negara kesejahteraan : pro dan kontra modal asing

advertisement
NEGARAKESEJAHTERAAN: PRODAN KONTRA
MODAL ASING-)
Oleh : ErmanRajagukguk
Apakah negara kesejahteraandapat terjadi dengan agenda Neoliberalisme,
yang antara lain, menekankan peranan modal asing dalam perekonomian nasional?
Bagaimana peranan hukum ekonomi dalam legislasi nasional untuk mencapai negara
kesejahteraandalam " agendaneoliberalisme"?
Jawabanatas pertanyaanpertama,tergantungkepadateori mana yang kita anut
: Liberalisme, Marxisme, teori Dependency.Liberalisme tentu mengikuti Adam Smith
dalam "the Wealth of Nations" dua abad yang lalu, bahwa decentralization of political
powel and liberalization of the mqrket contribute to producer confidence, initiative'
investment,and growth. Marxisme menyebutpenanamanmodal asing adalahpemerasan
kaum kapitalis terhadapkaum proletar, dalam hal ini buruh. Namun Deng Xian Ping
mengatakan,baiklah kembali kepepatahCina Kuno, "Tidak penting kucing itu hitam
atau putih, yang perlu bagaimanaia bisa menangkaptikus". Cina Niarxist mengundang
modal asing daq menjadikeh;atan ekonomi baru dunia.Begitu juga teori Dependency
(ketergantungan) berpendapat, bahwa penanaman modal asing itu
membuat
ketergantungannegara pinggiran (negara berkembang) kepada negara centre (negara
maju)
dan
SudahsejakberdirinyaRepublik Indonesia,masalahnegarakesejahteraan
modal asingitu menjadiperdebatan.
Pasal33 UUD 1945(sebelumamandemen)menyatakan:
(l) Perekonomiandisusunsebagaiusahabersamaberdasaratasasaskekeluargaan.
(2) Cabang-cabangproduksi yang penting bagi negaradan yang menguasaihajat hidup
orang banyak dikuasaioleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaanalam yang terkandungdidalamnyadikuasaioleh negara
kemakmuranrakyat.
dan dipergunakanuntuk sebesar-besar
") DisarnpaikanpadaDiskusi Panel"Kritik Atas Arah Kecenderungan
"SupremasiHukum".
WATCH, INFID,
SAWIT
HUMA,
olehELSAM.
Paskah1998TerkaitDenganModal"',diselenggarakan
yLBHi,
masih ada
dipublikasikan,
2008.
Tidak
untuk
5-7
Agustus
ICEL. Jakarra
WALHI, AMAN,
perbaikancatatankaki.
Mohammad Hatta, proklamatordan bapak bangsa Indonesia, yang juga
perumusterpenting Pasal 33 tersebutketika UUD 1945 dirancang,pada sebuah
peftemuan dengan wakil-wakil organisasi rakyat di gedung Sono Suko di Solo pada
tahun 1951yang mengatakan:
"(Jtk membangun negara Kita, Kita tidak mempmryai kapital, karena itu kita
palrai lmpital asing utk kepentingan Kita, Kita anti kapitalisme, tetapi tidak anti
kapital. Kita djuga tidak segan2 memakai tenaga bangsa asing, l<arena kita
memang kekurangan tenaga ahli. Mereka itu kita bajar, menurut ukuran
pembajaran internasional jang memang tinggi, diil@ dibanding dengan
pembajaran kepadn tenaga2 ahli kita. Hal itu djangan diirikan, karena mereka
itu tidak mempunjai kewadjiban terhadap Negara kita, sedang kita mempunyai
kewadjiban terhadap Negara dan bangsa...
Ada sementara golongan dalqm masjarakat kita jang kswatir, bahwa dgn
memakai kapital asing itu, kita akan djatuh kembali kedslam pendjadjahan.
Demikian Hatta selandjutrrya. Terhadap merelm ilu Bung Hotta katakan, bahwa
mereka itu masih dihinggapi oleh restan2 zaman kolonial yang
minderwaardigheids complex dari zaman kolonial dahu\. Sebagai bang,sajang
telah merdeka, kita harus mempunyai kepertjajaan atas diri kita sendiri."
Menurut MohammadHatta:
"Dihrasai oleh negara dnlam Pasal 33 Undang Undnng Dqsqr 1945 tidek berarti
negara sendiri menjadi pengusaha, usahawan atau ondenemer. Lebih tepat
dikatakan bahwa kekuasaa.nnegara terhadap pada membuat peraturan gana
melancarkanjalan ekonomi...
Cita-cita yang tertanam dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 iolqh
produksi yang besar-besar sedapat4apatnya dilaksarukan oleh Pemerintoh
dengan bqntuqn kaprtal pinjamon dari luar. Apabila siasat ini tidak berhasil,
perlu jttga diberi kesempatan kepada pengtsaha asing menanam modalnya di
Indonesia dengan syarat yang ditentukan oleh Pemerintah. Pokohrya modal
asing yang bekerja cii Indonesiu itu membuka kesempatan bekerja bagi pekerja
Indonesia sendiri. Daripada mereka hidup menganggur, lebrh boik mereka
bekerja denganjaminan hidup yang culary.
Cara begitulah dehufu kita memikirkan betapa melaksanakan pembangunan
ekononti dengan dasar Pasal 33 Utdang-Undang Dasar 1945. Terutqma
digerakkan tenaga-tenaga Indonesia yang lemqh dengan jalan kooperasi,
kemudian diberi kesempotan kepada golongan swastq untuk menyerahkan
pekerjaan dan kapital nasionaL Apabila tenaga nasional dan kapital nasional
tidak mencukupi, kita pinjam tenagq asing dan lapital asing untuk melancarkan
produksi. Apabila bangsa asing tidak bersedia meminjamkan kapitalnya, maka
diberi kesempatan kepada mereka untuk menqndm modalnya di tanah air kita
dengan syarat-.syaratyang ditentukan oleh Pemerintoh Indonesia sendiri. Syaratt)
"Wakil Presiden Hatta : Kita Anti kapitalisme. tapi tidak anti kapital ...", Pedoman, 19
Septemberl9-51.
syarat yang ditentukan itu terutama menjamin kekayaan alam kita, seperti hutan
kita dnn kesuburan tanah air kita, tetap terpelihara. Orang asing yang mau
menggarap tentu ingin melihat, balwa penanam modal bagi merelca berarti
memperoleh keuntungan. Keuntungan bagi kita bekerja sama dengan mereka
ialqh, supayq pekerja-pekerja kita yang menganggur atau belum bekerja
memperoleh pekerjaan, tanah kita yang subur dipelihara dan ditinglcatlcan
kesuburannya, dnn hutan kita yang ditebang, dibarui dengan mencmamgantinya.
Dari hasil hutan kito tidak sedibit pekerjaan baru, seperti penggergajian dnn
pertuAnngan baru yang dapat dihidupkan di atas tqnqh air kita. Kesempatan
yang dibuka untuk bangsa asing untuk menanam modol merelm di Indonesia
ialah, supaya mereka ikut serta mengembangkan kemalonuran bangsa kita,
bangsa Indonesiq. " 2)
Dalam sejarah Indonesia pro-kontra modal asing mengalami pasang surut.
Kebijakan anti modal asing dimulai dari perjuanganuntuk mengembalikanIrian Barat
pada tahun 1958. Dalam sejarah Indonesia merdeka, Pemerintah pernah dua kali
melakukan nasionalisasiterhadapperusahaan-perusahaan
asing denganundang-undang.
Pertama,PemerintahIndonesiamengambil alih perusahaan-penrsahaan
Belanda
pada tahun i958, berkaitan dengan perjuangan mengembalikan Irian Barat dari
pendudukarrtselanda. Perusahaan-perusahaan
Belanda yang dinasionaiisasiadalah
perkebunan,yang setelahdinasionalisasimenjadi perusahaannegarasampaisekarang.
Berkaitan dengan nasionalisasiini, timbul gugatanperusahaantembakauBelanda di
Bremen (German), ketika tembakaudari perkebunandi Deli akan dilelang pada pasar
tembakau di Bremen. Kasus ini terkenal dengan kasus tembakau Bremen. Duduk
perkaranyabermula dari pengapalantembakau dari bekas perusahaanBelanda yang
dinasionalisasioleh PemerintahIndonesia.Pemilik perusahaanyang dinasionalisasi
tersebut mengklaim tembakautersebut sebagaimiliknya. PengadilanBremen dalam
putusannya, antara lain, menyatakan nasionalisasi yang dilakukan
Penrerintah
Indonesiaadalahhak negarayang berdaulat.
Kedua, Pemerintahmelakukanpengambilalihanperusahaan-perusahaan
Inggris
dan Amerika, pada waktu Indonesiamengadakankonfrontasi denganMalaysia. Pada
tahun 1962 Indonesia menganggapAmerika dan Inggris sebagaipendukung utama
pembentukan Negara Malaysia, yang oleh pemerintahan Sukarno dianggap neo
kolonialismedan neo imperialisme.
2)
Mohamrnad Hatl4"Cita-Cita Koperasi Dalam Pasal 33 UUD 1945". Pidato pada Hari
Koperasi 12 Juli 1977 dalam Sri-Edi Swasono(Ed.). SislernEkonomi dan Demokrasi Ekonomi. (Jakarta:
[-II Pres. 1987).lul. 17-19.
Politik luar negeri Indonesia pada waktu itu anti Barat. Amerika dan Inggris
dianggap menjadi pendukung utama neo kolonialisme dan neo imperialisme Indonesia
condong ke Blok Komunis, dalam hal ini membuka hubunganerat denganSoviet Unie,
negan-negaraBropaTimur, Cuba, China, Vietnam Utara dan Korea Utara.
Walaupun pemerintahan Sukarno anti bantuan luar negeri dan modal asing,
Indonesiatidak menolak bantuanluar negeri dari negara-negaraBlokTimur, Jepangdan
Perancis (pembangunan bendungan Jatiluhur) dan Amerika sendiri, antara lain
pembangunanjalan "Iakarta by Pass",Cawang- Tanjung Priok.
Hukum Ekonomi yaitu hulc.rmyang berkaitandengankegiatan ekonomi tidaklah
berciiri sendiri. Hukum bukan variable yang "independent",ia tergantungkepadafaktorfaktor lain dalam masyarakat, sosial politik, ekonomi, dan hubungan internasional
dalam perdagangan.Hal ini dapat dicermati dari perkembanganpengaturanpenanaman
modal asing di Indonesia.
Di bawah Pemerintahan Presiden Sukarno ekonomi Indonesia seakan-akan
hendak mengalami kerutrtuhan.Indonesiatidak mampu membayarutang luar negerinya
yang pada waktu itu berjumlah lebih dari dua biliorr dollar. Laju inflasi sekitar 20-30
persenperbulan.
Pada tahun 1966, PemerintahIndonesiamengadakanpendekatanbaru dalam
kebijakan ekonomi, antaralain mengundangkembali masuknyamodal asing. UndangUndang yang baru tentang penanamanmodal asing diundangkanpada tahun 1967.
Untuk menarik modal asing cii Indonesia,undang-undangini menyediakanperangsang
di bidang perpajakan,jaminan untuk mentransferkeuntungan,jaminan hukum terhadap
kemungkinan nasionalisasi,dan prosedur penyelesaianperselisihan yang mungkin
timbul di kemudianhari.
Undang-Undang PenanamanModal Asing No. I Tahun 1967 secara samarsamarmengandungkontradiksi.Di satupihak Undang-Undangini mencobamendorong
penanamanmodal asingdenganmenawarkanberbagairangsangandan fasilitas.Namun
di pihak lain, Undang-Undangini dapat menimbulkankesegananuntuk mengadakan
investasi di Indonesiadenganadanyaberbagaipembatasan.Umpamanya,pemerintah
akan menentukanbidang mana sajayang terbukauntuk modal luar negeri.Di samping
itu Pemerintahmewajibkan penanamanmodal asing memberikankesempatankepada
modal nasionaluntuk ikut berpartisipasisetelahjangka waktu tertentu.Kontradiksi ini
adalah sesuatuyang logis dari pendirian negara-negarayang sedangberkembangyang
memandang pentingnya modal dan teknologi asing untuk pembangunan ekonomi,
namun secarabersamaanberusahamenghindarkandominasiasing atasperekonomian.
Hanya satu minggu saja setelah peristiwa 15 Januari 1974 yang anti Modal
Jepang, Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijaksanaanbaru yang bersangkutan
denganjumlah minimum sahamnasionaldalam perusahaanpenanamanmodal asing,
Indonesianisasitenagakerja, dan pengalihanteknologi. Berdasarkankeputusan sidang
kabinet tanggal 22 Ianvari 1974, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
mengeluarkansurat edaranyang antaralain menyebutkanbahwa sahamnasional dalam
perusahaanpenanamanmodal asing harus menjadi sekurang-kurangnya51% dalam
jangka waktu 10 tahun. Bersamaan dengan itu diperlakukan pula kebijaksanaan
Indonesianisasitenaga kerja, antara lain dengan mengenakaniuran wajib pendidikan
dan latihan sebesarUS $ 100. tiap tenagakerja asingpadaperusahaan-perusahaan
yang
belum dapat memenuhi jadwal pengakhiran tenaga kerja warga negara asing sesuai
denganketentuanyang berlaku.
Domestikasidalam penanamanmcdal asing sudah merupakankecenderungan
yang umum pada tahun sembilanbelas tujuh puluhan.Hal ini merupakanakibat dari
kekhawatiran yang mendalam dari negara-negarayang sedang berkembang terhadap
dominasi negara-negaramaju dalam sistem ekonomi internasional. Umpamnya,
sebagianbesarpatent dan teknologi adalahmilik perusahaan-perusahaan
multi nasional
yang memiliki saham terbesar dalam investasi dan perdagangandunia, baik untuk
bahan-bahanmentahmaupunpengolahannya.
Di lain pihak, negara-negara
yang sedang
berkembang hanya merupakan pemakaian dari modal dan teknologi negara-negara
maju, di samping sebagaipenyedia bahan mentah dan tenagakerja. Perdebatan"rJtaraSelatan" ditahun tujuh peluhan berkisar kepadapenekananperlunya perubahanyang
mendasardalam sistem ekonomi internasional.Negara-negaraSelatan(negara-negara
yang sedangberkembang)telah memberikanargumentasitentang perlunya hubungan
yang lebih sederajatantara negara-negarayang sedangberkembangdan negara-negara
maju. Perubahanjuga diperlukan dalam mekanismedan institusi-institusipenanaman
modal. Salah satu masalah yang kontroversial ialah tentang peranan perusahaanperusahaanmulti nasional. Pada umumrrya, perusahaan-perusahaan
multi nasional
menjalankankontrol yang efektif atas perusahaan-perusahaan
afiliasi mereka melalui
pemilikan saham-sahamatau menjadi pemegang saham mayoritas. Sebagian besar
negara khawatir terhadap sistem pemilikan dan pengawasanterhadap sektor-sekfor
kunci dari perekonomian mereka oleh perusahaan-perusahaan
asing. Negara-negara
yang sedang berkembang telah membawa kekhawatiran ini ke dalam Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) dan berusaha agar badan dunia tersebut turut mengatur
perusahaan-perusahaan
multi nasional dalam suatu kerangka aturan permainan sistem
ekonomi internasional yang lebih menguntungkan negara-negara yang sedang
berkembang. Suatu aksi bersama untrrk terciptanya tata ekonomi internasional baru
dalarn suatu program berhasil dilahirkan pada I Mei 1974 dan dalam sidang khusus
keenam dari Majelis Umum PBB, suatu seksi tersendiri telah membicarakan"Peraturan
dan pengawasanterhadap aktifitas perusahaan-perusahaan
trans-nasional". Dikatakan
antara lairy bahwa seluruh usaha-usahaharus ditujukan untuk memformulasikan,
menyepakati dan melaksanakan pengaturan internasional terhadap perusahaanperusahaantransnasional.Kegunaan dari ketentuan-ketentuanadalah untuk mengatur
aktivitas perusahaan-perusahaan
multi nasional di negara-negarapenerima modal,
melenyapkan hambatan-harnbatan
Calarnpraktek bisnis, dan menselaraskannyadengan
rencanadan tujuan pembangunannasionaidari negara-negarayang sedangberkembang.
Dalam kerangkaini termasukpeninjauankembali pengaturan-pengatuan
yang telah ada.
.
Negara-negara yang sedang berkembang memperkirakan bahwa dengan
pengaturan-pengaturanyang baru tersebut, akibat-akibat yang tidak menguntungkan
dari keterlibatanperusahaan-perushaaan
multi nasionalakan dapat diatasi. Di bawah
pengaturan-pengaturanyang baru, modal, teknologi dan keahlian perusahaanperusahaanmulti nasionalakan dapatmembantuperluasanindustri dan barang-barang
ekspor negara-negarayang sedang berkembang. Kebijaksanaan Indonesianisasi
merupakansalahsatuusahauntuk mengawasipenanamanmodalasing.
Pada tahun 1980 harga minyak mulai turun. Pemerintahmerubah'kebijakan
investasi dari "import
subsitution" menjadi "export oriented". Dalam rangka
mengundangkembali modal asing, pemerintahmenyediakaninsentif baru bagi modal
asing.
Kebijakanbaru memberikanperlakuanyang samaantaraperusahaan
penanaman
modal asing dan penanamanmodal dalam negeri.Hal ini dapat dilihat Cari Keputusan
PresidenRI Nomor 17 Tahun 1986 TentangPersyaratanPemilikan SahamNasional
Dalam PerusahaanPenanamanModal Asing Untuk Diberikan Perlakuan Yang Sama
Seperti PerusahaanPenanamanModal Dalam Negeri. Kebijakan ini dikenal dengan
istilah Paket 6 Mei 1986.3
Perusahaanpenanamanmodal asing agar mendapatperlakuanyang samadengan
penanamanmodal dalam negeri harus memenuhi sejumlah persyaratan,yaitu, minimal
75% (tujuh puluh lima persen) sahamnyadimiliki oleh negara dan/atauswastanasional
atau minimal 5lYo (lima puluh satu persen) sahamnyadijual melalui pasar modal atau
minimal 5l% (lima puluh satu persen)sahamnyadimiliki oleh negaradan/atauswasta
nasional dan yang dijual melalui pasar modai, dengan ketentuan bahwa saham yang
ditawarkanuntuk dijual melalui pasarmodal tersebutminimal sebesar20% (duapuluh
persen).
KeputusanPresidenNo.17 Tahun 1986 diperbaruidenganKeputusanPresiden
No.50 Tahun 1987.BerdasarkanKeputusanPresidenini, perusahaan
penanamanmodal
asing agar dapat diberikan perlakuan yang sama dengan penanaman modal dalam
negeri, harusmemenuhipersyaratan:minimal 51% (lima puluh satu persen)sahamnya
dimiliki oleh negara dan/ataus$'astanasional,atau minimal 45Yc (empat puluh lima
persen) sahamnyadiniiliki oleh negara dan/atauswastanasionaldengan syarat20Yo
(dua puluh persen)dari jumlah seluruhsahamdijual melaluipasarmodal sebagaisaham
atas nama.Tujuan dari dikeluarkannyakebijakanini adalahuntuk meresponperaturan
tentang investasikepemilikan sahamdan untuk meningkatkanekspor non migas serta
merangsangpenanamanmodal.a
Dengan perubahantersebut, maka perusahaanpenanamanmodal asing yang
telah dipersamakan dengan perusahaanpenanaman modal dalam negeri berhak
menggunakansemuafasilitasyang diberikanpemerintahkepadaperusahaan
penanaman
modal dalam negeri. Misalnya, bidang usaha yang tertutup bagi modal asing tetapi
terbuka bagi penanamanmodal dalam negeri akan memperolehkredit dari bank dan
langsungmendistribusikanhasil produksinyadi pasar-pasar
domestik.Selain itu, batas
3 KeputusanPresiden
RI Nomor t7 Tahun1986TentangPersyaratan
PemilikanSahamNasional
Dalam PerusahaanPMA Untuk Diberikan PerlakuanYang Sama Seperti PerusahaanPMDN diubali
dengan{eputusanPresidenNo.50Tahun1997.
" Yozua Makes, "Divestasi pada PerusahaanPMA: Beberapa Masalah", Nev'sletter,
No.l3/lV/Junl1993.
waktu untuk peningkatan saham nasional juga diperpanjang yang semula 10 tahun,5
diperpanjang5 tahun.6
Sebagai tindak lanjut dari kebijakan ini, pemerintah melakukan tindakantindakan. Pertarna, mengijinkan para investor asing memiliki saham sampai 95 persen
yang berorientasi ekspor. Untuk perusahaan-perusahaan
dari perusahaan-perusahaan
yang bernilai $10 juta atau lebih, atau yang berlokasidi propinsi tertentu,biasanyadi
Indonesia Timur, para investor asing jrrga boleh memiliki sampai 95 persen dari
perusahaan.Dalam lima tahun, bagian dari kepemilikan domestik harus bertambah
sampai sekurangnya 20Yo. Sedangkan,untuk investasi lainnya, minimum 2OYo dari
modal harusdari pihak indonesiadan setalahl0 tahun harusmeningkatkansampai5l
persen.Kedua, aksesyang lebih luas di bidang keuanganuntuk perusahaanpatungan.
Perusahaan patungan harus diperlakukan sama seperti perusahaan domestik dan
diizinkan untuk meminjam dari bank-bank negara dan berpartisipasi dalam rencana
kredit dengansyaratbahwamitra asing paling sedikit telah mendivestasi75 persendari
perusahaanatautelah mendaftarkanpalingsedikit 51 persendari sahamnyauntuk dijual
di bursa saham. Ketiga, penangguhan pernbayaran PPN (maksimal 5 tahun sejak
perusahaan dapat berprcduksl secara komersial atas impor barang rnodal yang
diperlukan dalam penanamanmodal asing dan penanamanmodal dalam negeri dalam
seklor industri jasa di luar jasa konstruksi , tidak termasuk suku cadang,bahanbaku dan
bahan pembantu. Keempat, terbukanya kesempatan bagi pengusaha kecil untuk
meminta dan memperolehfasilitas penanamanmodal, meskipun mereka melakukan
proyek non- penanamanmodal asing/penanaman
modaldalamnegeri.T
PeraturanPemerintahNo. 20 Tahun 1994 menyebutkanperubahan-perubahan
yang sangatmendasardalamkebijakaninvestasi,antaralain:
a. Perusahaanpenanamanmodal asing dapat melakukan kegiatan usaha di sektor
publik yang dahulu hanya diusahakanoleh negara,yaitu. perkebunan,perikanan,
kehutanan,pertambangan(asa pengeboranminyak dan gas bumi), perhubungan
(pembangunan dan pengusahaanpelabuhan laut dan udara, angkutan laut,
s
Keputusan PresidenRI Nomor l7 Tahun 1986 Tentang PersyaratanPemilikan SahamNasional
Dalarn PerusahaanPenanamanModal Asing Untuk Diberikal Perla,kuanYang Sama Seperti Perusahaan
PenanamanModal Dalam Neeeri.
6
Keputusan PresideiNo.s0 Tahun 1987
7
Mustapadidjaya AR dan Zulkarnain Djamin, Mendorong DuniaLlsaha : Aspek Prosedural dan
Birokrasi, (Jakafia : UI Press, 1987).ha1.139.
transportasi darat, dan angkutan udara), pekerjaan umum (pengolahan dan
penyediaanair bersih untuk umum), kesehatan,dan penyediaanjasa dan jaringan
telekomunikasi.
b. Penanamanmodal asing dapat dilakukan dalam bentuk patungan dengan modal
dalam negeri atau keseluruhan modal dimiliki oleh warga negaralbadanhukum
asing.
c. Besarnya jumlah modal yang ditanamkan dalam rangka penanamanmodal asing
ditentukan berdasarkankelayakanekonomi dalam kegiatanusahanya.
d. Kegiatan usaha penanaman modal asing dapat dialokasikan di seluruh wilayah
Indonesia,diutamakancii daerahkawasanberikat dan kawasanindustri.
e. Sahampihak Indonesiadalam perusahaanpatungan,minimal 5Yodari seluruhmodal
yang disetor padawaktu pendirian perusahaanpatungan.
f.
Perusahaanpenanamanmodal asing 100% dalam jangka waktu 15 tahun sejak
berproduksi komersial, harus menjual sebagian dari sahamnya (tanpa ketentuan
presentasenya)kepada badan hukum Indonesia melalui pemilikan langsung atau
melalui penjualansahamCi pasarmodal.
Pada saat lahirnya PeraturanPemerintahNo. 20 Tahun 1994, teiadi berbagai
kontroversi.8 Setidak-tidaknya ada empat faktor yang menimbulkan kontroversi
tersebut.
a, Seklor-sektor usaha yang dapat dimasuki investasi asing semakin banyak.
Meluasnya sektor usahabagi penanamanmodal asing akan menambahruang gerak
penanamanmodal asing sehinggamenjadi daya tarik untuk memasukkanmodal ke
indonesia. Sektor-sektor yang modal asing dapat sampai l00yo, antara lain
perkebunan,perikanan (usaha perikanan tangkap terpadu dan budi daya ikan),
kehutanan(usahapemanfaatanhasil hutan kayu pada hutan alam dan pembenihan
tanaman hutan), pertambangan (asa pengeboran minyak dan gas bumi),
perhubungan(pembangunandan pengusahaan
pelabuhanlaut dan udara),pekerjaan
umum (pengolahan dan penyediaan air bersih untuk umum), kesehatan(asa
pelayananmedis, meliputi pendirian dan penyelenggaraan
rumah sakit, medical
check up, laboratoriumklinik, pelayananrehabilitasimental,jaminan pemeliharaan
8
r994
Edy Suandi Hamid, "Mengundang PMA denganLiberalisasi Investasi". Suara ll[erdeftz,6 Juni
9
kesehatanmasyarakat,penyewaanperalatanmedis,jasa asistensidalam pertolongan
kesehatan dan evakuasi pasien dalam keadaan darurat, jasa manajemen rumah
sakitdanjasa pengetesan,pemeliharaandan perbaikan peralatanmedis), dan bidang
usahakomunikasi (peralatanjasa danjaringan telekomunikasi).
b. Liberalisasi dalam pemilikan saham asing. Dengan PeraturanPemerintahNo. 20
Tahun 1994, penanamanmodal asing dapat menguasaisepenuhnyasahamyang ada
tanpa harusbermitra bisnis denganpemodal Indonesia.Kesempatanini, paling tidak
sampailima beiastahun pertamasetelahberproduksi secarakomersial.
c. Liberalisasi atas modal yang ditanamkan untuk proyek penanamanmodal asing.
Ketentuan yang sebelumnyamenyebutkanbahwa liberalisasi atas modal ini dapat
dilakukanjika nilai investasinyaminimal I juta dollar AS atau lebih dari dua milliar
rupiah.
Kebijakan ini mendapat kritikan dari calon investor, antara lain dari
kalangan pengusahpmenengah Jepang. Maka, dengan Peraturan Pemerintah ini,
batasanminimal atas modal yang harus ditanamkanoleh penanamanmodal asing
tidak ada lagi. Artinya, jika
secara ekonomis dianggap layak maka dapat
mengajukanuntuk menjadi penanamanmodal asing langsung.Implikasinya dari
kebijakanini, unit-unit usahaasingbisa masuksemuasektorbagi penairamanmodai
asing. Kebijakan ini membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya
adalah akan mendorongterjadinya efisiensi sebagaiakibat terbukanyapersaingan
dan bertambahnya suplai serta bagi konsumen dalam negeri akan sangat
rnenguntungkankarena tawaran produk lebiuh banyak dan kompetitil Sedangkan
dampak negatifnyaadalah pengusahanasionalakan tersisihjika tidak melakukan
upaya-upayayang responsifuntuk menghadapipesaingbaru.
d. Investasidapat dilakukan di seluruh wilayah tanah air Indonesia.Liberalisasi ini
mendorong terjadinya efisiensi dan persainganyang sangat ketat antara usaha
nasionaldenganasing.
Pada pembahasanRUU PenanamanModal yang kemudian menjadi UndangUndang No. 25 Tahun 2007, perdebatanantaraperlunya modal asing dan pentingnya
perlindungankepentinganlokal, tampakjelas. Hal tersebutkemudiantercermindalam
pasal-pasal undang-undang tersebut. Sebagian retorika sebagian substantive.
Getarannyasampaike MahkamahKonstitusi.
l0
Penutup
Friedmanmengatakanbahwa sistemhukum tersebutterdiri dari tiga unsur :
baik, aparatur
substansi,aparatur,dan budayahukum.Bila substansiundang-undang
tinggal huruf mati di atas
dan budayahukumnyatidak mendukung,undang-undang
kertas.Bagaimanahukumyangberkaitandengankegiatanekonomidapatmenciptakan
kesejahteraanbagi masyarakatsebagianbesar bergantungkepada budaya hukum
kita.
masyarakat
Budaya hukum yang mendukungadanya kepastianhukum (predictability);
melahirkanstabilitas,yaitu hukum yang mampu mengakomodiratau menyeimbang
yang saling bersaingdalam masyarakat,dan hukum yang
kepentingan-kepentingan
keadilan(fairness).
menciptakan
i1
Download