DPN APINDO © 2015

advertisement
2016
DPN APINDO © 2015
1
Momentum pesta politik serta gejolak ekonomi yang berlangsung dalam dua tahun
terakhir telah melahirkan kepemimpinan baru Indonesia. Rangkaian Reformasi
Birokrasi dan Reformasi Regulasi yang digulirkan menjawab berbagai keraguan
berbagai pihak terhadap arah dan proyeksi perekonomian 2016 Indonesia. Dunia
Usaha bersemangat mengambil peran pada berbagai jalan keluar yang disediakan
pemerintah sebagai landasan untuk optimisme memasuki 2016. Gejolak indikatorindikator eksternal dan internal hanya akan menjadi kekhawatiran jangka pendek
apabila semua pihak berkomitmen terhadap arah pencapaian perekonomian 2016
yang diinginkan.
IMF, Bank Dunia, dan ADB memperkirakan kondisi perkembangan ekonomi 2016 Indonesia akan semakin baik
dibandingkan tahun 2014 dan 2015. Ketiga lembaga internasional tersebut pada TW II 2015 telah
memperbaharui proyeksinya terhadap prospek ekonomi Indonesia. Hasil proyeksi ketiga lembaga
internasional tersebut terhadap perkiraan arah ekonomi Indonesia kedepan tidak memiliki perbedaan yang
signifikan. Ekonomi diproyeksikan akan tumbuh lebih baik pada 2015 dan 2016, terutama didorong oleh
perbaikan konsumsi pemerintah dan investasi. Bank Dunia dan ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi
Indonesia sebesar 5,3% pada 2016. Proyeksi ADB dilatarbelakangi optimisme bahwa pemerintah akan mampu
mempertahankan momentum reformasi yang cepat serta mengimplementasikan rencana kebijakan untuk
mempercepat pembangunan infrastruktur, perbaikan iklim investasi, pemangkasan biaya logistik, serta
perbaikan eksekusi anggaran.
Perkembangan ekonomi global merupakan salah faktor penentu yang sangat mempengaruhi proyeksi outlook
ekonomi makro 2016 Indonesia, khususnya berkaitan dengan indikator neraca perdangan dan kurs mata uang.
Ekonomi global 2016 apabila dilihat dari World Economic Outlook IMF pada April 2015 lalu, diperkirakan akan
bertumbuh 3,8%. Sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi global, perkembangan ekonomi Tiongkok tetap
harus dicermati oleh Indonesia. Hal ini dikarenakan Tiongkok merupakan salah satu partner dagang terbesar
Indonesia, dimana apabila pertumbuhan ekonomi Tiongkok mengalami perlambatan, akan berimbas terhadap
prospek surplus neraca perdagangan Indonesia. IMF memprediksi pertumbuhan Tiongkok di 2016 akan
tumbuh 6,3% yang lebih rendah dari pertumbuhan 2015 di kisaran 6,8%, serta realisasi pertumbuhan 2014
sebesar 7,4%.
Ekonomi Asia – Pasifik
Sumber : World Economy Outlook, IMF October 2015.
Di satu hal, terdapat optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global 2016. Namun secara regional,
khususnya Asia dalam hal ini Tiongkok, terdapat pesimisme dikarenakan perlambatan pertumbuhan Tiongkok
akan berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia 2016.
 Pertumbuhan ekonomi global masih memperlihatkan kecenderungan yang bias dari perkiraan semula, di
teng9ah pasar keuangan global yang masih diliputi ketidakpastian.
 Secara umum, perekonomian AS diperkirakan akan lebih rendah dari proyeksi semula, didorong oleh
realisasi TW I 2015 yang rendah serta pelemahan ekspor dan investasi.
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian Indonesia
1
 Perlambatan ekonomi Tiongkok terutama dipicu oleh ekspor yang masih terkontraksi, walau besaran
kontraksi periode saat ini lebih kecil dari periode sebelumnya.
 Perekonomian Eropa terus berupaya mengalami pemulihan, ditopang oleh permintaan domestik yang
meningkat di tengah bergulirnya krisis Yunani. Meningkatnya permintaan domestik didorong oleh kenaikan
konsumsi, tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel (terutama non food index) yang lebih tinggi.
 Perekonomian Jepang dan India tumbuh sesuai perkiraan sebelumnya. Namun, permintaan domestik
Jepang masih lemah, yang diiringi penurunan indeks produksi. Meski permintaan domestik melemah,
namun terdapat optimisme terhadap ekonomi Jepang terutama dari sisi tenaga kerja dan tingkat keyakinan
konsumen ke depan. Perbaikan pasar tenaga kerja terlihat dari peningkatan labor cash earning serta
menurunnya tingkat pengangguran.
 Perekonomian dunia yang bias ke bawah berdampak terhadap kelanjutan pelemahan harga komoditas
internasional, walau memang harga minyak dunia mulai meningkat secara gradual. Pada 2015, penurunan
harga komoditas ekspor secara signifikan diproyeksikan masih berlanjut, dipengaruhi oleh tren penguatan
USD dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Harga sejumlah komoditas internasional yang diperkirakan lebih
rendah dibandingkan proyeksi semula adalah tembaga, timah, dan nikel. Sementara itu, harga batu bara
diperkirakan juga masih menurun pada tahun 2015.
Perkembangan ekonomi global yang akan berpengaruh terhadap ekonomi nasional 2016 diantaranya :
 Semakin pulihnya ekonomi global, terutama dipicu oleh recovery ekonomi US yang solid
 Perekonomian Kawasan Eropa yang juga mulai bergerak pulih
 Hal serupa berlangsung pada perekonomian negara berkembang dan emerging countries
 Masih rendahnya harga minyak dunia yang menguntungkan bagi negara pengimpor minyak
Pertumbuhan Ekonomi
Sumber : BPS, Kementerian Koordinator Perekonomian, 2015.
Asumsi RAPBN 2016 memperkirakan ekonomi domestik tumbuh sebesar 5,3%. Hal ini sejalan dengan
optimisme perbaikan ekonomi global serta sejalan dengan berlanjutnya reformasi struktural di dalam negeri.
Dari sisi permintaan, demand eksternal akan mendorong pertumbuhan ekspor hingga 4,8% – 5,2%. Selain itu,
upaya dari sisi Indonesia untuk membuka pasar ekspor baru, mengurangi hambatan perdagangan di pasar
tujuan ekspor, serta meningkatkan fasilitasi ekspor juga mendorong peningkatan demand terhadap produk
Indonesia. Sementara itu, investasi diperkirakan tumbuh 8,6% – 9,0% yang didorong oleh permintaan domestik
yang meningkat dan membaiknya investasi pada sektor yang berorientasi ekspor. Peningkatan investasi ini pun
akan didorong oleh membaiknya iklim investasi, khususnya terkait dengan peluncuran layanan izin investasi 3
jam di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
2
Walau prospek jangka pendek ekonomi Indonesia tetap memiliki optimisme, tetap terdapat beberapa faktor
risiko yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi ke depan. Dari sisi eksternal, normalisasi kebijakan the Fed
menimbulkan risiko terjadinya aliran modal keluar dari perekonomian domestik. Sementara itu, perlambatan
ekonomi China, sejalan dengan menurunnya pertumbuhan kredit dan likuiditas serta meningkatnya cost of
capital di negara tersebut, dapat mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui kinerja
ekspor.
Risiko domestik lainnya terkait dampak pelemahan nilai tukar yang belum sepenuhnya direalisasikan pada
2015 ini yang pada Oktober lalu Rupiah sempat mendekati level 15.000 per 1 USD sehingga berpotensi
mendongkrak tingkat inflasi 2015, dan bahkan tingkat inflasi 2016. Membaiknya prospek ekonomi global
mendatang akan turut mempengaruhi perkembangan ekonomi domestik melalui :
 Pemulihan ekonomi global dan stabilitas yang terjaga akan menciptakan demand global yang kuat.
 Perbaikan demand global turut mendorong peningkatan aktivitas perdagangan dunia.
 Stabilitas ekonomi global akan mampu menciptakan pasar keuangan dan likuiditas global yang lebih baik,
sehingga menciptakan stabilitas arus modal dan nilai tukar antar negara.
Dengan demikian, prospek percepatan pertumbuhan ekonomi domestik 2016 mendatang akan dipengaruhi
antara lain :
 Perbaikan kinerja neraca perdagangan Indonesia yang ditopang oleh pulihnya demand global serta
peningkatan peran ekspor manufaktur yang lebih berdaya saing.
 Bertambahnya minat investor dalam bentuk realisasi investasi pada sektor kegiatan produktif yang
berjalan beriringan dengan percepatan pembangunan infrastruktur yang akan membuka dan
memperluas pasar.
 Tetap besarnya potensi konsumsi domestik yang didukung stabilitas politik dan ekonomi, serta didukung
oleh peningkatan kelompok middle-income dalam basis demografi Indonesia.
2
Jalan menuju pemulihan perekonomian diyakini akan terwujud melalui perbaikan
iklim investasi. Salah satu tantangan utama yang dihadapi terkait dengan
kompleksitas perijinan usaha. Perbaikan untuk mempermudah perijinan usaha
melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang telah dimulai sejak 2015 menumbuhkan
optimism dunia usaha atas keseriusan pemerintah dalam meningkatkan Daya Tarik
investasi Indonesia.
Pemerintah telah menggulirkan tujuh jilid paket kebijakan ekonomi sejak September 2015 hingga akhir 2015.
Reformasi dalam bidang perizinan telah menjadi bagian di dalamnya, yang tercakup dalam Paket Kebijakan
Ekonomi Jilid 2 dan Jilid 3, yaitu Deregulasi untuk memperbaiki iklim investasi serta Penyederhanaan izin
pertanahan untuk penanaman modal.
Segi investasi memegang peranan penting sebesar 30% s/d 35% dari total PDB, dengan 50% s/d 55% lainnya
bersumber dari konsumsi domestik. Dalam rangka mendukung hal tersebut, BKPM telah melakukan dan
mengeluarkan kebijakan terobosan yang mempermudah perizinan yang selama ini menjadi kendala utama.
Untuk mendukung prospek investasi 2015-2019, pemerintah telah mempermudah proses perizinan di seluruh
sektor melalui pelayanan terpadu satu pintu (PTSP).
Terobosan tersebut mengiringi pesatnya perkembangan investasi di Indonesia, yang dalam kurun waktu satu
tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Dengan adanya komitmen pemerintahan Jokowi-JK, target
investasi 2015-2019 diyakini akan dapat terealisasikan, diiringi oleh percepatan sarana infrastruktur serta
fokus pemerintah terhadap pengembangan industri beserta kawasannya tidak hanya di Pulau Jawa namun
juga diarahkan ke wilayah Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
3
Jumlah Industri Besar Dan Sedang Di Jawa Dan Luar P. Jawa
(2001-2013)
Keterangan : *) Angka sementara.
Sumber : Biro Pusat Statistik.
Pemerintah Indonesia, melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), terus melakukan
penyempurnaan pelayanan dan kemudahan berusaha khususnya bagi investor. Reformasi kebijakan, waktu
proses perizinan yang cepat, dan sistem pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) menjadi bagian dari
kemudahan yang diberikan kepada investor yang ingin berinvestasi.
Upaya tersebut telah berhasil meningkatkan peringkat Indonesia dalam survei Ease of Doing Business
(kemudahan berusaha) 2016 yang dirilis World Bank Group. Mengacu laporan resmi yang dikeluarkan oleh
World Bank Group, posisi Indonesia naik 11 posisi dari sebelumnya peringkat 120 menjadi peringkat 109 dari
total 189 negara yang disurvei. Indonesia tercatat sebagai negara yang konsisten melakukan reformasi EoDB
sejak 2007, sehingga termasuk 24 negara teratas yang melakukan reformasi di 3 indikator atau lebih.
Iklim investasi dan ekspansi dunia usaha 2016 diyakini akan semakin cemerlang. Hal tersebut sejalan dengan
sasaran deregulasi di bidang perizinan usaha dan investasi untuk mendorong industri berorientasi ekspor serta
untuk perluasan penciptaan lapangan kerja.
Presiden Joko Widodo secara jelas memberikan arahan kepada semua jajarannya untuk mengurangi,
memotong hambatan serta mengefisienkan proses pengajuan bagi siapapun yang ingin berinvestasi di
Indonesia. Optimisme semakin nyata terhadap Kementerian-Kementerian terkait untuk dapat
mengkoordinasikan berbagai regulasi yang telah disederhanakan dengan tujuan agar Indonesia menjadi
semakin kompetitif di kancah investasi global dalam memasuki tahun 2016.
3
Dalam kondisi / situasi perekonomian yang cerah, pemerintahan sebagai regulator
cenderung bersifat lengah sehingga memunculkan berbagai regulasi buruk yang
justru menghambat ekspansi ekonomi lebih lanjut. Namun disaat situasi ekonomi
yang sulit justru disinilah letak kepiawaian pemerintah yang mampu memunculkan
berbagai deregulasi positif yang dapat memperbaiki arah pasar dan perekonomian
sesuai dengan target yang ditetapkan. Imbas yang akan dihasilkan akan semakin
berganda apabila di dalam kondisi ekonomi yang ekspansif, pemerintah dapat
memeliharanya dengan regulasi-regulasi yang suportif dan positif.
Kelesuan ekonomi domestik yang terjadi pada 2015 lalu memang belum seperti kondisi krisis seperti yang
terjadi pada 1997/1998, di mana pertumbuhan ekonomi langsung melorot tajam hingga kontraksi sekitar 13%
pada 1998. Ketahanan ekonomi domestik saat ini masih relatif lebih baik dibandingkan dengan kondisi
1997/1998. Sebagai antisipasi terhadap kondisi kelesuan yang terjadi, maka sejak awal September 2015 hingga
November 2015 telah digelontorkan Paket Deregulasi I s/d Paket Deregulasi VII dalam rangka mengembalikan
kepercayaan pelaku ekonomi domestik.
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
4
Sejak September 2015, Pemerintah telah mengeluarkan tujuh Paket Kebijakan Ekonomi. Rangkaian paket
kebijakan itu diterbitkan untuk mengatasi kelesuan ekonomi akibat ketidakpastian perekonomian global serta
untuk memperkuat daya saing dan struktur ekonomi Indonesia. Di dalam Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 1 dan
Jilid 2, Pemerintah menjalankan deregulasi, debirokratisasi, kemudahan perijinan, insentif fiskal untuk
memperbaiki iklim investasi dan mempercepat pembangunan proyek infrastruktur.
Di dalam Paket Jilid 3, Pemerintah menurunkan harga BBM, TDL dan gas, serta memperluas basis penerima
KUR dan menyederhanakan regulasi perizinan pertanahan untuk penanaman modal. Di dalam Paket Jilid 4,
Pemerintah mengeluarkan kebijakan pengupahan yang lebih sederhana, serta implementasi pemberian kredit
oleh LPEI untuk mencegah pemutusan hubungan kerja. Paket Kebijakan Jilid 5 meliputi kebijakan pemotongan
tarif pajak penghasilan (PPh), revaluasi perusahaan dan BUMN maupun swasta.
Di dalam Paket Jilid 6 Pemerintah menekankan kebijakan untuk mendukung pengembangan Kawasan Ekonomi
Khusus dengan pemberian insentif pengurangan pajak. Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 7 pada Desember 2015
menekankan pada percepatan pembangunan desa, peningkatan kualitas layanan logistik, dan peningkatan
daya saing industri padat karya.
Kali ini kebijakan Pemerintah dirasakan menyentuh pemulihan sektor riil domestik khususnya industri padat
karya. Paket-Paket Kebijakan dan Deregulasi tersebut tentunya bertujuan untuk mempermudah investasi
sektor industri baik untuk pengembangan cabang industri maupun untuk meningkatkan kinerja ekspor serta
tentunya penyerapan tenaga kerja. Tantangannya adalah implementasi kebijakan tersebut. Sepenuhnya
disadari oleh dunia usaha bahwa kebijakan yang baik tidak serta merta menjamin pelaksanaan yang baik.
Tahun 2016 merupakan tahun pembuktian rencana-rencana besar pemerintah di bidang perekonomian.
4
APINDO telah meletakkan dasar perhatiannya terhadap perkembangan ekonomi
nasional khususnya dalam bidang Hubungan Industrial dan Investasi. Dinamika
perkembangan Hubungan Industrial dalam satu dekade terakhir telah menimbulkan
gejolak ketidakpastian iklim investasi nasional. Ketegasan Pemerintah dalam
menentukan arah kebijakan ketenagakerjaan melalui regulasi terbarunya patut
diapresiasi. Apabila konsistensi implementasinya sejalan dengan perbaikan regulasi
lainnya di bidang industri dan investasi, maka optimisme terhadap arah pertumbuhan
ekonomi yang diinginkan akan dapat tercapai.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang sempat berlangsung di tahun 2015 terjadi diantaranya disebabkan
oleh beberapa faktor internal dan eksternal sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif lanjutan:
 penurunan daya serap tenaga kerja di sektor produktif
 perlambatan penciptaan lapangan kerja yang disebabkan oleh lambatnya perbaikan iklim investasi
 pelemahan ekspor non-migas disertai tuntuan kenaikan upah yang tinggi akan mempersulit upaya
mempertahankan kelangsungan kerja
 semakin sulitnya mempercepat penurunan tingkat kemiskinan dikarenakan tingkat penyerapan tenaga
kerja yang relatif rendah.
Perkembangan tahun terakhir memperlihatkan adanya beberapa prediksi, diantarnya dikemukakan oleh
Mckinsey Global Institute bahwa pada 2030, ekonomi Indonesia akan menikmati bonus demografi dengan
memiliki 113 juta pekerja berketerampilan tinggi sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke-7 secara
global. Tentunya, kekhawatiran muncul mengenai akankah tingkat pendidikan dan keterampilan tenaga kerja
nasional masih rendah nantinya, yang jelas berdampak pada produktivitas tenaga kerja Indonesia.
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
5
Berdasarkan rilis data BPS, penduduk Indonesia terdiri dari 128 juta angkatan kerja, dengan rincian diantaranya
adalah sekitar 120 juta merupakan tenaga kerja, sedangkan 7 juta penduduk merupakan penganggur. Namun,
dari angka 120 juta tenaga kerja tersebut tersebut terdapat 35 juta orang yang dikategorikan setengah
menganggur. Dengan demikian, total penduduk yang menganggur (tidak bekerja) sebenarnya berada di atas
40 juta jiwa.
Dari total angkatan kerja sebanyak 128 juta orang tersebut, 58 juta tamat SD, 20 juta tamat SMP. Hal tersebut
berarti bahwa jenis pekerjaan yang cocok untuk kelompok angkatan kerja ini adalah pekerjaan yang bersifat
low-skilled yang dapat diserap oleh industri padat-karya (labour-intensive industry). Dengan demikian,
kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk pengembangan industri padat-karya akan memiliki 2 faktor positif
yaitu penciptaan lapangan kerja serta peningkatan devisa.
Oleh karena itu, selain ditujukan untuk mendorong iklim investasi, Paket Kebijakan Ekonomi yang telah
dikeluarkan sebelumnya disusun agar tercipta ruang yang lebih besar bagi pertambahan lapangan kerja
berkualitas. Namun menyusul kelesuan usaha di beberapa sektor pada 2015 lalu, Kementerian terkait pun
telah dengan cepat mengeluarkan beberapa strategi dalam menanggulangi hal itu serta mencari jalan keluar
terhadap beberapa perusahaan padat karya yang telah mewacanakan akan merumahkan karyawannya
Secara agregat industri padat-karya memang memiliki nilai tambah yang lebih rendah dibandingkan industri
berteknologi tinggi, namun industri padat-karya akan memiliki kemampuan dalam menyediakan “jaring
pengaman” di level bawah dalam hal penyediaan lapangan kerja, yang justru sebenarnya dapat membantu
merealisasikan program Kementerian terkait, khususnya Kementerian Tenaga Kerja. Meningkatnya jumlah
tenaga kerja (pekerja) justru akan mengurangi beban pemerintah dalam penyediaan kartu kesehatan,
pendidikan, yang diperuntukkan bagi mereka yang menganggur. Dan terlebih lagi, peningkatan jumlah tenaga
kerja akan dapat menekan angka kemiskinan di tahun 2016.
Kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja domestik selain bersumber dari industri padat-karya juga akan
bersumber dari industri padat-modal. Apabila industri padat-karya berkembang secara sehat maka sektor
industri padat-modal juga akan memiliki arah perkembangan serupa.
Salah satu fokus APINDO dalam mendukung pertumbuhan dunia usaha Indonesia yang berkelanjutan adalah
dengan meletakkan perhatian terhadap isu ketenagakerjaan dan pengupahan. Formulasi upah minimum
dengan kenaikan yang ditentukan oleh faktor pertumbuhan ekonomi dan inflasi, melalui PP No. 78 Tahun 2015
ditegaskan kepastian penghitungannya. Ketegasan pemerintah mengeluarkan PP tersebut, diapresiasi dunia
usaha mengingat tujuannya untuk mempercepat pengembangan investasi dan industri.
PP tersebut tentu tidak sempurna, namun APINDO mendukungnya karena salah satu kontribusi besar PP
tersebut adalah memberikan jaminan kepastian penghitungan upah minimum – yang berimplikasi bagi
penentuan upah secara umum. Sudah selayaknya pengusaha dan pekerja mendukungnya karena
menguntungkan keduanya bagi kepastian peningkatan aktivitas usaha dan jaminan kerja yang berkelanjutan.
DPN APINDO mencermati beberapa hal yang perlu dikritisi dan diperbaiki lebih lanjut pasca dikeluarkannya PP
Pengupahan tersebut. APINDO berharap agar Pemerintah menempatkan diri pada posisi bahwa segenap
stakeholders, meliputi dewan pengupahan dan pemerintah daerah baik di tingkat Kabupaten / Kota maupun
Propinsi, wajib untuk mematuhi seluruh peraturan yang berlaku mengenai penetapan Upah Minimum di
Indonesia yang telah diatur dalam PP No. 78 Tahun 2015 tersebut.
Di tahun 2016 Pemerintah diharapkan dapat menyebarluaskan dan mensosialisasikan PP tersebut kepada
publik sebagai bagian dari transparansi, serta meminta kepada segenap pihak di daerah agar tidak
mempolitisasi besaran kenaikan upah minimum 2017 berikutnya, sehingga tercipta rezim pengupahan yang
berkeadilan. Mekanisme tersebut menjadi lebih mudah untuk diimplementasikan, menjadi lebih pasti untuk
dunia usaha dalam berbisnis di tahun 2016, serta menjadi lebih adil untuk seluruh stakeholder dalam pasar
tenaga kerja (termasuk para pencari kerja).
Dalam hal ketenagakerjaan, APINDO mencatat adanya kesediaan pemerintah untuk mengakomodir masukan
APINDO terkait besaran tariff jaminan pensiun. Namun demikian total pungutan ketenagakerjaan yang
mencapai 19,74% bagi perusahaan dari penghasilan pekerja untuk perlindungan sosial kesehatan dan
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
6
ketenagakerjaan merupakan beban yang terlalu tinggi khususnya bagi industri padat karya. Di tahun 2016
pemerintah harus serius untuk melakukan sinkronisasi kebijakan-kebijakan terkait perlindungan sosial ini demi
peningkatan daya saing industri.
5
APINDO menghargai keterbukaan Pemerintah untuk mempertimbangkan masukan
dunia usaha dalam berbagai perjanjian internasional yang telah dan akan disepakati
untuk memperlancar arus barang, jasa, dan investasi. APINDO juga menyambut baik
upaya-upaya pemerintah dalam mengurangi birokrasi yang berlebihan dan tidak
bersahabat bagi dunia usaha. Namun harus digarisbawahi bahwa tujuan dari
keikutsertaan dalam perjanjian-perjanjian perdagangan internasional dilandasi
tujuan utama untuk meningkatkan perekonomian domestik yang berkelanjutan,
investasi serta penciptaan lapangan kerja yang berkualitas bagi tenaga kerja
Indonesia, maka berbagai potensi negatif harus dapat diantisipasi untuk solusinya.
Iklim investasi yang sehat tentunya akan sangat dibutuhkan dalam menunjang keberlangsungan industri
domestik. Dalam pandangan dunia usaha, terdapat dua hal krusial terkait iklim investasi yaitu perburuhan
(pengupahan) serta perdagangan internasional melalui Free Trade Agreement. Hal ini tentunya akan terkait
dengan bagaimana regulasi yang akan dikeluarkan pemerintah terkait dengan perdagangan bebas.
Dua hal terkini yang menjadi perhatian berbagai kalangan ekonomi dan bisnis terkait dengan aktivitas
perdagangan internasional adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta Trans Pacific Partnership (TPP)
sementara CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) Indonesia dengan European Union relatif
kurang mendapat perhatian publik meskipun juga merupakan kebijakan yang sangat penting.
APINDO mendukung pelaksanaan dan implementasi MEA yang telah dicanangkan sejak lebih dari sepuluh
tahun lalu, dikarenakan MEA akan dapat memberi peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, diantaranya
dengan adanya pasar bebas ASEAN, Indonesia dapat memperluas jangkauan ekspor dan impor tanpa ada biaya
dan penahanan barang terlalu lama di bea cukai, selain itu para tenaga kerja Indonesia yang melimpah dapat
bekerja di negara anggota ASEAN dengan bebas dan sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan secara
regional. Para investor juga dapat memperluas ruang investasi tanpa ada batasan ruang antar negara ASEAN.
Namun, selain menjadi peluang, beberapa faktor ketidaksiapan Indonesia juga dapat menjadi faktor
penghambat, meskipun hal itu semestinya bukan menjadi alasan untuk menjadi menentang MEA, namun
harus segera dibenahi sesegera mungkin, terutama dalam hal pembentukan SDM berkualitas yang produktif
serta peningkatan output produk industri yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi.
Bukan hal yang mudah bagi pemerintah untuk terus memperbaiki kondisi internal dalam menghadapi MEA,
dengan pembentukan SDM serta output produksi industri yang berkualitas menjadi tantangan yang paling sulit
untuk dilewati.
Aliran bebas barang dan jasa di ASEAN pada dasarnya menyangkut inisiatif penurunan hambatan tarif dan non
tarif serta fasilitas perdagangan. Dalam hal aliran barang, sejak tahun 2010 sudah lebih dari 98% tariff bea
masuk barang sebesar 0% sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan tidak siap. Mengenai jasa,
kekhawatiran akan serbuan jasa di tahun 2016 akibat MEA tidak beralasan karena komitmen Indonesia atas
sektor jasa ini sama tingkatnya dan bahkan lebih rendah dari jasa yang sudah sudah berlangsung selama ini.
Akan halnya dengan kekhawatiran terhadap serbuan tenaga kerja terampil di tahun 2016 juga hanya
kekhawatiran semu karena disepakatinya MRA (Mutual Recognition Arrangement) atas 8 bidang profesi selain
masih harus dilengkapi sejumlah tahap teknis lanjutan, juga bukan merupakan kebebasan untuk bekerja,
namun merupakan pengakuan kesamaan kualifikasi pendidikan-ketrampilan.
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
7
Dalam hal TPP, APINDO memiliki bersikap positif untuk mengkaji upaya Indonesia bergabung di dalam TPP.
Pandangan positif APINDO tersebut dilandasi sudut pandang bahwa pemerintahan Jokowi–JK telah bersedia
melakukan reformasi ekonomi di Indonesia, khususnya di bidang regulasi dan kelembagaan, yang ditujukan
untuk menyelaraskan dengan kesepakatan-kesepakatan yang muncul di dalam platform perjanjian diantara
negara-negara yang bergabung di dalam TPP. Pandangan positif APINDO terhadap prospek TPP tersebut juga
dilandasi keinginan agar Indonesia dapat mengambil manfaat dari outflow-inflow perdagangan Indonesia
dengan negara-negara anggota TPP lainnya.
Namun di lain hal, APINDO juga berpendapat bahwa Indonesia harus mencermati beberapa hal yang terdapat
dalam klausul perjanjian antar negara-negara di dalam TPP yang berpotensi negatif serta merugikan dunia
usaha Indonesia nantinya. Kajian yang lebih mendalam mengenai hal itu perlu dilakukan oleh pihak pemerintah
dan juga dunia usaha sehingga pada saatnya APINDO dapat bersikap secara lebih tegas terhadap pilihan untuk
bergabung tidaknya Indonesia dalam TPP.
Sementara itu, kebijakan perdagangan internasional dalam skema CEPA (Comprehensive Economic Partnership
Agreement) Indonesia dengan European Union juga perlu mendapat perhatian penting karena merupakan
prioritas untuk diwujudkan dalam 2 tahun mendatang. Perjanjian kerjasama ekonomi ini positif mengingat
sifatnya yang kompementer bagi perekonomian Indonesia. Secara konseptual CEPA akan menguntungkan
kedua belah pihak, maka APINDO berharap pemerintah untuk segera menyelesaikan negosiasi CEPA tersebut.
6
Indonesia semakin berkembang sebagai salah satu tujuan utama berinvestasi.
Potensi-potensi yang menjadi kekuatan daya saing dengan negara lain yaitu sumber
daya alam yang melimpah, tenaga kerja muda yang semakin terampil dan berkualitas,
pasar domestik yang besar dan terus bertumbuh, serta dukungan dan komitmen
pemerintah untuk semakin meningkatkan mutu iklim investasi bagi terciptanya tujuan
investasi yang aman dan menarik. Dengan stabilitas politik yang diharapkan semakin
kondusif memasuki 2016, serta kemampuan ekonomi Indonesia untuk bertahan
dalam melalui masa kelesuan ekonomi global hingga 2015 lalu, pemerintah terus
menyempurnakan reformasi iklim investasi sehingga ekonomi Indonesia semakin siap
untuk berkompetisi di kawasan.
Menjelang tutup tahun 2015 beberapa waktu lalu, banyak harapan pelaku dunia usaha terhadap prospek 2016
yang akan semakin baik, seiring dengan keyakinan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik yang masih
positif. Untuk saat ini, negara-negara di Asia tetap menjadi kontributor terbesar atau setengah dari total
realisasi investasi di Indonesia. Dan meskipun saat ini tren investasi global menurun seiring dengan kelesuan
ekonomi global, namun iklim investasi di Indonesia terus meningkat dengan signifikan. Selain itu, dalam waktu
dekat diyakini bahwa potensi outward investment dari negara-negara di Asia ke Indonesia cukup besar.
Misalnya outward investment Tiongkok dan Vietnam ke Indonesia masih sekitar 1% s/d 4% dari seluruh
outward investment negara-negara di Asia tersebut, dengan Tiongkok yang masuk (berinvestasi) ke sektor
smelter dan Vietnam berminat berinvestasi di sektor manufaktur seperti TPT.
Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk meraih peluang investasi yang sangat besar di ASEAN. Indonesia
merupakan negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN dan keberadaan MEA dapat lebih mendorong
pertumbuhan ekonomi yang sedang dipacu pemerintah saat ini. Selain itu faktor demografi yang besar,
khususnya dalam hal angka angkatan kerja dan tenaga kerja, akan memperkokoh tercapainya peluang pasar
yang lebih besar bagi dunia usaha Indonesia.
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
8
Berbagai kondisi dan perkembangan tersebut di atas menjadi sebagian landasan bagi optimisme berbagai
kalangan terhadap prospek investasi 2016 di Indonesia yang sangat positif. Bahkan, Kepala BKPM mengatakan1
bahwa minat investasi pada 2016 diproyeksikan akan tumbuh sekitar 16%. Pertumbuhan minat investasi di
tahun 2016 semakin menguat dikarenakan optimisme investor terhadap membaiknya regulasi di Indonesia.
Kondisi makroekonomi pada 2015 menunjukkan tren positif yang terlihat dari perbaikan di dalam
pertumbuhan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan indeks keyakinan konsumen dan indeks tendensi
bisnis. Salah satu fondasi optimisme akan pertumbuhan minat investasi di 2016 adalah adanya peningkatan
capaian kinerja investasi di tahun 2015. Untuk pencapaian Januari s/d September 2015, realisasi investasi telah
mencapai Rp 400 trilyun.
Sebagai “pengawal” pintu masuk kegiatan berinvestasi, pada 2016 BKPM akan menjalankan berbagai program
untuk menjaga tren positif pertumbuhan investasi. Program-program tersebut diantaranya dengan
melanjutkan kemudahan investasi, khususnya bagi sektor manufaktur melalui izin investasi dan izin konstruksi
di Kawasan Industri. Selain itu, BKPM juga akan memberi kemudahan status perusahaan dalam kawasan
berikat (PDKB) dan diskon pajak untuk industri padat karya, sehingga diharapkan akan meningkatkan kontribusi
industri manufaktur pada 2016 hingga 54%. Melalui komitmen yang telah dicanangkan, BKPM akan terus
mendorong realisasi di sektor prioritas investasi, yakni industri berorientasi ekspor, padat karya yang
berorientasi ekspor, substitusi impor, hilirisasi, pertanian, maritim, dan pariwisata.
.
Target Penanaman Modal (PMA + PMDN) BKPM 2015 – 2019
Sumber : BKPM, 2015.
1 Sesuai pernyataan Kepala BKPM kepada beberapa media massa cetak dan online nasional pada 3 Desember 2015, http://www.republika.co.id/berita/koran/financial/15/12/03/nys1tf13-
minat-investasi-di-2016-masih-positif
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
9
Berbagai faktor positif terhadap optimisme proyeksi investasi 2016 tentunya harus dibarengi dengan
kewaspadaan terhadap faktor-faktor yang dapat menghambat prospek investasi di Indonesia pada tahun 2016.
Prospek yang positif terhadap investasi di Indonesia pada 2016, khususnya investasi industri padat modal,
kemungkinan masih terpengaruh oleh fluktuasi dan depresiasi Rupiah yang berpotensi menghambat
pertumbuhan investasi. Dampak dari fluktuasi Rupiah tersebut akan nampak dari penurunan daya beli
masyarakat dimana pelaku industri juga harus tetap mengimpor barang untuk produksi dalam negeri. Impor
barang modal yang stagnan akan menyebabkan gairah investasi menjadi menurun. Terhadap potensi faktor
negatif penghambat investasi tersebut, kebijakan antisipatif yang dapat dilakukan pemerintah, dalam hal ini
Bank Indonesia, diantaranya dengan memperluas cadangan devisa sebagai antisipasi kebijakan dalam
memperkuat nilai tukar Rupiah.
Namun bagaimanapun juga, euforia minat berinvestasi di Indonesia di tahun 2016 yang akan semakin tinggi
semestinya direspon dengan kebijakan antisipatif pemerintah terhadap potensi-potensi negatif yang dapat
muncul dan menghambat kegiatan berinvestasi di tahun 2016 seperti yang telah ditargetkan.
7
Tahun 2016 merupakan tahun pertama bagi Pemerintahan Kabinet Kerja bersama
dengan Legislatif baru dalam merumuskan dan menyusun RAPBN, sehingga anggaran
tahun 2016 diupayakan untuk menampung secara utuh kebijakan dan program dari
Pemerintahan Kabinet Kerja. RAPBN 2016 diharapkan dapat meningkatkan kerja
sama yang lebih baik bagi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam berbagai upaya untuk
alokasi anggaran bagi aktivitas-aktivitas produktif untuk perekonomian yang lebih
kompetitif.
Dalam sisi pembiayaan dalam APBN 2016, pemerintah telah menempuh kebijakan yang akan mengarahkan
anggaran untuk kegiatan produktif. Sasaran penggunaan anggaran akan diarahkan kepada pemberdayaan
peran swasta, BUMN, serta pemerintah daerah dalam percepatan pembangunan infrastruktur serta
melakukan inovasi kreatif pada instrumen pembiayaan. Sebagai konsekuensi dari percepatan pembangunan
infrastruktur, APINDO memandang bahwa pemerintah tentunya memerlukan kebijakan fiskal yang ekspansif
sehingga berdampak pada terjadinya defisit anggaran. Dan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan fiskal,
defisit anggaran tersebut akan ditutup oleh sumber-sumber pembiayaan dari dalam dan luar negeri.
Selanjutnya, realokasi anggaran pemerintah telah diarahkan menuju belanja modal, dan juga peningkatan
belanja infrastruktur oleh BUMN (yang menerima suntikan modal Rp 70,4 trilyun pada APBN-P 2015 lalu),
diharapkan akan memberikan dorongan yang diharapkan bagi belanja investasi yang akan menggenjot kinerja
dunia usaha dalam tahun 2016.
Apabila anggaran belum dapat mencukupi, maka Pemerintah dapat menerapkan skema partisipasi sektor
swasta dalam mendorong belanja infrastruktur yang lebih besar di beberapa lokasi produktif sehingga
ekspektasi terhadap tingkat pertumbuhan 2016 yang lebih optimistis dapat tercapai.
APINDO berpendapat bahwa kebijakan realokasi anggaran tersebut perlu dilanjutkan dalam kerangka APBN
2016, khususnya prioritas terhadap mata anggaran yang diperuntukkan bagi kegiatan produktif, termasuk
infrastruktur dan pendidikan. Sehingga diharapkan dalam jangka pendek dan menengah, hasil nyata dari
pengalokasian tersebut dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja Indonesia sekaligus
menyediakan lapangan kerja yang berkualitas sejalan dengan meningkatnya aktivitas dunia usaha.
Akhirnya, APINDO juga berpandangan bahwa faktor non-ekonomi seperti kondisi dan situasi politik dalam
negeri yang sehat dan kondusif harus dapat dipelihara diantara berbagai pihak. Konflik kepentingan diantara
10
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif harus diminimalisir agar perumusan maupun revisi terhadap produk-produk
perundang-undangan yang melandasi kebijakan pemerintah dapat melandasi aktivitas ekonomi yang ekspansif
dan berkelanjutan, serta bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Terlebih lagi, hasil Pilkada
serentak tahap pertama di Tanah Air pada 9 Desember 2015 lalu diharapkan mampu melahirkan pemimpinpeminpin daerah yang berkeinginan kuat untuk bersinergi dengan kebijakan Pemerintah Pusat dalam rangka
mendukung percepatan investasi dan pembangunan infrastruktur di daerahnya masing-masing.
Terima kasih.
DPN APINDO
Gedung Permata Kuningan
Lantai 10. Jl. Kuningan Mulia Kavling 9C
Guntur – Setiabudi,
Jakarta Selatan 12980
11
Prospek Ekonomi & Bisnis Indonesia 2016 : Tahun Pembuhtian Kinerja Pemerintah untuk Membangun Optimisme Masa Depan Perekonomian
Indonesia
Download