COVER

advertisement
MAPPING STUDY
REPORT
Disampaikan dalam
LOKAKARYA NASIONAL
Belajar dari Pengalaman Memperkuat Kewirausahaan Petani Kecil melalui Pengetahuan dan
Inovasi
Athik Hidayatul Ummah
Mapping/scoping study
Tersedianya informasi dan pengalaman
belajar bagi organisasi-organisasi
petani tentang berbagai model dan
strategi untuk meningkatkan pelayanan
kewirausahaan kepada anggotanya
 Layanan pengembangan usaha /
kemandirian ekonomi
1. Pemetaan / identifikasi potensi lokal &
basis mata pencaharian
2. Capacity building (pendidikan analisis
usaha & pemasaran, pertanian alami,
pelatihan membuat produk kemasan,
dll)
3. Asistensi, motivasi
4. Membantu pemasaran & Koperasi
Karya Insa
Lesson Learnt
MODEL-MODEL KONSELING
• Membangun kesadaran kritis kepada petani
akan kemampuan dan SDA yang dapat
dikelola.
• Tidak membatasi kerjasama komunitas
• Kegiatan produksi sebagai kegiatan sosial
(tidak hanya money oriented)
• Nilai kebersamaan dan kolektif (tidak
induvidualis)
Challanges
 Program pinjaman/kredit bebas bunga
ditiadakan
 Petani kurang percaya diri jika tidak
memiliki modal besar
 Eksternal (kapitalisasi, globalisasi, dll)
Key of Success
 Potensi alam
 Berfokus pada pasar lokal untuk
memenuhi kebutuhan lokal
 Kemudahan akses pasar (termasuk
hubungan dengan kelompok
konsumen perkotaan)
Aliansi Organis Indonesia
1.
2.
3.
4.
Revolving Fund; memfasilitasi
dukungan keuangan bagi petani kecil
untuk mencapai dan mengembangkan
pasar produk.
Capacity building (pelatihan bisnis
komunitas)
Outlite AOI
Even / Pameran Produk
• Pengembalian dana bergulir
tidak lancar
• Masalah internal petani
• Pengorganisiran kelompok yg
lemah
Key of Success
Organisasi petani bagus
Pendamping rutin
melakukan
pendampingan
Lesson Learnt



Kelompok tani yang paling berhasil adalah di
Marsudi Mulyo (Gapoktan) dan Istiqomah;
mengembalikan dana bergulir sesuai dengan MoU.
Hal itu karena pengoragnisasiannya kuat.
Dana harus dikelola secara professional. Karena
selama ini dana bergulir belum dilaksanakan
dengan profesional, masih ada proses negosiasi
ketika kelompok tani tidak mengembalikan dana
tepat waktu.
Komunikasi intensif terkait dengan laporan tentang
pengembangan dan penyelesaian.
WAMTI
(WAHANA MASYARAKAT TANI & NELAYAN
INDONESIA)
UPED
USAHA
PEDESAAN
agar dipedesaan
berkembang usaha
bersama warga desa dalam
mengolah hasil produksi
pedesaannya, sehingga
dapat meningkatkan
pendapatan dan daya beli
masyarakat desa terutama
rumah tangga petani kecil.
Challenges
 Petani sulit bergerak
menggunakan metode atau
pendekatan baru sebelum
melihat hasilnya.
 Pembentukan kelompok pada
masyarakat yang individualistik
Key of Success
• Kelompok tani memiliki keinginan untuk
mengetahui dan menerapkan apa yg dipelajari
• Soliditas kelompok
Lesson Learnt
• Pemberdayaan petani dapat dilakukan dengan
memperkuat organisasi petani untuk
membangun usaha pedesaan. Pemerintah
dapat menjadi mitra.
• Kegiatan bersama dalam kelompok masih
belum dianggap penting oleh beberapa
anggota. Mereka hanya sekedar melihat
bagaimana budidaya berhasil, mendapatkan
modal, dan memasarkannya.
SPI
Serikat Petani Indonesia
Kebun Kolektif (lahan organisasi yang dikelola bersama)
Pendidikan dan pelatihan
Pertanian berkelanjutan berbasis keluarga
Koperasi Serikat Petani Indonesia
Badan Usaha Milik Organisasi (di tingkat pusat)
Challenges
 Kesadaran dan kesabaran anggota untuk
membangun bisnis ekonomi kurang,
karena perputaran bisnis cukup cepat.
 Modal. sementara ini anggota hanya
mengandalkan iuran dan simpanan
anggota, sehingga yang diperoleh tidak
besar. Modal dari luar hanya bersifat
membantu dan menambah modal.
 Asistensi yang kurang intens
Key of Success
 Petani yang berhasil melakukan usahanya
adalah mereka yang intens melakukan
komunikasi dan kordinasi. Rapat dilakukan
secara intens, pendidikan & pelatihan juga
berjalan.
 Adanya iuran yang rutin sebagai
penambahan modal.
 Asistensi berjalan dengan baik.
LESSON LEARNT
Kebersamaan dibangun untuk melawan
sistem/kebijakan yang tidak memihak. Anggota SPI
berasal dari petani kecil atau tidak punya tanah. Jadi,
perjuangannya adalah reklaming, melakukan tata kelola
lahan pertanian yang baik dan membangun koperasi.
Hasil koperasi masih hanya cukup untuk jalannya
organisasi di tingkat basis. Hasil produk anggota
dipasarkan ke pasar lokal maupun pasar induk.
API
ALIANSI PETANI INDONESIA
Program manajemen produksi dan
pemasaran bersama (kolektif)
1. Penguatan Organisasi Petani lokal
2. Peningkatan akses pasar dan posisi
tawar petani
Challanges
 Terbatasnya kapasitas petani untuk
mengelola bisnis.
 Pemuda tidak lagi tertarik untuk bekerja di
sektor pertanian.
 Konsep petani tentang koperasi adalah
untuk mendapatkan bantuan keuangan.
Koperasi memiliki sejarah negatif di masa
lalu.
Key of Success
• Dengan praktek pertanian alami, petani dapat
membuat pupuk mereka kapan saja sendiri yg
mereka butuhkan. Mereka tidak lagi harus
membayar untuk pupuk & bergantung pasokan.
• Dengan pemasaran kolektif dan koperasi, petani
dapat menarik lebih banyak pembeli untuk
bermitra dengan mereka, & mendapatkan
informasi harga yg lebih transparan.
LESSON LEARNT
Strategi yang telah terbukti berhasil adalah
menghubungkan organisasi petani lokal
dengan perusahaan swasta.
Dengan sekolah lapangan dan kegiatan
penyuluhan, petani bisa mendapatkan
pengetahuan dan langsung praktek di
lapangan. Belajar dari petani ke petani.
Conclusion
• Setiap Organisasi Petani mempunyai program
untuk mensupport petani dalam bisnis pertanian
(Jasa Pelayanan Bisnis)
• Upaya untuk memperkuat organisasi petani di
tingkat basis
• Kemandirian petani dan akses modal
• Akses pasar dan jaringan
Download