Analisis Kebijakan Praktik Mandiri Perawat

advertisement
ANALISIS KEBIJAKAN
PERATURAN MENTERI
KESEHATAN NOMOR
HK.02.02/MENKES/148/I/2010
TENTANG REGISTRASI DAN
PRAKTIK PERAWAT
Seminar Keperawatan STIKES WHS
Gdg. PU Samarinda
01 Nopember 2015
Masalah Umum
1.Tuntutan perawat bisa melakukan praktik mandiri perawat
sesuai dengan kompotensi yang dimiliki
2. Tuntutan perawat sehingga mendapat kesempatan yang
sama dengan profesi lain dibidang kesehatan seperti dokter
untuk melakukan praktik mandiri
3. Tuntutan perawat terhadap pemerintah untuk mendapat
pengakuan terhadap profesi perawat sekaligus melindungi
masyarakat dari malpraktik pelayanan keperawatan
Aktor
• Aktor ,Dalam hal ini pembuatan
PERMENKES 148 TENTANG
REGISTRASI DAN PRAKTIK
MANDIRI PERAWAT NO 148, adalah
Menteri Kesehatan
Conten Kebijakan
Bab I : tentang Ketentuan umum yang
terdiri dari 1 pasal
Analisis conten masalah :
Perawat diberi kesempatan membuka praktik mandiri adalah
perawat yang memiliki sertifikat kompotensi setelah melewati
uji kompotensi.
Analisis : Uji kompotensi belum dilaksanakan dan kompotensi
apa yang harus dijual atau dilakukan di tempat praktik,
sementara kompotensi Keperawatan modelnya adalah Ners
General.
Next….
Perawat diberi kesempatan melakukan upaya Kuratif ( Pengobatan ),
dengan label Hijau dan Label Biru,
Analisis : Pengobatan adalah kompotensi Dokter dan tidak ada UU
yang jelas mengatur tentang Perawat boleh memberikan pengobatan
sehingga perlindungan hukum bagi perawat sangat tidak kuat
Next…
Dalam praktiknya perawat harus memilik SOP, standar
pelayanan dan Standar Profesi
Analisis : PPNI/DEPKES belum membuat standar
diatas dengan berbagai latar belakang pendidikan
yang berbeda-beda dan berdasarkan kompotensinya,
apakah Standar yang dimakasud sama semua bagi
tenaga perawat yang ada di Indonesia?
Bab II : tentang Perizinan : terdiri dari 6 pasal
Analisis Conten masalah :
1. Perawat boleh menjalankan praktik di
fasilitas pelayanan kesehatan( diluar
praktik mandiri) dan atau praktik mandiri
?
2. Dalam praktik perawat wajib memiliki
SIPP, kecuali perawat yg membuka
praktik di fasilitas pelayanan
kesehatan(menjadi tidak wajib)
Next…
Analisis : SIPP Adalah alat atau bukti syah bahwa seorang perawat
legal dalam melaksanakan tindakan Keperawatan, dan siap
melaksanakan semua tanggunggugat dari semua prosedur yang
dikerjakan. Jika perawat tanpa SIIP meskipun praktiknya dalam
pelayanan kesehatan, Permenkes ini mengaturnya tidak jelas siapa
yang akan bertanggung jawab bila terjadi kesalahan dan praktik
yang dimaksud juga tidak jelas tempat/ruangan difasilitas Yankes
tersebut. Dan penetapan jasa perawat juga tidak jelas siapa yang
menentukan dan hasilnya distribusinya juga tidak jelas
Next…
3. Perawat di ijinkan melakukan praktik
mandiri hanya pada satu tempat praktik :
Analisis : alasan tidak jelas, mengapa hanya satu tempat
saja? Sementara praktik yang dimaksud boleh dilakukan
secara individu dan berkelompok, artinya bahwa jika
berkelompok dengan perawat yang tergabung didalamnnya
memiliki kompotensi yang sama mengapa tidak diijinkan
membuka praktik ditempat lain meskipun menjadi wajib
memasang papan nama untuk yang melakukan praktik
mandiri,( pengaturan waktu bagi perawat juga diatur oleh
para Aktor yang ikut dalam penetapan PERMENKES ini)
Next…
Bab III tentang penyelengaraan praktik :
terdiri dari 5 pasal :
Analisis conten masalah :
1. Dalam menjalangkan praktik harus sesuai dengan
kewenangan, tetapi pada pasal lain diatur tentang
pengobatan yang diperbolehkan sementara sangat
jelas bahwa tidak ada UU yang mengatur bahwa
perawat legal dalam pengobatan
Next…
2. Dalam keadaan tertentu(darurat) perawat
diberi kewenangan dalam tindakan medis
diluar kewenangannya, dan dalam daerah
yang telah ditetapkan oleh kepala Dinas
Kesehatan Daerah (yaitu Kecamatan atau
keluarahan desa dan tidak terdapat dokter )
jika terdapat dokter maka kewenangan
tersebut tidak berlaku.
Next…
Analisis : Penetapan aturan ini membuat para perawat akan sangat
sulit mengambil keputusan dalam tindakan medis tersebut,
mengingat dalam satu wilayah kecamatan jarak tersebut sangat jauh
dari satu desa atau dusun, dan aturan ini menjadi hambatan dalam
melaksanakan tindakan medis bagi perawat, dengan fakta bahwa jika
dokter ada dalam wilayah yg dimaksud maka kewenangan tersebut
tidak berlaku, sehingga semua perawat yang melakukan tindakan
medis meskipun dalam keadaan darurat, setiap saat akan
berhadapan dengan aturan hukum meskipun tindakan penyelamatan
nyawa dilakukan sementara jumlah dokter dalam satu kecamatan
sangatlah sedikit bila dibandingkan dengan jumlah nyawa yang akan
diselamatkan
Next…
Perawat berhak mendapat perlindungan hukum yang
melaksanakan praktik sesuai denga SOP ( yang
memberikan perlindungan hukum siapa dan profesi
siapa yang akan memberikan penilaian terhadap
pelanggaran yang dikerjakan oleh perawat tersebut,
sangat jelas UU keperawatan belum lahir, dan lembaga
regulasi ( Council) profesi tidak ada)
Next…
• Bab IV : Pembinaan dan Pengawasan :
terdiri dari 2 pasal :
Analisis Conten masalah :
Sangsi administratif tidak jelas pelanggaran yang dimaksud,
PPNI tidak menetapkan SOP, standar pelayanan dan
berdasarkan kompotensi perawat
Teguran tertulis : tidak jelas dasar hukumnya, sebaiknya jika perawat
melakukan pelanggaran harus melewati lembaga peradilan, sebagai
regulasi tertinggi dan juga merupakan respon terhadap tanggung gugat
dari perawat yang bersangkutan. Jika terbukti salah maka
penyelenggaraan praktik sebaiknya dicabut, orientasi pelayanan adalah
manusia dan perawat yang bersangkutan harus berhadapan dengan
aturan hukum yang jelas.
Next…
Bab V : ketentuan peralihan : 1 pasal :
Analisis conten masalah : penetapan aturan
Permenkes ini masih perlu dibahas bersama dengan
lembaga profesi yang akan menjalangkan praktik
mandiri, penetapan aturan ini ditetapkan sementara uji
kompotensi belum terlaksana dengan baik dan masih
dalam penyususnan siapa yang akan menguji dan
kapan waktu pengujiannya,
“saat ini sudah berjalan : Cuma uji kognitif “
KELOMPOK RESISTEN :
1. Para dokter
2. Tenaga kesehatan yang lain
3. Profesi sendiri dengan berbagai latar
belakang pendidikan
TUJUAN :
1. Membantu pemerintah dalam upaya kesehatan dengan peningkatan
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
2. Memberikan kesempatan pada perawat untuk mengaplikasikan ilmu dan
kompetensi yg dimiliki pada tatanan pelayanan kesehatan.
3. Mereduksi tuntutan perawat terhadap pemerintah untuk pembentukan UU
keperawatan dan mereduksi anggapan adanya diskriminasi terhadap para
perawat( Alasan Politik)
4. Membantu pemerintah dalam upaya menjalangkan program
pemerintah dibidang kesehatan
5. Memberikan regulasi terhadap para perawat untuk melaksanakan
praktek sesuai dengan kompotensi dan kewenangannya.
6. Memberikan perlindungan hukum kepeda perawat terhadap upaya
pelayanan keperawatan yang dikerjakan...
7. Memberikan kesempatan terhadap perawat dalam upaya registrasi
perawat.
8. Menstimulasi perawat untuk meningkatkan kompotensinya
INTEREST GROUP( KELOMPOK YANG
BERKEPENTINGAN )
1. Kepala daerah
2. Kepala dinas kesehatan
3. Ketua PPNI kabupaten
Download