bab ii gambaran umum kabupaten tabanan

advertisement
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
BAB II
GAMBARAN UMUM KABUPATEN TABANAN
2.1 KONDISI GEOGRAFIS, TOPOGRAFI DAN GEOHIDROLOGI
Kabupaten Tabanan, salah satu kabupaten di Provinsi Bali secara geografis terletak
diantara 08o-14’ 30” - 08o 30’ 07” Lintang Selatan dan 114o 54’52” – 115o 12’ 57” Bujur
Timur. Batas-batas wilayah Kabupaten Tabanan adalah sebelah utara berbatasan
dengan Kabupaten Buleleng, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Badung
sebelah selatan Samudera Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten
Jembrana dan Buleleng. Secara detail peta orientasi kabupaten Tabanan dan peta
Geografis Tabanan dapat dilihat pada Gambar 2.1 dan 2.2.
Kabupaten Tabanan terletak pada ketinggian 0 – 2.276 m di atas permukaan laut
(dpl), dimana lahan tertinggi berada di puncak Gunung Batukaru. Topografi wilayah
Kabupaten Tabanan memiliki tiga karakteristik yang berbeda. Bagian selatan berbatasan
dengan Samudera Indonesia merupakan dataran rendah dengan topografi yang relatif
datar, di bagian tengah bergelombang, dan di bagian utara merupakan daerah perbukitan
dan pegunungan dimana terdapat beberapa gunung yaitu Gn. Batukaru (2.276 m), Gn.
Sangiyang (2.097 m), Gn. Pohen (2.055 m) dan Gn. Adeng (1.811 m). Sebaran lahan
menurut ketinggiannya disajikan pada Gambar 2.3.
Ditinjau dari kemiringan lahan, sebagian besar lahan Kabupaten Tabanan berada
pada kemiringan lereng 15-40% yaitu luasnya 365,67 km2 (43,57%), tersebar luas
terutama di wilayah bagian barat. Lahan dengan kemiringan lereng b2-15% dengan luas
249,61 km2 (29,74%) tersebar luas terutama di wilayah bagian timur. Lahan dengan
kemiringan di atas 40% seluas 136,53 km2 (16,27 %) terdapat di daerah pegunungan
bagian utara dan sebagian di sisi barat perbatasan dengan Kabupaten Jembrana.
Sedangkan lahan dengan kemiringan 0-2% seluas 10,43 km2 (10,43 %) mendominasi
daerah pantai.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
11
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
'
0
4
°
5
1
1
'
0
2
°
5
1
1
'
0
0
°
5
1
1
'
0
4
°
4
1
1
I
L
A
B
T
L
'
0
1
°
8
S
'
0
1
°
8
U
A
E
KABUPATEN BULELE NG
L
A
T
KABUPATEN
BA NGLI
B
KABUP ATEN JEMBRANA
A
S
L
E
I
L
A
KABUPATEN KARA NGASE M
T
KABUP ATEN TABA NAN
L
O
M
KABUP ATEN
GIANYAR
'
0
3
°
8
O
K
D
U
N
G
A
A
A
S
R
E
E
L
D
A
U
B
KOTA
DENP ASAR
M
T
S
'
0
3
°
8
B
KABUPATEN
KLUNGKUNG
KABUP ATEN
BADUNG
N
I
N
W
E
'
0
5
°
8
D
'
0
5
°
8
O
S
N
10
0
E
10
S
A
'
0
2
°
5
1
1
'
0
1
°
5
1
1
'
0
0
°
5
1
1
'
0
5
°
4
1
1
'
0
2
°
8
'
0
4
°
5
1
1
I
'
0
2
°
5
1
1
'
0
0
°
5
1
1
'
0
4
°
4
1
1
Kilometer
'
0
2
°
8
KEC. BATURITI
KEC. PUPUAN
K ER
N
W
C
KE
E
'
0
3
°
8
KEC
. TA B
AN AN
AM
B IT
AN
TIM
UR
KE
C.
K EC
KE
C.
S EL
EM
AD
EG
. SE
'
0
3
°
8
LEMA
D EG
KEC. SELEMADEG BARAT
KEC. MAR
GA
KEC. PENEBEL
.K
I
IR
ED
S
3
0
3
'
0
2
°
5
1
1
'
0
1
°
5
1
1
'
0
0
°
5
1
1
'
0
5
°
4
1
1
Kilome ter
Gambar 2.1 Peta Orientasi Kabupaten Tabanan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
12
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Gambar 2.2 Peta letak geografis wilayah Kabupaten Tabanan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
13
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Gambar 2.3 Peta topografi wilayah Kabupaten Tabanan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
14
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Bila dilihat dari penggunaan tanah dari luas wilayah yang ada sekitar 22.562 Km2
(26,88%) merupakan wilayah persawahan dan 61.371 km2 (73,12%) merupakan lahan
bukan sawah. Dari 73,12% lahan bukan sawah 99.95% diantaranya merupakan lahan
kering yang sebagian besar berupa tegal, kebun dan hutan negara sisanya 0.05% adalah
lahan lainnya seperti kolam, tambak, dan rawa-rawa (Gambar 2.4).
Ditinjau dari sudut geologi berdasarkan Peta Geologi Bali (Purbo-Hadiwidjojo,
1971), wilayah permukaan Kabupaten Tabanan tersusun oleh formasi geologi yang
beragam. Batuan tertua yang ditemukan adalah batuan hasil muntahan Gunung Api
Jembrana seperti Gunung Klatakan, Gunung Merbuk, dan Gunung Patas yang terdiri dari
lava, breksi dan tufa. Batuan ini menyelimuti daerah sekitar Kaliukir, Munduk, Tiinggading
hingga Suraberata. Juga ditemui di dekat Desa Kerambitan. Batuan ini terbentuk pada
era kwarter bawah sekitar 6 juta tahun lalu. Batuan yang lebih muda adalah tufa dan
endapan lahar Buyan-Bratan dan Batur yang terbentuk pada era kwarter. Batuan ini
menutupi sekitar setengah Kabupaten Tabanan, terutama daerah bagian selatan.
Sementara pada daerah pegunungan terdapat dua formasi batuan yaitu batuan hasil
ekstrusi Gunung Batukaru dan batuan gunung api dari kerucut-kerucut subresen Gunung
Pohen, Gunung Sangiyang dan Gunung Lesong.
Jenis tanah secara umum yang terdapat di Kabupaten Tabanan berdasarkan Uraian
Tanah Tinjau (Bappeda Provinsi Bali, 2004) terdiri dari tanah aluvial, regosol, andosol dan
latosol. Tanah alluvial berasal dari bahan induk endapan laut dan endapan sungai
dengan fisiografi daratan pantai dan bentuk wilayah datar terdapat di daerah pantai
Kecamatan Selemadeg Barat dan Selemadeg. Tanah jenis regosol berasal dari bahan
induk abu vulkan dengan fisiografi vulkan, lembah dan kerucut vulkan dan bentuk wilayah
melandai sampai bergunung, terdapat di Kecamatan Selemadeg, Pupuan, Penebel dan
Baturiti. Tanah jenis andosol berasal dari bahan induk abu dan tufa vulkan dengan
fisiografi lungur vulkan kerucut dan lungur dan bentuk wilayah berbukit sampai
bergunung, terdapat di Kecamatan Pupuan, Penebel dan Baturiti. Sedangkan jenis tanah
latosol yang merupakan sebagian besar dari jenis tanah di Kabupaten Tabanan dan
tersebar di seluruh kecamatan berupa tanah berasal dari bahan induk abu dan tufa
vulkan intermedier dengan fisografi lungur vulkan kerucut dan lungur vulkan dan bentuk
wilayah melandai, berbukit sampai bergunung.
Kabupaten Tabanan mempunyai karakteristik hidrologi yang beragam sehingga
secara relatif memiliki sumberdaya air yang kaya dibandingkan wilayah lainnya di Bali.
Karakteristik hidrologi tersebut meliputi sungai, danau, mata air dan air tanah.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
15
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Gambar 2.4 Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Tabanan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
16
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
a. Sungai
Di wilayah Kabupaten Tabanan terdapat beberapa sungai yang memiliki aliran
sepanjang tahun. Beberapa sungai tersebut memiliki daerah pengaliran sungai yang
cukup luas dan membentuk suatu daerah aliran sungai (DAS), yaitu:
1. Daerah aliran sungai Tukad Yeh Empas luasnya 100,82 km2. Daerah aliran sungai
ini sepenuhnya berada di Kabupaten Tabanan dan bermuara di perbatasan Desa
Sudimara dan Pangkung Tibah.
2. Daerah Aliran Tukad Yeh Ho luasnya 135,76 km2. Semua daerah aliran sungai ini
terletak di Kabupaten Tabanan. Muara sungai ini berada di perbatasan
Kecamatan Selemadeg Timur dan Kerambitan.
3. Daerah aliran sungai Tukad Balian luasnya 152,9 km2. Semua daerah aliran
sungai terletak di Kabupaten Tabanan. Muara sungai ini berada di Suraberata,
Desa Lalanglinggah Kecamatan Selemadeg Barat.
Dari sekian sungai yang ada di Kabupaten Tabanan baru 3 sungai yang telah
diinventarisasi memiliki potensi untuk dikembangkan program penyadapan sungai yaitu
Tukad Balian, Tukad Yeh Empas dan Tukad Sungi. Tukad Balian mempunyai debit aliran
andal sebesar 380 lt/detik, Tukad Yeh Empas 200 lt/detik dan Tukad Sungi 430 lt/detik
sehingga total hasil penyadapan air sungai dari tiga sungai tersebut adalah 1.010 lt/detik
atau 31,85 juta m3/tahun (Rencana Induk Penyediaan Air Bersih Bali, 2000).
Berdasarkan data curah hujan bulanan yang tercatat melalui alat pengukur curah
hujan yaitu penakar hujan dan pencatat hujan di seluruh stasiun yang ada di Kabupaten
Tabanan (Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III) dilakukan simulasi dan diperoleh
curah hujan dalam bentuk peta Isohyet bulanan selama tahun 2004 Berdasarkan
cathment area (CA) masing-masing sub SWS, maka dapat dihitung potensi air
permukaan di Kabupaten Tabanan sebagaimana disajikan pada Tabel 2.4 Total
ketersediaan air pemukaan yang masuk ke dalam sistem sungai di Kabupaten Tabanan
mencapai 2.400.501 juta m3/tahun.
b.
Danau
Kabupaten Tabanan memiliki sebuah danau dari empat buah danau yang ada di
Provinsi Bali, yaiu Danau Beratan. Danau Beratan terletak di kawasan Bedugul pada
ketinggian sekitar 200 m dpl, memiliki luas permukaan air 3,85 km2 dan luas daerah
tangkapan air 13,4 km2. Danau ini memiliki kedalaman rata-rata 12,8 m dan kedalaman
maksimum 20 m, serta volume airnya 49,22 juta m3.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
17
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Tabel 2.1 Ketersediaan air permukaan per sub satuan wilayah sungai di Kabupaten
Tabanan tahun 2002
3
Ketersediaan Air Permukaan (Juta m )
Bulan
SWS 03.01.01
SWS 03.01.02
2
2
SWS 03.01.03
2
SWS 03.01.04
2
Jumlah
2
(5,26 km )
(510,83 km )
(272,80 km )
(50,44 km )
(839,33 km )
Januari
740
298.272
273
6.981
306.266
Februari
818
268.478
119.159
9.079
397.535
Maret
738
213.421
92.316
8.474
314.949
April
574
159.186
95.153
9.241
264.153
Mei
561
51.619
74.856
3.390
130.425
Juni
537
57.152
38.192
5.811
101.691
Juli
512
25.258
33.172
2.542
61.484
Agustus
441
15.732
14.186
525
30.883
September
464
21.540
16.804
9.200
48.008
Oktober
505
88.016
16.150
8.474
113.145
November
749
220.117
62.198
11.057
294.121
Desember
949
242.088
87.296
7.506
337.839
7.588
1.660.878
649.755
82.280
2.400.501
Jumlah
Hasil analisis
c.
Mata Air dan Sumur Gali
Berdasarkan data dari laporan Rencana Induk Penyediaan Air Bersih Bali (2000),
sumber mata air yang terdapat di Kabupaten Tabanan adalah 118 buah dan yang telah
dimanfaatkan airnya oleh masyarakat berjumlah 82 titik mata air, dengan debit 3,26 m3/dt
atau 102,81 juta m3/tahun. Sedangkan jumlah sumur gali sebanyak 22 buah dengan
debit 14,3 lt/detik atau 450.965 m3/tahun.
d.
Potensi Air Tanah
Potensi air tanah sangat tergantung dari formasi batuan dan struktur geologi yang
ada di bawah permukaan tanah. Formasi batuan dan struktur geologi akan
mempengaruhi aquifer yang ada di bawah permukaan tanah. Sebagian besar wilayah
Kabupaten Tabanan struktur hidrologinya tergolong memiliki akuifer tidak produktif yaitu
debit kurang dari 2 lt/dt sehingga tidak memungkinkan dikembangkan sebagai sumber air
bersih. Daerah yang hidrologinya sebagai akuifer produktif tinggi dengan debit lebih dari
10 lt/dt, penyebarannya di Kecamatan Selemadeg Timur, Kerambitan, Tabanan dan
Kediri. Di wilayah pesisir potensi air tanah secara kualitas tidak sesuai untuk kebutuhan
air bersih (Gambar 2.5).
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
18
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Gambar 2.5 Peta potensi air tanah di Kabupaten Tabanan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
19
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
2.2 KONDISI ADMINISTRASI
Luas wilayah Kabupaten Tabanan adalah 839,33 km2 atau sekitar 14,89 % dari luas
Provinsi Bali. Secara administratif Kabupaten Tabanan terbagi menjadi 10 (sepuluh)
kecamatan dan terdiri atas 131 desa. Adapun kecamatan dan luas wilayah masingmasing kecamatan disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Luas wilayah Kabupaten Tabanan menurut kecamatan
No
Kecamatan
Jumlah
Desa
Jumlah
Banjar
1
Selemadeg
10
57
52,05
2
Kerambitan
15
90
42,39
3
Tabanan
12
82
51,4
4
Kediri
15
98
53,6
5
Marga
15
69
44,79
6
Baturiti
12
64
99,17
7
Penebel
18
129
141,98
8
Pupuan
13
63
179,02
9
Selemadeg Barat
11
71
120,15
10
Selemadeg Timur
10
71
54,78
Jumlah
131
794
Sumber: BPS Tabanan dalam Angka (2009)
2
Luas Wilayah (Km )
839,33
Jarak dari Ibukota Kabupaten Tabanan (Kota Tabanan) ke Ibu kota Provinsi Bali
(Kota Denpasar) sekitar 20 km yang dihubungkan oleh jalan arteri primer dengan waktu
tempuh perjalanan darat sekitar 30-45 menit. Jarak antara Ibukota Kecamatan ke Ibukota
Kabupaten berkisar antara 0-55 km, dimana Kecamatan Pupuan merupakan daerah yang
memiliki jarak terjauh dari Ibukota Kabupaten.
2.3 KONDISI DEMOGRAFIS
A. Pertumbuhan Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Tabanan berdasarkan data Tahun 2008 tercatat
sebanyak 416.743 jiwa, terdiri dari 206,712 jiwa penduduk laki-laki dan 210,031 jiwa
penduduk perempuan. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Kabupaten Tabanan relatif
terus bertambah. Jika dibandingkan dengan Tahun 2007, penduduk Kabupaten Tabanan
bertambah 2.523 jiwa atau 0,61%. Dan bila dibandingkan tahun 2004 jumlah penduduk
Tabanan tercatat 397.773 jiwa ini berarti ada kenaikan 4,55% hingga tahun 2008.
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Tabanan Tahun 2008
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
20
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
No
Kecamatan
Jumlah RT
Jumlah penduduk
Laki-laki
Perempuan
total
1
Selemadeg
6,265
10,104
10,495
20,599
2
Keramabitan
11,637
19,266
19,951
39,217
3
Tabanan
17,608
30,416
30,365
60,781
4
Kediri
14,916
33,681
33,667
67,348
5
Marga
11,690
21,066
21,929
42,995
6
Baturiti
13,149
25,153
24,966
50,119
7
Penebel
12,564
23,933
25,411
49,344
8
Pupuan
10,676
20,211
20,200
40,411
9
Selemadeg Barat
6,485
10,917
10,963
21,880
10
Selamdeg Timur
7,293
11,965
12,084
24,049
206,712
210,031
416,743
Total
112,283
Sumber: BPS Tabanan dalam Angka (2009)
Tabel 2.4 Perkembangan Jumlah Penduduk Tabanan Tahun 2004-2008
No
Kecamatan
Jumlah RT
Jumlah penduduk
Laki-laki
Perempuan
total
1
2008
112,283
206,712
210,031
416,743
2
2007
110,311
205,343
208,877
414,220
3
2006
105,907
203,394
206,768
410,162
4
2005
103,360
201,046
204,441
405,487
5
2004
100,206
197,122
200,851
397,973
B. Persebaran dan Kepadatan
Distribusi penduduk Kabupaten Tabanan dapat dikatakan tidak tersebar secara
merata untuk masing-masing kecamatan. Kecamatan dengan jumlah penduduk paling
banyak adalah Kecamatan Kediri dengan 67.348 jiwa, sedangkan Kecamatan Selemadeg
merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit yaitu 20.599 jiwa.
Kepadatan penduduk rata-rata di Kabupaten Tabanan pada Tahun 2008 adalah 500
jiwa/km2. Kepadatan penduduk paling tinggi adalah di Kecamatan Kediri dengan tingkat
kepadatan sebesar 1.256 jiwa/km2, sedangkan Kecamatan Selemadeg Barat memiliki
tingkat kepadatan terendah dengan 182 jiwa/km2 (Tabel 2.5).
Tabel 2.5 Luas wilayah, Kepadatan, Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
21
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
No
Kecamatan
Luas wilayah
(km2)
Jumlah penduduk
(jiwa)
Kepadatan
( jiwa/km2)
1
Kediri
53.6
67348
1256.49
2
Tabanan
51.4
60781
1182.51
3
Marga
44.79
42995
959.92
4
Kerambitan
42.39
39217
925.15
5
Baturiti
99.17
50119
505.38
6
54.78
24049
439.01
7
Selemadeg
Timur
Selemadeg
52.05
20599
395.75
8
Penebel
141.98
49344
347.54
9
Pupuan
179.02
40411
225.73
Selemadeg Barat
120.15
21880
182.11
10
Sumber: BPS Tabanan dalam angka 2009
C. Proyeksi Jumlah Penduduk
Berdasarkan perhitungan proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Tabanan yang
diperkirakan tumbuh selama kurun waktu perencanaan, yaitu 20 tahun, maka diperoleh
perhitungan jumlah penduduk Kabupaten Tabanan
pada akhir tahun 2030 sebanyak
589.851 jiwa. Berdasarkan hasil perhitungan dengan formula yang sama diperoleh angka
jumlah penduduk pada lima tahun pertama (tahun 2015) sebanyak 461.047 jiwa.
Sedangkan jumlah penduduk pada lima tahun kedua (tahun 2020) sebanyak 490.317
jiwa. Jumlah penduduk pada lima tahun ketiga (tahun 2025) sebanyak 540.739 jiwa
(Tabel 2.6).
Berdasarkan perhitungan proyeksi yang sama diperoleh angka yang menunjukkan
besarnya jumlah pertambahan penduduk per lima tahunan. Pada lima tahun pertama
(tahun 2015) terdapat tambahan jumlah penduduk sebanyak 44.304 jiwa. Sedangkan
pada lima tahun kedua (tahun 2020) terdapat tambahan jumlah penduduk sebanyak
22.246 jiwa. Pada lima tahun ketiga terdapat tambahan jumlah penduduk sebanyak
34.543 jiwa. Sedangkan pada lima tahun keempat (tahun 2030) terdapat tambahan
jumlah penduduk sebanyak 39.847 jiwa. Sehingga total pertambahan jumlah penduduk
Kabupaten Tabanan selama kurun waktu perencanaan, yaitu 20 tahun, sebanyak
173.108 jiwa. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh gambaran bahwa jumlah
pertambahan penduduk Tabanan yang terbanyak terjadi pada lima tahun pertama (tahun
2008-2015), yaitu sebanyak 44.304 jiwa.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
22
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Tabel 2.6 Proyeksi Jumlah Penduduk Kabupaten Tabanan Tahun 2010 - 2030
eksisting
No.
Kecamatan
2008
Proyeksi Penduduk (Jiwa)
2015
2020
2025
2030
1 Selemadeg
20.599
20.650
20.679
20.723
20.760
2 Kerambitan
39.217
42.553
44.586
47.818
50.689
147.635
3 Tabanan
60.781
80.612
94.728
120.668
4 Kediri
67.348
73.864
77.867
84.281
90.029
5 Marga
42.995
46.276
48.262
51.402
54.175
6 Baturiti
50.119
58.154
63.311
71.918
79.976
7 Penebel
49.344
49.685
49.881
50.176
50.423
8 Pupuan
40.411
43.209
44.895
47.547
49.876
9 Selemadeg Barat
21.880
21.934
21.965
22.012
22.051
10 Selemadeg Timur
24.049
24.109
24.143
24.194
24.237
416.743
461.047
490.317
540.739
589.851
Jumlah
Sumber : RTRW Kabupaten Tabanan 2010-2030
2.4 KONDISI SOSIAL MASYARAKAT
Untuk mengetahui proporsi dan jumlah penduduk miskin, tersedia dua sumber,
yaitu persentase penduduk miskin dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang
dilaksanakan setiap tiga tahun, dan jumlah rumah tangga miskin yang pendataannya
dilaksanakan oleh Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pemerintahan Desa
bekerjasama dengan
BPS pada setiap tahun
dalam rangka penyaluran bantuan
langsung tunai (BLT) oleh pemerintah pusat. Kedua jenis data tersebut berbeda dalam
beberapa hal. Pertama, data SUSENAS adalah hasil survei, tanpa nama dan tanpa
alamat. Tujuannya untuk memantau persen penduduk miskin setiap 3 tahun. Alat ukurnya
juga berbeda, yaitu pola komsusi masyarakat, yang kemudian disimpulkan menjadi
kilokalori. Bila komsumsi per orang dibawah 2100 kilokalori per hari maka dikategorikan
sebagai penduduk miskin.
Dari 8 Tujuan Milenium Development Goals, komponen pertama adalah;
menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Target secara nasional pencapaian MDGs
poin pertama adalah : menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di
bawah US$1 per hari menjadi setengahnya dalam kurun waktu 1990-2015. Untuk
mendukung target tersebut, maka ditetapkan dua indikator target yaitu :
1) Penurunan persentase penduduk dengan pendapatan di bawah US$1 (PPP) per hari.
2) Penurunan persentase penduduk dengan tingkat konsumsi di bawah garis kemiskinan
nasional.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
23
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Nasional menargetkan pencapain MDGs pada tahun 2015.
Kabupaten Tabanan wajib menargetkan pada tahun 2015 juga.
Oleh karena itu,
Hasil pengentasan
kemiskinan di Kabupaten Tabanan dapat dilihat pada Tabel 2.7.
Tabel 2.7 Hasil Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Tabanan
NO.
Jenis data
Satuan
2005
2006
2007
2008
1
Jumlah
keluarga
(mengacu KK)
klg
2
Jumlah Rumah
Tangga
RT
105,04
101,15
102,99
103,41
3
Jumlah
penduduk
miskin
Jiwa
(Ribu)
37,20
31,80
30,20
28,52
103.360,00 105.907,00 110.311,00 119.263,00
Salah satu yang menjadi pertimbangan dalam penetapan kampung kumuh adalah
akses terhadap sarana air bersih dan sanitasi. Berdasarkan data Prasarana dan Sarana
dasar Pekerjaan Umum Prov Bali Tahun 2007, daerah kumuh di Kabupaten tabanan
dapat dilihat pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8 Daerah Kumuh di Kabupaten Tabanan
Daerah Kumuh
No
1
Kecamatan
Tabanan
Desa
Keterangan
Desa Dauh Peken
Kumuh Perkotaan
Desa Delod Peken
Kumuh Perkotaan
Desa Kediri
Kumuh Perkotaan
2
Kediri
Desa Abian Tuwung
Kumuh Transisi
3
Kerambitan
Desa Kerambitan
Kumuh Transisi
4
Pupuan
Desa Pupuan
Kumuh Perdesaan
5
Selemadeg
Desa Bajera
Kumuh Perdesaan
6
Selamadeg Barat
Desa Lalang linggah
Kumuh Perdesaan
7
Selamadeg Timur
Desa Megati
Kumuh Perdesaan
8
Penebel
Desa Penebel
Kumuh Transisi
9 Marga
Desa Marga
Kumuh Perkotaan
Sumber: Data Prasarana dan Sarana Dasar Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali Tahun 2007
Kabupaten Tabanan berpenduduk mayoritas Hindu, namun penduduk beragama
lain juga tergolong cukup banyak. Hal ini memberikan keragaman pada kehidupan social
kemasyarakatan di Kabupaten Tabanan. Jika dilihat dari fasilitas peribadatan,
berdasarkan data Kabupaten tabanan dalam angka 2009, jumlah rumah ibadah
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
24
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
dikabupaten tabanan adalah Pura sejumlah 1.163 buah, Mesjid sejumlah 45 buah,
Wihara sejumlah 2 buah, dan Gereja sejumlah 15 buah. Tempat ibadah tersebut tersebar
di seluruh kabupaten.
2.5 KONDISI KESEHATAN
Pada tahun 2008 secara umum gambaran sarana kesehatan di Kabupaten
Tabanan dapat dilihat pada Tabel 2.9.
Tabel 2.9 Jumlah Prasarana Kesehatan Di Kabupaten Tabanan
Jumlah
Kecamatan
Puskesma
desa
RS
Puskesmas
Pustu
Keliling
Posyandu
1. Selemadeg
10
-
1
4
2
57
2. Kerambitan
15
-
2
9
3
90
3. Tabanan
12
1
3
5
5
86
4. Kediri
15
-
3
8
3
109
5. Marga
15
-
2
6
2
70
6. Baturiti
12
-
2
8
2
65
7. Penebel
18
-
2
13
2
130
8. Pupuan
13
-
2
10
2
65
9. Selemd. Barat
11
-
1
6
1
72
10. Selemd Timur
10
2
7
2
71
20
76
24
815
Jumlah/Total :
131
1
Sumber: BPS, Tabanan dalam angka 2009
Sementara itu,
5 kejadian penyakit yang paling banyak terjadi pada tahun 2008
berdasarkan Tabanan dalam angka 2009 adalah:
1. Single spontaneous delivery unspecified 12.48%
2. Dongue haermorrhogic fever 11.66%
3. Diare 7.66%
4. Hipertensi 6.79%
5. Typhoid 5.54 %
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
25
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Gambar 2.6 Peta Sebaran Prasarana Umum
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
26
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
2.6 KONDISI EKONOMI
Kondisi makro ekonomi Kabupaten Tabanan selama kurun waktu empat tahun
terakhir yaitu dari tahun 2005 sampai dengan 2008, bila dilihat dari indikator angka
pertumbuhan ekonomi menunjukkan kecenderungan perkembangan yang berfluktuasi.
Pada tahun 2005 pertumbuhan ekonomi sebesar 5,96% turun menjadi 5,25 % pada tahun
2006, dan kemudian naik menjadi 5,76% pada tahun 2007. Pada tahun 2008 kembali
turun tinggal 5,22%, pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 5,44%. Terjadinya
penurunan angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 dipengaruhi oleh peristiwa
tragedi Bom Kuta-Jimbaran yang terjadi pada bulan Oktober 2005.
Dilihat dari kontribusi terhadap PDRB, Sektor yang cukup kuat dan tetap
memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Tabanan adalah sektor
pertanian dalam arti luas. Sektor ini memiliki porsi rata-rata 39,82% (tahun 2005-2007)
dari PDRB Kabupaten Tabanan.
Namun, kecendrungan pertumbuhan sub sektor
tersebut semakin menurun yang tercermin dari laju pertumbuhannya mengalami
penurunan dari 5,51% pada tahun 2005 menjadi 3,70% pada tahun 2006 dan 4,02%
pada tahun 2007. Perkembangan sektor pertanian belum diikuti oleh berkembangnya
industri pengolahan berbahan baku hasil pertanian yang ditunjukkan oleh masih
rendahnya pertumbuhan industri pengolahan yaitu dari 6,55% pada tahun 2005 menjadi
6,66% pada tahun 2007.
Investasi pembangunan, secara umum juga mengalami perkembangan yang
berfluktuasi, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta/masyarakat. Pada
tahun 2005 investasi pembangunan sebesar $ 3.025.000 pada tahun 2006 meningkat
menjadi $ 6.830.000 Tahun 2007 sebesar $ 3.555.000 dan Tahun 2008 sebesar $
1.550.000. Tingkat inflasi, menunjukkan angka yang berpluktuasi dari 11,31%
(berdasarkan indek harga konsumen) pada tahun 2005, turun menjadi 4,30% pada tahun
2006. Pada tahun 2007 kembali naik menjadi 5,91% Tahun 2008 turun lagi menjadi
5,36%. Tahun 2009 akhir, inflasi dapat ditekan lagi menjadi 3,00% merupakan inflasi
yang terendah selama lima tahun terakhir.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
27
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Tabel 2.10 PDRB Kabupaten Tabanan Atas Dasar Harga berlaku 2005-2008 (jutaan
rupiah)
Lapangan Usaha
2005
2006
2007
2008
1
2
3
4
5
1.009.311,24
1.090.072,61
1.220.499,80
1.363.356,49
1.1 Tanaman Bahan Makanan
624.465,50
664.504,63
744.452,94
817.535,49
1.2 Tanaman Perkebunan
135,272,90
148.919,80
166.674,31
180.956,29
235m210,90
260.957,33
290.923,98
343.524,79
1. Pertanian
1.3 Peternakan dan Hasil-hasilnya
1.4 Kehutanan
133,16
147,43
164,69
195,41
14.228,78
15.543,42
18.283,88
21.144,51
9.094,31
11.078,37
12.898,55
16.299,76
184.971,97
204.018,43
232.442,02
280.995,64
23.771,52
28.213,85
32.915,67
42.076,15
5. Bangunan
101.475,14
118.721,50
136.175,95
168.394,16
6. Perdagangan, Hotel & Restauran
630.907,67
691.598,66
770.246,49
894.732,04
7. Pengangkutan dan Komunikasi
150.815,46
170.833,08
187.452,72
232.531,72
140.734,34
159.087,03
173.269,63
215.182,27
10.081,13
11.746,05
14.183,09
17.349,45
156.651,66
186.613,12
215.797,79
277.370,80
529.749,45
586.030,83
655.336,28
764.476,13
2.796.748,42
3.087.180,45
3.463.765,28
4.040.232,90
1.5 Perikanan
2. Penggalian
3. Industri
4. Listrik & Air Minum
7.1 Pengangkutan
7.2 Komunikasi
8. Perbankan & Lembaga
KeuanganLainnya
9. Jasa-jasa
Product Domestik Regional Bruto
Sumber : BPS Kabupaten Tabanan, Tahun 2009
Tabel 2.11 Pertumbuhan Ekonomi Makro 2005-2009
NO.
1
Pertumbuhan
ekonomi
Pertumbuhan PDRB
2
Laju inflasi
provinsi/Kota Denpasar
3
Indeks Gini
4
Pemerataan
Pendapatan versi Bank
Dunia
Sat
2005
2006
2007
2008
2009
%
5,96
5,25
5,76
5,22
5,44
%
11,31
4,30
5,91
9,36
3,00
0,23
0,26
0,25
0,24
0,26
25,18
24,20
24,68
25,13
24,42
%
Dampak dari peningkatan ekonomi Kabupaten Tabanan, seperti pada Tabel 2.11,
menyebabkan penerimaan daerah terus meningkat. Penerimaan Kabupaten Tabanan
dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 penerimaan sebesar Rp
532.931.278.383, tahun 2008 mencapai Rp 616.421.961.907, tahun 2009 mencapai Rp
540,824,254,884,00 tahun 2008 Rp. 579,384,376,920,00 tahun
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
2009 mencapai Rp.
28
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
678.404.282.267,00 dan tahun 2010 sebesar Rp.774.180.534.187,00. Pendapatan Asli
Daerah (PAD) tahun 2007 mencapai Rp 45,346,533,000 kemudian tahun 2008 naik
mencapai 51,063,584,890. Selanjutnya pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi Rp
85,438,908,599,00
dan
tahun
2010
PAD
Kabupaten
Tabanan
mencapai
Rp
107,836,347,719,00.
Perkembangan APBD
Perkembangan APBD Kabupaten tabanan secara garis besar disajikan dalam tabel
berikut ini.
Tabel 2.12 Realisasi APBD Kabupaten Tabanan 2006-2009
Nomor
Urut
1
1.1
1.1.1
1.1.2
1.1.3
1.1.4
1.2
1.2.1
1.2.2
1.2.3
1.3
1.3.1
1.3.2
1.3.3
Jumlah (Rp)
Uraian
PENDAPATAN
PENDAPATAN
ASLI
DAERAH
Pendapatan
Pajak
Daerah
Pendapatan
Retribusi
Daerah
Pendapatan
Hasil
Pengelolaan Kekayaan
Daerah Yang Dipisahkan
Lain-Lain
Pendapatan
Asli Daerah Yang Sah
DANA PERIMBANGAN
Bagi Hasil Pajak/Bagi
Hasil Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Lain-lain Pendapatan
Daerah yang Sah
Pendapatan Hibah
Dana Bagi Hasil Pajak
dari
Provinsi
dan
Pemerintah
Daerah
Lainnya
Bantuan Keuangan dari
Provinsi atau Pemerintah
Daerah Lainnya
2
BELANJA
2.1
BELANJA TIDAK
LANGSUNG
2.1.1
Realisasi 2007
Realisasi 2008
Realisasi 2009
343.435.866.953
Realisasi 2006
464.198.531.184,00
616.421.961.906,59
681.221.063.366,60
42.403.134.567,00
43.925.725.797,16
51.063.584.889,92
93.444.553.146,30
13.066.593.955,00
12.251270.768,00
16.664.020.480,96
20.897.150.425,03
24.456.165.358,00
25.242.455.940,76
. 27.071.474.342,00
15.143.387.702,91
2.562.466.140,00
3.165.818.786,04
3,688,172,412.54
2.317.909.114,00
3.266.180.302,36
285.936.640.335,00
417.527.932.096,22
21.254.896.835,00
18.196.750.600,00
212.991.000.000,00
13.040.000.000,00
333.754.000.000,00
26.850.000.000,00
53.167.721.553,35
513.030.256.843,00
23.007.760.000
32.360.787.843,00
416.172.072.000
55.364.000.000,00
424.281.469.000,00
56.388.000.000,00
70.814.545.016,67
74.746.253.377,30
0,00
2.143.000.000,00
10.991.847.600,00
11.847.975.000,00
14.050.720.000,00
0,00
32.834.567.000,00
44.824.676.000,00
38.650.743.500,00
38.727.181.496,22
26.988.130.416,67
18.073.602.377,30
325.077.922.790,91
457.490.466.457,31
700.756.936.832,71
506.736.692.302,57
Belanja Pegawai
182.190.006.733,00
2.1.2
3.639.917.654,42
4.236.293.465,01
Belanja Bunga
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
240.390.839.448,44
365.708.932.703,33
430.101.423.362,29
337.110.848,78
243.936.994,28
29
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
2.1.4
Belanja Hibah
2.1.5
Belanja Bantuan Sosial
2.1.6
Belanja
Bagi
Hasil
kepada
Provinsi/
Kabupaten/Kota
dan
Pemerintah Desa
2.1.7
Belanja
Bantuan
Keuangan
kepada
Provinsi/Kabupaten /Kota
dan Pemerintahan Desa
2.1.8
Belanja Tidak Terduga
2.2
BELANJA LANGSUNG
2.2.1
Belanja Pegawai
2.2.2
Belanja Barang dan Jasa
2.2.3
Balanja Modal
SURPLUS/DEFISIT
3
PEMBIAYAAN
3.1
PENERIMAAN
PEMBIAYAAN DAERAH
3.1.1.
Sisa Lebih Perhitungsn
Anggaran
Tahun
Anggaran Sebelumnya
47.340.282.000,00
6.934.884.000,00
7.454.027.865,00
1.337.544.234,00
1.329.944.571,00
34.553.647.331,95
35.583.513.678,00
2.982.047.000,00
1.449.187.400,00
418.385.279,00
396.383.000,00
76,701,585,404.00
117,646,396,075.00
19,048,623,834.00
14,417,164,398.00
16.903.672.400,00
16.765.623.568,00
43,973,593,631.00
52,858,176,646.00
105.448.575.931,02
99.865.109.063,14
13,679,367,939.00
50,371,055,031.00
64.749.574.982,00
77.334.811.899,00
18.357.944.162
6.708.064.727
(19.535.873.466,11)
5.384.170.370,24
13.071.357.700,94
57.043.805.823,19
5.384.170.370,24
13.017.357.700,94
50.543.805.823,19
0,00
0,00
6.500.000.000,00
193.965.544.530,14
3.1.2
Penerimaan
Daerah
3.2
PENGELUARAN
PEMBIAYAAN DAERAH
10.724.756.831,12
4.061.035.281,18
78.035.294,12
Pembayaran
Hutang
10.724.756.831,12
4.061.035.281,18
78.035.294,12
(5.340.586.460,88)
8.956.322.419,76
56.965.770.529,07
13.017.357.700,94
15.664.387,146,83
37.484.597.062,96
3.2.1
Pinjaman
47.077.621.800,00
Pokok
PEMBIAYAAN NETTO
SISA LEBIH
PEMBIAYAN
ANGGARAN (SILPA)
Sumber : Laporan Akuntabilitas Kinerja Aparat Pemerintah 2006-2009
Dari kondisi yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapatan
daerah Kabupaten Tabanan masih mengandalkan pendapatan dari dana perimbangan
pemerintah pusat, terutama dari Dana Alokasi Umum Daerah. Namun demikian
Pemerintah
Kabupaten
Tabanan
tetap
berupaya
untuk
semakin
meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah. Dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
30
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Kabupaten Tabanan, telah dilakukan melalui upaya pengelolaan intensifikasi dan
ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan.
Intensifikasi pengelolaan pendapatan Daerah di Kabupaten Tabanan dilakukan
dengan kegiatan penekanan pada penagihan pajak dan retrebusi, baik dalam bentuk
pemungutan pajak dan retribusi terhutang pada Tahun berjalan, serta tunggakan Tahun
yang lalu. Sedangkan dari segi ekstensifikasi, yakni upaya penambahan jenis pajak dan
retribusi di Kabupaten Tabanan belum dapat dilaksanakan, karena potensi untuk itu
belum ada. Namun demikian upaya ekstensifikasi pengelolaan pendapatan daerah yang
dapat dilakukan adalah mengungkap obyek dan wajib pajak yang belum terdata dan
melakukan pembaharuan terhadap data obyek pajak dan wajib pajak secara periodik dan
berkelanjutan.
Pembiayaan daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang
bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Penerimaan pembiayaan
daerah dalam 3 tahun terakhir bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun
sebelumnya (SILPA), sedangkan pengeluaran pembiayaan digunakan untuk penyertaan
modal pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali, dan pembayaran pokok utang.
Porsi pembelanjaan terbesar dua tahun terakhir berada pada belanja tidak
langsung dengan rata-rata sebesar 82,3 % dari total belanja daerah.
Apabila terjadi defisit anggaran, maka kebijakan pembiayaan daerah adalah sebagai
berikut:
1. Dibiayai dari sisa anggaran tahun lalu
2. melakukan pinjaman daerah
3. Upaya-upaya lain atas dasar kajian yang matang dan peraturan perundangan
yang berlaku.
2.7 VISI DAN MISI KABUPATEN TABANAN
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Tabanan 2005-2010 visi dan misi Tabanan adalah sbb:
A.
Visi
Visi Pembangunan Daerah Kabupaten Tabanan adalah
“Terwujudnya
Peningkatan
Kesejahteraan
Masyarakat
Tabanan
melalui
Pembangunan yang Berkelanjutan, Berwawasan Budaya dan Lingkungan yang
menitikberatkan pada Pertanian Dalam Arti Luas dan Bersinergi dengan Pariwisata”.
B. Misi
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
31
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Untuk mewujudkan Visi tersebut di atas, ditetapkan 5 (lima) Misi Pembangunan
Daerah, yakni sebagai berikut :
1. Mewujudkan masyarakat Tabanan yang sehat, cerdas dan religius.
2. Mewujudkan ekonomi kerakyatan yang handal dengan tetap menjaga
keseimbangan sumber daya alam (SDA).
3. Melestarikan dan mengembangkan budaya daerah.
4. Mewujudkan pertanian tangguh, yang memiliki daya saing komparatif dan
kompetitif.
5. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik (Good Governance).
2.8 INSTITUSI DAN ORGANISASI PEMERINTAH DAERAH
Terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah yang dijabarkan menjadi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59
tahun 2007 sebagai perubahan pertama Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Pemerintah
Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, maka terjadi
pemantapan kewenangan daerah.
Kewenangan Pemerintah Kabupaten Tabanan sesuai dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 sebagaimana telah diubah menjadi Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007
disebut dengan istilah urusan. Urusan
Daerah Kabupaten meliputi berbagai aspek seperti: (1) Urusan Wajib dan (2) Urusan
Pilihan. Terkait dengan hal tersebut, untuk melaksanakan kewenangan Pemerintah
Kabupaten Tabanan dibentuk Struktur Organisasi Perangkat derah berdasarkan pada
Perda Nomor 3 Tahun 2008.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
32
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
BUPATI
WAKIL
BUPATI
DPRD
SEKRETARIS
DAERAH
STAF
INSPEKTORAT
BAPPEDA
AHLI
(Unsur Pengawas)
(Unsur Perencana)
LEMBAGA
LAIN(Pelaks. Per.UU)
LTD(Unsur
DINAS
DAERAH(Unsur
Penunjang)
SET
DPPRD(Unsur
Pelayanan)
Pelaksana)
KECAMATAN
Keterangan :
Garis Komando
Garis Pertanggungjawaban
Garis Koordinasi
Sumber : Diolah dari Perda Kab. Tabanan 03 tahun 2008
Gambar 2.7
Struktur Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Tabanan
Berikut ini bagan struktur organisasi SKPD-SKPD di Kabupaten Tabanan yang
membidangi atau terkait kegiatan sanitasi.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
33
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
34
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
35
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
36
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
2.9 TINJAUAN TATA RUANG DAN KEBIJAKAN RTRW KABUPATEN TABANAN
2.9.1 TINJAUAN RENCANA
TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN
TABANAN
Sesuai dengan Rancangan RTRW Kabupaten tabanan 2010-2030 yang sedang
direncanakan saat ini di Bappeda, RTRW kabupaten tabanan terbagi atas beberapa
rencana pengembangan.
A. Rencana Pengembangan Fungsi Wilayah Kabupaten
Rencana pengembangan fungsi wilayah kabupaten bertujuan untuk memberikan arahan
umum rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Tabanan. Berikut merupakan rencana
pengembangan fungsi wilayah Kabupaten Tabanan :
a. Sebagai salah satu pusat pelayanan Kawasan Perkotaan Denpasar-Badung-GianyarTabanan (Sarbagita) yang berfungsi sebagai PKN;
b. Sebagai pusat pertumbuhan wilayah propinsi yang mendukung perkembangan sektor
pertanian, perkebunan dan pariwisata;
c. Mengendalikan kawasan lindung dengan tetap mempertahankan fungsi lindungnya;
d. Mengendalikan konversi kawasan pertanian beririgasi teknis menjadi kawasan
permukiman dan perkotaan;
e. Menetapkan lahan sawah abadi untuk sawah beririgasi teknis yang memiliki view
menarik untuk mempertahankan Tabanan sebagai ikon ”lumbung beras Provinsi Bali”;
f. Mengendalikan pertumbuhan kota secara ekspansif yang tidak terkendali (urban
sprawl) dan pertumbuhan menerus (konurbasi);
g. Meningkatkan aksesibilitas kota kecamatan serta pusat permukiman di Kabupaten;
h. Meningkatkan
kapasitas
dan
kualitas
pelayanan
prasarana
wilayah
(jalan,
persampahan, air bersih, drainase) sesuai standar nasional.
B. RENCANA STRUKTUR RUANG
a. Keterkaitan Antar Pusat - Pusat Permukiman
Rencana pengembangan hierarki pusat-pusat permukiman yang sudah terbentuk
juga diarahkan untuk peningkatan dan pemerataan pembangunan perkotaan di seluruh
wilayah Kabupaten Tabanan yang penjabarannya adalah sebagai berikut :
Meningkatkan jumlah dan kelengkapan fasilitas pendukung pada pusat-pusat
permukiman, yaitu pusat-pusat permukiman yang berstatus ibukota Kecamatan.
Meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan perkotaan untuk mengurangi tingkat
migrasi keluar (outmigration.
b. Kebijakan Pengembangan Pusat - pusat Permukiman
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
37
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Pola pengembangan pusat-pusat permukiman ini dimaksudkan bersifat antisipatif
terhadap kecenderungan perkembangan yang diperkirakan akan berlangsung pada
pusat-pusat permukiman yang menonjol. Kecenderungan perkembangan ini meliputi
pusat-pusat permukiman yang pertumbuhan penduduknya tinggi dan pusat-pusat
permukiman yang pertumbuhan penduduknya tinggi dan pusat-pusat permukiman yang
tidak tumbuh (pertumbuhan negatif). Perincian pusat-pusat permukiman yang perlu
dipersiapkan kebutuhan fasilitas dan utilitas di masa mendatang dan dipacu
perkembangannya adalah :
Perkembangan tinggi : Tabanan dan Kediri.
Pertumbuhan rendah : Pusat-pusat pertumbuhan lokal kota Bajera, Penebel
Kerambitan, Marga, Pupuan, Pacung - Baturiti.
Implikasi dari pertumbuhan pusat-pusat permukiman adalah meningkatkan fungsi
dan peran kota dalam bentuk struktur kota.
Rencana
pengembangan
pusat-pusat
diarahkan
untuk
meningkatkan
dan
pemerataan pembangunan perkotaan di seluruh wilayah Kabupaten Tabanan.
Sehubungan dengan adanya identifikasi potensi dan kendala yang telah dipadukan
dengan visi dan misi pembangunan kabupaten Tabanan, maka untuk lebih memantapkan
struktur ruang kawasan ditetapkan :
1. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) : Kota Tabanan dan Kota Kediri
2. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Kecamatan Tabanan sebagai Ibukota Kabupaten
3. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK).Kecamatan Kediri, Marga, Baturiti, Penebel,
Kerambitan, Selemadeg Timur, Selemadeg, Selemadeg Barat, dan Kecamatan
Pupuan.
4. Pusat Pelayanan Kawasan Promosi (PPKp) ditetapkan pada kawasan yang
mempunyai potensi untuk terus berkembang.
5. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) merupakan pusat permukiman yang berfungsi
melayani kegiatan skala antar desa.
c. Rencana Sistem Kawasan Perkotaan dan Pedesaan
Sistem
pusat-pusat
permukiman
yang
ada
adalah
sebagai
akibat
dari
perkembangan pembangunan baik pembangunan sosial, ekonomi, budaya, transportasi
dan lain-lainnya serta dapat dikaji dari pembangunan. Arahan pengembangan sistem
pusat pusat permukiman perdesaan dan perkotaan adalah untuk meningkatkan
masyarakat perdesaan dan perkotaan melalui pembangunan permukiman. Pola sistem
permukiman dalam kajian ini merupakan gambaran pola eksisting akan menjadi dasar
bagi kepentingan pembentukan sistem “pusat pelayanan”.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
38
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
C. RENCANA POLA RUANG
Pola Ruang didefinisikan sebagai suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendallian pemanfaatan ruang. Aplikasi dari rencana pola
ruang kawasan diterapkan dalam fungsi-fungsi ruang yang lebih detail, yang secara garis
besar terbagi atas kelompok fungsi kawasan lindung (non budidaya) dan kelompok fungsi
kawasan budidaya.
Kawasan Lindung didefinisikan sebagai kawasan yang ditetapkan dengan fungsi
utama melindungi kelestarian hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya
buatan. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi yang mencakup sumberdaya alam dan
sumberdaya buatan.
a. Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung
Pemantapan kawasan lindung adalah penentuan batas-batas dan luas kawasan
yang diidentifikasikan sesuai untuk direkomendasikan sebagai kawasan lindung.
Pengelompokkan kawasan-kawasan yang termasuk dalam pengelolaan kawasan lindung
diuraikan sebagai berikut :
1. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya, terdiri atas:
2. Kawasan Perlindungan Setempat, terdiri atas :
3. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya :
4. Kawasan Rawan Bencana, seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor dan
lain-lainnya.
Rencana penetapan luas kawasan lindung di Kabupaten Tabanan adalah seluas
22.212,45 Ha dari total luas Kabupaten Tabanan, atau setara dengan 26,46% dari total
luas Kabupaten Tabanan.
Tabel 2.13 Luasan Kawasan Lindung di Kabupaten Tabanan tahun 2007
No
Kecamatan
Luas
Perlindungan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan
39
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Wilayah
Kecamatan
( Ha )
Kawasan
Bawahnya
Sempadan
Pantai
Sempadan
Sungai
Sempadan
Jurang
Kawasan
Mata Air
Kawasan
Suaka
Alam
Cagar
Budaya
rawan
Bencana
Erosi/Abrasi
( Ha )
( Ha )
( Ha )
( Ha )
( Ha )
( Ha )
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
519,53
6,00
-
-
-
-
529,97
3,00
-
-
-
-
-
533,48
10,00
( Ha )
1
Selemadeg
5.205
2
Kerambitan
4.239
3
Tabanan
5.14
4
Kediri
5.36
5
Marga
4.479
540,53
-
-
-
-
533,48
-
6
Baturiti
9.917
3.206,84
-
-
-
-
540,53
-
7
Penebel
14.198
3.669,76
-
-
-
-
545,44
-
8
Pupuan
17.902
3.809,52
-
-
-
-
559,52
-
9
Selemadeg
Barat
12.015
2.811,83
-
-
-
-
565,80
10
Selemadeg
Timur
5.478
567,32
-
-
-
-
567,32
83.933
15.791,39
92,75
1,030
JUMLAH
1.145,08
40,50
345,00
8,22
31,00
-
4.895,09
50,00
Sumber : Rencana
b. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya
1. Kawasan hutan lindung, meliputi :
Kawasan hutan lindung mutlak, yaitu kawasan yang ditetapkan untuk menjaga
dan melindungi, keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam (tanah dan
air) dan sumber daya buatan yang bersifat mutlak.
Kawasan hutan lindung terbatas yaitu kawasan yang ditetapkan untuk
menjaga dan melindungi keseimbangan dan kelestarian sumber daya yang
bersifat terbatas.
2. Kawasan lindung lainnya yaitu wilayah yang mempunyai ketinggian diatas
permukaan laut 1000 meter atau lebih wilayah kepulauan yang mempunyai
ketinggian di atas 2/3 dari titik tertinggi pulau itu.
3. Kawasan resapan air yaitu kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk
meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air (akuifer) yang
berguna bagi sumber air.
Curah hujan dengan insensitas tinggi dan atau
Struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang
mampu meresapkan air secara besar - besaran.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
40
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Berdasarkan analisa yang dilakukan maka ditetapkan luas area bagi kawasan yang
memberikan perlindungan bawahnya sebesar 15.791,39 Ha atau setara dengan 18,814
% dari total luas Kabupaten Tabanan.
Adapun kebijaksanaan pemanfaatan ruang di kawasan untuk mencegah terjadinya
bencana dan menjaga kelestarian kawasan meliputi :
Pemantapan kawasan lindung berdasarkan Keppres 32 tahun 1990.
Pengendalian kegiatan budidaya yang telah ada secara ketat dengan tetap
memperhatikan kondisi sosial ekonomi.
Pengembalian fungsi hidro-orologi kawasan hutan yang telah mengalami
kerusakan (rehabiliasi dan konservasi).
Pencegahan dilakukannya kegiatan budidaya baru, kecuali kegiatan yang
tidak mengganggu fungsi lindung.
c. Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan perlindungan setempat yang terdapat di Kabupaten Tabanan terdiri dari :
Kawasan radius kesucian pura, Kawasan suci, Kawasan sekitar mata air yang
mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi mata air, Sempadan sungai
yaitu kawasan sepanjang kiri - kanan sungai / saluran irigasi yang mempunyai manfaat
penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai, Kawasan sekitar danau /
waduk, Kawasan sekitar rawa, Sempadan pantai dengan total luas kawasan sempadan
pantai ditetapkan seluas 345 Ha atau setara dengan 0,411% dari total luas Kabupaten
Tabanan, dan Sempadan jurang denagn total luas kawasan sempadan jurag yang ada di
kabupaten Tabanan ditetapkan seluas 92,75 Ha atau setara dengan 0,111% dari total
luas Kabupaten Tabanan. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan maka ditetapkan
bahwa luas kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Tabanan seluas 6.371,06 Ha
atau setara dengan 7,59% dari total luas kabupaten Tabanan.
d. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya
1. Cagar alam dengan kriteria yaitu kawasan yang mempunyai keanekaragaman
jenis, tumbuhan ,satwa dan tipe ekosistemnya ;
2. Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif
dengan daerah penyangga yang cukup luas;
3. Suaka margasatwa dengan kriteria kawasan yang merupakan tempat hidup dan
perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang dilakukan upaya konservasi;
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
41
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
4. Hutan wisata dengan kriteria kawasan berhutan yang bervegetasi tetap yang
memiliki arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki akses yang baik untuk
keperluan patiwisata.
5. Daerah perlindungan plasma nutfah, dengan kriteria areal yang ditunjuk memiliki
jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi
yang telah di tetapkan ;
6. Daerah pengungsian satwa merupakan wilayah kehidupan satwa yang sejak
semula menghuni areal tersebut.
7. Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya : daerah ini ditetapkan dengan
kriteria perairan laut. Perairan darat, wilayah pesisir. Muara sungai,.
8. Kawasan pantai berhutan bakau, daerah ini ditetapkan dengan kriteria jarak
minimal 130 kali nilai rata - rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah
tahunan di ukur dari garis air surut terendah ke arah darat.
9. Taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam ditetapkan dengan
kriteria bervegetasi tetap memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam, memiliki
arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki akses yang baik untuk keperluan
pariwisata.
10. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan ; ditetapkan dengan kriteria tempat
dan ruang disekitar bangunan yang bernilai budaya tinggi berumur dan atau
mempunyai langgam sekurang - kurangnya 50 tahun, situs purbakala dan
kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk
pengembangan ilmu pengetahuan.
Luas Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya adalah seluas
4.895,09 Ha atau setara dengan 5,83% dari total luas Kabupaten Tabanan.
e. Rencana Kawasan Budidaya
Adapun luas kawasan budidaya yang direncanakan di Kabupaten Tabanan adalah
seluas ± 61.720,55 Ha (73,54% dari luas wilayah perencanaan). Kegiatan budidaya yang
akan dikembangkan dibedakan menurut karakteristiknya dalam memanfaatkan ruang
yaitu :
•
Kawasan pertanian dalam arti luas, pertambangan, perindustrian, permukiman
merupakan kegiatan budidaya intensif dalam memanfaatkan ruang.
•
Kawasan pariwisata (yang berorientasi pada obyek dan daya tarik wisata
alam)
dapat
dipandang
sebagai
kegiatan
yang
fleksibel
di
dalam
memanfaatkan ruang sehinga kawasannya dapat saja tumpang tindih/terpadu
pada kawasan-kawasan lain.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
42
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
•
Perbedaan karakteristik kegiatan budidaya ini perlu menjadi salah satu
pertimbangan dalam perumusan kebijakan pengembangan atau pemanfaatan
ruang pada tiap kawasan budidaya.
•
Memberikan arahan pemanfaatan ruang kawasan budidaya secara optimal
dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
•
Memberikan arahan untuk menentukan prioritas pemanfaatan ruang antar
kegiatan budidaya yang berbeda dalam suatu lokasi.
•
Memberikan arahan bagi perubahan jenis pemanfaatan ruang dari jenis
kegiatan budidaya tertentu kejenis kegiatan lainnya sesuai potensi fisik yang
dimiliki.
1. Kawasan Hutan Rakyat
Luas hutan rakyat di Propinsi Bali saat ini adalah 8.626,36 Ha, tersebar di berbagai
wilayah Kabupaten. Pengembangan hutan rakyat di Bali terutama untuk mendukung
kegiatan industri kerajinan rakyat. Dari segi kesesuaian lahan, kawasan penyangga yang
sesuai bagi pengembangan hutan produksi adalah lahan dengan ketinggian diatas 500 m
dan lahan dengan kelerengan antara 15 – 40 %.
Disamping alternatif pengembangan hutan produksi di areal kawasan budidaya,
pengembangan lain adalah pengembangan kawasan hutan rakyat. Hutan rakyat sebagai
salah satu komponen dari hutan produksi di Bali luasnya relatif kecil,. Luas kawasan
hutan produksi di kawasan perencanaan adalah ± 3.577,00 Ha (4,26% dari luas wilayah
perencanaan). Lokasi hutan ini tersebar di kecamatan Penebel, Baturiti, Marga, Pupuan,
dan Selemadeg.
2. Kawasan Peruntukan Pertanian
Permasalahan utama dalam pengembangan lahan sektor pertanian dalam arti luas
yang telah dirumuskan oleh pemerintah Kabupaten Tabanan adalah berkurangnya lahan
produktif baik lahan sawah maupun lahan kering untuk keperluan pembangunan sub
sektor lainnya. Di samping itu berkurangnya kualitas dan kuantitas sumberdaya tanah,
air, dan hutan di Kabupaten Tabanan ikut memberikan andil dalam pengembangan
pertanian yang dialokasikan untuk pengadaan pangan. Kebijakan kawasan peruntukan
pertanian yang dilakukan meliputi :
-
Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan Lahan Basah
-
Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan Lahan Kering
-
Kawasan Peruntukan Pertanian Tanaman Tahunan/Perkebunan
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
43
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
-
Kawasan Peruntukan Peternakan
-
Kawasan Peruntukan Perikanan
3. Kawasan Pariwisata
Konsep pengembangan pariwisata daerah Kabupaten Tabanan tampaknya masih
belum dapat dikembangkan menjadi suatu bentuk wisata khusus bagi masing-masing
objek wisata yang ada dengan pola pengembangan ekowisata (ecotourism) murni yang
memiliki aturan ketat.
Upaya pengembangan pariwisata di Kabupaten Tabanan dapat dilakukan dengan
arah strategi dan kebijakan sebagai berikut :
Meningkatkan kualitas obyek dan daya tarik wisata (ODTW) serta meningkatkan
•
mutu pelayanan wisata pada ODTW dengan memberdayakan masyarakat,
penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana serta keamanan dan keselamatan
pengunjung.
Meningkatkan pengelolaan ODTW/ODTWK/Kawasan pariwisata dan aset-aset
•
warisan budaya menjadi obyek dan daya tarik wisata yang atraktif dengan
pendekatan profesional, kemitraan swasta, pemerintah dan masyarakat.
Berperan aktif dalam menciptakan promosi pariwista yang efektif dengan pendekatan
•
profesional, kemitraan antara swasta, pemerintah, dan masyarakat dan memperkuat
jaringan kelembagaan guna tercipta perluasan pasar pariwisata tidak hanya untuk
pasar luar negeri tetapi juga pasar domestik, melalui perluasan jaringan pariwisata
antar daerah di luar Kabupaten Tabanan.
Meningkatkan peranan sektor pariwisata sebagai wahana pelestarian kekayaan
•
budaya daerah dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
4. Kawasan Perindustrian
Kebijaksanaan pemanfaatan ruang untuk kawasan perindustrian yang dilakukan
hingga akhir tahun perencanaan meliputi :
•
Peningkatan sebaran industri kerajinan dan industri skala rumah tangga di sekita
lingkungan permukiman yang ada.
•
Khusus untuk wilayah perkotaan, pengembangan kawasan industri diarahkan
dengan mempertimbangkan batas wilayah kota, serta acuan dalam peraturan tata
ruang yang ada, seperti RUTRK/RDTRK/RTRK yang telah ada.
•
Dimungkinkan untuk pengembangan industri kecil dan industri sedang untuk
pengolahan hasil pertanian dan perkebunan di daerah-daerah sentra pertanian dan
perkebunan dengan skala terbatas.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
44
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
5.
Kawasan Pertambangan
Arahan kebijakan terkait dengan pengelolaan pertambangan galian C pada kurun
waktu perencanaan hingga 20 tahun ke depan adalah :
•
Membatasi upaya eksploitasi bahan tambang galian C hingga habisnya cadangan
yang tersedia akibat peristiwa geologi yang terdiri atas pasir dan batu.
•
Membatasi
kegiatan
eksploitasi
tambang
galian
C
sampai
pada
upaya
mengembalikan rona awal lahan di tempat galian C tersebut.
•
Eksploitasi bahan tambang di luar material tambang yang dihasilkan letusan gunung
api dapat dilakukan secara terbatas dengan catatan sesuai dengan potensi yang ada
serta tetap memperhatikan kondisi kelestarian lingkungan.
•
Mengawasi secara ketat alokasi lahan pertambangan galian C serta kegiatan
pengeboran air bawah tanah.
•
Membatasi upaya - upaya pengambilan air bawah tanah, terutama pada daerah
pantai yang rawan intrusi air laut.
6.
Kawasan Permukiman
Pengembangan kawasan permukiman disesuaikan dengan hasil analisa sistem
kota dan pusat - pusat pertumbuhan di wilayah Kabupaten Tabanan, dimana
pengembangan permukiman baru mengacu pada wilayah di sekitar pusat - pusat
permukiman yang saat ini diindentifikasikan telah menjadi pusat pengembangan wilayah.
Rencana kawasan permukiman meliputi rencana kawasan terbangun yang diperuntukan
bagi kegiatan permukiman penduduk baik di perkotaan maupun di perdesaan seluas ±
7.262,41 Ha (8,653% dari luas wilayah perencanaan) yang tersebar di semua kecamatan.
Kebijakan pengelolaan pada kawasan permukiman ditempuh melalui :
•
Pengembangan kawasan terbangun pada lahan yang sesuai dengan kriteria
fisik kawasan permukiman, meliputi : kemiringan lereng, ketersediaan mutu
dan sumber air bersih, bebas dari potensi banjir dan genangan.
•
Pembatasan perkembangan kawasan terbangun yang berada atau berbatasan
dengan kawasan lindung.
•
Penetapan sempadan perbatasan antar wilayah kabupaten sekurangkurangnya 50 meter di kiri-kanan garis sempadan perbatasan wilayah, serta
berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH).
•
Penetapan jalur hijau antara kawasan permukiman dengan kawasan-kawasan
tertentu seperti kawasan pertambangan, industri dan lain-lainnya.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
45
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
•
Pengembangan kawasan permukiman perkotaan lebih diarahkan pada kota
(pusat permukiman).
•
Pengembangan pusat perdesaan diutamakan pada desa-desa yang jumlah
penduduknya belum mencapai 5.000 jiwa, untuk ditingkatkan menjadi kategori
kota desa.
f.
Penetapan Daerah Rawan Bencana
Kawasan rawan bencana yaitu kawasan yang sering dan atau mempunyai potensi
bencana alam seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi, angin topan dan sebagainya.
Kriteria yang diperlukan dalam menentukan kawasan lindung didasarkan pada Keppres
No. 57 tahun 1989 tentang pedoman penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah.
Berdasarkan analisa yang telah dilakukan maka ditetapkan luas kawasan rawan
bencana berupa bencana erosi dan atau abrasi di Kabupaten Tabanan seluas 50 Ha atau
setara dengan 0,060 %. Dengan area sebaran meliputi :
a. Kecamatan Kerambitan : 6 Ha
b. Kecamatan Tabanan
: 3 Ha
c. Kecamatan Kediri
: 10 Ha
d. Kecamatan Selemadeg Barat
: 31 Ha
D. RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA UMUM
a. Rencana Pengembangan Fasilitas Perdagangan dan Jasa
Pembangunan fasilitas bidang perdagangan dan industri di Kabupaten Tabanan
dilaksanakan dengan arahan sebagai berikut :
•
Hingga akhir tahun perencanaan masih perlu ditambahkan 1818 unit warung
dengan luas 181.800 m2, 182 unit toko dengan luas 218.400 m2 dan pusat
perbelanjaan skala lingkungan yang terdiri dari pasar dan toko sebanyak 14 unit.
•
Peningkatan kualitas layanan dan fasilitas perdagangan yang ada di pusat-pusat
ibukota Kecamatan dan di sekitar jalur transportasi darat.
•
Perlu pengembangan fasilitas perdagangan eksisiting hingga menjangkau daerahdaerah yang lebih jauh dari jalur tranportasi utama.
b. Rencana Sarana Pendidikan
Sebagai gambaran jumlah fasilitas sekolah Taman Kanak-kanak (TK) dimana
jumlah yang tersedia saat ini hanya 196 unit, masih kurang dibanding kebutuhan yang
mencapai 410 unit pada tahun 2007. Hingga lima tahun pertama perencanaan (akhir
2012) kebutuhan sekolah TK mencapai 421 unit, akhir tahun 2017 dibutuhkan 422 unit
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
46
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
sekolahTK, akhir tahun 2022 dibutuhkan 442 unit sekolah TK, dan pada akhir tahun
perencanaan (akhir 2027) dibutuhkan 455 unit sekolah TK.
Pembangunan bidang pendidikan di Kabupaten Tabanan dilaksanakan dengan
arahan sebagai berikut :
•
Pemerataan sebaran fasilitas pendidikan dengan membangun fasilitas sekolahsekolah baru di sekitar area permukiman dengan basis perhitungan jumlah anak
usia sekolah.
•
Pengembangan fasilitas pendidikan tingkat lanjut (pendidikan tinggi, akademi) di
Kabupaten Tabanan.
•
Pemerataan akses pendidikan hingga ke pelosok wilayah, bersinergi dengan
pengembangan jaingan jalan dan fasilitas lain seperti kesehatan, perdagangan jasa,
dan sebagainya.
c. Rencana Sarana Kesehatan
Jumlah fasilitas balai pengobatan yang tersedia perlu ditambah hingga mencapai
152 unit pada akhir tahun 2027. Sementara fasilitas Balia Kesehatan Ibu dan Anak yang
harus disediakan hingga akhir tahun perencanaan mencapai 43 unit, demikian pula
dengan apotik yang harus disediakan sebanyak 43 unit. Sementara untuk fasilitas
puskesmas dan BKIA jumlah yang tersedia telah melebihi angka kebutuhan minimum
yang harus disediakan.
Pembangunan bidang kesehatan di Kabupaten Tabanan dilaksanakan dengan
arahan sebagai berikut :
•
Hingga akhir tahun perencanaan masih perlu ditambahkan 152 unit Balai
Pengobatan, 42 unit BKIA, dan 19 unit apotik.
•
Khusus untuk Puskesmas jumlah fasilitas yang tersedia telah melebihi jumlah
kebutuhan akan fasilitas ini, sehingga tidak perlu penambahan fasilitas
Puskesmas.
•
Pemerataan fasilitas kesehatan seperti posyandu dan puskesmas pembantu
hingga ke pelosok-pelosok wilayah
d. Rencana Sarana Pelayanan Umum
Fasilitas pelayanan umum yang tersedia di Kabupaten Tabanan terdiri dari Pos
Hansip, Balai Pertemuan, Parkir Umum, MCK, kantor Lingkungan, Pos Polisi, kantor Pos
Pembantu dan Pos PMK. Hingga saat ini tidak tersedia data yang menunjukkan fasilitas
pelayanan umum yang tersedia di Kabupaten Tabanan. Permasalahan yang dihadapi
dalam upaya pengembangan fasilitas pelayanan umum di Kabupaten Tabanan adalah
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
47
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
jumlah fasilitas yang masih kurang, serta tingkat persebaran fasilitas yang kurang merata
di semua wilayah perencanaan.
Pembangunan fasilitas pelayanan umum di Kabupaten Tabanan dilaksanakan
dengan arahan sebagai berikut :
•
Hingga akhir tahun perencanaan jumlah fasilitas pelayanan umum yang
tersedia masih perlu ditambah.
•
Perlu pemerataan penyebaran fasilitas pelayanan umum hingga ke tingkat
perkotaan di wilayah kecamatan.
e.
Rencana Fasilitas Kebudayaan dan Rekreasi
Pembangunan
fasilitas
kebudayaan dan
rekreasi
di
Kabupaten
Tabanan
dilaksanakan dengan arahan sebagai berikut :
•
Hingga akhir tahun perencanaan jumlah fasilitas kebudayaan dan rekreasi
yang tersedia masih perlu ditambah, dengan rincian untuk fasilitas balai
pertemuan perlu ditambah 182 unit dengan luas total 54.600 m2 sedangkan
fasilitas gedung serbaguna dan gedung bioskop perlu ditambah 14 unit
dengan luas total 42.000 m2.
•
Keberadaan fasilitas kebudayaan dan rekreasi yang ada perlu pemerataan
penyebaran hingga ke tingkat perkotaan di wilayah kecamatan hingga desadesa.
f.
Rencana Pengembangan Fasilitas Olahraga dan Ruang Terbuka
Pembangunan fasilitas olahraga dan daerah terbuka di Kabupaten Tabanan
dilaksanakan dengan arahan sebagai berikut :
•
Hingga akhir tahun perencanaan jumlah fasilitas olahaga dan daerah terbuka
yang tersedia masih perlu ditambah, dengan rincian untuk fasilitas taman
bermain perlu ditambah 1818 unit dengan luas total 454.500 m2 sedangkan
fasilitas taman sekaligus tempat bermain yang harus disediakan perlu
ditambah 182 unit dengan luas total 227.500 m2. Sedangkan fasilitas taman
yang menyatu dengan lapangan olahraga dan tempat bermain yang
dibutuhkan sebanyak 14 unit dengan luas total 126.000 m2.
•
Keberadaan fasilitas kebudayaan dan rekreasi yang ada perlu pemerataan
penyebaran hingga ke tingkat ibukota kecamatan hingga desa-desa.
•
Perlunya meningkatkan kelengkapan fasilitas olahraga dan daerah terbuka
serta menjaga agar tidak terjadi peralihan fungsi lahan menjadi fungsi
terbangun.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
48
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
g. Rencana Pengembangan Perumahan
pengembangan kawasan permukiman di Kabupaten Tabanan dilaksanakan dengan
arahan pengembangan sebagai berikut :
•
Pengembangan kawasan permukiman dibuat dengan berlandaskan konsepsi
Tri Hita Karana.
•
Pengembangan kawasan permukiman diupayakan dapat berfungsi sebagai
pusat kegiatan sosial, ekonomi, budaya, jasa dan pusat pemerintahan, untuk
kawasan permukiman dan daerah sekitarnya.
•
Pengembangan permukiman dalam suatu sistem sesuai dengan fungsi dan
hierarkinya yang saling memperkuat dalam kesatuan wilayah Kabupaten.
•
Pengembangan kawasan permukiman dengan pertimbangan optimasi lahan
dengan pengembangan rumah susun.
•
Pengembangan permukiman yang didasarkan atas sistem permukiman,
jaringan prasarana dan kawasan di sekitarnya agar dapat saling memperkuat.
•
Menghindari pengunaan lahan produktif dan beririgasi teknis sebagai lahan
pengembangan permukiman, serta pembangunan berskala besar dalam
optimasi peruntukan lahan.
•
Menghindari dan membatasi pembangunan perumahan dan permukiman
skala besar.
•
Pengembangan permukiman perdesaan dan perkotaan agar dapat menjadi
pusat kegiatan usaha dan kegiatan pelestarian lingkungan hidup.
•
Pengembangan permukiman agar disesuaikan dengan peraturan tata
bangunan agar dapat mewujudkan pembangunan permukiman yang sesuai
dengan daya dukung, harmonis, dan serasi sehingga membentuk tata
lingkungan yang harmonis.
E. RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH
a. Rencana Prasarana Air Bersih
Arahan dan strategi bagi pengembangan sistem air bersih di Kabupaten Tabanan
adalah sebagai berikut :
•
Peningkatan kapasitas produksi fasilitas insatalasi pengolah air minum yang
ada saat ini dengan jalan mengembangkan dan mengoptimalkan sumbersumber air minum baru yang potensial di Kabupaten Tabanan.
•
Mengupayakan alternatif teknik pengolahan air bersih dengan tujuan
mengurangi biaya operasional.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
49
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
•
Pemerataan jaringan air bersih hingga ke wilayah desa-desa yang belum
terlayani air bersih.
b. Rencana Pengelolaan Air Limbah
Sistem drainase kota erat kaitannya dengan sistem pembuangan dan penyaluran
air buangan serta air bekas pakai. Adapun air buangan yang harus diolah adalah air
bekas yang berasal dari :
-
Perumahan 70% dari standar kebutuhan air bersih
-
Fasilitas sosial 60% dari standar kebutuhan air bersih
-
Fasilitas industri 60% dari standar kebutuhan air bersih
-
Kebocoran 100 dari standart kebutuhan air bersih
-
Cadangan air bersih 60% - nya yang terbuang
Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh jumlah volume air buangan yang harus
ditampung oleh sistem drainase yang ada di Kabupaten Tabanan pad a tahun 2006
adalah 51.680.412 liter. Sedangkan volume air buangan yang harus ditampung oleh
sistem drainase Kabupaten Tabanan pada akhir tahun perencanaan (tahun 2027) adalah
57.254.133 liter atau setara dengan 57.254 m3.
2.9.2
KEBIJAKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN
TABANAN
A.
Strategi Pembangunan di Bidang Tata Ruang
Menyempurnakan kebijakan tata ruang dengan prinsip pembangunan berkelanjutan
dan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang serasi, seimbang
dan selaras dan terkoordinasi dalam mengalokasikan pemanfaatan ruang.
B.
Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah
Strategi pengembangan ekonomi yang seharusnya dilakukan adalah:
1. Pembagian wilayah pembangunan tidak hanya berdasarkan pendekatan fisik
dan administratif saja tetapi juga berdasarkan pendekatan ekonomi kawasan.
2. Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru yang memiliki potensi dan
kemungkinan pengembangannya mampu melayani wilayah.
3. Menyeimbangkan pertumbuhan perekonomian wilayah dengan menyebarkan
lahan investasi sesuai dengan potensi yang.
4. Meningkatkan diversifikasi industri pengolahan khususnya pada sub sektor
industri kayu.
5. Meningkatkan
intensifikasi
pertanian
dan
mempercepat
penyediaan
kesempatan kerja di luar sektor.
6. Meminimalkan alih fungsi lahan subur dari pertanian ke non pertanian.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
50
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
7. Mensinergikan pertanian dengan pariwisata dengan mengembangkan konsep
agrowisata.
8. Menciptakan iklim yang kondusif melalui penyediaan berbagai fasilitas dan
kemudahan yang mendukung investor untuk menanamkan modalnya.
C.
Strategi Pembentukan Struktur Ruang
Strategi pembentukan struktur ruang adalah :
1. Pembagian
perwilayahan
pengembangan
yang
berorientasi
pada
pemanfaatan potensi wilayah belakang/hinterland;
2. Menggunakan hasil analisis hirarki fungsi dan jangkauan pusat-pusat
pelayanan untuk mengarahkan fungsi pengembangan pusat pelayanan;
3. Penilaian terhadap struktur jaringan jalan regional untuk menentukan fungsi
jalan;
4. Memperhatikan daerah aliran sungai yang akan berfungsi sebagai sistem
drainase primer.
D.
Strategi Penataan Kawasan Perdesaan dan Perkotaan
1. Kawasan
perdesaan
diarahkan
pengembangannya
untuk
mendukung
kegiatan ekonomi berbasis pertanian yang dilengkapi dengan sentra produksi
pertanian unggulan dan andalan dan fasilitas pasca produksi;
2. Kawasan perkotaan diarahkan pengembangannya untuk mendukung kegiatan
ekonomi berbasis perdagangan-jasa dan pelayanan sosial serta mendukung
pengembangan kawasan strategis.
3. Pengendalian pemanfaatan ruang dengan menerapkan peraturan zonasi di
kawasan perkotaan.
E.
Strategi Penataan Sistem Permukiman Perdesaan dan Perkotaan
1. Peningkatan fungsi kota : Tabanan sebagai Pusat Kegiatan Nasional
(PKN) karena bagian dari Kawasan Kota Metropolitan SARBAGITA,
2. Peningkatan fungsi ibukota kecamatan sebagai Pusat Pengembangan
Kawasan (PPK) dalam konteks sub regional dan lokal.
F.
Strategi Pengembangan Kawasan Lindung
Untuk menjamin kelestarian lingkungan dan keseimbangan pemanfaatan sumber
daya alam sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, maka strategi
pengembangan diarahkan pada :
a. Pengelolaan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya masing-masing.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
51
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
b. Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan lindung.
c. Tercapainya kelestarian dan keseimbangan lingkungan.
d. Penghijauan pada kawasan lindung setempat dan kawasan hutan rakyat yang
mengalami kerusakan untuk memperbaiki fungsi ekologisnya.
G.
Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya
Arahan pengembangan bagi kegiatan budidaya. Pengembangan kawasan budidaya
akan diarahkan pada :
a. Pengembangan kawasan budidaya yang diarahkan untuk mengakomodasikan
kegiatan produksi, permukiman, industri dan pariwisata.
b. Pertanian
Pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan lahan basah
diarahkan pada kawasan yang memiliki potensi/kesesuaian lahan serta
dukungan prasarana irigasi.
Perubahan pengembangan sektor pertanian lahan basah pada
kawasan yang sistem irigasinya sudah mengalami gangguan.
Intensifikasi pertanian ini tetap harus didukung oleh kelengkapan
sarana den prasarana.
Peternakan untuk jenis ternak unggas dan ternak kecil diarahkan di
sekitar kawasan pertanian atau pemanfaatan lahan pekarangan
permukiman penduduk.
Budidaya
perikanan dengan memanfaatkan saluran irigasi maupun
pada areal persawahan.
c. Industri
Pengembangan industri untuk meningkatkan nilai tambah yang
setinggi-tingginya, memperluas lapangan kerja, kesempatan berusaha
dan meningkatkan volume ekspor.
Jenis-jenis industri yang dikembangkan yang memiliki keterkaitan kuat
dengan sektor-sektor lainnya.
Pengembangan industri skala kecil dan kerajinan.
Pengembangan kawasan industri diarahkan pada sentra-sentra industri
kecil.
d. Pariwisata
Pengembangan kawasan pariwisata mengacu kepada rencana induk
pengembangan pariwisata Bali.
Pengembangan kawasan pariwisata dengan memperhatikan aspek
kelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
52
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Tabanan yang lebih
mengedepankan pariwisata alam dan budaya.
e. Pertambangan
Pengembangan kawasan pertambangan galian C diarahkan pada penggalian
dengan tetap mempertimbangkan penyebaran bahan galian, ketebalan rata-rata
lapisan bahan galian dan prosentase perolehan bahan galian yang potensial untuk
ditambang, sehingga dapat tetap menjaga kelestarian lingkungan.
f. Permukiman
Strategi pengembangan permukiman dapat dikelompokkan dalam:
Pengembangan permukiman diarahkan untuk menunjang penegasan
kembali pola-pola lingkungan tradisional.
Pengembangan permukiman diarahkan dengan jalan mengefektifkan
lahan-lahan non produktif yang nilai ekonomisnya rendah.
H. Strategi Pengembangan Kawasan Strategis
1. Penataan dan pengembangan kawasan-kawasan strategis untuk memacu
perkembangan wilayah di sekitarnya;
2. Menyusun rencana induk pengembangan pariwisata kabupaten.
3. Penyusunan masterplan dan detail engineering design (DED)
pusat
kawasan agropolitan.
4. Pengembangan kegiatan industri pada kawasan agropolitan.
I.
Strategi Penataan Kawasan Pesisir
1. Kawasan pesisir dikembangkan untuk kegiatan perikanan dan pariwisata.
2. Pengelolaan ruang perairan laut diarahkan menjadi zona lindung , zona
penyangga dan zona pemanfaatan;
3. Zona lindung ruang perairan laut diarahkan untuk pengembangan daerah
perlindungan terhadap ekosistem terumbu karang.
4. Zona pemanfaatan ruang perairan laut diarahkan untuk optimalisasi
kegiatan budidaya perikanan dan penangkapan ikan.
J. Strategi Penatagunaan Tanah, Air, Udara dan Sumberdaya Alam Lainnya
1. Penatagunaan tanah, air, udara dan sumber daya alam lainnya.
2. Memprioritaskan
pemantapan
kawasan
lindung
dan
optimalisasi
pemanfaatan kawasan budidaya.
3. Penatagunaan
air
dilakukan
dengan
pengaturan,
pemanfaatan,
pengusahaan sumberdaya air.
4. Penatagunaan udara dilakukan dengan pengaturan, pemanfataan udara.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
53
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
K. Strategi Pengembangan Prasarana Wilayah
Strategi pengembangan prasarana wilayah adalah dengan mengupayakan
pembangunan komponen infrastruktur/prasarana dasar wilayah sesuai dengan
daya dukung kawasan dan kebutuhan optimal yang dapat dilayani..
Strategi pengembangan bagi masing-masing prasarana adalah :
1. Strategi
pengembangan
prasarana
transportasi,
diarahkan
untuk
meningkatkan aksesibilitas penduduk di dalam wilayah kabupaten maupun ke
luar wilayah kabupaten.
2. Strategi pengembangan jaringan irigasi adalah untuk distribusi air yang
memadai kualitas maupun kuantitas untuk pengembangan pertanian terutama
pertanian lahan basah.
3. Strategi pengembangan energi listrik dan telekomunikasi diarahkan untuk
memberikan pelayanan yang memadai dan merata, perencanaan untuk
jaringan listrik bagi desa atau wilayah yang belum terlayani oleh jaringan listrik
dan telekomunikasi.
4. Strategi pengembangan air bersih adalah memberikan pelayanan air yang
memadai dari segi kualitas maupun kuantitas baik bagi domestik maupun non
domestik.
5. Strategi pengelolaan persampahan adalah memperluas areal TPA yang ada
dan meningkatkan sistem pengelolaan menjadi modified sanitary landfill.
6. Strategi pengelolaan air limbah mengembangkan sistem sanitasi setempat
dilengkapi dengan pengolahan lumpur tinja serta mengupayakan sistem
sanitasi terpusat untuk wilayah yang mempunyai kepadatan penduduk cukup
tinggi serta wilayah pariwisata dan perdagangan.
7. Strategi pengelolaan sistem drainase dan limbah adalah :
Memanfaatkan kali yang ada sebagai saluran penggelontoran;
Meningkatkan pelayanan sanitasi di daerah padat
Mengamankan daerah hulu
sungai
(bagian utara)
dari
ancaman
pencemaran air dan membatasi alih fungsi lahan terbuka menjadi
terbangun.
Membangun instalasi pengolahan tinja
Mempercepat pembangunan TPA limbah yang berfungsi menampung
limbah tinja, tapi juga limbah dari hotel, restoran dan industri
Mengawasi secara ketat sumber-sumber kegiatan atau usaha penduduk
yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
54
PEMERINTAH KABUPATEN TABANAN
KELOMPOK KERJA SANITASI
KABUPATEN TABANAN
Jl. Pahlawan No 19. Tabanan
L. Arah Kebijakan Umum di Bidang Tata Ruang
1. Menyempurnakan kebijakan tata ruang dengan prinsip pembangunan
berkelanjutan dan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan
yang serasi, seimbang dan selaras dan terkoordinasi dalam mengalokasikan
pemanfaatan ruang.
2. Melaksanakan
kebijakan tata
ruang wilayah secara konsisten
untuk
kepentingan masyarakat dan pembangunan yang berkelanjutan.
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan tata ruang,
pemanfaatan
ruang
dan
pengendalian
pemanfaatan
ruang
melalui
pengintegrasian nilai-nilai lokal.
LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN
55
Download