G12nfr_BAB III Hasil dan Pembahasan

advertisement
3
Gambar 3 Tanaman padi ditutup dengan
screen net
Persentase batang padi yang terinfestasi
oleh S. incertulas pada masing-masing
varietas padi ditunjukkan pada Tabel 1 dengan
persentase infestasi tertinggi adalah pada
varietas Pelita (52.4%) diikuti oleh IR42 dan
Cisadane berturut-turut adalah 49.4 dan
36.1%. Hasil ini menunjukkan bahwa padi
varietas Pelita lebih rentan terhadap
penggerek batang padi kuning daripada dua
varietas padi lainnya. Hal tersebut mungkin
karena padi varietas Pelita memiliki jaringan
yang lunak sehingga mudah diinfestasi oleh
penggerek batang padi kuning. Padi yang
memiliki jaringan sklerenkim tebal dan ikatan
vaskular kuat merupakan padi yang tahan
terhadap penggerek batang (Soejitno 1984).
Kekerasan jaringan tanaman dipengaruhi
oleh kandungan silika pada tanaman tersebut.
Umumnya, padi dengan kandungan silika
tinggi lebih memiliki jaringan sklerenkim
yang tebal daripada padi dengan kandungan
silika yang rendah (Hoshikawa 1989).
Tingginya kandungan silika pada epidermis
batang mungkin menjadi penghambat bagi
larva untuk menggerek batang.
Imago S. incertulas yang Keluar dari Tiga
Varietas Padi
Jumlah imago yang keluar pada ketiga
varietas padi menunjukkan hasil yang berbeda
(Tabel 2). Pada varietas IR42 dan Cisadane,
jumlah imago betina yang keluar lebih banyak
daripada jumlah imago jantan dengan rasio
jantan dan betina berturut-turut adalah
47.4:52.6 dan 39.1:60.9. Sedangkan, pada
padi varietas Pelita, jumlah imago jantan lebih
banyak daripada imago betina dengan rasio
54.2:45.8. Rasio imago jantan dan betina pada
tiga varietas sekitar 1:1, hal ini seperti
pengamatan
sebelumnya
untuk
Chilo
suppressalis (Singh 1985).
Total imago yang keluar terbanyak pada
padi varietas IR42 (215 ekor), diikuti oleh
Pelita (214 ekor) dan Cisadane (161 ekor).
Padi varietas IR42 jumlah imago keluar
hampir sama dengan padi varietas Pelita,
mungkin dikarenakan varietas IR42 dan Pelita
memiliki nutrisi yang baik untuk pertumbuhan
larva penggerek batang. Bagi serangga,
karbohidrat merupakan sumber energi terbesar
guna keperluan sistem reproduksi dan lama
hidup. Kandungan karbohidrat, dalam hal ini
adalah amilosa, pada padi varietas IR42
adalah 27% dan Pelita 24% sedangkan
Cisadane 20% (Suprihatno et al. 2009,
Lampiran 1). Selain itu, hal yang
mempengaruhi perkembangan penggerek
batang adalah umur tanaman, varietas
tanaman dan kesuburan tanah (Khan et al.
1991).
Dalam perkembangannya, larva serangga
yang
termasuk
dalam
holometabola
mengalami ganti kulit (molting) (Brusca dan
Brusca 1990). Molting adalah lepasnya
eksoskeleton yang lama diganti dengan
pembentukan yang baru dengan ukuran
eksoskeleton lebih besar. Molting dipengaruhi
oleh hormon ekdison dan hormon juvenil.
Pada tahap larva, jumlah hormon ekdison
rendah dan hormon juvenil tinggi. Namun
ketika jumlah hormon juvenil disekresikan
sedikit dan hormon ekdison relatif tinggi,
larva mengalami ganti kulit dan berubah
menjadi pupa. Lama stadium larva S.
incertulas adalah 20-30 hari dan pupa 6-7
hari.
Pada pengamatan, imago S. incertulas
mulai keluar pada hari ke-36 setelah inokulasi
larva. Dalam pengamatan ini, rentang waktu
imago keluar dari tanaman padi pada ketiga
varietas menunjukkan waktu yang sama,
dimulai dari pukul 18:30-21:00 dengan waktu
maksimum imago keluar adalah dari pukul
20:00-21:00. Waktu imago keluar ini sesuai
dengan yang dilaporkan untuk infestasi C.
suppressalis (Tatsuki 1975).
Imago jantan keluar 1-4 hari lebih cepat
daripada imago betina dengan rentang hari
keluar adalah 15-21 hari. Hasil ini berbeda
pada
Austromusotima
camptozonale
(Lepidoptera: Crambidae), yaitu imago betina
lebih cepat keluar daripada imago jantan
(Boughton et al. 2007).
b
a
Gambar 4 Kerusakan tanaman padi (a) sundep
(b) beluk
4
Tabel 1 Persentase batang padi yang diinfestasi oleh S. incertulas pada padi varietas IR42,
Cisadane, dan Pelita
No.
Varietas
Jumlah batang
1
2
3
IR42
Cisadane
Pelita
969
876
934
Jumlah batang
terinfestasi
479
316
489
% batang
terinfestasi
49.4
36.1
52.4
Tabel 2 Jumlah imago S. incertulas yang keluar dari padi varietas IR42, Cisadane, dan Pelita
No.
Varietas
1
IR42
2
Cisadane
3
Imago
Total imago
Rataan
imago
keluar
Jantan
102
45.2 ± 4.7
Betina
113
46.4 ± 3.9
Jantan
63
41.4 ± 10.9
Betina
Jantan
98
116
45.1 ± 5.2
40.9 ± 3.7
Betina
98
43.1 ± 3.6
Pelita
Perilaku Kawin S. incertulas
Berdasarkan pengamatan, perilaku
kawin S. incertulas yang diamati terdapat
tiga tahapan, yaitu betina calling, aktivitas
jantan sebelum kawin, dan kopulasi. Pada
pengamatan perilaku S. incertulas betina,
betina menunjukkan perilaku pasif dengan
tanpa aktivitas (diam) selama 2 jam pertama
pengamatan (Gambar 5a). Penggerek batang
padi kuning betina mulai melakukan
perilaku calling pada pukul 01:00
ditunjukkan dengan perilaku memanjang
dan memendekkan ujung segmen abdomen
(Gambar 5b) untuk mensekresikan feromon
kawin. Serangga betina menghasilkan
feromon dari ujung abdomen (Roelofs et al.
1987) dan akan dideteksi oleh antena
serangga jantan. Serangga penggerek jantan
akan merespon sinyal dengan mendekati
serangga betina untuk kawin. Serangga
jantan mengenali sinyal feromon yang
dikeluarkan oleh betina dengan protein
pengikat feromon yang ada di antena (Willet
dan Harrison 1999). Antena serangga jantan
sangat sensitif dalam menemukan serangga
betina dengan jarak sekitar 4-5 km (Vogt
dan Riddiford 1981). Protein pengikat
feromon akan menangkap sinyal dari
serangga betina dan mengirimnya ke
molekul reseptor yang ada di membran
dendrit sebagai sinyal kehadiran serangga
betina (Merrit et al. 1998).
Selang
waktu
Rasio seks
37-52
47.4 : 52.6
37-57
39.1 : 60.9
36-48
54.2 : 45.8
Menurut Tatsuki (1975), ada beberapa
tipe calling yang dilakukan oleh serangga
betina, yaitu hanya dengan memanjang dan
memendekkan segmen abdomen dan typical
posture. Pada pengamatan, tipe yang terlihat
adalah
betina hanya memanjang dan
memendekkan ujung abdomen. Bentuk
calling ini sama seperti Crambidae lainnya,
yaitu
C.
suppressalis,
Dichocrocis
punctiferalis, Glyphodes pyloalis, dan
Diaphania indica (Kawazu et al. 2011).
Perilaku S. incertulas jantan yang
teramati adalah jantan tidak beraktivitas
(diam) selama beberapa detik (2-60 detik)
pada jam pertama pengamatan dan mulai
aktif pada pukul 19:00-02:00. Aktivitas
sebelum kawin merupakan perilaku aktif
jantan. Jantan menjadi aktif dengan
mengepakkan sayap secara terus-menerus.
Kemudian jantan melakukan courtship
dengan terbang mendekati betina pada pukul
02:00 dan berada di bawah betina dengan
jarak sekitar 0.5 cm. Pola ini sama seperti
yang dilaporkan oleh Tatsuki (1975) untuk
C. suppressalis.
Pada pengamatan kopulasi S. incertulas,
jantan berada di bawah betina dengan antena
jantan menyentuh ujung abdomen betina
(Gambar
5c).
Serangga
betina
memanjangkan
abdomen-nya
sampai
tersentuh oleh antena serangga jantan.
Setelah itu, serangga jantan berbalik dan
ujung kedua abdomen saling bersentuhan
5
untuk melakukan kopulasi (Gambar 5d).
Kopulasi diamati selama 1 jam, yaitu pada
pukul 03:00-04:00. Courtship yang sama
telah dideskripsikan untuk penggerek
jagung, Sesamia nonagrioides (Lopez 2003).
Serangga jantan berada di dinding berjarak 5
cm dari serangga betina kemudian berjalan
menuju serangga betina dan berbalik untuk
kawin.
Tatsuki (1975) melaporkan untuk C.
suppressalis pada percobaan laboratorium
melakukan mating dance yang terdiri atas
kepakan sayap secara terus-menerus sambil
berjalan pelan di permukaan dalam gelas
plastik dengan abdomen melengkung ke atas
sambil dijulurkan dan berlangsung berkalikali. Namun perilaku tersebut tidak teramati
pada pengamatan perilaku kawin S.
incertulas.
Pada pengamatan perilaku kawin S.
incertulas ini, berhasil mengamati satu
pasang perilaku kawin secara lengkap. Hal
ini mungkin karena umur serangga betina
yang belum efektif dalam melakukan
calling. Umur S. incertulas betina yang
diamati adalah satu hari setelah keluar dari
pupa. Serangga betina penggulung daun
padi, Cnaphalocrocis medinalis, melakukan
calling efektif pada umur 3-7 hari setelah
keluar dari pupa (Kawazu et al. 2011).
Efektivitas kopulasi dari S. incertulas
mungkin lebih dari umur satu hari, yaitu 1-3
hari setelah keluar. Namun, pada perilaku
kawin serangga betina C. suppressalis
efektif pada umur satu hari setelah keluar
dari pupa (Tatsuki 1975). Pengetahuan
perilaku kawin S. incertulas ini penting
sebagai informasi dasar untuk tahap
biokontrol penggerek batang padi dengan
cara penghambatan kawin menggunakan
feromon sintetik.
daun
padi
daun
padi
a
b
c
d
Gambar 5 Perilaku S. incertulas betina calling dan kopulasi (a) betina dalam keadaan diam (b)
pemanjangan ujung segmen abdomen betina (c) antena S. incertulas jantan menyentuh
abdomen betina (d) kopulasi
daun
padi
ujung abdomen betina dan jantan
yang bersentuhan
5cm
bawah
Sketsa kopulasi S. incertulas (Gambar 5d)
Download