01. cover rs kiki

advertisement
Lampiran 1. Struktur Organisasi RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan
DIREKTUR
KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL
WAKIL DIREKT UR
BIDANG PELAYANAN
MEDIS DAN
KEPERAWAT AN
WAKIL DIREKT UR
BIDANG ADMINISTRASI
UMUM DAN KEUANGAN
BIDANG
PELAYANAN
PENUNJ ANG MEDIS
BIDANG
PENDIDIKAN
DAN
PELATIHAN
SEKSI
PERENCANAAN DAN
PENGEMBANGAN
PELA-YAAN
KEPERAWAT AN
SEKSI
PELAYANAN
PENUNJ ANG SARANA
MEDIS
SEKSI
PENDIDIKAN DAN
PELATIHAN
PEGAWAI
SEKSI
MONITORING DAN
EVALUASI
PELAYANAN
KEPERAWAT AN
SEKSI
PELAYANAN
PENUNJ ANG SARANA
NON MEDIS
BAGIAN
UMUM
BAGIAN
KEUANGAN
BAGIAN
PERLENGKAPAN
PEMELIHARAAN
BIDANG
PELAYANAN
MEDIS
BIDANG
PELAYANAN
KEPERAWAT AN
SUB BAGIAN
TATA USAHA
SUB BAGIAN
PERBENDAHARA
AN
SUB BAGIAN
INVENT ARIS
RUMAH SAKIT
SEKSI
PERENCANAAN
DAN
PENGEMBANGAN
PELAYAAN MEDIS
SUB BAGIAN
KEPEGAWAIAN
SUB BAGIAN
MOBILISASI
DANA
SUB BAGIAN
PENGADAAN
BARANG
SUB BAGIAN
AKUNT ANSI DAN
VERIFIKASI
SUB BAGIAN
PERGUDANGAN
SUB BAGIAN
HUKUM
HUBUNGAN
MASYRAKAT
SEKSI
MONITORING DAN
EVALUASI
PELAYANAN MEDIS
WAKIL DIREKT UR
BIDANG SUMBER DAYA
MANUSIA DAN
PENDIDIKAN
SEKSI
PENDIDIKAN
DAN
PELATIHAN NON
PEGAWAI
BIDANG
PENELITIAN
DAN
PENGEMBANGA
N
SEKSI
PENELITIAN
SEKSI
PERPUSTAKAA
N
BIDANG
PENGOLAHAN
DAT A DAN
REKAM MEDIK
SEKSI
PENGOLAHAN
DAT A RAWAT
JALAN DAN
RAWAT INAP
SEKSI
REKAM MEDIK
Instalasi Rawat Jalan
Instalasi Rawat Inap
Instalasi Rehabilitasi Medis
Instalasi Diagnostik
Instalasi Farmasi
Instalasi Gawat Darurat
Instalasi Gizi
Instalasi Bedah Sentral
Instalasi Pemulasaran Jenazah dan Kedokteran
Instalasi Pelayanan
Instalasi Kemotoran
Instalasi Hemodialis is
Instalasi Loundry dan Sandang
Instalasi Radiologi
Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL)
Instalasi Patologi
Instalasi Gas Medis
Instalasi Patologi Klinik
Instalasi CSSD
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 2. Struktur organisasi Instalasi Farmasi RSUD dr. Pirngadi Kota Medan
DIREKTUR
RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN
KOMITE
FARMASI & TERAPI
KEPALA
Ø Adm & Keuangan
Ø Umum
INSTALASI FARMASI
SEKRETARIS
Dra. Singgar NR, Apt
Koordinator
PERLENGKAPAN
Koordinator
DISTRIBUSI
Dra. Nur Intan S, Apt
Ø
Ø
Ø
Ø
Ø
Pemilihan
Perencanaan
Pengadaan
Penyimpanan
Produksi
Ø PIO
Ø Dik & Lit
Ø Konseling obat
Perencanaan & Evaluasi
Jhonson L Tobing, S.Si, Apt
Pel. Farmasi IBS
Nurhikmah A.P., S.Si, Apt
Ø Pel. Farmasi Pasien Jaminan Kesehatan
Rawat Jalan/Rawat Inap
Ø Pel. Farmasi Umum Rawat Jalan/Inap
Ø Pel. Farmasi BMHP Ruangan &
Poliklinik
Ø Pel. Kemoterapi
Pel. Farmasi IGD
Naomi Basaria S., S.Si, Apt
Pel. Pasien Umum RI/ RJ
Johnson L. Tobing, S.Si, Apt., MM
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 3. Daftar permintaan dan pengeluaran farmasi (Form B-2)
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 4. Form Pelayanan Pencampuran Obat Sitostatika
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 5. Catatan Pemberian Obat (CPO)
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 6. Rekapitulasi Perhitungan Unit Cost Pasien Askes
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 7. Formulir P1 (Permohonan Pembelian Barang Medis)
RUMAH SAKIT dr. PIRNGADI
MEDAN
HAL.
PERMOHONAN PEMBELIAN BARANG MEDIS
No. ...............
P. 1
No.
Urut
NAMA
BARANG
DARI GUDANG : .......................................................
DIISI KEPALA BAGIAN FARMASI
TAKSIRAN HARAGA
SATUAN
KOREKSI
Rp.
PED.
@
JUMLAH
B.F
KETERANGAN
PEMAKAIA
STOK
STOK
N BLN.
GUDANG
APOTIK
TERAKHIR
Jumlah Rp.
Medan, .................................20...........
Disetujui
Gudang bagian yang memohon,
(...............................................)
(...................................................)
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 8. Formulir Surat Pesanan/Order Pembelian
RUMAH SAKIT UMUM dr. PIRNGADI
Jl. Prof. H.M. Yamin S.H. No. 47 Telp. 4521198 – 4521267
Medan
Kepada Yth : ………………………………
………………………………
No :
ORDER PEMBELIAN
No.
urut
Nama Barang
Satuan
Jumlah
Keterangan
*) Pada Surat Pengiriman Barang dan
Faktur agar dicantumkan nomor order ini
Medan, ………………...
Mengetahui/Disetujui
Kepala Pengadaan RSUD dr. Pirngadi
Kepala Instalasi Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 9. Surat Pesanan Narkotika
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 10. Surat Pesanan Psikotropika
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 11. Faktur Pajak Standar
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 12. Surat Setoran Pajak Penghasilan (SSP PPh)
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 13. Surat Setoran Pajak Pertambahan Nilai (SSP PPN)
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 14. Berkas Pemeriksaan Untuk Pengajuan Pembayaran
BERKAS PEMERIKSAAN UNTUK PENGAJUAN PEMBAYARAN
NO. ORDER/TGL
NO. FAKTUR
P.B.F
Waktu Pembayaran
N
o.
1.
:
:
:
:
Pemeriksaan
Surat pesanan
Barang masuk
- Surat pengantar
barang
- Faktur
Bukti pembayaran
- Kwitansi
- Faktur pajak
- S.S.P
...
...
.
Diperiksa oleh
Tanda tangan
Ketua Tim
1. .................
Dra. Erlina, Apt
Keterangan
....................
2. ..................
....................
3. .................
....................
..
ADM Farmasi
...
...
.
...
...
.
Sekretaris TIM
Dra.Singgar N.R., Apt
...
...
.
...
...
.
...
...
.
Medan, .................... 20........
TIM SWAKELOLA
PERBEKALAN FARMASI
Ketua,
Dra. Erlina, Apt
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 15. Formulir Protokol Terapi dari IGD
SURAT KETERANGAN
Yang bertanda tangan di bawah ini menegaskan bahwa pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
No. KP Askes
No.MR
Diagnosa
:...................................................................
: ..................................................................
:...................................................................
:...................................................................
:...................................................................
:...................................................................
Memerlukan obat khusus yang menggunakan protokol terapi dan digunakan di
IGD antara lain :
1.
2.
3.
Alasan pemberian : ................................................................................
................................................................................................................
................................................................................................................
Medan , .....................
Dokter Jaga IGD
(........................................)
Petugas Yang Menyerahkan
(……………………………..)
Tim Legalisasi
(………………………..)
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 16. Formulir Protokol Terapi dari Ruangan
SURAT KETERANGAN PERMINTAAN OBAT KHUSUS
Dengan Hormat,
Dengan ini kami mohon diberikan untuk penderita:
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin
:
No. KP Askes
:
No. MR
:
Alamat
:
Ruangan
:
Diagnosa
:
Memerlukan obat khusus yang menggunakan Protokol Terapi, antara lain:
1.
2.
3.
Alasan pemberian: .....................................................................................................
.........................................................................................................................
.............................................................................................................................
Disetujui oleh:
Petugas PT. Askes
(
Dokter Yang Merawat
)
(
)
Tim legalisasi
(
)
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 17. Formulir Pemakaian Obat Golongan Narkotik
FORM. PEMAKAIAN OBAT GOLONGAN NARKOTIKA
Nama pasien
:
Ruang rawat
:
Alamat pasien
:
Nama Dokter
:
No.
Nama Obat
No. Rekam medik
Satuan
Jumlah
Angka
:
Aturan Pakai
Huruf
Medan, ....................
Tanda Tangan Dokter
Nama Jelas
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 18. Formulir Pemakaian Obat-obatan dan Alat Kesehatan untuk Pasien
Operasi
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 19. Kartu Obat
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 20. Kartu Kendali Obat Pasien
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 21. Formulir PIO (Pelayanan Informasi Obat)
PELAYANAN INFORMASI OBAT (PIO)
INSTALASI RSU Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN
No
Tanggal
Status
Asal
:
:
: Pasien / Perawat / Dokter / ……………….
: Ruangan / Umum / Poliklinik…………….
Nama Obat / Isi
: 1. …………………………………………..
2. …………………………………………..
3. …………………………………………..
4. …………………………………………..
Indikasi
: ……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
Efek Samping
: ……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
Kontra indikasi
: ……………………………………………..
……………………………………………..
Informasi Tambahan : ……………………………………………..
……………………………………………..
……………………………………………..
Penerima Informasi
(
)
Pemberi Informasi
(
)
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 22. Kuitansi Pembayaran Pengadaan Perbekalan Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 23. Form pelayanan kefarmasian kemoterapi sitotoksik
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 24. Alur aktifitas fungsional CSSD
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 25. Alur kerja (aktifitas) instalasi CSSD RSUD dr. Pirngadi
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 26. Proses sterilisasi barang medis habis pakai
Universitas Sumatera Utara
Lampiran 27. Proses sterilisasi barang medis ulang pakai
Universitas Sumatera Utara
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI
FARMASI RUMAH SAKIT
di
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. PIRNGADI
KOTA MEDAN
STUDI KASUS
TUBERKULOSIS PARU
Oleh:
Sri Rezeki, S.Farm.
NIM 123202157
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
Universitas Sumatera Utara
RINGKASAN
Telah dilakukan studi kasus pada Praktek Kerja Profesi (PKP) Farmasi
Rumah Sakit di Instalasi Rawat Inap Paru Flamboyan 3 (Ruang XVIII) Rumah
Sakit Umum Daerah DR. Pirngadi Medan. Pengamatan dilaksanakan pada tanggal
31 Oktober 2013 s/d 07 November 2013. Tujuan dilaksanakannya studi kasus ini
adalah untuk memantau penggunaan obat pada pasien AH yang dirawat di ruang
Rawat Inap Paru Flamboyan 3 (Ruang XVIII) Rumah Sakit Umum Daerah dr.
Pirngadi Medan.
Studi kasus yang diambil yaitu pada pasien “ TB paru ”. Kegiatan studi
kasus meliputi visite (kunjungan) terhadap pasien, memberikan pemahaman dan
dorongan kepada pasien untuk tetap mematuhi terapi yang telah ditetapkan oleh
dokter, memberikan informasi obat kepada pasien dan keluarga pasien, melihat
rasionalitas penggunaan obat terhadap pasien.
Penilaian Rasionalitas penggunaan Obat meliputi 4 T + 1 W yaitu: Tepat Pasien,
Tepat Obat, Tepat Indikasi, Tepat Dosis dan Waspada Efek samping. Obat-obatan
yang dipantau dalam kasus ini adalah Ranitidin injeksi, ciprofloxacin injeksi,
kalnex injeksi, vitamin C, codein tablet, rifampisin tablet, isoniazid tablet,
pirazinamid tablet, etambutol tablet, OBH syrup dan vitamin B6 tablet.
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ............................................................................................................
i
RINGKASAN .................................................................................................
ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................
iii
DAFTAR TABEL ..........................................................................................
vi
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
vii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................
1
1.1 Latar Belakang .............................................................................
1
1.2 Tujuan ...........................................................................................
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................
3
2.1 Definisi Tuberkulosis Paru ...........................................................
3
2.2 Etiologi dan Patofisiologi Tuberkulosis Paru .............................
3
2.3 Klasifikasi TB Paru ......................................................................
4
2.4 Diagnosis TB Paru ........................................................................
7
2.5 Pengobatan TB ..............................................................................
11
BAB III PENGAMATAN DAN PENATALAKSANAAN .....................
15
3.1 Identitas Pasien ..............................................................................
15
3.2 Keadaan pasien sewaktu masuk RSUD Dr. Pirngadi Kota
Medan ............................................................................................
15
3.3 Riwayat Pasien ................................................................................
15
3.4 Pemeriksaan ...................................................................................
16
3.4.1 Pemeriksaan Fisik Pasien di IGD ........................................
16
3.4.2 Pemeriksaan Laboratorium Hematologi ............................
16
Universitas Sumatera Utara
3.4.3 Pemeriksaan Gula Darah .....................................................
17
3.4.4Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi Klinik ...............
17
3.4.5Pemeriksaan Jasmani ............................................................
18
3.4.6Pemeriksaan foto thorax .......................................................
19
3.5 Diagnosis Penyakit ........................................................................
19
3.6 Terapi ..............................................................................................
19
BAB IV PEMBAHASAN ...........................................................................
21
4.1 Pembahasan tanggal 31 Oktober dan 01 November 2013...........
22
4.1.1 Pengkajian Tepat Pasien .....................................................
23
4.1.2 Pengkajian Tepat Indikasi ...................................................
24
4.1.3 Pengkajian Tepat Obat ........................................................
24
4.1.4 Pengkajian Tepat Dosis .......................................................
26
4.1.5 Pengkajian Efek Samping ..................................................
26
4.2 Pembahasan tanggal 02 – 04 November 2013 ..........................
27
4.2.1 Pengkajian Tepat Pasien .....................................................
28
4.2.2 Pengkajian Tepat Indikasi ...................................................
28
4.2.3 Pengkajian Tepat Obat ........................................................
28
4.2.4 Pengkajian Tepat Dosis .......................................................
29
4.2.5 Pengkajian Efek Samping ..................................................
31
4.3 Pembahasan tanggal 05 November 2013 .....................................
32
4.3.1 Pengkajian Tepat Pasien .....................................................
33
4.3.2 Pengkajian Tepat Indikasi ...................................................
33
4.3.3 Pengkajian Tepat Obat ........................................................
33
4.3.4 Pengkajian Tepat Dosis .......................................................
33
Universitas Sumatera Utara
4.4 Pembahasan tanggal 06 - 07 November 2013 .............................
33
4.4.1 Pengkajian Tepat Pasien .....................................................
34
4.4.2 Pengkajian Tepat Indikasi ...................................................
34
4.4.3 Pengkajian Tepat Obat ........................................................
34
4.4.4 Pengkajian Tepat Dosis .......................................................
35
4.4.5 Pengkajian efek samping ....................................................
35
KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................
35
5.1 Kesimpulan ..............................................................................
36
5.2 Saran ........................................................................................
36
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................
38
BAB V
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Jenis dan Dosis OAT ....................................................................
11
Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan fisik ................................................................
16
Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan hematologi .....................................................
17
Tabel 3.3 Hasil Pemeriksaan gula darah ......................................................
17
Tabel 3.4 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi Klinik ..............
18
Tabel 3.5
Hasil Pemeriksaan Jasmani ..........................................................
18
Tabel 3.6
Pemeriksaan foto thorax (AP) .....................................................
19
Tabel 3.7
Daftar Obat-obat yang digunakan pasien selama pemantauan ..
20
Tabel 4.1 Pemeriksaan fisik ..........................................................................
23
Tabel 4.2
Terapi yang diberikan ..................................................................
23
Tabel 4.3
Efek samping obat .......................................................................
27
Tabel 4.4
Pemeriksaan fisik ..........................................................................
27
Tabel 4.5
Terapi yang diberikan ..................................................................
28
Tabel 4.6
Efek samping obat ........................................................................
31
Tabel 4.7
Pemeriksaan fisik ..........................................................................
32
Tabel 4.8
Terapi yang diberikan ..................................................................
32
Tabel 4.9
Pemeriksaan fisik ..........................................................................
33
Tabel 4.10 Terapi yang diberikan ..................................................................
34
Tabel 4.11 Efek samping obat .........................................................................
35
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Tanda dan Gejala TBC ...............................................................
8
Gambar 2.2. Contoh Toraks TBC ...................................................................
9
Universitas Sumatera Utara
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual,
maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara
sosial dan ekonomis. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan
yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan
pendekatan pemeliharaan,
peningkatan kesehatan (promotif),
pencegahan
penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif),
yang
dilaksanakan
secara
menyeluruh,
terpadu
dan
berkesinambungan (Aulia, 2010).
Tuntutan pasien
dan
masyarakat akan mutu
pelayanan
farmasi
mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari paradigma lama drug oriented ke
paradigma baru patient oriented dengan filosofi Pharmaceutical Care (pelayanan
kefarmasian). Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu
dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah
obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan (Siregar, 2004).
Salah satu misi dari praktek farmasi di rumah sakit adalah melakukan
pelayanan farmasi klinis di rumah sakit yaitu dengan melakukan pemantauan
penggunaan obat. Pemantauan penggunaan obat ini berguna untuk memastikan
bahwa pasien menggunakan obat secara tepat. Salah satu tanggung jawab apoteker
dalam pelayanan kefarmasian adalah pelayanan secara langsung kepada pasien
berkaitan dengan obat, untuk meningkatkan kepatuhan penggunaan obat dan
Universitas Sumatera Utara
menghindari kesalahan penggunaan obat agar meningkatkan kualitas hidup pasien
(Siregar, 2004).
Kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah sakit antara lain adalah visite
pasien dan pengkajian penggunaan obat. Visite ke pasien merupakan kegiatan
kunjungan ke pasien rawat inap bersama tim dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
Tujuannya
adalah untuk
pemilihan
obat,
menerapkan
secara
langsung
pengetahuan farmakologi terapetik, menilai kemajuan pasien dan bekerja sama
dengan tenaga kesehatan lain. Pengkajian penggunaan obat merupakan program
evaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan untuk
menjamin obat-obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau
oleh pasien (Aslam, 2003).
Dalam rangka menerapkan praktek farmasi klinis di rumah sakit, maka
mahasiswa/i apoteker perlu diberi pengetahuan dan pengalaman dalam bentuk
praktek kerja profesi di rumah sakit. Adapun studi kasus yang diambil adalah
kasus Tuberkulosis Paru.
1.2 Tujuan
Tujuan dilakukan studi kasus ini adalah:
a. Memberikan pemahaman kepada pasien untuk mematuhi terapi yang telah
ditetapkan dokter sehingga meningkatkan kepatuhan pasien dalam hal
penggunaan obat
b. Mengamati rasionalitas penggunaan obat di rumah sakit
c. Melaksanakan beberapa aplikasi farmasi klinis.
Universitas Sumatera Utara
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh
Mycobacteria tuberculosis dan menular secara langsung (Depkes RI, 2005).
2.2 Etiologi dan Patofisiologi Tuberkulosis Paru
Mycobacterium tuberculosis termasuk basil gram positif, berbentuk
batang, dinding selnya mengandung komplek lipida-glikolipida serta lilin (wax)
yang sulit ditembus zat kimia. Umumnya Mycobacterium tuberculosis menyerang
paru dan sebagian kecil organ tubuh lain. Kuman ini mempunyai sifat khusus,
yakni tahan terhadap asam pada pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi
dahak secara mikroskopis sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA)
(Depkes RI, 2005).
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada waktu batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan
dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu
kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup
kedalam saluran pernafasan. Jadi penularan TB tidak terjadi melalui perlengkapan
makan, baju, dan perlengkapan tidur. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh
manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru-paru ke
bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, dan
bagian lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya
bakteri yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil
Universitas Sumatera Utara
pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan
dahak negatif (tidak terlihat bakteri), maka penderita tersebut dianggap tidak
menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi
droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Depkes RI, 2005).
Secara klinis, TB dapat terjadi melalui infeksi primer dan paska primer.
Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman TB untuk pertama kalinya.
Setelah terjadi infeksi melalui saluran pernafasan, di dalam alveoli (gelembung
paru) terjadi peradangan. Hal ini disebabkan oleh kuman TB yang berkembang
biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu terjadinya infeksi hingga
pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-6 minggu. Infeksi paska primer
terjadi setelah beberapa bulan atau tahun setelah infeksi primer. Ciri khas TB
paska primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi
pleura. Kemungkinan untuk terinfeksi TB, tergantung pada:
a. Kepadatan droplet nuclei yang infeksius per volume udara
b. Lamanya kontak dengan droplet nuclei
c. Kedekatan dengan penderita TB
(Depkes RI, 2005)
2.3. Klasifikasi TB Paru
a. Berdasarkan Organ Tubuh
Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena (Depkes RI, 2005):
i.
Tuberkulosis paru
Tuberkulosis
paru
adalah tuberkulosis yang
menyerang jaringan
(parenkim) paru.
Universitas Sumatera Utara
ii.
Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit:
i. Tuberkulosis paru BTA negatif foto toraks positif
Dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan
ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran
kerusakan paru yang luas.
ii. Tuberkulosis ekstraparu dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya,
yaitu:
Tuberkulosis
ekstra
paru
ringan,
misalnya:
tuberkulosis kelenjar limfe, tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan
kelenjar adrenal. Tuberkulosis ekstraparu berat, misalnya: meningitis,
milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, tuberkulosis
tulang belakang, tuberkulosis usus, tuberkulosis saluran kemih dan alat
kelamin (Depkes RI, 2006).
b. Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Dahak Mikroskopik
Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopik (Depkes RI,
2005):
i. Tuberkulosis paru BTA positif.
a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif.
b. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
Universitas Sumatera Utara
c. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB
positif.
d. 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak
SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak
ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
ii. Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif.
Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
a. Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
b. Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c. Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d. Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
c. Berdasarkan Tipe Pasien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu (Depkes RI, 2005):
i. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
ii. Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
iii. Kasus setelah putus berobat (default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih
dengan BTA positif.
Universitas Sumatera Utara
iv. Kasus setelah gagal (failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
v. Kasus lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas, dalam
kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan
(Depkes RI, 2006).
2.4. Diagnosis TB Paru
a. Gejala Klinis TB Paru
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu
atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur
darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan
menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang
lebih dari satu bulan. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi,
maka setiap orang yang datang dengan gejala tersebut di atas, dianggap sebagai
seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak
secara mikroskopis langsung (Depkes RI, 2006). Lihat Gambar 2.1.
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.1. Tanda dan Gejala TBC
b. Pemeriksaan Jasmani
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari
organ yang terlibat.
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan
struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak
(atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di
daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 dan S2) ,
serta daerah apeks lobus inferior (S6).
Pada pemeriksaan jasmani dapat
ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki
basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosis, kelainan pemeriksaan fisis tergantung dari
banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada
auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang
terdapat cairan.
Universitas Sumatera Utara
Pada limfadenitis tuberkulosis, terlihat pembesaran kelenjar getah bening,
tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadangkadang di daerah ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi “cold
abscess”.
c. Pemeriksaan foto thorax
-
Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas
tidak jelas.
-
Pada kavitas bayangan berupa cincin.
-
Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas
tinggi. Sebagai contoh lihat Gambar 2.2.
Gambar 2.2. Contoh Toraks TBC
Indikasi pemeriksaan foto toraks
Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan
pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun
pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan
indikasi sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara
i. Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini
pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis ‘TB
paru BTA positif.
ii. Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak
SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada
perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
iii. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang
memerlukan
penanganan
khusus
(seperti:
pneumotorak,
pleuritis
eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang
mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau
aspergiloma).
d. Pemeriksaan Dahak Mikroskopis
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak
untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak
yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa SewaktuPagi-Sewaktu (SPS),
i. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung
pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk
mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.
ii. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera
setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas.
iii. S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada hari kedua, saat menyerahkan dahak
pagi (Depkes RI, 2006).
Universitas Sumatera Utara
e. Diagnosis TB Paru
Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu
sewaktu - pagi - sewaktu (SPS). Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan
dengan ditemukannya kuman TB. Pada program TB nasional, penemuan BTA
melalui
pemeriksaan
dahak
mikroskopis
merupakan
diagnosis
utama.
Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan
sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
2.5 Pengobatan TB
Tujuan pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Depkes RI, 2006).
Obat yang digunakan untuk tuberkulosis digolongkan atas dua kelompok
yaitu kelompok pertama dan kelompok kedua. Kelompok obat pertama yaitu
rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin. Kelompok obat
ini memperlihatkan efektivitas yang tinggi dengan toksisitas yang dapat diterima.
Jenis dan dosis OAT dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Jenis dan Dosis OAT
Dosis yg dianjurkan
Dosis
DosisMaks
Obat (Mg/Kg Harian (mg/
(mg)
Intermitten
BB/Hari)
kgBB /
(mg/Kg/BB/kali)
hari)
R
8-12
10
10
600
H
4-6
5
10
300
Z
20-30
25
35
E
15-20
15
30
S
15-18
15
15
1000
Dosis (mg) / berat
badan (kg)
< 40
40-60 >60
300
450 600
150
300 450
750 1000 1500
750 1000 1500
Sesuai
750 1000
BB
Universitas Sumatera Utara
Sedangkan kelompok obat kedua yaitu antibiotik golongan fluorokuinolon
(ciprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin), sikloserin, etionamid, kanamisin,
kapreomisin, dan para aminosalisilat. Penggunaan OAT kelompok kedua
misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon
tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena
potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT kelompok pertama.
Disamping itu dapat juga meningkatkan terjadinya resiko resistensi pada OAT
kelompok kedua (Depkes RI, 2006).
a. Prinsip Pengobatan
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
i. Tahap awal (intensif)
a. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
b. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat,
biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2
minggu.
c. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan.
ii. Tahap Lanjutan
a. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama.
b. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.
Universitas Sumatera Utara
b. Panduan OAT yang Digunakan di Indonesia
Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis di Indonesia (Dirjen PPM dan PL, 1999):
i.
Kategori 1
Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3
Paduan ini terdiri atas: 2 bulan fase awal intensif dengan Isoniazid (H),
Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol (E) diminum setiap hari,
diteruskan dengan fase lanjutan selama 4 bulan dengan Isoniazid (H), Rifampisin
(R), 3 kali dalam seminggu.
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
a. Pasien baru TB paru BTA positif.
b. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
c. Pasien TB ekstra paru
ii. Kategori 2
Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Paduan ini terdiri atas: 2 bulan fase awal intensif dengan Isoniazid (H),
Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol (E) diminum setiap hari, setiap
kali selesai minum obat langsung diberi suntikan streptomisin. Dilanjutkan 1
bulan pemberian Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol
(E) diminum setiap hari. Diteruskan dengan fase lanjutan selama 5 bulan dengan
Isoniazid (H), Rifampisin (R) dan Etambutol (E) diminum 3 kali dalam seminggu.
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
Universitas Sumatera Utara
a. Pasien kambuh
b. Pasien gagal
c. Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus)
Pasien yang menderita TB yang cukup berat membutuhkan streptomisin
dalam kombinasinya untuk prevensi resistensi (Amin,1989).
iii. Kategori 3
Kategori 3 : 2(HRZ)/4(HR)3
Paduan ini terdiri atas: 2 bulan fase awal intensif dengan Isoniazid (H),
Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) diminum setiap hari, diteruskan dengan fase
lanjutan selama 4 bulan dengan Isoniazid (H), Rifampisin (R), 3 kali dalam
seminggu.
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
a. Pasien baru BTA negatif/rontgen positif.
b. Pasien ekstra paru ringan.
Universitas Sumatera Utara
BAB III
PENGAMATAN DAN PENATALAKSANAAN
3.1 Identitas Pasien
Nama
: AH
Jenis Kelamin
: Pria/ 73 tahun
Berat Badan
: 42 kg
Agama/Suku
: Islam
Status Perkawinan
: Kawin
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Wiraswasta
Tanggal Masuk Rumah Sakit : 31 Oktober 2013
Jenis Pelayanan
: Jamkesmas
Ruangan
: XVIII
3.2 Keadaan pasien sewaktu masuk RSUD dr. Pirngadi Kota Medan
Pasien masuk ke rumah sakit RSUD dr. Pirngadi Kota Medan di Instalasi
Gawat Darurat pada tanggal 31 Oktober 2013 jam 13.30 WIB dengan keluhan
batuk berdarah dan lemas.
3.3 Riwayat Pasien
Pasien datang dengan keluhan batuk berdarah sejak 5 hari yang lalu,
setelah batuk berdahak pasien juga merasakan sesak nafas, deman, keringat
malam dan penurunan berat badan. Pasien mempunyai riwayat merokok sejak 55
tahun yang lalu. Tidak ada Riwayat OAT, DM dan Hipertensi.
Universitas Sumatera Utara
3.4 Pemeriksaan
Pada tanggal 31 Oktober 2013 pasien telah menjalani pemeriksaan yaitu
pemeriksaan
fisik
dan untuk
menunjang
tepatnya
diagnosis dilakukan
pemeriksaan laboratorium patologi klinik yang meliputi hematologi, gula darah,
dan radiologi.
3.4.1 Pemeriksaan fisik pasien di IGD
Pemeriksaan fisik pasien sangat diperlukan untuk membantu dalam
pemberian terapi obat sehingga pasien menerima obat tepat obat dan tepat dosis.
Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Hasil pemeriksaan fisik
No
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Compos Mentis
-
1
Sensorium
2
Tekanan Darah (TD)
110/70 mmHg
120/80 mmHg
3
Nadi (HR)
76 kali/menit
70-90 kali/menit
4
Pernafasan (RR)
26 kali/menit
10-20 kali/menit
5
Temperatur
35,7 0C
370C
Keluhan Utama
: Batuk berdarah
Keluhan Tambahan
: Batuk berdahak, demam, penurunan berat badan, sesak
nafas, dan keringat malam.
Suara pernafasan
: vesikuler
Suara tambahan
: ronki
3.4.2 Pemeriksaan Laboratorium Hematologi
Pemeriksaan hematologi (hemogram) terdiri dari leukosit, eritrosit,
hemoglobin, hematokrit, indeks eritrosit dan trombosit. Untuk melihat apakah
Universitas Sumatera Utara
hematologi pasien berada di atas normal atau di bawah normal dapat dilihat pada
Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan Hematologi
Keterangan
No
Hasil Lab
Nilai Normal
12400 *
4000-10000 uL
1
WBC ( leukosit )
2
RBC ( eritrosit)
3,74 *
4,5-5,5/106/uL
3
HGB ( hemoglobin)
10,4 *
13-16 gr/dL
4
HCT ( hematocrit)
32,5 *
39,0-40,0/%
5
PLT ( trombosit)
384000
150000-440000/uL
3.4.3 Pemeriksaan gula darah
Pemeriksaan gula darah dilakukan untuk melihat apakah pasien
mengalami riwayat diabetes (kenaikan kadar gula darah) atau tidak. Hasil
pemeriksaan kadar gula darah pasien ini dapat dilihat pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Hasil pemeriksaan gula darah
Pemeriksaan
Glukosa adrandom
Hasil
Nilai normal
80 mg/dl
<140 mg/dl
3.4.4 Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi klinik
Untuk menentukan kepastian seseorang menderita tuberkulosis dapat
dilakukan dengan pemeriksaan mikrobiologi terutama pemeriksaan dahak
(sputum) yang berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan. Data tersebut dapat dilihat pada
Tabel 3.4.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 3.4 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi Klinik
Spesimen/ Hasil kultur
Spesimen: Sputum
Hasil kultur:
Bakteri Aerob: Mycobacterium tuberculosis.
Direct BTA:
Pemeriksaan I
: (negatif)
Pemeriksaan II : (negatif)
Pemeriksaan III : (negatif)
3.4.5 Pemeriksaan Jasmani
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari
organ yang terlibat. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas
kelainan struktur paru. Pemeriksaan fisik paru dapat dilihat pada Tabel 3.5. Dari
pemeriksaan inilah pasien dapat dikatakan terinfeksi bakteri tuberkulosis atau
tidak.
Tabel 3.5 Hasil Pemeriksaan Jasmani
Pemeriksaan Fisik Paru
- Inspeksi : Dada simetris
- Palasi : Sf ka > ki
- Perkusi : Pekak pada lapangan paru kiri
- Auskultasi : Ronki basah
Diagnosa : TB paru
Universitas Sumatera Utara
3.4.6 Pemeriksaan foto thorax
Pemeriksaan foto thorax sangat dibutuhkan untuk menunjang apakah
pasien benar terdiagnosa TB paru atau tidak dengan melihat kelainan-kelainan
yang timbul pada thorax misalnya adanya filtrat. Telah dilakukan pemeriksaan
foto thorax pada pasien ini. Pasien didiagnosa TB paru dengan adanya filtrat
berupa bercak awan pada paru kiri pasien. Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada
Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Hasil Pemeriksaan foto thorax (AP)
Hasil foto thorax(AP)
Jantung : jantung dalam batas normal
Tulang – tulang intak
Dijumpai fibroinfiltrat di lapangan paru kiri
Sudut costophrenicus lancip
Kesan : TB paru aktif
3.5 Diagnosis Penyakit
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang berupa
foto thorax (AP) dan pemeriksaan laboratorium, dokter mendiagnosa pasien
menderita tuberkulosis paru.
3.6 Terapi
Selama pemantauan terapi obat yang diberikan pada pasien dapat dilihat
pada Tabel 3.7.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 3.7 Daftar Obat-obat yang digunakan pasien selama pemantauan
Jenis Obat
Tanggal 31 Oktober
dan 01 November
2013
Dosis sehari
Rute
Infus Nacl 0,9%
20 tetes/menit
iv
Ranitidin injeksi
1 ampul/8 jam
iv
Ciprofloxacin 0,2%
1 ampul/12 jam
iv
Kalnex injeksi
1 ampul/hari
iv
Vit C
3x1 (25 mg)
oral
Codein tablet
3x1 (10 mg)
oral
Infus Nacl 0,9%
20 tetes/menit
i.v
Ranitidin injeksi
1 ampul/8 jam
iv
Ciprofloxacin 0,2%
1 ampul/12 jam
iv
Kalnex injeksi
1 ampul/hari
iv
Vit C
3x1 (25 mg)
oral
Codein tablet
3x1 (10 mg)
0ral
Rifampisin
1x1 (450 mg)
oral
Pirazinamid
1x2 (500 mg)
oral
Isoniazid
1x1 (300 mg)
oral
Etambutol
1x2 (500 mg)
oral
Tanggal
02 - 04 November
2013
Universitas Sumatera Utara
Lanjutan Tabel 3.7
Infus Nacl 0,9%
20 tetes/menit
i.v
Ranitidin injeksi
1 ampul/8 jam
iv
Ciprofloxacin 0,2%
1 ampul/12 jam
iv
Vit C
3x1 (25 mg)
oral
Codein tablet
3x1(10 mg)
oral
Rifampicin kapsul
1x1 (450 mg)
oral
Isoniazid
1x1 (300 mg)
oral
Pirazinamid
1x2 (500 mg)
oral
Etambutol
1x2 (500 mg)
oral
Infus Nacl 0,9%
20 tetes/menit
i.v
Ranitidin injeksi
1 ampul/8 jam
iv
Ciprofloxacin 0,2%
1 ampul/12 jam
iv
Vit C
3x1 (25 mg)
oral
Codein tablet
3x1(10 mg)
oral
Rifampicin kapsul
1x1 (450 mg)
oral
Isoniazid
1x1 (300 mg)
oral
Pirazinamid
1x2 (500 mg)
oral
Etambutol
1x2 (500 mg)
oral
OBH Syrup
3x1(300 ml)
oral
Vit B6 tablet
3x1(10 mg)
oral
Tanggal
05 November 2013
Tanggal
06 – 07 November
2013
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien AH masuk ke RSUD dr. Pirngadi Kota Medan melalui Instalasi
Gawat Darurat (IGD) pada tanggal 31 Oktober 2013. Pasien mengalami batuk
berdarah, sesak nafas, demam dan penurunan berat badan. Untuk mengetahui
tindakan dan kondisi pasien lebih lanjut, maka pasien menjalani rawat inap pada
hari yang sama di ruangan XVIII Paru (Flamboyan 3).
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik, hematologi, gula darah dan
radiologi. Berdasarkan hasil diagnosis, pasien mengalami tuberkulosis paru.
Pemeriksaan dahak merupakan diagnosis utama untuk menegakkan
apakah seseorang menderita TB paru atau tidak. Pemeriksaan lain seperti foto
toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis
sepanjang sesuai dengan indikasinya.
Pasien AH telah menjalani pemeriksaan fisik dan patologi klinik,
dilakukan pemeriksaan mikrobiologi berupa uji BTA untuk mengetahui apakah
pasien positif menderita TB paru yaitu dengan ditemukannya Mycobacterium
tuberculosis pada dahak pasien. Selama dirawat pasien mendapat terapi obatobatan. Pemantauan terapi obat dilakukan mulai dari tanggal 31 Oktober 2013
sampai 7 November 2013.
4.1 Pembahasan tanggal 31 Oktober dan 01 November 2013
Pada tanggal 31 Oktober 2013, pasien mengalami batuk berdarah, sesak
nafas, demam dan penurun berat badan. Tanggal 01 November 2013 pasien
mengalami keringat malam. Pemeriksaan ini dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.1 Pemeriksaan fisik
No.
Pemeriksaan
Tanggal 31 Oktober
Tanggal 01 November
2013
2013
1.
Tekanan Darah (TD)
110/70 mmHg
100/60 mmHg
2.
Nadi (HR)
76 kali/menit
86 kali/menit
3.
Pernafasan (RR)
26 kali/menit
24 kali/menit
4.
Suhu Tubuh (T)
35,7 0C
35,7 0C
Dari hasil pemeriksaan diatas terapi obat yang dapat diberikan dapat
dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Terapi yang diberikan
Jenis Obat
Tanggal 31 Oktober
dan 01 November
2013
Dosis sehari
Rute
Infus Nacl 0,9%
20 tetes/menit
Iv
Ranitidin injeksi
1 ampul/8 jam
Iv
Ciprofloxacin 0,2%
1 ampul/12 jam
Iv
Kalnex injeksi
1 ampul/hari
Iv
Vit C
3x1 (25 mg)
oral
Codein tablet
3x1 (10 mg)
oral
4.1.1 Pengkajian tepat pasien
Pada tanggal 31 Oktober 2013 pasien masuk rumah sakit dengan keluhan
batuk berdarah, sesak nafas, demam, keringat malam dan penurunan berat badan.
Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, hematologi dan radiologi. Berdasarkan
hasil pemeriksaan hematologi, diketahui bahwa nilai WBC diatas normal, RBC
Universitas Sumatera Utara
dan HGB dibawah normal. Uji sputum dahak SPS pasien menunjukkan BTA
negatif dengan gejala klinik dan gambaran foto thorax positif TB paru.
4.1.2 Pengkajian tepat indikasi
Pemberian IVFD RL berfungsi untuk menjaga keseimbangan elektrolit
dan cairan. Ranitidin injeksi diberikan karena pasien mengalami mual dan nyeri
ulu hati.
Kalnex injeksi diberikan karena pasien mengalami batuk berdarah. Asam
traneksamat bekerja mencegah degradasi fibrin, pemecahan trombosit, dan
pemecahan faktor koagulasi. Sebaiknya tidak diberikan bila trombosit normal.
Ciprofloxacin diberikan sebagai antibiotik karena adanya infeksi pada
pasien. Quinolon merupakan antibiotik bakterisidal yang bekerja menyerang DNA
gyrase sehingga menghambat replikasi dan transkripsi DNA.
Codein merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf pusat dengan
menekan pusat batuk. (Anonim, 2013).
Vitamin C diberikan sebagai vitamin tambahan yang dipercaya dapat
membunuh bakteri tuberkulosis dan menjaga kekebalan tubuh terhadap virus.
4.1.3 Pengkajian tepat obat
Pemberian infus Nacl 0,9% sudah tepat untuk kondisi pasien yang lemas.
Pasien juga mengalami batuk berdarah, diberi juga Kalnex untuk mengurangi
perdarahan ketika batuk. Melihat hasil pemeriksaan hematologi pasien diketahui
bahwa trombosit pasien dalam keadaan normal. Diketahui bahwa Trombosit
adalah komponen sel darah yang berfungsi dalam proses menghentikan
perdarahan dengan membentuk gumpalan. Dapat disimpulkan sebaiknya pasien
tidak diberikan kalnex, sebab trombosit normal sudah mampu menghentikan
Universitas Sumatera Utara
batuk berdarah pasien. Pendarahan terjadi apabila mengalami penurunan
trombosit. Pemicu batuk berdarah kemungkinan disebabkan karena tekanan batuk
yang kuat, sebaiknya diberikan OBH syrup untuk mempermudah batuk dan
membantu pengeluaran dahak. Pasien diberikan juga anti biotik ciprofloxacin
yang baik untuk infeksi saluran nafas pasien. (Anonim, 2013).
Dari hasil pemeriksaan hematologi diketahui bahwa pasien mengalami
penurunan HGB. Penurunan HGB terjadi pada penderita anemia. Kondisi ini
ditandai dengan keadaan pasien yang terlihat lemas dan pucat. Hematokrit
menunjukkan persentase zat padat (kadar sel darah merah, dan Iain-Iain) dengan
jumlah cairan darah. Penurunan hemotokrit terjadi pada pasien yang mengalami
kehilangan darah akut (kehilangan darah secara mendadak, misalnya anemia.
Anemia didefinisikan oleh tingkat hemoglobin (Hb). Hemoglobin (Hb)
merupakan protein dalam sel darah merah, yang mengantar oksigen dari paru-paru
ke bagian tubuh yang lain. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht <
41% pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht < 37% pada wanita.
Berdasarkan kondisi pasien, hal ini menunjukkan bahwa pasien
mengalami anemia et causa penyakit kronis dan defisiensi zat besi. Pengkajiannya
dapat dilihat sebagai berikut:
a. Penyakit Kronik
Pasien telah menderita batuk kronik lebih dari 1 bulan dan batuk berdarah
yang menyebabkan berkurangnya darah.
Universitas Sumatera Utara
b. Defisiensi Besi
Dengan asupan makanan yang kurang dan nafsu makan pasien yang
kurang memungkinkan terjadinya kurangnya asupan zat besi secara oral
selama pasien sakit.
Sebaiknya pasien diberikan penambahan asam folat untuk membangun
sel-sel darah merah yang sehat. Eritrosit dan Hb mempunyai peranan penting bagi
tubuh karena bertugas mengambil oksigen pada paru-paru dan mengedarkannya
keseluruh tubuh serta mengambil karbondioksida pada tubuh untuk dikeluarkan
kembali melalui paru-paru. Mengkonsumsi asam folat akan menciptakan sel darah
merah yang baik bagi tubuh. Sebaiknya mengkonsumsi asam folat disertai dengan
asupan vitamin B6/B12 untuk mengoptimalkan penyerapannya dalam tubuh.
Pemberian zat besi juga sangat diperlukan sebab kekurangan asupan zat
besi dapat menyebabkan anemia. Zat besi juga berperan penting dalam
pembentukan Hb dan memperbaiki warna merah pada sel darah serta membantu
membawa oksigen ke sel-sel tubuh. Pemberian Curcuma juga dapat diberikan
dengan kondisi pasien yang kurang nafsu makan.
4.1.4 Pengkajian tepat dosis
Dosis lazim ciprofloxacin injeksi diberikan sudah tepat dosis karena dosis
lazim dari ciprofloxacin adalah 200 mg/12 jam secara iv. Codein tablet juga telah
tepat dosis karena dosis lazim dari codein adalah 30 – 60 mg tiap 4 – 6 jam.
4.1.5 Pengkajian efek samping
Pengkajian efek samping obat sangat diperlukan apabila pasien mengalami
keluhan terhadap obat yg dikonsumsinya. Efek samping obat yang di gunakan
pasien dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.3 Efek samping obat
Jenis obat
Efek samping
Kalnex injeksi
Mual, muntah, diare, pusing
Ranitidin injeksi
Ruam kulit, nyeri perut, lemah, diare,
konstipasi, sakit kepala
Ciprofloxacin injeksi
Mual,
muntah,
diare,
gangguan
pencernaan, anokresia.
Codein tablet
Mengantuk
4.2 Pembahasan tanggal 02 – 04 November 2013
Pada tanggal 02-04 November 2013, pasien mengalami batuk, keringat
malam, sesak nafas, dan susah tidur. Pemeriksaan ini dapat dilihat pada Tabel 4.4
Tabel 4.4 Pemeriksaan fisik
No.
Pemeriksaan
Tanggal
Tanggal
Tanggal 04
02 November
03 November
November
2013
2013
2013
1.
Tekanan Darah (TD)
100/60 mmHg
110/70 mmHg
120/70 mmHg
2.
Nadi (HR)
80 kali/menit
68 kali/menit
80 kali/menit
3.
Pernafasan (RR)
24 kali/menit
24 kali/ menit
24 kali/menit
4.
Suhu Tubuh (T)
35,7 0C
35,3 0C
35,6 0C
Dari hasil pemeriksaan diatas terapi obat yang dapat diberikan dapat
dilihat pada Tabel 4.5.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.5 Terapi yang diberikan
Jenis Obat
Dosis sehari
Rute
Infus Nacl 0,9%
20 tetes/menit
i.v
Ranitidin injeksi
1 ampul/8 jam
iv
Ciprofloxacin 0,2%
1 ampul/12 jam
iv
Kalnex injeksi
1 ampul/hari
iv
Vit C
3x1 (25 mg)
oral
Codein tablet
3x1(10 mg)
oral
Rifampicin kapsul
1x1 (450 mg)
oral
Isoniazid
1x1 (150 mg)
oral
Pirazinamid
1x2 (500 mg)
oral
Isoniazid
1x1 (300 mg)
oral
Etambutol
1x2 (500 mg)
oral
Tanggal
02-04 November
2013
4.2.1 Pengkajian tepat pasien
Pada tanggal 02-04 November 2013 pasien diberikan terapi obat-obat
tuberkulosis yaitu, rifampisin, INH, pirazinamid dan etambutol. Terapi tanggal 31
Oktober tetap diberikan.
4.2.2 Pengkajian tepat indikasi
Pemberian rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol sudah tepat
obat sebagai antibiotika untuk Mycobacterium tuberculosae yang merupakan
bakteri penyebab TB paru. Kelompok obat ini memperlihatkan efektivitas yang
tinggi dengan toksisitas yang dapat diterima (Depkes RI, 2006).
4.2.3 Pengkajian tepat obat
Terapi tanggal 02-04 November 2013 tetap diberikan dan dengan
penambahan terapi OAT.
Universitas Sumatera Utara
4.2.4 Pengkajian tepat dosis
Dosis lazim rifampisin untuk dewasa adalah 8-12 mg/kg BB/hari. Berat
badan pasien 42 kg. Kekuatan tablet rifamfisin yang diperlukan sesuai berat badan
pasien adalah sekitar (336 mg/tablet - 504 mg/tablet). Pasien menerima tablet
rifampisin setiap hari dengan kekuatan 450 mg/tablet. Pasien mengkonsumsinya
setiap pagi. Dosis pemberian rifampisin sudah tepat.
Dosis lazim isoniazid untuk dewasa adalah 4-6 mg/kg BB/hari. Berat
badan pasien adalah 42 kg. Kekuatan tablet isoniazid yang diperlukan sesuai berat
badan pasien adalah sekitar (168 mg/tablet - 252 mg/tablet). Pasien menerima
tablet
isoniazid
setiap
hari
dengan
kekuatan
300
mg/tablet.
Pasien
mengkonsumsinya setiap pagi. Dosis pemberian isoniazid tidak tepat dosis.
Dalam penggunaan jangka panjang sebaiknya diberikan tablet isoniazid dengan
kekuatan 168 mg/tablet sebab pasien mengalami anemia pada pemakaian
isoniazid.
Dosis lazim pirazinamid adalah 20-30 mg/kg BB/hari. Pasien menerima
tablet pirazinamid setiap hari sebanyak 2 tablet dengan kekuatan 500 mg/tablet.
Berat badan pasien adalah 42 kg. Kekuatan tablet pirazinamid yang diperlukan
sesuai berat badan pasien adalah sekitar (840 mg/tablet - 1260 mg/tablet). Pasien
mengkonsumsinya setiap pagi. Dosis pemberian pirazinamid sudah tepat.
Dosis lazim etambutol adalah 15-25 mg/ Kg BB/hari. Pasien menerima
tablet etambutol setiap hari sebanyak 2 tablet dengan kekuatan 500 mg/tablet.
Berat badan pasien adalah 42 kg. Kekuatan tablet etambutol yang diperlukan
sesuai berat badan pasien adalah sekitar (630 mg/tablet - 1050 mg/tablet). Pasien
mengkonsumsinya setiap pagi. Dosis pemberian etambutol sudah tepat.
Universitas Sumatera Utara
Reaksi obat yang tidak dikehendaki atau yang dikenal dengan ADR
(Adverse Drug Reaction) merupakan respon pasien terhadap obat yang berbahaya
dan tidak diharapkan yang terjadi pada penggunaan obat dengan dosis normal
untuk tujuan profilaksis, diagnosis, terapi suatu penyakit, maupun modifikasi
fungsi fisiologis. Obat yang telah diketahui dapat menimbulkan hepatotoksisitas
atau kerusakan fungsi hepar adalah golongan antimikobakteri yang digunakan
dalam
pengobatan
tuberkulosis
(TB)
paru.
Pasien
tuberkulosis
harus
menggunakan obat secara teratur sampai periode pengobatan selesai. Penggunaan
OAT (Obat Antituberkulosis) secara terus menerus dalam jangka waktu yang
cukup lama dapat menimbulkan ADR.
Secara umum, penggunaan untuk TB dengan rifampicin, isoniazid,
pyrazinamid, ethambutol, dan streptomycin sangat efektif, namun dapat
mengakibatkan efek samping hepatoksisitas yang dikenal sebagai drug induced
hepatitis. Efek ini biasanya dapat diperkirakan dan tergantung dari jumlah dosis,
usia, jenis kelamin, dan juga indeks massa tubuh. Sebaiknya diberikan
penambahan vitamin hati untuk menjaga fungsi hati tetap bekerja normal.
Prinsip pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip
sebagai berikut:
a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori
pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian
OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan
sangat dianjurkan.
Universitas Sumatera Utara
b. Untuk
menjamin
kepatuhan
pasien
menelan
obat,
dilakukan
pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment ) oleh
seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Menyediakan alat bantu
pengingat dan pengaturan penggunaan obat, misal alarm di handphone,
chart, pemberian label instruksi pengobatan pada obatnya, pil
dispenser (wadah untuk persediaan harian maupun mingguan),
kemasan penggunaan obat per dosis unit.
c. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan
lanjutan.
4.2.5 Pengkajian efek samping
Pengkajian efek samping obat pada terapi obat yang diberikan dapat dilihat pada
Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Efek samping obat
Obat
Rifampisin
Efek Samping
Gangguan saluran cerna, sakit kepala, sesak nafas, gagal
ginjal, saliva, sekresi dan urin berwarna orange – merah.
Isoniazid
Neuropati perifer, hepatitis, mual, muntah, konstipasi,
vertigo dan anemia.
Pirazinamid
Hepatotoksisitas termasuk demam, gagal hati, mual,
muntah, kemerahan, anemia dan ruam
Etambutol
Neuritis optik, buta warna merah/hijau, ruam (jarang terjadi),
pruritus, urtikaria dan trombositopenia.
Universitas Sumatera Utara
4.3 Pembahasan tanggal 05 November 2013
Pada tanggal 5 November 2013, pasien masih sesak nafas tetapi batuk
sudah berkurang. Pemeriksaan ini dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Pemeriksaan fisik
No.
Pemeriksaan
Tanggal
05 November 2013
1.
Tekanan Darah (TD)
100/60 mmHg
2.
Nadi (HR)
68 kali/menit
3.
Pernafasan (RR)
24 kali/menit
4.
Suhu Tubuh (T)
36,3 0C
Dari hasil pemeriksaan diatas terapi obat yang diberikan dapat dilihat pada
Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Terapi yang diberikan
Jenis Obat
Tanggal
05 November 2013
Dosis sehari
Rute
Infus Nacl 0,9%
20 tetes/menit
i.v
Ranitidin injeksi
1 ampul/8 jam
iv
Ciprofloxacin 0,2%
1 ampul/12 jam
iv
Vit C
3x1 (25 mg)
oral
Codein tablet
3x1(10 mg)
oral
Rifampicin kapsul
1x1 (450 mg)
oral
Isoniazid
1x1 (300 mg)
oral
Pirazinamid
1x2 (500 mg)
oral
Etambutol
1x2 (500 mg)
oral
Universitas Sumatera Utara
4.3.1 Pengkajian tepat pasien
Pasien mengalami sesak nafas dan batuk berkurang, dan pemberian
Kalnex dihentikan.
4.3.2 Pengkajian tepat indikasi
Pemberian Kalnex injeksi dihentikan sudah tepat, hal ini karena kondisi
pasien yang tidak membutuhkan kalnex pada awalnya.
4.3.3 Pengkajian tepat obat
Terapi tanggal 02-04 November 2013 tetap diberikan dan dengan
pemberhentian pemakaian Kalnex injeksi.
4.3.4 Pengkajian tepat dosis
Pemberian terapi pada tanggal 05 November 2013 sudah tepat dosis.
4.4 Pembahasan tanggal 06-07 November 2013
Pada tanggal 06-07 November 2013, pasien mengalami batuk, keringat
malam, dan kurang nafsu makan. Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 4.9
Tabel 4.9 Pemeriksaan fisik
No.
Pemeriksaan
Tanggal
Tanggal
06 November 2013
07 November 2013
1.
Tekanan Darah (TD)
110/80 mmHg
120/60 mmHg
2.
Nadi (HR)
96 kali/menit
92 kali/menit
3.
Pernafasan (RR)
40 kali/menit
20 kali/ menit
4.
Suhu Tubuh (T)
37 0C
35,6 0C
Dari hasil pemeriksaan diatas terapi obat yang diberikan dapat dilihat pada
Tabel 4.10.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.10 Terapi yang diberikan
Jenis Obat
Dosis sehari
Rute
Infus Nacl 0,9%
20 tetes/menit
i.v
Ranitidin injeksi
1 ampul/8 jam
iv
Ciprofloxacin 0,2%
1 ampul/12 jam
iv
Vit C
3x1 (25 mg)
oral
Codein tablet
3x1 (10 mg)
oral
Rifampicin kapsul
1x1 (450 mg)
oral
Isoniazid
1x1 (300 mg)
oral
Pirazinamid
1x2 (500 mg)
oral
Etambutol
1x2 (500 mg)
oral
Vit B6 tablet
3x1(10 mg)
oral
OBH Syrup
3x1 (300 mg)
oral
Tanggal
06-07 November
2013
4.4.1 Pengkajian tepat pasien
Pasien masih merasa batuk sehingga diberikan OBH Syrup. Pasien juga
diberikan Vit B6 tablet.
4.4.2 Pengkajian tepat indikasi
Pemberian OBH Syrup sudah tepat untuk mengurangi batuk yang dialami
pasien. Pemberian vitamin B6 juga sudah tepat karena vitamin B6 diberikan untuk
mendampingi pemberian obat-obatan tuberkulosis dan untuk mengatasi efek
samping dari pirazinamid dan isoniazid.
4.4.3 Pengkajian tepat obat
Terapi tanggal 05 November 2013 tetap diberikan dengan penambahan
OBH Syrup karena pasien mengalami batuk. Pemberian terapi vitamin B6 juga
sudah tepat karena kondisi pasien. Dengan melihat frekuensi batuk pasien yang
Universitas Sumatera Utara
sering dan kondisi pasien yang pucat dan lemas sebaiknya pemberian OBH syrup
dan vitamin B6 diberikan sejak awal pengobatan.
4.4.4 Pengkajian tepat dosis
Terapi tanggal 06-07 November 2013 pemberian OBH Syrup sudah tepat
karena dosis lazim dari OBH Syrup adalah 3 kali sehari (300 mg), dosis lazim
dari vitamin B6 adalah 3 kali sehari (10 mg). Dosis sudah tepat.
4.4.5 Pengkajian efek samping
Pengkajian efek samping terapi obat yang diberikan dapat dilihat pada
Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Efek samping obat
Obat
Efek Samping
OBH Syrup
Reaksi alergi, gangguan gastrointestinal, mengantuk.
Vitamin B6
Sakit kepala, mual, gastrointestinal, reaksi alergi
Universitas Sumatera Utara
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Penilaian rasionalitas penggunaan obat meliputi 4T + 1W yaitu: Tepat
Pasien, Tepat Obat, Tepat Indikasi, Tepat Dosis dan Waspada Efek samping pada
pasien dengan diagnosa tuberkulosis. Adapun kesimpulan yang diperoleh
terhadap studi kasus yang dilakukan di RSUD dr. Pirngadi Kota Medan adalah:
a. Pasien yang menderita tuberkulosis mendapatkan terapi yang sesuai dengan
pedoman Pharmaceutical Care untuk Penyakit Tuberkulosis.
b. Pemberian obat-obatan rifampicin, isoniazid, pirazinamid, etambutol kepada
pasien tuberkulosis sudah memenuhi kriteria 4 T + 1 W.
c. Pemberian ciprofloxacin injeksi juga sudah tepat untuk pengobatan pasien
ini karena mempertimbangkan efek toksiknya yang lebih ringan dari
streptomicin injeksi.
d. Apoteker dapat meningkatkan pemahaman dan dorongan kepada pasien
untuk mematuhi terapi yang ditetapkan dokter dengan cara melakukan
pekerjaan farmasi klinis, yaitu melakukan Pelayanan Informasi Obat (PIO),
Konseling dan Monitoring Efek Samping Obat (MESO).
5.2 Saran
a. Sebaiknya apoteker memantau penggunaan obat dalam terapi pasien demi
meningkatkan rasionalitas penggunaan obat di rumah sakit.
Universitas Sumatera Utara
b. Pemeriksaan fungsi hati melalui pemeriksaan laboratorium patologi klinik
harus dilakukan secara intensif agar terhindar dari hepatotoksik akibat
penggunaan rifampisin, isoniazid dan pirazinamid.
c. Kesehatan mata pasien harus dipantau secara intensif untuk mencegah
terjadinya kerusakan mata pada penggunaan etambutol dalam jangka
waktu yang lama.
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2013). Tuberkulosis. http://medlinux.com. Diakses pada 04 Nopember
2013.
Anonim. (2013). Obat Batuk. http://medicastore.com.Diakses pada 04 Nopember
2013.
Aslam, M., Tan, C.K., dan Prayitno, A. (2003). Farmasi Klinis (Clinical
Pharmacy), Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan
Pasien. Jakarta: Elex Media Komputindo. Hal. 44-45.
Aulia. (2010). Rumah Sakit, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44
Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Jakarta: CV. Nuansa Aulia. Hal. 67.
Depkes RI. (2005). Pharmaceutical Care untuk Penyakit Tuberkulosis. Jakarta:
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik.
Depkes, RI. (2002). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dirjen PPM dan PL. (1999). Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta:
Direktorat Jenderal PPM dan PL.
Siregar, C.J.P., dan Amalia, L. (2005). Farmasi Rumah Sakit Teori dan
Penerapan. Jakarta: EGC. Hal. 11.
Tjay, T.H., dan Kirana, R. (2002). Obat-Obat Penting: Kasiat, Penggunaan dan
Efek-Efek Sampingnya, Edisi Kelima, Cetakan kedua, Jakarta: Penerbit
PT. Elex Media Komputindo. Hal. 145-153.
Universitas Sumatera Utara
Download