KRITIK TERHADAP KONSEP KEADILAN JENDER DALAM

advertisement
KRITIK TERHADAP KONSEP KEADILAN JENDER DALAM
PENAFSIRAN AMINA WADUD
Skripsi:
Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Agama
Disusun Oleh:
Ahmad Dziya’ Udin
1112034000162
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436 H/ 2016 M
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karuniaNya kepada penilis, sehigga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Kritik Terhadap Konsep Keadilan Jender Dalam Penafsiran Amina
Wadud” Shalawat serta salam senantiasa selalu tercurah kepda junjungan nabi
Muhammad SAW, sang teladan yang telah membawa kita ke zaman kebaikan.
Selawat serta salam senantiasa selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad
SAW, sang teladan yang telah membawa kita ke zaman kebaikan. Selan itu
ucapan terima kasih juga saya khususkan kepada ayahanda Abdul Mukhid dan
ibunda Siti Maslikhah selaku orang tua penulis yang telah sabar membesarkan
saya hingga saat ini. Juga tidak lupa kepada Qurratul Uyun, sebagai kakak.
Irsyadu Ibad dan Ayatu Lailatil Khusnah sebagai adik kandung penulis yang telah
mendukung secara moril.
Penelitian ini merupakan tugas akhir yang harus diselesaikan sebagai syarat
guna meraih gelar Sarjana Agama jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas
Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis
menyadari banyak pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian
penelitian ini. oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis ingin
menghaturkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
hingga selesainya penyusunan penelitian ini baik secara langsung maupun tidak
langsung kepada:
v
1.
Bapak Prof. Dr. Masri Mansoer, MA. selaku Dekan Fakultas Ushuluddin
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan para pembantu
Dekan Fakultas Ushuluddin.
2.
Ibu Dr. Lilik Ummi kaltsum. MA selaku Ketua Jurusan Ilmu Al-Qur’an
dan Tafsir. Dan Ibu Banun Binaningrum, MA. selaku Sekertaris Jurusan
Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
3.
Bapak Dr. Yusuf Rahman. MA selaku dosen pembimbing skripsi yang
telah membantu, mengarahkan, membina dan meluangkan waktunya untuk
penyelesaian penelititan ini. Juga tak lupa kepada Bapak Muslih, Lc., MA.
selaku dosen pembimbing akademik.
4.
Seluruh jajaran dosen jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas
Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
5.
Seluruh staf Tata Usaha serta Karyawan Fakultas Ushuluddin Universitas
Islam
Negeri
Syarif
Hidayatullah
Jakarta.yang
telah
membantu
mempermudah syarat administrasi dll.
6.
Seluruh anggota kelas Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, yang tidak bisa saya
sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan moril. Temanteman di FORMALA, IMAGE, HIMAM Ciputat dll,
7.
Dan seluruh hal yang terkait dengan penulis khususnya yang tidak bisa
disebutkan satu-persatu.
vi
Semoga penelitian ini bermanfaat dan semoga Allah SWT senantiasa meridhoi
setiap langkah kita, Aamiin ya rabbal aalamin.
Jakarta, 31 Agustus 2016
Penulis
Ahmad Dziya’ Udin
vii
ABSTRAK
Ahmad Dziya’ Udin
“Kritik Terhadap Konsep Keadilan Jender Dalam Penafsiran Amina
Wadud”.
Laki-laki dan perempuan adalah manusia dengan jenis kelamin yang
berbeda, perbedaan ini bisa dikarenakan faktor kandungan hormonal dan anatomi
biologisya, karena berbedanya tersebut dimungkinkan laki-laki dan perempuan
memiliki perannya masing-masing. Penyesuaian peran dan harapan peran
dihadirkan tidak sebagai upaya untuk membatasi jenis kelamin tertentu. Namun
lebih pada upaya pemberian rasa keadilan, terhormat dan bermartabat. Meskipun
demikian konstruksi tersebut tidak berdiri dalam kerangka yang kaku. Amina
Wadud, salah satu aktifis feminis muslim yang selama ini sepak terjangnya
dianggap kontroversial, karena telah mendekonstruksi sebuah pemaknaan
terhadap doktrinasi agama, baik dalam ranah konseptual, maupun wilayah praktis,
menjadi menarik ketika meninjau penafsirannya mengenai keadilan jender dalam
al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengajukan kritik terhadap konsep
keadilan jender yang diusung oleh Amina Wadud. Sebagai sebuah penelitian
pustaka (library research), skripsi ini bersumber dari bahan-bahan primer yang
berupa tulisan-tulisan Wadud serta bahan-bahan sekunder berupa buku, jurnal,
disertasi dan tulisan ilmiah lainnya.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Wadud tidak menjelaskan secara
rinci bagaimana mengubah mekanisme yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an
tersebut menjadi jauh lebih adil dalam hal talak, persaksian, dan dalam hak waris.
Wadud hanya ingin menghilangkan kesewenang-wenangan hak spesial yang
diterima oleh laki-laki atas perempuan. Bagi Wadud harusnya pelebihan itu
diperuntukan untuk membangun hubungan yang saling melengkapi. Wadud tidak
menjelaskan secara detail bagaimana mekanisme adil yang diidamkannya.
Namun, semangat Wadud untuk menghilangkan kesewenang-wenangan atas hak
spesial yang diterima oleh laki-laki atas perempuan patut diapresiasi.
Kata kunci
: Amina Wadud, Kritik, dan Keadilan
viii
PEDOMAN TRANSLITERASI1
Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara latin:
Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
‫ا‬
Tidak dilambangkan
‫ب‬
B
Be
‫ت‬
T
Te
‫ث‬
Ts
Te dan es
‫ج‬
J
J
‫ح‬
H
H dengan garis bawah
‫خ‬
Kh
Ka dan ha
‫د‬
D
De
‫ذ‬
Dz
De dan zet
‫ر‬
R
Er
‫ز‬
Z
Zet
1
Amsal Bakhtiar, dkk, Pedoman Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta 2012-2013, (Jakarta: Biro Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012), h.381
ix
‫س‬
S
Es
‫ش‬
Sy
Es dan ye
‫ص‬
S
Es dengan garis bawah
‫ض‬
D
De dengan garis bawah
‫ط‬
T
Te dengan garis bawah
‫ظ‬
Z
Zet dengan garis bawah
‫ع‬
‘
Koma terbalik di atas hadap kanan
‫غ‬
Gh
Ge dan ha
‫ف‬
F
Ef
‫ق‬
Q
Ki
‫ك‬
K
Ka
‫ل‬
L
El
‫م‬
M
Em
‫ن‬
N
En
‫و‬
W
We
x
‫ه‬
H
Ha
ˋ
‫ء‬
Apstrog
‫ي‬
Y
Ye
Vokal
Vokal dalam bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal
tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal,
ketentuan alih aksaranya adalah berikut ini:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal Latin
Keterangan
__/
A
Fatẖah
―ِ
I
Kasrah
ِ_
U
Dammah
Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alih aksaranya adalah sebagai berikut:
xi
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal Latin
Keterangan
‫__ي‬/
Ai
A dan i
‫__و‬/
Au
A dan u
Vokal Panjang
Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab
dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:
Tanda Vokal Arab
Tanda Vokal Latin
Keterangan
‫ىا‬
ȃ
A dengan topi diatas
‫ىي‬
Î
I dengan topi diatas
‫ىو‬
Ȗ
U dengan topi diatas
Kata Sandang
Kata sandang, yang dalam sistem aksara Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu
‫ ال‬dialihaksarakan menjadi huruf /ǀ/, baik diikuti huruf syamsiyyah maupun huruf
qamariyyah. Contoh: al-rijȃl bukan ar-rijȃl, al-dîwȃn bukan ad-dîwȃn.
Syaddah (Tasydîd)
Syaddah atau tasydîd yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan
sebuah tanda (
ِ
)dalam alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu
xii
dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Akan tetapi, hal ini
tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata
sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya, kata adh dhoruuroh
tidak ditulis ad-darȗrah melainkan al-darȗrah, demikian seterusnya.
Ta Marbȗtah
Berkatan dengan alih aksara ini, jika huruf ta marbȗtah terdapat pada kata
yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /h/ (lihat
contoh 1di bawah). Hal yang sama juga berlaku jika ta marbȗtah tersebut diikuti
oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2). Namun, jika huruf ta marbȗtah tersebut
diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/
(lihat contoh 3).
Contoh:
No
Kata Arab
Alih Aksara
1
‫طريقة‬
Tarîqah
2
‫الجامعة اﻹسالمية‬
al-jȃmiʻah al-islȃmiyyah
3
‫وحدة الوجود‬
waẖdat al-wujȗd
Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam alih
aksara ini huruf kapital tersebut juga digunakan, dengan mengikuti ketentuan
xiii
yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, antara
lain untuk menuliskan permulaan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan,
nama diri, dan lain-lain. Penting diperintahkan, jika nama diri didahului oleh kata
sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri
tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. (contoh: Abȗ Hȃmid al-Ghazȃlî
bukan Abȗ Hȃmid Al-Ghazȃlî, al-Kindi bukan Al-Kindi.
Beberapa ketentuan lain dalam EYD sebetulnya juga dapat diterapkan
dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring (italic)
atau cetak tebal (bold). Jika menurut EYD, judul buku itu ditulis denga cetak
miring, maka demikian halnya dalam alih aksaranya. Demikian seterusnya.
Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama tokoh yang berasal
dari dunia Nusantara sendiri, disarankan tidak dialih aksarakan meskipun akar
katanya berasal dari kata Arab. Misalnya ditulis Abdussamad al-Palimbani, tidak
‘Abd al-Samad al-Palimbȃnî; Nuruddin al-Raniri, tidak Nȗr al-Dîn al-Rȃnîrî.
xiv
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................... i
ABSTRAK ....................................................................................................................... viii
KATA PENGANTAR..............................................................................................v
TRANSLITERASI...........................................................................................................ix
DAFTAR ISI..................................................................................................................... xv
BAB I..................................................................................................................................1
PENDAHULUAN..............................................................................................................1
A. Latar Belakang ........................................................................................................... 1
B. Batasan dan Rumusan Masalah .................................................................................. 6
C. Tujuan dan Manfaat ................................................................................................... 7
D. Tinjauan Pustaka ........................................................................................................ 7
E. Metode Penelitian ..................................................................................................... 15
F. Sistematika Penulisan ............................................................................................... 17
BAB II..............................................................................................................................19
KEADILAN JENDER DALAM PANDANGAN MUFASIR DAN AKTIVIS .......... 19
A.
Pengertian Adil ..................................................................................................... 19
B.
Pengertian kesetaraan gender ............................................................................... 20
A.
Konsep keadilan dan kesetaraan jender menurut mufasir dan aktifis ................... 21
B.
Konsep Keadilan dan Kesetaraan Jender menurut Mufasir Kontemporer ........... 25
C.
Konsep Keadilan dan Kesetaraan Jender Menurut Aktivis Jender ....................... 32
BAB III.............................................................................................................................37
PEMIKIRAN DAN BIOGRAFI AMINA WADUD.....................................................37
A. Biografi Amina Wadud...........................................................................................37
B. Pemikiran Amina Wadud (Hermeneutika Tauhid)..................................................41
BAB IV ............................................................................................................................. 45
A. Contoh Ayat yang Berbicara Tentang Keadilan Jender ........................................... 47
1. Ayat Tentang Kadar Pembagian Harta Waris Antara Laki-Laki dan Perempuan
(an-Nisa’ 4:11, 12, 176) ............................................................................................ 47
xv
2. Ayat Tentang Hak Talak Suami dan Kemampuan Khulu’ Seorang Istri (alBaqarah 2:229-231) .................................................................................................. 57
3. Ayat Tentang Bobot Persaksian Laki-laki dan Perempuan (al-Baqarah 2: 282) .. 64
BAB V .............................................................................................................................. 71
KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................................... 71
A. KESIMPULAN ........................................................................................................ 71
B. SARAN .................................................................................................................... 72
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 73
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1
Laki-laki dan perempuan adalah mahluk Tuhan yang sama, meskipun
demikian antara laki-laki dan perempuan tetap memiliki sisi yang berbeda.
2
Adanya perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa keduanya tidak dapat
dipersamakan secara penuh dalam segala hal, karena mempersamakan seutuhnya
dalam dua hal yang jelas-jelas berbeda menjadikan salah satu dari keduanya
menyimpang dari kodratnya, dan itu merupakan sebuah bentuk pelecehan. Namun
tidak memberi hak-hak mereka sebagai manusia yang dianugerahi kodrat dan
kehormatan yang tidak kalah dengan apa yang di anugerahkan Allah kepada laki-
1
Dalam kapasitas manusia sebagai makhluk tidak ada perbedaan antara laki-laki dan
perempuan. Keduanya memiliki potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal.
Seperti diterangkan al-Qu’ran.
ِ
ِ ‫َيأايُّ اها الن‬
ِ ِ َّ ‫اَّللِ أاتْ اقا ُكم إِ َّن‬
َّ ‫وًب اوقاباائِ ال لِتا اع اارفُوا إِ َّن أا ْكارام ُُ ْم ِِنْ اد‬
‫َّاس إ ََّّن اخلا ْقناا ُك ْم م ْن ذا اك ٍر اوأُنْثاى او اج اعلْناا ُك ْم ُش ُع ا‬
‫ا‬
ٌ‫اَّللا اِل ٌيم اخبي‬
ْ
ُ
“Wahai manusia. Sungguh. Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi
Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah maha mengetahui, Maha
teliti” (Al-Qur’an QS. Al-Hujurât / 49: 13. cet, Kementrian Agama thn 2012, h. 745).
(Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender (Jakarta: Paramadina 2014, h. 248)
2
Ada dua perbedaan yang dikenal antara laki-laki dan perempuan, pertama. perbedaan
Nature (yang berarti sifat alamiah dari segi biologis atau kodrati ciptaan Tuhan karena itu
bersifat tetap dan tidak berubah), seperti perbedaan perempuan mengandung, melahirkan,
dan menyusui sedangkan laki-laki punya penis, sperma dll. (Husein Muhammad, Fiqh
Perempuan:Rrefleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender (Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara,
2001, h, 8. Kedua. Nurture perbedaan karena konstruksi sosial dan faktor budaya, dengan
melihat bahwa komposisi kimia dan struktur biologis perempuan berbeda dengan lakilaki, faktor ini yang kemudian menentukan status dan peran yang dimainkan keduanya.
(Jamhari dan Ismatu Ropi, Citra Perempuan dalam Islam: Pandangan Ormas Keagamaan
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 81.
1
2
3
laki juga merupakan bentuk pelecehan. Sebuah pranata yang adil kemudian
dibutuhkan sebagai bahan mediasi antara persamaan dan perbedaan keduanya.
Salah satunya dengan pembagian struktur fungsional dan peran yang ideal.
Al-Qur’an sebagai salah satu pedoman hidup umat manusia (muslim)
banyak berbicara tentang laki-laki dan perempuan beserta hak dan kewajibannya.
4
5
Al-Qur’an juga menetapkan kerangka sosial, politik dan moral, namun bagi
6
Wadud kesemuanya itu tidak diungkapkan secara pasti. Sedangkan menurut
pakar yurisprudensi Islam, ‘Abd al-Wahâb Khalâf’ sesuatu hal yang sangat
diperinci penjelasannya dalam al-Qur’an merupakan hukum yang pasti yang tidak
7
membutuhkan ruang ijtihad lagi , dan penjelasan mengenai hukum Islam yang
diterangkan secara rinci dalam al-Qur’an ada pada hukum keluarga dan dalam
kasus pembagian harta waris.
8
Berbicara tentang perbedaan sudut pandang dalam menafsirkan al-Qur’an
baik yang mengatakan pastinya sebuah hukum keluarga dan tidak pastinya pranata
hukum keluarga dalam Islam oleh sementara ulama atau cendekiawan, bisa jadi
karena menggebu-gebunya semangat mereka dalam menampik bias atau
meluruskan kekeliruan, kesalahpahaman, dan pengamalan umat tentang ajaran
agama, sementara mereka sering kali melampaui batas sehingga lahir pandangan
3
Quraish Shihab, Perempuan (Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2005), h. 34.
Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan lil’âlamîn
(Jakarta: Grasindo, 2010), h. 205.
5
Nurjannah Ismail, Perempuan dalam Pasungan: Bias Laki-laki dalam Penafsiran
(Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2003), h. 43.
6
Lihat, Amina Wadud, Quran Menurut Perempuan, Membaca Kembali Kitab Suci
dengan Semangat Keadilan, tarj Abdullah ali (Jakarta: Serambi, 2006), h. 184.
7
‘Abd al-Wahâb Khalâf’, Ỉlm Ushul Fiqh (Kairo: Maktabah al-Da’wah al-Islâmiyyah,
2004), h. 60.
8
Depag RI, Tafsir al-Quran Tematik: Kedudukan dan Peran Perempuan (T.tp.: PT.
Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 170.
4
3
9
yang justru tidak sejalan dengan pandangan agama. Semangat yang tinggi juga
sering lahir karena keinginan Mufasir dalam meredam superioritas laki-laki yang
justru memperoleh justifikasi dari agama. Terlebih teks-teks suci keislaman dalam
konteks ini adalah al-Qur’an dan Hadis,
dulu.
11
10
maupun produk tafsir ulama-ulama
Semangat yang tinggi tersebut menjadikan para Mufasir mengkaburkan
pesan-pesan agama yang sebenarnya.
Amina Wadud Muhsin, salah satu tokoh feminis muslim kontroversial,
karena telah mendobrak dinding paradigma konvensional yang dipertahankan
selama empat belas abad sebelumnya.
12
Pendobrakan ini dilakukan oleh Amina
bukan hanya pada ranah konseptual, tetapi juga dibuktikan pada ranah praksis.
13
Pada Jumat 18 Maret 2005, dunia Islam disuguhi tontonan yang ganjil, ketika
Amina menjadi khotib sekaligus memimpin shalat Jumat di sebuah Gereja
Katedral di Sundram Tagore Gallery 137 Greene Street.
14
Terhadap kasus ini,
Syaikh al-Azhar, Muhammad Sayyid al-Tantâwî di Mesir menyatakan
9
Shihab, Perempuan, h. 34.
Umma Farida, “Teks-teks Keislaman Dalam Kajian Kaum Feminis: Telaah Terhadap
Pendekatan Studi Islam Dari Kalangan Feminis Muslim”. PALASTReN, Vol. III, No. 2, (Desember
2010): h. 204.
11 Shinta Nurani, “Implikasi Tafsir Klasik Terhadap Subordinat Gender: Perempuan
Sebagai Makhluk Kedua”. Muwazah, Vol. VII, No. 2, (Desember 2015): h. 132.
10
12
Sokhi Huda, Kontroversi Hak dan Peran Perempuan dalam Pemikiran Kontemporer
Amina Wadud (Jombang: Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng. T.th)
13
Kontroversi Wadud tersebut bukan hanya dilakukan satu kali, yang di memungkinkan
Wadud hanya berupaya menunjukan bahwa dirinya berani menjadi khatib dan Imam shalat Jumat.
Wadud juga meyakini bahwa hal seperti itu sah-sah saja. Di buktikan dengan menjadi Imam
sekaligus khatib di Pusat Pendidikan Muslim MEC (Muslim Educational Center) Oxford,
sekaligus menjadi pembuka konferensi Islam dan Feminisme yang di gelar di Wolfson College,
Oxford.
(https://www.arrahmah.com/read/2008/10/22/2497-jumatan-amina-wadud-manipulasihadits-ala-feminisme.html)
14
Adian Husaini, “Hermeneutika Feminis: Satu Kajian Kritis”. al-Insan Jurnal Kajian
Islam, Vol II, No. 3, (2006): h. 100.
4
keberatannya dan Syaikh Yûsuf al-Qardhawî memvonis aksi tersebut tidak Islami
dan bid’ah.
15
Wadud juga menolak adanya perbedaan-perbedaan esensial yang
disandarkan pada laki-laki dan perempuan, karena bagi Wadud nilai-nilai yang
dinisbahkan kepada berbagai perbedaan peran menggambarkan perempuan
sebagai manusia yang lemah,
16
seperti halnya kecenderungan umum masyarakat
yang selalu melimpahkan segala bentuk perawatan anak kepada perempuan.
Pembagian kerja ini sekalipun sesuai dengan sebagian keluarga, namun
bagaimanapun juga pembagian ini hanyalah salah satu solusi dan tidak di atur
dengan tegas dalam al-Qur’an.
17
Meski demikian, Perbedaan peran di atas tidak
selamanya berimplikasi negatif terhadap superioritas inheren laki-laki atas
perempuan seperti kecemasan Wadud selama ini.
18
Perbedaan dalam hal peran
publik bisa juga berfungsi sebagai nilai untuk mencapai tatanan yang adil dan
terhormat sebagai keberlangsungan sistem kehidupan masyarakat atau keluarga.
19
Kegelisahan Wadud terkait fungsi peran lintas gender seolah menjebak
Wadud dalam konsep keadilan yang diidamkannya dengan solusi menyeluruh
yang dibicarakan al-Qur’an, seperti formula pembagian harta waris dua banding
yang dinilainya salah.
20
Penilaian salah terhadap pembagian harta waris dua
banding satu bisa terjadi dikarenakan banyak hal, di antaranya adalah: Pertama:
karena melihat perempuan secara individual, bukan sebagai bagian dari anggota
15
Sokhi Huda, Kontroversi Hak
Wadud, Quran Menurut, h. 25.
17
Wadud, Quran Menurut, h. 155.
18
Lihat, Wadud, Quran Menurut, h. 110.
19
Disarikan dari. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran Tafsir Tematik Atas Pelbagai
Persoalan Umat (Jakarta: Mizan Pustaka, 1996), h. 301-311.
20
Wadud, Quran Menurut, h. 150
16
5
keluarga yang terdiri dari sepasang suami dan istri yang saling melengkapi.
Kedua: karena pandangan tersebut bersifat parsial, artinya memahami ayat-ayat
al-Qur’an secara sepotong-sepotong sedangkan ayat-ayat al-Qur’an merupakan
satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya.
21
Kegelisahan Wadud juga nampak ketika menafsirkan QS. al-Nisâ’ / 4: 34.
Ayat ini dipandang sebagai satu-satunya ayat yang paling penting terkait
hubungan laki-laki dan perempuan. Laki-laki Qawâm ʻalâ perempuan hanya
dibatasi berdasarkan dua hal yaitu; pelebihan seperti apa yang diberikan dan apa
yang laki-laki belanjakan dari harta mereka untuk menafkahi perempuan, jika dua
syarat ini tidak terpenuhi maka laki-laki tidak bisa di nilai Qawâm atas
perempuan. Di dalam keluarga tiap-tiap anggota memiliki tanggung jawab
tertentu. Berdasarkan alasan biologis yang jelas, tanggung jawab utama
perempuan adalah melahirkan anak, sedangkan kewajiban laki-laki harus sama
pentingnya, menjaga agar perempuan tidak terbebani peran tambahan yang dapat
membahayakan kewajiban utamanya, berarti segala sesuatu yang dibutuhkan
perempuan dalam menunaikan kewajibannya dengan nyaman harus disediakan
dalam masyarakat, dalam hal ini laki-laki berhak dalam perlindungan fisik
maupun nafkah materi, jika tidak maka itu merupakan penindasan serius terhadap
perempuan.
22
Skenario ideal di atas mengandaikan suatu hubungan yang adil dan saling
bergantung, namun itu tidak selamanya sejalan dengan realitas saat ini, seperti
yang dialami negara-negara dengan kelebihan jumlah penduduk seperti India dan
21
Depag RI, Tafsir al-Quran tematik: Kedudukan dan Peran Perempuan (T.tp.: PT.
Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 196.
22
Wadud, Quran Menurut, h. 121-126.
6
Cina, atau dalam masyarakat kapitalis seperti Amerika yang mana pendapatan
tunggal tidak lagi memungkinkan untuk menopang gaya hidup yang tinggi.
23
Model ayat yang terkesan mendiskreditkan jenis kelamin tertentu banyak
lagi terdapat dalam al-Qur’an, seperti halnya ayat tentang bobot persaksian lakilaki dan perempuan ( QS. al-Baqarah / 2: 282), ayat tentang kepemilikan hak
talak suami dan kemampuan khulu’ seorang istri (QS. al-Baqarah / 2:229-231).
Bagaimana kemudian Wadud memformulasikan ayat-ayat di atas menjadi adil
yang ideal, dan bagaimana Mufasir memahami keadilan, keadilan yang dipandang
sebagai pesan utama al-Qur’an, dalam hal ini keadilan harusnya diartikan sebagai
keseimbangan, bukan sebagai sebuah kesamaan.
24
B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan oleh penulis, Berdasarkan
masalah di atas, dan mengingat pembahasan yang begitu luas mengenai
konsep keadilan penelitian ini memfokuskan diri hanya pada “KRITIK
TERHADAP KONSEP KEADILAN JENDER DALAM PENAFSIRAN
AMINA WADUD”, dalam buku “Qur’an and Women: Rereading Sacred
Text from Woman’s Perspective”. Pada ayat-ayat tentang kadar pembagian
harta waris antara laki-laki dan perempuan (QS. al-Nisâ’ / 4:11), ayat tentang
hak talak suami dan kemampuan khulu’ seorang istri (QS. al-Baqarah /
2:229-231), ayat tentang bobot persaksian laki-laki dan perempuan (QS. al-
23
Wadud, Quran Menurut, h. 127.
Depag RI. Tafsir al-Quran tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat, dan Berpolitik
(T.tp.: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 62.
24
7
Baqarah / 2: 282), dan ayat-ayat tentang persamaan potensi laki-laki dan
perempuan (QS. al-Nahl / 16: 96, Âli‘imrân / 3: 195, QS. al-An‘âm / 6: 165)
2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapatlah di rumuskan masalah yang
hendak dijawab, yaitu:

Bagaimana Kritik terhadap konsep keadilan Jender dalam Penafsiran
Amina Wadud ?
C. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan Penelitian
 Untuk menguji model keadilan jender dalam penasiran Amina Wadud.
 Sebagai bacaan alternatif terhadap pemikiran feminis Muslim.
2. Manfaat Penelitian
A. Manfaat secara teoritis; penelitian ini bermanfaat untuk menguji atau
mengembangkan cara pandang Wadud dalam memahami keadilan gender.
B. Manfaat secara praktis; penelitian ini bermanfaat sebagai bahan bacaan
alternatif dalam mata kuliah Kajian Gender maupun Kajian Modern
Terhadap al-Qur’an.
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian yang membahas tema perempuan dalam Islam memang
senantiasa menarik untuk dilakukan. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal
tersebut, salah satunya adalah masih adanya gap antara yang ideal dan yang terjadi
terkait dengan isu perempuan. Namun jika membahas tentang perempuan dalam
kajian Islam kontemporer. Banyak nama yang tidak boleh dilupakan.
Salah
satunya adalah Amina Wadud Muhsin. Dia membawa angin segar pemikiran
8
25
tentang keadilan jender dalam Islam. Hal ini yang kemudian mendorong banyak
intelektual untuk mencoba mengkaji epistemologi pemikirannya, terutama
mengenai diskursus perempuan dalam Islam. Secara sederhana kajian mengenai
pemikiran wadud ini dapat diklasifikasikan menjadi tujuh.
Pertama, kajian yang menitiberatkan pada kepemimpinan dalam keluarga.
Semisal dalam karya Hanum Rahmawati. “pemikiran Amina Wadud tentang
Kepemimpinan dalam Keluarga: Studi Perbandingan dalam Hukum Islam”.
26
Dalam karya ini Hanum menekankan perhatiannya terhadap sikap Wadud
mengenai kepemimpinan dalam keluarga yang tidak hanya dimanipulasi oleh lakilaki, tetapi wanita juga memiliki peran dan posisi sebagai pemimpin dalam
keluarga. Hanum juga membandingkan Amina dengan ulama-ulama terdahulu
dan memfokuskan pada kajian kepemimpinan dalam keluarga.
Kajian lain yang menekankan pada kepemimpinan dalam keluarga dapat
dilihat pada tulisan Nurul Yatim yang berjudul “Pandangan Mahmud Syaltut dan
Amina Wadud tentang konsep Kepemimpinan dalam Keluarga”.
27
Skripsi yang
ditulis oleh Nurul Yatim sama dengan yang ditulis oleh Hanum Rahmawati, letak
perbedaannya pada upaya komparatif Nurul. Dalam membandingkan pemikiran
tokoh
Mahmud Syaltut dengan Amina. Karena ternyata Mahmud Saltut
memandang bahwa tugas laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga. Hal ini tidak
25
Siti Muslikhati, Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam, h.
47.
26
Hanum Rahmawati. “Pemikiran Amina Wadud tentang Kepemimpinan Dalam Keluarga:
Studi Perbandingan dalam Hukum Islam,” (Skripsi S1 Perbandingan Madzhab dan Hukum
Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2002).
27
Nurul Yatim, “Pandangan Mahmud Syaltut dan Amina Wadud tentang Konsep
Kepemimpinan dalam Keluarga,” (Skripsi S1 Perbandingan Madzhab Dan Hukum Fakultas
Syari’ah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarat, 2008).
9
lebih tugas khusus yang telah disesuaikan dengan kemampuan kodrati laki-laki
atas perempuan.
Kedua, kajian yang menitiberatkan pada pandangan Amina mengenai hak
waris. Sebagai misal adalah karya Retna Wulandari, “Perempuan dalam Sistem
28
Kewarisan Menurut Amina Wadud Muhsin”. Retna dalam skripsi ini membahas
tentang perempuan dalam sistem kewarisan menurut Amina, dia mengatakan
adanya unsur diskriminatif terhdap wanita dalam hukum waris Islam karena dari
sekian ayat al-Qur’an wanita selalu mendapatkan warisan lebih sedikit dari pada
laki-laki. Hal ini menjadi fokus perhatian penulis dalam mengkaji pandangan
Amina sebagai seorang yang secara representatif mengusung wacana kesetaraan
dan keadilan.
Ketiga. Kajian yang mengambil fokus bagian pada nusyuz. Sebagai misal
adalah karya Dakwatul Khairoh, “Analisis terhadap Pemikiran Amina Wadud
29
tentang Nusyuz Ditinjau dari Maslahah Mursalah”.
Skripsi ini ingin
menyampaikan pemikiran Amina tentang nusyuz di tinjau dari maslahah
mursalah. Khairoh mendeskripsikan pemikiran Amina Wadud tentang nusyuz
yang dianalisis dari maslahah mursalah. Dengan alasan apabila nusyuz ditinjau
dari analisis maslahah tidak lagi dimonopoli oleh kaum perempuan sebagai istri
akan tetapi juga berlaku bagi suami.
Kajian lain yang menekankan pada masalah nusyuz dapat dilihat juga pada
tulisan Husni Mubarok, “Nusyuz : Studi Komparatif Imam asy-Syafi’i dan Amina
28
Retna Wulandari, “Perempuan dalam Sistem Kewarisan Menurut Amina Wadud
Muhsin,” (Skripsi S1 fakultas Syari’ah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2006).
29
Dakwatul Chairoh, “Analisis Terhadap Pemikiran Amina Wadud tentang Nusyuz ditinjau
dari Maslahah Mursalah,” (Skripsi S1 Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri Sunan
Ampel Surabaya, 2006).
10
Wadud”.
30
Skripsi ini berfokus pada kajian adanya ikatan antara suami-isteri
yaitu hak isteri untuk dipenuhi oleh suami dan sebaliknya, serta hak bersama yang
harus ditanggung bersama. Bila hak dan kewajiban yang ada dalam rumah tangga
terpenuhi sesuai porsinya masing-masing, maka akan tercipta keluarga yang baik
serta harmonis dan sebaliknya apabila hak dan kewajiban tidak dilaksanakan
dengan baik oleh suami atau isteri, maka akan menumbuhkan konflik yang dapat
merongrong stabilitas keluarga tersebut. Kalau al-Qur’an menyebutnya sebagai
Nusyuz, Wadud dan Imam Asy-Syafi’i berbeda pendapat dalam menetapkan
pemukulan sebagai salah satu solusi penyelesaian nusyuz di mana Wadud tidak
setuju menyertakan tindakan ini dalam solusi penyelesaian nusyuz.
Adapun dalam penetapan solusi bagi suami nusyuz kedua ulama tersebut
juga berbeda pendapat. Imam asy-Syafi’i cenderung berpandangan bahwa pihak
isteri adalah pihak yang lemah dan solusinya adalah al-Sulhu ala al-inkar dalam
proses perdamaian (sulhu). Sedangkan Wadud
menolak solusi penyelesaian
nusyuz oleh suami.
Kajian lain yang menekankan pada masalah nusyuz dapat dilihat pada
tulisan Siti Khomsiatun, “Nusyus dalam Pandangan Zamakhsari dalam alKasysyaf dan Amina Wadud dalam Quran and Women (study kompratif)”.
31
Skripsi ini fokus membahas tentang konflik dalam keluarga secara global,
keluarga sakinah bukan keluarga yang tidak punya masalah tetapi keluarga yang
30
Husni Mubarok, “Nuyuz : Studi Komparatif Imam asy-Syafi’i dan Amina Wadud,”
(Skripsi S1 Perbandingan Madzhab Dan Hukum Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarat, 2009).
31
Siti Khomsiatun, “Nusyus dalam pandangan Zamakhsari dalam al-Kasysyaf dan Amina
Wadud dalam Qur’an and Women (study kompratif),” (Skripsi S1fakultas Usuluddin, Institut
Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, 2013).
11
bisa mencari solusi ketika terjadi konflik keluarga. Dalam skripsi ini juga penulis
membahas tentang menagemen konflik.
Keempat, Kajian yang menekankan pada poligami dapat dilihat juga pada
tulisan Iis Kartika, “Poligami dalam Pandangan Amina Wadud Muhsin dan
32
Wahbah Az-Zuhaili”.
Skripsi ini ingin mendiskripsikan seorang istri yang
dipoligami karena alasan yang cendrung memojokkan istri sebagai penyebab dari
suaminya berpoligami seperti mandul, ingin banyak anak dan alasan kesehatan.
Kajian lain yang menekankan pada poligami dapat dilihat pada tulisan Inin
Nastain, “Istimbat Hukum Muhammad Abduh dan Amina Wadud Muhsin Dalam
33
Hal Istri Mandul Sebagai Alasan Poligami”. Skripsi ini secara substansi sama
dengan yang di atas, yang membedakan hanya perbandingan tokoh.
kajian lain yang menitiberatkan pada permasalahan poligami seperti yang
dilakukan oleh Nur Chabibah, “Studi Analisis Hukum Islam Terhadap pemikiran
34
Amina Wadud Tentang Tidak diperbolehkannya Poligami”.
Nur Chabibah
mencoba menjawab pertanyaan tentang Bagaimana epistimologi dan latar
belakang yang digunakan Wadud dalam pengambilan hukum tentang pelarangan
poligami. Sehingga pada akhir skripsi ini berbicara tentang boleh tidaknya
poligami harus dipahami secara kaffah, kalaupun alasan suami berpoligami karena
32
Iis Kartika, “Poligami dalam Pandangan Amina Wadud Muhsin dan Wahbah AzZuhaili,” (Skripsi S1 Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarat,
2007).
33
Inin Nastain, “Istimbat Hukum Muhammad Abduh dan Amina Wadud Muhsin dalam
Hal Istri Mandul Sebagai Alasan Poligami,” (Skripsi S1 Fakultas Syari’ah, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarat, 2007).
34
Nur Chabibah, “Studi Analisis Hukum Islam Terhadap pemikiran Amina Wadud
Tentang Tidak Diperbolehkannya Poligami,” (Skripsi S1Fakultas Syariah, Institut Agama Islam
Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2009).
12
istri mandul atau alasan lainnya yang oleh undang undang atau hukum Islam itu
diperbolehkan.
Kelima. Kajian yang menekankan pada kesetaraan jender dapat dilihat
juga pada Sulaiman. “Kesetaraan Jender (Dalam Pemikiran Amina Wadud dan
35
Siti Musdah Mulia)”.
Skripsi ini sama dengan yang diatas yang membahas
tentang jender, perpedaanya hanya pada perpaduan dua tokoh feminis, dalam
skripsi ini tokohnya Amina dan Siti Musdah Mulia.
Kajian lain yang menitiberatkan pada wanita dalam ranah sosial
(kesetaraan jender) seperti yang dilakukan oleh Habibi Ibnu HS, “Kesetaraan
36
Jender dalam al-Qur’an Perspektif Amina Wadud”.
Skripsi ini membahas
tentang Amina yang ingin membangkitkan peran perempuan dalam kesetaraan
dan relasi gender, dengan berprinsip pada keadilan sosial dan kesetaraan gender.
Dia juga ingin menyelamatkan perempuan dari konservatifisme Islam. Menurut
Wadud banyak hal yang menyebabkan penafsiran miring tentang perempuan;
kultur masyarakat, kesalahan paradigma, latar belakang para mufasir yang
kebanyakan laki-laki.
Keenam. Kajian yang menekankan pada peran wanita dalam ruang publik
dapat dilihat juga pada Yuslam Chanafi, “Perbandingan Antara Saksi Perempuan
37
dengan Laki-Laki”.
Skripsi ini membahas tentang kekuatan kesaksian wanita
baik dalam muamalah atau yang lainnya. Menurut Wadud, bahwa adanya dua
35
Sulaiman. “Kesetaraan Jender (Dalam Pemikiran Amina Wadud dan Siti Musdah
Mulia),” (Skripsi S1 Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarat,
2006).
36
Habibi Ibnu HS, “Kesetaraan Jender dalam al-Qur’an Perspektif Amina Wadud” (Skripsi
S1 Ushuluddin, Universitas Islam Syarif Hidatullah Jakarta, 2007).
37
Yuslam Chanafi, “Perbandingan Antara Saksi Perempuan Dengan Laki-Laki,” (Skripsi
S1 Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007).
13
saksi perempuan sama dengan satu saksi laki-laki, karena dalam masyarakat
umumnya perempuan mudah dipaksa, sehingga jika saksi yang dihadirkan hanya
seorang perempuan, maka ia akan menjadi sasaran empuk kaum pria tertentu yang
ingin memaksanya agar memberi kesaksian palsu, dan jika ada dua orang saksi
perempuan mereka bisa saling mendukung satu sama lain; jika yang seorang lupa
(tudilla), maka seorang lagi dapat mengingatkannya (tudzakkira) akan perjanjian
muamalah.
Kajian lain yang menitiberatkan pada peran wanita dalam ruang publik
seperti yang dilakukan Ahmad Baidowi. “Tafsir Feminis (Studi Pemikiran Amina
38
Wadud dan Nash Hamid Abu Zaid)”. Dalam disertasi ini Baidawi menguraikan
gagasan Amina Wadud dan Nasr Hamid Abu Zaid dengan menggunakan
pendekatan filosofis hermeneutis untuk mengungkap asumsi-asumsi filosofis
mengenai penafsiran feminis. Dari analisis disertasinya mengungkap bahwa kedua
tokoh feminis muslim ini memahami tafsir bukan sebagai tindakan menjelaskan
teks-teks al-Qur’an secara aktual sebagaimana yang lazim dilakukan para penafsir
tradisional. Keduanya memahami penafsiran sebagai upaya mengaitkan teks alQur’an dengan problem realitas kontemporer dalam rangka menemukan solusi
yang qurani atas berbagai problem masyarakat saat ini, terutama yang sangat
menyudutkan eksistensi wanita.
Ketujuh. Kajian yang menitiberatkan pada permasalahan wanita sebagai
imamah seperti yang dilakukan oleh Kokom Komariah, “Pandangan Ulama
tentang Imam Salat Perempuan: Telaah Kritis Terhadap
38
Pemikiran Amina
Ahmad Baidowi. “Tafsir Feminis (Studi Pemikiran Amina Wadud dan Nash Hamid Abu
Zaid),” (Skripsi S1 Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarat,
2011).
14
Wadud”.
39
Skripsi ini membahas tentang Pandangan ulama tentang imam salat
perempuan, pada tahun 1994 Amina menyampaikan khotbah Jum’at di Masjid
Claremont, Cape Town, Afrika Selatan, dan pada Jum’at, 18 Maret 2005, 100
orang laki-laki dan perempuan menyelenggarakan shalat Jumat di sebuah gereja
Anglikan, hal memicu respons dari pihak-pihak yang setuju dengan tindakannya
ini. Sedangkan Syekh Yusuf Qardhawi, serta Syekh al-Azhar Mesir, Muhammad
Sayyid al-Thanthawi mengajukan keberatan atas aksi Amina Wadud ini.
Adapun beberapa literatur pembahasan terkait adil adalah:
“Berbuat Adil Jalan Menuju Bahagia”.
40
Dalam buku ini penulisnya
membahas tentang sifat adil yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin (Ulil
Amri) dan balasan dari Allah bagi orang yang berlaku adil, serta balasan bagi
orang yang berbuat zalim.
“Konsep Adil dalam Poligami (Analisis Perspektif Hukum Islam dan
41
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974”. Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum,
Universitas Islam Syarif Hidatullah jakarta, 2010. Skripsi ini membahas tentang
sikap adil yang harusnya dilakukan oleh seorang suami yang melakukan poligami,
didasarkan pada hukum Islam dan hukum Negara. Sifat adil seperti apa yang
harusnya dilakukan oleh suami kepada anak dan istri, adalah dalam pembagian
waktu berkumpul bersama keluarga.
39
Kokom Komariah, “Pandangan Ulama Tentang Imam Salat Perempuan: Telaah Kritis
Terhadap Pemikiran Amina Wadud,” (Skripsi S1 Fakultas Syariahdan Hukum, Universitas Islam
Syarif Hidatullah Jakarta, 2006).
40
Yusuf Abdullah Daghfaq, “Berbuat Adil Jalan Menuju Bahagia”. (Jakarta: Gema
Insani Press. 1992)
41
Abdul Khoir, Konsep Adil dalam Poligami (Analisis Perspektif Hukum Islam dan
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974”. Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam
Syarif Hidatullah jakarta, 2010)
15
42
“Analisis Konsep Adil Berpoligami Perspektif Hukum Islam”. Skripsi ini
hampir sama dengan skripsi di atas hanya saja sifat adil yang di kaji dalam skripsi
ini berfokus pada keadilan yang harusnya dilakukan oleh seorang suami ketika dia
berpoligami menurut hukum Islam.
“Keadilan dalam al-Quran (Analisis Kata al-Qisth Pada Berbagai
43
Ayat)”.
Pada skripsi ini penulis mencoba membahas tentang konsep keadilan
dalam al-Quran lewat kata al-Qisth. Keadilan yang bersifat seimbang, dipakai
untuk menjelaskan sifat orang-orang yang berilmu. Juga perlakuan terhadap hakhak anak yatim. Maupun ketika berjual beli.
Pembahasan tentang keadilan dalam al-Qur’an masih bisa diperluas lagi.
Dari penjelasan mengenai literatur di atas terdapat sejumlah persamaan dengan
apa yang akan penulis kaji dari alasan sisi epistemologi, mengapa Amina Wadud
memahami ayat al-Qur’an seperti itu, dan perbedaannya ada pada “ Kritik
Terhadap Konsep Keadilan Atas Penafsiran Amina Wadud” hal inilah yang
menjadikan skripsi ini menjadi layak di lakukan.
E. Metode Penelitian
Dalam penulisan ini, nantinya digunakan beberapa metode sebagai
berikut :
a. Metode Pengumpulan Data
42
Nuri Faat, Analisis Konsep Adil Berpoligami Perspektif Hukum Islam”. Skripsi S1
Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Syarif Hidatullah jakarta, 2007.
43
Alfionitazkiyah, Keadilan dalam al-Quran (Analisis Kata Al-Qisth Pada Berbagai
Ayat)”. Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Syarif Hidatullah jakarta,
2014
16
Penelitian
merupakan
jenis
ini
termasuk
penelitian
jenis
kualitatif
penelitian
(library
research),44
dengan pengalian bahan-bahan
pustaka yang koheren dengan obyek pembahasan,45 yakni dengan
cara
menuliskan, mengedit, mengklasifikasikan, mereduksi, dan menyajikan
data. Data diambil dari berbagai sumber tertulis, sumber yang dimaksud
adalah berupa buku-buku, bahan-bahan dokumentasi dan sebagainya.
b. Sumber Data
Penelitian ini menggunakan sumber data kepustakaan yang berkaitan
dengan penafsiran Amina. Sumber data yang dimaksud dalam penelitian adalah
subyek dari mana data diperoleh. Adapun sumber data dalam penelitian ini
adalah:
1. Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber pokok penelitian skripsi ini.
Adapun data primer dalam penelitian ini adalah al-Qur’an dan buku karya
Amina Wadud Muhsin yang berjudul: “Quran Menurut Perempuan:
Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat Keadilan”. Terjemah
Abdullah Ali (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006)
2. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber informasi yang tidak secara
langsung mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap informasi
44
library research juga disebut sebagai kajian pustaka. kajian literatur yang merupakan
sebuah uraian atau deskripsi tentang literatur yang relevan dengan bidang atau topik
tertentu.Memberikan tinjauan mengenai apa yang telah dibahas atau dibicarakan oleh peneliti atan
penulis. teori dan hipotesis yang mendukung, permasalahan penelitian yang diajukan atan
dinyatakan, metode dan metodologi yang sesuai. Lihat Punaji Setyosari. Metode Penelitian
Pendidikan dan Pengembangan (Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2013), h. 95.
45
Ronny H Sumintro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurumetri, cet. Ke-4 (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1983), h. 15.
17
yang ada. Adapun yang dijadikan sumber sekunder dalam skripsi ini adalah
buku-buku, kamus, jurnal, dan karya lain yang relevan dengan pembahasan
tersebut.
c. Metode Analisis Data
Analisa data dalam skripsi ini penulis menggunakan metode kualitatif
dengan metode deskriptif analisis. Dan metode analisis kritis. Sedangkan
pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan deduktif-analitik, sebagai
prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan mengambarkan atau
melukiskan keadaan sebuah subyek atau obyek penelitian.46 Mempelajari karya
tokoh yang bersangkutan dengan membuat analisis mengenai semua konsep
pokok satu persatu, agar dapat dibangun suatu sintesis. Pola pikir ini digunakan
untuk menganalisis pembacaan ulang al-Qur’an yang bersemangat keadilan
versi Amina Wadud Muhsin. Sehingga dapat ditarik kesimpulan yang bisa
menguatkan ataupun melemahkan pendapatnya.
d. Teknik Penulisan
Panduan penulisan skripsi ini berdasarkan pada Pedoman penulisan
skripsi47 yang terdapat dalam Pedoman Akademik Tahun 2012/2013 Program
Strata 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. yang
diterbitkan oleh Biro Adimistrasi dan Akademik UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Penulisan catatan kaki untuk kutipan kedua dan seterusnya, hanya
menyertakan nama populer penulis atau nama belakang dan dua kata dari judul
beserta halaman.
46
Hadawi Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial (Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1995), h. 63.
47
Tim Penyusun, Pedoman Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta 2012/2013 (Ciputat: UIN Jakarta Press, 2012), h. 351.
18
F. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini disusun menjadi empat bab. Bab I merupakan
pendahuluan yang berisi asumsi-asumsi yang melatarbelakangi pemilihan tema
penelitian ini, kemudian rumusan masalah yang akan dijawab dalam skripsi ini.
Tujuan dan kegunaan dari penelitian, telaah terhadap buku-buku atau tulisantulisan lain yang pernah dilakukan sebelumnya mengenai tema ini, serta
pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Karena pembahasan dalam
skripsi ini terfokus pada Kritik Terhadap Konsep Keadilan Jender. Maka penulis
menjadikan Bab ke II untuk menelaah model-model penafsiran tentang keadilan
yang telah dilakukan oleh para mufasir-mufasir dan para aktifis jender.
Biografi dan pemikiran Amina Wadud penulis kemukakan pada BAB III.
Berikut bagaimana Wadud mengunakan metode Hermeneutika Tauhid dalam
menafsirkan al-Qur’an yang di adopsi dari Fazlur Rahman. Yaitu teori doubel
movement.
Penafsiran Amina Wadud mengenai keadilan jender dalam al-Quran,
penulis kemukakan dalam Bab IV. Penulis mencoba mengumpulkan ayat-ayat alQuran yang terkesan timpang jender, kemudian menguraikan bagaimana
penafsiran Amina Wadud terhadap ayat-ayat tersebut, dan bagaimana seharusnya
konsep keadilan ideal bagi kebanyakan ulama tafsir dalam merespon konsepsi
Amina Wadud.
Kajian ini akan diakhiri dengan Bab V yang berisi kesimpulan dari
pembahasan secara keseluruhan, dan saran-saran penyusun dalam kaitannya
dengan penulisan ini.
BAB II
KEADILAN JENDER DALAM PANDANGAN MUFASIR DAN AKTIVIS
A. Pengertian Adil
Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) adil diartikan sebagai (1)
sama berat, tidak berat sebelah; dan tidak memihak. (2) berpihak pada kebenaran
dan (3) sepatutnya tidak sewenang-wenang.1 Kata adil dalam bahasa Indonesia
awalnya diserap dari kata ‘adl dalam bahasa arab yang terambil dari kata ‘adala
yang terdiri dari huruf ‘ain, dal dan lam. Rangkaian huruf ini kemudian
menghasilkan dua makna yang bertolak belakang yaitu “lurus dan sama” serta
“bengkok dan berbeda”.2 Dari makna pertama kata ‘adl bisa diartikan sebagai
menetapkan suatu hukum dengan benar. Jadi seorang yang ‘adl adalah berjalan
lurus dan sikapnya selalu mengunakan ukuran yang sama, “persamaan itulah yang
merupakan makna asal kata ‘adl.3 Kedua, ‘adl dalam arti ‘seimbang’. Bermakna
memberikan sesuatu kepada seseorang sesuai dengan kelayakannya sehingga
terdapat kesesuaian kedudukan dan fungsinya dibanding dengan individu lain.4
Sedangkan dalam bahasa Inggris kata adil diterjemahkan sebagai just.5 Arti kata
Inggris itu kira-kira sama dengan yang dimaksud oleh kata adil dalam bahasa
Indonesia.6
1
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005), h. 4.
2
Ibnu Faris, Mu’jam Maqâyis al-Lugah, (t.t: t.p, t.th. Vol III), h. 745.
3
Ensiklopedi al-Qur’an: Kajian Kosakata (Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 5.
4
Hafidz Taqiyuddin, Argumen Keadilan dalam Hukum Waris Islam: Studi Konsep ‘Awl
dan Radd, (Tangerang Selatan: Cinta Buku Media, 2014), h. 18.
5
John M.Echols dan Hassan Shadly, Kamus Inggis- Indonesia, (Jakarta: Gramedia
Pustaka, 1996), h. 338.
6
Dawam Rahardjo, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep
Kunci, (Jakarta: Paramadina, 2002), h. 369.
19
20
Firdaus al-Hisyam dan Rudy Hariyanto mengatakan bahwa kata adil
diartikan sebagai. Just, fair, impartial, rightful, lawful, honest (secara pantas, adil,
tidak berat sebelah, berdasarkan keadilan, hukum yang sah, lurus hati).7
Sedangkan adil secara istilah (umum) merupakan arti dari ‘meletakkan sesuatu
pada tempatnya’.8
B. Pengertian kesetaraan gender
Kata setara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari
kata tara yang berarti yang sama (tingkatannya, kedudukannya) kemudian
mendapatkan tambahan kata depan se- menjadi setara yang berarti sejajar (sama
tingginya), sama tingkatnya (kedudukannya), sebanding, sepadan atau seimbang.9
Dalam bahasa Inggris, kesetaraan
dikenal dengan
equality, yang bermakna
persamaan.10 Setara juga dapat diartikan sebagai seimbang, tidak berat sebelah
dan tidak membeda-bedakan.11
Sehingga kesetaraan gender dapat diartikan sebagai wujud kesamaan
kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hakhaknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan
politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan
keamanan nasional (hankamnas, serta kesamaan dalam menikmati hasil
7
Firdaus al-Hisyam dan Rudy Hariyanto, Kamus Lengkap 3 Bahasa: Arab Indonesia
Inggris, (Surabaya: Gitamedia Press, 2006), h. 523.
8
Basri Iba Asghary, Solusi al-Quran tentang Problem Sosial Politik Budaya, (Jakarta: PT
Reineka Cipta, 1994), h. 116.
9
http://kbbi.web.id/tara http://kbbi.web.id/tara
10
John M.Echols dan Hassan Shadly, Kamus Inggis- Indonesia, h. 217.
11
Elvira Suryani, Sosialisasi Kesetaraan Gender pada Pegawai Kantor Kesejahteraan
Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Bekasi. Jurnal Kybernan, Vol. I, No, 2
(September 2010), h. 6.
21
pembangunan tersebut. Kesetaraan juga meliputi penghapusan diskriminasi dan
ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.12
Kesetaraan bukan berarti semua orang identik sama. Kesetaraan hanya
dapat dipahami dalam hal-hal yang paling fundamental dan tertentu.13 Seperti
halnya yang telah diuraikan diatas, kesetaraan lebih cenderung bermakna
memberikan perlakuan yang sama dalam hal-hal yang mendasar, sebagai hak
dasar kemanusiaan.
C. Konsep Keadilan dan Kesetaraan Jender Menurut Mufasir dan Aktifis
1. Konsep Keadilan dan Kesetaraan Jender menurut Mufasir
Klasik: al-
Zamakhsyarî14, dan al-Qurtubî15
Dalam memahami tentang ketidakmampuan seorang suami berbuat adil
diantara istri-istrinya seperti yang tertera dalam surah QS. al-Nisâ’ / 4: 129. AlQurtubî menafsirkan dengan kondisi manusia yang diciptakan dalam kapasitas
tidak memiliki (kemampuan mengontrol kecenderungan) hatinya kepada
12
Ali Masykur Musa, Membumikan Islam Nusantara: Respon Islam Terhadap Isu-isu
Aktual (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2014), hal. 62.
13
Saut Hamonangan Sirait, Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis (Jakarta:
Gunung Mulia, 2006), hal. 31.
14
Nama aslinya adalah Abû al-Qâsim Jârullâh Mahmud ibn Umar al-Zamakhsyarî alKhawarizmi, lahir tanggal 27 Rajab 467 H/ 8 Maret 1075 M di Zamakhsyar, sebuah desa di
Khawarizm (Turkistan), Ayahnya adalah seorang Imam Masjid di desa Zamakhsyar, Tidak banyak
yang diketahui tentang latar belakang keluarga al-Zamakhsyarî. Yang jelas bahwa keluarganya
adalah keluarga yang taat terhadap ilmu juga taat dalam beribadah. Pada tahun 526 H ia menetap
selama tiga tahun di Makkah, dan dikota inilah ia menulis karya monumentalnya “Tafsir al-Kasyaf
An Haqo’iq al-Tanzil Wa 'Uyun Al-Aqawil Fi Wujuh Al-Ta'wil “ ia di kenal menganut faham
Mu’tazilah sehingga berimplikasi pada karya tafsirnya yang lebih tendensius rasionalitas, di kenal
dengan tafsir al-Ra’yi. (Faizah Ali Syibromalisi, dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir
Klasik-Modern (Tangerang Selatan: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2011, 40-43)
15
Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh, alAnshari al-Khazraji al-Qurthubi. Lahir di Spanyol pada tahun 580 H bertepatan dengan tahun 1184
M. Seorang ulama besar, ahli fiqh, tafsir dan hukum, memiliki kearifan dan wawasan luas. Ia
bermadzhabkan Maliki, Tafsirnya al-Jami; li ahkam al-Qur’an, merupakan suatu karya ensiklopedi
yang menyatukan hadits dengan masalah-masalah ibadah, hukum dan linguistik. Dan informasi
tentang kehidupannya hanya sedikit sekali diketahui. (Muhammad Ayub, Qur’an dan Penafsirnya
(Pustaka Firdaus, t, tp, t,th. H.9).
22
sebagain atas sebagain yang lain (istri-istri). Karna kecenderungan ini bersifat
nonmateri, maka manusia tidak memiliki kendali untuk membaginya dengan adil.
maka dari itu, menurut al-Qurtubî yang diambil dari riwayat mujahid. Seorang
suami dilarang dengan sengaja berbuat jelek terhadap mereka (istri-istri), tetapi
(suami) berkewajiban untuk menyamaratakan dalam membagi dan memberi
nafkah.karena hal itulah yang bisa diusahakan (lakukan).16 Konsep pemahaman
tentang keadilan dan kesetaraan pada al-Qurtubî bisa di ambil dari penafsirannya
tentang ayat-ayat al-Qur’an yang menyingung tentang keadilan dan kesetaraan
dalam hubunganya dengan kemanusiaan. Karena pada masa itu sulit sekali
dimungkinkan telah berkembang perdebatan tentang kajian feminis secara intens.
Dan terfokus.
menyoal tentang keadilan gender dalam penafsiran al-Qurtubî, tidak bisa
dilepaskan dari pembahasan menyangkut ayat al-Nisa 34. Al-Qurtubî
menafsirkan ayat di atas dengan pelebihan atau (Qawâm-nya) laki-laki atas
perempuan dikarenakan laki-laki memiliki kewajiban memberikan nafkah dan
mahar, atau pengutamaan tersebut bisa juga dikarenakan secara kapasitas
intelektual dan menejerial, sehingga laki-laki diberikan kewajiban mengurusi
perempuan.17 bisa dikatakan, secara tidak langsung al-Qurtubî menilai al-Qur’an
memberikan mekanisme yang adil menyangkut relasi laki-laki dan perempuan.
Terutama dalam urusan rumah tangga. Sehingga pembagian harta waris yang
diatur dengan sangat rinci dalam al-Qur’an merupakan suatu kesatuan yang adil
dalam ketetapan-Nya.
16
Syaikh Imâm Al-Qurtubî, Al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân. Tarj, Ahmad Rijali Kadir
(Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Vol, 5, h. .965.
17
Al-Qurtubî, Al-Jâmi’, Vol, 5. h. 393.
23
Ayat di atas juga dipahami sebagai petunjuk dalam menetapkan kewajiban
laki-laki dalam mendidik istri, sehingga ketika para istri-istri sudah menjaga hakhak suaminya, maka tidak diperbolehkan seorang laki-laki (suami) berlaku buruk
terhadap istrinya.18
Dari pemahaman diatas kemudian menghasilkan kesimpulan bahwa
dimungkinkan adanya pemahaman bahwa al-Qurtubî membedakan antara
keadilan berdasarkan pembagian nafkah antara istri-istri yang dinikahi dengan
pembagian adil dalam hak waris. Dikarnakan keduanya memiliki masalah yang
berbeda. Pembagian hak waris dinilai adil dikarnakan bobot dan tangungan di
antara laki-laki dan perempuan berbeda. Sedangkan pembagian nafkah pada istriistri yang dinikahi harus sama-rata baru bisa dikatakan adil.
Sedangkan ketika membahas tentang mekanisme persaksian, yaitu dua
saksi laki-laki dalam hal transaksi keuangan, yang boleh digantikan dengan
seorang laki-laki dan dua orang perempuan, al-Qurtubî mengatakan mekanisme
yang demikian bisa diganti dengan satu orang laki-laki saja. Ataupun dua orang
perempuan saja, dengan disertai sumpah. Namun Imâm ‘Abu Hanîfah beserta
pengikutnya membantah alternatif tersebut, karena bagi mereka ketentuan Allah
dalam masalah persaksian telah ditetapkan berdasarkan perannya masingmasing.19 Pembagian peran inilah yang mempengaruhi bobot persaksian laki-laki
dan perempuan.
Sedangkan menurut al-Zamakhsyarî, persaksian antara seorang laki-laki
dan dua peremuan hanya dibolehkan dalam masalah transaksi finansial, tidak
18
19
Al-Qurtubî, Al-Jâmi’, Vol, 3. h. 394.
Al-Qurtubî, Al-Jâmi’, Vol, 3. h. 868.
24
dibolehkan dalam masalah hudûd, dan qisâs. Sedangkan dua persaksian dua
perempuan tersebut untuk mengingatkan, jika sebagian saksi lupa, satunya lagi
bisa mengingatkan. Namun Zamakhsyarî tidak menerangkan lebih detail
mengapa perempuan diprediksi lupa20
Sedangkan ketika menafsirkan QS. al-Nisâ’ / 4: 11. Al-Zamakhsyarî
mengatakan bahwa ketetapan yang memerintahkan pembagian waris bagi anak
perempuan adalah sama dengan seorang laki-laki, hal ini merupakan ketentuan
yang adil dan membawa pada kemaslahatan.21
Al-‘Alûsî berpandangan bahwa dengan ayat ini, manusia tidak sepatutnya
mempertanyakan hukum Allah tentang warisan, mengapa yang satu lebih besar
bagiannya di banding yang lain, atau mengapa ada yang mendapat bagian ada
pula yang tidak.22
Ayat-ayat al-Qur’an lain yang dinilai diskriminatif terhadap perempuan
adalah. QS. Al-Baqarah / 2: 229, untuk meresponnya al-Qurtubî mengatakan,
bahwa batas maksimal talak yang bisa dirujuk kembali adalah dua kali talak, hal
ini juga dimaksudkan sebagai penghapusan terhadap apa yang telah menjadi
kebiasaan masa lampau, namun jika setelah terjadi talak dua dan dikehendaki
rujuk kembali, suami boleh merujuk istrinya lagi dengan memperlakukannya
dengan baik. Ataupun jika memilih menceraikannya, maka seyogyanya
20
‘Abi al-Qâsim Jârullah Mahmûd bin ‘Umar al-Zamakhsyarî al-Khowarizmi, Tafsir alKasyâf An Haqo’iq al-Tanzil Wa 'Uyun Al-Aqawil Fi Wujuh Al-Ta'wil (Lebanon: Dar al-Ma’arif,
2009), H .155
21
al-Zamakhsyarî, Tafsir al-Kasyâf, h. 222.
22
Syihâb al-Dîn al-Sayid Mahmûd al-‘Alûsî al-Baghdadi, Rûh al-Ma’ânî fi Tafsîr alQur’ân al-‘Azim wa al-Sab’ al-Matsânî (Lebanon: Ihya’ al-Turats al-Arabi.), h. Vol IV, h.228
25
meninggalkan dengan syarat memenuhi segala haknya tanpa berbuat zalim.23
Dengan demikian hak talak yang di berikan terhadap suami, bukan
mencerminkan sikap diskriminatif dan arogan, melainkan sikap adil, karena
disertai dengan prasyarat lain.
2. Konsep Keadilan dan Kesetaraan Jender menurut Mufasir Kontemporer:
Sayyid Qutb,24 ‘Alî al-Sâbûnî,25 dan Quraish shihab.26
Dalam pandangan Quraish Shihab laki-laki dan perempuan adalah
manusia yang sama, dikarnakan keduanya bersumber dari ayah dan ibu yang
sama.27
‫ي ي ي‬
‫ي‬
ٍ ‫ض ُك ْم يم ْن بَ ْع‬
‫ض‬
ُ ‫يع َع َم َل َعام ٍل مْن ُك ْم م ْن ذَ َك ٍر أ َْو أُنْثَى بَ ْع‬
ِ‫اب ََلُْم َربُّ ُه ْم أي‬
ْ َ‫ف‬
َ ‫استَ َج‬
ُ ‫َّن ََل أُض‬
23
Al-Qurtubi, Al-Jâmi’, Vol, 3, h. 277
Nama lengkapnya Sayyid Qutb Ibrâhim Husin Shazalî. Dilahirkan pada 9 Oktober
1906 di sebuah desa di Hulu Mesir, Kampung Musyah, Asyut, Mesir. Ayahnya Haji Quthb
Ibrahim berasal dari keluarga berada dan sangat di segani. Ibunya bernama Fâtimah Husin
‘Uthmân yang juga erasal dari keluarga berada dan terhormat. Ia mendapatkan pendidikan resmi di
sekolah yang terleta di kampungnya tahun 1912 dan tamat pada tahun 1918 di Kota Kuttab. Pada
tahun 1925 M, ia masuk ke institusi diklat keguruan, dan lulus tiga tahun kemudian, setelah itu
melanjutkan studi ke Universitas Dâr al-‘Ulûm (Universitas Mesir Moderen) hingga memperoleh
gelar sarjana. Sayyid Qutb mengalami pergolakan pemikiran, dari seorang sastrawan kemudian
menjadi seorang yang “fanatik” terhadap Islam sepulang dari Amerika. (Salah Abdul Fattah,
Pengantar Memahami Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, terj. Salafuddin Abu Sayyid (Solo: Era
Intermedia, 2001, h. 44).
25
‘Alî bin Jamil al-Sâbûnî dilahirkan pada tahun 1347 H/1928 M. Seorang dosen di
fakultas Syari’ah dan Dirasah Islamiyah di Makkah. Kecilnya belajar di Suria sampai tingkat
Tsanawiyah. Kemudian meneruskan belajar di Universitas al-Azhar Mesir, sehingga mendapatkan
gelar Lc tahun 1952. Setelah itu al-Sâbunî meneruskan belajar di Universitas yang sama dan
mendapatkan gelar Magister pada tahun 1954 dalam bidang spesialisasi hukum syar’i. Dan pada
tahun 1381 H, ia menyusun karya monumentalnya Safwah al-Tafâsîr. Kitab ini terdiri dari tiga juz
dan mengabungkan antara model bi al-Ma’tsûr dan bi al-Ma’qûl (‘Alî al-Sâbûnî, Safwah alTafâsîr (Beirut: Dâr al-Qur’ân al-Karîm, 1981), vol.I. h. 20.
26
M. Quraish Shihab, MA. Lahir di Rappang Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944, Beliau
berasal dari keturunan Arab yang terpelajar, ayahnya bernama Abdur Rahman Shihab (19051986), alumni Jami’atul Khair. Salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia.
Pendidikan formal Quraish Shihab di mulai dari sekolah dasar di Ujung Pandang, kemudian
melanjutkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Malang sambil nyantri di Darul Hadis
al-Falaqiyyah. Untuk mendalami studi keislaman Shihab di kirim oleh ayahnya ke al-Azhar Kairo
pada tahun 1958 lebih dari 40 judul buku ditulisnya, di antara karya-karyanya yang paling sering
di baca dan apresiasi adalah Membumikan al-Qur’an (1994), Tafsir al-Mishbah (2003) Dia Ada Di
Mana-Mana (2004) dan masih banyak lain. (Hilman Latif dan Zezen Zainal, Islam dan Urusan
Kemanusiaan (Jakarta: Serambi Ilmu. 2015), h. 168).
27
Shihab, Perempuan, h. 6.
24
26
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan
berfirman), Sungguh Aku tidak menyia-nyiakan amalan orang yang beramal
di antara kamu, baik laki-laki maupun perempua, (karena) sebagian kamu
adalah (keturunan) dari sebagian yang lain (ali-Imran 3:195)
Ayat di atas mengandung arti bahwa sebagian laki-laki berasal dari
pertemuan ovum perempuan dan sperma laki-laki dan sebagian yang lain (umat
manusia yang berjenis perempuan) demikian juga halnya, dan tidak ada perbedaan
diantara mereka dari segi asal kejadian serta kemanusiaannya. 28 Yang
membedakan kemuliaan antara keduanya di sisi Allah hanyalah kadar ketaqwaan,
bukan keturunan, suku atau jenis kelamin tertentu.
Tabiat kemanusiaan laki-laki dan perempuan hampir (dapat dikatakan)
dalam batasan yang sama. Allah telah menganugrahkan kepada perempuan,
sebagaimana menganugrahkan kepada laki-laki, potensi yang cukup untuk
memikul aneka tangung jawab.29 Meskipun demikian, Allah juga telah
menetapkan kodrat pada setiap sesuatu seperti dalam QS. al-Qamar / 54: 49.
‫إ اَّن ُك ال َش ْي ٍء َخلَ ْقنَاهُ بيَق َد ٍر‬
“Sesungguhnya sesuatu Kami ciptakan dengan qadar”
Qadar diartikan sebagai ukuran-ukuran atau sifat-sifat yang ditetapkan
oleh Allah swt pada segala sesuatu. Demikian juga laki-laki dan perempuan,
keduanya sebagai makhluk individu dan jenis kelamin memiliki kodratnya
masing-masing,30 sehingga mempersamakan seutuhnya dua hal yang jelas berbeda
juga merupakan sebuah ketidak tepatan.
28
Lebih baik bagi masyarakat untuk
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat
(Jakarta: Mizan Pustaka, 1996), h. 299.
29
Shihab, Perempuan, h. 6. 7.
30
Atik Wartini, “Tafsir Feminis M. Quraish Shihab: Telaah Ayat-ayat Gender dalam
Tafsir al-Misbah”, PALASTReN, Vol. VI, No. 2, (Desember 2013): h. 485.
27
menjadikan laki-laki tetap laki-laki dan perempuan tetap perempuan.31 Laki-laki
dan perempuan tetaplah manusia yang sama, sebagai hamba Tuhan yang
dimuliakan asal kejadiannya, namun juga
berbeda. Meskipun demikian,
perbedaan tersebut tidak mengurangi kedudukan salah satu pihak dan melebihkan
yang lain.32
Menurut Quraish Shihab perbedaan laki-laki dan perempuan bukan hanya
terletak pada perbedaan sex (jenis kelamin) yang nampak pada fisik, yang
kemudian melahirkan kecenderungan psikologis tertentu, juga terdapat pada
kandungan struktur biologis diantara keduanya.
Struktur kromosom laki-laki dan perempuan juga berbeda. Seorang
manusia yang terlahir sebagai laki-laki memiliki pasangan kromosom X dan Y,
sedangkan pasangan kromosom bagi perempuan terdiri dari X dan X.
Selain itu perbedaan hormonal antara laki-laki dan perempuan juga
berbeda. Kadar darah merah pada perempuan lebih sedikit dibanding laki-laki,
begitu juga pada kemampuan bernafas perempuan lebih rendah dari laki-laki, dan
otot-ototmya tidak sekekar laki-laki.33 Paru-paru laki-laki menghirup udara lebih
banyak dari perempuan,dan denyut jantung perempuan lebih cepat dari laki-laki.
Hal demikian tersebut kemudian mempengaruhi kecenderungan masing-masing
jenis kelamin dalam pekerjaan dan sifat. Laki-laki secara umum cenderung pada
31
Shihab, Perempuan, h. 6.
Shihab, Perempuan, h. 6.
33
M. Quraish Shihab, Dia Ada Dimana-mana, Tangan Tuhan di balik Setiap Fenomena
(Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2013), h. 158.
32
28
tantangan dan perkelahian. Seperti olahraga dan berburu, sedangkan perempuan
cenderung pada kedamaian dan keramahan, seperti merias diri dan kecantikan.34
Kerangka di atas tersebut kemudian dijadikan Quraish Shihab dalam
membangun landasan teologis dalam memandang kesetaraan dan keadilan gender.
Yang kemudian menghasilkan berbagai rumusan sebagai berikut.
Laki-laki dan perempuan adalah mahluk yang sama dari sisi kemanusiaan
dan berhak mendapatkan berbagai bentuk perlakuan yang sama, baik dalam hak
mendapatkan perlakuan hukum, belajar, mengajar, hak dibidang politik,
keamanan, hak perlakuan baik dan lain-lain.35
Namun dari sekian banyak hak kesamaan dan kesetaraan antara laki-laki
dan perempuan, ada pula hal-hal yang telah diatur dengan jelas dalam al-Qur’an,
yang bisa jadi mengambarkan sesuatu yang tidak setara (tidak adil). Seperti.
1. Bagian anak laki-laki dalam warisan dua kali bagian perempuan.
2. Kesaksian perempuan setengah dari kesaksian laki-laki.
3. Keharusan adanya wali bagi perempuan dalam pernikahan.
4. Hak perceraian berada ditangan suami.
Ketetapan hukum yang demikian itu tidak lain adalah penyesuaian yang
sangat adil terhadap berbagai macam perbedaan kodrat, jati diri, fungsi serta peran
baik laki-laki maupun perempuan.36 Ini semua harusnya dipahami sebagai
34
Shihab, Perempuan, h. 8-14.
M. Quraish Shihab, Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual:
Kumpulan Makalah Seminar (Jakarta: INIS, 1993), h. 11-16.
36
Shihab, Perempuan, h. 287.
35
29
kebijakan Tuhan dalam mementukan kemaslahatan bersama dunia dan akhirat,
bukan sebagai tuduhan akan Tuhan yang maskulin.
Keadilan menurut Quraish Shihab dalam hubungan manusia antar lawan
jenis bisa dilihat dari penafsiranya terhadap kata tuqsitu dan ta’dilu dalam QS. alNisâ’ / 4: 3. Kedua kata tersebut diartikan sebagai adil, tetapi sebagian ulamaulama ada yang membedakan dengan mengatakan tuqsitu adalah berlaku adil
antara dua orang atau lebih. Sedangkan ‘adl (adil) adalah berlaku baik terhadap
orang lain maupun diri sendiri, walaupun keadilan tersebut, bisa saja tidak
menyenangkan salah satu pihak.37
Pengertian di atas bisa mengindikasikan bahwa menurut Quraish Shihab
relasi yang adil lintas jender bukanlah berbicara tentang persamaan dan kesamaan
dalam segala hak, melainkan pada penganugrahan peran, fungsi yang proporsional
dan menugaskan masing-masing sesuai kemampuannya.38 Boleh jadi rumusan
yang demikian itu tidak disukai lantaran mendiskreditkan jenis kelamin tertentu.
Tetapi ketetapan Tuhan tetaplah KetetapanNya, manusia boleh saja tidak
menyukainya padahal itu teramat baik baginya, sedangkan bisa saja manusia
sangat menyukainya padahal itu teramat buruk bagi Tuhannya.
Menurut ‘Alî al-Sâbûnî perbedaan laki-laki dan perempuan hanya terdapat
pada ranah praktis, bukan pada wilayah spiritual,
misalnya dalam hal talak,
sekalipun suami memiliki satu tingkatan lebih tinggi dari istrinya, istri juga tetap
memiliki hak sebagaimana halnya laki-laki yaitu: seperti bergaul dengan baik,
37
M Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan dan Keserasian al-Qur’an Vol, 2.
(Tangerang Selatan: Lentera Hati. 2007), h. 337.
38
M Quraish Shihab, Perempuan, h. 6.
30
melenyapkan kemadharatan dll. Jadi meski laki-laki memiliki keistimewaan, hal
ini hanya diperuntukan pada aspek pemberian nafkah dan kepemimpinan sebuah
keluarga, bukan derajat kemuliaan.39
Sedangkan menurut Sayyid Qutb, yang dimaksud hak seimbang seorang
istri dengan kewajibannya dalam surah al-Baqarah ayat 228 adalah hak menerima
nafkah, dan yang dimaksud dengan kewajiban adalah kewajiban menahan diri dan
tidak menyembunyikan apa apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya. Agar
terlihat jelas, kehamilan atau tidaknya. Sedangkan yang dimaksud para suami
mempunyai satu tingkatan kelebihan dari istrinya. Konteks ayat ini dimaksudkan
pelebihan dalam merujuki istrinya, hak ini diberikan kepada suami karena suami
yang menjatuhkan talak, tidak masuk akal jika suami yang menjatuhkan talak
namun yang diberikan hak rujuk adalah istri. Sehingga dapat dipadami bahwa
pelebihan laki-laki satu tingkat diatas perempuan tersebut sifatnya khusus, bukan
bersifat umum seperti yang dipahami kebanyakan orang dan dijadikan dalil yang
tidak pada tempatnya.40
Sedangkan Qutb ketika mesepon QS. al-Baqarah / 2: 282. Tentang
persaksian laki-laki dan perempuan. Pengutamaan kaum laki-laki dalam menjadi
saksi dari pada perempuan dikarnakan faktor struktur fungsional, dimana pada
umumnya laki-laki yang banyak melakukan transaksi dan perjanjian dalam
masyarakat normal. Di mana perempuan tidak perlu bekerja untuk membiyayai
hidupnya, jika perempuan terpaksa bekerja, maka dimungkinkan perempuan telah
39
‘Alî al-Sâbûnî, Safwah al-Tafâsîr. tarj, KH. Yasin (Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 2010),.
vol.1, h. 298.
40
Sayyid Qutb, Fî Zilâl al-Qur’ân. Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Vol. 2 ( Jakarta:
Rabbani Press 2001), . Vol. 1. h. 745.
31
merusak sifat keibuan dan kewanitaanya. Serta mengabaikan tugas utamanya.
Sistem yang demikian juga didesain untuk meminimalisir kelupaan perempuan,
dikarenakan kurangnya pengalaman sehingga dia tidak memahami seluruh rincian
sistem perjanjian.41
Menurut ‘Alî al-Sâbûnî, alternatif lain yang dimungkinkan dalam
menggantikan persaksian dua orang laki-laki adalah satu orang laki-laki dan dua
orang perempuan, dalam hal ini tidak dapat dinilai sama antara satu laki-laki
dengan dua orang perempuan, yang memungkinkan diadakannya pergantian
menjadi empat orang perempuan, jika tidak ditemukan seorang laki-laki. Karena
pada umumnya ingatan perempuan kurang mumpuni, sehingga kehadiran satu
laki-laki dibutuhkan sebagai penginggat dua perempuan.42
Sedangkan dalam hal pembagian pusaka waris ‘Alî al-Sâbûnî tidak banyak
berkomentar, menurutnya pembagian harta waris yang ditetapkan perinciannya
oleh Allah adalah amanat dalam ketentuan waris supaya yang pemberi waris bisa
berbuat adil terhadap anak-anaknya. Dan hukum-hukum tersebut merupakan
syariat Allah yang telah ditentukan supaya hambanya mengamalkan dan tidak
melampaui batas.43
Sayyid Qutb mengatakan, ketetapan dalam hukum waris tersebut bukan
mengisyaratkan bahwa al-Qur’an bersifat pilih kasih terhadap laki-laki dan
mengalahkan perempuan. Melainkan menyangkut masalah keseimbangan dan
keadilan dalam pembentukan keluarga dan dalam sistem sosial Islam. Karena
laki-laki menikah dengan seorang perempuan dan berkewajiban menghidupi anak
41
Sayyid Qutb, Fî Zilâl al-Qur’ân. Terj. vol. 2, h. 123. 124.
Al-Sâbûnî, Safwah al-Tafâsîr, tarj, Vol.1. h. 377.
43
Al-Sâbûnî, Safwah al-Tafâsîr, tarj, Vol.1. h. 607
42
32
istrinya dalam segala keadaan, baik ketika bersamanya atau ketika diceraikan
darinya. Wanita tidak berkewajiban memberi nafkah kepada suami dan anakanaknya, sehingga wajar jika laki-laki menerima dua kali bagian perempuan. Oleh
sebab itu, ketetapan ini mengisyaratkan sebuah sistem yang harmoni lagi
berkeadilan. Sekaligus pembagian yang bijaksana.44
3. Konsep Keadilan dan Kesetaraan Jender Menurut Aktivis Jender: Riffat
Hassan,45 dan Musda Mulia46
Dalam mengawali pembahasan tentang konsep kesetaraan gender Riffat
Hasan memulai landasan teologisnya dengan kajian tentang asal mula penciptaan
manusia, sebab menurutnya akar persoalan kesetaraan dan ketidaksetaraan lakilaki dan perempuan dimulai dari konsep penciptaan perempuan.47
Menurutnya Allah menciptakan perempuan dan laki-laki setara, mereka
diciptakan secara serempak dan sama dalam substansinya, sama pula caranya, dan
44
Sayyid Qutb, Fî Zilâl al-Qur’ân. Terj. Vol 2, h. 675.
Riffat Hassan adalah seorang feminis Muslimah kelahiran Lahore, Kota tua di Negara
Islam Pakistan pada tahun 1943, belum ada informasi yang jelas terkait kapan Riffat dilahirkan,
yang jelas ia berasal dari keluarga Sayyid (gelar kehormatan bagi orang-orang yang merupakan
keturunan Nabi) kelas atas, ia adalah salah seorang putri dari sembilan bersaudara. Ayahnya biasa
dipanggil “Bagum Shahibah”, sementara ibunya merupakan anak dari seorang penyair, dramawan
dan ilmuwan terkemuka, bernama Hakim Ahmad Shuja. Riffat di besarkan dari keluarga yang
sangat tradisional dan patriarkhi sejati, sehingga sangat wajar jika pemikiran Riffat menolak
dengan tegas kesewenang-wenangan laki-laki atas perempuan, terbukti dengan upayanya dalam
memahami Hadits-Hadits yang Bernada misoginis. (Riffat Hassan, “Feminisme dan al-Qur’an”,
Jurnal Ulumul Qur’an. No. 09, Vol. II, Tahun 1991, h. 86).
46
Musdah Mulia, 3 Maret 1958 kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, Musda merupakan
anak pertama dari 6 bersaudara dari pasangan Mustamin Abdul Fatah dan Buaidah Achmad.
dikenal sebagai aktivis feminisme Indonesia. Doktor di bidang pemikiran politik Islam UIN Syarif
Hidayatullah ini dikenal luas ketika mengusung “Buku Pembaruan Hukum Islam : Counter Legal
Draft Kompilasi Hukum Islam (KHI)” atas nama Tim Pengarusutamaan Gender Departemen
Agama, yang akhirnya menimbulkan kontroversi di masyarakat karena kental nuansa feminisnya.
Muara dari draft KHI- yang akhirnya gagal-tersebut sarat dengan ide-ide feminisme, gender,
pluralisme, ham dan demokrasi. (Siti Musdah Mulia, Muslimah Reformis: Perempuan Pembaharu
Keagamaan (Bandung: Mizan Media Utama, 2005).
47
Mutrofin, Kesetaraan Gender dalam Pandangan Amina Wadud dan Riffat Hassan,
Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, Vol III, No I (Juni, 2013), h. 254.
45
33
dalam ibadah keduanya mempunyai pahala yang sama.48
Tetapi pada
kenyataannya masih terjadi kesenjangan antara ideal normatif dengan historis
empiris-realistis.49 Salah satunya adalah penafsiran mengenai versi tulang rusuk
yang kemudian membangun asumsi, bahwa perempuan pertama (Hawa)
diciptakan dari laki-laki (tulang rusuk Adam) dan karena itu kedudukan
perempuan tidak setara dengan laki -laki. Yang dikemudian hari melahirkan
angapan bahwa laki-laki menguasai perempuan.50
Bagi Riffat fakta diatas merupakan sesuatu kekeliruan teologis. Al-Qur’an
sendiri tidak memuat sekalipun konsep penciptaan perempuan ala kitab kejadian.
Persepsi tentang perempuan yang bersifat diskriminatif dalam tradisi Islam tidak
berakar pada al-Qur’an (sumber tertinggi Islam) tapi pada Hadits. Pemahaman
tersebut termuat dalam banyak kitab dengan redaksi yang berbeda-beda dengan
maksud yang sama.51 Salah satunya adalah hadits yang terdapat pada jâmi’ alSahîh nya al-Bukhari.
ٍ
‫ي ي‬
‫ي‬
‫الضلَ يع أ َْع ََلهُ فَيإ ْن‬
ِ‫ت يم ْن يضلَ ٍع َوإي ان أ َْع َو َج َش ْيء يف ي‬
ْ ‫صوا يِبلنِ َساء خريا فَيإ ِن َن ُخل َق‬
ْ‫و‬
ُ ‫استَ ْو‬
‫ذَهب ي‬
‫صوا يِبلنيِ َس ياء خريا‬
َ َْ
ْ َ‫يمهُ َك َس ْرتَهُ َوإي ْن تََرْكتَهُ َلْ يََزْل أ َْع َو َج ف‬
ُ ‫استَ ْو‬
ُ ‫ت تُق‬
" perlakukan perempuan dengan baik, karena perempuan
diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari tulang
rusuk adalah bagian teratas, maka jika engkau coba meluruskannya, ia
akan patah, tetapi jika engkau membiarkannya sebagaimana adanya, ia
akan tinggal bengkok. Karena itu perlakukanlah perempuan dengan
baik."52
48
Mutrofin, Kesetaraan Gender, h. 257.
Putut Ahmad Su’adi, Pemikiran Fazlur Rahman dan Riffat Hasan Tentang Kesetaraan
Gender dalam Islam. Skripsi, Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab. UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, 2008), h. 128.
50
Komaruddin Hidayat, dll. Agama dalam Dialog, Pencerahan Perdamaian dan Masa
Depan (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003), h. 452.
51
Hidayat, dll. Agama dalam, h. 450.
52
Muhammad bin Ismail al-Bukhari “Sahih al-Bukhârî” hadits ke 5185 (Ttp: h. 1073)
49
34
Dari bunyi hadits tersebut kemudian hampir semua kaum muslimin
percaya bahwa perempuan pertama (hawwa) diciptakan dari tulang rusuk adam, 53
Pemahaman tersebut kemudian menjadikan seolah-olah kepustakaan hadits telah
mengantikan tempat ajaran al-Qur’an sendiri, paling tidak sejauh menyangkut isu
penciptaan perempuan. 54
sebuah analisis Terhadap diskripsi al-Qur’an tentang penciptaan
perempuan menunjuk bahwa Al-Quran menggunakan istilah dan perumpamaan
dalam konteks baik feminim ataupun maskulin untuk memberi gambaran bahwa
penciptaan manusia berasal dari sumber tunggal. Seperti bunyi ayat:
          
           
       
“wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan
pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta,
dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasimu. (Q.S. al-Nisâ’ / 4:1).55
Dari ayat di atas kemudian dipahami Riffat bahwa al-Quran tidak
mengadakan pembedaan antara penciptaan laki-laki dan perempuan. Keteranganketerangan tersebut secara implisit terkandung dalam banyak surat lagi.
53
Hidayat, dll. Agama dalam, h. 450.
Fatima Mernissi, Riffat Hassan, Setara di Hadapan Allah (Yogyakarta: LSPPA
(Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak, 2000), hal. 77.
55
Al-Qur’an surah an-Nisa 4: 1. cet, Kementrian Agama thn 2012, h. 99.
54
35
Menurut Riffat Jika diihat lebih dalam lagi, sebenarnya ide-ide dan sikapsikap negatif terhadap perempuan yang ada dimasyarakat muslim pada umumnya
berakar pada teologi, kendatipun nantinya ada perbaikan-perbaikan secara statistik
baik seperti dalam hak-hak pendidikan, pekerjaan dan hak-hak sosial serta politik,
perempuan akan tetap diperlakukan secara kasar dan diskriminatif jika landasan
teologisnya tetap misoginis dan tidak dibongkar dalam tradisi Islam. Perempuan
tidak akan berkembang sepenuhnya atau menjadi manusia seutuhnya, manusia
yang bebas dari ketakutan dan rasa bersalah, bisa berdiri sejajar dengan laki-laki
dalam pandangan Tuhan.56
Secara spesifik Riffat tidak dengan jelas menyingung bagaimana
pandangannya tentang keadilan dalam relasi laki-laki dan perempuan.
Kesimpulan dari pemikiran Riffat menunjukan bahwa laki-laki dan perempuan
telah diciptakan setara oleh Allah, sebab jika laki-laki dan perempuan telah
diciptakan setara oleh Allah sebagai penentu nilai-nilai tertinggi, maka
dikemudian hari tidak bisa berubah menjadi tidak setara, begitu juga sebaliknya.57
Sedangkan Bagi Musda Mulia kehadiran Islam sendiri membawa angin
segar pembaharuan dalam relasi hubungan laki-laki dan perempuan secara adil,
sepertihalnya
larangan
memperlakukan
perempuan
seperti
benda
yang
dikendalikan oleh orang tau dan keluarganya yang laki-laki, dalam hal
pernikahan, perempuan harus dilibatkan untuk dimintai pendapat ketika hendak
56
57
Fatima Mernissi, Riffat Hassan, Setara di, h. 49.
Fatima Mernissi, Riffat Hassan, Setara di, h. 55.
36
dinikahkan.58 Demikian yang terjadi pada masa Nabi, ketika putrinya hendak
dilamar seseorang, Nabi meminta pendapat putrinya terlebih dulu.
Keadilan dalam al-Qur’an juga bisa dilihat dari pemberian hak kepada
perempuan yang hendak dinikahi dalam menentukan sendiri maskawin yang
dikehendakinya.59 Dan harta prerogative tersebut tidak dapat diutak-atik oleh
suaminya, baik setelah ketika perempuan masih menjadi istrinya, ataupun sudah
diceraikannya.60
Keadilan yang lain juga bisa didapati pada persoalan perceraian, bagi
perempuan yang dicerai oleh suaminya, masih berhak atas nafkah dan tempat
tinggal serta tidak boleh disakiti baik fisik maupun psikis. Keadilan juga bisa
dirasakan oleh perempuan diranah publik, seperti akses dalam aktivitas mencari
ilmu, mencari nafkah, melakukan transaksi, bahkan aktivitas politik, asal semua
itu dilakukan dengan cara yang terhormat lagi bermartabat. 61
Demikianlah keadilan reformasi Hukum Islam yang dibawa oleh alQur’an,
keadilan memang tidak menafikan perbedaan diantara laki-laki dan
perempuan, namun keadilan juga tidak dapat dijadikan alasan untuk membedabedakan suatu jenis kelamin tertentu.62
58
Musda Mulia, Indahnya Islam Menyuarakan Kesetaraan dan Keadilan Gender (
Yogyakarta: Nauvan Pustaka, 2014), h. 21.
59
Musda, Indahnya Islam, h. 21.
60
An-Nisa, 4: 20.
61
Musda, Indahnya Islam, h. 26.
62
Musda, Indahnya Islam, h. 28.
BAB III
PEMIKIRAN DAN BIOGRAFI AMINA WADUD
A. Biografi Amina Wadud
Amina Wadud terlahir dengan nama Maria Teasley. Beliau dilahirkan di
Maryland, Amerika pada 25 September 1952. Nama orang tuanya tidak diketahui,
namun bapaknya adalah seorang pendeta yang taat. Beliau mengakui bahwa
beliau tidak begitu dekat dengan ayahnya dan ayahnya tidak banyak
mempengaruhi
mendapatkan
pandangannya.
Dalam
usianya
20
tahun
beliau
Hidayah. Ketertarikannya terhadap Islam, khususnya dalam
masalah konsep keadilan dalam Islam, mengantarkannya untuk mengucapkan dua
kalimah syahadah setelah menikah dengan seseorang laki-laki muslim,1 pada hari
yang ia namakan “Thanks giving day”, tahun 1972. I did not enter Islam with any
eyes closed againts structure and personal experiences of injustice that continue
to exist. In my “personal transition,”most often called conversion, however, I
focused with hope and idealisme to find greater acces to Allah as al-Wadud, the
Loving God of Justice.2
Walaupuan Amina Wadud sseorang mukallaf, namun ketekunan dalam
melakukan studi keislaman, ia menjadi Guru Besar Studi Islam pada jurusan
Filsafat dan Agama di Universitas Virginia Comminwealth. Ia menyelesaikan
studi di Universitas Michigan dan mendapat gelar MA (1982) dan Ph. D (1988).
1
Irsyadunnas, Hermeneutika Feminisme dalam Pemikiran Tokoh Islam Kontemporer,
(Yogyakarta: Kaukaba, 2013), h. 78.
2
Lihat Amina Wadud, Inside The Gender Jihad Women’s Reform In Islam, (England:
Oneworld Oxford), h. 2.
37
38
Selain bahasa Inggris, Amina Wadud juga menguasai beberapa bahasa lain seperti
Arab, Turki, Spanyol, Prancis dan German. Maka tidak mengherankan bila ia
sering mendapatkan kehormatan menjadi dosen tamu pada universitas di beberapa
negara. Antara lain: Universitas Commonwealth, Virginia: Asisten Profesor di
Lembaga Studi Filsafat & Agama, tahun 1992 – 1997, 1998 dan menjadi Profesor
penuh pada tahun 1999. Fakultas Ketuhanan Harvard Cambridge, sebagai dosen
Magister Studi Wanita di Lembaga Penelitian Program Agama & menjadi Dosen
Terbang, 1997-1998. Universitas Islam Internasional; Asisten Profesor di
Lembaga Pengetahuan & Peninggalan Islam Wahyu, 1989-1992. Universitas di
Michigan; Asisten Riset Pengembangan Bahan-Bahan Pengajaran Bahasa Arab,
1984-1986. Dan masih banyak lagi.
Dalam beberapa organisasi ia pun memiliki jabatan penting, di antaranya:3
1. Anggota Akedemi Agama Amerika (AAOR), 1989-2001
2. Anggota Dewan Konggres WCRP, 1999-2004
3. Anggota Eksekutif Komite WCRP, 1992-2004
4. Anggota inti SIS (Sister in Islam) Forum Malaysia tahun 1989
5. Editor Gender Issu pada Jurnal “The American Muslim” 1994-1995.
6. Editor Jurnal “Lintas Budaya” Virgia Commenwealth University, 1996.
7. Editorial Jurnal “Hukum dan Agama”, 1996-2001
8. Instruktur pada lembaga kursus Studi Islam untuk Dewasa di Islamic
Community Center of Philadelphia; 1982-1984.
9. Ketua Komite Gabungan Peneliti Studi Agama dan Studi tentang
Amerika- Afrika, 1996-1997.
3
Lihat pada e-mail: [email protected].
39
10. Ketua Koordinator Komite Perempuan (WCC), 1999-2004
11. Pembawa Acara di sebuah stasiun televisi pada acara “Focus on alIslam”, 1993-1995.
Wadud termasuk tokoh feminis muslim yang cukup produktif, walaupun ia
baru menulis dua karya ilmiah dalam bentuk buku, namun ia sudah banyak
menulis puluhan bahkan ratusan dalam bentuk artikel yang dimuat dalam
beberapa jurnal, seminar-seminar, dan beberapa proposal research (proposal
penelitian)
dalam
bidang
perempuan,
gender,
agama,
pluralisme
dan
kemanusiaan. Karya-karya tersebut antara lain;
A. Buku
● Amina Wadud Muhsin, Qur’an and Women: Rereading the Sacred Text
form a Women’s perspective, (Oxford University Press: 1999).
●
Amina Wadud Muhsin, Inside The Gender Jihad Women’s Reform In
Islam, (England: Oneworld Oxford)
B. Artikel
● Alternatif Penafsiran Terhadap Al-Qur’an dan Strategi Kekuasaan Wanita
Muslim, dalam buku “Tirai Kekuasaan: Aktivitas Keilmuan Wanita
Muslim”, Editorial Gisela Webb, Syracuse University Press, 1999.
● Gender, Budaya dan Agama: Sebuah Perspektif Islam, dalam buku
“Gender, Budaya dan Agama: Kesederajatan di Hadapan Tuhan dan
Ketidak sederajatan di Hadapan Laki-laki”, Editorial Norani Othman dan
Cecilia Ng, Persatuan Sains Sosial, Kuala lumpur Malaysia, 1995.
● Mencari Suara Wanita dalam al-Qur’an, dalam Orbis Book, SCM Press,
1998.
40
● Muslim Amerika; Etnis Bangsa dan Kemajuan Islam, dalam buku
“Kemajuan Islam; Keadilan, Gender dan Pluralisme” Editorial Omid Safi,
Oxford: One World Publication, 2002.
● Parameter Pengertian al-Qur’an terhadap Peran Perempuan dalam Konteks
dunia Modern, dalam Jurnal “Islamic Quarterly”, edisi Juli, 1992.
● Kesepahaman Muslim-Kristen, Georgetown University, Washington DC.
● Qur’an, Syari’ah dan Hak Politik Wanita Muslim, makalah Simposium
“Hukum Syari’ah dan Negara Modern” Kualalumpur Malaysia, 1994.
● Wanita Muslim antara Kewarganegaraan dan Keyakinan, dalam Jurnal
“Women and Citizenship”.
● Wanita Muslim sebagai Minoritas, dalam “Journal of Muslim Minority
Affairs”, London, 1998.
● Ayat 4:34; Sebuah Konsep Kedinamisan Hubungan antara Perempuan dan
Laki-laki dalam Islam, dalam Malaysian Law News, Edisi Juli, 1990.4
Dari pergumulan sebagai aktivis perempuan dalam upaya memperjungkan
keadilan gender, ia berpendapat bahwa selama ini sistem relasi laki-laki dan
perempuan di banyak negara sering kali mencerminkan adanya bias patriarkhi
sehingga mereka kurang mendapat keadilan yang proporsional.
Karya-karya Amina Wadud tersebut merupakan bukti kegelisahan
intelektualnya mengenai ketidakadilan di masyarakat. Maka ia mencoba
melakukan rekonstruksi metodologis tentang bagaimana menafsirkan al-Qur’an
agar dapat menghasilkan sebuah penafsiran yang sensitif gender dan berkeadilan.
4
Mutrofin, “Kesetaraan Gender dalam Pandangan Amina Wadud dan Riffat Hassan”.
Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, Vol III , No 1. Juni 2013, h. 240.
41
B.
Pemikiran Amina Wadud (Hermeneutika Tauhid)
Adapun yang dimaksud dengan model hermeneutika adalah salah satu bentuk
metode penafsiran yang dalam pengoprasiannya dimaksudkan untuk memperoleh
kesimpulan makna suatu teks atau ayat, Disini Wadud menawarkan hermeneutika
kritisnya yang cukup berbeda dengan yang lainnya, meskipun hermenutika ini
diklaim “baru”, tapi dengan penuh kejujuran, Wadud mengakui bahwa ia
terinspirasi dan bahkan sengaja mengggunakan metode yang pernah ditawarkan
oleh Fazlur Rahman.5 Dengan jujur Amina Wadud Muhsin katakan: Thus, I
attempt to use the method of Qur’ᾱnic interpretation proposed by Fazlur Rahman
( Pakistan United Stated 1919-1988)6 yaitu “ Hermenutika Tauhid” adalah cara
memahami al-Qur’an dengan mengunakan tiga model pendekatan. Yaitu:7
1. Dalam konteks apa al-Qur’an diwahyukan. Hal ini bisa dipahami sebagai
asbab al-Nuzul sebuah ayat ataupun surat.
2. Komposisi gramatikal teks (bagaimana al-Qur’an menuturkan pesan yang
dinyatakan).
3. Bagaimana bunyi teks secara keseluruhan. Weltanschaung atau pandangan
dunianya. sehingga bisa dipahami sebuah pemahaman yang utuh.
Secara perinci aktivitas di atas diuraikan sebagai berikut; 1) ayat yang
hendak diinterpretasi harus dicarikan konteks-konteks yang meliputinya baik
bersifat mikro maupun makro, 2) selanjutnya, ayat tersebut harus diletakkan
dalam tema-tema yang sama yang ada di dalam al-Qur’an untuk dikomparasi dan
5
Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan h. 19.
M. Masrur dalam buku M. Yusron, Dkk, Studi Kitab Tafsir Kajian Kontemporer,
(Yogyakarta: Teras, 2006), h. 88.
7
Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan, h. 19.
6
42
dianalisis, 3) kemudian, bahasa dan struktur sintaksis yang sama yang ada di
dalam al-Qur’an harus juga dianalisa, 4) selanjutnya, perlu juga menganalisa ayat
tersebut dengan prinsip-prinsil al-Qur’an yang menolaknya.8
Seringkali perbedaaan pendapat di antara para pakar berawal dari
perbedaan penekanan terhadap salah satu dari ketiga aspek di atas.9
Salah satu dari tujuan hermeneutika kritis tauhidnya adalah menjelaskan
dinamika antara hal-hal yang univesal dan partikular dalam al-Qur’an. Wadud
mengelompokkan tafsīr-tafsīr tentang perempuan menjadi tiga kategori:10
1. Metode Tradisional
Menurut Wadud model tafsir ini menggunakan pokok bahasan tertentu
sesuai dengan minat dan kemampuan mufassirnya, seperti hukum (fiqih), nahwu,
shorof, sejarah, tasawuf dan lain sebagainya. meski semua penekanan ini bisa
menimbulkan perbedaan, namun terdapat kesamaan diantara karya-karya ini yaitu
dengan metodelogi atomistik. Mungkin saja ada pembahasan mengenai hubungan
antara ayat satu dengan ayat yang lainnya. Namun, ketiadaan metode
hermeneutika atau metodelogi yang menghubungkan antara ide, struktur sintaksis,
atau tema yang serupa membuat pembacanya gagal menangkap weltanchaung alQur’an.
Lebih lanjut menurut
Wadud, tafsir model tradisional ini terkesan
eksklusif, ditulis hanya oleh kaum laki-laki. Tidaklah mengherankan kalau hanya
kesadaran dan pengalaman kaum pria yang diakomodasikan di dalamnya. Padahal
mestinya pengalaman, visi dan perspektif kaum perempuan juga harus masuk di
8
M. Rusydi. “Relasi Laki-laki dan Perempuan dalam al-Qur’an Menurut Amina Wadud”,
Jurnal MIQOT. Vol. XXXVIII No. 2. Juli-Desember 2014, h. 282.
9
Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan h. 19.
10
Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan, h. 16-18.
43
dalamnya, sehingga tidak terjadi bias patriarki yang bisa memicu dan memacu
kepada ketidakadilan gender dalam kehidupan keluarga atau masyarakat.11
2. Tafsir Reaktif,
Yaitu tafsir yang berisi reaksi para pemikir modern terhadap sejumlah
hambatan yang dialami perempuan yang dianggap berasal dari al-Qur’an.
Persoalan yang dibahas dan metode yang digunakan seringkali berasal dari
gagasan kaum feminis dan rasionalis,12 yang melihat keterpasungan perempuan
sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat yang dilekatkan dengan alQur’an. Dalam kategori inilah banyak perempuan atau orang yang menentang
kuat pesan al-Qur’an (atau lebih tepatnya, islam). Mereka menggunakan status
perempuan yang lemah dalam masyarakat muslim sebagai pembenaran atas
“reaksi” mereka.13 Namun, reaksi mereka juga tidak mampu membedakan antara
penafsiran dan teks al-Qur’an. Tujuan yang ingin dicapai dan metode yang
digunakan sering kali berasal dari cita-cita dan pemikiran kaum feminis. tapi
tanpa dibarengi analisis yang komprehensif terhadap ayat-ayat yang bersangkutan
menyebabkan mereka memperbaiki kedudukan perempuan berdasarkan alasanalasan yang sama sekali tidak sejalan.
3.Tafsir holistik
Tafsir holistik adalah tafsir yang menggunakan metode penafsiran yang
komprehensif dan mengaitkannya dengan berbagai persoalan sosial, moral,
11
Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan, h. 16-17.
Andik Wahyun Muqoyyidin, “Wacana Kesetaraan Gender: Pemikiran Islam
Kontemporer Tentang Gerakan Feminisme Islam”, Jurnal Al-Ulum. Vol. 13. No, II, Desember
2013, h. 505.
13
Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan, h. 17.
12
44
ekonomi, plotik, termasuk isu-isu perempuan yang muncul di era modernitas.14
Dalam kategori inilah Wadud memposisikan karyanya. Kategori ini relatif baru,
dan belum ada kajian substansial yang secara khusus membahas isu perempuan
dari sudut pandang keseluruhan al-Qur’an dan prinsip-prinsip utamanya. Wadud
bermaksud
menyusun
“pembacaan”
al-Qur’an
berdasarkan
pengalaman
perempuan, tanpa melibatkan steorotipe yang sudah menjadi kerangka penafsiran
laki-laki. Tak pelak lagi, pembacaan seperti ini akan bertabrakan dengan sebagian
kesimpulan yang telah ada. Karena Wadud sedang menganalisis teks al-Qur’an,
bukan tafsirnya.
Meski demikian menurut Wadud tidak ada metode penafsiran al-Qur’an
yang benar-benar objektif. Setiap mufasir menetapkan beberapa pilihan subjektif,
Uraian tafsir mereka sebagian mencerminkan pilihan subjektif itu dan tidak selalu
mencerminkan maksud dari teks yang mereka tafsirkan.15
14
Nor Saidah. “Bidadari dalam Konstruksi Tafsir al qur’an: Analisis Gender atas
Pemikiran Amina Wadud Muhsin dalam Penafsiran Al Qur’an”. PALASTREN, Vol. VI, No. 2,
Desember 2013, h. 457.
15
. Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan, h. 16.
BAB IV
KRITIK TERHADAP PENAFSIRAN AMINA WADUD TENTANG
KONSEP KEADILAN
Permasalahan mengenai jender sudah terjadi sekian lama. Perdebatan
tentang laki-laki dan perempuan apakah berbeda ataukah sama, berbeda untuk
sebagaian kasus dan sama dalam kasus yang lain ataukah laki-laki dan perempuan
sesungguhnya sama dalam segala hal. Perdebatan semacam ini memang tidak ada
habisnya, persoalan yang demikian adanya kemudian menggerakkan para pakar
untuk merumuskan alternatif terbaik dalam merespon keduanya, dengan
menghadirkan pemikiran tentang kesetaraan dan keadilan jender.
Bagi para ulama dan pemikir muslim, landasan teori dalam menghasilkan
dua jenis pemikiran tersebut sama-sama bersumber dari Al-Qur’an, hadits nabi
dan pendapat-pendapat ilmiah lainnya. Perdebatan yang demikian tersebut
sebenarnya tidak menjadikan masalah selama tidak berdampak negatif terhadap
struktur kemasyarakatan dan tatanan sosial yang egaliter. Pada kenyataannya,
yang terjadi di masyarakat perbedaan fungsi dan peran sosial dipandang negatif,
sebab
akan
berimplikasi
terhadap
kesewenang-wenangan
laki-laki
atas
perempuan.1
Wacana tentang keadilan jender dimulai Wadud dengan pertanyaanpertanyaan dasar yang menetapkan basis paradigmatik bagi makna kemanusiaan.
Pertanyaan-pertanyaan seperti; apakah perempuan sama dengan laki-laki; berbeda
1
Ansori, Penafsiran Ayat-ayat Jender Menurut Muhammad Quraish Shihab (Jakarta:
Visindo Media Pustaka. 2008), h. 1.
45
46
atau tidak identik; sama dan tidak sederajat, berbeda dan sederajat2, berbeda dan
tidak sedrajat ataukah sama dan sederajat.
Berbagai pertanyaan di atas, Wadud cenderung memilih antara laki-laki
dan perempuan memiliki beberapa perbedaan, namun perbedaan-perbedaan
tersebut tidak terkait dengan hal-hal dasar.3
Perbedaan dasar di sini sering
diartikan sebagai perbedaan unsur kemanusiaan, ketakwaan, dan potensi spiritual
diantara keduanya.4
Wadud sendiri berpendapat bahwa perbedaan peran antara laki-laki dan
perempuan yang terekam dalam al-Qur’an bertujuan untuk membangun hubungan
fungsional yang harmonis, saling mendukung dan menjadikan masyarakat
berjalan lancar dalam memenuhi kebutuhannya. Namun al-Qur’an tidak
mendukung peran tunggal, tentang seperangkat peran yang dikhususkan untuk
laki-laki, dan bagi perempuan di semua tempat.5
Seperti halnya ayat yang menerangkan tentang Qawâm-nya laki-laki atas
perempuan, bagi Wadud Qawâm-nya laki-laki atas perempuan tersebut bukan
berarti tanpa syarat, Qawâm-nya laki-laki atau dalam hal ini berarti suami
ditentukan atas apa yang mereka nafkahkan untuk membiayai hidup perempuan
(istri), berbanding lurus dengan ketetapan pelebihan materi dalam hal waris. Ini
menunjukkan adanya hubungan timbal balik, antara hak istimewa berupa
2
Wadud, Quran Menurut, h. 180.
Wadud, Quran Menurut, h. 25.
4
Lihat, Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender (Jakarta: Paramadina 2014)
5
Wadud, Quran Menurut, h. 28.
3
47
pelebihan materi dan tangung jawab pemberian nafkah. Meski demikian Wadud
menilai pelebihan seperti itu tidak bersifat mutlak, hanya saja lebih disukai. 6
Pemahaman di atas mengindikasikan bahwa adanya ketetapan yang adil
menyangkut pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam al-Qur’an.
Hal ini akan berdampak pada pemahaman, ketetapan persaksian, talaq dan saksi,
yang akan dibahas selanjutnya.
A. Contoh Ayat yang Berbicara Tentang Keadilan Jender
1. Ayat Tentang Kadar Pembagian Harta Waris7 Antara Laki-Laki dan
Perempuan (QS. Al-Nisâ’ / 4:11, 12, 176)
Sebelum membahas tentang prinsip-prinsip keadilan dalam rincian sistem
kewarisan, al-Qur’an terlebih dulu menetapkan prinsip-prinsip umum sebagai
upaya pemberian hak-hak perempuan dan anak-anak yang terampas dan terzalimi
semasa Jahiliyah.
8
ِ ‫ص‬
ِ ِ ِِ
ِ ِ ِ
ِ ِ
‫يب ِِمَّا تَ َرَك الْ َوالِ َد ِان َو ْاْلَقْ َربُو َن‬
ٌ ‫يب ِمَّا تَ َرَك الْ َوال َدان َو ْاْلَقْ َربُو َن َوللن َساء نَص‬
ٌ َ‫ل ِلر َجال ن‬
ِ
ِ
ِ
‫وضا‬
ً ‫ِمَّا قَ َّل مْنهُ أ َْو َكثَُر نَصيبًا َم ْف ُر‬
Artinya:
Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan
kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagian perempuan ada hak
bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan
6
Wadud, Quran Menurut, h. 122.
Ketentuan bagian warisan dalam Islam didasarkan pada beberapa faktor. Pertama,
tingkat kekerabatan ahli waris (baik laki-laki atau perempuan) dan orang yang meninggal.
Semakin dekatnya hubungan kekerabatan, maka semakin besar bagian warisan yang diterima.
Kedua, kedudukan tingkat generasi. Generasi muda dari kalangan pewaris yang masa depannya
masih panjang terkadang memperoleh bagian yang lebih besar diabanding generasi tua, tanpa
memandang kelelakiannya atau kewanitaannya. Tiga, tanggung jawab untuk menanggung
kehidupan keluarga. Poin inilah yang terkadang membedakan bagian hak waris antara laki-laki dan
perempuan, walau berada pada tingkat kekerabatan yang sama. Sebab kedudukan anak laki-laki
menanggung nafkah istri dan keluarganya. Sedang perempuan tidak dibebankan tanggung jawab
tersebut. Lihat, Muhammad Imarah, Pengantar dalam Shalahuddin Sûltan, Mirats al-Mar’ah wa
al-Qadiyyah al-Musawah. (Kairo: Dâr Nahdrah Misr, 1999), h. 4.
8
Quthb, Fi Zilalil, h.667.
7
48
kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah
ditetapkan. (QS. Al-Nisâ’ / 4: 7)
Prinsip-prinsip umum yang di atas tersebut kemudian diperinci lagi
menjadi beberapa bagian, bagian untuk seorang anak laki-laki sama dengan
bagian dua orang anak perempuan seperti yang tertera dalam surah QS. al-Nisâ’ /
4:11.
ِ
ِ ْ َ‫لذ َك ِر ِمثْل َح ِظ ْاْلُنْثَي‬
َّ ِ‫اَّلل ِِف أ َْوََل ِد ُكم ل‬
‫ْي‬
ْ
َُّ ‫يُوصي ُك ُم‬
ُ
Artinya:
Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian
harta waris untuk) anak-anakmu, (yaitu) pembagian seorang anak lakilaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.
Pembagian dua banding satu yang demikian tersebut meskipun cocok
dengan jumhur mufasir namun bagi sebagian lain struktur yang demikian dinilai
kurang mencerminkan rasa keadilan, jika didialogkan dengan masa sekarang, di
mana peran perempuan hampir setingkat dengan laki-laki sebagai pencari nafkah,
untuk menunjang kebutuhan pokok yang semakin tidak terjangkau jika hanya
menjadi beban satu orang saja.
9
Bagi Wadud pembagian harta waris yang demikian itu (dua banding satu)
bukanlah satu-satunya model pembagian harta waris dalam Islam, melainkan
salah satu tawaran dari beberapa penetapan proporsional yang bisa dilakukan.
10
Menurut Munawir Sjadzali, formula pembagian dua banding satu pada kasus
waris di atas tidak lagi mencerminkan semangat keadilan.
11
Asghar Ali Engineer
juga menyatakan bahwa pembagian warisan sebagaimana tertera pada ayat di atas
9
Arif Subhan, dkk, Citra Perempuan dalam Islam Pandangan Ormas Keagamaan
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 44.
10
Wadud, Quran Menurut, h.150.
11
Arif Subhan, dkk. Citra Perempuan, h. 43.
49
12
bukanlah ketetapan yang final. Artinya ketetapan warisan dua banding satu (2:1)
itu dapat berubah menjadi satu banding satu. (1:1) Pembagian ini (1:1) pada masa
Nabi SAW tidak dilakukan dengan alasan sistem yang dianut kala itu masih
bersifat patriarkal. Di samping itu, bila dilihat dari aspek sosial ekonomi saat itu,
beban keluarga atau nafkah sepenuhnya menjadi tanggung jawab laki-laki,
sehingga perolehan harta laki-laki harus lebih banyak. Inilah latar sosial yang
melahirkan rumusan dua banding satu (2:1).
13
Bila saat ini banyak perempuan
sudah bekerja dan tidak jarang dari mereka menjadi tulang punggung keluarga,
maka pembagian tersebut (2:1) harusnya dapat berubah.
Argumen di atas terbukti lemah. Di samping karena ketetapan waris itu
sendiri sudah dianggap final (QS. al-Nisâ’ / 4 :13- 14), juga dalam memahami hak
waris Wadud mengunakan perspektif kesetaraan bukan perspektif keadilan. Jika
yang digunakan adalah perspektif keadilan maka akan didapati sebuah
pemahaman yang seimbang. Telah dijelaskan bahwa salah satu makna adil adalah
keseimbangan.
14
Dalam hal ini al-Qur’an menetapkan posisinya sebagai
keseimbangan bukan kesamaan.
Perdebatan-perdebatan tentang takaran adil dalam pembagian harta waris
di atas apakah dua banding satu atau satu banding satu tampaknya tidak
memperhatikan sebuah kasus secara menyeluruh. Pertama: takaran dua bagian
perempuan sama dengan satu bagian laki-laki, dinilai tidak adil, karena hanya
12
Asghar Ali Engineer, Hak-hak Perempuan dalam Islam, Terj. Farid Wajidi dan Cici
Farkha Assegaf (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, Cet. I, 1994), h. 101-106. Atau. M. Hajir
Mutawakkil, “Keadilan Islam dalam Persoalan Gender.” Jurnal Kalimah. Vol. 12, No. 1, (Maret
2014), h. 82.
13
Wadud, Quran Menurut, h. 117-118.
14
Hafidz Taqiyuddin, Argumen Keadilan dalam Hukum Waris Islam: Studi Konsep ‘Awl
dan Radd (Tangerang Selatan: Cinta Buku Media, 2014), h. 18.
50
dilihat dari perspektif perempuan sebagai individu yang berdiri sendiri, bukan
sebagai bagian dari anggota keluarga yang terdiri dari sepasang suami dan istri
yang saling melengkapi. Kedua: karena pandangan tersebut bersifat parsial,
artinya memahami ayat-ayat al-Qur’an secara sepotong-sepotong sedangkan ayatayat al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Pandangan
di
atas
mengindikasikan
bahwa
wadud
15
mengunakan
pendekatan kesetaraan bukan keadilan. Jika mengunakan perspektif keadilan.
Maka dua banding satu sudah mewakili keseluruhan model pembagian harta
secara proporsional. Beritu juga beban nafkah dan keluarga bukan hanya pada saat
masa Nabi menjadi tangung jawab suami, tetapi juga saat ini. Sehingga alasan
kontekstual yang di ajukan Wadud terkesan lemah. Sedangkan jika terdapat
kondisi tertentu yang memungkinkan perempuan memerlukan harta waris lebih
banyak dari laki-laki, baik karena sebuah kasus yang khusus yaitu, seorang suami
yang harusnya menafkahi jatuh sakit dan beban menafkahi harus jatuh pada
perempuan.
Meskipun dimungkinkan adanya alasan demikian. Namun tidak lantas hak
waris yang di berikan kepada perempuan lebih banyak. Ataupun sama dengan
yang diberikan kepada laki-laki. Karena bilangan yang setengah bagian seorang
istri dari saudara laki-lakinya, Juga berbanding lurus dengan bilangan satu
banding setengah suaminya dari saudara perempuannya.
15
Depag RI, Tafsir al-Quran Tematik: Kedudukan dan Peran Perempuan (T.tp.: PT.
Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 196.
51
Sedangkan jika seorang perempuan itu belum menikah, maka beban
nafkahnya di tangung oleh kakak laki-lakinya.
16
Sehingga tidak ada alasan bagi
perempuan meminta harta pembagian waris lebih banyak ataupun setara dengan
laki-laki. Karena jika memperhatikan keseluruhan hukum keluarga dalam Islam,
sistem demikian bukan hanya memperhatikan faktor naf’un. Juga memberikan
tempat terhormat dan rasa manusiawi kepada perempuan.
jika dilihat secara utuh al-Qur’an telah menetapkan pembagian yang
sangat rinci. Seperti dalam (QS. Al-Nisâ’ / 4 :11, 12, 176)
ِ
ِ ْ َ‫ْي فَِإ ْن ُك َّن نِساء فَو َق اثْنَ ت‬
ِ ْ َ‫لذ َك ِر ِمثْل َح ِظ ْاْلُنْثَي‬
َّ ِ‫اَّلل ِِف أ َْوََل ِد ُكم ل‬
‫ْي فَلَ ُه َّن‬
ْ ًَ
ْ
َُّ ‫يُوصي ُك ُم‬
ُ
ِ ‫اح َد ًة فَلَها النِصف وِْلَب وي ِه لِ ُك ِل و‬
ِ ‫ثُلُثَا ما تَرَكوإِ ْن َكانَت و‬
‫س ِِمَّا تَ َرَك إِ ْن َكا َن‬
ُّ ‫اح ٍد ِمْن ُه َما‬
ْ ََ َ ُ ْ َ
َ
َ ْ
ََ َ
ُ ‫الس ُد‬
ِ
‫س ِم ْن بَ ْد ِد‬
ُّ ‫ث فَِإ ْن َكا َن لَهُ إِ ْخ َوةٌ فَِِلُِم ِه‬
ُ ُ‫لَهُ َولَ ٌد فَِإ ْن ََلْ يَ ُك ْن لَهُ َولَ ٌد َوَوِرثَهُ أَبَ َواهُ فَِل ُِم ِه الثُّل‬
ُ ‫الس ُد‬
ِ ِ ٍِ
‫اَّللِ إِ َّن‬
َّ ‫يض ًة ِم َن‬
َ ‫ب لَ ُك ْم نَ ْف ًدا فَ ِر‬
ُ ‫َوصيَّة يُوصي ِبَا أ َْو َديْ ٍن ءَ َاَب ُؤُك ْم َوأَبْنَا ُؤُك ْم ََل تَ ْد ُرو َن أَيُّ ُه ْم أَقْ َر‬
ِ
ِ
‫يما‬
َّ
ً ‫يما َحك‬
ً ‫اَّللَ َكا َن َعل‬
Artinya:
Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian
harta waris untuk) anak-anakmu, (yaitu) pembagian seorang anak lakilaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak-anak
itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian
mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan jika dia (anak
perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang
ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian harta masing-masing
seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) tidak
mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu bapaknya (saja), maka
ibu bapaknya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai
beberapa saudara, maka ibunya mendapatkan seperenam (pembagianpembagian di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan
setelah dibayar) hutangnya. (tentang) orang tuamu dan anak-anakmu,
kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih banyak
manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha
Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. Al-Nisâ’ / 4 :11)
16
islam/
http://agama.galihpamungkas.com/2016/04/28/tanggung-jawab-saudara-lelaki-dalam-
52
ِ
‫الربُ ُع ِِمَّا‬
ُّ ‫اج ُك ْم إِ ْن ََلْ يَ ُك ْن ََلُ َّن َولَ ٌدفَِإ ْن َكا َن ََلُ َّن َولَ ٌد فَلَ ُك ُم‬
ُ ‫ص‬
ْ ‫َولَ ُك ْم ن‬
ُ ‫ف َما تَ َرَك أ َْزَو‬
ِ ٍِ ِ ِ
‫الربُ ُع ِِمَّا تَ َرْكتُ ْم إِ ْن ََلْ يَ ُك ْن لَ ُك ْم َولَ ٌد فَِإ ْن َكا َن لَ ُك ْم‬
ُّ ‫ْي ِِبَا أ َْو َديْ ٍن َوََلُ َّن‬
َ ‫تَ َرْك َن م ْن بَ ْدد َوصيَّة يُوص‬
ِ
ِ
ٍِ ِ
ِ
ِ
‫ث َك َللَةً أَ ِو‬
ُ ‫ور‬
ُ ُ‫َولَ ٌد فَلَ ُه َّن الث ُُّم ُن ِمَّا تَ َرْكتُ ْم م ْن بَ ْدد َوصيَّة ت‬
َ ُ‫وصو َن ِبَا أ َْو َديْ ٍن َوإ ْن َكا َن َر ُج ٌل ي‬
ِ
ِ ‫َخ أَو أُخت فَلِ ُك ِل و‬
‫ك فَ ُه ْم ُشَرَكاءُ ِِف‬
ُّ ‫اح ٍد ِمْن ُه َما‬
َ ‫س فَِإ ْن َكانُوا أَ ْكثَ َر ِم ْن ذَل‬
ٌ ْ ْ ٌ ‫ْامَرأَةٌ َولَهُ أ‬
َ
ُ ‫الس ُد‬
ِ ِ‫اَّلل عل‬
َِّ ‫ار و ِصيَّةً ِمن‬
ٍِ ِ ِ ِ
ٍ َ ‫وصى ِِبَا أ َْو َديْ ٍن َغْي ر ُم‬
‫يم‬
َ ُ‫الثُّلُث م ْن بَ ْدد َوصيَّة ي‬
ٌ ‫يم َحل‬
ٌ َ َُّ ‫اَّلل َو‬
َ ‫ض‬
َ
َ
Dan bagimu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan
oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istriistrimu) itu mempunyai anak , maka kamu mendapatkan seperempat dari
harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat
atau (setelah di bayar) hutangnya, para istri memperoleh seperempat
harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu
mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta
yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan
setelah dibayar) hutang-hutangmu. Jika seseorang meninggal, baik lakilaki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak
meninggalkan anak, tetapi mempunyai saudara laki-laki (seibu) atau
saudara perempuan (seibu) maka bagi masing-masing dari kedua jenis
saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih
dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga
itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar)
hutangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Dengan
demikianlah ketentuan Allah. Allah maha Mengetahui, Maha Penyayang
(QS. Al-Nisâ’ / 4 :12)
ِ
‫ف َما‬
َّ ‫ك قُ ِل‬
َ َ‫اَّللُ يُ ْفتِي ُك ْم ِِف الْ َك َللَِة إِ ِن ْام ُرٌؤ َهل‬
َ َ‫يَ ْستَ ْفتُون‬
ٌ ‫ُخ‬
ُ ‫ص‬
ْ ‫س لَهُ َولَ ٌد َولَهُ أ‬
ْ ‫ت فَلَ َها ن‬
َ ‫ك لَْي‬
ِ َ‫ْي فَلَهما الثُّلُث‬
ِ
ِ
ِ
ً‫ان ِِمَّا تَ َرَك َوإِ ْن َكانُوا إِ ْخ َوة‬
َ ُ ْ َ‫تَ َرَك َوُه َو يَِرثُ َها إ ْن ََلْ يَ ُك ْن ََلَا َولَ ٌد فَإ ْن َكانَتَا اثْنَ ت‬
)671(‫ِر َج ًاَل َونِ َساءً فَلِ َّلذ َك ِر ِمثْ ُل َح ِظ ْاْلُنْثَيَ ْينِيُبَ ِ ُْي َّاَّللُ لَ ُك ْم أَ ْن تَ ِضلُّوا َو َّاَّللُ بِ ُك ِل َش ْي ٍء َعلِ ٌيم‬
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah,
Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu). Jika seorang mati
dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan.
Maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang
ditinggalkannya, dan saudara yang laki-laki mewarisi (seluruh harta
saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara
perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta
yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudarasaudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki
sama dengan bagian saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini)
kepadamu, agar kamu tidak sesat, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
(QS. Al-Nisâ’ / 4 :176)
53
Jika mengikuti skema pembagian harta waris dalam al-Qur’an di atas maka
akan didapati pemahaman:
A. Perempuan tidak selamanya mewarisi setengah bagian laki-laki. Presentasi
jatah waris yang diberikan pada perempuan setengah dari laki-laki itu hanya
17
terdapat pada beberapa kasus :
1. Ketika perempuan berada dalam posisi sebagai anak perempuan bersama
laki-laki, maka bagiannya adalah satu perdua
(1⁄2),
satu bagian untuk laki-
laki sama dengan dua bagian untuk perempuan.
2. Ketika perempuan berada pada posisi sebagai ibu bersama ayah, dan yang
mewariskan tidak meninggalkan anak-anak, maka bagian seorang ibu
adalah satu pertiga (1⁄3)
3. Ketika perempuan berada dalam posisi sebagai saudara perempuan
kandung (dari ) ayah bersama saudara laki-laki kandung (dari ayah), dan
yang mewariskan tidak meninggalkan anak. Maka bagianya adalah satu
perdua (1⁄2), satu untuk perempuan dan dua untuk laki-laki.
B. Perempuan juga terkadang mendapatkan bagian yang sama dengan laki-laki
pada beberapa kasus seperti:
1. Ketika perempuan berada dalam posisi sebagai ibu yang ditinggalkan
bersama ayah, dan pada saat yang bersamaan si mayit meninggalkan anakanak baik laki-laki atau perempuan. Ayah dan ibu mendapat bagian sama
yaitu satu perenam
(1⁄6),
dan sisanya di bagikan kepada istri atau suami
yang ditinggalkan dan kerabat termasuk anak dan saudara simayit.
17
Depag RI, Tafsir al-Quran tematik: Kedudukan dan Peran Perempuan (T.tp.: PT.
Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 197.
54
2. Ketika perempuan dan laki-laki berada dalam posisi sebagai saudara
perempuan seibu, dan si mayit tidak meningalkan ayah dan anak-anak.
Bagiannya adalah satu seperenam
(1⁄6),
Baik untuk laki-laki maupun
perempuan.
Meskipun demikian pembagian harta waris bagi Wadud tetap harus
memperhatikan faktor anggota, kombinasi dan kemanfaatan. Misalnya jika dalam
suatu keluarga yang terdiri dari seorang anak laki-laki dan dua orang anak
perempuan, kemudian sang ibu yang janda dirawat dan dinafkahi oleh salah
seorang anak perempuannya, mengapa anak laki-laki harus menerima bagain yang
lebih besar? Mungkin bukan ini keputusanya jika diperhatikan naf’un yang nyata
bagi ahli waris tertentu.
18
Pemikiran Wadud yang demikian tersebut terkesan mikro, karena hanya
dilihat dari asas keperempuanan bukan berangkat dari asas maslahat makro
keseimbangan sebuah keluarga besar. Jika berangkat dari asas maslahat maka
struktur dua banding satu cukup adil, di mana pertama karena pembagian dua
banding satu tidak terjadi pada setiap laki-laki dan perempuan, pembagian seperti
itu hanya untuk sebuah struktur ketika ada anak laki-laki dan perempuan dan
seperti yang tertera di atas. Kedua, seorang ibu yang janda bukan sekedar sebagai
beban finansial yang tidak membawa modal apa-apa ketika ikut anak perempuan,
ibu yang janda tersebut juga membawa bagian hak waris dari suaminya yang
meninggal, yaitu satu perdelapan.
18
19
Wadud, Quran Menurut, h. 151.
‫فَِإ ْن َكا َن لَ ُك ْم َولَ ٌد فَلَ ُه َّن الث ُُّم ُن ِِمَّا تَ َرْكتُ ْم‬19
Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang
kamu tinggalkan (QS. Al-Nisâ’ / 4 :12)
55
Ketiga, pembagaian dua banding satu menurut perhitungan sederhana
sebenarnya sama dengan satu banding satu. Bagian dua milik laki-laki tersebut
juga untuk diberikan pada istri dan keluarganya, sementara bagian perempuan
yang hanya satu tidaklah demikian. Harta yang satu itu hanya miliknya seorang.
20
Jika dua per satu bagian yang dimiliki suami dari harta warisannya digabungkan
dengan kepunyaan istri yang setengah dari yang dimiliki saudara laki-lakinya
maka akan menghasilkan bilangan yang sama. Keempat, jika presentasi
pembagian waris antara anak-laki-laki dan perempuan disamakan yaitu satu
banding satu, maka mengandaikan semua sistem dari hukum keluarga juga harus
21
ikut diubah, seperti halnya tentang bayaran mahar , keharusan memberi nafkah
22
bagi anak , istri,
23
dll.
Jika hal yang demikian tersebut masih dinilai belum juga adil, Allah telah
24
menetapkan hak prerogative berupa wasiat kepada calon pemberi waris sebelum
20
M. Hajir Mutawakkil. Keadilan Islam dalam Persoalan Gender. Jurnal kalimah. Vol.
12, No. 1, (Maret 2014), h. 82.
‫ َوءَاتُوا النِ َساءَ َص ُدقَاِتِِ َّن ِ ِْنلَةً فَِإ ْن ِط ْ َب لَ ُك ْم َع ْن َش ْي ٍء ِمْنهُ نَ ْف ًسا فَ ُكلُوهُ َهنِيئًا َم ِريئ ًًا‬21
Dan berikanlah mahar (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai
pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari
(mahar) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang
hati. (QS. Al-Nisâ’ / 4 :4)
22
Para ulama sepakat berkesimpulan bahwa anak yang masih kecil menjadi kewajian
ayah. Dan kewajiban ini menurut mayoritas ulama dari kalangan madzhab syafi’I, hanafi dan
maliki berlangsung sampai balig bagi anak laki-laki dan sampai menikah bagi perempuan (Depag
RI, Tafsir al-Quran tematik: Kedudukan dan Peran Perempuan (T.tp.: PT. Sinergi Pustaka
Indonesia, 2012), h. 186.)
ِِ ِ
ِ 23
ٍ ‫ض ُه ْم َعلَى بَ ْد‬
‫ض َوِبَا أَنْ َف ُقوا ِم ْن أ َْم َواَلِِ ْم‬
ُ ‫الر َج‬
َّ ‫َّل‬
َ ‫اَّللُ بَ ْد‬
َ ‫ال قَ َّو ُامو َن َعلَى الن َساء بَا فَض‬
“Laki-laki(suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karna Allah telah melebihkan
sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki)
telah memberikan nafkah dari hartanya, (QS. Al-Nisâ’ / 4 :34)
ِ
ِ ِ ِ
ِ
ِ 24
‫ْي‬
َ ‫ب َعلَْي ُك ْم إِذَا َح‬
َ ‫ْي َِبلْ َم ْدُروف َحقًّا َعلَى الْ ُمتَّق‬
َ ِ‫ت إِ ْن تَ َرَك َخْي ًرا الْ َوصيَّةُ للْ َوال َديْ ِن َو ْاْلَقْ َرب‬
ُ ‫َح َد ُك ُم الْ َم ْو‬
َ ‫ضَر أ‬
َ ‫ُكت‬
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut,
jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara
ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah / 2:180)
Bolehnya Pemberian wasiat kepada ahli waris ini terjadi perbedaan pendapat, ada yang
mengatakan bahwa wasiat terhadap ahli waris adalah tidak di perbolehkan, sedangkan bagi Ulama
56
meninggal, agar mewasiatkan sesuai kerelaan hatinya dan takaran yang adil
menurut perhitungan kemanusiaannya. Jadi pandangan stereotip terhadap
perempuan yang dikaitkan dengan porsi pembagian warisan satu banding dua
mestinya tidak menimbulkan problem jika masyarakat konsisten dengan pranata
dan tatanan yang dianjurkan dalam Islam.
25
Karena manusia tidak mempunyai pengetahuan dan kearifan yang cukup
dalam menentukan rezeki, termasuk pembagian harta waris, manusia sering kali
bersifat egois sehingga dibutuhkan ketetapan Tuhan yang Maha Adil.
26
Kemungkinan yang lain adalah, karena mekanisme tafsir al-Qur’an menunjukan
bahwa ayat yang diperinci penjabarannya dalam al-Qur’an menunjukan bahwa itu
27
adalah Qat’i al-dâlâlah.
Keterangan ayat-ayat di atas pun sangat jelas
mengingatkan bahwa pembagian waris adalah ketetapan Allah. Allah sendiri yang
menentukan batas-batasnya, sambil menjanjikan surga bagi yang mematuhi-Nya
dan kekekalan neraka bagi yang mengingkari-Nya.
28
Imamiyah, membolehkan berwasiat meskipun terhadap ahli waris selama tidak lebih dari satu
sepertiga dari harta yang ditinggalkan oleh si mayit. (Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima
Mazhab, h. 240)
25
Nasaruddin Umar, Kodrat Perempuan dalam Islam (Jakarta: Lembaga Kajian Agama
dan jender. 1999), h. 29.
26
M. Quraish Shihab, Al-Lubab, Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah alQur’an (Tangerang: Lentera Hati, 2012), h. 172.
27
Qat’i al- dâlâlah adalah nash yang menunjuk pada makna tertentu yang tidak
mengandung kemungkinan untuk dita’wil (dipalingkan dari makna asalnya) dan tidak ada celah
atau peluang untuk memahaminya selain makna tersebut. (‘Abd al-Wahâb Khalâf’, ‘Ilm ‘Ushûl
Fiqh (Kuwait:Dâr al-Fikr, Cet. XII, t.t.), hal. 35)
ِ
ِ ‫َّات ََت ِري ِمن ََتتِها ْاْلَنْهار خالِ ِد‬
َِّ ‫ تِْلك ح ُدود‬28
ٍ
ِ
‫ك الْ َف ْوُز‬
َّ ‫اَّلل َوَم ْن يُ ِط ِع‬
َ ‫ين ف َيها َو َذل‬
ُ ُ َ
َ َ ُ َ َ ْ ْ ْ ‫اَّللَ َوَر ُسولَهُ يُ ْدخ ْلهُ َجن‬
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ ‫)وَم ْن يَ ْد‬
‫ْي‬
َّ ‫ص‬
ٌ ‫اب ُم ِه‬
َ ‫اَّللَ َوَر ُسولَهُ َويَتَ َد َّد ُح ُد‬
ٌ ‫ودهُ يُ ْدخلْهُ ََن ًرا َخال ًدا ف َيها َولَهُ َع َذ‬
َ 61(‫الْ َدظ ُيم‬
Itulah batas-batas hukum Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia
akan memasukkannya ke dalam surge-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka
kekal didalamnya dan itulah kemenangan yang agung. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscahya Allah memasukkannya kedalam api
Neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapatkan azab yang menghinakan. (QS. AnNisâ’ / 4:13-14)
57
2. Ayat Tentang Hak Talak Suami dan Kemampuan Khulu’ Seorang Istri ( QS.
Al-Baqarah / 2:229-231)
Perceraian adalah hal terakhir yang dapat dilakukan ketika sebuah
hubungan suami istri sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Sebelum suami istri
sampai pada keputusan perceraian, ada cara-cara dan panduan dalam memperbaiki
hubungan agar kembali harmonis seperti sedia kala, sehingga wajar jika nalar
qurani menghendaki perujukan secara damai. Meskipun perceraian sendiri
dihalalkan oleh Allah, namun perceraian juga merupakan hal yang paling dibenci
29
Allah.
Jika memang terpaksa harus diadakan perceraian sebagai jalan satu-
satunya yang terbaik, maka seyogyanya harus dilakukan secara damai pula.
Mekanisme perceraian yang diatur cukup jelas dan rinci dalam al-Qur’an
akhir-akhir ini mendapat banyak perhatian, misalnya kekuasaan laki-laki dalam
menceraikan. Dalam hal perceraian Wadud berpendapat bahwa ketetapan yang
memberikan kelebihan kepada laki-laki adalah sebagai indikasi ketidakadilan
terhadap perempuan, yakni, laki-laki mempunyai kekuasan untuk menjatuhkan
talak, berbeda dengan perempuan.
Kekuasaan laki-laki ini mendapat perhatian dalam reformasi hukum Islam
modern. Telah banyak ditemukan dalam beberapa kasus, diharuskan kepada lakilaki sebelum menceraikan istrinya agar menghadap pengadilan terlebih dahulu.
Pengadilan bertindak sebagai atau menunjuk seorang juru damai untuk
. ‫أبغض احللل إىل هللا تداىل الطلق‬29
(Perbuatan) halal yang paling dibenci Allah adalah Thalaq ; (Sunan Abu Dawud no.2178)
58
musyawarah, sebagaimana tercantum dalam al-Qur'an surat al-Nisa’ ayat 34, 35,
30
dan 128. .
Menurut Wadud kealpaan al-Quran dalam penyebutan tentang perempuan
yang menceraikan suaminya, membawa pada pemahaman bahwa perempuan tidak
dapat melakukannya. Kesimpulan tersebut bertentangan dengan kebiasaan di
zaman pra-Islam, di mana seorang perempuan hanya cukup dengan mengubah
pintu masuk tendanya ke arah lain, untuk menunjukan putusnya sebuah hubungan
perkawinan dengan seorang laki-laki.
31
Jika demikian adanya kedatangan Islam
terkesan malah mempersempit ruang gerak kaum perempuan.
Namun hal yang penting yang dikehendaki al-Qur’an sebenarnya adalah
perujukan atau perceraian secara damai dan dua arah. Wadud mempertegas bahwa
al-Qur'an menerapkan dengan langkah yang jelas untuk mencegah pencampakan
dan perceraian sepihak terhadap perempuan. Al-Qur'an juga menetapkan
perlindungan kehormatan keturunan terhadap keduanya.
32
َٰ َّ
ُۢ ‫س‬
ٓ ‫س ٖۗن َو ََل يَ ِح ُّل لَ ُك ۡم أَن ت َۡأ ُخذُواْ ِم َّما‬
َ َٰ ‫اكُ بِ َمعۡ ُروفٍ أ َ ۡو ت َۡس ِري ُۢ ُح بِإ ِ ۡح‬
َ ۡ‫َان فَإِم‬
ِ ِۖ ‫ٱلطلَ ُق َم َّرت‬
ٓ َّ ‫َءات َۡيت ُ ُمو ُه َّن ش َۡيا ِل‬
ِ َّ َ‫ٱَِّ فَإ ِ ۡن ِخ ۡتت ُ ۡم أ َ ََّل يُ ِيي َما ُحوُوو‬
‫ٱَّ فَ َا‬
ِۖ َّ َ‫َل أَن َيخَافَا ٓ أ َ ََّل يُ ِيي َما ُحوُوو‬
ۡ
َِّ‫ٱ‬
َّ َ‫ٱَِّ فَ َا ت َعۡ تَوُوه َۚا َو َمن يَتَعَوَّ ُحوُوو‬
َّ ُ‫علَ ۡي ِه َما فِي َما ۡٱفتَوَ ۡت بِ ِهۦٖۗ تِل َك ُحوُوو‬
َ ‫ُجنَا َح‬
ٓ
َٰ
َّ
َ‫فَأ ُ ْو َٰلَئِ َك ُه ُم ٱلظ ِل ُمون‬
Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (setelah itu suami dapat)
menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik. Tidak halal baik bagi
kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka,
kecuali keduannya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan
hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang
(harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum
Allah maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa melanggar
30
Ernita Dewi, “Pemikiran Amina Wadud Tentang Rekonstruksi Penafsiran Berbasis
Metode Hermeneutika” Jurnal Substantia Vol. 15, No. 2, (Oktober 2013), h.158.
31
Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan, h. 138.
32
Ernita Dewi, “Pemikiran Amina Wadud Tentang Rekonstruksi Penafsiran Berbasis
Metode Hermeneutika.” Jurnal Substantia Vol. 15, No. 2, (Oktober 2013), h.158.
59
33
hukum-hukum Allah, maka itulah orang-orang zalim . (QS. Al-Baqarah /
2:229)
َ ‫طلَّيَ َها فَ َا ت َِح ُّل لَهُۥ ِم ُۢن بَعۡ و ُ َحت َّ َٰى ت َن ِك َح زَ ۡو ًجا غ َۡي َرهُۥٖۗ فَإ ِن‬
َ ‫فَإِن‬
‫طلَّيَ َها َف َا ُجنَا َح‬
َ ‫علَ ۡي ِه َما ٓ أَن يَت ََرا َج َعا ٓ ِلن‬
ِ َّ ُ‫ٱَّ َوتِ ۡل َك ُحوُوو‬
ِ ٖۗ َّ َ‫ظنَّا ٓ أَن يُ ِيي َما ُحوُوو‬
‫ٱَّ يُ َبيِنُ َها ِليَ ۡوم‬
َ
َ
ۡ‫ع‬
‫م‬
‫ل‬
َ‫َي ُ ون‬
Kemudian jika dia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka
perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami
yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami
pertama dan bekas istri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat
akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan
Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan.
(QS. Al-Baqarah / 2:230)
َ ‫َو ِلذَا‬
ۚ ‫س ِر ُحو ُه َّن بِ َمعۡ ُر‬
‫وف‬
َ ‫سا ٓ َء فَبَلَ ۡغنَ أ َ َجلَ ُه َّن فَأَمۡ ِس ُكو ُه َّن بِ َمعۡ ُروفٍ أ َ ۡو‬
َ ِ‫طلَّ ۡيت ُ ُم ٱلن‬
َ ‫ض َر ٗارا ِلت َعۡ تَوُو ۚاْ َو َمن َي ۡت َع ۡل َٰذَ ِل َك فَيَ ۡو‬
‫ت‬
ِ َ‫سهُۥۚ َو ََل تَت َّ ِخذُ ٓواْ َءا َٰي‬
ِ ‫َو ََل تُمۡ ِس ُكو ُه َّن‬
َ ‫ظلَ َم ن َۡت‬
ۡ
ۡ
ُ ‫ب َوٱل ِح ۡك َم ِة يَ ِع‬
‫ظ ُكم‬
َّ ‫ت‬
َّ
َ ‫ٱَِّ ُه ُز ٗو ۚا َو ۡٱذ ُك ُرواْ نِعۡ َم‬
ِ َ ‫علَ ۡي ُكم ِمنَ ٱل ِك َٰت‬
َ ‫علَ ۡي ُك ۡم َو َما ٓ أَنزَ َل‬
َ َِّ‫ٱ‬
َ
ْ
ْ
َ
ُ
َّ
ُ
ۡ ‫ٱَّ َو‬
‫ع ِليم‬
َ ٍ‫ٱَّ بِك ِل ش َۡيء‬
َ َّ ‫ٱعل ُم ٓوا أ َّن‬
َ َّ ‫بِ ِهۦۚ َوٱتيوا‬
Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai (akhir)
idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik, atau ceraikanlah
mereka dengan cara yang baik (pula). Dan janganlah kamu tahan mereka
dengan maksud jahat untuk manzalimi mereka. Barang siapa melakukan
demikian, maka dia telah menzalimi dirinya sendiri. dan janganlah kamu
jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah
kepada kamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu yaitu
Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran
kepadamu. Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah / 2:231)
Prosedur perceraian yang ditunjukan ayat di atas tersebut cukup
menunjukan rasa adil jika dilihat dari maslahatnya. Hak talak secara langsung
hanya diberikan kepada laki-laki salah satunya adalah, jika istri diberi wewenang
33
Ayat ini turun lantaran sebuah kasus yang diriwayatkan dari at-Tirmidzi, al-Hakim dan
yang lain. Dari Aisyah, dia berkata “dulu orang laki-laki bebas mencerai istrinya, dan menjadi
suaminya kembali jika merujukinya, walaupun telah menceraikan istrinya seratus kali. Hingga
pada suatu ketika ada seorang laki-laki berkata pada istrinya, “Demi Allah, aku tidak akan
menceraikanmu sehingga engkau berpisah denganku. Dan saya, tidak akan menaungimu
selamanya”.dengan heran sang istri kemudian bertanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi” suaminya
kemudian menjawab “Aku akan menceraikanmu, dan setiap kali iddahmu akan habis, maka aku
merujukmu kembali”. kemudian sang istri menghadap Rasulullah dan mengadukan perihal
suaminya. Dalam bebrapa saat Rasulullah terdiam, sehingga turunlah ayat ini. (Jalaluddin asSuyuthi, Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie, (Jakarta: Gema Insani press.
2008), h. 96.
60
menjatuhkan talak secara langsung maka suami bisa mengalami kerugian
berganda. Pertama, tidak terciptanya ketenangan yang merupakan tujuan
kehidupan berumah tangga. dan, hilangnya mahar dan uang belanja yang pernah
diberikan dalam rangka melaksanakan perkawinan.
34
Kedua, dimungkinkan
adanya rekayasa perkawinan jika istri memiliki hak talak secara langsung, yaitu
menceraikan suaminya tanpa imbalan (khulu’). Disamping mendapatkan mahar
yang diperoleh dari suaminya yang ditalak, juga antara lain dapat nikah dengan
laki-laki lain setelah perceraian, yang boleh jadi adalah kekasihnya sebelum
perceraian.
35
Meskipun laki-laki memiliki hak talak secara langsung, laki-laki tetap
tidak dibolehkan menjatuhkan talak kapan saja dan di mana saja.
36
Laki-laki
dibolehkan menjatuhkan talak dengan berbagai syarat. Ikrimah mengatakan,
ketika istrinya dalam keadaan bersih, seorang laki-laki (suami) dapat juga
menceraikan istrinya jika seorang istri sedang hamil dan diketahui jelas
kehamilannya. Tidak boleh menjatuhkan talak sedang dia telah melakukan
hubungan badan sedangkan suami tidak mengetahui apakah istrinya hamil apa
tidak.
37
Ketetapan ini diperuntukkan dalam rangka menghindari anggapan bahwa
laki-laki bisa semena-mena menjatuhkan talak terhadap istrinya.
34
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an
(Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2000), vol. 1, h. 462.
35
Shihab, Tafsir al-Misbah, h. 462.
ِِ ِ ِ ‫َيأَيُّها النَِِّب إِذَا طَلَّ ْقتم النِساء فَطَلِ ُق‬36
َ‫صوا الْدِ َّدة‬
ُّ َ َ
ُ
ْ ‫وه َّن لددَِّت َّن َوأ‬
ُ ‫َح‬
َ َ ُُ
Wahai Nabi apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan
mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah
itu, (al-Talâq. 65: 1)
37
Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, tarj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari ( Jakarta:
Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2005. Vol 8), h. 208.
61
Alasan di atas juga sebagai bukti bahwa al-Qur’an tidak lantas mencabut
hak talak dari perempuan. Perempuan tetap bisa mengajukan talak dengan kata
lain khulu’, yaitu istri membayar suami untuk menceraikannya. Hal ini dilakukan
sebagai upaya pengembalian atas mahar dan nafkah yang telah di berikan oleh
pihak suami selama pernikahan
38
dan menunjukan bahwa rumah tangga mereka
memang benar-benar tidak dapat dipertahankan lagi.
39
Pembayaran dari istri untuk menceraikan dirinya tersebut bisa saja
disalahgunakan oleh suami, untuk menghilangkan kesan bahwa suami bisa jadi
mendapatkan untung dari pengembalian mahar dan nafkah dari istri, padahal yang
menjadi musabab pengajuan cerai istri adalah kemadharatan suami. Istri yang
mengajukan gugatan cerai tidak selamanya harus mengembalikan mahar dan
nafkah yang pernah diberikan suaminya. Menurut Madzhab Abu Hanifah, jika
yang mendatangkan kemadharatan adalah suaminya, maka prinsipnya suami tidak
boleh mengambil sesuatu dari istrinya, jika yang menjadi penyebab adalah sang
istri maka suami boleh mengambil kembali apa yang pernah diberikannya, dan
tidak boleh lebih dari pemberiannya.
40
Alasan yang ketiga, adanya ketidakstabilan emosional
41
dari perempuan,
yang tidak dimiliki laki-laki. Seperti ketika perempuan mengalami dismenore
42
38
Lilik Ummi Kaltsum dan Abd. Muqsith Ghazali, Tafsir Ayat-ayat Ahkam (Tangerang
Selatan: UIN Press, 2015), h. 232.
39
Shihab, Tafsir al-Misbah, h. 462.
40
Shihab, Tafsir al-Misbah, h. 462.
41
Ketidakstabilan emosi terjadi pada remaja saat mengalami dismenore. Penyebab
timbulnya ketidakstabilan emosi ini adalah menurunnya hormon esterogen dan progesteron saat
menstruasi. Penurunan hormon tersebut, memicu terjadinya penurunan sintesis hormon serotonin
dan GABA. Hormon ini bertugas mengatur rasa senang dalam tubuh. Jika hormon ini menurun
kadarnya dalam tubuh, maka pada akhirnya menyebabkan mood dan emosi seseorang menjadi
tidak stabil (Lauralee, Sherwood, Fisiologi Tubuh Manusia dari Sel ke Sistem (Jakarta : EGC,
2012)
62
atau dalam keadaan menopause.
43
Waktu-waktu tersebut dimungkinkan rawan
terhadap jatuhnya talak jika perempuan diberi wewenang talak secara langsung.
Alasan yang keempat, tangung jawab menafkahi anak tetap menjadi beban suami
(laki-laki) meskipun telah terjadi perceraian. Jika hak talak juga diberikan kepada
perempuan (istri) bisa merugikan pihak suami yang harus tetap menafkahi anakanaknya. Meskipun anak itu berada dalam kuasa ibu, dan sang ibu sudah menikah
lagi.
Beberapa pernyataan diatas, kemudian bisa disimpulkan bahwa ketetapan
al-Qur’an
yang
demikian
sangat
mencerminkan
keadilan,
dengan
mempertimbangkan sisi maslahat dan madharatnya. Keterangan-keterangan yang
dibawa al-Qur’an tersebut juga menunjukan nilai adil bukan diskriminatis, dilihat
dari penghormatan kepada wanita,
Misalnya. batas maksimal seorang suami dalam menceraikan istrinya
hanya mendapatkan dua kali kesempatan. Hal ini berbeda dengan masa awal-awal
Islam di mana talak boleh dilakukan dalam jumlah yang tidak terbatas, sehingga
seorang suami boleh merujuki istri yang ditalaknya dalam masa iddahnya,
42
Dismenore didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi sebelum dan saat menstruasi.
Dismenore juga diartikan sebagai gangguan sekunder menstruasi yang terjadi sebelum, saat atau
sesudah menstruasi. Dismenore umumnya dimulai 2–3 tahun setelah menarche (haid pada saat
pertama kali). Dismenore yang terjadi pada umumnya adalah dismenore primer, dikarenakan
dismenore ini berkaitan dengan siklus pelepasan sel telur (ovulasi) yang ada pada saat menstruasi
(Harel, Zeev dan Paula J. Adams Hillard. (2008). “Pain : Dysmenorrhea.” Dalam Paula J. Adams
Hillard, The 5-minute Obstetrics and Gynecology Consult (Philadelphia : Lippincot Williams &
Wilkins, a Wolters Kluwer bussines, 2008), h. 30-31.
43
Menopause adalah berhentinya secara fisiologi siklus menstruasi yang berkaitan
dengan tingkat lanjut usia perempuan. biasanya seorang perempuan yang mengalami menopause
alamiah sama sekali tidak dapat mengetahui apakah saat menstruasi tertentu benar-benar
merupakan manstruasinya yang terakhir sampai satu tahun berlalu. Menopause kadang-kadang
disebut sebagai perubahan kehidupan (Laily Hanifah, dkk, Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas
di Usia Lanjut (Jakarta: Yayasan Mitra INTI. 2010), h.29.
63
kemudian ditalak lagi dan dirujuk lagi dengan tujuan menyusahkan hati istrinya,
44
seperti yang menjadi sebab turun ayat 229 diatas.
ِ
ِ َ ‫وإِ ْن ُك َّن أ‬
‫ورُه َّن‬
َ ‫ض ْد َن َحَْلَ ُه َّن فَِإ ْن أ َْر‬
َ َ‫ُوَلت َحَْ ٍل فَأَنْف ُقوا َعلَْي ِه َّن َح ََّّت ي‬
ُ ُ‫ض ْد َن لَ ُك ْم فَآت‬
ُ ‫وه َّن أ‬
َ ‫ُج‬
َ
Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil,
maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan
kandungannya, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu maka
berikanlah imbalan kepadamu. (QS. Al-Talâq / 65: 6)
Sekalipun suami telah menceraikan istrinya, al-Qur’an tetap memberikan
jaminan nafkah bagi istrinya, jika istrinya sedang hamil, maka jaminan nafkah
tersebut sampai istri selesai melahirkan anaknya, tidak hanya cukup sampai disitu,
terlebih al-Qur’an juga menganjurkan dalam pemberian imbalan kepada mantan
istri yang menyusukan anaknya.
Penghormatan pada perempuan (istri) juga diterangkan oleh al-Qur’an.
َ ‫َولِذَا‬
‫ضلُو ُه َّن أَن يَن ِك ۡحنَ أ َ ۡز َٰ َو َج ُه َّن لِذَا‬
ُ ۡ‫سا ٓ َء فَبَلَ ۡغنَ أ َ َجلَ ُه َّن فَ َا ت َع‬
َ ِ‫طلَّ ۡيت ُ ُم ٱلن‬
ُ ‫ع‬
ِ َّ ‫ظ ِب ِهۦ َمن َكانَ ِمن ُك ۡم ي ُۡؤ ِم ُن ِب‬
‫ٱَّ َو ۡٱليَ ۡو ِم ۡٱۡلٓ ِخ ٖۗ ِر‬
ِ ٖۗ ‫ض ۡواْ بَ ۡينَ ُهم ِب ۡٱل َمعۡ ُر‬
َ ‫وف َٰذَ ِل َك يُو‬
َ ‫ت َٰ ََر‬
ۡ
ۚ
َ‫ٱَُّ َيعۡ لَ ُم َوأَنت ُ ۡم ََل ت َعۡ لَ ُمون‬
َّ ‫َٰذَ ِل ُك ۡم أ َ ۡز َك َٰى لَ ُك ۡم َوأَط َه ُر َو‬
Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai
idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon
suaminya. Apabila telah terjalin kecoaokan diantara mereka dengan cara
yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang diantara kamu
yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih suci bagimu dan
lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak. (QS. AlBaqarah / 2:232)
Ayat di atas berbicara tentang istri yang ditalak dan telah habis masa
iddahnya, dan tidak ada halangan lain yang ditetapkan agama terhadapnya, maka
perempuan (istri) dibolehkan menikahi calon suaminya yang baru dan tidak
dibolehkan mantan suami dan walinya, menghalang-halangi pernikahan mereka.
Yaitu para wanita itu dibolehkan menetapkan sendiri masa depannya dan menjadi
44
Sayyid Qutb, Fî Zilâl. Vol. 2, h.746.
64
haknya secara penuh. Karena janda lebih berhak atas dirinya dari pada orang lain,
demikian sabda Nabi.
45
Begitu juga ketika wanita yang telah dinikahi oleh orang lain kemudian
telah bercerai, dan mantan suami yang sebelumnya ingin kembali menikahinya,
wanita (mantan istri) memiliki hak menolaknya jika tidak menghendaki demikian,
dan boleh juga menerimannya, jika wanita tersebut ridho menjadi istrinya
kembali.
46
Larangan dalam menghalangi wanita yang dicerai, baik oleh suami dan
walinya untuk menentukan sendiri masa depannya. ataupun penghargaan atas
tidak berkenannya wanita dinikahi kembali oleh mantan suaminya di atas,
menunjukan bahwa nasehat yang dibawa al-Qur’an sangat demokratis. Reformasi
hukum demikian tersebut bertujuan memberikan jaminan keamanan dan tempat
terhormat bagi perempuan, dan jika dilihat secara menyeluruh dari pertimbanganpertimbangan diatas akan didapati pemahaman yang adil mengenai hak talak
tersebut.
3. Ayat Tentang Bobot Persaksian Laki-laki dan Perempuan (QS. Al-Baqarah / 2:
282)
Wadud
memulai
penjabarannya
tentang
mempertanyakan potensi perempuan dalam persaksian.
persaksian
47
dengan
Apakah saksi seorang
laki-laki setara dengan dua saksi perempuan, atau sama baiknya satu laki-laki
45
Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol.I. h. 468.
Qutb, Fî Zilâl. Vol 2, h.746.
47
Menurut Wahbah Zuhaili definisi dari persaksian adalah suatu pemberitahuan
(pernyataan) yang benar untuk membuktikan suatu kebenaran dengan lafazd syahadat di depan
pengadilan” (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqi Al-Islâmi wa Adillâtuhu, juz VI (Damaskus: Dar Al-Fik.
1989), h. 388.
46
65
dengan dua orang perempuan secara absolut.
48
Pertanyaan-pertanyaan ini
kemudian mendorong diskusi-diskusi kecil. Ketika dihadapkan dengan QS. AlBaqarah / 2: 282
‫س ٗمى فَ ۡٱكتُبُو ۚهُ َو ۡليَ ۡكتُب ب َّۡينَ ُك ۡم‬
َ ‫َٰ ٓيَأَيُّ َها ٱلَّذِينَ َءا َمنُ ٓواْ ِلذَا تَوَايَنتُم بِوَ ۡي ٍن ِللَ َٰ ٓى أ َ َجل ُّم‬
ۚ َّ ُ‫علَّ َمه‬
‫علَ ۡي ِه‬
ٌ ِ‫ب َكات‬
ُ ُۢ ِ‫َكات‬
َ ‫ٱَُّ فَ ۡل َي ۡكت ُ ۡب َو ۡليُمۡ ِل ِل ٱلَّذِي‬
َ ‫ب َك َما‬
َ ُ ‫ب أَن َي ۡكت‬
َ ‫ب ِب ۡٱل َع ۡو ۚ ِل َو ََل َي ۡأ‬
ۡ ‫ٱََّ َربَّهُۥ َو ََل يَ ۡبخ‬
‫س ِتي ًها أ َ ۡو‬
َّ ‫ق‬
َ ‫َس ِم ۡنهُ ش َۡي ۚا فَإِن َكانَ ٱلَّذِي‬
َ ‫علَ ۡي ِه ۡٱل َح ُّق‬
ِ َّ ‫ۡٱل َح ُّق َو ۡليَت‬
ۡ ‫ض ِعيتًا أ َ ۡو ََل يَ ۡست َِطي ُع أ َن ي ُِم َّل ُه َو فَ ۡليُمۡ ِل ۡل َو ِليُّهُۥ بِ ۡٱلعَ ۡو ۚ ِل َو‬
‫ش ِهيوَ ۡي ِن ِمن‬
َ ْ‫ٱست َۡش ِهوُوا‬
َ
َ
َ
َّ
ُّ ‫ض ۡونَ ِمنَ ٱل‬
‫َض َّل‬
َ ‫َان ِم َّمن ت َۡر‬
ِ ‫ش َهوَآ ِء أن ت‬
ِ ‫ِر َجا ِل ُك ۡ ِۖم فَإِن ل ۡم َي ُكونَا َر ُجلَ ۡي ِن فَ َر ُجل َوٱمۡ َرأت‬
ۚ
ُّ ‫ب ٱل‬
‫عواْ َو ََل ت َۡس ُم ٓواْ أَن‬
ُ ُ‫ش َهوَآ ُء لِذَا َما و‬
َ ‫لِ ۡحوَ َٰى ُه َما فَتُذَ ِك َر لِ ۡحوَ َٰى ُه َما ۡٱۡل ُ ۡخ َر َٰۚى َو ََل يَ ۡأ‬
ُ ‫س‬
َّ ‫ٱَّ َوأ َ ۡق َو ُم ِلل‬
ِ َّ َ‫ط ِعنو‬
‫ش َٰ َهوَةِ َوأ َ ۡون َٰ َٓى أ َ ََّل‬
ً ِ‫يرا أ َ ۡو َكب‬
ً ‫ص ِغ‬
َ ‫يرا لِلَ َٰ ٓى أ َ َج ِل ِهۦۚ َٰذَ ِل ُك ۡم أ َ ۡق‬
َ ُ‫ت َۡكتُبُوه‬
ٓ َّ ‫ت َۡرت َاب ُٓواْ ِل‬
‫علَ ۡي ُك ۡم ُجنَا ٌح أ َ ََّل ت َۡكتُبُوه َٖۗا‬
ُ ‫اض َر ٗة تُو‬
َ ‫س‬
ِ ‫َل أَن ت َ ُكونَ تِ َٰ َج َرة ً َح‬
َ ‫ِيرونَ َها بَ ۡينَ ُك ۡم فَلَ ۡي‬
ُۢ
ۚ
ْ‫وق ِب ُك ۡ ٖۗم َوٱت َّيُوا‬
ُ ‫س‬
َ ‫ضا ٓ َّر َكا ِتب َو ََل‬
ُ ُ‫ش ِهيو َولِن ت َۡت َعلُواْ فَإِنَّهُۥ ف‬
َ ُ‫َوأ َ ۡش ِهو ُٓواْ ِلذَا تَبَا َيعۡ ت ُ ۡۚم َو ََل ي‬
ٖۗ َّ ‫ٱَّ َويُعَ ِل ُم ُك ُم‬
‫ع ِليم‬
َّ ‫ٱَُّ َو‬
َ ٍ‫ٱَُّ بِ ُك ِل ش َۡيء‬
َ ِۖ َّ
Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan hutang
piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan
hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar.
Dan janganlah seorang penulis menolak sebagamana Allah telah
mengajarkan kepadannya, maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah
orang yang berhutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertaqwa kepada
Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikitpun dari padannya,
jika yang berhutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah
(keadaanya), atau tidak mampu mendiktekannya sendiri, maka hendaklah
walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua
orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang lakilaki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan diantara
orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika seorang
lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu
menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya,
untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar, yang demikian
itu lebih adil disisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih
mendekatkan kamu pada ketidakraguan, kecuali jika hal itu termasuk
perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada
dosa bagi kamu jika tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila
kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi.
Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan
pada kamu. Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah memberi pengajaran
kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
48
Amina Wadud. Quran Menurut Perempuan, h. 146.
66
Merespon keterangan ayat diatas, Wadud lebih menyukai penafsiran
dengan mengunakan susunan struktur kata. Dua saksi perempuan tersebut
diartikan sebagai penguat dan pengingat. Jadi meskipun dua orang, tiap-tiap
perempuan memiliki fungsi yang berbeda,
49
sehingga dalam hal ini tidak bisa
disamakan kedudukan dua perempuan dengan satu laki-laki. Masing-masing
perempuan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Bagi Wadud satu saksi laki-laki
ditambah satu kesatuan berupa dua saksi perempuan tidaklah sama dengan
formula dua banding satu seperti halnya perhitungan dalam pembagian waris,
sebab jika (formulanya sama dengan dua banding satu) tidak demikian maka
empat saksi perempuan bisa mengantikan dua saksi laki-laki, tetapi al-Qur’an
50
tidak memberikan alternatif itu.
Ayat di atas memang penting untuk keadaan tertentu, namun bisa jadi ayat
itu telah usang dalam rangka merespon kehidupan saat ini, di mana ide untuk
menjadikan dua saksi perempuan yang satu sebagai saksi dan satunya lagi sebagai
pengingat dan penguat untuk menghindari penyelewengan dalam memberikan
kesaksian, karena pada saat itu perempuan mudah sekali ditekan. Jika hanya satu
saksi laki-laki dan satu saksi perempuan, maka perempuan akan menjadi sasaran
pemaksaan oleh oknum yang ingin mencabut kesaksiannya, dan bakalan berbeda
kalau ada dua saksi perempuan, mereka akan saling mendukung satu sama lain.
Khususnya jika dilihat dari penafsiran kata (tudilla) jika dia berbuat salah.
(tudzakkir) maka yang satunya lagi dapat mengingatkan.
49
Wadud. Quran Menurut, h.147.
Wadud. Quran Menurut ,h.148.
51
Wadud. Quran Menurut, h.148.
50
51
67
Ayat di atas juga bersifat spesifik, hanya diperuntukkan dalam hal
perjanjian finansial dan tidak dimaksud untuk diberlakukan umum. Namun tetap
saja setiap kali al-Qur’an menerangkan tentang kesaksian tanpa menyebutkan
jenis kelamin, penafsiran yang bersifat androsentris kemudian menyimpulkan
bahwa kesaksian itu hanya bisa dilakukan oleh laki-laki. Formula yang diterapkan
mengharuskan dua kali jumlah perempuan sama dengan satu laki-laki, tidak hanya
terjadi dalam menjadi saksi. Hal ini yang dikemudian hari juga berdampak pada
berbagai aspek partisipasi perempuan lainnya.
52
Padahal Islam sendiri tidak
membeda-bedakan baik laki-laki maupun perempuan dalam hal-hal pokok seperti
halnya hak dalam bidang politik,
pekerjaan dan lain sebagainya.
53
hak memperoleh pelajaran, hak memilih
54
Meskipun demikian Wadud tetap berkeberatan dengan pembatasan dua
saksi perempuan sama dengan satu saksi laki-laki dalam hal finansial, yang
diberlakukan juga pada perkara lain. Idealnya bagi Wadud hendaknya
penghadiran saksi pada suatu perkara bukan ditentukan berdasarkan jenis kelamin,
melainkan siapa saja yang dianggap mampu menjadi saksi, maka berhak untuk
52
Wadud. Quran Menurut, h.149.
ِ
ِ
ِ
ِ 53
ِ
ٍ ‫ض ُه ْم أ َْولِيَاءُ بَ ْد‬
َّ ‫يمو َن‬
َ‫الص َلة‬
ُ ‫ات بَ ْد‬
ُ َ‫َوالْ ُم ْؤمنُو َن َوالْ ُم ْؤمن‬
ُ ‫ض ََيْ ُمُرو َن َبلْ َم ْدُروف َويَْن َه ْو َن َع ِن الْ ُمْن َك ِر َويُق‬
َّ ‫َويُ ْؤتُو َن‬
‫اَّللَ َع ِز ٌيز َح ِك ٌيم‬
َّ ‫اَّللُ إِ َّن‬
َّ ‫ك َسيَ ْر ََحُ ُه ُم‬
َّ ‫الزَكا َة َويُ ِط ُيدو َن‬
َ ِ‫اَّللَ َوَر ُسولَهُ أُولَئ‬
“dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagaian mereka adalah
menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf,
mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah
dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana” (at-Taubah 9:71)
Kata auliya diatas mengandung makna, mencakup kerjasama, bantuan, dan penguasaan,
sedangkan “menyuruh mengerjakan yang ma’ruf” mencakup segala segi kebaikan, termasuk
memberi masukan dan kritikan terhadap penguasa (Nasaruddin Umar, Kodrat Perempuan dalam
Islam (Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan jender. 1999), h. 30.
54
Nasaruddin Umar, Kodrat Perempuan, h. 30.
68
menjadi saksi.
55
Kesaksian laki-laki yang mempunyai bobot seperti hal di atas
adalah laki-laki yang memang bergelut di bidangnya sehingga betul-betul
menguasai masalahnya. Namun, jika perempuan yang bergelut di bidang tersebut
bisa jadi kesaksiannya lebih unggul dari laki-laki. Kunci dari masalah ini adalah
penguasaan terhadap masalah bukan karena faktor laki-laki atau perempuan.
56
Keberatan Wadud di atas nampaknya tidak beralasan, jika meninjau model
perundang-undangan Islam yang menyeluruh, di mana dua saksi wanita
disamakan dengan satu laki-laki ini tidak selamannya seperti itu. Model
persaksian seperti itu hanya terdapat pada kesaksian atas harta dan hak-hak harta.
Termasuk dalam hal ini, akad syirkah (kerjasama), ijārah (sewa menyewa), uqud
al-damân (transaksi jaminan) faskh uqūd (pembatalan transaksi) dan qatl alkhata’ (pembunuhan yang keliru).
57
Begitu juga menurut madzhab Hanafi,
mereka membenarkan kesaksian perempuan yang berkaitan dengan harta,
persoalan rumah tangga, seperti talak dan rujuk, dan segala sesuatu kecuali dalam
soal kriminal. Hal ini berbeda dengan pandangan madzhab Maliki yang hanya
membolehkan perempuan menjadi saksi dalam hal-hal yang berkaitan dengan
harta benda.
58
Selain itu ada juga hal-hal yang hanya bisa dipersaksikan oleh laki-laki,
seperti halnya dalam kasus hudûd. Namun terjadi diperbedaan pandangan di
antara ulama dalam hal ini, apakah perempuan memang tidak dibolehkan menjadi
saksi dalam hal hudûd. Meskipun demikian, hal ini dilakukan bukan sebagai
55
Wadud. Quran Menurut, h. 149.
Arif Subhan, dkk. Citra Perempuan dalam Islam Pandangan Ormas Keagamaan,
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 128.
57
. Al-Ghazali, al-Wâsit Fi al-Madzhâb Vol.7, (Kairo: Dâr al-Salâm, 1417 H), h. 366.
58
Shihab, Tafsir al-Misbah, vol. 1. h. 566.
56
69
upaya mendiskriminasikan peran perempuan, melainkan untuk menghadirkan
fakta hukum yang sebenar-benarnya. Bukan bias kebenaran dikarnakan
bercampurnya kesaksian sebenarnya dengan rasa empati, sensitif dan emosional
yang dimiliki perempuan.
59
Meskipun demikian, tidak selamanya laki-laki lebih unggul dari
perempuan dalam hal persaksian. Bahkan ada model perkara-perkara yang hanya
bisa diputuskan dengan menerima kesaksian perempuan, kepemilikan tersebut
dikarnakan perempuan (mereka) memiliki akses untuk memasuki wilayah
tersebut, seperti halnya kesaksian perempuan mengenai kehamilan, haid,
keperawanan dan aib perempuan.
60
Peraturan tentang persaksian juga memperhitungkan faktor-faktor
fungsional, di mana laki-laki (suami) baiknya bertugas di ruang publik untuk
menyediakan kecukupan nafkah bagi anak dan istrinya dan perempuan (istri)
baiknya berada di ruang domestik, sebagai pembina rumah tangga dan memberi
perhatian bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa anak-anaknya.
demikian hasil dari
61
Jika
hitungan kesaksian dua orang perempuan sama dengan
kesaksian satu laki-laki. Hal ini cukup masuk akal dilihat dari fungsinya pada
tatanan sosial Islam, bahwa perempuan cenderung tidak berhubungan dengan
masalah-masalah keuangan dan harta kekayaan.
Kesaksian dua perempuan sama dengan satu laki-laki, bukan sekedar
berbicara tentang nominal jenis kelamin yang berbeda, tetapi juga menyangkut
59
Qutb, Fî Zilâl, Vol. I. h.124.
Depag RI, Tafsir al-Quran tematik: Kedudukan dan Peran Perempuan (T.tp.: PT.
Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 239. Lihat juga. Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqih
Wanita, terj. M. Abdul Goffar. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 2007), h. 605.
61
Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol.I. h. 567.
60
70
bagian dari sistem hukum keluarga yang lain. Ketidakberhubungannya perempuan
dengan masalah keuangan dan harta kekayaan itulah yang menjadikan ingatan
perempuan dimungkinkan mudah lupa. Kemampuan daya ingat perempuan yang
demikian bukan karena perempuan memang kurang dari segi intelektual,
melainkan karena objek yang menjadi perhatiannya berbeda.
62
Bagi Sayyid Qutb
yang menjadi penyebab kemungkinan lupanya perempuan dalam persaksian
bukan hanya karena tidak berkecimpungnya perempuan dalam masalah-masalah
tersebut, juga pengaruh faktor emosional, dan sifat sensitive, padahal kesaksian
untuk satu kontrak perjanjian menuntut seseorang untuk terbebas dari pengaruh
emosional semaksimal mungkin, dan hanya berpegang pada fakta.
63
Inilah yang
menjadikan kesaksian dua perempuan dihitung sama dengan satu laki-laki.
62
63
Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol.I. h. 567.
Qutb, Fî Zilâl. Vol. I. h.124.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Skripsi ini menyimpulkan bahwa konsep keadilan yang dipaparkan oleh
Wadud tidak menjelaskan secara rinci dan hanya terkesan mendekontruksi sebuah
penafsiran lama, tanpa ada muatan solusi. Wadud dalam hal waris-mewaris,
mengatakan perempuan bisa mendapatkan bagian lebih banyak daripada laki-laki
untuk sebuah kasus tertentu, namun sayangnya, beliau tidak menghadirkan
mekanisme pembagian waris yang sesuai dengan apa yang beliau usung. Begitu
juga dalam pembahasan talak, Wadud hanya mengugat bahwa ada kesan tidak
adil, karena al-Qur’an hanya membicarakan laki-laki yang menceraikan istrinya,
padahal dalam kebiasaan masyarakat arab pra Islam, perempuan bisa dengan
mudah menceraikan suaminya. jika mempertimbangkan faktor-faktor lain bahwa
hak prerogatif laki-laki dalam menceraikan bukanlah berdiri sendiri. juga
menyangkut seperangkat kewajiban seperti halnya pemberian mahar, tanggung
jawab nafkah baik ketika seorang perempuan masih menjadi istri ataupun sesudah
diceraikan, dan lain-lain. demikian akan didapati bahwa ketetapan talak yang
diatur dalam al-Quran cukup menunjukan rasa adil.
Salah satu pembahasan yang lumayan rinci hanya pada persaksian. Dalam
hal persaksian, Wadud mengatakan bahwa struktur dua perempuan sama dengan
seorang laki-laki dalam persoalan finansial, tidak berarti sepenuhnya sama, karena
keberadaan seorang laki-laki yang digabungkan dengan dua orang perempuan,
berbeda fungsi dan kegunaan. Komponen yang demikian tersebut juga tidak bisa
71
72
diberlakukan pada perkara lain, baginya sebuah persaksian tidak harus ditentukan
oleh besar kecilnya bilangan sebuah jenis kelamin, melainkan sebuah kecakapan
dan kemampuan seseorang saksi dalam bidang tersebut. Namun dalam ketetapan
Hukum Islam, persaksian dalam hal finansial adalah satu dari sekian subsistem
yang ditetapkan menurut kemampuan, dan potensi seorang saksi dalam
persaksiannya, seperti halnya, dalam hal Hudud, dan Qishas laki-laki lebih berhak
menjadi saksi, sedangkan dalam hal-hal yang menjadi wilayah perempuan, hanya
kaum perempuan yang dibolehkan menjadi saksi.
Permasalahan diatas hanyalah sebuah subsistem dari sistem keseluruhan
dalam Islam, sehingga jika menghendaki sebuah perubahan, yang diubah bukan
hanya terbatas pada komponen-komponen kecil, namun melainkan seperangkat
aturan hukum yang saling berhubungan.
B. SARAN
1. Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan dan bahan kajian
dalam mata kuliah Kajian Gender maupun Kajian Modern terhadap alQur’an.
2. Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan bisa memperluas variabel penelitian
mengenai pembagian peran wanita karir dalam kehidupan berumah tangg
DAFTAR PUSTAKA
Al-‘Alûsî al-Baghdadi, Syihâb al-Dîn al-Sayid Mahmûd. Rûh al-Ma’ânî fi Tafsîr
al-Qur’ân al-‘Azim wa al-Sab’ al-Matsânî. Lebanon: Ihya’ al-Turats alArabi.
Anshori LAL. Penafsiran Ayat-ayat Jender Menurut Muhamad Quraish Shihab.
Jakarta: Visindo Media Pustaka, 2008.
Ansori. Penafsiran Ayat-ayat Jender Menurut Muhammad Quraish Shihab.
Jakarta: Visindo Media Pustaka, 2008.
Asghary, Basri Iba. Solusi al-Quran tentang Problem Sosial Politik Budaya.
Jakarta: PT Reineka Cipta, 1994.
Ayub, Muhammad. Qur’an dan Penafsirnya. Pustaka Firdaus. t, tp, t,th.
Depag RI. Tafsir al-Quran tematik: Kedudukan dan Peran Perempuan. T.tp: PT.
Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
--------. Tafsir al-Quran tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat, dan
Berpolitik. T.tp: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka, 2005.
Dewi, Ernita. Pemikiran Amina Wadud Tentang Rekonstruksi Penafsiran Berbasis
Metode Hermeneutika. Jurnal Substantia Vol. 15, No. 2, Oktober 2013 .
h.158.
Echols, John M., dan Shadly, Hassan. Kamus Inggis- Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka, 1996.
Engineer, Asghar Ali. Hak-hak Perempuan dalam Islam, Terj. Farid Wajidi dan
Cici Farkha Assegaf. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, Cet. I,
1994.
Ensiklopedi al-Qur’an: Kajian Kosakata. Jakarta: Lentera Hati, 2007.
Farida, Umma. “Teks-teks Keislaman dalam Kajian Kaum Feminis: Telaah
Terhadap Pendekatan Studi Islam Dari Kalangan Feminis Muslim”.
PALASTReN, Vol. III, No. 2, (Desember 2010): h. 203-229.
Al-Ghazali. al-Wasit Fil-Madhab Vol 7. Kairo: Darul-Salam, 1417 H.
H Sumintro, Ronny. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurumetri. Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1983.
Hanifah, Laily., dkk. Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas di Usia Lanjut.
Jakarta: Yayasan Mitra INTI. 2010.
Harel, Zeev., dan Paula J, Adams Hillard. (2008). “Pain : Dysmenorrhea.” Dalam
Paula J. Adams Hillard, The 5-minute Obstetrics and Gynecology
Consult. Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkins, a Wolters Kluwer
bussines, 2008: h. 30-31
Hassan, Riffat. “Feminisme dan al-Qur’an”, Jurnal Ulumul Qur’an. No. 09, Vol.
II, Tahun 1991
Hidayat, Komaruddin., dkk. Agama dalam Dialog, Pencerahan Perdamaian dan
Masa Depan. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003.
Al-Hisyam, Firdaus., dan Hariyanto, Rudy. Kamus Lengkap 3 Bahasa: Arab
Indonesia Inggris. Surabaya: Gitamedia Press, 2006.
http://kbbi.web.id/tara http://kbbi.web.id/tara
Huda, Sokhi. “Kontroversi Hak dan Peran Perempuan dalam Pemikiran
Konteporer Amina Wadud”. Jombang: Universitas Hasyim Asy’ari
Tebuireng. T.Th.
Husaini, Adian. “Hermeneutika Feminis: Satu Kajian Kritis” al-Insan Jurnal
Kajian Islam, (Vol II, No. 3, 2006): h, 100-105.
Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, tarj. M. Abdul Ghoffar dan Abu Ihsan al-Atsari Vol
8. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2005.
Ismail, Nurjannah. Perempuan dalam Pasungan: Bias Laki-laki dalam
Penafsiran. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2003.
Jamhari dan Ropi, Ismatu. Citra Perempuan dalam Islam: Pandangan Ormas
Keagamaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Kaltsum, Lilik Ummi dan Abd. Muqsith Ghazali. Tafsir Ayat-ayat Ahkam,
Tangerang Selatan: UIN Press, 2015.
Khallāf, Ảbdul Wahhab. ‘Ilm Usûl Fiqh, Kairo: Maktabah al-Da’wah alIslāmiyyah, 2004.
Al-Khowarizmi, ‘Abi al-Qâsim Jârullah Mahmûd bin ‘Umar al-Zamakhsyarî.
Tafsir al-Kasyâf An Haqo’iq al-Tanzil Wa 'Uyun Al-Aqawil Fi Wujuh AlTa'wil. Lebanon: Dar al-Ma’arif, 2009.
Mernissi, Fatima., dan Hassan, Riffat. Setara di Hadapan Allah. Yogyakarta:
LSPPA Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak, 2000.
Misrawi, Zuhairi. Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan
lil’âlamîn. Jakarta: Grasindo, 2010.
Muhammad, Husein. “Bukan Soal Tubuh Tapi Ruh”, Jurnal Perempuan Untuk
Pencerahan dan Kesetaraan. Vol, 18, No 2. (Mei 2013): h. 103-113.
--------. Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai Atas Wacana Agama dan Gender,.
Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2001.
Mulia, Musda. Indahnya Islam Menyuarakan Kesetaraan dan Keadilan Gender.
Yogyakarta: Nauvan Pustaka, 2014.
Musa, Ali Masykur. Membumikan Islam Nusantara: Respon Islam Terhadap Isuisu Aktual. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2014.
Muslikhati, Siti. Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan
Islam. Jakarta: Gema Insani, 2004.
Mutawakkil, Hajir. “Keadilan Islam dalam Persoalan Gender”. Jurnal kalimah,
Vol. 12, No. 1, Maret 2014. h. 82.
Mutrofin. “Kesetaraan Gender dalam Pandangan Amina Wadud dan Riffat
Hassan”. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, Vol III, No I
(Juni, 2013), h. 254.
Muqoyyidin, Andik Wahyun. “Wacana Kesetaraan Gender: Pemikiran Islam
Kontemporer Tentang Gerakan Feminisme Islam”. Jurnal Al-Ulum, Vol.
13. No, II, (Desember 2013): 491-512.
Nawawi, Hadawi. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1995.
Nurani, Shinta. “Implikasi Tafsir Klasik Terhadap Subordinat Gender: Perempuan
Sebagai Makhluk Kedua”. Muwazah, Vol. VII, No. 2, (Desember 2015): h.
131-145.
Al-Qurtubî, Syaikh Imâm. Al-Jâmi’ li Ahkâm Al-Qur’ân. Tarj, Ahmad Rijali
Kadir. Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.
Qutb, Sayyid. Fî Zilâl al-Qur’ân. Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Vol 2.
Jakarta: Rabbani Press, 2001.
Rahardjo, Dawam. Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsepkonsep Kunci. Jakarta: Paramadina, 2002.
Rusydi, Muhammad. “Relasi Laki-laki dan Perempuan dalam al-Qur’an Menurut
Amina Wadud”. Jurnal MIQOT. Vol. XXXVIII No. 2. (Juli-Desember
2014)
Salah, Abdul Fattah. Pengantar Memahami Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Solo: Era
Intermedia, 2001
Saidah, Nor. “Bidadari dalam Konstruksi Tafsir al qur’an: Analisis Gender atas
Pemikiran Amina Wadud Muhsin dalam Penafsiran Al Qur’an”.
PALASTREN, Vol. VI, No. 2, (Desember 2013): 441-472.
Setyosari, Punaji. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta:
Kencana Prenadamedia, 2013.
al-Sâbûnî, ‘Alî. Safwah al-Tafâsîr. tarj, KH. Yasin Jakarta: Pustaka al-Kautsar.
2010Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.
Sherwood ,Lauralee. Fisiologi Tubuh Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC,
2012
Shihab, M. Quraish. Perempuan. Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2005.
--------. Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Tangerang
Selatan: Lentera Hati, 2000.
--------. Wawasan Al-Quran Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat.
Jakarta: Mizan Pustaka, 1996.
--------. Dia Ada Dimana-mana, Tangan Tuhan di balik Setiap Fenomena.
Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2013.
--------.Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual:
Kumpulan Makalah Seminar. Jakarta: INIS, 1993.
Sirait, Saut Hamonangan. Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis.
Jakarta: Gunung Mulia, 2006.
Syibromalisi, Faizah Ali., dan Azizy, Jauhar. Membahas Kitab Tafsir KlasikModern,(Tangerang Selatan: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2011.
Su’adi, Putut Ahmad. Pemikiran Fazlur Rahman dan Riffat Hasan Tentang
Kesetaraan Gender dalam Islam. Skripsi Jurusan Sejarah Kebudayaan
Islam, Fakultas Adab. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.
Subhan, Arif., dkk. Citra Perempuan dalam Islam Pandangan Ormas
Keagamaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Sultan, Shalahuddin. Mirats al-Mar’ah wa al-Qadiyyah al-Musawah. Kairo: Dar
Nahdrah Misr, 1999.
Suryani, Elvira. “Sosialisasi Kesetaraan Gender pada Pegawai Kantor
Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Bekasi”.
Jurnal Kybernan, Vol. I, No, 2 (September 2010).
Al-Suy‘uti, Jalaluddin. Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an. terj. Tim Abdul Hayyie.
Jakarta: Gema Insani press, 2008.
Taqiyuddin, Hafidz. Argumen Keadilan dalam Hukum Waris Islam: Studi Konsep
‘Awl dan Radd. Tangerang Selatan: Cinta Buku Media, 2014.
Tim Penyusun. Pedoman Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta 2012/2013. Ciputat: UIN Jakarta Press, 2012.
Umar, Nasarrudin. Argumen Kesetaraan Gender. Jakarta: Paramadina, 2014.
--------. Kodrat Perempuan dalam Islam. Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan
Jender, 1999.
Uwaidah, Syaikh Kamil Muhammad. Fiqih Wanita terj. M. Abdul Goffar. Jakarta:
Pustaka al-Kautsar, 2007.
Wadud, Amina. Quran Menurut Perempuan, Membaca Kembali Kitab Suci
dengan Semangat Keadilan. tarj Abdullah Ali. Jakarta: Serambi, 2006.
--------. Inside The Gender Jihad Women’s Reform In Islam. England: Oneworld
Oxford.
Wartini, Atik. “Tafsir Feminis M Quraish Shihab: Telaah Ayat-ayat Gender dalam
Tafsir al-Misbah”. PALASTReN, Vol. VI, No. 2, (Desember 2013): 473494.
Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh Al-Islâmi wa Adillâtuhu, juz VI. Damaskus: Dar Al-Fik.
1989.
Download