keputusan komisi fatwa mui dki jakarta tentang hukum donor darah

advertisement
KEPUTUSAN KOMISI FATWA MUI DKI JAKARTA
TENTANG HUKUM DONOR DARAH BAGI ORANG
YANG SEDANG BERPUASA
Bismillahirrahmanirrahim
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi DKI Jakarta dalam rapatnya pada
tanggal 22 Rabi’ul Akhir 1421 H, bertepatan dengan tanggal 24 Juli 2000 M yang membahas
tentang Hukum Donor Darah bagi Yang Sedang Berpuasa, maka setelah :
Menimbang :
1. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang-orang yang menderita
berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh kurang darah atau tertimpa musibah
kecelakaan dan banyak mengeluarkan darah sehingga memerlukan penambahan darah
dari orang lain.
2. Bahwa untuk membantu penyembuhan orang-orang yang menderita penyakit karena
kurang darah atau tertimpa musibah kecelakaan dan banyak mengeluarkan darah, agama
Islam menganjurkan kepada umatnya untuk menolong orang tersebut dengan melakukan
transfusi darah (pemindahan darah), yaitu; penyaluran darah, baik langsung maupun
tidak langsung dari seseorang yang sehat yang bersedia menjadi donor darah ke dalam
tubuh seseorang penderita penyakit atau tertimpa musibah kecelakaan yang
membutuhkan tambahan darah untuk keperluan pengobatan.
3. Bahwa sebagian umat Islam mempertanyakan tentang boleh atau tidak nya seseorang
melakukan donor darah kepada orang lain pada waktu ia sedang berpuasa, menurut
hukum Islam.
4. Bahwa untuk memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang hukum transfusi
(donor) darah bagi orang yang sedang berpuasa, maka MUI propinsi DKI Jakarta
memandang perlu untuk segera mengeluarkan Fatwa Tentang Hukum Donor Darah Bagi
Orang Yang Sedang Berpuasa.
Mengingat :
1. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Majelis Ulama Indonesia (PD/PRT MUI)
2. Pokok-pokok Program Kerja MUI Propinsi DKI Jakarta tahun 2000 -2005
3. Pedoman Penetapan Fatwa MUI
Memperhatikan :
Saran dan pendapat para ulama peserta rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Propinsi DKI Jakarta pada tanggal 22 Rabi’ul Akhir 1421 H, bertepatan dengan tanggal 24
Juli 2000 M, yang membahas tentang Hukum Donor Darah Bagi Orang Yang Sedang Berpuasa.
Memutuskan :
Dengan bertawakkal kepada Allah SWT dan memohon ridho-Nya memfatwakan sebagai
berikut :
1. Umat Islam wajib membantu sesama manusia yang memerlukan bantuannya dalam halhal yang positif, termasuk dalam melakukan donor (transfusi/pemindahan) darah kepada
penderita suatu penyakit atau kepada orang yang tertimpa musibah kecelakaan yang
membutuhkan tambahan darah untuk keperluan pengobatan. Sebagaimana telah
difirmankan dalam Surat Al-Maidah ayat 2 :
2.
“Dan tolong- menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebaikan dan takwa, dan
jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.
Demikianlah juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim
dan Ibnu Majah :
“ Barang siapa melepaskan seorang muslim dari sesuatu kesukaran maka Allah SWT
akan melepaskannya pula dari sesuatu kesukaran di hari kiamat”.
(H.R. Bukhari- Muslim dari Ibnu Majah).
Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Ishbahari dari
sahabat Abdullah Ibnu Umar RA :
“Manusia yang paling disukai Allah ialah manusia yang paling bermanfaat bagi
manusia”.
Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah R.A.
“Sesungguhnya Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu mau
menolong saudaranya”.
Menganjurkan kepada seluruh warga DKI Jakarta, terutama umat Islam agar berlomba
lomba menjadi donor darah tetap kepada Palang Merah Indonesia setempat. Karena dengan
menjadi donor darah, berarti kita telah menyediakan darah untuk membantu orang-orang
yang membutuhkannya. Besar kemungkinan, nanti orang-orang yang membutuhkan donor
darah tersebut adalah diri atau keluarga dan teman sejawat. Di samping itu, pengambilan
darah dari para penyumbang (donor) akan menambah kesehatan dan tidak akan
membahayakan mereka karena hal itu dilakukan dengan syarat-syarat dan pemeriksaan
medis.
Pengeluaran darah dari orang yang sedang menunaikan ibadah puasa, tidak membatalkan
atau mengurangi kesempurnaan ibadah puasa orang yang bersangkutan. Bahkan
ditinjau dari sudut fadilah atau keutamaan, memberikan sumbangan darah oleh orang yang
sedang berpuasa kepada orang yang membutuhkannya adalah suatu amal shaleh yang
pahalanya lebih besar dibanding dengan amal shaleh yang dilakukan di luar bulan puasa.
Apabila pemberian sumbangan darah tersebut mengakibatkan bahaya (dharar) bagi
penyumbang, atau mengakibatkannya harus minum sebelum memberikan darah atau harus
makan sesudah memberikan sumbangan darah, maka perbuatan itu tidak dibenarkan oleh
ajaran Islam.
Jakarta 22 Robi’ul Akhir 1421 H
24 Juli 2000 M
KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA
Ketua,
Sekretaris,
Ttd
Prof. KH. Irfan Zidny, MA
Ttd
KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA
Mengetahui,
Dewan Pimpinan MUI DKI Jakarta,
Ttd
KH. Achmad Mursyidi
Ketua Umum
Download