tesis perbedaan kadar calcitonin gene

advertisement
TESIS
PERBEDAAN KADAR CALCITONIN GENE-RELATED
PEPTIDE (CGRP) PADA PREEKLAMSI DAN
KEHAMILAN NORMAL
AGUS RUSDHY HARIAWAN HAMID
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
KONSULTAN FETOMATERNAL BAGIAN / SMF OBSTETRI
& GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
UDAYANA / RSUP SANGLAH DENPASAR
2013
Lembar Persetujuan Pembimbing
USULAN PENELITIAN INI TELAH DISETUJUI PADA TANGGAL 28 MEI
2012
Pembimbing Materi :
dr. Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma, SpOG( K )
Mengetahui
Ketua Program Pendidikan Dokter Spesialis Konsultan Fetomaternal
Bagian / SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana / RSUP Sanglah Denpasar
Prof. Dr. dr. I Gede Putu Surya, SpOG( K )
Lembar Persetujuan Pembimbing
PENELITIAN INI TELAH DISETUJUI PADA TANGGAL 22 JULI 2013
Pembimbing Materi :
dr. Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma, SpOG( K )
Mengetahui
Ketua Program Pendidikan Dokter Spesialis Konsultan Fetomaternal
Bagian / SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana / RSUP Sanglah Denpasar
Prof. Dr. dr. I Gede Putu Surya, SpOG( K )
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahuwataala / Tuhan
Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan
untuk melengkapi persyaratan dalam meyelesaikan pendidikan Dokter Spesialis
Konsultan Fetomaternal di Bagian / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana / Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.
Dengan selesainya tesis ini, perkenankan kami mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada :
-
Kepala Bagian/SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar,
Bapak Prof. DR.Dr. Ketut Suwiyoga, SpOG(K), atas segala dorongan
dan bimbingan selama kami mengikuti pendidikan.
-
Kepala Divisi Fetomaternal Bagian/SMF Ilmu Kebidanan dan
Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP
Sanglah Denpasar, Bapak Dr. Tjokorda Gde Agung Suwardewa,
SpOG(K), atas bimbingan dan perhatiannya selama kami mengikuti
pendidikan Konsultan.
-
Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Konsultan
Fetomaternal Divisi Fetomaternal Bagian/SMF Ilmu Kebidanan dan
Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP
Sanglah Denpasar, Bapak Prof. DR. Dr. I Gede Putu Surya, SpOG(K),
atas bimbingan dan perhatiannya selama kami mengikuti pendidikan
Konsultan dan penyelesaian tesis ini.
-
Direktur Pelayanan Medik, Bapak Dr. Anak Agung Ngurah Jaya
Kusuma, SpOG(K), yang juga menjadi pembimbing atas segala
dorongan dan bimbingan selama kami mengikuti pendidikan
Konsultan dan penyelesaian tesis ini.
-
Seluruf Staf Divisi Fetomaternal Bagian/SMF Ilmu Kebidanan dan
Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP
Sanglah Denpasar atas segala pengetahuan, dorongan dan bimbingan
yang diberikan selama mengikuti Pendidikan Konsultan maupun
dalam penyelesaian tesis ini.
-
Direktur Rumah Sakit Umum Provisnsi Nusa Tenggara Barat, Bapak
Dr. H. Mawardi Hamri, MPPM atas segala fasilitas dan ijinnya untuk
melakukan penelitian di RSU Provinsi NTB
-
Rekan-rekan sejawat peserta Pendidikan Konsultan Fetomaternal atas
kerjasama dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat berjalan dan
tesis dapat diselesaikan.
-
Ibunda tercinta Hj. Aluh Ria Kamariah Hamid, yang sampai saat ini
masih tetap memberikan dorongan moral selama kami menempuh
pendidikan Konsultan.
-
Istriku tercinta Dr. Cahya Dessy Rahmawati, yang sedang menempuh
pendidikan
Dokter
Spesialis
Mata
atas
kesabarannya
dalam
mendampingi dan memberikan dukungan kepada kami selama
menempuh pendidikan Konsultan
-
Ketiga anak-anakku tercinta Ferdiansyah Sultan Ayasasmita Rusdhy,
Daanys Amiira Rusdhy, Delisha Safiya Rusdhy, yang menjadi
inspirasi serta memberikan semangat dengan menjadi anak-anak yang
berbakti pada orang tua.
Akhirnya perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang
telah dengan ikhlas turut membantu kami sehingga kami dapat menyelesaikan
tesis ini. Semoga Allah Subhanahuwataala / Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan
berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua.
Penulis
RINGKASAN
Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab penting dari morbiditas
maternal, disabilitas jangka panjang dan kematian baik pada ibu dan bayinya.Di
antara hipertensi yang terjadi dalam kehamilan, preeklamsi dan eklamsi
merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal.
Calcitonin gene-related peptide (CGRP) adalah sebuah neuro peptida 37-asam
amino yang disintesa oleh jaringan spesifik yang merupakan transkrip primer dari
gen kalsitonin. CGRP merupakan vasodilator endogen yang sangatpoten,
dankonsentrasi plasma CGRP meningkat sejak umur kehamilan 17 minggu
sampai 22 minggu pada wanita hamil dibandingkan dalam keadaan tidak hamil,
diduga bahwa sintesa CGRP meningkat dalam kehamilan. Pada preeklamsi
didugakon sentrasi CGRP dalam plasma diduga lebih rendah dari kehamilan
normal.
Telah dilakukan penelitian cross-sectional untuk mengetahui perbedaan
kadar CGRP pada preeklamsi dan kehamilan normal. Selama periode januari
sampai April 2013 didapatkan 46 sampel, 23 sampel pasien dengan preeklamsi
dan 23 kontrol dengan kehamilan normal. Tidak didapatkan perbedaan yang
bermakna pada karakteristik kasus preeklamsi dan control kehamilan normal.
Hasil pemeriksaan kadar CGRP menunjukkan rerata kadar CGRP pada
preeklamsi lebih rendah (0,0922 ng/ml) dibandingkan kehamilan normal (1,2856
ng/ml). perbedaan rerata kadar CGRP ini bermakna secara statistik.
Kadar CGRP, yang merupakan vasodilator poten berperan dalam kejadian
peningkatan tekanan darah pada preeklamsi. Pemberian ekstrak CGRP pada
preeklamsi dapat menurunkan tekanan darah.
ABSTRAK
Latarbelakang: Preeklamsi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan
hipertensi dan proteinuria. Angka kejadian preeklamsi berkisar antara 5% sampai
8% dari seluruh kehamilan. Etiologi preeklamsi masih belum diketahui dan
sampai saat ini tidak ada intervensi yang terbukti dapat mencegah atau menunda
onset preeklamsi. Calcitonin Gene Related Peptide (CGRP) merupakan suatu
vasodilator poten, yang kadarnya meningkat selama kehamilan. Pada preeklamsi,
kadar CGRP diduga lebih rendah dibandingkan dengan kehamilan normal.
Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan kadar CGRP pada preeklamsi dan
kehamilan normal.
Subyekdancarakerja : Penelitian ini merupakan studi cross-sectional, sebanyak
23 kasus preeklamsi dan 23 kontrol kehamilan normal diperiksa kadar CGRP
dalam serum maternal. Penelitan dilakukan di Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa
Tenggara Barat, dan pemeriksaan kadar CGRP dilakukan oleh Laboratorium
Prodia cabang Mataram.
Hasil : Rerata kadar CGRP pada preeklamsi lebih rendah (0,0922 ng/ml)
dibandingkan rerata kadar CGRP pada kehamilan normal (1,2856 ng/ml). Dari uji
statistic didapat bahwa perbedaan ini bermakna.
Simpulan : Pada penelitian ini terdapat perbedaan rerata kadar CGRP yang
bermakna secara statistic pada preeklamsi dibandingkan dengan kehamilan
normal.
Saran :Pemberian CGRP dapat menurunkan tekanan darah pada preeklamsi
Kata kunci :Preeklamsi, CGRP
ABSTRACT
Introduction : Preeclampsia is a pregnancy complication syndrome marked by
hypertension accompanied by proteinuria. The incidence of preeclampsia is about
5% to 8% of all pregnancies. The etiology of preeclampsia remains unknown and
no intervention has been proved to prevent or postpone the onset of preeclampsia.
Calcitonin Gene Related Peptide (CGRP) is a potent vasodilatory peptide, and its
concentration is increased during pregnancy. CGRP concentration in preeclampsia
may be lower compare to CGRP concentration in normotensive pregnancy.
Objective : The present study was designed to determine the difference of CGRP
concentration in maternal serum between preeclampsia and normotensive
pregnancy.
Subject andmethods : Research design was cross-sectional study, we enrolled 23
patients with preeclampsia and 23 patients with normotensive pregnancy, CGRP
concentration was determined with assay from maternal serum. The research was
held in West Nusa Tenggara Province General Hospital, and the assay of CGRP
was provided by Mataram Branch of Prodia Laboratories.
Results : The mean maternal plasma CGRP levels in the preeclamptic group
(0,0922 ng/ml) were significantly lower than those in the normotensive group
(1,2856 ng/ml).
Conclusion : From this research, we conclude that the mean maternal plasma
CGRP levels in preeclampsia is lower than in normotensive pregnancy.
Suggestion : Administering CGRP can normalize systemicblood pressure in
preeclampsia
Keywords : Preeclampsia, CGRP
DAFTAR ISI
HALAMAN
………………………………………………………
ii
………………………………………………………
v
………………………………………………………
vi
………………………………………………………
viii
………………………………………………………
x
………………………………………………………
xi
………………………………………………………
xii
KATA PENGANTAR
RINGKASAN
ABSTRAK
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR
SINGKATAN
DAFTAR
………………………………………………………
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LatarBelakangMasalah………………………………………
1.2.RumusanMasalah………………………………………….....
1.3.TujuanPenelitian……………………………………………..
1.3.1. Tujuanumum……………………………….
1.3.2. Tujuankhusus……………………………....
1.4.ManfaatPenelitian…………………………………………….
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. DefinisiPreeklamsi……………………………………………
2.2. EpidemiologidanFaktorRisikoPreeklamsi……………………
2.3. PatofisiologiPreeklamsi………………………………………
2.3.1. Perubahanvaskular………………………....
2.3.2. Perubahanhematologis……………………..
2.3.3. Perubahanpadahepar…………………….....
2.3.4. Sindrom HELLP…………………………...
2.4. Calcitonin Gene Related Peptide (CGRP)…………………….
BAB III
KERANGKA PIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. KerangkaPikir……………………………………………….
3.2. KerangkaKonsep…………………………………………....
3.3. Hipotesis…………………………………………………….
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. TempatdanWaktuPenelitian…………………………………
4.2. RancanganPenelitian…………………………………………
4.3. Populasi……………………………………………………....
4.4. Sampel……………………………………………………….
4.5. BesarSampel………………………………………………....
4.6. Cara pemilihanSampel……..…………………………………
4.7. Variabel Dan DefinisiOperasional……………………….….
4.7.1. IdentifikasiVariabel…………………………
4.7.2. DefinisiOperasionalVariabel……………….
4.8. AlurPenelitian……………………………………………….
4.9. ProsedurPemeriksaan………………………………………..
4.10. Analisis Data……………………………………………....
xiii
1
3
3
3
3
4
5
6
7
8
9
9
10
10
14
15
16
17
17
18
18
18
19
19
19
19
20
20
21
BAB V HASIL PENELITIAN
5.1. HasilPenelitian……………………………………………….
5.1.1. KarakteristikSubyekPenelitian……………..
5.1.2. HasilPemeriksaan…………………………..
BAB VI PEMBAHASAN
6.1. KeterbatasanPenelitian………………………………………
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN
7.1. Simpulan……………………………………………………..
7.2. Saran…………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
22
22
24
27
29
29
30
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1
Struktur CGRP………………………………………
10
Gambar 2
Mekanisme kerja CGRP, baik melalui endothel,
maupun langsung pada sel otot polos………………
12
Gambar 3
Kerangka pikir………………………………………
14
Gambar 4
Kerangka konsep……………………………………
15
Gambar 5
Rancangan penelitian…………………………………
17
Gambar 6
Alur penelitian………………………………………
20
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 5.1
Karakteristik subyek penelitian…………………………...
Tabel 5.2
Perbandingan Kadar CGRP antara Preeklamsi dan Kehamilan
Normal…………………………………………………………….
23
24
DAFTAR SINGKATAN
cAMP1
: intracellular cyclic adenosine monophosphate
CGRP
: Calcitonin Gene Related Peptide
cGMP
: cyclic guanosine monophosphate
CRLR
: Calcitonin Receptor-Like Receptor
RAMP
: Receptor Activity Modifying Proteins
VSMC
: Vascular smooth muscle cell
DAFTAR LAMPIRAN
Data SPSS penelitian
Hasil analisa data
Keterangan kelaikan etik
Ijin Penelitian
Informed consent penelitian
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Preeklamsi adalah suatu keadaan dalam kehamilan yang ditandai dengan
hipertensi yang terjadi sesudah umur kehamilan 20 minggu, pada wanita yang
sebelumnya normotensi. Keadaan hipertensi disertai dengan proteinuri (300 mg
atau lebih per 24 jam). Preeklamsi merupakan penyebab penting dari morbiditas
maternal, disabilitas jangka panjang dan kematian baik pada ibu dan bayinya. Di
Afrika dan Asia, kurang lebih sepersepuluh dari seluruh kematian maternal
berhubungan dengan hipertensi dalam kehamilan, di mana seperempat dari
kematian maternal di Amerika Latin berhubungan dengan hipertensi dalam
kehamilan. Di antara hipertensi yang terjadi dalam kehamilan, preeklamsi dan
eklamsi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal dan
perinatal (Sibai, 2003; WHO, 2011).
Kejadian preeklamsi merupakan precursor untuk terjadinya eklamsi,
sangat bervariasi di berbagai belahand unia. Di Negara Asia dan Afrika, hampir
sepersepuluh kematian maternal berhubungan dengan hipertensi dalam kehamilan,
di mana seperempat kematian maternal di Amerika Latin berhubungan dengan
komplikasi kehamilan ini. WHO memperkirakan insiden preeklamsi tujuh kali
lebih tinggi pada Negara berkembang (2,8% darikelahiran hidup) dibandingkan
dengan Negara maju (0,4%), hal ini berhubungan dengan perilaku yang enggan
untuk mencari fasilitas kesehatan, ketersediaan fasilitas kesehatan dan masalah
pribadi. Di Nigeria, sebagai Negara berkembang insiden preeklamsi berkisar
antara 10 sampai 50 per 1000 kelahiran. Sedangkan di Belanda, sebagain egara
maju angka insiden eklamsi sebesar 6,2 per 10.000 kelahiran hidup. Di Indonesia
insiden preeklamsi berkisar antara 3,4 - 8,5% dari seluruh kehamilan. Menurut
data di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung tahun 2007-2009, insiden
preeklamsi ringan berkisar antara 0,97 - 2,08%, sedangkan preeklamsi berat
berkisar antara 1,33 - 2,94% (Abubakar A, 2009; Aukes A, 2011, Pratama D,
2011; WHO 2011).
Penyebab preeklamsi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
Beberapa keadaan yang diduga berperan dalam kejadian preeklamsi antara lain :
maladaptasiimun, iskemiplasenta, predisposisi genetic dan factor vaskular.
Sampai saat ini tidak ada intervensi yang terbukti dapat mencegah atau menunda
onset preeklampsia; penanganan yang paling efektif adalah persalinan (Kiondo,
2012; Taspinar, 2006). Sebagian besar kasus kematian maternal yang
berhubungan dengan hipertensi dapat dihindari dengan memberikan penanganan
yang cepat dan tepat terhadap wanita yang mengalami komplikasi ini.
Optimalisasi perawatan ibu hamil untuk mencegah dan mengobati hipertensi
dalam kehamilan sangat diperlukan untuk mencapai Millenium Development
Goals (WHO, 2011).
Upaya yang dapat dilakukan saat ini adalah melakukan deteksi dini dengan
melakukan pemeriksaan terhadap petanda preeklamsi. Beberapa penelitian
terakhir menunjukkan bahwa pemeriksaan Calcitonin gene-related peptide
(CGRP)dalam serum ibu dapat dipakai untuk deteksi dini preeklamsi (Dong,
2005).
Calcitonin gene-related peptide (CGRP)adalah sebuah neuropeptida 37asam amino yang disintesa oleh jaringan spesifik yang merupakan transkrip
primer dari gen kalsitonin. CGRP merupakan vasodilator endogen yang
sangatpoten, dankonsentrasi plasma CGRP meningka sejak umur kehamilan 17
minggu sampai 22 minggu pada wanita hamil dibandingkan dalam keadaan tidak
hamil, diduga bahwa sintesa CGRP meningkat dalam kehamilan. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa kadar CGRP menurun pada preeklamsi, baik pada
sirkulasi ibu maupun sirkulasi janin. Sebagian kecil penelitian juga menunjukkan
bahwa kadar CGRP pada sirkulasi ibu dan sirkulasi janin tidak berbeda secara
bermakna, hal ini mungkin disebabkan oleh rentang nilai hasil pemeriksaan yang
sangat luas dari kadar CGRP (Dong, 2005; Dong, 2006).
Berdasarkanuraian di atas dapat dilihat bahwa sebagian penelitan
menunjukkan bahwa kadar CGRP pada preeklamsi lebih rendah dibandingkan
kehamilan normal, sedangkan pada sebagian lainnya tidak menunjukkan
perbedaan yang bermakna. Pada penelitian ini akan dilakukan pemeriksaan kadar
CGRP dalam serum ibu untuk dapat menghitung perbedaan kadar CGRP pada
preeklamsi dibandingkan kehamilan normal.
Di RSUP NTB dalam tahun 2010 didapatkan angk ainsiden preeklamsi
sebesar 82 per 1000 kelahiran dan tahun 2011 sebesar 121 per 1000 kelahiran
hidup. Fang (2009) mendapatkan bahwa di Thailand, factor risiko terjadinya
preeklamsi adalah usia ibu yang terlalu muda atau terlalu tua, obesitas dan
penggunaan fasilitas kesehatan. Hal ini serupa dengan keadaan di Provinsi NTB
dari segi demografi, sehingga terjadi peningkatan yang sangat tinggi pada dua
tahun terakhir ini, oleh karena itu penelitian ini sangat layak untuk dilakukan di
RSUP NTB.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas maka terdapat
permasalahan sebagai berikut : Apakah kadar Calcitonin gene-related peptide
(CGRP) menurun dalam kehamilan dengan preeklamsi ?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui kadar Calcitonin gene-related peptide (CGRP) pada
kehamilan dengan preeklamsi
1.3.2. Tujuan Khusus
1.
Untuk mengetahui kadar Calcitonin gene-related peptide (CGRP) pada
kehamilan normal
2.
Untuk mengetahui kadar Calcitonin gene-related peptide (CGRP) pada
kehamilan dengan preeklamsi
3.
Untuk mengetahui perbedaan kadar Calcitonin gene-related peptide
(CGRP) antara kehamilan normal dan kehamilan dengan preeklamsi
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat bagi Ilmu Pengetahuan
Apabila kadar Calcitonin gene-related peptide (CGRP) menurun pada
preeklampsia, maka dapat mengetahui hubungan antara Calcitonin gene-related
peptide dengan preeklamsi yang selanjutnya dapat dipakai sebagai dasar
penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah CGRP merupakan prediktoratau
merupakan marker terjadinya preeklamsi.
1.4.2. Manfaat bagi pelayanan
Apabila hasilnya sesuai dengan hipotesis maka pemeriksaan CGRP pada
ibu hamil dapat dijadikan alat untuk deteksi dini preeklamsi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Definisi Preeklamsi
Pada wanita hamil, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik
mencapai 140 mmHg atau lebih atau tekanan darah diastolik mencapai 90 mmHg
atau lebih yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita dengan
tekanan darah yang normal sebelumnya (Gilstrap, 2002; Roberts, 2009).
Preeklamsi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan hipertensi dan
proteinuria yang dapat disertai dengan gejala seperti odem, gangguan penglihatan,
nyeri kepala dan nyeri epigastrium (Gilstrap, 2002; Cunningham 2010).
Hasil laboratorium dapat menunjukkan adanya hemolisis, peningkatan
enzim liver, dan penurunan jumlah platelet (Sindrom HELLP = Hemolysis,
Elevated liver enzymes and low platelets count). Proteinuria didefinisikan sebagai
adanya 0,3 g protein atau lebih dalam spesimen urin 24 jam. Jika menggunakan
dipstik akan menunjukkan 1+ atau lebih, dan hal ini harus dikonfirmasi dengan
pemeriksaan urin yang dikumpulkan dalam 24 jam (Gilstrap, 2002).
Pada masa lalu, hipertensi yang diindikasikan sebagai preeklamsi jika
terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmHg atau lebih, atau peningkatan
tekanan darah diastolik sebesar 15 mmHg di atas tekanan darah rata-rata pasien,
tetapi definisi ini tidak menunjukkan indikator prognostik terhadap luaran. Cara
ini sudah tidak digunakan untuk diagnostik, tetapi apabila seorang wanita
mengalami hal ini pada kehamilannya, maka perlu dilakukan observasi yang ketat
(Gilstrap, 2002).
Eklamsi didefinisikan sebagai kejang grand mal yang pertama kali diderita
oleh pasien preeklamsi. Beberapa penyebab kejang yang terjadi pada eklamsi
termasuk perdarahan malformasi arteriovenous, aneurisma yang pecah, dan
kelainan kejang idiopatik. Diagnosis ini juga dipakai untuk kejang yang terjadi
pada 48-72 jam postpartum (Gilstrap, 2002).
Kriteria diagnostik dari superimposed preeklamsi adalah “new-onset
proteinuria” pada wanita dengan hipertensi sebelum usia kehamilan 20 minggu,
adanya peningkatan yang tiba-tiba dari proteinuria yang telah ada sejak usia
kehamilan awal, peningkatan yang tiba-tiba dari tekanan darah, atau
berkembangnya sindrom HELLP. Pasien dengan hipertensi kronis yang disertai
nyeri kepala, skotoma, atau nyeri epigastrium juga disebut sebagai superimposed
preeklamsi (Gilstrap, 2002).
2.2. Epidemiologi dan faktor risiko preeklamsi
Angka insiden pasti dari preeklamsi masih belum diketahui, tetapi
beberapa
laporan
menunjukkan
angka
5-8%
dari
seluruh
kehamilan
(Hladunewich, 2007). Preklamsi dikatakan sebagai kelainan yang terutama terjadi
pada kehamilan pertama. Beberapa faktor risiko termasuk kehamilan ganda,
preklamsi pada kehamilan sebelumnya, hipertensi kronis, diabetes pregestasional,
penyakit vaskular dan jaringan ikat, nefropati, sindrom antifosfolipid antibodi,
obesitas, usia 35 tahun atau lebih (Gilstrap, 2002; Myers 2004).
Peran genetik dan lingkungan terhadap risiko dan insiden preeklamsi
masih belum jelas, meskipun beberapa data menunjukkan adanya kecenderungan
pengaruh genetik terhadap kejadian preeklamsi. Riwayat hipertensi dalam
keluarga merupakan factor risiko yang bermakna. Preeklamsi juga terjadi pada
anggota keluarga. Wanita yang ibunya menderita preeklamsi, mempunyai
kecenderungan untuk menderita preeklamsi tiga kali lipat dibandingkan wanita
lain. Peningkatan risiko ini menunjukkan adanya kemungkinan interaksi antara
ibu dan janin yang belum dilahirkan untuk terjadinya preeklamsi di kemudian
hari. Wanita dengan trombofilia dikatakan mempunyai predisposisi genetik
terhadap preeklamsi (Gilstrap, 2002; Ohonsi, 2008).
2.3. Patofisiologi preeklamsi
Etiologi preeklamsi masih belum diketahui, meskipun beberapa literatur
memfokuskan pada derajat infasi trofoblas dari plasenta. Pada preeklamsi, invasi
trofoblas terjadi tidak komplit. Lebih kanjut, berat ringan hipertensi berhubungan
dengan invasi trofoblas. Preeklamsi juga berhubungan dengan adanya kerusakan
pada respon imun (Gilstrap, 2002).
Sampai saat ini, preeklamsi dianggap sebagai two-stage disease atau
penyakit dalam dua tahap. Tahap pertama asimptomatik, ditandai dengan
pertumbuhan
plasenta
yang
abnormal
selama
trimester
pertama
yang
mengakibatkan insufisiensi plasenta dan pelepasan material plasenta dalam
jumlah besar ke dalam sirkulasi maternal. Hal ini akan berkembang ke tahap dua,
yang simptomatik, di mana wanita hamil akan menunjukkan karakteristik
hipertensi, kerusakan ginjal, dan proteinuria dan risiko untuk menderita sindrom
HELLP (hemolysis, elevated liver function enzymes and low platelet), eklamsi dan
kerusakan organ lain (Hladunewich, 2007)
2.3.1. Perubahan vaskular
Hemokonsentrasi yang terjadi pada hipertensi, merupakan perubahan
vaskular yang bermakna, karena wanita yang menderita preeklamsi tidak
menunjukkan hipervolemia seperti kehamilan normal. Perubahan reaktivitas
vaskular dimediasi oleh prostaglandin. Interaksi dari berbagai bahan vasokatif,
seperti prostasiklin (vasodilator), tromboksan A2 (vasokonstriktor poten), nitrit
oksida (vasodilator poten), dan endothelin (vasokonstriktor poten) mengakibatkan
perubahan patofisologi pada preeklamsi, yaitu vasospasme. Vasospasme dan
hemokonsentrasi berhubungan dengan kontraksi ruang intravaskular. Karena
kebocoran kapiler dan terjadi penurunan tekanan onkotik koloid yang menyertai
keadaan ini, maka usaha untuk mengisi ruang intravaskular pada pasien ini
dengan terapi cairan mengakibatkan peningkatan tekanan kapiler pulmonal dan
bahkan mengakibatkan terjadinya odem paru. Beberapa penelitian menunjukkan,
sebelum dilakukan terapi cairan yang masif, pada pasien preeklamsi menunjukkan
fungsi ventrikular yang hiperdinamis disertai rendahnya tekanan kapiler
pulmonal. Tetapi setelah terapi cairan yang agresif, tekanan kapiler pulmonal
meningkat sampai melebihi batas normal (Gilstrap, 2002; Taspinar, 2006).
2.3.2. Perubahan hematologis
Beberapa perubahan hematologik juga terjadi pada pasien preeklamsi,
terutama pada preeklamsi berat. Trombositopenia dan hemolisis dapat terjadi
sebagai bagian dari sindrom HELLP, meskipun etiologinya masih belum
diketahui. Interpretasi kadar hematokrit harus dilakukan dengan pertimbangan
bahwa hemolisis atau hemokonsentrasi atau bahkan keduanya dapat terjadi pada
preeklamsi. Kadar hematokrit dapat sangat rendah akibat hemolisis atau sangat
tinggi sebagai akibat sekunder dari hemokonsentrasi yang tidak disertai dengan
hemolisis. Laktat dehidrogenase didapatkan dalam eritrosit dalam konsentrasi
yang tinggi. Adanya peningkatan yang tidak proporsional dari kadar laktat
dehidrogenase pada serum menunjukkan adanya hemolisis (Pokharel, 2008).
2.3.3. Perubahan pada hepar
Fungsi hepar akan terganggu secara bermakna pada preeklamsi berat.
Alanin aminotransferase dan aspartat aminotransferase dapat meningkat. Dapat
terjadi hiperbilirubinemia, terutama jika terjadi hemolisis. Perdarahan hepar,
dengan manifestasi berupa hematom subskapular, juga dapat terjadi pada
preeklamsi, dengan gejala berupa nyeri perut kuadran atas. Meskipun jarang,
ruptur hepar dapat terjadi dengan angka mortalitas yang sangat tinggi (Gilstrap,
2002).
2.3.4. Sindrom HELLP
Pada preeklamsi berat dan terjadi kerusakan pada hepar, akan berkembang
menjadi sindrom HELLP. Suatu penelitian menunjukkan sindrom HELLP terjadi
pada 20% kasus preeklamsi berat. Sejalan dengan beratnya preeklamsi, sindrom
HELLP berhubungan dengan peningkatan risiko luaran yang jelek, termasuk
solusio plasenta, gagal ginjal, hematom subskapular hepar, preeklamsi yang
berulang, persalinan preterm, dan bahkan kematian janin maupun ibu (Pokharel,
2008).
2.4. Calcitonin Gene Related Peptide (CGRP)
CGRP adalah 37-amino acid neuropeptide, yang dihasilkan dari transkrip
primer gen kalsitonin. Peptida ini didistribusikan secara luas pada sistem saraf
pusat dan sistem saraf perifer dan mempunyai efek vasodilator yang kuat pada
tonus vaskular. Konsentrasi CGRP dalam sirkulasi meningkat secara bermakna
pada kehamilan dan menurun setelah persalinan. Laporan terkahir menunjukkan
peningkatan CGRP dalam serum janin berbanding lurus dengan peningkatan berat
badan janin dan usia kehamilan, menunjukkan bahwa peptida vasoaktif ini juga
turut berperan dalam perkembangan plasenta dan pertumbuhan janin.
Gambar 1. Struktur CGRP
Dikutip dari Ghatta, 2004
Gambar di atas menunjukkan struktur CGRP dengan 37 asam amino yang
membentuknya sehingga menjadi neuropeptida yang diekspresikan secara luas di
jantung, pembuluh darah, hipofise, tiroid, paru-paru, traktus gastrointestinal dan
mempunyai efek biologi yang luas termasuk neuromodulasi, vasodilatasi,
kontraktilitas jantung, pertumbuhan tulang, dan perkembangan mamalia (Ghatta,
2004)
Terdapat beberapa mekanisme bagaimana CGRP dapat menyebabkan
relaksasi vaskular. Saat ini yang dapat diterima adalah vasodilatasi dimediasi
melalui reseptor CGRP1 dan diblok melalui jalur kompetitif oleh CGRP8-37. Bukti
terakhir menunjukkan adanya jalur nitric oxide (NO) dan jalur endothelium
independen, di mana produksi CGRP akan mengakibatkan peningkatan
intracellular cyclic adenosine monophosphate ([cAMP] 1). Mekanisme ini dapat
dilihat pada sebagian besar jaringan yang diteliti saat ini. Kemampuan CGRP
untuk merelaksasi jaringan ini pada keadaan di mana endothelium tidak terlibat
menunjukkan kerja CGRP langsung pada otot polos untuk menstimulasi adenylate
cyclase. Peningkatan cAMP1 akan mengaktivasi protein kinase A (PKA), yang
mungkin memfosforilasi dan membuka K+channels, yang mengakibatkan
relaksasi. Peningkatan cAMP dan cyclic guanosine monophosphate (cGMP) juga
terjadi melalui endothelium. Hal ini menunjukkan bahwa pelepasan NO dari
endothelium, yang kemudian mengakibatkan relaksasi sel otot polos melalui
aktivasi guanylate cyclase dan akumulasi cGMP (Brain, 2004).
Gambar 2. Mekanisme kerja CGRP, baik melalui endothel, maupun langsung
pada sel otot polos
Dikutip dari Brain, 2004
CGRP menunjukkan efeknya melalui 7TM G protein-coupled receptor,
Calcitonin Receptor-Like Receptor (CRLR). Dilaporkan bahwa fungsi CRLR
adalah sebagai reseptor dari 3 ikatan, CGRP, adrenomedulin, dan intermedin,
melalui 3 aktivitas reseptornya yaitu Receptor Activity Modifying Proteins
(RAMP1, RAMP2, dan RAMP3). Koekspresi CRLR dengan RAMP1 membentuk
reseptor CGRP, RAMP2 atau RAMP3 menghasilkan reseptor adrenomedulin,
sedangkan koekspresi CRLR dengan salah satu dari ketiga RAMP akan
memediasi sinyal intermedin. Penelitian pada hewan menunjukkan adanya CRLR
dan RAMP1 pada plasenta, terutama pada endothel dan sel otot polos pada
vaskular fetoplasenta. Pada plasenta manusia, CRLR dan RAMP1 diekspresikan
pada endothelium dan otot polos umbilikus, khorion, dan pembuluh darah vili,
menunjukkan bahwa CGRP mempunyai peran dalam kontrol tonus vaskular
fetoplasenta. Ekspresi CRLR dan RAMP1 serta responnya terhadap CGRP pada
preeklamsi masih belum jelas (Dong, 2005).
Pada preeklamsi, mRNA untuk komponen reseptor CGRP yaitu CRLR
dan RAMP1 pada arteri dan vena umbilikalis, arteri dan vena khorionik, serta
jaringan stem vili menurun jumlahnya pada jaringan plasenta. Protein CRLR dan
RAMP1, yang terdapat pada endothelium dan lapisan otot polos pembuluh darah
fetoplasenta dan trofoblas pada jaringan vili, menurun jumlahnya pada plasenta
dari pasien preeklamsi. Pada kehamilan normal, jumlah tempat untuk perlekatan
CGRP pada arteri khorionik dan jaringan vili sangat banyak pada plasenta,
sebaliknya pada pada preeklamsi tempat perlekatan ini sangat sedikit. Relaksasi
arteri umbilikalis serta arteri khorionik tergantung dosis CGRP, pada preeklamsi
respon terhadap CGRP ini terganggu (Dong, 2005).
Penelitian yang dilakukan oleh Iou (2005) menunjukkan bahwa pada
preeklamsi didapatkan kadar progesteron lebih rendah dibandingkan dengan
kehamilan normal, sedangkan kadar estrogen didapatkan lebih tinggi pada
preeklamsi dibandingkan kehamilan normal. Progesteron menstimulasi ekspresi
reseptor CGRP pada plasenta, sedangkan estrogen menghambat ekspresi reseptor
CGRP pada plasenta. Dengan penurunan progesteron serta meningkatnya
estrogen, maka kadar CGRP akan lebih rendah pada preeklamsi dibandingkan
kehamilan normal (Ghatta, 2004)
BAB III
KERANGKA PIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Pikir
Pada preeklamsi didapatkan kadar progesteron lebih rendah, sedangkan
kadar estrogen lebih tinggi dibandingkan kehamilan normal. Progesteron
menstimulasi ekspresi reseptor CGRP pada plasenta, sedangkan estrogen
menghambat ekspresi reseptor CGRP pada plasenta (Iou, 2005).
CGRP mengakibatkan vasodilatasi vaskular melalui jalur endothelium
independen dan jalur endothelium dependen. Jalur endothelium independen
langsung pada otot polos vaskular, sedangkan jalur endothelium dependen melalui
aktivasi sintesis NO. Rendahnya kadar CGRP pada preeklamsi akan
mengakibatkan
berkurangnya
kemampuan
vaskular
untung
mengalami
vasodilatasi, sehingga tekanan darah akan meningkat (Brain, 2004)
Preeklamsi
Progesterone ↓ estrogen ↑
Reseptor CGRP ↓
CGRP ↓
Gambar 3. Kerangka Pikir
3.2. Kerangka Konsep
CGRP sangat banyak didistribusikan pada saraf perivaskular dan
mempertahankan kerja vasorelaksan dalam jangka panjang secara in vitro,
sehingga membuat dugaan bahwa CGRP berperan dalam mengontrol tekanan
darah dan homeostasis vaskular, sehingga peningkatan kadar CGRP dalam
sirkulasi maternal menjaga tahanan vaskular tetap rendah selama kehamilan.
Kadar CGRP sebagai vasodilator poten dalam plasma maternal meningkat sesuai
dengan usia kehamilan untuk menjaga pasokan aliran darah ke sirkulasi
uteroplasenta. Pada preeklampsia penurunan kadar CGRP berakibat meningkatnya
CGRP
tekanan darah.
tekanan vaskular
tinggi
Preeklampsia
Faktor lain :
- Usia ibu
- Usia kehamilan
- Paritas
Gambar 4. Kerangka Konsep
3.3. Hipotesis
Kadar CGRP lebih rendah pada kehamilan dengan preeklamsi dibandingkan
dengan kehamilan normal
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Rancangan penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yaitu sampel
penelitian diambil dari populasi terjangkau secara consecutive sampling berurutan
pada satu waktu sehingga diperoleh kasus preeklamsi dan kehamilan normal,
kemudian masing-masing sampel diperiksa kadar CGRP dengan cara diambil
darah dari vena cubiti sebanyak 10 cc.
consecutive sampling
Preeklamsi
CGRP
Kehamilan normal
CGRP
Populasi terjangkau
Gambar 5. Rancangan Penelitian
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara
Barat, bulan Januari 2013 sampai bulan April 2013. Serum sampel diperiksa di
Laboratorium Klinik Prodia Mataram.
4.3. Populasi
Semua ibu hamil usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, yang
datang ke RSU Provinsi NTB.
4.4. Sampel
Semua ibu hamil usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu yang
masuk Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dengan kriteria eligibelitas sebagai
berikut
Kriteria inklusi :
- Kehamilan tunggal dengan usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu
- Janin hidup
- Bersedia mengikuti penelitian
Kriteria eksklusi :
- Kelainan medis berupa : Diabetes mellitus dan penyakit jantung
4.5. Besar sampel
Besar sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
𝑛=
𝑍𝑎2 𝑃𝑄
𝑑2
n
= besar sampel
Zα
= 1,96
P
= 25% (0,25)
Q
= 1-P = 0,75
d
= tingkat ketepatan = 0,13
berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas diperoleh besar
sampel minimal penelitian ini adalah 45 sampel.
4.6. Variabel dan definisi operasional.
4.6.1. Identifikasi variabel
Variabel bebas : CGRP
Variabel tergantung : Preeklamsi
4.6.2. Definisi operasional variabel
a. Preeklamsi adalah kehamilan dengan usia di atas 20 minggu yang disertai
peningkatan tekanan darah lebih sama dengan 140/90 mmHg dan proteinuria
minimal positif 1.
b. Pemeriksaan CGRP adalah pemeriksaan serum ibu untuk menilai kadar CGRP
dengan menggunakan ELISA, dengan rentang hasil 0-100ng/ml.
c. Umur ibu dihitung dari tanggal lahir atau yang tercantum dalam kartu tanda
penduduk (KTP)
d. Usia kehamilan dihitung berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT) atau
berdasarkan hasil pemeriksaan dengan alat USG yang dilakukan oleh dokter
spesialis obstetri ginekologi (SpOG) yang dilakukan pada usia kehamilan
sebelum 20 minggu.
e. Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan viable
f. Darah ibu adalah darah yang diambil dari vena cubiti sebanyak 10 cc
4.8. Alur penelitian
ibu hamil yang
dirawat di RSUP
NTB
Preeklampsia
Pemeriksaan serum
darah ibu untuk
menilai kadar CGRP
Kadar CGRP
meningkat atau
menurun
kehamilan dengan
tekanan darah
normal
Gambar 6. Alur penelitian
4.9. Prosedur pemeriksaan
Darah ibu diambil dari vena cubiti sebanyak 10 cc, kemudian dimasukkan ke
dalam tabung Lavender Vacutaner yang berisikan EDTA. Darah dalam tabung
dikocok untuk antikoagulasi. Pindahkan darah ke tabung sentrifuge yang
mengandung aprotinin (0,6TIU/ml darah) lalu kocok dengan perlahan untuk
menghambat kerja proteinase. Lakukan sentrifuge darah dengan kecepatan 1.600x g selama 15 menit pada suhu 4 derajat Celcius dan kumpulkan plasma. Plasma
yang disimpan pada suhu -70 derajat Celcius dapat bertahan selama 1 bulan.
Ekstraksi peptida dari plasma :
1. Pengasaman plasma dengan buffer A dengan jumlah yang sama. Dicampur dan
dilakukan sentrifuge pada kecepatan 6.000 sampai 17.000-x g selama 20 menit
pada suhu 4 derajat Celcius.
2. Tambahkan SEP-COLUMN yang mengandung 200 mg C18.
3. Biarkan ekstrak kering pada suhu -20 derajat Celcius dan lakukan pemeriksaan
Assay segera.
4. Hasil pemeriksaan akan menunjukkan nilai dengan rentang 0-100 ng/ml
4.10. Analisis data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian diolah dengan komputer dan analisis
data dilakukan dengan program SPSS. Hasil yang didapatkan adalah rerata kadar
CGRP pada preeklamsi dan kehamilan normal. Perbedaan rerata diuji dengan uji
tes t independen tidak berpasangan.
BAB V
HASIL PENELITIAN
5. 1 Hasil Penelitian
Telah dilakukan penelitian sejak bulan Januari 2013 sampai bulan April
2013, didapatkan sampel sebanyak 46 orang, terdiri dari 23 pasien preeklamsi dan
23 pasien hamil dengan tekanan darah normal.
5.1.1 Karakteristik Subyek Penelitian
Karakteristik subyek penelitian pada ibu hamil yang datang untuk
menjalani persalinan di RS dengan usia kehamilan 37-42 minggu pada kelompok
preeklamsi dan kontrol dapat dijelaskan pada Tabel 5.1 berikut ini:
Tabel 5.1 Karakteristik Subyek penelitian
Variabel
Kelompok
Preeklamsi (n=23)
Kemaknaan
Kontrol (n=23)
Usia ibu (tahun)
Rerata
27,43(7,31)
38,56(1,56)
Berat
Badan
1,5(0,51)
Lahir
2893,47(390,89)
0,538
1,042
0,899
0,000
1,000
0,942
0,647
1,5(0,51)
(gram)
Rerata
0,499
39,04(1,55)
Paritas
Rerata
Nilai p
28,43(6,24)
Usia kehamilan (minggu)
Rerata
t
3006,52(422,46)
Berdasarkan tabel 5.1 terlihat dari hasil uji statistik bahwa rerata usia ibu
tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kasus dan kontrol, demikian
juga dengan usia kehamilan dan paritas yang tidak jauh berbeda. Terlihat
perbedaan rerata berat badan lahir bayi, dari kelompok preeklamsi lebih rendah
dibandingkan dengan rerata berat badan bayi dari kelompok kehamilan normal,
meskipun dari hasil uji statistik tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna.
Berdasarkan usia ibu (p = 0,538), usia kehamilan (p = 0,899), paritas (p = 1,000),
berat badan lahir (p = 0,647), dengan nilai (p > 0,05). Berarti tidak ditemukan
perbedaan bermakna antara preeklamsi berat dan kehamilan normal, sehingga
karakteristik kedua kelompok dianggap homogen dan hasil pemeriksaan
selanjutnya layak untuk diperbandingkan.
5.1.2 Hasil Pemeriksaan
Semua sampel darah penelitian diperiksa kadar CGRP dengan Reagen kit
produk Burlingame, California 94010, USA, Cat: EK-051-02, Lot:604033, ED:
15 Oktober 2013.
Tabel 5.2. Perbandingan Kadar CGRP antara Preeklamsi dan Kehamilan
Normal
Variabel
CGRP
Kelompok
Kemaknaan
Preeklamsi (n=23)
Kontrol (n=23)
t
Nilai p
0,0922(0,13)
1,2856(3,99)
1,430
0,004
Pada tabel 5.2 dapat dilihat perbedaan kadar CGRP pada kelompok
preeklamsi dan kelompok kontrol. Dengan uji tes t independen pada derajat
kemaknaan 5% menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar CGRP antara
kelompok preeklamsi
dengan kelompok kehamilan normal secara bermakna
dengan nilai p = 0,004 (nilai p < 0,05)
BAB VI
PEMBAHASAN
Karakteristik subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
meliputi usia ibu, usia kehamilan, paritas dan berat badan lahir. Karakteristik
tersebut digunakan karena karakter tersebut berperan sebagai faktor risiko pada
kejadian preeklamsi yang berpotensi menjadi variabel perancu yang dapat
mempengaruhi validitas penelitian. Untuk mengurangi kerancuan yang meungkin
terjadi, maka digunakan penderita dan control dengan karakteristik yang
homogen. Sedangkan berat badan lahir dimasukkan untuk mendapat gambaran
perbedaan berat badan bayi baru lahir antara kelompok penderita dan kelompok
kontrol.
Pada tabel 5.1 menyajikan karakteristik subyek penelitian. Pada kedua
kelompok baik dari segi usia ibu, usia kehamilan dan paritas tidak ditemukan
perbedaan bermakna, sehingga hasil pemeriksaan selanjutnya layak untuk
diperbandingkan.
Rerata berat badan bayi yang dilahirkan dari ibu yang preeklamsi lebih
rendah dibandingkan rerata berat badan bayi yang dilahirkan dari yang tidak
mengalami preeklamsi. Meskipun dari analisa statistik tidak menunjukkan
perbedaan yang bermakna, tetapi dapat dilihat bahwa preeklamsi juga
mempengaruhi rerata berat badan bayi yang dilahirkan. Arshad (2011)
melaporkan bahwa hipertensi dalam kehamilan tidak mempunyai efek yang
bermakna terhadap berat badan bayi baru lahir. Jika preeklamsi terjadi pada usia
kehamilan mendekati aterm (late onset preeclampsia), patogenesis yang terjadi
tidak berhubungan dengan penurunan sirkulasi uteroplasenta. Preeklamsi
meningkatkan risiko terjadinya berat badan lahir rendah melalui risiko terjadinya
persalinan preterm, tetapi tidak secara langsung mepengaruhi berat badan lahir
terutama jika kehamilan sudah mencapai aterm.
Pada tabel 5.2 terlihat perbedaan rerata hasil pemeriksaan kadar CGRP
dalam serum maternal antara preeklamsi dan kehamilan normal. Rerata kadar
CGRP pada kelompok preeklamsi adalah 0,0922, sedangkan pada kehamilan
normal sebesar 1,2856. Penelitian yang dilakukan oleh Dong (2006) menunjukkan
rerata kadar CGRP pada kelompok preeklamsi adalah sebesar 2,30 pmol/L,
sedangkan pada kehamilan normal sebesar 3,80 pmol/L. Kadar CGRP yang lebih
rendah berakibat pada peningkatan tahanan vaskular sehingga berakibat
peningkatan pada tekanan darah.
Mao (2004) menyebutkan bahwa human CGRP (hCGRP) dengan aliran
545 pmol/menit dapat mengakibatkan penurunan tekanan diastolic dari 64
menjadi 55 mmHg, denyut jantung meningkat dari 61 menjadi 87 kali/menit dan
suhu tubuh meningkat dari 34 menjadi 350C. Hal ini menjelaskan tentang
perubahan yang terjadi pada ibu hamil, seiring dengan bertambahnya usia
kehamilan kadar CGRP semakin meningkat sehingga terjadi penurunan tahanan
vaskular dan penurunan tekanan diastolik. Pada preeklamsi, karena terdapat kadar
CGRP yang lebih rendah dari kehamilan normal maka tekanan darah akan
meningkat.
Gangula (1999) menunjukkan bahwa dengan pemberian CGRP dengan
dosis 90 pmol/kg berat badan pada tikus akan mengakibatkan penurunan mean
arterial blood pressure (MAP), dan efek maksimal didapatkan jika dosis
dinaikkan menjadi 360 pmol/kg berat badan. Penurunan MAP ini secara
bermakna lebih besar pada tikus hamil dibandingkan tikus tidak hamil. Hal ini
menunjukkan bahwa peran CGRP dalam menurunkan tekanan darah lebih besar
pada keadaan hamil. CGRP mempunyai efek vasodilator yang 1000 kali lebih
kuat dibandingkan vasodilator ini. Penurunan kadar CGRP pada kehamilan akan
berakibat terjadinya peningkatan tekanan darah.
Dong (1999) menunjukkan bahwa CGRP juga terlibat dalam pengaturan
relaksasi otot polos uterus. CGRP secara bermakna dapat menghambat kontraksi
baik yang timbul spontan maupun kontraksi akibat pengaruh oksitosin.
Sensitivitas myometrium terhadap CGRP meningkat selama kehamilan dan
menurun setelah persalinan. Kadar CGRP pada wanita hamil sebesar 5,3 mol/L
dapat menghambat kontraksi myometrium yang dihasilkan oleh rangsangan
oksitosin. Hal ini juga menjelaskan bahwa pada preeklamsi dengan kadar CGRP
yang lebih rendah dibandingkan kehamilan normal, lebih mudah untuk
mengalami persalinan preterm atau pada preeklamsi respon terhadap oksitosin
lebih baik dibandingkan kehamilan normal.
6.1 Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian dan pemaparan di atas menunjukkan adanya keterbatasan
yang dihadapi pada saat pelaksanaan penelitian. Hal ini menyebabkan kurang
sempurnanya hasil yang didapat. Beberapa keterbatasan yang dihadapi peneliti
dalam pengerjaan penelitian ini diantaranya pemeriksaan kadar CGRP pada ibu
hamil hanya satu dari sekian banyak penyebab peningkatan tekanan darah pada
preeklamsi, sehingga meskipun CGRP merupakan vasodilator yang poten tetapi
mengapa kadarnya dalam preeklamsi menurun, tidak dapat diketahui dari hasil
penelitian ini. Karena penelitian ini menggunakan sampel ibu hamil dengan usia
kehamilan yang aterm, maka penelitian ini juga tidak mampu menjawab apakah
kadar CGRP ini memang rendah saat awal terjadi kehamilan pada preeklamsi,
ataukah perubahan ini terjadi setelah diagnosis preeklamsi ditegakkan.
Metodelogi penelitian ini dilakukan secara kasus kontrol mengingat keterbatasan
dana dan waktu, untuk mengetahui penurunan kadar CGRP perlu dilakukan
metodelogi penelitian secara kohort, sehingga dapat mengetahui apakah kadar
CGRP yang rendah saat kehamilan akan mengakibatkan preeklamsi.
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa rerata kadar CGRP pada
preeklamsi dengan kehamilan aterm (0,0922 ng/mL) dan rerata kadar CGRP pada
kehamilan normal (1,2856 ng/mL). Perbedaan ini secara statistik bermakna
dengan nilai p = 0,004 (nilai p < 0,05).
Penurunan kadar CGRP sebagai vasodilator endogen yang sangat poten
pada preeklamsi, berperan dalam kejadian peningkatan tekanan darah.
7.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai CGRP sebagai
vasodilator endogen, mengingat faktor endogen merupakan reaksi tubuh terhadap
sesuatu kejadian sehingga banyak faktor lain yang mempengaruhi penurunan
kadar CGRP. Selain mencari penyebab spesifik penurunan kadar CGRP pada
preeklamsi, juga perlu dilakukan penelitian dengan desain penelitian yang berbeda
untuk dapat menentukan titik potong sehingga kadar CGRP dapat dijadikan
biomarker terjadinya preeklamsi.
Saat ini di beberapa Negara maju sudah dapat membuat ekstrak CGRP
yang dapat digunakan sebagai pengobatan pada hipertensi, sehingga dengan
mengetahui kadar CGRP pada preeklamsi maka pemberian CGRP untuk
menurunkan tekanan darah pada preeklamsi dapat dipertimbangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Abubakar A, Abdullahi RA, Jibril HZ, et al. 2009. Maternal Ethnicity and
Severity of Pre-Eclampsia in Northern Nigeria. Asian Journal of Medical
Science 1(3): 104-107.
Aukes AM. 2011. Eclampsia & Preeclampsia, Causes and Long-term
Consequences
of
Maternal
Brain
Involvement.
Proefschrift,
Rijksuniversiteit Groningen.
Arshad A, Pasha W, Khattak TA, et al. 2011. Impact of Pregnacy Induced
Hypertension on Birth Weight of Newborn at Term. Journal of Rawalpindi
Medical College (JRMC);15(2):113-115.
Brain SD, Grant AD. 2004. Vascular Actions of Calcitonin Gene-Related Peptide
and Adrenomedulin. Physiol Rev 84:903-934.
Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, et al. 2010. Williams Obstetrics. 23rd
Edition. New York : McGraw-Hill.
Dong YL, Fang L, Kondapaka S, et al. 1999. Involvement of calcitonin generelated peptide in the modulation of human myometrial contractility during
pregnancy. The Journal of Clinical Investigation, September, volume 104,
Number 5; 559-65.
Dong YL, Green KE, Vegiragu S, et al. 2005. Evidence for Decreased Calcitonin
Gene
Related
Peptide
(CGRP)
Receptors
and
Compromised
Responsiveness to CGRP of Fetoplacental Vessels in Preeclamptic
Pregnancies. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism
90(4):2336-2343.
Dong YL, Chauhan M, Green KE, et al. 2006. Circulating calcitonin gene-related
peptide and its placental origins ini normotensive and preeclamptic
pregnancies. American Journal of Obstetrics and Gynecology, 195 : 165767.
Fang R, Dawson A, Lohsoonthom V, et al. 2009. Risk factors of early and late
onset preeclampsia among Thai women. Asian Biomedicine Vol. 3 No. 5
October; 477-486.
Gangula PRR, Zhao H, Supowit S, et al. 1999. Pregnancy and steroid hormones
enhance the vasodilatation responses to CGRP in rats. Am. J. Physiol. 276
(Heart Circ. Physiol. 45) H284-288.
Ghatta S, Nimmagadda D. 2004. Calcitonin gene-related peptide: Understanding
its role. Indian J Pharmacol, October, Vol 36, Issue 5; 277-283.
Gilstrap III LC, Ramin SM. 2002. Diagnosis and Management of Preeclampsia
and Eclampsia. ACOG Practice Bulletin. Number 33, Vol. 99, No. 1 : 15967.
Hladunewich M, Karumanchi SA, Lafayette R. 2007. Pathophysiology of the
Clinical Manifestation of Preeclampsia. Clinical Journal of the Ameican
Society of Nephrology 2: 543-549.
Iou SG, Eskandari M, Dabiri A. 2005. Evaluation of Androgen Levels of Women
with Preeclampsia in Third Trimester. Medical Journal of Islamic World
Academy of Sciences 15:1, 19-22.
Kiondo P, Maina GW, Bimenya GS, et al. 2012. Risk factors for pre-eclampsia in
Mulago Hospital, Kampala, Uganda. Tropical Medicine and International
Health. Volume 17 no 4 PP 480-487, April.
Ma H. 2004. Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP). Nature and Science, 2(3),
Ma, Calcitonin Gene-Related Peptide.
Myers J, Brockelsby. 2004. The epidemiology of pre-eclampsia. In : Baker PN,
Kingdom JCP. Pre-eclampsia current perspectives on management. 1st
edition. New York : Parthenon Publishing; 25-35.
Ohonsi AO, Ashimi AO. 2008. Pre-Eclampsia – A Study of Risk Factors.
Nigerian Medical Practitioners vol. 53 No 6: 99-102.
Pokharel SM, Chattopadhyay SK, Jaiswal R, et al. 2008. HELLP Syndrome – a
pregnancy disorder with poor prognosis. Nepal Med Coll J; 10(4):260-263.
Pratama D, Jusuf S, Anwar AD. 2011. Correlation of Inhibin A serum Level with
Preeclampsia. Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology, vol. 35,
No. 1, 36-9, January.
Roberts JM, Funai EF. 2009. Pregnancy-Related Hypertension. In : Creasy RK,
Resnik R, Iams JD, et al. Creasy & Resnik’s Maternal – Fetal Medicine.
Sixth Edition, 651-90.
Sibai BM. 2003. Diagnosis and Management of Gestational Hypertension and
Preeclampsia. High-Risk Pregnancy Series: An Expert’s View. Vol. 102,
No. 1, July. The American College of Obstetricians and Gynecologists.
Taspinar AE, Franx A, Delprat CC, et al. 2006. Water immersion in preeclampsia.
American Journal of Obstetrics and Gynecology, 195 : 1590-5.
WHO recommendations for Prevention and treatment of pre-eclampsia and
eclampsia. 2011. World Health Organization.
Download