hubungan asi eksklusif terhadap perkembangan motorik kasar bayi

advertisement
HUBUNGAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP
PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
BAYI USIA 0-12 BULAN
DI RUMAH SAKIT SYARIF HIDAYATULLAH
TAHUN 2013
Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN
OLEH :
MAULINA SULPI
NIM : 1110103000061
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H/2013M
-
LEMBAR PERI\TYATAAN
Dengan ini penyusun menyatakan bahwa
l.
:
Penelitian ini merupakan hasil karya asli penyusun yang diajukan untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata
I di Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2.
Semua surnber yang penyusun gunakan dalam penulisan
dicantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
ini
di UIN
telah
Syarif
Hidayatullah Jakarta
3.
Jika di kemudian hari terbulcti bahwa karya ini bukan hasil karya asli
penyusun atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, penyusun
bersedia menerima sanksi yang berlaku di
UIN Syarif Hidayatutlah Jakarta
O9-September 2013
LT]MTIAR PERSI!] IUJ UAN PT]MIIIMIIING
HT]BIINGAI\I ASI EKSKLUSM TE,RIIADAP PERKEMBAI\IGAI\I
MOTORIK KASAR BAYT USIA O.I2 BUI,AN DI RIJMAH SAKIT
SYARTT HIDAYATULLAH TAIIT]N 2013
Laporan Penelitian
Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Kedokteran (S.Ked)
Oleh:
Maulina Sulpi
NIM: 1110103000061
Peqrbimbing 2
t#n"art
dr.Riva
Silvia f itrlna'Gution, M.Biomed
M. Kes
PROGRAM STUDi PENDTDTKAN DoK't'r,R
FAKI]LTAS KEDOKTERAN DAT\I ILMU KESEHATAIT
UNTVf,RSITAS ISLAM NEGERI
SYARE HIDAYATT]LLAIT
JAKARTA
u34Hn013 M
iii
-t
LEMBAR PENGESAIIAN
ASI EKSI(LUSItr' TERIIADAP
MOTORIK
KASAR
BAYI USIA 0.12 BULAN DI
PERKEMBAIIGAI\I
RUMAII SAKIT SYARIF IIIDAYATTiLLAH TAHUN 2013 yang diajukan
oleh'Maulina Sulpi (NIM: 1110103000061), telah diujikan dalam sidang df
Laporan Penelitian berjudul HUBUNGAIY
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan pada 09 September 2013. Laporan
penelitian ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana
Kedokteran (S.ked) pada Program Studi Pendidikan Dokter.
Ciputat, 09 September 2013
DEWAI\ PENGUJI
ution, M.Biomed
Pemb
bing
I
pmbimbing 2
?
dr.RivaAu
.A, M. Kes
Penguji
Silvia Fitrfrra Nasution, M.Biomed
I
Penguji 2
M
dr.Yanti Susianti, Sp.A
dr.Achmad Zaki, Sp.OT, M.Epid
PIMPINAII FAKULTAS
DEKAI\ FKIK UIN
KAPRODI PSPD F'KIK UIN
lrl
-
-'v
Prof. Dr(hc). dr. MK. Tadjudin, Sp.And
dr.WitriArdini, Sp.GK, M.Gizi
IV
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya
HUBUNGAN
sehingga
ASI
dapat
menyelesaikan
EKSKLUSIF
penelitian
TERHADAP
yang
berjudul
PERKEMBANGAN
MOTORIK KASAR BAYI USIA 0-12 BULAN DI RUMAH SAKIT SYARIF
HIDAYATULLAH TAHUN 2013.Shalawat serta salam saya sampaikan kepada
nabi besar Muhammad SAW, suri tauladan kita dengan sebaik-baiknya akhlak.
Penulisan laporan penelitian ini saya susun dalam rangka memenuhi syarssat
kelulusan memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) pada Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.Oleh karena itu saya mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Prof. DR. (hc). Dr. M.K. Tadjudin, Sp.And sebagai Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syaruf Hidayatullah Jakarta.
2. dr.Witri Ardini, Sp.GK,M.Gizi sebagai Ketua Program Studi Pendidikan
Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syaruf Hidayatullah
Jakarta.
3. dr. Riva Auda, Sp.A, M.Kes sebagai dosen pembimbing I dan Ibu Silvia
Fitrina Nasution, M.Biomed sebagai dosen pembimbing II yang telah
banyak
menyempatkan
waktu
dalam
membimbing
saya
untuk
menyelesaikan penelitian ini.
4. Direktur serta semua staf RS Syarif Hidayatullah yang sudah memberikan
izin dan membantu saya untuk melakukan penelitian ini sampai selesai di
RS Syarif Hidayatullah.
v
5. Pasien dan orang tua yang sudah bersedia dan bekerja sama menjadi
responden dalam penelitian ini.
6. Kedua orang tuaku tersayang H.Syamsul Bahri dan Hj.Gusti Rohmaniyang
senantiasa mendoakan dan memberikan dukungan moril, materi kepada
saya sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian ini tepat waktu.
7. Kepada keluarga saya yang selalu memberi dukungan kepada saya untuk
menyelesaikan penelitian ini.
8. Teman-teman sekelompok penelitian yang senantiasa saling membantu
memberi masukan dan mengajari satu sama lain sehingga dapat
menyelesaikan penelitian ini.
9. Seluruh teman sejawat mahasiswa Pendidikan Dokter angkatan 2010 yang
selalu bersama-sama menempuh pendidikan selama ini.
Akhir kata saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan
dari semua pihak yang telah membantu saya menyelesaikan penelitian
ini.Semoga penelitian ini dapat membawa manfaat bagi perkembangan
ilmu khususnya dalam bidang kedokteran.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Jakarta, 09 September 2013
Maulina Sulpi
vi
ABSTRAK
Maulina Sulpi. Program Studi Pendidikan Dokter. Hubungan Asi eksklusif
terhadap perkembangan motorik kasar pada bayi usia 0-12 bulan di Rumah
Sakit Syarif Hidayatullah tahun 2013.
Bayi yang diberikan ASI eksklusif mempunyai perkembangan motorik
kasar yang sesuai dengan perkembangan usianya. Hasil penelitian sebelumnya
melaporkan bahwa 91,7 % responden usia 0-6 bulan yang diberikan ASI
eksklusif mengalami perkembangan motorik kasar yang normal. Data mengenai
hal ini terutama di wilayah Tangerang Selatan sangat terbatas, sehingga perlu
dilakukan penelitian untuk memberikan informasi yang jelas mengenai hubungan
kedua faktor tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan ASI
eksklusif terhadap perkembangan motorik kasar pada bayi usia 0-12 bulan di RS
Syarif Hidayatullah tahun 2013.
Penelitian ini bersifat analitik deskriptif dengan rancangan cross-sectional.
Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dengan
menggunakan kuesioner dan wawancara. Kriteria sampel pada penelitian ini
adalah semua bayi usia 0-12 bulan yang berobat atau berkunjung ke RS Syarif
Hidayatullah pada tahun 2013, dan didapatkan 125 sampel yang memenuhi
kriteria tersebut.
Analisa data secara deskriptif menunjukkkan 53,5% responden yang
diberi ASI non eksklusif mengalami penyimpangan perkembangan motorik kasar,
sedangkan 59.8% responden yang diberi ASI eksklusif mengalami perkembangan
motorik kasar normal.Hasil Uji Chi Square dengan nilai p>0.005 menunjukkan
tidak ada perbedaan bermakna antara responden yang diberi ASI eksklusif dan
ASI non eksklusif dengan perkembangan motorik kasarnya. Kesimpulan dari
penelitian ini adalah bahwa ASI eksklusif tidak berhubungan dengan
perkembangan motorik kasar pada bayi usia 0-12 bulan di RS Syarif Hidayatullah.
Kata Kunci : bayi 0-12 bulan, ASI eksklusif, perkembangan motorik kasar
vii
ABSTRACT
Maulina Sulpi. Medical Education Program. The correlation between ASI
exclusive and gross motor development in babies of age 0-12 month at Syarif
Hidayatullah Hospital in 2013.
It was reported that babies given ASI exclusive has performed normal
development of gross motor as their age developed. Previous study has reported
that 91.7% babies of age 0-6 month given ASI exclusive showed normal
development in their gross motor. Related data about it has lack reported
particularly in South Tangerang district, hence it is important to conduct the study
to provide information about it. The purpose of the study is to investigate the
correlation between ASI exclusive and gross motor development in babies of age
0-12 month at RS Syarif Hidayatullah in 2013.
The Analytical descriptive study was designed in cross-sectional. Sample
method was performed in consecutive sampling by questioner and interview.
Criteria of the sample is babies of age 0-12 month and visiting the Syarif
Hidayatullah hospital in 2013. Samples collected are 125 matched with the
criteria. Descriptively, the data showed 53.5% respondent of non ASI exclusive
has performed retarded development of gross motor, and 59.8% respondent of
ASI exclusive has performed normal development of gross motor. The p Chi
Square test is >0.005 showed no significant different between ASI and gross
motor development. The study conclude that ASI exclusive has no correlation
with the development of gross motor in babies of age 0-12 month at RS Syarif
Hidayatullah in 2013.
Keywords : Babies of age 0-12 month, ASI exclusive , Gross motor development.
viii
DAFTAR ISI
JUDUL………………………………………………………………………….... i
LEMBAR PERNYATAAN ..................................... Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ........ Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PENGESAHAN ..................................... Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR ........................................................................................... v
ABSTRAK............................................................................................................vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii
DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiv
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah...................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 1
1.3 Hipotesis.........................................................................................................2
1.4 Tujuan Penelitian............................................................................................2
1.4.1 Tujuan Umum.......................................................................................... 2
1.4.2 TujuanKhusus ......................................................................................... 2
1.5 Manfaat Penelitian..........................................................................................2
BAB II.....................................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................3
2.1 ASI................................................................................................................3
2.1.1 Pengertian ASI........................................................................................3
2.1.2 ASI eksklusif dan manfaatnya ................................................................3
2.1.3 Nutrisi yang terkandung dalam ASI .......................................................5
2.1.4 Cara pemberian ASI.................................................................................9
2.1.5 ASI dalam Islam....................................................................................11
2.2 Perkembangan ...........................................................................................12
2.2.1 Ciri dan aspek Perkembangan ...............................................................12
2.2.2 Empat aspek Perkembangan.................................................................13
2.2.3 Penilaian Perkembangan........................................................................14
2.2.4 Perkembangan motorik dan keterlambatan perkembangannya..............20
2.2.5 ASI eksklusif dengan Perkembangan Motorik .....................................21
2.3 Kerangka Teori..............................................................................................21
2.4 Kerangka Konsep ........................................................................................ 22
2.5 Definisi Operasional .................................................................................... 23
ix
BAB III ................................................................................................................. 25
METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................ 25
3.1 Desain Penelitian ........................................................................................ 25
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................................... 25
3.3 Populasi dan Sampel ................................................................................... 26
3.4 Kriteria Penelitian ........................................................................................ 26
3.4.1 Kriteria Inklusi ...................................................................................... 26
3.4.2 Kriteria Eksklusi ................................................................................... 26
3.5 Besar Sampel ................................................................................................ 26
3.6 Cara Pengambilan Sampel............................................................................27
3.7 Alur Penelitian .............................................................................................27
3.8 Managemen Data ......................................................................................... 27
3.8.1 Pengumpulan Data ................................................................................ 27
3.8.2 Pengolahan Data ................................................................................... 27
3.8.3 Analisis Data ......................................................................................... 28
3.8.4 Penyajian Data ...................................................................................... 28
BAB IV ................................................................................................................. 29
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................... 29
4.1 Karakteristik Subyek Penelitian .................................................................. 29
4.2 Analisa Hipotesis ......................................................................................... 32
BAB V................................................................................................................... 34
SIMPULAN DAN SARAN ................................................................................. 34
5.1 Simpulan ...................................................................................................... 34
5.2 Saran ............................................................................................................ 34
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 35
LAMPIRAN……………………………………………………………………..38
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Definisi Operasional..............................................................................23
Tabel 3.1 Matriks Kegiatan Penelitian..................................................................25
Tabel 4.1 Distribusi Kategori Subyek Penelitian..................................................29
Tabel 4.2 Analisis silang ASI dan Perkembangan Motorik Kasar...................31
Tabel 4.3Tabel Chi-square ASI pada Perkembangan Motorik Kasar..............32
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Gambar 2.
Gambar 3.
Gambar 4.
Gambar 5.
Cara Menyusui yang benar..................................................................10
Cara Menyusui yang Salah..................................................................10
Kerangka Teori....................................................................................21
Kerangka Konsep................................................................................22
Alur Penelitian.....................................................................................27
xii
DAFTAR SINGKATAN
WHO
RS
ASI
MP-ASI
ARA
DHA
KPSP
SSP
RISKESDAS
IQ
HSQ
DDST
: World Health Organization
: Rumah Sakit
: Air Susu Ibu
: Makanan Pendamping ASI
: Asam Arakidonat
: Asam Dokosaheksanoik
: Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
: Sistem Saraf Pusat
: Riset Kesehatan Dasar
: Intelligence Quotient
: Home Screening Questionaire
: Denver Development Screening Test
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.1 Jumlah Subyek Berdasarkan Usia..................................................38
Lampiran 1.2 Jumlah Subyek Berdasarkan jenis kelamin....................................38
Lampiran 1.3 Jumlah Subyek Berdasarkan Penghasilan Orang Tua.....................38
Lampiran 1.4 Jumlah Subyek Berdasarkan Pekerjaan Ibu.....................................39
Lampiran 1.5 Jumlah Subyek berdasarkan ASI.....................................................39
Lampiran 1.6 JumlahSubyek berdasarkan Perkembangan Motorik kasar.............39
Lampiran 1.7 Crosstabulasi Jenis kelamin dengan Perkembangan Motorik
Kasar......................................................................................................................40
Lampiran 1.8 Crosstabulasi Umur Responden dengan Perkembangan Motorik
kasar.......................................................................................................................41
Lampiran 1.9 Crosstabulasi Penghasilan Orangtua dengan Perkembangan Motorik
kasar.......................................................................................................................42
Lampiran 1.10 Crosstabulasi Pekerjaan Ibu dengan Perkembangan Motorik
kasar.......................................................................................................................43
Lampiran 1.11 Crosstabulasi ASI Eksklusif dengan Perkembangan Motorik
kasar.......................................................................................................................44
Lampiran 1.12 Uji Chi-Square...............................................................................44
Lampiran 2.1 Informed Consent............................................................................45
Lampiran 2.2 Kuesioner.........................................................................................46
Lampiran 3.1 Daftar Riwayat Hidup......................................................................51
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010 di Indonesia
didapatkan pemberian ASI (Air Susu Ibu) baru mencapai 15,3 % dan pemberian
susu formula terjadi peningkatan tiga kali lipat dari 10,3 % menjadi 32,5 %. Ini
terjadi karena rendahnya kesadaran masyarakat untuk mendorong peningkatan
pemberian ASI yang masih relatif rendah, termasuk didalamnya kurangnya
pengetahuan ibu hamil, keluarga, dan masyarakat akan pentingnya ASI.1
Rendahnya pemberian ASI merupakan masalah yang dapat mengancam
perkembangan anak. Padahal yang kita ketahui bahwa ASI mempunyai banyak
keunggulan seperti nutrisi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan bayi.2
Pemberian ASI eksklusif berarti seorang ibu harus menyusui bayi secara
murni dalam jangka waktu 0 sampai 6 bulan, karena ASI itu sendiri mempunyai
banyak manfaat seperti meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi angka
morbiditas dan mortalitas, serta mendekatkan hubungan antara ibu dan bayi
sehingga menimbulkan rasa kasih sayang, kepercayaan, dan perasaan aman pada
bayi.2
Permasalahan kesehatan pada bayi yang berkaitan dengan ketidak
normalan perkembangan motorik kasar anak, juga telah dilaporkan terjadi di
wilayah Labang Bangkalan Madura dengan hasil menunjukkan 91,7 % responden
yang diberi ASI eksklusif perkembangan motorik kasarnya normal.3 Data
penelitian mengenai hal ini terutama di wilayah Tangerang Selatan sangat
terbatas. Untuk itu, peneliti melakukan pengambilan data di bagian anak Rumah
Sakit Syarif Hidayatullah secara cross-sectional tentang pemberian ASI oleh ibu
beserta status perkembangan motorik kasar pada bayi usia 0-12 bulan
yang
berkunjung ke RS tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Rendahnya pemberian ASI merupakan masalah yang dapat mengancam
perkembangan motorik kasar anak. Dari hasil yang telah dilaporkan di wilayah
1
2
Labang Bangkalan Madura menunjukkan 91,7 % responden yang diberi ASI
eksklusif perkembangan motorik kasarnya normal.3 Apakah terdapat hubungan
pemberian ASI eksklusif terhadap perkembangan motorik kasar bayi usia 0-12
bulan di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013?
1.3 Hipotesis
Pemberian ASI eksklusif berhubungan terhadap perkembangan motorik
kasar normal pada bayi usia 0-12 bulan di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013.
1.4 TujuanPenelitian
1.4.1 TujuanUmum
Mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dan non eksklusif
terhadap perkembangan motorik kasar bayi usia 0-12 bulan di Rumah Sakit Syarif
Hidayatullah tahun 2013.
1.4.2 TujuanKhusus
1. Mengetahui persentase bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan non
eksklusif di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013.
2. Untuk mengetahui persentase bayi usia 0-12 bulan berdasarkan kelompok
usia dan perkembangan motorik kasar.
3. Untuk mengetahui persentase bayi usia 0-12 bulan yang diberi ASI
ekslusif dan ASI non eksklusif.terhadap perkembangan motorik kasarnya.
4. Mengetahui hubungan antara ASI eksklusif dengan perkembangan motorik
kasar pada bayi usia 0-12 bulan di RS Syarif Hidayatullah tahun 2013.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi
tambahan tentang manfaat ASI terhadap perkembangan motorik kasar dan
kasusnya di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ASI Eksklusif
2.1.1 Pengertian ASI
ASI merupakan emulsi lemak dalam larutan laktosa, protein dan garam-garam
anorganik yang disekresi oleh kedua kelenjar mamma dari ibu, yang berguna
untuk makanan bayinya. ASI adalah makanan yang mudah didapat, siap diminum
tanpa adanya persiapan khusus dengan temperatur yang sesuai dengan bayi dan
selalu tersedia. ASI mempunyai kandungan gizi yang sempurna dan lengkap
untuk kebutuhan bayi serta mengandung zat antibodi. Oleh sebab itu ASI
merupakan satu-satunya makanan yang paling cocok dan terbaik untuk bayi.4
2.1.2
ASI eksklusif dan manfaatnya
Asi eksklusif adalah pemberian ASI secara murni tanpa pemberian cairan
lain seperti air putih atau susu formula. Pemberian ASI eksklusif dianjurkan untuk
jangka waktu empat sampai 6 bulan.5 Menurut WHO (World Health Organization)
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa tambahan makanan padat atau cairan
apapun kecuali mineral, vitamin, atau obat dalam bentuk sirup atau pun tetes
sampai usia 6 bulan.6
Manfaat pemberian ASI eksklusif pada bayi sangat banyak antara lain :
a. ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh
Secara alamiah bayi yang baru lahir mendapat imunoglobulin dari ibunya
melalui plasenta, tetapi kadar tersebut menurun dengan segera setelah
kelahiran. Badan bayi dengan alamiah akan memproduksi imunoglobulin
secara cukup saat mencapai usia sekitar empat bulan. Pada saat kadar
imunoglobulin dari ibu menurun dan yang dibentuk oleh bayi belum
mencukupi, terjadilah suatu kesenjangan immunoglobulin. Kesenjangan
ini dapat diatasi dengan pemberian ASI. ASI merupakan cairan yang
3
4
mengandung zat anti bodi sehingga menjadi pelindung untuk terpaparnya
penyakit infeksi bakteri, virus dan mikroorganisme lainnya.5
b. ASI merupakan nutrisi yang terbaik
ASI adalah makanan yang paling sempurna baik kualitas maupun
kuantitas. ASI merupakan sumber gizi yang ideal dengan komposisi yang
sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dengan
melaksanakan tata cara menyusui dengan tepat dan benar, produksi ASI
sudah cukup menjadi makanan tunggal untuk bayi hingga usia 6 bulan.
Setelah bayi berusia 6 bulan harus mulai diberi makanan pendamping atau
tambahan, tetapi ASI masih dapat diteruskan hingga usia 2 tahun atau
lebih.5
c. ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusui akan
merasakan kasih sayang dari ibunya. Ia juga akan merasa nyaman dan
tentram karena masih dapat mendengar detak jantung ibunya yang telah ia
kenal sejak berada di dalam kandungan. Perasaan disayangi dan
terlindungi inilah yang akan menjadi dasar spiritual dan membentuk
kepribadian percaya diri yang baik serta perkembangan emosi bayi.7
d. ASI eksklusif mengembangkan kecerdasan
Perkembangan kecerdasan otak anak sangat berkaitan erat dengan
pertumbuhan otak. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan otak adalah
nutrisi yang diterima oleh bayi saat pertumbuhan otak, terutama saat
pertumbuhan otak beralangsung dengan cepat. ASI merupakan nutrien
ideal dengan komposisi yang tepat dan sesuai kebutuhan bayi serta
mengandung berbagai nutrien khusunya nutrien yang diperlukan bagi
pertumbuhan optimal bayi.5
e. ASI mengandung zat laktoferin yang mengikat ASI, sehingga selama di
usus tidak ada zat besi yang hilang.5
5
2.1.3
Nutrisi yang terkandung dalam ASI
Seperti halnya nutrisi pada umumnya, ASI mengandung komponen makro dan
mikro nutrien. Yang termasuk makro nutrien adalah karbohidrat, lemak dan
protein sedangkan mikro nutrien adalah mineral dan vitamin. ASI hampir 90%
mengandung air. Komposisi dan volume nutrien bergantung pada kebutuhan bayi.
Dibawah ini akan diuraikan mengenai nutrisi yang terkandung didalam ASI :8
a. Karbohidrat
Karbohidrat yang utama terkandung dalam ASI adalah laktosa yang berfungsi
untuk sumber energi dalam otak. Kadar laktosa pada ASI lebih banyak 2x
lipat dibandingkan dengan susu formula atau susu sapi. Kadar karbohidrat
pada kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi meningkat terutama laktosa pada
ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Sesudah melewati masa itu maka
kandungan karbohidrat didalam ASI relatif stabil.8
b. Protein
Kadar protein dalam ASI cukup tinggi dan berbeda dengan protein yang
terdapat didalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri dari
protein whey dan casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein
whey yang lebih mudah untuk diserap usus halus, sedangkan casein lebih
banyak ditemukan pada susu sapi yang susah untuk dicerna oleh usus halus.
Kadar casein di dalam susu sapi mencapai 80% dibanding ASI yang
mengandung protein casein 20 %. Kadar beta laktoglobulin, yaitu fraksi dari
protein whey tidak terdapat di dalam ASI dan banyak terdapat pada susu sapi.
Beta laktoglobulin merupakan jenis protein yang dapat menyebabkan
terjadinya alergi.8
Kualitas protein ASI juga dapat terlihat dari profil asam amino (unit yang
membentuk protein). ASI mempunyai jenis asam amino yang lebih lengkap
dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya asam amino taurin, merupakan
asam amino yang berperan pada perkembangan otak. Taurin ini juga sangat
6
dibutuhkan oleh bayi prematur, karena kemampuan bayi prematur untuk
membentuk protein ini sangat rendah.8
ASI juga kaya nukleotida (berbagai jenis senyawa organik yang tersusun atas
3 jenis yaitu karbohidrat, nitrogen dan fosfat). Selain itu kualitas dan jumlah
nukleotida ASI lebih tinggi dibandingkan susu sapi. Nukleotida ini berfungsi
untuk meningkatkan kematangan dan pertumbuhan usus, merangsang bakteri
baik di dalam usus dan meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh.8
c. Lemak
Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibandingkan di dalam susu formula
atau susu sapi. Kadar lemak yang tinggi dibutuhkan untuk pertumbuhan otak
pada masa bayi. Profil lemak dalam ASI berbeda dengan susu formula.
Lemak omega 3 dan 6 banyak ditemukan didalam ASI. Selain itu juga
mengandung banyak asam lemak rantai panjang yaitu ARA(Asam
Arakidonat) dan DHA
(Asam Dokosaheksanoik) yang berperan penting
pada perkembangan saraf dan retina mata.8
Susu formula atau sapi tidak mengandung komponen tersebut, oleh karena itu
ditambahkan DHA dan ARA. Tetapi sumber yang ditambahkan di susu
formula tidak sebaik yang terdapat didalam ASI. Jumlah lemak total di dalam
kolostrum lebih sedikit dibandingkan ASI matang, tetapi mempunyai
presentasi asam lemak rantai panjang yang tinggi.8
ASI juga mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh, berbeda dengan
susu formula yang hanya mengandung asam lemak jenuh. Seperti kita ketahui
bahwa konsumsi asam lemak jenuh dalam waktu lama dan jumlah yang
banyak tidak baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.8
7
d. Karnitin
Karnitin mempunyai peran dalam membantu proses pembentukan energi
yang diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh. Konsentrasi
karnitin pada bayi yang mendapatkan ASI lebih tinggi dibandingkan yang
mendapat susu formula. ASI mengandung kadar karnitin lebih tinggi pada 3
minggu pertama menyusui, bahkan didalam kolostrum kadar karnitin lebih
tinggi lagi.8
e. Vitamin
Vitamin K
Vitamin K dibutuhkan sebagai faktor pembekuan. Kadar vitamin K ASI
seperempatnya kadar dalam susu formula. Bayi yang hanya mendapat ASI
lebih berisiko terjadinya perdarahan, walaupun kasus perdarahan jarang
terjadi. Oleh sebab itu pada umumnya bayi baru lahir diberikan vit K dalam
bentuk suntikan.8
Vitamin D
Vitamin D sedikit terkandung di dalam ASI. Hal ini tidak dikhawatirkan
karena dengan menjemur bayi dipagi hari maka bayi akan mendapat vitamin
D yang berasal dari matahari. Sehingga pemberian ASI eksklusif ditambah
dengan membiarkan bayi terpapar sinar matahari untuk mencegah bayi
kekurangan vitamin D.8
Vitamin E
Fungsi vitamin E adalah untuk ketahanan dinding sel darah merah.
Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan terjadinya kekurangan darah
(anemia hemolitik). Keuntungan ASI adalah kandungan vitamin E nya tinggi
terutama ada kolostrum dan ASI transisi awal.8
8
Vitamin A
Vitamin A berfungsi untuk pertumbuhan, kekebalan tubuh, pembelahan sel
dan kesehatan mata. ASI tidak saja mengandung vitamin A yang tinggi tetapi
juga bahan bakunya yaitu beta karoten. Hal ini yang menerangkan bahwa
bayi yang mendapatkan ASI mempunyai tumbuh kembang dan daya tahan
tubuh yang tinggi.8
Vitamin yang larut dalam air
Vitamin yang larut dalam air seperti asam folat, vitamin B, vitamin C hampir
semua terdapat di dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh
terhadap kadar vitamin di dalam ASI. Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi
dalam ASI tetapi kadar vitamin B6, B12, asam folat rendah pada ibu dengan
gizi kurang. Vitamin B12 cukup didapat dari makanan sehari-hari kecuali ibu
menyusui yang vegetarian. Sedangkan vitamin B16 dibutuhkan pada tahap
awal perkembangan sel saraf maka ibu yang menyusui perlu ditambahkan
vitamin ini.8
f. Mineral
Mineral di dalam ASI mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada susu
formula. Kadar mineral di dalam ASI tidak dipengaruhi oleh makanan yang
dikonsumsi dan status gizi ibu.8
Mineral utama yang terdapat di dalam ASI adalah kalsium yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan jaringan otot dan rangka. Transmisi jaringan saraf, dan
pembekuan darah. Walaupun kadar kalsium ASI lebih rendah dari pada susu
formula tetapi tingkat penyerapannya lebih tinggi. Penyerapan kalsium ini
dipengaruhi oleh kadar fosfor, magnesium, lemak dan vitamin D. Perbedaaan
kadar lemak dan mineral diatas dapat menyebabkan perbedaan tingkat
penyerapan. Kekurangan kadar kalsium darah dan kejang otot lebih banyak
ditemukan pada bayi yang mengkonsumsi susu formula atau susu sapi.8
9
Bayi yang mendapat ASI mempunyai resiko lebih kecil untuk mengalami
kekurangan zat besi. Hal ini disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASI
lebih mudah diserap, yaitu 20-50% dibandingkan 4-7% susu formula.
Keadaan ini tidak perlu dikhawatirkan karena pada usia 6 bulan dapat
diberikan makanan padat yang mengandung zat besi.8
Mineral zink yang dibutuhkan oleh tubuh karena berperan membantu proses
metabolisme. Salah satu penyakit yang timbul karena kekurangan mineral
adalah acrodermatitis enterophatica dengan gejala diare kronis, kemerahan
pada kulit, gelisah dan gagal tumbuh kembang. Kadar zink menurun cepat
dalam waktu 3 bulan menyusui. Seperti halnya pada zat besi, kadar mineral
rendah dalam ASI tetapi penyerapannya lebih tinggi. Mineral yang juga
tinggi terdapat di dalam ASI adalah selenium, yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan cepat anak.8
2.1.4
Cara pemberian ASI
Agar proses menyusui dapat optimal maka seorang ibu harus memiliki
keterampilan menyusui. Cara menyusui yang baik meliputi posisi menyusui dan
perlekatan bayi pada payudara ibu dengan tepat.8
a. Posisi menyusui
Posisi menyusui yang baik haruslah senyaman mungkin, dapat dilakukan
dengan posisi duduk, ataupun berbaring. Posisi yang kurang tepat dapat
menghasilkan perlekatan yang tidak baik pada payudara ibu. Posisi dasar pada
menyusui meliputi posisi badan ibu, posisi badan bayi serta posisi mulut bayi
dan payudara ibu. Posisi badan ibu saat menyusui dapat dengan posisi duduk,
posisi tidur miring dan posisi tidur telentang. Saat menyusui, bayi harus
disanggah sehingga kepala lurus ke depan menghadap ibu dengan hidung
menghadap ke puting dan badan bayi menempel pada badan ibu. Bibir bawah
bayi disentuhkan ke puting, tunggu sampai mulut bayi terbuka lebar dan
10
secepatnya dekatkan bayi ke payudara dengan cara menekan bahu dan
punggung bayi. Arahkan puting susu ke atas, lalu masukkan ke mulut bayi
dengan menyusuri langit-langitnya.8
Masukan payudara ibu sebanyak mungkin ke dalam mulut bayi sehingga
hanya sedikit areola bagian bawah terlihat dibandingkan areola bagian atas.
Bibir bayi memutar keluar, dagu bayi menempel pada payudara dan puting
susu terlipat di bawah bibir atas bayi.8
Posisi ibu menyusui yang benar adalah sebagai berikut :8
(1) Posisi muka bayi menghadap ke arah payudara
(2) Perut/dada bayi menempel pada perut/dada ibu
(3) Seluruh badan bayi menghadap ke badan ibu sehingga telinga bayi
membentuk garis lurus dengan lengan dan leher bayi
(4) Seluruh punggung bayi tersangga degan baik
(5) Ada kontak mata antara ibu dan bayi
(6) Pegang belakang bahu, jangan kepala bayi
(7) Kepala terletak di lengan bukan di daerah siku ibu
Gambar 1. Cara menyusui yang benar
(sumber : IDAI 2008)8
Gambar 2. Cara menyusui yang salah
11
b. Perlekatan bayi pada payudara ibu
Agar bayi dapat menghisap secara efektif, maka bayi harus mengambil cukup
banyak payudara ke dalam mulutnya agar lidah bayi dapat memeras sinus
laktiferus.
Tanda perlekatan bayi dan ibu adalah sebagai berikut :
(1) Dagu bayi menyentuh payudara ibu
(2) Mulut bayi terbuka lebar
(3) Bibir bawah terputar keluar
(4) Lebih banyak areola bagian atas dibandingkan areola bagian bawah
(5) Tidak menimbulkan rasa sakit pada puting susu
Jika bayi tidak melekat dengan baik pada payudara ibu maka akan menimbulkan
rasa nyeri dan luka pada puting susu dan payudara akan membengkak karena ASI
tidak keluar dengan efektif. Bayi merasa tidak puas dan ingin menyusu lebih
serring dan lama. Bayi akan mendapat ASI lenih sedikit lambat laun akan
berakibat pada berat badan bayi yang tidak naik dan ASI akan mengering.8
2.1.5
ASI dalam Islam
ASI mempunyai beberapa manfaat yang sangat baik untuk bayi, tidak
hanya sisi medis yang menganjurkan untuk memberi ASI tetapi Islam juga sudah
mengatur dalam Al-qur’an surat Al-Baqoroh ayat 233 yaitu :9
12
Artinya : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah
memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seorang tidak
dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Jangan lah seorang ibu
menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan
warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum
dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada
dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain,
maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah maha
mwlihat apa yang kamu kerjakan”
2.2 Perkembangan
2.2.1
Ciri dan aspek perkembangan anak
Perkembangan adalah proses maturasi/pematangan organ tubuh termasuk
berkembangnya mental/intelegensi serta prilaku anak.10 Menurut Depkes
(Departemen Kesehatan) perkembangan merupakan proses dari interaksi
kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, seperti
perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi.
Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.11
Proses perkembangan anak memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut :10
(1) Perkembangan menimbulkan perubahan
Perkembangan
terjadi
bersamaan
dengan
pertumbuhan.
Setiap
pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Contohnya perkembangan
intelegensi seorang anak akan menyertai pertumbuhan serabut saraf dan
otak.
13
(2) Perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Perkembangan akan mempunyai kecepatan berbeda-beda, baik dalam
perkembangan fungsi organ maupun perkembangan pada masing-masing.
(3) Perkembangan tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya
Setiap anak akan dapat melewati satu tahap perkembangan apabila ia
sudah melewati tahap sebelumnya.
(4) Perkembangan berkolerasi dengan pertumbuhan
Pada saat pertumbuhan berlangsung dengan cepat, perkembangan pun
demikian terjadi peningkatan memori, daya nalar, mental, dan asosiasi.
Anak sehat bertambah umur, bertambah berat badan dan tinggi badannya
serta bertambah pula kepandaiannya.
(5) Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ mempunyai hukum yang tetap, yaitu :
(a) Perkembangan terjadi terlebih dahulu didaerah kepala, kemudian
menuju kearah anggota tubuh
(b) Perkembangan terjadi terlebih dahulu di daerah proksimal (gerak
kasar) lalu perkembangan ke bagian distal seperti jari-jari yang
mempunyai gerak halus.
2.2.2
Empat Aspek perkembangan
Aspek-aspek dalam perkembangan meliputi :
a. Motorik kasar atau gerak kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan
otot-otot besar seperti duduk, berdiri, berjalan dan sebagainya.12
b. Motorik halus atau gerakan halus adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi
14
yang cermat seperti mengamati sesuatu, menulis, menjimpit, dan
sebagainya.12
c. Bahasa adalah aspek kemampuan untuk memberikan respon terhadap
suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan.10
d. Kepribadian atau tingkah laku sosial adalah aspek yang berhubungan
dengan kemampuan mandiri, berinteraksi dengan lingkungan serta
bersosialisasi.10
2.2.3
Penilaian perkembangan
Pada saat ini berbagai metode deteksi dini untuk mengetahui gangguan
perkembangan anak telah dibuat. Deteksi dini kelainan perkembangan anak sangat
berguna, sehingga perkembangan anak berlangsung dengan optimal. Penting
dipahami bahwa dengan skrining dan mengetahi adanya masalah pada
perkembangan anak, tidak berarti bahwa diagnosis pasti dari kelainan tersebut
telah ditetapkan. Skring hanyalah prosedur rutin dalam memeriksa perkembangan
anak sehari-hari, yang memberikan petunjuk bahwa ada sesutau yang perlu
mendapat perhatian. Maka dari itu diperlukan anamnesis yang baik, pemeriksaan
fisik yang teliti dan pemeriksaan penunjang lainnya, agar intervensi dan
pengobatan dapat dilakukan sebaik- baiknya.10,13
Tujuan penilaian perkembangan anak adalah untuk mengetahui kelainan
perkembangan anak dan hal-hal lain yang merupakan faktor resiko terjadinya
kelainan perkembangan tersebut, mengetahui berbagai masalah perkembangan
yang memerlukan pengobatan atau konseling genetik serta mengetahui kapan
anak perlu dirujuk.10,13
a. Tahap-tahap penilaian perkembangan anak 10,13
1. Anamnesis
Tahap yang pertama melakukan anamnesis sebaik mungkin dan
lengkap. Karena kelainan perkembangan dapat disebabkan oleh
berbagai faktor. Dengan anamnesis yang teliti maka penyebab dapat
diketahui.
15
2. Skrining gangguan perkembangan anak
Pada tahap ini dianjurkan untuk menggunakan instrumen skrining guna
untuk
mengetahui
kelainan
perkembangan
anak
misalnya
menggunakan KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan ),Denver,
munchen, tes IQ (Intelligence Quotient), atau tes psikologik lainnya.
3. Evaluasi lingkungan anak
Perkembangan anak adalah interaksi antara faktor genetik dan
lingkungan bio-fisika-sosial. Oleh karena itu untuk deteksi dini, kita
juga harus melakukan evaluasi lingkungan anak tersebut. Misalnya
menggunakan HSQ (Home Screening Questionaire).
4. Evaluasi penglihatan dan pendengaran anak
Tes penglihatan misalnya untuk anak usia <3 tahun dengan tes fiksasi,
umur 21/2 tahun dengan kartu gambar dari Allen diatas 3 tahun dengan
huruf E. Juga diperiksa adanya strabismus dan pemeriksaan kornea
serta retina.
Sedangkan untuk pendengaran melalui anamnesis atau menggunakan
audiometer. Selain itu dilakukan pemeriksaan bentuk telinga, hidung,
mulut dan tenggorokan untuk mengetahui kelainan bawaan.
5. Evaluasi bicara dan bahasa anak
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan anak
dalam berbicara masih dalam batas-batas yang normal atau tidak.
Karena kemapuan berbicara menggambarkan kemampuan SSP (Sistem
Saraf Pusat), endokrin, ada/tidaknya kelainan bawaan pada mulut,
hidung dan pendengaran. Stimulasi yang diberikan emosi anak dan
sebagainya.
16
6. Pemeriksaan fisik
Untuk melengkapi anamnesis dilakukan pemeriksaan fisik untuk
melihat kelainan fisik yang dapt mempengaruhi tumbuh kembang.
7.
Pemeriksaan neurologis
dimulai dengan anamnesis masalah neurologis dan keadaan yang
diduga dapat mengakibatkan gangguan neurologi seperti trauma lahir,
asfiksia, dan sebagainya. Kemudian dilakukan pemeriksaan neurologis
yang teliti, untuk membantu diagnosis suatu kelainan contohnya ada
lesi diintrakranial, cereberal palsy dan sebaginya.
8. Integrasi dari hasil penemuan
Berdasarkan anamnesis dan semua pemeriksaan tersebut diatas dibuat
suatu kesimpulan diagnosis dari gangguan perkembangan tersebut.
b. Tes-tes perkembangan
Pada saat ini banyak metode yang dilakukan untuk mendeteksi gangguan
perkembangan anak.14 Metode tersebut untuk menetahui keadaan yang
mengakibatkan gangguan perkembangan anak.10 Keterlambatan dalam
kecakapan motorik merupakan presentasi yang umum dijumpai pada
perkembangan anak.15 Ada banyak pengukuran perkembangan anak seperi
skala perkembangan perilaku Brazelton, skala perkembangan bayi Bayley,
skala
perkembangan
Gessel,
pemeriksaan
perkembangan
Denver,
pemeriksaan perkembangan Muncen, KPSP dan lain-lain.10,13,14
(1) KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan)
KPSP dilakukan untuk mengetahui perkembangan anak normal atau
adanya penyimpangan. Jadwal pemeriksaan KPSP adalah umur
3,6,9,12,15,18,21,24,30,36,42,48,54,60 dan 72 bulan. Jika anak belum
mencapai umur tersebut, minta ibu datang kembali pada umur skrining
terdekat untuk pemeriksaan rutin.16
17
Alat/instrumen

Formulir KPSP menurut umur, berisi 9-10 pertanyaan tentang
kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak. Sasaran
KPSP anak umur 0-72 bulan.

Alat bantu pemeriksaan berupa : pensil,kertas, bola sebesar
bola tennis, kerincingan, kubus berukuran sisi 2,5 cm sebanyak
6 buah, kismis, kacang tanah, potongan biskuit kecil berukuran
0,5-1 cm.
Cara menggunakan KPSP

Pada waktu pemeriksaan / skrining, anak harus dibawa.

Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan
tahun anak lahir

Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan
umur anak

KPSP tediri dari beberapa pertanyaan seperti “dapatkah bayi
makan kue sendiri?”

Perintahkan kepada ibu/pengasuh untuk melakukan tugas yang
tertulis pada KPSP. Contoh: “pada posisi bayi telentang, tariklah
bayi anda pada pergelangan tangannya secara perlehan-lahan ke
posisi duduk.”

Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu untuk menjawab
ertanyaan, oleh karena itu pastikan bahwa ibu/pengasuh anak
mengerti apa yang ditanyakan kepadanya.

Tanyakan pertanyaan secara berurutan, satu persatu. Setiap
pertanyaat hanya ada 1 jawaban, Ya atau Tidak. Catat jawaban
tersebut pada formulir.
18

Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh anak
menjawab pertanyaan.

Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
Interpretasi hasil KPSP :

Hitung berapa jawaban Ya.
 Jawaban YA : bila ibu/pengasuh anak menjawab : anak bisa
atau pernah atau sering atau kadang-kadang melakukannya.
 Jawaban Tidak : bila ibu/pengasuh anak menjawab : anak
belum
pernah
melakukan
atau
tidak
pernah
atau
ibu/pengasuh anak tidak tahu.

Jumlah jawaban Ya
 9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap
perkembangannya (S)
 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M)
 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P)

Untuk jawaban “Tidak”, perlu dirinci jumlah jawaban tidak
menurut jenis keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan
bahasa, sosialisasi dan kemandirian)
(2) Denver II
a. Definisi
Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver
Development
Screening
Test
(DDST)
dan
Revisied
Denver
Developmental Screening Test (DDST-R).DDST adalah salah satu metode
skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Waktu yang dibutuhkan
antara 15 – 20 menit.14,17
19
b. Tujuan
Adapun tujuan dari DDST II antara lain mendeteksi dini perkembangan
anak, menilai dan memantau perkembangan anak sesuai usia, identifikasi
perhatian orangtua tentang perkembangan anak, dan mengajarkan perilaku
yang tepat sesuai usia anak.
c. Aspek perkembangan yang dinilai
Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai dalam DDST II antara lain
Personal Social (perilaku sosial), Fine Motor Adaptive (gerakan motorik
halus), Language (bahasa) dan Gross motor (gerakan motorik kasar).
(3) Tes Muncen
Tes Munchen merupakan tes perkembangan yang memungkinkan
deteksi dini dari fungsi psikomotorik bayi atau merupakan sistem untuk
mengenal secara dini gangguan psikomotor. Tes ini bukan saja merupakan
dasar untuk merawat bayi, tetapi dipakai usaha pencegahan gangguan
perkembangan anak yang menghadapi resiko dalam perkembangan sosial
dan ditujukkan untuk mendeteksi keterlambatan dari tiap bidang fungsi
periksa
sehingga
dengan
demikian
terapi
yang
sesuai
dapat
dilaksanakan.17,18
Tes ini digunakan untuk anak berusia 0-12 bulan. Usia bayi prematur
adalah usia post nasal kronologis yang sudah dikoreksi. Misalnya umur
kronologis bayi usia 5 bulan, tetapi bayi lahir pada kehamilan 8 bulan,
berarti 2 bulan lebih cepat, maka pencatatan bayi tersebut adalah dengan
bayi 5 bulan- 1 bulan = 4 bulan.17,18
Adapun aspek-aspek perkembangan yang dinilai meliputi :
1. umur merangkak : ukuran perkembangan merangkak dan merayap
2. umur duduk : ukuran perkembangan duduk
3. umur berjalan : untuk perkembangan berdiri dan berjalan
20
4. umur memegang : ukuran perkembangan memegang
5. umur persepsi : ukuran perkembangan pengamatan daya tangkap
6. umur berbicara : umuran perkembangan ungkapan vokal dan fungsi
berbicara
7. umur pengertian bahasa : ukuran perkembangan pengertian bahasa
8. umur sosialisasi : ukuran perkembangan prilaku sosial
2.2.4
Perkembangan motorik dan keterlambatan perkembangannya
Perkembangan motorik merupakan perkembangan mengontrol gerakan-
gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara SSP, saraf perifer, dan
otot yang dimulai dengan gerakan-gerakan kasar yang kemudian dilanjutkan
dengan koordinasi halus yang melibatkan kelompok otot-otot halus yang
keduanya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.13
Adanya gangguan selama proses tumbuh kembang dapat karena faktorfaktor genetik, prenatal, perinatal, maupun faktor lingkungan yang dapat
menyebabkan gangguan perkembangan.10,19,20 Jadi faktor genetik menentukan
potensi anak namun faktor lingkungan juga pada fase prenatal, natal,post natal
berpengaruh tercapainya potensi anak.21 Faktor lingkungan yang terdiri dari
biofisikopsikososial di bagi menjadi 2 kelompok besar yaitu :13,18
1. Faktor prenatal  lingkungan saat individu berada dalam kandungan
dipengaruhi oleh gizi ibu, infeksi, toksin/zat kimia, mekanis, radiasi, dan
hormonal.
2. Faktor postnatal berupa :

lingkungan biologis : jenis kelamin, suku, gizi, umur, dan
perawatan kesehatan

lingkungan fisik : sanitasi, geografi, musim, cuaca, kondisi rumah

lingkungan psikososial : stimulasi, cinta kasih dan sayang, strees,
kelompok sebaya dan interaksi anak-orangtua.
21
2.2.5
ASI eksklusif dengan perkembangan motorik kasar
Tumbuh kembang anak yang minum ASI lebih baik, karena komposisi
ASI yang sangat menunjang perkembangan anak. Anak jarang sakit karena
adanya antibodi baik seluler maupun humoral di dalam ASI. Selain itu ASI juga
mengandung hormon dan enzim. Perkembangan anak lebih baik, karena
komposisi ASI yang untuk pertumbuhan otak bayi, juga ibu dapat melakukan
berbagai macam sensori : taktil, penciuman, penglihatan maupun penciuman.
Limpahan kasih sayang pada saat menyusui membuat bayi terasa nyaman dan
aman dalam dekapan ibu, yang penting juga untuk tumbuh kembangnya.22
Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan terlihat anak yang
mendapatkan ASI jauh lebih matang, lebih asertif, dan memperlihatkan
progresitifitas yang lebih baik pada skala perkembangan dibanding yang tidak
mendapatkan ASI. Suatu penelitian di Hounduras memperlihatkan bayi mendapat
ASI eksklusif selama 6 bulan dapat merangkak dan duduk lebih dahulu
dibandingkan mereka yang sudah mendapat MP-ASI pada usia 4 bulan.8
Terdapat satu penelitian yang berbeda yaitu penelitian di Puskesmas
Dersalam Kabupaten Kudus oleh Sari HN Tahun 2011, mendapatkan hasil nilai p
value = 0,053 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
antara pemberian ASI eksklusif terhadap perkembangan motorik anak.23
2.3 Kerangka teori
Faktor yang mempengaruhi
perkembangan motorik bayi :
1. Faktorgenetik
2. Faktor kesehatan pada
periode prenatal
3. Faktor kesulitan dalam
kelahiran
4. Kesehatan dan gizi
5. Rangsangan
6. Perlindungan
7. Prematur
8. Kelainan
9. Kebudayaan
ASI eksklusif
Gambar 3. Kerangka Teori (sumber : Rumini 2004)24
ASI non eksklusif
Kesehatan dan gizi
Perkembangan motorik kasar bayi
usia 0-12 bulan
22
2.4 Kerangka konsep
Bayiusia 0-12 bulan
ASI eksklusif
ASI non eksklusif
Perkembangan motorik kasar
bayi usia 0-12 bulan
Gambar 4. Kerangka konsep
keterangan :
: variabel independent
: variabel dependent
: variabel yang tidakditeliti
: hubungan yang diteliti
: hubungan yang tidak diteliti
Faktor yang mempengaruhi :
Genetik, rangsangan,
kebudayaan, prematur,
kesehatan pada periode
prenatal
23
2.5 Definisi Operasional
Tabel 2.1 Definisi Operasional
No.
1
Variabel
Bayi
Definisi
Bayi yang
Alat Ukur
Cara Peng-
Skala Peng-
Ukuran
Ukuran
kuesioner
Wawancara
Numerik
Kuesioner
Wawancara
Kategorik
berusia 0-12
bulan
2
ASI terdiri
1. ASI
dari ASI
eksklusif
eksklusif
yaitu air susu
dan ASI
ibu tanpa
non
makanan
eksklusif
tambahan
yang
diberikan
selama waktu
0-6 bulan
2. ASI non
eksklusif
yaitu : ASI
dengan
makanan
tambahan
yang
diberikan
selama kurun
waktu 0-6
bulan atau
lebih
ordinal
24
3
status
Normal dan
KPSP
Dengan menghitung
Kategorik
perkembang Tidak
status perkembangan
ordinal
an motorik
motorik kasar
Normal
kasar
berdasarkan usia dengan
menggunakan KPSP
4
5
Jenis
Laki-laki dan
kelamin
perempuan
Penghasilan
1. <1.000.000
orang tua
2. 2.000.000 -
Kuesioner
Wawancara
Kategorik
ordinal
Kuesioner
Wawancara
Kategorik
nominal
3.000.000
3. >3.000.000
6
Pekerjaan
Ibu bekerja
ibu
dan tidak
bekerja
Kuesioner
Wawancara
Kategorik
ordinal
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 DesainPenelitian
Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif analitik. Desain
yang dilakukan adalah studi cross sectional (potong lintang) dengan pengambilan
sampel secara consecutive sampling.25,26
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di bagian anak di RS Syarif Hidayatullah, pada
tanggal 2 Mei – 2 Juli 2013.
Tabel 3.1 matriks kegiatan penelitian
Kegiatan
Matriks Kegiatan
April
Mei
Juni
Juli
M1 M2 M3 M4 M1 M2 M3 M4 M1 M2 M3 M4 M1 M2 M3 M4
Membuat
proposal
Menyerahkan
proposal dan
surat izin ke
RS
Bertemu
pihak RS dan
membicarakan
teknis
pengambilan
data
Mengambil
name tag
tanda
pengenal saat
melakukan
penelitian di
RS
Pengambilan
data
Pengolahan
data
Penelusuran
literatur
25
26
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi yang ditargetkan pada penelitian ini adalah seluruh bayi yang
berkunjung atau berobat di bagian anak RS Syarif Hidayatullah. Populasi
terjangkau pada penelitian ini adalah bayi usia 0-12 bulan yang bersedia
menjadi responden dalam penelitian. Sampel yang ditargetkan adalah 125
orang bayi usia 0-12 bulan. Sampel yang dijangkaukan adalah responden
yang memenuhi syarat kriteria inklusi dan eksklusi di RS Syarif Hidayatullah.
Jumlah sampel diambil secara consecutive sampling.
3.4 Kriteria Penelitian
3.4.1 Kriteria Inklusi
1.
Pasien yang berkunjung di bagian anak RS Syarif Hidayatullah tahun
2013.
2.
Pasien berusia 0-12 bulan yang diberi ASI .
1.4.2
Kriteria Eksklusi
Responden yang tidak lengkap datanya
3.5 Besar Sampel
Dihitung dengan menggunakan rumus :25
(
√
√
)
Berdasarkan perhitungan rumus di atas maka besar sampel yang diambil
dalam penelitian ini dapat dihitung sebagai berikut:
Diketahui :
P2 : 0,5 (Kepustakaan berdasarkan penelitian sebelumnya)
Kesalahan tipe 1 ditetapkan sebesar 5%, hipotesis satu arah, sehingga Zα = 1,645
Kesalahan tipe II ditetapkan sebesar 20%, maka Zβ = 0,842
Dengan memasukkan nilai-nilai diatas pada rumus, diperoleh ;
27
√
(
√ (
(
=(
=(
(
)
(
)(
√
)
)
√(
)(
)
(
)(
)
)
)
) = 125 orang
3.6 Cara Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan memberikan kusioner kepada
orang tua pasien yang sedang berkunjung atau berobat di Rumah Sakit Syarif
Hidayatullah secara random.
3.7 Alur Penelitian
Observasi/survey lapangan
Pengumpulan data
Pengolahan dan analisis data
Laporan hasil penelitian
Gambar 5. Alur penelitian
3.8 Managemen Data
3.9.1 Pengumpulan Data
Data diperoleh dari pemberian kusioner ke orang tua yang
berkonsultasi di bagian anak RS Syarif Hidayatullah.
3.9.2 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS
for Windows versi16, dan menggunakan uji chi-square.27
28
3.8.3 Analisis Data
Pada penelitian ini dilakukan analitik data uji hipotesis chi-square.
3.8.4 Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk teks, grafik, dan tabel.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Subyek Penelitian
Subyek pada penelitian ini adalah 125 responden berdasarkan rumus besar
sampel dan memenuhi kriteria penelitian.
Tabel 4.1 Distribusi kategori subyek penelitian
Kategori
Perkembangan motorik
Normal
Tidak Normal
n (%)
n (%)
N
%
0-3 bulan
37
29.6
21 (25,6%)
16 (37,2%)
4-6 bulan
35
28.0
24 (29,3%)
11 (25,6%)
7-9 bulan
30
24.0
22 (26,8%)
8 (18,6%)
10-12 bulan
23
18.4
15 (18,3%)
8 (18,6%)
Laki-laki
60
48.0
43 (52,4%)
17 (39,5%)
Perempuan
65
52.0
39 (47,6%)
26 (60,5%)
9
7.2
5 (6,1%)
4 (9,3%)
42
33.6
74
59.2
48 (58,5%)
26 (60,5%)
Bekerja
67
53.6
41 (50%)
26 (60,5%)
tidak bekerja
58
46.4
41 (50%)
17 (39,5%)
Usia Responden
Jenis Kelamin
Penghasilan ortu
1.000.000
1.000.000
3.000.000
>3.000.000
-
29 (35,4%)
13 (30,2%)
Pekerjaan Ibu
29
30
Dari tabel 4.1diatas, didapatkan bahwa subyek penelitian didominasi oleh
kategori usia 0-3 bulan sebanyak 29,6 %. Subyek penelitian ini didominasi oleh
anak perempuan dengan persentase 52%. Penghasilan orang tua didominasi oleh
kategori >3.000.000 dengan persentase 59,2 %. Kemudian dari data pekerjaan Ibu
bahwa ibu yang bekerja lebih banyak sebanyak 53,6%.
Berdasarkan kategori usia, kejadian penyimpangan perkembangan motorik
kasar pada penelitian ini didominasi oleh bayi yang berusia 0-3 bulan sebanyak
37,2 %. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa salah satu faktor yang terpenting
dalam perkembangan motorik kasar anak adalah umur, semakin tinggi umur anak
maka semakin kecil pula terjadi keterlambatan motorik kasar.28
Hasil yang didapatkan dari distribusi jenis kelamin, bahwa perempuan
lebih besar mengalami penyimpangan perkembangan motorik kasar dengan
persentase sebesar 60,5% yaitu sebanyak 26 bayi. Berbeda dengan penelitian
yang dilakukan di RSCM pada Januari 2006- Juli 2008 dengan hasil yang
menyatakan
bahwa
laki-laki
lebih
banyak
mengalami
keterlambatan
perkembangan dibandingkan perempuan dengan rasio 1,3 :1.29 Namun bagaimana
hal ini dapat terjadi sampai saat ini belum dapat dijelaskan, diperkirakan karena
kondisi faktor x-linked atau x-limited.30 Penelitian ini berbeda dikarenakan pada
kenyataan di lapangan bahwa dari jumlah sampel yang ada perempuan
mendominasi dibandingkan dengan laki-laki.
Berdasarkan kategori penghasilan orang tua subyek, penyimpangan
perkembangan motorik kasar didominasi oleh kategori penghasilan orangtua
>3.000.000 dengan persentase 60,5 % sebanyak 26 bayi. Penelitian ini berbeda
atau tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fadlyana E, dkk yang
menyatakan bahwa penghasilan keluarga merupakan faktor yang dianggap
mewakili keadaan sosio ekonomi keluarga dan merupakan salah satu faktor
lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak. Keluarga
yang berrpenghasilan rendah memiliki kecendurungan yang lebih besar untuk
mempunyai anak yang perkembangannya terlambat. Hal ini berhubungan dengan
kemampuan keluarga untuk menyediakan makanan yang cukup bagi anak dan
juga kemampuan untuk menyediakan sarana alat bantu stimulasi.28 Perbedaan
pada penelitian ini mungkin dikarenakan tidak seimbangnya jumlah sampel pada
31
tiap kategori penghasilan keluarga dengan hasil yang didominasi oleh kategori
penghasilan orangtua >3.000.000.
Dari kategori pekerjaan ibu, didapatkan bahwa ibu yang bekerja lebih
tinggi angka kejadian penyimpangan perkembangan motorik kasar dengan
persentase 60,5 % sebanyak 26 bayi. Hal ini dapat terjadi dikerenakan dalam
masa perkembangan diperlukan stimulasi yang paling banyak didapatkan dari
lingkungan terdekat anak. Keluarga atau orang tua, khususnya ibu, merupakan
lingkungan pertama dan utama bagi seorang anak. Peran seorang ibu dalam
memberikan stimulasi sangat besar. Interaksi antara anak dan ibu memberi
manfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang tua
dapat mengenali kelainan proses perkembangan anak dan sedini mungkin untuk
memberikan stimulasi perkembangan anak.31
Tabel 4.2 Analisis silang ASI dan Perkembangan Motorik Kasar
Kategori
N
%
ASI eksklusif
69
55.2
ASI non eksklusif
56
44.8
Normal
82
65,6
Tidak normal
43
34,3
ASI
Perkembangan Motorik
Kasar
Berdasarkan tabel 4.2 diatas mayoritas responden menggunakan ASI
eksklusif dengan persentase 55,2% dan perkembangan motorik kasar responden
mayoritas normal sebanyak 65,6%.
32
4.2 Analisa Hipotesis
Tabel 4.3 Tabel Chi-square ASI pada perkembangan motorik kasar
Pemberian ASI
Perkembangan
%
Perkembangan
motorik kasar
motorik kasar
sesuai
Penyimpangan
%
ASI eksklusif
49
59,8
20
46,5
ASI non eksklusif
33
40,2
23
53,5
Jumlah
82
100
43
100
Dari hasil analisis statistik uji analisis Chi-Square didapatkan nilai
signifikan p=0,157 atau p> 0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara pemberian ASI eksklusif dan non eksklusif terhadap
perkembangan motorik kasar pada bayi usia 0-12 bulan di RS Syarif Hidayatullah
Ciputat, Tangerang Selatan tahun 2013.
Hasil penelitian yang sama dilakukan di Puskesmas Dersalam Kabupaten
Kudus oleh
Sari Tahun 2011,dengan hasil nilai p value = 0,053 yang
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI
eksklusif terhadap perkembangan motorik anak.23
Penelitian lain menunjukkan hasil yang sama pula dengan judul penelitian
hubungan ASI eksklusif terhadap tumbuh kembang bayi usia 3 sampai 6 bulan di
puskesmas Karang Anyar oleh Lidya dengan nilai p>0,05 yang berarti tidak ada
hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan tumbuh
kembang pada anak umur 3 sampai 6 bulan.32
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa bayi yang mendapat ASI jauh
lebih matang, lebih asertif dan progresitifitas yang lebih baik pada skala
perkembangan dibandingkan anak yang tidak menggunakan ASI. Suatu penelitian
Honduras memperlihatkan bahwa bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6
bulan dapat merangkak dan duduk lebih dahulu dibandingkan bayi yang sudah
mendapat makanan pendamping saat usia 4 bulan.8
Satu penelitian terbaru
yang dilakukan oleh Muidayanti di Labang
Bangkalan Madura pada bulan Juli lalu menguatkan bahwa adanya hubungan
33
antara ASI eksklusif dengan perkembangan motorik kasar bayi dengan hasil
menunjukkan (91,7 %) responden memberikan ASI eksklusif perkembangan
motorik kasar normal.3
Data menunjukkan bahwa bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif
semakin banyak dan angka kejadian penyimpangan keterlambatan motorik kasar
semakin tinggi. Hal ini diduga bahwa kandungan ASI yang mempunyai banyak
manfaat antara lain meningkatkan daya tahan tubuh, nutrisi yang baik,
meningkatkan jalinan kasih sayang antara Ibu dan bayi. Oleh karena itu jika bayi
tidak mendapatkan perlindungan dan nutrsi yang baik untuk tubuhnya maka salah
satu dampaknya adalah keterlambatan perkembangan motorik kasar bayi.8
ASI mengandung nutrien yang sangat baik dan sesuai dengan kebutuhan
bayi antara lain pertama asam amino taurin, vitamin A, kalsium, mineral zink,
vitamin B16, laktosa, dan asam lemak rantai panjang yaitu ARA dan DHA.
Semua nutrien tersebut berperan penting dalam perkembangan bayi terutama
perkembangan motorik kasar.8
Penelitian ini mempunyai banyak keterbatasan, diantaranya pengambilan
data kurang lengkap, sehingga akan menemukan hambatan dalam pengolahan data
seperti menentukan status perkembangan motorik kasar bayi. Kemudian kriteria
sampel kurang valiatif, dan dalam menyebarkan kusioner orang tua responden
sangat terburu-buru untuk mengisi kusioner penelitian sehingga mempengaruhi
kelengkapan data penelitian ini.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 SIMPULAN
1. Persentase responden yang mendapatkan ASI eksklusif sebesar 55,2% dan
ASI non eksklusif sebesar 44.8 %.
2. Persentase
kejadian
penyimpangan
perkembangan
motorik
kasar
berdasarkan usia didominasi oleh bayi yang berusia 0-3 bulan sebesar 37,2
%, persentase perkembangan motorik kasar normal sebesar 65,6 % , dan
persentase perkembangan motorik kasar tidak normal sebesar 34,3 %.
3. Persentase responden yang diberi ASI ekslusif memiliki perkembangan
motorik kasar yang normal sebesar 59,8 % dan mayoritas responden yang
diberi ASI non eksklusif perkembangan motorik kasarnya tidak normal
sebesar 53,5 %
4. Tidak terdapat hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif
terhadap perkembangan motorik kasar pada bayi usia 0-12 bulan di bagian
anak RS Syarif Hidyatullah, dengan nilai p= 0,157.
5.2 Saran
1. Diharapkan penelitian ini bisa menjadi pedoman untuk penelitian
berikutnya agar dikembangkan lagi.
2. Diharapkan pada penelitian selanjutnya :

Jumlah pertanyaan dalam kuesioner dibuat singkat dan jelas

Lakukan wawancara terpimpin

Pengambilan sampel pada lokasi yang berbeda

Lakukan desain pwnwlitian studi kohort
3. Diharapkan penelitian ini dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya selain
dapat mengetahui hubungan ASI eksklusif dengan perkembangan motorik
kasar pada bayi usia 0-12 bulan di bagian anak RS Syarif Hidayatullah
Ciputat, Tangerang Selatan juga dapat mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan pada bayi di Tangerang Selatan.
34
DAFTAR PUSTAKA
1. Dwiharso, Chistofus Nata.2010. Tingkat Pemberian ASI Eksklusif di
Indonesia Masih Rendah. Dalam www.rri.co.id . Diakses Pada tanggal 2
April 2011
2. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran
EGC;1995
3. Fitria, Eka. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Perkembangan
Motorik Kasar Pada Bayi Usia 0-6 Bulan Di BPS Susilawati AM.Keb
Labang Bangkalan Madura. Dalam
http://share.stikesyarsis.ac.id/elib/main/dok/01362/HUBUNGANPEMBERIAN-ASI-EKSKLUSIF-DENGAN-PERKEMBANGANMOTORIK-KASAR-PADA-BAYI-USIA-0-6-BULAN-DI-BPSSUSILAWATI-Amd.Keb--LABANG-BANGKALAN-MADURA.
Diakses 15 Juli 2013
4. Perinasia.Manajemen laktasi menuju persalinan aman dan bayi lahir sehat.
2nd edition. Jakarta;2004
5. Danuatmaja,Bonny.40 hari pasca persalinan. Jakata : Puspa Swara;2006.
Hal 36-53
6. Lestari, Tri. Faktor Pengetahuan, mitos, praktek menyusui dan pemberian
Asi eksklusif .Dalam
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/131/jtptunimus-gdl-trilestari-6513-3babii.pdf.
7. Roesli, Utami.Inisiasi Menyusui Dini plus ASI eksklusif. Jakarta :Pustaka
Bunda;2008
8. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta. Bedah ASI
Kajian dari Berbagai Sudut Pandang Ilmiah. Jakarta; Balai Penerbit FKUI,
2008
9. Al-Quran al karim, Surah Al-Baqoroh.Departemen Agama RI.Al-Qur’an
terjemahan.Jakarta:PT.Syamil Cipta Media;2005
10. Soetjiningsih. Penilaian Pertumbuhan Fisik anak. Dalam : Ranuh G,editor
Tumbuh Kembang Anak. Cetakan kedua. Surabaya : EGC,1998 : 63-78
11. Departemen Kesehatan. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan
Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Di Tingkat Pelayanan Kesehatan
Dasar. Jakarta;2007. Hal 18
35
36
12. IDAI. Tumbuh Kembang
Jakarta:Sagung Seto;2002
Anak
Dan
Remaja.
Edisi
Pertama.
13. Satoto. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak. Disertasi. Semarang .
Universitas Diponegoro;1990
14. Schanler JR. Nutritional Support of the Neonate II. The Rationale for
Human Milk Feeding. In: Principles of Perinatal-Neonatal Metabolism.
Penyunting : Cowett MR.2nded. Baltimore : Springer Inc ; 1995.p.1181-7.
15. Lumbantobing SM. Neurologi perkembangan anak. Dalam : Anak dengan
mental belakang. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001:36-47
16. Departemen Kesehatan. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi , Deteksi, dan
Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan
Dasar. In: Kesehatan, editor.2005.
17. Hellbrugge T, Lajosi, Menara, dkk. Diagnostik perkembangan ditinjau dari
segi Ilmu Psikologi Anak. Dalam : Diagnostik perkembangan dalam Ilmu
Kesehatan Anak. Alih bahasa Alisjahbana A. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapa; 1988:45-61
18. Soetjiningsih . Tumbuh Kembang Anak. Dalam : Ranuh G,editor. Tumbuh
Kembang Anak. Cetakan Kedua. EGC,1998 :1-36
19. Markum,AH. Tumbuh kembang bayi prematur. Dalam : AH
Markum,Sofyan Ismail,penyunting. Buku ajar Ilmu Kesehatan Anak jilid
I. Jakarta : Balai Penerbit FKUI;1990 :21-22
20. Lazuardi S. Pengaruh perkembangan pertumbuhan otak pada tumbuh
kembang balita. Dalam : Simposium tumbuh kembang balita tema :Anak
Insonesia sehat, ceria dan berprestasi”. Semarang : Pendidikan Kedokteran
Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI;1991 : 9-41.
21. Sularyo TS. Periode kritis pada tumbuh kembang anak. Dalam : Deteksi
dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang anak dalam upaya
optimalisasi kualitas sumber daya manusia. PKB XXXVII IKA. Jakarta :
BP FK UI;1996:1-15.
22. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta,Indonesia
Menyusui. Jakarta; Balai Penerbit IDAI; 2010
37
23. Novita, Hanika. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Terhadap
Perkembangan Motorik Kasar Anak usia 6-8 Bulan di Wilayah kerja
puskesmas Dersalam Kabupaten Kudus Tahun 2011. Under Graduates
Thesis. Semarang :Universitas Negeri Semarang;2011
24. Rumini , Sri & Sundari.
Jakarta:PT.Rineka Cipta;2004
Perkembangan
Anak
dan
Remaja.
25. Dahlan, M. Sopiyudin. Besar sampel dan Cara Pengambilan Sampel. Edisi
2. Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2009
26. Dahlan, M. Sopiyudin. Langkah-Langkah Membuat Proposal Penelitian
Bidang Kedokteran dan Kesehatan Edisi 2. Jakarta: Penerbit Salemba
Medika; 2009
27. Dahlan, M. Sopiyudin, Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Edisi 4.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2009
28. Fadlyna Eddy,dkk. Pola Keterlambatan Perkembangan Balita didaerah
Pedesaan dan Perkotaan Bandung, serta Faktor-Faktor dan pola
keterlambatan mempengaruhinya dalam sari pediatri. Bandung;2003.vol
4(4).h.168-175
29. Suwarba I Gusti,dkk. Profil Klinis dan etiologi Pasien Keterlambatan
Perkembangan Global di RSCM dalam sari pediatri. Jakarta;2008.vol
10(4).h.255-61.
30. Shaffer LG. Guideline on the cytogentic evaluation of the individual with
developmental delay or mental retardation. Am College of Med Gen
.2005;7:650-4.
31. Hariweni . Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Ibu Bekerja Dan Tidak
Bekerja Tentang Stimulasi Pada Anak Balita. USU Digital Library.
Bagian Ilmu Kesehatan Anak. FK USU;2003
32. Lidya, Ni Made dkk, Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan
Tumbuh Kembang Bayi Usia 3-6 Bulan Di Puskesmas Karang Anyar.
Dalam
http://ejournal.dinkesjatengprov.go.id/dokument/2012_1/ARTIKEL/HUB
UNGAN%20PEMBERIAN%20ASI%20EKSLUSIF%20DENGAN%20T
UMBUH%20KEMBANG%20%20PADA%20ANAK%20USIA%203%20
SAMPAI%206%20BULAN.pdf . Diakses tahun 2012
Lampiran 1
Data Hasil Uji Statistik
Lampiran 1.1 Jumlah Subyek Berdasarkan Usia
kategori umur
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
1
37
29.6
29.6
29.6
2
35
28.0
28.0
57.6
3
30
24.0
24.0
81.6
4
23
18.4
18.4
100.0
125
100.0
100.0
Total
Lampiran 1.2 Jumlah Subyek Berdasarkan jenis kelamin
jenis kelamin responden
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
laki-laki
60
48.0
48.0
48.0
perempuan
65
52.0
52.0
100.0
125
100.0
100.0
Total
Lampiran 1.3 Jumlah Subyek Berdasarkan Penghasilan Orang Tua
penghasilan ortu
Cumulative
Frequency
Valid
1.000.000
Percent
Valid Percent
Percent
9
7.2
7.2
7.2
1.000.000 - 3.000.000
42
33.6
33.6
40.8
>3.000.000
74
59.2
59.2
100.0
125
100.0
100.0
Total
38
39
(Lanjutan)
Lampiran 1.4 Jumlah Subyek Berdasarkan Pekerjaan Ibu
pekerjaan ibu
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
bekerja
67
53.6
53.6
53.6
tidak bekerja
58
46.4
46.4
100.0
125
100.0
100.0
Total
Lampiran 1.5 Jumlah Subyek berdasarkan ASI
ASI
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
ASI eksklusif
69
55.2
55.2
55.2
ASI non eksklusif
56
44.8
44.8
100.0
125
100.0
100.0
Total
Lampiran 1.6 JumlahSubyek berdasarkan perkembangan motorik kasar
perkembangan motorik kasar
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
sesuai
82
65.6
65.6
65.6
tidak sesuai
43
34.4
34.4
100.0
125
100.0
100.0
Total
40
(Lanjutan)
Lampiran 1.7 Crosstabulasi Jenis kelamin dengan Perkembangan Motorik Kasar
jenis kelamin responden * perkembangan motorik kasar Crosstabulation
perkembangan motorik kasar
sesuai
jenis kelamin
laki-laki
responden
Count
Expected Count
% within perkembangan motorik
kasar
perempuan
Count
Expected Count
% within perkembangan motorik
kasar
Total
Count
Expected Count
% within perkembangan motorik
kasar
tidak sesuai
Total
43
17
60
39.4
20.6
60.0
52.4%
39.5%
48.0%
39
26
65
42.6
22.4
65.0
47.6%
60.5%
52.0%
82
43
125
82.0
43.0
125.0
100.0%
100.0%
100.0%
41
(Lanjutan)
Lampiran 1.8 Crosstabulasi Umur Responden dengan Perkembangan motorik
kasar
kategori umur * perkembangan motorik kasar Crosstabulation
perkembangan motorik kasar
sesuai
kategori umur
1
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
2
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
3
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
4
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
Total
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
tidak sesuai
Total
21
16
37
24.3
12.7
37.0
25.6%
37.2%
29.6%
24
11
35
23.0
12.0
35.0
29.3%
25.6%
28.0%
22
8
30
19.7
10.3
30.0
26.8%
18.6%
24.0%
15
8
23
15.1
7.9
23.0
18.3%
18.6%
18.4%
82
43
125
82.0
43.0
125.0
100.0%
100.0%
100.0%
42
(Lanjutan)
Lampiran 1.9 Crosstabulasi Penghasilan Orangtua dengan Perkembangan Motorik
kasar
penghasilan ortu * perkembangan motorik kasar Crosstabulation
perkembangan motorik kasar
sesuai
penghasilan ortu
1.000.000
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
1.000.000 - 3.000.000
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
>3.000.000
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
Total
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
tidak sesuai
Total
5
4
9
5.9
3.1
9.0
6.1%
9.3%
7.2%
29
13
42
27.6
14.4
42.0
35.4%
30.2%
33.6%
48
26
74
48.5
25.5
74.0
58.5%
60.5%
59.2%
82
43
125
82.0
43.0
125.0
100.0%
100.0%
100.0%
43
(Lanjutan)
Lampiran 1.10 Crosstabulasi Pekerjaan Ibu dengan Perkembangan Motorik kasar
pekerjaan ibu * perkembangan motorik kasar Crosstabulation
perkembangan motorik kasar
sesuai
pekerjaan ibu
bekerja
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
tidak bekerja
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
Total
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
tidak sesuai
Total
41
26
67
44.0
23.0
67.0
50.0%
60.5%
53.6%
41
17
58
38.0
20.0
58.0
50.0%
39.5%
46.4%
82
43
125
82.0
43.0
125.0
100.0%
100.0%
100.0%
44
(Lanjutan)
Lampiran 1.11 Crosstabulasi ASI Eksklusif dengan Perkembangan Motorik kasar
ASI * perkembangan motorik kasar Crosstabulation
perkembangan motorik kasar
Sesuai
ASI
ASI eksklusif
Count
motorik kasar
ASI non eksklusif
20
68
44.4
23.6
68.0
59.3%
46.5%
54.8%
33
23
56
36.6
19.4
56.0
40.7%
53.5%
45.2%
81
43
124
81.0
43.0
124.0
100.0%
100.0%
100.0%
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
Total
Count
Expected Count
% within perkembangan
motorik kasar
Total
48
Expected Count
% within perkembangan
tidak sesuai
Lampiran 1.12 Uji Chi-Square
4.3.2 Uji Chi-Square
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
b
Likelihood Ratio
Asymp. Sig. (2-
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
sided)
sided)
.187
.110
Value
df
sided)
a
1
.157
1.501
1
.220
1.997
1
.158
2.001
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases
b
1.985
125
1
.159
45
Lampiran 2
INFORMED CONSENT
Perihal :Pemberian Informasi dan Persetujuan
Lampiran : Dengan hormat,
Sehubungan akan dilaksanakannya penelitian dengan judul “Hubungan Asi
Eksklusif Terhadap Perkembangan Motorik Kasar Bayi Usia 0-12 bulan Di
Rumah Sakit Syarif Hidayatullah Tahun 2013”, sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Penelitian inibertujuan untuk mengetahui Hubungan Asi Eksklusif Terhadap
Perkembangan Motorik Kasar Bayi Usia 0-12 bulan Di Rumah Sakit Syarif
Hidayatullah Tahun 2013.
Untuk terlaksananya penelitian ini saya mengharapkan kepada ibu menjadi
responden dalam penelitian ini dengan menjawab pertanyaan yang adadalam
kuesioner dengan bersikap sukarela dan jujur dalam menjawab seluruh pertanyaan
sesuai dengan perkembangan motorik kasar pada anak ibu.
Informasi yang diberikan akan dijaga kerahasiaannya. Penelitian ini hanya akan
dipergunakan untuk kepentingan pendidikan serta perkembangan ilmu
pengetahuan.
Atas bantuan dan kerjasama yang baik sayaucapkan terima kasih.
Ciputat,
Responden
(
2013
Peneliti
)
MAULINA SULPI
NIM : 1110103000061
46
Lampiran 2.2 KUESIONER
Hubungan Pemberian ASI Ekslusif terhadap Diare,Pilek, Perkembangan Motorik
Kasar dan Halus pada bayi usia 0-12 bulan, serta Faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku pemberian ASI Eksklusif pada Ibudi Rumah Sakit Syarif
Hidayatullah Tahun 2013”
Identitas responden :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Nama anak
:
Jenis kelamin
:
Usia
: _____ Bulan
Anak ke_____ dari ____ saudara
Nama Ayah
:
Nama Ibu
:
Pekerjaan Ayah
:
Pekerjaan Ibu
:
Usia Ibu
:
Alamat
:
No Telp/Ibu
:
Penghasilan / bulan
: a. <1.000.000
b. 1.000.000-3.000.000
c. > 3.000.000
ASI EKSLUSIF
IMD(Inisiasi Menyusi Dini) : Ibu yang mulai menyusui dalam 30 menit setelah bayi
lahir dengan memfokuskan pada kemampuan alami (sendiri) bayi dengan cara bayi
melangkah didada Ibunya.
1. Apakah anak ibu hanya menggunakan ASI eksklusif 0-6 bulan ?
a. Ya
b. Tidak
2. Sejak kapan anak ibu diberi ASI?
a. Beberapa menit setelah lahir  IMD
b. Setelah Ibu siap menyusui (tanpa IMD)
c. dan lain-lain, sebutkan (…………)
3. Saat ini apakah anak bungsu Ibu telah diberi makanan lain selain ASI ?
a. Ya
b. Tidak
4. Sejak kapan ASI dicampur dengan PASI?
a. Tidak dicampur sampai usia 6 bulan
b. Sejak usia 0-6 bulan
c. Sejak usia 3-6 bulan
d. Sejak usia 0- >6 bulan
e. Sampai saaat ini belum diberikan PASI
5. Apakah dalam 6 bulan ibu pernah memberikan Susu formula ?
a. Pernah
47
b. Tidak pernah
6. Apabila pernah diberikan sejak kapan ?
a. sejak usia 0-6 bulan
b. Sejak usia 3-6 bulan
c. Sejak usia 0->6 bulan
7. Apakah anak ibu lahir langsung menangis atau tidak ?
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah anak ibu pernah dirawat karena penyakit berat ?
a. Pernah (sebutkan:....)
b. Tidak
Kusioner Perkembangan motoric kasar bayi usia 0-12 bulan berdasarkan KPSP
dan Denver persentil 90
Petunjuk pengisian kusioner perkembangan motoric kasar pada bayi usia 0-12 bulan :




Jika anak ibu berusia 0-3 bulan : jawablah pertanyaan pada nomor 1-4
Jika anak ibu berusia 0-6 bulan : jawablah pertanyaan pada nomor 1-9
Jika anak ibu berusia 0-9 bulan : jawablah pertanyaan pada nomor 1-12
Jika anak ibu berusia 0-12 bulan : jawablah pertanyaan pada nomor 1-15
NO PEMERIKSAAN
YA TIDAK
Perkembangan motorik kasar pada bayi 3 bulan
Pada waktu bayi telentang, apakah
1.
masingmasing lengan dan tungkai
bergerak dengan mudah? Jawab
TIDAK bila salah satu atau kedua
tungkai atau lengan bayi bergerak tak
terarah/tak terkendali.
Pada waktu bayi telungkup di alas
2.
yang datar, apakah ia dapat
mengangkat kepalanya seperti pada
gambar ini?
48
3.
Pada waktu bayi telungkup di alas
yang datar, apakah ia dapat
mengangkat kepalanya sehingga
membentuk sudut 45° seperti pada
gambar ?
4.
Pada waktu bayi telungkup di alas
yang datar, apakah ia dapat
mengangkat kepalanya dengan tegak
seperti pada gambar?
Perkembangan motorik kasar pada bayi 6 bulan
Dapatkah bayi mempertahankan
5.
posisi kepala dalam keadaan tegak
clan stabil? jawab TIDAK bila
kepala bayi cenderung jatuh ke
kanan/kiri atau ke dadanya
Ketika bayi telungkup di alas datar,
6.
apakah ia dapat mengangkat dada
dengan kedua lengannya sebagai
penyangga seperti pada
gambar ?
7.
8.
Pernahkah bayi berbalik paling
sedikit dua kali, dari telentang ke
telungkup atau sebaliknya?
Pada posisi bayi telentang, pegang
kedua tangannya lalu tarik perlahan-
49
lahan ke posisi duduk. Dapatkah bayi
mempertahankan
lehernya secara kaku seperti gambar
di sebelah kiri? Jawab TIDAK bila
kepala bayi jatuh kembali seperti
gambar sebelah kanan.
Apakah anak ibu pernah berputar
seperti mengelilingi tempat tidur ?
Perkembangan motorik kasar pada bayi 9 bulan
Pada posisi bayi telentang, pegang
10.
kedua tangannya lalu tarik perlahanlahan ke posisi clucluk. Dapatkah
bayimempertahankan lehernya
secara kaku seperti gambar di
sebelah kiri ? Jawab TIDAK bila
kepala bayi
jatuh kembali seperti gambar sebelah
kanan.
9.
11.
12.
Jika anda mengangkat bayi melalui
ketiaknya ke posisi berdiri, dapatkah
ia menyangga sebagian berat badan
dengan kedua kakinya? Jawab YA
bila ia mencoba
berdiri dan sebagian berat badan
tertumpu pada kedua kakinya.
Tanpa disangga oleh bantal, kursi
atau dinding, dapatkah bayi duduk
sendiri selama 60 detik?
Perkembangan motorik kasar pada bayi 12 bulan
Apakah anak dapat berdiri selama 30
13.
50
14.
15.
detik atau lebih dengan berpegangan
pada kursi/meja?
Apakah anak dapat mengangkat
badannya ke posisi berdiri tanpa
bantuan anda?
Apakah anak dapat duduk sendiri
tanpa bantuan?
51
Lampiran 3
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
PERSONAL DATA
Nama
:
Maulina Sulpi
Jenis Kelamin
:
Perempuan
Tempat Tanggal Lahir:
Lubuk Linggau, 13 September 1992
Status
:
Belum Menikah
Agama
:
Islam
Alamat
:
Jln.Sirsak no :58 rt:08 Taba Jemekeh Lubuk Linggau
Sumatera Selatan
Nomor Telepon/HP
:
0733-323426/0813-8516-8610
Email
:
[email protected]
RIWAYAT PENDIDIKAN
1997 – 2003
:
Sekolah Dasar Negeri 44 Lubuk Linggau Sum-Sel
2003 – 2006
:
Sekolah Menengah Pertama MU PP.Asshiddiqiyah
2007 – 2010
:
Madrasah Aliyah MU PP.Asshiddiqiyah Jakarta
2010 – Sekarang
:
Program Studi Pendidikan Dokter,
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
52
Download