mitologi penciptaan manusia dalam perspektif ali syari`ati jurusan

advertisement
MITOLOGI PENCIPTAAN MANUSIA DALAM
PERSPEKTIF ALI SYARI’ATI
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat Untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Filsafat Islam (S.Fil.I)
Oleh :
FARID KHASANI
NIM: 204033103098
JURUSAN AKIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2008 M
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi
yang
berjudul
MITOLOGI
PENCIPTAAN
MANUSIA
DALAM PERSPEKTIF ALI SYARI’ATI, telah diujikan dalam sidang
Munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
pada tanggal 12 Juni 2008.
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Program Strata 1 (SI) pada Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin
dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 12 Juni 2008
SIDANG MUNAQASYAH
Ketua Merangkap Anggota
Anggota
Sekretaris Merangkap
Drs. H. Harun Rasyid, MA.
NIP. 150 232 921
Drs. Rifqi Muchtar, MA.
NIP. 150 282 120
ANGGOTA
Penguji I
Penguji II
Prof. Dr. Fauzan El Muhammady, MA.
NIP. 150 107 970
PEMBIMBING
Drs. Syamsuri, MA.
NIP. 150 240 089
Dr. M. Amin Nurdin, MA.
NIP. 150 232 919
KATA PENGANTAR
Dengan segenap hati, kutengadahkan kedua tangan ini, untuk sekedar
meluapkan rasa syukurku kepada Allah SWT, bibir dan hati ini seakan menyatu
menyimpulkan kata “alkhamdulillah” segala pujiku persembahkan kepada-Nya,
karena rengkuhan kasih-sayang-Nya, karena Rahmat dan petunjuk-Nya, penulis
dapat menuntaskan kewajiban studinya yakni penulisan skripsi untuk sekedar
memenuhi syarat dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Filsafat Islam pada
fakultas Ushuluddin dan filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat dan
salam semoga selalu mengalir deras kepada tauladanku, tauladan seluruh umat
manusia, Sang baginda Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat, dan
orang-orang yang tercerahkan untuk membumikan hukum-hukum-Nya.
Dalam kesempatan ini pula, penulis menghaturkan banyak terima kasih
atas kerjasama dan bantuannya, baik moril maupun materiil. Karena penulis
menyadari bahwa penulisan skripsi ini susah terwujud tanpa orang-orang di
sekelilingku, orang yang mendukungku.
Untuk itu penulis sepantasnyalah menyampaikan rasa terima kasihnya dan
penghargaan yang selayaknya kepada :
1. Ibunda yang tercinta (Qodriyah) dan kekasihnya (alm. Bpk Syamsuri)
yang lebih dulu meninggalkan taman dunia ini. Semoga beliau di alam
keindahan yang tiada bandingnya. Karena keikhlasan do’a siang dan
malamnya, ruh keajaiban dan belaian kasih sayangnya, penulis merasa
belum bisa membahagiakan, membuat senyuman di bibirnya. Mungkin
karya sederhana inilah sebagai langkah awal menuju pintu gerbang
kebahagiaan yang beliau dambakan.
2. Bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat M.A. selaku Rektor dan semua
jajaran pegawainya.
3. Kakak pertamaku Masruri Syam dan istrinya yang telah mencurahkan
kasih sayangnya, mengikhlaskan segenap materi dan immaterinya,
tanpanya penulis merasa masih terlalu rapuh berdiri di atas kakinya
sendiri. Kang Um dan Kang Birin (Umroh dan Shobirin), aku yakin
mereka selalu mendo’akanku. Juga buat kakak-kakakku yang tersayang:
Kang Asror dan istrinya, Kang Syukron dan adikku Ella. Kalian adalah
mutiara dalam hidupku yang tak akan lekang dimakan waktu. Tidak lupa
buat semua keponakanku yang tercinta : Fikar, Esi, Izza, Nana, Imah, “
jangan pernah lelah mencari ilmu, kelak kalian akan memahaminya” buat
Sikhah, Rosidah, Khamdan semoga kebahagiaan akan segera menjemput
kalian, dan semua keluarga besarku, keluarga “H.Amin” yang tidak
sempat saya tulis, “persaudaraan adalah harta yang lebih mulia daripada
segudang permata, I lope u pull.”
4. Keluarga Besar Gedung Hijau, Mas Didi serta istrinya yang sangat sabar
mengerti dan memahami aku, Nouval dan Novi, Ryan Big, Nadia, dan
keluarga Bpk.H.Drs. Abdurrahman Shaleh beserta istri dan segenap
keluargnya.
5. Teman seperjuanganku, Ridho (mujahid intelektual), Isma (investor
ulung), Alex Komang (peraih piala citra), wahyudin, Imam M, LuLu’ S,
Martin, Firdaus (sufi Yahudian), dan semua angkatan kelas AF, TH dan
PPI angkatan 2004.” Ayo..semangat skripsi, kalian pasti bisa..!!”
6. Teman sepermainan, Klub Night Futsall GH, Ahong, Rahmat, Qomar,
Abik, Rasid, Ali, hilman dan semuanya, “kalian ibarat keluarga tanpa ayah
dan ibu” buat orang-orang yang biasa aku hutangi, Gorengan bahari,
nasgor om Roni, warteg idolaku, Burjo tampomas, “ waduh..ngomong apa
yah,,!, pokoke Ich Lie Bie Dich lah..!!. buat sobat malamku; Ichan, Fahdi
(bojot), maxi sparow
” Segelas kopi pahit telah menuntun kita, apa arti kehidupan. Mungkin masih
ada kebahagiaan yang tercecer di pinggir jalan, atau setumpuk mimpi yang
menyelinap dibalik bebatuan”
Buat anak-anak psikologi ekstensi: upil, tovik zou, zakky, riski, dewi dan
semuanya.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………
i
PEDOMAN TRANSLITERASI…………………………………………………
v
DAFTAR ISI………………………………………………………………………
vii
BAB I
PENDAHULUAN...................................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………
1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah………………………………
8
C. Tujuan Penulisan dan Manfaat Penelitian………………………….
8
D. Tinjauan Kepustakaan………………………………………………
8
E. Metode
Penelitian……………………………………………………
F. Sistematika Penulisan
……………………………………………….
11
9
BAB II BIOGRAFI SINGKAT ALI
SYARI’ATI...............................................
12
A. Riwayat Hidup Ali
Syari’ati…………………………………………
12
B. Karya –
karyanya…………………………………………………….
17
BAB III MITOLOGI PENCIPTAAN
MANUSIA………………………………
20
A. Pengertian Mitologi
………………………………………………….
1.
Ruang Lingkup
Mitologi……………………………………..
2.
20
22
Latar Belakang Terbentuknya Mitologi
……………………..
a)
22
Mitos
………………………………………………...
b)
22
Simbol
……………………………………………….. 23
B. Sekilas Tentang Mitologi Penciptaan Manusia
Dalam Dunia Barat …………………………………………………
25
C. Sekilas Tentang Mitologi Penciptaan Manusia
Dalam Dunia Islam
…………………………………………………
30
BAB IV MITOLOGI PENCIPTAAN MANUSIA DALAM
PANDANGAN ALI
SYARI’ATI……………………………………….
A.
41
Mitos Penciptaan Manusia …………………………………………
41
B.
Manusia Ideal………..……………………………………………..
49
BAB V PENUTUP………………………………………………………………..
52
A.
Kesimpulan………………………………………………………..
52
B.
Saran – saran………………………………………………………
54
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai sebuah pokok pembicaraan, adalah tema yang selalu
menarik untuk dibahas. Hal ini dibuktikan dengan ramainya perbincangan tentang
hal ini sejak dulu hingga saat ini. Ada sebuah ungkapan klasik dari Protagoras
(Yunani) yang menyatakan “Man is the measure of all things” (manusia menjadi
ukuran segala-galanya)1. Manusia sesungguhnya merupakan masalah yang paling
rumit di alam semesta ini, oleh karena itu memerlukan curahan pemikiran yang
besar. Ia mempunyai potensi luar biasa yang menjadikannya makhluk misterius,
kemisteriusan ini dicoba untuk diungkap dari berbagai segi oleh manusia sendiri.
Dengan kata lain, manusia mencoba mempelajari dirinya sendiri guna
mendapatkan pengetahuan tentang hakikat dirinya sendiri.
Manusia dengan segala dimensinya yang unik dan misterius akan terus
bergelut dalam kesadarannya sendiri, mencoba memahami dirinya sendiri.
Manusia banyak dikaji, bukan saja dari sisi biologisnya melainkan secara
keseluruhan. Selain karena objeknya yang unik dan misterius ini, kajian tentang
manusia akan selalu menghasilkan persepsi dan konsepsi yang berbeda.
Kenyataan ini dapat dipahami karena manusia bukan sekedar berada, tetapi harus
memahami keberadaannya. Dinamis dan berevolusi untuk mencapai kebahagiaan.
Untuk pertanyaan-pertanyaan tentang manusia, sejarah memang mempunyai
1
B. Russell, Sejarah Filasafat Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002) h. 105
catatan yang panjang, mengapa manusia yang mempunyai kehendak bebas tetap
terbelenggu oleh determinasi-determinasinya, mengutip istilah Ali Syari’ati,
seperti determinasi historis, determinasi sosiologi, dan biologisnya. Dalam hal ini,
manusia tidak akan bisa hidup apabila tidak mampu menjawab segala
determinasinya, walaupun manusia mempunyai kesadaran dibanding makhlukmakhluk yang lain. Itulah beberapa pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika
kita mambahas tentang seputar manusia dengan segala dimensinya. Dan
pembahasan seputar manusia itu tidak akan habis selama manusia masih hidup di
jagad ini.
Mengkaji tentang manusia berarti tidak lepas dari usaha untuk mencoba
memahami kedudukan humanisme dan konsep tentang manusia dalam semua
agama-agama di dunia, maka dari itu sebaiknya mempelajari tentang konsep
kejadian manusia sesuai yang dikemukakan oleh agama-agama tersebut. Namun
dalam hal ini, dengan serba keterbatasannya, penulis hanya akan mengutip
pendapat Ali Syari’ati (1933-1977 M) tentang tema penciptaan manusia dalam
pandangan Islam dan Barat. Dan dalam hal ini Ali Syari’ati menggunakan istilah
Mitos Penciptaan manusia.2
Apakah dalam tradisi Islam maupun tradisi Barat memandang manusia
sebagai makhluk yang mempunyai kehendak bebas dan mampu mengembangkan
potensialitasnya sehingga manusia dapat menyelesaikan segala persoalannya di
bumi ini, dan fenomena-fenomenanya? Dalam tradisi Islam maupun Barat, apakah
manusia dipandang sebagai makhluk yang lemah atau sebaliknya, yaitu makhluk
yang agung, makhluk yang mempunyai daya luar biasa?
2
Penggunaan istilah ini bisa kita lihat pada buku Tugas Cendekiawan Muslim, karya Ali
Syari’ati, terjemahan Amin Rais. h..2
Mengingat dalam penulisan ilmiah ini bertema mitos penciptaan manusia
dalam perspektif Ali Syari’ati, maka akan kembali pada penciptaan Adam, di
mana Adam merupakan simbol manusia, simbolisme ini terdapat dalam kitab suci
agama Islam dan Ibrahim, yang dalam hal ini diakui dalam tradisi agama semitik,
walaupun dalam penjabarannya mempunyai versi yang berbeda-beda.
Dalam tradisi yang sangat tua (Yunani Kuno), seringkali kita mendengar
cerita-cerita yang bermuatan moral, pada tahap-tahap awal sejarah dengan
gambaran-gambaran yang begitu fantastis seperti sejarah atau cerita para
pahlawan dan dewa-dewa, dengan perangkat lisan ke lisan oleh masyarakat,
sehingga cerita itu tetap abadi dan masih mengalir sampai sekarang ini. Dalam
Kamus Filsafat, Lorens Bagus mendefinisikan “mitos”, di antaranya sebagai;
kisah, hikayat dari zaman purbakala (mitos-mitos tentang para pahlawan dan para
dewa). Sedangkan K. Bertens dalam buku Sejarah Filsafat Yunani menguraikan
bahwa myth atau mitos merupakan suatu faktor yang mendahului filsafat dan
mempersiapkan ke arah timbulnya filsafat.
Penulis melihat, tema-tema tentang mitologi dalam dunia modern sekarang
ini sudah menjadi barang yang “digudangkan”. Artinya mitos itu hanya dianggap
sebatas cerita khayalan, dongeng, tanpa makna dari zaman kuno. Padahal makna
mitos itu sendiri menjadi semakin berkembang sesuai dengan tuntutan ilmu
pengetahuan.
Makna mitos tidaklah absolut, di mana istilah “mitos” yang terlintas dalam
benak kita adalah kebohongan, cerita palsu, atau hal-hal lain yang bernuansa
magis dan misterius, akan tetapi untuk memahami mitos, dalam pengertian ini
mitos menjadi semacam “pelukisan” atas kenyataan-kenyataan (yang tidak
terjangkau, baik relatif maupun mutlak) dalam format yang disederhanakan,
sehingga terpahami dan tertangkap oleh orang banyak. Hanya melalui suatu
keterangan yang terpahami itu, maka seseorang atau masyarakat dapat
mempunyai gambaran tentang letak dirinya dalam susunan kosmik. Betapapun
salahnya mitos, ia tetap mempunyai manfaat dan kegunaannya. Seperti kaum
fungsionalis yang berpendapat serupa, bahwa fungsi mitos adalah untuk
menyediakan rasa makna hidup yang membuat orang yang bersangkutan tidak
akan merasa bahwa hidupnya sia-sia.3
Begitu pula pada buku Teori Kesusastraan karya Rene Wellek dan Austin
Warren yang menyinggung bahwa dalam Scienza Nuova karya Vico, sudah
terlihat adanya perubahan pengertian. Melalui karya-karya Coleridge, Emerson,
dan Nietzsche, mitos dianggap sebagai sejenis kebenaran atau sama dengan
kebenaran; bukan saingan kebenaran sejarah atau ilmu pengetahuan, melainkan
perlengkapannya.4
Islam sebagai agama yang universal dengan beragam pemikiran umatnya
menghadirkan konsep yang merujuk pada al Qur’an untuk konsep manusia. Di
mana makna-makna simbolis dalam al Qur’an merupakan stimulus bagi setiap
pemikir dalam rangka mencapai makna dan tafsir yang mendekati kebenaran. Hal
ini seperti yang telah diungkapkan oleh Ali Syari’ati (tokoh yang akan coba
penulis angkat dalam tema sentral tentang mitologi penciptaan manusia),
menurutnya, “Jika al Qur’an diungkapkan dengan makna-makna datar, maka al
Qur’an akan tidak representatif di kemudian hari, dan tidak akan menarik
3
Abd. Khaliq Dahlan,”Mitos dan Kehidupan Manusia” sebuah tinjauan sosiologis-psikologis.
Teologia, no.1 (Oktober 1989) h.480-481
4
Rene Wellek, Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: PT. Gramedia, 1993) h.243
perhatian manusia, karena maknanya sudah tertangkap pada masa itu. Itulah
sebabnya al Qur’an
dituangkan dengan penuh makna yang “misteri” penuh
simbol-simbol dan sarat muatan filosofis, mempunyai nilai sastra yang tinggi.
Meminjam istilahnya Husserl, makna-makna al Qur’an hendaknya di-epoche5.
Bagi Ali Syari’ati bahasa-bahasa simbolik merupakan bahasa yang paling
agung, dari sekian banyak bahasa yang pernah disusun oleh manusia. Nilainya
yang lebih besar, lebih abadi dan akan selalu diperbincangkan, daripada bahasabahasa yang ungkapan maknanya jelas dan dengan bahasa yang sederhana. Al
Qur’an yang banyak mengandung bahasa-bahasa simbolik pada akhirnya akan
memunculkan multi tafsir dalam setiap ayat-ayatnya, seperti nilai-nilai sastra, di
mana dalam dunia sastra ada beberapa model pengkisahannya, yaitu : model
perumpamaan, model sejarah, dan model legenda atau mitos. Untuk memahami
mitos kaitannya dalam kitab suci, menurutnya mitos merupakan gambarangambaran dalam penyederhanaan konsep, untuk memudahkan manusia dalam
rangka memahami bahasa-bahasa simbolik dalam kitab suci, sehingga bisa
menangkap substansinya, dan makna yang tertangkap akan selalu hidup. Ali
Syari’ati menyebutkan bagaimana al Qur’an ketika menyampaikan kisah kejadian
Adam, dia melihat di sini al Qur’an kental sekali menggunakan bahasa
simboliknya. Dengan demikian tipe mitologi yang dibangun oleh al Qur’an akan
memberi ruang bagi kita untuk menangkap mekanisme yang halus dari ungkapan
simbolisnya.6
5
Husserl mengangkat istilah ini sebagai penangguhan atas keputusan sebagai suatu tahap
dalam reduksi fenomenologisnya. Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta : PT Gramedia, 2002)
h.215
6
Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan Al Quran, ( Jakarta : INIS, 1997) h. 57
Sosok Ali Syari’ati yang tampil dengan pemikirannya yang segar dan
berbeda, distingtif dengan pemikir-pemikir lain, seperti tema yang akan coba
penulis angkat tentang tema mitos penciptaan manusia. Walaupun Syari’ati
mendapatkan sambutan yang luar biasa di kalangan pemikir-pemikir lain, akan
tetapi beliau juga tidak lepas dari kritikan-kritikan pedasnya, seperti kalangan
ulama-ulama Syiah pada waktu itu. Beliau dianggapnya sebagai ulama yang
kontroversial, begitu pun pendapat para pemikir–pemikir di Indonesia, seperti
Amin Rais, Haidar Baqir, dan Dawam Raharjo. Tokoh yang disebutkan terakhir
menganggap, bahwa Ali Syari’ati adalah seorang pemikir yang bingung, hal ini
terlihat ketika Syari’ati membahas tema marxisme7. Satu sisi Ali Syaria’ti
menggunakan salah satu konsep Marxisme tentang kaum proletar (rakyat yang
tertindas), namun di sisi yang lainnya, Ali Syari’ati mengecam habis-habisan,
ketika Marx mengejawantah dalam partai sosial dan komunis.
Kaitannya dalam kajian ini, Ali Syari’ati mampu mengawinkan
epistemologi Barat dengan keyakinan agamanya yaitu Islam, yang menghasilkan
ide-ide berbeda dengan pemikir-pemikir lain. Bagi Syari’ati, mitologi penciptaan
ini sangat penting untuk melihat hubungan antara langit dan bumi, Syari’ati
melihat bahwa mitologi ini sangat berpengaruh pada pandangan dunia Barat.
Khususnya dari segi keagamaan, ilmu pengetahuan, dan politik. Karena itu terjadi
pertarungan antara teknologi dan ilmu pengetahuan di satu sisi, dengan alam dan
agama di sisi lain.
Inilah yang menjadi awal ketertarikan penulis untuk mengangkat kembali
tema yang mungkin dianggap sebagian orang sudah usang, dan dianggap sudah
7
Ekky, Malaky Filosof Etika dan revolusioner Iran ( Bandung: Teraju 2004) h. 44
tidak relevan bagi perkembangan zaman. Di samping itu tokoh Ali Syari’ati ini
lebih dikenal banyak orang sebagai pemikir revolusioner Iran yang serius
menggeluti politik. Beberapa karyanya yang diterbitkan dalam editan bahasa
Indonesia lebih memfokuskan pada tema sosial dan gerakan politiknya, padahal
menurut penulis Ali Syari’ati juga fasih ketika menafsirkan teks-teks kitab suci (al
Qur’an) dengan perangkat ilmu sosiologi, dan analisa filosofisnya, seperti dalam
uraiannya tentang mitos penciptaan Adam, yang kemudian membawa kita pada
pemikiran modern yang muncul sekarang ini, seperti marxisme, eksistensialisme,
lebih lanjut lagi ketika beliau membahas mitos sejarah Qabil dan Habil, di mana
manusia yang sekarang ini berkembang sesuai dengan kebudayaan dan
pengetahuannya tidak lepas dari pengaruh mitos sejarah Qabil dan Habil.
Dalam karya ilmiah ini penulis mencoba memberikan secuil informasi
tentang mitologi penciptaan manusia baik di dalam dunia Barat, dalam hal ini
Yunani kuno, dan mitologi penciptaan manusia di dalam Islam. Kemudian penulis
mengangkat buah pikir salah satu tokoh revolusioner Iran yakni Ali Syari’ati
tentang mitos penciptaan manusia (Adam).
Dari pertimbangan–pertimbangan dan uraian yang diutarakan, perlu
kiranya penulis mengahadirkan pemikiran Ali Syari’ati dalam sudut pandang yang
berbeda. Penulis juga melihat tema ini penting untuk dikaji kembali, karena jika
kita perhatikan realitas sekarang, dalam serba kemodernan sekarang ini, meski
ditopang dengan kecanggihan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan
yang pesat, ternyata manusia tetaplah menjadi sebuah tema yang misterius.
Walaupun mampu menundukkan alam kosmos, namun ia tetap bergelut untuk
mengenali dirinya sendiri. Persis seperti ungkapan John Dewey, bahwa “membuat
manusia (modern) lebih dungu ketimbang manusia primitif dalam hal menaklukan
dirinya”8.
B.
Pembatasan dan Perumusan Masalah
Pemikiran Ali Syari’ati adalah sedemikian luas, dan membutuhkan ilmu-
ilmu dasar untuk dikaji. Karena itu, penulis harus membatasi permasalahan dalam
penelitian ini. Pertama penulis ingin menguraikan riwayat hidup dan karyakaryanya secara singkat, kedua memahami konsep pemikiran Ali Syari’ati,
dalam hal ini memfokuskan pada tema mitos penciptaan manusia dari tradisi Barat
dan Islam dan relevansinya dengan realitas sekarang dengan berbagai macam
fenomena-fenomena kehidupan.
Adapun penulis mengetengahkan tentang mitologi penciptaan manusia
menurut Ali Syari’ati yang terbatas pada rumusan masalah yang digambarkan
dengan pertanyaan berikut ini:
1
Bagaimana Rumusan Mitologi penciptaan manusia dalam pandangan Ali
Syari'ati yang meliputi :
a) Makna Simbolisme mitos penciptaan manusia, yang terdiri:
1. Mitos penciptaan dalam tradisi Barat (Yunani)
2. Mitos penciptaan dalam tradisi Islam.
b) Manusia ideal dalam perspektif Ali Syari’ati
C.
Tujuan Penulisan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :
8
Ali Syari’ati, Marxism and Other Western Fallacies ( Terjemahan Dengan Judul
Humanisme Antara Islam Dan Madhab Barat), Jakarta : Pustaka Hidayah, 1992. h. 37-38
1. Tujuan ilmiah, yaitu untuk mengetahui sejauh mana pandangan Ali
Syari’ati tentang mitologi penciptaan manusia.
2. Tujuan penulisan ini juga berupaya untuk menyemarakkan studi-studi
filsafat yakni tentang mitologi, khususnya tokoh yang akan dibahas, juga sebagai
pemicu dalam studi seluruh agama-agama di dunia tentang mitos-mitosnya.
D.
Tinjauan Kepustakaan
Beberapa mahasiswa UIN Jakarta di Fakultas Ushuluddin sedikit mengutip
salah satu buah pikirnya Ali Syari’ati antara lain :
1. Ahmad Kurtubi (2004), Kritik Ali Syaria’ti terhadap doktrin Mahdi’isme
Syi’ah. Dalam pembahasannya kurang lebih menganalisa tentang
kekeliruan-kekeliruan para Ulama dalam memahami konsep Mahdi’isme
dalam Syi’ah. Ali Syari’ati mencoba menawarkan makna-makna yang
berbeda sekaligus mengkritiknya.
2. Firman (2004), Haji; Perjalanan manusia menuju Tuhan (sebuah telaah
terhadap karya pemikiran Ali Syar’ati Pada penulisan ini tema yang
dibahas seputar makna haji dalam kerangka pemikiran Ali Syari’ati.
3. Dari sekian penulis yang ada, penulisan skripsi dengan judul MITOLOGI
PENCIPTAAN
MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ALI SYARI’ATI
belum ada yang membahasnya.
E.
Metodologi Penelitian
Untuk tujuan penulisan ini, pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan metode library reseach, yaitu suatu teknik penulisan untuk
memperolah data, baik data primer seperti dalam judul bukunya, terutama : Man
And Islam (terjemahan: Amin R.), Sociologi On Islam, Humanisme Antara Islam
dan Madhab Barat, Islam Madzhab Pemikiran dan Aksi, Al Ummah wa Imamah,
Paradigma Kaum Tertindas, Haji, Ideologi Kaum Intelektual, Hijrah, Agama
Versus Agama. Dan beberapa sumber skunder seperti, jurnal, artikel, dan
penjelajahan lewat situs-situs internet dan lain-lain yang tentu saja masih
mempunyai korelasinya dengan tema yang akan dibahas, dan relevan dengan
analisis penulis dalam merespon permasalahan yang dikembangkan dalam
penulisan ini.
Sedangkan metode pembahasan yang digunakan adalah deskriptif analitis.
deskriptif ini maksudnya adalah dengan cara mengumpulkan data-data yang
berhubungan dengan penelitian, kemudian mendeskripsikannya sehingga menjadi
jelas, adapun yang dimaksud analitis adalah dengan mengadakan analisa
permasalahan yang di teliti dengan memberikan argumen sehingga mendapatkan
kejelasan. tentunya dari pemikiran tokoh yang dikaji. Mengenai teknik penulisan
skripsi ini ialah mengacu pada teknik penulisan skripsi UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta edisi 2007
F.
Sistematika Penulisan
Penulisan ini terdiri dari empat bab dan masing-masing bab terdiri dari sub
bab-sub bab. Adapun secara sistematis, bab-bab tersebut adalah sebagai berikut :
Bab Pertama merupakan pendahuluan yang berisi uraian secara global dan
menyeluruh mengenai materi yang akan dibahas. Di dalamnya terdiri dari latar
belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penulisan, metode
penulisan dan sistematika penulisan.
Bab kedua membahas latar belakang pemikiran Ali Syari’ati yang meliputi
riwayat hidup dan karya-karyanya.
Bab ketiga membahas mitologi penciptaan manusia yang meliputi: pengertian
mitologi yaitu ruang lingkup, dan latar belakang lahirnya mitologi. Kemudian
sekilas tentang mitologi penciptaan manusia dalam pandangan dunia Barat, dan
mitologi penciptaan manusia dalam pandangan dunia Islam.
Bab keempat membahas mitologi penciptaan manusia dalam perspektif Ali
Syari’ati dalam bab empat ini akan dibahas tentang
simbolisme Mitologi
Penciptaan Manusia, dan manusia ideal dalam perspektifnya.
Bab kelima adalah bagian akhir dari penulisan ini yaitu penutup yang memuat
kesimpulan dan saran-saran.
BAB II
BIOGRAFI SINGKAT ALI SYARI’ATI
A. Riwayat Hidup Ali Syari’ati
Syari'ati adalah salah seorang pemikir sosial Iran terpenting pada abad ke20. Gagasan-gagasan Syari'ati nampak menonjol lebih karena dampak praktisnya
daripada muatan intelektualnya. Dalam konteks ini Ali Syari'ati dapat disejajarkan
dengan Jamaluddin al Afghani (1838-1897) dan Sayyid Quthb (1906-1966).9
Banyak sisi kehidupan Ali Syari’ati yang tetap tersembunyi. Sejak ia wafat
memang banyak karyanya yang diterbitkan di Iran untuk mengenangnya, namun
datanya tidak lengkap bertentangan dan bercorak hagiografis, sehingga sulit
dibedakan antara kebenaran dan legenda.10
Ali Syari’ati lahir 23 November 1933, bertepatan dengan periode ketika
ayahnya menyelesaikan studi keagamaan dasarnya dan mengajar disebuah sekolah
dasar.11di desa Mazinan, pinggiran kota Masyhad dan Sabzavar, Provinsi
Khorasan, Iran. Letaknya berada di tepi gurun pasir Dasht I Kavir, di sebelah
timur laut Iran, dia lahir dari keluarga ulama, ayahnya Muhammad Taqi Syari’ati
seorang ulama yang mempunyai silsilah panjang keluarga ulama. Dia termasuk
dari keturunan keluarga terpandang yang menurut garis ayahnya termasuk
keturunan para pemuka agama di Masyhad. Tempat pemakaman imam kedelapan,
Ali Ridha (w. 818).12 Kehidupan Ali Syari’ati berakar di pedesaan di sanalah
9
John, L.Esposito,Ensiklopedi Oxford ( Bandung : Mizan, 2001), h.293
John, L.Esposito Ensiklopedi…………………), h.294
11
Ali Syaria’ti, Islam Mzhab Pemikiran dan Aksi, (Bandung: Mizan,1995) h.xiii
12
John, L.Esposito Ensiklopedi …………………,h.294
10
seperti ditulisnya dalam otobiografinya pandangan dunia Ali Syari’ati pertama
kali dibentuk, dia begitu bangga akan leluhurnya, yang merupakan ulama-ulama
terkemuka di masanya dan mereka memilih menyepi di gurun Kavir.13
".....Lebih kurang 85 tahun lalu, sebelum dimulainya revolusi konstitusional,
kakekku belajar ilmu kalam, filsafat dan fiqh pada pamannya dari pihak ibu
‘Allamah Bahmanabadi. Dan dia biasa terlihat dalam perdebatan dengan hakim
Asrar. Meskipun letaknya jauh dan terpencil di desa Bahmanabad, dekat Mazinan,
dia terkenal dikalangan terpelajar Teheran, Masyhad, Isfahan, Bukhara dan Najaf,
terutama di Teheran. Ia dianggap sebagai seorang yang jenius, sehingga
Nasiruddin syah mengundangya ke ibukota, disana ia mengajar filsafat disekolah
Sipah Salar, tetapi rupanya hasratnya untuk menyendiri dan menyepi menggetar
kuat dalam kalbunya, menariknya pulang kembali ke Bahmanabad, padahal
kedudukannya sebenarnya sudah mantap di ibukota, sehingga kalau ia mau, ia
bisa memperoleh jabatan, kekuasaan, menjadi tokoh masyarakat serta menikmati
kemashuran dan pengaruh, namun secara sadar, semua itu ditinggalkannya."14
Taqi Ali Syariati ayahnya, adalah guru pertama bagi Syariati yang
memutuskan untuk mengajar di kota Masyhad, dan tidak kembali ke desanya,
seperti tradisi leluhurya sang ayah adalah ulama yang berbeda dari ulama
tradisional, dia menetap di Mazinan dan enggan untuk merintis karir ulama yang
lebih tinggi, misalnya ke Qum, Teheran atau Najaf. Sang ayah ini mempunyai
perpustakaan lengkap dan besar yang selalu dikenang Syari’ati. Yang secara
metaforis dilukiskan sebagai mata air yang terus menerus menyinari pikiran dan
jiwanya 15
Di kota Masyhad, tahun 1940 Syari’ati mulai bersekolah di Sekolah Dasar
Negeri yang bukan sekolah agama, dan tahun 1950 ia melanjutkan pendidikan di
13
Istilah ini yang kemudian dipakai untuk menulis otobiografi perjalanan intelektualnya
Ali Syari’ati.
Kavir Adalah nama sutau Gurun pasir luas yang meliputi hampir dua pertiga dataran tinggi
Iran.Ali, Syari'ati Tentang Sosiologi Islam, Penerjemah : Syaifullah Mahyuddin (Yogyakarta:
Ananda, 1982) h.5
14
Ali Syari'ati, Marxisme And Other Western Fallacies (Terjemahan Bandung: Mizan
1996)
15
John L.Esposito, Ensiklopedi Oxford…, h.294
sekolah pendidikan guru
selama dua tahun, ketika ia belajar di sekolah
pendidikan guru inilah Syari’ati berkenalan dengan para pemuda dari golongan
ekonomi lemah.16
Tahun 1952, Ia memulai karirnya sebagai guru di desa Ahmad Abad, dekat
Masyhad.17
sambil terus belajar di sekolah pendidikan guru. Kegemaran
membaca buku tampak terlihat dari kecil, Ali Syari'ati senang menghabiskan
waktunya di perpustakaan ayahnya yang besar. Bahan bacaannya antara lain Les
Miserables (Victor Hugo) buku tentang vitamin dan Sejarah Sinema terjemahan
Hasan Safari, dan Great Philoshophies terjemahan Ahmad Aram. dia juga
mempelajari karya Saddeq e-hidayat (novelis Iran beraliran nihilis). Nima
Yousheej (Bapak syair modern Iran), namun pegangan favoritnya adalah
Mastnawi karya Jalaluddin Rumi.18
Syari'ati mulai mengajar pada usia delapan belas atau sekitar sembilan
belas tahun (1951-1952), kemungkinan disalah satu kota Mashad.19 Kemudian
tahun 1956 Syariati melanjutkan studi di fakultas sastra di Masyhad. Satu sumber
menyebutkan tahun 1956 Syari’ati memperoleh gelar sarjana muda di fakultas
sastra itu. Ia berhasil lulus dengan skripsi seputar pemikiran On Literary Criticism
dari penulis Mesir bernama Dr. Mandhur,20 lalu pada tahun 1960 ia mendapat
kesempatan bea siswa dari pemerintah Iran untuk belajar di universitas Sorbonne
Perancis21. Ia mempelajari sosiologi dan sejarah agama-agama, di Sorbone inilah
ia menjalin hubungan dengan para intelektual terkemuka, seperti Louis Massignon
16
Ekky Malaky, Ali Syari’ati, Filosof Etika dan Revolusioner Iran ( Bandung: Teraju
2004) h. 13
17
Ekky Malaky, Ali Syari’ati, Filosof Etika..... h. 13
Ali Rahnema, Para perintis zaman Baru Islam (Bandung: Mizan 1995) h. 206-207
19
John L.Esposito, Ensiklopedi….., h. 294
20
Ekky Malaky Ali Syari’ati Filosof Etika ........,h. 15
21
John L.Esposito, Ensiklopedi ………………,h. 294
18
(Islamolog Perancis), Jean Paul Sartre ( Filosuf Eksistensialis) ”Che” Guevara,
Dan Jaques Berque, dia juga betemu dengan Henri Bergson, dan Albert Camus.22
Dari George Gurvitch
(profesor Sosiologi di Universitas Sorbonne),
Syari’ati banyak menyerap pandangan tentang konstruksi sosiologis Marx,
khususnya analisa tentang kelas sosial dan truisme (itsar.)23 Syari'ati mengaku
lebih banyak terpengaruh oleh pemikiran Massignon, George Gurvitch, Jean Paul
Sartre, Dan Franz Fanon. Namun ia sadar bahwa pemikiran Barat bisa
mencerahkan sekaligus memperbudak pemikiran pelajar Iran, dia melihat adanya
proses pembaratan total yang membentuk Eropanoid.24
Syari'ati ditahan pada September 1957 karena perannya dalam
demonstrasi, kemudian ia di penjara di Qizil Qal'ah Teheran hingga Mei 1958
namun kemudian ia dibebaskan.25 Tahun 1967 ia mejadi dosen sejarah Islam di
fakultas sastra universitas Masyhad, sebagai sosiolog muslim, Syari’ati berusaha
memecahkan masalah yang dihadapi kaum muslim berdasarkan prinsip-prinsip
Islam, masalah ini diterangkannya dan dibahas bersama mahasiswanya, dalam
waktu singkat, dia menjadi populer dikalangan mahasiswa dan mulai meluas ke
masyarakat umum., karena itulah rezim Syah Iran menghentikan aktivitas
mengajarnya. Dan pada tahun 1968 ia dipensiunkan dari kementrian pendidikan
diusianya yang baru 35 tahun.26
Perlawanan terus digulirkan. Pada september 1972, Syariati memberikan
ceramah yang kemudian diterbitkan dengan judul Red Shi’ism, yang menyatakan
22
Dawam Raharjo (ed), Insan Kamil Konsepesi Manusia dalam Islam (Pustaka Graffiti
Press 1987) h. 167
23
Ekky Malaky Ali Syari’ati Filosof ......................,h. 17
24
Ekky Malaky Ali Syari’ati Filosof ......................,h. 19
25
John L Esposito, Ensiklopedi…………………….., h.294
26
Ekky Malaky Ali Syari’ati Filosof........................h.22
Syiah kesyahidan (Martyrdom), maka pada 19 november 1972, Polisi Iran
mengepung semua pengikut kuliah Syaria'ti. Target awal adalah menangkap
Syari’ati, akhirnya Syari’ati pun menyerahkan diri setelah sebelumnya ayahnya di
penjara selama setahun, iapun diganjar 18 bulan di penjara khusus di tahanan
politik (Komitah), namun desakan masyarakat Iran dan juga protes dari dunia
internasional, pada 20 maret 1975, terpaksa Syari’ati dibebaskan. Namun ia tetap
diawasi.
Pada 18 juni , Pouran, istri Syariati beserta tiga putrinya hendak menyusul
ke London, tetapi kali ini pihak berwenang tidak mengizinkan Pouran dan Mona,
anaknya yang berusia 6 tahun, untuk meninggalkan Iran, tetapi dua anak lainnya
diizinkan. Syari’ati-pun menjemputnya dan membawa kerumah kontrakannya di
Southampton Inggris. Keesokan harinya, 19 juni 1977, Syari’ati ditemukan tewas,
di Southampton Inggris27. Pemerintah Iran mengklaim ia meninggal akibat
serangan jantung, tetapi masyarakat banyak yang percaya, bahwa dia dibunuh
oleh polisi.
Kematiannya menjadi mitos “Islam militan” popularitasnya memuncak
selama berlangsungnya revolusi Iran, bulan Februari 1979, saat itu, fotonya
mendominasi jalan-jalan di Teheran berdampingan dengan Ayatullah Khomeini.
Syaria’ti dikuburkan di Damaskus, Suriah, bersebelahan dengan makam Zainab,
cucu Nabi dan saudara Imam ketiga, Husain bin Ali
28
. Dan pada upacara
pemakamannya dipimpin oleh Musa al-Shadr pemimpin Syi’ah Lebanon.29
27
Ali,Rahmena, Para perintis ............., h. 240.
John L, Esposito, Ensiklopedi ………..,h. 296
29
Ekky Malaky, Filosof Etika ................,h. 26
28
B. Karya-Karyanya
Sangat jarang Ali Syari'ati menulis sebuah buku secara utuh, hanya sedikit
saja yang bisa disebut. Di antaranya, kavir (The Salt Desert) dan Hajj, selebihnya
adalah kumpulan transkip kuliah dan ceramah yang terrekam dalam tape recorder,
dan juga kumpulan tulisan30 sebagian besar dari karyanya ditulis ketika Syari’ati
pulang dari Perancis dan sibuk di Irsyad.31 Karena jarang sekali menulis buku
utuh, maka tidak heran bila kita temui buku Syari’ati dengan judul yang berbeda,
tetapi sesungguhnya memuat tulisan-tulisan yang sama.32
Ia telah memberikan lebih dari 200 kuliah di Husainiyyah Irsyad. Banyak
kuliahnya yang dipersiapkan untuk diterbitkan, dan ribuan eksemplar buku
karyanya terjual habis dalam beberapa kali cetakan33 dari 1979 hingga 1986.
Beberapa konsep penting dalam tulisan dan pidato Ali Syari’ati adalah Syahadah
(kesyahidan), Intizhar (penantian, antisipasi atas kembalinya Imam yang
tersembunyi), Zhulm, (penindasan atas keadilan sang Imam), Jihad I’tiraz
(protes), ijtihad (keputusan independen untuk menghasilkan aturan hukum),
Rausyanfikr (pemikir yang tercerahkan), mas’uliyat (tanggung jawab), dan
‘Adalah (keadilan)34
Syari’ati juga sering mengutip pemikiran dari pemikir Barat, juga dari
pemuka agama lain, dan tokoh kontroversial dari khasanah Islam. Ia mengakui
dirinya terpengaruh oleh ayahnya, Louis Massignon (orientalis Prancis),
Muhammad Ali Furughi (intelektual dan politikus Iran), Jacques Berque (ahli
bahasa Arab dan sosiolog Prancis).
30
Ali Syari’ati, Man and Islam, penerjemah : Amin Rais (Jakarta ; Rajawali Press 2001)
Ekky Malaky, Ali Syari’ati Filosof .....................,h.27
32
Ekky Malaky, Ali Syari’ati Filosof ......................h.27-28
33
John.l Esposito, Ensiklopedi…………………….., h. 296
34
John.l Esposito, Ensiklopedi ………………………,h. 297
31
Di Husainiyyah Irsyad, Syari’ati memberikan banyak kuliah, kuliahnya
bertema sejarah Islam, dikumpulkan dan diterbitkan dalam judul Islamsyinasi
(Islamologi), sedang kuliah yang bertema peradaban dunia berjudul Tarikh E
Tamadun (The History Of Civilization), sedangkan ceramahnya tentang Islamic
Renaissance Da Rausyanfikr dikumpulkan dalam judul What Is To Be Done: The
Enlightened Thinkers And Islamic Renaissance.35 Di buku ini Syari’ati
membicarakan tentang fungsi intelektual dalam masyarakat, khususnya dalam
konteks revolusi Iran. tetapi dia lebih spesifik pada Raunsyafikr36, biasanya
dipakai untuk intelektual yang berkiblat ke Barat dan digunakan untuk
membedakan ulama atau Mullah,37
Gagasan–gagasan yang dituangkannya lewat buku menyebabkan ia sangat
dikagumi oleh kalangan orang Iran, khususnya pemudanya. Gabungan-gabungan
ilmu "Barat” dengan latar belakang ilmu agama dan landasan filsafatnya
merupakan daya tarik tersendiri.38
Perubahan itu akhirnya melahirkan jenius-jenius hebat dan menciptakan
lompatan-lompatan hebat, yang pada gilirannya, menjadi batu loncatan bagi
timbulnya peradaban, kebudayaan, dan pahlawan yang agung.
Mereka mengajarkan kepada masyarakat bagaimana caranya merubah dan
akan menjalankan misi “becoming” dan merintis jalan dengan memberi jawaban
35
Ekky Malaky, Ali Syari’ati Filosof Etika dan revolusioner Iran ( Bandung: Teraju 2004)
Istilah ini berasal dari bahasa Persia artinya”orang yang tercerahkan dalam terjemahan
Inggris artinya identik dengan intelektual atau Free Thinker, berbeda dengan ilmuwan. Namun
terjemahan yang lebih tepat adalah kaum intelektual dalam arti yang sebenarnya, kaum intelektual
yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka adalah
kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi
mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi
dan alternatif pemecahan. Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual (Bandung: Mizan 1984) h. 1415
37
Ekky Malaky, Ali Syari’ati Filosof .......................,h.27-29
38
Dawam Raharjo (ed), Insan Kamil.........................,h.168
36
kepada pertanyaan: akan menjadikan apakah kita?” tetapi menurut Syari’ati ,
Islam adalah “diri“ manusiawi dari rakyat Iran.
Banyak yang diperoleh Syari'ati dari leluhurnya, terutama dia belajar
filsafat untuk tetap menjadi manusia di tengah-tengah kehidupan yang tercemar,
di kala sukar sekali menjadi manusia, di kala seruan Jihad perlu diulang setiap
hari, dan di kala jihad tidak mungkin dilancarkan.39
Perubahan dan pembentukan jalan pikirannya, bukanlah program studinya
melainkan kegemaran belajar dan berpikir, serta kreativitas dan tanggung jawab
yang berasal dari keyakinan Islamnya. Dalam pandangannya, Islam bisa dianggap
sebagai "aliran tengah" di antara berbagai aliran filsafat, sebagai jembatan antara
sosialisme dan kapaitalisme. Islam mencakup kebaikan dan segi-segi positif
aliran-aliran pikiran lain dan sebaliknya menghindarkan segi-segi negatif.40
39
Ali Syari'ati, Tentang Sosiologi Islam, Penerjemah : Syaifullah Mahyuddin
(Yogyakarta: Ananda, 1982) h.5
40
Ali Syari'ati, Tentang ...........................,h. 11
BAB III
MITOLOGI PENCIPTAAN MANUSIA
A.
Pengertian Mitologi
Secara etimologi, mitologi berasal dari kata Myth, yang berasal dari kata
Yunani mutos41, sementara dalam Inggris: mythology, Latin mythologia; mythos
(mite, mitos) dan legein (berbicara).42
Sedangkan secara epistimologi berarti cerita atau sejarah yang dibentuk
atau diriwayatkan sejak dan atau tentang masa lampau43. Atau juga berarti cerita
yang dilahirkan pada tahap-tahap awal sejarah, yang gambaran-gambaran
fantastiknya (dewa-dewi, pahlawan-pahlawan legendaris, peristiwa-peristiwa
besar dan sebagainya.) tidak lain merupakan upaya-upaya untuk mempopulerkan
dan menjelaskan gejala-gejala alam dan masyarakat yang berbeda44
Kata myth tersebut kemudian mengalami perkembangan menjadi menjadi
kata mite, yakni cerita atau sejarah yang berisi dongeng, legenda mengenai asalusul kejadian alam semesta dan hubungannya dengan keberadaan manusia.
Dalam pengertian lain, mitologi juga dikatakan sebagai kumpulan mitosmitos yang di dalamnya memuat berbagai mitos simbolik yang terdapat dalam
suatu masyarakat dan sudah menjadi tradisi. Mitologi juga merupakan suatu
41
Zeffry, Manusia Mitos dan Mitologi, (Jakarta: Fakultas Sastra UI, 1998) h. 2
42
Lorens Bagus, Kamus Filsafat,(Jakarta: PT. Gramedia 2002) h 657-658
43
Zeffry, Manusia………….., h. 2-3
Lorens Bagus, Kamus .........h 657-658
44
disiplin ilmu, yang mempelajari mitos yang terbentuk dan dibentuk oleh
masyarakat tertentu.45
Berdasarkan latar belakang historis, terbentuknya mitos dari usaha
manusia dalam rangka memahami fenomena alam, maka ada beberapa
kategorisasi mitos46, seperti :
1)
Mitos Kosmogonis, yakni mitos yang berisi cerita atau keterangan-
keterangan mengenai asal-usul kejadian alam semesta.
2.)
Mitos Kosmologis, yakni mitos yang menerangkan tentang sifat
gejala alam.
3.)
Mitos Theogonis dan Antropogonis, yakni mitos yang memberi
penjelasan mengenai asal-usul para dewa dawi, sekaligus bercerita tentang
sisi kepahlawanan manusia setengah dewa ataupun manusia seutuhnya,
mitos yang terakhir ini kemudian berkembang menjadi cerita cerita
kepahlawanan.
Kata mitos yang dikenal sekarang, bisa jadi berasal dari kata mythos, yakni
berasal dari beberapa pengertian di atas. Pengertian tersebut merupakan bentuk
pengungkapan pemikiran yang mendasar dari manusia terhadap peristiwa dan
proses gejala alam serta sosial yang terjadi di sekelilingnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka mite, mitos dapat digunakan untuk
menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan cerita (folklore), dongeng, serta
legenda yang telah menjadi tradisi, yang mengisahkan tentang kosmologi,
kosmogoni, maupun theogoni. Sedangkan istilah mitologi dapat digunakan untuk
45
46
Zeffry, Manusia………….., h.9-10
Zeffry, Manusia………….., h.9-10
menunjukan kepada sekumpulan mite, mitos yang sudah menjadi tradisi, yang
terdapat dalam masyarakat tertentu.
1.
Ruang Lingkup Mitologi
Mitologi tidak hanya membicarakan cerita, dongeng ataupun legendalegenda, akan tetapi juga mencakup pembicaraan mengenai pembentukan mitosmitos peradaban modern, karena manusia dalam peradaban modern sekalipun,
manusia tidak lepas dari pengaruh mitos, dan akan terus membuat mitos-mitos
barunya.
Mitos sebagai endapan bawah sadar manusia dinyatakan dalam bentuk
simbolik.. Mitos terdiri atas bermacam-macam jenis, antara lain mitos-mitos
peradaban kuno, seperti mitos kosmogoni, mitos asal-usul, tentang dewa-dewi,
mitos setengah dewa, dan mitos androgoni. Selain itu terdapat pula mitos-mitos
peradaban modern, seperti mitos akhir zaman. Mitos zaman emas, mitos kerja,
mitos ideologis.47
2.
Latar Belakang Terbentuknya Mitologi
a. Mitos
Dalam perkembangan hidup sekarang ini, manusia banyak dibebani oleh
pertanyaan sekitar dirinya, berbagai pertanyaan itu akhirnya membentuk mitosmitos di dalam bawah sadar manusia. Berbagai mitos itu kemudian diungkapkan
dan diterangkan dengan berbagai cara, baik secara rasional, maupun irasional.
Oleh sebab itu gejala dan proses terbentuknya suatu mitologi di berbagai
47
Zeffry, Manusia………….., h.17
masyarakat umumnya sama, yakni berasal dari keingintahuan manusia mengenai
gejala alam yang terjadi di sekelilingnya, tetapi aktualisasi dan perwujudannya
berbeda, yang kemudian pada akhirnya mitos itu dibuat oleh manusia untuk
kepentingan manusia itu sendiri dan membentuk tradisi yang berlaku dan bahkan
kadang-kadang perlu diberlakukan.
Salah satu fungsi mitos adalah untuk membenarkan suatu sistem sosial,
baik ritual yang telah menjadi tradisi maupun yang akan dilestarikan. Dengan
demikian, maka sebuah mitos dapat saja dimanfaatkan oleh kelompok tertentu
untuk dijadikan penggerak, penilai, peligitimasi, dan pelindung sistem yang
dibuatnya. Mitos yang demikian akan terwujud dalam bentuk simbol, slogan,
logo, dan motto yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai sasaran, tujuan, dan
misi yang sesuai dengan gagasan pembentukannya.48
Berkat adanya mitos, maka manusia (masyarakat) menyadari hakikat
kesejarahannya, kenyataan itu dapat dilihat dari adanya berbagai macam ritual
perayaan tertentu yang bermaksud untuk mengulang kembali konsepsi siklus
kehidupan mereka (seperti: pesta kelahiran, pesta tahun baru, dan perayaan hari
yang lain yang dianggap keramat, dan lain-lain). Makna mitos itu sendiri juga
sebagai media pemersatu masyarakat, dan sekaligus menjaga tradisi tersebut.49
b. simbol.
48
49
2005
Zeffry, Manusia………….., h.28-29
Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto, Teori-Teori Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius,
Inggris: symbol, Latin symbolium, dari Yunani symbolium-dari
symballo yang berarti: menarik kesimpulan, berarti, memberi kesan).
Dalam Kamus Filsafat Lorens Bagus, beberapa pengertianya yaitu: kata, tanda,
isyarat yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain : arti, kualitas, abstraksi,
gagasan, objek.
Mitos maupun mitologi selalu identik dengan simbol, sebab simbol
merupakan realitas dari mitos itu sendiri. Dalam hubungannya dengan
pengalaman keagamaan, simbol dapat menjadi ukuran yang memuat pengalamanpengalaman antara subjek yang terbatas dengan objek yang bersifat tidak terbatas.
Simbol-simbol itu dapat berupa gagasan simbolis yang cenderung berwujud idiom
ideologis seperti dogma beserta aturannya (doktrin). Disamping itu simbol dapat
pula berwujud dalam tindakan simbolis seperti pembuatan tempat peribadatan,
sesajen, patung. Semua perwujudan tersebut merupakan bentuk transformasi
simbolis dari mitos-mitos yang ada.
Dengan
demikian
menurut
Ernst
Cassier,
maka
manusia
menciptakan berbagai simbol, sekaligus mempergunakannya untuk berbagai
kepentingan dalam kehidupan mereka, sekaligus membentuk seseorang menjadi
manusia. Ernst Cassier menyebutnya dengan istilah Animal Simbolicum.50
Dengan disepakatinya simbol tertentu sebagai tanda buatan dalam
suatu masyarakat, maka simbol mempunyai fungsi sebagai mekanisme interaksi
dalam kehidupam mereka. Simbol sarat dengan makna dan persepsi, oleh karena
itu berkesan konotatif, akibatnya simbol sulit ditafsirkan maknanya. Karena suatu
simbol akan memberikan berbagai dimensi makna yang berbeda. Begitu juga
50
Zeffry, Manusia………….., h. 30.
sebaliknya, sebuah makna yang sama dapat diungkapkan melalui berbagai simbol
yang berlainan. Perbedaan dan persamaan tiap makna simbol tergantung dari
konteks, tujuan, dan fungsi ketika simbol itu diciptakan.51
Berdasarkan pengertian tersebut, maka simbol dapat mewakili segala
gagasan, tindakan dan komunikasi yang konkrit. Simbol dapat berfungsi sebagai
pengganti suatu obyek yang ingin ditampilkan dengan cara yang lain. Simbolsimbol mitologis merupakan bentuk ekspresi dari ketidaksadaran kolektif yang
bersifat primordial52
Mitos maupun simbol selalu mempengaruhi seluruh sistem dan
aktivitas manusia. Dengan demikian secara singkat kita dapat mengetahui fungsi
dan konteks mitos maupun simbol pada suatu masyarakat. Dengan sarana dan
perangkat tersebut kita dapat melihat perkembangan peradaban dan masyarakat
lewat berbagai mitos dan simbol mereka. Sebab simbol maupun mitos merupakan
indikator
mitologis yang mampu mengungkapkan hakikat dasar suatu
perkembangan masyarakat. Itulah sebabnya mengapa mitologi masih tetap relevan
untuk dijadikan bahan kajian sampai sekarang.
B.
Sekilas Tentang Mitologi Penciptaan Manusia Dalam Dunia Barat
Dalam tradisi Barat, Penciptaan dan kedudukan manusia dalam salah satu
versi
mitologi
Yunani
kuno,
diceritakan
dalam
hubungannya
dengan
Prometheus53. Mitologi Yunani adalah sejarah mendasar atau legenda mengenai
51
Zeffry, Manusia………….., h.32-35
Zeffry, Manusia………….., h.36
53
Diceritakan yang mencipta dan memelihara manusia pertama kali adalah Promotheus,
makhluk setengah dewa, dan ia menciptakan Pelasgus dari tanah liat dan diberi karakter oleh
52
Yunani kuno yang menyangkut masalah dewa-dewi dan pahlawan54, keaslian
dunia dan asal mula serta arti praktek budaya dan upacara keagamaan mereka.
Sejarah tersebut disampaikan secara lisan secara turun temurun.
Pada awalnya setelah diciptakan bumi, Amor (Eros) menyelimuti bumi
yang baru lahir dengan tumbuh-tumbuhan yang lebat dan memberinya penghuni,
yaitu makhluk dari berbagai jenis. Setelah itu, Prometheus menciptakan manusia
yang kemudian dibekali bakat-bakat.55 Sebelum menciptakan manusia, ia terlebih
dahulu menciptakan binatang dan memberikan semua fasilitas diri. Promotheus
menyatakan akan menciptakan yang lebih baik dari binatang, dan pergi ke surga
dan matahari untuk meminta obor sebagai perlindungan.56
Dewi Pallas Athene (Minerva) sehingga memiliki kekuatan bagai singa, keindahan bagai merak,
kecerdikan dan perasaan malu. Pelasgus ditempatkan di Arcadia, sebuah tempat yang sangat subur
dan indah, awalnya mereka hidup bahagia Pada keturunan kedua Pelasgus, sudah terdapat
kekacauan sehingga mereka terusir dari Arcadia. http://www.google.com. Tgl. 5 juni 2008
54
12 Dewa Olimpus juga dikenal dengan sebutan Dodekatheon (Greek: δωδεκα /dodeka
θεον /theon = dewa) dalam Mitologi Yunani adalah dewa dewi utama Yunani yang tinggal di
puncak Gunung Olimpus. Setiap dewa dewi dalam Mitologi Yunani memiliki setidaknya satu
unsur yang dikuasai dan dilindunginya. Unsur itu masing-masing adalah :
1. Zeus adalah pemimpin para dewa, penguasa Olimpus, dewa iklim dan cuaca.
2. Hera, istri Zeus, adalah dewi pelindung pernikahan, pengorbanan dan kesetiaan.
3. Poseidon adalah dewa laut.
4. Ares adalah dewa perang dan pembantaian.
5. Hermes adalah dewa penunjuk jalan, pelindung para petualang,penggembala dan
penghiburan. Ia juga utusan dewa Zeus.
6. Hefestus adalah dewa api, tukang kayu, penempa besi dan pengrajin senjata.
7. Aphrodite adalah dewi cinta, seks dan keindahan fisik.
8. Athena adalah dewi kebijaksanaan, perang, keindahan jiwa, seni dan pendidikan.
9. Apollo adalah dewa cahaya, musik, tarian, obat-obatan dan pelindung para pepanah.
10. Artemis adalah dewi pelindung hewan, perburuan, kesuburan dan kesucian.
11. Demeter adalah dewi bunga, tumbuh-tumbuhan, makanan, argraris dan pelindung bahtera
perkawinan.
12. Hestia adalah dewi pelindung rumah, keluarga dan perapian. http://www.google.com.tgl
5 juni 2008
55
Ekky Malaky, Ali Syari’ati Filosof Etika...............,) h. 75
Edith Hamilton, Mythology Part One, The Gods, The Creation And The Earliest Heroes.
New York.t.t. http://www.google.com. Tgl. 5 juni 2008
56
Prometheus yang bangga dengan ciptaannya segera minta diberikan
kekuasaan yang besar, Prometheus menghendaki agar “manusia” yang
dikreasikannya mempunyai ---kelebihan, mempunyai kekuatan dan kemampuan
yang jauh lebih sempurna daripada makhluk-makhluk dan binatang lain. Dan
hanya apilah sumber yang memberi kekuatan, “api kehidupan“ yang menjadi
pembeda antara dewa-dewa dengan makhluk ciptaanya. Namun para dewa tetap
tidak akan memberi api untuk kepentingan manusia. Para dewa menginginkan
agar umat manusia tetap dalam keadaan seadanya, menjadikan manusia dalam
keadaan tak berkesadaran, manusia tetap dalam keadaan kegelapan, tanpa ilmu
pengetahuan dan sumber-sumber kehidupan yang bisa merubah manusia menjadi
lebih “hidup”.
Dalam analisa Syari’ati, ada kemungkinan para dewa takut akan ancaman
setelah manusia mempunyai kelebihan, setelah mempunyai api kehidupan,
kebebasan, dan kepemimpinan atas alam. Para dewa menginginkan manusia tetap
dalam keadaan absurd57, jangan sampai manusia naik derajatnya menjadi
malaikat, bahkan sampai bersaing dengan para dewa. Walaupun para dewa di
langit tidak mengizinkan, namun Prometheus tetap mengambil api itu dengan cara
diam-diam dan menyembunyikannya di dada.58 Dari kerajaan para dewa, Yupiter,
57
Inggris: absurd. Latin: absurdus terbentuk dari kata ab (tidak) dan surdus (dengar), arti
harfiah “tidak enak didengar” sering juga diartikan, antara lain, “tidak masuk akal”, “tidak logis”.
Beberapa pengertian :
1. Dalam refleksi filosofis beberapa filsuf eksistensialis, absurd mengacu kepada kehidupan yang
tidak bearti, tidak konsisten, dan tidak mempunyai struktur.
2. Absurd tidak begitu saja dapat disamakan dengan tidak bermakna atau bernilai, absurd tidak
sama dengan omong kosong, absurd mempunyai nilai, atau bermakna, tetapi tidak benar atau
salah. Lorens Bagus, Kamus Filsafat,( Jakarta: PT. Gramedia 2002) h 9-10
58
Dalam versi lain, menurut albert camus dengan mite sisifusnya, karena sisifus telah
memberi air kepada manusia dan memasung dewa kematian Camus, Albert, Mite Sisifus
Pergulatan Dengan Absurditas,(Jakarta : Gramedia 1999 )
anak dari salah satu dewa, melihat ada cahaya api di bumi, dan ia begitu marah,
lalu memutuskan untuk menghukum Promotheus. Di pegunungan Kaukasus,
pencuri itu dirantai pada sebuah bukit batu, dan seekor burung Nazar memakan
hatinya.59
Melihat penderitaan yang diderita Promotheus, manusia hanya mampu
berdoa dan tidak henti-hentinya memberkahi dan menyatakan terima kasihnya
atas pengorbanan yang dilakukannya. Para manusia menganggapnya Promotheus
sebagai “pahlawan” umat manusia dan rela dihukum sebagai martir umat manusia.
Dalam perkembangan yang lama kemudian bertambahlah sikap dan
tingkah laku manusia, banyak perselisihan dan manusia semakin memburuk
sikapnya. Kemudian para dewa memutuskan menghukum para manusia dengan
bencana air bah.60. Manusia musnah, yang tersisa hanyalah Deucalion (putra
Promotheus) dan Pyrra (putri Ephimeteus). Dewa Zeus yang merasa kasihan
kepada dua orang yang tersisa itu akhirnya mengampuni mereka. Kemudian lahir
59
Dalam versi lain, menurut Albert Camus dengan Mite Sisifusnya, Sisifus dihukum
untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, untuk setiap saat batu itu meluncur kembali
setelah mencapai puncak dan itulah hukuman yang harus di derita Sisifus Camus, Albert, Mite
Sisifus Pergulatan Dengan Absurditas,(Jakarta : Gramedia 1999 )
60
Dalam versi lain. Menurut mitos air bah dalam Kitab Kejadian, beberapa generasi
setelah meninggalkan Taman Eden manusia telah menjadi jahat dan penuh kekerasan. Allah
menyesal telah menciptakna manusia dan memutuskan untuk mengirimkan air bah untuk
menghapuskan kejahatan manusia. Allah hanya menemukan satu orang di muka Bumi yang layak
diselamatkan, yaitu Nuh. Karena itu Allah menyuruh Nuh membangun sebuah bahtera dengan
ukuran dan rancangan tertentu, dan membawa ke dalam bahtera itu istrinya, ketiga anak lelakinya,
Sem, Ham, dan Yafet, serta istri mereka, dan binatang-binatang dan burung-burung yang tidak
haram sebanyak 7 pasang, jantan dan betina, dan sepasang binatang-binatang yang haram, jantan
dan betina (versinya berbeda-beda apakah ini berarti tujuh individu atau tujuh pasang, dengan
makanan yang dibutuhkan serta benih sehingga manusia dan bumi dapat memulai lembaran
kehidupan yang baru. Pada tahun ke-600 usia Nuh, 1656 tahun setelah menciptakan Adam, Allah
mengirimkan air bah itu. Maurice Bucaile, Asal-Usul Manusia Menurut Bible. Alqur’an dan sains.
Penerjemah Rahmani Astuti ( Bandung: Mizan 1998) h. 167-176
seorang anak bernama Hellen, putra mereka yang kemudian namanya diabadikan
sebagai nama suku bangsa Yunani, yaitu Hellenia. Keturunan mereka selanjutnya
menjadi nenek moyang dari suku Aeolia, Ionia, dan Doria.61
Berikut ini penulis juga melampirkan tabel dewa-dewa dalam mitologi
Yunani. dan silsilah keturunannya62
Silsilah Prometheus dan anak keturunannya
61
Secara garis besar mereka adalah kaum penakluk yang membawa bahasa Yunani,
mereka kaum penyerbu yang berambut pirang dari Utara. Russell, Bertrand, Sejarah Filsafat
Barat, ( Yogyakarta: Pustaka pelajar 2002) h. 8-9
62
Edith Hamilton, Mythology Part One, The Gods, The Creation And The Earliest
Heroes. New York.t.t. http://www.google.com. Tgl. 5 juni 2008
C.
Sekilas Tentang Mitologi Penciptaan Manusia Dalam Dunia Islam
Mitos63 penciptaan manusia dalam dunia Islam adalah penciptaan Adam,
sebuah kisah penciptaan manusia pertama atau esensi manusia dalam pengertian
filosofis bukan biologis. 64
63
Mitos dalam pengertian ini menjadi berbeda maknanya, menurut M. Arkoun arti Mitos
dalam al Qur’an tidak sama dengan perngertian bahwa suatu cerita itu sebenarnya tidak memiliki
kenyataan sejarah, akan tetapi sebagai upaya untuk menangkap mekanisme yang halus dari
ungkapan simbolisnya untuk mempertanyakan tipe mitologi yang telah dibangun oleh al Qur’an.
Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan Qur’an, (Jakarta: INIS 1997) h. 57
Sementara itu keterangan lain menyebutkan bahwa dalam pengertian ini mitos menjadi semacam
‘pelukisan” atas kenyataan-kenyataan yang tak terjangkau baik relatif maupun mutlak dalam
format yang disederhanakan, sehingga terfahami oleh orang lain. Abd. Khaliq Dahlan,”Mitos dan
Kehidupan Manusia” sebuah tinjauan sosiologis-psikologis. Teologia, no.1 (Oktober 1989) h.480481
64
Ekky, Malaky, Filosof Etika....................,h. 82
Dalam perspektif agama, sejarah manusia diawali dari sesuatu yang
bersifat spiritual, dinyatakan demikian karena awal penciptaan manusia pertama,
yaitu Adam, dan hawa65, yang hingga abad ini telah menurunkan miliaran
manusia yang tersebar ke seluruh penjuru dunia dan terdiri dari berbagai macam
ras yang bisa kita jumpai dalam kehidupan sekarang ini.
Al Qur’an dalam redaksinya membagi dua tahap tentang penciptaan
manusia, di mana pada tahap yang pertama, al Qur’an menggambarkan tentang
terciptanya jasad manusia (reproduksi manusia), di mana bangunan redaksinya
cenderung memakai bahasa ilmu alam atau istilah-istilah biologis, seperti
menyebutkan sperma, gumpalan darah, dan janin. Tetapi ketika menceritakan
kisah kejadian Adam, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa metaforis dan
penuh filosofis,
Adapun contoh redaksi al Qur’an, ketika membahas kejadian (reproduksi)
jasad manusia, seperti pada ayat-ayat berikut:
Surat al Mu’minun: 12
“Dan sungguhlah, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal)
dari tanah”
65
Walaupun dalam hal ini masih terdapat perdebatan yang panjang , tentang asal-usul
manusia bahkan kehidupan makhluk lain dimuka bumi ini. baik para peneliti, ilmuwan-ilmuwa
namun tetap masih dalam keraguan dan kerancuan, salah satunya yang dicetuskan oleh teori
Darwinisme. Agus Mustofa, Ternyata Adam dilahirkan, (Surabaya : PADMA Press 2007)
http://www.google.com. Tgl. 5 juni 2008
Surat ar Rahman: 14
⌧
⌧
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar ”
Surat al Hijr: 26
⌧
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Surat as- Sajadah ayat : 6-9
⌧
⌧
☺
⌧
“Yang demikian itu adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala yang gaib
dan yang nyata, Yang lagi Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang
membuatnya sebaik-baiknya segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya dan yang
memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya
dari saripati air yang hina, lalu Dia menyempurnakannya dan meniupkan kedalam
(tubuh) nya roh (ciptaan Nya) dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Surat al-Hajj : 5
⌧
⌧
⌧
⌧
⌧
☺
⌧
☺
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari
kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami Telah menjadikan kamu dari
tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian
dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar
Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, Kemudian Kami keluarkan kamu
sebagai bayi, Kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada
kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara
kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui
lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini
kering, Kemudian apabila Telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu
dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
Kemudian pada tahap yang kedua ketika membahas tentang kejadian
(manusia) Adam, al Qur’an membahasakannya dengan sangat filosofis dan penuh
dengan bahasa simbolik.
Berawal dari ketika Allah hendak menciptakan Adam, timbullah protes
dari kalangan Malaikat, seperti yang tertulis pada QS. Al-Baqarah ayat 30
☺
⌧
⌧
☺
⌧
☺
30.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dalam tafsir al Misbakh, diuraikan, pada ayat ini dimulai dengan
penyampaian keputusan Allah kepada para Malaikat tentang rencana Nya
menciptakan manusia di bumi. Penyampaian ini bisa jadi setelah proses
penciptaan alam raya, dan kesiapannya untuk dihuni manusia pertama (adam)
dengan nyaman. Mendengar rencana tersebut, para malaikat bertanya tentang
makna penciptaan tersebut. Mereka menduga bahwa khalifah ini akan merusak
dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan pengalaman mereka
sebelum terciptanya manusia, di mana ada makhluk yang berlaku demikian atau
juga berdasar asumsi, bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khlaifah bukan
malaikat, maka makhluk itu pasti berbedaberbeda dengan makhluk yang selalu
bertasbih menyucikan Allah SWT. Semua itu adalah dugaan, apapun latar
belakangnya, yang pasti adalah mereka bertanya kepada Allah, bukan
berkeberatan atas rencana Allah.66 Lalu Allah berfirman “Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Namun perlu dicatat bahwa kata ‘khalifah” pada mulanya berarti menggantikan
atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya.67
Lantas sebagai jawaban atas Malaikat, karena menduga Allah terlalu
mengistimewakan manusia, Allah berfirman dalam Al-Qur’an S. Al-Baqarah ayat
31-34 :
☺
☺
☺
☺
⌧
⌧
31. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman:
66
67
Quraish Shihab, Tafsir al Misbakh, (Jakata : Lentera Hati) Jilid 1 h. 140
Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, Jakarta: Lentera hati) Jilid I h. 140-142
"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orangorang yang benar!"
32. Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]."
33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka namanama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama
benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa
Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang
kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
34. Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah
kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Kali ini Allah SWT menunjukkan kepada malaikat bahwa khalifah yang
Dia tugaskan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan mereka. diberi-Nya
khalifah ini potensi pengetahuan untuk dapat mengenal benda-benda. Potensi ini
yang membuat manusia mampu menjalankan perintah sebagai khalifah di muka
bumi. Walaupun nantinya akan ada sebagian manusia yang akan berbuat
kerusakan di muka bumi atau menumpahkan darah, tapi dengan potensi yang
diberikan kepada manusia maka manusia akan sanggup menjalankan tugas
sebagai khalifah. Walaupun Malaikat mempunyai ketaatan yang lebih baik, selalu
menyucikan dan memuji Allah, tapi mereka tanpa potensi pengetahuan
sebagaimana yang diajarkan kepada Adam, maka tidak akan bisa malaikat ini
menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.
Setelah kejadian Adam kemudian digambarkan bagaimana ketika para
Malaikat disuruh bersujud seperti yang tertulis pada surat al Baqarah ayat 34
“....Sujudlah kepada Adam.”,sujud68 kepada Adam merupakan apresiasi dan
sekaligus pengabdian makhluk terhadap zat-Nya yang telah menciptakan manusia
melalui hasil kerja-Nya yang sempurna,..”maka mereka pun segera sujud. Tetapi
Iblis69 enggan dan angkuh. Dan dia termasuk kelompok yang kafir.” Iblis tidak
mau bersujud karena merasa dirinya lebih baik dari manusia yang hanya
diciptakan dari tanah. Malaikat yang semula juga ragu terhadap kemampuan
manusia setelah mendapat petunjuk akhirnya bersedia mengakui keunggulan dan
bersujud. Iblis tidak, walaupun sudah diberi petunjuk, mereka tetap tidak mau
mengakui apalagi bersujud sebagai penghormatan. Perasaan angkuh telah
menutupi iblis dari petunjuk. Demikianlah, karena pengetahuan yang diberikan
oleh Allah SWT maka manusia dapat lebih mulia dari malaikat sehingga malaikat
bersujud pada manusia.
Di dalam surga Allah SWT memberi karunia yang banyak, salah satunya
berupa makanan yang baik dan boleh dimakan oleh Adam dan pasangannya,
mereka boleh menikmati yang mana saja, kapan saja mereka suka. Tapi Allah
melarang Adam dan pasangannya untuk mendekati sebuah pohon. Dari sekian
banyak makanan dan pepohonan di surga, Allah hanya melarang satu pohon untuk
didekati. Namun ternyata Adam dan Hawa melanggar perintah Nya. keduanya
telah digelincirkan oleh setan. Setelah kejadian itu maka keduanya dikeluarkan
dari surga, dan Allah berfirman:
68
Inilah makna humanisme dalam islam dalam pandangan Ali Syari’ati, yang di
simbolkan dalam kisah tersebut.
69
Sementara menurut Quraish Shihab iblis adalah golongan Jin bukan Malaikat yang
tercipta dari cahaya.sehingga tafsiran Illa (Q.S Al Baqarah ayat 34) bukan berarti “kecuali” seperti
tafsiran Departemen Agama, tetapi sebagai Munqathi’ yang berarti “tetapi”.( Quraish Shihab,
Tafsir Al Misbah, Jakarta: Lentera hati) Jilid I. h. 34
☺
☺
☺
⌧
”Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu,dan dikeluarkan
dari keadaan semula, dan kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu
menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan
kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."
Betapa sulitnya manusia menahan rasa ingin tahu mereka. Ketika ada
larangan justru manusia semakin penasaran terhadap hal itu. Keinginan tahu
sebagai akibat dari potensi pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT dapat
membawa manusia untuk menerobos larangan yang diberikan-Nya.
Apakah semua yang dilakukan oleh manusia disengaja atau tidak?
Ternyata semua dikarenakan lemahnya manusia terhadap godaan setan. Manusia
adalah makhluk yang lemah. Mereka diberi potensi pengetahuan yang dengannya
mereka dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi, namun dalam
potensi itu terdapat kelemahan yang dapat mencelakakan diri manusia sendiri, dan
seringkali dimanfaatkan oleh setan melalui bujukannya
Ternyata Allah SWT tidak membiarkan Adam dalam kesengsaraan akibat
perbuatannya. Allah SWT mengajarinya beberapa kalimat yang sering dipahami
sebagai bentuk penyesalan atau taubat, dan taubatnya tersebut diterima. Allah
SWT Maha Penyayang kepada umat-Nya. Dia tahu bahwa bersamaan dengan
potensi pengetahuan yang telah diberikan-Nya ada tersembunyi kelemahan yang
dapat dimanfaatkan oleh setan untuk menjerumuskan manusia. Karenanya Allah
SWT memberi sebuah “fasilitas” bagi manusia yang terjerumus untuk kembali
kepada-Nya, asalkan manusia mau mengakui kelemahannya dan menerima
petunjuk dari Allah SWT, maka Allah SWT mengijinkan manusia itu mencapai
keberhasilan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi dan pada
akhirnya kembali kepada Allah SWT di surganya yang kekal dan abadi untuk
selama-lamanya.70
Berbeda dengan konsep pada kitab suci agama lain, Islam tidak mengenal
konsep “kejatuhan Adam dan Hawa yang membawa semacam dosa asal”, manusia
dilahirkan tanpa dosa, dan tanggung jawabnya berkaitan dengan ilmu
pengetahuannya, sesuai dengan waktu dan tempat ketika dia hidup, bagaimana
membaca tanda-tanda Yang Suci dan mengikuti wahyu.71
Dalam konsep Islam tidak mengenal adanya pertentangan antara kerajaan
langit dan bumi, tapi justru merupakan bentuk manifestasi adanya Tuhan.
Tuhanlah yang memberikan “api kehidupan” dan yang meniupkan ruh Nya
kepada manusia, agar manusia mampu mengatur segala isi dan mampu mewakili
hukum-hukum Tuhan yang telah diamanatkan. Jadi berbeda dengan kondisi awal
pasca penciptaan manusia dalam kacamata Barat, dalam Islam Tuhanlah yang
membebaskan manusia dari belenggu, dari keabsurditasannya. Bahkan seluruh
70
71
Jurnal pemikiran Islam Paramadina, http://www.google.com
Ekky Malaky, Filosof Etika ................, h. 89
malaikat disuruh untuk bersujud kepada Adam, dan daratan, lautan serta
semuanya ditundukkan untuk kepentingan manusia.
Begitulah al-Qur’an di dalam ayatnya mengakhiri kisah manusia, atau
kisah Adam as. Ada yang berpendapat kisah ini simbolik, namun ada juga yang
menafsirkan kisah ini benar-benar terjadi. Dalam tafsir al-Misbah dijelaskan
bahwa rencana menciptakan manusia adalah tanda kesiapan bumi untuk dihuni
manusia, setelah sekian lama berproses. Sujudnya malaikat pertanda kemampuan
manusia menggunakan hukum-hukum alam, setan adalah lambang kejahatan,
keengganannya bersujud pertanda bahwa kejahatan akan selalu ada di pentas bumi
ini. Ia akan terus bertarung dengan kebaikan.72
72
Jurnal pemikiran Islam Paramadina, http://www.google.com
BAB IV
MITOLOGI PENCIPTAAN MANUSIA
DALAM PANDANGAN ALI SYARI’ATI
A. Mitos Penciptaan Manusia
Landasan Ali Syari’ati dalam menafsirkan tentang penciptaan manusia,
tidak lepas dari sumber al-Qur’an. Adam yang mewakili seluruh manusia, esensi
umat manusia, manusia dalam pengertian yang filosofis, bukan dalam pengertian
bahasa biologis.73 Dalam beberapa ayat al-Qur’an, terdapat gambaran tentang
penciptaan manusia, namun penggunaan redaksinya cenderung memakai bahasa
ilmu alam atau istilah-istilah biologis, seperti menyebutkan sperma, gumpalan
darah, dan janin. Tetapi ketika menceritakan kisah kejadian Adam, maka bahasa
yang digunakan adalah bahasa metaforis dan filosofis, karena itulah dalam
mitologi penciptaan, kisah penciptaan Adam ini diceritakan dalam bentuk bahasa
simbolik, bahasa yang umum yang sering dijumpai juga dalam tradisi agamaagama semitik. Ali Syari’ati menyatakan:
“itulah sebabnya kenapa agama-agama harus menggunakan bahasa
simbolis, agama itu di alamatkan kepada aneka ragam jenis dan generasi manusia.
Banyak konsep terkandung dalam agama tidak begitu jelas dipahami orang pada
waktu konsep-konsep itu pertama kali dikemukakan, jika agama di satu pihak,
menyampaikan ide-idenya tidak dalam bahasa yang umum dan lazim, maka ia
akan tidak mudah dipahami oleh umat zaman itu, tetapi di pihak lain jika ia
menyampaikan ideanya dalam bahasa yang umum, maka ia akan kehilangan
makna di belakang hari. Karena itu perlulah agama berbicara dalam bahasa simbol
dan tamsil agar bisa ditangkap sesuai perkembangan pemikiran manusia dan
ilmu...”74
73
Ali Syari'ati, Tentang Sosiologi Islam, Penerjemah : Syaifullah Mahyuddin
(Yogyakarta: Ananda, 1982) h. 113
74
Ali Syari'ati, Tentang Sosiologi Islam, Penerjemah : Syaifullah Mahyuddin
(Yogyakarta: Ananda, 1982) h.88
Karena itulah kisah kejadian Adam, yakni kisah kejadian manusia,
disampaikan secara simbolis, sehingga hari ini, setelah perkembangan ilmu-ilmu
alam selama empat belas abad, kisah itu masih tetap dibicarakan dan dipahami.
Ketika dalam konteks mitologi sebelumnya, Adam ditafsirkan sebagai mitos dan
simbol, tetapi Syari’ati percaya, bahwa Adam juga menjadi manusia historis yang
menjadi nenek moyang manusia sekarang, misalnya ketika membahas mitologi
Qabil dan Habil75, dia menulis bahwa kita sayang ketika ditakdirkan menjadi anak
cucu Qabil, dalam Ummah dan Imamah, dia menulis, kita semua adalah anak cucu
Adam. Ini menandaskan bahwa Adam dan anak cucunya adalah manusia historis
di samping simbolis.76
Syari’ati mengemukakan interpretasinya, sebagaimana dalam al-Qur’an,
manusia yang pada dasarnya diciptakan dari dua unsur, pertama roh Tuhan, dan
kedua adalah tanah liat. Kemudian Tuhan menciptakan manusia dari salsal kal
fakhar (lumpur) dan hamam masnun (tanah hitam yang berbau busuk),77 dan
akhirnya Tuhan menghembuskan roh-Nya ke dalam manusia ciptaan-Nya, dan
lengkaplah penciptaan.
Ali Syari’ati mengindikasikan adanya perbedaaan informasi tentang mitos
penciptaan manusia antara Islam dan Barat. Dalam mitos penciptaan di Barat
dikisahkan hubungan antara langit dan bumi tidaklah harmonis, mereka saling
bertempur sepanjang masa. Ali Syariati melihat bahwa hal ini akan sangat
75
Merupakan filsafat sejarahnya Ali Syari’ati, lihat On the Sosiologi Of Islam, h. 127-145
Ekky Malaky, Ali Syari’ati, Filosof Etika dan Revolusioner Iran ( Bandung: Teraju
2004) h. 82
77
Al Qur’an menyebutkan ada tiga tempat tentang bahan asal manusia. Mula-mula al
Qur’an menyebutkan”lempung tembikar” (QS.Ar Raham :14) lalu al-Qur’an menyebutkan “Kuciptakan manusia dari lumpur hitam ” (QS.Al Hijr ; 26), dan kemudian kata Tin, yang berarti “
Lempung, tanah ” (QS. Al An’am ; 2), QS. Al Mu’minun : 12)
76
mempengaruhi pola pikir masyarakat Barat yang nantinya nampak pada ilmu
pengetahuan, misalnya politik, sosial, budaya khususnya ilmu keagamaan.
Syari’ati mencontohkannya pada pemikiran seperti Marx, yang mengatakan:
“Adalah wajib menggunakan dalil berbalik guna membuktikan adanya
Tuhan, di mana apabila alam ini tidak memiliki proses pembentukan yang benar,
maka dengan demikian-Tuhan ada, dan sepanjang ada dunia yang tidak bisa
dipahami dengan akal, berarti di situ ada Tuhan, dengan kata lain, bukti-bukti
tidak rasional sajalah yang menjadi landasan bagi adanya Tuhan.”78
Dalam mitos Barat, manusia merupakan simbol kekuatan anti-dewa, yang
selalu
menentang
kerajaan
dewa
(langit).
Dewa-dewa
langit
melihat
perkembangan hidup yang dijalani manusia selalu meningkat, peradaban
berkembang dari hari ke hari. Tentu hal ini akan menjadi ancaman serius bagi
para dewa. Para dewa merasa takut dengan kemajuan semua ini, mereka (para
dewa) merasa dengan bekal “api kehidupan” yang telah dicuri, Prometheus akan
menyaingi kekuatan para dewa, dan tentunya akan menjadi malapetaka. Oleh
karena itu dalam mitos Barat, manusia selalu berusaha melawan belenggubelenggu dari kungkungan para dewa, dan selalu menentang kekuasaan dewa.
Kalau kita perhatikan, gambaran ala promethean inilah yang ikut membentuk cara
pandang para pemikir-pemikir Barat. Hal ini bisa dilihat pada perkembangan
ilmu-ilmu berikutnya, misal sastra, filsafat, sosial yang tidak lepas dari semangat
Promothean, salah satunya seperti Karl Marx, sebagaimana dicontohkan di atas.
Ali Syari’ati juga menginterpretasikan tentang hakikat kejadian manusia,
sebagaimana yang telah tercatat dalam al Qur’an, bahwa manusia yang tercipta
dari unsur roh Tuhan dan unsur lumpur, ini juga terjadi pada kaum Hawa, menurut
Ali Syari’ati ketika kebanyakan orang menafsirkan bahwa Hawa tercipta dari
78
Ali Syari’ati, Humanisme Antara Islam Dan Madhab Barat, ( Bandung : Pustaka
Hidayah, 1996) h. 86-87
tulang rusuk kiri Adam, itu adalah makna alegoris, beliau tidak membenarkan hal
itu. Terjemahan “tulang rusuk” dalam bahasa Arab maupun Ibrani menurutnya
kurang tepat, karena menurutnya makna yang lebih tepat adalah nature (sifat),
disposisi atau konstitusi.79 sehingga antara laki-laki dan wanita mempunyai esensi
dan unsur yang sama, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan.
Manusia mempunyai dua dimensi dengan dua arah dan dua kecenderungan
berbeda, yang satu berasal “tanah liat” adalah simbol kerendahan, stagnasi, dan
pasifitas mutlak, yang rendah dan hina, membawa manusia ke hakikat yang
rendah, sedangkan satunya lagi terbuat dari “ruh Tuhan” yang selalu mengajak
manusia ke arah puncak spiritual tertinggi, yaitu Zat Yang Maha Suci. ”Ruh
Tuhan” adalah simbol dari gerakan tanpa henti ke arah kesempurnaan dan
kemuliaan yang tidak terbatas.
Bagi Syari'ati proses terjadinya manusia adalah gabungan antara Ruh
Tuhan dengan tanah (lumpur), yang mana kedua unsur ini akan saling
bertentangan, saling tarik menarik antara keduanya, dan inilah yang menjadi
keunikan manusia yang memiliki kodrat bidimensional, kedua unsur inilah yang
akan dipilih manusia, apakah manusia akan menjadi makhluk yang sempurna atau
sebaliknya. Seperti pernyataan Ali Syari'ati bahwa:
"……..manusia adalah gabungan lumpur dan roh Allah. Ia adalah zat yang
bidimensional, makhluk yang bersifat ganda, berbeda dengan makhluk-makhluk
lain yang unidimensional. Dimensinya yang satu cenderung kepada lumpur dan
kerendahan, stagnasi dan imobilitas. Sungai mengalir meninggalkan endapan
lumpur yang tanpa gerak dan kehidupan. Persis begitu pula sifat manusia, pada
salah satu dimensinya ia cenderung untuk terpaku pada kebisuan beku, tetapi
dimensinya yang lain yang berasal dari roh Allah, sebagaimana al Qur'an
79
Barangkali Ali Syari’ati menunjuk kepada karya Kisa’I Qisasi al-Anbiya’. Ali Syari'ati,
Tentang Sosiologi Islam, Penerjemah : Syaifullah Mahyuddin (Yogyakarta: Penerbit Ananda,
1982) h.92
menyebutkannya, cenderung untuk meningkat ke puncak yang setinggi-tingginya,
yakni kepada Allah dan roh Allah."80
Ali Syari’ati merumuskan bagaimana kisah Adam terjadi
Roh Allah + Lumpur = Manusia
Makna simbolis pengertian di atas adalah bahwa manusia mempunyai dua
dimensi, dimensi ketuhanan dan dimensi kerendahan atau kehinaan, sedangkan
makhluk lain hanya mempunyai satu dimensi.
Dalam pengertian lumpur secara simbolis mengandung pengertian
menunjuk pada kehinaan dan kerendahan tidak berarti stagnan dan mati.
Sedangkan ruh Tuhan menunjuk pada dimensi keilahian mengajak manusia
cenderung untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Hakikat kejadian manusia inilah, maka manusia pada suatu saat dapat
mencapai derajat yang tinggi, tetapi pada saat yang lain, dapat saja meluncur pada
derajat kerendahan yang sangat dalam dan paling dasar.
Pertentangan yang membuat jarak (roh Allah dengan lumpur) itu maka
melahirkan “agama” atau “jalan”, menurutnya banyak orang yang keliru
menganggap bahwa agama sebagai tujuan, padahal agama adalah suatu jalan atau
wadah dalam rangka manusia menuju ke cahaya Tuhan.81 Lebih jauh Syari’ati
menjelaskan bahwa jalan adalah sarana yang mesti dilalui seseorang, guna
mencapai suatu tujuan tertentu, tujuannya bukanlah berdiri sendirian di jalan itu
dan kemudian mulai mengucapkan pujian palsu dan tak karuan, inilah yang
menjadi kritikan Syari’ati terhadap kebanyakan umat Islam sekarang, jalan yang
80
Ali Syari'ati, On The Sociologi of Islam, penerjemah Syaifullah Mahyudin
(Yogyakarta:PT Ananda 1982) h.
81
Ekky Malaky, Ali Syari’ati Filosof Etika dan Revolusioner Iran ( Bandung: Teraju
2004)
semestinya sebagai jalan, namun manusia lupa akan tujuannya, manusia banyak
yang terlena dengan jalannya, menghiasi jalannya demi kepentingan jalan itu
sendiri. Inilah makna “jalan demi jalan” berjalan tanpa arah dan tidak tahu
tujuan.82
Mungkin ada orang yang berkata, “dalam kenyataannya sekarang ini orang
yang bukan muslim lebih baik, dari yang muslim,” ini benar, karena orang yang
“tersesat” akan selalu berusaha, bergerak cepat, walaupun jalannya berkelakkelok, lambat laun orang tersebut akan menemukan tempat pelabuhannya,
dibanding dengan orang muslim, yang tidak memanfaatkan jalan “lurusnya”.
Mereka (muslim) cenderung lontang-lantung, tidak mempunyai tujuan dalam
hidup, selalu bangga dengan jalan tersebut karena pernah ada orang-orang hebat
yang telah melalui jalan ini. Mereka (muslim) terjebak dalam kenikmatan jalan
tersebut, hanya menghiasi hari-harinya tanpa makna, mereka (muslim) tidak
merasa perlu untuk merubah diri mereka, atau memeriksa kekeliruan. Itulah
sebabnya kenapa kaum penyembah sapi lebih unggul daripada pengabdi Allah,
dan mereka (muslim) tidak menyadarinya.83
Manusia yang dalam dirinya tergabung dalam dua unsur yang berlawanan,
adalah zat yang dialektis, dan merupakan mukjizat Allah, dalam esensi dan fitrah
hidupnya, ia adalah “arah tak terhingga” menuju lempung atau menuju roh Allah,
adanya unsur roh Allah dalam diri manusia merupakan sebagai potensialitas,
sebagai suatu kemungkinan, sebagai arah yang memungkinkan manusia berjuang
ke arah Allah.84
82
83
84
Ali Syari’ati, Islam Mazhab Pemikiran Dan Aksi, (Bandung: Mizan 1995) cet.2 h. 90
Ali Syari'ati, On The Sociolog..., h. 124-125
Ali Syari'ati, On The Sociolog..., h. 119-120
Karena fitrahnya yang dualistis dan mengandung kontradiksi itulah, maka
manusia yang merupakan gejala dialektis itu selalu dalam keadaan bergerak.
Dirinya adalah ajang pertempuran antara dua kekuatan yang menumbuhkan
evolusi terus-menerus ke arah kesempurnaan, tetapi di manakah Allah? Allah ada
dalam tak terhingga (infinitum), karena itu manusia tidak pernah bisa sampai pada
peristirahatan terakhir dan bermukim dalam Allah. Demikianlah manusia bergerak
dari kerendahan serendah-rendahnya ke arah kemuliaaan setinggi-tingginya, dan
tujuannya ialah Allah, roh Allah, keabadian.85
Dalam uraiannya, sang tokoh ini menafsirkan manusia yang memiliki
bidimensional itu harus bertempur, berjuang (becoming).86dan mempunyai
kehendak bebas untuk menentukan kepada kutub mana manusia akan memilih,
dan menurutnya inilah yang menjadi salah satu pembeda antara manusia dengan
makhluk yang lain, karena hanya pada diri manusialah kehendak bebas itu
terwujud, tidak seperti pada makhluk yang lain. Pertempuran yang terus-menerus
itu akan berakhir ketika manusia mampu menentukan pilihannya pada salah satu
kutub sebagai titik determinan hidupnya.
Gambaran mitos penciptaan manusia dalam pandangan Ali Syari’ati
85
86
Ali Syari'ati, On The Sociolog..., h.120-122
Dalam uraian lain Ali Syari’ati menyampaikan dengan istilah Insan
MANUSIA
AGAMA
AGAMA
ROH TUHAN
LUMPUR /TANAH
• Mampu Tumbuh dan
Berkembang Hidup
• Menuju cahaya Tuhan
• progressif
•
•
•
KEHENDAK BEBAS
•
•
•
absurditas
Immobilitas
Stagnan
Pria-wanita mempunyai esensi sama,
fenomena bidimensional.(Roh-Lumpur)
lebih tinggi dari malaikat, lebih rendah dari binatang
B. Manusia Ideal
Bagi Syari’ati dengan pembentukan individu-individu yang becoming dan
berjuang untuk mengadaptasi akhlaknya dengan akhlak Tuhan, maka akan lebih
mudah untuk mencapai arah yang dicita-citakan bersama.
Manusia sebagai “Khalifah” juga digambarkan Syari’ati sebagai manusia individu
yang dimintai pertanggungjawabannya oleh Tuhan sebagai individu. Istilah
individu adalah format singular, sedangkan jamaknya adalah khulafa, khawalif,
dan khala’if.
Menurutnya manusia yang ideal ialah manusia yang theomorphis yang
dalam pribadinya roh Allah telah memenangkan belahan dirinya yang berkaitan
dengan iblis, dengan lempung dan dengan lumpur endapan, dia telah bebas dari
bimbang dan kontradiksi antara dua kutub, dan berakhlak dengan akhlak Allah.
Ali Syari’ati dengan apik menyampaikan kata-kata indahnya yang
terangkum dalam syairnya:
“...Hidup dan bergerak di tengah-tengah alam, sang manusia ideal jadi
memahami Allah. Dia tidak meniggalkan alam dan tidak meninggalkan umat
manusia dan demikian ia menemukan Allah, di tangannya tergenggam pedangnya
Caesar, dan dalam dadanya bermukim hati Jesus, dia berpikir dengan otak
Socrates, dan mencintai Allah dengan sanubari al-Hallaj, sebagaimana yang
didambakan Alexia Carrel, dia adalah manusia yang paham akan keindahan ilmu
dan keindahan Tuhan, dia memberontak para pemilik budak, dan ditebarkannya
benih revolusi bagai Abu Dzar87, dan dia memperhatikan kata-kata Pascal dan
kata-kata Descartes88
Bagaikan sang Budha, dia bebas merdeka dari belenggu nafsu dan
egoisme; bagikan Lao Tse, dia berefleksi tentang kedalaman fitrah primordialnya;
dan bagaikan Kung Fu Tse dia bermeditasi tentang nasib masyarakatnya.
Bagaikan Spartacus, dia memberontak terhadap para pemilik budak, Bagaikan
Yesus, dia membawa pesan cinta kasih dan perdamaian, dan bagaikan Musa dia
adalah pesuruh jihad dan pembebasan.”
Manusia yang ideal memiliki tiga aspek kebenaran, kebajikan, dan
keindahan. Dengan kata lain pengetahuan, akhlak dan seni.89 Menurutnya manusia
87
Adalah tokoh yang sangat diidolakan Syari’ati, dia adalah salah satu sahabat Nabi
pencetus sosialistik islam. Dia adalah kreasi simbolis pertama Syari’ati tentang muslim yang
commited, tegar, revolusioner, yang menyampaikan persamaan, persaudaraan, keadailan dan
pembebasan. Kedamaian dan keseimbangan yang baru di temukan Syari’ati, tercerminkan dengan
sangat baik dalam karya pertamanya, Tarikhh-e Takamol-e Falsafafe (sejarah perkembangan
Islam) Ali Syari'ati, On The Sociologi of Islam, penerjemah Syaifullah Mahyudin (Yogyakarta:PT
Ananda 1982)
88
Ali Syari'ati, On The Sociologi of Islam, penerjemah Syaifullah Mahyudin
(Yogyakarta:PT Ananda 1982) h.162
89
Ali Syari'ati, On The Sociologi of Islam, penerjemah Syaifullah Mahyudin
(Yogyakarta:PT Ananda 1982) h.162
sebagai khalifah, dia adalah kehendak yang comited dengan tiga macam dimensi:
kesadaran, kemerdekaan dan kreativitas. Di sinilah terlihat bagaimana Ali
Syari’ati sangat memperdulikan nasib manusia, terutama mereka yang dizalimi,
tertindas, di pihak lain Ali Syari’ati sangat mendambakan kehidupan yang diridhai
oleh Tuhan, penuh kedamaian Ilahi.90
Ada beberapa istilah yang dipakai Ali Syari’ati dalam menyebut manusia
yang unggul, manusia yang ideal91, dari empat istilah ini masing-masing
mempunyai makna yang berbeda, namun saling berhubungan satu dengan yang
lainnya, Ali Syari’ati menyebutkan:
a)
Makhluk dua dimensi, unsur bidimensional yang dimiliki manusia
akan selalu bertarung, berkonfrontasi untuk menentukan pilihannya,
apakah ia akan menuju cahaya Tuhan atau justru sebaliknya, ia
terjerembab dalam ruang kehinaan. Untuk itu, maka manusia
menggunakan
atribut
“kehendak
bebasnya”
yang
telah
dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dan inilah yang menjadi
faktor pembeda antara manusia dengan makhluk yang lain.
b)
Insan, merupakan proses becoming-nya manusia dalam rangka
menuju sifat Tuhan, menuju akhlak Tuhan, meninggalkan titik
absurditas menuju titik yang jauh lebih suci dan sempurna. Syari’ati
sendiri menyatakan bahwa istilah insan mengandung nilai-nilai etis,
sementara basyar mengandung nilai-nilai hewani.
90
Dawam Raharjo, (ed), Insan Kamil Konsepesi Manusia Dalam Islam (pustaka Graffiti
Press 1987).h.177
91
Ekky Malaky, Ali Syari’ati Filosof Etika dan Revolusioner Iran ( Bandung: Teraju
2004) h. 108
c)
Khalifah, wakil Tuhan di muka bumi manusia sebagai khlaifah yang
diberi atribut ketuhanan itu akan mempertanggungjawabkan segala
perbuatannya.. kewajiban untuk bertindak dengan penuh tanggung
jawab, dan selamanya dituntut untuk mempertimbangkan kegiatan
kehidupannya selama di bumi baik dalam kriteria yang baik, maupun
yang buruk. Manusia dituntut untuk menciptakan “surga” di dalam
jagad raya ini. Sehingga makhluk-makhluk lain akan terjaga dan
tetap lestari, di sinilah peran manusia diuji sebagai pengganti “wakil
Tuhan”.
d)
Makhluk Moral, manusia sebagai makhluk moral, harus mampu
mengabaikan kehidupan materi dan bahkan mampu melakukan itsar
(altruisme) dan sahid (martyrdom) dengan tiga atribut ketuhanan
(kreativitas, kesadaran diri, kebebasan) dan juga cinta, maka manusia
bisa berakhlak seperti akhlak Tuhan.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konsep Ali Syari’ati dalam rumusan mitos penciptaan manusia (Adam),
adalah sebagai berikut:
Fenomena dialektis yang terdiri atas oposisi “ruh Tuhan” dengan “lumpur”
yang ada pada manusia inilah, menjadikan Pertarungan dalam dirinya, di mana
pertempuran ini akan selalu berlangsung sepanjang masa. Jika dalam pertarungan
ini Ruh Tuhan menang, maka manusia akan manjadi manusia ideal. Namun
apabila sebaliknya, maka manusia akan menjadi makhluk yang rendah derajatnya.
Indikasi dua kekuatan inilah yang menjadikan manusia menjadi makhluk
bidimensional, makhluk yang mempunyai dua dimensi, berbeda dengan makhluk
ciptaan Tuhan yang lain, yang ada di atas bumi. Dengan bekal kehendak bebas
yang telah dikaruniai oleh Tuhan kepada manusia, maka manusia akan
menentukan pilihannya, apakah ia akan memilih pada kutub ke-Ilahian, yang
menjadikannya mampu meraih cahaya Tuhan, mampu berakhlak seperti akhlak
Tuhan, yang membuatnya manusia menjadi lebih tinggi derajatnya dibanding
malaikat atau justru berpihak kepada kutub yang rendah, yakni “lumpur” yang
akan membawa manusia kepada jurang kenistaan, lembah kegelapan, hidup yang
tidak berarti, imobilitas, dan menjadikan lebih rendah dibanding binatang.
Jarak antara Roh Tuhan dan lumpur ini menghasilkan suatu jalan yaitu
agama, dan agama yang tepat adalah Islam, karena Islam adalah agama
penyempurna, agama kontinuitas dari agama-agama sebelumnya. Menurut Ali
Syari’ati dalam perkembangan sekarang ini banyak orang yang mengartikan
agama sebagai tujuan, ini merupakan kekeliruan, padahal agama adalah sarana,
atau jalan dalam rangka kita menuju cahaya Tuhan. Namun kebanyakan orang
Islam yang stagnan menganggap dirinya sudah sampai pada tujuan, sehingga
terlalu asyik dengan jalannya dan mengagungkannya semata.
Fenomena Adam merupakan kesiapan Allah untuk memberikan amanatNya, sebagai Khalifah Allah, sebagai pengganti hukum-hukum Allah di muka
bumi. Adam ditugaskan untuk menyejahterakan makhluk-makhluk yang lain, agar
dapat hidup harmonis, berkembang dan menjadikannya surga di bumi, berbeda
dengan konsep mitos dalam tradisi Barat, di mana manusia merupakan simbol
kekuatan anti-Tuhan.
B.
Saran-saran
Setelah penulis menganalisa beberapa gagasan yang dibangun oleh
Syari’ati, yakni tentang tema-tema mitos penciptaan, aplikasinya dengan
perkembangan modern sekarang ini, ada beberapa hal yang membuat penulis
kiranya perlu merefleksi kembali secara filosofis, tentang makna dan fungsi mitos
itu sendiri dalam kehidupan sekarang.
Pertama, memahami makna dan fungsi mitos itu secara universal, supaya
kita tidak rancu dalam rangka memahami. Karena masyarakat modern sekarang
ini, sebagaian besar menganggap bahwa mitos itu hanya khayalan belaka, pepesan
kosong, dan tanpa ada landasannya, padahal sesuai dengan perkembangan zaman,
makna mitos itu menjadi bergeser, sesuai dengan kebutuhan sekarang. Dan
beberapa penulis, telah mendefinisikan makna dan fungsi mitos itu dari berbagai
disiplin ilmu, dan pada akhirnya, menurut penulis mitos itu sendiri mempunyai
kedalaman makna dan fungsi yang perlu digali lagi, sehingga diharapkan kita
akan dapat menangkap makna halus dari simbolis –simbolis yang di telah bangun
dari hikayat atau cerita tersebut.
Kedua, ketika manusia dengan segala permasalahannya yang ada di dunia,
dengan fenomena-fenomenanya tidak mampu lagi di tangani, maka di sini mitos
mempunyai peranan penting, untuk mengajak manusia lebih dalam lagi melihat
sisi-sisi lain yang mempunyai peranan penting. Karena sejujurnya manusia hidup,
tidak bisa lepas dari determinasi mitos.
Download