TEORI POLITIK/PEMERINTAHAN

advertisement
TUJUAN MAGISTER ILMU PEMERINTAHAN
(PROGRAM S2 ILMU PEMERINTAHAN)
1. Menguasai Ilmu Pemerintahan
2. Menguasai Metodologi Ilmu Pemerintahan
3. Mampu meneliti masalah-masalah pemerintahan
4.Terbuka, tanggap terhadap perubahan ilmu pengetahuan dan
teknologi
5. Peka terhadap masalah-masalah pemerintahan
6.Mampu merumuskan dan menyelesaikan masalah -masalah
pemerintahan dengan penalaran ilmiah
7. Seleksi atau persiapan S3
Poin 1, 2, 3 diukur dengan TESIS. Poin 1,2,3,4,5,6 merupakan fungsi
manifest (harus kongkrit) sementara poin 7 fungsi latent
(terselubung, tidak secara langsung).
TUJUAN PROGRAM S3/ PROGRAM
DOKTOR ILMU PEMERINTAHAN
1.
2.
3.
4.
5.
Pendalaman dan pengembangan pemahaman terhadap
gejala-gejala
fenomena
pemerintahan
dengan
menggunakan metodologi dan filsafat ilmu.
Pendalaman dan pengembangan pemahaman konsep/
teori pemerintahan.
Dapat menguji teori, mengembangkan teori dan
menciptakan teori pemerintahan.
Meningkatkan keampuan analisis dan prediksi terhdap
gejala-gejala/ fenomena-fenomena pemerintahan yang
terjadi.
Dalam rangka menguasai Ilmu Pemerintahan dan
memecahkan masalah-masalah pemerintahan dengan
penalaran ilmiah.
Seorang Magister/Doktor Ilmu Pemerintahan dituntut
harus seperti seorang dokter spesialis yang mampu
mengamati, menganalisis berbagai penyakit dan
mengobatinya dengan memberikan resep yang tepat
dan
mujarab.
Tentunya
untuk
seorang
Magister/Doktor Ilmu Pedmerintahan, penyakitnya
itu adalah:
masalah-masalah pemerintahan yang muncul ke
permukaan yang dapat mengganggu kepentingan
publik.
SISTEM KULIAH
1. CERAMAH
2. DISKUSI
3. SEMINAR/PRESENTASI DAN
DISKUSI
SISTEM PENILAIAN/EVALUASI
1. UAS
2. TUGAS/PAPER
3. UTS
4. KEAKTIPAN DALAM DISKUSI
5. KEHADIRAN
SISTEMATIKA PAPER
1.Deskripsi Pokok Pemikiran/filsafat Politik/Pemerintahan
2.Analisa dan interpretasi serta kaitannya Dengan Realita
Politik/Pemerintahan sekarang (Indonesia atau Luar
Indonesia)
3.Hipotesis / Kesimpulan.
FILSAFAT DAN TEORI POLITIK/
PEMERINTAHAN
BUKU WAJIB
1.Von Schmid, Diterj. Boentarman,1954. PEMIKIRAN
TENTANG NEGARA DAN HUKUM., PT Pembangunan,
Jakarta.
2.Von Schmid, Diterj. Wiratno,1980., AHLI AHLI PIKIR
BESAR TENTANG NEGARA DAN HUKUM., PT
Pembangunan, Jakarta.
3.Magnis-Suseno,Franz. 1987. ETIKA POLITIK: PrinsipPrinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern.,PT
Gramedia,Jakarta.
4.Varma, SP., Diterj. Yohanes Kristiarto SL., 1987.
TEORI POLITIK MODERN., CV Rajawali, Jakarta.
5.Losco , Joseph dan Leonard Williams, Diterj. Haris
Munandar.,2005. POLITICAL THEORY:Kajian Klasik dan
Kontemporer.,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
6.Gandhi, Madan G. 1984.MODERN POLITICAL THEORY.
Oxford & IBH Publishing Co. New Delhi.
7.Budiardjo,Miriam(Peny.).1986. ANEKA PEMIKIRAN
TENTANG KUASA DAN WIBAWA.,Sinar Harapan, Jakarta.
8.Sjadzali,Munawir.,1990. ISLAM DAN TATA
NEGARA:Ajaran,Sejarah dan Pemikiran. UI Press,Jakarta.
9.Magnis-Suseno, Franz,1999. PEMIKIRAN KARL MARX:
Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. PT
Gramedia, Jakarta.
1o.Syam, Firdaus. Pemikiran Politik Barat.Bumi Aksara, Jkt.
11.Sabine, GH. 1973. Teori-teori Politik.
12.Ebenstein,William. 1970. Modern Political Thought.
Oxford & IBH Publishing Co. New Delhi.
13.Noer,Deliar.1982 Pemikiran Politik di Negri Barat.
Jakarta.
14.Suhemi,Ahmad. 2007. Pemikiran Politik Barat.PT Gramedia,
Jakarta.
PENDAHULUAN
TEORI ?
FILSAFAT ?
PEMERINTAHAN? APA BEDANYA DENGAN POLITIK DAN
NEGARA ?
TEORI POLITIK/PEMERINTAHAN ?
FILSAFAT POLITIK/PEMERINTAHAN ?
PEMIKIRAN POLITIK/PEMERINTAHAN ?
IDEOLOGI ?
BUDAYA POLITIK ?
TUJUAN DAN KEGUNAAN FILSAFAT DAN TEORI
POLITIK/PEMERINTAHAN
Tujuan:
Untuk
memahami
fenomena-fenoma
politik/pemerintahan secara lebih
menyeluruh dan
mendasar serta bagaimana kaitannya antara dulu,
sekarang dan yang akan datang.
Kegunaan/manfaat: Akan mempunyai wawasan dan
konsep politik/pemerintahan yang lebih komperhensif
dalam memahami dan menginterpretasikan gejala
politik/pemerintahan
Teori politik/pemerintahan yang sebagian ilmuwan
politik menganggap sama dengan pilsafat politik atau
pemikiran politik dianggap sebagai mata kuliah yang
penting dalam ilmu politik/pemerintahan. Kenapa?
Di luar negri, perguruan-perguruan tinggi yang
mempunyai
jurusan/departemen
ilmu
politik
biasanya mempersyaratkan pengambilan beberapa
mata kuliah yang berkenaan dengan teori politik
untuk
bisa
menjadi
sarjana
ilmu
politik.
Kecenderungan yang sama juga sudah mulai terlihat
pada perguruan-perguruan tinggi Indonesia.
Teori politik/pemerintahan adalah bidang yang abstrak.Sesuai
dengan namanya, analisa yang dibuat dalam teori politik
bersifat teoritis dan filosofis.Bidang ini tidak membahas faktafakta secara langsung,akan tetapi membahas generalisasi dari
fakta dalam bentuk konsep-konsep.Oleh karena itu teori politik
biasanya tidak begitu disenangi oleh orang awam yang tidak
begitu serius mempelajari ilmu politik. Namun demikian teori
politik memainkan peranan yang penting dalam usaha untuk
memahami kehidupan politik.Dengan teori politik,kita dibekali
pemahaman yang lebih mendalam terhadap fakta yang ada di
depan kita, jauh lebih mendalam dari seorang yang tidak
menguasai teori politik. Teori politik, seperti umumnya teoriteori yang lain, memberikan latar belakang dan cakrawala yang
lebih luas terhadap fakta dalam kehidupanm politik. Karena
teori politik adalah penyederhanaan fakta, maka dengan
demikian dapat lebih mudah difahami.
Jadi pada hakekatnya teori politik tidaklah
memberatkan orang yang mempelajarinya. Karena
setelah bidang tersebut dikuasai, maka orang yang
bersangkutan telah memiliki sarana yang ampuh
untuk
membahas
dan
menguasai
realita
politik/pemerintahan
Adapun tujuan mata kuliah ini adalah memperluas cakrawala
berfikir
tentang
politik/pemerintahan
dalam
rangka
memahami, menganalisis dan menginterpretasikan: peristiwaperistiwa
politik/pemerintahan,
problematika
politik/pemerintahan yang semakin kompleks. Oleh sebab itu
dalam mata kuliah ini akan dibahas:
1.Pengertian teori politik dan perbedaannya dengan pemikiran
politik,pilsafat politik,idelogi politik, dsb.
2.Fungsi dan level teori politik/pemerintahan
3.Macam-macam teori politik/pemerintahan
.
4.Teori politik klasik/Filsafat politik
5.Teori politik modern
6.Pemikiran/teori Politik Sosialisme-Komunisme
7.Pemikiran/filsafat Politik Jawa
8.Pemikiran/filsafat Politik Islam
9.Pemikiran/Filsafat Politik Kristiani
10.Teori Politik Modern Kontemporer.
1.PENGERTIAN TEORI POLITIK DAN PERBEDAANNYA
DENGAN PILSAFAT POLITIK, PEMIKIRAN POLITIK
IDEOLOGI DAN BUDAYA POLITIK
2.FUNGSI DAN LEVEL TEORI POLITIK
a. Untuk menjelaskan fenomena-fenomena
politik yang terjadi.
b. Untuk memprediksi problematika politik
yang akan terjadi pada masa yang akan
datang
Sedangkan level teori ada 3, yaitu:
a. Low level or narrow-gauge theory
b. Partial or middle-gauge theory
c. General or broad-gauge theory
3.MACAM-MACAM TEORI POLITIK
a.Normative theory
b.Causative theory/causal theory
c.Manipulative theory, teori yang digunakan
untuk tujuan tertentu. Manipulative theory
merupakan seperangkat
rersep untuk
bertindak dan nasihat yang sistematis bagi para
negarawan
4.TEORI POLITIK/PEMERINTAHAN KLASIK
1. Socrates (470 – 399 SM)
2. Plato
(429 - 347 SM)
3. Aristoteles(384 – 322 SM)
4. Polybos (204 – 122 SM)
Socrates( 470-399 SM)
Metode yang digunakan adalah metode Dialektika:
1. Thesis (dalil, pendapat)
2.Antithesis (serangan terhadap dalil)
3.Synthesis (perpaduan, jalan tengah)
Menurut Socrates:
1.Adanya negara itu merupakan keharusan yang obyektif yang
disebabkan oleh kodrat manusia (fitrah manusia).
2.Tugas negara adalah mendatangkan keadilan, yang baru
dapat terjelma bila mana negara diperintah oleh orang-orang
yang terpilih dengan cara seksama.
3.Pada dasarnya setiap orang mempunyai kesadaran hukum
dan keadilan. Hati nurani manusia pada dasarnya berisi Nur
Tuhan yang Maha Pemurah dan Adil serta penuh kasih sayang.
Walaupun
kadang-kadang
(menonjol)
sikap
ketamakan,kejahatan, kedoliman menyelubungi cahaya abadi
Itu laksana kabut tebal yang mengaburkan penglihatan
4.Negara bukanlah suatu organisasi yang didirikan manusia
untuk kepentingan diri pribadi.
5.Negara berkewajiban untuk melaksanakan dan menerapkan
hukum dan keadilan sesuai dengan kesadaran hukum dan rasa
keadilan setiap orang.
6.Negara bukanlah untuk melayani kepentingan dan
memenuhi kebutuhan para penguasa negara.
Keadilan sejatilah yang harus menjadi landasan kerja dan
pedoman pemerintahan negara. Bilamana hal itu dijalankan ,
maka setiap manusia di dalam negara akan merasakan
ketentraman dan ketenangan jiwa yang sejati. Sedangkan bila
pemerintahan itu dijalankan berlandaskan dengan kebatilan
dan kedoliman, kalaupun dapat diperoleh kesenangan, maka
kesenangan itu merupakan kesenangan yang palsu.
Ajaran/pemikiran Socrates ini oleh penguasa pada waktu itu
dianggap berbahaya, akhirnya Socrates ditangkap dan disuruh
minum racun.
Socrates berkata:”Lebih baik mati dalam
keyakinan dari pada hidup tanpa keyakinan”
PLATO (429 – 347 SM)
Ada 3 buku yang ditulis oleh Plato:
1.Politeia (tentang negara)
2.Politicus (ahli negara)
3.Nomoi (undang-undang)
Pokok-pokok Pilsafat Plato
1.Negara sempurna tidak pernah ada dan tidak mungkin
tercapai di dunia ini, negara sempurna hanya ada dalm
pikiran (cita) manusia saja (laid up in the heaven as a
pattern).
2.Pemimpin negara/pemerintah berkewajiban berusaha
mencapai negara/pemerintahan yang sempurna.
3.Supaya negara ini mendekati yang sempurna maka
seyogyanya dipimpin oleh filusuf.
4.Teori Plato ini bersifat teori moral, yaitu bagaimana
seharusnya dan sebaiknya negara itu diatur dan diperintah.
5.Negara timbul/dibentuk karena banyaknya jenis kebutuhan
dan keinginan manusia.
6.Di dalam negara yang ideal ada 3 golongan warga negara:
1) Kelas yang memerintah, yang memegang pimpinan (the rulers). Pemimpin-pemimpin negara ini seharusnya terdiri
dari orang-orang ahli fikir atau filosof-filosof yang tinggi pengeta
huan dan akalnya.
2)Kelas pengawal negara, yakni orang-orang yang menjaga ke
selamatan dan keamanan negara, yang harus mendapat
didikan khusus untuk tugasnya itu (the guardians). Kelas ini
terdir dari orang-orang yang memiliki keberanian.
3)Kelas golongan pengusaha, seperti petani, pekerja, pedagang dsb. Yang menjamin makan dan kebutuhan materil
lainnya bagi kedua golongan tsb. di atas.
7.Bentuk pemerintahan di dalam negara yang ideal itu adalah
Aritokrasi, karena yang memimpin negara adalah golongan
filosof. Hanya golongan ini dalam pemerintahannya akan
dibimbing oleh cita keadilan .
9.Menurut Plato ada 5 bentuk negara buruk, yaitu:
1)TIMOKRASI,
Dimana pemimpin negara dipegang oleh/hanya orangorang kaya.Timokrasi ini bentuk degenerasi dari aristrokasi
2)OLIGARKHI
Sistem pemerintahan dimana segelongan kecil warga negar
saja yang memegang pemerintahan.
3)DEMOKRASI
Yaitu pemerintahan oleh masyarakat miskin.
Bila kemelaratan umum yang ditimbulkan oligarkhi tidak
tertahankan lagi, maka lalu rakyat miskin membentuk dan
merebut kekuasaan Dalam demokrasi menginginkan
kebebasan
Anarkhi.
4) ANARKHI
Bila tidak ada pembatasan kebebasan, maka orang-orang lalu
berbuat sesuka hatinya, sehingga tidak ada lagi suatu
kekuasaan yang mengatur ketertiban umum.
5) Bilamana anarkhi sudah tidak dapat lebih lama lagi dibiarkan
merajalela, maka rakyat lalu memilih seorang di antara
mereka yang mempunyai kelebihan dari pada orang lain di
dalam berbagai hal (primus interpares) untuk memimpin
negara.
ARISTOTELES (384-322 SM)
Aristoteles berfikirnya induktif-realistis, sementara Socrates
metode berfikirnya idealis-deduktif.
Aristoteles meneliti 150 konstitusi negara kota di yunani.
Aristoteles membagi pelajarannya itu dalam 2 bagian yang
terpisah yang masing-masing dikupas dalam buku tersendiri,
yaitu: 1. Ethica
2. Politica
Ethica membahas tentang susila bagi manusia dan warga
negara.
Politica membahas soal-soal negara/pemerintahan
Aristoteles membagi negara itu ke dalam 3 golongan (tripartite
Classification):
1.Negara yang diperintah oleh satu orang (monarkhi)
2.Negara yang diperintah oleh segolongan kecil orang, jadi oleh
kelompok minoritas dari penduduk segolongan orang
(Aristokrasi)
3.Negara yang pemerintahannya dipegang oleh seluruh rakyat
atau sebagian besar atau mayoritas dari penduduk (politeia).
Aristoteles juga secara kualitas membagi negara ke dalam:
1.Negara yang baik yaitu: bila pemerintahannya ditunjukan
kepadapemenuhan kepentingan umum.
2.Negara yang buruk yaitu bila pemerintahannya ditunjukan
untuk kepentingan dirinya sendiri dan penguasa.
Masing-masing sistem pemerintahan/bentuk pemerintahan
mempunyai bentuk degenerasinya/bentuk koruptifnya (bentuk
penyelewengannya) yaitu:
1.Monarkhi menjadi tyrani
2.Aristokrasi menjadi oligarkhi
3.Politeia menjadi demokrasi
Menurut Aristoteles bentuk pemerintahan yang paling baik
adalah politeia(yaitu oleh seluruh rakyat atau sebagian besar
rakyat), argumentasinya adalah:
1.Orang mempunyai sifat keliru
Dengan pemerintahan dilakukan oleh banyak orang akan
meminimalisir kekeliruan
2.Pemerintahan oleh banyak orang sulit untuk disogok
3.Pemerintahan oleh banyak orang sulit untuk dikudeta.
Menurut Aristoteles negara merupakan suatu kesatuan
masyarakat yang bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang
tertinggi bagi umat manusia. Manusia sebagai mahluk sosial
hanya dapat mencapai kebahagiaan bila ia hidup di dalam
negara dan karena adanya negara itu. Manusia tidak dapat hidup
di luar masyarakat dan di luar negara. Aristoteles menganut
faham “universalisme” atau “ kolektivisme” yaitu pemerintahan
yang baik adalah pemerintah yang ditunjukan kepada
kepentingan umum bukan kepentingan perorangan.
Faham ini bukan saja dianut oleh Aristoteles tapi juga Plato dan
Socrates.
POLYBIOS (204 – 122 SM)
Polybios terkenal dengan teori lingkaran (cyclus theory)
Menurut cyclus theory ini semua bentuknya pemerintahan itu
ada hubungan kausal, yakni bahwa bentuk pemerintahan yang
satu merupakan sebab timbulnya pemerintahan yang lain,
sedangkan pemerintahan yang lain ini menyebabkan pula
timbulnya bentuk pemerintahan berikutnya.
MONARKHI
TIRANI
ARISTOKRASI
OKHLORASI
OLIGARHI
DEMOKRASI
Okhlorasi:Negara/pemerintahan dipimpin oleh orang yang
hina atau bodoh.
5.TEORI POLITIK/PEMERINTAHAN MODERN(ABAD
PERTE- NGAHAN)
1.Machiavelli (1467 – 1527)
2.Thomas Hobbes (1588 -1679)
3.John Lock (1689 – 1755)
4.Mostesquieu(1689 -1755)
5.Rousseau (1712 – 1778)
MACHIAVELLI(1467 – 1527)
PRINSIP DASAR PEMIKIRAN POLITIK MACHIAVELLI
ADALAH MENGHALALKAN SEGALA CARA UNTUK
MENCAPAI TUJUAN (KEAGUNGAN NEGARA)
Penipuan,kebohongan, kekerasan bisa dibenarkan demi
kemashuran negara.Demikian pula halnya dengan
kedudukan agama, agama diperlukan semata-mata
sebagai alat kepatuhan, bukan karena nilai-nilai yang
terkandung di dalam ajaran agama itu. Oleh sebab itu
mempertahankan ritus ibadah bagi penguasa harus tetap
dipertahankan, dengan cara itu republik akan terbebas
dari kebokbrokan. Mengabaikan ritus keagamaan
pertanda keruntuhan negara.
Menurut Machiavelli, dalam soal membuat janji, janji itu dapat
dijadikan alat bukan esensi atau sikap.”Perlihatkanlah bahwa
engkau seakan-akan berpegang teguh pada janji, sungguhpun
batinmu menolak”. Ini memberikan makna sikap kemunafikan
atau hipocrit sesuatu yang absah dan dibenarkan. Seseorang
harus dapat bersikap sebagai seorang singa pada suatu waktu,
tetapi pada saat yang lain sebagai seekor kancil.
Sebuah kekuasaan atau negara harus memiliki tentara dan
membangun angkatan perang yang tangguh dan loyal serta
memiliki kemampuan berjuang mati-matian demi negara.Hanya
dengan cara ini negara akan disegani oleh negara lawannya.
Keberhasilan penguasa, sebagaimana Nabi, dalam sejarah
menurut Machiavelli, hanya Nabi-Nabi bersenjata (the armed
propheth) dan memiliki kekuatan militer yang berhasil
memperjuangkan misi kenabiannya. Sebaliknya Nabi yang tidak
bersenjata betapa baik dan sakral dari misi yang dibawanya
Mengalami kekalahan disebabkan tidak memiliki militer. Oleh
karena itu, angkatan perang merupakan bagian terpenting dari
seorang penguasa negara.
Penguasa, harus membentuk keahlian militer bagian dari
miliknya yang berharga. Memiliki kemampuan ilmu perang
atau strategi militer maupun pertempuran adalah penting bagi
seorang penguasa demi kemampuan negara dan
kekuasaannya. Kewaspadaan dalam latihan perang dan militer
harus terus dipikirkan tidak hanya dalam keadaan perang
melainkan juga di masa damai. Pada saat damai harus
dijadikan masa untuk melakukan persiapan dalam
menghadapi peperangan. Tidak ada perdamaian tanpa
persiapan untuk berperang.
KALAU INGIN DAMAI BERSIAPLAH UNTUK
BERPERANG
Mengenai agama, Machiavelli betapapun pandangannya terlalu
realisme dalam politik, dalam konteks agama dengan penguasa,
baginya tetap tidak harus dipisahkan. Wibawa penguasa
negara tanpa agama tidak cukup menjamin lestarinya
persatuan dan kekuasaan. Itu berarti agama tidak dapat
dilepaskan dalam proses politik. Akan tetapi, rasa
simpatiknya terhadap agama Romawi kuno, sebaliknya
sinis dan antipati terhadap agama Kristen. Ia melihat sebab
banyak
penguasa
gereja
menyalahgunakan
kekuasaannya,bertindak despotik dan tidak bermoral. Tindakan
tidak bermoral mereka itulah, menurut Machiavelli yang
menyebabkan disintegrasi moral publik, menimbulkan
kekacauan sosial dan keagamaan. Sikap acuh tidak acuh
Machiavelli terhadap kebenaran agama, akhirnya menjadi sifat
umum dari masyarakat Erofa dua abad sesudah ia menulis.
THOMAS HOBBES (1588-1679)
1.Negara digambarkan sebagai mahluk raksasa dan menakutkan
yang melegitimasikan diri semata-mata karena kemampuannya
untuk mengancam dan menindak secara tegas, Hobbes
menjuluki negara kekuasaan(machtsstaat) sebagai Leviathan,
negara itu menimbulkan rasa takut kepada siapapun yang
melanggar hukum negara. Bila warga negara melanggar hukum,
negara Leviathan tak segan-segan menjatuhkan vonis hukuman
mati. Negara Leviathan harus kuat, bila lemah akan timbul
anarkhi, perang sipil mudah meletus dan dapat mengakibatkan
kekuasaan negara terbelah. (sedangkan menurut Thomas
Aquinas, negara dimasukan ke dalam kerangka rasionalitas dan
kesosialan kodrat manusia)
.
2.Menurut Hobbes manusia tidak bisa didekati dengan
pendekatan normatif religius, karena pendekatan seperti ini
semakin menjauhkan kita dari realitas sosial. Cara terbaik
mendekati manusia menurut Hobbes adalah dengan melihat
manusia sebagai sebuah alat mekanis dan memahaminya dari
pendekatan matematis-geometris. Jadi dia memahami
manusia sebagai mekanisme belaka, ia mengesampingkan
kehendak manusia, ia mengembalikan segala kelakuan
manusia pada satu dorongan saja. Manusia dapat diatur more
giometrico, secara mekanistik. Apalagi organisasi
masyarakat disusun sedemikian rupa sehingga manusia
merasa aman dan bebas sejauh ia bergerak dalam batas-batas
hukum, dan terancam mati sejauh tidak, kehidupannya dapat
terjamin berlangsung dengan teratur dan tentram
3.Hobbes dalam merekayasakan negara menggunakan
faham perjanjian. Sebelum negara didirikan manusia hidup
dalam keadaan pra-masyarakat, yaitu keadaan alamiah(state
of nature).
Pada saat itu harus bersikap bagaikan serigala terhadap
manusia lain: Homo homini lupus. Keadaan alamiah
niscaya menjadi Bellium omnium contra omnes, perang
semua lawan semua. Dari keadaan inilah timbul hasrat dari
mereka untuk mengadakan perjanjian membentuk suatu
lembaga
.
4.Hasil utama buah pikirannya adalah kedaulatan negara
artinya dalam menentukan kebijakan itu negara itu sama sekali
berdaulat, kekuasaannya mutlak, negara itu bisa berbuat apa
saja, negaralah yang membuat hukum dan selanjutnya hukum
dianggap sebagai sarana formal. Oleh sebab itu konsep Hobbes
tentang negara adalah Machtstaat (absolutisme negara) bukan
Rechtstaat. Negara perlu memperbesar kekuasaan untuk
meningkatkan ketertiban. Kekuasaan dipertinggi kekacauan
akan menurun, kekuasaan rendah kekacauan meningkat.
5.Hobbes tidak setuju dengan demokrasi atau sejenis dewan
rakyat. Sebab, negara demokrasi menuntut adanya pluralisme
politik, termasuk dalam arti adanya berbagai pusat-pusat
kekuasaan. Kekuasaan negara menjadi tidak solid dan padu.
Adanya banyak pusat-pusat kekuasaan dalam negara inilah
yang dikhawatirkan Hobbes menjadi cikal bakal terjadinya
konflik kekuasaan.
6.Menurut Hobbes monarkhi absolut dengan hanya memiliki
seorang penguasa adalah bentuk negara terbaik. Sebab, negara
dengan seorang penguasa akan bisa tetap konsisten dengan
kebijakan-kebijakan yang ditetapkannya, sedangkan bila
negara dikuasai oleh sebuah dewan besar kemungkinan
kebijakan negara akan mudah berubah. Kebijakan negara
berubah sesuai dengan siapa yang paling mendominasi dewan
tersebut
JOHN LOCK(1632-1704)
1.Locke seperti halnya Hobbes bertolak dari keadaan alamiah
manusia(state of nature) yang mendahului eksistensi negara.
Tapi dalam mengartikan state of nature berbeda dengan
Hobbes. Locke berpendapat bahwa dalam keadaan alamiah
manusia bebas untuk menentukan dirinya dan menggunakan
miliknya dengan tidak bergantung dari kehendak orang lain.
Semua manusia memiliki hak yang sama untuk
mempergunakan kemampuan mereka. Manusia secara alamiah
sebenarnya baik, maka keadaan alamiah nampak sebagai: a
state of
peace, good will, mutual assistance and
preservation(saling membantu dan menjaga); tetapi karena
kebutuhan dan kemampuan setiap orang berbeda, maka
keadaan alamiah ini berubah menjadi keadaan perang (state of
war). Maka dengan demikian diperlukan suatu negara untuk
melindungi hak milik pribadi dan hak asasi.
2.Pemikiran Locke melahirkan negara konstitusional,
kekuasaan negara dibatasi oleh UU yang dibuat berdasarkan
persetujuan yang diperintah(yang memberikan mandat). Dari
konsep negara konstitusional ini timbul beberapa implikasi:
a.Bahwa dengan adanya konstitusi tuntutan legalitas negara
dapat dipertajam. Kekuasaan negara terutama legislatif terikat
pada konstitusi. Legislatif
tidak lagi berhak untuk
memperundangkan apa saja. Suatu undang-undang yang
bertentangan dengan UUD adalah tidak sah, meskipun
diciptakan sesuai dengan semua peraturan formal.
b.Bahwa manusia memiliki hak-hak yang mendahului
penetapan oleh masyarakat atau negara dan oleh karena itu
juga tidak dapat dirampas melainkan harus dihormati. Jadi ada
hak-hak yang berada di luar wewenang penguasa. Hak-hak yang
tak terasingkan (inalienable rights) itu melekat pada manusia
karena ia manusia jadi berakar dalam martabatnya sebagai
manusia, sehingga mendahului segala penetapan oleh manusia.
Maka dari kedudukan yang diberikan kepada hak-hak asasi
manusia itu kita dapat mengukur kemanusiaan dan
keberadaan suatu sistem politik.
3.Ada 2 hak asasi khusus yang muncul pada Locke:
a.Hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ini berarti
menolak hak negara untuk mencampuri apa yang dipikirkan,
dipercayai dan dipuja seseorang, karena
negara tidak
mempunyai wewenang apapun dalam bidang itu.
b.Hak perlawanan, yaitu hak menolak pedoman “Be fehl ist
befehl”, “perintah adalah perintah” : agar suatu perintah wajib
ditaati, perintah itu harus sah, sejauh berdasarkan wewenang
konstitusional dan legal negara. Suatu undang-undang atau
kebijakan yang di luar landasan itu boleh dilawan.
MONTESQUIEU(1689-1755)
1.Montesquieu melihat
hukum dalam pengertian yang
komplek dan luas. Keberadaan hukum tidak hanya pada
masyarakat manusia saja. Tiap mahluk, tiap jenis benda ada
hukumnya sendiri-sendiri (ada aturannnya sendiri-sendiri
secara alamiah) Dia melihat tentang keteraturan dan susunan
yang tetap. Inilah yang disebut hukum alam atau “undangundang alam”.
Montesquieu membagi hukum ke dalam tiga pengertian:
a.Hukum fisik(alam) yang tidak dapat dilanggar
b.Hukum moral filosof yang dapat dilanggar
c.Hukum politik dan hukum civil dari legislator yang dapat
membatasi kewajiban manusia.
Hukum politik ini mengenai struktur konstitusi, hubungan
antara yang memerintah dengan yang diperintah. Hukum civil
merupakan batang dari hubungan keinginan individu.
2.Hukum dipengaruhi oleh tempat dan waktu. Demikian pula
moral ekonomi, agama dan bentuk pemerintahan dipengaruhi
oleh lingkungan/situasi dan kondisi. Menurut Montesquieu,
daerah dingin akan membentuk sikap berani, rajin, berorientasi
pada kebebasan bersikap keras dan lebih memungkinkan untuk
melakukan bunuh diri.
3.Keadilan merupakan suatu pengertian yang telah ada lebih
dahulu sebelum adanya hukum positif. Manusia harus
menyesuaikan diri dengan keadilan dan hukum positif yang
sesuai dengan keadilan itu adalah hukum yang benar.
4.Mengenai pembentukan undang-undang yang sesuai bagi
negara, dari segi praktis pembentukan undang-undang itu harus
mengenal semangat bangsa, yang yang pembentukannya melihat
aspek iklim, agama, hukum yang ada, pendapat, pemikiran
tentang pemerintahan serta politik pada umumnya, kebiasaan
yang telah berjalan, sikap serta tindak tanduk manusia. Semua
Ini akan menentukan bagaimana tipe pemerintahan itu.
Pandangan lainnya adalah berkaitan dengan kebebasan,
Montesquieu mengagumi semangat kebebasan
5.Montesquieu membedakan tiga fungsi negara: fungsi legislatif,
eksekutif, dan yudikatif. Tiga fungsi itu perlu dibagi atas tiga
pemegang kekuasaan. Hal itu perlu untuk mencegah jangan
sampai seseorang atau suatu badan negara menjadi terlalu kuat
dan menghancurkan kebebasan masyarakat.
ROUSSEAU(1712-1778)
Rousseau memuja kehidupan alamiah, memuja kehidupan di
desa yang dianggapnya asli, murni, suci dan indah berlainan
dengan kehidupan di kota dan di istana yang penuh dengan
kemewahan. Dia tidak suka pada industri, laba dan perdagangan.
Dia memuja semangat , benci pada pengecut, senang pada yang
keras. Dalam bukunya contract Social
ia menunjukan
bagaimana negara seharusnya supaya manusia di dalamnya
tetap bebas dan alamiah (kembali ke alam), bagaimana caranya
menciptakan masyarakat yang bisa berdiri sendiri dengan tidak
tunduk pada siapapun, rakyat itu tetap dalam keadaan bebas.
Rakyat itu harus diatur, tetapi rakyat itu tidak tunduk pada
siapapun juga. Dia tidak menyenangi negara absolut yang tidak
mencerminkan kehendak rakyatnya sendiri. Negara absolut itu
harus dibongkar, diganti dengan negara kehendak umum.
Kehendak umum itu dapat disaring dari kehendak semua
melalui pemungutan suara.
Dalam pemungutan suara kepentingan-kepentingan khusus
yang bertentangan satu sama lain saling meniadakan sehingga
akhirnya tinggal kepentingan umum yang dikehendaki semua.
Yang dikehendaki semua ini selanjutnya dijalankan oleh negara,
sehingga kehendak negara menjadi kehendak mereka. Menaati
negara berarti menaati diri mereka sendiri. Negara betul-betul
menjadi RES PUBLICA, urusan umum. Akhirnya negara itu tidak
lagi menjadi sesuatu yang asing karena tidak lagi merupakan
milik raja atau milik sekelompok orang, melainkan milik semua.
Manusia tidak terasing lagi di dalamnya.
Rakyat itu berdaulat dan karena itu negara harus menjadi urusan
seluruh rakyat.
Dari kedaulatan rakyat ini mengimplikasikan 2 anggapan:
1.Penolakan terhadap segala wewenang di atas rakyat yang
tidak dari rakyat datangnya wewenang tsb.
2.Tuntutan agar segala kekuasaan yang ada mesti identik
dengan kehendak rakyat.
Jadi di sini negara tidak berhak untuk meletakan kewajiban
atau pembatasan apapun pada rakyat. Rakyat berwenang
penuh untuk menentukan dirinya sendiri, maka tidak ada
pihak manapun yang mempunyai wewenang terhadap rakyat.
a.Negara ideal adalah negara berdasarkan kehendak umum,
yang langsung mengungkapkan kehendak rakyat sendiri. Negara
itu milik semua bukan milik raja atau sekelompok orang, negara
identik dengan rakyat, oleh karena itu negara yang sah adalah
negara republik.
b.Rousseau menolak adanya lembaga perwakilan rakyat.
Kedaulatan rakyat tidak dapat diwakilkan karena akan
menimbulkan keterasingan, oleh karena itu demokrasi
langsung merupakan tipe yang dikehendakinya.
BAGAIMANA DENGAN RENCANA/GAGASAN
GUBERNUR DIPILIH OLEH DPRD TIDAK LANGSUNG
OLEH RAKYAT ?
c.Rousseau tidak mau menerima perbedaan kehendak dalam
masyarakat. Orang minoritas yang berbeda dengan mayoritas
perlu diberi penerangan. Oleh sebab itu perlu adanya agama
negeri (religion civile) sebagai suatu ibadat pemujaan bangsa
dan negara. Andaikata ada golongan minoritas yang berbeda
pandangan/kehendak dengan mayoritas dan tidak mau
menyesuaikan diri setelah diberi penerangan maka mereka
berhak untuk disingkirkan.
d.Teori Rousseau melahirkan teori kedaulatan rakyat,
memberikan kebebasan pada rakyat, tetapi memberi angin
untuk timbulnya diktator. Sebab dia berpendapat bahwa
penguasa itu tetap harus kuat.
Dari uraian tersebut di atas terlihat bahwa Rousseau itu
berangkat dari kebebasan total individu, yang selanjutnya
kebebasan itu seluruhnya diserahkan kepada negara (individu
secara total masuk ke dalam negara), sehingga akhirnya negara
menjadi berkuasa mutlak. Sedangkan nasib minoritas akhirnya
dipaksa untuk menyesuaikan diri dan kalau tidak mau akan
dihancurkan karena mereka dianggap sebagai kelompok
pembangkang. Kehendak umum yang dianggap benar itu
akhirnya dipergunakan untuk melegitimasi kekuasaan yang
mutlak dan totaliter, akhirnya nilai-nilai demokrasi (kebebasan)
yang dicita-citakan itu akhirnya menjadi sirna karena terlalu
melebih-lebihkan kebebasan.
Sebagai kritik terhadap konsep demokrasi langsung dari
Rousseau, yaitu bahwa Rousseau tidak mampu membayangkan
bagaimana pelaksanaan demokrasi langsung itu dilaksanakan
dalam negara yang penduduknya ratusan juta bahkan satu mil-
yar lebih seperti halnya RRC , India dsb. Juga Rousseau lupa
bahwa negara yang diberi wewenang/kekuasaan penuh oleh
rakyat sebagai perwujudan general will yang menjalankannya itu
adalah orang/manusia, di mana manusia itu tidak bisa lepas dari
kekurangan dan kehilapan, sehingga kekuasaan yang ada pada
negara
tersebut
tidak
mustahil
diselewengkan
dan
disalahgunakan, apalagi tanpa
oposisi sebagai pengontrol
tindakan-tindakan yang dilakukannya.
Kalau kita bandingkan antara Rousseau dengan Locke dan
Hobbes, bahwa Hobbes dan Locke itu bertolak dari pengandaian
yang sama, yaitu bahwa mendirikan negara berarti melepaskan
beberapa hak pada negara. Hobbes dan Locke membatasi
kekuasaan negara, walaupun pembatasan itu pada Hobbes tidak
efektif.
Sebaliknya Locke mengembangkan faham konstitusi negara
untuk menjamin bahwa kekuasaan negara tidak melampaui
batas yang wajar. Jadi di sini terlihat bahwa negara itu perlu
dikontrol, batas wewenangnya perlu ditetapkan. Sedangkan
Rousseau bertolak bahwa individu itu melepaskan diri
seluruhnya ke dalam negara. Tidak ada apapun yang tinggal di
luar wewenang negara itu. Negara itu total karena identik
dengan rakyat. Maka dengan demikian Rousseau de facto sama
sekali tidak membatasi kekuasaan negara.
Konsepsi Rousseau itu rumit dan idealis sehingga sulit
bagaimana membayangkan wujudnya demokrasi langsung
menurut Rousseau apabila dilaksanakan pada saat sekarang
dimana penduduknya jauh lebih banyak dibandingkan dengan
pada masa hidupnya Rousseau. Dan bagaimana kita
membayangkan terbentuknya general will tanpa minoritas dan
oposisi di mana kekuasaan negara
penuh (mutlak) tanpa kontrol dari rakyat, tetapi kebebasan
individu tetap terjamin. Dan bagaimana kita membayangkan
suatu negara yang kekuasaannya mutlak itu bisa melaksanakan
kekuasaan tanpa penyelewengan dan penyimpangan.
Tetapi sekalipun demikian pemikiran Rousseau itu tetap
berguna bagi ilmuwan politik sebagai alat analisa dan sebagai
tolok ukur terhadap faham kebebasan yang berlaku pada saat
sekarang ini. Sejauh mana negara/penguasa suatu negara itu
bisa merumuskan keinginan umum dari rakyatnya, sejauhmana
penguasa itu bisa memberikan penataran terhadap minoritas
dan sejauh mana kapasitas dari minoritas itu sendiri sehingga
bisa menyadari mana yang sebenarnya kehendak umum dan
kehendak
pribadi,
serta
sejauh
mana
negara/pemerintah/penguasa melaksanakan kekuasaan yang
sesuai dengan keinginan yang diperintah.
MACAM-MACAM TEORI KEDAULATAN
1.Teori Kedaulatan Tuhan
Teori ini mengajarkan, bahwa pemerintah/negara
memperoleh kekuasaan yang tertinggi itu dari Tuhan. Para
penganjur teori ini berpendapat, bahwa dunia beserta
segala isinya hasil ciptaan Tuhan. Apapun yang ada di
dunia ini berasal dari Tuhan. Demikian pula halnya dengan
kedaulatan yang ada pada pemerintah ataupun pada rajaraja yang waktu itu memegang pemerintahan adalah
berasal dari Tuhan juga. Oleh karena itu raja atau
pemerintah harus mempergunakan kedaulatan yang
diperolehnya itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada
masa lampau raja-raja menganggap dirinya sebagai wakil
Tuhan, bahkan sebagai Tuhan sendiri, seperti misalnya
dalam cerita wayang di mana raja menganggap dirinya
sebagai penjelmaan Dewa Wisnu atau menganggap sebagai
anak Tuhan. Penganjur kedaulatan Tuhan ini antara lain :
Augustinus, Thomas Aquinas.
2. Teori Kedaulatan Rakyat
Menurut teori ini, negara memperoleh kekuasaan dari
rakyatnya dan bukan dari Tuhan atau dari raja. Teori ini tidak
sependapat dengan Teori Kedaulatan Tuhan, dan
mengemukakan kenyataan-kenyataan yang tak sesuai dengan
apa yang diajarkan oleh teori kedaulatan Tuhan.
a. Raja yang seharusnya memerintah rakyat dengan adil, jujur
dan baik hati (sesuai dengan kehendak Tuhan) namun
kenyataannya, raja-raja bertindak dengan sewenangwenang terhadap rakyat, misalnya pemerintahan Raja Louis
XIV di Perancis.
b. Apabila kedaulatan raja itu berasal dari Tuhan,mengapa
dalam suatu peperangan antara raja yang satu dengan raja
yang lain dapat mengakibatkan kalahnya salah seorang
raja.
Kenyataan-kenyataan ini menimbulkan keragu-raguan yang
mendorong ke arah timbulnya alam pikiran baru yang memberi
tempat pada pikiran manusia (renaissance). Alam pikiran baru
ini dalam bidang kenegaraan melahirkan suatu faham baru,
yakni teori kedaulatan rakyat.
Faham inilah yang merupakan reaksi terhadap teori kedaulatan
Tuhan dan teori kedaulatan raja dan kemudian menjelma
dalam revolusi Perancis sehingga kemudian dapat menguasai
seluruh dunia hingga sekarang dalam bentuk “mythos abad
XIX” yang memuat faham kedaulatan rakyat dan perwakilan
(demokrasi).
Para penganjur faham ini adalah : John Locke, Montesquieu,
Rousseau. Dari ketiga pemikir ini, Montesquieu adalah yang
terkenal karena konsep dan ajarannya tentang pemisahan
kekuasaan negara yang oleh Immanuel Kant disebut Trias
Politica.
3. Teori Kedaulatan Negara
Menurut teori ini adanya negara itu merupakan kodrat alam,
demikian pula kekuasaan tertinggi yang ada pada pemimpin
negara itu. Adapun kedaulatan itu sudah ada sejak lahirnya
suatu negara. Jadi jelaslah bahwa bahwa negara itu merupakan
sumber dari kedaulatan. Hukum itu mengikat karena yang
demikian dikehendaki oleh negara yang menurut kodrat
mempunyai kekuasaan mutlak.
Penganjur teori ini antara lain: Paul Laband, George Jellinek
4. Teori Kedaulatan Hukum (Supremacy of Law)
Teori
ini mengajarkan bahwa pemerintah memperoleh
kekuasaannya itu bukan dari Tuhan ataupun dari raja maupun
negara, akan tetapi berdasarkan atas hukum; yang berdaulat
adalah hukum. Baik pemerintah maupun rakyat memperoleh
kekuasaan itu dari hukum. Penganjur teori ini antara lain:
Krabbe, Immanuel Kant, Leon Duguit.
TAPI SEBENARNYA YANG JELAS ADALAH ADA
KAITAN DAN HARUS MENGKAITKAN ANTARA:
NEGARA, HUKUM, RAKYAT DAN TUHAN.
ARTINYA BAHWA HUKUM ITU HARUS SESUAI
DENGAN TUNTUTAN DAN KEBUTUHAN RAKYAT
TIDAK BOLEH BERTENTANGAN DENGAN
KEHENDAK TUHAN DAN HANYA NEGARALAH
YANG BISA MENEGAKAN HUKUM
TANPA TANGAN NEGARA HUKUM TIDAK BISA
TEGAK.
6.TEORI POLITIK
KOMUNISME
PEMERINTAHAN
SOSIALISME-
1.Karl Marx (1770 – 1831)
2.Fredrich Engels (1820 – 1895)
3.Lenin (1870 – 1924)
ALIRAN NEOMARXIS
ALIRAN NEWLEFT
KARL MARX(1770-1831)
Kenapa kita perlu mempelajari Marxisme ?
Tujuan kita mempelajari Marxisme adalah untuk memahami
secara kritis dan ilmiah, objektif dan supaya cerdas menghadapi
marxisme. Penolakan terhadap Marxisme itu harus secara
ilmiah bukan secara apriori atau dogmatis, indoktrinisasi.
Marxisme itu tidak sama dengan PKI, berbeda pula dengan
Komunisme. Marxisme itu lebih luas mencakup : SISTEM
SOSIAL, SISTEM EKONOMI, POLITIK DAN PEMERINTAHAN.
Jadi mempelajari teori Karl Marx ini secara kritis dan secara
akademis (keilmuan) bukan propaganda(tabsyir) atau
indoktrinisasi.
Meskipun komunisme dianggap telah gagal dan negara-negara
komunis banyak yang bubar karena tidak mampu membawa
rakyat ke arah kehidupan ekonomi yang lebih baik, teori Marx
masih tetap dipelajari oleh para ilmuwan sosial. Bahkan
sebagian ilmuwan sosial beranggapan bahwa teori tersebut
masih tetap bisa digunakan sebagai pisau analisis untuk
membedah masyarakat kontemporer sekarang ini. Mereka
beranggapan bahwa teori Marx masih tetap relevan dengan
keadaan sekarang meskipun teori tersebut dirumuskan oleh
Marx pada pertengahan abad ke-19.
Teori konflik Marx mempunyai pengaruh yang besar dalam ilmu
sosial karena teori tersebut menggambarkan secara jelas sebuah
fenomena konflik di dalam masyarakat, terlepas dari setuju atau
tidak dengan argumentasi yang diberikan..Marx membahas
dengan lengkap aspek-aspek penting yang umumnya ditemui
dalam teori konflik, yakni
penyebab terjadinya konflik,
kelompok-kelompok
yang
berkonflik,
perkembangan
konflik,penyelesaian konflik, dan perkembangan pasca
Yang dipelajari dari pemikiran Karl Marx itu meliputi:
1.Apa dasar-dasar pemikirannnya ?
2.Kenapa pemikiran Karl Marx itu banyak penganutnya di
dunia?
3.Bagaimana kita memahami pandangan tersebut?
4.Bagaimana analisa dan interpretasi kita ?
5.Apa positif dan negatifnya?
6.Bagaimana kesimpulan kita?
Komunisme pernah (sejak awal) menjadi hantu umat manusia.
Komunisme menjadi salah satu kekuatan politik dan ideologis
paling dahsat di dunia. 1/3 umat manusia pernah hidup di
bawah benderanya(pada awal abad ke-20). Komunisme dikenal
oleh semua lapisan masyarakat dan sebagai simbol perjuangan.
Namun pada akhir abad ke-20 turun drastis pamornya, semua
negara komunis di dunia mulai dari Erofa mengalami
kemerosotan, kecuali: Cina,Korea Utara,Vietnam, Laos, dan
Kuba.Meskipun mereka masih bertahan, mereka itu sudah
Bentuk positif dari Marxisme adalah anti penjajah, maka sangat
cocok dan mudah diterima oleh negara-negara/bangsa yang
terjajah/tertindas oleh kapitalis/liberalis, maka penganutnya
banyak sekali termasuk Indonesia pada awal abad ke20.Sukarnopun sangat tertarik, maka muncul di Indonesia
pemikiran Nasionalisme- Islamisme-Marxisme , yaitu dimana
antara Nasionalisme – Agama dan Komunisme (NASAKOM)
menyatu, bersama-sama melawan penjajah.
Nasionalisme, agama dan komunisme sama-sama anti penjajah.
POKOK-POKOK PEMIKIRAN MARX
1.Materialisme Historis dan Dialektika
Materialisme sejarah ini mengandung arti bahwa sejarah
manusia itu ditentukan oleh kehidupan kebendaan. Jadi bukan
kesadaranlah yang menentukan kehidupan, tetapi kehidupan
yang menentukan kesadaran manusia. Proses berfikir itu
merupakan bagian dari proses alamiah. Suatu hipotesis tidak
dapat dibuat melalui spekulasi tetapi dapat dibuat melalui
praktek (praxis). Pikiran itu dibentuk oleh zat atau benda.
Manusia harus hidup lebih dahulu barulah dapat berfikir. Dan
hidup itu berfokus pada masalah perut. Jadi zat itu/benda itu
lebih utama dari pada semangat, roh atau cita.
Marx dalam analisanya menggunakan dialektika Hegel, tetapi
dijungkirbalikan. Hegel berpendapat bahwa proses berfikir itu
adalah pencipta dari dunia nyata, dan dunia nyata hanya
manifestasi lahir dari idea. Sedangkan Marx berpendapat
sebaliknya yaitu bahwa yang tergambar dalam idea itu tiada
Dari dari pada dunia nyata yang direfleksikan oleh fikiran
manusia dan dipindahkan menjadi buah pikiran.
Perlu dicatat di sini bahwa penjungkirbalikan teori Hegel oleh
Marx itu sebenarnya Marx sendiri dipengaruhi oleh pemikir lain
yaitu Ludwig Feurbach (1804-1872). Ia telah lebih dahulu
membalikan pendapat Hegel dengan menempatkan kedudukan
materi sebagai hakekat yang sebenarnya.
2.Alinasi/Keterasingan
Menurut Marx manusia diasingkan dari dunia tidak hanya dalam
berfikir tetapi meliputi keseluruhan kehidupan. Kaum buruh
atau pekerja atau pegawai merasa terasing dari hasil karyanya
atau dari proses produksi ekonomi, karena hasil kerja tidak ada
kaitannya dengan jumlah upah yang diterima, segalanya
ditentukan oleh majikan, buruh tidak mempunyai peran apa-apa
kecuali menghasilkan sesuatu dan mengikuti/manut terhadap
apa yang telah digariskan oleh majikannya. Hal ini semua tiada
lain adalah akibat dari sistem pemilikan alat alat produksi oleh
segelintir manusia.
3.Teori Nilai Surplus
Teori nilai surplus adalah suatu paham yang menganggap
bahwa si buruh itu menerima upahnya itu jauh lebih rendah
dibandingkan dengan produk yang dihasilkannya/karyanya.
Kerja buruh lebih besar dari imbalannya. Jumlah kerja tidak
sebanding dengan besar upah. Ini berarti majikan mendapat
keuntungan yang berlebihan, sedang buruh diperas habishabisan dan diperkosa hak-haknya. Si buruh tidak bisa
mengontrol dirinya sendiri, sehingga dia menjadi terasing. Jadi
si buruh diasingkan dari pekerjaan karena pekerjaan itu untuk
menghidupi majikan bukan untuk menghidupi tenaga kerja itu
sendiri sehingga terjadi keterasingan. Kwantitas kerja tidak ada
korelasi dengan upah, akibatnya si majikan semakin kaya
sedang buruh keadaannya tetap tidak berubah.
4.Akumulasi, Penghisapan, Revolusi
Dengan adanya penghisapan si miskin semakin lama semakin
buruk keadaannya. Dan sebaliknya kaum borjuis semakin lama
semakin baik, semakin kaya dan semakin kuat kedudukannya.
Akibatnya si miskin semakin kekal kemiskinannya. Dengan
demikian di dalam kelompok proletar itu
terjadi proses
pemiskinan, sedang dalam kaum borjuis terjadi pertumbuhan
harta (capital
accumulation). Marx meramalkan capital
accumulation akan menimbulkan penguasa tunggal.
Selanjutnya Marx mengatakan bahwa dalam setiap struktur
terbagi ke dalam struktur atas dan struktur bawah. Struktur
atas itu pembuat keputusan, struktur bawah merupakan
proses produksi. Struktur atas ditentukan oleh struktur
bawah (infra struktur). Karena infra struktur sudah
mempengaruhi supera struktur, maka tidak bisa dirubah
sebagian-sebagian, melainkan harus dirubah seluruhnya yaitu
dengan revolusi. Oleh sebab itu revolusi
proletariat
5.Komunis dan Masyarakat Tanpa Kelas
Marx beranggapan bahwa di dalam masyarakat sosialis
Komunis tidak akan ada pertentangan lagi, tidak akan ada
konflik lagi, tidak akan ada dialektika lagi, karena dalam
masyarakat sosialis komunis hanya ada satu klas (classless
society). Di dalam Classless society tidak dibutuhkan lagi
negara (stateless society), tetapi negara tidak dihapuskan,
melainkan negara akan menghilang secara perlahan-lahan (the
withering away of the state)
Lenin (1870-1924)
Lenin merupakan pengagum dan penerus gagasan Marx, dia
orang yang banyak memodifikasi ajaran Marx atau yang
mencoba
lebih jauh mengoperasionalisasikan gagasan
Marx.Dia merupakan seorang yang aktif berbuat/bertindak,
sumbangan Lenin lebih banyak terletak di bidang yang praktis.
WHAT IS TO BE DONE adalah merupakan konsepnya tentang
kaum revolusioner yang profesional. Ada 3 sumbangan besar
dari Lenin terhadap ajaran Marxis :
1.Teori Organisasi dan fungsi partai sebagai bagian integral dari
peristiwa revolusi.
2.Konsep tentang imperialis dan kapitalnya
3.Konsepnya tentang diktator ploretariat
Menurut Lenin perlu adanya organisasi berupa partai yang
militan dan ormas-ormasnya yang mendukung partai itu.
Semua aktivitas warga harus diwadahi lewat partai atau ormas
pendukung. Perlu adanya kelompok formal yang berada di atas
tanah yang sesuai dan mengikuti pelaturan dan prosedur yang
berlaku, tapi di belakang itu harus ada kelompok informal yang
bersifat rahasiah yang bergerak di bawah tanah, yang
mempunyai tingkat disiplin yang tinggi dan keberanian. Di
samping itu perlu adanya penyusupan ke berbagai lini dan
lapisan.
Perlu juga diutarakan bahwa Marx percaya kepada keungulan
ekonomi atas politik yaitu suatu kepercayaan akan kekuatan
ekonomi sebagai penggerak utama kemajuan masyarakat.
Tetapi Lenin sebaliknya, dalam gaya yang khas abad ke-20,
percaya pada keunggulan politik atas ekonomi walaupun dalam
kaitannya dengan doktrin yang eksplisit ia selalu menganggap
dirinya sebagai penganut yg setia terhadap penafsiran Marx
tentang sejarah dari segi ekonomi.
Lenin mempunyai anggapan dan sangat meyakininya bahwa
dengan kekuatan perlawanan yang relatif kecil tapi berdisiplin
tinggi dan terorganisasi secara baik, kekuasaan dapat direbut
dari penguasa sistem yang ada. Dalam tulisannya, WHAT IS TO
BE DONE
Lenin mengatakan, “BERIKAN KEPADA KAMI
SEKELOMPOK KAUM REVOLUSIONIS, DAN KAMI AKAN
MENGUASAI SELURUH RUSIA”. Menjelang tahun 1917 Lenin
memiliki kelompok atau organisasi yang dibutuhkannya, dan ia
benar-benar menguasai Rusia.
7. PEMIKIRAN/FILSAFAT POLITIK JAWA
Substansi politik itu adalah kekuasaan dan negara. Atau
dengan kata lain kekuasaan dan negara itu focus utama kajian
politik(Adolf Grabowsky).
Jadi yang dimaksud budaya politik jawa itu adalah:
Bagaimana orang jawa memandang kekuasaan dan negara
dan bagaimana mereka berprilaku politik.
Kenapa budaya politik Jawa? Ada apa dengan budaya politik
Jawa?
1.Karena jawa itu:mayoritas,dominan,berperan,berpengaruh
di
Indonesia
2.Tokoh politik/pemimpin banyak berasal dari Jawa.Artinya
orang-orang jawa mendominasi elit politik nasional.
Istilah-istilah seperti: BINA GRAHA, EKA PRASETIA PANCA
KARSA, PARASEMIA dsb. Ini berasal dari bahasa Sangsakerta
tapi sudah menjadi milik budaya Jawa dan sudah tersosialisasi
dan dikaguminya serta menyatu dengan budaya Jawa
ASUMSI: Ada hubungan timbal balik antara kebudayaan dan
tindakan sosial/politik di Indonesia
Kebudayaan Jawa tradisional/klasik/ortodok mengandung
konsep-konsep politik yang dapat memberikan penjelasan
secara sistematik dan logis tentang tingkah laku politik(terutama
terhadap tingkah laku elit politik penguasa) dalam bentuk yang
berbeda sekali dari perspektif ilmu politik modern dan malah
dalam banyak hal bertentangan secara fundamental
LENSA POLITIK
TRADISI JAWA
LENSA POLITIK
EROFA MODERN
Tetapi dengan Erofa klasik sebelum abad pertengahan
mungkin ada persamaan misal: Raja itu penghubung antara
Tuhan dengan rakyat (Theocrasi)
KONSEP TENTANG KEKUASAAN
MENURUT BARAT MODERN
1.Kekuasaan itu abstrak
2.Sumber-sumber kekuasaan itu
heterogen
3.Akumulasi kekuasaan tidak
ada batasnya yang inheren
4.Dari segi moral kekuasaan itu
berarti ganda
MENURUT JAWA
 1.Kekuasaan itu kongkrit
 2.Kekuasaan itu homogen
 3.Jumlah kekuasaan dalam
alam semesta selalu tetap
 4.Kekuasaan tidak
mempersoalkan keabsahan
Konsep tentang kekuasaan itu kongkrit, homogen
dan jumlahnya selalu tetap ada hubungannya
dengan teori: Negara kesatuan, sentralisasi,
dekonsentrasi dan desentralisasi.
Ada beberapa hal yang berkaitan
kekuasaan dalam budaya politik jawa:
dengan
1.Mencari kekuasaan
2.Pratanda-pratanda kekuasaan
3.Kekuasaan dan Sejarah
4.Kesatuan dan Pusat
5.Kenaikan dan penggantian
6.Kekuasaan dan kerajaan
7.Penguasa dan kelas yang berkuasa
8.Kekuasaan dan etika
9.Kekuasaan dan pengetahuan
10.Yang memerintah dengan yang diperintah
11.Penguasa dengan para pengeritiknya
konsep
BAGAIMANA DENGAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA?
Ini perlu dilihat dan difahami dari aspek:
1. Historis
2. Budaya Politik
3. Konstitusi, yuridis formal
4. Demokrasi modern/Barat
PEMIKIRAN/FILSAFAT POLITIK ISLAM
Dikalangan umat Islam terdapat 3 aliran tentang hubungan
antara Islan dan negara:
1.Islam adalah suatu agama yang sempurna dan lengkap
dengan pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia
termasuk kehidupan bernegara. Tokoh penganut aliran ini:
a. Hasan Albana
b.Sayid Kutub
c.Rasyid Rida
d.Al Maududi dsb.
2.Islam adalah agama yang tidak ada hubungannya dengan
urusan kenegaraan. Nabi diutus dengan tugas tunggal
mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia,
tidak pernah dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepalai
suatu negara.Tokoh penganutnya: Ali Abdul Raziq, DR Thaha
Husen.
3.Aliran Netral(moderat), yaitu yang menolak yang pertama dan
yang kedua. Aliran ini berpendirian bahwa dalam Islam tidak
terdapat sistem ketatanegaraan yang pasti dan yang mutlak,
tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika kehidupan bernegara.
Tokohnya Husen Haikal.
Add. 1(Aliran 1)
Jumhur ulama (umumnya) menganggap imamah/pemerintahan
Islam/Khilafah sebagai fardu kifayah. Dasarnya apa? Argumennya
apa?
Argumen Fardu Kifayah adalah :
1.Ijmak umat/kesepakatan/konsensus
2.Mencegah madarat/kekacauan
Di sini logika yang digunakan, tetapi sejalan dengan nilai-nilai
agama, yaitu bahwa dalam keberadaannya manusia mustahil
menghindari
pemerintah/negara,
karena
tanpa
ada
pemerintahan/negara maka manusia akan kacau.
Jadi existensi pemerintahan/negara itu merupakan kebutuhan
alamiah manusia.
ANYONE CAN NOT ESCAPE FROM GOVERNMENT
3.Merealisasikan kewajiban agama.
Sistem agama akan lebih sempurna dijalankan di dalam sebuah
pemerintahan/negara yang Islami dibandingkan dalam
negara/pemerintahan yang tidak islami.
4.Mewujudkan keadilan yang sempurna
Keadilan adalah pesan universal yang hanya dimiliki oleh
Allah.Namun demikian keadilan bisa diperjuangkan untuk
direalisasikan melalui imamah
Menurut A Hasjmy alasan wajibnya mendirikan negara islam
ada 4 dasar:
1.Dalil Aqly/akal
Manusia
dalam
hidup
bersama
membutuhkan
pemerintahan/negara, membutuhkan peraturan, organisasi,
sistem, mekanisme dsb.
2. Dalil Naqly/Qur’an dan Hadis
Karena ada dalil Qur”an dan Hadis, meskipun kata-katanya tidak
secara explisit.
3.Dalil Tarikh /alasan sejarah
Sekian banyak dari para Rasul(Nabi Musa, Nabi Yusuf,Nabi Daud
sampai Nabi Muhamad saw) pada hakekatnya memimpin negara
, dalam membawa misi risalahnya tidak lepas/sepi dari unsur
politik,negara dan kekuasaan atau setidaknya melakukan
ekperimentasi dalam kehidupan bernegara.Demikian pula para
sahabat,tabiin ,ulama, dan para wali.
Add.2(Aliran 2)
Kelompok ini mempunyai pandangan:
1.Pemerintahan Islam sebagai sesuatu yang tidak diwajibkan
perealisasiannya dalam bentuk apapun.
2.Agama harus sama sekali terpisah dari urusan-urusan
pemerintahan/negara/dunia. Pandangan ini disebit pandangan
sekuler, yaitu yang memisahkan agama dari negara. Menyatunya
negara dengan agama dianggap sudah usang dan harus
ditinggalkan.
Yang mempunyai pandangan seperti ini di Indonesia al:
1.Nurcholis Madjid
Kata dia: “Islam bukanlah agama yang mengatur masalah
kenegaraan, melainkan hanya sebatas sistem etika dan prinsipprinsip yang bersifat universal saja”.
2.Abdurachman Wahid/Gusdur
Dia berkata:”Telah banyak usia dihabiskan dengan sia-sia untuk
mencari suatu mahluk yang tidak ada, yaitu yang bernama
NEGARA ISLAM”. Islam tidak memiliki konsep negara yang jelas,
alasannya adalah:
a.Tidak ada pandangan yang jelas mengenai pergantian
pemimpin
b.Tidak ada ukuran yang jelas mengenai batas wilayah negara
Islam.
3.Jaringan Islam Liberal (JIL).
Add.3(Aliran 3)
Aliran ini menganggap bahwa karena tidak ada dalil yang qot”I,
tentang negara/pemerintahan Islam,maka tergantung kepada
situasi kondisi, tergantung kepada kebutuhan dan tuntutan
serta kemampuan berijtihad.
Dalam kenyataannya aliran ini dapat melahirkan pemikiranpemikiran baru, ijtihad baru tentang politik Islam,
pemerintahan Islam, Negara Islam.
IBNU KHALDUN (1332-1406)
Menurut Ibnu Khaldun manusia memerlukan masyarakat,
manusia kadang kadang seperti hewan sehingga diperlukan
seorang wazi yang mempunyai kewibawaan dan kekuasaan
(mulk). Masyarakat yang mempunyai wazi yang disertai mulk
itulah yang disebut negara.
Menurut Ibnu Khaldun kekuasaan itu cenderung diiringi dengan
kemewahan, tetapi kemewahan itu hanya mula-mula saja akan
menambah kekuatan si penguasa, akhirnya kemewahan itu akan
melemahkan kekuasaan, karena kemewahan mengandung sifat
merusak akhlak dan moral manusia.
Kehidupan negara/pemerintahan mengikuti perkembangan
hidup seperti organisme, yaitu: tumbuh – megah – jaya- menua –
hancur –mati. Jadi pemerintahan itu ada titik maksimalnya atau
ada break even point nya.
Syarat Kepala Negara menurut Ibnu Khaldun:
1.Harus berpengatahuan disertai kesanggupan untuk
mengambil keputusan sesuai dengan syariah (hukum)
2.Harus jujur, adil, bermoral tinggi
3.Harus mampu membuat keputusan, tegas kalau perlu harus
mampu memimpin perang ke medan perang.
4.Fisik dan mentalnya tidak cacat
5.Pemimpin harus
lemah lembut, harus mengutamakan
kepentingan pengikut dan harus membela mereka.
Menurut Ibnu Khaldun suatu revolusi akan berhasil apabila
disertai rasa golongan yang kuat.
Civil dan Militer mempunyai kedudukannya sendiri-sendiri.
AMAN/STABIL
KACAU/TIDAK AMAN
CIVIL MENONJOL
MILITER HARUS MENONJOL
CIRI-CIRI PEMIKIRAN POLITIK SYIAH
1.Pemerintah + Pemimpin = agama menyatu
Imam/pemimpin sangat sentral dalam politik dan agama
Agama harus dijadikan landasan negara, politik dan
pemerintahan
Tingkat taqlid/manut dari umat/masyarakat terhadap imam
sangat tinggi.
2.Syariat Islam/hukum Islam harus diterapkan dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
3.Untuk tegaknya syariat Islam perlu seorang pemimpin/imam
yang memenuhi syarat dan ditaati oleh umat.
4.Memahami Islam dan penegakan syariat Islam pendekatannya
lebih politis, artinya negara dulu harus dibentuk dan islami,
baru kemudian membentuk masyarakat islami.
Sedangkan pendekatan sosiologis adalah sosialisasi islam dulu
baru membentuk negara Islam
8.A.PEMIKIRAN/FILSAFAT
POLITIK ISLAM KLASIK
1. IBNU ABI RABI
2. FARABI
3. MAWARDI
4. GHAZALI
5. IBNU TAIMIYAH
6. IBNU KHALDUN
8.B.PEMIKIRAN POLITIK/PEMERINTAHAN ISLAM
KONTEMPORER
1.JAMALUDIN AL AFGANI, MOH. ABDUH, RASYID RIDHA
2.ALI ABD AL RASIQ
3.AL IKHWAN AL MUSLIMIN
4.AL MAUDUDI
5.MOH. HUSAIN HAIKAL
6.PEMIKIRAN TENTANG ISLAM DAN TATA NEGARA DI
INDONESIA
8.C.PEMIKIRAN POLITIK/PEMERINTAHAN MENURUT SYIAH
9.PEMIKIRAN /FILSAPAT POLITIK KRISTIANI
1.
2.
3.
4.
AUGUSTINUS (354 – 450)
THOMAS AQUINAS (1229 -1234)
MARTIN LUTHER (1483 – 1546)
JOHN CALVIN (1509 – 1564)
POKOK-POKOK PEMIKIRAN AUGUSTINUS TENTANG
NEGARA DAN HUKUM
Augustinus membagi kota/negara ke dalam dua bagian:
1.Civitas Dei/Negara Tuhan
2.Civitas terrena atau diaboli/ Negara duniawi/ negara iblis.
Negara Tuhan itu bukanlah negara dari dunia ini, akan
tetapi semangatnya dimiliki sebagian dan diusahakan oleh
beberaa orang di dunia ini juga untuk mencapainya. Yang
memegang negara dan mewakili negara Tuhan ini pertamatama adalah Gereja. Tetapi bukan berarti apa yang ada diluar
Gereja itu semuanya terasing sama sekali dari Civitas Dei.
Jadi negara dunia dan gereja tidak seluruhnya sama dengan
pengertian negara Tuhan dan negara duniawi. Akan tetapi
kerajaan duniawi adalah Civitas diaboli, sebagai buktinya
adalah kekaisaran Romawi. Ia juga mengkritik apa yang
diajukan oleh Cisero dalam “ DE Republica”nya.
Negara duniawi lahir karena manusia telah terjerumus ke
dalam dosa, sebagaimana ditunjukan oleh salah satu cerita
sejarah dalam kitab wasiat lama. Perbudakanpun adalah tiada
lain sebagai akibat langsung dari negara duniawi. Romawi
jatuh karena kecendrungan akan nafsu duniawi dan
kemashuran. Cisero telah khilaf, ia mengatakan bahwa negara
ini adalah penjelmaan dari keadilan. Keadilan itu hanya
mungkin dicapai dalam negara yang diperintah oleh agama
Kristen yaitu dalam Civitas Dei, yakni kerinduan akan negara
Tuhan,
orang
dapat
berbahagia
untuk
selamalamanya.Constantin dan Theodosius juga banyak memberikan
berkat keduniawian, karena mereka telah menjalankan
pemerintahan sesuai dengan cita-cita tersebut.
Artinya memimpin Civitas Terena dengan semangat Civitas
Dei. Tanpa cita-cita umum ini tak mungkin ada keadilan
dalam negara. Supaya mungkin ada kebahagiaan yang
kekal, haruslah dalam lingkungan keluarga dan negara
diselenggarakan perdamaian, persatuan yang tersusun dan
ketentraman.
Menurut Augustinus susunan negara duniawi ini adalah sesuai
dengan pikiran zaman Yunani Kuno, sebagai negara kota yang
tidak begitu luas, yang dikepalai oleh seorang penguasa yang
dalam menjalankan pemerintahannya dituntun oleh semangat
agama Kristen
Meskipun negara yang baik dan buruk merupakan pengaruh
dari pembedaan kerajaan cahaya dan kerajaan kegelapan dari
kaum Manichea, akan tetapi pikiran bahwa dasar-dasar untuk
negara dan hukum itu tak mungkin dicari dalam perhubungan
alam pikiran dari penghidupan kemasyarakatan sendiri,
melainkan harus diturunkan dari dunia atasan adalah
merupakan pemikiran Plato. Akan tetapi tinjauan-tinjauan
Aristoteles yang realistis mengenai negara dan hukum sama
sekali tidak dikenal disini. Tidak hanya jiwanya, tetapi juga
karangan-karangan yang asing bagi semangat abad-abad yang
datang kemudian, telah hilang.
Sebab peradaban baru itu membangun suatu alam cita-cita, untuk
mengangkat diri dari kemunduran moril itu, yang oleh Agustinus memang
tepat dianggap sebagai sebab runtuhnya peradaban yang terdahulu.
Seharusnyalah ada dua lagi persesuaian baru diantara adat kebiasaan dan
perasaan, tugas mana selayaknya dikerjakan oleh gereja Kristen. Negara
duniawi mungkin ada juga dalam dunia kebiadaban ini sebagai suatu
masyarakat kecil. Akan tetapi Agustinus memandang Gereja sebagai
bayangan dari cita dei di dunia ini, meliputi seluruh dunia. Jadi bukanlah
tinjauan-tinjauan praktis mengenai negara sebagai suatu kenyataan,
demikian pula bukan tinjauan-tinjauan tentang cara bagaimana melawan
orang-orang biadab, yang mengancam negara dan gereja dengan kebinasaan.
Semua hanya semata-mata tertuju pada alam cita-cita, sebagaimana juga
pernah dilakukan oleh Plato. Disamping itu untuk dunia kenyataan tak lagi
diperlukan syarat “pecah belah dan perintah” dari orang-orang tak beragama,
melainkan diperlukan semangat persatuan, kesetiaan dan perdamaian.
10.TEORI POLITIK/PEMERINTAHAN MODERN
KONTEMPORER
1. GABRIEL ALMOND(Teori Sistem Politik, Budaya
Politik)
2. DAVID EASTON(Teori Sistem Politik)
3. ROBERT A DAHL(Teori Kekuasaan)
4. Thomas R Dye( Teori Kebijakan Publik)
5. Huntington (Teori Partisipasi)
6. C.Wrigt Mills (Teori Elite)
7. Karl Marx (Teori Konflik)
8. BC Smith (Teori Desentralisasi)
9. DAVID OSBORNE(Konsep Reinventing Government)
10.DENHARD & DENHARD (Penentang Reinventing
Government) .
11.Demokrasi deliberatif (Hubermas)
THE PRINCIPLES OF DEMOCRACY
1.DIVISION OF POWER
2.CONSTITUTIONAL GOVERNMENT
3.RULE OF LAW
4.RULE OF MAJORITY
5.INDEPENDENT JUDICIARY
6.THE CHANGED POLITICAL MECHANISM
7.MULTY PARTY SYSTEM
8.OPEN MANAGEMENT
9.RECOGNITION OF MINORITY RIGHTS
10.CONTROL OVER PUBLIC ADMINISTRATION
11.PUBLIC POLICY IS MADE BY REPRESENTATIVE
POLITICAL BODY
12. THE PEACEFUL OR COMPROMISED SETTLEMENT OF
DISPUTES(penyelesaian perselisihan secara kompromi)
13.MERIT SYSTEM FOR APPOINTING PUBLIC
SERVANTS
14.GUARANTEE FOR THE LIMITED INDIVIDUAL
FREEDOM
15.GOVERNMEN BY DISCUSSION
16.PROTECTION OF HUMAN RIGHTS
17.FREE GENERAL ELECTION
18. FREE PRESS
19. DEMOCRATIC CONSTITUTION
20. AGREEMENT
ANALISA KRITIS TERHADAP
KONSEP REINVENTING
GOVERNMENT
Konsep reinventing government/ new public management
(NPM) yang dikemukakan oleh David Osborne pada tahun 1990an sekarang sudah mulai out of date dan mendapat kecaman
pedas
dari
berbagai
ilmuwan
khususnya
dari
Denhardt&Denhardt dengan teorinya social equity.
Ide besar dari reinventing government adalah bagaimana
agar perilaku dan nilai yang berkembang di organisasi publik
dapat mengadopsi organisasi swasta/ bisnis. Karena
kenyataannya organisasi swasta jauh lebih nyaman dalam
memberikan pelayanan ketimbang organisasi publik. Idiomidiom dalam organisasi swasta dipakai oleh Osborne dalam
mengkonstruksi konsepnya tentang administrasi publik.
Seperti istilah pelanggan efisien dan efektif,
produktivitas, orientasi pasar dsb. Sejak saat itu
reinventing government menjadi sebuah wacana
dominan yang menguasai alam pikir para ilmuwan
administrai publik dalam kurun waktu itu. Bahkan di
ranah-ranah praksis (seperti lembaga-lembaga diklat
aparat pemda/ pusdiklat) sudah memberikan materi ini
pada para aparat pemerintahan yang mengikuti
pelatihan. Padahal sesungguhnya menurut Denhardt ,
ajaran Osborne ini adalah ajaran yang harus dikritisi.
Dengan paradigma pasar seperti itu maka
administrasi publik hanya akan menguntungkan para
pemilik modal ketimbang rakyat pada umumnya. Inilah
konsep dasar Denhardt tentang teori social equity. Pada
intinya adalah “bagaimana agar administrasi publik
lebih menjamin terjadinya keadilan sosial daripada
keberpihakan terhadap mekanisme pasar”. Untuk
mewujudkan itu Denhardt ingin mengembalikan
administrasi publik kepada fungsi awalnya yaitu:
a. Prinsip demokrasi
b. Prinsip kewarganegaraan
c. Prinsip pelayanan.
Pokok pikiran Denhardt adalah kritik yang sangat radikal
atas ajaran Osborne. Denhardt menganggap bahwa ajaran
Osborne telah membuat ilmu administrasi publik tercerabut
dari akarnya, yaitu negara(untuk kita Ind. Lihat Mukadimah
UUD 45). Sementara basis paradigma Osborne adalah pasar.
SISTIM SOSIAL INDONESIA BERBEDA DENGAN
SISTEM SOSIAL BARAT
NEGARA
VERSUS
RAKYAT
PASAR
Adapun turunan dari upaya administrasi publik kembali ke akarnya
tersebut diturunkan dalam tujuh prinsip dasar pemikiran
Denhardt, sebagaimana berikut:
1. Melayani warga negara/ rakyat bukan pelanggan (customer)
2. Mendalami tentang kepentingan publik (public interest) bukan
mekanisme pasar
3. Meletakkan nilai kewarganegaraan dan pelayanan publik di
atas kewirausahaan
4. Berpikir secara strategis dan bertindak secara demokratis
(bagaimana pikiran yang ideal normatif dapat diterima
masyarakat secara luas bukannya dipaksakan)
5. Memahami bahwa akuntabilitas publik itu bukanlah hal yang
simpel. Bukan sekedar kalau beres secara hukum dan
administrasi maka selesailah soal akuntabilitas. Makna
akuntabilitas lebih dalam daripada sekedar hukum dan
administratif.
6. Tugas pemerintah adalah melayani bukannya mengendalikan
7. Lebih menghargai rakyat daripada produktivitas.
Dari prinsip-prinsip tersebut, muara yang ingin
dicapai Denhardt adalah agar administrasi publik
melayani publik. Administrasi publik tidak boleh
menyamakan rakyat dengan pelanggan (customer) sebab
berbahaya, menurut Denhardt, kalau di bisnis para
birokratnya bekerja untuk menghasilkan untung, dan
ada persaingan dengan perusahaan lain yang menjadi
kompetitornya. Bila pelayanan tidak baik, maka
dikhawatirkan pelanggan akan pergi ke perusahaan lain.
Menurut Denhardt, masyarakat dalam perspektif
administrasi publik tidak demikian. Masyarakat dilayani
bukan atas sebab dia sebagai pelanggan, melainkan
karena merekalah yang memberi mandat politik pada
aparatur sehingga dapat bekerja dan menghasilkan uang.
Kata kuncinya ada di mandat politik dan mandat sosial
dari masyarakat pada aparatur publik (misalnya melalui
pemilu, pajak, retribusi) sehingga tugas aparatur publik
adalah menciptakan keadilan sosial dalam melakukan
pelayanan publik. Dalam hal ini kemudian Denhardt
menamai ajaran ini dengan New Public Service (NPS).
Denhardt mendesakkan agar perkembangan teori
administrasi publik (saat ini dan yang akan datang)
lebih mengedepankan penggunaan teori democratic
governance daripada mengadopsi teori-teori
manjemen sktor privat/ bisnis. Mungkin upaya
untuk menegakkan demokrasi dan keadilan sosial
memakan banyak biaya. Biaya yang dikeluarkan itu
tidak dapat serta merta diukur sebagai investasi
yang akan dibandingkan dengan keuntungan
finansial yang akan didapat. Hal itu harus dilakukan
pemerintah, sebab tugas pemerintah adalah
menciptakan demokrasi dan keadilan sosial, dan
bukan mencari keuntungan.
Dalam konteks ini pemikiaran Denhardt sangat relevan
diajukan untuk memahami sejauh mana pemerintah
merumuskan dan melaksanakan kebijakan yang berorientasi
dan
melayani
rakyatnya
bukan
semata-mata
mempertimbangkan kepentingan pasar atau kepentingan
ekonomis. Hal ini terkait dengan pilihan kebijakan
pembangunan ekonomi daerah yang dijalaninya selama ini.
Pilihan yang didasarkan pada kepentingan pribadi (self
interest) seringkali meminggirkan pilihan kepentingan publik
(public interest). Dalam hal ini peringatan dan anjuran
Denhardt agar menekankan pada demokrasi dan partisipasi
di tingkat lokal dalam batas tertentu sangat relevan.
BAGAIMANA DENGAN REINVENTING
GOVERNMENT DI INDONESIA ?
BAGAIMANA MENATA KEMBALI
PENYELEGGARAAN PEMERINTAHAN INDONESIA
SESUAI DENGAN FAKTA DAN KEBUTUHAN
INDONESIA
BAGAIMANA DENGAN REINVENTING EDUCATION
DI INDONESIA ?
BAGAIMANA MENATA KEMBALI
PENDIDIKAN SESUAI DENGAN FAKTA DAN
KEBUTUHAN INDONESIA ?
BAGAIMANA DENGAN BADAN HUKUM
PENDIDIKAN DI INDONESIA ?
 BAGAIMANA DENGAN PUBLIC
SERVICE YANG BAIK DAPAT
MEMBANGKITKAN
SEMANGAT,KREATIVITAS,PRODUKTI
VITAS DAN PEMBERDAYAAN
WARGA
 APAKAH SEMAKIN BAIK PELAYANAN PUBLIK AKAN
SEMAKIN SEJAHTERA DAN MAKMUR SUATU
MASYARAKAT ???
IDEOLOGI
Secara umum ideologi dapat diartikan sebagai segala
sesuatu yang dipercayai oleh masyarakat termasuk
misalnya: agama, faham dsb.
Ideologi menurut Shils(Varma,140) adalah kumpulan
nilai-nilai yang difahami bersama secara mendalam,
dengan nilai-nilai tersebut mereka menentukan
sikapnya terhadap kejadian dan problema politik yang
dihadapinya dan yang menentukan tingkah laku
politiknya
Ideologi juga dapat diartikan sebagai pilihan-pilihan
individu dalam masyarakat dan mempengaruhi individu
itu sendiri.Dengan demikian ideologi itu akan beraneka
ragam dan ideologi itu tidak mesti rasional.
Menurut Sargent ideologi itu segala sesuatu yang kita
kerjakan yang mempengaruhi kita. Ideologi itu tersebar
di masyarakat, walaupun orang itu tidak memahami
hakekat ideologi.Ideologi itu ada di mana-mana;
pendidikan misalnya tidak lepas dari ideologi, demikian
pula siaran radio, TV, koran dsb.
Bahkan kecenderungan sekarang yang menjadi “super
ideologi” adalah bisnis. Artinya orang sekarang
cenderung beranggapan bahwa yang penting bukan
semata mata ideologi tetapi sesuatu kegiatan yang
menguntungkan, misalnya di Rusia ideologinya bergeser
karena kondisi ekonomi
Ada dua komponen
diperhatikan:
ideologi
yang
perlu
1.Kepercayaan
2.Unsur kebenaran
Kepercayaan yang ada pada masyarakat itu ada
yang relatif tetap dan ada yang berubah.
Sedangkan kebenaran Kepercayaan sifatnya
relatif, dibatasi oleh interval waktu, sekarang
benar, besok mungkin salah.
Ada 4 ciri dari suatu ideologi:
1.Ideologi terdiri atas serangkaian keyakinan
terhadap berbagai lembaga dan proses dalam
masyarakat.
2.Bahwa
ideologi
itu
memberikan
pada
penganutnya suatu gambaran tertentu, baik
sebagaimana
adanya
atau
sebagaimana
seharusnya.Oleh sebab itu untuk bisa jadi anutan
masyarakat,
ideologi
itu
harus
dapat
memberikan gambaran tentang apa yang ada di
masyarakat.
3.Ideologi itu harus mampu mengorganisasikan
kompleksitas yang ada di dunia menjadi sesuatu
yang sederhana dan mudah dipahami.
4.Ideologi itu serangkaian kepercayaan yang
berkaitan satu sama lain yang mampu
memberikan
kepada
para
penganutnya
gambaran dunia/masyarakat yang cukup
mendalam.
Dengan adanya kemajuan teknologi, dimana
teknologi komunikasi semakin canggih,maka
ideologi yang satu dengan yang lainnya saling
mendekat,saling pengaruh mempengaruhi.Oleh
karena itu ideologi sekarang cenderung fleksibel.
Meskipun ideologi itu fleksibel, tetapi ada unsur
yang tetap, yaitu:
1.Ideologi tetap berusaha mengorganisasikan
dunia yang kompleks ke dalam pemahaman yang
sederhana,sehingga
bisa
membantu
penganutnya mana yang baik dan mana yang
buruk.
2.Semua ideologi tetap berbicara tentang realitas
dan ideal(normatif dan empiris).Oleh karena itu
tidak pernah ada titik temu kedua hal tersebut
dalam masyarakat (tetap selalu ada gap).Karena
kalau ada titik temu, berarti ideologi tidak
BUDAYA POLITIK
( POLITICAL CULTURE)
WAY OF LIFE OF POLITICS OF SOCIETY
DEMOKRASI
THE PRINCIPLES OF DEMOCRACY
1.DIVISION OF POWER
2.CONSTITUTIONAL GOVERNMENT
3.RULE OF LAW
4.OPEN MANAGEMENT
5.CONTROL OVER PUBLIC ADMINISTRATION
6.PUBLIC POLICY IS MADE BY REPRESENTATIVE
POLITICAL BODY
7.MERIT SYSTEM FOR APPOINTING PUBLIC
SERVANTS
8.RULE OF MAYORITY
9.GOVERNMEN BY DISCUSSION
1O.PROTECTION OF HUMAN RIGHTS
11.GENERAL ELECTION
12. POLITICAL PARTY MORE THAN ONE
PRINSIP DEMOKRASI MENURUT
YC YEN
1.DATANGLAH KEPADA RAKYAT (GO TO THE
PEOPLE)
2.HIDUP BERSAMA RAKYAT (LIFE AMONG
THE PEOPLE)
3.BELAJAR DARI RAKYAT (LEARN FROM THE
PEOPLE)
4.BEKERJA BERSAMA RAKYAT (DO/PLAN
WITH THE PEOPLE)
5.MULAILAH DENGAN APA YANG
DIKETAHUI RAKYAT (START WITH THE
PEOPLE KNOW)
6.BANGUNLAH APA YANG DIMILIKI RAKYAT
(BUILD ON WHAT THE PEOPLE HAVE)
Download