562 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 5, Juli 2017

advertisement
562 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 5, Juli 2017
PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V DENGAN MODEL
PROBLEM SOLVING DIPADUKAN DENGAN METODE NHT
Oleh
Indri Puspita Sari
[email protected]
Eunice Widyanti Setyaningtyas
[email protected]
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kristen Satya Wacana
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran
kooperatif dengan model Problem Solving dipadukan dengan metode Numbered Heads
Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di SD Negeri
Jetak 01 Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017. Jenis penelitian ini adalah
penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan dalam 2 siklus dengan tahap perencanaan,
pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan
teknik tes dan non tes (observasi).Teknik pengolahan data yang digunakan adalah
teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian terbukti menunjukkan peningkatan hasil
belajar, pada hasil observasi aktivitas guru pada siklus I dari pertemuan pertama
sampai ketiga meningkat yaitu85% ke 92% dan mencapai 100%. Pada siklus II
sebanyak 92%, 92% dan mencapai 100%. Hasil observasi aktivitas siswa pada Siklus I
pertemuan pertama sampai ketiga meningkat sebanyak 77% ke 85% dan mencapai
92%. Pada siklus II sebanyak 85% ke 92%. dan mencapai 92%. Hasil belajar siswa
meningkat dari kondisi awal sampai siklus II dengan ketuntasan sebanyak 14 siswa
menjadi 20 siswa danmencapai 26 siswa dengan presentase 54% naik 77% dan
mencapai 100% dengan rata-rata 60 naik 66,3dan mencapai 83,07. Selain
meningkatkan hasil belajar juga meningkatkan keberanian siswa untuk
mengungkapkan pendapat, menjawab pertanyaan dari guru dan menumbuhkan minat
belajar siswa dengan pembelajaran yang dapat membangun pengetahuan siswa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif
dengan model Problem Solving dipadukan dengan metode Numbered Heads Together
(NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPA.
Kata Kunci : hasil belajar IPA, problem solving, NHT
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam rangka pembangunan
nasional. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yaitu
dengan melakukan proses pembelajaran yang mampu menciptakanperubahan dan
perkembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. Pendidikan adalah
kegiatan yang dilakukan secara individu maupun kelompok untuk belajar secara aktif
Indri Puspita Sari | 563
melalui pembelajaran untuk mengembangkan potensi, keterampilan, kepribadian pada
dirinya sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik.
Banyak mata pelajaran yang diterapkan dalam pendidikan untuk membantu
siswa dalam memahami konsep-konsep ilmu pengetahuan salah satunya adalah mata
pelajaran IPA. Peneliti melakukan observasi untuk mengamati proses pembelajaran
IPA di kelas. Hasil observasi yang dilakukan di kelas V SD N Jetak 01 menunjukkan
adanya permasalahan pembelajaran yang berkaitan dengan mata pelajaran IPA.
Permasalahannya yaitu pembelajaran di kelas masih menggunakan model dan metode
yang kurang inovatif.
Siswa sekolah dasar membutuhkan perubahan model dan metode yang lebih
inovatif agar mereka merespon pembelajaran dengan baik. Tidak hanya menggunakan
metode konvensional saja, melainkan metode yang mampu membuat anak berpikir
kritis namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan. Sehingga anak lebih tertarik
dengan proses pembelajaran. Pembelajaran IPA di kelas kurang memanfaatkan
lingkungan sekitar dan alat peraga, hanya sedikit siswa yang aktif bertanya, sebagian
siswa saat belajar bermain dengan temannya, mengantuk. dan masih ada beberapa hasil
belajar IPA siswa kelas V yang belum mencapai KKM. Pembelajaran di kelas
seharusnya memanfaatkan alam sekitar dan alat peraga yang sudah disediakan sekolah
untuk menunjang proses belajar mengajar. Siswa menyukai pembelajaran yang
melibatkan mereka secara langsung sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar
yang berkesan dan dapat meningkatkan hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor
siswa.
Dari latar belakang tersebut rumusan masalah yang diambil peneliti yaitu:
1. Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran Problem Solving dipadukan metode
Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa
kelas V di SD Negeri Jetak 01 Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017 ?
2. Apakah model pembelajaran Problem Solving dipadukan metode Numbered Heads
Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di SD Negeri
Jetak 01 Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017 ?
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah
model Problem Solving dipadukan dengan metode Numbered Heads Together (NHT)
dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di SD Negeri Jetak 01 Semester II
Tahun Pelajaran 2016/2017 dan meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V dengan
menggunakan model pembelajaran model Problem Solving dipadukan dengan metode
Numbered Heads Together (NHT) di SD Negeri Jetak 01 Semester II Tahun Pelajaran
2016/2017.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian IPA
IPA dapat disebut juga dengan natural science. Menurut Fowler (Trianto,
2014:136) “IPA adalah pengetahuan yang sistematis yang dirumuskan, yang
berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas
pengamatan dan deduksi”. Hakikatnya IPA dibangun atas dasar produk ilmiah, proses
ilmiah, dan sikap ilmiah (Trianto,2014:137). Sebagai produk, IPA merupakan
sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan konsep dan bagan konsep. Sebagai suatu
564 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 5, Juli 2017
proses, IPA merupakan proses yang dipergunakan untuk mempelajari objek studi,
menemukan dan mengembangkan produk-produk sains, dan sebagai aplikasi, teoriteori IPA akan melahirkan teknologi yang dapat memberikan kemudahan bagi
kehidupan. Marsetio Donosepoetro (dalam Trianto, 2010: 137) memandang IPA
sebagai “proses, sebagai produk dan sebagai prosedur”. Sebagai proses diartikan
semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun
untuk menemukan pengetahuan baru. Sebagai produk diartikan sebagai hasil proses,
berupa pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah atau di luar sekolah ataupun bahan
bacaan untuk penyebaran pengetahuan. Sebagai prosedur dimaksudkan adalah
metodologi atau cara yang dipakai untuk mengetahui sesuatu (riset pada umumnya)
yang lazim disebut metode ilmiah (scientific method). Ilmu Pengetahuan Alam
merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai
pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang
diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan,
penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan.
Mata pelajaran IPA memberikan bekal bagi siswa untuk melanjutkan kejenjang
pendidikan lebih lanjut, dengan membekali siswa berbagai keterampilan untuk
memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan IPA dalam kehidupannya.
Selain itu membekali siswa untuk lebih kreatif dan inovatif dalam penemuan
pengetahuan tentang alam yang lebih baik lagi.
Model Pembelajaran Problem Solving
Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Solving) digunakan dalam
pembelajaran yang membutuhkan jawaban atau pemecahan masalah. W. Gulo
(2004:111) menyatakan bahwa Problem Solving adalah metode yang mengajarkan
penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada terselesaikannya suatu
masalah secara menalar. Djamarah (2010 : 103) mengatakan Model pembelajaran
Problem Solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar
tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam Problem Solving dapat
menggunakan metode lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik
kesimpulan. Eggen dan Kauchak (dalam Said dkk, 2015:120) mengatakan
pembelajaran berbasis masalah memiliki tiga karakteristik sebagai berikut: 1) Pelajaran
fokus pada masalah. 2) Tanggung jawab untuk memecahkan masalah bertumpu pada
siswa. 3) Guru mendukung proses saat siswa mengerjakan masalah.
Langkah-langkah memecahkan masalah menurut John Dewey (dalam
Djamarah, 2010:18) adalah merumuskan dan menegaskan masalah, mencari fakta
pendukung dan merumuskan hipotesis, mengevaluasi alternatif pemecahan yang
dikembangkan dan mengadakan pengujian atau verifikasi. Solso(dalam Wena,
2012:56) mengatakan terdapat enam tahap dalam Problem Solving, yaitu identifikasi
permasalahan,
representasi
permasalahan,
perencanaan
pemecahan,
menerapkan/mengimplementasikan perencanaan, menilai perencanaan, dan menilai
hasil pemecahan.
Indri Puspita Sari | 565
Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Menurut Lie (dalam Wena, 2012:189) pembelajaran kooperatif adalah sistem
pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan
sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur, dan dalam sistem ini guru bertindak
sebagai fasilitator. Menurut Lie (2002:12), mendefinisikan pembelajaran kooperatif
atau pembelajaran bergotong royong merupakan sistem pembelajaran yang
memberikan kesempatan pada siswa untuk bekerjasama sesamanya pada saat
mengerjakan tugas terstruktur.
Pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa mampu bekerjasama dengan
siswa yang lain yang berbeda dalam hal pengetahuan, kemampuan, keterampilan , ras
dan kelas sosial. Dari perbedaan antar siswa, siswa belajar untuk saling membantu jika
ada salah satu siswa yang kurang paham dalam menyelesaikan suatu konsep. Pada
akhirnya dari kerja kelompok ini terjadi interaksi antar siswa dalam bertukar
pengalaman dan pengetahuan baru. Namun terkadang dengan dibentuknya kelompok
kerja (team work) siswa kurang memperhatikan. Sehingga banyak model-model
pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kerjasama yang
lebih efisien.
Menurut Agus Supridjono (2013:92) mengatakan NHT adalah pembelajaran
yang diawali dengan Numbering, dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil
mendiskusikan pertanyaan dari guru untuk menemukan jawaban sebagai pengetahuan
yang utuh.
Menurut Trianto (2007:63) ada empat fase sebagai sintaks dari NHT yaitu Fase
1: Penomoran. Pada tahap ini guru membagi siswa ke dalam kelompok yang terdiri
dari 3 sampai 5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1
sampai 5.Fase 2 : Mengajukan pertanyaan. Guru mengajukan sebuah pertanyaan yang
bervariasi kepada setiap siswa atau berbentuk arahan.Fase 3 : Berpikir bersama. Siswa
menyatukan semua jawaban dari pertanyaan dan meyakinkan setiap anggota dalam
timnya terhadap pendapat jawabannya. Fase 4 : Menjawab. Guru memanggil satu
nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan
mencoba menjawab pertanyaan.
Hubungan Antara Model Pembelajaran Problem Solving Dipadukan Metode
Numbered Heads Together (NHT)
Model pembelajaran Problem Solving adalah metode pembelajaran yang
melatih siswa untuk berpikir atau menelaah berbagai masalah individu maupun
kelompok dan dapat mencari pemecahan masalah atau solusi dari permasalahan itu
sesuai dengan prosedur ilmiah. Model Pembelajaran ini menuntut siswa untuk berpikir
kritis dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Metode pembelajaran Numbered
Heads Together (NHT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi
siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik dengan
memberi tanda nomor pada setiap kelompok atau siswa. Metode ini merupakan suatu
cara yang efektif untuk melaksanakan pembelajaran yang mampu mampu membuat
siswa untuk aktif belajar. Dalam metode pembelajaran ini siswa dituntut aktif dan siap
setiap saat ketika ditunjuk oleh guru untuk menjawab sehingga tidak bergantung pada
566 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 5, Juli 2017
siswa yang lainnya. Sehingga siswa harus mampu bertanggung jawab terhadap diri
sendiri dan siswa juga harus percaya diri dan yakin dalam menyelesaikan masalah.
Penelitian ini akan memadukan kedua model pembelajaran kooperatif yaitu
Problem Solving dan metode NHT sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif
siswa sekolah dasar yang menyukai proses pembelajaran aktif dan meyenangkan.
Adapun langkah-langkah perpaduan antara model Problem Solving dengan NHT yaitu:
1. Menentukan kelompok secara heterogen dengan beranggotakan 3-5 siswa dan
setiap siswa diberi tanda penomoran.
2. Memberikan pertanyaan berupa kasus atau masalah yang harus dijawab oleh siswa.
3. Berdiskusi dan mencari referensi atau keterangan yang dapat menunjang untuk
mendapatkan jawaban.
4. Menetapkan jawaban sementara.
5. Menguji kebenaran jawaban.
6. Mengacak nomor, dan nomor yang bersangkutan mengangkat tangan dan
menjawab.
7. Menarik kesimpulan bersama-sama.
Model pembelajaran Problem Solving dapat dipadukan dengan NHT karena
jika keduanya dipadukan akan menciptakan inovasi pembelajaran yang lebih
menekankan pada proses berpikir kritis pada anak secara berkelompok sehingga antara
siswa yang satu dengan yang lain mampu bekerja sama untuk berpikir bersama untuk
menyelesaikan suatu permasalahan. Tentunya dengan kondisi dan suasana belajar yang
menyenangkan dengan memakai alat peraga topi bernomor sehingga memotivasi anak
untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, melatih percaya diri, dan bertanggung
jawab. Perpaduan antara model pembelajaran Problem Solving dan Numbered Heads
Together (NHT) dalam proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPA, dapat
melatih siswa untuk menyelesaikan permasalahan IPAsesuai dengan prosedur ilmiah
sehingga mampu mengembangkan pengetahuan dan pengalaman siswa untuk lebih
aktif mempelajari alam sekitar siswa. Kondisi kelas yang menerapkan perpaduan
kedua model ini dapat menumbuhkan motivasi dan kesiapan siswa dalam proses
belajar mengajar.
Dengan demikian, jika siswa terlibat aktif dan mengikuti proses secara
langsung maupun tidak langsung, pada evaluasi pembelajaran dapat menghasilkan
nilai yang lebih meningkat.
Hasil Belajar
Menurut Nana Sudjana (2009:3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada
hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang
lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Benyamin S.
Bloom (Anni, 2009:86) ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu: Ranah kognitif,
afektif, dan psikomotorik.
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang
yakni :bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan
sikap
dan
nilai),
serta
bidang
psikomotor
(kemampuan/keterampilan
bertindak/berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan
yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hubungan hirarki. Sebagai tujuan yang
Indri Puspita Sari | 567
hendak dicapai, ketiganya harus nampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Oleh
sebab itu ketiga aspek tersebut, harus dipandang sebagai hasil belajar siswa dari proses
pengajaran.
Berdasarkan kajian teori yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan
model pembelajaran Problem Solving yang dipadukan dengan metode Numbered
Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Penggunaan model
pembelajaran Problem Solving yang dipadukan dengan metode Numbered Heads
Together (NHT) pada mata pelajaran IPA untuk kelas V diharapkan siswa mampu
meningkatkan hasil belajar yang awalnya rendah akan menjadi tinggi. Dengan
penggunaan model pembelajaran yang baru siswa juga diharapkan lebih termotivasi
lagi untuk belajar lebih giat sehingga mendapatkan nilai yang memuaskan.
Model pembelajaran Problem Solving yang dipadukan dengan metode Numbered
Heads Together (NHT) ini diharapkan mampu membantu siswa untuk berpikir kritis,
bertanggung jawab, serta bekerjasama dalam kelompok dalam menyelesaikan tugas
masing-masing. Siswa belajar untuk bekerjasama dengan baik antar siswa yang ada di
kelas. Adanya model pembelajaran yang baru ini siswa juga dapat mengeksplor materi
yang ada untuk dipelajari bersama-sama dengan teman sebayanya. Serta model
pembelajaran Problem Solvingyang dipadukan dengan metode Numbered Heads
Together (NHT) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran IPA kelas V.
METODE PENELITIAN
Latar Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Jetak 01 yang berada di desa Setugur,
Jetak, Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang.Penelitian dilaksanakan pada semester
II tahun ajaran 2016/2017. Penelitian dilakukan 5 bulan mulai dari bulan Februari 2017
sampai bulan Juni 2017. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri SD
Negeri Jetak 01 Semester II Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 26 siswa.
Terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Jetak 01 dalam mata
pelajaran IPA setelah memperoleh tindakan adalah:
1. Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang
dilakukan secara sistematis. Pengamatan dapat dilakukan secara terlibat
(partisipatif) ataupun non-partisipatif. Peneliti tidak hanya mengamati aspek
kognitif saja, melainkan juga pada aspek afektif dan psikomotor siswa. Observasi
dilakukan di SD Negeri Jetak 01. Observasi dilakukan untuk mengetahui penerapan
modeldan proses pembelajaran Problem Solving dipadukan denganmetode
Numbered Heads Together (NHT) dalam pembelajaran.
2. Tes
Tes adalah prosedur pengukuran yang dirancang secara sistematis, untuk mengukur
indikator/kompetensi tertentu dengan pemberian angka. Teknik tes ini dapat
568 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 5, Juli 2017
mengetahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar di kelas. Peneliti akan
melakukan post-test untuk mengetahui hasil penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya. Indikator kerja yang digunakan adalah Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM). Hasil belajar IPA meningkat apabila diatas 80% siswa memperoleh nilai
diatas KKM. Standar KKM yang digunakan adalah ≥ 60.
Instrumen Pengumpul Data
Instrumen pengumpulan data dilakukan dengan penilaian. Penilaian
dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar untuk mengukur berhasil tidaknya
proses pembelajaran. Penilaian dilakukan untuk memperbaiki program mengajar di
kelas dan pembelajaran di kelas agar hasil belajar siswa dapat meningkat. Menurut
Slameto (2015:233) terdapat dua macam alat pengukuran yaitu observasi atau non tes
dan tes.
1. Lembar Observasi
Penilaian dalam non-tes yang digunakan peneliti adalah observasi langsung.
Teknik non-tes ini berupa lembar pengamatan yang digunakan untuk mengamati
guru saat proses pembelajaran berlangsung sampai akhir pembelajaran selesai.
Peneliti menggunakan lembar obervasi untuk mengukur ranah afektif dan
psikomotor siswa. Observasi dilaksanakan pada akhir siklus I dan siklus II.
2. Tes
Tes merupakan alat yang digunakan untuk menilai atau mengukur kognitif siswa
dalam mengerjakan tugas yang berupa nilai. Tes yang digunakan peneliti adalah tes
pilihan ganda. Tes dilaksanakan setiap akhir siklus I dan siklus II.
Uji Instrumen Penelitian
Validitas Soal
Validitas menunjukan sejauhmana alat ukur itu mengukur apa yang ingin
diukur. Untuk mengetahui tingkat validitas suatu soal yang akan di ujikan kepada
siswa, maka sebelum diberikan soal tersebut sebaiknya diuji cobakan ke dalam kelas
lain untuk mengetahui butir soal yang valid. Uji validitas yang dilakukan
menggunakan SPSS 16.0 for windows. Berdasarkan hasil uji validitas pada siswa
dengan jumlah 26 siswa yang telah dilakukan pada 30 instrument soal siklus 1 terdapat
27 butir soal yang valid dan siklus 2 terdapat 25 butir soal. Berdasarkan instrumen soal
yang telah diuji maka akan menggunakan 20 soal yang telah terbukti valid pada setiap
siklus yang akan dijadikan sebagai instrument tes untuk mengetahui hasil belajar
siswa.
Reliabilitas Soal
Reliabilitas adalah mengukur instrumen terhadap ketepatan (konsisten).
Reliabilitas bertujuan untuk mengetahui tingkat keajegan dan ketepatan skor tes.
Dalam penelitian ini uji reliabilitas dilakukan dengan mengambil responden siswa
kelas V yang berjumlah 26 siswa. Koefisien reliabilitas selalu berada dalam rentang 0
sampai 1. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes semakin tinggi pula
keajegan/ketepatannya. Sebagai ancar-ancar koefisien reliabilitas berdasarkan nilai
Indri Puspita Sari | 569
alfa dapat diintepretasikan sebagai berikut (Wardani, dkk, 2012:346). Uji reabilitas
dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16.0 for windows.
Uji reabilitas soal yang telah dilakukan memperoleh hasil reliabilitas pada
siklus 1 dan siklus 2 memuaskan karena nilai alpha lebih dari 0,7. Hasil perhitungan
reliabilitas dapat dilihat padatabel berikut.
Tabel 1 : Data Hasil Reliabilitas Siklus 1
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.919
30
Sumber : Wardani, dkk, 2012:346
Tabel 2 : Data Hasil Reliabilitas Siklus 2
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.932
30
Sumber : Wardani, dkk, 2012:346
Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada
tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Untuk
memperoleh soal yang baik selain dengan uji validitas dan reliabilitas yaitu dengan
penentuan proporsi dan kriteria soal yang masuk ke dalam kategori soal mudah, soal
sedang atau soal sukar.Berdasarkan hasil uji tingkat kesukaran instrument soal, dari 30
soal siklus 1 dan 30 soal siklus kedua hasilnya adalah sebagai berikut.
Tabel 3 : Hasil Uji Tingkat Kesukaran Butir Soal Siklus I dan Siklus II
Kriteria
Siklus
Nomor Soal Valid
Sukar
Sedang
Mudah
1
5,9,19,21,
25
1,3,4,6,7,8,10,
18,20,22,23,2
4,28,30
2,7,11,12,13,1
4,15,16,17,26,
27,29
2
1,9,14,16,
18,29
2,3,5,6,7,8,10,
15,17,21,23,2
4,25,26,27,30
4,11,12,13,19,
20,22,28
1,2,4,5,6,7,8,9,10,
11,12,13,14,16,17
,18,19,20,21,22,2
3,24,25,26,28,29,
30
1,2,3,5,6,7,8,10,1
2,13,14,15,16,18,
19,20,21,22,23,24
,25,26,27,29,30
Sumber : Wardani, dkk, 2012:346
Teknik Analisis Data
Penelitian ini, peneliti menganalisis data instrumen tes dengan menggunakan
teknik analisis deskriptif untuk membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah
siklus I dan nilai tes siklus II dan berdasarkan jumlah siswa yang tuntas dan belum
tuntas. Data yang diolah dengan analisis deskriptif adalah data dari nilai yang
570 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 5, Juli 2017
diperoleh pada nilai tes kondisi awal, nilai setelah siklus I dan siklus II setelah
menggunakan model pembelajaran Problem Solving dipadukan denganmetode
Numbered Heads Together (NHT).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Dari hasil observasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada
pembelajaran IPA masih belum efektif. Masih banyak siswa yang berbicara dengan
teman yang lain, bermain sendiri, masih banyak siswa yang belum tuntas dan siswa
masih kurang aktif dalam pembelajaran. Dari hasil uji pra siklus masih banyak hasil
belajar siswa yang belum mencapai KKM. Dari hasil observasi yang telah dilakukan
pada kondisi awal nilai tertinggi siswa adalah 83 dan nilai terendah adalah 30. Dengan
rata-rata nilai yaitu 60. Hasil ketuntasan siswa sebanyak 14 siswa (54%) tuntas/diatas
KKM dan 12 siswa ( 46%) siswa belum tuntas/ di bawah KKM.
Langkah-langkah dalam penelitian ini yaitu guru membentuk kelompok secara
acak atau heterogen, guru menyiapkan pertanyaan dan topi bernomor untuk penerapan
model pembelajaran. Guru membagikan topi dan pertanyaan kepada ketua kelompok.
Selain itu guru juga membagikan lembar kerja siswa dan peralatan untuk percobaan.
Siswa berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan
data, menguji hipotesis dan menyimpulkan jawaban. Kemudian guru secara acak
mengambil nomor undian, dan siswa yang sama dengan nomor yang dipanggil guru
harus maju kedepan mempresentasikan hasil diskusi. Presentasi dilakukan sampai
semua siswa sudah mendapatkan giliran. Selanjutnya guru dan siswa melakukan
refleksi, membuat kesimpulan dan terakhir guru mengakhiri pembelajaran dengan
salam. Pada saat pembelajaran siklus I maupun siklus II dilakukan juga observasi
aktivitas guru dan siswa.
Aktivitas Guru dan Siswa
Kegiatan observasi aktivitas guru dan siswa dilakukan bersamaan ketika proses
pembelajaran berlangsung. Ada 13 indikator untuk observasi guru dan siswa.
Pengisian tabel pada lembar observasi aktivitas guru dan siswa menggunakan tanda
(√).
Pada hasil observasi aktivitas guru siklus I pada pertemuan pertama sebanyak
85%, pertemuan kedua sebanyak 92%, dan pertemuan ketiga sebanyak 100%.
Sedangkan aktivitas siswa pada siklus I pertemuan pertama sebanyak 77%, pertemuan
kedua sebanyak 85%, dan pertemuan ketiga sebanyak 92%.
Data dari hasil observasi aktivitas guru dan siswa pada siklus II mengalami
peningkatan dari siklus I. Pada hasil observasi aktivitas guru siklus II pada pertemuan
pertama sebanyak 92%, pertemuan kedua sebanyak 92%, dan pertemuan ketiga
sebanyak 100%. Sedangkan aktivitas siswa pada siklus II pertemuan pertama sebanyak
85%, pertemuan kedua sebanyak 92% dan pertemuan ketiga sebanyak 92%. Hasil
observasi siswa dan guru pada siklus I dan II termasuk kategori sangat tinggi atau
berhasil.
Hasil observasi aktivitas guru dan siswa pada siklus I dan siklus II disajikan
dalam tabel 1 berikut ini :
Indri Puspita Sari | 571
Tabel 4 : Perbandingan Aktivitas Guru dan Siswa Siklus I dan Siklus II
Aktivitas Guru
Aktivitas
Pembelajaran
Siswa
Siklus I Siklus Siklus Siklus
II
I
II
85%
92%
77%
85%
1
92%
92%
85%
92%
2
100%
100% 92%
92%
3
Sumber : Hasil Penelitian Diolah, Juni 2017
Berdasarkan data di atas, perbandingan aktivitas guru dan siswa dari siklus I ke
siklus II mengalami peningkatan. Dapat dilihat dari hasil observasi aktifitas guru
pertemuan pertama siklus I sebanyak 85 % meningkat menjadi 92 %. Pada pertemuan
kedua siklus I sebanyak 92% sama menjadi 92 % dan pertemuan ketiga sama menjadi
100%. Sedangkan aktivitas siswa pada pertemuan pertama siklus I sebanyak77%
meningkat menjadi 85% pada siklus II, pertemuan kedua siklus I sebanyak 85%
meningkat pada siklus II menjadi 92% dan pertemuan ketiga sama antara siklus I dan
II sebanyak 92%. Dari penjabaran ini dapat dikatakan bahwa model Problem Solving
yang dipadukan dengan metode Numbered Heads Together (NHT) dapat
meningkatkan aktivitas guru dan siswa.
Hasil Belajar
Hasil belajar siswa pada aspek kognitif menunjukkan adanya peningkatan dari
kondisi awal untuk nilai rata-rata meningkat menjadi 66,3 dengan nilai tertinggi 85 dan
nilai terendah 50. Sebanyak 6 siswa dengan presentase nilai 23% yang berarti tidak
tuntas atau masih dibawah KKM. Dan 20 siswa dengan presentase nilai 77% sudah
tuntas atau mencapai KKM.
Pada siklus II semakin mengalami peningkatan pada aspek kognitif. Rata-rata
nilai pada siklus II sebanyak 83.07, dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 65.
Ketuntasan pada siklus II ini sejumlah 26 siswa sudah mencapai KKM atau sudah
tuntas.
Hasil tes evaluasi untuk mengetahui peningkatan pada hasil belajar siswa
terdapat pada tabel 5 di bawah ini :
Tabel 5 : Perbandingan Hasil Belajar Kognitif IPA Kondisi Awal, Siklus I,
dan Siklus II
No
Penilaian
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
83
85
95
1 Nilai Tertinggi
30
50
65
2 Nilai Terendah
60
66,3
83,07
3 Nilai Rata-Rata
54% (14 siswa)
77% ( 20 siswa)
100% (26 siswa)
4 Ketuntasan
Sumber : Hasil Penelitian Diolah, Juni 2017
Berdasarkan tabel diatas, perbandingan hasil belajar siswa dari tes evaluasi
yang sudah dilaksanakan sebelum dan pada saat penelitian menunjukkan adanya
peningkatan. Pada nilai tertinggi meningkat dari kondisi awal adalah 83, menjadi 85
572 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 5, Juli 2017
pada siklus I dan menjadi 95 pada siklus II. Pada nilai terendah dari nilai 30 menjadi
50 pada siklus I dan menjadi 65 pada siklus II. Untuk nilai rata-rata pada kondisi awal
sejumlah 60 meningkat pada siklus I menjadi 66,3 dan pada siklus II menjadi 83.07.
Ketuntasan belajar juga meningkat dari kondisi awal sebanyak 54% menjadi 77% dan
pada siklus II meningkat menjadi 100%.
Hasil belajar afektif didapatkan dari pengamatan atau observasi ketika proses
pembelajaran sedang berlangsung.Hasil belajar afektif adalah penilaian untuk sikap
siswa pada saat pembelajaran di kelas. Penilaian hasil belajar ini berlangsung dari
pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga. Penilaian hasil belajar afektif
menggunakan skor antara 1-4 untuk 7 kriteria yang telah dijabarkan pada BAB III.
Kriteria dalam penilaian sikap adalah mendengarkan penjelasan guru, melaksanakan
instruksi dari guru, dapat bekerjasama membuat hipotesis dari pertanyaan yang
diberikan guru, menghargai pendapat teman, dapat bekerjasama dalam diskusi dengan
teman kelompok, dapat membuat menjawab sementara pertanyaan dari guru dengan
benar, dan dapat menguji kebenaran jawaban sementara dengan tepat.Hasil belajar
afektif dan psikomotor akan dijelaskan pada tabel berikut.
Tabel 6 : Hasil Belajar Afektif dan Psikomotor Siklus I dan Siklus II
Siklus I
Siklus II
No
Hasil
Cukup Baik Sangat Cukup Baik Sangat
Belajar
Baik
Baik
1
Afektif
6
9
11
1
10
15
siswa siswa siswa siswa siswa
siswa
(23%) (35%) (42%) (4%) (38%) (58%)
2 Psikomotor
4
11
11
4
22
siswa siswa siswa
siswa
siswa
(16%) (42%) (42%)
(16%) (85%)
Sumber : Hasil Penelitian Diolah, Juni 2017
Pada siklus I penilaian hasil belajar afektif yaitu tidak ada siswa yang
mendapatkan skor 1-7 atau dalam kategori kurang. Dalam rentang skor 8-14 ada 6
siswa (23%) dengan kategori cukup, dalam rentang 15-21 ada 9 siswa (35%) dengan
kategori baik dan dalam rentang skor 22-28 ada 11 siswa (42%) dengan kategori
sangat baik. Pada siklus II penilaian hasil belajar afektif yaitu tidak ada siswa yang
mendapatkan skor 1-7 atau dalam kategori kurang. Dalam rentang skor 8-14 ada 1
siswa (4%) dengan kategori cukup, dalam rentang 15-21 ada 10 siswa (38%) dengan
kategori baik dan dalam rentang skor 22-28 ada 115 siswa (58%) dengan kategori
sangat baik.
Penilaian hasil belajar psikomotor pada siklus I tidak ada siswa yang
mendapatkan skor kurang atau 1-3. Pada skor 4-6 ada 4 siswa (16%) dengan kategori
cukup, pada skor 7-9 ada 11 siswa (42%) dengan kategori baik, dan pada skor 10-12
ada 11 siswa (42%) dengan kategori sangat baik. Sedangkan penilaian hasil belajar
psikomotor siklus II tidak ada siswa yang mendapatkan skor kurang. Pada skor 7-9 ada
4 siswa (15%) dengan kategori baik, dan pada skor 10-12 ada 22 siswa (85%) dengan
kategori sangat baik.
Indri Puspita Sari | 573
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penerapan model Problem
Solving yang dipadukan dengan metode NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa
kelas V dengan proses pembelajaran yang berbentuk kelompok heterogen, dengan topi
bernomor di kepala. Guru memberikan masalah kepada siswa dalam bentuk undian
agar terlihat menarik dan siswa belajar mengidentifikasi masalah bersama dengan
berdiskusi sehingga melatih siswa untuk dapat bekerjasama, membuat hipotesis
dengan cara berdiskusi bersama dan dengan bimbingan guru sehingga siswa dapat
mengetahui berbagai macam hipotesis yang dibuat teman yang lain, mengumpulkan
data dengan melakukan percobaan sehingga dapat mengetahui proses terjadinya
sesuatu seperti membuktikan sifat-sifat cahaya, dan menguji hipotesis hingga sampai
tahap menyimpulkan dengan cara berdiskusi agar dapat memecahkan permasalahan
dengan membangun pengetahuan siswa yang lebih luas. Kemudian siswa
mempresentasikan kesimpulan jawaban sesuai dengan nomor yang dipanggil oleh
guru. Pembelajaran tersebut dilakukan hingga semua siswa mendapat giliran untuk
mempresentasikan jawaban, kemudian guru dan siswa melakukan refleksi
pembelajaran dengan bertanya jawab kepada siswa untuk mengetahui pembelajaran
yang sudah berlangsung , guru dan siswa membuat kesimpulan pembelajaran dan
terakhir menutup pembelajaran dengan salam.
Hasil belajar IPA pada kondisi awal dari 26 siswa keseluruhan, hanya14
(54%)siswa memenuhi KKM dan 13 (46%) siswa belum memehuhi KKM. Pada siklus
I jumlah siswa yang memenuhi KKM mengalami peningkatan menjadi 20 (77%) siswa
dan masih ada 6 (23%) siswa yang belum memenuhi KKM. Pada siklus II dari 26
siswa, 26 (100%) siswa memperoleh nilai lebih dari KKM. Hasil belajar afektif siswa
dengan kategori cukup pada siklus I sebanyak 6 siswa (23%), pada siklus II menjadi
hanya 1 siswa (4%). Pada kategori baik siklus I ada 9 siswa (35%) dan siklus II ada 10
siswa (38%) dan dalam kategori sangat baik pada siklus I ada 11 siswa (42%) dan ada
15 siswa (58%) pada siklus II. Berdasarkan analisis data hasil belajar psikomotor siswa
dengan kategori cukup pada siklus I ada 4 siswa (16%) dan siklus II tidak ada siswa
yang mendapatkan nilai cukup. Pada kategori baik siklus I ada 11 siswa (42%) dan
pada siklus II ada 4 siswa (15%). Pada kategori sangat baik siklus I ada 11 siswa
(42%) dan pada siklus II meningkat sebanyak 22 siswa (85%).
.Dengan demikian, penelitian tindakan kelas yang dilakukan berhasil dan
terbukti bahwa penerapan penerapan model Problem Solving dipadukan metode
Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V
SD Negeri Jetak 01 Semester II Tahun Ajaran 2016/2017.
DAFTAR PUSTAKA
Anni, Chatarina Tri Achmad Rifa’i. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang:
Universitas Negeri Semarang Press.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Gulo, W. 2004. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: PT. Grasindo.
Lie, A. 2002. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang kelas. Jakarta:
Gramedia Rahmi.
574 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 5, Juli 2017
Said, Alamsyah , dkk,. 2015. 95 Strategi Mengajar Multiple Intelligences. Jakarta:
Kencana.
Slameto. 2015. Metodologi Penelitian dan Inovasi Pendidikan. Salatiga: Satya Wacana
Univercity Press.
Suprijono, Agus. 2013. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Trianto.2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta : Prestasi Pustaka.
______. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
______. 2014. Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi, dan Implementasinya
dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara.
Wardani, Naniek Sulistya dkk. 2012. Asesmen Pembelajaran SD Bahan Ajar Mandiri.
Semarang: Widya Sari Press
Wena, Made. 2012. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan
Konseptual Operasional. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Download