ANALISIS WACANA NASKAH DRAMA ESOK, DI NERAKA

advertisement
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
ANALISIS WACANA NASKAH
DRAMA ESOK, DI NERAKA
Denik
Wirawati
Universitas Ahmad Dahlan,
Yogyakarta [email protected]
Abstrak
The analysis of discourse drama “Esok di Neraka” is analysis which recite
the cosehiveness between cohesion and coherence in every dialog in that
manuscript. The other aims of this analys is to describe part of instrument and
shape of cohesion and coherence. The benefit of this research teoritically, used to
the reader who want to research the discourse of drama. Beside that, reader can
understand linguistic aaspects in that discourse.
Keywords: discourse drama, cohesion and coherence
A. Pendahuluan
Keberadaan naskah drama, sesungguhnya tidak dapat diabaikan dari jagad teater
tanah air. Teater modern dan teater tradisional di Indonesia, salah satu unsur pembeda yang
utama adalah ada atau tidaknya naskah yang dimainkan. Diketahui bahwa teater tradisional
menjumpai publiknya berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat
(sastra lisan), kemudian dimainkan dengan tingkat spontanitas dan improvisasi yang tinggi..
Pentingnya naskah lakon sebagai bagian dari teater Indonesia kurang disadari.
Naskah seolah-olah hanya bagian dari sastra saja, sementara di dunia sastra sendiri naskah
identik dengan teater. Akibatnya, sedikit sekali sastrawan yang bergiat di lapangan
penulisan naskah, mungkin karena menganggap naskah lakon lebih merupakan wilayah
teater. Sebaliknya, tidak banyak pula teaterawan yang menulis naskah sendiri, karena
kentalnya anggapan bahwa penulisan, termasuk naskah drama, lebih merupakan wilayah
sastra.
Naskah Esok, di Neraka merupakan hasil kreatif yang dihasilkan oleh penulis muda
dan naskah ini merupakan naskah pemenang juara pertama lomba penulisan naskah lakon
PEKSIMINAS ( Pekan Seni Mahasiswa Nasional) di Lampung. Sebagai pemahaman
wacana diperlukan analisis kepaduan kohesi koherensi. . Sebagaimana ditegaskan pula oleh
Halliday dan Hasan (1992: 6) bahwa jalan menuju pemahaman tentang bahasa terletak
75
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
dalam kajian teks(wacana). Hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana tulis tersusun
berkesinambungan dan membentuk suatu kepaduan. Oleh karena itu, kepaduan makna dan
kerapian bentuk pada wacana tulis merupakan salah satu faktor yang penting dalam rangka
meningkatkan tingkat keterbacaan. untuk itu diperlukan suatu pembahasan
yang
menyangkut keterkaitan antara kepaduan yaitu dengan menganalisis naskah Esok, di
Neraka peranti Kohensi dan Koherensi dengan teori Halliday dan Hassan yang dijabarkan
kembali oleh Sumarlam.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dikemukakan bahwa pokok masalah
dari penelitian ini adalah Peranti kohesi dan koherensi sebagai penghubung wacana tulis
dalam naskah drama Esok, di Neraka. Dari pokok masalah itu dapat identifikasikan beberapa
rumusan masalah berikut ini. (1) Jenis peranti kohesi dan koherensi apa yang terdapat pada
wacana tulis di nakah drama Esok, di Neraka? (2) Bagaimana wujud penanda kohesi dan
koherensi yang terdapat pada wacana tulis nakah drama Esok, di Neraka?
Berdasarkan
rumusan
masalah
di
atas,
maka
penelitian
ini
bertujuan
(1)
Mendeskripsikan Jenis peranti kohesi dan koherensi apa yang terdapat pada wacana tulis di
nakah drama Esok, di Neraka. (2) Mendeskripsikan wujud penanda kohesi dan koherensi
yang terdapat pada wacana tulis nakah drama Esok, di Neraka.
Secara teoritis metode dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dapat
bermanfaat bagi peneliti wacana naskah drama lainnya yang sejenis. Selain itu, diharapkan
menjadi sumber informasi tentang jenis dan tipe peranti kohesi dan koherensi baik dalam
tataran antarparagaf maupun antar kalimat.
Secara praktis, kepada pemakai naskah drama, dapat diketahui aspek-aspek linguistik
apa yang digunakan dalam naskah drama, komentar atau testimoni dalam naskah drama.
Sehingga hasil penelitian dapat dijadikan salah satu bahan pertimbangan dalam penulisan
naskah drama.
MK Haliday dan Ruqayah Hassan (1976:1) menyatakan bahwa :
A text is a unit of language in use. It is not a grammatical unit, like a clause or
sentence; and it is not defined by its size. A text is sometimes envisaged to be some
kind of super-sentence, a grammatical unit that is larger than a sentence but it is
related to a sentence in the same way that a sentence is related to a clause, a clause
to a group and so on.
Kata “drama” mempunyai arti yang luas. Dalam Dictionary of World Literature, kata
76
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
“drama” berarti segala pertunjukkan yang memakai mimic (any kind of mimetic performace).
Menurut Encyclopaedia Britanica, kata “drama” alias tulis (transliteration) dari kata Yunani
yang berarti perbuatan atau pertunjukkan (a thing done or performend), dan teater adalah alih
tulis dari kata Yunani yang berarti tempat peninjauan (Brahim, 1968:51).
JS Badudu (dalam kolom Harian Kompas) menyatakan bahwa kata wacana merupakan
kata serapan yang digunakan sebagai pemadan kata dari bahasa Inggris discourse. Oleh
kalangan akademisi, terutama di perguruan tinggi, wacana sering digunakan dalam pengertian
nomor 2 dan nomor 3 di atas. Kalau dalam surat kabar dikatakan "menurut wacana yang
beredar", pemakaian itu masih dapat diterima dengan pengertian seperti pada nomor 1:
perkataan, ucapan, atau tuturan. Dalam arti seperti itu kata wacana dapat dipakai.
Wacana adalah unsur gramatikal tertinggi yang direalisasikan dalam bentuk karangan
yang utuh dan dengan amanat yang lengkap dengan koherensi dan kohesi yang tinggi.
Wacana utuh harus dipertimbangkan dari segi isi (informasi) yang koheren sedangkan sifat
kohesifnya dipertimbangkan dari keruntutan unsur pendukungnya yaitu bentuk. Menurut
Fokker (1951:4) pula, hubungan kesinambungan cerita itu dapat menunjukkan secara nahuan,
iaitu perujukan (verwijzing), kata-kata penghubung (verbindingswoorden) dan pengguguran
(ellips). Kesatuan makna dalam wacana seperti yang diterangkan di atas akan dilihat dari segi
makna logik dan makna tautan.
Menurut Halliday dan Hasan (1976:5) bahwa kohesi merupakan satu set kemungkinan
yang terdapat dalam bahasa untuk menjadikan suatu 'teks' itu memiliki kesatuan. Hal ini
berarti bahwa hubungan makna baik makna leksikal maupun makna gramatikal, perlu
diwujudkan secara terpadu dalam kesatuan yang membentuk teks.
Kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan itu kohesi adalah
'organisasi sintaktik'. Organisasi sintaktik ini adalah merupakan wadah ayat-ayat yang disusun
secara padu dan juga padat. Dengan susunan demikian organisasi tersebut adalah untuk
menghasilkan tuturan. Ini bermaksud bahawa kohesi adalah hubungan di antara ayat di dalam
sebuah wacana, baik dari segi tingkat gramatikal maupun dari segi tingkat leksikal tertentu.
Sumarlam (2009: 23-34) mengemukakan secara terperinci aspek gramatikal sebagai
berikut.
1. Pengacuan atau Referensi
77
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
Yaitu, salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu
pada satuan lain (atau satuan acuan) yang mendahului atau
mengikutinya.berdasarkan
tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teksatau di luar teks,
maka pengacuan
dibedakan menjadi dua jenis : (1) pengacuan endofora apabila acuannya (satuan lingual
yang diacu) berada atau terdapat dalam teks wacana itu, dan (2) pengacuan eksofora apabila
acuannya terdapat diluar teks wacana.
Pengacuan persona direalisasikan melalui pronominal persona (kata ganti orang),
yang meliputi persona pertama (persona I), kedua persona II), dan ketiga persona III, baik
tunggal maupun jamak. Pronominal persona I tunggal, II tunggal, dan III tunggal ada ang
berupa bentuk bebas yang berupa bentuk terikat ada yang melekat disebelah kiri (lekat kiri)
dan ada yang melekat disebelah kanan (lekat kanan). Dengan demikian, satuan lingual aku,
kamu, dan dia, misalnya masing-masing merupakan pronominal persona I, II, dan III
tunggal bentuk bebas.. adapun bentuk terikat adalah ku- (misalnya pada kutulis), dan –nya
(pada istrinya), yang masing-masing terletak pada lekat kanan.
Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
pronominal demonstrative waktu (temporal) dan pronominal demonstratif tempat
(lokasional). Pronominal demonstrative waktu ada yang mengacu pada waktu kini (seperti
kini dan sekarang), lampau (seperti kemarin dan dulu), akan datang (seperti besok dan yang
akan datang), dan waktu netral (seperti pagi dan siang). Sementara itu pronominal
demonstratif tempat ada yang mengacu pada tempat atau lokasi yang dekat dengan
pembicara (sini, ini), agak jauh dengan pembicara (situ, itu), jauh dengan pembicara
(sana), dan penunjuk tempat secara eksplisit (Surakarta, Yogyakarta). Klasifikasi
pronominal demonstrative tersebut dapat diilustrasikan dalam bentuk bagan sebagai
berikut.
Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang
bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari
segi bentuk/wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya. Kata-kata yang biasa
digunakan untuk membandingkan misalnya seperti, bagai, bagaikan, laksana, sama dengan,
tidak berbeda dengan, persis seperti, dan persis sama dengan.
78
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
Penyulihan atau subtitusi ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa
penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan lingual lain dalam
wacana untuk memperoleh unsur pembeda, meliputi:
a. subsitusi nominal adalah penggantian satuan lingual berkategori nomina (kata benda)
dengan satuan lingual lain yang juga berkategori nomina, misalnya kata sederajat,
tingkat diganti dengan pangkat, kata gelar diganti dengan title;
b. substitusi verbal verbal adalah pengganti satuan lingual yang berkategori verba (kata
kerja) dengan satuan lingual lainnya yang juga berkategori verba;
c. substitusi frasal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa
dengan satuan lingual lainnya yang berupa frasa;
d. substitusi klausal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa klausa atau
kalimat dengan satuan lingual lainnya yang berupa kata atau frasa;
e. pelepasan (elepsis) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan
atau pelepasan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur satuan
lingual yang dilesapkan itu dapat berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat.
Adapun fungsi pelesapan dalam wacana antara lain ialah untuk (1) menghasilkan
kalimat yang efektif, (2)efisiensi,
yaitu
untuk
mencapai
nilai
ekonomis
dalam
pemakaian bahasa, (3) mencapai aspek kepaduan wacana, (4) bagi pembaca/pendengar
berfungsi untuk mengaktifkan pikirannya terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam
satuan bahasa, dan (5) untuk kepraktisan berbahasa terutama dalam berkomunikasi secara
lisan.
2. Perangkaian (konjungsi)
Konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara
menghubungkan unsure yang satu dengan unsure yang lain dalam wacana. Unsure yang
dirangkaikan dapat berupa satuan lingual kata, frasa, klausa, kalimat, dan juga berupa
unsure yang lebih besar dari itu, misalnya alenia dengan pemarkah lanjutan, dan topic
pembicaraan dengan pemarkah alih topic atau pemarkah disjungtif.
Kepaduan wacana selain didukung oleh aspek ramatikal atau kohesi gramatikal juga
didukung oleh aspek leksikan atau kohesi leksikal. Kohesi leksikal adalah hubungan
antarunsur dalam wacana secara semantic. Dalam hal ini, untuk menghasilkan wacana yang
padu pembicara atau penulis dapat menempuhnya dengan cara memilih kata-kata yang sesuai
79
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
dengan isi kewacanaan yang dimaksud. Hubungan kohesif yang diciptakan atas dasar aspek
leksikal, dengan pilihan kata yang serasi, menyatakan hubungan makna atau relasi semantik
antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain dalam wacana.
80
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
Sedangkan Sumarlam (2009: 35-) mengemukakan secara terperinci aspek gramatikal
sebagai berikut.
1. Repetisi
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian
kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Repetisi meliputi: a) epizeuksis ialah pengulangan satuan lingual (kata) yang dipentingkan
beberapa kali secara berturut-turut; b) tautoses ialah penglangan satuan lingual (sebuah
kata) beberapa dalam sebuah kontruksi; c) anafora adalah
pengulangan satuan lingual
yang berupa kata atau frasa pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya; d) epistrofa
adalah pengulangan satuan lingual kata/frasa pada akhir baris (dalam puisi) atau akhir kalimat
(dalam prosa) secara berturut-turut; e) simploke adalah pengulangan satuan lingual pada awal
dan akhir beberapa baris/kalimat berturut-turut; f) mesodiplosis adalah pengulangan satuan
lingual ditengah-tengah baris atau kalimat secara berturu-turus; g) epanalepsis adalah
pengulangan satuan lingual, yang kata/frasa terakhir baris/kalimat itu merupakan pengulangan
kata/frasa pertama; dan h) anadiplosis adalahpengulangan kata/frasa terakhir dari baris/kalimat
itu menjadi kata/frasa pertama pada baris/ kalimat berikutnya.
2. Sinonimi
Sinonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama. Ungkapan
yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain.sinonimi merupakan aspek leksikal
yang mendukung wacana. Sinonimi berfungsi menjalin hubungan makna yang sepadan antara
satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana. Berdasarkan wujud satuan
lingualnya, sinonimi dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu (1) sinonimi antar
morfem (bebas) dengan morfem (terikat), (2) Kata dengan kata (3) kata dengan frasa atau
sebaliknya, (4) frasa dengan frasa, (5) klausa/ kalimat dengan klausa/ kalimat.
3. Antonimi (lawan kata)
Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk suatu benda atau hal yang lain;
atau satuan lingual yang maknanya berlawanan/beroposisi dengan satuan lingual yang lain
antonimi disebut juga oposisi makna.
B. Metode Penelitian
81
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
Penelitian yang dilakukan bersifat kualitatif, data penelitian adalah data kualitatif, yakni
data yang berbentuk verbal (narasi, deskripsi atau cerita). Penelitian kualitatif tidak memiliki
rumus yang bersifat mutlak untuk mengolah dan menginterpretasikan data, tetapi berupa
pedoman untuk mengorganisasikan data, pengkodean (kodifikasi) dan analisis data,
penghayatan dan pengkayaan teori, serta interpretasi data. Bogdan dan Tylor (dalam
Moleong, 1989: 3) mendiskripsikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan, tentang orang-orang yang
diamati
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode agih yang dimaksudkan
oleh Sudaryanto (1993: 15).
Metode agih, yaitu dengan alat penentu dari bahasa yang
bersangkutan itu sendiri. Pada tahap ini, metode digunakan dalam upaya menemukan kaidah.
Sementara itu, dalam buku Diatesis, disebutkan bahwa metode yang dipakai dalam
menganalisa data adalah metode distribusional dan metode identitas.
Pada analisis wacana untuk menganalisis dan menginterpretasi teks menggunakan teori
analisis wacana Halliday dan Hasan sebagai dasar analisis kohesi dan koherensi. Teori
tersebut mengalami penyesuain dengan objek penelitian berupa wacana naskah drama Esok,
di Neraka.
C. Hasil dan Pembahasan
Kohesi Pengacuan Pronomina
1. Pengacuan Persona
Pronomina persona pertama tunggal bentuk bebas aku mengacu pada pelaku yang hadir
didalam teks drama. Seperti kutipan di bawah ini.
1) Amos: (menyerang tiba-tiba dan mencekik leher Jean). “Aku paling tidak suka kalau aku
bertanya tetapi tidak dijawab!” (Esok, di Neraka, hal. 5)
2) Tonino: “Tidak...aku tidak mau mati di sini. Aku tidak bersalah. Hey!!! Hey!! (berteriak
ke arah luar sel) aku bukan mata-mata, aku bukan penjahat, aku tidak bersalah!aku tidak
boleh mati! Tuhan yang di atas sana jangan diam, katakan pada mereka aku ini orang
baik! Katakan Tuhan!! Katakan!!” (Esok, di Neraka, hal. 8)
Pronomina persona pertama aku, mengacu pada pelaku yaitu: Amos, kemudian kata aku
pada konteks mengacu pada pelaku yang bernama Jean Pierre, dan aku juga mengacu pada
82
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
Tonino. Pada drama tersebut juga terdapat pronomina persona kedua yaitu diandai dengan kata
kau dan kamu perhatikan kutipan di bawah ini:
1) Jean Pierre: “ Diam!! Kau terlalu banyak bicara!” (Esok, di Neraka, hal 6)
Pembahasan: kata kau mengacu pada tokoh Amos.
2) Tonino: “ Apapun yang kamu tanyakan tidak akan dia jawab .....(Esok, di Neraka, hal. 14).
Pada tuturan drama itu juga terdapat pronomina persona ketiga tunggal bentuk terikat
lekat kanan-nya yang bersifat endofora dan anaforis.
1) Amos: (Melompat dan langsung mengangkat tangannya memukul Tonino dan berteriak
lantang) “ Demi Tuhan ! Diamlah!! Dunia ini sangat Berisik! (memukuli Tonino hingga
tak berteriak lagi). (Esok, di Neraka, hal. 9).
Pembahasan: -nya mengacu pada Amos. Lebih jelasnya mengacu pada kepemilikan,
yaitu tangan milik Amos.
2) Amos: “Aku berharap dia cepat mati” (Esok, di Neraka, hal. 14)
Pembahasan: dia mengacu kepada kakek tua.
3) Jean Pierre: (diam sesaat dan hanya menunduk) “ Ya...mungkin saja otak kita sedang
berkabut “(duduk dipojok sel sambil termenung) (Esok, di Neraka, hal.9).
4) Jean Pierre: (mengacuhkan Tonino, lalu bertanya pada kakek tua itu) “Hey...kau tidak apaapa?..sudah berapa lama mereka menyiksamu seperti ini? (kakek tua itu hanya diam tak
menjawab, memandangpun tidak) (Esok, di Neraka, hal. 13)
Di dalam teks drama Esok, di Neraka ini hampir semua bentuk pronomina persona
digunakan. Pada hakikatnya teks drama yang terbentuk dialog (antar tokoh) itu menggunakan
pronomina persona di dalam percakapannya. Aku, Ku dipergunakan untuk pembicara, sedangkan
Kau, Kamu, Kita digunakan untuk mitra bicara, dia, -nya, mereka, untuk orang yang dibicarakan.
Pada umumnya endofora yang bersifat anaforis.
4. Penunjuk
a. Amos: “memang kalau dipikir-pikir ini cerita lucu sekaligus mengharukan (cerita
humor kasar) waktu aku kecil aku sering menonton sandiwara tapi tak ada yang selucu
ini...ha..ha...aku pernah menonton cerita bodoh, kalian tahu? Seorang peramal tua yang
meramal dirinya sendiri” (Esok,di Neraka, hal. 10). Pembahasan: pengacu pada hal
umum terdapat pada teks drama tersebut, ditandai adanya ini pada kalimat yang
83
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
mengarah pada „cerita‟. Sedangkan kata “waktu aku kecil‟ menunjukkan waktu
lampau yaitu dahulu.
b. Tonino: “Entahlah, aku juga tak tahu, yang aku tahu, dia di sini lebih lama dariku”
(Esok, di Neraka, hal. 14)
Penunjuk tempat dalam teks Esok, di Neraka ditunjukkan adanya penunjuk tempat yang
dekat dengan penutur digunakan bentuk di sini.
c. Amos: “Kenapa kau belum juga mengerti, kalau tempat ini bukan untuk orang yang
salah atau tidak! Tapi di sini tempat yang ditakdirkan untuk kita mati!”( Esok, di Neraka,
hal.16). Pada contoh ke 3 dan 4 terdapat penunjuk tempat yang dekat, yaitu di sini dan
juga terdapat waktu yang menunjukkan akan datang, digunakan kata besok.
d. Amos: (menatap Jean Pierre dan diam sejenak) seandainya aku mengungkapkan
segala kebenaranku, Tuhan pasti akan menertawakannya karena itu hanya basa-basi yang
klise. Entah sudah berapa banyak orang yang sudah aku bunuh, mungkin di neraka sana
mereka sudah siap menyambutku dengan cambuk api” (Esok, di Neraka, hal. 14).
Penunjuk tempat yang mengacu lokasi yang jauh dari penutur lain menggunakan bentuk, di
sana seperti pada contoh 5.
5. Penyulihan (subtitusi)
Di dalam teks Esok, di Neraka penyulihan terdapat bebrapa, antara lain:
a. Tonino: “Hey tuan tamu, kapan kau akan dipotong? Eh....maksudku di penggal.
Tidak, tidak...itu terlalu kasar. Aku ingat hakim menyebutnya apa itu namanya?
Ehm...dieksekusi! Ya...ya eksekusi” (Esok, di Neraka, hal. 9).
b. Amos: “Ha...ha...setidaknya kau tidak akan mati sendiri Tonino, kita akan pergi
bersama-sama keneraka” (Esok, di Neraka, hal. 10).
b. Amos: “Aku percaya senandungmu itu adalah senandung kebebasan. Sebenarnyaaku
suka mendengar
kau
bernyanyi
dengan
sepenuh
hati,
meski
aku
tak
bisa
menyanyikannya seperti itu” (Esok, di Neraka, hal. 22).
Penyulihan pada teks Esok, di Neraka untuk menunjukkan variasi sehingga tidak monoton.
Penyulihan itu berupa verna, supaya pembaca tidak jenuh.
6. Pelesapan (Elipsis)
Pelesapan yang dijumpai di dalam teks Esok, di Neraka meliputi pelepasan prefiks, sufiks, suku
kata, kata, dan kelompok. Perhatikan contoh berikut.
84
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
1) Amos: (Diam sesaat sambil menunduk) “Sengaja ataupun tidak, dunia telah menantang
kita dengan waktu dan takdir yang kadang kita sendiripun tak menerima Ø. Lupakan
dunia!...lupakan masa lalu dan kenangan serta dendam yang membara dimatamu itu, tidak sopan
rasanya Ø bicara tentang dunia disini, tentang sebab atau akibat. Tak beda seperti stasiun kereta
api, disini kita sudah mendapatkan tiket dan tahu kapan kita berangkat saat kereta datang dan
membawa kita keneraka. Terlepas dari salah atau tidak, apabila sengaja atauØ tidak, itu tak lebih
hanya Ø omong kosong dan...” (Esok, di Neraka, hal. 6).
Kutipan tersebut secara ideal/utuh seharusnya berbentuk seperti di bawah ini.
a. Amos: (Diam sesaat sambil menunduk) “Sengaja ataupun tidak, dunia telah menantang kita
dengan waktu dan takdir yang kadang kita sendiripun tak menerimanya. Lupakan
dunia!...lupakan masa lalu dan kenangan serta dendam yang membara dimatamu itu, tidak
sopan rasanya jika bicara tentang dunia disini, tentang sebab atau akibat. Tak beda seperti
stasiun kereta api, disini kita sudah mendapatkan tiket dan tahu kapan kita berangkat saat
kereta datang dan membawa kita keneraka. Terlepas dari salah atau tidak, apabila sengaja
ataupun tidak, itu tak lebih hanya sekedar omong kosong dan...” (Esok, di Neraka, hal. 6).
7. Perangkaian (konjungsi)
Untuk mengubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain di dalam teks Esok, di Neraka
digunakan konjungsi. Konjungsi itu menunjukkan fungsi masing-masing. Contoh sebagai
berikut.
a.
Amos: “ Bermimpi indahlah sebelum mimpi itu menjadi nyata atau mengutukmu” (Esok,
di Neraka, hal. 7).
Pembahasan: pada dialog di atas konjungsi menyatakan pilihan (alternatif) ditandai dengan
kata atau.
b.
Tonino: “ Aku memandang kalian dan sedang berfikir, kita tinggal disini untuk satu hari
lalu besok akan mati seperti bebek bersama-sama...Gila!” (Esok, di Neraka, hal 11).
Pembahasan: konjungsi dan pada dialog di atas menyatakan penambahan (aditif) dengan
kata dan.
c.
Amos: (Menatap Jean dan diam sejenak) “Seandainya aku mengungkapkan segala
kebenaranku, tuhan pasti akan menertawakannya karena itu hanya basa-basi yang klise.
Entah sudah berapa banyak orang yang sudah aku bunuh, mungkin di neraka sana mereka
sudah siap menyambutku dengan cambuk api” (Esok, di Neraka, hal. 14).
Pembahasan: konjungsi dengan pada dialog diatas menyatakan cara.
85
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
d.
Sipir III: “Hey bangun pemalas! Nikmatilah makanan terakhir kalian! (lalu membangunkan
kakek tua dengan memukul-mukul wajahnya) hey bangun tua...bangun! (Orang tua itu
tidak bangun jua) baiklah kalau tidak mau makan aku tidak akan membuka rantainya!
Kalau mau makan jilat saja seperti anjing! (Amos, Tonino dan Jean langsung menatap sipir
itu benci dan sipir itupun langsung pergi). (Esok, di Neraka, hal. 20).
Pembahasan: konjungsi pada dialog di atas yaitu konjungsi kalau yang menyatakan syarat.
e.
Jean Pierre: “ Kalau begitu jangan menawarkan apapun!” (Kepala Jean ditutup dengan
sarung hitam dan dibawa pergi sipir II). (Esok di Neraka, hal 25).
Pembahasan: konjungsi kalau pada teks drama Esok, di Neraka menunjukkan
pengandaian.
f.
Tonino: “ Hah...lalu siapa lagi kalau bukan aku? Kamu? Mana mungkin(pada Amos) kamu
jelas-jelas pembunuh, Dia? (Pada Jean) walaupun tampangnya lugu tapi kau juga
pembunuh. Akulah satu-satunya orang yang tidak berdosa, aku tidak bersalah!” (Esok, di
Neraka, hal.16).
Pembahasan: konjungsi walaupun dalam pada naskah drama tersebut menyatakan makna
konsesif.
g.
Tonino: “Ya...ya...aku pasti tidak pergi ke neraka, aku disurga saja, pasti para malaikat
akan menyambutku dan bidadari akan memelukku, ha...ha...ya tentu saja orang jujur
sepertiku pasti akan disurga saja.ha...ha...(mondar-mandir seperti orang gila) sekarang aku
tidak mau mati, karena aku akan ke surga! Surga akan datang...!ha...ha” (batuk-batuk)
(Esok, di Neraka, hal. 18).
Pembahasan: konjungsi karena pada teks drama Esok, di Neraka menyatakan penyebab
atau sebab.
h.
Jean Piere: ( mendekati Amos dan Tonino) “ kita takut akan kematian di saat kita tau kapan
mereka datang, tapi bila kematian itu datangnya diam-diam pasti kita tak akan takut bahkan
menyepelekannya. Anggap saja kematian ini seperti kita sedang merindukan tidur dengan
sejuta mimpi indah, huh...andai kita tahu kita akan berda disini, pasti dari dulu kita akan
jadi teman”(Esok, di Neraka,hal.24). Pembahasan: konjungsi andai
pada teks di atas
menyatakan makna pengandaian pada dialog yang diucapkan oleh Jean Pierre.
i.
Sipir I: “Tentu saja bila kau sudah jadi hantu nanti ha...ha...” (membawa Amos perdi dan
menutupi kepalanya dengan sarung hitam) (Esok, di Neraka, hal. 26).
86
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
Pembahasan: konjungsi bila pada kutipan teks pada kalimat diatas menyatakan “syarat”
yang diucapkan Sipir I kepada Amos.
A. Aspek Leksikal naskah Drama
1. Repetisi (pengulangan)
Teks Esok, di Neraka karya Tri Amalia menempilkan bentuk repetisi yang beraneka ragam
bentuknya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Repetisi Epizeuksis
Yakni pengulangan satuan lingual (kata) yang dipentingkan beberapa kali secara
berturut- turut. (Sumarlam,. Ed., 2003:34). Contohnya:
Tonino: “Apa?besok jam 12 siang? (kaget dan panik) mustahil!!...mustahi!!
katakan ini
Amos
salah” (Esok, di Neraka, hal.9)
b. Repetisi Mesodiplosis yakni perulangan satuan lingual di tengah-tengah baris atau
kalimat secara berturut-turut (Sumarlam, ed., 2003: 36). Comtohnya:
Jean Pierre: (Memukul wajah Amos) “ Aku paling tidak suka disebut pembunuh! Aku
bukan pembunuh “ (Esok, di Neraka, hal. 5).
c. Repetisi Anafora, yakni perulangan satuan lingual berupa kata atau frasa pertama pada
tiap baris atau kalimat berikutnya (Sumarlam, ed., 2003: 34). Contohnya:
Tonino : (berontak) lepaskan aku!!! Lepaskan aku!! Bedebah kau. Lepaskan aku!!
Aku mau bebas!! Aku tidak mau mati Aku...tidak mau mati!” (Esok, di Neraka,
hal. 8).
Tonino : “Tidak...aku tidak mau mati di sini. Aku tidak bersalah Hey!!Hey!! (berteriak
ke arah luar sel) aku bukan mata-mata, aku bukan penjahat, aku bukan
penghianat!! Aku mohon... jangan biarkan aku mati di sini! Aku tidak
bersalah! Aku tidak boleh mati! Tuhan yang di atas sana jangan diam, katakan
pada mereka aku ini orang baik! Katakan Tuhan!!katakan!!” (Esok, di Neraka,
hal. 8).
d. Repetisi Tautotes, yakni perulangan satuan lingual (sebuah kata) berapa kali dalam sebuah
kontruksi.(Sumarlam,ed.,2003:35).Contohnya:
87
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
Amos: Ternyata orang Perancis mudah tersinggung (balas memukul perut Jean) hidup ini
memang kejam kawan. Aku tau kamu bukan seorang pembunuh bayaran sepertiku.
Hanya pembunuh kecilkan? Ha...ha.. (Esok, di Neraka, hal. 6).
2. Sinonimi
Pada teks Esok, di Neraka ditemukan adanya beberapa bentuk sinonimi, misalnya
morfem bebas dengan morfem terikat, terdapat juga sinonimi kata dengan kata.
a. Amos: “ha...ha...setidaknya kau tidak akan mati sendiri Tonino, kita akan pergi bersamasama mereka (Esok, di Neraka, hal. 10)
3. Antonimi
a. Amos: (Berdiri memandangnya dari atas ke bawah dengan pandangan sinis)”Kau benarbenar berantakan. (Berjalan, lalu duduk lagi) oh… memang apa bedanya malam atau siang?
Disini tidak ada matahari atau bulan hanya gelap. Sadarlah kau bukan didunia tuan tapi
didepan pintu neraka. (diam). Kelihatannya kamu bukan orang Spanyol?” (Esok, di Neraka,
hal. 5).
b. Amos: “Ha….ha…aku?... tidak perlu, kalaupun iya aku sudah lakukan dua puluh tahun yang
lalu. Yeah….mungkin ini cukup berat untukmu. Dulu aku beranggapan benar itu akan
menjadi benar dan salah akan menjadi salah. Tak pernah dalam mimpi sekalipun aku berada
disini. (diam) waktu kecil aku adalah orang yang baik dan kupikir dewasapun akan menjadi
orang yang baik. Sayangnya dunia tak seramah itu padaku, setelah aku menjadi orang jahat
tak pernah sedikitpun aku berfikir nantinya akan menjadi orang baik bahkan kalau aku mati.
Aku tidak pernah menyesali apapun yang aku lakukan, mungkin hatiku sudah menjadi batu
karena dunia sendiri tidak pernah menyesali apapun yang aku kerjakan, aku hanya mengikuti
prosedur hidup dengan dua pilihan, menjadi orang baik atau jahat?” (Esok, di Neraka, hal.
7).
c. Tonino: (Mendekati Amos) “Aku benci kau bercerita tentang neraka. Kau hanya seorang
pembual besar. Bagaimana mungkin orang yang bejat sepertimu bisa meramal? Bagaimana
kami bisa percaya itu. Bagaimana kau tahu aku disurga atau dineraka nanti?” (Esok, di
Neraka, hal. 10).
D. Simpulan
88
Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 1, No. 1, 2015
http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik simpulan bahwa wacana tersebut cukup kohesi
dan koheren. Kekohesian wacana pada naskah drama Esok, di Neraka terdapat kohesi dan
koherensi. Kohesi yang terdiri dari dua yaitu gramatikal dan leksikal
Aspek pengacuan gramatikal mengacu pada persona yaitu persona pertama tunggal,
persona kedua, persona ketiga. Ditandai dengan; Aku, ku dipergunakan untuk pembicara,
sedangkan Kau, Kamu, Kita digunakan untuk mitra bicara, dia, -nya, mereka, untuk orang yang
dibicarakan. Naskah Esok, di Neraka juga terdapat peranti kohesi berupa penunjuk, penyulihan,
pelesapan (Elepsisi), perangkaian (konjungsi).
Aspek leksikal pada naskah drama Esok, di Neraka juga terdapat Repetisi, Sinonimi, dan
antonimi yang keseluruhan terangkai sehingga menjadi padu dalam wacana naskah drama.
Analisis ini mengacu pada kepaduan sesuai teori Halliday dan Hassan.
Daftar Pustaka
Brahim. 1968. Drama dalam Pendidikan. Gunung Agung: Jakarta
Halliday dan Hasan. 1976. Cohession in English. New York. Longman Group Limited
Harimurti Kridalaksana. 1982. Kamus Linguistik. P.T. Gramedia: Jakarta
Harun Aminurrashid. 2001. Sinar Baru. Dewan Bahasa dan Pustaka: Bandar Seri Begawan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). 1994. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa:
Jakarta
Ramlan. 1987. Sintaksis.C.V Karyono: Yogyakarta
Sarwiji Suwandi. 2008. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya. Universitas Sebelas Maret:
Surakarta
Sumarlam. 2004. Analisis Wacana Iklan Lagu Ceper Novel Drama. Pakar Raya: Bandung
.2009. Analisis Wacana. Pustaka Cakra: Surakarta
Tri Amalia Lestari. 2006. Esok, di Neraka
http://baikoeni.multiply.com/journal/item/135
http://www.duniaesai.com/sastra/sastra9.html
89
Download