POLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT BERAGAMA

advertisement
POLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT BERAGAMA
(Studi Komunikasi Antarbudaya Tionghoa dengan Muslim
Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi
Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam
(S.Kom. I)
Oleh :
SITI ASIYAH
108051000157
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H / 2013
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
Skripsi yang berjudulPOLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT BERAGAMA
(Studi Komunikasi AntarbudayaTionghoadenganMuslim Pribumi di Rw
04 Kelurahan Mekarsari Tangerang),telahdiujikan dalamsidangMunaqasyah
FakultasIlmu Dakwah dan Ilmu KomunikasiUniversitasIslam Negeri (uIN)
Syarif HidayatullahJakarta,29 Januari2013. Skripsi ini telah diterima sebagai
salahsatu syaratuntuk memperolehgelar SarjanaKomunikasiIslam (S.Kom.I)
padaJurusanKomunikasidanPenyiaranIslam.
Jakarta,0 1 Februari20I 3
SidangMunaqasyah
Ketua MerangkapAnggota
,/iv
Ve"*
,-1
/
Sekeretari
s MerangkapAnggota
,')
Drs. Jumroni.M.Si
NIP: 196351il9920031006
N I P :1 9 7 1 0 8 1
Anggota,
19601202199503
I 00I
NIP: 197506062007101001
Pembimbing
Dr. ArmawbtiArbi. M. Si
NIP: 1965020719910322002
POLA KOMUNIKASI
ANTAR UMAT BERAGAMA
(Studi Komunikasi Antarbudaya Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04
Kelurahan Mekarsari Tangerang)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar SarjanaKomunikasi Islam
(S.Kom.I)
Oleh:
Siti Asiyah
108051000157
DosentpS*'
Dr. Arrnarvhti Arbi. M. Si,
NIP : 1965020719910322002
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434H / 2013
r
SURAT PERNYATAAN
Denganini sayamenyatakan
bahwa:
Skripi ini adalah mumi hasil karya pribadi berdasarkan penelitian yang
dilakukan semua kutipan yang ada dalam skripsi ini disertai dengan
mencantumkan sumbernya.
Skripsi ini mengacu pada pedoman penulisan karya ilmiah yang ditentukan
oleh Univeitas Islm Negeri Hidayatulah Jakarta.
Jika terbukti melakukan plagiat atau kecurangan lainnya, maka penulis
bersedia diberi sanksi sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh
universitas.
Demikian surat pernyataanini dibuat dengansebenar-benarnya.
Jakarta,29 Jarruari2013
NIM: 108051000 157
ABSTRAK
Siti Asiyah
Pola Komunikasi Antar Umat Beragama (Studi Komunikasi Antarbudaya
Tionghoa dengan Muslim Pribumi)
Warga Tionghoa
yang tinggal di kelurahan Mekarsari Tangerang
merupakan etnis yang sudah sejak lama hidup berdampingan dengan warga pribumi,
meski dahulu mereka mengalami pendiskriminasian dari kelompok-kelompok
tertentu, akan tetapi mereka masih tetap bertahan hingga saat ini meski hidupnya
selalu berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain dan mereka kini sudah
berakulturasi dengan warga setempat sehingga tercipta hubungan yang harmonis,
namun hal ini tidak terlepas dari hambatan-hambatan yang mengganggu jalannya
proses komunikasi.
Tujuan penelitian ini dilakukan karena untuk mengetahui proses komunikasi
dalam akulturasi, asimilasi dan enkulturasi budaya yang terjadi pada warga Tionghoa
dan Pribumi melalui beberapa variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi,
asimilasi dan enkulturasi.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis melakukan penelitian di
Kelurahan Mekarsari Tangerang tepatnya di RW 04 Desa Sewan Lebak Wangi.
Adapun pertanyaan yang dirumuskan adalah : Bagaimana pola komunikasi dalam
proses akulturasi, yang terjadi antara Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04
Kelurahan Mekarsari Tangerang? Bagaimana pola komunikasi dalam proses asimilasi
yang terjadi antara Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari
Tangerang? Bagaimana pola komunikasi dalam proses enkulturasi yang terjadi antara
Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif
kualitatif dengan pendekatan kualitatif peneliti melakukan pengumpulan data melalui
wawancara , Focus Group Discussion ke beberapa narasumber yang dianggap tepat
dalam memberikan informasi dan juga dokumentasi, beberapa data yang bersifat
teoritis berupa buku-buku, data-data dari dokumen yang berupa data-data formal,
internet dan sebagainya yang bersangkutan dengan judul, peneliti juga melakukan
observasi dengan mendatangi langsung lingkungan RW 04 Desa Sewan Lebak Wangi
sebagai studi penelitian.
Adapun pola komunikasi yang berlangsung antara etnis Tionghua dengan
muslim pribumi yaitu: pola komunikasi antarpribadi yang yang terjadi dalam sebuah
keluarga dalam hubungannya dengan masyarkat sekitar khususnya ketika mereka
saling bertemu, atau sedang dalam proses jual beli, adapun pola komunikasi
kelompok terjadi ketika kedua pihak tersebut berkumpul dalam musyawarah
pembangunan dan sebagainya. Pada hambatan komuniaksi salah satunya karena
adanya stereotyping yang berkembang dimasyarakat, merasa budayanya paling benar
dan lain sebagainya. Serta untuk faktor pendukungnya ialah mengenali diri sendiri,
menggunakan kode yang sama, jangan terburu-buru, meningkatkan keterampilan
komunikasi dan mengebangkan empati.
i
KATA PENGANTAR
Asslamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, yang telah memerintahkan
umat-Nya dengan nuun wal qolam, Sang Pencipta yang telah memberi
kemampuan umat-Nya untuk selalu berfikir, bergerak dan mengahsilkan karya
yang bermanfaat.
Shalawat dan salam terlimpah curahkan kepada Baginda Nabi
Muhammad SAW yang selalu memberikan petunjuk dan pencerahan bagi
kehidupan, yang telah membawa umatnya minadzulumati ilannur, dan
kesejahteraan semoga selalu tercurahkan kepada keluarga besar beliau, sahabatsahabat-Nya, tabi’in-tabi’utabiin, dan kita sebagai umatnya semoga mendapatkan
syafaatnya kelak. Amin.
Sungguh tak ada dzat yang Maha Dahsyat selain Illahi Rabbi, karena
dengan izin-Nya lah skripsi ini dapat diselesaikan, meski harus diiringi dengan
keringat dan airmata, tapi kekuatan dapat terkumpulkan, dan menjadi karya yang
diharapkan bermanfaat bagi sesama. Hambatan dan rintangan yang ada selama
proses penyusunan skripsi ini juga merupakan sebuah anugrah yang luar biasa
dari-Nya, karena tanpa hambatan dan rintangan mustahil skripsi ini dapat menjadi
skripsi yang layak untuk dipublikasikan.
Tak ada alasan terbesar peneliti menyelesaikan karya ilmiah ini, kecuali
untuk Mengungkapkan terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga peneliti
tercinta terutama kepada kedua orang tua ayahanda Nanang dan ibunda Maesaroh
ii
yang telah memberikan dukungannya baik moril maupun materil sehingga peneliti
dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih emak dan abah atas segala peluh
dan air mata dalam setiap doa yang kalian panjatkan.
Dengan penuh kerendahan hati dan kesadaran diri, peneliti sadar bahwa
skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak, sudah sepatutnya
peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan dan dukungan demi terselesaikan penelitian skripsi ini. Maka peneliti
berterima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Arief Subhan, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, Pembantu Dekan Bid. Akademik Drs. Wahidin Saputra, MA,
Pembantu Dekan Bid. Adm. Umum Drs. Mahmud Jalal, M.A, Pembantu
Dekan Bid. Kemahasiswaan Drs. Studi Rizal LK, M.A.
3. Drs. Jumroni, M.Si dan Umi Musyarofah, M.A selaku Ketua Jurusan dan
Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam yang banyak membantu
penulis.
4. Drs. Cecep Castrawijaya, M.A, Selaku Pembimbing Akademik yang telah
bersedia meluangkan waktunya kepada penulis untuk berdiskusi dan
memberikan saran mengenai judul skripsi.
iii
5. Dr. Armawati Arbi. M.Si, dosen pembimbing yang selalu sabar
membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini,
semoga ilmunya bermanfaat.
6. Para dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
mewariskan ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan. Semoga ilmu
yang diberikan bermanfaat bagi penulis dan masyarakat serta menjadi amal
sholeh yang akan terus mengalir bagi para dosen.
7. Bapak Cwe Fak Liem dan Ibu Tan Lie Yen (een) yang banyak membantu
penulis dalam mencari informasi ditempat penelitian.
8. Para pegawai perpustakaan baik fakultas maupun Perpustakaan Utama yang
bersedia melayani penulis meminjam buku dengan penuh senyuman dan
keramahan.
9. Kakak-kakakku dan adikku, kak Uchi, kak Sukma, Kak Asep,Teh
Oyenk,Teh Memey ,Teh Engkoy, dan De Nur terima kasih atas segala
dukungan yang luar biasa
yang kalian berikan kepada penulis, tetap
semangat untuk membangun keluarga yang berpendidikan.
10. Keponakanku yang cantik-cantik dan tampan ka Nayya, de Halwa dan aa
Fatih yang selalu memberikan keceriaan dan semangat kepada penulis jika
sedang bosan dan hampir putus asa untuk mengerjakan skripsi ini.
iv
11. Sevi Maulana yang selalu memberikan dukungan kepada penulis, terima
kasih untuk buku-buku yang kau belikan dan laptop yang bersedia engkau
pinjamkan selama penulis belum punya sehingga penulis tetap semangat
dalam menyusun skripsi ini.
12. Kak Ali Akbar yang selalu memberikan pesan positif setiap harinya kepada
penulis.
13. Teman-teman KPI E Multitalenta dan Angakatan 2008 yang telah menjadi
teman seperjuangan selama masa perkuliahan, Anna, Billy, Deniza, Nia,
Nadia, Farhah dan Rini ,Tetap semangat dan salam sukses.
14. Kawan-kawan KKN TIME kelompok 22 2011, Mario Haliandar ketua yang
OK, Riris Agustya, Retno Suci Ningsih, Muhammad Ikhwan, Uwaisul
Firdaus, Laily Qudsiyah, Hendrik Permana, Ilham Muttaqin, Agus, Syifa
Fauziah, Mama Shika, dan Hananah, Rini, Farhah, Nia, dan Anna. Sukses
untuk kita semua.
15. Sahabat-sahabatku satu kostan Assalam Dede, Fartiah, Ama, Indah dan
Nana yang selalu menyemangati peneliti dan selalu bisa membuat penulis
tersenyum dan tertawa meski dalam keadaan stress tingkat tinggi.
16. Last but not Least
semua pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Jakarta, 29 Januari 2013
Siti Asiyah
v
DAFTAR ISI
ABSTRAK .................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ...................................................................................................... viii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ............................................ 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...................................................... 6
D. Tinjauan Pustaka ............................................................................ 7
E. Kerangka Konsep ........................................................................... 10
F. Metodologi Penelitian .................................................................... 11
G. SistematikaPenulisan ..................................................................... 16
BAB II LANDASAN TEORITIS
A. Dakwah Kultural ............................................................................ 18
B. Komunikasi Antarbudaya Sebagai Fenomena Sosial .................... 21
1. Dimensi-dimensi Komunikasi Antarbudaya ............................ 24
2. Unsur-unsur Budaya/Pola Budaya ........................................... 26
3. Akulturai, Asimilasi, dan Enkulturasi ...................................... 30
4. Derajat Perbedaan dan Derajat Kesamaan ............................... 35
5. Problem Potensial/Hambatan Komunikasi Antarbudaya......... 38
6. Faktor Pendukung Solusi dalam Pola Komunikasi Antarbudaya
.................................................................................................. 42
C. Sejarah Singkat Etnis Tionghoa di Inonesia .................................. 44
D. Pola Komunikasi ............................................................................ 47
vi
BAB III
PROFIL
MASYARAKAT
KELURAHAN
MEKARSARI
TANGERANG
A. Gambaran Umum Kelurahan Mekarsari Tangerang................................ 59
1. Kependudukan ............................................................................... 59
2. Agama dan Kepercayaan ............................................................... 53
3. Mata Pencaharian ........................................................................... 54
4. Pendidikan...................................................................................... 56
B. Sejarah Singkat Etnis Tionghua di Tangerang ....................................... 57
1. Etnis Tionghoa di Tangerang ............................................................ 57
2. Klenteng/ Vihara Tjong Tek Bio ....................................................... 59
BAB IV
POLA KOMUNIKASI ETNIS TIONGHOA DENGAN MUSLIM
PRIBUMI DI RW 04 KELURAHAN MEKARSARI TANGERANG
A. Pola Komunikasi Antarbudaya dalam Proses Akulturasi, Asimilasi dan
Enkulturasi ..................................................................................... 62
1. Pola Komunikasi dalam Proses Akulturasi .............................. 62
2. Pola Komunikasi dalam Proses Asimilasi ............................... 73
3. Pola Komunikasi dalam Proses Enkulturasi ............................ 74
B. Hambatan Komunikasi dalam Pola Komunikasi Antarbudaya ..... 75
C. Faktor Pendukung dalam Pola Komunikasi Antarbudaya ............. 79
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 88
B. Saran-saran ..................................................................................... 90
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 92
LAMPIRAN-LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin………………………….......50
Table 2
Jumlah Penduduk Menurut Usia Kelompok Pendidikan……...……......51
Table 3
Jumlah Penduduk Menurut Usia Kelompok Kerja………………...…...52
Tabel 4
Penganut Agama/ Kepercayaan Masyarakat Kelurahan Mekarsari.........53
Tabel 5
Mata Pencaharian Masyarakat Kelurahan Mekarsari……………….......55
Tabel 6
Tingkat Pendidikan Masyarakat Kelurahan Mekarsari……………........57
Tabel 7
Dielek atau pengucapan bahasa sehari-hari…………………..……........68
Tabel 8
Rangkuman dari Hasil Proses Akulturasi, Asimilasi, dan Enkulturasi....85
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada satu penerima atau lebih dengan maksud mengubah prilaku. Sehubungan
dengan kenyataan bahwa komunikasi adalah suatu yang tidak bisa dipisahkan dari
aktivitas seorang manusia. Dalam komunikasi dikenal dengan pola-pola tertentu
sebagai manifestasi prilaku manusia dalam berkomunikasi. Ditinjau dari pola
yang dilakukan ada beberapa jenis yang dikomunikasikan. Beberapa sarjana
Amerika membagi pola komunikasi menjadi lima, yakni komunikasi antarpribadi,
komunikasi kelompok kecil, komunikasi massa dan komunikasi publik. Istilah
pola komunikasi biasa disebut sebagai model, yaitu sistem yang terdiri dari atas
berbagai komponen yang berhubungan satu sama lainnya untuk mendapatkan
tujuan secara bersama, Joseph A. Devito membagi pola komunikasi menjadi
empat yakni komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok kecil, komunikasi
publik, dan komunikasi massa.1
Budaya bangsa Indonesia merupakan Negara yang mempunyai
keragaman budaya, hal tersebut tercermin dalam semboyan Negara yaitu
“Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Karenanya
Indonesia adalah Negara kompleks karena memiliki perbedaan budaya dan di
Indonesia golongan etnis meliputi etnis asli dan etnis keturunan. Etnis turunan
tidak hanya dikenakan kepada orang peranakan melainkan juga orang asing yang
1
Nurudin. Sistem Komunikasi Indonesia, ( Jakarta, PT Grafindo Persada : 2007) Hal.
26-28.
1
2
sepenuhnya asing tanpa nenek moyang pribumi.2 Adapun golongan etnis
keturunan ialah etnis yang sudah mengalami percampuran dengan nenek moyang
pribumi yaitu dengan melakukan pernikahan dengan nenek moyang pribumi.
Adapun etnis keturunan di Indonesia di antaranya keurunan Cina, Arab, India,
Pakistan dan sebagainya.
Manusia merupakan makhluk sosial akan selalu berinteraksi dengan
lingkungannya, karena bagaimanapun manusia saling membutuhkan satu sama
lain guna memenuhi kebutuhan hidup. Karenanya manusia
tidak luput dari
aktivitas komunikasi baik antarpribadi maupun kelompok dengan berbagai latar
perbedaan budaya.
Hubungan individu atau kelompok dari lingkungan kebudayaan yang
berbeda akan mempengaruhi pola komunikasi, karena perbedaan budaya memiliki
sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup
yang berbeda.3 Sehingga kerap kali menemui hambatan-hambatan seperti bahasa,
norma dan adat suatu kelompok masyarakat tertentu yang menjadikanya pedoman
oleh mereka dalam bersikap dan berinteraksi, karenanya akan banyak perbedaan
yang muncul, dan perbedaan tersebut jika tidak dipahami dengan baik akan
menjadi kendala dalam proses komunikasi, dan juga dapat menimbulkan konflik
yang mengarah pada perpecahan dan berpengaruh pada keutuhan Negara. Hal
tersebut tentunya sangat tidak sesuai dengan landasan ideal Panca Sila yaitu sila
2
Bambang Prabowo, dkk. Stereotip Etnik, Asimilasi Integrasi Sosial, (Jakarta: PT
Pustaka Grafika, 1988),h. 172
3
Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya,2005). H. vii
3
ke-3”Persatuan Indonesia”.4 Hal tersebut tentunya disebabkan oleh banyak faktor,
tetapi salah satu faktornya adalah adanya perbedaan-perbedaan budaya. Dengan
demikian, komunikasi dalam sebuah hubungan yang multi etnis perlu dilakukan,
sebagai salah satu alternatif dalam menciptakan hubungan yang harmonis. Dalam
masyarakat akan terwujud sebuah kesadaran sebagai satu komunitas yang berada
dalam satu wilayah Negara Indonesia, serta dapat saling menerima dan
menghormati perbedaan-perbedaan tersebut.
Melihat peran komunikasi yang begitu penting dalam menciptakan
hubungan harmonis yang multi etnis dan penuh perbedaan budaya, maka penulis
tertarik untuk lebih jauh mengkajinya dalam ruang lingkup komunikasi
antarbudaya. Untuk itu penulis akan meneliti sebuah pola komunikasi yang terjadi
pada golongan etnis Tionghua dengan etnis asli Indonesia atau masyarakat
pribumi.
Adapun penelitian ini dilakukan pada etnis Tionghua di Kelurahan
Mekarsari Kecamatan Neglasari Tangerang, kelurahan ini letaknya tidak jauh dari
Bandara Soekarno-Hatta. Etnis Tionghua di Indonesia termasuk golongan yang
minoritas, dimana mereka pada dasarnya memiliki pola kebudayaan yang berakar
dari negeri Cina yang berbeda dengan pola kebudayaan masyarakat muslim
pribumi, namun hampir semua etnis Tionghua di Indonesia saat ini sudah
dilahirkan dan hidup berdampingan sejak lama di Indonesia sehingga secara
langsung terjalin hubungan komunikasi antara Tionghoa dengan masyarakat
pribumi.
4
2003), h.i
Departemen Agama, Konflik Etno Religius Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Litbang,
4
Begitupun dengan keturunan Tionghua yang berada di Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Kecamatan Neglasari Tangerang yang biasa disebut dengan Cina
Benteng ini terlihat adanya hubungan komunikasi dengan masyarakat pribumi
didaerah tersebut, keadaan tersebut tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor,
diantaranya perkawinan, kepercayaan dan perdagangan yang dilakukan oleh
kedua belah pihak tersebut yakni Tionghua dan Pribumi.
Hubungan komunikasi yang akan timbul antara Tionghua yang
mempunyai pola kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat Pribumi ialah
hubungan komunikasi antarbudaya yaitu sebuah hubungan komunikasi yang
dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya di Tangerang, dimana orang yang terlibat
dalam komunikasi memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
Karenanya budaya mempunyai timbal balik dengan komunikasi, seperti
dua sisi dari satu mata uang, yang mana budaya menjadi bagian dari prilaku
komunikasi dan pada gilirannya komunikasipun turut menentukan, memelihara,
mengembangkan, atau mewariskannya.5
Adanya hubungan komunikasi yang terjalin antara Tionghoa dengan
masyarakat pribumi mendorong penulis untuk lebih jauh mengetahui gambaran
secara jelas mengenai pola komunikasi, penggunaan bahasa, prasangka dan
stereotip yang tumbuh dalam hubungan yang terjadi serta melihat berbagai bentuk
kegiatan yang menunjang terbentuknya hubungan tersebut. Untuk itu penulis akan
menyusun penelitian ini dalam bentuk skripsi dengan judul
5
Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya, h. vi
5
“POLA KOMUNIKASI ANTAR UMAT BERAGAMA
(Studi Komunikasi Antarbudaya Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw
04 Kelurahan Mekarsari Tangerang)”
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Dalam penelitian ini penulis mengidentifikasi masalah yaitu ingin
menggambarkan secara jelas mengenai pola komunikasi yang terjadi antara etnis
Tionghoa dengan masyarakat muslim pribumi yang terjadi di lingkungan Rw 04
Kelurahan Mekarsari Tangerang atau biasa disebut dengan Cina Benteng, serta
menghubungkannya
dalam
berbagai
konteks
kegiatan
seperti
ekonomi,
perkawinan, dan keagamaan, penggunaan bahasa, prasangka dan stereotip.
2. Pembatasan Masalah
Melihat luasnya pembahasan yang berkaitan dengan permasalahan
yang akan penulis teliti, agar lebih terfokus dan efektif dalam penelitian ini
penulis membatasi beberapa masalah terkait dengan penelitian. Pertama terkait
dengan masalah tempat penelitian penulis membatasi wilayah atau tempat yang
menjadi objek penelitian yakni hanya terfokus pada lingkungan Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Kecamatan Neglasari Tangerang. Data yang penulis temukan memiliki
jumlah penduduk etnis Tionghua yang paling banyak bermukim yaitu sekitar 350
kepala keluarga. Selain itu penulis juga membatasi siapa orang yang tepat untuk
menjadi informan dalam penelitian ini yaitu kepala keluarga dari pasangan suami
istri Tionghoa dan muslim Pribumi. Akan tetapi jika tidak ada maka bisa juga
dilakukan kepada keluarga yang lain seperti ibu dan anak.
6
Kedua terkait dengan masalah bentuk pola komunikasi yang akan
penulis teliti terbatas hanya dalam bentuk komunikasi antarpribadi dan kelompok
secara langsung tanpa media massa sebagai sarana komunikasi.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan
permasalahan sebagai berikut:
Bagaimana pola komunikasi antarbudaya yang terjadi antara Tionghoa dengan
Muslim Pribumi di RW 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
Berdasarkan masalah diatas maka yang menjadi pertanyaan turunan adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana pola komunikasi dalam proses akulturasi, yang terjadi antara
Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
2. Bagaimana pola komunikasi dalam proses asimilasi yang terjadi antara
Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
3. Bagaimana pola komunikasi dalam proses enkulturasi yang terjadi antara
Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang?
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pola komunikasi dalam proses akulturasi yang terjadi
antara masyarakat Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Tangerang.
7
b. Untuk mengetahui
pola komunikasi dalam proses asimilasi antara
masyarakat Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Tangerang.
c. Untuk mengetahui pola komunikasi dalam proses enkulturasi antara
masyarakat Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Rw 04 kelurahan
Mekarsari tangerang.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu dakwah dan ilmu
komunikasi melalui konsep komunikasi antarbudaya dan metode penelitian
kualitatif.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada masyarakat
dan akademisi ilmuan komunikasi dan penyiaran islam untuk dapat mencegah
konflik, akibat kesalahpahaman cara pandang dalam memahami dan menafsirkan
sebuah pesan yang digunakan oleh komunikator yang berbeda budaya.
D. Tinjauan Pustaka
1. Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini, peneliti juga mengadakan tinjauan pustaka. Dengan
mengadakan tinjauan perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan
perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Peneliti melakukan
tinjauan pustaka ini guna memastikan apakah ada judul atau tema yang sama
dengan penelitian ini.
8
Berdasarkan hasil penelusuran peneliti, peneliti menemukan beberapa
skripsi yaitu:
a.
Ahmad Syukri menulis Komunikasi antarbudaya : Studi pada pola
komunikasi masyarakat suku Betawi dengan Madura dikelurahn Condet
Batu Ampar.
Menemukan bahwa pola komunikasi yang terjadi antara kedua budaya
tersebut lebih banyak menggunakan pola komunikasi antar pribadi dan
kelompok, dalam kegiatan komunikasi sehari, sedangkan komunikasi
kelompok digunakan jika ada acra-acara tertentu saja.
Adapun perbedaan skripsi yang di tulis oleh Ahmad dan peneliti ialah
tentu saja terletak pada objek penelitiannya yaitu objek penelitian yang
peneliti tulis tentu saja etnis Tionghua dan masyaraat muslim pribumi
di kelurahan Mekarsari Tangerang. Sedangkan persamaannya ialah
terletak pada subjek serta metedologi penelitiannya yaitu subyeknya
ialah
pola
komunikasi
antarbudaya
sedangkan
metodologinya
menggunakan pendekatan kualitatif.6
b.
Ali Abdul Rodzik menulis Akulturasi Budaya Betawi dengan Tionghua
:Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang Kromong di
Perkampungan
Budaya
Betawi,
Kelurahan
Srengseng
Sawah.
Menemukan bahwa adanya akulturasi budaya betawi dengan tionghua
dalam kesenian gamang kromong yang sudah tercipta sejak
6
Ahmad Syukri, Komunikasi Antarbudaya : Studi pada Pola Komunikasi Masyarakat
Suku Betawi dengan Madura diKelurahan Condet Batu Ampar, KPI, UIN Jakarta, 2006.
9
dahulu,hingga saat ini dan menjadi budanyanya etnik betawi. Dalam
proses akulturasi tersebut komunikasi pribadi terjadi pada saat orangorang tionghua mengadu nasib ke batavia dalam kurun waktu yang
lama, mereka mempelajari pola-pola relasi, aturan,aturan dan sistemsistem komunikasi orang-orang betawi. hal ini membuktikan bahwa
dua kebudayaan yang hidup berdampingan dalam satu wilayah tidak
selamanya menimbulkan konflik yang berkepenjangan bahkan dua
kebudayaan yang berbeda dapat disatupadukan menjadi kebudayaan
yang baru.
Perbedaan antara skripsi yang di tulis oleh Abdul Rodzik dengan skripsi
yang peneliti tulis ialah sangat jelas yaitu terletak pada subjek serta
objek penelitiannya, sedangkan persamaannya ialah terletak pada
metodologi penelitiannya yaitu sama-sama menggunakan pendekatan
kualitatif.7
c.
Pipit Pitriani menulis Akulturasi Budaya antara Tradisi Sunda Wiwitan
dengan Islam dalam Bentuk Ritual Sesajen di Desa Narimbang,
Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, menemukan bahwa
ada tiga bentuk wajah
tradisi sesajen di desa Narimbang, pertama
adanya bentuk peneguhan tradisi kedua adanya bentuk akulturasi dan
ketiga adanya bentuk islamisasi,
7
Ali Abdul Rodzik, Akulturasi Budaya Betawi dengan Tionghua : Studi Komunikasi
Antar budaya pada Kesenian Gambang Kromong diPerkmpungn Budaya Betawi, Kelurahan
Srengseng Sawah KPI UIN Jakarta,2008.
10
Dari hasil pengamatan pada skripsi yang ditulis oleh Pipit Pitriani ini
tidak jauh bebeda dengan penelitian yang sebelumnya yaitu
perbedaannya ialah terletak pada subjek dan objek penelitiannya
sedangkan persamaannya adalah terletak peda metodologi
penelitiannya.8
E. Kerangka Konsep
Bagan-1
Pola Komunikasi Antarbudaya Etnis Tionghua dengan
Muslim Pribumi diKelurahan Mekarsari Tangerang
TIGA DIMENSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
TINGKAT KOMUNIKATOR
1. Komunikasi Interpersonal
2. Komunikasi Antarpribadi
3. Komunikasi Komunitas
4. Komunikasi Organisasi
5. Komunikasi Massa
6. Komunikasi Politik
7. Komunikasi Internasional
8. Komuniakasi Antarbudaya
Akulturasi,
Asimilasi,
dan Enkulturasi
F. Metodologi
Penelitian
8
KONTEKS
1. Pendidikan
2. Keagamaan
3. Ekonomi
4. Bahasa
5. Kesenian
6. Budaya
7. Politik
SALURAN
1. Media
2. Nonmedia
Problem potensial KAB + Solusi KAB
(Penghambat)
(Pendukung)
Pipit Pitriani, Akulturasi Budaya antara Tradisi Sunda Wiwitan dengan Islam dalam
Bentuk Ritual Sesajen di Desa Narimbang, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, KPI,
UIN Jakarta, 2010.
11
F. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Metodologi adalah proses, prinsip dan prosedur yang digunakan untuk
mendekati masalah dan mencari jawaban. Dengan ungkapan lain metodologi
adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Metodologi
dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoritis yang kita gunakan untuk
melakukan penelitian, sementara perspektif itu sendiri adalah suatu kerangka
penjelasan atau interpretasi yang memungkinkan peneliti memahami data dan
menghubungkan data yang rumit dengan peristiwa dan situasi lain.9
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan format penelitian deskriptif
analisis, dimana data-data yang telah diperoleh dideskripsikan terlebih dahulu dan
kemudian dianalisis. Hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian ini
tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat
prediksi. Metode deskriptif ialah menitik beratkan pada observasi dan suasana
alamiah (naturalistis setting). Dengan suasana alamiah dimaksudkan bahwa
peneliti terjun ke lapangan. Ia tidak berusaha untuk memanipulasi variabel.10
2. Subjek Penelitian
Dalam riset ilmu sosial, hal yang penting adalah menentukan sesuatu
yang berkaitan dengan apa atau siapa yang ditelaah.11 Dalam penelitian ini yang
menjadi subjek penelitian ini ialah warga Thionghoa dan masyarakat muslim
9
Deddy Mulyana. Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi
dan Ilmu Sosial Lainnya,(Bandung; Remaja Rosdakarya. 2006) cet, ke-5, hlm.145.
10
Jalaluddin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi di lengkapi Contoh Statistik,
(Bandung, Remaja Rosda karya 2000), h.24-25.
11
Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: Rajawali Pers, 2001)
hl.66.
12
pribumi yang tinggal di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari Kota
Tangerang di Lingkungan RW 04. Adapun warganya ialah keluarga generasi tua
ialah keluarga bapak Cuan Young (90/1947) dan keluarga bapak Suhadi
(85/1949), generasi sedang ialah keluarga ibu Tan Lie Yen (46/1990), dan
generasi muda atau generasi zaman modern yaitu keluarga ibu Vanline vanianto
(20/2010).
3. Objek Penelitian
Adapun yang menjadi objek penelitian ialah pola komunikasi yang
terjadi pada etnis tionghoa dan masyarakat muslim pribumi dalam kajian
komunikasi antarbudaya yang berdasarkan pada konteks-konteks tertentu.
4. Waktu dan Tempat Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, penulis terlebih dahulu mengadakan
pratinjau sebelum penelitian. Peninjauan sebelum penelitian dilakukan pada
Januari-Februari 2012, sepanjang itu penulis melihat dan mengenali lingkungan
serta mengakrabkan diri dengan masyarakat setempat. Adapun proses penelitianya
dilakukan pada 25 Maret – 30 Juni 2012 dan penelitian lanjutan dilakukan pada
06 November - 06 Desember 2012 dan 28 Desember 2012 – 10 Januari 2013.
Adapun tempat yang dijadikan objek dalam penelitian ini ialah di
Kelurahan Mekarsari Kabupaten Tangerang tepatnya dilingkungan Rw 04.
a.
Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi atau pengamatan langsung merupakan metode pertama
yang digunakan dalam penelitian, dan merupakan alat pengumpulan data yang
13
dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara langsung gejala yang
diselidiki.12
Obserrvasi ini dilakukan dengan mendatangi daerah tersebut untuk
menentukan lokasi yang tepat untuk dijadikan tempat peneliatian, kemudian
penulis melihat, mendengar dan merasakan gejala-gejala komunikasi yang terjadi
dilingkungan Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang.
2.
Wawancara Mendalam
Wawancara yaitu mengumpulkan data dengan melakukan proses tanya
jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan, yang dilakukan dua orang
atau lebih dengan bertatap muka dan mendengarkan secara langsung informasiinformasi. Adapun wawancara mendalam dilakukan dengan beberapa warga
Kelurahan Mekarsari tepatnya dilingkungan RW 04.
3.
Dokumentasi
Berkaitan dengan data dokumentasi yang akan penulis gunakan dalam
penelitian ini adalah berupa buku gambaran demografi dan monografi serta
catatan kependudukan masyarakat Kelurahan Mekarsari khususnya lingkungan
Rw 04.
4.
Focus Group Discussion (FGD)
Focus Group Discussion (FGD) adalah sebuah teknik pengumpulan
data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan
menemukan makna sebuah tema pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini
digunakan untuk mengungkap pemaknaan suatu kelompok berdasarkan hasil
12
Antonius Birowo, Metode Penelitian Komunikasi (Teori Aplikasi), (Yogyakarta:
Gintanyali, 2004),h,70.
14
diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan
untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus
masalah yang sedang diteliti.13 Irwanto menyebutkan bahwa FGD mempunyai
tiga ciri utama yaitu diskusi, kelompok dan terfokus.
14
peserta FGD biasanya
terdiri dari 6-12 orang peserta.
Focus Group Discussion ini digunakan oleh peneliti untuk
memperkuat data yang telah ditemukan sebelumnya baik melalui observasi,
wawancara dan dokumentasi. Dalam menentukan informan penulis menggunakan
metode key person15 yaitu orang yang dianggap lebih mengetahui tentang objek
penelitian yang akan diteliti, dalam hal ini yang dijadikan key person oleh peneliti
ialah bapak RW 04 Kelurahan Mekasari Tangerang.
Focus group discussion
dilaksanankan di vihara Tjong Tek Bio
setelah acara pembentukan panitia pada peryaan imlek yang jatuh pada bulan
Februari mendatang, FGD ini berlangsung tertutup dengan diikuti oleh delapan
orang peserta dengan empat orang warga keturunan tionghua yang beragama
budha dan empat orang lagi warga pribumi, yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan
4 orang perempuan. FGD ini berlangsung dari pukul 14.00-16.00 dengan posisi
duduk melingkar dengan menggunakan kursi yang telah disediakan tuan rumah.
FGD ini dipandu oleh penulis sebagai modertor dan dibantu oleh seorang notulis.
13
Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif,( Jakarta : Kencana, 2010). h, 223-224.
Irwanto, Focused Group Discussion: Sebuah Pengantar Praktis (Jakarta :
Yayasan Obor Indonesia, 2006), h. 1.
15
Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta :Kencana, 2010), H. 77.
14
15
b.
Prosedur Pengumpulan Data
Bagan-2
Lingkaran Prosedur
Pengumpulan Data (a data collection circle) 16
Sumber: Arikunto (Prosedur Penelitian: Suatu Pendetan Praktek, 2002, h. 133)
Model lingkaran pengumpulan data dari Creswell tersebut diatas
mengandung pemahaman bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan tidak bisa
terpisah melakukan satu sama lain saling terhubung dan menjadi kesatuan utuh
prosedur. Titik permulaan prosedur dalam pandangan Creswell adalah penentuan
tempat atau individu.
Penulisan skripsi ini berdasarkan pedoman Ceqda yang diterbitkan
oleh Universitas Islam Negeri Hidayatulah Jakarta.
16
Suharsimi Arinto, Prosedur Penelitan: Suatu Pendektan Praktek, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2002), cet-5,h. 133).
16
c. Analisis Data
Analisa data menurut Patton adalah proses mengatur uraian data.
Mengorganisasikannya kedalam pola, kategori, dan satu uraian dasar.17
Data yang terkumpul dalam wawancara mendalam dan dokumendokumen diklasifikasikan kedalam kategori-kategori tertentu.18
Dalam analisis data yang telah terkumpul kemudian dianalisis, peneliti
melakukan dengan analisis deskriptif interpretatif, yaitu dengan menganalisis
setiap data atau fakta yang ditemukan lebih dekat, mendalam, mengakar, dan
menyeluruh.
G. Sistematika Penulisan
Agar penelitian ini lebih sistematis sehingga tampak adanya gambaran
yang terarah, logis dan saling berhubungan antara satu bab dengan bab
berikutnya, maka penelitian ini disusun kedalam lima bagian yaitu:
Bab I merupakan bab pendahuluan yang membahas latar belakang
masalah, pembatasan dan Perumusan Masalah, Tinjauan dan Manfaat Penelitian,
Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Sistematika Penulisan.
Dilanjutkan dengan bab II berisikan tentang pola komunikasi
antarbudaya, komunikasi antarbudaya menjelaskan pengertian kebudayaan, dan
komunikasi antarbudaya.
Bab III bab ini berisi tentang gambaran umum masyarakat kelurahan
mekarsari kecamatan Neglasari kota Tangerang, yaitu membahas gambaran
17
Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung; PT Remaja Rosdakarya,
18
Rachmat Kriyatono, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta: Kencana, 2007),
1993),h 103.
h. 193.
17
masyarakat yang dilihat dari beberapa keadaan yaitu: demografi penduduk dan
monografi yang meliputi letak daerah, kegiatan ekonomi, pendidikan, mata
pencaharian dan keagamaan.
Bab IV bab ini akan memaparkan hasil penelitian variable, yaitu pola
komunikasi antarpribadi dan antarkelompok etnis Tionghua dengan masyarakat
muslim pribumi. Bab V bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Dakwah Kultural
Dakwah kultural adalah aktifitas dakwah yang menekankan pendekatan
Islam kultural. Islam kultural satu pendekatan yang berusaha meninjau kembali
kaitan doktrin yang formal antara islam politik atau islam dan negara.1
Islam kultural demikian pula dakwah kultural memiliki peran sangat
penting bagi kontinuitas misi islam dimuka bumi, suatu peran yang tidak di warisi
Islam Politik atau islam struktural yang hanya mengajar kekuasaan yang instan,
karena selamanya islam kultural harus tetap eksis hingga akhir zaman.2
Menurut Kuntowijoyo, setidaknya ada lima program kultural, yaitu
menggembalikan dan mengembangkan, pertama, tradisi rasional, kedua, tradisi
egalitarian, ketiga, tradisi berbudaya, keempat, tradisi ilmiah,dan kelima, tradisi
kosmopolitan.3
Dakwah memasukkan aktivitas penyiaran (tabligh), pendidikan dan
pengembangan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai islam, baik untuk mad’u
muslim maupun nonmuslim. Untuk muslim dakwah berfungsi sebagai proses
peningkatan kualitas penerapan ajaran agama islam sedang untuk nonmuslim
fungsi dakwah minimal adalah memperkenalkan dan mengajak mereka agar
1
Drs. Samsul Munir Amin, M.A. Ilmu Dakwah ,(Amzah, Jakarta, 2009), h. 161.
Ibid.h. 162.
3
Ibid. h.163.
2
18
19
memeluk ajaran islam secara sukarela. Penerimaan sukarela bagi mad’u
nonmuslim ini menjadi tekanan serius, seperti ditunjukkan
oleh Rasulallah
sendiri ketika membiarkan orang-orang kristen yang tidak menerima dakwah
untuk tetap memeluk agamanya.4
Dalam pengertian pengembangan masyarakat muslim, dakwah antara
lain berbentuk peningkatan kesejahteraan sosial. Bagi umat islam, ide
pengembangan masyarakat sebagai bagian dari cakupan dakwah adalah bukan ide
yang dimasukkan begitu saja dalam dakwah. Ia adalah pemunculan kembali apa
yang sebenarnya ditunjukkan oleh istilah dakwah yang pernah tertutup oleh
dominasi aktivisme dakwah struktural.
Dakwah kultural memiliki dua fungsi utama yaitu fungsi keatas dan
fungsi kebawah. Fungsi dakwah kultural kelapisan atas antara lain adalah
tindakan dakwah mengartikulasikan aspirasi rakyat (umat islam) terhadap
kekuasaan. Fungsi ini dijalankan karena rakyat tidak mampu mengekspresikan
aspirasi mereka sendiri dan karena ketidakmampuan parlemen untuk sepenuhnya
mengaartikulasikan aspirasi rakyat. Akan tetapi dakwah kultural jenis ini tetap
menekankan posisinya diluar kekuasaan yaitu tidak bermaksud mendirikan agama
Islam dan tidak menekankan pada islamisasi negara dan birokrasi pemerintah.
Selain itu fungsi - fungsi dakwah kultural ke lapisan atas ini adalah mempelajari
berbagai kecenderungan masyarakat yang sedang berubah kearah modernindustrial sebagai langkah strategis dalam mengantisipasi perubahan sosial yang
ada.
4
Ibid,h. 164.
20
Fungsi dakwah kultural lapisan kebawah berarti penyelenggaraan
dakwah dalam bentuk penerjemahan ide-ide intelektual tingkat atas bagi umat
islam serta rakyat pada umumnya untuk membawakan transformasi sosial, dengan
mentransformasikan ide-ide tersebut kedalam konsep operasional yang dapat
dikerjakan oleh umat. Hal yang utama dalam fungsi ini adalah penerjemahan
sumber-sumber agama (al-qur’an dan sunnah) sebagai way of life. Hal tersebut
bukan hanya memformulasikan dalam istilah teologi islam, tetapi dalam konsepkonsep sosial yang lebih operasional juga. Fungsi dakwah kultural ini bernialai
praktis dan mengambil bentuk utama dakwah bil hal, yaitu dakwah yang terutama
ditekankan kepada perubahan dan perbaikan kehidupan masyarakat yang miskin.
Dengan perbaikan tersebut, diharapkan prilaku yang cenderung kearah kekufuran
dapat dicegah.5
Di Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki berbagai macam
etnis, ras dan agama, untuk itu Indonesia memiliki semboyan kebanggaan yaitu
“Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda- beda tetapi tetap satu. Seperti yang
telah ada dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat ayat 13 yang berbunyi:
5
Ibid, h. 165-166.
21
Artinya :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. AlMaidah : 13).6
Berdasarkan ayat Al-Qur’an diatas bahwa agama islam sendiri
mengakui adanya perbedaan tersebut, namun meski berbeda ras, etnik, budaya dan
keyakinan haruslah saling tolong menolong dan menjunjung nilai toleransi yang
tinggi.
B. Komunikasi Antarbudaya Sebagai Fenomena Sosial
Kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddhayah, yaitu bentuk
jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.7
Menurut Yanto Subianto: kebudayaan adalah hasil karya, rasa dan cipta
manusia dalam masyarakat, karya adalah hasil usaha manusia dalam bentuk yang
terwujud dan kongkret dengan cara penggunaan budaya seperti halnya teknologi
yang termasuk kebudayaan kebendaan “Material Culture”. Rasa meliputi jiwa
manusia mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-niai kemasyarakatan dalam
arti yang luas, didalamnya terdapat agama, idiologi, kesenian, dan lain-lain.
Adapun unsur-unsur tersebut merupakan ekspresi dari jiwa manusia yang hidup
sebagai anggota masyarakat, dan pembagian unsur rasa itu termasuk kedalam
kebudayaan “Immaterial Culture”. Terakhir adalah unsur cipta merupakan
6
7
Al-Qur’anul Karim Surat Al-Hujarat ayat 13.
Koetjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), h. 181.
22
berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat dan salah satunya mengahsilkan
filsafat serta ilmu pengetahuan baik yang bersifat murni maupun terapan yang
nantinya diterapkan daam kehidupan bermasyarakat.8
Sedangkan definisi komunikasi antarbudaya adalah proses pengalihan
pesan yang dilakukan seorang melalui saluran tertentu kepada orang lain yang
keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan menghasilkan efek
tertentu.9
Adapun unsur-unsur dari komunikasi antar budaya ialah terdiri dari
sumber , pesan, media, penerima, efek, dan feedback. Hal tersebut sejalan dengan
definisi komunikasi yang dirumuskan oleh Harold D.Lasswell yaitu Who Says
What In Which Channel To Whom With What Effect yang artinya siapa
mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dan apa pengaruhnya. Demikian
pula dengan unsur komunikasi yang diformulasi oleh David K. Berlo dikenal
dengan SMCR, yakni Source, Message, Channel, dan Receiver.10
Dalam proses komunikasi tidak lepas dari hambatan-hambatan yang
dapat menghalangi terjadinya komunikasi secara efektif. Dalam buku Pengantar
Ilmu Komunikasi yang ditulis oleh Cangara, disebutkan tujuh macam hambatan
komunikasi. Yaitu: Gangguan teknis, gangguan semantik, gangguan psikologis,
rintangan fisik, status, kerangka berfikir dan budaya.
8
Yanto Subianto S, Soal-jawab sosiologi, (Bandung: Armico,1980),h.41.
9
Liliweri, Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001),
10
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2007),h.
h. 9.
23.
23
Pertama, gangguan teknis adalah gangguan yang terjadi pada saluran
atau media komunikasi.
Kedua, gangguan semantik merupakan gangguan yang disebabkan oleh
penggunaan bahasa yang kurang tepat, perbedaan bahasa dan latar belakang
budaya atau kalimat yang tidak sistematis sehingga dapat membingungkan lawan
bicara dan sebagainya.
Ketiga, gangguan psikologis ialah gangguan yang terjadi karena masalah
dalam diri individu.
Keempat, rintangan fisik bisa berupa perbedaan letak geografis antara
komunikan dengan komunikator, ditambah lagi dengan sulitnya mendapatkan
akses media komunikasi. Selain perbedaan letak geografis, rintangan fisik juga
bisa diartikan adanya ketidaknormalan pada panca indera komunikan, seperti
kurangnya daya pendengaran atau penglihatan.
Kelima, rintangan status adalah rintangan yang terbentuk karena adanya
perbedaan status antara komunikator dengan komunikan.
Keenam, rintangan kerangka berfikir ini terjadi karena adanya perbedaan
cara pandang diantara pelaku komunikasi. Perbedaan cara pandang atau persepsi
terhadap sesuatu hal tak jarang mengambat proses komunikasi dan menimbulkan
konflik.
Ketujuh, rintangan budaya adalah rintangan berupa perbedaan sistem
nilai, adat dan kebiasaan komunikator dengan komunikan.11
11
Ibid, h. 153-155
24
1.Dimensi-dimensi Komunikasi Antarbudaya
Dalam
mencari
kejelasan
dan
mengintegrasi
berbagai
konsep
kebudayaan dalam komunikasi antarbudaya, terdapat tiga dimensi yang perlu
diperhatikan, yaitu:
a. Tingkat Masyarakat kelompok budaya dari para partisipan, dalam
komunikasi antarbudaya merujuk pada bermacam tingkatan lingkup dan
kompleksitas organisasi sosial.
b. Konteks Sosial dimana terjadinya proses komunikasi antarbudaya,
dalam komunikasi antarbudaya merujuk pada konteks sosial komunikasi
antarbudaya yang meliputi organisasi, pendidikan, akulturasi imigran,
difusi inovasi, dan lain sebagainya.
c.
Saluran
komunikasi,
Saluran
tersebut
dibagi
atas
saluran
antarpribadi/perorangan dan media massa. Bersama dengan dua dimensi
sebelumnya, dimensi ketiga ini mempengaruhi proses dari hasil
keseluruhan proses komunikasi antarbudaya. Ketiga dimensi ini dapat
digunakan secara terpisah maupun bersamaan.
25
Adapun model komunikasi antarbudaya adalah sebagai berikut:
Peraga 1
MODEL KOMUNIKASI ANTARBUDAYA12
Strategi komunikasi
yang akomodatif
Efektif
C
Kebudayaan
Kepribadian
Kebudayaan
A
percakapan
B
menerima
Persepsi terhadap
relasi antarpribadi
Adaftif
Kepribadian
Persepsi terhadap
relasi antarpribadi
Perbedaan
- Ketidakpastian
- Kecemasan
Gambar diatas menunjukkan A dan B merupakan dua orang yang
berbeda latar belakang kebudayaan karena itu memiliki pula perbedaan
kepribadian dan persepsi mereka terhadap antarpribadi. Ketika A dengan B
beercakap-cakap itulah yang disebut komunikasi antarbudaya karena dua pihak
“menerima” perbedaan diantara mereka sehingga bermanfaat untuk menurunkan
tingkat ketidakpastian dan kecemasan dapat menjadi motivasi bagi stategi
komunikasi yang bersifat akomodatif. Strategi tersebut juga dihasilkan oleh
karena terbentuknya sebuah kebudayaan baru (C) yang secara psikologis
menyenangkan kedua orang itu. Hasilnya adalah komunikasi yang besifat adaftif
12
Liliweri, Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya . h. 32.
26
yakni A dan B saling menyesuaikan diri dan akibatnya menghasilkan komunikasi
antarpribadi-antarbudaya yang efektif.
2. Unsur-unsur Budaya/Pola Budaya
Dalam Iiya Sunarwinadi,Komunikasi Antarbudaya, Samovar et.al.
(1981 :38-48) membagi berbagai aspek kebudayaan kedalam tiga pembagian
besar unsur-unsur sosial budaya yang secara langsung sangat mempengaruhi
penciptaan makna untuk persepsi, yang selanjutnya menentukan tingkah laku
komunikasi. Dalam komunkasi antarbudaya unsur-unsur yang sangat menentukan
ini bekerja dan berfungsi secara terpadu bersama-sama seperti komponenkomponen dari suatu sistem stereo, karena masing-masing saling berkaitan dan
membutuhkan yang lainnya. Unsur-unsur sosial budaya tersebut adalah:
a. Sistem keyakinan, Nilai dan Sikap
1. Keyakinan
Keyakinan secara umum diartikan sebagai perkiraan secara subyektf
bahwa sesuatu obyek atau pariwisata ada hubungannya dengan obyek atau
pariwisata lain, atau dengan nilai, konsep, atribut tertentu, singkatnya suatu obyek
atau pariwisata diyakini memiliki karakteristik-karakteristik tertentu, keyakinan
ini mempunyai derajat kedalaman atau intensitas tertentu.
Ada tiga macam keyakinan yaitu:
a). Keyakinan berdasarkan pengalaman yaitu keyakinan dapat
terbentuk melalui pengalaman langsung. Melalui indera peraba kita
belajar untuk mengetahui dan kemudian meyakini bahwa obyek atau
peristiwa tertentu memiliki karakteristik tertentu. Misalnya dengan
27
menyentuh kompor yang panas, seseorang belajar untuk meyakini
bahwa benda tersebut mempunyai kemampuan membakar jari-jari
tangan.
b). Keyakinan berdasarkan informasi dibentuk melalui sumber-sumber
luar seperti orang-orang lain, buku, majalah, televisi, film. Sumersumber
ini
biasanya
dipilih
berdasarkan
keyakinan
akan
kebenarannya. Keyakinan semacam ini sangat dipengaruhi oleh
berbagai ragam faktor kebudayaan. Misalnya, jika kita percaya bahwa
surat kabar kompas merupakan sumber pemberitaan yang bersifat
netral, maka kita yakin dan percaya akan kebenaran isi beritanya.
Latar
belakang
dan
pengalaman
kebudayaan
penting
dalam
pembentukan keyakinan berdasarkan informasi ini. Dalam komunikasi
antarbudaya, tidak dapat dikatakan keyakinan mana yang salah atau
benar.
c). Keyakinan yang dibentuk berdasarkan pengambilan kesimpulan
melibatkan penggunaan sistem logika intern. Pembentukan dimulai
dengan pengamatan terhadap suatu tingkah laku atau peristiwa,
kemudian perkiraan bahwa tingkah laku tersebut digerakkan atau
disebabkan oleh suatu perasaan atau emosi tertentu. Misalnya jika kita
melihat orang berteriak-teriak mengeluarkan kata tidak sopan, maka
kita dapat mnegasumsikan atau meyakini bahwa ia sedang marah.
Sistem logika intern berbeda antara satu individu dengan individu lain,
28
tetapi perbedaan biasanya lebih besar antara satu kebudayaan dengan
kebudayaan lain.13
2. Nilai
Nilai-nilai merupakan aspek evaluatif dari sistem keyakinan, nilai dan
sikap, dimensi-dimensi evaluatif menakup kualitas-kualitas seperti kegunaan,
kebaikan, estetika, kemampuan memuaskan kebutuhan dan pemberian kepuasan.
Walaupun nilai-nlai bisa bersifat unik dan
individual, tetapi ada pula yang
cenderung untuk sudah merasuk dalam suatu kebudayaan, yakin yang disebut
nilai-nilai kebudayaan.14
Nilai-nilai ini dipelajari dan tidak universal. Dalam arti berbeda antara
kebudayaan yang satu dengan yang lain. Misalnya, nilai yang diberikan terhadap
usia tua, di Korea orang-orang tua selalu diminta mengambil bagaian dalam
pengambilan keputusan keluarga, bahkan pada usia diatas 60 tahun orang
dianggap lahir kembali dan memulai tahap kehidupan yang lebih matang.
Nilai-nilai budaya dapat dikategorisasikan kedalam tingkat-tingkat
primer, skunder, tersier. Nilai-nilai juga dapat diklasifikasikan kedalam positif,
negatif atau netral.
Beberapa dimensi nilai yang sering diperhatikan dalam komunikasi
antarbudaya ialah : orientasi individu, kelompok, umur, persamaan hak lali-laki
dan perempuan, formalitas, rendah-tinggi hati. Dan lain-lain.
13
14
Dra. Ilya Sunarwnadi, MA. Komunikai Antar Budaya, h. 24-27.
Ibid, h. 27-28
29
3. Sistem sikap
Sistem Sikap Secara umum sikap diartikan sebagai kecenderungan yng
dipelajari untuk memberikan respon secara konsisten terhadap objek orientasi
tertentu.
Sikap tertdiri dari tiga komponen yaitu: komponen kognitif atau
keyakinan, komonen afektif atau evaluatif, dan komponen intensitas atau harapan.
Kerja komponen sikap tersebut berinteraksi untuk menciptakan keadaan
sikap secara psikologis untuk bereaksi terhadap obyek-obyek dan peristiwaperistiwa dalam lingkungan. Misalnya apabila kita percaya bahwa mnyiksa orang
lain secara fisik adalah salah atau kita merasa takut dipukul, kemudian kita yakin
bahwa bertinju sangat tinggi kemungkinannya untuk menyebabkan penyiksaan
fisik maka kita akan mempunyai sikap negatf terhadap olah raga tinju.15
b.Pandangan Keduniaan
Padangan hidup merupakan orientasi suatu kebudayaan terhadap hal-hal,
seperti Tuhan, manusia, alam, alam semesta dan masalah-masalah filsafat lainnya
yang berkaitan degan konsep keberadaan. Singkatnya, pandangan hidup
membantu kita untuk menemukan tempat dan tingkat kita sendiri dalam alam
semesta ini.
Pandangan hidup merupakan landasan poko yang paling mendalam dari
suatu kebudayaan. Efeknya seringkali sangat tersamar sehingga tidak dapat
15
Ibid, h.29
30
terlihat secara nyata, misalnya cara-cara berpakaian, gerak isyarat, dan
perbendaharaan kata.16
c. Oranisasi Sosial
Organisasi sosial merupakan cara suatu kebudayaan mengatur diri dan
peranata-pranatanya. Ada dua macam bentuk pengaturan sosial yang berkaitan
dengan komunuikasi antarbudaya:
1). Kebudayaan geografik, yakni negara, suku bangsa, kasta, sekte
keagamaan dan lain sebagainya yang dirumuskan berdasarkan batasbatas geografik.
2). Kebudayaan-kebudayaan peranan, yaitu keanggotaan dalam posisiposisi sosial yang jelas batasannya dan lebih spesifik, sehingga
menghasilkan prilaku komunikasi yang khusus pula. Pengorganisasian
masyarakat atas dasar peranan ini melintasi organisasi masyarakat secara
geografik dan mencakup seluruh organisasi mulai dari kelompokkelompok profesional ke organisasi-organisasi yang menekankan
idiologi-idiologi tertentu.
3. Akulturasi, Asimilasi dan Enkulturasi
a. Akulturasi
Akulturasi dalam kamus ilmiah populer diartikan sebagai proses
pencampuran dua kebudayaan atau lebih,17 atau dalam KBI akulturasi diartikan
sebagai peleburan dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling
mempenharuhi.Dalam Akulturasi atau acculturation atau culture contact diartikan
16
17
2006),h.21
Ibid, h. 28-29
Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap, (Surabaya, Gitamedia Press,
31
oleh para sarjana antropologi mengenai proses sosial yang timbul bila suatu
kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsurunsur dari suatu kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam
kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya keprbadian kebudayaan itu
sendiri.18 Merupakan suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang
berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan
sosio-budaya yang baru.19 Potensi akulturasi seorang imigran sebelum berimigrasi
dapat mempermudah akulturasi yang dialaminya dalam masyarakat pribumi.
Potensi akulturasi ditentukan oleh faktor-faktor berikut:20
1). Kemiripan antara budaya asli (imigran) dan budaya pribumi
2). Usia pada saat berimigrasi
3). Latar belakang pendidikan
4). Beberapa karakteristik kepribadian seperti sukan bersahabat dan
toleransi
5). Pengetahuan tentang budaya pribumi sebelum berimigrasi
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang di modifikasi
melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain (misalnya, melalui
media massa). Sebagai contoh, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di
Indonesia (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur
tuan rumah ini. Berangsur-angsur nilai-nilai, cara berprilaku, serta kepercayaan
dari kultur tuan rumah semakin menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu.
18
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta, Asara Baru, 181), h. 247-248
Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya, (Bandung, PT.
Remaja Rosdakarya, 2005), h. 140
20
Ibid, h. 146
19
32
Pada waktu yang sama, tentu saja, kultur tuan rumah berubah juga. Tetapi, pada
umumnya, kultur imigranlah yang lebih banyak berubah.21 Menurut Young Yun
Kim, seperti yang dikutip Joseph A. Devito, penerimaan kultur baru bergantung
pada sejumlah faktor. Imigran yang datang dari kultur yang mirip dengan kultur
tuan rumah akan terakulturasi lebih mudah. Demikian pula,mereka yang lebih
muda dan terdidik lebih cepat terakulturasi ketimbang mereka yang lebih tua dan
kurang berpendidikan. Faktor kepribadian juga berpengaruh. Orang yang senang
mengambil resiko dn berpikiran terbuka, mislanya lebih mudah terakulturasi.
Akhirnya orang yang terbiasa dengan kultur tuan rumah sebelum berimigrasi,
apakah melalui kontak antarpribadi ataupun melalui media massa, akan tetapi
lebih mudah terakulturasi.22
b. Asimilasi
Asimilasi atau assimilation adalah proses sosial yang timbul bila ada
golongan-golongan manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda, saling
bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaankebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas,
dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur
kebudayaan campuran,23 singkatnya asimilasi adalah peleburan sifat asli suatu
kebudayaan yang diasimilasi dengan lingkungannya. Biasanya golongangolongan yang ada dalam proses asimilasi adalah suatu golongan mayoritas dan
beberapa golongan minoritas.
21
Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta, Profesional Books, 1997), h.
22
Ibid, h. 479
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta, Aksara Baru, 1981), h.225.
479.
23
33
Dalam hal ini golongan-golongan minoritas itulah yang mengubah sifat
dari unsur-unsur kebudayaannya,24 dan menyesuaikannya dengan kebudayaan dari
golongan mayoritas sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan
kepribadian kebudayaannya, dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.
1. Akibat yang dihasilkan oleh asimilasi
a). Kelompok minoritas kehilangan keunikannya dan menyerupai
kelompok mayoritas. Dalam proses itu kelompok mayoritas tidak
berubah.
b). Kelompok etnik dan kelompok mayoritas bercampur secara
hegemony. Masing-masing kelompok kehilangan keunikannya, lalu
muncul suatu produk unik lainnya, suatu proses yang disebut Belanga
Pencampuran.
2. Syarat asimilasi
Asimiliasi dapat terbentuk apabila terjadi tiga persayaratan berikut:
a). Terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda
b). Terjadi pergaulan antar individu atau kelompok secara intensif dan
dalam waktu yang relatif lama.
c). Kebudayaan masing-masing kelompok tersebut saling berubah dan
menyesuaikan diri.
24
Ibid, h. 255.
34
c.
Enkulturasi
Enkulturasi adalah Proses penerusan kebudayaan dari generasi yang satu
kepada generasi berikutnya selama hidup seseorang individu dimulai dari institusi
keluarga terutama tokoh ibu.
Individu berkembang dengan ketertarikan terhadap objek lain selain
dirinya. Dengan pemahaman situasi yang ditanamkan orang-orang dewasa
disekitarnya menurut kebudayaanya tempat individu tersebut tumbuh dewasa dan
berkembangnya orientasi yang lebih bersifat ruang, waktu dan normatif.
Ruth Benedict berpendapat bahwa suatu kepribadian dianggap bersifat normal
apabila sesuai dengan tipe kepribadian yang dominan, sedangkan tipe kepribadian
yang sama jika sesuai dengan tipe kepribadian dominan akan dianggap 'abnormal'.
Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur ditransmisikan dari
generasi satu ke generasi selanjutnya. Kita mempelajari budaya, bukan
mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan dengan gen.
Orang tua, teman-teman, lembaga sekolah, dan pemerintahan adalah guru utama
di bidang kultur. Dan enkulturasi terjadi melalui mereka.
Sedangkan akulturasi mengacu pada proses dimana kultur diperbaiki dan
dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur yang lain.
Sebagai contoh, apabila ada sekelompok imigran yang kemudian menetap di
Amerika Serikat (kultur tuan rumah), maka kultur mereka sendiri akan
dipengaruhi oleh kultur Tuan rumah ini. Lama kelamaan, nilai, dan cara
berperilaku serta kepercayaan dari kultur tuan rumah ini akan menjadi bagian dari
35
kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut
berubah.
Agar budaya terus berkembang, proses adaptasi perlu dilakukan.
Paradigma yang berkembang adalah budaya itu dinamis dan merupakan hasil
proses belajar. sehingga budaya suatu masyarakat tidak hadir dengan sendirinya.
Proses belajar dan mempelajari budaya sendiri dalam masyarakat itu dinamakan
Enkulturasi.
Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu bergerak dinamis
mengikuti perkembangan jaman. Sebaliknya sebuah masyarakat yang cenderung
sulit menerima hal -hal baru dalam masyarakat sulit mempertahankan budaya
lama yang sudah tidak relevan lagi untuk disebut sebagai akulturasi.
Dalam hal ini yang menajadi kata kunci adalah pemrograman kolektif yang
menggambarkan suatu proses yang mengikat setiap orang segera setelah ia
dilahirkan ke dunia. Semua anggota dalam budaya memiliki asumsi yang serupa
tentang bagaimana seseorang berpikir, berperilaku, dan berkomunikasi.
4. Derajat Perbedaan (heretoropily) dan Derajat Kesamaan (Homopily)
Persamaan merupakan suatu aspek yang penting dalam proses
pertukaran informasi. Sesuai dengan konsep mengenai “perhimpitan kepentingankepentingan” (overlapping of interest), maka persamaan merupakan semacam
kerangka dalam mana komunikasi terjadi. Agar pihak-pihak yang terlibat dalam
proses komunikasi dapat saling memahami karenanya berkomunikasi dapat
menjadi efektif. Istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan keadaan
yang sama antara pihak-pihak pelaku komunikasi ini ialah homofili. Homofili
36
ialah derajat persamaan dalam beberapa hal tertentu seperti keyakinan, nilai,
pendidikan, status sosial dan lain sebagainya antara pasangan-pasangan individu
yang berinterasksi. Perasaan-perasaan ini memungkinkan tercapainya persepsi dan
makna yang sama pula terhadap sesuatu objek atau pariwisata antara pasanganpasangan individu yang berinteraksi. Perasaan-perasaan ini memungkinkan untuk
tercapainya persepsi dan makna yang sama pula terhadap sesuatu objek atau
peristiwa. Tetapi bagaimana halnya dengan komunikasi antar budaya yang justru
bertolak dengan asumsi akan adanya perbedaan-perbedaan kebudayaan. Dilihat
dari segi prinsip dasar komunikasi tadi, maka perbedaan-perbedaan ini tentu
cenderung untuk mengurangi atau menghambat terjadinya komunikasi yang
efektif. Karena jika pesan-pesan yang disampaikan melampau batas-batas
kebudayaan, yang dapat terjadi adalah apa yang dimaksud oleh pengirim dalam
suatu konteks tertentu akan diartikan dalam konteks yang lain lagi oleh penerima.
Dalam situasi antar budaya demikian, dapat dikatakan hanya sedikit saja atau
tidak sama sekali “ko - orientasi yang merupakan persyaratan bagi komunikasi
umumnya”. Dengan ko-orientasi yang dimaksud ialah bahwa antara dua pihak
yang berkomunikasi seharusnya terdapat persamaan dalam orientasi terhadap
topik dari komunikasi mereka. Atau dapat juga dikatakan bahwa berdasarkan
prinsip homofili, orang cenderung untuk berinteraksi dengan individu-individu
lain yang serupa dalam hal karekteristik-karekteristik sosial dengannya. Dodd(
1982 : 168-17) membuat klasifikasi tentang dimensi-dimensi homofili kedalam:
a. Homofili dalam penampilan
b. Homofili dalam latar belakang
37
c. Homofili dalam sikap
d. Homofili dalam kepribadian
Namun, dipandang dari sudut kepentingan komunikasi antar budaya,
adanya perbedaan-perbedaan tidak menutup kemungkinan terjadinya komunikasi
antar individu-individu atau kelompok-kelompok budaya. Perbedaan-perbedaan
bahkan dilihat sebagai kerangka atau matriks dimana komunikasi terjadi. Dalam
kaitan ini kiranya teori yang dikemukakan oleh Grannovetter (1973) mengenai
“kekuatan dan ikatan-ikatan lemah (The strengt of weak ties) yang menyarankan
akan pentingnya hubungan-hubungan heterofili dalam pertukaran informasi.
Dalam komunikasi manusia, agaknya diperlukan juga keseimbangan diantara
kesamaan dan tidak kesamaan, antara yang sudah dianggap biasa dengan sesuatu
yang baru. Ada suatu proposisi dasar yang menyatakan bahwa kekuatan
pertukaran informasi pada komunikasi (antara dua orang) ada hubungannya
dengan derajat heterofili antara mereka. Dengan kata lain, orang akan menerima
hal-hal baru, yang informasional, justru melalui ikatan-ikatan yang lemah.
Heterofili adalah derajat perbedaan dalam beberapa hal tertentu antara
pasangan-pasangan individu yang berinteraksi. Dalam KAB, perbedaanperbedaan individual dapat diperbesar oleh perbedaan-perbedaan kebudayaan.
Persepsi tentang kebudayaan-kebudayaan ini adalah titik tolak dari asumsi yang
paling dasar KAB, yaitu kebutuhaan untuk menyadari dan mengakui perbedaanperbedaan untuk menjembataninya melalui komunikasi. 25
25
Sunarwinadi, Komunikasi Antarbudaya, h, 54-55
38
5. Problem Potensial dalam Pola Komunikasi Antarbudaya
Komunikator dan komunikan secara bergantian dan terus menerus dalam
komunikasi, maka maslah terletak pada kedua belah pihak. Mencoba untuk
mencari pihak mana yang bersalah dapat merupakan masalah komuniaksi
tersendiri. Komunikator dan komunikan berupaya untuk mengurangi problem
potensial yang dijelaskan oleh Samovar dan memahami solusi atau faktor
pendukung yang ditawarkannya sebagai berikut:
a. Keanekaragaman dari tujuan-tujuan komunikaksi
Setiap individu memiliki alasan dan motivasi yang berbeda-beda dalam
berkomunikasi. Perbedaan tujuan ini dapan menimbilkan maslah yang tidak dapat
dianggap enteng begitu saja, karena kadang-kadang menyangkut harga diri suatu
kebudayaan.
Contoh dalam konteks politik individu atau kelompok dengan
sengaja melakukan propaganda.
b.Etnosntrisme
Kebanyakan orang menganggap bahwa caranya melakukan persepsi
terhadap hal-hal di sekelilingnya adalah satu-satunya yang paling tepat dan benar.
Padahal harus disadari bahwa setiap orang memiliki sejarah masa lalunya masingmasing, sehingga apa yang dianggapnya baik belum tentu sesuai dengan persepsi
orang lain.
Etnosentrisme ialah kecenderungan untuk menafsirkan atau menilai
kelompok-kelompok orang lain, keadaan lingkungannya dan komunikasinya,
sesuai dengan kategori dan nilai kebudayaan sendiri kecenderungan yang
dikatakan ada hampir pada semua kebudayaan ini, dapat merupakan hambatan
39
utama dalam pencapaian pengertian antar budaya. Masyarakat mempelajari
etnosentrisme biasaya pada tingkat ketidaksadaran dan mereka menerapkannya
pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal usulnya. Penilaian itu
sering kali salah, semena-mena, dan tidak berdasar sama sekali. Seperti, seseorang
melohat acara kematian agama tertentu dan menilai acara tersebut dengan kaca
mata agamanya.
c. Tidak adanya kepercayaan
Komunikasi antarbudaya menrupakan sebuah peristiwa pertukaran
informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidak percayaan antara
pihak-pihak yang terlibat. Orang umumnya segan untuk mengambil resiko
berhubungan dengan orang asing. Dalam hal ini perbedaan-perbedaan biasanya
dilihat secara
berlebihan. Misalnya, ketidak percbayaan ini terdapat dalam
situasi-situasi yang melibatkan orang-orang dri ras, status sosial, generasi, dan
suku bangsa yang berbeda. Misalnya pengurus pengajian tidak akan menundang
penceramah yang tidak dikenal dan mereka tidak mengetahui latar belakangnya.
d.Penarikan diri
Komunikasi tidak akan terjadi bila slah stau pihak secara psikologis
menarik diri dari pertemuan yang seharusnya terjadi. Ada dugaan bahwa dengan
macam-macam perkembangan saat ini, antara lain meningkatkan urbanisasi,
perasaanperasaan orang untuk menarik diri, apatis dan aliensi semakin banyak
pula. Banyak contoh, baik pada tingkat internasional maupun nasional, yang
menunjukkan penarikan diri dari saling pertukaran antarbudaya. Sejarah penuh
40
dengan peristiwa-peristiwa tentang penarikan diri wakil-wakil suatu negara dari
konferensi internasional, putusnya hubungan antar negara dan lain-lain.
e. Tidak adanya empati
Komunikasi antarbudaya sangat memerlukan empati yang tinggi , upayaupaya mengembangkan empati tidaklah mudah. Yang terpenting ada kemauan
dari kedua belah pihak.
Empati ialah kemampuan untuk merasakan seperti orang lain atau untuk
menempatkan diri pada diri orang lain. Untuk berkomunikasi secara efektif
dengan orang lain, kita harus mampu menciptakan gambaran-gambaran yang
memungkinkan pendalaman tentang perasaan dan karakteristiknya. Dengan cara
turut mengalami keadaan internalnya, kita dapat mengenalnya, meramalkan
reaksinya dan mengantisipasi kebutuhannya. Menurut Sunarwinadi, 1994:118 ada
beberapa hal yang menghambat pencapaian empati yaitu:
1. Fokus terhadap diri secara terus menerus
2. Kecenderungan untu memperhatikan hanya beberapa karakteristik
dari orang lain dan mneyimpulkan sebagai karakteristik umum
darinya.
3. Pandangan-pandangan stereotip mengenai ras dan kebudayaan.
4. Kurangnya pengetahuan tentang kelompok, kelas atau orang tertentu.
5. Tingkah laku yang mnejauhkan orang untuk mau mengungkapkan
informasi tentang dirinya.
41
6. Tindakan atau ucapan yang memberi kesan seakan-akan mengenai
orang lain, sehingga ia merasa defensif dan tidak mengehendaki
dilanjutkannya komunikasi.
7. Tindakan
komunikasi
yang
mengesankan
keinginan
untuk
mengontrol orang lain, sehingga memancing sikap efendif darinya.
8. Sikap netral dan tidak tertarik yang dapat mengakibatkan orang
tidak mau mengungkapkan dirinya.
9. Sikap superior yang juga menghasilkan tingkah laku defensif pada
orang lain.
10. Sikap yang menunjukkan kepastian jika seseorang bersikap dan
bertingkah laku seakan-akan serba tahu maka kemungkinan orang
akan membutuhkan data yang akurat maka kita sering melaksanakan
generalization stimulus atau bahasa awamnya adalah pukul rata ada
disamakan saja terhadap individu atau kelompok.
f.
Stereotyping
Melakukan streotip adalah seesuatu yang mudah karena tidak
membutuhakn data yang akurat aka kita sering melakukan generalitation stimulus
atau bahasa awamnaya pukul rata terhadap individu dan kelopmpok.
g.
Kekuasaan
Ada dua prinsip yang melandasi pengertian kekuasaan, yaitu bahwa:
1.
Dalam setiap hubungan komunikasi terhadap kekuasaan dalam
derajat tertentu.
42
2.
Yang merupakn sumber masalah komunikasi buanlah kekuasaan
itu sendiri, melainkan penyalahgunaan dari keuasaan. Oleh sebab
itu
pemahaman
komunikasi
tentangkeuasaan
merupakan
dan
dampaknya
bagian penting dalam
terhadap
pemahaman
komunikasi antarbudaya.
6. Faktor Pendukung atau Solusi Dalam Pola Komunikasi Antarbudaya
Samovar (1989) memberikan solusi berupa strategi dalam meningkatkan
komunikasi antarbudaya, yaitu:
a.
Mengenali diri sendiri
Dalam berkomunikasi masing-individu hendaknya mengetahui atau
mengenali dirinya sendri.
Tindakan mengindentifikasi sikap, pendapat dan kecenderungan diri
sendiri. Akibat-akibat ini dapat mentukan tidak saja apa yang kita katankan, tetapi
juga apa yang kita dengar apa yang orang lain katakan. Untuk itu dalam teori
pengembangan hubungan dengan pendekatan komunikasi antarpribadi kita
menilai diri sendiri memakai Johari Window. Empat kuadran dibahas pada Johari
Window,26 yaitu:
1. Data kita diketahui oleh diri sendiri dan diketahui oleh orang lain.
2. Data kita tidak diketahui oleh diri sendiri dan tida diketahui orang
lain.
3. Data kita diketahui oleh diri sendiri dan tidak diketahui orang lain.
26
156-158.
M. Budyatna dan Nina Mutmainah, Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta, UT,1994),H
43
4. Data kita tidak diketahui oleh diri sendiri dan tidak diketaui oleh
orang lain.27
b. Menggunakan kode yang sama
Dalam meningkatkan komunikasi agar lebih efektif seseorang harus
mengetahui kode khusus yang dignakan orang lain atau klompok tertentu, karena
makna terletak pada orang lain dan bukan pada kata-kata. Seperti seorang
komunikator berencana mengetahui bahasa, kata-kata yang disukai dan tidak
disukai oleh komunikan.
c. Jangan terburu-buru
Dua hal yang harus dilakukan dalam berkomunikasi antarbudaya yaitu:
Pertama, menunda penilaian. Manusia cenderung untuk cepat-cepat
menarik kesimpulan sebelum orang lain mengungkapkan perasaan, pemikiran,
atau gagasan, maka hal ini akan menimbukan sikap tidak saling pengertian antara
komunikator dan komunikan.
Kedua, memberi waktu yang cukup kepada orang lain untuk mencapai
tujuannya. Perlu kita ketahui bahwa setiap orang atau kebudayaan memiliki gaya
komunikasi yang unik, beberapa gaya komunikasi membutuhkan waktu sejenak
agar maksud yang ingin disampaikan terlaksana, untuk itu kita harus bersabar
menungg sampai orang lain selesai mengungkapkan maksudnya.
d. Memperhitungkan lingkungan fisik dan manusia
Dalam berkomunikasi sesorang hendaknya memilih waktu dan tempat
yang tepat hal ini sangat penting demi tercapainya komunikasi yang efektif.
27
Ibid
44
e. Meningkat keterampilan berkomunikasi
Keterampilan
dasar
komunikasi
secara
umum,
antara
lain:
minat/menarik perhatian orang lain, keteraturan, teratur dan mudah diikuti, cara
penyampaian dan penerimaan pesan.
f. Mendorong Feedback
Dalam berkomunikasi umnya seorang komunikator mengharapkan
adanya feedback atau timbal balik dari komunikan, maka dengan adanya feedback
komunikasi dapat dikatakan efektif.
g. Mengembangkan Empati
Dalam berkomunikasi kedua belah pihak yaitu komunikator dan komunikan
hendaknya saling empati yaitu menjadi pendengar yang baik.
h. Mencari persamaan-persamaan diantara kedua kebudayaan yang
berbeda.
Sumpah pemuda 1928 dapat tercapai antara lain pemuda Indonesia pada
saat itu mengembangkan strategi peningkatan komunikasi antarbudaya seperti
menyebarkan prinsip kesamaan walaupun mereka berbeda dengan Sumpah bahwa
mereka Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. dan lain sebagainya.28
C. Sejarah Singkat Etnis Tionghua di Indonesia
Suku Bangsa Tionghua di Indonesia adalah salah satu etnis penting
dalam pencaturan sejarah indonesia jauh
sebelum
Republik Indonesia
dideklarasikan dan terbentuk. Setelah negara Indonesia terbentuk, maka otomatis
orang Tionghua yang berkewarganegaraan Indonesia haruslah digolongkan
28
Armawati Arbi, Dakwah dan Komunikasi, h. 203-205.
45
menjadi salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia setingkat dan sederajat
dengan suku-suku bangsa lainnya yang membentuk Negara Kesatuan Republik
Indonesia.29
Tionghua diIndonesia merupakan keturunan dari leluhur mereka yang
berimigrasi secara periodik dan bergelimbang sejak ribuan tahun lalu. Catatancatatan leluhur Tiongkok menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di nusantara
telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Tiongkok, faktor
inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun
manusia tiongkok kenusantara dan sebaliknya.
1. Asal kata Tionghua
Tionghua adalah istilah yang dibuat sendiri oleh orang keturunan cina
diindonesia berasal dari kata zhonghua dalam bahasa mandarin. Zhonghua dalam
dialek hokkian dilafalkan sebagai Tionghua. Wacana Cung hwa setidaknya sudah
dimulai sejak tahun 1880, yaitu adanya keinginan dari orang-orang di Tiongkok
untuk terbebas dari kekuasaan dinasti dan membentuk suatu negara yang lebih
demokratis dan kuat. Wacana ini dampai terdengar oleh orang asal tiongkok yang
bermukim di Hindia Belanda yang ketika itu dinamakan orang cina diduga
panggilan ini berasal dari kosa kata “ching” yaitu nama dari dinasti ching yang
29
Artel diakses pada 20 Juni 2012 dari http//asal usul china benteng, cina
benteng teluk naga, tragedi cina benteng/htm.
46
berkuasa. Orang asal Tiongkok ini yang anak-anaknya lahir di Hindia Belanda
merasa perlu mempelajari kebudayaannya termasuk bahasanya, maka oleh
sekelompok orang Tionghua di Hindia Belanda pada tahun 1900 mendirikan
sekolah dibawah naungan suatu badan yang dinamakan “tiong hoa hwe kwan”
(THHK). THHK dalam perjalanannya bukan saja memberikan pendidikan bahasa
dan kebudayaan Tiongkok tetapi juga menumbuhkan rasa persatuan orang-orang
tionghua di hindia belanda, seiring dengan perubahan istilah cina menjadi
Tionghua di Hindia Belanda..
Tidak ada data resmi mengenai jumlah populasi Tionghua diIndonesia
dikeluarkan pemerintah sejak Indonesia merdeka. Namun perkiraan kasar yang
dipercaya sampai sekarang ini adalah bahwa jumlah suku Tionghua berada antara
rata-rata 4%-5% dari seluruh jumlah populasi diIndonesia.
Dalam sensus
penduduk pada tahun 2000, ketika responden sensus ditanyakan mengenai asal
suku mereka hanya 1 % dari jumlah keseluruhan populasi indonesia mengaku
sebagai Tionghua. Orang-orang Tionghua diIndonesia berasal dari Tenggara
Tiongkok. Mereka termasuk suku-suku:
a. Hakka
b. Hainan
c. Hokkien
d. Kantonis
e. Hokchia
f. Tiochiu
47
Daerah asal yang terkonsentrasi dipesisisr tenggara Tiongkok dapat
dimengerti karena sejak zaman dinasti Tang, kota-kota pelabuhan dipesisir
tenggara tiongkok memang telah menjadi bandarperdagangan yang ramai.
Quanzhou malah tercatat sebagai bandar pelabuhan terbesar dan tersibuk didunia
pada zaman tersebit.
Ramainya interaksi perdagangan didaerah pesisir tenggara ini
kemudian menyebabkan banyak sekali orang-orang Tionghua juga merasa perlu
keluarberlayar untuk berdagang. Tujuan utama saat itu adalah Asia Tenggara dan
oleh karena pelayaran sangat tergantung pada angin musim, maka setiap tahunnya
para pedagang Tionghua akan bermukim diwilayah-wilayah asia tenggara yang
disinggahi mereka demikian seterusnya ada pedagang yang memutuskan untuk
menetap dan menikahi wanita setempat ada pula pedagang yang pulang ke
tiongkok untuk terus berdagang, sebagian besardari orang-orang tionghua
diindonesia menetap dipualau jawa.
Daerah-daerah lain dimana mereka juga
menetap dalam jumlah besar selain didaerah perkotaan adalah: Sumatera Utara,
Bangaka Belitung, sumatrea selatan, lampung, lombok, kalimantan barat.30
D. Pola Komunikasi
Pola komunikasi merupakan gabungan dari dua kata, yakni pola dan
komunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pola berarti bentuk atau
sistem.31 Dalam kajian ini merupakan suatu rangka atau bentuk yang digunakan
30
31
Ibid
Departemen Penddidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005), h. 884-885.
48
untuk membuat sesuatu yang sama dalam rangka tersebut. Pola juga dapat
diartikan sebagai proses atau sistem berjalannya seseuatu.
Nurudin dalam buku Sistem Komunikasi Indonesia menjelaskan
bahwa pada dasarnya komunikasi adalah sebuah pemprosesan ide, gagasan, dan
lambang tersebut, sehigga terdapat pola-pola tertentu sebagai wujud prilaku
manusia dalam berkomunikasi.32
Joseph A. Devito mengelompokkan pola komunikasi menjadi empat
macam, yaitu meliputi komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok kecil,
komunikasi publik, dan komunikasi massa. Namun, menurut Nurudin pola
komunikasi yang berkembang di Indonesia yaitu meliputi komunikasi dengan diri
sendiri (interpersonal), komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok, dan
komunikasi massa.33
32
33
Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2007), h. 26.
Ibid, h. 26
BAB III
PROFIL MASYARAKAT KELURAHAN MEKARSARI
KOTA TANGERANG
A. Gambaran Umum Masyarakat Kelurahan Mekarsari
1.
Kependudukan
Kelurahan Mekarsari merupakan salah satu kelurahan yang berada
dikecamatan Neglasari Tangerang dengan luas wilayah 234.211 Ha, yang semua
terbagi atas 91.09 ha digunakan untuk pemukiman, 10.000 ha digunakan untuk
perkuburan, 2.213 ha digunakan untuk lahan inustri, 93. 155 ha digunakan untuk
perkantoran, 10.000 ha tanah wakaf da 117.191 ha digunakan untuk
perladangan, di kelurahan ini terdiri dari 6 Rw dan 33 RT. Kelurahan ini
berbatasan dengan :
-
Sebelah Utara
: Kelurahan Kedaung Baru
-
Sebelah selatan
: Kali Cisadane
-
Sebelah Barat
: Sungai Cisadane/ Pintu air sepuluh
-
Sebelah Timur
: Kel. Neglasari dan Karangsari
Perkembangan penduduk di Kelurahan Mekarsari cukup pesat
sampai saat ini Kelurahan Mekarsari di huni oleh 2.377 Kepala Keluarga . Hal
ini di sebabkan selain karena suasana yang cukup menyenangkan karena dengan
adanya keanekaragaman budaya , juga disebabkan karena lokasinya yang sangat
49
50
strategis dengan wilayah kota Tangerang itu hanya berjarak sekitar 2 Km saja.
Selain itu lokasinya pula tidak jauh dengan letak Bandara Intersional SoekarnoHatta. Di sisi lain juga disebabkan oleh tersedianya fasilitas sarana umum yang
cukup memadai, baik fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan dan lain-lain.
Pada umumnya penduduk Kelurahan Mekarsari Tangerang adalah Betawi dan
Sunda, sehingga adat istiadat yang mendominasi adalah adat Betawi dan Sunda
meskipun sebagian dari mereka keturunan etnis Tionghua. Untuk lebih jelasnya
lihat tabel dibawah ini:
Tabel 1
Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-laki
4.034 Orang
Perempuan
5.074 Orang
Jumlah
9.108 Orang
Adapun jumlah penduduk yang berada di RW 04 ialah sebanyak 350 KK atau
sekitar 1680 jiwa.
51
Selanjutnya jumlah penduduk Kelurahan Mekarsari Tangerang
berdmenurut usia berdasarkan kelompok pendidikan ialah untuk usia 00-05
tahun berjumlah 1. 634 orang, uasi 06-11 tahun berjumlah 977 dan uasi 12 tahun
keatas mencapai 914 orang. Jadi, total seluruhnya ialah 3.525 orang. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2
Jumlah Penduduk Menurut Usia
Usia Kelompok Pendidikan
Jumlah
00-05 tahun
1.634 Orang
06-11 tahun
977 Orang
12- keatas
914 Orang
Jumlah
3.525 Orang
Jumlah penduduk Kleurahan Mekarsari Tangerang menurut usia
kelompok tenaga kerja ialah usia 10-14 tahun mencapai 885 orang,
usia 15-19 tahun mencapai 914 orang, usia 20-21 tahun mencapai
767 orang, usia 27-40 mencapai 684 orang, usia 41-56 mencapai 317
orang dan pada usia 57 tahun keatas mencapai 267, jadi totalnya
mencapai 3. 834. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:
52
Tabel 3
Jumlah Penduduk Menurut Usia
Usia Kelompok Tenaga Kerja
Jumlah
10-14 tahun
885 Orang
15-19 tahun
914 Orang
20-26 tahun
767 Orang
27-40 tahun
684 Orang
41-56 tahun
317 Orang
57-keatas
267 Orang
Jumlah
3.834 Orang
Dari tabel diatas jumlah tenaga kerja dengan kisaran umur antara 1519 tahun usia ini terbilang usia remaja memilki jumlah yang paling banyak yaitu
sekitar 914 orang hal ini dikarenakan banyak anak-anak atau remaja yang putus
sekolah karena kebutuhan ekonomi yang menghimpit mereka. Mereka lebih
memilih membantu orang tua mereka daripada membebani kedua orang tua
mereka dengan biaya sekolah yang semakin melambung. Begitu pula dengan
warga yang berada di RW 04 kebanyakan anak-anak remaja d RW 04, mereka
lebih memilih bekerja daripada sekolah himpitan ekonomi yang dialami oleh
keluarga mereka.
53
2. Agama dan Kepercayaan
Mayoritas penduduk Kelurahan Mekarsari adalah beragama Budha,
ini di sebabkan karena banyaknya etnis Tionghua yang bermukim diwilayah ini.
Namun demikian kerukunan antar umat beragama sudah berjalan dengan baik
sehingga kehidupan bermasyarakat antar pemeluk agama yang satu dengan yang
lainnya dapat saling menghormati. Sarana peribadatan yang adapun didominasi
dengan Gereja yaitu sebanyak 11 buah, Musholah 8 buah, Masjid 1 buah, Vihara
2 buah, dan Pura 2 buah. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:
Tabel 4
Penganut Agama/Kepercayaan Mayarakat Kelurahan Mekarsari
Tangerang
Agama
Jumlah
Islam
3.670 Orang
Kristen
399 Orang
Katholik
168 Orang
Hindu
10 Orang
Budha
4.915 Orang
Agama atau kepercayaan masyarakat Rw 04 sendiri banyak
didominasi oleh pemeluk agama Budha mengingat bahwa memang penduduk di
RW 04 adalah warga keturnan, di bandingkan dengan penduduk-penduduk yang
54
ada di RW lain, yaitu dari 350 KK , 100 KK diantaranya adalah keluarga
pribumi.
3. Mata Pencaharian
Mayoritas
penduduk
memiliki
mata
pencaharian
pegawai
swasta/Karyawan dan buruh tani. Hal ini disebabkan karena banyaknya lahan
prindustrian dan lahan pertanian dan perkebuanan yang cukup luas.
Pada
umumnya
hasil
pertanian
maupun
hasil
perkebunan
diperuntukkan bagi hidup mereka sendiri. Walaupun begitu terkadang mereka
langsung menjual kepada para konsumen yang membutuhkan dan bila hasil
perkebunan serta pertanian mereka lebih dari cukup biasanya mereka
menjualnya kepada para tengkulak.
Selain dibidang pertanian, perkebunan dan perindustrian, mata
pencaharian sebagaian masyarakat kelurahan tergantung pada hasil peternakan
dengan populasi hewan terbanyak ayam ras sekitar 1000 ekor. Selain ayam ras
ada juga yang ternak babi yaitu sekitar 120 ekor hal ini disebabkan karena
mengingat jumlah penduduk yang memeluk agama Budha lebih banyak dari
pada pemeluk agama Islam, ini selain dijual kepasar hewan tanpa pelantara
tengkulak, dan biasanya hasil ternak mereka dikonsumsi oleh mereka sendiri
atau dijual langsung ke konsumen, biasanya ayam yang mereka jual dalam
bentuk olahan.
Selain menjual hasil pertanian dan hasil ternak masyarakat
keluraham Mekarsari juga menggantungkan hidupnya dari hasil berdagang kue
55
atau makanan ringan, didesa ini akan banyak dirtemui para ibu-ibu rumah tangga
yang sedang asik duduk dengan membuat kue, biasanya hasil kue buatan
masyarakat desa Mekarsari dijual kepasar dan daerah sekitar.
Sisanya adalah
petani, pegawai negeri, ABRI dan pensiunan. Untuk lebih jelasnya lihat tabel
berikut:
Tabel 5
Mata Pencaharian Masyarakat Kelurahan Mekarsari
Mata Pencaharian/Profesi
Jumlah
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
61 Orang
ABRI
20 Orang
Pegawai Swasta/Karyawan
2.524 Orang
Pertukangan
148 Orang
Buruh Tani
1.572 Orang
Pensiunan
10 Orang
Sebagian besar masyarakat keturuan di RW 04 bekerja sebagai
pedagang, penjual kue, kuli angkut, sopir, petani, jasa dan pekerjaan kasar lainnya.
Mereka harus berjuang berkompetisi dengan yang lainnya untuk mendapatkan
sesuap nasi dan sedikit tabungan untuk pendidikan anak-anaknya.
56
4. Pendidikan
Masyarakat
kelurahan
Mekarsari
pada
dasarnya
merupakan
masyarakat yang sadar akan pendidikan baik formal maupun non formal. Di
kelurahan inipun sudah ada beberapa fasilitas pendidikan formal yaitu 3 buah
Taman Kanak-kanak dan 3 buah Sekolah Dasar (SD).
Sebagian besar masyarakat kelurahan Mekarsari yang apabila telah
lulus sekolah Dasar (SD), biasanya tidak diteruskan ke tingkat selanjutnya yaitu
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekola Menengah Atas (SMA) apalagi
ke tingkat Perguruan Tinggi, hal ini sebagaian besar dikarenaan faktor biaya dan
faktor jarak.
Faktor
biaya ini dikarenakan sebagaian masyarakat kelurahan
Mekarsari tergolong ke dalam keluarga sejahtera 3 dan keluarga sejahtera 3 plus.
Yang mana golongan-golongan tersebut termasuk didalam keluarga yang
penghasilannya dibawah rata-rata dan hanya cukup memenuhi kebutuhan seharihari. Dan biasanya, bila tidak dapat melanjukan ke tingkat yang lebih tinggi
mereka akan bekerja atau bahkan menganggur.
Sedangkan faktor jarak karena keberadaan Sekolah Menengah
Pertama, dan Sekolah Menengah Atas hanya ada dan terletak di daerah ibu kota
kecamatan dengan jarak 7 Km, yang bila ditempuh dengan kendaran bermotor
kurang lebih 15 menit, dan bila ditempuh dengan jalan kaki sekitar 3 jam. Untuk
mengetahui tingkat pendidikan masyarakat Kelurahan Mekarsari Tangerang
dapat dilihat pada tabel berikut:
57
Tabel 6
Tingkat Pendidikan Masyarakat Kelurahan Mekarsari
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Taman Kanak-kanak
608 Orang
Sekolah Dasar (SD)
1.715 Orang
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
237 Orang
Sekolah Menengah Atas (SMA)
70 Orang
Akademi/ D1-D3
40 Orang
Sarjana (S1-S3)
30 Orang
Namun di samping itu semua, ada beberapa kemajuan dari tingkat
pendidikan di kelurahan Mekarsari , seperti contohnya sudah ada beberapa orang
yang mengenyam pendidikan tinggi baik sekolah menengah atas maupun di
bangku perkuliahan.
Sedangkan dalam pendidikan mayoritas kelurahan Mekarsari adalah
sekolah dasar yaitu sekitar 1.715 orang.1
B. Sejarah Etnis Tionghua Di Tangerang
1. Etnis Tionghua di Tangerang
Warga Tionghua banyak di temui di daerah pinggiran Tanggerang.
Masyarakat Tangerang pada umumnya menyebut mereka Cina Benteng
1
Format Monografi kelurahan Mekarsari Kota Tangerang Tahun 2012
58
(Cinben). Komunitas Cina Benteng adalah warga asal Tionghua yang dahulu
kala mencoba masuk Indonesia saat produk gula booming pada abad 18 ratusan
pemuda asal negeri Tirai Bambu berlayar dari negaranya tujuan awalnya mereka
sebenarnya adalah Batavia yang kini menjadi Kota Jakarta, namun mereka
terdampar dipangkalan Teluknaga, yang kini menjadi bagian dari daerah Pantai
Utara (Pantura) Kabupaten Tangerang.
Akhirnya ratusan pemuda itu di tangkap serdadu VOC. Mereka lalu
diminta membuka wilayah Tangerang yang kala itu masih berupa hutan dan
menjadi mandor perkebunan atau dikenal dengan nama Kapitan, pemuda yang
tidak membawa pasangan dari negerinya menikah dengan warga pribumi yang
menghasilkan keturunan hingga kini.
Sejarah Cina Benteng memang sulit dipisahkan dari kawasan pasar
lama di Jl Ki Samaun yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman
pertama masyarakat Cina. Pada akhir 1800-an, sejumlah orang Cina dipindahkan
ke kawasan Pasar Baru. Sejak itu menyebar kedaerah-daerah lainnya.
Keturunan Tionghua di wilayah Tangerang umumnya berkulit hitam,
bermata sipit, dan tidak berbahasa mandarin, mereka adalah generasi kelima
Cina Benteng yang hidup di Kota Tangerang. Merekalah yang sebenarnya yang
disebut Cina Benteng dan istilah itu dikenal hingga sekarang.
Istilah Cina Benteng tidak lepas dari kehadiran Benteng , Benteng yang
dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda di tepi Sungai Cisadane
sekarang sudah rata dengan tanah. Kala ini banyak keturunan Cina Tangerang
59
yang kurang mampu bermukim diluar Benteng Makasar. Mereka terkonsentrasi
di daerah sebelah utara Tangerang yaitu sewan dan Kampung Melayu. Dari
sinilah istilah Cina Benteng karena bermukim di sekitar benteng, yang hingga
kini mereka kemudian disebut Cina Benteng.2
2.
Klenteng/ Vihara Tjong Tek Bio
Kota Tangerang dikenal dengan istilah China Benteng. Mereka adalah
warga
Tionghoa yang merupakan keturunan imigran China Hokkian.
Kedatangan mereka sendiri konon sudah sejak tahun 1600-an. Namun,
Kelenteng Tjong Tek Bio didirikan pada tahun 1830.
Kelenteng dibuat untuk meningkatkan spiritualitas warga imigran,
terutama ketika mereka sedang membutuhkan pertolongan secara batin. Karena
sudah lama berada di sekitar Sungai Cisadane, warga China Benteng pun tak lagi
bisa berbahasa nenek moyangnya.
"Yang kami pelihara tinggal nama yang kami pergunakan, dan berbagai
seremoni, seperti Imlek, Cap Go Meh, dan tentunya ibadah yang kami lakukan
di kelenteng,"
terang Lim Tjun Siong, salah satu warga China Benteng. Dirinya juga
mengakui, tak hanya soal bahasa, secara fisik pun warga China Benteng berbeda
2
Artel diakses pada 20 Juni 2012 dari http//asal usul china benteng, cina benteng teluk
naga, tragedi cina benteng/htm.
60
dengan etnis China yang sudah dikenal karena mereka memiliki warna kulit
yang lebih gelap.3
China Benteng pun sudah membaur dengan baik dengan warga sekitar.
Entah itu melalui perkawinan ataupun kegiatan-kegiatan bersama. Warga China
Benteng pun sudah heterogen, tak hanya beragama Buddha, ada juga yang
beragama Kristen dan Islam. Sehingga, ketika sentimen negatif terhadap etnis
China merebak pada tahun 1998, warga China Benteng justru aman-aman saja.
Kondisi harmonis ini pun masih berlangsung hingga sekarang.
Meski demikian, kelenteng ini pun pernah menghadapi tekanan yang
menyulitkan, terutama di masa Orde Baru. "Kelenteng Tjong Tek Bio sempat
harus berganti nama menjadi Wisma Bodhi. Karena pada masa Orde Baru,
semua yang berunsur China harus dikubur. Bahkan perayaan Imlek pun
dilarang," ujar Sujadi, yang juga waga China Benteng.4
Sangat disayangkan, suasana harmonis dan nilai historis yang dimiliki oleh
warga China Benteng harus dihadapkan pada penggusuran. Pemkot Tangerang
akan menertibkan kawasan di pinggir Sungai Cisadane dengan dasar Perda No
18 Tahun 2000 tentang K3.
Ratusan kepala keluarga dikirimi surat untuk segera mengosongkan
rumah, tanpa diberikan kompensasi atau ganti rugi dari Pemkot. "Mereka
beralasan tak punya dana," cetus Sujadi.5
Meski bebas dari Orde Baru, tampaknya tantangan warga China
Benteng masih belum berakhir dengan adanya penggusuran di era Reformasi ini.
3
l wawancara dengan Lim Tju Siong 26 Desember 2012
Wawancara dengan Sujadi, 26 Desember 2012
5
Wawancara dengan Sujadi, 26 Desember 2012
4
61
Bahkan hingga saat ini sudah ada beberapa pemukiman Cina Benteng yang
tinggal di bantaran sungai Cisadane yang menjadi korban penggusuran, yang
sampai saat ini tidak ada yang tahu dimana mereka tinggal dan meninggalkan
trauma pada korbannya.
BAB IV
POLA KOMUNIKASI ETNIS TIONGHOA DENGAN MUSLIM PRIBUMI
DI RW 04 KELURAHAN MEKARSARI TANGERANG
A. Pola Komunikasi Antarbudaya dalam Proses Akulturasi, Asimilasi, dan
Enkulturasi.
1. Pola Komunikasi dalam Proses Akulturasi
Komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi yang dilakukan antara
satu orang dengan orang lain yang terdiri dari dua orang atau lebih. Menurut data
yang penulis temukan bahwa komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh
Tionghoa dan masyarakat muslim pribumi biasanya terjadi ketika bertemu dijalan,
atau ditempat-tempat tertentu seperti di warung, pasar dan lain sebagainya ,akan
tetapi terkadang penulis menemukan interaksi berupa komunikasi yang kurang
intensif baik dari kalangan masyarakat Tionghoa maupun masyarakat pribumi
baik pada generasi muda maupun pada generasi tua mereka. Seperti yang telah
dikatakan oleh Juwita siswa SDN 1 Mekarsari, bahwa terkadang dia sering
diperlakukan tidak baik oleh temannya yang pribumi hanya karena mereka
berbeda keyakinan, meskipun demikian komunikasi yang berjalan kurang intensif
ini tidak menimbulkan konflik yang berarti.1
Dahulu sekitar tahun 1990-an antara Tionghoa dan Muslim Pribumi di
Rw 04 Kelurahan Mekarsari, seolah ada jurang pemisah antara keduanya. Salah
1
Wawancara dengan Tan Juwita 30 Maret 2012.
62
63
satu contohnya ialah tragedi Mei dimana ada penjarahan besar-besaran terhadap
toko-toko, dan pusat perbelanjaan lainnya yang dimiliki oleh keturunan Cina hal
ini dikarenakan bahwa masyarakat pribumi tidak ingin dijadikan pembantu di
wilayah mereka sendiri. Namun kini keadaan masyarakat keturunan Tionghoa dan
Pribumi sudah jauh lebih baik, kendati kedua masyarakat ini sudah dikatakan
dapat berbaur bersama, namun penulis dapat menemukan perbedaan yang
mencolok biasanya dalam konteks keagamaan, dan status sosial. Contohnya
dalam keagamaan masyarakat Tionghua sudah tentu kebanyakan beragama
Budha, meski sudah menjadi Muslim mereka masih saja menjalankan ritual-ritual
yang sudah diterapkan sejak sebelum mereka memeluk agama Islam, sedangkan
warga pribumi yang mayoritas beragama Islam tidak pernah melakukan ritualriural tersebut meski mereka sudah berbaur bersama.
Contoh dalam konteks sosial dapat dilhat secara kasat mata di RW 04
kelurahan Mekarsari ini masyarakat Tionghua dapat diktakan jauh dari sejahtera
dibandingkan dengan warga Pribumi.untuk kebutuhan sehari-hari mereka sering
mengandalkan uluran tangan dari para dermawan yang satu etnis dengan mereka
tentunya dengan tingkat ekonomi yang lebih tinggi. Seperti dikatakan oleh bapak
Cwe Fak Liem ketua RT 04
“ warga Tionghoa disini meski kita keturunan cina tapi ga ada yang kaya,
semuanya serba kekurangan pendidikan anak-anak juga paling tinggi sampai
SMA, kita juga sering dapet bantuan dari donatur yang segama sama kita, warga
pribumi juga suka ngasih tapi sekedarnya saja apalagi setelah ada penggusuran
dipinggiran kali cisadane”2
2
Wawancara dengan bapak Cwe Fak Liem, 20 maret 2012
64
Meskipun demikian, seperti apa yang sudah penulis katakan diatas, saat
ini keadaan masyarakat Rw 04 di Kelurahan Mekarsari sudah jauh lebih baik,
namun penulis masih menemukan beberapa orang dari generasi tua yang berasal
baik dari etnis Tionghoa maupun Pribumi yang menjalin komunikasi hanya dari
beberapa konteks tertentu , biasanya dari konteks ekonomi dan konteks sosial.
Dalam proses komunikasi antarpribadi antara Tionghoa dan pribumi
terbukti dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara perlahan-lahan
melihat, mendengar dan merasakan lingkungannya. Hal ini terlihat dari orangorang Tionghoa yang sejak lama bermukim di daerah ini.
Selama proses interaksi itu berjalan , banyak laki-laki Tionghoa totok
yang kemudian menikahi perempuan pribumi dan membentuk keluarga, hasil
perkawinan campur inilah yang kemudian membentuk komunitas Tionghoa
peranakan (baba-nona). Komunikasi antarpribadi yang dilakukan orang-orang
Tionghoa di Rw 04 ini terus dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama, dan
telah menghasilkan beberapa akulturasi budaya. Pembauran yang dilakukan
budaya Tionghoa dengan kebudayaan penduduk pribumi hingga kini dapat dilihat
baik dalam kesenian seperti Gambang Kromong, Lenong, Cokek, makanan dan
lain-lain.
Proses akulturasi terjadi apabila kelompok-kelompok atau individuindividu yang memiliki kebudayaan yang berbeda saling berhubungan langsung
secara intensif, dengan timbulnya perubahan-perubahan besar pada pola
kebudayaan dari salah satu atau dua kebudayaan yang bersangkutan. Maka
65
diantara variabel-variabel yang banyak itu adalah tingkat perbedaan kebudayaan,
keadaan, intensitas, frekuensi dan semangat persaudaraan dalam hubungannya
siapa dan apakah datangnya pengaruh itu merupakan timbal balik atau tidak.
Akulturasi dapat diartikan sebagai akibat dari kontak antar kebudayaan yang
berangsung lama.
Masyarakat Tionghoa di Rw 04 sudah berakulturasi dan berintegrasi
dengan lingkungan juga kebudayaan masyarakat lokal (Betawi-Sunda), terlihat
jelas pada warna kulitnya yang kecoklatan, tidak putih pada umumnya komunitas
cina, mendengar mereka berbicara pun sudah sangat mirip dengan masyarakat
lokal. Meski demikian, masyarakat Tionghoa masih melestarikan adat istiadat
nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun, salah satunya adalah tampak
pada keberadaan “meja abu” setiap rumah
Tionghoa. Keberadaan meja abu
merupakan ritual keagamaan orang cina, baik yang dilakukan didalam rumah
maupun dikelenteng yang tidak bisa dipisahkan dengan hio dan hiolo (sebuah
bejana berisi pasir tempat menancapkan batang hio). Hio bagi orang Tionghoa
sama dengan bunga bagi orang barat.
Hal diatas membuktikan bahwa masyarakat Tionghoa selain mereka
berakulturasi dan beradaptasi dengan budaya masyarakat pribumi namun mereka
masih tetap mempertahankan tradisi dan adat istiadat kepercayaan leluhur mereka
yang sudah ratusan tahun. Akulturasi Tionghoa di Mekarsari dengan kebudayaan
masyarakat Muslim Pribumi dapat terlihat pada busana pakaian pengantin
merupakan campuran atau akulturasi budaya Tionghua dan Betawi karena terjadi
66
kawin campur (Integrasi), selain terjadinya kawin campur juga adanya akultrasi
dalam bahasa, dan kesenian.
a. Kawin Campur
Perkawinanan merupakan masa penutupan bagi seseorang yaitu dari
masa lajang dan masa hidup tanpa beban keluarga menjadi hidup berumah tangga
yaitu menikah.
Perkawinan campur yang terjadi di lingkungan RW 04 Kelurahan
Mekarsari Tangerang yaitu perkawinan antara Tionghua yang beragama Budha
dengan Muslim Pribumi, biasanya hanya dilakukakan pernikahan saja tidak
berikut resepsinya, sebelumnya pengantin Tionghua yang beragama Budha akan
masuk Islam terlebih dahulu sebelum menikah dengan muslim pribumi.3
Berbagai akulturasi antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat
pribumi tidak hanya diperkawinan campur, tetapi juga akulturasi terjadi pada
bahasa yang digunakan sehari-hari.
b. Bahasa
Bahasa adalah sistem untuk mengkomunikasikan dalam bentuk
lambang dari segala macam informasi. Setiap bahasa manusia, baik inggris
maupun cina adalah sarana untuk menyampaikan informasi dan pengalaman, baik
yang bersifat kultural maupun individual dengan orang lain. Bahasa pun
3
Wawancara penulis dengan Cwe Fak Liem ketua RW 04 31 Maret 2012
67
mencerminkan realita kebudayaan dan kalau kebudayaan berubah bahasapun akan
berubah.
Bahasa adalah alat untuk perwujudan budaya yang digunakan manusia
untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baiklewat tulisan, lisan, maupun
gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau
kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain, melalui bahasa, manusia dapat
menyesuaikan dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan
sekaligus mdah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bentuk-bentuk bahasa yang berbeda tetapi cukup besar persamaannya,
sehingga dapat saling dipahami, dikenal dengan nama dialek. Secara teknis,
semua dialek adalah bahasa.
Masyarakat Tionghoa yang merupakan Cina peranakan, sebagian
besar mereka sudah tidak dapat lagi menggunakan bahasa cina. Keunikan dari
komunitas Tionghoa ini yaitu mereka telah berakulturasi dan beradaptasi dengan
lingkungan dan kebudayaan Pribumi. Dalam percakapan sehari-hari, mereka
sudah tidak dapat lagi berbahasa cina. Logat mereka bahkan sudah sangat kental
dengan Sunda Pinggiran bercampur dengan bahasa Betawi.
Logat Etnis Tionghua di RW 04 ini memang khas, contohnya : ketika
mengucapkan kalimat “ mau kemana”, kata “na” diucapkan lebih panjang
sehingga terdengar “ mau kemanaaaa”. Hal ini dikarenakan komunikasi Tionghua
ini sangat membuka peluang masuknya kebiasaan dan tata bahasa masyarakat
lokal yang sebagian besar menggunakan logat Betawi.
68
Akulturasi bahasa antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat
Pribumi dapat dilihat dalam pengucapan kata sehari-hari, bisa dilihat dalam tabel
dibawah ini :
Tabel 7
Dialek/ pengucapan
Arti Kata
Siam si
Alat untuk menggoreng
Ranjang
Tempat tidur
Nyapnyap
Ngomong seenaknya
Jojong
Santai
Ngambek
Cemberut
Eretan
Menyebrangi
sungai
mengguanakan perahu
b). Kesenian
Kesenian mengacu pada keindahan yang berasal dari ekspresi hasrat
manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata atau telinga, sebagai
makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak
kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
Kesenian masyarakat Tionghoa telah berakulturasi dengan masyarakat
Pribumi salah satunya adalah tari cokek. Tari cokek yaitu tarian khas Tangerang ,
yang diwarnai budaya etnik Cina. Cokek sendiri merupakan tradisi lokal
69
masyarakat betawi dan Cina Benteng, yaitu kelompok etnis Cina yang nyaris
dipinggirkan yang kini banyak bermukim di Tangerang. Tarian ini diiringi orkes
Gambang Kromong ala Betawi dengan penari mengenakan kebaya yang disebut
cokek.
Pembauran yang dilakukan budaya Tionghoa dengan kebudayaan
penduduk pribumi hingga kini dapat dilihat baik dalam kesenian seperti Gambang
Kromong, Lenong, Cokek dan lain-lain.
Dalam perekembangannya, orang-orang Tionghoa sangat merespon
sekali keadaan sosio-budaya Indonesia, mereka layaknya orang pribumi, telah
bercampur baur dengan masyarakat pribumi, mereka saling bergotong royong
dalam hubungan kemasyarakatan. Proses komunikasi ini secara potensial
memudahkan aspek-aspek akulturasi.
Kerumitan seorang imigran dapat dimudahkan dengan kemampuan
mempersepsikan lingkungan pribumi sehingga mengetahuai budaya pribumi lebih
jauh4. Pada fase-fase awal akulturasi, orang-orang Tionghoa di Rw 04 mengamati
lingkungan sekitarnya secara sederhana, sehingga mereka masih belum
beradaptasi dengan lingkungan asing tersebut dengan baik. Pada awal mula
datang ke Batavia mereka masih menutup diri terhadap lingkungan disekitar
mereka, para imigran Tionghoa ini hanya melihat dan mendengar tanpa merespon
secara mendalam lingkungan sekitarnya dikarenakan persepsi mereka saat itu
4
.Deddy Mulyana dan Jalaludin, komunikasi antarbudaya h, 141
70
masih awam dan belum banyak mengetahui pola-pola maupun aturan sistem
komunikasi pribumi.5.
Pada mulanya orang-orang Tionghoa hanya mengadu nasib di Batavia
dengan mencoba mencari untung melalui perdagangan dengan orang-orang
Belanda. Setelah berimigrasi dan menetap di batavia, mereka kemudian terlibat
dalam sistem komunikasi masyarakat setempat. Pengetahuan yang telah didapat
oleh orang-orang Tionghoa kemudian sangat membantu mereka meningkatkan
partisipasinya dalam jaringan-jaringan komunikasi pribadi dan komunikasi massa
yang terdapat pada masyarakat pribumi.6 Artinya partisifasi yang dimaksud tidak
terbatas pada masyraka betawi saja , melainkan juga pada bebagai etnis.
Banyaknya pengetahuan yang didapat oleh orang-orang Tionghoa di RW
04 tentang berbagai hal yang berkaitan dengan orang-orang pribumi, membuat
persepsi mereka menjadi lebih halus dan kompleks. Ini memungkinkan mereka
menemukan banyak variasi dalam lingkungan pribumi. Bukti nyata yang sangat
berpengaruh ini adalah pengetahuan tentang bahasa pribumi. Bahasa merupakan
hal yang sangat mendasar, dan harus dimiliki oleh setiap orang atau kelompok
yang ingin berkomunikasi dengan komunitas lain. Seperti disinyalir oleh Lusiana
Andriani Lubis dari Edward Sapiur dan Benyamin Whorf,bahwa bahasa tidak saja
berperan sebagai suatu mekanisme untuk berlangsungnya komunikasi, tetapi juga
5
Ibid, 141
clokener brousson, Batavia awal abad 20 Gedenkschriften van eed oud-kolonial,( Jakarta
komunitas bambu 2004, h. 75).
6
71
sebagai pedoman kearah kenyataan sosial7, dengan kata lain bahasa tidak saja
menggambarkan persepsi, pemikiran dan pengalaman, tetapi juga dapat
menentukan dan membentuknya.
Proses komunikasi sosial yang lebih umum dilakukan orang-orang
Tionghoa dengan berinteraksi kepada masyarakat Betawi dalam lingkungan sosiobudayanya, tidak hanya dalam hubungan-hubungan antarpersonal.8 Melalui
komunikasi sosial, orang Tionghoa mengetahui lebih jauh lagi tentang berbagai
unsur dalam sistem sosio-budaya Betawi. Fungsi komunikasi sosial dalam
akuturasi sagat penting pada fase awal proses akulturasi kaum imigran, yaitu pada
saat orang-orang Tionghoa baru memulai mengembangkan suatu kecakapan yang
memadai untuk membina hubungan-hubungan antarpersonal yang memuaskan
anggota-anggota masyarakat Betawi.9
Hasil dari interaksi orang-orang Tionghoa dengan masyarakat Betawi
yang cukup lama, tidak saja mempengaruhi budaya keduanya tapi juga
melahirkan kebudayaan baru yang terjadi pada kedua etnis tersebut bukan hanya
pada kesenian saja, tapi juga ada hal-hal lain diantaranya, arsitektur, sastra,
bahasa, kesenian, olahraga, dan adat istiadat lainnya.
Komunikasi personal dan komunikasi sosial imgran dan fungsi
komunikasi-komunikasi tersebut tidak sepenuhnya dapat dipahami tanpa
7
Lusiana Andriani Lubis, Penerapan Komunikasi Lintas Buadaya Diantara Perbedaan
Kebudayaan, (Sumatra Utara: FISIP )h.11.
8
Deddy dan Jalaludin, Komunikasi Antarbudaya. h. I42
9
Ibid, h. 143
72
dihubungkan dengan lingkungan komunikasi masyarakat Pribumi. Apakah
imigran tinggal didesa atau dikota metropolitan, tinggal didaerah miskin atau
kaya, bekerja sebagai buruh pabrik atau eksekutif. Semua itu adalah kondisi
lingkungan yang diduga mempengaruhi. Secara signifikan perkembangan sosiobudaya yang akan dicapai imigran.
Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi
dan akulturasi Tionghoa adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat.
Artinya dari derajat kelengkapan kelembagaan Tionghoa tersebut dapat
memudahkannya
dalam
mengatasi
tekanan-tekanan
dalam
komunikasi
antarbudaya. Ini memudahkan akulturasi. Namun lain halnya apabila orang-orang
Tionghoa terlalu luas dalam komunitas etniknya dan tanpa komunikasi yang
memadai dengan anggota masyarakat Betawi. Faktor ini dapat memperlambat
akulturasi komunitas Tionghoa ke dalam sistem sosial orang pribumi.
Lingkungan komunikasi pada saat terjadinya akulturasi adalah ketika
orang-orang Tionghoa mulai berinteraksi melalui perdagangan di Batavia pada
masa Dinasti Sung (907-1127) dilaporkan banyak pedagang-pedagang Cina yang
datang ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mereka berdagang
dengan orang Indonesa dengan membawa barang dagangan berupa teh, barang
porselin Cina yang indah, kain sutra yang halus serta obat-obatan. Sedangkan
mereka membeli dan membawa pulang hasil bumi Indonesia. Dalam sejarah Cina
Kuno, dikatakan bahwa orang-orang Cina mulai merantau ke Indonesia pada masa
akhir pemerintahan Dinasti Tang. Daerah pertama yang didatangi adalah
palembang, yang pada waktunya itu merupakan pusat perdagangan kerajaan
73
Sriwijaya. Kemudian mereka datang kepulau Jawa untuk mencari rempahrempah. Banyak di antara mereka kemudian menetap di daerah pelabuhan pantai
utara jawa seperti daerah Tuban, Surabaya, Gresik, Banten (Tangerang) dan
Jakarta. Orang Cina datang Indonesia dengan membawa serta kebudayaannya,
termasuk unsur agamanya. Dengan demikian, perpaduan kebudayaan Cina dalam
kebudayaan Indonesia tak terelakkan.
Proses komunikasi dalam akulturasi pada kesenian Gambang
Kromong, hanya dimungkinkan oleh proses interaktif yang saling melengkapi
antara orang Tionghoa dan pribumi di RW 04. komunikasi pribadi, komunikasi
sosial dan lingkungan komunikasi sangat menunjang sekali keberhasilan proses
akulturasi tersebut. Seperti dikutip oleh Deddy Mulyana dan Jalaludin Rahmat
dari Mendelson, “ Komunikasi dapat menggabungkan kelompok-kelompok
minoritas ke dalam suatu organisasi sosial yang memiliki gagasan-gagasan dan
nilai-nilai bersama.”10 Kesamaan-kesamaan itulah yang menjembatani perbauran
dua komunitas tadi dalam berbagai aspek kehidupan sosial budaya, sebagaimana
tercermin dalam kesenian Gambang Kromong.
2.
Pola Komunikasi dalam Proses Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada golongan-
golongan manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda, saling bergaul
langsung intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan-kebudayaan
10
Deddy dan Jalaludin, Komunikasi Antarbudaya, h. 148.
74
golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas dan juga unsurunsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi kebuayaan campuran.11
Sama halnya dengan proses komunikasi dalam akulturasi pola
komunikasi dalam proses asimilasipun lebih kepada pola komunikasi antarpribadi
baik terjadi dalam keluarga maupun dalam hubungan dengan masyarakat.
Adapun asimilasi yang terjadi pada masyarakat Tionghua di RW 04
Kelurahan Mekarsari Tangerang ialah terjadinya perkawinan silang dan
pergantian nama, seperti
Liem Tjun Siong menjadi Sujadi pergantian nama
tersebut terjadi ketika dia menikah dengan warga Pribumi dan memeluk agama
islam, makanan, cara berpakaian,
3.
Pola Komunikasi dalam Proses Enklturasi
Pada dasarnya enkulturasi merupakan pola budaya yang sama meski
berbeda etnis atau agama, enkulturasi yang terjadi pada masyarakat RW 04 ialah
mengalami kesamaan bahasa dalam berkomunikasi yaitu mneggunakan bahasa
Betawi dan Sunda, kesamaan tempat Tinggal yaitu di lingkungan RW 04 dan
kesamaan dari Tujuan-tujuan hidup yaitu ingin merasakan kehidupan yang damai
sentosa tanpa ada konflik yang berarti. Dalam hal ini kemuniasi yang terjadi lebih
kepada komunikasi antarpribadi dan kelompok.
11
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta, Aksara Baru, 1981), h. 225.
75
B. Hambatan Komunikasi dalam Pola Komunikasi Antarbudaya
1. Keanekaragaman dari tujuan-tujuan komunikasi
Setiap individu memiliki alasan sendiri ketika memilih untuk bergabung
pada komunitas tertentu, salah seorang keturunan Tionghua di Rw 04 yang lebih
memilih
memeluk agama islam memilki latar belakang dan motif tertentu
mengenai keputusannya untuk memeluk agama islam, karena:
a. Ajakan teman sebayanya
b. Tertarik akan ajaran dalam beribadah
c. Tertarik ingin memakai jilbab
d. Ingin menikah dengan Muslim Pribumi
e. Telah mendapatkan hidayah
Selain itu motif utama mengapa masyarakat Tionghoa lebih memilih
tinggal di Desa sewan Lebak atau di RW 04 ini dari pada di Mauk ataupun
Karawaci karena menurut cerita dari nenek moyang mereka di tempat inilah
mereka lebih aman dibandingkan dari tempat lain.
2. Etnosentrisme
Etnosentrisme merupakan paham diamana para penganut suatu
kebudayaan atau suatu kelompok suku bangsa selalu merasa lebih superior
daripada kelompok lain diluar mereka.
76
Berdasarkan penelitian, penulis menemukan bahwa masing-masing
kelompok yaitu kelompok Tionghoa dan kelompok pribumi sama-sama merasa
kelompok merekalah yang paling unggul ini terlihat ketika spenulis melakukan
wawancara dengan bapak Cwe Fak Liem yang mengutarakan kekecewaannya
terhadap pribumi yang beragama muslim ketika salah satu anak laki-lakinya
inikahkan dengan wanita muslim pribumi, di mengatakan
" keluarga saya ada yang beragama muslim itupun karena menikah
dengan wanita pribumi yang beragama muslim,saya pikir ketika masuk islam
anak saya menjadi orang yang lebih baik, tapi sebaliknya pernikahan mereka
tidak bertahan lama karena wanita itu tidak bisa membimbingnya, seharusnya
dia bisa membimbing anak saya dalam hal mempelajari agama islam dan ajaranajarannya kalau seperti itu apa benar orang muslim seperti itu?kalau diagama
saya tidak seperti itu ibadahnya juga ga repot ga seperti orang muslim yang
sehari lima kali, bahkan ada yang dinamakan sholat sunnah"12
3. Tidak adanya kepercayaan
Melihat perbedaan yang dianggap berlebihan diantara kedua belah pihak
yaitu antara masyarakat Tionghua dengan Muslim Pribumi, hal ini menimbulkan
sedikit ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat dalam berkomunikasi.
Masyarakat pribumi yang sebagian besar menduduki kursi pemerintahan daerah
merasa takut jika mereka mengabil atau meminta masyarakat Tionghoa untuk
menjadi staff desa terutama untuk ditempatkan dikantor desa hal ini dikarenakan
pendidikan masyarakat Tionghoa rata-rata hanya sampai bangku Sekolah Dasar.
Dan jika di undang acara ada beberapa warga muslim pribumi yang takut
makanannya di campuri babi.
12
Wawacara dengan bapak Cwe Fak Liem ditempat kediamannya di Desa Sewan Lebak 20 Juni
2012
77
Sedangkan hambatan utama bagi etnis Tionghua dalam berkomunikasi
ialah selalu khawatir dan takut, khwatir tidak diahargai dilingkungan tempat
tinggal mereka dan takut dibohongi dan takut tidak diterima dilkingkuangannya.
4. Penarikan diri
Umumnya masyarakat pribumi tidak melakukan penarikan diri terhadap
siapapun di lingkungannya. Namun sebagian warga pribumi selalu tertutup jika
ada acara seserahan (tunangan) dalam keluarga mereka.
Masyarakat etnis Tionghoa selalu memandang sinis terhadap siapa saja
yang datang, seperti ketika penulis datang ketempat mereka untuk melakukan
wawancara apalagi jika ditanya tentang data pribadi. Seperti yang telah diketahui
bahwa warga Cina Benteng atau masyarakat Tionghoa yang Tinggal di
Tanggerang lebih terbuka dengan siapapun, tetapi pada saat itu penulis merasa
mereka sedang melakukan penarikan diri terhadap orang asing, setelah di telusuri
ternyata mereka masih mengalami trauma akibat penggusuran yang terjadi di
bantaran kali Cisadane Tangerang pada April lalu.
5. Tidak adanya empati
Sebagian kelompok kurang memahami kebudayaan kelompok lain
seperti masyarakat Mulim Pribumi kurang memahami kebudayaan masyarakat
Tionghua begitu pula sebaliknya, hal ini lah yang menyebabkan munculnya sikap
kurang empati meski masing-masing kelompok sudah berusaha mempelajari
kebudayaan kelompok lain, seperti ketika ada salah satu warga Tioghoa yang
78
meninggal, warga muslim pribumi tidak ada yang datang untuk berta'jiah dengan
alasan kedatangannya mungkin tidak diperlukan.
6. Stereotyping
Kecenderungan
seseorang
dalam
melakukan
streotyping
atau
Generalitation atau dalam bahasa awamnya adalah pukul rata baik terjadi secara
sengaja ataupun tidak sengaja, baik terjadi pada orang awam atau yang
berpendidikan selakupun hal ini akan menimbulkan citra negatif dikalangan
masyarakat. Contohnya, orang Cina dikenal sebagai orang kaya, pelit, licik, dan
pintar dalam berbisnis akan tetapi fakta yang penulis temukan dalam lingkungan
penelitian seperti tidak sesuai banyak orang cina yang tinggal di RW 04 yang
hidupnya jauh dari sejahtera, tak jarang mereka sering menggantungkan hidup
mereka kepada donatur yang memberi bantuan kepada mereka, berpendidikan
rendah dan dermawan bagi yang berkecukupan.
7. Kekuasaan
Pola komunikasi masyarakat Tionghoa dan Pribumi dibetuk dan dirusak
oleh penguasa yang memilki power. Kekuasaan Belanda merusak struktur
komunikasi masyarakat Tionghoa dengan Pribumi. Penguasa selalu membuat
jurang pemisah antara Pribumi dan masyarakat Tionghoa. Semoga sejarah baru
indonesia mengurangi jurang pemisah tersebut.
Pada tanun 1961 para peranakan Tionghoa mengeluarkan deklarasi yang
dinamakan Piagam Asimilasi. Mereka bertekad menjadi orang Indonesia yang
79
murni dan patriotik seperti disebut pada sumpah pemuda tahun 1928 untuk
mewujudkan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa.
C. Faktor Pendukung dalam Pola Komunikasi Antarbudaya
1. Mengenali diri sendiri
Dalam berkomunikasi seorang komunikator harus mengetahui siapa
dirinya dan siapa komunikannya, karena hal ini dapat menentukan apa yang
dibicarakan dan apa yang didengar dari orang lain. Sikap generalitation atau
pukul rata terhadap segala sesuatu yang terjadi disekitar lingkungan komunikasi
amatlah kurang bijak, karena alangkah lebih baiknya jika kita mengkaji ulang
segala hal atau kasus yang terjadi disekitar kita, oleh sebab itu beberapa kasus
tidak dapat diambil kesimpulan untuk mengadakan bahwa semua masyarakat
Tionghoa pelit, licik dan kaya, dan semua warga muslim Pribumi tertutup dan
menutup diri.
2. Menggunakan kode yang sama
Seorang komunikator harus dapat memahami cara berfikir komunikan,
karena makna terletak pada orang lain bukan pada kata-kata, maka untuk dapat
memperoleh komunikasi yang efektif, komunikator harus mengetahui kode
khusus yang dugunakan orang lain atau komunikan. Dalam hal ini komunikator
akan berusaha untuk mengetahui bahasa dan kata-kata yang digunakan dan
disukai oleh komunikan.
80
Masarakat Tionghua di RW 04 umumnya menggunakan bahasa yang
digunakan oleh masyarakat muslim Pribumi dalam berkomunikasi yaitu bahasa
Betawi bahkan tidak jarang masyarakat Tionghua tidak bisa berbahasa Mandarin.
3. Jangan terburu-buru
Menunda penilaian atau memberi waktu yang cukup untuk menghindari
kesalahpahaman sehingga kedua belah pihak lebih terbuka kesempatan untuk
mencapai saling pengertian.
Proses akulturasi masyarakat Tionghoa dengan Muslim Pribumi di RW
04 dengan keluarga dan lingkunagnnya, kedua belah pihak membutuhkan waktu
agar mereka dapat saling memahami. Keberhasilan akulturasi ini tergantung pada
kedua belah pihak, agar saling membuka diri dalam berkomunikasi.
Masyarakat Tionghoa jangan terburu-buru menilai warga Muslim
Pribumi negatif. Begitu juga sebaliknya Muslim Pribumi jangan terburu-buru
menilai Tionghoa negatif. Seperti jangan mencurigai pribumi tertutup, tidak
empati,melakukan pendekatan karena ada kepentingan pribadi dan pribumi jangan
mencurigai etnis Tionghua pelit, terlalu memaksakan kehendak.
4. Memprhitungkan lingkungan fisik dan manusia
Dalam berkomunikasi seseorang harus memperhitungkan waktu tempat
dan lawab bicara agar komunikasi berjalan dengan efektif.
Dalam berkomunukasi masyarakat Tionghoa dan Pribumi di Rw 04
Kelurahan Mekarsari Tangerang selalu memperhitungkan tempat dan waktu yang
81
tepat dalam membicarakan sesuatu agar pesan yang disampaikan dapat dipahami
dan di mengerti serta tidak terjadi kesalahan makna.
5. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi
Seseorang jika ingin sukses dalam menjalin hubungan pertemanan
berupaya meningkatkan pemahamannya terhadap temannya, mencari informasi
tentang teman mengenai data kultural, data sosiologis, dan data psikologis
individu teman. Memperoleh data tersebut merupakan bahan untuk memprediksi
apa yang seharusnya dan bagaimana seharusnya mengahdapi individu tersebut.
Ketepatan strategi tergantung pada informasi yang diperoleh.
Masyarakat Tionghoa menghadapi warga Muslim Pribumi maka ia
bersiap dan melatih diri bagaimana cara yang terbaik dan mereka menjadi paham
dengan ajaran Islam. Apalagi menghadapi individu atau kelompok dengan sengaja
menguji keimanannya maka mereka mempertahankan diri dengan penuh percaya
diri.
Masyarakat Tionghoa dan Muslim Pribumi di RW 04 memiliki rasa
persatuan maka mereka akan merubah penampilan dan cara berkomunikasinya
sehingga masing-masing kelompok dapat saling memahami.
6. Mendorong feedback
Dalam mewujudkan dan membina persahabatan masyarakat Tionghoa
dan Muslim Pribumi menemui sedikit rintangan dikarenakan Muslim Pribumi
lebih
mendorong
feedback
dalam
berkomunikasi
dibandingkan
dengan
82
masyarakat Tionghoa . feedback secara langsung terjadi apabila kedua belah pihak
membuka diri.
7. Mengembangkan empati
Faktor pendukung meningkatnya keberhasilan komunikasi Antarbudaya,
salah satunya adalah empati. Kedua belah pihak harus menyadari dan menghargai
perbedaan. Melatih seolah-olah diri berada ditempat lain atau menjadi seseorang
kedua belah pihak akan lebih memahami apabila posisi itu seolah-olah ia yang
mengalami.
Masyarakat Tionghua melihat Muslim Pribumi di RW 04 yang tertimpa
musibah atau ditinggalkan keluaraga tercinta ia akan berpikir bagaimana jika ia
yang ada diposisi tersebut. Dan Muslim Pribumi melihat masyarakat Tionghua di
RW 04 yang menjadi korban penggusuran di pinggir sungai Cisadane Tangerang,
merasa sedih atas perlakuan tersebut.
8. Mencari persmaan-persamaan diantar kebudayaan-kebudayaan yang
berbeda
Persamaan-persamaan memungkinkan kedua
belah pihak menjalin
hubungan, akan tetapi tidak semata-mata persamaan. Banyak faktor yang
mempengaruhi berhasilnya
hubungan,
salah
satunya
adalah
Persamaan itu berupa teman sedaerah, seagama dan setempat kerja.
persamaan.
83
Masyarakat Tionghua dan Muslim Pribumi memperoleh kemudahan
dalam berkomunikasi hal ini disebabkan karenanya ada persamaan diantara
mereka, yaitu persamaan dalam berbahasa dan tempat tinggal.
Komunikasi antarbudaya akan
berjalan lancar bila kita mencari
persamaan, minimal sama-sama manusia, sama tempat tinggal, sama makanan
yang dimakan sehari-hari, sama ingin hidup tenang sehingga kedua belah pihak
yang berkomunikasi tidak mempertajam perbedaan.
Ada beberapa karakteristik masyarakat kelurahan Mekarsari Tangerang
tepatnya di RW 04 yang menjadi faktor pendukung dalam kehidupan sehari-hari,
diantaranya:
a. Sikap kekeluargaan
Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat RW 04 bahwa suasana
kekeluargaan dan persaudaraan telah mendarah daging dalam sanubari mereka.
Hal ini pun terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat RW 04 yang
memperliharkan sikap kekeluargaan, seperti contohnya apabila salah satu warga
tertimpa musibah atau mengadakan suatu hajat seperti akan menikahkan anaknya
biasanya para tetangga dilingkungan sekitar warga yang memiliki acara tersebut
dan segera datang untuk memberi bantuan tanpa diminta terlebih dahulu oleh si
pemilik acara tersebut seolah mereka merasa seperti saudara sendiri.
84
b. Menjunjung tinggi sikap sopan santun
Hal ini sangat terlihat sekali pada nasyarakat RW 04 dalam kehidupan
sehari-hari dimana mereka bisa menempatkan sikap mereka, misalnya seperti,
mereka membedakan logat bahasa yang digunakan saat mereka berbicara dengan
yang lebih tua, biasanya orang yang lebih mudalah yang menegur terlebih dahulu
meski mereka berbeda agama.
c. Sikap saling mengahargai orang lain
Sesuai dengan sikap masyarakat Rw 04 umumnya, masyarakat ini sangat
menghargai orang lain, mereka benar-benar memperhitungkan kebaikan orang
lain yang pernah diterimanaya sebagai patokan untuk membalas kebaikan orang
tersebut di kemudian hari.
d. Sikap gotong royong
Dalam konteks ini penulis melihat sikap gotong royong masyarakat RW
04 dalam kehidupan sehari-hari, contohnya mereka saling bergotong royong dan
bekerja sama apabila tetangganya ada yang terkena musibah, seperti halnya sikap
kekeluargaan mereka akan dengan sendirinya bersama-sama meringankan beban
tetangganya yang memang sedang membutuhkan bantuan.
e. Sikap demokratis
Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa,
pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan selalu dilakukan
melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Dalam kehidupan sehari-hari
85
apabila masyarakat Tionghoa dan Muslim Pribumi berselisih paham akan suatu
masalah maka cara yang ditempuh adalah dengan cara musyawarah untuk
mufakat, hal ini sangat efektif dalam menyelesaikan masalah antara kedua orang
atau kelompok yang berselisih, biasanya mereka memanggil tokoh masyarakat
sebagai penengah.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini
Tabel 8
a.
Kat
Akulturasi
Asimilasi
Enkulturasi
1
Perkawinan campur
Perubahan
nama
Satu bahasa= Betawi dan
Sunda
2
Bahasa
Perkawinan
campur
Pengakuan sebagai warga
negara Indonesia yang
keturunan Cina
3
Kesenian
Gaya
berpakaian
Satu wilayah
tinggal
4
Upacara keagamaan ( Kesenian
kematian, kelahiran dan
perkawinan)
5
Keyakinan
Warna kulit
tempat
Satu pola tujuan hidup,
yaitu keamanan
86
b.
Kategori
Problem Potensial
Keanekaragaman tujuan
Masuk islam karena ajakan teman
sebaya, tertarik akan ajaran dalam
beribadah, tertrik ingin memakai
jilbab.
Contoh : Warga Tionghua Masuk
Islam karena menikah dengan
warga Muslim Pribumi.
Enosentrisme
Etnis Tionghua merasa budayanya
yang paling unggul begitu pula
sebaliknya.
Tidak adanya kepercayaan
Pribumi= takut dibohongi, takut
digantikan posisinya dalam
pemerintahan, takut di curangi.
Tionghua = takut tidak diterima di
lingkungannya, takut terjadi
pendiskriminasian.
Penarikan diri
Pribumi= tertutup jika ada acara
seserahan (tunangan)
Tionghua = mengalami trauma
akibat penggusuran beberapa
waktu lalu
Tidak adanya empati
Kurangnya pemahaman antara
budaya masing-masing.
Streotyping
Thionghua = pelit, licik, dan pintar
dalam berbisnis, fanatik terhadap
agama dan budaya.
Kekuasaan
Keduanya sama-sama ingin merasa
berkuasa diwilayahnya masingmasing.
Dalam keluarga yang punya kuasa
ialah seorang kepala keluarga atau
suami.
87
c.
Kategorisasi
Faktor pendukung
Mengenali diri sendiri
Mengenali kualitas diri masingmasing antar etnis agar
komunikasi berjalan dengan
lancer.
Menggunakan kode yang sama
Menggunakan bahasa yang sama
dalam berkomunikasi baik verbal
maupun nonverbal yaitu bahasa
Betawi dan Sunda.
Jangan terburu-buru
Tidak terlalu cepat mengambil
kesimpulan dalam menilai
kelompok etnis tertentu
Meningkatkan keterampilan
komunikasi
Mencari informasi data kultural,
sosiologi dan psikologis individu
teman bicara.
Mendorong Feedback
Pribumi lebih mendorong
feedback dalam berkomunikasi
daripada etnis tionghua
Mengembangkan empati
Memahami perbedaan yang
terjadi dan saling menghormati
satu sama lain
Contoh : pribumi = mengunjungi
acara kematian salah satu warga
yang ditimpa musibah kematian
Tionghua = mengucapkan
selamat jika warga pribumi
mengalami kebahagiaan.
Mencari persamaan-persamaan
diantara kebudayaan-kebudayaan
yang berbeda
Persamaan bahasa, makanan,
tempat tinggal dan budaya.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pola komunikasi antara etnis Tionghua dengan muslim pribumi umumnya
terdiri dari pola komuniaksi antarpribadi dan kelompok, pola komunikasi
antarpribadi dialami oleh setiap individu tanpa terkecuali, baik dalam
lingkungan keluarga maupun bermasyarakat terutama ketika mereka saling
bertemu di jalan, atau sedang terlibat proses jual beli dari proses komunikasi
antarpribadi tersebut lahirnya hubungan yang harmonis diantara kedua belah
pihak, mereka dalam memahami satu sama lain, meski terkadang ada saja
kesalahpahaman yang timbul dalam proses komunikasi hal ini disebabkan
kurangnya tingkat pengetahuan dan kesadaran dari masyarakat tentang
bagaimana menyampaikan pesan dengan baik agar tujuan komunikasi dapat
tercapai.
Komunikasi kelompok terjadi ketika ada musyawarah atau rapat kelurahan,
bagi ibu-ibu komunikasi kelompok biasa terjadi di tempat arisan
Dalam kedua pola komunikasi tersebut tidak terlepas dari proses akulturasi
yaitu pembauran dari satu budaya dengan budaya lain yang kemudian
membentuk kebudayaan baru dalam hal ini penulis mencontohkan kesenian
Gambang Kromong , cokek, bahasa, dan upacara keagamaan merupakan
hasil dari akulturasi kedua budaya tersebut,
2. Asimilasi merupakan peleburan sifat asli dari satu budaya yang diasimilasi
oleh lingkungannya, biasanya hasil dari asimilasi ialah hilangnya budaya
88
89
asli dari satu budaya imigran. Proses asimilasi terjadi pada Pola komunikasi
antarpribadi maupun kelompok yang terjadi pada masyarakat Tionghoa dan
Muslim Pribumi. Adapun bukti dari proses asimilasi di Rw 04 Kelurahan
Mekarsari Tangerang ialah adanya perubahan nama dari Warga Tionghoa
dengan alasan untuk memudahkan mencari pekerjaan dan karena menikah
dengan warga Muslim Pribumi, terjadinya kawin campur, asimilasi warna
kulit, makanan sehari-hari.
3. Pola komunikasi yang terjadi dalam proses Enkulturasi juga tidak lepas dari
komunikasi antarpribadi dan kelompok yang terjadi dalam lingkungan
keluarga maupun masyarakat Rw 04. Enkulturasi merupakan proses
penerusan kebudayaan dari generasi yang satu dengan yang satu kepada
generasi berikutnya selama hidup seorang individu. Bukti dari enkulturasi
dapat dilihat dari kesamaan penggunaan bahasa bahasa yaitu penggunaan
bahasa Betawi dan Sunda dalam komunikasi sehari-hari, kesamaan tempat
tinggal yaitu sama-sama tinggal di lingkungan Rw 04 Kelurahan Mekarsari
Tangerang, serta kesamaan tujuan untuk mencapai kedamaian dalam hidup
bertetangga.
4. Dalam pola komunikasi antarbudaya tidak terlepas dari hambatan-hambatan
dalam proses komunikasi, hambatan-hambatan yang terjadi dalam proses
komunikasi yang yang dialami etnis tionghua dan muslim pribumi terdiri
dari , keanekaragaman dari tujuan-tujuan komunikasi, etnosentrisme, tidak
adanya kepercayaan, penarikan diri, tidak adanya empati , stereotyping, dan
kekuasaan.
90
5. Untuk mencapai komunikasi yang efektif antara dua kebudayaan yang
berbeda dibutuhkan faktor pendukung atau solusi untuk menciptakan
hubungan
komunikasi
yang
harmonis.
Adapun
faktor
pendukung
komunikasi antarbudaya menurut Samovar ialah mengenali diri sendiri,
menggunakan kode yang sama, jangan terburu-buru dalam mengambil
kesimpulan, meningkatkan keterampilan dalam berkomunikasi, mendorong
feedback, mengembangkan empati yaitu saling memahami kondisi atau
keadaan masing-masing, dan mencari persaman-persamaan diantara
kebudayaan-kebudayaan yang berbeda agar tidak terjadinya salah persepsi.
B. Saran
Berdasarkan temuan dilapangan serta analisis yang dilakukan terhadap etnis
Tionghoa dan muslim pribumi , penulis menyatakan beberapa saran yang
ditujukan kepada kedua pihak tersebut dan juga pihak-pihak lain demi terciptanya
komunikasi yang lebih baik. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Para individu maupun kelompok baik Tionghua maupun muslim pribumi
hendaknya bisa membuka diri dan tidak melakukan pukul rata terhadap
salah satu kelompok yang berbeda budaya, status sosial, agama dan sudut
pandang, hendaknya menanamkan sikap saling percaya dan pertahankanlah
sikap kekeluargaan serta toleransi yang tinggi yang sudah berkembang sejak
lama agar hubungan diantara kedua belah pihak tersebut tetap harmonis dan
saling menghormati satu sama lain.
91
2. Para staf desa atau pemerintahan hendaknya memupukan atau meningkatkan
pengetahuan terhadap masyarakat agar mereka tidak salah dalam
menafsirkan informasi yang datangnya dari kelompok yang berbeda.
3. Untuk Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
hendaknya lebih
meningkat studi Komunikasi Antarbudaya mengingat di kampus UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta ini banyak memiliki mahasiswa yang berbeda
kebudayaan baik nasional maupun internasional.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Al-Qur’anul Karim Surat Al-Hujarat Ayat 13.
Andriani Lubis, Lusiana. Penerapan Komunikasi Lintas Budaya Diantara
Perkembangan Kebudayaan, (Sumatra Utara: FISIP).
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta :
PT Rieneka Cipta, 2002), cet-5.
Arbi, Armawati. Dakwah dan Komunikasi, (Ciputat: UIN Jakarta Press).
Birowo,
Antonious. Metode Penelitian
(Yogyakarta: Gintanyali, 2004).
Budyatna dan Mutmainah.
Terbuka, 1994).
Komunikasi
(Teori
Aplikasi),
Komunikasi Antarpribadi, (Jakarta, Universitas
Bungin, Burhan. Metode Penelitian Kualitatif, (jakarta: Rajawali Pers, 2001).
-------------------- Penelitian Kulaitatif, (Jakarta: Kencana, 2010).
Cangara, Hafied. Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2007).
Departemen Agama. Konflik Etno Religius Indonesia Kontemporer, (Jakarta:
Litbang, 2003)
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005).
Format Monografi Kelurahan Mekarsari Kota Tangerang 2012.
Irwanto.
Focused Group Discussion. Sebuah Pengantar Praktis (Jakarta:
Yayayasan Obor Indonesia, 2006.
Joseph A, Devito. Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta Profesional Books, 1997.
Kriyatono, Rachmat. Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta Kencana, 2007).
Munir Amin, Samsul. Ilmu Dakwah, (Amzah, Jakarta, 2009).
92
93
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT. Rieneka Cipta,
2002).
--------------------- Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta, Aksara Baru, 1981).
Liliweri, Alo. Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2003).
Moleong, Lexy. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
1993).
Mulyana, Deddy. Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Soaial Lainnya, (Bandung: PT Rosdakarya,
2005).
Mulyana, Deddy dan Rakhmat, Jalaluddin. Metode Penelitian Kualitatif:
Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, ( Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2006).
Nurudin. Sistem Komunikasi Indonesia. (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2007).
Prabowo, Bambang, dkk. Stereotip Etnik, Asimilai Integrasi Sosial, (Jakarta: PT
Pustaka Grafika, 1988).
Rahmat, Jalaluddin. Metode Penenlitian Komunikasi di Lengkapi Contoh Statistik,
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000).
Saidi, Ridwan. Profil Orang Betawi, Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat
Istiadat, ( Jakarta: PT. Gunara Kata. 2004).
SubiantoS, Yanto. Soal-Jawab Sosiologi, ( Bandung: Armico, 1980).
Sunarwinadi, Ilya. Komunikasi Antarbudaya, (Pusat Antar Universitas Ilmu-ilmu
Sosial Universitas Indonesia).
Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap , ( Surabaya, Gitamedia
Press, 2006).
94
KAJIAN PUSTAKA
Ahmad Syukri menulis Komunikasi antarbudaya : Studi pada pola komunikasi
masyarakat suku Betawi dengan Madura dikelurahn Condet Batu Ampar.
Menemukan bahwa pola komunikasi yang terjadi antara kedua budaya
tersebut lebih banyak menggunakan pola komunikasi antar pribadi dan
kelompok, dalam kegiatan komunikasi sehari, sedangkan komunikasi
kelompok digunakan jika ada acra-acara tertentu saja.
Adapun perbedaan skripsi yang di tulis oleh Ahmad dan peneliti ialah
tentu saja terletak pada objek penelitiannya yaitu objek penelitian yang
peneliti tulis tentu saja etnis Tionghua dan masyaraat muslim pribumi di
kelurahan Mekarsari Tangerang. Sedangkan persamaannya ialah terletak
pada subjek serta metedologi penelitiannya yaitu subyeknya ialah pola
komunikasi antarbudaya sedangkan metodologinya menggunakan
pendekatan kualitatif
Ali Abdul Rodzik menulis Akulturasi Budaya Betawi dengan Tionghua :Studi
Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang Kromong di
Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan Srengseng Sawah.
Menemukan bahwa adanya akulturasi budaya betawi dengan tionghua
dalam kesenian gamang kromong yang sudah tercipta sejak
dahulu,hingga saat ini dan menjadi budanyanya etnik betawi. Dalam
proses akulturasi tersebut komunikasi pribadi terjadi pada saat orangorang tionghua mengadu nasib ke batavia dalam kurun waktu yang lama,
mereka mempelajari pola-pola relasi, aturan,aturan dan sistem-sistem
komunikasi orang-orang betawi. hal ini membuktikan bahwa dua
kebudayaan yang hidup berdampingan dalam satu wilayah tidak
selamanya menimbulkan konflik yang berkepenjangan bahkan dua
kebudayaan yang berbeda dapat disatupadukan menjadi kebudayaan yang
baru.
Perbedaan antara skripsi yang di tulis oleh Abdul Rodzik dengan skripsi
yang peneliti tulis ialah sangat jelas yaitu terletak pada subjek serta objek
penelitiannya, sedangkan persamaannya ialah terletak pada metodologi
penelitiannya yaitu sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif.
Pipit Pitriani menulis Akulturasi Budaya antara Tradisi Sunda Wiwitan dengan
Islam dalam Bentuk Ritual Sesajen di Desa Narimbang, Kecamatan
Conggeang, Kabupaten Sumedang, menemukan bahwa ada tiga bentuk
wajah tradisi sesajen di desa Narimbang, pertama adanya bentuk
peneguhan tradisi kedua adanya bentuk akulturasi dan ketiga adanya
bentuk islamisasi,
Dari hasil pengamatan pada skripsi yang ditulis oleh Pipit Pitriani ini
tidak jauh bebeda dengan penelitian yang sebelumnya yaitu perbedaannya
95
ialah terletak pada subjek dan objek penelitiannya sedangkan
persamaannya adalah terletak peda metodologi penelitiannya.
INTERNET
-
Asal Usul Cina Benteng, Artikel di akses pada 20 Juni dari http// asal
usul china benteng , cina benteng teluk naga, tragedi cina benteng/htm.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
I
W Vt&Wz^
wrffiW%
W
KEMENTERIAN AGAMA
UNIVERSITASISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH IAKARTA
FAI(ULTAS ILN,IU DAKWAH DAN ILMU I(OMUNIKASI
Telepon/Fax : p21) 7132728/ 7 4703580
Jl.Ir. H. JuandaNo. 95 Ciputatl5ll2lndonesia
lVebsite: rc*v.fdkuinjakarta.ac.id,
e$g n0r2
N o m o r : Un,01/F5/KN4,01.3/
Lamp : 1 ( satu)bundel
Hal
: Bimbingan Skripsi
E-mail : [email protected]
Jakarta, (* Maret}}l2
KepadaYth.
Dr. Armawati Arbi, N{.Si.
DosenFakultasIlmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Assalamu'alaikum Wr. W.
Bersamaini kami sampaikan
sebuahout line skripsiyangdiajukanolehmahasiswa
FakultasIlmu Dakwahdan Ilmu KomunikasiUIN Syarif Hidayatullah Jakartasebagai
berikut.
Nama
NomorPokok
Jurusan/Semester
JudulSkripsi
Siti Asiyah
108051000157
KomunikasidanPenyiaranIslam (KPD / VII
Pola Komunikasi Antarbudaya Etnis Tionghua dengan
Muslim Pribumidi KelurahanMekarsariTangerang.
Kami mohon kesediaannya untuk membimbing mahasiswa tersebut dalam
pen)rusunandan penyelesaianskripsinyapadawaktu yang tidak terlalu lama.
Atas perhatiandan kesediaannyakami sampaikanterima kasih.
Wassalamu'alaikumWr. W.
Dekan Bidang Akademik
Saputra,
199603
1 001
Tembusan:
1.Dekan
2. KetuaJurusanKomunikasidanPenyiaranIslam(KPD
FakultasIlmu DakwahdanIlmu Komunikasi
,Affi,:;
I(EMENTERIAN AGAh4A
UNIVERSITASISI,AM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH IAKARTA
",wv&wwtFAKULTAS ILMU
Yi, wwqrffi^
"
'**-"-*.---^_,8*"
DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
Jl. Ir. I{. JuandaNo. 95 Ciputatl!4l,Zlndonesia
Telepon/Fax : (021) 7432728/ 7 4703580
Website:wra'w.fdkuinjakarta.ac.id,
E-mail: [email protected]
t20t2
Hal
I akarta,lS P ebruai 20I Z
: Permohonan Penelitian/Wawancara
Kepada Yth.
KepalaKantor
Kesbangdan Linmas
Kota Tangerang
Assalamu'alailrum Wr. Wb.
i
Dengan hormat kami sampaikanbahwa mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakartadi bawah ini :
Nama
: Siti Asiyah
NIM
: 1 08051000157
Jurusan/Semester : KomunikasidanPenyiaranIslam (KpD / Vm
bermaksud melaksanakan penelitian/wawarLcarabeq'udul Pola Komunikasi
Antarbudaya Etnis Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Kelurahan Mekarsari
Tangerang.Penelitian/wawancaratersebut
dalamrangkapersiapanpenulisanskripsi.
Sehubungan
denganitu kami memohonkepadaBapak/Ibu/Sdr.kiranyaberkenan
menerimamahasiswakami tersebutdalampenelitian/wawancaxa
dimaksud.
Atas perhatiandanperkenannya
kami mengucapkan
terimakasih.
Was
salamu'alaikumWr. W.
Dekan,
n, MAf
Tembusan:
1. PembantuDekanBidangAkademik
2. KetuaJurusanKomunikasi danPenyiaranIslam (KpI)
FakultasIlmu DakwahdanIlmu Komunikasi
1101993031 004
ii
I(EMENTERIAN AGAMA
UNIVERSITASISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH IAKARTA
FAKULTAS ILMU DAI(WAH DAN ILMU KOMUNIKASI
Jl. Ir. H. ]uanda No. 95 Ciputat 15412Indonesia
Nomor:Un.01/F5/KM.01
3178L
Telepon/Fax : (021,)7 432728/ 74703580
: m.fdkuinjakarta.ac.id, E-mail: dakt'[email protected]
Website
D012
Jakarta,ff Pebruari2012
Lamp. : Hal
: PerrnohonanPenelitian/Wawancara
Kepada Yth.
Camat
KecamatanNeglasari
Tangerang
Assalarnu'alailcttm Wr. W.
t
Denganhormat kami sampaikanbahwamahasiswaFakultasIlmu Dalcwahdan
Ilmu KomunikasiUIN SyarifHidayatullahJakartadi bawahini :
: Siti Asiyah
Nama
:1 08051000157
N IM
:
Jurusan/Semester KomunikasidanPenyiaranIslam (KPD / VIII
bermaksud melaksanakan penelitian/wawancaraberjudul Pola Komunikasi
Antarbudaya Etnis Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Kelurahan Mekarsari
tersebutdalamrangkapersiapanpenulisanskripsi.
Tangerang.Penelitian/wawancara
denganitu kami memohonkepadaBapak/Ibu/Sdr.kiranyaberkenan
Sehubungan
dimaksud.
menerimamahasiswakami tersebutdalampenelitian/wawancara
terimakasih.
kami mengucapkan
Atasperhatiandanperkenannya
Wassalamu'alaikum Wr. W.
Dekan,
ubhan,MAt
1 0 04
110199303
Tembusan:
1. PembantuDekanBidangAkademik
2. KetuaJurusanKomunikasidanPenyiaranIslam(KPI)
FakultasIlmu DakwahdanIlmu Komunikasi
i.r
":
-l
I
':' ';"Y''
. ;+, . ; ; . - . ' t
j
,;:aw7!M;"4.ia i
'ffi
F*ffiffiffi
'
I
I a
I(EMENTERIAI{ AGAMA
U}.IIVERSITASISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF F{IDAYATULLAH IAKAIT'I'A
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOI\{UNIKASI
Telepon/Fax : (021)7432728/ 7 4703580
Jl. Ir. H. ]uanda No. 95 Ciputat 15412Indonesia
Nomor: Un.01/F5/KM.01
3t 78)
Lamp. : Hal
Website : www.fdkuinjakarta.ac.id,
D0I2
E-mail : [email protected]
Iakartadr.b*u.
i2012
: Permohonan Penelitian/Wawancara
Kepada Yth.
KepalaDesa
KelurahanMekarsari
Tangerang
Assalamu'alaikum Wn W.
Dengan*hormat kami sampaikan bahwa mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Iakarta di bawah ini :
Nama
: Siti Asiyah
NIM
:108051000157
Jurusan/Semester ' : Komunikasi dan PenyiaranIslam (KPI) / VIII
bermaksud melaksanakan penelitian/wawancara berjudul Pola Komunikasi
Antarbudaya Etnis Tionghoa dengan Muslim Pribumi di Kelurahan Mekarsari
Tang erang. Penelitian/wawancara tersebutdalam rungka persiapan p enulisan skripsi.
Sehubungan dengan itu kami memohon kepada Bapak/Ibu/Sdr. kiranya berkenan
menerimamahasiswakami tersebutdalam penelitian/wawancaradimaksud.
Atas perhatiandan perkenannyakami mengucapkanterima kasih.
W'ass
alamu' alailrum lltr. Wb.
Dekan- '
han,MAS
110199303
1 0 04
Tembusan:
1. PembantuDekanBidangAkademik
2.Ketua JurusanKomunikasidanPenyiaranIslam(KPf)
FakultasIlmu DakwahdanIlmu Komunikasi
,'1
PEMERINTAI{
KOTA TANGERANG
I(ECffiNNEGLASARI
Jl. lskandar Muda No. 54 Telp. (o21) 55790735
TANG ERANG
;1l,l
Tarrgerang,zzMar
et 20 12
ii
i'l',lii;
Nor4or
.:;
: 070/lS0-Sekret.
l'eft,l1a l
: lzin PeneliliaU
I(epadaYth.
Direktur UniversitasIslam
Neger:iSyarif Hidayatr"rll
ah .Takar:ta
di-
Laltllll ralt
I empat.
Dipermakh"rmkandenga' hormat, 'renunjuk surat Direktur
u'ive'sitas
Islarn Negeri Syarif Hiclayatullali Jakarta- N;;;;,
- --- '
ljn.0l/Fs/l(M.01.3178212012
. perihal: Izi'pe'elitia'/wawancara.
Bersa'ra ini kami sampaika' barrwa pada pr.i'sipnya
kami
mernbelihan izin kepada mahasiswa Fakr-rltasIlmu Dakwa-h
clan llmu
I(orrrurrikasiUINSyarifHidayatullah.Iakarta.AAr.Sclr;
I
I
Nama
: Siti Asiyah
NIM,
: 1ogo5looo157
Seurester
: VIII 1 delapan)
.Turusan
: KomunikasiclanpenyiaranIslam (Kpl)
l
De'rikia'ya'g
.
terirnakasih.
dapatkarni sampaika' atasperhatiaryadiucapkan
(*
* l l KNt r
h.*h<
AD SAFEI S.IP.
201986031
012
PEDOMAN WAWANCARA
Nama
Rohyati
Umur
40 Tahun
Kedudukandimasyarakat
Warga
Tingkat pendidikan
Sekolah MenengahPertama(SMP)
Agama
Islam (Pribumi)
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Waktu wawancara
1. Sejakkapanandatinggal di kelurahanMekarsari?
Jawab: sejaklahir
2. Sepengetahuan
anda sejak kapan etnis keturunanTionghua tinggal di kelurahan
MekarsariTangerang?
Jawab: sejaktahunanlalu
3. Sepengetahuan
anda dari mana asal-muasaletnis Tionghua yang ada dikelurahan
MekarsariTangerang?
Jawab: persisnyasayakurang tahu, tapi ibu dan nenek sayamerekapidahandari
tempatlain istilahyahijrah
4. Apa pekerjaanyangdilakukanolehwargaketurunan?
Jawaban: kebanyakinsih pedagang
5. ApakahmasihadamakanankhasetnisTionghuadi kelurahanMekarsariTangerang?
Jawaban: kalaumakanankayanyasemuanya
samasaja,
6. ApakahmasihadakeseniankhasTionghuadikelurahanMekarsariTangerang?
Jawaban: Baronssai
i
I
7. Apakah ada hubungan komunikasi yang terjadi arfiara etnis keturunan dengan
masyarakatpribumi , jika ada dalam bentuk apa?
Jawab ; kalau ibu-ibu biasany suka gossip gitu, terus paling kalu belanja atauketemu
pas ada acara dilingkungan tempat tinggal, bentuk komunikasinya ya antar pribadi
saja.
8. Bahasa apa yarrg digunakan dalam bentuk hubungan komunikasi antara warga
keturunandan pribumi?
Jawab: betawi
9. Faktor apa saja yang menghambat hubungan komunikasi antara etnis keturunan
denganwarga pribumi?
Jawab : terkadang suka beda pendapatsaja, kalau sudah seperti itu akan timbul rasa
tidak enak dalam berkomunikasi.
10. Apakah anda menghormati etnis Tionghua?
Jawab : iya, kita sama-samasaling mengjormati
ll.Kegiatan apa saja yang secarabersama-samadengan warga pribumi di lingkungan
tempat tinggal?
Jawab : arisan,kondangan,dan masih banyak lagi
12. Apakah anda membatasipergaulandenganetnis Tionghua?
Jawab : tidak, hanya terkadangmenjagapppembicaraansaja
13.Apakah ada keluargaandayangmenikahdenganetnis Tionghua?
Jawab : ada sepupu saya yang wanita menikah dengan pria keturunan dan suaminya
ikut masuk islam
14. Bagaimanapenilaian andatentangprilaku etnis Tionghua?
Jawab : orangnyabaik-baik
.{
15. Apakah anda membatasipergaulandenganwarga pribumi?
Jawab : tidak ada batasan
16. Apakah ada keluarga andayang menikah denganwarga pribumi?
Jawab : ada, kakak saya menikah denganperempuan muslim pribumi, tapi dia tetap
melestarikanbudayanenekmoyangnya.
17. Bagaimanapenilaian anda tentangprilaku warga pribumi?
Jawab : biasasaja,tapi terkadangagaktertutup
18. Apakah pernah terjadi konflik, antaraenis keturunan denganmasyarakatpribumi?
jawab : tidak ada,hanya konflik antar tetanggasaja.
t,;
I
PEDOMAN WAWANCARA
Nama
Tan Lie Yen
Umur
46 Tahun
Kedudukandimasyarakat
Warga
Tingkat pendidikan
Sekolah MenengahAtas (SMA)
Agama
Buddha
Waktu wawancara
1. Sejak kapan anda tinggal di kelurahanMekarsari?
Jawab : Sayapindah kesini sejak umur 15 tahun
2. Sepengetahuananda sejak kapan etnis keturunan Tionghua tinggal di kelurahan
Mekarsari Tangerang?
Jawab : Sudahdari nenek moyang saya
3. Sepengetahuananda dari mana asal-muasal etnis Tionghua yang ada dikelurahan
Mekarsari Tangerang?
Jawab : dulunya kita tuh dari Tiongkok terus pergi kesini dan daerah-daerahlainnya,
dulu juga saya sempat tinggal di karawaci tapi pada zaman itu ada pendiskriminasian
terhadapwarga keturunan, setelahitu kami tinggal dan menetapdisini sampai
4. Apa pekerj aanyang dilakukan oleh warga keturunan?
Jawab : pedagang,buruh kasar, adajuga karyawan
5. Apakah masih ada makanankhas etnis Tionghua di kelurahan Mekarsari Tangerang?
Jawab : kita disini makannya sama aja seperti pribumi tapi kue keranjang masih kita
lestarikanjika ada acarabesar.
6. Apakah masih ada keseniankhas Tionghua dikelurahan Mekarsari Tangerang?
Jawab : adac paling Cuma barongsaiaja
7. Apakah ada hubungan komunikasi yang terjadi antara etnis keturunan dengan
masyarakatpribumi , jika ada dalam bentuk apa?
Jawab : ada, setiap hari kita berkomunikasi biasa saja, komunikasi yang terjadi
biasanyaantar pribadi, seperti dalah hal jual beli dan lain-lain.
8. Bahasa apa yang digunakan dalam bentuk hubungan komunikasi antara warga
keturunandan pribumi?
Jawab : meski kita disini keturunan Tionghua tapi kita tidak bisa berbahasamandarin,
jadi bahasanyasama saja seperti bahasayang di pakai denganwarga pribumi.
9. Apakah anda menunda penilain terhadapseseorangatau kelompok sebelummendapat
informasi dari sumber yang dapatdipercaya?
Jawab : iya, karena sebelum berpendapat kita kan harus cari tahu dulu yang
sebenarnyaterjadi.
10. Faktor apa saja yang menghambat hubungan komunikasi antara etnis keturunan
denganwarga pribumi?
Jawab : tidak ada hambatan,komunikasinya lancar.
11. Apakah perbedaanetnis merupakanfactor penghambatdalam berkomunikasi
Jawab : tidak sama sekali
12. Apakah anda merasa sebagaiorang Tionghua yang tinggal di Indonesia atau sebagai
warga negaraIndonesiayang keturunanTionghua?
Jawab : sebagaiwarga Negara IndonesiaketurunanTionghua.
13. Apakah anda menghormati masyarakatpribumi?
Jawab : kita disini sama-samasaling menghormati, meski kita berbeda agama dan
budaya.
14. Kegiatan apa saja yang secara bersama-samadengan warga pribumi di lingkungan
tempat tinggal?
Jawab : gotong royong dalam kerja bakti mingguan.
15. Apakah pemah terjadi konflik, arrtaraenis keturunan denganmasyarakatpribumi?
Jawab: Tidak pernah
Informqn
Penelili
PEDOMAN WAWANCARA
Nama
Dadang Suryadi
Umur
43 Tahun
Kedudukandimasyarakat
ketua RW 04
Tingkat pendidikan
SekolahMenengahAtas (SMA)
Waktu wawancara
1. Sejak kapan anda tinggal di kelurahanMekarsari?
Jawab : sejak sayalahir
2. Sepengetahuananda sejak kapan etnis keturunan Tionghua tinggal di kelurahan
Mekarsari Tangerang?
Jawab : setahusayac sudahlatna, tapi persisnya sayakurang paham
3. Sepengetahuananda dari mana asal-muasal etnis Tionghua yang ada dikelurahan
Mekarsari Tangerang?
Jawab:kayanya sih merekahijrah kesini,
4. Apa pekerj aanyang dilakukan oleh warga keturunan?
Jawab : pedagang,buruh, karyawan.
5. Apakah masih ada makanankhas etnis Tionghua di kelurahan Mekarsari Tangerang?
Jawab : masih, biasanyasih kue keranjang
6. Apakah masih ada keseniankhas Tionghua dikelurahan Mekarsari Tangerang?
Jawab : ada, seperti gambang kromong yang bias diamainkan saat ada acaxa
pernikahan,dan barongasibiasanyakalau adacara-acarabesarcina.
7. Apakah ada hubungan komunikasi yang terjadi antaru etnis keturunan dengan
masyarakatpribumi , jika ada dalam bentuk apa?
I
Jawab : ada, setiap bertemu kita selalu berkomunikasi, baik dalam hal perdagangan
maupun Cuma ngobrol biasa. Bentu komunikasinya yang dominan komunikasi
antarpribadi.
8. Bahasa apa yang digunakan dalam bentuk hubungan komunikasi antara warga
keturunan dan pribumi?
Jawab:betawi
9. Apakah anda menilai budaya anda lebih baik?
Jawab : tidak, semuasamasaja,
10. Faktor apa sala yang menghambat hubungan komunikasi antara etnis keturunan
denganwarga pribumi?
Jawab:tidak ada hambatan
11. Apakah perbedaan etnis,agamadan status sosial menjadi factor penghambat dalam
berkomunikasi?
Jawab : kadang-kadang, tapi itu semua bukan masalah yang besar, setiap warga
memilki hak daan kepercayaanmasing-masingjadi kita saling menghormati saja.
12. Apakah anda melakukan pendiskrimanasianterhadapkelompok yang berbeda?
Jawab : samasekali tidak.
13. Apakah menghargaiperasaandan penampilan seseorang?
Jawab:iya
14. Apakah anda menghormati masyarakatketurunan Tionghua?
Jawab : sudahpasti, bagaimanapunmerekatetap warga saya
15. Kegiatan apa saja yang secara bersama-samadengan warga pribumi di lingkungan
tempat tinggal?
Jawab:kita disni selalu gotong royong dalam melakukan hal apapun
16.Apakah anda membatasipergaulandengan wargaTionghua?
Jawab : ada,tapi hanya dalam urusanpribadi saja
17. Apakah ada keluarga andayang menikah denganwarga Tionghua:
Jawab : tidak ada
18. Bagaimanapenilaianandatentangprilaku warga Tionghua?
Jawab: baik-baik saja,tapi terkadangagakpelit.
19. Apakah pernah terjadi konflik, antaraenis keturunan denganmasyarakatpribumi?
: kalau konflik besarsih tidak acla,tapi seringnyabergaduargumentsaja.
Jar,.,,ab
if
PEDOMAN WAWANCARA
Nama
Cwe Fak Liem
Umur
60 Tahun
Kedudukandimasyarakat
Ketua RT 01/04
Tingkat pendidikan
SekolahMenengahAtas (SMA)
Agama
Buddha
Waktu wawancara
1. Sejakkapan anda tinggal di kelurahanMekarsari?
Jawab : kalau ibu saya sejak lahir, kalau saya kurang lebih sudah 40 tahun yang lalu,
sebelumnyasayatinggal di Mauk.
2. Sepengetahuananda sejak kapan etnis keturunan Tionghua tinggal di kelurahan
Mekarsari Tangerang?
Jawab : Sejak nenek moyang kurang lebih 100 tahun lalu.
3. Sepengetahuananda dari mana asal-muasal etnis Tionghua yang ada dikelurahan
Mekarsari Tangerang?
Jawab : setahu saya sih karena mereka pada hijrah ketempat tujuan mereka masingmasing
4. Apa pekerjaanyang dilakukan oleh warga keturunan?
Jawab : pedagang, karyawan, saya juga sehari-harinya berdagang ayan ras, yang
dijual ke kota (Jakata).
5. Tingkat pendidikan warga etnis Tionghua ?
Jawab : adayang sampai SD, SMP, SMA, bahkanyang putus sekolahjugaada.
6. Apakah masih ada makanankhas etnis Tionghua di kelurahan Mekarsari Tangerang?
Jawab : makanan kita disini sudah membaur, ada sambal godok dan lin-lain, kalau
kue keranjang biasanya kalau ada acaratertentu saja seperti imlek, Cap Go Meh, dan
acara-acaralainnya.
7. Apakah masih ada keseniankhas Tionghua dikelurahan Mekarsari Tangerang?
Jawab : barongsai, itupun anggotanya campuran antara pemuda Tionghua dan
Pribumi.
8. Apakah ada hubungan komunikasi yang terjadi antara etnis keturunan dengan
masyarakatpribumi jika ada dalam bentuk apa?
Jawab,t ada, setiap hari juga kita kalau bertemu selalu berkomunikasi, yang lebih
dominan komunikasi antarpribadi,kalau kelompok biasanyakalau usyawarahdan ada
acara-acararapat kelurahan.
9. Bahasa apa yang digunakan dalam bentuk hubungan komunikasi antarc warga
keturunandan pribumi?
Jawab : bahasabetawi, kalau bahasamandarin atau bahasacina kita ga bisa,
10. Faktor apa saja yang menghambat hubungan komunikasi antara etnis keturunan
denganwarga pribumi?
Jawaban: tidak ada hambatan
11. Apakah perbedaanetnis menjadi factor pengahambatdalamberkomunikasi?
Jawaban: tidak, kita disini suda seperti saudara
12. Apakahperbedaanagamamenjadi factor penghambatdalam berkomunikasi?
Jawaban: kita disini ssalingmenghormati agarnadan keyakinan masing-masing
13. Apakah anda merasa sebagaiorang Tionghua yang tinggal di Indonesia atau sebagai
warga negaraIndonesia yang keturunan Tionghua?
Jawaban: sebagaiWarga Negara Indonesiayang keturunan Tionghua
14. Apakah anda menghormati masyarakatpribumi?
Jawab : sangatmenghormati
15. Kegiatan apa saja yang secara bersama-samadengan warga pribumi di lingkungan
tempat tinggal?
Jawaban : rapat desa, kalau adahajatan kita juga sama-samasaling membantu, kerja
bakti mingguan.
16. Apakah anda membatasipergaulandenganwarga pribumi?
Jawaban: tidak, hanya saja kita harus saling menghargaihak masing-masing
17. Apakah ada keluargaanda yang menikah dengan wargapribumi?
Jawaban: ada, anak saya yang laki-laki menikah denganwanita muslim pribumi, tapi
usia pernikahannyatidak bertahanlama karena istrinya tidak dapat membimbingnya.
18. Bagaimanapenilaian anda tentangprilaku warga pribumi?
Jawaban:baik, rarrah,
19.Apakah pernah terjadi konflik, arfiaraenis keturunan denganmasyarakatpribumi?
Jawab : tidak ada.
20. Apakah andamendapatkanperlakuan yang tidak menyenangkandalam masyarakat?
Jawab : kalau dilingkungan tempat tinggal sayabaik-baik saja,tapi terkadang
perlakuan stafdesa terkadagkurang menyenangkanseperti ada rasa kurang percaya
kepada wargaketurunan yang menjadi staf desa.
Kegiatan jual beli di depan vihara Tjong Tek Bio
Joli
Kirab 12 tahunan Desember 2012
Vihara Tjong Tek Bio di Rw 04 Kelurahan Mekarsari Tangerang
Perayaan tahun baru 01 Januari 2013 di lingkungan Rw 04 Kelurahan Mekarsari
Tangerang
Penulis bersama ibu Tan Lie Yen setelah wawancara
Download