4 - ScholarBlogs

advertisement
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
4. Negosiasi Kontekstual Sekularisme dalam Perspektif Komparatif
Tujuan utama bab ini adalah untuk menunjukkan bahwa sekularisme tidak selalu
bermakna menyisihkan agama dari ruang publik masyarakat karena pengertian
sekularisme yang seperti inilah yang justru cenderung dimusuhi ummat Islam. Tentu
boleh-boleh saja mendefinisikan sekularisme secara hipotetik sebagai pemisahan semua
aspek hubungan agama dan negara secara ketat dan sistematis dan kemudian
menggunakan definisi yang sempit dan realisitis itu untuk menolak semua regulasi
yang berkaitan dengan hubungan tersebut. Namun, definisi yang polemis dan hanya
bersifat teoritis tersebut ternyata tidak valid bahkan untuk diterapkan pada negaranegara Barat yang biasa
dianggap sekuler. Penelitian Rajeev Bhargava di India
membuktikan bahwa penting untuk mulai menepis miskonsepsi mengenai adanya
model pemisahan negara dan agama yang unik dan tidak kompleks di seluruh negaranegara Barat.1 Daripada mencari-cari konsep-konsep yang ilusif seperti itu, nampaknya
lebih produktif bila kita mendiskusikan sekularisme sebagaimana difahami dan
dipraktikkan oleh berbagai masyarakat dalam konteksnya masing-masing. Ketika kita
menguji pengalaman berbagai masyarakat dengan perspektif ini, jelaslah bahwa semua
masyarakat sebetulnya selalu berada dalam kondisi menegosiasikan hubungan antara
negara dan agama, daripada sedang menerapkan definisi sekularisme yang rigid dan
spesifik.
Pertanyaan yang saya ajukan dalam bab ini adalah bagaimana memahami proses
negosiasi tersebut melalui analisis komparatif sehingga setiap masyarakat bisa
mengambil manfaat dari pengalaman masyarakat lain tanpa perlu berusaha menjiplak
atau menirunya karena memang hal yang demikian itu tidak perlu dan tidak pula
diinginkan. Saya akan mulai dengan review singkat pengalaman sejarah beberapa
negara Barat untuk memperlihatkan bahwa teori dan praktik sekularisme itu berubahubah, sarat perdebatan dan sangat kontekstual. Review ini akan memperlihatkan bahwa
hubungan antara agama dan negara bukan hasil akhir pergumulan sejarah dan budaya
1
Rajeev Bhargava, “Introduction,” dalam Rajeev Bhargava (ed.), Secularism and Its Critics (New Delhi,
Oxford University Press, 1999), hlm. 2-3.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
sebuah masyarakat, tetapi juga harus terus terbuka terhadap proses reformulasi dan
revisi.
Pada bagian dua bab ini, saya akan mengutamakan pemahaman terhadap pengalaman
negara-negara Barat tersebut dalam kerangka posisi masing-masing negara terhadap
berbagai isu, bukan mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori-kategori tertentu
yang sudah jelas. setiap negara, memang, mengambil sikap yang berbeda dalam
merespon aspek-aspek tertentu dalam hubungan agama dan negara dan tidak ada
satupun yang mengikuti satu pemahaman sekularisme dalam menyikapi semua isu.
Lagipula,
selalu ada saja perdebatan mengenai bagaimana aspek tertentu dalam
sekularisme harus diperlakukan sehingga kebijakan apapun yang diambil oleh negara
akan selalu mendapatkan perlawanan dari pihak yang lain. Misalnya apakah negara
boleh membiayai pendidikan agama, atau menyediakan fasilitas keuangan atau lainnya
kepada institusi keagamaan, atau bahkan mengatur pilihan moral rakyatnya seperti
yang terlihat dalam debat mengenai aborsi, kontrol kelahiran dan perceraian.
Namun demikian, masalah terpenting dalam buku ini sebetulnya adalah bagaimana
proses negosiasi itu diorganisasi dan difasilitasi melalui kerangka yang akan saya
diskusikan pada bagian tiga bab ini. Pada bagian tersebut, saya menjelaskan bahwa
ketegangan permanen dalam hubungan antara agama dan negara harus dimediasi
melalui kerangka “public reason’ yang sudah diungkapkan dalam bab 1. Kerangka public
reason ini juga harus diamankan dengan prinsip-prinsip dan institusi-institusi
konstitusionalisme, HAM, dan kewarganegaraan seperti yang sudah kita diskusikan
dalam bab 3. Dengan demikian, pada bagian ini saya akan menggunakan review dan
diskusi mengenai pengalaman Barat pada bagian satu guna mengklarifikasi kerangka
yang diperlukan untuk melakukan negosiasi makna dan implikasi sekularisme dalam
konteks masyarakat Islam. Saya akan melanjutkan perbincangan ini pada 3 bab
berikutnya untuk melihat penerapan kerangka tersebut di India, Turki dan Indonesia.
Dengan memahami sekularisme melalui pengalaman negosiasi kontekstual masingmasing masyarakat bukan berarti bahwa tidak ada prinsip-prinsip yang menyatukan
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
pengalaman yang berbeda itu, atau makna dan implikasi konsep itu akan selalu relatif
bagi setiap masyarakat. Malah sebaliknya, mengembangkan pemahaman spesifik
mengenai makna sekularisme dan implikasinya melalui analisis komparatif merupakan
hal yang mungkin dan perlu. Namun, kita tidak boleh memaksakan satu definisi atau
meneguhkan satu implikasi hanya melalui perspektif teoritis yang abstrak belaka.
Dengan demikian, pertanyaan utama bab ini adalah bagaimana pengalaman Barat bisa
berguna untuk menegosiasikan hubungan antara agama dan negara dalam masyarakat
Islam?
I.
Pengalaman Negeri-Negeri Barat
Saya tidak mungkin menjelaskan pengalaman semua negeri Barat atau menawarkan
sebuah diskusi komprehensif mengenai situasi mereka dalam bab ini. Saya memutuskan
untuk memilih beberapa di antara mereka untuk mendiskusikan pengalaman
sekularisme di beberapa negara yang memiliki kondisi, tradisi keagamaan dan rezim
politik atau konstitusi yang berbeda. Meskipun demikian, beberapa negara di Eropa
maupun di Amerika Utara bisa juga didiskusikan dengan cara yang sama untuk
menunjukkan bahwa posisi Agama dalam konsepsi dan pengalaman Barat tidak identik
ataupun ekslusif dari domain kebijakan publik dan undang-undang.
Inggris
Karena Inggris hanya sedikit dari negara yang tetap mempertahankan lembaga Gereja
resmi (nasional), penting kiranya untuk membicarakan pengalaman mereka dalam bab
ini, meskipun diskusi dalam bagian ini juga tidak berpretensi untuk membahas semua
daerah yang ada di Inggris. Istilah gereja resmi (established church), dan sejumlah istilah
yang berkaitan dengannya, digunakan dalam bab ini untuk menunjukkan adanya
agama atau sekte (denomination) tertentu yang diakui atau diresmikan sebagai agama
resmi negara. Meskipun kedekatan hubungan antara Gereja Inggris (The Curch of
England) dengan negara semakin berkurang, namun hubungan itu masih tetap kukuh.2
Dimulainya sistem hubungan gereja-negara yang modern di Inggris bisa ditelusuri dari
asal-usul lahirnya Gereja Inggris (The Curch of England) pada abad ke-16 di masa
2
S. V. Monsma and J.C. Soper, “England: Partial Establishment.” The Challenge of Pluralism: Church and
State in Five Democracies (Lanham, MD: Rowman & Littlefield Publishers, Inc., 1997), hlm. 121.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
pemerintahan Henry VIII. Henry memutuskan untuk mengambil alih kontrol terhadap
gereja-gereja di Inggris dari kekuasaan Paus, karena Paus menolak untuk merestui
pernikahannya dengan Catherine dari Aragon.3 Dengan mengeluarkan “Act of
Supremacy” tahun 1534, Gereja Inggris memisahkan diri dari otoritas Paus.4 Henry VIII
juga mengambil alih kontrol Paus terhadap kekayaan, tanah dan kuil milik gereja.
Karena keputusan ini, lembaga biara menjadi tidak ada dan para biarawan tidak lagi
menjadi anggota lembaga the House of Lord (satu dari 2 lembaga parlemen Inggris).
Hanya sebagian kecil uskup dan beberapa pendeta yang menjadi anggota lembaga itu.5
Setelah Henry meninggal, penduduk Inggris terbagi menjadi simpatisan Katolik dan
Protestan, sampai akhirnya Elizabeth I memutuskan untuk menetapkan gereja Protestan
sebagai gereja resmi negara pada tahun 1959 dengan mengeluarkan “Act of Supremacy”
kedua yang sekaligus mengukuhkan posisi gereja di bawah otoritas kerajaan.
Meskipun gereja resmi memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan politik
Inggris, namun keputusan Henry VIII untuk memisahkan gereja Inggris dengan Roma
merupakan satu proses sekularisasi kultural. Selama kekuasaan Edward VI dan
Elizabeth I, kebiasaan ummat Katolik memproduksi benda-benda dan karya seni suci
menurun. Para seniman menemukan tema-tema non religius untuk mereka tampilkan;
dan bentuk lukisan barupun berkembang, seperti lukisan benda dan potret. Dan ketika
negara mulai mengawasi dan melarang pertunjukan drama religius, termasuk dramadrama misteri abad pertengahan, drama Elizabethan yang sekuler pun berkembang
menggantikan posisi tradisi lama.6
Selama berabad-abad, gereja resmi di Inggris telah memperkuat sekaligus diperkuat
oleh kekuasaan negara. Hubungan gereja Inggris dan negara menguat pada abad ke-17,
ketika mazhab Kristen Inggris (Anglican) disponsori dan diperkuat oleh negara
sementara Katolik Roma dan mazhab lainnya ditindas. “The Corporation Act” tahun 1661
3
Monsma and Soper, hlm. 124
David McClean, “State and Church in the United Kingdom” State and Church in the European Union.
Ed. Gerhard Robbers (Baden-Baden: Nomos Verlagsgesellschaft, 1996), hlm. 310.
5
C. John Sommerville, The Secularization of Early Modern England: From Religious Culture to Religious
Faith (Oxford: Oxford University Press, 1992), hlm. 13-14
6
Sommerville, hlm. 87, 93-94
4
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
dan “The Test Act” tahun 1673 melarang orang-orang yang tidak mengikuti Kristen
Anglikan untuk berpartisipasi dalam arena politik dan masuk universitas. Baru pada
abad ke-18-lah, posisi istimewa gereja resmi ini mulai menurun. Penganut Protestan
yang tidak tunduk pada negara diberikan hak untuk melakukan ibadah pada tahun
1689, namun mereka tetap tidak diberikan hak-hak politik kecuali sampai 1824. orangorang Katolik dan Yahudi mulai diperbolehkan berpartisipasi dalam politik beberapa
dekade setelah itu. Tahun 1871, pemerintah Inggris menetapkan tes agama untuk masuk
universitas. Namun di akhir abad 19, bibit-bibit toleransi mulai tumbuh.7
Pemberian hak politik kepada penduduk yang tidak menganut kristen Anglikan
merupakan sebuah pengakuan bahwa negara tidak bisa memaksakan keseragaman
agama pada warga negaranya. Selama abad 19, beberapa kelompok diorganisasi untuk
memisahkan gereja dari negara, namun mereka tidak mendapatkan dukungan politik
yang memadai. Pada awal abad ke-20, pengaruh kelompok-kelompok separatis itu
mulai menurun, mungkin karena secara politis, kekuasaan gereja juga tidak lagi
penting. Gereja Inggris tetap menjadi Gereja resmi negara, namun ikatan formalnya
kepada negara berangsur-angsur mengendur dan lebih bersifar seremonial. Di akhir
abad ke-20 atau permulaan abad ke-21, gereja Inggris mulai berusaha mempromosikan
sikap yang lebih toleran dan mempertahankan fungsi ekumenisnya dengan mendukung
pengakuan pemerintah terhadap sekte lain. Pada saat ini, negara juga tidak lagi
mempromosikan gereja Anglikan secara agresif dan membatasi kegiatan kelompokkelompok agama lain. Kebijakan negara semakin mengarah pada pemberian dukungan
kepada semua agama, daripada hanya kepada satu kelompok.8
Meskipun sikap negara terhadap agama semakin plural, beberapa implikasi legal dan
kultural model negara tradisional masih terlihat. Sebagai contoh, kerajaan, dengan saran
dari Perdana Menteri, menunjuk para uskup dari calon yang dinominasikan oleh gereja.
Sementara itu, Uskup Agung serta anggota senior lembaga keuskupan tetap menjadi
anggota The House of Lords. Hukum negara yang mengatur penghinaan agama
(blasphemy) merupakan upaya untuk melindungi doktrin-doktrin gereja Anglikan, tapi
7
8
Monsma and Soper, hlm. 124
Monsma and Soper, hlm. 124-132
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
tidak untuk doktrin agama lain.9 Hukum Gereja Anglikan (eclesiastical law atau canon
law) masih menjadi bagian Hukum Inggris dan memiliki kekuatan yang sama dengan
common law di pengadilan. Parlemen mempunyai kekuasaan untuk membuat hukum
yang berkaitan dengan gereja, meskipun akhirnya kekuasaan ini diberikan kepada
Majelis Umum Gereja-Gereja (the General Synod of the Church) pada abad ke-20. Gereja
Inggris masih mempunyai hak istimewa untuk mengeluarkan aturan-aturan yang
berkaitan dengan gereja-gereja lain, aturan ini kemudian diajukan ke parlemen untuk
mendapatkan persetujuan sehingga memiliki kekuatan hukum seperti ketetapan
parlemen lainnya. Namun dalam praktiknya, parlemen jarang menolak aturan-aturan
itu dan bahkan mungkin tidak mengamandemen teksnya.10 Posisi Gereja Inggris saat
ini merefleksikan apa yang disebut partial establishment sebagai bentuk kerjasama
antara negara dan gereja untuk melindungi peran publik agama. Adanya otoritas
keagamaan ini merupakan pengakuan negara terhadap peran publik sebuah
kepercayaan agama”.11
Meskipun mendapatkan dukungan yang luas, sistem “partial establishment” ini
menghadapi beberapa tantangan dalam masyarakat kontemporer, seperti dalam kasus
pendidikan agama. Negara mempertahankan sikap setengah netral dalam persoalan
agama dengan, misalnya, dengan memasukkan pendidikan agama sekte lain dalam
kurikulum nasional. Namun, Gereja Inggris tetap memiliki hak veto untuk merubah
silabus pelajaran yang penyusunannya melibatkan komite lokal meskipun Education
Reform Act (Undang-Undang Reformasi Pendidikan) tahun 1988 melarang komite
tersebut untuk membuat kurikulum yang memperlihatkan kecenderungan pada salah
satu sekte keagamaan.12 Selain itu, dana fasilitas pendidikan juga lebih diutamakan
untuk diberikan kepada sekolah-sekolah Anglikan atau Katolik, meskipun sekolahsekolah Protestan dan Yahudi juga mendapatkan sejumlah dana.13 Pihak yang tidak
setuju terhadap kebijakan pemberian dana untuk sekolah-sekolah agama mengklaim
9
Monsma and Soper, hlm. 129-130
McClean, hlm. 311-312
11
Monsma and Soper, hlm. 148
12
McClean, hlm. 316
13
Monsma and Soper, hlm. 137
10
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
bahwa lembaga-lembaga seperti itu memecah belah kohesi sosial, karena memisahkan
anak-anak berdasarkan agama.14
Kesulitan yang muncul dalam kebijakan pendidikan agama di atas memperlihatkan
keterbatasan sistem “partial establishment” yang berlaku Inggris. Karena Inggris tidak
mempunyai bill of rights tertulis, maka tidak ada jaminan formal untuk kebebasan
beragama atau harapan bagi terciptanya kesetaraan beragama. Negara, dengan
demikian, hanya mengakomodasi kepentingan minoritas jika kepentingan itu masih
dalam batasan yang bisa diterima.15
Meskipun kombinasi kebijakan “partial
establishment” dan toleransi terhadap minoritas secara umum bisa diterima oleh rakyat
Inggris, namun nampaknya kebijakan ini mulai mendapatkan tekanan dari kalangan
minoritas yang menuntut adanya pernyataan yang lebih jelas tentang kesamaan status
mereka. Sementara di pihak lain, kalangan tradisionalis Inggris masih ingin
mempertahankan hak sosial dan politik istimewa yang dimiliki oleh Gereja Anglikan.
Swedia
Sejarah pemberlakuan agama resmi di Swedia dimulai sejak abad ke-16 ketika desakan
untuk menyatukan negara di bawah kepercayaan Lutheran semakin menguat dan bisa
dicapai melalui kepemimpinan para pendeta dan dukungan massa terhadap adanya
gereja Protestan. Tahun 1953, untuk mengantisipasi gerakan kontra reformasi, yang juga
berkompetisi untuk mendapatkan tahta kerajaan, Majelis Gereja Lutheran pun dilantik
di Uppsala. Lebih dari 300 lembaga kependataan Lutheran hadir dan Gereja Evangelis
Lutheran ditetapkan menjadi Gereja Nasional Swedia dengan deklarasi bahwa Swedia
telah disatukan dengan Satu Raja dan Satu Tuhan.16
Abad-abad berikutnya, kebijakan penyeragaman identitas keagamaan ini juga
diberlakukan untuk menyatukan perbedaan etnik dan bahasa di Swedia yang muncul
kemudian. Tahun 1634 “the Instrument of Government” (peraturan pemerintah)
14
Monsma and Soper, hlm. 139
McClean, hlm. 311, dan Monsma and Soper, hlm. 148-149
16
Jonas Alwall, “Religious Liberty in Sweden: An Overview.” Journal of Church and State. Ed. Davis, D.
42:1 (2000), hlm. 147, 148.
15
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
menyatakan dengan jelas bahwa Kristen Lutheran adalah agama resmi negara sekaligus
mengungkapkan prinsip kesatuan dalam beragama bagi rakyat Swedia.17 Pada tahun
1686, ketetapan gereja menyebutkan bahwa Swedia adalah negara Evangelis dan
dengan demikian rakyat Swedia harus menganut Agama Evangelis”, sehingga jika ada
orang Swedia meninggalkan Gereja resminya, ia kehilangan status warga negaranya.18
Sekitar tahun 1800, sejumlah provinsi di Swedia mulai hilang dan Swedia menjadi
negara yang lebih homogen secara etnik dan budaya. Namun, toleransi terhadap praktik
agama lain tidak pernah muncul sampai akhir abad 18. itupun hanya berlaku bagi para
imigran, tidak bagi orang Swedia asli. Perubahan mulai terjadi selama abad 19
bersamaan dengan meningkatnya industrialisasi, urbanisasi dan tumbuhnya pengaruh
gerakan kaum sosialis dan liberal. Peraturan pemerintah tahun 1809 akhirnya mengakui
hak rakyat Swedia untuk meninggalkan gereja dan membentuk jemaah ibadah sendiri,
namun kebijakan ini baru berlaku setelah the Dissenter Act (undang-undang tentang
sekte gereja) dikeluarkan tahun 1860. Selain itu, jemaah ibadah yang didirikan pun
harus tetap berdasarkan agama Kristen dan mendapatkan persetujuan kerajaan.19
Langkah lebih maju menuju pluralisme (untuk tidak menyebut semakin goyahnya
kekuatan Gereja Nasional) muncul pada abad 20. Religious Liberty Act (undang-undang
tentang kemerdekaan beragama) tahun 1951 yang mengatur kebebasan praktik
beragama melarang seseorang untuk menganggu kedamaian atau menganggu
ketentraman publik. Peraturan Pemerintah tahun 1974 memasukkan kebebasan
beragama dalam Undang-Undang Dasar Swedia sedangkan Amandemen Konstitusi
tahun 1974 menegaskan bahwa tidak boleh ada perbuatan yang dilarang atau dibatasi
oleh hukum hanya karena alasan-alasan keagamaan.20 Tahun 1996, keanggotaan gereja
didefinisikan ulang sehingga setiap bayi yang baru harus dibaptis meskipun
orangtuanya anggota Gereja Nasional Swedia, karena mereka tidak bisa serta merta
menjadi anggota hanya karena orangtuanya.21
17
Alwall, hlm. 148
Robert Schött, “State and Church in Sweden.” State and Church in the European Union. Ed. Gerhard
Robbers (Baden-Baden: Nomos Verlagsgesellschaft, 1996), hlm. 298.
19
Alwall, hlm. 149, 151
20
Alwall, hlm. 152
21
Alwall, hlm. 168
18
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Sampai akhir abad 20, sebagai gereja resmi negara, Gereja Swedia berhubungan sangat
erat dengan negara. Raja menjadi kepala Gereja Swedia yang menunjuk Uskup Agung
dan para uskup. Pajak yang dikumpulkan negara juga digunakan untuk membayar gaji
para pendeta, hingga kontribusi rakyat secara langsung kepada gereja hampir tidak ada.
Sebagai pegawai negara, pendeta menempati statistik yang cukup vital dalam negara
dan berfungsi seperti pegawai pemerintahan yang lain. Parlemen Swedia yang
mempunyai otoritas membuat hukum, juga merumuskan dan menetapkan hukum yang
berlaku bagi Gereja Swedia.
Hubungan ini memang membuat Gereja Lutheran
mempunyai pengaruh besar di Swedia, tetapi juga membuat otonominya terbatas. tidak
seperti di Itali atau Spanyol dimana negara tunduk pada Gereja, di Swedia, gereja
nampaknya lebih tunduk pada negara.22
Berbagai usulan perubahan hubungan agama dan negara diajukan pada tahun 1970-an,
tapi tak satupun yang diadopsi. Baru pada tahun 1990-an, perubahan besar dimulai.
Pada tahun 1991, sistem registrasi nasional dialihkan dari gereja ke otoritas pajak.23
Komisi yang dibentuk tahun 1994 untuk mengevaluasi hubungan gereja dan negara
menyimpulkan bahwa meskipun agama mempunyai fungsi sosial yang amat berguna,
namun negara harus tetap bersikap netral terhadap seluruh sekte dengan tidak
memperlihatkan kecondongan pada salah satu diantaranya. Rekomendasi yang dibuat
oleh komisi menghasilkan perubahan besar dalam tata hubungan gereja dan negara di
Swedia, yang puncaknya terjadi pada tanggal 1 Januari 2000.
24
Secara umum
rekomendasi yang diajukan oleh komite adalah Gereja Nasional Swedia harus diberikan
status independen dari pemerintah lokal maupun nasional, dan seluruh sekte harus
diperlakukan sama. Komisi ini juga merekomendasikan agar setiap sekte mendapatkan
hak yang sama untuk mempunyai status hukum, sedangkan pajak yang diberikan
22
R. Stark and L. R. Iannaccone. “A Supply-Side Reinterpretation of the ‘Secularization’ of Europe.”
Journal for the Scientific Study of Religion. 33:3, 1994: 238.
23
Alwall, hlm. 167
24
Lars Friedner, “Church and State in Sweden in 2000.” European Journal of Church State Research. Ed.
R. Torfs. v.8 (2001), hlm. 255.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
kepada keuskupan diganti dengan biaya pelayanan yang harus dibayarkan oleh
anggota sekte kepada sektenya.25
Rencana yang dirancang oleh komisi tetap mempertahankan perlakuan khusus bagi
gereja nasional Swedia, tetapi perlakukan khusus ini diberikan dalam posisinya sebagai
salah satu institusi keagamaan dalam masyarakat yang plural. Salah satu perlakuan
istimewa yang dinikmati oleh gereja nasional Swedia adalah pemberian dana
pemerintah untuk pemeliharaan bangunan gereja yang dianggap sebagai salah satu
khazanah budaya penting di Swedia. Selain itu, Gereja Swedia masih diberikan
tanggung jawab untuk mengurus layanan pengebumian dan pemakaman umum.
Meskipun ada beberapa keberatan mengenai hal ini, namun baik Gereja maupun negara
dapat menerimanya.26
Pemisahan
Gereja
Swedia
dari
Negara
secara
hukum
dilaksanakan
melalui
dihilangkannya Hukum gereja dari Hukum Negara Swedia dan dihapuskannya Church
of Sweden Act (ketetapan Gereja Swedia) yang menetapkan struktur gereja dan Majelis
Umum Lutheran sebagai otoritas hukum utama.27 Ketetapan inilah yang memberikan
Gereja Swedia status hukum istimewa yang diperkuat dengan aturan undang-undang
khusus.28 Setelah proses ini, Gereja membuat Ordinansi Gereja sendiri sebagai kerangka
hukum yang terpisah dari hukum nasional. Ordinansi ini memuat Hukum Gereja yang
dulu. Karena perubahan ini, Uskup tidak lagi dipilih dari 3 orang kandidat yang
diajukan gereja kepada pemerintah melainkan melalui pemilihan langsung dalam
Gereja.29
Penting untuk dicatat, meskipun dilakukan dengan cara dan perangkat yang berbeda,
Inggris dan Swedia telah menempuh pola yang sama untuk meningkatkan pengakuan
mereka atas pluralisme agama. Inggris masih mempertahankan status Gerejanya
sebagai gereja resmi, namun hanya memberikan peran moderat bagi mereka. Sedangkan
25
Schött, hlm. 301
Friedner, hlm. 257; Alwall, hlm. 168, 169
27
Friedner, hlm. 256
28
Alwall, hlm. 169
29
Friedner, hlm. 257
26
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Swedia telah melangkah lebih jauh dengan pemisahan legal antara negara dan agama.
Meskipun demikian, kedua negara ini dianggap negara sekuler yang secara subtstansial
menjaga netralitas agama sebagaimana yang saya ajukan dalam proposal saya untuk
masyarakat Islam.
Rusia
Sejarah hubungan gereja dan negara di Rusia telah berubah sejak abad lalu. Selagi masih
dalam kekuasaan monarki, Gereja Kristen Ortodoks Rusia adalah agama resmi negara
yang diberikan hak untuk menyelenggarakan pendidikan, pencatatan nikah dan
kematian. Sedangkan agama-agama Rusia lain dibatasi hak-hak dan fasilitas
istimewanya. Namun sejak revolusi 1917, Dewan Rakyat (the Council of People’s
Commisars) mengambil alih semua hak milik gereja dan tempat ibadah agama lain serta
mencabut status hukum seluruh organisasi keagamaan. Pada beberapa saat di masa
Perang Dunia II, Gereja Ortodoks Rusia pernah muncul kembali dan gereja-gereja
kembali dibuka untuk menumbuhkan semangat patriotisme. Namun, satu dekade
setelah perang pecah, gereja-geraja yang pernah dibuka lagi itu ditutup kembali dan
praktik-praktik keagamaan mulai menurun.30
Ketika federasi Rusia terbentuk setelah jatuhnya Uni Soviet, hubungan antara negara
dan agama ditata ulang baik melalui undang-undang dasar maupun undang-undang.
Pasal 14 Undang-Undang Dasar Federasi menyatakan Rusia sebagai negara sekuler
sehingga tidak akan ada negara yang dibangun berdasarkan satu agama tertentu.
Undang-Undang dasar juga menyebutkan bahwa semua asosiasi keagamaan memiliki
posisi setara di depan hukum. Sementara itu, bebas dari diskriminasi atas nama agama
dijamin oleh Pasal 19 dan hak untuk bebas dari wajib militer karena alasan moral atau
keagamaan untuk kemudian melakukan pelayanan publik lain sebagai alternatif
dijamin oleh pasal 59. Bahkan, pasal 28 undang-undang dasar juga dengan jelas
melindungi hak untuk tidak menganut satu agama pun.
30
Lev Simkin, “Church and State in Russia” dalam Law and Religion in Post-Communist
Europe. Eds. Silvio Ferrari, W. C. Durham, Jr. (Leuven, Belgium: Peeters 2003), hlm. 261, 262.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Perubahan-perubahan undang-undang dasar ini sudah dielaborasi, diklarifikasi bahkan
mungkin dibatasi oleh undang-undang yang mengatur hubungan antara gereja dan
negara. Setelah kebijakan “Perestroika” Gorbachev, hubungan antara negara dan sektesekte keagamaan dinormalisasikan kembali oleh Undang-Undang (law) tahun 1990
tentang “kebebasan beragama”. Pada dekade inilah, jumlah organisasi agama yang
terdaftar naik sampai 20.000. Hanya setengah diantara organisasi-organisasi tersebut
yang merupakan organisasi Kristen Ortodoks Rusia, yang berarti bahwa jumlah agama
minoritas telah berkembang selama masa itu. Organisasi-organisasi tersebut kini
diperbolehkan untuk mengorganisasi massa, dan boleh terlibat dalam kegiatan missi
keagamaan dan sosial. Kepercayaan terhadap agama naik, dari kira-kira 20% pada
tahun 1980 menjadi 48% pada akhir tahun 90-an.31
Pada tahun 1997, negara membatasi kebijakan liberal ini dengan menetapkan UndangUndang tentang “Kebebasan
memeluk kepercayaan dan
mendirikan asosiasi
keagamaan” untuk mengatur hubungan gereja dan negara. Di bawah ketentuan UU ini,
organisasi keagamaan harus mendaftarkan diri mereka kembali sebelum tahun 2000,
namun hanya mereka yang sudah berdiri di Rusia selama 13 tahun yang berhak
menyandang status sebagai organisasi keagamaan. Ketentuan ini dengan demikian
hanya memberikan hak-hak yang tersebut diatas kepada organisasi keagamaan yang
terdaftar dan tidak pada mereka yang tidak terdaftar. Artikel 11, 18, dan 23 UU ini
menyatakan bahwa “hanya organisasi keagamaanlah yang bisa “mendirikan dan
memelihara bangunan-bangunan keagamaan, memiliki akses terhadap rumah sakit dan
penjara, menyelenggarakan pelajaran tambahan di sekolah-sekolah negeri, mendirikan
struktur organisasi sosial, dan terlibat dalam kegiatan bisnis”.32 Organisasi keagamaan
juga dibebaskan dari kewajiban membayar pajak penghasilan yang didapatnya dari
aktivitas keagamaan atau penjualan barang-barang keagamaan. Jika bangunan ibadah
yang mereka miliki dilindungi sebagai monumen budaya dan sejarah, maka mereka
betul-betul dibebaskan dari kewajiban membayar pajak tanah.33
31
Simkin, hlm. 263
Vsevolod Chaplin, “Law and Church-State Relations in Russia: Position of the Orthodox Church, Public
Discussion and the Impact of Foreign Experience.” Law and Religion in Post-Communist Europe. Eds.
Silvio Ferrari, W. C. Durham, Jr. (Leuven, Belgium: Peeters, 2003), hlm. 282
33
Simkin, hlm. 278, 279
32
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Pembukaan Undang-Undang tahun 1997 mengakui pentingnya peran sejarah Gereja
Ortodoks di Rusia, namun ia tidak memberikan gereja ini status hukum khusus. Namun
demikian, motif utama pembuatan UU ini sebetulnya adalah untuk melindungi Gereja
Ortodoks. Beberapa pembuat UU memperlihatkan keinginan mereka untuk melindungi
Gereja ini dari invasi sekte-sekte keagamaan lain. Salah satu efek penting disahkannya
UU 1997 ini adalah pengalihan kepemilikan properti dan bangunan yang digunakan
untuk tujuan-tujuan keagamaan dari negara ke gereja. Pengalihan ini merupakan usaha
untuk menebus pengambilalihan yang pernah dilakukan oleh negara pada permulaan
era komunis terhadap properti milik gereja.34
Meskipun UU 1997 dan perundang-undangan yang lain mengenai pendidikan, militer
dan pajak jelas-jelas melindungi status Gereja Ortodoks Rusia, namun UU itu juga berisi
mengindikasikan karakter negara sekuler. Secara keseluruhan, UU ini meminta negara
untuk tidak mempercayakan fungsinya pada asosiasi keagamaan, begitupun negara dan
otoritas lokal tidak boleh memasukkan perayaan keagamaan apapun dalam
aktivitasnya. Negara tidak boleh mencampuri urusan agama dalam mengasuh anak dan
tetap harus menjamin bahwa pendidikan negeri tetap bersifat sekuler. Hanya sertifikat
pernikahan yang disahkan oleh catatan sipil yang dianggap sah, sedangkan perayaan
pernikahan yang dilaksanakan di gereja tidak memiliki efek hukum apapun. Asosiasi
keagamaan diperbolehkan untuk menjalankan urusannya sesuai dengan aturannya
sendiri, tetapi mereka tidak bisa berpartisipasi dalam pemilihan, gerakan dan aktivitas
partai politik, atau memberikan bantuan material kepada mereka.35
Bertingkatnya UU yang dikeluarkan oleh pemerintah Rusia mengenai hubungan antara
agama dan negara berakhir pada banyaknya kontradiksi. Misalnya UU 1996 tentang
pendidikan melarang aktivitas lembaga keagamaan di sekolah, tetapi UU 1997
mengizinkan pendidikan agama di sekolah-sekolah negeri. Kontradiksi ini kemudian
diselesaikan dengan cara-cara berikut ini: administrasi sekolah memang tidak
diperbolehkan untuk memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum standar,
34
35
Simkin, hlm. 261-277
Simkin, hlm. 269
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
tetapi mereka dapat menyetujui permintaan orang tua atau keinginan anak untuk
mengizinkan organisasi keagamaan mengajarkan agama kepada mereka diluar
kurikulum. Setelah umur 14, anak-anak boleh memilih sendiri apakah mereka ingin
menerima pendidikan agama atau tidak, namun izin orangtua tetap disyaratkan sampai
anak mencapai umur ini.36
Kontradiksi ini menunjukkan adanya ketidasepakatan di Rusia mengenai karakter dan
tingkat hubungan antara gereja dan negara yang tepat. Misalnya, pemisahan antara
agama dan negara dibatasi dengan perundang-undangan yang memperbolehkan negara
untuk membatasi kebebasan beragama jika dibutuhkan untuk melindungi struktur
konstitusi, moralitas, kesehatan, hak asasi manusia, dan kepentingan hukum seseorang
dan untuk menjamin pertahanan dan kemanan negara”.37 Perundang-undangan lain
yang dianggap memihak Gereja Ortodoks Rusia adalah UU yang memperbolehkan hak
kepada otoritas lokal untuk mengeluarkan organisasi keagamaan yang tidak diterima
dari daerahnya.38
Kebangkitan kesadaran keagamaan di Rusia sejak jatuhya Uni Soviet berakhir pada
lahirnya sejumlah pendapat berbeda mengenai hubungan agama dan negara. Meskipun
sulit untuk mengidentifikasi model spesifik yang bisa langsung diterapkan dalam
konteks Rusia sekarang, pandangan tradisional Eropa yang lebih memberikan ruang
bagi terjadinya kerjasama yang lebih dekat antara agama dan negara nampaknya lebih
mungkin diterima disana daripada model Amerika atau Perancis yang cenderung
mendukung pemisahan yang lebih besar dan menuntut adanya “buffer zone” antara
keduanya.39 Namun, pengalaman masyarakat Rusia juga berbeda dengan masyarakat
Eropa seperti Inggris dan Swedia yang sudah berusaha untuk mengendurkan ikatan
mereka dengan Gereja resmi. Rusia, yang secara hukum dan sosial sudah lama menjadi
negara sekuler, belakangan ini malah mengizinkan, bahkan mendorong, pengakuan
Gereja Ortodoks Rusia sebagai geraja negara, meskipun tidak melalui instrumen
hukum.
36
Simkin, hlm. 275
Simkin, hlm. 266
38
Simkin, hlm. 267
39
Chaplin, hlm. 292
37
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Perancis
Tidak seperti negara-negara Eropa lain yang mengalami dominasi Gereja Katolik,
Perancis memiliki tradisi pemisahan antara negara dan gereja yang cukup tua yaitu
sejak masa Revolusi Perancis. Pendekatan perancis terhadap sekulerarisme ditandai
dengan adanya istilah laicite. Sebuah kata yang tidak hanya bermakna netralitas negara
terhadap agama, tetapi juga menandakan adanya komitmen yang kuat untuk
menyebarluaskan seperangkat nilai-nilai sipil dan nasional. Pasal 10 Declaration of the
Rights of Man and Citizen (Deklarasi Hak-Hak Manusia dan Warga Negara) tahun 1789
memproklamirkan kebebasan untuk menganut kepercayaan, dan Bab I Undang-Undang
Dasar 1791 menjamin kebebasan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.
Meskipun
para
pembuat
dokumen
itu
pada
awalnya
hanya
bermaksud
mensubordinasikan posisi gereja dari kekuasaan sipil, kebijakan ini, terutama pada
masa teror, kemudian beralih menjadi kebijakan yang secara sistematis berusaha untuk
memerangi agama Kristen.40 Keputusan pemerintah tahun 1795 menjadi landasan bagi
pemisahan ketat antara gereja dan agama dan melarang negara membiayai agama
ataupun mengakui keberadaan kementrian agama.
Concordat tahun 1801, keputusan unilateral yang dibuat oleh Perancis namun tidak
diterima oleh Vatican, dibuat untuk meredakan ketegangan dan mengklarifikasi
hubungan antara negara dan agama di Perancis. Dokumen ini memungkinkan otoritas
sipil untuk mengontrol kementrian agama dan kehidupan keagamaan di sana. Beberapa
waktu
kemudian, instrumen hukum yang sama diberlakukan untuk memberikan
kekuasaan kepada negara untuk mengontrol Gereja Protestan Lutheran, Gereja
Reformasi dan Agama Yahudi. Namun demikian, empat lembaga keagamaan yang
diakui ini bisa mempertahankan status istimewa seperti jaminan hukum atas posisi
menteri agama, gaji dan status hukum properti, selama abad 19. Tetapi, selama abad ini
pula, banyak perdebatan mengenai hubungan antara agama dan negara yang muncul.
Ada pihak yang berusaha menghidupkan kembali “rezim lama” dan mendukung
40
Brigitte Basdevant-Gaudemet, “State and Church in France.” State and Church in the European Union.
Ed. G. Robbers (Baden-Baden: Nomos Verlagsgesellschaft, 1996), hlm. 120

Concordat adalah kesepakatan yang dibuat oleh Vatikan dan salah satu Negara sekuler (catatan dari pen.)
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
kekuasaan pemuka agama, tetapi ada pula pihak yang mendukung perubahan yang
telah dibuat sejak tahun 1789 dan menentang gereja Katolik.41 Dalam konteks
antagonisme politik seperti itulah, dua pandangan mengenai laicite lazim berlaku, yang
satu anti pemuka agama sementara yang lain mendukung adanya pemisahan antara
agama dan negara yang menguntungkan kedua belah pihak dan menghormati semua
kepercayaan agama. pada akhir abad 19, pemahaman yang pertama dan radikal
memenangkan perdebatan.
Pada tahun 1905, setelah partai politik mendukung gerakan anti-pemuka agama
berkuasa selama dua dekade dan setelah timbulnya perdebatan hangat tentang
hubungan agama dan negara di Perancis, pemerintah memutuskan hubungan dengan
Paus dan mengeluarkan Undang-Undang yang menegaskan pemisahan antara gereja
dan negara, yang ternyata masih berlaku sampai sekarang. Di bawah aturan baru ini,
negara menjamin kebebasan publik untuk beribadah namun mengakhiri keberadaan
“Agama yang Diakui”. Gereja bukan lagi institusi publik dan menjadi bagian dari sektor
privat. Sesuai dengan pasal 4 UU tahun 1905, kelompok keagamaan (religious assocaition)
lama bisa membentuk “asosiasi kultural” (cultural association)
yang menerima
pengalihan kepemilikan tanah gereja. Meskipun sektor privat bisa mendapatkan dana
dari negara, tetapi gereja tidak bisa mendapatkan dana tersebut kecuali untuk
membiayai
bangunan-bangunan
keagamaan
yang dianggap
monumen.42
Paus
mengutuk Undang-Undang tahun 1905 itu dan Gereja Katolik Perancis menolak untuk
menerima perubahan statusnya karena takut kehilangan otoritas kepausan yang
dimilikinya atas gereja-gereja katolik lain di Perancis. Gereja-gereja Katolik menolak
untuk mendaftarkan diri sebagai “asosiasi kultural” dan lebih suka mengorganisasi diri
dengan aturan mengenai kebebasan untuk membuat majelis publik atau kebebasan
untuk membuat asosiasi.
Di bawah aturan UU tahun 1905, negara tetap memiliki kewajiban untuk melindungi
kebebasan menganut kepercayaan dan melakukan ibadah serta tetap berkomitmen
untuk menyediakan kemungkinan bagi para penganut agama untuk menghadiri
41
42
Basdevant-Gaudemet, hlm. 121-122
Basdevant-Gaudemet, hlm. 122-125
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
perayaan keagamaan dan menerima instruksi keagamaan. Ini berarti bahwa negara
tetap membolehkan adanya asistensi spiritual di tempat-tempat yang dibutuhkan orang
seperti rumah sakit, penjara, militer, dan bahkan sekolah, dalam tahap tertentu.43
Meskipun pada prinsipnya undang-undang tidak memberikan status istimewa pada
agama apapun, namun negara bisa mengeluarkan peraturan-peraturan lain yang
memberikan keuntungan pada salah satu agama.
Setelah Perang Dunia I, hubungan diplomatik antara Perancis dan Paus dibangun
kembali. Pada tahun 1924 disepakati bahwa Gereja Katolik bisa mendirikan asosiasi
keagamaan mereka menurut aturan khusus. Asosiasi-asosiasi itu akan bekerja di bawah
otoritas uskup yang berada dalam komuni Paus dan harus sesuai dengan UndangUndang Gereja Katolik.44 Kelompok keagamaan lain memiliki hak implisit yang tertera
dalam “kebebasan beragama dan memeluk kepercayaan”, namun hak-hak tersebut
tidak diberikan kepada kelompok-kelompok yang memiliki tujuan terlarang yang
bertentangan dengan hukum dan moral”. Kelompok-kelompok yang termasuk dalam
kategori terakhir ini tidak bisa menerima dana dari pemerintah kecuali dari donasi
individu. 45
Kebijakan laicite pemerintah Perancis telah menimbulkan persoalan yang berkaitan
dengan pendidikan, pekerjaan dan hukum keluarga.
Contohnya, kebebasan untuk
mendapatkan pendidikan di Perancis adalah prinsip konstitusi yang telah dibentuk dan
diterapkan melalui berbagai hukum pada abad 19. padahal, mayoritas siswa yang
belajar di sekolah swasta masuk di sekolah Katolik. Sekolah Negeri menerima siswa
tanpa mementingkan persoalan agama dan tidak menjadikan instruksi keagamaan
sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh siswa. Pada pendidikan tingkat dasar,
orang tua boleh mengatur pendidikan agama di luar sekolah semingu sekali untuk
anak-anaknya. Sekolah tingkat menengah, dulu boleh menunjuk seorang guru dari
gereja untuk mengajar para siswa, namun penunjukkan ini harus berdasarkan
permintaan orang tua dan harus dibiayai sepenuhnya oleh mereka, meskipun bisa jadi
43
Basdevant-Gaudemet, hlm. 140
Basdevant-Gaudemet, hlm. 126
45
Basdevant-Gaudemet, hlm. 129
44
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
sebagian biayanya juga
ditanggung oleh pihak gereja. Kelompok keagamaan yang
diminta oleh sekolah bisa menominasikan kandidatnya yang kemudian akan ditunjuk
oleh kepala sekolah.46
Dalam bidang pekerjaan, Undang-Undang Dasar Perancis melarang diskriminasi dalam
pekerjaan karena alasan latar belakang suku, pendapat, atau kepercayaan. Klausul ini
memiliki efek berbeda dalam konteks keagamaan tergantung bagaimana seseorang
diperlakukan di tempat pekerjaannya; sebagai pemuka agama atau orang biasa.
Mempekerjakan seorang menteri untuk memegang jabatan pastoral, dan ia digaji untuk
pekerjaannya itu, tidak bisa mempergunakan undang-undang sekuler karena tidak ada
kontrak kerja resmi. Pengadilan negeri tidak akan mereview keputusan uskup untuk
mengangkat atau memecat seorang pastur. Menteri-menteri yang bekerja di penjara,
rumah sakit, atau sekolah swasta yang memiliki hubungan kontrak dengan negara
seperti yang diatur oleh UU tahun 1959 digaji oleh negara. Uang diberikan oleh negara
untuk pembangunan tempat peribadatan baru, dan orang yang memberikan
sumbangan untuk organisasi keagamaan mendapatkan keringanan untuk membayar
pajak sampai jumlah tertentu. Pendeta protestan dan Rabi Yahudi memperoleh asuransi
sosial dari negara sejak 1945. Pastor-Pastor Katolik berada di bawah sistem yang lebih
kecil selama beberapa dekade, tetapi sejak tahun 1978, mereka telah berada di bawah
otoritas asuransi sosial meskipun masih berada dalam rezim yang terbatas. Aturan bagi
orang biasa (bukan pemuka agama) yang bekerja di gereja lebih kompleks lagi, apalagi
karena gereja lokal memang tidak mendapatkan tempat dalam aturan hukum Perancis,
sehingga hanya mereka yang bekerja pada organisasi-organisasi keagamaan besar yang
dianggap valid. Pengecualian menarik lain yang dikeluarkan oleh pengadilanpengadilan Perancis sebagai bentuk ketundukkan pada aturan gereja adalah
memberikan keputusan sah pada pemecatan guru-guru Katolik yang bercerai dan
menikah lagi.47
Tantangan yang dihadapi konsep laicite di Perancis adalah desakan pluralisme
keagamaan di negera itu. Ada sejumlah 750.000 orang penganut Protestan di Perancis
46
47
Basdevant-Gaudemet, hlm. 132-133
Basdevant-Gaudemet, hlm. 136-140
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
dan mereka mengorganisasi diri di bawah Federation Protestante de France sejak tahun
1901. Penganut Yahudi juga memiliki pemikiran yang sama. Mereka memiliki majelis
Sinagog pusat yang menghimpun semua badan keagamaan Yahudi di Perancis dan
memilih Pimpinan Rabi sebagai wakil mereka untuk negara. Jumlah orang Islam di
Perancis juga terus bertambah (diperkirakan ada sekitar 4 juta muslim saat ini) dan saat
ini mereka adalah kelompok agama terbesar kedua di Perancis setelah Katolik. Namun
demikian, sampai saat ini umat Islam di Perancis tidak memiliki organisasi yang
terpusat di Perancis dan kegiatan ibadah lebih banyak dilakukan di masjid-masjid
sementara.48
Tidak seperti negara-negara Eropa lain yang berusaha memberlakukan kebijakan
ekumenikalisme dan pluralisme, negara Perancis merespon ketegangan hubungan
agama dan negara dengan memberlakukan sekularisme yang sungguh-sungguh
memisahkan agama dan negara secara ketat. Namun penting untuk dicatat, sepanjang
sejarah
Perancis, pemahaman mengenai konsep sekularisme selalu berbeda-beda
sehingga memberikan kemungkinan bagi terjadinya perubahan di masa yang akan
datang. Bahkan, perbedaan pemahaman terhadap konsep
sekularisme ini terus
berperan dalam pembuatan keputusan politik di Perancis hingga saat ini.49 Untuk
tujuan pembicaraan kita dalam buku ini, saya menyimpulkan bahwa pandangan
Perancis tentang sekularisme bukanlah satu-satunya pandangan yang muncul di Eropa
Barat, namun ide ini pun tetap diperdebatkan dan berkembang dalam konteks Perancis
sendiri.
Italia
Model hubungan
gereja dan negara di Italia yang berlaku saat ini bisa dirunut
permulaannya pada proses unifikasi negara pada tahun 1870 yang ditandai dengan
aneksasi Gereja Romawi dan penyerahan tanah kepausan kepada negara Italia baru.
Akibat dari kejadian itu dan hilangnya kekuasaan sekuler Paus, proses unifikasi Itali
menimbulkan krisis dalam hubungan antara negara dan gereja Katolik di sana. Kovenan
Lateran tahun 1929 berusaha untuk membangun rekonsiliasi antara keduanya dengan
48
49
Basdevant-Gaudemet, hlm. 120
Troper, Michel, “French Secularism, or Laicité,” Cardoza Law Review, 21 (1999-2000), hlm. 1276-1281
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
menjawab persoalan-pesoalan seputar kepemilikan teritori Gereja Katolik Roma di Itali,
posisi Vatican City di kota Roma dan peran Gereja Katolik di Italia secara umum. UU
No. 1159 juga dikeluarkan pada saat yang sama untuk memberikan kesempatan kepada
kelompok-kelompok keagamaan untuk mendapatkan kapasitas hukum. Di bawah
aturan UU tersebut, kelompok-kelompok tersebut memperoleh pembebasan pajak dan
hak-hak lain yang berkaitan dengan lembaga-lembaga pendidikan dan kesejahteraan
sosial yang dimilikinya.
Namun, UU ini juga memberikan batasan tertentu pada
mereka.
Kesepakatan tahun 1929 menegaskan Kristen Katolik Roma sebagai satu-satunya agama
yang diakui di Italia, sebuah posisi yang secara prinsipil bertentangan dengan, namun
tak pernah dihapus oleh, Undang-Undang Dasar tahun 1948 yang berisi prinsip-prinsip
negara sekuler, kesetaraan warga negara di hadapan hukum, dan kebebasan memeluk
agama dan kepercayaan.50 Beberapa aturan hukum gereja yang, ternyata, ditemukan
dalam Undang-Undang Dasar dimaksudkan sebaga upaya untuk menyeimbangkan
perlindungan kebebasan dan persamaan hak individu dan jaminan sistem kerjasama
negara dan sekte-sekte keagamaan. Undang-Undang Dasar juga menjamin kesamaan
status sekte-sekte tersebut di hadapan hukum. Tapi, Pasal 7 Undang-Undang Dasar
tahun 1948 memberikan ketentuan khusus pada Gereja Katolik Roma dengan
menegaskan “Negara dan Gereja Katolik Roma adalah dua institusi yang independen
dan berdaulat. Hubungan mereka diatur oleh Perjanjian Lateran. Amandemen apapun
yang dilakukan atas perjanjian itu harus disepakati oleh kedua belah pihak dan tidak
harus mengikuti prosedur yang harus dilalui oleh lazimnya amendemen konstitusi yang
lain”.51
Pada tahun 1984, pemerintah Itali dan Vatikan menandatangani revisi kesepakatan
tahun 1929
yang kemudian menjadi undang-undang Itali setelah diratifikasi oleh
parlemen Itali pada Maret 1985. Amandemen undang-undang tahun 1985 meneguhkan
prinsip pemisahan negara dan agama (gereja yang bebas di negara yang bebas pula) dan
50
Mauro Giovannelli, “The 1984 Covenant between the Republic of Italy and the Vatican: A Retrospective
Analysis after Fifteen Years.” Journal of Church and State (2000), hlm. 531.
51
Silvio Ferrari, “State and Church in Italy.” State and Church in the European Union. Ed. G. Robbers
(Baden-Baden: Nomos Verlagsgesellschaft, 1996), hlm. 172.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
memberikan preseden akan kemungkinan penandatanganan kesepakatan istimewa
antara negara dengan, tidak hanya dengan Gereja Katolik Roma, tetapi juga dengan
komunitas keagamaan apapun di Itali. Sejak saat itu, negara telah menandatangani
sejumlah kesepakatan dengan berbagai komunitas agama untuk mengatur status
hukum mereka, sekaligus mengakui pernikahan agama dan aktivitas sosial yang
dilakukannya.52
Sistem kesepakatan negara Itali dengan sejumlah sekte keagamaan membentuk tiga
level sistem. Posisi hukum paling tinggi dinikmati oleh Gereja Katolik Roma yang
diperlakukan seperti negara berdaulat di bawah aturan hukum Itali. Komunitas agama
lain yang memiliki kesepakatan dengan negara seperti beberapa sekte Kristen Protestan
dan Yahudi menempati posisi kedua. Karena kelompok-kelompok ini telah
menandatangani kesepakatan dengan negara Itali, keberadaan mereka tidak lagi diatur
oleh UU tahun 1929. Kesepakatan yang mereka tandatangani memberikan mereka
fasilitas-fasilitas istimewa berkaitan dengan keuangan, pendidikan agama dan
pelayanan lembaga pastoral yang tidak dimiliki oleh komunitas agama level ketiga.
Komunitas keagamaan ketiga ini adalah komunitas agama yang relatif baru berdiri di
Perancis seperti umat Islam dan saksi Yehovah. Mereka diatur oleh UU No. 1159 tahun
1929 dan undang-undang umum tentang asosiasi yang berarti mereka tidak
mendapatkan hak-hak istimewa seperti yang diperoleh dua level komunitas lainnya.53
Karena keberadaan sistem tiga level inilah, tidak ada ketentuan dalam hukum Itali yang
berlaku bagi semua komunitas keagamaan untuk hal-hal seperti posisi lembaga
pastoral, pembiayaan lembaga keagamaan, pelayanan pastoral, pendidikan agama dan
hukum perkawinan.54 Selain itu, hukum gereja Itali memberikan wewenang besar
kepada otoritas publik untuk menerima atau menolak permohonan negosiasi sekte
agama apapun untuk menghentikan kesepakatan dengan negara; dan tidak ada kriteria
objektif yang mengatur keputusan itu. Situasi hukum yang ad hoc ini telah melahirkan
perdebatan mengenai hubungan agama dan negara. Status istimewa pastur di Itali
52
Giovannelli, hlm. 531
Ferrari, hlm. 172-176
54
Ferrari, hlm. 174
53
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
menyebabkan lahirnya perlakuan khusus pada mereka, misalnya tindak kejahatan yang
menimpa
mereka
diperlakukan
lebih
serius.
Sementara
itu,
undang-undang
menganggap pastor tidak memiliki kapasitas hukum sehingga mereka dilarang untuk
memegang jabatan publik seperti walikota, hakim, notaris, pengacara atau petugas
pajak.55
Isu kontoversi lain berkaitan dengan pengajaran agama Katolik di sekolah-sekolah
Negeri Itali. Pasal 9 kesepakatan tahun 1985 mengharuskan pemerintah untuk
menjamin adanya pengajaran agama Katolik dalam sistem pendidikan sekolah-sekolah
negeri selain universitas. Komunitas keagamaan lain yang memiliki kesepakatan
dengan pemerintah bisa mengirim guru mereka ke sekolah, bila murid atau orang
tuanya telah mendaftarkan diri untuk mendapatkan pengajaran agama. Tapi
pembiayaannya dibebankan kepada institusi agama bersangkutan dan bukan menjadi
tanggung jawab negara. Masalahnya kemudian, apakah kelas pendidikan agama
diselenggarakan pada jam-jam sekolah atau diluarnya. Pengadilan konstitusi
berkeyakinan bahwa kelas tidak bisa diselenggarakan bila jadwalnya bertabrakan
dengan mata pelajaran wajib dan siswa yang tidak mengikuti kelas pelajaran agama bisa
datang ke sekolah lebih awal atau lebih akhir.56 Tapi peraturan ini tidak berlaku bagi
kelompok-kelompok agama yang tidak memiliki kesepakatan dengan pemerintah
seperti umat Islam. Mereka tidak mempunyai hak untuk mengirimkan guru agama
mereka ke sekolah.
Setelah kesepakatan tahun 1985, sistem pembiayaan dan perpajakan untuk gereja dan
lembaga keagamaan lain juga berubah. Masalah perpajakan muncul karena pemerintah
mengakui kerja-kerja sosial yang dilakukan oleh pihak gereja. Keinginan pemerintah
Itali untuk mendukung kontribusi sosial gereja Katolik ini harus diharmonisasikan
dengan aturan undang-undang dasar yang mengakui kesetaraan posisi semua agama
dan individu, tak peduli apapun agamanya.57 Keinginan ini kemudian mewujud dalam
dua sistem pembiayaan bagi organisasi keagamaan. Pertama, berasal dari kuota pajak
55
Ferrari, hlm. 186
Giovannelli, hlm. 532
57
Giovannelli, hlm. 536
56
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
penghasilan. Di Itali, orang bisa memberikan sebagian penghasilannya kepada salah
satu dari 3 lembaga ini: kegiatan sosial yang difungsikan oleh negara, Gereja Katolik
Roma, atau sekte-sekte keagamaan yang menjalin kesepakatan dengan negara. Kedua
berasal dari potongan langsung penghasilan para anggota Gereja Katolik atau sekte
yang mempunyai kesepakatan dengan negara.58 Kebijakan ini merupakan salah satu
cara untuk mempertahankan tradisi hukum dan sejarah negara Italia yang memang
harus memenuhi kebutuhan gereja. Kebijakan kompromistis ini juga bisa dilihat sebagai
bentuk pengembalian aset gereja yang pernah diambil negara pada abad ke-18 dan 19.59
Selain sistem pajak, hubungan keuangan negara dan gereja juga berlaku untuk masalah
pelayanan pastoral. Kesepakatan tahun 1985 menyatakan bahwa pelayanan pastoral
untuk para tentara, tahanan dan pasien rumah sakit dan klinik merupakan tanggung
jawab pemuka agama Katolik yang ditunjuk oleh otoritas negara yang kompeten namun
berdasarkan ajuan dari otoritas gereja. Pastor-pastor katolik yang memberikan
pelayanan pastoral di institusi-institusi negara mendapatkan gaji dari negara. Sektesekte keagamaan yang menjalin kesepakatan dengan negara telah menegosiasikan hak
mereka untuk memberikan pelayanan keagamaan yang sama di penjara, lembaga
militer dan rumah sakit, namun gaji pemuka agama yang mereka utus menjadi
tanggung jawab komunitas agamanya.60 Sekte-sekte agama yang tidak memiliki
kesepakatan dengan negara tetapi diikat oleh UU No. 1159 juga bisa mendapatkan akses
yang sama ke penjara, lembaga militer dan rumah sakit.61
Spanyol
Seperti Itali, hubungan negara Spanyol dengan Gereja Katolik diatur oleh berbagai
perjanjian atau kesepakatan. Pasca terjadinya gerakan reformasi dan kontra reformasi,
banyak terjadi fusi antara kekuasaan politik dan agama di negara ini. Namun tak seperti
di negara-negara Eropa yang Protestan, Kerajaan Spanyol tidak mengklaim kekuasaan
keagamaan untuk dirinya sendiri, karena otoritas itu terletak pada kekuasaan Paus.
Sebagai
58
gantinya,
Kerajaan
Ferrari, hlm. 182, 183
Giovannelli, hlm. 536, 537
60
Ferrari, hlm. 184, 185
61
Giovannelli, hlm. 537
59
mengembangkan
dan
menggunakan
teknik-teknik
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
intervensi untuk memperlihatkan pengaruhnya pada urusan-urusan Gereja Katolik di
sana.62 Hubungan intim antara negara dan kerajaan serta meluasnya asumsi bahwa
Spanyol adalah negara Katolik akhirnya berakhir pada masa dikeluarkannya UndangUndang Dasar Republik Kedua tahun 1931 yang menyatakan bahwa Spanyol tidak
memiliki agama resmi. Namun setelah Perang Sipil (1936-1939), fusi gereja dan negara
ini dipulihkan kembali oleh Franco dan berpuncak pada kesepakatan tahun 1953.
Di tahun meningalnya Franco (1975), Gereja Katolik mendapatkan fasilitas hukum dan
keuangan yang luar biasa. Gereja mendapatkan dana dari negara untuk menggaji
pastor, memberikan pengajaran agama di sekolah-sekolah negeri dan menerima dana
dari sekolah yang dikelolanya. Selain itu, perundang-undangan yang berkaitan dengan
moralitas publik merefleksikan pengaruh gereja.63 Namun, pandangan ini semakin sulit
untuk dipertahankan karena dukungan massa terhadapnya semakin menurun ketika
pesatnya perkembangan ekonomi di tahun 60-an mempromosikan masyarakat sekuler
yang tidak lagi rela untuk menerima ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam
kesepakatan tahun 1953 antara negara dan Gereja Katolik.64 Kebutuhan akan reformasi
ini juga disadari oleh para petinggi gereja Katolik Spanyol. Kardinal Tarancon, Uskup
Agung Madrid dan Ketua Konferensi Keuskupan Spanyol, dalam pentahbisan Raja Juan
Carlos I pada November 1975, misalnya menyatakan bahwa Gereja Katolik mendukung
perubahan politik yang akan memberikan kesempatan kepada warga negara untuk
berpartisipasi secara bebas dan aktif dalam kehidupan negara. Ia juga mengatakan
bahwa Gereja hanya ingin mempertahankan haknya untuk menyampaikan pesan-pesan
keagamaan. Sikap kompromis gereja ini bukan merupakan persetujuan atas pemisahan
ketat antara negara dan gereja, tetapi merupakan sebuah usaha untuk menghindari
penyelesaian unilateral yang dipaksakan negara kepada gereja.65
62
Ivan C. Ibán, “State and Church in Spain.” State and Church in the European Union. Ed. G. Robbers
(Baden-Baden: Nomos Verlagsgesellschaft, 1996), hlm. 94.
63
William J. Callahan, “Church and State in Spain, 1976-1991.” Journal of Church and State 34.3 (1992):
504.
64
Ibán 96
65
Callahan 503, 505
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Periode transisi antara kematian Franco pada tahun 1975 dan terbentuknya demokrasi
sekuler pada tahun 1978 mendorong pemilihan umum dan pembuatan undang-undang
dasar oleh konsensus partai politik saat itu. Perubahan yang terjadi, termasuk
menghentikan fasilitas-fasilitas yang dinikmati oleh gereja sebagai cara untuk
memperjelas hak-haknya. Sampai saat itu, sejumlah perjanjian dilakukan pemerintah
Spanyol dengan Vatikan untuk mengganti kesepakatan tahun 1953. Negara mengakhiri
“hak patronase tradisionalnya terhadap keputusan sidang para uskup dan mengakui
hak
Gereja Katolik
untuk
menyelenggarakan
urusan-urusan
keagamaan
dan
administratifnya, bebas dari intervensi negara. Sebaliknya, gereja juga mengakui
pluralitas masyarakat Spanyol termasuk hak warga negara untuk mendapat kebebasan
agama penuh”.66 Undang-undang dasar ini diperkuat oleh sejumlah undang-undang
yang dibuat secara unilateral oleh negara termasuk undang-undang tahun 1980 tentang
kebebasan beragama dan UU tahun 1981 tentang kebolehan perceraian.67
Kesuksesan partai sosialis (PSOE) pada pemilihan tahun 1982 menghasilkan
pemerintahan mayoritas dan perdana menteri yang sosialis. Kepemimpinan PSOE yang
sebelumnya dikenal sangat anti-pemuka agama, berusaha untuk tapi memberikan rasa
aman kepada Gereja Katolik ketika mereka menjalankan pemerintahan pada pemilihan
1982. Pemerintahan saat itu menerima sejumlah perjanjian yang dibuat dengan Vatikan
dan statusnya sebagai perjanjian internasional termasuk kesepakatan mengenai
kewajiban negara untuk tetap membiayai sekolah-sekolah gereja.
Namun, pemerintahan sosialis ini juga berbeda pendapat dalam beberapa hal dengan
pihak Gereja, seperti dalam masalah moralitas publik. Meskipun para pemuka gereja
mendukung perubahan konstitusi yang mempromosikan demokrasi dan pluralisme,
mereka masih mengungkapkan pandangan tentang harusnya konstitusi memasukkan
beberapa nilai kepercayaan Katolik dalam hal-hal semisal pernikahan, pendidikan, dan
penghormatan kepada sesama manusia.68
66
Callahan 506 (quoting “Textos oficiales,” Acuerdos entre la Iglesia y Espana, 778-81, 785-90)
Ibán 97
68
Callahan 512
67
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Masalah yang nampaknya paling sering diperdebatkan dalam konteks hubungan agama
dan negara adalah masalah pendidikan. Undang-Undang Dasar dan undang-undang
lainnya mengungkapkan bahwa negara menghormati hak orang tua untuk menentukan
pendidikan moral dan agama anak-anaknya, dan menjamin tetapnya penghormatan
terhadap nilai-nilai Kristen dalam proses pengajaran di sekolah-sekolah negeri. Negara
juga sepakat bahwa pendidikan agama harus tetap dilanjutkan di sekolah-sekolah
negeri meskipun menghadirinya bukan lagi merupakan satu kewajiban. Hak untuk
mendirikan lembaga pendidikan swasta dan hak orang tua untuk memilih sekolah
swasta diberlakukan. Negara juga setuju untuk tetap membiayai sekolah-sekolah gereja
sampai gereja itu dapat mengembangkan sistem pendanaan sendiri. Pada Februari
tahun 1983, pemerintah mengumumkan rencana reformasi organisasi pendidikan dan
keuangannya. Kontroversi yang muncul seputar rencana tersebut adalah seberapa
banyak dan besar kontrol pemerintah pada sekolah-sekolah gereja. Pemerintah ingin
memaksakan suatu kondisi agar ia dapat terus membiayai sekolah-sekolah gereja
seperti dengan mengharuskan sekolah untuk menerima kesepakatan kontrak dengan
pemerintah, dan menyerahkan seluruh aspek administrasi pada majelis yang sudah
dipilih. Selain itu, sekolah juga diharuskan untuk mengakui kebebasan akademik guru
dan kebebasan staf dan siswa untuk mengikuti keyakinan yang dipercayainya dan
untuk tidak mengharuskan orang untuk menghadiri pelayanan-pelayanan keagamaan.69
Pemerintah juga mengusulkan agar karakter institusi-institusi keagamaan harus
disetujui oleh otoritas publik, namun usulan ini dianggap inkonstitusional oleh
Pengadilan Konstitusi berdasarkan kesepakatan antara gereja dan negara yang sudah
dibuat lebih dulu. Usulan ini menimbulkan ketakutan akan terancamnya identitas
sekolah-sekolah Katolik yang akhirnya memicu protes sekitar 250.000 orang pada saat
pemutusan suara terakhir. Perundang-undangan lain mengenai pendidikan yang
memicu ketegangan adalah Rancangan Undang-Undang mengenai kurikulum yang
menganggap kurang pentingnya pelajaran agama dan menghapusnya dari daftar
bidang studi yang menentukan penerimaan seseorang di universitas. Selain itu, pada
tahun 1988 pemerintah juga memutuskan untuk mulai menerapkan skema aturan swa-
69
Callahan 507-515
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
pembiayaan gereja yang sudah dirancang dalam kesepakatan tahun 1979. Meskipun
ketegangan mengenai masalah pendidikan ini terus muncul, namun pemerintah tetap
menjalankan kewajibannya kepada gereja dan menggaji para pemuka agama.70
Selama dekade 80-an, sayap konservatif Gereja Katolik memperparah pemisahan moral
antara negara dan gereja. Dalam Surat Pastor tahun 1990 tentang “kondisi moral
bangsa”, para uskup berpendapat bahwa mental moral masyarakat Spanyol lemah dan
mereka menyalahkan negara atas hal ini. Surat tersebut menyatakan keberatan atas
bebasnya propaganda ideologi yang kerap bertentangan dengan agama dan banyak
digunakan untuk meniadakan atau mengolok-olok “apa yang dimaksud dengan
Katolik”. Partai Sosialis menganggap surat tersebut bertentangan dengan demokrasi,
sedangkan pemerintah menolaknya karena menganggap surat itu keliru sekaligus
menolak pernyataan dalam surat itu tentang keinginan negara untuk mengeliminasi
agama Kristen dari Spanyol. 71
Meski terjadi ketegangan antara negara dan gereja mengenai masalah pendidikan dan
moral, ide hubungan antara keduanya di Spanyol masih bisa dideskripsikan sebagai ide
yang melindungi kebebasan beragama dan mendukung praktik-praktik agama yang
sudah terlembagakan dan tetap melindungi mereka yang tidak beragama atau mereka
yang cenderung mengikuti pandangan keagamaan yang tidak konvensional, termasuk
mereka yang meremehkan agama. Fasilitas istimewa yang diberikan pemerintah kepada
Gereja Katolik sangat jelas dalam masalah pemberian dana dan pajak. Gereja Katoliklah
satu-satunya kelompok agama yang mendapatkan dana dari pemerintah. Seperti di Itali,
meskipun sistem ini mengatur agar Gereja Katolik mendapatkan uang seperti dalam
sistem pajak gereja, sebenarnya sistem ini merupakan bagian dari sistem perpajakan
negara secara keseluruhan. Pembayar pajak bisa mengalihkan prosentase pajak
penghasilan mereka kepada Gereja Katolik atau untuk tujuan-tujuan sosial lain. Jumlah
ini mengurangi atau menambah beban pajak yang harus dibayar, tapi merupakan
pengurangan dari pajak yang seharusnya dibayar. Pengurangan pajak seperti ini hanya
berlaku bagi donasi kepada Gereja Katolik atau kepada sekte keagamaan yang memiliki
70
71
Callahan 515, 517
Callahan 517,518
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
perjanjian dengan negara. Selain pemasukan dari pajak, negara masih membayar gaji
untuk guru-guru agama, pastur yang bekerja di militer dan penjara, bantuan keuangan
untuk institusi sosial dan kesehatan milik Katolik. Sayangnya, semua fasilitas ini tidak
berlaku bagi komunitas agama lain.72
Amerika Serikat
Usaha untuk memperjelas hubungan antara gereja dan negara di Amerika Serikat terjadi
dalam kerangka konsensus yang dicapai pada masa Revolusi Amerika. Walaupun para
pemimpin revolusi memiliki beragam kepercayaan, mereka hampir sepenuhnya sepakat
pada sejumlah prinsip termasuk hak individu untuk memeluk suatu agama dan
melaksanakan kewajibannya tanpa paksaan dari negara. Mereka percaya bahwa tidak
boleh ada gereja resmi, tidak ada test keagamaan untuk pegawai negeri, dan pentingnya
kebebasan untuk mempraktikkan agama. Ide-ide ini diungkapkan melalui Konstitusi
dan Bill of Rights Amerika terutama dalam Amandemen Pertama (First Amandemen)
yang menjamin dua elemen penting dalam apa yang disebut “Model Amerika” (The
American Model) yaitu pemisahan gereja dan negara, di satu pihak, dan kebebasan untuk
beragama, di pihak lain. Dokumen-dokumen dasar itu berusaha untuk melindungi
pemerintah dari agama dan melindungi agama dari pemerintah secara simultan.73
Keputusan untuk memisahkan agama dari negara, dengan demikian, disertai dengan
penghargaan yang sama kepada agama sebagai sumber yang penting bagi kehidupan
etis yang mendukung bentuk pemerintahan republik.74 Agama jelas berperan besar
dalam Revolusi Amerika, karena bahasa dan simbol keagamaan digunakan oleh para
patriot revolusi untuk memperoleh dukungan dari masyarakat dalam meraih
kemerdekaan. Selain Puritanisme yang lazim dianut oleh koloni Amerika awal,
kebangkitan kesadaran keagamaan yang dikenal sebagai “Great Awakening” dan doktrin
agama rasional ikut berperan besar dalam membangun alasan keagamaan Revolusi dan
72
Ibán 102-109
Susan Jacoby. Freethinkers: A History of American Secularism (New York: Metropolitan Books, 2004),
hlm. 26-28.
74
Corbett, M. and J. Mitchell. Politics and Religion in the United States. New York: Garland Publishing,
Inc., 1999, hlm. 83 – 84
73
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
kemudian mempengaruhi perkembangan politik pada masa berikutnya.75 De
Tocqueville, pengamat masa pembentukan Amerika Serikat dari Perancis, mengatakan
bahwa “Kristen di Amerika adalah sebuah institusi politik yang benar-benar berperan
besar dalam mempertahankan bentuk pemerintahan republik di Amerika” dengan
menyediakan konsensus moral yang kuat di tengah perubahan politik yang terus
menerus terjadi.76
Tidak adanya gereja resmi dan kesamaan status semua agama melahirkan konsekuensi
penting bagi kehidupan politik dan keagamaan di negara ini. Karena tidak ada
dukungan resmi dari negara, gereja-gereja harus tergantung pada keanggotaan dan
dukungan keuangan yang bersifat sukarela. Namun kondisi seperti ini membuat gerejagereja di Amerika tidak terlalu formal dalam menjalankan peribadatan, lebih
demokratis, bersifat lokal dan lebih praktis dalam menetapkan tujuan-tujuan
organisasinya. Para komentator masalah Agama Amerika selalu menggarisbawahi
tendensi pragmatisme politik dan ekonomi yang cenderung bersifat duniawi sejak awal
abad 19, “…lebih aktif, moralis, dan sosial daripada kontemplatif, teologis dan
spiritual”.77
Beragamnya sekte keagamaan di Amerika dan adanya prinsip konstitusional tentang
pemisahan agama dan negara menjadikan pluralisme agama sebagai nilai politik dan
budaya yang dianut luas disana dan membuka kemungkinan bagi berkembangnya
gereja-gereja yang independen.78
Pandangan terhadap agama Kristen yang inklusif
seperti ini dan patriotisme yang menyertai perkembangan gereja-gereja independen
pasca periode Revolusi telah membukakan jalan bagi lahirnya apa yang disebut sebagai
“Agama Sipil Amerika” (American Civil Religion). Tidak seperti Revolusi Perancis yang
berusaha membangun agama sipil untuk menggantikan posisi gereja, agama sipil
Amerika tidak pernah bersikap keras kepada pemuka agama atau pada pendukung
sekularisme. Malah, agama sipil Amerika meminjam berbagai tradisi agama dengan
cara tertentu hingga rata-rata orang Amerika tidak melihat adanya konflik antara agama
75
Corbett and Mitchell, hlm. 48
Robert N. Bellah, “Civil Religion in America.” Daedalus 96 (1967), hlm. 12
77
Bellah, hlm. 12
78
Corbett and Mitchell, hlm. 106 – 107
76
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
dan negara. Bentuk agama sipil Amerika “mampu membangun solidaritas nasional,
tanpa perlu bersaing keras dengan simbol gereja, dan memobilisasi motivasi personal
yang kuat untuk meraih tujuan-tujuan nasional”.79 Bentuk ini direfleksikan dengan
memasukkan referensi keagaman dalam dokumen-dokumen negara, lagu kebangsaan,
deklarasi dan proses pelantikan presiden serta pengakuan negara terhadap hari libur
keagamaan.
Kesatuan agama dan nasionalisme, yang tetap menjadi kekuatan potensial dalam
kehidupan politik dan sipil Amerika hingga hari ini, menyebabkan terbangunnya
hegemoni agama Kristen Protestan di negara itu. Kemampuan pengadilan-pengadilan
untuk menentang pembentukan agama resmi di Amerika, sebagiannya, karena
kehadiran hegemoni informal satu agama. Gereja-gereja besar hanya membutuhkan
sedikit dukungan karena mereka memiliki telah kekuasaan dan pengaruh informal.80
Selain terbentuknya agama sipil Amerika, Protestan Evangelis tetap menjadi kekuatan
inspiratif dalam kehidupan politik Amerika. Ia telah menjadi faktor yang signifikan
untuk menumbuhkan semangat anti perbudakan di bagian utara Amerika menjelang
pecahnya perang Sipil, namun ironisnya juga memperkuat komitmen penduduk di
bagian selatan untuk mempertahankan ekonomi perbudakan.81 Para periode antara
Perang Sipil dan Perang Dunia I, Protestan Evangelis memberikan dukungan yang
berarti kepada sejumlah gerakan yang menginginkan adanya purifikasi moral dan
budaya dalam kehidupan sipil dan politik di Amerika, termasuk larangan
mengkonsumsi alkohol dan memberikan hak politik pada perempuan.82 Gereja-gereja
juga telah menjadi partisipan aktif dalam pembuatan kebijakan publik mengenai isu-isu
yang lebih luas seperti reformasi mata uang, kompensasi dari pelanggaran perusahaan,
arbitrasi konflik internasional, dan berpartisipasi dalam proses demokrasi langsung
melalui proses pemilihan inisiatif, referendum dan pemilihan ulang.
79
Bellah, hlm. 13
N. J Demerath and R. H. Williams. “A Mythical Past and Uncertain Future.” Society 21.4 (1984), hlm. 5.
81
Kenneth Wald, Religion and Politics in the United States. (New York: St. Martin’s
Press, 1987), hlm. 183.
82
Wald, hlm. 142
80
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Kekuasaan informal agama resmi ini mulai terancam setelah Perang Dunia I ketika
materialisme, ilmu pengetahuan dan sejumlah doktrin sekuler lain mulai melemahkan
peran agama Kristen, khususnya protestan Evangelis, sebagai “prinsip nasional de
facto”.83 Dalam debat-debat yang muncul seperti dalam pengajaran teori evolusi di
sekolah, tradisi berfikir bebas yang sudah ada pada mayoritas penganut Protestan
menemukan kembali kebaruannya. Meskipun terdapat sejumlah pandangan politik
yang berbeda, “ada satu pandangan politik yang menyatukan semua pemikir bebas itu
yaitu dukungan mereka pada pemisahan absolut negara dan agama yang diterjemahkan
ke dalam tindakan menentang pemberian dukungan keuangan untuk lembaga-lembaga
keagamaan khususnya sekolah-sekolah paroki”.84
Sejak Perang Dunia II, hubungan agama dan negara terus diwarnai ketidaksepakatan
mengenai peran dan wilayah agama dalam kehidupan publik dan politik. Dalam
banyak hal, keputusan Mahkamah Agung selama paruh kedua abad 20 telah
memperdalam pemisahan antara agama dan gereja dengan tidak memasukkan aktivitas
agama dalam ruang, waktu dan anggaran publik terutama dalam masalah pendidikan
dan sekolah negeri, seperti yang tercermin dalam keputusan mengenai misa sekolah.85
Kalangan Kristen konservatif merespon kecendrungan ini dengan melakukan banding
di pengadilan dan kampanye untuk mempengaruhi politik. Kampanye banyak
dilakukan untuk mendukung adanya misa di sekolah, program voucher yang
memberikan kebebasan pada orang tua untuk memilih sekolah untuk anak-anaknya
dan kebebasan sekolah Kristen untuk beroperasi dengan intervensi yang kecil dari
pemerintah. Kristen konservatif juga berusaha untuk mempertahankan ikatan keluarga
tradisional, agama ortodoks, dan pendekatan puritan terhadap moral yang menekankan
kelurusan moral individu.
Seperti yang sudah diperkirakan, trend tersebut juga tercermin dalam sejumlah
pandangan partai politik dan kampanye mereka tentang beberapa isu. Kampanye untuk
menentang buku-buku sekolah yang “cabul”, hak-hak kaum gay, dan kesetaraan hak
83
Demerath and Williams, hlm. 4
Jacoby, hlm. 153
85
Demerath and Williams, hlm. 4, 5
84
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
perempuan, mampu menarik banyak pendukung terutama dari kalangan penganut
Protestan Evangelis yang memahami keterlibatan mereka dalam isu-isu tersebut sebagai
jihad untuk membela nilai-nilai dan lembaga Kristen tradisional.86 Namun, aktivisme
politik yang terorganisir semacam itu tidak hanya terjadi kalangan Protestan. Gerejagereja yang berasal dari politik sayap kiri juga memiliki sejarah lobi politik yang sama
baik mengatasnamakan isu hubungan etnis, perang terhadap kemiskinan, atau
mengakhiri perang Vietnam. Mereka juga berusaha untuk mempengaruhi kebijakan
luar negeri Amerika sesuai dengan pandangan mereka. Aktivisme sosial dari sayap kiri
biasanya muncul dari sekte-sekte utama Kristen Protestan, gereja Afrika Amerika, dan
Yahudi. Gereja Katolik juga ikut terlibat dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri,
masalah-masalah ekonomi dan mempertanyakan kebijakan seperti aborsi dan
homoseks.87
Komitmen negara Amerika untuk tidak cenderung pada salah satu sekte keagamaan
telah teruji dalam beberapa dekade ini dalam kasus-kasus yang melibatkan kelompokkelompok seperti Gereja Scientology, International Society untuk Krishna, dan Gereja
Unifikasi yang menuntut kesamaan status di hadapan hukum. Larangan konstitusi
untuk memihak pada salah satu komunitas agama diperkuat lagi oleh Mahkamah
Agung sebagai prinsip yang penting untuk menjaga vitalitas konsep kebebasan
beragama.88 Namun isu-isu tertentu masih terus berdatangan ke pengadilan seperti isu
yang berkaitan dengan bahasa agama yang digunakan dalam sumpah kesetiaan, dan
keberadaan monumen-monumen keagamaan di ruang-ruang publik. Bagaimana
lembaga ini menyelesaikan isu-isu tersebut secara legal maupun politik, akan kita lihat
nanti. Dengan demikian, jelas bahwa pemisahan hukum antara agama dan negara tidak
bisa menyelesaikan masalah status agama dalam kehidupan politik dan publik negara
ini secara permanen melalui formula yang sederhana dan ketat.89
Sebagai kesimpulan atas review ini, jelaslah bahwa konsepsi dan pengalaman
sekularisme Barat itu tidak mengidentikkan ataupun menarik agama dari ruang
86
Wald, hlm. 188
Corbett and Mitchell, hlm. 124-6
88
James Wood, “Abridging the Free Exercise Clause.” Journal of Church & State 32 (1990), hlm. 742
89
Corbett and Mitchell, hlm. 23
87
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
kebijakan publik dan undang-undang. Perkembangan kontekstual sejarah sekularisme
dan kontroversi mengenai makna dan implikasinya dalam praktik terus bergulir sampai
hari ini di semua negara Barat. Kesimpulan ini juga muncul ketika kita mereview
pengalaman negara lain yang relevan seperti Jerman90 dan Belanda91. Namun yang
terpenting bagi bagi saya adalah bagaimana review pengalaman ini relevan untuk
kondisi masyarakat Islam saat ini. Selain itu, pengalaman sekularisme masyarakat Barat
dan implikasinya juga sangat berguna untuk memahami proses-proses yang terjadi
berikutnya di tengah-tengah masyarakat mereka.
II. Upaya Kontekstual untuk Memediasi Ketegangan
Karena setiap masyarakat perlu menegosiasikan hubungan antara agama dan negara
dalam konteksnya sendiri, maka tidaklah mungkin dan tidak pula diperlukan untuk
memprediksi hasil kebijakan berdasarkan sebuah pra-konsepsi tentang hubungan ini.
Malah, kita harus mencoba untuk mengidentifikasi faktor dan aktor yang relevan dalam
proses ini dan mengatur proses interaksi mereka untuk meningkatkan prospek
netralitas negara yang genuine dan berkelanjutan. “Netralitas negara tidak boleh dilihat
sebagai cara yang abstrak, melainkan sebuah proses dialog yang berkelanjutan dengan
identitas dan kebebasan beragama individu”.92 Di Amerika misalnya debat politik dan
tuntutan hukum seputar peran agama dan kebijakan publik terjadi dalam konteks debat
politik dan budaya yang lebih luas mengenai masalah-masalah seperti makna nilai-nilai
tradisional dan nilai-nilai keluarga, kebebasan beragama, otonomi personal dan
kebebasan untuk memilih. Dengan demikian, dalam kontroversi mengenai aborsi,
contohnya, mereka yang setuju bisa mengklaim bahwa aborsi adalah persoalan otonomi
perempuan, namun mereka yang tidak setuju juga bisa menyatakan bahwa negara
harus melindungi kehidupan sebuah janin. Keduanya bisa menggunakan justifikasi
keagamaan untuk memperkuat posisinya, baik argumen itu diungkapkan dengan jelas
atau tidak. Negara harus menyelesaikan kontroversi ini dengan mengambil salah satu
90
Richard Puza “The Development of the Relationship between the Church and State in Germany in
2001.” European Journal for Church and State Research 2002 (9): 11.
91
Sohpie Van Bijsterveld, “State and Church in the Netherlands.” State and Church in the European
Union, Ed. G. Robbers. Baden-Baden: Nomos Verlagsgesellschaft, 1996, hlm. 209.
92
Rik Torfs, “New Liberties and Church-State Relationships: Synthesis.” “New Liberties” and Church and
State Relationships in Europe (European Consortium for Church-State Research, Milan: Dott A Giuffre
Editore, 1998), hlm. 10.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
pendapat sebagai kebijakan atau undang-undang resmi. Tapi, pilihan apapun yang
diambil, pilihan tersebut pasti ditentang oleh pilihan lain yang tidak diadopsi oleh
negara. Saya akan mendiskusikan proses ini lebih lanjut dalam bagian lain, namun
berikut beberapa refleksi mengenai bagaimana memahami sesuatu di balik ketegangan
permanen ini.
Ketegangan yang mendasari negosisasi itu adalah mengenai bagaimana dan seberapa
besar otonomi otoritas keagamaan dari otoritas hukum dan politik negara. Di satu sisi,
negara harus mengontrol institusi kegamaan untuk memenuhi kewajibannya dalam
menjaga perdamaian, mempertahankan stabilitas politik, dan mencapai perkembangan
ekonomi dan sosial. Seperti yang sudah dicatat tadi, negara harus bisa memiliki kontrol
atas teritori dan warga negaranya agar bisa memediasi dan menyelesaikan pilihanpilihan
kebijakan
publik
yang
berlawanan.
Paradoksnya,
negara
tidak
bisa
mempertahankan netralitasnya terhadap agama tanpa melakukan kontrol terhadap
aktivitas keagamaan warga negaranya. Di pihak lain, institusi-institusi keagamaan
harus mempertahankan otonomi mereka dari kekuasaan kursif negara guna menjaga
legitimasi doktrin dan praktik keagamaan mereka. Hal-hal seperti itu harus diatur
sesuai dengan kerangka referensi internal dan otoritas institusi keagamaan yang
independen tanpa campur tangan pejabat pemerintah yang akan cenderung
memaksakan pandangan mereka. Dengan demikian saya akan memfokuskan diri pada
cara untuk memediasi ketegangan hubungan antara negara dan agama yang inheren
dan permanen ini.
Breyy Scharffs, misalnya, menyarankan agar hubungan ini difahami dengan istilah
independen, interdependen dan inter-independen.93 Menurutnya, otonomi independen
antara negara dan agama berarti menerapkan sistem pemisahan antara keduanya,
sedangkan otonomi interdependen bisa menjadi dasar yang digunakan untuk mengatur
kerjasama antara keduanya, dan otonomi inter-independen (yang nanti akan saya sebut
sebagai “intermediate” untuk memudahkan pengistilahan) menghasilkan sistem yang
93
Brett Scharffs, “The Autonomy of Church and State.” Brigham Young University Law Review (2004),
hlm. 1248.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
mengatur akomodasi mereka.94 Ditinjau dari berbagai hal, pendekatan ini bisa konsisten
dengan ide mengenai sekularisme sebagai proses negosisasi yang konstan, karena
pendekatan ini bisa memotret sisi yang berbeda dalam satu rangkaian yang sama,
bukan menganggapnya sebagai kategori-kategori yang berbeda.
Negara apapun dapat mengadopsi posisi yang berbeda untuk menyelesaikan isu yang
berbeda. Dalam beberapa isu, negara bisa mengadopsi posisi yang lebih dekat pada
independen, tapi dalam isu yang lain posisinya bisa lebih dekat ke interdependen atau
dalam posisi di antara keduanya. Bahkan ketika kita hanya menyebut sebuah posisi
lebih dekat pada posisi ini atau itu, kita harus mengakui bahwa ada posisi yang tidak
bisa masuk pada deksripsi umum. Dengan demikian, pilihan posisi negara bukan cuma
satu, tetapi beragam dan pilihan-pilihan lain masih sangat terbuka dan bisa menjadi
pilihan kebijakan pada masa yang akan datang. Inilah yang saya maksud dengan
mengatakan bahwa sekulerisme sangat tergantung kondisi dan selalu diperdebatkan
dimana pun. Paparan mengenai pilihan kebijakan yang akan dikemukakan berikut ini
saya tempatkan dalam konteks 3 rangkaian kemungkinan ini, bukan dalam kerangka
klasifikasi yang ketat.
1. Pandangan Independen
Salah satu ujung rangkaian ini adalah ketika negara menerima independensi otoritas
dan praktik keagamaan dengan tidak mendukung atau mencampuri urusannya.
Dengan demikian, negara tidak akan menyediakan pendanaan langsung atau tidak
langsung pada badan-badan keagamaan, dan tidak akan mencampuri urusan pengurus
gereja, pendidikan agama, atau hukum dan undang-undang keagamaan. Tidak ada satu
negara pun yang bisa dikategorikan memenuhi posisi ini, namun beberapa negara telah
mengambil posisi seperti ini pada beberapa waktu
untuk menyelesaikan beberapa
persoalan. Ini bisa dilihat dari beberapa pengalaman Perancis, Amerika dan Swedia.
Seperti yang sudah dicatat tadi, beberapa pandangan mengenai laicite yang berkaitan
dengan interaksi antara negara dan agama, bermunculan di Perancis sejak Revolusi
94
Scharffs, hlm. 1220
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Perancis terjadi. Karena ketegangan antara Gereja Katolik dengan pemerintah dalam
beberapa isu seperti pendidikan dan bahasa pengantar pelajaran agama terus
memuncak, interpretasi yang ketat terhadap sekularisme pun diadopsi oleh Perancis
pada akhir abad ke-19. Kebijakan ini terrefleksikan dalam Undang-Undag 1902 yang
secara resmi memisahkan agama dan negara. Undang-undang ini menyatakan
ketiadaan hubungan antara negara dan institusi-institusi keagamaan, dan agama
dianggap telah kehilangan fungsinya dalam sosialisasi kenegaraan. Undang-undang
dan konstitusi setelahnya berusaha untuk membuat agama dan negara semakin
independen satu dari yang lain.
Realitas pemisahan agama dan negara di Perancis ternyata tidak seketat dalam teori,
karena negara sering memberikan dukungan kepada gereja. Sejak 1959, pemerintah
Perancis selalu membayar gaji guru-guru yang mengajar di sekolah swasta, yang
kebanyakan adalah sekolah-sekolah agama, dan memberikan ketentuan-ketentuan
tertentu kepada mereka. Gereja, kuil dan sinagog yang dibangun di Perancis sebelum
1905 adalah milik negara dan diurus oleh negara, tetapi digunakan gratis oleh para
pemuka agama.95 Kebijakan negara untuk membiayai Masjid Paris nampaknya
merefleksikan fleksibilitas pemerintah Perancis dalam menginterpretasikan konsep
pemisahan antara agama dan negara. Beberapa peristiwa dalam sejarah Perancis yang
memperlihatkan baik penolakan dan kerelaan negara untuk mendukung pendidikan
dan institusi agama telah diterima sebagai sebuah penafsiran yang cocok dengan konsep
laicite.96
Pandangan terhadap sekularisme yang pragmatis itu baru-baru ini telah diuji
kelayakannya dalam kasus ‘jilbab”. Pemerintah Perancis melarang siswi muslim
menggunakan jilbab di sekolah-sekolah negeri, bahkan sebagian dari mereka
dikeluarkan dari sekolah karenanya. Setelah debat publik yang intens terjadi selama
berminggu-minggu, parlemen memutuskan untuk melarang penggunaan semua simbol
keagamaan yang mudah dikenali di sekolah-sekolah negeri. Aturan ini harus diterapkan
95
Dominique Decherf, “French Views of Religious Freedom.” US-France Analysis.
(http://www.brookings.edu/fp/cuse/analysis/relfreedom.htm), 2.
96
Troper, hlm. 1277
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
pada semua agama, seperti kopiah Yahudi dan turban penganut Sikh, hingga
memenuhi aturan kesetaraan formal yang dianut konstitusi Perancis. Tah peduli
apapun yang orang fikirkan tentang hal itu. Penentang kebijakan ini berargumen bahwa
mentolerir ekspresi keagamaan para siswa tidak bertentangan dengan laicite, malah
merupakan satu hal yang harus dipenuhi oleh negara sebagai tanda komitmennya
terhadap netralitas dan kebebasan beragama.97
Tapi sebaliknya, pemerintah
menyatakan bahwa tanggung jawabnya untuk menjaga netralitas agama dalam ruang
publik harus diperlihatkan dengan menjaga pemisahan yang ketat antara agama dan
negara.98 Namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa kontroversi mengenai
jilbab sebetulnya lebih mewakili persoalan integrasi imigran pada budaya dan
kewarganegaraan Perancis yang menekankan loyalitas individu terhadap negara
daripada persoalan pemisahan antara agama dan negara. Namun, negara Perancis terus
mempertahankan dukungan pragmatisnya terhadap agama seperti dalam pendidikan
dan masalah keuangan, meskipun tetap mempertahankan pemisahan yang ketat dalam
masalah lain.
Pembuatan klausul dalam Amandemen Pertama Konstitusi Amerika bisa dipahami
dalam kerangka pemisahan antara negara dan agama yang independen. Namun, meski
posisi ini yang diambil, ketegangan antara keduanya masih tetap ada karena pilihan
untuk menghapus agama dari pemerintahan dianggap penting “meskipun ada
keyakinan yang luas bahwa ajaran dan praktik agama merupakan komponen yang
krusial dalam ruang publik”.99 Ide pemisahan negara dan agama biasanya diekspresikan
dalam makna dan implikasi yang disebut oleh Thomas Jefferson sebagai “wall of
separation”. Dari pandangan ini, wilayah agama dan negara dipisahkan sehingga
masing-masing tidak dapat mencampuri urusan yang lainnya, karena prinsip otonomi
negara dan otonomi gereja mengharuskan adanya independensi masing-masing dari
yang lain.100
97
Troper, hlm. 1280
Jonathan Laurence, “Islam in France: A Contest between the Wind and the Sun.” New Europe Review
(2004), 13.
99
Kent Greenawalt, “Comment: Separation and Schools.” Cardozo Law Review 21
(1999), 1289.
100
Scharffs 1234-1235
98
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Pengaruh dan ketegangan yang muncul dari sikap independen ini bisa dilihat dari
sejumlah keputusan pengadilan berkaitan dengan hubungan agama dan negara.
Contohnya, perbedaan pendapat mengenai pemasangan monumen keagamaan di ruang
publik seperti di ruang pengadilan mencerminkan interpretasi yang berbeda terhadap
Amendemen Pertama Konstitusi Amerika. Ketegangan tercermin dari dua kelompok
yang memiliki pendapat berbeda mengenai masalah tersebut. Kelompok yang disebut
sebagai “kelompok Steven” (Hakim Steven, Souter dan Ginsberg) yang mendukung ide
pemisahan menganggap pemasangan itu sebagai inkonstitusional. “Bagi mereka,
pemerintah harus tetap jauh dari pesan-pesan apapun yang akan mendorongnya untuk
menganut satu agama”.101 Dari sudut pandang ini, kegagalan untuk melaksanakan
pemisahan yang ketat antara negara dan agama merupakan hal berbahaya bagi
pemerintah dan agama. Sebaliknya, kelompok Rehnquist (hakim Rehnquist, Kennedy,
Scalia, dan Thomas) berpendapat bahwa pengakuan pentingnya agama dalam
kehidupan Amerika tetap sah secara konstitusional. Bagi kelompok ini, batas
pelanggaran aparatur pemerintah adalah “ketika mereka menekan individu untuk
menerima atau menolak satu agama atau memberikan dukungan berlebih pada agama
tertentu sehingga pemerintah bisa dituduh mempromosikan kepercayaan agama ini”.102
Perbedaan pendapat juga terlihat dalam keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat
baru-baru ini mengenai dua kasus yaitu Van Orden v. Perry dan McCreary v. American
Civil Liberties Union of Kentucky, yang mempermasalahkan pameran “Ten
Commandements” yang disponsori oleh pemerintah. Mereka yang menentang pameran
itu
berpendapat
bahwa
pemerintah
mengakui
pesan-pesan
keagamaan
Ten
Commandement, yang berarti melanggar Klausul Amendemen Pertama. Sebaliknya
mereka yang mendukung pameran Ten Commendement berpendapat bahwa penayangan
itu merupakan bukti pengakuan resmi pemerintah terhadap signifikannya peran Ten
Commandement dalam pengembangan hukum dan pemerintahan di Amerika.
101
The Pew Forum on Religion & Public Life, A Monumental Decision: Supreme Court Considers
Constitutionality of Ten Commandments Display on Public Property, www.pewforum.org (2005), 6.
102
Pew Forum, 7
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Pada tanggal 27 juni 2005, suara Mahkamah Agung yang terpecah ini akhirnya
mengeluarkan dua keputusan mengenai legalitas pameran Ten Commandements di
bangunan atau benda-benda publik. Mahkamah Agung menganggap pemasangan
monumen Ten Commandements di halaman gedung pemerintah di Texas sebagai
konstitusional, tetapi tidak di dua ruang sidang di Kentucky. Dua keputusan itu
nampaknya membenarkan strategi Mahkamah Agung untuk membuat keputusan
mengenai isu ini berdasarkan kasus per kasus. Yang penting untuk pembicaraan kita
saat ini adalah bahwa isu-isu yang berkaitan dengan makna dan implikasi pemisahan
gereja dan negara atau netralitas negara terhadap agama ternyata masih menjadi bahan
kontroversi dalam negosiasi politik dan hukum di Amerika.
Seperti yang sudah dijelaskan secara singkat tadi, hubungan agama dan negara di
Swedia terus berkembang pesat, karena dalam dua dua abad terakhir ini negara tersebut
telah mengubah pandangannya yang kuat mengenai pentingnya keberadaan gereja
resmi.103 Trend terbaru seperti imigrasi dan sekularisasi kultural telah menggerakkan
pemisahan gereja dan negara selama tahun 90-an, seperti yang terlihat dalam
pemindahan registrasi penduduk dari gereja ke otoritas pajak dan reformasi
administratif lainnya. Perubahan-perubahan tersebut mencapai puncaknya pada
pemisahan resmi negara dan agama pada tahun 2000, yang bisa difahami sebagai model
hubungan negara dan agama yang independen. Namun, kenyataan bahwa Swedia tetap
memberikan dana kepada organisasi-organisasi keagamaan, baik secara langsung
maupun tidak, mengindikasikan bahwa ada usaha yang terus menerus untuk
menegosiasikan makna dan istilah pemisahan ini.
Swedia mungkin merupakan contoh peralihan menuju model independen yang paling
nyata dan baru, meskipun pendekatan ini juga bisa dilihat dalam debat dan
perkembangan negara-negara Eropa lain. Sat ini kampanye untuk menuntut pemisahan
yang lebih jelas sedang berlangsung di Inggris, pun kampanye mengenai hubungan
agama dan negara di Spanyol selama masa republik kedua, atau hubungan resmi
antara agama dan negara di Rusia. Hal yang penting untuk kita catat adalah proses
103
Alwall, hlm. 391
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
yang terus berlanjut adalah negosiasi sekularisme, bukan penerapan sebuah model yang
tetap di sebuah tempat. Berdasarkan perspektif inilah, saya akan melihat kemungkinan
hubungan negara dan agama di negara-negara Barat di masa yang akan datang
berdasarkan pengalaman mereka saat ini.
2. Pandangan Interdependen
Ujung lain dari rangkaian posisi hubungan negara dan agama yang umum berlaku di
negara-negara Eropa adalah otonomi yang berdasarkan interdependensi atau
kooperasi.104 Pada posisi ini, berarti ada kerjasama dan interaksi tertentu antara negara
dan agama, walaupun agama tidak menjadi bagian resmi dari negara. Contoh posisi
interdependen ini termasuk pembiayaan negara terhadap asosiasi-asosiasi keagamaan
baik secara langsung atau tidak langsung, kerjasama dalam pendidikan agama, negara
yang bertindak atas nama gereja, atau campur tangan negara terhadap urusan-urusan
gereja. Kenyataan bahwa negara menyetujui, mendukung dan memberikan perlakuan
khusus kepada gereja tertentu nampaknya tidak konsisten atau mendukung prinsip
otonomi negara dan gereja.105 Karena itulah logika untuk memahaminya adalah kita
tidak harus menyetujui atau menolak model seperti itu karena merupakan proses
negosiasi yang terjadi terus menerus dalam sebuah masyarakat.
Menjelang revolusi periode modern yang demokratis, hubungan antara gereja dan
negara di beberapa negara Eropa merefleksikan adanya hubungan yang intim antara
kerajaan dan agama mayoritas. Pada masa pra-Revolusi Perancis dan pasca-Reformasi
Spanyol, misalnya, kerajaan dan gereja Katolik bekerja sama untuk melegitimasi
kekuasaan negara dan menjaga agama Katolik dari serangan Kristen Protestan. Model
kerjasama seperti ini menyebabkan hubungan antara keduanya stabil dan saling
menguntungkan dalam konteks historis saat itu, sampai kemudian lambat-laun terus
berubah. Hubungan dekat semacam itu juga terjadi di negara-negara Kristen Protestan
seperti Inggris dan Swedia, yang pada tingkat tertentu masih berlanjut sampai sekarang.
104
Roland Minnerath, “Church Autonomy in Europe.” Church Autonomy: A Comparative Survey. Ed.
Gerhard Robbers (Frankfurt: Peter Lang, 2001), hlm. 381.
105
Scharffs, hlm. 1260
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Contohnya, di bawah Act of Supremacy tahun 1558, yang masih menjadi bagian
undang-undang Inggris, penguasa kerajaan adalah “supreme governor” bagi Gereja
Anglikan dan mengucapkan janji suci untuk mempertahankannya.106 Seperti yang
dicatat di bagian lalu, kerajaan menunjuk Uskup Agung dan pejabat gereja lain dan
memberikan kursi kepada Lords of Spiritual di House of Lords. Selain itu, hukum gereja
juga masih menjadi bagian dari Common Law Inggris, dan aturan-aturan yang dibuat
gereja harus diproses, disetujui dan diberikan status hukum resmi oleh Parlemen.
Kontekstualitas proses ini terlihat dari “tetap dipertahankannya bentuk lahiriah
konstitusi Inggris, namun pelaksanaannya terus berkembang sesuai dengan konvensi—
dalam kasus ini berarti menuju gereja yang benar-benar lebih independen”.107 Dengan
demikian, pengakuan negara atas Gereja Anglikan sebagai gereja resmi terus
berlangsung meskipun keduanya memiliki tingkat independensi tertentu dari yang lain
dan masih bekerja sama dan saling mendukung dalam hal-hal yang menguntungkan
kedua belah pihak. Fleksibitas seperti ini bertujuan untuk memperkuat penerimaan
sosial dan legal terhadap sekularisme dan pluralisme agama dengan tetap
mempertahankan peran tradisional Gereja Anglikan sebagai rekan spiritual dan moral
pemerintah.
Rancangan interdependen ini juga dapat ditemukan di negara-negara Eropa lain, tapi
saya akan mengulang secara singkat pengalaman negara-negara yang sudah saya
kemukakan tadi. Model interdependen lebih jelas terlihat dari pengalaman-pengalaman
negara yang berbasis Katolik seperti Spanyol dan Itali. Pada beberapa penggal sejarah
mereka, hubungan negara dan gereja di kedua negara itu mengalami fluktuasi antara
pemisahan yang kuat dan hubungan interdependen antara gereja dan negara. Sistem
kesepakatan yang dibuat oleh negara dan gereja mengakui keberadaan keduanya
sebagai pihak yang otonom, meskipun kesepakatan itu tetap memberikan kesempatan
kepada gereja untuk mencampuri urusan-urusan negara, dan memberikan gereja
fasilitas-fasilitas istimewa. Secara umum di Eropa, baik di negara-negara Katolik
maupun Protestan, keberadaan gereja resmi telah direkonsiliasikan dengan pengakuan
106
Vernon Bogdanor, The Monarchy and the Constitution (Oxford, Oxford University Press, 1995), hlm.
216.
107
Cheryl Saunders, “Comment: Religion and the State.” Cardozo Law Review 21 (1999).
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
terhadap keragaman agama dan hadir bersamaan dengan sekularisasi kehidupan sosial
dan budaya yang sedang meluas.
Model otonomi interdependen seperti ini juga bisa dilihat di Rusia yang secara resmi
mengakui pemisahan agama dan negara tetapi masih membangun kooperasi dengan
gereja ortodoks. Setelah perubahan drastis yang terjadi pada tahun 90-an dan runtuhnya
Uni Soviet, ada interdependensi yang terus tumbuh antara negara dan gereja; dimana
kekuasaan simbolis gereja dikendalikan oleh negara sebagai kompensasi atas
perlindungan dan keuntungan yang diberikan negara kepadanya. Pengalaman Rusia
yang terbaru menunjukkan bagaimana masyarakat yang telah tersekulerkan selama
masa berdirinya Uni Soviet, sekarang nampak mulai kembali menganut pandangan
Eropa yang tradisional mengenai hubungan agama dan gereja.
Model interdependen ini bisa juga tumbuh di negara yang lebih dekat ke model
independen. Contohnya, daerah Alsace Lorraine di Perancis yang digabungkan ke
Jerman setelah kekalahan Perancis pada tahun 1871 dan masih berada di bawah kontrol
Jerman ketika undang-undang 1905 tentang pemisahan negara dan gereja diberlakukan
di Perancis. Setelah PD I, ketika daerah itu dikembalikan ke Perancis, sistem
kesepakatan gereja dan negara masih dipertahankan. Di Alsace Lorraine pemuka agama
menerima gaji dari negara dan Uskup ditunjuk oleh Presiden, padahal di daerah
Perancis lain, hal itu tidak terjadi.108 Dengan demikian model interdependensi antara
gereja dan negara Perancis masih berlanjut di daerah tertentu, meskipun tidak di daerah
lain. Begitupun di Jerman, ukuran interdependensi antara negara dan gereja berbedabeda di beberapa daerah. Di daerah daerah bekas Jerman Timur dan di negara seperti
Berlin, pemisahan antara gereja dan negara merupakan hal substansial dalam beberapa
hal, seperti dalam masalah pendidikan. Sementara di daerah lain seperti di daerah yang
dikuasai oleh Katolik Bavaria, hubungan antara gereja dan negara terlihat lebih kuat.
3. Level Intermediate
108
Troper 1278-9
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Di antara posisi independen dan interdependen, terdapat kemungkinan yang amat luas
bagi terjadinya kombinasi antara dua posisi itu, dimana negara dan gereja dapat
mempertahankan independensinya masing-masing, namun negara diharapkan untuk
membuat aturan-aturan tertentu untuk memberdayakan gereja dan memfasilitasi
perannya dalam masyarakat. Berlawanan dengan asumsi yang kaku mengenai
independensi dua lembaga ini, posisi intermediate mengakui keberadaan manusia
sebagai makhluk yang lahir dan tumbuh dalam konteks sosial tertentu sebagai anggota
keluarga dan komunitas.109 Pada saat yang sama, posisi ini juga mengakui bahwa
otonomi merupakan hal yang tidak mungkin, jika negara memberi perlakuan khusus
kepada agama tertentu atau berusaha memaksa individu untuk mempraktikkan ajaran
agama tertentu. Komitmen untuk menghargai ruang dimana individu memiliki
kebebasan untuk mengarahkan kehidupan mereka tanpa paksaan atau manipulasi,
mengandaikan adanya pembedaan antara kehidupan publik dan privat, walaupun
dengan tetap menyadari kemungkinan akan terjadinya persinggungan dan pengaruh
yang saling menguntungkan keduanya”.110 Mengakomodasi agama untuk memainkan
peran aktif dalam kehidupan politik dan sosial sebuah komunitas harus diupayakan
menjadi sebuah usaha untuk menyeimbangkan realitas interdependensi dan sikap
saling menghormati di kalangan agen otonom.111
Posisi Rehnquist, salah seorang hakim Mahkamah Agung AS yang sudah saya sebutkan
tadi bisa menjadi contoh pendekatan intermediate. Posisi ini bisa difahami sebagai
sebuah interpretasi terhadap prinsip pemisahan antara negara dan agama yang berpijak
pada adanya hubungan moral dan sejarah yang mendalam antara keduanya. Untuk
mempertahankan netralitas negara terhadap agama, hakim-hakim ini tidak akan
mengharuskan proses peminggiran agama dari seluruh aspek kehidupan publik.
Melalui perspektif ini, negara masih tetap bisa memberikan bantuan kepada institusiinstitusi keagamaan, yang memang sudah dilakukan, tanpa diskriminasi. Belanda bisa
menjadi contoh untuk memperlihatkan hubungan agama dan negara model ini, dimana
negara tidak memberlakukan pemisahan yang ketat dan memberikan dukungan
109
Scharffs, hlm. 1254
Scharffs hlm. 1255
111
Scharffs hlm. 1256
110
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
keuangan dan dukungan lain kepada komunitas-komunitas keagamaan utama tanpa
mengistimewakan salah satunya.112 Pada saat yang sama, nampaknya pemerintah
Belanda
tidak
tergantung
pada
agama
untuk
mendapatkan
legitimasi
bagi
pemerintahannya seperti negara-negara yang memiliki gereja resmi. Posisi tengah ini
bisa diterapkan saat ini, di negara-negara seperti Itali dan Spanyol yang secara resmi
sekuler, tetapi tetap mendukung peran gereja sebagai agen sosial yang penting.
4. Hubungan Faktor Internal dan Eksternal
Di samping peran historis dan kontemporer faktor-faktor internal dan eksternal,
negosiasi sekularisme di negara-negara Eropa Barat juga dipengaruhi oleh kerangka
pikir Uni-Eropa dan Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa. Semua anggota Uni-Eropa
adalah anggota Dewan Eropa, namun beberapa anggota Dewan, seperti Turki, bukanlah
anggota Uni Eropa. Tugas utama Dewan Eropa adalah untuk melindungi Hak Asasi
Manusia di Eropa sementara Uni Eropa yang awalnya hanya organisasi ekonomi
berkembang menjadi organisasi yang juga mengurusi persoalan politik dan sosial.
Kedua sistem ini mempengaruhi hubungan negara dan agama di negara-negara
anggotanya.113
Kebijakan dan peraturan regional mengenai agama berusaha untuk
menyeimbangkan pluralisme dan kebebasan beragama dengan tetap mengakui
keberadaan gereja resmi dan pandangan yang berbeda mengenai hubungan agama dan
di kalangan negara-negara anggotanya. Negosiasi mengenai makna dan implikasi
netralitas negara terhadap otonomi gereja di dalam negeri kini dipengaruhi oleh
perkembangan regional.
Salah satu aspek utama faktor regional ini adalah Keputusan Pengadilan Hak Asasi
Manusia Eropa yang berada di bawah aturan Konvensi HAM Eropa. Keputusan
pengadilan itu merefleksikan penerimaannya yang sudah lama terhadap keberadaan
gereja resmi negara. Dengan demikian, berdasarkan deksripsi di bagian lalu, pengadilan
ini mengadopsi pandangan interdependen. Pandangan ini terbukti dalam kasus Darby
melawan pemerintah Swedia (1990). Pengadilan bependapat bahwa gereja resmi boleh saja
berdiri, tetapi ia tidak bisa memaksa orang untuk menjadi anggotanya atau
112
113
Van Bijsterveld, hlm. 220-24
Rivers, hlm. 45
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
menghalangi mereka meninggalkan gereja. Pengadilan juga menyatakan bahwa negara
boleh-boleh saja bekerjasama, mendukung atau memberi perlakuan istimewa pada
gereja tertentu. Di samping itu, pengadilan juga berkeyakinan bahwa negara boleh
menarik pajak secara langsung untuk kepentingan gereja resmi, dan mereka yang bukan
penganut kristen bisa diminta untuk membayar pajak gereja, jika gereja itu melakukan
fungsi-fungsi sekular seperti memberikan layanan pernikahan, menyediakan TK, dan
lain sebagainya (kegiatan-kegiatan yang lazim dilakukan gereja-gereja di Eropa).114
Dalam kasus Kustannus, misalnya, pengadilan berkeyakinan bahwa perusahaan ateis
yang menentang keberadaan gereja resmi, juga bisa diminta untuk membayar pajak
gereja. Pengadilan juga menyetujui pajak yang hanya memberikan keuntungan pada
satu atau beberapa gereja saja. Dalam kasus Iglesia Bautista El salvador dan Ortega
Mortilla melawan Pemerintah Spanyol, Komisi Eropa (yang biasanya memiliki otoritas
untuk menyelesaikan perselisihan di bawah wewenang Konvensi HAM Eropa)
berkeyakinan bahwa praktik negara menarik pajak atas nama satu gereja tertentu dan
tidak atas nama gereja lain tidak melanggar konvensi. 115
Berkenaan dengan masalah pendidikan, Pengadilan HAM Eropa secara umum
berpendapat bahwa orang tua bisa meminta negara untuk tidak mendidik anakanaknya dengan cara tertentu, dan negara tidak mempunyai tugas atau kewajiban
untuk membiayai pendidikan moral atau agama dalam bentuk apapun.116 Bila
kurikulum pendidikan agama dari negara memperhatikan hal-hal semacam itu,
pengadilan memutuskan bahwa negara tidak perlu menghindari penyajian bahanbahan agama atau filsafat, tetapi harus menjamin konteks penyajiannya tetap objektif,
kritis dan pluralis”.117 Dalam kasus Angelini melawan Pemerintah Swedia, penuntut,
yang kebetulan seorang ateis, mengklaim bahwa negara telah melanggar kebebasan
beragama dengan memaksa anaknya untuk mengikuti pelajaran agama yang hanya
berfokus pada pengajaran agama Kristen. Pengadilan memutuskan bahwa pengajaran
agama di sekolah hanya berusaha memberikan informasi bukan mendoktrinasi satu
114
Scharffs, hlm. 1261, 1262
Carolyn Evans, Freedom of Religion under the European Convention on Human Rights (Oxford
University Press, 2001), hlm. 82.
116
Carolyn Evans 88
117
Carolyn Evans 92
115
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
ajaran agama, dan memberikan informasi bukan merupakan pelanggaran terhadap
kebebasan beragama. lagipula pendidikan agama dilakukan dengan cara yang umum
dan netral.118 Instruksi-instruksi Uni Eropa memiliki pengaruh signifikan terhadap
administrasi beberapa gereja. Dalam kasus Serif melawan Pemerintah Yunani,
pengadilan menekankan independensi gereja, terutama gereja atau lembaga agama
yang bukan merupakan agama resmi, dari campur tangan negara, namun pengadilan
juga tetap mempertahankan hak negara untuk membuat beberapa peraturan tentang
perilaku aktivis gereja.119
Dari pembahasan mengenai hubungan agama dan negara di atas, jika kita melihat
secara lebih detail pada perbedaan pola-pola lokal hubungan tersebut, serta status
badan-badan keagamaan, organisasi internal gereja dan keuangannya jelaslah bahwa
variasi model hubungan itu terus meningkat.120 Namun tujuan kita yang paling penting
adalah hanya ingin menekankan bahwa keragaman itu adalah produk sebuah proses
negosiasi makna dan implikasi sekularisme dalam berbagai kondisi yang berbeda. Tiga
model independen, interdependen dan intermediate yang kita bicarakan diatas akan
berguna karena mereka merepresentasikan point yang berbeda dalam spektrum yang
sama, daripada berusaha untuk mencocokkan satu negara pada satu atau lain kategori
yang terpisah. Bentuk dan substansi hubungan antara agama dan negara bisa berbeda
tergantung waktu dan situasi yang dihadapinya, bisa jadi hubungan itu berupa
pemisahan ketat maupun peleburan. Sebuah negara mungkin bisa berusaha mengambil
jarak dengan institusi-institusi dan praktik-praktik keagamaan pada satu waktu, atau
menerima dan bahkan bekerja sama dengan erat pada saat yang lain. Negara juga bisa
bekerja sama dengan agama dalam masalah pendidikan agama atau dukungan
keuangan bagi institusi-institusi keagamaan, tapi tetap memberlakukan pemisahan yang
ketat dalam persoalan administrasi atau personilnya.
118
Malcolm Evans, “Religion, Law and Human Rights: Locating the Debate” Law and Religion in
Contemporary Society: Communities, Individualism and the State. Eds. Peter Edge, Graham Harvey
(England: Ashgate, 2000).
119
Carolyn Evans, hlm. 130
120
Grace Davie, Religion in Modern Europe: A Memory Mutates (Oxford: Oxford University Press 2000),
hlm. 15.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
III. Agama, Negara dan Politik Public Reason
Proses negosiasi yang telah dikemukakan tadi bisa diperjelas dengan mengulang
kembali perbincangan mengenai public reason dan bagaimana ia beroperasi melalui
pembedaan negara dan politik seperti yang sudah kita diskusikan dalam bab 1 dan 3.
Sekarang saya akan merefleksikan pentingnya peran sekularisme dalam kaitannya
dengan pentingnya sebuah kerangka untuk public reason yang akan berfungsi sebagai
alat untuk mengatur dan memfasilitasi hubungan antara negara, politik dan agama.
Setelah membahas secara singkat diskusi kita mengenai pembedaan antara negara dan
politik, saya akan menjelaskan bagaimana arena public reason bisa menjadi kerangka
untuk memediasi hubungan antara negara dan politik. Pada bagian akhir bagian bab ini,
saya akan menguji kemungkinan peran agama dalam mempengaruhi kebijakan publik
dan akan memperkirakan bagaimana agama dan sekularisme bisa saling mendukung.
1. Pembedaan antara Negara dan Politik
Seperti yang sudah kita diskusikan dalam bab I, saya menyarankan pemisahan
institusional antara Islam dan negara sambil tetap mengakui dan mengatur
keterhubungan yang tak terhindarkan antara Islam dan Politik. Ini tidak berarti bahwa
Islam dan politik harus dipisahkan karena prinsip-prinsip Islam bisa diimplementasikan
melalui kebijakan dan undang-undang resmi dengan tetap tunduk pada jaring-jaring
pengaman yang sudah dijelaskan dalam bab 1 dan 3. Ide ini mengandaikan adanya
pembedaan antara negara dan politik meskipun keduanya jelas-jelas berhubungan.
Negara harus lebih stabil dan memiliki swa-pemerintahan operasional yang terrencana,
sementara politik adalah sebuah proses dinamis pembuatan pilihan kebijakan dari
sejumlah pilihan yang saling bertentangan. Negara dan politik mungkin seperti dua sisi
mata uang, tapi mereka tidak mungkin dan bahkan tidak bisa dilebur menjadi satu.
Penting untuk menjamin keberadaan negara tidak hanya sebagai cerminan politik
harian, tetapi juga menjaganya untuk tetap relatif independen dari kekuatan politik
yang berbeda yang ada di masyarakat karena negara harus bisa memediasi dan
memutuskan satu dari sekian banyak pilihan kebijakan.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Namun, membedakan negara dan politik secara sempurna juga tidak mungkin karena
mereka yang mengontrol negara bisa meraih dan mempertahankan kekuasaannya
melalui proses politik, entah itu demokratis atau tidak. Dengan kata lain pegawai
negara akan selalu bertindak secara politis untuk mengimplementasikan agenda mereka
dan
mempertahankan
loyalitas
orang-orang
yang
mendukungnya.
Relitas
keterhubungan ini membuat pemisahan antara keduanya menjadi penting. Sehingga
mereka yang terpinggirkan dalam proses politik saat ini masih bisa menuntut organ
atau institusi negara untuk melindungi mereka dari pengaruh dan penyalahgunaan
kekuasaan penyelenggara negara.
Hubungan yang paradoks ini bisa difahami dengan merujuk pada suatu model dimana
negara tetap mengakar dalam kehidupan politik masyarakatnya, tetapi juga tetap
mempertahankan otonominya dari proses tersebut. Negara modern merupakan
organisasi yang terpusat, birokratis, dan hirarkis yang terdiri dari institusi, organ,
pegawai yang seharusnya bisa melaksanakan fungsi yang spesial dan berbeda-beda
melalui aturan penerapan yang sudah ditentukan.121 Malah, secara teroritis negara
merupakan organisasi yang berbeda dengan organisasi atau asosiasi sosial apapun,
meskipun tetap berhubungan erat dengan mereka dalam konteks praksis untuk
mendapatkan legitimasi dan kerja yang efektif. Sebagai contoh, negara harus berjuang
dan bekerja sama dengan berbagai konstituen dan organisasi dalam melaksanakan
fungsinya, seperti menegakkan hukum dan aturan, menyediakan layanan pendidikan,
kesehatan dan transportasi. Dengan demikian, institusi dan pegawai negara tidak bisa
menghindar dari keharusan membangun hubungan dengan berbagai konstituen dan
kelompok yang memiliki ide yang berbeda dan bertentangan mengenai kebijakan
publik dan efeknya bagi kehidupan masyarakat. Konstituen tersebut termasuk
organisasi non-pemerintah, kalangan bisnis, partai politik, dan grup penekan lainnya
yang berbasis keagamaan atau lainnya. Hubungan tersebut tidak hanya penting untuk
membantu negara melaksanakan kewajibannya, tetapi juga sebuah persyaratan bagi
terpenuhinya hak untuk menentukan diri sendiri (self-determination). Karakter otonom
121
Graeme Gill. The Nature and Development of the Modern State (New York: Palgrave Macmillan, 2003),
hlm. 2-4.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
dan berbedanya negara merupakan alat untuk membuat warga negara bisa
berpartisipasi dalam pemerintahannya dan bukan merupakan tujuan akhir.
Negara dapat mengizinkan partisipasi aktor-aktor non-negara melalui mekanisme
negosiasi dan representasi yang formal atau melalui komunikasi dan pengaruh yang
informal.122 Interaksi dinamis antara aktor negara dan non-negara berrresiko
menimbulkan konflik dan kompetisi, namun bisa memberikan otonomi bagi aktor
negara karena aktor non-negara terus berusaha untuk memaksimalkan pengaruhnya
dalam pembuatan kebijakan dan administrasi. Resiko yang realistis ini harus dikurangi
dan dikelola melalui pengembangan institusi negara yang lebih kuat yang bisa
mempertahankan otonomi relatifnya, ketika berhubungan dengan kelompok yang
memiliki tuntunan yang beragam dan saling bertentangan itu. Pertanyaan yang muncul
kemudian adalah bagaimana aktor negara bisa tetap responsif terhadap keinginan
organisasi-organisasi masyarakat sipil, kelompok bisnis, dan yang lainnya tanpa harus
dikontrol sepenuhnya oleh mereka. Proses penyeimbangan yang lembut namun
dinamis dan terus berubah ini selalu dideksripsikan sebagai “proses penggabungan
negara dengan konstituen kebijakan tertentu dan masyarakat secara umum dengan
tetap mempertahankan otonominya.”123
Proses ini dapat difahami secara lebih konkrit dengan mempertimbangkan hubungan
antara gereja dan negara dalam masyarakat Barat, seperti yang sudah kita bahas tadi,
sebagai contoh untuk menegosiasikan perimbangan antara penggabungan keduanya
atau otonomi masing-masing. Di setiap masyarakat, dalam praktiknya, kelompokkelompok keagamaan adalah konstituen kebijakan publik penting yang berkaitan
dengan hal-hal fundamental dalam kehidupan sosial, dari pendidikan hingga pajak, dan
dari isu publik dan moralitas individu sampai fungsi sosial karitas. Negosiasi antara
gereja dan negara dalam masalah-masalah tersebut bisa dilihat sebagai sebuah desain
untuk memberikan tempat kepada kelompok agama agar negara bisa mengakui mereka
sebagai konstituen politik yang penting yang tidak bisa dikuasai sepenuhnya oleh
negara atau dizinkan untuk mengambil alih negara dan institusinya. Sekularisme
122
123
Gill 17
Gill 19
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
sebagai prinsip-prinsip pemisahan agama dan negara membantu kita untuk meraih
keseimbangan yang indah dengan menyediakan kerangka untuk mengamankan
legitimasi negara di tengah komunitas agama, sambil tetap mengatur bagaimana
perhatian yang mereka dedikasikan pada kebijakan publik tidak menyinggung
perhatian dan kepentingan komunitas lain dan warga negara secara umum. Seperti
komunitas keagamaan, warga negara yang tidak beragama atau tidak mengorganisasi
diri untuk melobi negara, pun berhak untuk mendapatkan penghargaan atas
pandangan dan kepentingannya yang sama. Karena itulah, negara dan organnya tidak
boleh dikontrol oleh satu komunitas keagamaan apapun,
seberapapun besarnya
komunitas itu. Malah, netralitas negara terhadap perspektif keagamaan maupun nonkeagamaan lebih penting, terutama, dalam hubungannya dengan kelompok dominan,
karena resiko berpihaknya negara kepada kelompok ini lebih besar daripada
keberpihakannya kepada kelompok minoritas. Harus pula dicatat, bahwa persepsi
orang tentang masalah tersebut juga sama pentingnya dengan realitasnya, karena bias
keberpihakan seperti ini cenderung memperlemah kepercayaan publik pada netralitas
negara terhadap agama meskipun dalam faktanya persepsi orang itu ternyata tidak
benar. Sekularisme menyediakan struktur dasar dimana negara bukan menjadi bagian
atau dianggap menjadi bagian satu kelompok agama atau non-agama apapun. Tapi
sekularisme juga memberikan kemungkinan kepada negara untuk tetap memperhatikan
semua
pendapat
yang
relevan
dan
sah
dalam
memformulasikan
dan
mengimplementasikan kebijakan publik.
Selayang pandang pengalaman Barat yang telah lalu juga memberikan pelajaran bahwa
keseimbangan ini bisa dicapai melalui negosiasi langsung maupun tidak langsung. Di
satu sisi, negosiasi dan kesepakatan yang langsung atau agak langsung antara negara
dan tradisi keagamaan yang dominan (dan tradisi keagamaan lain pada beberapa
tingkatan tertentu) mencerminkan preseden historis, pentingnya tradisi keagamaan
tertentu sebagai bagian dari peninggalan budaya atau peran sosial penting insitusiinstitusi keagamaan tersebut. Benar bahwa negara tidak mungkin sepenuhnya lepas
dari kegiatan dukung mendukung, namun bila kegiatan ini meluas pada agama lain dan
kebijakan negara yang lain tentu akan bertentangan dengan nilai-nilai netralitas negara
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
terhadap agama. Dalam negosiasi seperti itu, prinsip umum pemisahan antara agama
dan negara mungkin diakui, meskipun nilai dan peran agama mayoritas dalam
kehidupan publik juga tetap diakui. Dengan demikian, meskipun rencana yang
diajukan oleh Komisi tahun 1994 di Swedia mengistimewakan Gereja Resmi Swedia
pada tingkat tertentu, rencana ini jelas mencerminkan pemahaman bahwa gereja
merupakan satu dari sekian banyak badan keagamaan dalam masyarakat yang plural.124
Negara Inggris tidak sepenuhnya mempertahankan netralitasnya dalam membiayai
sekolah-sekolah agama, namun ia tidak mempromosikan secara aktif gereja Anglikan
atau memaksakan pembatasan kepada anggota kelompok agama non-anglikan.
Meskipun Inggis tetap mempertahankan status formal gereja Anglikan sebagai gereja
resmi Inggris, kebijakan negara di Inggris sangat mendukung agama lain secara umum
namun tidak mendukung salah satu di antaranya.125
Prinsip
sekularisme
juga
beroperasi
dalam
kerangka
jaring
pengaman
konstitusionalisme dan HAM agar negosiasi tidak langsung bisa terjadi dan aktor
religius atau aktor non-religius bisa memiliki peran dalam pembentukan kebijakan
publik. Kemungkinan ini dijamin oleh perlindungan negara terhadap kebebasan untuk
berorganisasi dan kebebasan untuk berekspresi, hak untuk mengorganisasi diri dan
melakukan protes, hak atas mendapatkan ganti rugi secara hukum serta penggunaan
instrumen komersil, media, komunikasi yang bisa membuat warga negara untuk
mengemukakan padangan mereka atau untuk memobilisasi sumber dan dukungan
publik dari perspektif mereka. Kebebasan dan hak yang mengatur dan meregulasi
proses-proses mempengaruhi kebijakan negara secara langsung atau tidak tersebut
ditempatkan sebagai prinsip sekuler dan dilindungi oleh kerangka politik dan hukum
yang sekuler.
Budaya politik Amerika Serikat mencerminkan contoh yang bagus tentang bagaimana
negosiasi tak langsung terjadi antara negara dan agama dalam masalah kebijakan publik
yang krusial. Meskipun pemisahan negara dan agama adalah nilai sosial dan politik
yang telah mapan dalam budaya politik publik Amerika, namun kalangan konservatif
124
125
Alwall, hlm. 168
Monsma and Soper, hlm. 131,132
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
dan Kristen Liberal selalu melakukan kampanye dan berusaha menggunakan
pengadilan untuk menangani beberapa isu seperti dukungan terhadap pelaksanaan
misa di sekolah. Gereja-gereja Kristen Liberal telah melakukan lobi-lobi politik berkaitan
dengan isu-isu seperti hubungan ras, kemiskinan, dan mengakhiri perang Vietnam.
Kedua faksi dan aktor religius maupun non-religious sangat terlibat dalam debat
mengenai penunjukkan hakim, terutama untuk tingkat Mahkamah Agung dan
Pengadilan Tinggi, untuk menjamin adanya representasi ide-ide mereka dalam
penerapan dan pengembangan hukum sekuler di negaranya. Proses dan dinamika yang
sama bisa ditemukan di negara-negara Barat lain. proses tersebut tercermin dalam
beberapa peristiwa seperti protes terhadap reformasi pendidikan di Spanyol tahun 1983
yang memperlihatkan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap hilangnya identitas
katolik di sekolah-sekolah gereja maupun referendum yang akan dilaksanakan pada
Juni tahun 2006 di Itali untuk memutuskan perubahan khusus dalam civil code negara
itu yang semula ditentang keras oleh Gereja Katolik sebagai kekuatan politik yang kuat
dan memaksa disana. Pada semua kasus ini, prinsip fundamental pemisahan agama dan
negara tidak langsung ditentang oleh aktor religius. Mereka hanya mempergunakan hak
mereka untuk berusaha mempengaruhi kebijakan negara, tetapi dengan tetap
menghormati hak kelompok lain, baik aktor religius maupun non-religius, untuk
melakukan hal yang sama.
2. Public Reason sebagai Kerangka untuk Memediasi Negara dan Relasi Politik
Dalam negosiasi langsung dan tak langsung antara aktor negara dan agama, semua
pihak harus dengan jelas menerima pembedaan antara agama-negara dengan agamapolitik dalam praktik. Namun seperti ide negosiasi itu sendiri, akan terdapat
ketegangan antara aktor negara dan agama dalam berinteraksi dan memahami
hubungan antara agama dan negara serta dalam asumsi dan implikasi posisi yang
mereka ambil. Adanya ketegangan seperti itu dan kebutuhan untuk mempertahankan
otonomi negara dan agama membuat sebuah kerangka yang memungkinkan semua
aktor, baik individu maupun kelompok, untuk menegur negara dalam pembuatan
kebijakan publik tanpa harus mengkompromikan pemisahan negara dan agama,
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
menjadi penting. Kerangka ini akan memberikan kemungkinan kepada sebanyak dan
seluas mungkin aktor sosial untuk bisa bersaing secara bebas dan adil dengan yang lain
untuk memaparkan pandangan mereka tentang kebijakan publik. Meskipun ada banyak
persyaratan dan aspek yang terdapat dalam proses tersebut, sekarang saya akan
menggarisbawahi dimensi public reason dan bagaimana ia beroperasi dalam kerangka
ini.
Sebagaimana sudah saya tekankan, pentingnya memisahkan negara dan agama
sambil tetap mengatur keterhubungan permanen antara agama dan politik
mengharuskan proses ajuan kebijakan dan undang-undang dilaksanakan melalui
public reason yang berisi dua elemen. Pertama, logika dan tujuan sebuah kebijakan
publik atau undang-undang harus berdasar pada sebuah penalaran yang bisa
diterima, ditolak, atau ditandingi oleh warga negara melalui debat publik tanpa
harus berresiko dituduh tidak percaya, murtad atau membangkang. Kedua, reason
atau penalaran itu harus diperdebatkan secara umum dan terbuka daripada
mengikuti kepercayaan atau motivasi seorang warga negara atau pegawai
pemerintahan. Mengontrol motivasi dan maksud tingkah laku politik orang
memang tidak mungkin, tetapi tujuan public reason adalah untuk mempromosikan
dan mendorong nalar dan penalaran publik, dengan terus menerus menghilangkan
pengaruh ekslusif kepercayaan agama seseorang. Keharusan adanya public reason
yang diperdebatkan secara umum menjadi sangat penting karena orang yang akan
mengontrol negara tidak bisa dipastikan akan selalu netral.
Malah sebaliknya,
keharusan adanya public reason ini harus menjadi tujuan kerja negara, karena orang
akan terus bertindak berdasarkan kepercayaan dan justifikasinya sendiri. Keharusan
ini juga diinginkan karena mendorong dan memfasilitasi pengembangan konsensus
yang lebih luas di kalangan rakyat secara umum, untuk mengatasai sempitnya
pandangan keagamaan individu dan kelompok.
Karena istilah public reason telah digunakan oleh sarjana-sarjana Barat, saya akan
mengulang kembali diskusi kita pada Bab 3 mengenai bagaimana cara saya
menggunakan istilah ini. Ide Jhon Rawls mengenai public reason bisa difahami sebagai
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
argumen bagi pentingnya memberikan kerangka nilai-nilai fundamental politik
masyarakat bagi tindakan dan kebijakan pemerintah, untuk membedakannya dari
doktrin komprehensif atau pandangan dunia warga negara yang berdasarkan agama,
moral atau filsafat.126 Perintah untuk tunduk pada public reason diterapkan sangat ketat
pada lembaga kehakiman, pemerintah, penyelenggara negara dan partai politik.127
Tetapi, bagi Rawls, civil society secara keseluruhan tidak tunduk pada public reason.128 Ia
juga membatasi jangkauan public reason pada masalah-masalah yang berkaitan dengan
esensi konstitusi seperti masalah kemerdekaan fundamental, dan masalah keadilan
dasar.129 Berbeda dengan Rawls yang membatasi public reason pada aktor dan isu
tertentu saja, Habermas memiliki pandangan yang lebih luas tentang prosedur debat
dalam public reason dan pentingnya pengakuan terhadap pluralisme dan pandangan
dari pihak luar.130 Bagi Habermas, ruang yang independen dan non-pemerintah seperti
asosiasi-asosiasi sukarela, gerakan-gerakan sosial, serta jaringan dan proses komunikasi
lain dalam civil society termasuk media massa merupakan arena yang penting bagi
pengembangan dan pengungkapan public reason.131
Konsep yang saya gunakan lebih dekat pada konsep Habermas. Saya memahami public
reason sebagai sebuah ruang diskusi dan debat yang benar-benar berakar pada civil
society dan ditandai dengan adanya proses kontestasi sejumlah aktor yang berbeda.
Apapun dasar dan motivasi pandangan seseorang, apakah itu konsepsi politik atau
doktrin komprehensif, untuk mengajukan sebuah kebijakan publik dan undangundang, pandangannya harus dijustifikasi oleh alasan-alasan yang bisa difahami oleh
warga negara lain dan diperdebatkan di ruang publik. Aturan ini bukan untuk
mengontrol motivasi terdalam seseorang untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu
karena hal itu mungkin masih berlanjut dalam perbincangan dan refleksi privat, tetapi
126
John Rawls, Political Liberalism, (expanded edition, New York: Columbia University Press, 2003),
hlm. 441.
127
Rawls, hlm. 442
128
Rawls, hlm. 443-444
129
Rawls, hlm. 442
130
Jurgen Habermas, “Reconciliation Through the Public Use of Reason: Remarks on John Rawls’ Political
Liberalism.” The Journal of Philosophy, 92 (March 1995), hlm. 118-119.
131
Thomas McCarthy, “Kantian Constructivism and Reconstructivism: Rawls and Habermas in Dialogue.”
Ethics 105: 1 (October 1994), hlm. 49.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
untuk mendorong terciptanya konsensus publik seputar kebijakan publik dan undangundang.
Seperti yang sudah didiskusikan dalam bab 3, kinerja public reason dalam
menegosiasikan peran agama dalam kebijakan publik dan negara harus dilindungi oleh
prinsip-prinsip konstitusionalisme, hak asasi manusia dan kewarganegaraan. Penerapan
prinsip-prinsip
tersebut
secara
konsisten
dan
terlembagakan
bisa
menjamin
kemampuan seluruh warga negara untuk berpartisipasi secara sejajar dan bebas dalam
proses politik, dan melindungi mereka dari diskriminasi berdasarkan agama,
kepercayaan atau alasan lainnya. Dengan perlindungan yang disediakan oleh jaring
pengaman itu, warga negara akan lebih mungkin memberikan kontribusi dalam
memformulasikan kebijakan publik dan undang-undang termasuk menolak proposal
kebijakan yang diajukan orang lain sesuai dengan persyaratan-persyaratan public reason.
Umat Islam dan umat agama lain bisa membuat proposal kebijakan yang muncul dari
kepercayaan yang mereka anut dan diajukan kepada orang lain dengan menggunakan
alasan-alasan yang bisa diterima atau ditolak oleh mereka. Karena muslim bisa
mengekspresikan kepercayaan agamanya dalam proses politik dengan tetap tunduk
pada jaring pengaman tersebut melalui cara ini, mereka akan lebih rela untuk
mendukung pembedaan antara negara dan politik yang memungkinkan kontribusi
seperti itu menjadi mungkin. Pada saat yang sama, realitas dan kredibilitas pembedaan
ini membuat upaya untuk memfasilitasi ekspresi politik pandangan Islam menjadi
mungkin tanpa harus berresiko menciptakan negara teokratis yang totalitarian dengan
sepenuhnya melebur negara pada kehendak politik mayoritas penganut suatu agama
atau elit penguasa.
Refleksi teoritis tentang bagaimana public reason beroperasi bukan berarti bahwa konsep
itu selalu jelas dan dapat dengan mudah diterapkan dalam praktik. Kejelasan teoritis
dan komitmen terhadap prinsip tersebut penting untuk mengoreksi problem apapun
yang muncul dalam praktiknya. Akses warga negara terhadap debat public reason akan
bervariasi; tergantung pada status sosial dan ekonomi, pengalaman politik, dan
kemampuan mereka untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya, membangun
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
aliansi dan melakukan hal lainnya. Namun faktor-faktor tersebut lebih baik dianggap
sebagai alasan untuk menerapkan prinsip tersebut secara adil dan inklusif, daripada
untuk mengabaikannya. Aktor-aktor yang termarginalisasikan dapat menggunakan
berbagai strategi untuk mengamankan pengaruh mereka dalam proses pengambilan
kebijakan. Sebagai contoh, kelompok yang mendapatkan sumber daya atau pengaruh
politik yang lebih besar bisa mengambil posisi moderat atau selalu terbuka untuk
melakukan kompromi dalam mengakses public reason. Sebagai alternatif, kelompokkelompok tersebut bisa mendapatkan asistensi dari pengadilan atau institusi-institusi
negara yang lain untuk menjamin akses mereka pada prinsip-prinsip konstitusi atau hak
asasi manusia guna melengkapi terbatasnya sumber daya atau pengaruh mereka. Dalam
kasus kebijakan mengenai aborsi di Amerika Serikat misalnya, organisasi-organisasi
yang moderat bisa mempunyai akses yang lebih besar pada kelompok pembuat
kebijakan,
namun
kelompok
yang
mempertahankan
hak
perempuan
untuk
memutuskan aborasi akhirnya memenangkan keputusan pengadilan dalam kasus Roe
melawan Wade pada tahun 1973. Namun ini tidak berarti bahwa penentang klaim ini
menyerah dan mengabaikan posisi mereka begitu saja. Malah, kelompok-kelompok
tersebut menggunakan strategi-strategi yang berbeda termasuk berusaha merubah
pembuatan kebijakan di level negara, daripada di tingkat pemerintah federal karena
mereka berharap bisa memberikan pengaruh yang lebih besar pada level itu. Pertukaran
strategi seperti itu akan mungkin terjadi di masa yang akan datang selama orang masih
berkepentingan terhadap isu-isu tersebut.
Sekedar menyimpulkan, kontestasi dalam ruang public reason bisa dilihat sebagai
indikasi adanya keragamaan sosial dan keragaman pendapat dalam masyarakat.
Kontestasi seperti itu bisa juga mencerminkan semakin tingginya akses individu dan
kelompok terhadap public reason melalui proses-proses demokratisasi, pengembangan
komunikasi dan lain sebagainya. Ketika akses terhadap public reason semakin terbuka
dan adil, pilihan-pilihan kebijakan publik lebih mungkin untuk diperdebatkan dan
dinegosiasikan daripada dipaksakan pelaksanaannya oleh mayoritas atau elit penguasa.
Konsensus terhadap pilihan-pilihan kebijakan publik yang bisa dicapai melalui proses
ini,
lebih
mungkin
untuk
mempromosikan
legitimasi
negara
di
kalangan
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
masyarakatnya, sehingga stabilitas politik di negeri itu terus meningkat. Dengan
memberikan apreasasi yang lebih besar terhadap proses public reason, penganut agama
bisa memiliki kesempatan untuk mempromosikan kepercayaan agama mereka melaui
proses-proses politik reguler tanpa mengancam keberadaan kelompok penganut agama
lain. Keseimbangan ini sangat mungkin bisa dicapai karena pandangan-pandangan
keagamaan tidak akan langsung diberlakukan melalui kekuasaan kursif negara,
melainkan harus melalui proses kontestasi politik yang transparan, adil dan tunduk
pada prinsip-prinsip hak asasi manusia dan konstitusionalisme yang sudah dibicarakan
di muka. Sebagai analisis final, kepercayaan agama tidak boleh diistimewakan maupun
ditindas, karena dengan cara ini hubungan antara negara dan agama akan menjadi lebih
dinamis dan hasilnya lebih bisa diidentifikasi.
3. Peran aksidental negara dalam mempengaruhi kebijakan publik
Agama (baik digunakan sebagai istilah untuk menyebut kelompok-kelompok
terorganisir, komunitas iman dan ritual, atau domain pandangan dan kepercayaan
individu) merupakan kekuatan yang penting yang bisa bersaing dalam ruang public
reason untuk mempengaruhi sebuah kebijakan. Dalam perkembangan dan perubahan
sosial dan kebudayaan di negara-negara Barat dalam beberapa dekade terakhir ini,
perhatian individu terhadap isu-isu kualitas hidup, kebijakan pendidikan, aborsi dan
kebijakan lain mengenai keluarga, kebebasan beragama, imigrasi, dan kebijakan
naturalisasi, sama besarnya dengan perhatian mereka terhadap kebijakan publik.132
Dengan kata lain, public reason sebagai logika dan proses semakin meniadakan dikotomi
antara ruang eksistensi sosial yang publik dan privat, sehingga pemisahan agama dan
politik pun semakin sulit. Namun peran agama dalam ruang public reason yang
kompetitif tidak bisa dilihat sebagai sudah ditentukan dan tetap, karena hasil kebijakan
seperti ini tergantung pada berbagai faktor.
Kemampuan aktor keagamaan untuk mempengaruhi kebijakan publik dipengaruhi oleh
hubungan historis antara negara dan agama serta kondisi aktual seperti urbanisasi,
perubahan demografis, tingkat religiusitas dalam masyarakat serta hubungan antara
132
Michael Minkenberg, “The Policy Impact of Church-State Relations: Family Policy and Abortion in
Britain, France and Germany.” West European Politics, 26: 3 (2003), 205.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
komunitas keagamaan. Lagipula, karena faktor-faktor tersebut cenderung untuk beralih
dan berubah terus, akibat dan pengaruh agama terhadap kebijakan publik cenderung
beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut. Contohnya, pada paruh kedua abad
ke-20, Gereja Katolik Perancis tidak menolak reformasi inovatif kebijakan mengenai
keluarga walaupun ia memiliki pandangan yang lebih tradisional terhadap nilai-nilai
sosial dan peran gender daripada kelompok masyarakat lain yang memiliki tingkat
religiusitas yang lebih rendah. Komitmen kuat negara tersebut terhadap konsep laicite
cenderung menghambat kemampuan Gereja Katolik untuk melakukan manuver sebagai
sebuah kelompok kepentingan. Keterlibatan Gereja dalam persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan keluarga juga dibatasi di Jerman dan Inggris karena adanya
kombinasi antara otoritas tak penuh (partial establishment)agama resmi dan tingkat
religiusitas masyarakatnya yang moderat. Sehingga, gereja cenderung bertindak sebagai
institusi daripada sebagai sebuah kelompok kepentingan dalam persoalan-persoalan
yang menyangkut keluarga. Tetapi, meskipun gereja tidak dianggap sebagai agama
resmi negara, aktor-aktor keagamaan mempunyai lebih banyak ruang untuk melakukan
manuver dalam politik sehingga kemampuan mereka untuk mempengaruhi kebijakan
publik semakin meningkat seperti yang terlihat dalam kasus Amerika Serikat.133
Peristiwa-peristiwa baru yang terjadi di Amerika juga mengindikasikan peran orientasi
ideologis
pemerintahan
Amerika
saat
ini
dalam
mengalihkan
atau
bahkan
mentransformasikan istilah dan dinamika peran agama dalam public reason.
Sebagai contoh, kebijakan-kebijakan pemerintahan Presiden George W. Bush mengenai
“inisiatif sosial berbasis keagamaan” bisa dilihat sebagai rekonfigurasi ruang public
reason dengan mengizinkan agama, atau lebih tepatnya, kelompok agama tertentu untuk
memberikan pengaruh yang lebih besar dalam kehidupan publik dengan mendapatkan
kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pendanaan dari negara. Segara
setelah menjabat presiden untuk pertama kalinya, George W. Bush mengeluarkan
beberapa kebijakan eksekutif untuk mendirikan Kantor Negara khusus (White House
Office) yang menangani “inisiatif sosial berbasis agama dan komunitas” sebagai salah
satu usaha untuk menghilangkan hambatan-hambatan pendanaan berbasis agama. Tapi
133
Minkenberg 209-210
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
inisiatif-inisiatif tersebut mendapatkan respon serius dari komunitas masyarakat asli
Amerika yang mempertanyakan apakah mereka akan mendapatkan manfaat
dari
kebijakan-kebijakan tersebut.134 Ini jelas mengindikasikan bahwa istilah “agama” dalam
kebijakan itu juga didefinsikan dalam pengertian yang terbatas, dan merefleksikan
pemahaman dan kepercayaan personal sang presiden terhadap agama. Daftar agama
yang dimiliki oleh pemerintahan Bush hanya terbatas pada agama-agama monotheis
yang cukup familiar keberadaannya dalam budaya sekuler dan Agama Kristen di
Amerika. Kelompok-kelompok tertentu seperti The Nation of Islam tidak termasuk
dalam daftar.135 Meskipun faktor-faktor tersebut cenderung untuk menegaskan domain
public reason dan partisipasi beberapa kelompok di dalamnya, namun prosesnya akan
terkoreksi dengan sendirinya bila diaplikasikan dalam kerangka jaring pengaman yang
sudah disebutkan diatas.
Negara memang mempunyai potensi untuk beroperasi sebagai diskursus yang
hegemonik dalam public reason, tapi kekuatan-kekuatan non-agama atau ideologi
sebetulnya juga memiliki potensi yang sama. Pemisahan antara agama dan negara bisa
dikompromikan bila ajaran-ajaran agama tertentu, seperti yang sudah diinterpretasikan
oleh otoritas keagamaan atau elit penguasa, dibuat sebagai kondisi awal untuk
meciptakan partisipasi publik dalam public reason. Hal yang sama bisa dilakukan dari
perspektif nasionalis atau sekular. Hal seperti ini terlihat dalam kontroversi yang barubaru ini terjadi di Perancis mengenai larangan pemakaian jilbab pada siswi-siswi
muslim di sekolah. Keputusan untuk melarang pemakaian jilbab atas nama sekularisme
mencerminkan kecendrungan pemerintah Perancis untuk memberikan prioritas pada
proses asimiliasi imigran ke dalam kerangka budaya kewarganegaraan Perancis.
Keputusan ini merupakan kebijakan yang bertujuan untuk mengintegrasikan berbagai
identitas kultural dan etnis ke dalam satu kerangka multikulturalisme nasional yang
lazim berlaku di negara-negara Eropa Utara dan Kanada. Konsep sekularisme Perancis
yang diperkenalkan disini berfungsi sebagai instrumen untuk memberlakukan
134
Mary C. Churchill, “In Bad Faith? Possibilities and Perils in the Age of Faith- Based Initiatives.”
Journal of the American Academy of Religion, 70:4 (2002), 844, 845.
135
Rita Nakashima Brock, “The Fiction of Church and State Separation: A Proposal for Greater Freedom
of Religion”, Journal of the American Academy of Religion, 70: 4 (December 2002), 856.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
keseragaman kultural di kalangan warga negara Perancis, terutama di kalangan
imigran.
Debat mengenai jilbab dan sekularisme di Perancis harus ditempatkan dalam kerangka
hubungan post-kolonial yang lebih luas, termasuk hubungan antara Perancis dan
koloninya yang masih ambivalen, dan juga dalam konteks persepsi stereotype dan
ketakutan mereka terhadap Islam dan muslim.136
Seringkali muslim yang menjadi
korban rasisme dan diskriminasi, dianggap dan diperlakukan sebagai orang luar dalam
masyarakat Perancis, padahal banyak dari mereka yang memiliki kewarganegaraan
Perancis.137 Kasus ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar representasi
dan akses muslim dalam public reason di institusi negara dan non-negara Perancis. Kasus
Perancis juga mengilustrasikan bagaimana sekularisme bisa dimunculkan sebagai ide
mengenai budaya nasional yang hegemonik untuk meminggirkan identitas-identitas
budaya lain, sehingga sebetulnya melanggar persyaratan public reason itu sendiri.
Peminggiran individu atau kelompok tertentu dari cakupan public reason karena alasan
nasionalisme, ideologi sekuler atau agama selalu tidak memuaskan. Dengan kata lain,
kasus Perancis menggambarkan bahwa bahwa prinsip-prinsip sekularisme itu bisa
dilanggar dengan alasan untuk melindunginya.
Kesimpulan ini tentu saja bisa
diperdebatkan lagi, namun penting untuk dicatat, public reason tidak akan terlaksana
tanpa perlindungan terhadap prinsip-prinsip jaring pengaman yang dibutuhkannya.
Sebagaimana yang sudah dicatat tadi, sekularisme sebagai pemisahan antara agama dan
negara adalah dasar atau kondisi minimal bagi terciptanya partisipasi publik dalam
ruang public reason. Namun hubungan antara sekularisme dan agama bisa menjadi lebih
signifikan dalam domain public reason itu sendiri. Agama mungkin menyediakan
kerangka yang penting bagi beberapa aktor sosial untuk mengemukakan klaimklaimnya, selama kerangka tersebut diformulasikan dalam argumentasi yang bisa
diakses secara publik. Hubungan antara agama dan sekularisme bisa juga saling
menguatkan dalam batasan berikut ini. Sekularisme membutuhkan agama untuk
136
Jane Freedman, “Secularism as a Barrier to Integration? The French Dilemma.” International Migration,
42: 3 (2004), 6.
137
Freedman 8
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
menyediakan sumber panduan moral yang bisa diterima secara luas oleh sebuah
komunitas politik dan juga untuk memenuhi dan mengatur kebutuhan-kebutuhan non
politis ummat beragama yang ada dalam komunitas tersebut. Sebaliknya, agama juga
membutuhkan sekularisme untuk memediasi hubungan antara komunitas yang berbeda
(baik komunitas agama, komunitas anti agama atau non-agama) yang memiliki ruang
politik atau ruang public reason yang sama. Sinergi yang saling menguntungkan ini bisa
dijelaskan dengan merujuk pada karakter penting sekularisme.
Sekularisme sebagai pemisahan agama dan negara dicirikan dengan satu batasan, yaitu
ia harus membatasi isi normatifnya pada batas minimum bila ingin mencapai tujuannya
untuk melindungi pluralisme politik dalam masyarakat yang heterogen dan menjamin
keberadaan ruang public reason yang menjadi tempat untuk tumbuhnya pluralisme
semacam itu. Dengan kata lain sekularisme bisa menyatukan berbagai komunitas iman
dan ritual yang berbeda menjadi satu komunitas politik bila klaim ia membuat klaim
moral yang minimal. Benar bahwa semua variasi sekularisme mengharuskan adanya
etos sipil
(civic ethos) yang berdasarkan pemahaman tertentu mengenai hubungan
individu dengan komunitasnya. Etos tersebut bisa sangat kompleks dan mengakar
untuk menyelesaikan beberapa isu moral yang dihadapi oleh masyarakat. Namun
kemampuan sekularisme untuk mencapai tingkat konsensus tertentu yang dibutuhkan
untuk menumbuhkan dan mempertahankan stabilitas politik dalam masyarakat yang
beragama majemuk berarti bahwa sekularisme tidak selalu dapat menangani masalahmasalah etis dan moral yang fundamental yang sering tidak disepakati di kalangan
komunitas yang berbeda tersebut.
Tak ada varian sekularisme, yang diketahui masyarakat manusia saat ini, yang mampu
untuk menempati posisi agama atau menyediakan pondasi lintas-budaya yang berlaku
sebagai norma universal hak asasi manusia. Bahkan, umat beragama membutuhkan
justifikasi agama untuk sekularisme itu sendiri. Saya tidak hendak mengatakan bahwa
keterlibatan agama selalu penting bagi sekularisme untuk bisa diterima dimana dan
kapanpun, namun agama dibutuhkan untuk meraih perhatian umatnya, yang saat ini
ternyata menjadi mayoritas penduduk dunia ini.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa sekularisme tidak mampu untuk
menyelesaikan tuntutan dan penolakan yang mungkin dimiliki oleh umat beragama
terhadap salah satu prinsip pemerintahan sekular. Diskursus sekuler murni bisa
menghormati agama secara umum, namun kemampuannya untuk membantah
justifikasi keagamaan untuk beberapa kebijakan nampaknya tidak mungkin bisa
meyakinkan ymat beragama. Pengakuan terhadap kesetaraan status warga negara nonmuslim tidak menarik bagi umat Islam tanpa adanya justifikasi ajaran agama Islam
terhadap salah satu prinsipnya.
Dengan kata lain, agar sekularisme kondusif bagi
terciptanya pengertian lintas agama, pluralisme dan mendukung ruang public reason,
maka ia harus mengurangi kapasitasnya untuk melegitimasi dirinya sendiri sebagai
prinsip universal yang bisa berlaku tanpa merujuk pada sumber moral apapun.
Sekularisme bisa menghalangi pemberlakukan langsung pemahaman doktrin agama
sebagai kebijakan negara, namun ia tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan umat
beragama dalam mengekspresikan implikasi moral kepercayaannya dalam ruang
publik. Karena itulah, kenapa saya menekankan bahwa sekularisme sebagai pemisahan
negara dan agama tetap diperlukan, namun tidak memadai jika tidak mengakui dan
mengatur peran politik agama. Kedua elemen besar dalam definisi sekularisme ini bisa
ditingkatkan dengan mengakui adanya pemahaman kontekstual terhadap tujuan dan
fungsi pemerintahan sekuler di setiap tempat.
Disinilah agama dapat memainkan
peranan yang amat penting. Sekularisme bisa hanya dianggap sebagai sesuatu yang
berlaku temporer oleh umat beragama kecuali jika mereka juga bisa meyakini bahwa
sekularisme itu konsisten dengan (atau paling tidak diungkapkan secara implisit dan
ditetapkan dalam) doktrin-doktrin agama.
Persyaratan ini tidak sesulit yang terlihat, dikotomi untuk memilih salah satu di antara
agama dan sekularisme sudah gagal, karena konsep sekuler tidak bisa berfungsi tanpa
adanya ide agama.138 Politik dan agama tidak bisa beroperasi dalam realitas yang
berbeda, salah satunya akan terus memberikan informasi atau diberikan informasi oleh
138
Talal Asad, “Religion, Nation-State, Secularism,” in Nation and Religion, ed. Peter van der Veer and
Hartmut Lehmann (Princeton, NJ: Princeton University Press, 1999), 192.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
yang lain. Kekuatan konsep sekuler untuk memotivasi ummat beragama secara
langsung amat terbatas karena mereka dipenuhi oleh dalam konsep agama yang
memiliki kekuatan untuk melakukan proses cek and balance. Seperti yang diungkapkan
oleh Harold Berman bahwa “orang tidak akan memberikan dukungan mereka pada
sistem politik dan ekonomi atau bahkan pada filsafat, kecuali jika sistem-sistem itu
mencerminkan kebenaran yang lebih tinggi dan suci. Orang akan mengabaikan institusi
yang tampak tidak berkaitan dengan realitas transenden yang mereka percayai
berhubungan dengan seluruh keberadaan mereka, bukan hanya apa yang mereka
percayai dalam benak mereka.”139 Sebagai analisis final, saya nyatakan bahwa
sekularisme tidak bisa memotivasi umat beragama untuk memegang salah satu
prinsipnya tanpa melibatkan ajaran agamanya. Namun agama juga membutuhkan
sekularisme untuk menjamin keberadaan ruang yang aman dan valid bagi praktik dan
kepercayaannya. Sebagaimana yang sudah saya coba jelaskan, hubungan antara agama
dan sekularisme dengan demikian harus sinergis dan saling mendukung, bukan saling
bermusuhan dan konfrontatif.140
Penutup
Kilas balik pengalaman sekularisme Barat yang dikemukakan dalam bab ini ditujukan
untuk menghalau persepsi umum bahwa sekularisme berarti peminggiran agama dari
kehidupan publik dan politik. Baik negara maupun otoritas atau lembaga keagamaan
bisa mengambil pendekatan ekslusif yang pasti pada yang lain. padahal, keduanya
saling membutuhkan dalam menghadapi berbagai isu yang sama dalam konteks sosial
yang sama pula. Nikki Kaddie menyimpulkan relevansi pengalaman Barat ini untuk
masyarakat Islam saat ini, “sekularisme di wilayah Barat manapun adalah sesuatu yang
sederhana dan sudah demikian adanya. Merebaknya praktik dan kepercayaan sekular
di Eropa dan Amerika Serikat telah menimbulkan perubahan yang lambat dan debat
yang kadang tajam namun berkelanjutan. Akibatnya, merupakan sebuah kecerobohan
untuk mengharapkan bahwa reformasi kalangan sekuler bisa dilaksanakan lebih mudah
139
Harold Berman, The Interaction of Law and Religion (Nashville, TN: Abingdon, 1974), 73.
Abdullahi Ahmed An-Na`im, “The Interdependence of Religion, Secularism, and Human Rights,”
Common Knowledge, 11:1 (Winter 2005).
140
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
di Timur Tengah atau Asia Selatan.”141 Meskipun pengalaman setiap negara dan
masyarakat pasti sangat kontekstual, bahkan terlihat ambigu dan berubah-ubah di
negara-negara Barat dan di tempat-tempat lain, namun refleksi komparatif tetap relevan
dan berguna untuk masyarakat Islam saat ini untuk berjuang menghadapi isu yang
sama.
Masalah lain yang berkaitan dengan hubungan agama dan negara yang harus dihadapi
oleh masyarakat manapun saat ini adalah masalah status konstitusi dan hukum agama.
Seperti yang sudah kita lihat, sekularisme memungkinkan adanya berbagai macam
variasi pilihan status agama dalam undang-undang dasar. Salah satunya dengan
mengizinkan para pemuka agama berpartisipasi dalam institusi-institusi negara atau
badan legisalatif dan membiarkan mereka berusaha untuk mempromosikan nilai-nilai
agama mereka seperti anggota legislatif terpilih lain. Kemungkinan lain yang
ditawarkan oleh pengalaman negara-negara Eropa adalah sistem kesepakatan bilateral
khusus antara negara dan entitas-entitas keagamaan seperti di Spanyol dan Itali saat ini.
Ide ini bisa menjadi alternatif ketiga dari sistem teokrasi atau netralitas negara yang
ketat. Sistem ini memungkinkan adanya fleksibilitas dalam merekonsiliasikan klaimklaim yang saling bertentangan dan menjamin keberadaan kelompok minoritas atau
sekte dalam Islam. Realitas kemajemukan agama yang dihadapi masyarakat Islam bisa
juga dihadapi dengan berbagai mekanisme yang mempromosikan pluralisme yang
genuine dan penerimaan terhadap perbedaan agama. Bisa juga dilakukan dengan
memberikan ketentuan yang berbeda untuk beberapa daerah di sebuah negara seperti
yang tampak dalam kasus daerah Alsace Lorraine di Perancis atau dengan menyamakan
aturan bagi seluruh daerah di sebuah negara. Ketegangan yang terjadi saat ini antara
pengalaman masyarakat Islam pra-kolonial dan tuntutan untuk mendapatkan
kedaulatan teritorial bisa diselesaikan melalui pemberlakukan aturan yang berbeda
untuk beberapa daerah di satu negara, agar kerjasama atau akomodasi antara institusi
agama dan negara dapat berlangsung lebih dekat di beberapa daerah. Namun skema
seperti itu pasti tidak konsisten dengan persyaratan prinsip-prinsip konstitusionalisme,
HAM dan kesetaraan warga negara yang sudah kita diskusikan dalam bab 3.
141
Nikki Keddie, “Secularism and its discontents.” Daedalus 2003 (3), 20.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Kesulitan dihadapi oleh negara-negara Barat dalam mengatur hubungan antara agama
dan negara dalam bidang pendidikan telah memunculkan berbagai macam pilihan
kebijakan dan mekanisme yang mungkin bisa berguna bagi masyarakat Islam.
Kesamaan dan perbedaan antara tradisi Katolik dan Islam, serta antara masyarakat
Barat dan Islam bisa berguna dalam konteks perbicangan ini. Sebagai contoh, Amerika
dan Perancis mengambil pendekatan yang berbeda dalam menerapkan doktrin
pemisahan agama dan negara di negaranya. Pendanaan negara bagi pendidikan agama
atau lembaga pendidikan agama masih menjadi isu kontriversial di kedua negara itu.
Materi pendidikan dan kontrol terhadapnya juga masih menjadi bahan persaingan
antara pihak pemerintah yang liberal dan sekuler dengan gereja Katolik.
Masalah ini juga bisa merupakan tantangan bagi semua masyarakat Islam dan bisa
menimbulkan berbagai masalah krusial. Sebagai contoh masalah status pendidikan
agama di sekolah-sekolah negeri, diperbolehkan saja atau diharuskan?
Bagaimana
design pendidikan untuk siswa non-muslim atau siswa syai’ah yang belajar di
lingkungan mayoritas sunni atau sebaliknya? Bila pendidikan agama diperolehkan di
sekolah-sekolah negeri, haruskah negara membayar gaji guru-guru dari komunitas
agama yang berbeda dan dengan demikian mempunyai hak untuk memberikan
pendapat dalam soal materi dan metode pendidikan agama? apa prinsip yang mengatur
peran negara dalam pendidikan swasta? Terlepas dari kenyataan apakah negara
memberikan subsidi biaya pendidikan di sekolah swasta atau komunitas agama
sendirilah yang menanggung seluruh pembiayaan, haruskah negara memiliki
kekuasaan untuk menjamin keberadaan nilai-nilai sipil seperti kesetaraan dan non
diskriminasi dalam kurikulum sekolah tersebut?
Bisakah aparatur negara tetap
bersikap netral dan tidak memaksakan kepercayaan yang dianutnya atau kepercayaan
kelompok mayoritas dalam melakukan pengawasan seperti itu? Sebagai contoh,
sekolah-sekolah tradisional Islam sering memiliki peran penting dalam pendidikan dan
sosial terutama di daerah-daerah yang kesempatan pendidikannya terbatas atau bagi
siswa yang kurang memiliki akses terhadap pendidikan. Namun otonomi sekolah
semacam itu juga bisa menimbulkan masalah serius, karena kadang-kadang kurikulum
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
yang mereka miliki cenderung menganggap enteng prinsip-prinsip konstitusionalisme,
hak asasi manusia dan kesetaraan warga negara.
Masalah hubungan agama dan negara juga berlaku pada persoalan keuangan dan
organisasi keagamaan. Jika ajaran-ajaran Islam tidak dibatasi penerapannya hanya pada
persoalan-pesoalan privat, apa kewajiban yang harus negara penuhi menyangkut gaji
ulama dan ilmuwan Islam, biaya pengurusan masjid dan bangunan keagamaan lain
serta pajak? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu juga harus dipertimbangkan dalam
konteks perbincangan mengenai peran pemimpin dan institusi agama yang kuat dalam
pentas politik dan kemampuan mereka untuk menentang kebijakan negara tentang
masalah moral dan sosial. Dengan demikian masyarakat Islam harus menemukan cara
sendiri untuk menegosiasikan potensi konflik yang mungkin muncul di antara jaminan
kebebasan mendirikan asosiasi keagamaan dan mengekspresikan keberagamaan
dengan perlindungan dan promosi nilai-nilai hak asasi manusia seperti hak-hak
perempuan dan masyarakat agama minoritas.
Akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada paradoks permanen dalam persaingan antara
peran otonomi dan otoritas agama di satu sisi dengan otoritas politik, kekuasaan hukum
dan negara di pihak lain. Paradoks ini dipicu oleh karakter dasar kedua institusi ini. di
satu sisi, komunitas-komunitas agama membutuhkan kerjasama negara untuk
melaksanakan misinya. Namun betapapun kaya dan terorganisirnya sebuah komunitas
agama, ia tidak bisa menghindari konflik dengan negara karena keduanya berusaha
untuk mempengaruhi, bila tidak mengontrol, perilaku warga negara yang tinggal di
satu wilayah yang sama. Di pihak lain, negara harus sedikitnya mengontrol institusiinstitusi
keagamaan
untuk
membatasi
cara-cara
mereka
mempengaruhi
dan
membentuk perilaku publik penganutnya. Dengan kata lain, bahkan jika negara tidak
diharuskan
atau
diperbolehkan
untuk
memberikan
dukungan
material
dan
administratif bagi komunitas-komunitas agama yang kaya dan teroganisir, ia tetap bisa
memberikan mereka kebebasan untuk menyebarkan ajarannya atau terlibat dalam
aktvitas yang mereka lakukan dalam kerangka kebebasan beragama dan memeluk
kepercayaan.
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
Pendekatan yang saya coba klarifikasi dan perdalam dalam buku ini dimaksudkan
untuk mengenali paradoks permanen ini dan kemudian mencari cara untuk memediasi
konsekuensinya melalui seperangkat mekanisme, daripada memaksakan sebuah solusi
akhir yang jelas. Sebagai permulaan, paradoks ini mesti dikenali melalui komitmen
yang konsisten dan jelas terhadap kemungkinan untuk memadukan netralitas negara
terhadap agama dengan tetap menerima peran agama dalam kehidupan publik
masyarakat. Sebagaimana yang sudah saya coba jelaskan dalam bab 2, pemaduan
seperti ini lebih mungkin cocok dengan sejarah masyarakat Islam dan lebih konsisten
dengan karakter dasar syari’ah daripada ide postkolonial mengenai negara Islam yang
memberlakukan syari’ah sebagai hukum dan kebijakan resmi negara. Namun,
kombinasi yang sulit ini tidak bisa dipertahankan dalam konteks negara modern tanpa
adanya kerangka politik dan hukum yang jelas untuk memediasi ketegangan dan
konflik yang pasti muncul. Karena itulah, saya mengajukan prinsip-prinsip
konstitusionalisme, hak asasi manusia, dan kesetaraan status warga negara yang hanya
bisa berfungsi jika ada legitimasi religius dan kultural yang bisa memberikan inspirasi
bagi orang-orang untuk berpartisipasi dalam aksi politik dan hukum yang
berkelanjutan.
Dengan demikian, kita membutuhkan diskursus keislaman untuk melegitimasi dan
mengefektifkan strategi yang diperlukan untuk mengatur peran publik Islam. Pada saat
yang sama, diskursus itu juga tidak bisa muncul atau efektif tanpa pengamanan dan
stabilitas yang disediakan oleh negara. Kesimpulannya, jelas bahwa hubungan antara
agama dan negara merefleksikan sebuah paradoks yang permanen, hingga memisahkan
keduanya jelas diperlukan meskipun dengan tetap mengakui hubungan organik antara
agama dan politik. Saya bisa terus melanjutkan perbincangan mengenai paradoks yang
beragam ini, tapi tujuannya harus untuk membangun sebuah teori yang bagus yang bisa
memfasilitasi dan memungkinkan terwujudnya aksi yang efektif. Kita harus mulai
dengan apa yang kita punya baik pada para level teoritis maupun level praksis agar bisa
berkembang menuju mediasi yang berkelanjutan. Nah, untuk mengklarifikasi dan
mengembangkan teori ini, saya akan mempertimbangkan pengalaman masyarakat-
©Abdullahi Ahmed An-Na`im
masyarakat Islam di tiga negara: India, Turki dan Indonesia untuk menggaris bawahi
betapa sulitnya mempertahankan dan mengembangkan kombinasi antara netralitas
negara terhadap agama di satu sisi dengan peran publik agama di pihak lain. Situasisituasi tersebut perlu dipertimbangkan untuk melihat apa yang tidak boleh dilakukan
dan apa yang harus dilakukan untuk menjamin masa depan syar’ah yang lebih baik
dalam masyarakat dan komunitas Islam di seluruh dunia.
Download