Dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di

advertisement
Dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap
kemiskinan di Indonesia
Disusun oleh :
Khairul amin
130231100103
Prodi ekonomi pembangunan fakultas
ekonomi dan bisnis universitas
trunojoyo
Madura
2015
ABSTRAK
paper ini menjelaskan sekilas tentang dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap
kemiskinan di Indonesia, seberapa berpengaruh dua variable tersebut terhadap kemiskinan
serta korelasi atau hubungan dan peran terhadap kemiskinan di Indonesia,
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan urutan waktu
(time series) tahun 2001 sampai tahun 2013 data yang digunakan adalah data kemiskinan,
inflasi serta pertumbuhan ekonomi yang diperoleh dari BPS (badan pusat statistik) Indonesia.
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
pada sekarang ini karna dampak dari kenaikan BBM semanjak di umumkannya kenaikan
BBM oleh presiden jokowi dapat di analisis bahwa akan terjadi inflasi. BBM sendiri
merupakan salah satu faktor-faktor produksi yang dimana biaya produksi akan semakin
mahal akibat dari kenaikan BBM. Dan pada gilirannya akan berdampak pada harga-harga di
pasar secara umum. Melihat dari pengalaman semenjak naiknya BBM dari mulai
pemerintahan ibu megawati sampai bapak susilo bambang yudoyono kenaikan harga BBM
diikuti kenaikan harga bahan-bahan pokok di pasar-pasar. Kenaikan harga secara umum dan
berlangsung secara terus menerus merupakan inflasi yang telah terjadi di suatu Negara
tersebut.
Inflasi merupakan salah satu masalah-masalah yang banyak di hadapi oleh Negara
berkembang, pada dasarnya masalah-masalah makro ekonomi yang dihadapi oleh Negara
berkembang bukan hanya inflasi tapi masih banyak varibel-variabel lain yang menjadi
permasalahan di Negara-negara, Akan tetapi inflasi merupakan variable bebas yang akan
mempengaruhi varibel-varibel lain seperti pertumbuhan ekonomi serta kemiskinan di suatu
Negara. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses kenaikan kapasitas produksi
suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional, dalam
memproduksi suatu barang membutuhkan biaya produksi, apabila terjadi inflasi maka akan
naik pula biaya produksi dan pada nantinya akan mempengaruhi produk domistik bruto atau
pendapatan nasional, apabila pendapatan nasional berubah maka akan dapat pula
mempengaruhi kebijakan-kebijakan fiskal yang program-programnya di tunjukkan kepada
peningkatan kualitas hidup orang miskin.
Inflasi dan pertumbuhan ekonomi serta kemiskinan merupakan variabel makro ekonomi
yang punya korelasi antar variabel tersebut. Inflasi menyatakan kenaikan harga-harga secara
umum, sedangkan pertumbuhan ekonomi merupakan indikator kesejahteraan suatu Negara
yang dimana cara penghitungannya dengan pendekatan produksi atau bisa dengan pendekatan
pendapatan dan dapat pula dengan pendekatan pengeluaran seluruh aktivitas ekonomi,
sedangkan kemiskinan dapat dikatakan antara pengeluaran untuk kebutuhan jauh lebih besar
dari pendapatan yang di peroleh. Hal inilah yang melatar belakangi pengambilan judul tugas
paper yaitu terkait dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan.
B. Rumusan masalah
1. Belajar masalah-masalah yang terkait inflasi
2. Belajar tentang pertumbuhan ekonomi
3. Menganalisis masalah-masalah kemiskinan
4. Menganalisis dampak inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi serta kemiskinan
C. Tujuan penulisan
1. Mempelajari dan memahami masalah inflasi
2. Memahami pertumbuhan ekonomi
3. Memahami masalah-masalah kemiskinan
4. Memahami dan mengetahui seberapa besar hubungan inflasi terhadap pertumbuhan
ekonomi serta kemiskinan
LANDASAN TEORI
A. Inflasi
Inflasi merupakan kenaikan didalam tingkat harga umum (Samuelson dan Nordhaus,
2004). Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga – harga secara umum
dan terus – menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat di sebut
inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang
lainnya (www. Bi. Go. Id di akses pada tanggal 29 november, 18:45).
Hubungan inflasi dengan petumbuhan ekonomi pada prinsipnya tidak semua berdampak
negatif pada perekonomian. Terutama jika terjadi inflasi ringan yaitu inflasi dibawah sepuluh
persen. Inflasi ringan justru dapat mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Hal ini karna
inflasi mampu memberi semangat pada para pengusaha untuk lebih meningkatkan
produksinya, karna dengan kenaikan harga yang terjadi para pengusaha mendapat lebih
banyak keuntungan. Selain itu, peningkatan produksi memberi dampak positif lain, yaitu
tersedianya lapangan kerja baru. Inflasi akan berdampak negatif
jika melebihi sepuluh
persen.
Pada dasarnya teori inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah negatif, apabila inflasi
meningkat maka pertumbuhan ekonomi menurun, hal ini dapat dilihat ketika inflasi
mengalami peningkatan maka akan menyebabkan turunnya tingkat investasi. Hal ini
dikarenakan kenaikan inflasi akan mendorong naiknya tingkat suku bunga, kenaikan suku
bunga tersebut pada gilirannya akan mendesak investasi sehingga menyebabkan investasi
mengalami penurunan (Nopirin 2000). Turunnya investasi, berarti pula menurunnya kapasitas
produksi. Ketika kapasitas produksi mengalami penurunan, hal tersebut selanjutnya
berdampak pada menurunnya (melambatnya) penyerapan tenaga kerja. Menurunnya
penyerapan tenaga kerja di satu pihak, sementara di pihak lain, terjadi penambahan tenaga
kerja baru setiap tahunnya, akan berdampak pada meningkatnya tingkat pengangguran. Saat
pengangguran meningkat maka pendapatan masyarakat menjadi berkurang, menurunnya
pendapatan masyarakat selanjutnya berdampak pada berkurangnya konsumsi masyarakat.
Menurunnya konsumsi masyarakat berarti pula menurunnya permintaan agregat (permintaan
konsumsi). Ketika permintaan agregat menurun, hal tersebut kemudian menyebabkan laju
pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Apabila laju pertumbuhan ekonomi menurun
maka pendapatan negara ikut mengalami penurunan. Menurunnya pendapatan negara,
selanjutnya akan menyebabkan dana anggaran belanjanya juga ikut menurun. Ketika
pendanaan untuk anggaran belanja mengalami penurunan, namun di pihak lain pemerintah
ingin mempertahankan anggaran belanja yang tinggi guna memacu pertumbuhan ekonomi,
maka pemerintah akan berusaha mencari pendanaan baru, dengan cara mencetak uang,
sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang beredar
meningkat hal tersebut kemudian akan mendorong meningkatnya laju inflasi, sehingga siklus
tersebut terus berlanjut.
Sedangkan pengaruh inflasi terhadap kemiskinan bahwa tingkat inflasi akan
mempengaruhi tingkat kemiskinan karena dengan adanya inflasi kebutuhan pokok dan hargaharga lainnya akan ikut naik juga. Hal ini di dasari teori yang dikemukakan oleh Mankiw dan
Sadono Sukirno. Maka semakin tinggi tingkat inflasi maka semakin tinggi pula jumlah orang
miskin( hubungannya positif).
INFLASI
HARGA
PEREKONOMIAN
indonesia
KEMISKINAN
Kebijakan
PEMERINTAH
B. Pertumbuhan ekonomi
Robert Solow mengembangkan model pertumbuhan ekonomi yang disebut sebagai Model
Pertumbuhan Solow. Model tersebut berangkat dari fungsi produksi agregat sebagai berikut
(Dornbusch et al., 2004):
Y = A.F(K,L)
dimana Y adalah output nasional (kawasan), K adalah modal (kapital) fisik, L adalah
tenaga kerja, dan A merupakan teknologi. Y akan meningkat ketika input (K atau L, atau
keduanya) meningkat. Faktor penting yang mempengaruhi pengadaan modal fisik adalah
investasi. Y juga akan meningkat jika terjadi perkembangan dalam kemajuan teknologi yang
terindikasi dari kenaikan A. Oleh karena itu, pertumbuhan perekonomian nasional dapat
berasal dari pertumbuhan input dan perkembangan kemajuan teknologi yang disebut juga
sebagai pertumbuhan total faktor produktivitas.
Dampak pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan jika dilihat dari pengertian diatas
dapat disimpulkan apabila pertumbuhan ekonomi naik maka akan mengurangi jumlah orang
miskin (hubungan negative). Balisacan et al. (2002) melakukan studi mengenai pertumbuhan
dan pengurangan kemiskinan di Indonesia dan apa yang ditunjukkan oleh data subnasional.
Studi tersebut menyatakan bahwa Indonesia memiliki catatan yang mengesankan mengenai
pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan selama dua dekade. Pertumbuhan dan
kemiskinan menunjukkan hubungan kuat untuk tingkat agregat. Panel data yang dibangun
dari 285 Kota/Kabupaten menyatakan perbedaan yang besar pada perubahan dalam
kemiskinan, pertumbuhan ekonomi subnasional, dan parameter-parameter spesifik lokal.
Hasil dari analisis ekonometrika menunjukkan bahwa selain pertumbuhan ekonomi, ada
faktor lain yang juga secara langsung mempengaruhi kesejahteraan masyarakat miskin
terpisah dari dampaknya terhadap pertumbuhan itu sendiri. Di antaranya adalah infrastruktur,
sumberdaya manusia, insentif harga pertanian, dan akses terhadap teknologi. Upaya memacu
pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang penting dilakukan, namun selain itu juga
diperlukan strategi pengentasan kemiskinan yang lebih lengkap terkait dengan faktor-faktor
yang relevan di atas. Studi tentang pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan di
Indonesia juga dilakukan oleh Suryahadi et al. (2006). Studi ini menekankan pada dampak
lokasi dan komponen sektoral dari pertumbuhan. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi
dan pengurangan kemiskinan diperdalam dengan membedakan pertumbuhan dan kemiskinan
ke dalam komposisi sektoral dan lokasi. Hasil studi menunjukkan bahwa pertumbuhan pada
sektor jasa di perdesaan menurunkan kemiskinan di semua sektor dan lokasi. Namun
pertumbuhan jasa di perkotaan memberikan nilai elastisitas kemiskinan yang tinggi dari
semua sektor kecuali pertanian perkotaan. Selain itu pertumbuhan pertanian di perdesaan
memberikan dampak yang besar terhadap penurunan kemiskinan di sektor pertanian
perdesaan, yang merupakan kontributor terbesar kemiskinan di Indonesia. Hal ini
menunjukkan bahwa cara yang paling efektif untuk mempercepat pengurangan kemiskinan
adalah dengan menekankan pada pertanian di perdesaan dan jasa di perkotaan. Namun dalam
jangka panjang fokus penekanan harus diarahkan pada pencapaian pertumbuhan menyeluruh
yang kuat dalam sektor jasa. Suryadarma dan Suryahadi (2007) melakukan studi mengenai
pengaruh pertumbuhan pada sektor swasta terhadap penurunan kemiskinan di Indonesia
untuk melihat dampak pertumbuhan di sektor publik dan swasta terhadap kemiskinan.
Pertumbuhan belanja modal swasta digunakan sebagai proksi dari sektor swasta dan
pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah sebagai indikator sektor publik. Hasil
analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan di kedua sektor tersebut secara signifikan
mengurangi kemiskinan, selain itu juga menghasilkan elastisitas yang relatif sama. Oleh
karena itu, pertumbuhan pengeluaran baik di sektor publik maupun swasta akan mengurangi
kemiskinan dua kali lebih cepat dari pada hanya berharap dari pengeluaran publik saja.
Implikasinya, sangat penting bagi pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha dalam negeri
sehingga sektor swasta dapat berkembang dan pada akhirnya mempercepat pengurangan
kemiskinan.
C. Kemiskinan
Secara umum, penyebab kemiskinan dapat dibagi kedalam empat mazhab (Spicker,
2002), yaitu: Pertama, Individual explanation, mazhab ini berpendapat bahwa kemiskinan
cenderung diakibatkan oleh karakteristik orang miskin itu sendiri. Karakteristik yang
dimaksud seperti malas dan kurang sungguh-sungguh dalam segala hal, termasuk dalam
bekerja. Kedua, Familial explanation, mazhab ini berpendapat bahwa kemiskinan lebih
disebabkan oleh faktor keturunan. Tingkat pendidikan orang tua yang rendah telah membawa
dia kedalam kemiskinan. Akibatnya ia juga tidak mampu memberikan pendidikan yang layak
kepada anaknya, sehingga anaknya juga akan jatuh pada kemiskinan. Demikian secara terus
menerus dan turun temurun. Ketiga, Subcultural explanation, menurut mazhab ini bahwa
kemiskinan dapat disebabkan oleh kultur, kebiasaan, adat-istiadat, atau akibat karakteristik
perilaku lingkungan. Misalnya, kebiasaan yang bekerja adalah kaum perempuan, kebiasaan
yang enggan untuk bekerja keras dan menerima apa adanya, keyakinan bahwa mengabdi
kepada para raja atau orang terhormat meski tidak diberi bayaran dan berakibat pada
kemiskinan. Terkadang orang seperti ini justeru tidak merasa miskin karena sudah terbiasa
dan memang kulturnya yang membuat demikian. Keempat, Structural explanations, mazhab
ini menganggap bahwa kemiskinan timbul akibat dari ketidakseimbangan, perbedaan status
yang dibuat oleh adat istiadat, kebijakan, dan aturan lain menimbulkan perbedaan hak untuk
bekerja, sekolah dan lainnya hingga menimbulkan kemiskinan di antara mereka yang
statusnya rendah dan haknya terbatas.
Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator untuk melihat keberhasilan pembangunan
dan merupakan syarat bagi pengurangan tingkat kemiskinan. Syaratnya adalah hasil dari
pertumbuhan ekonomi tersebut menyebar disetiap golongan masyarakat, termasuk di
golongan penduduk miskin. (Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti, 2007).
Hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan. Hubungan
ini menunjukan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan tingkat
kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator untuk melihat keberhasilan pembangunan
dan merupakan syarat keharusan bagi pengurangan tingkat kemiskinan. Adapun syarat
kecukupannya ialah bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut efektif dalam mengurangi tingkat
kemiskinan. Artinya, pertumbuhan tersebut hendaklah menyebar disetiap golongan
pendapatan, termasuk di golongan penduduk miskin. Secara langsung, hal ini berarti
pertumbuhan itu perlu dipastikan terjadi di sektor-sektor dimana penduduk miskin bekerja
yaitu sektor pertanian atau sektor yang padat karya. Adapun secara tidak langsung,
diperlukan pemerintah yang cukup efektif mendistribusikan manfaat pertumbuhan yang
mungkin didapatkan dari sektor modern seperti jasa yang padat modal. Dari hasil penelitian
berarti pertumbuhan ekonomi telah menyebar di setiap golongan masyarakat termasuk
masyarakat miskin sehingga efektif dalam menurunkan tingkat kemiskinan. Pertumbuhan
ekonomi berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan sesuai dengan hipotesis penelitian
yang diajukan, maka hipotesis penelitian dapat diterima.
Salah satu faktor penentu kemiskinan di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Pendapatan perkapita penduduk
Tingginya pertumbuhan pendapatan per kapita tidak akan terlalu berdampak apabila tidak
disertai dengan perbaikan dalam hal distribusi pendapatan. Perubahan pendapatan per kapita
mempunyai pengaruh yang negatif terhadap kemiskinan. Peningkatan pendapatan per kapita
dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai oleh Indonesia hanya dinikmati oleh sebagian
kecil penduduk. Sementara sebagian besar penduduk yang saat ini hidup dalam kemiskinan
tidak menikmati capai tersebut. Dengan kata lain meskipun ekonomi tumbuh dengan baik,
tetapi mereka tetap berada dalam kemiskinan. Peningkatan kontra prestasi (gaji, honor, upah,
dan bentuk lain) yang selama ini terjadi di Indonesia hanya dinikmati oleh sebagian orang.
Peningkatan kontra prestasi tersebut tidak sampai menyentuh pada kelompok yang berada
pada garis kemiskinan.
2. Rasio Ketergantungan Penduduk
Kemiskinan juga dipengaruhi oleh rasio ketergantungan penduduk. Besarnya penduduk
yang beraktifitas sebagai ibu rumah tangga, menganggur, dan sedang sekolah akan semakin
memperbesar rasio ketergantungan penduduk. Tingkat pendidikan tidak berpengaruh
signifikan terhadap pengurangan faktor penyebab kemiskinan. Artinya jikalau nantinya
penduduk yang saat ini sedang sekolah (SMP/SMA/Diploma/Sarjana) telah lulus, maka
kehadira mereka tidak akan membantu mengurangi faktor penyebab kemiskinan. Tetapi
kehadiran mereka justru akan menambah besar nilai rasio ketergantungan. Dengan kata lain
kemungkinan mereka untuk menjadi pengangguran lebih besar karena sistem pendidikan
yang tidak memiliki link and match dan miskin praktek/ keterampilan.
Meningkatnya rasio ketergantungan akan meningkatkan proporsi populasi yang hidup
dalam kemiskinan. Angka kelahiran yang tinggi berimplikasi pada tingginya rasio
ketergantungan. Negara-negara berkembang di Asia yang sukses mengurangi angka
kelahiran, maka rasio ketergantungannya relatif rendah. Kemiskinan akan meningkat seiring
dengan meningkatnya rasio ketergantungan.
Faktor penyebab munculnya rasio ketergantungan adalah adanya tingkat kelahiran yang
tinggi. Penyebab kemiskinan adalah adanya ledakan penduduk yang tidak terkendali karena
ledakan penduduk akan menimbulkan pola hidup yang serba pas-pasan. Masyarakat miskin
tidak akan pernah berhasil mencapai taraf hidup yang lebih tinggi dari tingkat subsiten,
kecuali apabila mereka mengadakan pemeriksaan pengendalian preventif terhadap
pertumbuhan populasi mereka, atau dengan menerapkan pengendalian kelahiran. Apabila
setiap keluarga memiliki tiga orang anak yang berarti dalam satu keluarga akan terdiri dari
lima jiwa. Semakin besar jumlah anak maka semakin besar jumlah tanggungan yang harus di
tanggung oleh kepala keluarga. Selanjutnya semakin besar jumlah penduduk yang berusia
tidak produktif makan semakin besar tanggungan yang harus di tanggung oleh penduduk usia
produktif.
3. Pertumbuhan Ekonomi
Tidak ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mampu mengurangi munculnya kemiskinan. Karena
pertumbuhan ekonomi yang tinggi justru hanya memicu munculnya kesenjangan pendapatan
dan in-equality. Pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap upaya menaikkan
pendapatan penduduk miskin serta pertumbuhan ekonomi tidak bisa mengurangi
ketimpangan pendapatan antara orang kaya dan orang miskin. Tingginya pertumbuhan
pendapatan per kapita tidak akan terlalu berdampak apabila tidak disertai dengan perbaikan
dalam hal distribusi pendapatan. Perubahan pendapatan per kapita mempunyai pengaruh yang
negatif terhadap kemiskinan dan semakin besar ketimpangan distribusi pendapatan (gini
ratio) maka semakin besar tingkat kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang selama ini dicapai oleh Indonesia ternyata tidak
mampu mengurangi faktor penyebab kemiskinan. Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut
hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang di Indonesia. Efeknya akan memunculkan
kemiskinan struktural dimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa dinikmati oleh
sebagian kecil orang kaya, sementara bagian terbesar masyarakat yang tetap miskin.
Pengurangan kemiskinan di suatu negara dan di waktu tertentu ditentukan secara penuh
oleh tingkat pertumbuhan ekonomi dan perubahan distribusi pendapatan. Hubungan ini sesuai
dengan teori “tricle down effect” dimana bila ekonomi tumbuh, maka secara otomatis akan
terjadi pemerataan hasil-hasil pembangunan atau perembesan ke bawah sehingga hasil-hasil
pembangungan dapat dinikmati oleh kelompok miskin. Dengan demikian kaum miskin dapat
keluar dari kemiskinannya.
4. Persentase Tenaga Kerja Di sektor Pertanian
Kemiskinan di pedesaan di Indonesia dapat berkurang dengan meningkatkan nilai tambah
hasil pertanian. Sehingga pembangunan pedesaan dan pertanian, dimana ada kenaikan
produktivitas per hektar atau pada rumah tangga, seharusnya diprioritaskan untuk bagian
pulau di luar Jawa dan Bali dimana tingkat kemiskinannya yang tinggi. Persentase tenaga
kerja di sektor pertanian tidak mampu mengurangi faktor penyebab kemiskinan karena sektor
pertanian dan mempunyai tingkat pendidikan SD kebawah. Oleh karena itu program
pengentasan kemiskinan di sektor pertanian perlu diprioritaskan. Pembangunan sektor
pertanian melalui perbaikan lahan pertanian, perikanan, dan kehutanan serta pembangunan
masyarakat pedesaan perlu menjadi pijakan untuk membawa masyarakat Indonesia keluar
dari permasalahan kemiskinan.
5. Pengaruh Penghasilan Terhadap Kemiskinan
Menurut Sumardi (1983 : 65), penghasilan adalah uang yang diterima dan diberikan
kepada subyek ekonomi berdasarkan prestasinya yang diserahkan yaitu berupa pendapatan
dari pekerjaan yang telah dilakukannya, pendapatan dari profesi yang dilakukan sendiri atau
usaha perorangan dan pendapatan dari kekayaan serta dari sektor subsistem.
Menurut Djojohadikusumo (1989 : 20), pendapatan per kapita menunjukan tingkat hidup
masyarakat dalam suatu wilayah. Dengan meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat,
maka kesejahteraan masyarakat dalam suatu wilayah tersebut juga akan meningkat. Oleh
karena itu pendapatan per kapita suatu wilayah sering kali menjadi tolak ukur dari ketidak
berhasilan suatu daerah untuk menciptakan pembangunan yang pesat.
METODELOGI PENELITIAN
A. Penyajian data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan urutan waktu
(time series) tahun 2001 sampai tahun 2013 data yang digunakan adalah data kemiskinan,
inflasi serta pertumbuhan ekonomi yang diperoleh dari BPS (badan pusat statistik) Indonesia.
TAHUN
Pertumbuhan
ekonomi
Inflasi
kemiskinan
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
12.55
10.03
5.06
6.4
17.11
6.6
6.59
11.06
2.78
6.96
3.79
4.3
8.38
3.64
4.5
4.78
5.03
5.69
5.5
6.35
6.01
4.63
6.22
6.49
6.26
5.78
18.41
18.2
17.42
16.66
15.97
17.75
16.58
15.42
14.15
13.33
12.49
11.96
11.37
Data pertumbuhan ekonomi, inflasi serta kemiskinan dalam bentuk (persen) .
B. Identifikasi Variabel
Penelitian ini terdiri dari satu variabel tergantung dan dua variabel bebas. Variabelvariabel yang akan di gunakan untuk analisis dalam penelitian ini dibedakan dalam dua
golongan, yaitu :
1. Variabel tergantung (Dependent variable)
Varibel tergantung dalam penelitian ini adalah kemiskinan di Indonesia pada tahun 20012013
2. Varibel bebas (Independent variable)
Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah inflasi dan pertumbuhan
ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 2001-2013.
C. Teknik analisis dan pengolahan data
1. Analisis regresi linear berganda
Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih
variabel independen (X1, X2,….Xn) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk
mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah
masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi
nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau
penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio. Persamaan regresi
linear berganda sebagai berikut:
Y’ = a + b1X1+ b2X2+…..+ bnXn
Keterangan:
Y’ = Variabel dependen (nilai yang diprediksikan)
X1 dan X2 = Variabel independen
a = Konstanta (nilai Y’ apabila X1, X2…..Xn = 0)
b = Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan)
2. Uji T
Uji T dikenal dengan uji persial, yaitu untuk menguji bagaimana pengaruh masingmasing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri terhadap variabel terikatnya, uji ini dapat
dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t table.
3. Uji heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan
asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk
semua pengamatan pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi
adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas.
4. Uji autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi
klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan
pengamatan lain pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya
autokorelasi dalam model regresi.
5. Uji zero mean of error disturbance
Nilai Y hasil prediksi dengan model regresi tentunya mempunyai kesalahan atau tidak
tepat sama dengan nilai Y pada data. Selisihnya sering disebut dengan disturbance dan sering
disimbolkan dengan u. Nilai ini harus mempunyai rata-rata sama dengan 0 (eksak). Ketika
kita telah mendaptkan garis lurus pada model, maka nilai Y yang sebenarnya bisa berada di
atas atau di bawah garis lurus tersebut, akan tetapi jumlahnya akan seimbang sehingg rataratanya sama dengan 0.
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
1. Analisis regresi
Dependent Variable: KEMISKINAN
Method: Least Squares
Date: 12/07/14 Time: 14:18
Sample: 2001 2013
Included observations: 13
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
INFLASI
GDP
C
-1.652714
0.152980
23.17769
0.664484
0.144740
4.051381
-2.487215
1.056927
5.720937
0.0321
0.3154
0.0002
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.467657
0.361189
1.960214
38.42441
-25.49053
4.392446
0.042752
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
15.36231
2.452547
4.383159
4.513532
4.356362
0.819033
Sesuai dengan analisis regresi dapat disimpulkan bahwa ketika inflasi naik satu persen
maka tingkat kemiskinan menurun 1,65 persen. Sedangkan apabila pertumbuhan ekonomi
naik satu persen maka kemiskinan akan naik 0.15 persen. Dan ini tidak sesuai dengan teori.
2. Uji T
Angka probabilitas inflasi menunjukkan 0.0321 dibawah 0.1 berarti segnifikan di tingkat
10 persen. Sedangkan probabilitas GDP menunjukkan 0.3154 diatas 0.1 maka tidak
segnifikan.
3. Uji multikolinearitas
Dependent Variable: KEMISKINAN
Method: Least Squares
Date: 12/07/14 Time: 14:18
Sample: 2001 2013
Included observations: 13
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
INFLASI
GDP
C
-1.652714
0.152980
23.17769
0.664484
0.144740
4.051381
-2.487215
1.056927
5.720937
0.0321
0.3154
0.0002
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.467657
0.361189
1.960214
38.42441
-25.49053
4.392446
0.042752
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
15.36231
2.452547
4.383159
4.513532
4.356362
0.819033
Untuk melihat teridentifikasinya multikolinearitas salah satunya melihat probabilitas hasil
regresi. Jika probabilitas diatas 0.05 maka tidak segnifikan atau teridentifikasi multikol. Yang
teridentifikasi multikolinearitas pada probabilitas GDP, akan tetapi R-squared masih rendah
dan dapat disimpulkan bahwa regresi masih memenuhi syarat asumsi.
4. Uji heterokedasticity
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic
Obs*R-squared
Scaled explained SS
0.371410
2.725697
1.301529
Prob. F(5,7)
Prob. Chi-Square(5)
Prob. Chi-Square(5)
0.8535
0.7422
0.9348
Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 12/08/14 Time: 11:02
Sample: 2001 2013
Included observations: 13
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
INFLASI
INFLASI^2
INFLASI*GDP
GDP
GDP^2
-35.31771
12.62797
-1.139810
0.017697
1.111362
-0.070214
137.3072
46.85809
3.856642
0.897106
4.453293
0.080808
-0.257217
0.269494
-0.295545
0.019727
0.249560
-0.868893
0.8044
0.7953
0.7762
0.9848
0.8101
0.4137
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.209669
-0.354853
4.549225
144.8681
-34.11688
0.371410
0.853456
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
2.955724
3.908330
6.171828
6.432574
6.118233
1.752769
Dinyatkan teridentifikasi heterokedasticity apabila prob. obs*R-squared dibawah 0.1
maka teridentifikasi heterokedasticity. Dan hasil uji hetero, obs*R-squared 0.7422 masih
diatas 0.1 maka tidak teridentifikasi hetero.
5. Uji autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic
Obs*R-squared
2.042881
4.394833
Prob. F(2,8)
Prob. Chi-Square(2)
0.1920
0.1111
Test Equation:
Dependent Variable: RESID
Method: Least Squares
Date: 12/08/14 Time: 11:10
Sample: 2001 2013
Included observations: 13
Presample missing value lagged residuals set to zero.
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
INFLASI
GDP
C
RESID(-1)
RESID(-2)
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
F-statistic
Prob(F-statistic)
-0.163443
-0.023573
0.999142
0.797851
-0.361347
0.338064
0.007096
1.783063
25.43450
-22.80872
1.021440
0.451594
0.619054
0.135085
3.754408
0.394736
0.437986
-0.264020
-0.174504
0.266125
2.021225
-0.825020
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
Hannan-Quinn criter.
Durbin-Watson stat
0.7984
0.8658
0.7969
0.0779
0.4333
-3.76E-16
1.789423
4.278265
4.495553
4.233602
1.531304
Jika probabilitas obs*R-squared dibawah 0.1 maka teridentifikasi autokorelasi, akan
tetapi angka dari obs*R-squared masih 0.1111 maka tidak teridentifikasi autokorelasi.
6. Uji zero mean of error disturbance
Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis
-3.76E-16
-0.421243
2.888898
-3.536983
1.789423
-0.116164
2.613960
Jarque-Bera
Probability
0.109960
0.946504
Sum
Sum Sq. Dev.
-3.55E-15
38.42441
Observations
13
Apabila rata-rata Ц = 0 atau mendekati 0 maka memenuhi asumsi. Dan dapat dilihat
pada table diatas bahwa rata-rata Ц mendekati 0, maka memenuhi asumsi.
KESIMPULAN
1. Hubungan inflasi dengan kemiskinan
Pada dasarnya hubungan inflasi dengan kemiskinan adalah positif , apabila inflasi naik
maka kemiskinan akan naik pula. Akan tetapi hasil regresi mulai dari tahun 2001-2013
menunjukkan ketidaksamaan dengan teori yang berdasarkar hasil regresi inflasi naik satu
persen, tingkat kemiskinan menurun 1,65 persen. Dan hasil regresi sudah sesuai dengan
asumsi klasik, karena hasil regresi tidak menunjukkan teridentifikasinya penyimpangan uji
asumsi klasik, seperti halnya uji heterokedasticiy, multikolinearitas dan lain-lain sebagainya.
2. Hubungan pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan
Berdasarkan hasil regresi yang dilakukan, hubungan pertumbuhan ekonomi dengan
kemiskinan juga tidak sesuai dengan teori. Karena hasil dari regresi menunjukkan
pertumbuhan ekonomi naik satu persen, kemiskinan naik pula 0.15 persen.seharusnya apabila
pertumbuhan naik maka tingkat kemiskinan menurun. Dan tidak ada penyimpangan asumsi
klasik yang dilakukan.
3. Kemisknan
Dapat disimpulkan bahwa bukan hanya inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang
mempengaruhi tingkat kemiskinan di indonesia mulai tahun 2001-2013, karena berdasarkan
hasil regresi yang tidak sesuai dengan teori antara hubungan inflasi dan pertumbuhan
ekonomi terhadap kemiskinan mengasumsikan banyaknya variabel-variabel lain juga
mempengaruhi tingkat kemiskinan, seperti halnya tersedianya lapangan pekerjaan, faktor
sosial dan lain-lain sebagainya.
Refrensi
Todaro.2006.Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta : Erlangga
Setyawati, Yunita. 2006. “Analisis Kausalitas Antara Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
(kasus perekonomian Indonesia tahun 1994.1-2003.4) Dengan Motode ECM”.
Yogjakarta: Fakultas ekonomi UII.
Ray, D .1995 ,” Paradigma New Growth : Teori dan Implikasinya terhadap Kebijakan”,
Prisma (Vol 3), pp. 63-76.
Kuncoro, Mudrajad. 2001. Metode Kuantitatif. Yogyakarta: (UPP) STIM YKPN.
Sukirno, Sadono. 2006. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta. PT RajaGrafindo
Persada.
www.bps.go.id Situs Resmi Badan Pusat Statistik.
Zakaria, Junaiddin. 2009. Pengantar Teori Ekonomi Makro. Jakarta. Gunung Persada
Download