pemanfaatan instrumen musik tradisional bali untuk meningkatkan

advertisement
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
PEMANFAATAN INSTRUMEN MUSIK TRADISIONAL BALI UNTUK
MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR DALAM
PEMBELAJARAN BERNYANYI
1
Gede Pera Surpadiana, 2Ign. I Wayan Suwatra, 3Made Sumantri
13
Jurusan PGSD, 2Jurusan TP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected],
3
[email protected]
Abstrak
Penelitian in bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar
peserta didik saat pembelajaran bernyanyi dan ada tidaknya peningkatan hasil belajar
setelah pemanfaatan instrumen musik tradisional Bali dalam pembelajaran bernyanyi
pada mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan kelas V semester II tahun
pelajaran 2015/2016 di SD Negeri 2 Banjar Tegal. Penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas V SD Negeri 2 Banjar
Tegal yang berjumlah 18 orang. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan
dengan metode observasi dan tes. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode
analisis statistik deskriptif dan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa (1) pemanfaatan instrumen musik tradisional Bali dapat
meningkatkan keaktifan belajar dalam pembelajaran bernyanyi pada mata pelajaran
SBK di kelas V SD Negeri 2 Banjar Tegal. Rata-rata keaktifan belajar pada siklus I
sebesar 76,78, pada siklus II sebesar 81,67, besar peningkatan adalah 4,89, (2)
pemanfaatan instrumen musik tradisional Bali dapat meningkatkan hasil belajar dalam
pembelajaran bernyanyi pada mata pelajaran SBK di kelas V SD Negeri 2 Banjar Tegal.
Rata-rata hasil belajar pada siklus I mencapai 77,33 dan pada siklus II mencapai 83,11,
mengalami peningkatan sebesar 5,78.
Kata kunci: instrumen musik, keaktifan belajar, hasil belajar
Abstract
The research has a purpose to know wheter the student improve their activiness or not
in learning singing subject and whether there is the increase of study result
(psychomotor) or not after utilizing of Balinese traditional music instrument in teaching
singing in art, culture, and skill subject in V grade in second semester on 2015/2016 at
SD Negeri 2 Banjar Tegal. This research is action research. The subject of this research
is the student in V grade at SD Negeri 2 Banjar Tegal. There are 18 observation and test
then is analyzed by descriptive statistic analysis method and descriptive qualitative
method. The results showed that (1) the use of traditional Balinese musical instruments
can enhance the activity of learning in learning to sing on the subjects SBK class V SD
Negeri 2 Banjar Tegal. The average activity of learning in the first cycle reaches 76.78
and the second cycle reaches 81,67, an increase of 4,89, (2) the use of traditional
musical instruments of Bali can improve learning outcomes in learning to sing on the
subjects SBK class V SD Negeri 2 Banjar Tegal. The average results of study in the first
cycle reaches 77,33 and the second cycle reaches 83,11, an increase of 5,78.
Keywords : instrument music, study activiness, study result
1
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
PENDAHULUAN
Pendidikan seni
selalu hadir
dalam kurikulum sekolah, karena seni
merupakan
bagian
dari
kebutuhan
manusia. Untuk di sekolah dasar,
pendidikan seni diberikan pada mata
pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan
(SBK). Pendidikan Seni Budaya dan
Keterampilan diberikan karena keunikan,
kebermaknaan,
dan
kebermanfaatan
terhadap
kebutuhan
perkembangan
peserta didik. Secara spesifik mata
pelajaran SBK meliputi lima aspek yaitu
seni rupa, seni musik, seni tari, seni
drama/teater,
dan
keterampilan.
Sebagaimana tercantum dalam Depdiknas
(2005) mata pelajaran SBK diberikan
dengan tujuan agar peserta didik memiliki
pengalaman berekspresi, berkreasi, dan
berapreasi seni yang manfaatnya berguna
untuk mengembangkan kepekaan estetis,
meningkatkan kreativitas dan berpikir
kritis, serta menanamkan nilai-nilai etika
dalam berperilaku.
Seni musik sebagai salah satu
aspek seni yang diberikan di sekolah
dasar dan terintegrasi dalam mata
pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan
merupakan disiplin ilmu berkaitan dengan
penanaman
sikap
apresiasi
dan
pengekspresian karya musik, serta rasa
berkesenian (sense of art). Seni musik
merupakan salah satu cabang seni yang
menggunakan bunyi sebagai media,
ditinjau dari sumber bunyinya, bahannya,
dan cara memainkannya (Zakarias, 2010)
Pembelajaran seni musik di sekolah dasar
sebenarnya tidak terhambat pada masalah
minat dan bakat peserta didik tersebut,
tetapi juga bagaimana seorang guru
tersebut memberikan materi pembelajaran
seni musik. Salah satu pembelajaran seni
musik
di
sekolah
dasar
adalah
pembelajaran
bernyanyi.
Bernyanyi
merupakan suatu bentuk kegiatan seni
untuk
mengungkapkan pikiran dan
perasaan manusia melalui suaranya
dengan nada yang harmonis dan
beraturan (Jamalus dan Busroh,1993:13).
Dalam hal ini peserta didik tidak dituntut
menjadi seniman, melainkan hanya untuk
memperoleh pengalaman berekspresi dan
berapresiasi yang bersifat keterampilan
dasar.
Pengajaran
musik
adalah
pengajaran tentang bunyi. Bunyi musik itu
harus
didengarkan.
Pembelajaran
bernyanyi sebagai bagian dari musik
seyogianya diberikan melalui pengalaman
musik yang menimbulkan bermacammacam bunyi. Edwin E. Gordon dalam
bukunya Learning Sequences in Music,
memakai istilah audiation untuk pengertian
bayangan penginderaan musik. Dalam hal
ini
pemberian
pengalaman
musik
dimaksudkan
untuk
menanamkan
penghayatan penginderaan unsur-unsur
musik yang nantinya dapat menjadi
bayangan penginderaan musik dalam
panca indera anak. Agar peserta didik
memeroleh pemahaman yang bermakna,
unsur-unsur musik itu harusah diberikan
melalui kegiatan belajar aktif dalam bentuk
kegiatan pengalaman musik (Safrina,
1999:101). Mendengarkan musik atau
bunyi melalui instrumen musik (suling)
merupakan
salah
satu
kegiatan
pengalaman musik. Dengan demikian, hal
ini
dapat
menjadi
dasar
bagi
perkembangan mental yang disebut
pembentukan konsep. Konsep-konsep
tersebut merupakan dasar bagi anak
untuk dapat menarik kesimpulan dari
pengalaman musik yang didapatkan
sesuai dengan tingkat kebutuhan dan
perkembangan mental peserta didik.
Fakta yang terjadi di sekolah
menunjukkan
bahwa
dalam
pelaksanaannya
masih
banyak
kekurangan dan kendala yang dialami
guru
dalam
proses
pembelajaran
pendidikan seni musik khususnya dalam
pembelajaran bernyanyi. Guru terlihat
kesulitan dalam memahami nada sesuai
lagu yang diberikan sehingga guru hanya
menggunakan metode ceramah tanpa
mendemonstrasikannya terlebih dahulu.
Hal ini menyebabkan peserta didik
menjadi kaku, tidak bersemangat, bosan
dan bahkan tidak mengikuti pembelajaran
dengan baik. Sikap tersebut berdampak
pada keaktifan dan hasil belajar peserta
didik menurun.
Situasi demikian tergambar dalam
proses pembelajaran bernyanyi pada mata
pelajaran SBK di kelas V SD Negeri 2
Banjar Tegal. Hasil observasi yang
dilakukan, dalam pembelajaran bernyanyi
2
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
guru terlihat kesulitan dalam memahami
nada sesuai lagu yang dinyanyikan
sehingga guru hanya menggunakan
metode
ceramah
tanpa
mendemonstrasikan irama lagu dengan
tepat.
Berdasarkan pencatatan dokumen
nilai akhir peserta didik semester ganjil
tahun pelajaran 2015/2016, secara umum
nilai rata-rata peserta didik di kelas V
dalam mata pelajaran SBK adalah 74,23
dengan persentase 55,56% berada diatas
KKM atau 44,44% berada dibawah KKM.
Sementara itu, kriteria ketuntasan minimal
(KKM) untuk mata pelajaran SBK adalah
75. Apabila dikonversikan ke dalam
kriteria Penilaian Acuan Patokan (PAP)
tentang hasil belajar peserta didik, maka
persentase hasil belajar bernyanyi mata
pelajaran SBK peserta didik masih
tergolong rendah.
Berdasarkan hasil wawancara
yang dilakukan dengan wali kelas V atau
guru mata pelajaran SBK semester genap
di SD Negeri 2 Banjar Tegal pada tanggal
5 Nopember 2015, diperoleh informasi
bahwa terdapat beberapa permasalahan
yang diidentifikasi sebagai penyebab
rendahnya keaktifan dan hasil belajar
peserta didik dalam belajar bernyanyi
mata
pelajaran
SBK.
Pertama,
pembelajaran masih berpusat pada guru
(teacher centered). Guru hanya meminta
peserta didik untuk bernyanyi saja tanpa
memberikan contoh terlebih dahulu
bagaimana bernyanyi itu, sehingga pada
pembelajaran tersebut kurang efektif dan
peserta didik merasa bosan dan jenuh
sehingga tujuan pembelajaran tidak
tercapai sepenuhnya. Ke dua, guru yang
kurang menguasai materi pembelajaran
seni musik khususnya pembelajaran
bernyanyi, kebanyakan guru hanya
membaca materi pembelajaran seni musik
khususnya pembelajaran bernyanyi saja
tanpa melalui pengalaman bermusik. Ke
tiga, guru kurang memiliki pengetahuan
dan keterampilan tentang seni musik
khususnya dalam belajar bernyanyi,
sehingga dalam proses belajar mengajar
guru
kesulitan
dalam
memberikan
pelajaran bernyanyi. Ketiga hal tersebut
diidentifikasi menjadi faktor penyebab
peserta didik kurang mendapatkan
pemahaman dan pengalaman dalam
belajar
bernyanyi
sehingga
sulit
memahami unsur-unsur musik yang ada.
Hal ini menyebabkan peserta didik
cenderung pasif dan hasil belajar peserta
didik rendah.
Masalah rendahnya keaktifan dan
hasil belajar bernyanyi peserta didik pada
mata pelajaran SBK tersebut perlu
dicarikan suatu solusi agar pembelajaran
yang dilaksanakan dapat memberikan
hasil
yang
optimal
dan
mampu
meningkatkan keaktifan belajar sekaligus
hasil belajar peserta didik. Salah satunya
dengan
menerapkan
strategi
pembelajaran yang mampu memberikan
pengalaman kepada peserta didik dalam
hal mengenal dan memahami musik untuk
membangun pengetahuan berdasarkan
pengalaman nyata peserta didik dan
keaktifan peserta didik untuk ikut aktif
dalam pembelajaran. Salah satu solusi
yang dapat digunakan untuk mengatasi
masalah rendahnya keaktifan dan hasil
belajar bernyanyi dalam mata pelajaran
SBK peserta didik adalah dengan
memanfaatkan
instrumen
musik
tradisional Bali sebagai sarana dan media
dalam pengajaran musik. Salah satu
instrumen yang digunakan adalah suling
bambu. Suling merupakan alat musik tiup
yang sangat populer dan fleksibel di
masyarakat yang terbuat dari bambu yang
menggunakan enam buah lubang nada
dan
satu
lubang
pemanis
untuk
menimbulkan bunyi (Bandem, 2013:129).
Suling dipilih karena didasarkan dari
permasalahan yang muncul di sekolah
terutama kesulitan yang dialami peserta
didik untuk memahami irama lagu atau
menyanyikan lagu dengan nada yang
tepat. Dengan demikian, suling sebagai
salah satu instrumen musik tradisional
dirasa sangat tepat dimanfaatkan untuk
memberikan pengalaman musik kepada
peserta didik mengenai unsur melodi dari
lagu-lagu yang akan diajarkan.
Suling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah suling gamelan gong
kebyar dengan ukuran besar. Dengan
menggunakan nada dasar suling do = E.
Untuk
lagu
dengan
laras
pelog
(Majejangeran) digunakan nada dasar do
= A, sedangkan lagu dengan laras
3
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
selendro (Warga Desa) digunakan nada
dasar do = D. Perbedaan nada dasar
pada lagu yang dinyanyikan dilakukan
dengan
mengubah
tutupan
dalam
memainkan suling.
Memanfaatkan instrumen musik
secara tidak langsung sudah terintegrasi
dengan penggunaan metode demonstrasi.
Metode demonstrasi merupakan “metode
yang digunakan untuk membelajarkan
peserta didik terhadap suatu bahan belajar
dengan
cara
memperhatikan,
menceritakan, dan meperagakan bahan
belajar itu” (Sudjana, 2005:154). Dengan
memanfaatkan instrumen suling bambu,
peserta didik akan lebih mudah untuk
memahami dan mengerti nada dari
sebuah lagu, karena guru langsung
mempraktekkan dan mendemonstrasikan
unsur
melodi
dalam
pembelajaran
bernyanyi kepada peserta didik.
Berdasarkan permasalahan yang
telah diuraikan di atas, terdapat dua tujuan
dari penelitian ini. Tujuan tersebut adalah
1) Untuk mengetahui ada tidaknya
peningkatan aktivitas belajar peserta didik
saat pembelajaran bernyanyi pada mata
pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan
kelas V semester II tahun pelajaran
2015/2016 di SD Negeri 2 Banjar Tegal
kecamatan Buleleng kabupaten Buleleng.
2) Untuk mengetahui ada tidaknya
peningkatan hasil belajar peserta didik
setelah pemanfaatan instrumen musik
tradisional Bali dalam pembelajaran
bernyanyi pada mata pelajaran Seni
Budaya dan Keterampilan kelas V
semester II tahun pelajaran 2015/2016 di
SD Negeri 2 Banjar Tegal kecamatan
Buleleng kabupaten Buleleng.
semester II SD Negeri 2 Banjar Tegal
tahun pelajaran 2015/2016.
Jenis penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (Classroom Action
Research). Penelitian tindakan kelas
merupakan suatu bentuk penelitian yang
dilakukan terutama untuk mencari sesuatu
dasar pengetahuan praktis dalam rangka
memperbaiki keadaan pembelajaran di
kelas yang dilakukan secara terbatas dan
biasanya dilakukan terhadap suatu
keadaan atau program yang sedang
berlangsung (Agung, 2005:22). Tindakan
dalam penelitian ini akan dilakukan
dengan berkolaborasi dengan guru mata
pelajaran. Namun, dalam pelaksanaan
tindakan pembelajaran di kelas, peneliti
bertindak sebagai guru. Permasalahan
yang diteliti merupakan permasalahan riil
berkaitan dengan pembelajaran bernyanyi
pada mata pelajaran SBK yang dihadapi
guru dalam proses belajar mengajar.
Permasalahan ini akan dipecahkan
melalui penelitian tindakan kelas dengan
memanfaatkan
instrumen
musik
tradisional Bali yaitu suling. Langkahlangkah pembelajaran yang diterapkan
disesuaikan
dengan
tahapan
atau
langkah-langkah
(sintak)
metode
demonstrasi.
Penelitian ini dilaksanakan dalam
dua siklus dengan rancangan penelitian
yang digunakan mengacu pada rancangan
Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana
yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc
Taggart (dalam Agung, 2005:91) yang
tiap-tiap siklus terdiri atas empat tahap
yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan
tindakan, observasi atau evaluasi, serta
refleksi.
Siklus I dan II mengikuti langkah
yang sama seperti berikut ini untuk
mengkaji variabel yang diteliti yaitu
keaktifan belajar dan hasil belajar.
Perencanaan, rencana tindakan dalam
penelitian
ini
disusun
berdasarkan
masalah yang hendak dipecahkan dan
hipotesis tindakan yang diajukan. Secara
operasional, hal ini untuk mengetahui
efektivitas tindakan yang telah dilakukan.
Disamping mengidentifikasi aspek-aspek
dan hasil proses pembelajaran yang akan
berubah
juga
diidentifikasi
faktor
METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada
semester II tahun Pelajaran 2015/2016 di
kelas V SD Negeri 2 Banjar Tegal dengan
peserta didik berjumlah 18 orang yang
terdiri dari 8 orang peserta perempuan
dan 10 orang peserta laki-laki. Objek
penelitian ini adalah keaktifan peserta ddik
dalam pembelajaran bernyanyi mata
pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan
dan hasil belajar peserta didik dalam
pembelajaran bernyanyi mata pelajaran
Seni Budaya dan Keterampilan kelas V
4
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
pendukung maupun faktor penghambat
pelaksanaan
tindakan.
Pelaksanaan
tindakan, Pada tahap ini dilaksanakan
tindakan berupa pemanfaatan instrumen
musik tardisional Bali dalam proses
pembelajaran bernyanyi mata pelajaran
SBK kelas V dalam materi yang telah
dibuat pada tahap perencanan. Setiap
pelaksanaan tindakan dalam pertemuan
memanfaatkan
instrumen
musik
tradisional Bali dan tindakan pembelajaran
peneliti lakukan dan berkolaborasi dengan
guru mata pelajaran SBK kelas V. Selama
tindakan penelitian peserta didik difasilitasi
untuk aktif mengikuti pembelajaran sesuai
dengan
skenario
atau
langkahlangkah/sintak metode demonstrasi dan
memanfaatkan
instrumen
musik
tradisional
Bali.
Observasi/evaluasi,
observasi tersebut berkaitan dengan
keaktifan belajar peserta didik selama
pembelajaran berlangsung danproses
pemanfaatan instrumen musik tradisional
Bali
selama
proses
pembelajaran
sehingga
dapat
meningkatkan
kemampuan
peserta
didik
dalam
bernyanyi. Dalam setiap siklus, observasi
ini peneliti lakukan dan guru mata
pelajaran
dengan
mengisi
lembar
observasi yang di buat oleh peneliti pada
tahap perencanaan. Aspek keaktifan yang
diobservasi dalam hal ini adalah
mendengarkan penjelasan atau contoh,
bertanya, mempraktikkan, keterlibatan
latihan dalam kelompok, dan percaya diri
atau keberanian menampilkan lagu.
Selain itu, pada setiap akhir siklus akan
diberikan tes lisan sebgai bentuk evaluasi
untuk
mengetahui
peningkatan
kemampuan peserta didik berkaitan
dengan hasil belajar bernyanyi yang telah
disajikan melalui pemanfaatan instrumen
musik tradisional Bali. Terdapat lima
aspek yang dinilai dalam pelaksanaan tes
bernyanyi yaitu ketepatan nada, ketepatan
birama, ketepatan ketukan, irama lagu,
dan ketepatan terhadap lirik lagu.
Refleksi, tahap refleksi ini dilakukan untuk
mengkaji keaktifan belajar peserta didik
selama proses pembelajaran dan hasil
belajar peserta didik yang diperoleh
setelah pemanfaatan instrumen musik
tradisional Bali. Refleksi ini dilakukan
dengan melihat hambatan-hambatan yang
dialami dalam pelaksanaan tindakan pada
setiap siklus dan faktor penyebab
hambatan tersebut, selanjutnya mencari
dan menetapkan beberapa alternatif
tindakan baru yang diduga lebih efektif
untuk meningkatkan keaktifan dan hasil
belajar bernyanyi mata pelajaran SBK.
Alternatif tindakan ini akan ditetapkan
menjadi tindakan baru sebagai tindakan
perbaikan pada perencaan tindakan dalam
pelaksanaan penelitian tindakan kelas
pada siklus selanjutnya.
Data yang diperoleh dari hasil
penelitian adalah data kuantitatif dan
dianilisis dengan teknik statistik deskriptif
Proses analisis ini meliputi penyajian data
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi,
menghitung angka rata-rata (mean),
menghitung median, menghitung modus,
menyajikan data ke dalam grafik poligon.
Untuk selanjutnya dihitung persentase dan
ketuntasan
klasikal
peserta
didik,
kemudian dikonversikan dalam Penilaian
Acuan Patokan (PAP) skala lima.
Keberhasilan
pembelajaran
dengan memanfaatkan instrumen musik
tradisional Bali (suling) ditandai dengan
adanya peningkatan keaktifan dan hasil
belajar. Kriteria keberhasilan penelitian ini
adalah a) persentase rata-rata keaktifan
belajar berada pada rentang 80 - 89
dengan kriteria aktif, b) persentase ratarata hasil belajar berada pada rentang 80 89 dengan kriteria tinggi, c) ketuntasan
klasikal peserta didik mencapai 85%, yang
artinya sebanyak 85% peserta didik
memperoleh nilai sesuai dengan KKM
mata pelajaran SBK yang ditentukan di SD
Negeri 2 Banjar Tegal yaitu 75. Penelitian
dihentikan apabila kriteria keberhasilan
tersebut telah terpenuhi dan apabila belum
berhasil penelitian dilanjutkan ke siklus II.
5
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Penelitian dengan memanfaatkan
instrumen musik tradisional Bali dalam
pembelajaran bernyanyi mata pelajaran
Seni Budaya dan Keterampilan di kelas V
SD Negeri 2 Banjar Tegal secara umum
sudah berjalan dengan baik sesuai
dengan rencana pembelajaran yang
dirancang. Penelitian telah dilaksanakan
dari bulan Maret sampai April tahun 2016
dengan berkolaborasi dengan guru
pengampu mata pelajaran SBK di kelas V.
Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus,
setiap siklus pembelajaran dilaksanakan
dalam 4 kali pertemuan yaitu 3 kali
pertemuan untuk pembelajaran dan 1 kali
pertemuan untuk evaluasi (tes bernyanyi).
Data yang dikumpulkan dalam
penelitian ini yaitu data tentang keaktifan
belajar dan hasil belajar peserta didik
dalam pembelajaran bernyanyi dengan
memanfaatkan
instrumen
musik
tradisional Bali (suling). Data hasil belajar
diperoleh dari pelaksanaan tes lisan yaitu
menyanyikan lagu Majejangeran pada
siklus I dan lagu Warga Desa pada siklus
II dilaksanakan untuk mengumpulkan data
hasil belajar terutama aspek psikomotorik
peserta
didik.
Data
yang
telah
dikumpulkan tersebut kemudian dianalisis
dengan dengan teknik data yang telah
ditetapkan sebelumnya. Dari analisi data
yang telah dilakukan, dapat ditegaskan
hasil penelitian dalam bentuk tabel 1.
Tabel 1. Peningkatan Rata-rata Nilai Keaktifan Belajar dan Hasil Belajar
Variabel
Siklus I
Siklus II
Peningkatan
Keaktifan Belajar
76,78
81,67
4,89
Berdasarkan analisis data yang telah
dilakukan pada siklus I diperoleh rata-rata
keaktifan belajar peserta didik sebesar
76,78, mean 77,00, dan modus 79,00.
Dari 18 orang peserta didik, jumlah
peserta didik yang memperoleh tingkat
keaktifan belajar dalam kategori aktif
sebanyak 2 orang dan jumlah peserta
didik yang memperoleh tingkat keaktifan
belajar dalam kategori cukup aktif
sebanyak 16 orang. Persentase tingkat
keaktifan belajar secara klasikal sebesar
77,78%. Dari hasil observasi yang telah
dilakukan, peserta didik belum mampu
mencapai nilai rata-rata keaktifan belajar
dengan rentang 80 - 89 atau dalam
kategori aktif sesuai yang ditetapkan
dalam kriteria keberhasilan, begitu pula
dengan persentase tingkat keaktifan
belajar secara klasikal juga belum
mencapai kriteria keberhasilan yang ingin
dicapai karena masih dibawah 85%.
Rata-rata hasil belajar peserta
didik yang diperoleh pada siklus I sebesar
Rata-rata
Hasil Belajar
77,33
83,11
5,78
77,33, median 78, dan modus 80. Dari 18
orang peserta didik, 13 orang sudah
mencapai nilai diatas KKM yaitu 9 orang
memeroleh nilai dalam kategori tinggi dan
9 orang dalam kategori sedang. Secara
klasikal ketuntasan hasil belajar mencapai
72,22%. Dengan demikian, nilai rata-rata
hasil belajar pada siklus I belum mencapai
rentang 80 – 89 atau kategori tinggi sesuai
atau lebih dari PAP skala lima yang
ditentukan. Begitu juga dengan ketuntasan
klasikal peserta didik yang belum
mencapai 85%.
Berdasarkan data keaktifan belajar
dan hasil belajar yang diperoleh pada
siklus I dapat disimpulkan bahwa nilai
rata-rata keaktifan sudah memenuhi
kriteria, akan tetapi secara klasikal belum
mencapai ketuntasan, sedangkan nilai
rata-rata hasil belajar dan ketuntasan
secara klasikal belum sama sekali
memenuhi kriteria keberhasilan, maka dari
itu akan dilanjutkan penelitiaan ke siklus II
dengan memerhatikan kendala atau
6
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
permasalahan yang terjadi pada siklus I,
sehingga pada siklus II permasalahan
tersebut dapat diatasi dan kriteria
keberhasilan yang diinginkan dapat
tercapai.
Hasil observasi pada siklus I
menunjukkan bahwa dalam pemanfaatan
instrumen musik tradisional Bali (suling)
terdapat
beberapa
kendala
atau
permasalahan yang harus diperbaiki.
Adapun kendala atau permasalahan
tersebut adalah a) terdapat beberapa
peserta
didik
yang
kurang
baik
memerhatikan materi pelajaran yang
dijelaskan, b) beberapa peserta didik
masih ada yang belum aktif untuk
menyanyikan lagu yang diberikan, c)
dalam diskusi kelompok masih ada
beberapa peserta didik yang kurang aktif,
d) peserta didik sulit bekerjasama dalam
satu kelompok. Kendala ini diakibatkan
oleh peserta didik yang tidak mau berbaur
dengan peserta didik yang lainnya
sehingga cenderung kecemburuan sosial,
e) dalam memanfaatkan instrumen musik
tradisional Bali, masih ada beberapa
peserta didik yang belum mampu
menyanyikan lagu dengan tangga nada
yang tepat, dan f) peserta didik terlihat
kesulitan ketika diberikan model lagu yang
berlaras pelog.
Berbagai upaya dilakukan untuk
meminimalisasi permasalahan yang terjadi
dalam penelitian. Salah satunya dengan
berkoordinasi dengan guru mata pelajaran
SBK di kelas V. Peneliti dan guru mata
pelajaran berusaha mengarahkan peserta
didik agar belajar bernyanyi dengan
serius. Beberapa peserta didik diberikan
bimbingan agar mendengarkan penjelasan
guru dengan baik sehingga tidak
menggangu peserta didik lain dalam
belajar. Kecenderungan yang terjadi di
kelas, peserta didik hanya sekedar
bernyanyi tanpa memerhatikan cara
bernyanyi yang baik dan benar. Dengan
demikian, peneliti melatih peserta didik
secara
berulang-ulang
dengan
memanfaatkan instrumen musik agar
muncul motivasi dan keaktifan peserta
didik dalam belajar bernyanyi.
Dibalik permasalahan yang muncul
dalam siklus I, ada beberapa kelebihan
yang
diperoleh
dalam
proses
pembelajaran
bernyanyi
dengan
memanfaatkan
instrumen
musik
tradisional Bali (suling). Kelebihan tersebut
antara lain a) peserta didik lebih mudah
memahami irama dari suatu model lagu
yang diberikan karena peserta didik
mendapatkan pengalaman bermusik yakni
mendengarkan secara langsung irama
lagu melalui instrumen suling, b) peserta
didik lebih mengikuti pembelajaran dengan
penuh semangat dan aktif dalam
mempraktikkan model lagu. Hal ini
dikarenakan selain menyanyikan lagu
dengan diiringi suling, guru juga
mengelola pembelajaran dengan penuh
suasana kegembiraan melalui pembuatan
ritme lagu baik itu dengan memanfaatkan
anggota tubuh atau instrumen musik
sederhana yang ada di kelas, dan c)
hubungan sosial peserta didik yang satu
dengan peserta didik yang lainnya menjadi
lebih baik karena dalam kelompok peserta
dituntut
untuk
bekerjasama
dalam
memahami lagu yang diberikan.
Dari hasil observasi yang dilakukan
terhadap keaktifan belajar peserta didik
diperoleh data bahwa rata-rata nilai
keaktifan belajar peserta didik pada siklus
II sebesar 81,67, sehingga rata-rata nilai
keaktifan belajar peserta didik dari siklus I
ke siklus II meningkat sebesar 4,89 yaitu
dari 76,78 (siklus I) menjadi 81,67 (siklus
II). Pada siklus II, dari 18 orang peserta
didik, 14 orang (77,78%) berada dalam
ketegori aktif dan 4 orang (22,22%)
berada dalam kategori cukup aktif. Nilai
keaktifan belajar peserta didik yang
diperoleh sudah mencapai nilai pada
rentang 80 – 89 atau kategori aktif (sesuai
kriteria keberhasilan). Secara klasikal,
ketuntasan belajar pada siklus II mencapai
88,89% sehingga telah mencapai kriteria
keberhasilan yaitu sebesar 85%. Dengan
demikian, keaktifan belajar peserta didik
kelas V semester II SD Negeri 2 Banjar
Tegal tahun pelajaran 2015/2016 pada
siklus
II
telah
memenuhi
kriteria
keberhasilan yang ingin dicapai yaitu nilai
keaktifan belajar peserta didik berada
pada rentang 80 – 89 (aktif) dengan
persentase tingkat keaktifan belajar
klasikal sama dengan atau lebih dari 85%.
Sedangkan dari hasil tes bernyanyi
secara individu yang diberikan kepada
7
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
peserta didik, diperoleh data bahwa ratarata hasil belajar peserta didik pada siklus
II sebesar 83,11, sehingga rata-rata hasil
belajar peserta didik dari siklus I ke siklus
II meningkat sebesar 5,78 yaitu dari 77,33
(siklus I) menjadi 83,11 (siklus II). Dari 18
orang peserta didik yang dites pada siklus
II, jumlah peserta didik yang mencapai
nilai dalam kategori sangat tinggi
sebanyak 1 orang (5,55%), 13 orang
(72,22%) dalam kategori tinggi, dan 4
orang (22,22%) berada dalam kategori
sedang. Dengan demikian, persentase
ketuntasan belajar peserta didik pada
siklus II telah mencapai 100% sesuai
persentase hasil belajar yang ditetapkan
secara klasikal minimal 85% (sudah dapat
mencapai kriteria keberhasilan). Dilihat
dari data tersebut, maka hasil belajar
peserta didik kelas V semseter II SD
Negeri 2 Banjar Tegal tahun pelajaran
2015/2016 pada siklus II telah mencapai
kriteria keberhasilan yang ingin dicapai
yaitu nilai hasil belajar peserta didik
mencapai rentang 80 – 89 (aktif) dengan
persentase hasil bejalar secara klasikal
sama dengan atau lebih dari 85%.
Setelah dilaksanakan penelitian
pada siklus II, kendala atau permasalahan
pada siklus I relatif sudah dapat teratasi,
walaupun terdapat beberapa kendala yang
masih muncul dalam penelitian tersebut.
Akan tetapi, secara umum dari analisi data
yang dilakukan, tujuan penelitian sudah
tercapai sesuai kriteria keberhasilan yang
ditentukan. Keaktifan belajar dan hasil
belajar peserta didik dalam pembelajaran
bernyanyi di kelas V SD Negeri 2 Banjar
Tegal sudah meningkat secara signifikan.
Dengan demikian, penelitian pemanfaatan
instrumen musik tradisional Bali dalam
pembelajaran pada mata pelajaran Seni
Budaya
dan
Keterampilan
dapat
dihentikan.
mampu bernyanyi dengan suara yang
bagus. Peserta didik dengan aktif
mencoba secara berulang-ulang untuk
mempraktikkan atau melatih model lagu
yang diberikan. Pemanfaatan instrumen
musik sangat membantu peserta didik
untuk memahami irama lagu dengan
mudah. Pada kegiatan awal pembelajaran,
peserta didik diberikan kesempatan untuk
memahami solmisasi melalui instrumen
suling yang dimainkan oleh guru. Dari
alunan melodi yang muncul dari instrumen
musik diharapkan peserta didik mampu
mengembangkan
daya
imajinasinya
mengenai irama suatu lagu.
Dalam penelitian ini, talenta musik
dari peserta didik sendiri juga menjadi hal
yang sangat penting untuk diperhatikan.
Hal ini dikarenakan Tuhan menciptakan
manusia
dengan
karakter
dan
kemampuan masing-masing artinya ada
peserta didik yang memiliki talenta musik
yang baik dan ada pula yang tidak
memilikinya. Peserta didik yang sama
sekali tidak memiliki kecenderungan musik
(musikalitas) yang baik, akan cukup sulit
untuk menjadi dan mengontrol nada. Lain
halnya dengan seseorang yang telah
memiliki talenta musik (sekecil apapun
itu). Melalui latihan intensif yang didukung
dengan instrumen musik (salah satunya
suling), peserta didik akan lebih mudah
menguasai dan mengontrol nada. Akan
tetapi, untuk peserta didik yang kurang
memiliki kemampuan musik, jika dengan
hanya memanfaatkan instrumen suling
untuk mengatasi hal tersebut mungkin
tidak akan begitu maksimal. Maka dari itu,
peserta
didik
yang
memiliki
kecenderungan seperti itu diperlukan kerja
keras dan cerdas untuk mendapatkannya.
Harus ada tips latihan vokal yang bisa
mengatasinya dengan jangka waktu yang
relatif lama. Walaupun demikian, akan
tetap diusahakan untuk melatih peserta
didik secara berulang-ulang dengan
memanfaatkan suling sebagai instrumen
melodi
sehingga
setidaknya
bisa
memberikan kepekaan nada terhadap
model lagu yang diberikan.
Bernyanyi
dengan
diiringi
instrumen musik
merupakan kegiatan
yang sangat menarik dan membantu
peserta didik. Sejak awal, ketika peserta
PEMBAHASAN
Pemanfaatan instrumen musik
tradisional Bali yaitu suling menjadi
pembelajaran
yang
pertama
kali
diterapkan di kelas V SD Negeri 2 Banjar
Tegal dalam pembelajaran bernyanyi pada
mata pelajaran SBK. Animo peserta didik
untuk belajar bernyanyi begitu baik,
walaupun tidak semua peserta didik
8
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
didik melihat instrumen musik (suling),
peserta didik begitu antusias untuk belajar.
Memanfaatkan instrumen musik dalam
pembelajaran bernyanyi merupakan salah
satu cara untuk memotivasi peserta didik
agar
aktif
mempraktikkan
atau
menyanyikan model lagu yang diajarkan.
Dengan iringan instrumen musik dan
bimbingan yang diberikan guru diharapkan
kemampuan
peserta
didik
untuk
menyanyikan lagu dengan nada yang
tepat dapat meningkat. Hal ini sejalan
dengan
Safrina
(1999:100)
yang
menyatakan bahwa anak-anak sangat
menyenangi kegiatan bernyanyi, mereka
senang meniru orang dewasa, dan aktif
bergerak. Salah satu yang muncul dalam
kegiatan pembelajaran adalah antusias
peserta didik untuk menirukan lagu begitu
tinggi. Tidak jarang peserta didik
menyanyikan lagu model lagu dengan
bertepukan
tangan,
saling
sahutmenyahut, dan bergoyang. Nana Sudjana
dan Ahmad Rifai (dalam Agung, 2005:73)
menyatakan salah satu ciri cara belajar
peserta didik aktif adalah adanya respon
nyata terhadap stimulus yang diberikan.
Aktivitas peserta didik tersebut merupakan
salah satu indikator bahwa adanya
keaktifan belajar peserta didik.
Pemanfaatan instrumen musik
tradisional Bali (suling) sebagai salah satu
bentuk pemberian pengalaman musik
kepada peserta didik juga dapat
meningkatkan hasil belajar bernyanyi
peserta didik terutama dalam aspek
psikomotor.
Hasil
penelitian
yang
diperoleh sejalan dengan teori yang
terdapat dalam bukunya Jamalus (1993)
bahwa suatu pembelajaran musik salah
satunya bernyanyi perlu diajarkan dengan
memberikan pengalaman bermusik untuk
memberikan penginderaan musik atau
penghayatan penginderaan unsur-unsur
musik yang nantinya dapat menjadi
bayangan penginderaan musik dalam
panca indera dalam anak. Pemanfaatan
instrumen
musik
tradisional
Bali
merupakan salah satu dari pengalaman
bermusik
tersebut.
Pemanfaatan
instrumen
musik
(suling)
dalam
pembelajaran bernyanyi memudahkan
peserta didik untuk menyanyikan sutu lagu
dengan nada yang tepat sesuai irama lagu
yang diajarkan. Hal ini dikarenakan suling
merupakan salah satu instrumen musik
melodi yang bisa dimanfaatkan untuk
menanamkan rasa nada dan melodi
kepada peserta didik. Dengan bernyanyi,
bermain dan mendengarkan musik,
bergerak mengikuti bunyi, peserta didik
mengalami kepuasan dan kenikmatan
ketika belajar.
Dengan memerhatikan pendapat
Safrina (1999) dan Jamalus (1993) yang
telah diuraikan diatas tentang anak-anak
sangat menyenangi kegiatan bernyanyi,
dan suatu pembelajaran musik diajarkan
dengan
memberikan
pengalaman
bermusik, maka kegiatan bernyayi sebagai
salah satu pembelajaran dalam aspek seni
musik perlu diajarkan secara sungguhsungguh.
Aktivitas
ini
bertujuan
mengembangkan kemampuan peserta
didik untuk mendengar apa yang dilihat
dan melihat apa yang terdengar. De
Francesco
(dalam
Zakarias,
2010)
menyatakan bahwa pendidikan seni
mempunyai
kontribusi
terhadap
pengembangan individu yaitu membantu
pengembangan
mental,
emosional,
kreativitas, estetika, sosial, dan fisik.
Kegiatan anak dalam seni mendorong
pembelajaran untuk meningkatkan daya
kreativitas yang dimiliki peserta didik serta
percaya terhadap potensi yang dimilikinya
tersebut karena kesempatan untuk
berekspresi secara optimal adalah melalui
seni. Melalui pendidikan seni salah
satunya bernyanyi, peserta didik dilatih
untuk mengembangkan bakat kreatif,
kemampuan dan keterampilan yang dapat
ditransfer pada kehidupan kerja sebagai
mata pencaharian maupun untuk rekreasi
sebagai hobi atau kesenangan.
Pelaksanaan penelitian dengan
berpedoman dari beberapa teori dan
pendapat para ahli, memberikan hasil
yang berbanding lurus dengan teori
tersebut. Salah satu penelitian relevan
(Eka Lestari Dewi, 2012) yang mendukung
keberhasilan
dari
penelitian
ini
memberikan fakta bahwa ketika penelitian
pada siklus I belum berhasil, kemudian
penelitian dilanjutkan ke siklus II yang
dalam pembelajaran bernyanyi pada
penelitian siklus II tersebut diiringi
instrumen
musik
keyboard,
hasil
9
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
DAFTAR PUSTAKA
Agung, A. A. Gede. 2005. Metodologi
Penelitian Pendidikan. Fakultas
Ilmu Pendidikan Institut Keguruan
dan Keilmuan Negeri Singaraja.
pembelajaran bernyanyi memeroleh hasil
belajar yang lebih baik jika dibandingkan
dengan siklus sebelumnya. Peningkatan
atau keberhasilan penelitian tersebut
dipengaruhi oleh pengalaman musik yang
diberikan peneliti kepada peserta didik
melalui instrumen musik keyboard.
Dengan demikian, jelas bahwa pengaruh
pemberian pengalaman bermusik berupa
instrumen musik (keyboard) dalam
pembelajaran
bernyanyi
dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Mempelajari lagu melalui pendengaran
dengan menggunakan nada-nada yang
berasal dari instrumen musik adalah
metode yang dapat mengembangkan
kemampuan mengingat bayangan nada.
Tujuan
penelitian
dengan
memanfaatan instrumen musik tradisional
Bali dalam pembelajaran bernyanyi telah
tercapai. Berdasarkan teori, penelitian
yang relevan, logika, dan hasil analisis
data yang telah dilakukan dapat
diinterpretasikan bahwa pemanfaatan
instrumen musik tradisional Bali secara
efektif dan efisien, maka keaktifan belajar
dan hasil belajar peserta didik kelas V SD
Negeri
2
Banjar
Tegal
dalam
pembelajaran bernyanyi pada mata
pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan
bisa meningkat.
Bandem, I Made. 2013. Gamelan Bali
Diatas
Panggung
Sejarah.
Yogyakarta: BP STIKOM Bali.
-------. 1993. Mudra Jurnal Seni Budaya.
Edisi Khusus Februari 1993.
Denpasar: STSI Press.
Depdiknas. 2005. Standar Kompetensi
dan Kompetensi Standar Mata
Pelajaran Seni Budaya. Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan
Pembelajaran.
Jakarta:
PT.
Rineka Cipta.
Eka
PENUTUP
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan yang telah diuraikan pada
bab sebelumnya, dapat diambil beberapa
simpulan
bahwa
(a)
pemanfaatan
instrumen musik tradisional Bali dapat
meningkatkan keaktifan belajar dalam
pembelajaran bernyanyi pada mata
pelajaran SBK di kelas V SD Negeri 2
Banjar Tegal. Rata-rata keaktifan belajar
pada siklus I sebesar 76,78, pada siklus II
sebesar 81,67, besar peningkatan adalah
4,89, (b) pemanfaatan instrumen musik
tradisional Bali dapat meningkatkan hasil
belajar dalam pembelajaran bernyanyi
pada mata pelajaran SBK di kelas V SD
Negeri 2 Banjar Tegal. Rata-rata hasil
belajar pada siklus I mencapai 77,33 dan
pada siklus II mencapai 83,11, mengalami
peningkatan sebesar 5,78.
Lestari Dewi, Ni Putu. 2012.
Penerapan Metode Demonstrasi
untuk Meningkatkan Hasil Belajar
dalam Pembelajaran Bernyanyi
pada Mata Pelajaran SBK Siswa
Kelas VI Semester II SD No. 4
Baturiti,
Kecamatan
Baturiti,
Kabupaten
Tabanan
Tahun
Pelajaran 2011/2012. Sikripsi
(tidak diterbitkan). Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha.
Hamalik, Oemar. 2011. Proses Belajar
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Jamalus dan Busroh, H. 1993. Pendidikan
Kesenian 1 (Musik). Jakarta:
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi.
Rachmawati, T. dan Daryanto. 2015. Teori
Belajar
dan
Proses
Pembelajaran yang Mendidik.
Yogyakarta: Gava Media.
Safrina, Rien. 1999. Pendidikan Seni
Musik. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi.
10
e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD Vol: 4 No: 1 Tahun: 2016
Sanjaya,
Wina.
2006.
Strategi
Pembelajaran
Beorientasi
Standar Proses Pendidikan.
Jakarta:
Kencana
Prenada
Media Group.
Sudijono, Anas. 2006. Pengantar Statistik
Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sudjana, H.D. 2005. Metoda dan Teknik
Pembelajaran
Partisipatif.
Bandung: Falah Production.
Siregar, Syofian. 2011. Statistika Deskriptif
untuk Penelitian: Dilengkapi
Perhitungan
Manual
dan
Aplikasi SPSS Versi 17. Jakarta:
Rajawali Pers.
Situmorang,
R.
2006.
Pembelajaran.
Universitas Terbuka.
Sukerta, Pande Made. 2009. Gong Kebyar
Buleleng:
Perubahan
dan
Keberlanjutan Tradisi Gong
Kebyar. Surakarta: ISI Press
Surakarta.
Desain
Jakarta:
Zakarias. 2010. Pendidikan Seni. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Kementrian Pendidikan
Nasional.
11
Download