menelusuri komunitas yahudi di indonesia

advertisement
1 MENELUSURI KOMUNITAS YAHUDI
DI INDONESIA
HARAHAP THIGOR ANUGRAH
MINAL AIDIN A RAHIEM
Program Studi Arab
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Juli 2013
Abstrak
Melalui sejarah kita mengetahui Indonesia merupakan salah satu negara tujuan orang-orang
Yahudi dari Eropa dan Timur Tengah untuk mencari peruntungan. Mereka tinggal di
Indonesia dan tidak sedikit yang memberikan keturunannya hingga saat ini. Orang-orang
keturunan Yahudi di Indonesia mulai mencari lagi jati diri mereka sebagai keturunan Yahudi
dengan berbagai macam cara. Salah satu cara yang orang-orang keturunan Yahudi di
Indonesia lakukan yaiut berkumpul membentuk komunitas Yahudi dan berusaha
mengidentifikasi keYahudian di dalam diri mereka melalui cara hidup orang Yahudi dalam
hal ini agama Yudaisme.
Kata Kunci: Identitas Yahudi, Komunitas Agama Yahudi, Yahudi Indonesia
Abstract
Through history we know that Indonesia is one of the destinations of the Jewish people who
came from Europe and the Middle East to seek their fortune. They were staying in Indonesia
and their descendants live until today. These people of Jewish descent in Indonesia started to
look again their identity as a Jew. Many people of Jewish descent in Indonesia started to form
a Jewish Community as an attempt to identify themselves as a Jew. From the community they
are learning about the way of life of Jewish People (Judaism) to maintain their Jewishness.
Keyword: Jewish Community, Jewish Identity, Jews in Indonesia
1. Latar Belakang Masalah
Tidak mudah bagi kebanyakan orang (khususnya di Indonesia) ketika mendengar kata
Yahudi untuk tidak mengaitkannya dengan sesuatu yang sifatnya buruk. Selain dihubungkan
dengan kegiatan Zionisme, orang-orang Yahudi sering juga dihubungkan dengan organisasiorganisasi rahasia dan konspirasi dunia dalam rangka mencapai tujuan Zionisme. Organisasi-
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 2 organisasi rahasia seperti Freemasonry, Illuminati, dan lain-lain dianggap banyak orang
sebagai organisasi yang sengaja dibuat oleh orang-orang Yahudi dengan segala upayanya
menguasai dunia1.
Maka tidak heran jika kita menemukan banyak tulisan orang-orang di Indonesia yang
memberikan rasa curiga terhadap segala hal yang berhubungan dengan orang Yahudi.
Misalnya, segala sesuatu yang berasal dari ‘barat’ dianggap upaya Yahudi untuk
menghancurkan negara ini. Namun jika kita cermati, berbeda dengan orang di luar Indonesia
yang berhubungan langsung dengan orang Yahudi dalam membentuk sikap anti-Yahudi
(seperti halnya di negara Turki, Mesir, dan lain-lain), umumnya orang Indonesia tidak biasa
bertemu dan berdialog dengan orang Yahudi. Lalu siapa sebenarnya Yahudi yang dimaksud di
dalam tulisan-tulisan tersebut? apakah orang-orang Indonesia benar-benar mengenal siapa itu
orang Yahudi?
Sejauh ini dari buku-buku yang penulis baca tentang Yahudi di Indonesia jarang sekali
yang mendeskripsikan siapa itu Yahudi sebagai kelompok manusia, Apakah Yahudi sebuah
agama, ras, atau etnis melainkan cenderung menjadikan kata Yahudi sebagai simbol sesuatu
yang bersifat buruk sehingga menurut asumsi penulis, orang Indonesia pada umumnya kurang
mengenal siapa itu Yahudi. Jeffrey Hadler di dalam Jurnal terbitan Carfax berasumsi
sebenarnya keberadaan Yahudi dianggap oleh masyarakat Indonesia tidak eksis2. Jeffrey
menambahkan dengan anggapan seperti itu maka dengan mudah orang-orang Indonesia
memposisikan orang-orang Yahudi di dalam sebuah teori konspirasi yang mudah dimengerti
dan dihubungkan dengan tuduhan penguasaan di bidang Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya
dibandingkan dengan kelompok lain3.
Lalu apakah orang-orang Yahudi benar-benar ada di Indonesia? Sejarah menunjukkan
orang-orang Yahudi sudah lama berada di Indonesia. Rotem Kowner di dalam tulisannya di
Inside Indonesia menjelaskan bahwa sebelum Indonesia merdeka, orang-orang Yahudi
banyak yang berdatangan dari Timur Tengah dan Eropa untuk mencari peruntungannnya di
1
Toto Tasmara, Dajal dan Simbol Setan, Jakarta: Gema Insani Press, 2000, hlm. 7.
Jeffrey Hadler, “Translation of Antisemitism: Jews, The Chinese, and Violence in Colonial and Post-Colonial
Indonesia”, Indonesia and the Malay World. Vol.32 (2004), hlm. 10.
3
Dalam hal ini Jeffrey berasumsi bahwa karena menyalahkan orang-orang Indonesia Tionghoa sebagai dalang
dari monopoli perekonomian di Indonesia dianggap sebagai tindakan SARA, maka orang-orang Indonesia
cenderung menyalahkan orang-orang Yahudi yang dianggap tidak eksis di Indonesia
2
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 3 Nusantara4. Di dalam tulisan Rotem Kowner yang lain yaitu di dalam jurnal terbitan
Routledge, ia menyebutkan masa akhir abad ke 19 menuju awal abad ke 20 merupakan masa
puncak populasi orang-orang Yahudi di Indonesia yang tersebar di beberapa kota besar seperti
Jakarta, Bandung, Semarang, Padang, Surabaya, dan juga Medan5. Tidak hanya menetap,
orang-orang Yahudi tersebut juga meninggalkan keturunan yang hingga saat ini masih ada di
Indonesia.
Salah satu keturunan Yahudi yang ada di Indonesia yaitu Benjamin Verbrugge
mengatakan setidaknya ada sekitar 500 orang keturunan Yahudi yang tinggal di Indonesia saat
ini. Verbrugge dan beberapa orang Yahudi keturunan lainnya pada Oktober tahun 2009
membentuk sebuah komunitas Yahudi yang menghimpun orang-orang keturunan Yahudi yang
ada di Indonesia. Komunitas dengan nama United Jewish of Indonesia ini mengajak orangorang keturunan Yahudi tersebut berkumpul untuk bersama-sama mempelajari dan
mempraktekkan ajaran agama Yudaisme. Melalui agama tersebut orang-orang keturunan
Yahudi tersebut berupaya untuk menjaga dan memelihara identitas mereka sebagai Yahudi6.
Jika berkaca pada tulisan-tulisan tentang Yahudi di Indonesia yang cenderung
memandang Yahudi secara negatif, lalu masih adakah kebaikan-kebaikan yang dimiliki orang
Yahudi? Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk menelusuri dan mengangkat tema ini.
Selain itu tujuan tulisan ini juga untuk mendudukkan Yahudi terlebih dahulu pada posisinya
untuk menghindari berbagai macam praduga yang belum tentu benar. Sesuai dengan latar
belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Siapa itu orang Yahudi?
2. Bagaimana sejarah Yahudi di Indonesia?
3. Seperti apakah orang Yahudi yang ada di Indonesia saat ini?
Lalu berangkat dari rumusan masalah tersebut, awalnya data dikumpulkan dengan
observasi terhadap objek penelitian (United Indonesian Jewish Community). Kedua,
wawancara terhadap objek penelitian (anggota United Indonesian Jewish Community). Ketiga,
mengumpulkan dokumen-dokumen sumber tertulis berupa buku, jurnal ilmiah, dan berita dan
juga sumber non-tertulis seperti video dokumentasi yang berhubungan dengan objek
4
Rotem Kowner, (2011, April 23), An Obscure Story, Inside Indonesia, 104, April-Juni, 2011.
Rotem Kowner, The Japanese Interment of Jews in Wartime of Indonesia, Indonesia and Malay World, Vol. 38
(2010), hlm. 351.
6
Tempo Online, Wawancara Tempo dengan Ketua Komunitas Yahudi di Indonesia, Edisi: Sabtu, 15/10/2011
Pukul 16.20, diunduh pada tanggal 26 Januari 2013 pukul 09.15 WIB.
5
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 4 penelitan7. Dari data yang dikumpulkan, dilakukan analisis data untuk menjawab masalah
penelitian yang telah dirumuskan hingga mencapai tujuan penelitian8.
2. Landasan Teori
Untuk meneliti dan mengerti tentang permasalahan Yahudi, penulis menggunakan
beberapa teori pendukung yaitu teori Diaspora, Etnisitas. Komunitas, dan Identitas.
2.1 Diaspora
Diaspora secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yang artinya menyebar. Ada tiga
kriteria khusus yang menyebabkan sekelompok manusia berdiaspora. Kriteria pertama adalah
dispersion yaitu bertebaran di berbagai tempat yang berbeda-beda. Kriteria yang kedua adalah
Homeland Orientation yaitu di mana pun tempat orang-orang tersebut tersebar mereka akan
selalu mengingat dan menunjuk pada tanah air mereka (baik yang nyata maupun yang
imajiner) sebagai sumber nilai, loyalitas, dan identitas mereka. Kriteria yang terakhir adalah
boundary maintenance yaitu selalu memelihara budaya atau tradisi yang mereka bawa yang
acapkali berhadapan dengan mayoritas budaya dan tradisi lokal tempat mereka tinggal.
2.2 Etnisitas
Etnis secara etimologis berasal dari bahasa Latin yaitu kata ethnikos yang artinya
orang-orang9. Menurut Spickard kelompok etnis adalah sebuah kelompok manusia yang
anggotanya memiliki kesamaan kepercayaan, nilai-nilai, kebiasaan, adat, dan norma yang
dilatarbelakangi oleh fitur-fitur yang dimiliki kelompok manusia seperti bahasa, agama,
pengalaman dari sebuah sejarah yang sama, teritori geografi, keturunan, dan ras10. Menurut
Barker etnis adalah sebuah konsep kultural yang terpusat pada kesamaan norma, kepercayaan,
simbol, dan praktil kultural11. Menurut Oommen terjadi tumpang tindih definisi antara konsep
bangsa dan etnis12. Ommen menekankan pentingnya elemen teritori yang membedakan antara
sebuah etnis dan sebuah bangsa. Kelompok etnis adalah sebuah kelompok dari sebuah bangsa
7
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2009, hlm. 224,227,240.
Lexy Moloeng. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005, hlm. 6,8.
9
Merriam Webster, Webster’s Ninth Collegiate Dictionary, Washington: Collegiate Publisher, 1983, hlm. 427.
10
Conrad P Kottak, Cultural Anthropology, New York: Mcgraw Hill, 2011, hlm. 127.
11
Chris Barker, Cultural Studies: Teori dan Praktik (Cultural Studies, Thoery and Practices, London: Sage,
2000), Yogyakarta: Kreasi Wacana, hlm. 205.
12
T.K Oommen, Kewarganegaraan, Kebangsaan, etnisitas Medamaikan Persaingan Identitas (Citizenship,
Nationality, and Ethniciy Reconciling Competing Indentities. Polity Press. 1997), Bantul: Kreasi Wacana, 2009,
hlm. 82.
8
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 5 yang hidup di luar tanah airnya13 dan sebuah bangsa selalu memiliki ikatan emosional dan
legitimasi tinggi terhadap tanah airnya14. Secara spiritual orang-orang Yahudi merasa diri
mereka sebagai sebuah bangsa atas rasa kepemilikan mereka terhadap sebuah tanah air,
namun sebenarnya bangsa mereka sudah lama mati15.
2.3 Komunitas
Kata komunitas merupakan
terjemahan dari community dalam bahasa Inggris.
Community berasal dari bahasa Latin yaitu communitas yang akar katanya berasal dari
communis yang artinya memiliki sifat ‘kesamaan’16. Istilah komunitas sebagai salah satu jenis
kelompok manusia awalnya dapat diterjemahkan sebagai masyarakat setempat atau komunitas
lokal yang menunjuk pada warga sebuah desa, kota, suku atau bangsa. Masyarakat setempat
menunjuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti
geografis) dengan batas-batas tertentu terjadi interaksi yang lebih besar di antara para
anggotanya, dibandingkan dengan penduduk di luar batas wilayahnya17. Definisi awal tentang
masyarakat setempat tersebut biasanya dilengkapi dengan adanya kebutuhan secara mandiri
dan otonom, baik secara budaya, ekonomi dan politik. Namun secara empirik definisi tersebut
sulit diterapkan di masa modern karena perkembangan kompleksitas dan peradaban sosial18.
Istilah komunitas yang menekankan kepada aspek lokasi wilayah hidup tidak lagi
digunakan19. Definisi komunitas menjadi suatu kelompok manusia yang anggotanya berbagi
kesamaan nilai dan budaya hingga timbul di antara anggota komunitas rasa saling memiliki
satu sama lain20.
2.4 Identitas
Identitas secara etimologis berasal dari bahasa Latin yaitu identitas yang akar katanya
berasal dari kata idem yang artinya ‘sama’. Identitas di dalam bahasa Inggris yaitu identity
secara umum diartikan sebagai fakta tentang menjadi apa dan siapa orang atau sesuatu
tersebut. Lebih spesifik lagi kata (definisi) identity atau identitas adalah suatu karakteristik
13
ibid., hlm. 285.
ibid., hlm. 86.
15
Ibid., hlm. 281.
16
Merriam Webster, op. cit., hlm. 34.
17
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999, hlm. 162-163.
18
Dody Prayogo, Social Responsible Corporation: Peta Msalah, Tanggung Jawab Sosial dan Pembangunan
Komunitas pada Industri Tambang dan MIgas di Indonesia, Depok: UI Press, 2009, hlm. 15.
19
Koentjaranigrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 1990, hlm. 160.
20
Gerrad O’Donnell, Mastering Sosiology; Third Edition, London: The Macmillan Press, 1994, hlm. 292.
14
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 6 yang mendeterminasi tentang apa atau siapa seseorang atau sesuatu hal21. Di dalam dunia
modern seseorang sangat dimungkinkan untuk memiliki satu identitas atau lebih22. Seseorang
dapat mengubah identitasnya yang bersifat primodial (ascriptive atau melekat pada setiap
orang23) dengan identitas yang bersifat konstruktif dan diskursif melalui pilihan, dan bentuk24.
Chris Barker berpendapat di dalam menentukan identitas, manusia berperan sebagai subjek,
yaitu sebagai pribadi, terikat kepada proses-proses sosial yang menciptakan manusia sebagai
subjek untuk dirinya sendiri dan juga orang lain. Barker menambahkan konsepsi yang
manusia yakini tentang diri pribadi manusia tersebut disebut dengan identitas-diri, sementara
itu harapan dan pendapat orang lain selain diri manusia tersebut membentuk identitas-sosial25.
3. Diaspora dan Identitas Yahudi
Awal mula sejarah Yahudi dimulai pada 539 SM ketika kekuasaan Kerajaan Babilonia
yang menguasai wilayah Judea (Kerajaan Israel kuno dan Kerajaan Yehuda) berganti
kekuasaan baru di bawah kerajaan Persia yang dipimpin Cyrus yang Agung. Cyrus yang
mengizinkan orang-orang Yehuda yang terusir untuk kembali ke tanah Judea. Anak-anak
keturunan Israel kuno tersebut menyebut diri mereka sebagai orang-orang Orang-orang
Yehuda26 atau Yahudi yang kita kenal saat ini27.
Pada musim semi tahun tahun 70 M orang-orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem
menghadapi suatu serangan besar dari Kerajaan Romawi28. Lebih dari satu juta orang Yahudi
yang mati dan sekitar Sembilan ratus ribu orang dibawa dan dijadikan tawanan perang hingga
memperluas kawasan Diaspora (sebaran) orang-orang Yahudi. Dari sekian banyak lelaki
dipilih untuk dibawa ke Roma untuk dijadikan Gladiator (petarung) dan ada juga yang dibawa
ke pertambangan di Mesir untuk dijadikan budak. Sisanya baik pria atau wanita dijual sebagai
budak ke daerah Asia Kecil (saat ini daerah Turki). Lalu ada juga diantara mereka yang
berhasil lolos dari serangan Romawi dan hidup terpecah-belah menjadi grup-grup kecil yang
21
Merriam Webster, op. cit., hlm. 597.
Stuart Hall, Modernity: An Introduction to Modern Societies, Oxford: Blackwell Publisher, 1996. hlm. 597598.
23
Riwanto Tirtosudarmo, Mencari Indonesia: Demografi-Politik Pasca-Soeharto, Jakarta: LIPI Press, 2007,
hlm. 142.
24
Erik Cohen, “Jewsih Identity Research: State of Art”, International Journal of Jewish Education. Research I
(2010), hlm. 10.
25
Chris Barker, Cultural Studies; Teori dan Praktik (Cultural Studies; Theory and Practice, London: Sage
Publication, 2009), Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009, hlm. 173.
26
David Bamberger, op. cit., hlm. 27.
27
Steve Olson, op. cit., hlm. 153.
28
Judah Goldin, “The Period of Talmud”. The Jews: Their History, Culture, and Religion; Volume I. Ed. Louis
Finkelstein. London: Peter Owen Limited, 1961, hlm. 142.
22
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 7 tinggal dari hamparan Yordania Timur hingga pesisir barat Jazirah Arab (salah satunya kota
Yastrib)29.
Sekitar tahun 400-an M ketika suku Hun yang datang dari Asia Tengah30 mulai
menduduki provinsi-provinsi Romawi yang ada di Asia Kecil, orang-orang Yahudi yang
bermukim di daerah Asia Kecil untuk menghindari serangan tersebut bergerak secara besarbesaran ke arah barat seperti ke Italia, Galia (Perancis), Spanyol, daerah sekitar Sungai Rhine
dan juga utara Afrika31. Awalnya orang-orang Yahudi tersebut tinggal di daerah pesisir dan
seiring berjalannya waktu mulai masuk kedalam32. Wilayah Galia salah satu wilayah yang
memiliki jumlah orang-orang Yahudi yang sangat banyak dan juga mampu berbaur dengan
orang-orang asli.
Di Spanyol, orang-orang Yahudi sudah bermukim disana lebih dari satu abad. Mereka
menyebar ke daerah-deerah yang subur seperti daerah Andalusia dan lebih dalam ke
semenanjung Iberia33. pada abad ketujuh Kerajaan Visigot penguasa Spanyol mengalami
kekalahan ditangan orang-orang Arab34. Bagi orang-orang Arab, orang Yahudi bukanlah
orang asing. Orang Yahudi banyak yang tinggal dan menyebar di Jazirah Arab, diantara teluk
Persia hingga Laut Hitam35. Banyak dari orang-orang Yahudi yang hidup di daerah Hijaz
tepatnya di kota Yastrib (sekarang Madinah) yang merupakan wilayah kaya akan air dan
tanaman seperti padi dan kurma. Ada juga juga yang berada di utara seperti di Khaibar,
sebuah lembah subur dengan segala macam buah yang tumbuh di dalamnya36.
Pada tahun 711 M pasukan dari Dinasti Umayyah menginjakkan kakinya di
penghujung selat Gibraltar untuk menyebrang ke Spanyol. Perluasan wilayah yang dilakukan
Ummayah memberikan dampak baik kepada orang-orang Yahudi. inilah pertama kalinya
orang Yahudi yang berada di wilayah Diaspora timur (Asia) dan barat (Eropa) terjembatani
oleh Kekhalifaan Islam yang toleran. Orang-orang Yahudi bebas untuk melakukan perjalanan
29
Werner Keller,op. cit., hlm. 54.
Ibid., hlm. 111.
31
Cecil Roth, “The Eropean Age In Jewish History”. The Jews: Their History, Culture, and Religion; Volume I.
Ed. Louis Finkelstein. London: Peter Owen Limited, 1961, hlm. 216.
32
Werner Keller, op. cit., hlm. 112.
33
Ibid., hlm. 117.
34
Werner Keller,op. cit., hlm. 127.
35
Ibid., hlm. 133.
36
Ibid.
30
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 8 dari wilayah Diaspora yang satu ke wilayah Diaspora lainnya37 hingga terjadi Diaspora besarbesaran orang-orang Yahudi selama masa tersebut38.
Pada tahun 1000-an hingga 1500-an Paus sebagai pimimpin tertinggi di Eropa mulai
melakukan serangkaian aksi teror terhadap orang-orang yang dianggap tidak percaya dengan
Yesus, seperti halnya orang-orang Yahudi39. Serangkaian teror terjadi di abad pertengahan
tersebut yang menyebabkan banyak dari orang-orang Yahudi yang mati, terusir, atau dipaksa
untuk dibaptis menjadi Kristen. Banyak dari orang-orang yang pura-pura untuk berubah
agama menjadi Kristen lalu melarikan diri ke Polandia dan Hungaria, disana mereka kembali
ke agama mereka yaitu Yudaisme40. Pengusiran juga terjadi kepada orang-orang Yahudi yang
ada di Spanyol ketika orang-orang Kristen pada tahun 1212 berhasil merebut kembali Spanyol
dari tangan Islam. Orang-orang Yahudi yang ada di Spanyol akhirnya dipaksa untuk dibaptis.
Ribuan orang-orang Kristen yang ‘baru’ atau yang disebut dengan Marrano itu nantinya akan
melarikan diri ke Portugal. Di sana mereka akan kembali ke Yudaisme sampai akhirnya
Portugal juga mengusir orang-orang Yahudi pada 25 Desember 149641.
Para Marrano (orang-orang Yahudi yang dipaksa dibaptis) yang tersisa melanjutkan
hidupnya di Spanyol dan Portugal. Mereka memilih hidup sebagai warga Kristen yang ‘baru’
dan menyusun rencana untuk menemukan dunia baru42. Pada abad ke-14, orang-orang Yahudi
menemukan sebuah tempat yang menjadi konsentrasi populasi Diaspora Yahudi terbesar
hingga saat ini yaitu benua Amerika43. Pada tahun 1642 datang ribuan orang Yahudi dari
Belanda ke Brazil. Setelah Brazil dikuasai oleh orang-orang Portugis, banyak di antara orangorang Yahudi asal Belanda yang memilih kembali ke Amsterdam dan sebagian ada yang
melarikan diri ke arah utara44 dan berhasil menginjakkan kaki mereka di Pulau Manhattan45.
Lalu seiring berjalannya waktu orang-orang Yahudi mulai mendatangi Pulau Manhattan.
Sebelum tahun 1700 dominasi imigran Yahudi di Amerika berasal dari Portugal dan Spanyol,
37
Cecil Roth, op. cit., hlm. 218.
Werner Keller, op. cit., hlm. 141.
39
Ibid., hlm. 125.
40
Werner Keller, op. cit., hlm. 201.
41
Ibid., hlm. 247-249.
42
Ibid., hlm. 317, 320-321.
43
Erik Cohen, “Jewsih Identity Research: State of Art”, International Journal of Jewish Education. Research I
(2010), hlm. 12.
44
Ibid., hlm. 433.
45
Anita Libman Lebeson, “The American Jewish Chronicle”. The Jews: Their History, Culture, and Religion;
Volume I. Ed. Louis Finkelstein. London: Peter Owen Limited, 1961, hlm. 451.
38
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 9 namun setelah itu imigran didominasi oleh para Yahudi Eropa Timur hingga pada tahun 1750
mereka menjadi mayoritas Yahudi di sana.46.
3.2.7 Zionisme dan Lahirnya Negara Israel
Untuk mengenal Yahudi, kita perlu untuk mengetahui dan memahami Zionisme.
Zionisme berasal dari akar kata zion yang mempunyai persamaan dengan penyebutan kota
Yerusalem47. Kata zion sendiri memiliki arti khusus secara emosional terhadap orang-orang
Yahudi semenjak kehancuran kuil pertama, yaitu kerinduan terhadap tanah air48. Theodore
Herzl, pendiri Zionisme, lahir di Budapest pada tahun 1860. Menurut Herzl, masalah
emansipasi dan asimilasi Yahudi di Eropa merupakan masalah yang tidak berujung dan
ancaman yang akan terus berlangsung bagi orang Yahudi49, untuk itu pada tahun 1896, Herzl
mempublikasikan pamflet The Jewish State yang di dalamnya mengajak orang-orang Yahudi
untuk bersatu mendirikan sebuah negara Yahudi50.
Pada 14 Mei 1948 cita-cita Zionisme tercapai. David ben Gurion mendeklarasikan
Negara Israel. Pada tanggal 14 Februari 1949 Chaim Weizmann dipilih sebagai presiden
pertama Israel dan David ben Gurion sebagai perdana menteri. Pada tahun 1950 peraturan
tentang kepulangan orang-orang Yahudi diresmikan oleh pemerintah Israel. Dengan demikian
secara resmi pemerintah Israel mengundang orang-orang Yahudi untuk kembali ke Israel.
Setelah 2000 tahun penantian sebuah bangsa tercipta kembali, tanah yang dijanjikan pun
menjadi milik orang-orang Yahudi51.
3.2.8 Azkhenazi dan Sefardi
Melalui perjalanan sejarah, terdapat dua golongan besar orang Yahudi, yaitu orang
Yahudi Azkhenazi (jamak azkhenazim) dan Yahudi Sefardi (jamak sefardim). Sefardi berasal
dari kata sepharad yang diambil dari Kitab Obadiah ayat 20. Orang Yahudi Sefardi mengacu
pada orang Yahudi yang berdiaspora ke wilayah Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal)
yang datang sebelum abad ke-8 M. Sedangkan Yahudi Azkhenazi berasal dari nama seorang
Rabi, yaitu Rabi Azkhenazi yang hidup pada abad pertengahan. Yahudi Azkhenazi adalah
46
Ibid., hlm. 435-436.
Jacob Kats, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Zionisme.Terjemahan Joko Susilo. Surabaya: Pustaka
Progressif , 1997, hlm. 19.
48
Ibid., hlm. 19.
49
Jacob Katz, op. cit., hlm. 55.
50
Werner Keller, op. cit., hlm. 424.
51
Ibid., hlm. 453-454.
47
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 10 orang-orang Yahudi yang berdiaspora ke wilayah sekitar sungai Rhine (sekarang Jerman)
pada tahun 1000-an52.
Secara kultur terdapat perbedaan antara Yahudi Sefardi dan Yahudi Azkhenazi.
Yahudi Sefardi lebih banyak berhubungan dengan orang-orang Arab Muslim (abad ke-8
hingga abad ke-12), sedangkan Yahudi Azkhenazi hidup di bawah kekuasaan orang-orang
Kristen Eropa.
3.3 Identitas Yahudi di Wilayah Diaspora
Perjalanan sejarah Yahudi yang panjang dan tumpang tindihnya istilah ras, bangsa,
agama, dan etnis, membuat sulit dalam menjabarkan tentang siapa Yahudi itu. Pada masa
pemerintahan David (Daud), orang-orang Yahudi dipastikan memiliki karakteristik biologis
(ras) yang spesifik, sehingga dapat dibedakan orang Yahudi dan yang bukan Yahudi. Orangorang Yahudi tersebar di berbagai wilayah dengan komposisi ras penduduk yang berbeda
sehingga memungkinkan terjadinya perkawinan campur. Bukan hanya itu saja, konversi orang
non-Yahudi menjadi Yahudi membuat batas-batas ras semakin kabur53. Oleh karena itu,
kondisi biologis tidak dapat dijadikan indikator dalam menentukan seseorang itu Yahudi atau
bukan.
Pasca serangan orang Romawi pada tahun 70 M, orang-orang Yahudi bertebaran dari
wilayah Asia Minor, utara Afrika, hingga Eropa54. Meskipun secara spiritual di dalam benak
mereka merasa bangsa Yahudi tetap hidup, namun kenyataannya mereka hidup di luar tanah
air nenek moyang mereka dan menjadikan mereka hidup sebagai kelompok etnis55. Selain itu,
proses etnifikasi atau peminggiran etnis tertentu dari kelompok yang lebih dominan ketika
mereka hidup di Eropa menegaskan status etnisitas mereka sebagai orang-orang Yahudi.
Pada tahun 1776 tiga belas negara bagian di utara benua Amerika mendirikan sebuah
negara yaitu Amerika Serikat56. Negara tersebut mendeklarasikan sebuah gagasan baru
mengenai keadilan bagi semua manusia yang hidup di dunia ini. Melalui gagasan tersebut
Amerika Serikat memberikan hak kewarganegaraannya kepada orang-orang Yahudi57.
Meletusnya Revolusi Perancis mengubah status sosial orang-orang Yahudi yang ada di
52
Cecil Roth, op. cit., hlm. 221.
Steve Olson, op. cit., hlm. 157-171.
54
Judah Goldin, op. cit., hlm. 140.
55
T.K Oommen, op. cit., hlm. 81.
56
Werner Keller, op. cit., hlm. 364.
57
T.K Oommen, op. cit., hlm. 36.
53
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 11 wilayah Eropa. Pada 27 Agustus 1789, Perancis membentuk pemerintahan baru yang
mendeklarasikan hak asasi manusia. Status Yahudi pada masa itu pun berubah (Status
Shifting58) dari kelompok etnis menjadi warga negara59.
Identitas Yahudi di wilayah diaspora pun memiliki suatu tatanan yang kompleks dan
terpilah, menjadi orang Yahudi dan menjadi warga negara. Kedua identitas itu tidak dapat
dipisahkan dan harus diposisikan di dalam persamaan. Dengan kata lain, hal tersebut
memungkinkan mereka untuk menjalani tradisi dan praktek mereka tersendiri yang tidak
dapat dijadikan parameter perbedaan dengan kebudayaan setempat60. Lalu Cohen memberikan
pendapatnya secara eksplisit bahwa agama adalah satu-satunya pembeda antara orang Yahudi
dan bukan Yahudi61.
Melalui Halaqa seseorang dapat ditentukan sebagai Yahudi dengan dua cara yaitu
melalui garis matrilineal (garis keturunan ibu) dan konversi. Namun, dalam studi komparatif
untuk menelusuri populasi orang-orang Yahudi di dunia, para ahli tidak dapat menggunakan
Halaqa sebagai indikator. Jadi dapat disimpulkan bahwa identitas seorang Yahudi didasari
oleh hubungan orang tersebut dengan komunitas Yahudi yang ada di sekitar mereka. Di dalam
mengidentifikasi siapa orang Yahudi itu, para peneliti selalu mengaitkan peran komunitas
agama di dalamnya62,
3.4 Komunitas Agama Yahudi Secara Umum
Orang-orang Yahudi tidak dapat dipisahkan dengan Yudaisme, begitu juga sebaliknya.
Yudaisme tidak akan pernah tanpa orang-orang Yahudi itu sendiri. Orang-orang Yahudi
berkembang menjadi orang Yahudi saat ini juga tidak lepas dari perkembangan agama
monoteisme tersebut63. Yudaisme lahir ketika peristiwa penghancuran Kuil Solomon untuk
pertama kali pada tahun 586 SM oleh Babilonia. Hal ini menyebabkan orang-orang Yahudi
bertebaran ke wilayah pengasingan (Diaspora), yang sebelumnya agama orang-orang Yahudi
disebut Yahwehisme. Ketika di dalam pengasingan imajinasi relijius akan datangnya
pertolongan Yahweh berkembang dan menguat hingga masa Ezra (tahun) dan Nehemiah
58
Conrad P Kottak, Cultural Anthropology, New York: Mcgraw Hill, 2011, hlm. 127.
T.K Oommen. op. cit., hlm. 378-379.
60
Daniel Boyarin dan Jonahtan Boyarin, Diaspora: Generation and Ground of Jewish Identity
.Critical Inquiry, vol.19 (1993), hlm. 30.
61
Erik Cohen, op. cit., hlm. 11.
62
Ibid., hlm. 10.
63
Salo Wittmayer Baron, A Social and Religious History of The Jews: Volume I: The Beginning of The
Christian Era, New York: Colombia Press, 1958, hlm. 3.
59
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 12 (tahun), yang merupakan nabi Yudaisme. Keduanya kemudian kembali ke Yerusalem pada
tahun 538 SM yang sekaligus mengokohkan fondasi agama Yudaisme64.
Ketika Kuil Solomon dihancurkan untuk kedua kalinya pada tahun 70 M oleh orang
Romawi, orang-orang Yahudi berdiaspora kembali, dan mulai memperluas pemahaman akan
ketuhanan mereka yang tidak hanya berada di Yerusalem. Sementara Tuhan dan Yerusalem
akan selalu menjadi bagian dari hidup orang-orang Yahudi yang berada di dalam Komunitas
Yahudi65. Rabi dan Sinagog memegang peranan penting membawa Yerusalem ke dalam hati
dan pikiran orang-orang Yahudi untuk membangun kerajaan Tuhan di dunia66.
Dalam kesehariannya para pemeluk Yudaisme menggunakan Torah yang terdiri dari
lima kitab yang dibawa Musa, dan juga Talmud yang merupakan kitab yang disusun
akademisi Babilonia melalui tradisi oral67. Di masa modern interpretasi kitab-kitab Yahudi
tersebut telah melahirkan tiga aliran Yudaisme, yaitu ortodoks, konservatif, dan reformis68.
Meskipun mereka saling berbeda, di dalam kehidupan keseharian mereka saling menghormati
pendapat satu sama lain69. Dalam praktek keseharian hidup keagamaan , orang-orang Yahudi
berdoa tiga kali yaitu pagi hari (Shaharit), sore hari (Minhah), dan senja hari (Maarib)70.
Sinagog sebagai rumah ibadah orang-orang Yahudi merupakan simbol pengganti Kuil
Solomon, yang merupakan tempat orang-orang Yahudi berkumpul dan berdoa kepada tuhan
Yahweh71. Di dalam aturan Sinagog, terdapat perbedaan antara ketiga aliran besar tersebut di
atas, seperti contoh kelompok konservatif dan ortodoks mewajibkan
para jamaahnya
menggunakan penutup kepada (Kippa dan Tallit) ketika membaca Talmud. Aturan tersebut
tidak berlaku pada kelompok reformis yang banyak berkembang di Amerika72. Sekalipun
demikian simbol ketuhanan orang-orang Yahudi adalah satu, yaitu YHWH.
4. Keberadaan Orang Yahudi di Indonesia
4.1 Sejarah Orang-orang Yahudi di Indonesia
64
Ibid., hlm. 109-100.
Ibid., hlm. 125-127.
66
Louis Finkelstein, “The Jewish Religion: Its Beliefs and Practices”. The Jews: Their History, Culture, and
Religion; Volume II. Ed. Louis Finkelstein. London: Peter Owen Limited, 1961, hlm. 1776.
67
Ibid., hlm. 1739.
68
Ibid., hlm. 1767.
69
Ibid., hlm. 1745.
70
Ibid., hlm. 1768.
71
Ibid., loc. cit.
72
Ibid.
65
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 13 Orang-orang Yahudi datang ke Indonesia pada awalnya ke Sumatera dan Jawa
mewakili dirinya sendiri sebagai individu, bukan sebagai sebuah komunitas73. Tidak banyak
catatan
menunjukkan keberadaan orang-orang Yahudi yang datang ke Nusantara ketika
terjadi hubungan perdagangan antara Timur Tengah, India, dan Sumatra. Namun, sejarah
mencatat pada awal abad kesembilan, Ishaq, ‘Putra Yahudi” dari Oman, melakukan
perjalanan ke Sumatra lalu seorang pedagang Yahudi pada tahun 1290 datang dari Fustat,
Mesir dan tinggal di kota Barus, Sumatra Utara74.
Selain datang ke Asia melalui jalur perdagangan, orang-orang Yahudi mulai
berdatangan ketika ekspedisi bangsa Portugis ke Nusantara. Pada tahun 1511 Portugis yang
dipimpin oleh Alfonso de l’Albuquerque berhasil menaklukan Malaka. Dua tahun setelah itu,
De Alvin datang dari Malaka empat buah rombongan kapal laut yang berasal dari Portugal75.
Di antara rombongan ekspedisi orang-orang Portugis tersebut terdapat orang-orang Yahudi
yang sudah berpindah agama menjadi Kristen atau yang dikenal sebagai Marrano.
Koloni dagang Portugis tidak bertahan lama dan berpindah tangan ke kekuatan Eropa
lainnya yaitu Belanda. Sebelum tiba di Nusantara pada tahun 1619, Belanda mendirikan dua
raksasa perusahaan dagang yaitu Verenidge Oost-Indische Compagnie (VOC) dan WestIndische Compagnie (WIC) pada tahun 1602. Uniknya, seluruh pembiayaan perusahaan
sepenuhnya merupakan modal orang-orang Yahudi yang mengungsi dari Portugal dan
Spanyol pada tahun 1600-an76.
Salah satu orang Yahudi yang terekam dalam sejarah ketika era VOC yaitu Juda Leo
Ezechiel Igel yang atau Leendert Miero. Di Batavia, ia sukses menjadi seorang penambang
emas padahal dan membeli sebuah rumah di kawasan Pondok Gede yang ketika itu
merupakan kawasan perumahan yang luas pekarangannya. Selama 15 tahun memiliki rumah
itu, ia sering mengundang orang-orang Yahudi yang ada di Batavia untuk merayakan hari-hari
besar keagamaan Yahudi. Hal ini membuktikan bahwa Miero bukanlah satu-satunya orang
Yahudi pada saat itu, namun terdapat juga orang-orang Yahudi lainnya yang tinggal di
Batavia.
Bukti tentang keberadaan Yahudi muncul lagi pada tahun 1860-an melalui seorang
penulis buku yaitu Jacob Saphir (1822-1886), yang mengunjungi Nusantara sekitar tujuh
73
Rotem Kowner. (2011, April 23). An Obscure Story. Inside Indonesia, 104. April-Juni, 2011.
Rotem Kowner, loc.cit.
75
Adolf Heuken, Historical Sites of Jakarta, Jakarta: Cipta Loka Caraka.1982, hlm. 17.
76
Werner Keller, op. cit., hlm. 317, 320-321.
74
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 14 minggu dalam perjalanannya menuju Australia pada tahun 1861. Saphir melaporkan
keberadaan orang-orang Yahudi yang datang dari Eropa ke Batavia, Surabaya, dan Semarang,
namun tidak menemukan jejak perkembangan komunitas Yahudi77. Menurut catatan Saphir,
orang-orang Yahudi pada saat itu melakukan pernikahan dengan sesama Yahudi, warga
negara Belanda, dan penduduk lokal juga. Meskipun Saphir mencatat kehadiran orang-orang
Yahudi dari Eropa dengan baik, tetapi dia tidak menyadari kehadiran orang-orang Yahudi
lainnya yang berasal dari Irak yang banyak bermukim di Surabaya78.
Pada tahun 1921 datang seorang penggalang dana gerakan Zionis, Israel Cohen79.
Cohen pergi ke Semarang dan ia bertemu dengan Sayers dan Dr. Leo Strauss, salah satu tokoh
Yahudi di Semarang saat itu, untuk membicarakan organisasi Karen Hayesod yaitu cabang
organisasi pengumpulan dana untuk pemukiman Yahudi di Palestina. Lima tahun setelah
kedatangan Cohen, untuk pertama kalinya organisasi Karen Hayesod melahirkan surat kabar
yaitu Erets Yisrael (Het Joods Land) yang menjembatani komunikasi bagi orang-orang
Yahudi yang tersebar luas di Hindia Belanda. Ketika keberadaan Yahudi sudah terlihat dan
berkembang, pemerintah Hindia Belanda melakukan sensus resmi pada tahun 1930 yang
melaporkan adanya 1095 orang Yahudi yang tinggal di kawasan Hindia Belanda80.
Pada bulan Maret 1942 tentara Jepang masuk dan menduduki Hindia Belanda. Ketika
itu diperkirakan ada sekitar 3000 orang-orang Yahudi di Indonesia. Pada 20 Januari 1943
Jepang dan Jerman memulai kerja sama di bidang ekonomi yang disebut dengan Avkommens
uber Wirtschaftliche Zusammenarbeit (Perjanjian Kerjasama Ekonomi). Selama kerja sama
itu berlangsung, melalui pertemuan-pertemuan yang dilakukan kedua negara tersebut tidak
hanya dibahas masalah kerjasama ekonomi, akan tetapi dibahas juga masalah orang-orang
Yahudi yang ada di wilayah pendudukan Jepang pada saat itu.
Pada pertengahan bulan Agustus 1943 Jepang mulai menangkap semua orang Yahudi
yang ada di Nusantara, termasuk Yahudi dari Irak dan Jerman81. Hal ini yang membuat
banyak dari mereka yang memutuskan untuk meninggalkan Indonesia82. Dari sekian banyak
keluarga Yahudi yang meninggalkan Indonesia, ada juga beberapa keluarga Yahudi yang
77
Rotem Kowner, loc.cit.
Jeffrey Hadler, “Translation of Antisemitism: Jews, The Chinese, and Violence in Colonial and Post-Colonial
Indonesia”, Indonesia and The Malay World, Vol. 32 (2004), hlm. 295-297.
79
Ibid., hlm. 299.
80
Jeffrey Hadler, op. cit., hlm. 299-302.
81
Rotem Kowner, op. cit., hlm. 352, 356-357.
82
Kedem, Arnon, dir. and prod. The Jews in Indonesia: The Untold Story.Infolive Tempo Doeloe
Foundation,2005.
78
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 15 tetap tinggal di Indonesia. Pada tahun 1949, Soekarno memberikan pilihan kepada warga
negara asing yang masih menetap di Indonesia untuk menjadi warga negara Indonesia. Pada
tahun 1957, beberapa keluarga Yahudi secara resmi mendapatkan Kartu Tanda Penduduk
(KTP) Indonesia yang dalam kolom agama ditulis sebagai ”Hebrani”83.
Pasca kemerdekaan Indonesia orang Yahudi yang menetap mendirikan sebuah
komunitas resmi bernama Jewish Community of Indonesia. Organisasi Kongres Yahudi
Sedunia (The World Jewish Congress) pernah melakukan kontak dengan komunitas ini. Pasca
kebijakan nasionalisasi oleh Soekarno pada tahun 1957, karena dianggap tidak sesuai dengan
nilai nasionalisme Indonesia, komunitas ini dibubarkan secara paksa84.
4.3 Identitas Orang-orang Yahudi di Indonesia Masa Kini
Melalui sejarah diketahui bahwa orang-orang Yahudi pasca kemerdekaan Indonesia
satu per satu mulai meninggalkan negeri ini. Namun, ada juga yang menetap di Indonesia
seperti David Mussry yang tinggal di Jakarta hingga tahun 2000, lalu Leah dan Abraham
Zahavi, sepasang suami istri yang merupakan Yahudi-Irak yang menjaga Sinagog sisa
komunitas Yahudi di Jalan Kayu Putih, Surabaya.
Abraham dan Leah memiliki seorang putri bernama Chaya. Chaya menikah dengan
seorang Jawa Muslim dan memiliki satu orang putri dan satu orang putra. Untuk menjaga
agama dan identitas Yahudi yang didapatkan dari kedua orang tuanya, Chaya memilih
menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Kristen. Melalui sekolah tersebut anak-anaknya
belajar tentang Kitab Perjanjian Lama yang menjadi Torah dalam ajaran Yudaisme. Chaya
selalu mencoba memberikan pemahaman kepada anaknya akan ajaran-ajaran Yudaisme.
Meskipun begitu, Chaya tetap menunjukkan sikap toleransinya terhadap suaminya yang
muslim dan mengizinkan anaknya untuk ikut menghadiri salat Jum’at ketika ayahnya salat85.
Selain Chaya, Yakov Baruch, seorang Yahudi yang tinggal di Manado, Sulawesi
Utara, mengaku menemukan lagi jati diri keYahudian dia setelah mengetahui dirinya seorang
Yahudi dari neneknya. Dengan mempelajari ajaran Yudaisme di internet, dia mengakui
mampu mengetahui berbagai macam hukum Yudaisme dan praktiknya.
Yakov Baruch
mendirikan sebuah sinagog di daerah Manado dengan nama Ohel Yaakov Synagogue. Dengan
mendirikan sinagog tersebut terbentuklah komunitas Yahudi yang ikut berperan dalam
83
Jeffrey Hadler, op. cit., hlm. 304.
Ibid., hlm. 306.
85
Cut Mahmud Aziz dan Jessica Champagne,“Jews in Surabaya” Latittudes Australia 22 Okotober 2004.
84
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 16 menjaga eksistensi keYahudian dia dan beberapa keturunan Yahudi lainnya. Sinagog tersebut
dikelola sendiri yang sekaligus menjadikannya seorang Rabi yang memimpin ibadah setiap
Sabbhat86.
Selain Chaya dan Yakov Baruch, terdapat juga orang-orang keturunan Yahudi yang
ada di dalam komunitas United Indonesia Jewish Community. Anggota komunitas tersebut
terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Secara kasat
mata melalui pengamatan yang dilakukan, ditemukanb tidak terlihat adanya batas ras yang
membagi orang-orang tersebut dengan yang nonYahudi. Hal ini semakin menguatkan
argumentasi penulis pada bab sebelumnya bahwa tidak relevan lagi untuk membagi Yahudi
dan bukan Yahudi dari kondisi fisik.
Komunitas tersebut terdiri dari kumpulan orang-orang yang heterogen dengan latar
belakang keluarga yang berbeda-beda. Tempat tinggal dan asal mereka pun beragam, mulai
dari Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali hingga Maluku. Orang-orang
keturunan Yahudi yang ada di dalam komunitas United Indonesia Jewish Community
mengakui memiliki darah Yahudi dari Timur Tengah (seperti memiliki garis keturunan
Yahudi-Turki dan Yahudi-Irak) dan Eropa (seperti memiliki garis keturunan Yahudi-Portugis
dan Yahudi-Belanda) yang didapatkan ketika orang-orang Yahudi dari berbagai macam
tempat tersebut berdiaspora hingga ke Indonesia dan menetap di sana.
Alih-alih berkaca pada Halaqa yang menunjukkan seseorang mendapatkan darah
Yahudi dari garis ibu, mereka juga melihat keturunan melalui garis ayah, kakek, dan nenek.
Dengan mengetahui hal tersebut (berdarah Yahudi), mereka mulai menggali lagi jati diri
mereka. Pada hakekatnya manusia akan selalu mencari jati dirinya, begitu pula dengan orangorang keturunan Yahudi. Meskipun secara Halaqa orang tersebut tidak dapat dikatakan
sebagai Yahudi, tetapi unsure darah garis keturunan membuat mereka penasaran dan
memperjuangkan apa yang mereka percayai.
Umumnya, orang-orang yang berada di dalam komunitas tersebut telah terlebih dahulu
dibesarkan dengan agama lain seperti Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan juga Budha.
Namun, ketika mereka mengetahui (melalui orang tua atau mencari tahu sendiri) bahwa
mereka memiliki darah Yahudi, didukung unsur etnisitas yang dimiliki (dalam hal ini
keturunan), terjadi proses identifikasi diri di dalam diri mereka yang memilah dan
mengkonsepsikan lagi tentang diri yang mereka yakini saat itu. Orang-orang keturunan
86
Vj Movement, dir. and prod. Indonesia Jewish Micro-Minority.Vj Movement, 2011.
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 17 Yahudi tersebut mulai menanggalkan identitas agama yang terbentuk secara sosial melalui
keluarga, dan mencoba mencari tahu dan mempelajari ajaran Yudaisme. Dengan mempelajari
ajaran Yudaisme, mereka mulai memahami posisinya sebagai identitas diri yang membedakan
dirinya dengan orang lain.
Pada awalnya mereka mendapatkan ajaran Yudaisme melalui internet lalu ketika
beergabung di dalam komunitas Yahudi, mereka belajar Yudaisme pada komunitas tersebut.
Mereka mempelajari Torah, Talmud, Shulchan Aruch, dan buku-buku Yahudi lainnya untuk
menunjang kehidupan sehari-hari dan juga ibadah mereka. Dalam mempelajari bahasa Ibrani
yang merupakan bahasa yang digunakan di dalam Torah, kebanyakan dari mereka mengakui
bahwa mereka mempelajari sendiri aksara dan tata cara bagaimana membaca bahasa Ibrani.
Ketika tergabung di dalam komunitas, para rabi atau yang sudah dapat membaca Ibrani
membantu mereka dalam memperlancar kemahiran bahasa Ibrani.
Di dalam kehidupan sehari-hari, mereka mempraktikkan Tefilah yaitu Sacharit (pagi),
Mischa (petang), dan Maariv (malam). Selain mengerjakan ibadah harian, komunitas sering
kali mengajak mereka mengadakan perayaan hari besar Yahudi seperti Havdalah dan juga
Shabbath di hari Sabtu. Melalui komunitas terjalin interaksi di antara keturunan-keturunan
Yahudi lainnya sehingga secara tidak langsung keturunan Yahudi mendapatkan pengakuan
dirinya sebagai Yahudi secara sosial (identitas sosial).
Dalam sikap terhadap Israel, mereka mengaku memahami Zionisme sebagai gerakan
politik bangsa Yahudi yang ada di seluruh dunia untuk kembali dan dapat mendirikan negara
Yahudi (Medinat Yisrael) di dalam tanah Yahudi (Eretz Yisrael). Suatu saat mereka ingin
pindah dan tinggal di Israel, karena menjadi seorang Yahudi yang seutuhnya akan lebih baik
jika tinggal di Israel. Mereka mengetahui bahwa Indonesia bukanlah negara yang mendukung
kemerdekaan Israel dan juga Zionisme sehingga sulit bagi mereka untuk membuka identitas
mereka sebagai seorang Yahudi yang erat kaitannya dengan kedua hal tersebut.
Namun, karena mereka memiliki darah dan lahir di Indonesia mereka juga orang
Indonesia, sehingga identitas Yahudi yang mereka miliki adalah sebuah identitas yang
diperjuangkan tanpa mengabaikan identitas Indonesia yang mereka miliki. Kenyataan bahwa
mereka sudah lahir dan menjadi keturunan Yahudi di Indonesia diharapkan dapat dimengerti
oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan berpikir terbuka terhadap Yahudi yang ada di
Indonesia. Menjadi seorang Yahudi di Indonesia merupakan kesempatan bagi mereka untuk
membuktikan bahwa orang-orang Yahudi di Indonesia memiliki misi perdamaian bukan
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 18 perpecahan karena menurut mereka tujuan hidup seorang Yahudi adalah membawa Shaloom
(Kedamaian) dan Tikun Olan (memperbaiki dunia).87.
Selain keturunan Yahudi, di dalam komunitas tersebut juga ada beberapa orang yang
bukan keturunan Yahudi yang menerapkan ajaran Yudaisme. Salah satu dari mereka
mengakui bahwa ketertertarikan kepada ajaran Yudaisme karena merasa tidak cocok dengan
agama yang dianut sebelumnya. Selain itu, ketika mencari tahu tentang Israel dan Yahudi, dia
menemukan kenyataan bahwa buku-buku agama yang selama ini dipelajari ternyata tidak
benar. Oleh sebab itu, dia merasa terpanggil saat melihat adanya komunitas Yahudi dan pada
akhirnya dia memberanikan diri memasuki komunitas tersebut.
Pada awalnya dia datang pada acara Hanukkah yang diadakan oleh komunitas
tersebut. Hingga pada suatu saat, dia mengatakan bahwa salah satu anggota komunitas
“merasakan” keYahudiannya dari sorot matanya. Setelah itu, dia mulai menelusuri silsilah
keluarganya dan menemukan jejak bahwa dirinya merupakan keturunan seorang tentara KNIL
Belanda yang pernah hidup di Tomohon, Sulawesi Utara. Akan tetapi dia mengatakan bahwa
informasi tersebut belum tentu dijamin kebenarannya karena keluarganya tertutup mengenai
informasi tersebut88.
Eksistensi keberadaan kehidupan orang-orang Yahudi, baik secara individual maupun
komunitas, memang ada di Indonesia. Seperti model-model migrasi manusia lainnya yang
datang ke Indonesia, seperti orang-orang Cina dan juga orang Arab, orang Yahudi datang ke
Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Puncak migrasi orang-orang
Yahudi ke Indonesia adalah pada masa kolonial Belanda. Banyak dari mereka yang hidup
berkelompok di berbagai wilayah Indonesia.
Tidak dapat dipungkiri bahwa terjadi kawin campur dengan penduduk lokal dan
meninggalkan keturunan mereka di Indonesia. Orang-orang keturunan Yahudi yang ada di
Indonesia tersebut kemudian mencari jati diri mereka sebagai Yahudi dengan membentuk
sebuah komunitas agama, dengan begitu mereka mampu mengindentifikasikan diri mereka
sebagai Yahudi. Jika kita dapat mendudukkan orang Yahudi sebagai manusia yang mencari
jati diri mereka, bukan sebagai sebuah simbol yang sering dikaitkan dengan sebuah teori
konspirasi, maka itu adalah hal yang wajar karena pada hakekatnya manusia akan selalu
87
Semua data dan informasi diambil dari kumpulan Kuesioner yang penulis bagikan pada 16 juni 2013 melalui
surat elektronik.
88
Semua data dan informasi diambil dari hasil wawancara penulis kepada seseorang anggota komunitas United
Jewish of Indonesia 5 April 2013 pukul 14.00 di daerah Jawa Barat.
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 19 mencari jati diri mereka. Yudaisme adalah hal tidak dapat dipisahkan dengan orang-orang
Yahudi dan Yudaisme sebagai agama. Kesimpulan penulis adalah tidak ada yang salah
dengan kedua hal tersebut. Terlepas dari segala bentuk ideologi Zionisme berikut dengan prokontra tentang hal tersebut, faktanya orang-orang Yahudi telah dilahirkan menjadi seorang
keturunan Yahudi tanpa mereka minta. Terlepas dari konsep keterlemparan, namun manusia
mempunyai kebebasan dan kehendak untuk memilih menjadi seorang Yahudi.
5. Kesimpulan
Dari rangkaian sejarah orang-orang Yahudi yang panjang, ada tumpang tindih dalam
mendudukkan siapa itu orang Yahudi. Di dalam sejarah kita mengetahui bahwa meskipun
identitas Yahudi tidak lepas dari sifat ascriptive atau bawaan, akan tetapi dalam perjalanannya
identitas tersebut menjadi cair, dapat berubah dan tidak menetap. Meskipun orang-orang
Yahudi mengatakan diri mereka sebagai sebuah bangsa, tetapi pada kenyataannya orangorang Yahudi mampu membangun sebuah identitas yang konstruktif di berbagai wilayah di
dunia. Di dalam perjalanan sejarah, orang-orang Yahudi dipaksa bertransformasi dengan
lingkungan setempat sehingga terjadilah dialektika antara orang-orang Yahudi dan penduduk
setempat. Hal tersebut yang menyebabkan identitas orang-orang Yahudi dapat berbeda satu
dengan yang lainnya dalam waktu yang bersamaan sehingga pertanyaan tentang siapa itu
orang Yahudi merupakan milik diri dari orang tersebut dan komunitas yang ada di sekitarnya.
Orang Yahudi tidak akan dapat terlepas dari budaya dan tradisi yang melekat pada diri mereka
yaitu agama Yudaisme sebagai ciri yang paling membedakan antara Yahudi dan yang bukan,
akan tetapi komunitas agamalah yang paling berperan dalam membentuk identitas orang
Yahudi.
Di Indonesia orang-orang keturunan Yahudi mendirikan sebuah komunitas untuk
mempelajari jati diri mereka sebagai seorang Yahudi. Melalui komunitas tersebut mereka
memahami ajaran-ajaran agama Yudaisme yang menjadi pilihan mereka, bukan keterpaksaan.
Dengan proses tersebut mereka medapatkan identitas Yahudi mereka melalui keterlibatan
dengan agama. Melalui komunitas mereka juga memahami tugas sebagai Yahudi, yaitu
membawa perdamaian bagi bangsa lain di dunia.
Daftar Referensi
Aziz, Cut Mahmud dan Jessica Champagne. “Jews in Surabaya” Latittudes Australia 22
Okotober 2004
Bamberger, David. My People: Volume I. New Jersey: Behrman House. 1979
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 20 ----------. My People: Volume II. New Jersey: Behrman House. 1979
Baron, Salo Wittmayer. A Social and Religious History of The Jews: Volume I: The Beginning
of The Christian Era. New York: Colombia Press. 1958
Barker, Chris. Cultural Studies: Teori dan Praktik (Cultural Studies, Thoery and Practices,
London: Sage, 2000). Yogyakarta: Kreasi Wacana. 2009
Boyarin, Daniel, & Boyarin, Jonahtan. Diaspora: Generation and Ground of Jewish
Identity.Critical Inquiry, vol.19 (1993)
Cohen, Erik “Jewsih Identity Research: State of Art”. International Journal of Jewish
Education. Research I (2010)
Finkelstein, Louis. “The Jewish Religion: Its Beliefs and Practices”. The Jews: Their History,
Culture, and Religion; Volume II. Ed. Louis Finkelstein. London: Peter Owen Limited. 1961
Goldin, Judah. “The Period of Talmud”.The Jews: Their History, Culture, and Religion;
Volume I. Ed. Louis Finkelstein. London: Peter Owen Limited. 1961
Hadler,Jeffrey “Translation of Antisemitism: Jews, The Chinese, and Violence in Colonial
and Post-Colonial Indonesia”. Indonesia and the Malay World. Vol.32 (2004)
Hall, Stuart. Modernity: An Introduction to Modern Societies. Oxford: Blackwell Publisher.
1996
Heuken, Adolf. Historical Sites of Jakarta. Jakarta: Cipta Loka Caraka. 1982
Kats, Jacob. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Zionisme.Terjemahan Joko Susilo.
Surabaya: Pustaka Progressif . 1997
Kedem, Arnon, dir. and prod. The Jews in Indonesia: The Untold Story.Infolive Tempo
Doeloe Foundation,2005
Keller, Werner. Diaspora: Post Biblical History of Jews. New York: Harcourt. Brace &
World. 1969
Koentjaranigrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 1990
Kottak, Conrad P. Cultural Anthropology. New York: Mcgraw Hill. 2011
Kowner, Rotem The Japanese Interment of Jews in Wartime of Indonesia, Indonesia and
Malay World, Vol. 38 (2010)
Kowner, Rotem. (2011, April 23). An Obscure Story. Inside Indonesia. 104. April-Juni. 2011
Lebeson, Anita Libman.“The American Jewish Chronicle”. The Jews: Their History, Culture,
and Religion; Volume I. Ed. Louis Finkelstein. London: Peter Owen Limited. 1961
Moloeng. Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005
O’Donnell. Mastering Sosiology; Third Edition. London: The Macmillan Press. 1994
Oommen, T.K. Kewarganegaraan, Kebangsaan, etnisitas Medamaikan Persaingan Identitas
(Citizenship, Nationality, and Ethniciy Reconciling Competing Indentities. Polity
Press. 1997). Bantul: Kreasi Wacana. 2009
Menelusuri komunitas…, Thigor Anugrah, FIB UI, 2013
Universitas Indonesia 
Download