedangkan, dari sisi permintaan, perubahan teknologi membuat pola permintaan
masyarakat berubah. Munculnya restoran-restoran yang menyajikan fast food services juga tidak
lepas dari kemajuan teknologi di bidang makanan. Durvival capability sektor informal sangat
tergantung pada tingkat fleksibilitasnya dalam melakukan penyesuaian-penyesuian di segala bidang
yang berkaitan dengan perubahan teknologi. Di sini, antara lain penguatan SDM sangat penting.
2.7 Peluang Sektor Informal
Peluang sektor informal untuk tetap bertahan atau berkembang, dapat dilihat dari dua sisi.
Dari sisi penawaran, seperti yang telah dibahas sebelumnya, masih ada persoalan struktural
ketenagakerjaan di dalam negeri memberi peluang besar bagi pertumbuhan sektor informal. Dengan
adanya krisis ekonomi, peluang tersebut semakin besar. Terbukti krisis ekonomi selama tahun 1998
lalu memberi sejumlah dorongan positif bagi pertumbuhan output (bukan produktivitas) di sektor
tersebut lewat labour market effect, yakni pertumbuhan jumlah unit usaha, pekerja dan pengusaha
akibat meningkatnya jumlah pengangguran (akibat banyak pekerja di sektor formal yang di PHKkan).
Dorongan positif lainnya dari sisi penawaran (produksi) adalah munculnya tawaran dari
sektor formal untuk melakukan mitra usaha atau aliansi dengan sektor informal karena kondisi
memaksa. Dengan lain kata, muncul kesempatan besar untuk melakukan kemitraan atau misalnya
subcontracting antara industri besar dengan industri kecil. Selain itu, krisis ekonomi dengan kondisi
nilai tukar rupiah merosot besar terhadap dollar AS, sebenarnya dapat memberi kesempatan ekspor
lebih besar bagi industri kecil. Walaupun kenyataannya perkembangan ekspor Indonesia secara
umum dan perkembangan industri kecil pada khususnya, tidak terlalu signifikan selama.
Dari sisi permintaan (pasar output), selama sebagian besar penduduk Indonesia
berpendapatan rendah, permintaan terhadap produk-produk (barang maupun jasa) dari sektor
informal tetap besar. Jadi, dapat dikatakan bahwa sektor informal berfungsi sebagai the last resort,
tidak hanya dilihat dari sisi kesempatan kerja (pasar buruh) tetapi juga dari sisi penjaminan
ketersediaan kebutuhan pokok bagi masyarakat miskin (pasar output).
2.8 Arus Perputaran Kegiatan Ekonomi
Pada dasarnya ada dua pihak yang menggerakkan roda pererkonomian, yaitu pihak swasta
dan pemerintah. Dalam pihak swasta kemudian diadakan pembagian menjadi 2 bagian yaitu
individu (rumah tangga konsumen), bussines (rumah tangga perusahaan. Hubungan antara individu
dan bussin
Pengeluaran Konsumsi
Barang dan Jasa
Masyarakat
Perusahaan
Faktor-faktor Produksi
Sumber: Sukirno, 2006
Gambar 2.1
Siklus Aliran Pendapatan
Perusahaan mendapatkan faktor-faktor produksi dari rumah tangga konsumen atau
masyarakat luas. Sehingga sebagai imbalannya, perusahaan akan memberikan pendapatan kepada
rumah tangga konsumen dalam bentuk sewa, upah, bunga, laba. Sesudah faktor-faktor produksi
diolah oleh perusahaan, maka hasil produksi akan disalurkan kepada kosumen dalam bentuk barang
dan jasa. Sebagai imbalannya, konsumen akan membeli barang dan jasa tersebut dengan
pendapatan yang dimilikinya. Gambar di atas juga merupakan sirkulasi aliran pendapatan.
2.9 Pendapatan
Pendapatan adalah pendapatan uang yang diterima dan diberikan kepada subjek ekonomi
berdasarkan prestasi - prestasi yang
dilakukan
diserahkan yaitu berupa pendapatan dari profesi yang
sendiri atau usaha perorangan dan pendapatan dari kekayaan. Dalam buku
mikroekonomi telah diterangkan bahwa, faktor-faktor produksi dibedakan menjadi 4 golongan:
tanah, tenaga kerja, modal dan keahlian keusahawaan. Apabila faktor-faktor produksi ini digunakan
untuk mewujudkan barang dan jasa akan diperoleh berbagai jenis pendapatan, yaitu tanah dan harga
tetap lainnya memperoleh sewa, tenaga kerja memperoleh gaji dan upah, modal memperoleh bunga
dan keahlian keusahawanan memperoleh keuntungan.
Dalam penghitungan pendapatan nasional yang sebenarnya, penggolongan pendapatan
faktor-faktor produksi tidak selalu mengikuti penggolongan pendapatan faktor-faktor produksi
seperti yang dinyatakan diatas. Dengan perkataan lain, pendapatan nasional tidak ditentukan dengan
meghitung dan menjumlahkan seluruh gaji dan upah, sewa, bunga dan keuntungan yang diterima
oleh seluruh faktor-faktor produksi dalam suatu tahun tertentu. Sebabnya adalah Karena dalam
perekonomian terdapat banyak kegiatan dimana pendapatannya merupakan gabungan dari gaji dan
upah, sewa, bunga dan keuntungan.
Contoh dari bentuk pendapatan yang demikian adalah pendapatan yang diperoleh
perusahaan-perusahaan perseorangan. Untuk suatu perusahaan perseorangan (misalnya restoran
yang dikelola anggota keluarga), yang dimaksudkan “keuntungan usahanya” adalah gabungan dari
gaji, upah, bunga, sewa dan keuntungan sebenarnya dari usaha yang dilakukan oleh keluarga
tresebut. Oleh karenanya, penghitungan pendapatan nasional dengan cara pendapatan pada
umumnya menggolongkan pendapatan yang diterima faktor-faktor produksi sebagai berikut
(sukirno, 2006).
1. Pendapatan para pekerja, yaitu gaji dan upah.
2. Pendapatan dari usaha perseorangan (perusahaan perseorangan).
3.
Pendapatan dari sewa.
4. Bunga neto yaitu seluruh nilai pembayaran bunga yang dilakukan dikurangi bunga keatas
pinjaman konsumsi dan bunga ke atas pinjamam pemerintah.
5. Keuntungan perusahaan.
Menurut Biro Pusat Statistik pengertian pendapatan dan penerimaan ialah :
a. Pendapatan faktor yang didistribusikan yang dibagi
lagi menurut sumbernya menjadi
penghasilan sebagai gaji dan upah, penghasilan dari usaha sendiri dan pekerjaan bebas dan
penghasilan dari kepemilikan harta.
b. Transfer yang bersifat redistributif, terutama terdiri dari transfer pendapatan yang tidak
mengikat dan biasanya bukan merupakan imbalan atas penerimaan jasa atau harta milik.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan adalah sebagai berikut:
a. Kesempatan kerja yang tersedia
Semakin banyak kesempatan kerja yang tersedia berarti semakin banyak penghasilan yang
bisa diperoleh dari hasil kerja tersebut.
b. Kecakapan dan keahlian
Dengan bekal kecakapan dan keahlian yang tinggi akan dapat meningkatkan efisiensi dan
efektifitas yang pada akhirnya berpengaruh pula terhadap penghasilan.
c. Motivasi
Motivasi atau dorongan juga mempengaruhi jumlah penghasilan yang diperoleh, semakin
besar dorongan seseorang untuk melakukan pekerjaan, semakin besar pula penghasilan yang
diperoleh.
d. Keuletan bekerja
Pengertian keuletan dapat disamakan dengan ketekunan, keberanian untuk menghadapi
segala macam tantangan. Bila saat menghadapi kegagalan maka kegagalan tersebut dijadikan
sebagai bekal untuk meniti ke arah kesuksesan dan keberhasilan.
e. Banyak sedikitnya modal yang digunakan.
Besar kecilnya usaha yang dilakukan seseorang sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya
modal yang dipergunakan. Suatu usaha yang besar akan dapat memberikan peluang yang besar
pula terhadap pendapatan yang akan diperoleh (Bintari dan Suprihatin, 1984:35). Modal atau
Capital dalam pengertian ekonomi umum mencakup benda-benda seperti tanah, gedung-gedung,
mesin-mesin, alat perkakas, dan barang produktif lainnya untuk suatu kegiatan usaha.
2.10 Modal
Salah satu faktor produksi yang tidak kalah pentingnya adalah modal, sebab didalam suatu
usaha masalah modal mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan berhasil tidaknya suatu usaha
yang telah didirikan. Modal dapat dibagi sebagai berikut :
1. Modal Tetap
Adalah modal yang memberikan jasa untuk proses produksi dalam jangka waktu yang relatif
lama dan tidak terpengaruh oleh besar kecilnya jumlah produksi.
2. Modal Lancar
Adalah modal memberikan jasa hanya sekali dalam proses produksi, bisa dalam bentuk
bahan-bahan baku dan kebutuhan lain sebagai penunjang usaha tersebut.
Dapat dikemukakan pengertian secara klasik, dimana modal mengandung pengertian
sebagai “hasil produksi yang digunakan untuk memproduksi lebih lanjut”. Beberapa pengertian
modal dibawah ini akan memberikan pengertian yang lebih baik, antara lain : pendapat
Schwiedland memberikan pengertian modal dalam artian yang lebih luas, yaitu modal meliputi baik
modal dalam bentuk uang (Geldkapital), maupun dalam bentuk barang atau (Sachkapital), misalnya
mesin barang-barang dagangan dan lain sebagainya.
Modal adalah semua bentuk kekayaan yang dapat digunakan langsung maupun tidak
langsung dalam proses produksi untuk menambah output. Dalam pengertian ekonomi, modal yaitu
barang atau uang yang bersama-sama faktor-faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan
barang-barang dan jasa-jasa baru.
Menurut Suparmoko, modal merupakan input (faktor produksi) yang sangat penting dalam
menentukan tinggi rendahnya pendapatan. Tetapi bukan berarti merupakan faktor satu-satunya yang
dapat meningkatkan pendapatan. Sehingga dalam hal ini modal usaha bagi pedagang informal juga
merupakan salah satu faktor produksi yang mempengaruhi tingkat pendapatan pedagang Informal di
Pajak Sentral Medan.
2.11 Pelaku-Pelaku Kegiatan Ekonomi
Di dalam dunia ini, setiap orang melakukan kegiatan ekonomi yang berbeda dengan yang
lainnya. Tetapi yang penting untuk dijelaskan tidaklah kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang,
tetapi garis besar dari corak kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh berbagai golongan masyarakat.
Untuk mencapai hal itu, maka pelaku-pelaku kegiatan ekonomi dapat dibedakan menjadi
tiga golongan yaitu rumah tangga, peruahaan dan pemerintah. Masing-masing golongan ini dapat
menjalankan peranan yang berbeda-beda dalam suatu perekonomian. Pelaku kegiatan ekonomi
yaitu:
1. Rumah Tangga
Rumah tangga adalah pemilik faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian. Sektor ini
juga menyediakan tenaga kerja dan tenaga usahawan. Selain itu sektor ini memiliki faktor produksi
lainnya yaitu barang-barang modal, kekayaan alam, dan harta tetap seperti tanah dan bangunan.
Mereka akan menawarkan faktor-faktor produksi tersebut kepada perusahaan. Sebagai balas jasa
terhadap penggunaan berbagai jenis faktor produksi ini maka sektor perusahaan akan memberikan
berbagai jenis pendapatan kepada sektor rumah tangga.
Pendapatan ini akan digunakan oleh rumah tangga untuk dua tujuan. Tujuan yang pertama
yaitu membeli berbagai barang dan jasa yang diperlukannya dalam perekonomian yang masih
rendah taraf perkembangannya. Tujuan yang kedua adalah untuk ditabung ataupun disimpan.
Tujuan ini dilakukan untuk mendapatkan bunga atau dividen. Tabungan ini juga berfungsi sebagai
cadangan dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang.
2. Perusahaan
Perusahaan-perusahaan adalah organisasi yang dikembangkan oleh seseorang dengan tujuan
untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sekumpulan orang tersebut
dinamakan
pengusaha,
dimana
mereka
adalah
orang
yang
memiliki
keahlian
atau
kewirausahawanan dan kegiatan mereka dalam perekonomian ialah mengorganisasikan faktorfaktor produksi sedemikian rupa sehingga berbagai jenis barang yang diperlukan oleh rumah tangga
dapat diproduksi dengan baik.
Berdasarkan lapangan usaha yang dijalankan, maka perusahaan-perusahaan yang ada dalam
perekonomian dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu indusri primer, industri sekunder dan
industri tersier. Industri primer adalah perusahaan-perusahaan yang mengolah kekayaan alam dan
mengeksploitir faktor-faktor produksi yang disediakan oleh alam. Industri sekunder meliputi
perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang industri, mendirikan perumahan dan bangunan,
dan menyediakan air, listrik, dan gas. Industri tertier adalah perusahaan-perusahaan yang
menyediakan pengangkutan, menjalankan perdagangan, memberi pinjaman (lembaga-lembaga
keuangan), dan menyewakan bangunan (Sadono Sukirno, 2005).
3. Pemerintah
Pemerintah adalah badan-badan pemerintah yang bertugas untuk mengatur kegiatan
perekonomian. Badan-badan tersebut termasuklah berbagai departemen pemerintah, badan yang
mengatur penenaman modal, bank sentral, parlemen, pemerintah daerah, dan lain sebagainya.
Badan-badan tersebut akan mengawasi kegiatan rumah tangga dan perusahaan agar mereka
melakukan kegiatan dengan cara yang wajar dan tidak merugikan masyarakat secara keseluruhan.
Pemerintah sangat aktif dalam kegiatan perekonomian, oleh Karena itu sektor ekonomi
dapat dibedakan menjadi sektor pemerintah dan sektor swasta. Produksi sektor pemerintah berarti
kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh badan pemerintah sedangkan produksi sektor swasta berarti
hasil-hasil kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh
masyarakat.
Untuk pembiayaannya pemerintah memberikan pajak kepada rumah tangga dan perusahaan.
Secara garis besarnya, pajak yang dipungut oleh pemerintah dapat dibedakan dalam dua golongan
yaitu pajak langsung dan pajak tidak langsung. Pajak langsung adalah pajak yang secara langsung
dipungut atau dibebankan kepada orang-orang atau badan-badan yang memperoleh pendapatan atau
keuntungan dari kegiatan ekonomi.
Yang termasuk pajak langsung adalah pajak pendapatan perseorangan dan pajak perusahaan.
Pajak tidak langsung adalah pajak yang dikenakan tanpa dikaitkan kepada individu atau perusahaan
tertentu. Yang termasuk pajak tidak langsung adalah pembayaran royalti yang dipungut dari
perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi kekayaan alam.
2.12 Mekanisme Pasar
Kemajuan yang telah dicapai dalam perekonomian, terutama perekonomian negara-negara
maju, membuktikan bahwa:
1. Pada umumnya mekanisme pasar adalah sistem yang cukup efisien di dalam mengalokasikan
faktor-faktor produksi dan mengembangkan perekonomian, tetapi 2. Dalam keadaan tertentu, ia
dapat menimbulkan beberapa akibat buruk sehingga diperlukan campur tangan pemerintah untuk
memperbaikinya.
2.12.1 Kebaikan Mekanisme Pasar
Mekanisme pasar dapat mengalokasikan faktor-faktor produksi dengan cukup efisien dan
dapat mendorong perkembangan ekonomi disebabkan karena ia memiliki beberapa kebaikan, yaitu
(Sukirno, 2005):
1. Pasar dapat memberikan informasi yang lebih tepat
Para pengusaha melakukan kegiatan memproduksinya dengan mencari untung. Maka salah
satu pertimbangan yang harus mereka fikirkan sebelum menjalankan usahanya adalah menentukan
jenis barang-barang yang dapat dihasilkan secara menguntungkan. Pasar dapat memberikan
informasi yang sangat berguna, yaitu dengan memberikan keterangan tentang harga barang sampai
dimana besarnya permintaan kepada berbagai barang.
2. Pasar memberi perangsang untuk mengembangkan kegiatan usaha
Keadaan dalam pasar terus-menerus mengalami perubahan. Pertambahan pendapatan,
kemajuan teknologi dan pertambahan penduduk akan mengembangkan permintaan. Hal ini akan
memberikan dorongan kepada pengusaha untuk menambah produksi dan meningkatkan kegiatan
ekonomi.
3. Pasar memberi perangsang untuk memperoleh keahlian modern
Pasar yang semakin meluas berarti lebih banyak barang yang harus diproduksi. Untuk
mempercepat pertambahan produksi, teknologi yang lebih modern akan digunakan dan kemahiran
teknik dan manajemen yang modern diperlukan. Kebutuhan ini akan menjadi perangsang untuk
memperoleh keahlian dan cara memproduksi secara modern.
4. Pasar menggalakkan penggunaan barang dan faktor produksi secara efisien.
Harga suatu barang ditentukan oleh permintaan dan kelangkaannya. Makin besar
permintaan, makin tinggi harganya, dan makin langka penawarannya dan semakin tinggi harganya.
Akibat dari harga yang diatur secara perrmintaan dan kelangkaan ini maka masyarakat akan lebih
berhati-hati dalam menggunakan berbagai jenis barang yang tersedia. Artinya, harga faktor-faktor
produksi yang berbeda, yang penentuannya didasarkan pada permintaan dan tersedianya faktor-
faktor tersebut menyebabkan para pengusaha berusaha untuk menggunakan faktor produksi yang
paling efisien.
5. Pasar memberikan kebebasan yang tinggi kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi
Tidak seorangpun di dalam pasar mendapat suatu tekanan di dalam menjalankan
kegiatannya. Ia bebas untuk membeli berbagai macam barang yang diingininya dan begitu pula ia
mempunyai kebebasan untuk menjual faktor produksi yang dimilikinya kepada pengusahaperusahaan yang menurutnya akan memberikan pembayaran yang paling menguntungkan. Para
pengusaha mempunyai kebebasan yang penuh untuk memilih jenis barang-barang yang akan
diproduksinya dan jenis jenis faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang-barang
tersebut.
2.12.2 Kelemahan Mekanisme Pasar
Sampai saat ini, banyak orang yang tetap memberikan sokongan yang kuat kepada sistem
mekanisme pasar. Mereka berkeyakinan bahwa mekanisme pasar adalah sistem yang paling baik
untuk mengatur kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat. Pada tahun 1980-an dukungan
tersebut dikemukakan lagi oleh seorang ahli ekonomi yang pernah mendapat hadiah nobel yaitu
Milton Friedman.
Dukungan itu dikemukakan dalam buku yang berjudul Free to Choose. Di samping banyak
mendapat dukungan, sistem mekanisme pasar juga mendapat kritikan, yang merupakan kelemahan
dari sistem mekanisme pasar tersebut. Beberapa Kelemahannya yaitu:
1. Kebebasan yang tidak terbatas dapat menindas golongan-golongan tertentu.
Kebebasan dalam melakukan kegiatan erkonomi yang tidak ada batasnya dapat merugikan
yang lemah dan kaum minoritas. Persaingan yang sangat bebas menyebabkan golongan yang kuat
kedudukannya menjadi bertambah kuat lagi, dan golongan mayoritas dapat menindas golongan
minoritas.
2. Kegiatan ekonomi sangat tidak stabil keadaannya.
Mekanisme pasar yang bebas menyebabkan perekonomian selalu mengalami kegiatan naik
turun yang tidak teratur. Pada suatu keadaan tertentu, ia mengalami kemakmuran yang sangat
tinggi, tetapi pada masa berikutnya ia mengalami kemorosotan yang sangat serius. Kegoncangan
seperti ini sangat merugikan masyarakat. Para pengusaha dapat memperoleh untung yang banyak
secara mendadak pada suatu waktu, dan pada masa berikutnya akan mengalami kehancuran. Inflasi
dapat tiba-tiba muncul dan pengangguran yang sangat buruk dapat muncul pada masa berikutnya.
Di beberapa negara yang sering mengalami goncangan seperti ini mencoba untuk menghindarinya
dengan cara menerapkan kebijakan di sektor ekspor-impor, di bidang keuangan, perpajakan, dan di
bidang perbelanjaan pemerintah.
3. Sistem Pasar dapat menimbulkan monopoli.
Tidak selamanya suatu sistem mekanisme pasar merupakan suatu sistem persaingan
sempurna di mana harga dan jumlah barang yang diperjualbelikan ditentukan oleh permintaan
pembeli dan penawaran yang banyak jumlahnya. Dalam perekonomian yang sudah modern,
perusahaan raksasa dapat menguasai pasar. Mereka mempunyai kekuasaan yang sangat besar dalam
menentukan harga dan menentukan jenis dan jumlah barang yang ditawarkan. Mereka selalu
membatasi produksi pada tingkat di mana mereka akan memperoleh laba yang maksimum.
4. Mekanisme pasar tidak dapat menyediakan beberapa jenis barang secara efisien.
Masyarakat secara berasama-sama memerlukan beberapa jasa-jasa tertentu seperti jalan raya
untuk mempertinggi efifsien lalu lintas, angkatan bersenjata dan polisi untuk keamanan dan
ketertiban, dan rumah sakit umum untuk menyediakan jasa kesehatan yang murah. Jasa-jasa
tersebut tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar secara efisien. Untuk dapat menyediakan
jasa-jasa tersebut, diperlukan campur tangan pemerintah.
5. Kegiatan konsumen dan produsen mungkin menimbulkan “eksternalitas” yang merugikan.
Arti eksternalitas dalam hal ini adalah akibat sampingan (baik atau buruk) yang ditimbulkan
dari kegiatan konsumsi dan produksi. Pencemaran udara, kesesakan lalu lintas di kota besar dan
sampah yang dibuang secara tidak teratur dan pencemaran lingkungan adalah beberapa eksternalitas
yang merugikan, yang selalu timbul dalam sistem mekanisme pasar yang sangat bebas.
Eksternalitas yang buruk tersebut memberikan gambaran tentang perbedaan antara
keuntungan pribadi dan keuntungan sosial. Seorang industrialis menggunakan mesin yang canggih
agar dapat memproduksi barang secara lebih efisien, berarti ia telah memaksimumkan
keuntungannya, tetapi mesin tersebut dapat mengotori lingkungan yang dapat merugikan
masyarakat.
Download