Sejarah Jakarta: Periode Fatahillah Hilang

advertisement
Sejarah Jakarta: Periode Fatahillah Hilang
Senin, 22 Juni 2009 10:17
Nama Fatahillah kini diabadikan menjadi nama taman di depan gedung Museum Sejarah
Jakarta, gedung yang pada masa kolonial merupakan Stadhuis atau balaikota.
Sebelum Batavia berdiri, di bawah tanahnya pernah ada sebuah kota bernama Jayakarta.
Lokasinya sekarang kira-kira di daerah The Batavia Hotel hingga ke Jalan Kopi. Karena Sunda
Kalapa dulu itu lokasinya kini ada di sekitaran Kalibesar Barat. Kisah tentang Jakarta tak akan
bisa lepas dari keberadaan Fatahillah yang pada tahun 1527 berhasil mengenyahkan Pajajaran
dan Portugis. Pada tahun itu pula, ia merebut Sunda Kalapa dan mengganti namanya menjadi
Jayakarta.
Di tahun 1619 VOC yang dipimpin oleh JP Coen menaklukkan Jayakarta dan membakar kota
itu untuk kemudian mendirikan Batavia.
Nugroho Notosusanto dalam sebuah tulisan yang terbit dalam Ketoprak Betawi menulis,
tanggal 21 Agustus 1522 Pajajaran dan Portugis membuat perjanjian, di mana Portugis, melalui
Fransisco de Sa, diizinkan membangun sebuah benteng di Sunda Kalapa. Pada 1526 de Sa
mendapat tugas menggempur Bintan dan dari sana ia mengarah ke selatan hingga bertemu
Fatahillah dan kalah.
Lantas siapa itu Fatahillah? Ia berasal dari Pasai dan melarikan diri saat kota itu direbut
Portugis. Fatahillah pun mengembara ke Demak. Dari Demak ia tiba di Jawa Barat dan bertemu
de Sa di Sunda Kalapa. Bertempur, menang, dan tinggal sebentar di Jayakarta untuk kemudian
pergi ke Cirebon dan menetap di sana.
Kekuasaan diserahkan kepada Tubagus Angke. Siapa dia, sejarah tak terlalu banyak menyebut
siapa Tubagus Angke ini. Dalam penelitian Dinas Museum dan Sejarah tahun 1994 disebutkan,
Tubagus Angke masih kemenakan Maulana Bagdad atau Maulana Abdurahman (dalam Babad
Banten).
1/3
Sejarah Jakarta: Periode Fatahillah Hilang
Senin, 22 Juni 2009 10:17
Tubagus Angke dikatakan memiliki putra yang kemudian melanjutkan kekuasaan di Jayakarta.
Nama sang putra adalah Pangeran Jakarta Wijayakrama. Pangeran Wijayakrama inilah yang
kemudian takluk pada pasukan VOC di bawah JP Coen. Coen kemudian membakar kota
Jayakarta dan membangun Batavia di atas reruntuhannya.
Pangeran Jakarta Wijayakrama diperkirakan mulai memerintah pada 1596 karena dalam salah
satu sumber Belanda disebutkan, raja Jayakarta di kala itu sudah tua – maksudnya Tubagus
Angke. Di seputaran waktu itu diperkirakan kekuasaan sudah diserahkan kepada Pangeran
Jakarta.
Pada 1610 Wijayakrama membuat perjanjian dengan Pieter Both, gubernur jenderal, yang
isinya antara lain, orang Belanda yang datang ke Jayakarta boleh berdagang; orang Belanda
boleh membangun loji untuk tempat dagangan mereka; orang Belanda boleh mengambil kayu
dari pulau-pulau untuk membuat kapal; cukai barang diserahkan ke Raja Jakarta.
Namun lama kelamaan hubungan itu makin tak harmonis hingga tiba JP Coen di Jayakarta.
Perselisihan itu berbuntut perang pada 1618 dan akhirnya pada 1619 Jayakarta berhasil direbut
Coen. Kisah tersebut di atas agak sulit didapat, kalaupun ada, informasinya berbeda dengan bahasa
yang tak teratur, pula. Demikian pula informasi tentang bagaimana wajah Fatahillah, misalnya.
Terlebih lagi di Museum Sejarah Jakarta (MSJ), yang memamerkan sejarah Jakarta sejak masa
pra sejarah hingga masa kolonial, ternyata tak ditemukan periode Jayakarta semasa Fatahillah.
Periode itu sepertinya hilang sehingga cerita melompat dari zaman pra sejarah, Hindu,
langsung Batavia di bawah JP Coen (kolonial).
Tak lengkap bicara sejarah Jakarta tanpa menyebut Fatahillah. Periode sekitar satu abad
hilang. Padahal inti sejarah Jakarta adalah dimulainya Jayakarta sebagai embrio Jakarta.
Tugas melengkapi periode Fatahillah itu tak sebatas tugas MSJ tapi juga dinas, dalam hal ini
dinas kebudayaan yang kini berbagi peran dengan dinas pariwisata. Keberadaan bidang
2/3
Sejarah Jakarta: Periode Fatahillah Hilang
Senin, 22 Juni 2009 10:17
pengkajian dan pengembangan sejak masa Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI
sejatinya antara lain bertugas menutupi bolongnya periode sejarah itu.
Barangkali di HUT ke-482 Jakarta ini lantas ada greget dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
DKI, khususnya bidang kebudayaan, untuk segera merapatkan diri, merancang program,
membenahi apa yang dirasa kurang dan melenceng, termasuk menggali potensi budaya asli
Jakarta.
Pasalnya, sejak penggabungan dua dinas, pariwisata dan kebudayaan, rasanya bidang
kebudayaan berjalan bagai tanpa pegangan, tanpa induk. Kalau boleh lebih gamblang, seperti
tak punya arah yang jelas, yaitu sebuah program besar yang disinerjikan dengan seluruh
bidang termasuk pariwisata. (tim adangdaradjatun.com/kompas.com)
3/3
Download