STRUKTUR KOMUNITAS DECAPODA DI PERAIRAN KAMPUNG

advertisement
STRUKTUR KOMUNITAS DECAPODA
DI PERAIRAN KAMPUNG BUGIS KELURAHAN KAMPUNG BUGIS
KECAMATAN TANJUNGPINANG KOTA
Restu Asian
Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH, [email protected]
Tegku Said Raza’I S. Pi. M.P
Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan , FIKP UMRAH, [email protected]
Ir. Linda Waty Zen, M.Sc
Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan , FIKP UMRAH,
ABSTRAK
Kata Decapoda berasal dari kata Yunani Deca berarti‗ Sepuluh‘ dan pous artinya ‗ Kaki ‗digunakan untuk mengelompokkan berbagai akrab hewan laut seperti udang, lobster, udang, udang karang kepiting. Decapoda mempunyai morfologi yang tampak jelas, Mereka mempunyai 3 pasang apendik thorax yang termodifikasi
menjadi maksiliped dan 5 pasang apendik thorax berikutnya sebagai kaki jalan atau periopod, sehingga Decapoda disebut juga dengan kaki sepuluh.Decapods adalah invertebrata bertelur, dengan jenis kelamin
terpisah.Per ubahan seks selama hid up individu merupakan kejadian biasa dalam beberapa
Dendrobranchiates. Decapods adalah poligini dan seksual dimorfik. Laki-laki cenderung lebih besar secara
fisik dan ini memungkinkan kompetitif perilaku antara laki-laki untuk akses perempuan.Wanita di
otherhand yang selektif dalam memilih pasangan mereka dan mendasarkankeputusan mereka pada kemampuan laki-laki untuk memperoleh sumber daya d an kemamp uan laki -laki mendo minasi laki laki lain. D e c a p o d a m e n g a l a m i pembelahan holoblastic lengkap. Karena spiral berkaki sepuluh holoblastic berlayar padanya dari sel, mereka memiliki khas yaitu telur lebih besar daripada Crustacea
lain, bersama dengan masa kuning telur yang lebih besar. Pembelahan intralechi tal,blastoder m pembentukan dan pengembangan blastoderm.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis Decapoda dan indeks keanekaragaman, Keseragaman dan dominansi decapoda di periaran Kampung Bugis Kelurahan Kampung Bugis.Penelitian dilaksanakan
pada bulan November 2014- Januari 2015.Penentuan metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini
adalah secara purposive sampling. Pengambilan sampling decapoda dilakukan pada saat air laut menjelang surut dengan menggunakan alat tangkap Sondong dengan jarak titik sampling 100 m dan dilakukan di tiga titik
sampling dengan tiga kali pengulangan di tiap titik sampling. Pengukuran parameter kualitas perairan secara in
situ dan sampel decapoda dianalisis di laboratorium FIKP-UMRAH.
Hasil pengamatan ditemukan terdiri dari 4 Family diantaranyaAristeidae, palaemonidae, Penaidae,
portunidae, sedangkan untuk Genus dijumpai sebanyak 5 genus antara lain; Aristaeopsis, Macrobrrachium,
Penaeus, nematocarcinus, Scylla. Spesis/jenis yang dijumpai diperairan Kampung Bugis terdiri dari 8 Spesies
Antara lain Aristaeopsis edwardsiana, Macrobrachium rosenbergii, Penaeus merguiensis, Nematocarcinus lanceopes, Penaeus peneus monodon, Penaeus semisulcatus, Portunus pelagicus, Scylla serrata. Namun secara
keseluruhan hanya terdapat beberapa jenis yang banyak dijumpai salah satunya adalah jenis Penaeus merguiensis.
Hasil analisis menunjukkan keanekaragaman decapoda pada perairan Kampung Bugis Kelurahan
Kampung Bugis mencapai 1,17 dengan kategori indeks ke anekaragaman sedang. Untuk indeks keseragaman
didapatkan hasil 0,39 dengan kategori keseragaman yang rendah. Untuk indeks dominansi didapatkan hasil 0,50
dengan kategori sedang.
Kata Kunci
:Struktur Komunitas Decapoda Di perairan Kampung Bugis Kelurahan Kampung Bugis
Kecamatan Tanjungpinang Kota
I.
PENDAHULUAN
negatif bagi kehidupan udang di perairan, kondisi
ini di khawatirkan seandainya terjadi secara terus
Latar Belakang
menerus akan berimplikasi terhadap keberlangsungan hidupnya secara continue, sehingga perlu dila-
Wilayah Kepulauan Riau memiliki Pokukan langkah perfentif agar ketersediaan udang
tensi Perairan laut yang begitu besar karena memibagi masyarakat dapat terjamin secara continue.
liki 97% wilayahnya terdiri atas perairan, sehingga
Untuk melakukan langkah perfentif dalam rangka
memiliki keanekaragaman biota yang dapat hidup
mencegah kepunahan hidup bagi biota udang tendan dikembangkan, salah satubiota laut yang bertunya harus di awali dengan berbagai riset pemula
potensicukup besar di kepulauan Riau adalah
salah satunya adalah dengan mengetahui Struktur
udang, karena udang memiliki protein yang tinggi
Komunitasnya, dengan mengetahui Struktur Kodan memiliki jumlah yang beraneka ragam, mulai
munitas yang terkini agar bisa di jadikan acuan
dari jenis udang yang berukuran mikro dan makro.
pengelolaan di masa yang akan datang maka dari
Untuk udang yang berukuran makro pada umumitu perlu di lakukan penelitian mengenai Struktur
nya tersebar diseluruh pesisir pantai Kepulauan
Komunitas Decapoda di perairan Kampung Bugis
Riau, dan tidak luput pula dipesisir Kampung BuKelurahan Kampung Bugis Kecamatan Tanjungpigis, Kelurahan Kampung Bugis Kecamatan Tannang Kota.
jungpinang Kota Kepulauan Riau, akan tetapi tingginya angka pemanfaatanyang dilakukan oleh ne-
Rumusan Masalah
layan dalam rangka pemenuhan gizi masyarakat
Berdasarkan dari uraian diatas maka den-
dan tingginya permintaan pasar tentunya akan
gan tingginya angka eksploitasi yang terjadi terha-
mempengaruhi ketersediaannya di perairan, udang
dap biota udang dalam rangka memenuhi kebutu-
yang mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi ba-
han hidup masyarakat di tambah lagi, banyaknya
nyak diminati oleh masyarakat sehingga angka
aktifitas yang terjadi di daerah pesisir Kampung
eksploitasi yang tinggi ini tidak dapat di elakkan.
Bugis seperti limbah limbahpemukiman, jalur akti-
Selaindari hal tersebut, tingginya aktivitas
fitas kapal kapal dan aktifitas galangan kapal, ten-
penduduk juga dapat mempengaruhi keberlangsun-
tunya akan memberikan pengaruh negatif bagi ke-
gan hidup bagi udang seperti limbah limbah pemu-
hidupan udang di perairan makapadapenelitian ini
kiman, jalur aktifitas kapal kapal dan aktifitas ga-
rumusan masalah yang dikaji adalah“Struktur
langan kapal, tentunya akan memberikan pengaruh
Komunitas Decapodadiperairan Kampung Bu-
gis Kelurahan Kampung bugis Kecamatan Tanjungpinang Kota’’
A.
Tujuan Penelitian
Kigdom : Animalia
Filum
: Antropoda
Kelas
: Crustacea
Crustacea memiliki karateristik adanya
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Struktur Komunitas DecapodadiPerairan Kampung
Bugis, meliputi komposisi indeks keanekaragaman,
keseragaman dan dominansi di Kelurahan kampung
penyusun skeleton eksternal, segmen tubuh dan
persatuan lengannya. Eksternal chitinous skeleton
pada setengah segmen anterior sering kali bersatu
Bugis Kecamatan Tanjungpinang Kota.
dengan bagian karapaks yang menjadi tempat
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
sumber informasi bagi keperluan studi maupun
untuk pengembangan ilmu pengetahuan terutama di
bidang ekologi hewan, Khususnya bagi mahasiswa
dan masyarakat sekitar pada umumnya sebagai
bahan informasi mengenai ―Struktur Komunitas
Decapodadiperairan
kalsium karbonat yang keras yang menjadi
Kampung Bugis Kelurahan
Kampung bugis Kecamatan Tanjungpinang Kota‖.
keluarnya
rostrum.
Tubuh
Crustacea
dibagi
menjadi tiga bagian yaitu kepala, thorax, dan
abdomen,
terkadang
masing-masing
bagian
tersebut bersatu membentuk cephalothorax. Kepala
biasanya terdiri dari empat sigmen yang bersatu,
pada bagian Kepala memiliki dua pasang sensor
(antena dan antenula) dan tiga pasang alat makan
(mandibula,
maksilula,
dan
maksila);
kepala
biasanya memiliki struktur tersendiri meliputi;
II. TINJAUAN PUSTAKA
rostrum, mata, labrum dan labrium, epistom serta
A.
Crustacea
Crustacea
sepasang
termasuk
kedalam
filum
Arthropoda seperti Insekta, laba-laba, kalajengking,
milipedes
dan
centipedes.
Klasifikasi
decapoda dapat dilihat pada gambar 1.
jenis
maksiliped.
Thorax
dan
abdomen
memiliki sepasang apendiks yang digunakan untuk
berjalan, memanjat, atau berenang(Rusyana ,
2011).
Sebagian besar dari taksa Crustacea
seperti spesies ordo Decapoda mempunyai delapan
pasang bagian dada. Tiga pasang adalah modifikasi
maksiliped
untuk
membantu
mandibula
dan
maksila dalam proses makan; dan lima pasang
sisanya adalah khas kaki jalan. Seringkali sepasang
Gambar 1.Scyllarus sp
kaki jalan memiliki kuku pada ujungnya yang
digunakan untuk menarik atau mengambil makanan
(Rahayu dan Setyadi dalam Hariyadi 2012).
Udang
1.
Klasifikasi Udang
Klass
:Crustacea
(binatang
berkulit
keras)
Sub Kelas
: Malacostraca (udang-udangan
tingkat tinggi)
Super Ordo
: Eucarida
Ordo
:Decapoda
(binatang
berkaki
sepuluh)
Sub Ordo
: Natantia (kaki digunakan untuk
Gambar 2.Morfologi Udang.
Keterangan:
a = alat pembantu rahang g = kaki jalan
b = kerucut kepala
h = kaki renang
c = mata I = anus
d = cangkang kepala
j = telson
e = sungut kecil k = ekor kipas
f = sungut besar
(http://rizalbbapujungbatee.blogspot.com/2009/05/semuatentang-udangwindu.
html)
berenang)
Famili
Bagian kepala dilindungi oleh cangkang
:Palaemonidae, Penaeidae
kepala atau carapace. Bagian depanmeruncing dan
Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua
melengkung membentuk huruf S yang disebut cu-
bagian, yaitu bagian kepala dan bagianbadan. Ba-
cuk kepala ataurostrum. Pada bagian atas rostrum
gian kepala menyatu dengan bagian dada disebut
terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi
cephalothorax yangterdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas
untuk P. monodon. Bagian kepala lainnya adalah:
di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Ba-
1.
gianbadan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap
ruas (segmen) mempunyai sepasanganggota badan
Sepasang mata majemuk (mata facet)
bertangkai dan dapat digerakkan.
2.
(kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung
Mulut terletak pada bagian bawah kepala
dengan rahang (mandibula) yangkuat.
ruas keenam terdapatekor kipas 4 lembar dan satu
3.
Sepasang sungut besar atau antena.
telson yang berbentuk runcing (Rizal , 2009)
4.
Dua pasang sungut kecil atau antennula.
5.
Sepasang sirip kepala (scophocerit).
6.
Sepasang
Morfologi Udang
(maxilliped).
alat
pembantu
rahang
7.
8.
Lima pasang kaki jalan (periopoda), kaki
lakang. Bagian depan disebut bagian kepala, yang
jalan pertama, kedua dan ketigabercapit
sebenarnya terdiri dari bagiankepala dan dada yang
yang dinamakan chela.
menyatu. Bagian kepala tertutup kerapak, bagian
Pada
bagian
hepatopankreas,
Bagian
badan
tertutup
oleh
dalam
jantung
dan
6
perut terdiridari lima ruas yang masing-masing ruas
insang.
mempunyai pleopod dan ruas terakhir terdiridari
(abdomen)
ruas perut, dan ruas telson serta uropod (ekor ki-
dan
perut
ruas,
terdapat
satu
pas). Tubuh udang mempunyairostrum, sepasang
samalainnya dihubungkan oleh selaput
mata, sepasang antena, sepasang antenula bagian
tipis. Ada lima pasang kaki renang
dalam dan luar,tiga buah maksilipied, lima pasang
(pleopoda)
cholae (periopod), lima pasang pleopod, sepasang-
yangmelekat
yang
pada
ruas
pertama sampai dengan ruas kelima,
telson dan uropod.
sedangkan pada ruas keenam,kaki renang
Habitat Crustacea
mengalami perubahan bentuk menjadi
MenurutRomimohtarto
danJuwana
ekor kipas (uropoda). Di antaraekor kipas
(2007)Habitat merupakan tempat atau lingkungan
terdapat ekor yang meruncing pada bagian
luar dimana tumbuh tumbuhan dan hewan hidup.
ujungnya yang disebut telson.Organ dalam
Sesuai dengan pendapat di atas Kuspiadi dalam
yang bisa diamati adalah usus (intestine)
Valorischa (2012) mengatakan habitat merupakan
yang bermuara pada anus yangterletak
lingkungan tempat makhluk hidup beradaptasi.
pada ujung ruas keenam.
Crustacea hidup disemua jenis habitat peCiri-ciri morfologi udang menurut Fast
rairan dengan 89% diantaranya hidup diperairan
dan Laster (1992) dalam Agus Budianto (2013),
laut, 10% diperairan air tawar dan 1% di perairan
udang mempunyai tubuhyang bilateral simetris
teresterial (Abele dalam Syamsurisal, 2011).Udang
terdiri atas sejumlah ruas yang dibungkus oleh kinlaut merupakan tipe yang tidak mampu atau memtin sebagaieksoskleton. Tiga pasang maksilliped
punyai kemampuan terbatas dan mentolerir peruyang terdapat dibagian dada digunakan untukmabahan salinitas.Kelompok ini biasanya hidup terbakan dan mempunyai lima pasang kaki jalan sehingtas pada daerah terjauh pada estuari yang umumnya
ga disebut hewan berkakisepuluh (Decapoda). Tumempunyai salinitas 30% atau lebih.Kelompok
buh biasanya beruas dan sistem syarafnya berupa
yang mempunyai kemampuan untuk mentolerir
tangga tali.Dilihat dari luar, tubuh udang terdiri
variasi penurunan salinitas sampai dibawah 30%
dari dua bagian, yaitu bagian depan dan bagianbehidup di daerah terestrial dan menembus hulu estu-
ari dengan tingkat kejauhan bervariasi sesuai den-
berpasir, berbatu ataupunberlumpur. Spesies yang
gan kemampuan spesies untuk mentolerir penuru-
dijumpai pada ketiga tipe pantai ini berbeda-beda
nan tingkat salinitas.Kelompok terakhir adalah
sesuaidengan kemampuan masing-masing spesies
udang air tawar.Kelompok ini biasanya tidak dapat
menyesuaikan diri dengan kondisi fisika kimiape-
mentolerir salinitas diatas 5%. Udang menempati
rairan (Nybakken, 1992).
perairan dengan berbagai tipe pantai seperti: pantai
Reproduksi Udang
berpasir, berbatu ataupun berlumpur. Spesies yang
Alat reproduksi udang jantan terdiri dari
dijumpai pada ketiga tipe pantai ini berbeda-beda
organ internal yaitu sepasang vas deferen dan sepasesuai dengan kemampuan masing-masing spesies
sang terminal ampula, dan organ eksternal yaitu
menyesuaikan diri dengan kondisi fisik, kimia pepetasma yang terletak pada kaki jalan yang ke-5
rairan (Nybakken dalam Syamsurisal2011 ).
dan sepasang appendik maskulina yang terletak
pada kaki renang ke-2 yang merupakan cabang ke-
Habitat dan Penyebaran Udang
Udang hidup disemua jenis habitat perai-
3 dari kaki renang. Fungsi alat kelamin eksternal
ran dengan 89% diantaranya hidup diperairan laut,
udang jantan adalah untuk menyalurkan sperma
10% diperairan air tawar dan 1% di perairan tere-
dan meletakkan spermatophora pada alat kelamin
sterial (Abele, 1982).Udang laut merupakan tipe
betina (thelikum), sehingga telur yang akan keluar
yang tidak mampu atau mempunyai kemampuan
dari saluran telur (oviduct) ke tempat pengeraman
terbatasdan
salini-
akan dibuahi oleh sperma dari thelikum tadi. Pe-
tas.Kelompok ini biasanya hidup terbatas padadae-
tasma ini merupakan modifikasi bagian endopodit
rah terjauh pada estuari yang umumnya mempu-
pasangan kaki renang pertama (Agus, 1993).
nyai salinitas 30% atau lebih.Kelompok yang
Udang betina alat reproduksinya terdiri dari organ
mempunyai kemampuan untuk mentolerir variasi
internal yaitu sepasang ovarium dan sepasang salu-
penurunan salinitassampai dibawah 30% hidup di
ran telur dan organ eksternal yaitu thelikum yang
daerah terestrial dan menembus hulu estuari den-
terletak diantara kaki jalan ke-3. Pada bagian da-
gantingkat kejauhan bervariasi sesuai dengan ke-
lam thelikum terdapat spermatheca yang berfungsi
mampuan spesies untuk mentolerirpenurunan ting-
untuk menyimpan spermatophora setelah terjadi
kat salinitas.Kelompok terakhir adalah udang air
kopulasi (Agus, 1993).
mentolerir
perubahan
tawar.Udang darikelompok ini biasanya tidak dapat
Udang biasa kawin di daerah lepas pantai
mentolerir salinitas diatas 5%. Udang menempati-
yang dangkal. Proses kawin udang meliputi pemin-
perairan dengan berbagai tipe pantai seperti: pantai
dahan spermatophore dari udang jantan ke udang
betina. Peneluran bertempat pada daerah lepas pan-
lingi oleh sel-sel folikel. Oosit yang dihasilkan
tai yang lebih dalam. Telur-telur dikeluarkan dan
akan menyerap material kuning telur (yolk) dari
difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor
darah induk melalui sel-sel folikel (Wyban et al.,
udang betina mampu menghasilkan setengah sam-
1991).
pai satu juta telur setiap bertelur. Dalam waktu 13-
Organ reproduksi utama dari udang jantan
14 jam, telur kecil tersebut berkembang menjadi
adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan apen-
larva berukuran mikroskopik yang disebut nauplii/
diks maskulina.Sperma udang memiliki nukleus
nauplius (Perry, 2008).Tahap nauplii tersebut me-
yang tidak terkondensasi dan bersifat nonmotil
makan kuning telur yang tersimpan dalam tubuh-
karena tidak memiliki flagela. Selama perjalanan
nya
menjadi
melalui vas deferens, sperma yang berdiferensiasi
zoea.Tahap kedua ini memakan alga dan setelah
dikumpulkan dalam cairan fluid dan melingkupinya
beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi my-
dalam sebuah chitinous spermatophore (Wyban et
sis.Mysis mulai terlihat seperti udang kecil dan
al., 1991). Menurut Dunham (1978) dalam Yano, et
memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4
al (1988), bahwa adanya perilaku kawin pada krus-
hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi post-
tasea disebabkan adanya feromon. Udang jantan
larva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang
hanya akan kawin dengan udang betina yang me-
sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa.
miliki ovarium yang sudah matang. Kontak antena
Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai post-
yang dilakukan oleh udang jantan pada udang beti-
larva membutuhkan waktu sekitar 12 hari. Di habi-
na dimaksudkan untuk pengenalan reseptor seksual
tat alaminya, postlarva akan migrasi menuju estu-
pada udang (Burkenroad, 1974, Atema et al., 1979,
arin yang kaya nutrisi dan bersalinitas rendah. Me-
Berg and Sandfer, 1984 dalam Yano, et al., 1988).
reka tumbuh di sana dan akan kembali ke laut ter-
Proses kawin alami pada kebanyakan udang bi-
buka saat dewasa. Udang dewasa adalah hewan
asanya terjadi pada waktu malam hari (Berry, 1970,
bentik yang hidup di dasar laut (Anonim 2, 2008).
McKoy, 1979 dalam Yano, 1988).
lalu
mengalami
metamorfosis
Sistem reproduksi udang betina terdiri da-
Betina mencapai kematangan gonad pada
ri sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan
berat tubuh 20 gram, tetapi fekunditas yang baik
thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari
dicapai pada ukuran 50 gram ke atas atau panjang
epitelium germinal selama kehidupan reproduktif
tubuhnya 18,1-229 mm. Sedangkan induk jantan
dari udang betina.Oogonia mengalami meiosis,
kematangan gonadnya tidak dapat diketahui secara
berdiferensiasi menjadi oosit, dan menjadi dikeli-
visual, namun berdasar beberapa hasil penelitian
menunjukkan bahwa udang dengan panjang 155
nanya semakin hijau pucat dan vo-
dapat melakukan perkawinan , Berdasarkan litera-
lumenya semakin mengecil dengan
ture, Uno (1969) membagi perkembangan gonad
ditandai adanya garis putus-putus.
udang menjadi 4 stadia, yaitu:
Tanda ini dalam 2 hari akan hilang.
Stadia I :
Garis ovarium kelihatan berwarna
Faktor - faktoryang mempengaruhi
hijau kehitaman, kemudian volu1.
Suhu
menya bertambah besar. Pada akhir
Suhu adalah ukuran energi gerakan molestadia I, garis ini sudah sangat jelas
kul.Di samudera, suhu bervariasi secara horizontal
dan terlihat membentuk segi 6 densesuai garis lintang dan juga secara vertikal sesuai
gan sudut yang menghadap ke arah
dengan kedalaman. Suhu merupakan salah satu
rostrum, runcing memanjang pada
faktor yang penting dalam mengatur proses kehibagian dorsal cephalothorax.
dupan dan penyebaran organisme. Proses kehiduStadia II : Warna dan bentuk ovarium semakin
pan yang vital yang secara kolektif disebut metabojelas dan tebal. Pada akhir stadia II ini
lisme, hanya berfungsi didalam kisaran suhu yang
warna ovarium tampak kuning dan
relative sempit biasanya antara 0-40°C, meskipun
bentuknya semakin lebar ke arah bedemikian bebarapa beberapa ganggang hijau biru
lakang rostrum.
mampu mentolerir suhu sampai 85°C. Selain itu,
Stadia III : Warna ovarium berubah menjadi kuning
suhu juga sangat penting bagi kehidupan organisme
tua dan volumenya berkembang ke
di perairan, karena suhu mempengaruhi baik aktiviarah samping cephalothorax. Pada
tas maupun perkembangbiakan dari organisme terakhir stadia II ini warana ovarium
sebut.Oleh karena itu, tidak heran jika banyak diberubah menjadi orange dan organ
jumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat
eksternalnya yaitu thelikum dan
di berbagai tempat di dunia yang mempunyai tolespermatheca (kantong penyimpan
ransi tertentu terhadap suhu.Ada yang mempunyai
spermatophora) semakin berkemtoleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disbang sebagai tanda udang telah
ebut bersifat euryterm.Sebaliknya ada pula yang
siap kawin.
toleransinya
kecil,
disebut
bersifat
steno-
Stadia IV : Setelah semua telur terovulasi maka
term.Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan
warna dan bentuk gonad dapat dikutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sebedakan dari stadia 3 yaitu wardangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang
hangat.Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan untuk
2.
Peningkatan aktivitas metabolisme ikan
pertumbuhannya.Ikan yang berada pada suhu yang
3.
Penurunan gas (oksigen) terlarut
cocok, memiliki selera makan yang lebih baik.
4.
Efek pada proses reproduksi ikan
5.
Suhu ekstrim bisa menyebabkan kematian
Menurut Laevastu dan Hela (1970), pengaruh suhu terhadap biota akuatik adalah dalam pros-
ikan. (Anonim, 2009. SITH ITB)
es metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengam2.
Salinitas
bilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan
Salinitas didefinisikan sebagai jumlah berenang, serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh
rat garam yang terlarut dalam 1 liter air, biasanya
suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat
dinyatakan dalam satuan 0/00 (per mil, gram perliselama pemijahan.Suhu air laut dapat mempercepat
ter).Di perairan samudera, salinitas berkisar antara
atau memperlambat mulainya pemijahan pada be340/00 – 350/00.Tidak semua organisme laut dapat
berapa jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan
hidup di air dengan konsentrasi garam yang berbesetelah pemijahan adalah faktor-faktor yang paling
da. Secara mendasar, ada 2 kelompok organisme
penting yang menentukan ―kekuatan keturunan‖
laut, yaitu organisme euryhaline, yang toleran terdan daya tahan larva pada spesies-spesies ikan
hadap perubahan salinitas, dan organisme stenohayang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim
line, yang memerlukan konsentrasi garam yang
pada daerah pemijahan (spawning ground) selama
konstan dan tidak berubah. Kelompok pertama
musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk memisalnya adalah ikan yang bermigrasi seperti salmijah di daerah lain daripada di daerah tersebut.
mon, eel, lain-lain yang beradaptasi sekaligus terSuhu berpengaruh terhadap kelangsungan
hadap air laut dan air tawar. Sedangkan kelompok
hidup ikan, mulai dari telur, benih sampai ukuran
kedua, seperti udang laut yang tidak dapat bertahan
dewasa. Suhu air akan berpengaruh terhadap proses
hidup
pada
perubahan
salinitas
yang
ek-
penetasan telur dan perkembangan telur. Rentang
strim.(Reddy, 1993).
toleransi serta suhu optimum tempat pemeliharaan
Salinitas merupakan salah satu parameter
ikan berbeda untuk setiap jenis/spesies ikan, hingga
lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan
stadia
pertumbuhan
yang
berbeda.
Suhu
secara langsung akan mempengaruhi kehidupan
memberikan dampak sebagai berikut terhadap ikan
organisme antara lain yaitu mempengaruhi laju
:
pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi,
1.
Suhu dapat mempengaruhi aktivitas makan
nilai konversi makanan, dan daya kelangsungan
ikan peningkatan suhu
hidup. (Andrianto, 2005). Salinitas dipengaruhi
kah laku ikan dapat disebabkan arus, khususnya
oleh beberapa faktor menurut (Nontji, 1993) :
arus pasut, arus secara langsung dapat mempenga-
3.
1.
pola sirkulasi air,
ruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan secara tidak
2.
penguapan,
langsung mempengaruhi pengelompokan maka-
3.
curah hujan, dan
nan.(Lavastu dan Hayes 1981).
4.
aliran air sungai.
Ikan bereaksi secara langsung terhadap
perubahan lingkungan yang dipengaruhi oleh arus
Arus
Arus laut adalah gerakan massa air laut
dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada
dari satu tempat ke tempat lain.
arus.Arus tampak jelas dalam organ mechanorecep-
Arus laut dapat terjadi karena :
tor yang terletak garis mendatar pada tubuh
1. perbedaan salinitas massa air laut,
ikan.Mechanoreceptor adalah reseptor yang ada
2. tiupan angin,
pada organisme yang mampu memberikan infor-
3. pasang
surut,
atau
perbedaan
permukaan
samudera.
Arus karena perbedaan salinitas terjadi di
masi perubahan mekanis dalam lingkungan seperti
gerakan, tegangan atau tekanan.Biasanya gerakan
ikan selalu mengarah menuju arus.(Reddy, 1993).
kedalaman laut dan tidak dapat dilihat gejalanya
4.
Cahaya
dari permukaan laut.Di permukaan samudera, arus
Disebutkan bahwa cahaya merangsang dan
laut terjadi terutama karena tiupan angin.Arus yang
menarik ikan (fototaxis positif), sifat fototaxis ini
terjadi di permukaan samudera memiliki pola-pola
dapat
berubah
–
ubah
tergantung
kepada
tertentu yang tetap.Di tempat-tempat tertentu arus
tingkathidup dan kedewasaan jenis ikan itu sendiri
laut terjadi kerana perbedaan ketinggian permukaan
(Brand, 1964).
samudera.Di teluk-teluk atau muara sungai, arus
Ikan bersifat fototaktik (responsif terhadap
dipengaruhi oleh pasang surut.
cahaya) baik secara positif maupun negatif.Banyak
Arus sangat mempengaruhi penyebaran
ikan yang tertarik pada cahaya buatan pada malam
ikan, hubungan arus terhadap penyebaran ikan adahari, satu fakta yang digunakan dalam penangkapan
lah arus mengalihkan telur-telur dan anak-anak
ikan. Pengaruh cahaya buatan pada ikan juga diikan pelagis dan daerah pemijahan ke daerah pempengaruhi oleh faktor lingkungan lain dan pada
besaran dan ke tempat mencari makan. Migrasi
beberapa spesies bervariasi terhadap waktu dalam
ikan-ikan dewasa disebabkan arus, sebagai alat
sehari. Secara umum, sebagian besar ikan pelagis
orientasi ikan dan sebagai bentuk rute alami; tingnaik ke permukaan sebelum matahari terbe-
nam.Setelah matahari terbenam, ikan-ikan ini me-
sebagai penyeimbang ekosistem laut (Campbell
nyebar pada kolom air, dan tenggelam ke lapisan
dan Reece, 2008).
lebih dalam setelah matahari terbit.Ikan demersal
Keanekaragaman
biasanya menghabiskan waktu siang hari di dasar
Keanekaragamanmerupakan jumlah dan
selanjutnya naik dan menyebar pada kolom air pa-
kelimpahan relatif dari spesies dalam sebuah
da malam hari.
komunitas biologis (Campbell dan Reece, 2008).
Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu
Dari beberapa pendapat di atas dapat
memijah dan pada larva.Jumlah cahaya yang terse-
disimpulkan bahwa keanekaragaman merupakan
dia
kelimpahan jumlah spesies yang menempati suatu
dapat
mempengaruhi
waktu
kematangan
ikan.Jumlah cahaya juga mempengaruhi daya hi-
daerah
dup larva ikan secara tidak langsung, hal ini diduga
dimaksud adalah keanekaragaman jenis Udang
berkaitan dengan jumlah produksi organik yang
Makroyang terdapat pada perairan Kampung Bugis
sangat
Kecamatan Tanjungpinang Kota.
dipengaruhi
oleh
ketersediaan
ca-
tertentu.
Dalam
Penelitian
ini
yang
haya.Cahaya juga mempengaruhi tingkah laku larZona intertidal
va.Penangkapan beberapa larva ikan pelagis diteZona Intertidal merupakan daerah laut
mukan lebih banyak pada malam hari dibandingkan
yang dipengaruhi oleh daratan. Zona ini memiliki
pada siang hari.(Reddy, 1993).
faktor fisik atau faktor kimia yang mendukung
semua organisme didalamnya untuk dapat tumbuh
Manfaat Crustacea
Sebagian
Malacostraca
dan berkembang dengan baik (Katili dalam Ha-
dimanfaatkan manusia sebagai makanan yang kaya
riyadi, 2012). Sedangkan menurut Rumimohtarto
protein hewani, contohnya adalah udang, kepiting,
dan Juana (2007) zona intertidal merupakan
dan rajungan. Namun, beberapa jenis Crustacea
bentangan pantai yang terletak antara paras air
juga dapat merugikan manusia, contohnya yuyu
tertinggi dari pasang surut purnama kearah daratan
yang dapat merusak tanaman padi di sawah dan
dan paras air terendah dari pasang surut purnama
ketam kenari perusak tanaman kelapa di Maluku.
kearah laut. Campbell dan Reece (2008) juga
Sub-kelas
berpendapat bahwa zona intertidal merupakan zona
manusia
besar
Entomostraca
sebagai
juga
pakan ikan
dimanfaatkan
untuk
industri
dangkal dari samudra yang bersisian dengan
perikanan. Crustacea juga mempunyai peranan
daratan dan terletak diantara garis pasang naik dan
yang sangat penting didalam ekologi laut yaitu
pasang surut.
Dari berbagai pendapat di atas dapat
maupun vertikal.Secara tidak langsung mengaki-
disimpulkan bahwa zona intertidal merupakan
batkan adanya perubahan komposisi organisme
daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di
dalam suatu ekosistem (Odum dalam Syamsurisal,
samudera dunia berupa pinggiran yang sempit.
2011). Crustacea yang bersifat mobile mempunyai
kemampuan untuk bergerak guna menghindari sa-
Parameter Kualitas Air
linitas yang terlalu rendah, namun Crustacea yang
1.
Salinitas
bersifat sessile akan mengalami kematian jika penFaktor yang bereaksi pada daerah intergaruh air tawar berlangsung lama (Campbell dan
tidal adalah salinitas yang mana dapat menimbulReece, 2008).
kan tekanan osmotik. Perubahan salinitas akan
mempengaruhi keseimbangan di dalam tubuh orga-
b.
Suhu
nisme melalui perubahan berat jenis air dan peru-
Suhu air permukaan diperairan nusantara
bahan tekanan osmosis. Semakin tinggi salinitas,
kita umumnya berkisar antara 28-31°C, dan suhu
semakin besar tekanan osmosisnya sehingga orga-
air didekat pantai biasanya sedikit lebih tinggi dari
nisme harus memiliki kemampuan beradaptasi ter-
pada dilepas pantai (Nontji dalam Syamsurisal,
hadap perubahan salinitas sampai batas tertentu
2011).Selanjutnya dikatakan bahwa hewan laut
melalui mekanisme osmoregulasi.Menurut (Ny-
dapat hidup pada batas suhu tertentu, ada yang
bakken dalam Hariyadi, 2012) osmoregulasi ada-
mempunyai toleransi besar terhadap perubahan
lah kemampuan mengatur konsentrasi garam atau
suhu, disebut bersifat euritem, sebaliknya ada pula
air di cairan internal.
toleransinya sangat kecil disebut bersifat steno-
Selanjutnya (Nybakken dalam Hariyadi,
term.Hewan yang hidup pada zona pasang surut
2012) menjelaskan bahwa fluktuasi salinitas di
dan sering mengalami kekeringan mempunyai daya
daerah intertidal disebabkan oleh dua hal. Pertama
tahan yang besar terhadap perubahan suhu.
akibat hujan lebat sehingga salinitas akan sangat
Hutabarat dan Evans dalam Syamsurisal
turun dan kedua akibat penguapan yang sangat
(2011) menjelaskan tentang daerah intertidal yang
tinggi pada siang hari sehingga salinitas akan san-
sangat berbahaya karena suhunya yang tinggi
gat tinggi. Organisme yang hidup di daerah inter-
akibat pemanasan dari sinar matahari. Hal ini yang
tidal biasanya beradaptasi untuk mentolerir peruba-
paling sering adalah resiko kemungkinan besarnya
han salinitas yang cukup tinggi yaitu sekitar 15 o/o.
kehilangan air tubuh yang basah dan sifatnya cepat
Salinitas dapat mempengaruhi penyebaran organisme Crustacea baik secara horizintal,
kehilangan air akibat penguapan.
Air murni (H2O) berasosiasi sempurna
c. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut (dissolved oxygen, dis-
sehingga memiliki ion H+ dan ion
ingkat DO) merupakan salah satu parameter pent-
OH—dalam konsentarasi yang sama, dan dalam
ing dalam analisis kualitas air.Nilai DO yang bi-
keadaan demikian pH air murni = 7. Semakin
asanya diukur dalam bentuk konsentrasi yang me-
tinggi konsentrasi ion H+, akan semakin rendah
nunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam
konsentrasi ion OH- dan pH < 7, perairan semacam
suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada
ini bersifat asam. Hal sebaliknya terjadi jika
air,mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas
konsentrasi ion OH- yang tertinggi dan pH > 7,
yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat
maka perairan bersifat alkalis (ba)
diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengue. Kecepatan Arus
kuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana baArus merupakan gerakan mengalir suatu
dan air mampu menampung biota air seperti ikan
massa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin,
dan mikroorganisme.Selain itu kemampuan air
perbedaan dalam densitas air laut, maupun oleh
untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan
gerakan bergelombang panjang, misalnya pasang
oleh banyaknya oksigen dalam air.Oleh sebab itu
surut (Nontji, 1993 dalam Fausan, 2011 ). Pasang
pengukuran parameter ini sangat dianjurkan dissurut juga dapat menggantikan air secara total dan
amping parameter lain (Effendi, 2003).
terus menerus sehingga perairan terhindar dari
pencemaran (Winanto, 2004 dalam Kangkan,
d.Derajat Keasaman
Derajat keasaman lebih dikenal dengan
2006).
III. METODOLOGI PENELITIAN
istilah pH. pH (singkatan dari pussance negatif de
H) yaitu logaritma dari kepekatan ion-ion H
A.
(hidrogen) yang terlepas dalam suatu cairan.
Waktu dan tempat
Penelitianini dilakukan pada
bulan No-
Derajat keasaman atau pH air menunjukkan
vember 2014 - Januari 2015 di Kampung Bugis,
aktivitas ion hidrogen dalam larutan tersebut dan
Kelurahan Kampung Bugis Kecamatan Tanjungpi-
dinyatakan sebagai
nang Kota.
konsentrasi ion
hidrogen
(dalam mol per liter) pada suhu tertentu atau dapat
+
ditulis pH= - log (H) (Kordi dan Tancung, 2007).
B.
Alat dan Bahan
Adapun parameter, metode serta alat dan
No
Keterangan
Alat
bahan yang digunakan didalam penelitian
Tabel 1. Parameter Uji, Bahan Dan Alat Serta
Metode Yang Digunakan
Kegunaan
ini
beserta fungsinya adalah dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
1.
Pengamatan Decapoda
2.
Parameter Kualitas Perairan
NO
Transek kuadran 100x 100 m
Roll meter
Kamera
Buku dan pena
Kertas label
Plastik sampel.
GPS
Multi Tester
Salt Meter
Current Meter buatan
Parameter
1.
Crustacea
2.
Suhu Perairan
3.
Kecepatan
Arus
4.
Oksigen
terlarut (DO)
Pengamatan
Menarik garis Titik
Dokumentasi
Mecatat hasil penelitian
Menandai sampel
Wadah untuk sampel
Menentukan titik koordinat
Mengukur pH, DO, Suhu
Mengukur salinitas
Mengukur kecepatan arus
Satuan
Bahan/Alat
Metode
Keterangan
Individu/m2
Kotak transek :
tali ,
Transek kuadrat
In situ
C
Thermometer
Elektometrik
In situ
m/detik
current drouge
Elektometrik
In situ
mg/l
DO meter
Elektrokimia
In situ
0
M
5.
Derajat
Keasaman
(pH)
6.
Salinitas
-
pH meter
Elektrokimia
In situ
etode
Peneli-
0
/00
Refraktometer
Elektrokimia
In situ
tian
merupak
C.
Metode Penelitian
an suatu sub-bagian perencanaan sebuah Praktek.
Penelitian
ini
bersifat
observational
(non1.
eksperimental),
dengan
menggunakan
Teknik Pengambilan Sampel
metode
Pengambilan
survey
analitik,data
di
peroleh
sampel
Decapoda
ini
dengan
dilakukan pada saat air laut menjelang surut dengan
mengumpulkan data kuantitatif di lapangan secara
metodePurposive
SamplingMetode
ini
langsung tanpa memberikan perlakuan khusus
dimaksudkan untuk mendata keanekaragaman jenis
(memberi perubahan) terhadap variabel-variabel
udang Decapoda di Titik Penelitian: untuk lebih
yang akan diteliti.
jelas dapat dilihat pada Gambar 3.
D.
Titik sampling
gambar3. Pengambilan Sampel Pada tititk sampling
Bibir pantai
2mtr
100 mtr
Bibir Pantai
2mtr
100 mtr
Bibir pantai
2mtr
100 mtr
Teknik Pengambilan sampel akan dilakukan den-
kap 2sampai dengan 3 meter dan panjang alat tang-
gan menggunakan alat tangkap yang diberi na-
kap 3 meter , di lakukan sebanyak 2 kali sepanjang
ma“sondong” dengan luas bukaan mulut alat tang-
100 meter dari bibir pantai di 3 tiga titik stasiun.
Gambar 4. Alat tangkap yang di gunakan untuk Pengambilan sampling
E.
F.
Peta Lokasi Penelitian
Pengukuran Kualitas air
angka yang setabil, kemudian nilai suhu pada
Adapun parameter fisika kimia air yang
thermometer dapat dilihat dan dicatat tanpa
diukur meliputi suhu, kecepatan arus, oksigen
mengangkatnya terlebuh dahulu dari air.
terlarut (DO), derajat keasaman (pH) dan salinitas.
2.
Kecepatan Arus
Secara terperinci prosedur pengukuran setiap
parameter fisika kimia perairan
adalah sebagai
berikut :
1.
Pengukuran kecepatan arus dilakukan
dengan
menggunakan
current
drouge
yang
dilepaskan di perairan dan dibiarkan hanyut
Suhu
Pengukuran parameter suhu dilakukan
berdasarkan SNI 06-6989.23 menurut Badan
Standarisasi Nasional (2005). Dalam pengukuran
terbawa arus hingga tali menegang lalu jarak
pindah dan waktu perpindahan dihitung dengan
menggunakan stopwatch. Kecepatan arus dihiting
dengan rumus berdasarkan SNI 06-2412-1991
parameter suhu air digunakan alat thermometer air
(Badan Standarisasi Nasional, 1991) :
raksa. Air raksa dalam termometer akan memuai
s
V = Dimana : V = kecepatan arus (m/det)
t
dan menyusut sesuai dengan suhu air yang
s = jarak (meter)
t = waktu (detik)
diperiksa sehingga suhu air dapat dibaca pada
sekala thermometer (oC). Cara pengukuran suhu
dengan termometer adalah dengan mencelupkan
termometer pada kolom air yang akan di analisis
selama 2-5 menit sampai termometer menunjukkan
3.
Oksigen Terlarut (DO)
Pengukuran oksigen terlarut dilakukan
berdasarkan
prosedur
Alaerts
dan
Santika
(1984)dengan menggunakan bantuan alat DO
meter. Pada DO meter terdapat Elektroda yang
06-6989.11 (Badan standarisasi, 2004) adalah
terdiri dari katoda Ag dan anoda Pb atau Au yang
sebagai berikut :
dilindungi oleh membran yang bersifat semi
1.
Terlebih dahulu alat dikalibrasi dengan
permeabel dan hanya O2 yang dapat menembus
larutan penyangga (sesuai intruksi kerja
membran tersebut. Pengukuran dengan DO meter
alat).
dilakukan dengan cara terlebih dahulu elektroda
2.
Selanjutnya
elektroda
dikeringkan
dikalibrasi dengan air suling lalu dikeringkan
dengan tisu kemudian dibilas kembali
dengan tisu kemudian elektroda dicelupkan ke
dengan air suling dan dikeringkan lagi
dalam perairan yang akan diukur secara in-situ lalu
dengan tisu.
dicatat angka yang ditunjukkan oleh DO meter.
3.
Kemudian elektroda dibilas dengan air
sampel yang akan diuji.
4.
Salinitas
4.
Lalu elektroda dicelupkan pada sampel
Prosedur pengukuran salinitas perairan
air yang ingin dianalisis, sampai pH
mengacu pada SNI 06-2412-1991 menurut Badan
meter menunjukkan nilai pembacaan
Standarisasi
Nasional
(1991).
Pengukuran
yang tetap.
dilakukan
dengan
menggunakan
hand
5.
Selanjutnya nilai pH hasil pembacaan
refractometer. Pengukuran diawali dengan terlebih
pada pH meter dapat dicatat.
dahulu alat dikalibrasi pada saat setiap ingin
mengukur, kemudian sampel air yang telah
G.
Analisis Data
1.
Struktur Komunitas Ikan
a.
Komposisi Spesies
disimpan pada botol sampel diteteskan pada hand
refractometer dan salinitas akan langsung terbaca
oleh alat dengan satuan 0/00.
Komposisi spesies adalah perbandingan antara
5.
Derajat keasaman (pH)
jumlah individu setiap spesies dengan jumlah
Pengukuran
pH
dilakukan
dengan
individu seluruh spesies yang tertangkap, dengan
menggunakan bantuan alat pH meter. Pada
formula yang dimodifikasi dari fachrul:
pengukuran dengan pH meter nilai pH (-logH+)
𝑛𝑖
Ks = 𝑥 100%
ditetapkan dengan metode pengukuran secara
potentiometri. Prosedur pengukuran nilai pH
menggunakan pH meter yang mengacu pada SNI
𝑁
Keterangan :Ks = Komposisi spesies/Jenis
:
ni = jumlah individu
setiap spesies ikan
:
dapat menunjukkan keseimbangan keanekaragaN = Jumlah individu
seluruh spesies ikan
b.
indeks
gambaran
tentang
man dalam suatu pembagian jumlah individu tiap
spesies.Sedikit atau banyaknya keanekaragaman
spesies ikan dapat dilihat dengan menggunakan
Indeks Dominansi
Nilai
Indeks keanekaragaman adalah nilai yang
dominansi
dominansi
memberikan
suatu
mempunyai nilai terbesar jika semua individu be-
komunitas ekologi, yang dapat menerangkan
rasal dari spesies yang berbeda beda. Sedangkan
bilamana suatu spesies ikan lebih banyak terdapat
nilai terkecil didapat jika semua individu berasal
selama
Indeks
dari satu spesies saja ( Odum, 1983 ). Nilai indeks
Dominansi Simpson ( C ) (odum,1993 dalam
keanekaragaman Shannon (H) menurut Shannon
Heriman, 2006 ) yaitu:
and Wiener 1949 dalam heriman ( 2006 ) dihitung
pengambilan
𝑛
C=
data.
dalam
indeks keanekaragaman. Indeks keanekaragaman
Rumus
menggunakan rumus :
ni 2
𝑖=1 N
Keterangan
H=−
C
=
Indeks
𝑛
𝑖=1
Pi log2 Pi
dominansi
Keterangan : H‘= indeks Keanekaragaman
Simpson
Pi = Proporsi jumlah
N
=
Jumlah
individu
individu (ni/N)
seluruh spesies
Nilai Indeks keanekaragaman Shannon –
ni= Jumlah Individu dari
Wiener ( Fachrul, 2007 dalam Zuraini,
spesies ke-i
2012) dengan kriteri sebagai berikut :
Indeks ominansi simpson berkisar berkisar antara 0
H‘< 1
:
Keanekaragaman
:
Keanekaragaman
:
Keanekaragaman
– 1 dengan criteria sebagai berikut :
populasi rendah
C = ~ 0, berarti dalam komunitas tidak ada jenis
1≤ H‘ ≤ 3
yang mendominan atau komunitas berada dalam
populasi sedang
keadaan stabil.
H‘ > 3
C = ~ 1, Berarti dalam komunitas ada dominansi
populasi tinggi
dari jenis tertentu atau komunitas berada dalam
keadaan tidak stabil.
c.
Indeks keanekaragaman
d.
Indeks Keseragaman
Nilai indeks keseragaman
(E) yaitu komposisi
E< 0,4
individu tiap spesies yang terdapat dalam komuni-
rendah
tas (Krebs, 1989 dalam Heriman , 2006). Kesera-
0,4 ≤ E 0,6
gaman jenis didapat dengan membandingkan in-
sedang
deks keanekaragamn dengan nilai maksimumnya,
E ≥ 0,6
yaitu :
tinggi
E=
: Keseragaman populasi
: Keseragaman populasi
: Keseragaman populasi
𝑯′
𝑯𝒎𝒂𝒙
IV.
Keterangan : E = Indeks keseragaman
H‘
=
Indeks
A.
keanekaragaman
Jenis Decapoda di perairan Kampung
Bugis
Hmax = Log2 S= Indeks
Hasil
keanekaragaman Shannon – Wiener
S
HASIL DAN PEMBAHASAN
identifikasi
jenis
decapoda
menggunakan ―World Registration of Marine
= Jumlah Spesies
Nilai keseragaman jenis suatu populasi
berkisar antara 0 – 1, dengan Kriteria
Spesies‖ dijumpai hasil identifikasi seperti pada
tabel 3.
sebagai berikut
Tabel 3. Hasil identifikasi Jenis Decapoda
Ordo
Family
Genus
Spesies
Aristeidae
Aristaeopsis
Palaemonidae
Macrobrrachium
Penaidae
Penaeus
Nematocarcinidae
nematocarcinus
Penaidae
Penaeus
Penaeidae
Penaeus
Portunidae
Portunus
Portunidae
Scylla
Decapoda
Aristaeopsis edwardsiana
Macrobrachium rosenbergii
Penaeus merguiensis
Nematocarcinus lanceopes
Penaeus peneus monodon
Penaeus semisulcatus
Portunus pelagicus
Scylla serrata
Sumber: Data Primer Tahun 2015
Dari hasil tabel diatas, menunjukkan
dae, sedangkan untuk Genus dijumpai sebanyak 5
bahwa jenis decapoda yang dijumpai di perairan
genus antara lain; Aristaeopsis, Macrobrrachium,
Kampung Bugis terdiri dari 4 Family diantara-
Penaeus, nematocarcinus, Scylla. Spesis/jenis yang
nyaAristeidae, palaemonidae, Penaidae, portuni-
dijumpai diperairan Kampung Bugis terdiri dari 8
Spesies Antara lain Aristaeopsis edwardsiana, Ma-
Scylla serrata. Namun secara keseluruhan hanya
crobrachium rosenbergii, Penaeus merguiensis,
terdapat beberapa jenis yang banyak dijumpai salah
Nematocarcinus lanceopes, Penaeus peneus mono-
satunya adalah jenis Penaeus merguiensis.
don, Penaeus semisulcatus, Portunus
1.
pelagicus,
Aristaeopsis edwardsiana
1. Hasil Identifikasi klasifikasi
1.
cea (Superclass) >
Penaeus monodon
Classification: Biota >
cea (Subphylum) >
Eumalacostraca (Subclass) >
Animalia (Kingdom) >
Arthropoda (Phylum) >
Crusta-
da (Superorder) >
Den-
3.
Portunus (Portunus) pelagicus
(Linnaeus, 1758)
Penaeoi-
Penaeidae (Family) >
Animalia (Kingdom) >
Pe-
Penaeus semisulcatus De Haan, 1844 [in
De Haan, 1833-1850]
Classification: Biota >
Animalia (Kingdom) >
Arthropoda (Phylum) >
cea (Subphylum) >
Crusta-
Penaeus monodon (Species)
cea (Subphylum) >
2.
Pe-
Penaeus semisulcatus (Species)
Arthropoda (Phylum) >
naeus (Genus) >
Penaeoi-
Penaeidae (Family) >
Classification: Biota >
dea (Superfamily) >
Den-
Eucari-
Decapoda (Order) >
drobranchiata (Suborder) >
naeus (Genus) >
Eucari-
Decapoda (Order) >
dea (Superfamily) >
Malacostraca (Class) >
Eumalacostraca (Subclass) >
da (Superorder) >
drobranchiata (Suborder) >
Multicrusta-
cea (Superclass) >
Malacostraca (Class) >
Crusta-
Multicrusta-
cea (Superclass) >
MulticrustaMalacostraca (Class) >
Eumalacostraca (Subclass) >
da (Superorder) >
Eucari-
Decapoda (Order) >
cyemata (Suborder) >
Pleo-
Brachyura (Infraorder) >
Eubrachyura (Section) >
ta (Subsection) >
ta (Subsection) >
Heterotrema-
Portunoidea (Superfamily) >
Portunidae (Family) >
Portuninae (Subfamily) >
Portunus (Genus) >
nus) (Subgenus) >
Portunoidea (Superfamily) >
Portunidae (Family) >
Scylla (Genus) >
Portuninae (Subfamily) >
Scylla serrata (Species)
Portunus (Portu-
Portunus (Portunus) pelagi-
6.
Macrobrachium rosenbergii schenkeli
Johnson, 1973
cus (Species)
Classification: Biota >
4.
Penaeus merguiensis de Man, 1888
Arthropoda (Phylum) >
cea (Subphylum) >
Classification: Biota >
Animalia (Kingdom) >
Crusta-
Multicrust cea (Superclass) >
Animalia (Kingdom) >
Malacostraca (Class) >
Arthropoda (Phylum) >
Crustaca (Subclass) >
cea (Subphylum) >
Eumalacostra-
Eucarida (Superorder) >
capoda (Order) >
cea (Superclass) >
Pleocyemata (Suborder) >
Malacostraca (Class) >
Caridea (Infraorder) >
Eumalacostraca (Subclass) >
da (Superorder) >
Palaemonoi-
Eucaridea (Superfamily) >
Decapoda (Order) >
Palaemonidae (Family) >
DenPalaemoninae (Subfamily) >
drobranchiata (Suborder) >
Macrobra-
Penaeoichium (Genus) >
dea (Superfamily) >
Penaeidae (Family) >
Macrobrachium rosenber-
Pegii (Species) >
naeus (Genus) >
De-
Multicrusta-
Macrobrachium rosenbergii
Penaeus merguiensis (Species)
schenkeli (Subspecies)
7.
5.
Scylla serrata (Forskål, 1775)
Classification: Biota >
cea (Subphylum) >
cea (Superclass) >
Crusta-
cyemata (Suborder) >
Eucari-
Heterotrema-
Multicrustacea (Superclass) >
Malacostraca (Class) >
Pleo-
Brachyura (Infraorder) >
Eubrachyura (Section) >
Animalia (Kingdom) >
Crustacea (Subphylum) >
Malacostraca (Class) >
Decapoda (Order) >
Classification: Biota >
Arthropoda (Phylum) >
Multicrusta-
Eumalacostraca (Subclass) >
da (Superorder) >
1868)
Animalia (Kingdom) >
Arthropoda (Phylum) >
Aristaeopsis edwardsiana (Johnson,
Eumalacostraca (Subclass) >
Eucarida (Superorder) >
Decapoda (Order) >
Dendrobranchiata (Suborder) >
Penaeoidea (Superfamily) >
cyemata (Suborder) >
Aristeidae (Family) >
Nematocarcinoidea (Superfamily) >
Aristaeopsis (Genus) >
Aristaeopsis edwardsiana (Species)
cinidae (Family) >
Caridea (Infraorder) >
Nematocar-
Nematocarcinus (Genus) >
Nematocarcinus lanceopes (Species)
8.
Nematocarcinus lanceopes Spence Bate,
1888
Classification: Biota >
B.
Animalia (Kingdom) >
Arthropoda (Phylum) >
Komposisi Decapoda di perairan
Kampung Bugis
CrustaKomposisi jenis decapoda yaitu persentase
cea (Subphylum) >
Multicrustasuatu jenis dibandingkan dengan jumlah decapoda
cea (Superclass) >
Malacostraca (Class) >
seluruh jenis. Hasil analisis komposisi jenis deca-
Eumalacostraca (Subclass) >
da (Superorder) >
Eucari-
Decapoda (Order) >
poda diperaran Kampung Bugis dapat dilihat pada
Pleo-
Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Komposisienis Decapoda
Jenis
Aristaeopsis edwardsiana
Macrobrachium rosenbergii
Jumlah
Komposisi
256
37,26
6
0,87
413
60,12
Nematocarcinus lanceopes
1
0,15
Penaeus peneus monodon
2
0,29
Penaeus semisulcatus
5
0,73
Portunus pelagicus
1
0,15
Scylla serrata
3
0,44
Penaeus merguiensis
JUMLAH
687
100
Sumber : Data Primer Tahun 2015 menerangkanPenaeus merguiensis Komposisi tertinggi.
Dari table di atas didapatkan hasil Komposisi jenis
nodondengan Persentase 0,29,jenisPenaeus semi-
Aristaeopsis edwardsianadengan persentase 37,26
sulcatus 0,73%,jenisPortunus pelagic dengan per-
%,jenisMacrobrachium rosenbergiidengan Persen-
sentase 0,15%,jenis Scylla serrata dengan persen-
tase 0,87%,JenisPenaeus merguiensisdengan per-
tase 0,44% .selanjutnya komposisi jens decapoda
sentase 60,12%, jenisNematocarcinus lanceopes
dapat ilihat pada gambar 6.
dengan persentase 0,15%,jenisPenaeus peneus mo-
Penaeus peneus
monodon, 0.29
Penaeus
semisulcatus, 0.73
Portunus
pelagicus, 0.15
Nematocarcinus
lanceopes, 0.15
Scylla serrata, 0.44
Aristaeopsis
edwardsiana, 37.2
6
Penaeus
merguiensis, 60.12
Macrobrachium
rosenbergii, 0.87
Sumber Data Primer 2015
Gambar 14. Komposisi Jenis Decapoda
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat
Kampung Bugis diduga jenis ini memiliki penyeba-
bahwa jenis decapoda yang memiliki komposisi
ran yang luas diperairan didukung pada saat pen-
tertinggi yaitu jenis Penaeus merguiensis dengan
gambilan data merupakan musim tangkapan jenis
persentase jenis 60,12 %. Melihat dari hasil terse-
Penaeus merguiensis
but dapat dikatakan bahwa jenisPenaeus merguien-
C.
Indeks Keanekaragaman,
sis paling banyak ditemukan diperairan Kampung
Keseragaman, dan Dominansi
Bugis. Kondisi ini didukung oleh pengamatan peUntuk melihat suatu Komunitas dalam suneliti selama melakukan penelitian bahwa jenis
atu Ekosistem digunakan pendekatan ekologi peraiPenaeus merguiensis merupakan decapoda yang
ran untuk melihat kondisi perairan. Hasil analisis
umumnya menjadi target tangkapan Nelayan sekiIndeks
Keanekaragaman,
Keseragaman,
tar. Keberadaannya yang tinggi pada perairan
Dominansi dapat ilihat pada table 5.
Tabel 5.Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi
Nilai
Indeks
Kategori
Keanekargaman (H)
1,17
SEDANG
Keseragaman (E)
0,39
RENDAH
Dominansi (C)
0,50
SEDANG
Sumber Data Primer 2015.
dan
Berdasarkan hasil analisis tersebut didapati hasil
gan kategori keseragaman yang rendah. Untuk in-
indeks Indeks Keanekaragaman sebesar 1,17 den-
deks dominansi didapatkan hasil 0,50 dengan kate-
gan kategori indeks ke anekaragaman sedang. Un-
gori sedang. Hasil indeks keanekaragaman, kese-
tuk indeks keseragaman didapatkan hasil 0,39 den-
ragaman , dominansi dapat ilihat pada gambar 7.
Indeks
Keanekaragaman, Keseragaman, Dominansi
1.17
0.50
0.39
Keanekargaman (H) Keseragaman (E)
Dominansi (C)
Gambar 15. Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, Dominansi
Dari gambar I atas dapat disimpulkan
bahwa keanekaragaman spesies dalam kondisi yang
individu yang jumlahnya jauh lebih besar, maka
keanekaragaman suatu ekosistem akan mengecil.
sedang. Dengan demikian dapat disimpulkan bah-
Untuk indeks keseragaman dalam kondisi
wa kondisi perairan dalam keadaan kurang baik
keseragaman yang Rendah mencirikan bahwa
atau terjadi pencemaran ringan dapat dilihat kondi-
adanya gangguan terhadap kondisi perairan men-
si lokasi yang merupakan kawasan pemukiman
gindikasikan terjadinya pencemaran perairan dili-
sehingga menimbulkan buangan berupa sampah
hat dari keseragaman yang rendah.Keseragaman
sampah organic dan anorganik dengan adanya
menggambarkan selisih antara jumlah spesies yang
buangan tersebut dapat mengurangi kualitas perai-
tidak seragam atau ada satu jenis yang menguasai
ran sehingga kualitas air tersebut menurun dan da-
jumlah keseluruhan decapoda dalam suatu komuni-
pat mempengaruhi komunitasdecapoda.Menurut
tas diperairan Kampung Bugis. Indeks keseraga-
Odum ( 1971) keanekaragaman mencakup dua hal
man menunjukkan komposisi inividu tiap jenis
penting yaitu banyaknya jenis yang ada dalam sua-
yang terdapat dalam suatu komunitas berada dalam
tu komunitas dan kelimpahan dari masing masing
keseimbangan .nilai indeks yang mendekati 1 me-
jenis tersebut, sehigga makin kecil jumlah jenis dan
nunjukkan penyebaran dari tiap jenis relative sama
variasi jumlah individu tiap jenis atau ada beberapa
Odum (1971 ).
Selanjuntnya Indeks Dominansi dida-
Secara keseluruhan dari hasil indeks ter-
patkan hasil dengan kategori dominansi yang Se-
sebut dapat disimpulkan bahwa kondisi perairan
dangmencirikan bahwa adanya jenis decapoda
dalam keadaan yag kurang baik sehingga mempen-
yang mendominansi meskipun dalam kondisi yang
garuhi komunitas decapoda diperairan Kampung
sedang.Berdasarkan hasil analisis menunjukan
Bugis. Aktifitas aktifitas pesisir berupa pemukiman
bahwa jenis yang memiliki kelimpahan yang ter-
diduga menjadi factor utama perubahan kualitas
tinggi adalah jenis Penaeus merguiensisyang me-
perairan.
nunjukkan bahwa jenis ini mendominansi diperai-
D.
Kondisi Fisika Kimia Perairan
ran Kampung Bugis.Indeks dominansi berguna
Kampung Bugis
untuk menghitung adanya jenis tertentu yang men-
Hasil pengukuran Fisika Kimia Perairan
dominansi suatu komunitas biota.Jumlah jenis yang
Kampung Bugis secara lengkap meliputi Suhu,
ada pada komunitas tersebut juga turut menetukan
Salinitas, Ph, Do dapat dilihat pada Tabel 6.
besarnya nilai indeks tersebut.
Tabel 6. Hasil Pengukuran Kondisi Fisika Kimia Perairan
TITIK
ULANGAN
1
1
2
3
1
2
2
3
1
3
2
3
RATA – RATA
KISARAN
1. Suhu
SUHU
30,8
29,6
29,9
30,7
30,6
30,4
31,1
31,8
31,5
30,71
29,6 - 31,8
SALINITAS
35,4
36
34,7
35,5
36,1
36,7
36,6
36,7
36,3
36,00
34,7 - 36,7
ARUS
0,13
0,41
0,17
0,0346
0,038
0,044
0,052
0,05
0,053
0,11
0,03- 0,41
PH
7,97
7,49
7,45
7,21
6,89
7,64
7,36
7,25
8,06
7,48
6,89-8,06
DO
5,9
7
7,2
4,1
3,1
4,5
6,2
6
6,7
5,63
4,1 - 7,2
mutu
optimum
untuk
kehidu-
pan decapoda. Artinya kondisi suhu pada perairan
Kondisi suhu diperaira Kampung Bugis
Kampung Bugis lebih tinggi dibaningkan dengan
0
0
berada pada kisaran 29,6 C – 31,8 C dengan rata
kisaran optimal yang itentukan. Kondisi suhu yang
0
rata suhu 30,71 C.Umumnya organism aquatic
tinggi dipengaruhi oleh terik matahari pada saat
memerlukan suhu optimum berkisar antara 20 -30
siang hari sehingga mempengaruhi kondisi suhu
0
C.sedangkan suhu optimum untuk beberapa jenis
perairan yag cenderung lebih tinggi. Namun secara
Crustacea adalah 26 – 30 0C ( Romimohtarto &
keseluruhan suhu periaran masih dapat di adaptasi
Juwana, 2001 ). Mengacu dari hasil tersebut suhu
iperairan kampug Bugis sedikit melampaui baku
jenis decapoda yang ada di perairan Kampung Bu-
si.Mengacu dari hasil tersebut kondisi arus tergo-
gis.
long lambat sehingga tidak begitu berpengaruh
terhadap penyebaran bahan organic yang di man-
2.
Salinitas
faatkan oleh hewan decapoda sebagai sumber baKondisi
salinitas diperairan Kampung
han makanan.
Bugis berada pada kisaran 34, 70/00 – 36,70/00 dengan rata rata salinitas 36,00.0/00.Salinitas merupa-
4.
Derajat Keasaman
kan factor pembatas untuk kelangsungan hidup
Kondisiderajat keasaman diperairan Kam-
makrozoobentos termasuk crustacean, baik yang
pung Bugis berada pada kisaran 6, 89 – 8,06 den-
hidup di air tawar maupun air laut. Salinitas yang
gan rata rata derajat keasman 7,48.Erajat keasaman
optimum bagi Krustacea berkisar 23 – 26 0/00 ( Alfi-
air laut cendeerung berada dalam keseimbangan
triatussulus, 2003 ). Mengacu pada pendapat terse-
karena ekosistem air laut mempunyai kapasitas
but dapat diartikan bahwa kondisi salinitas sangat
penyangga yang mampu mempertahankan nilai pH.
tinggi dan melebihi baku mutu yang ditentukan.
Menurut Odum (1971 ) air laut merupakan system
Namun hasil penelitian bahwa menunjukkan masih
penyangga yang sangat luas dengan Ph relative
ditemukan 8 jenis decapoda yang mengartikan
stabil sebesar 7,0 – 8,5.Mengacu pada pendapat di
bahwa salinitas masih dapat ditoleransi oleh deca-
atas rata rata derajat keasaman perairan kampung
poda tersebut.Tingginya salinitas dipengaruhi oleh
Bugis masih sesuai dengan PH optimum untuk
suhu akibat teriknya matahari sehingga terjadinya
kehiupan biota perairan meskipun pada perairan
penguapan yang mengakibatkan tingginya salinitas.
tersebut terdapat berbagai aktifitas namun begitu
3.
Kecepatan Arus
mempegaruhi kondisi PH perairan.
Kondisi Kecepatan arus diperairan Kam-
5.
Oksigen Terlarut
pung Bugis berada pada kisaran 0,03 – 0,41
Kondisi ogsigen terlarut diperairan Kam-
M/detik degan rata rata kecepatan arus 0,11
pung Bugis berada pada kisaran 4,1 mg/l – 7,2
M/detik. Menurut Wood (1987 ) dalam Wijayanti
2007 bahwa kisaran 0,1 – 1 m/detik termasuk ka-
mg/l dengan rata rata ogsigen terlarut 5,63 mg/l.
menurut KepMen LH tahun 2004 megenai Baku
Mutu Ogsigen terlarut untuk biota perairan yang
tegori sedang, dimana menguntungkan bagi orga-
menentukan nilai ogsigen terlarut yang memenuhi
nisme dasar terjadi pembaruan antara bahan organ-
kisaran optimal adalah diatas 5 Mg/l. mengacu dari
ic dan anorganik dan tidak terjadi akumula-
hasil tersebut kondisi ogsigen terlarut masih layak
untuk kehidupan decapoda.
Menurut Effendi ( 2003 ) mengatakan
dengan kategori keseragaman yang rendah. Untuk
bahwa kisaran ogsigen terlarut yang cukup untuk
indeks dominansi didapatkan hasil 0,50 dengan
kehidupan biota perairan sebaiknya lebih dari 5
kategori sedang.
Mg/l, namun beberapa biota perairan masih dapat
B. Saran
hidup pada kadar ogsigen terlarut dibawah 4 mg/l
meskipun akan mempengaruhi kondisi fisiologis-
Adapun saran yang ingin di sampaikan oleh peneli-
nya. Kemudian wijayanti ( 2007 ) menjelaskan
ti meliputi :
bahwa ogsigen bahwa factor pembatas penting da-
1. Perlu dilakukan penelitian alnjutan mengenai
lam kehidupan perairan.
V.
pola sebaran decapoda diperairan Kampung
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Bugis
2. Perlu dilakukan penelitian mengenai Kondisi
Spesies/jenis yang dijumpai diperairan
Kampung Bugis terdiri dari 8 Spesies Antara lain
Aristaeopsis edwardsiana, Macrobrachium rosenbergii, Penaeus merguiensis, Nematocarcinus lanceopes, Penaeus peneus monodon, Penaeus semi-
Populasi Decapoda Khususnya yang memiliki
nilai ekonomis diperairan Kampung Bugis.
3. Perlu menjaga kondisi perairan Kampung Bugis
agar tetap dalam kondisi yang sesuai baku mutu
bagi kehidupan organisme aquatic.
sulcatus, Portunus pelagicus, Scylla serrata.
DAFTAR PUSTAKA
Komposisi jenis Aristaeopsis edwardsianadengan persentase 37,26 %, jenisMacrobrachium
rosenbergiidengan Persentase 0,87%,JenisPenaeus
merguiensisdengan persentase 60,12%, jenisNematocarcinus
lanceopes
dengan
persentase
Abele, I.G. 1982. The Biology of Crustacea : volume 1. Academis Press. New York.
Andiarto H. 2005. Studi Ekologi, Morfometri
Tedong Gonggong (Strombus canarium
Linne, 1758) dan Asosiasinya dengan Fauna
Molusca di Perairan Pulau Bintan Riau.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
0,15%,jenisPenaeus peneus monodondengan PerBudianto Agus. 2013.
sentase 0,29, jenisPenaeus semisulcatus 0,73%,
http://agussangi.blogspot.com/2013/01/prop
jenisPortunus pelagic dengan persentase 0,15%,
osal-
jenis Scylla serrata dengan persentase 0,44%.
Berdasarkan hasil analisis tersebut didapati
hasil indeks Indeks Keanekaragaman sebesar 1,17
dengan kategori indeks ke anekaragaman sedang.
Untuk indeks keseragaman didapatkan hasil 0,39
penelitian.html.di akses pada Tang-
gal 06 Mei 2014
Badan Standardisasi Nasional. 2005. Air dan air
limbah-Bagian 23: Cara uji suhu air dengan
alat thermometer. SNI 06-6989.23. Jakarta
Badan Standardisasi Nasional. 2004. Air dan air
limbah-Bagian 11: Cara uji derajat
keasaman dengan alat pH meter. SNI 066989.11. ICS No 13.060.50. Jakarta
Badan Standardisasi Nasional. 1991. Metode
Pengambilan Contoh Uji Kualitas Air. SNI
06-2412. Jakarta.
Cambell NA., Reece JB dan Mitchell LG. 2008.
Biologi Edisi Kelima Jilid 3, Erlangga,
Jakarta.
Effendi, H. 2000.Telaah Kualitas Air Bagi pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan.
Jurusan MSP. Fakultas Perikanan dan Kelautan. IPB: Bogor.
Effendi, H. 2003.Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya Dan Lingkungan Perairan. Kanisius: Yogyakarta.
Fast A.W. adnd Lester, L.J. 1992.Pond Monitoring
and Management Marine Shrine Culture
Principle and Practise. Metherlands, Amsterdam.
Hayes L.M dan Leavastu. 1982. Fisheries Oceanographiy and Ecologi. England : Fhising new
book ltd.
Hela I dan Leavastu. 1982. Fisheries Oceanographiy new Ocean Enviromental Service. England : Fhising new book ltd.
Kangkan LA. 2006. Studi Penentuan Lokasi untuk
Pengembangan Budidaya Laut Berdasarkan
Parameter Fisika, Kimia dan Biologi di Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur. Program
Pascasarjana, Universitas Dipenogoro. Semarang
Kordi M.GH dan Tancung AB. 2007. Pengelolaan
kualitas air. Rineka Cipta. pJakarta.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan: H. M. Eidman, Koesoebiono, D. G. Bengen, M. Hutomo dan S. Sukardjo. Gramedia, Jakarta.
456 hal.
Perry, herriet M. 2008.Marine Resources and History of Gulf Coast.http://dmr.state.ms.us
Romimohtarto, K. dan Juwana, S. 2009. Biologi
Laut, Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut.
Jakarta. Djambatan.
Reddy M.DM. 1993. Influence of The Variouse
Oceanographic on The Abundance of Fhis
Catch, Proseeding of International Workshop. India.
.
Rizal. 2009. ―Semua Tentang Windu‖.http://rizalbbapujungbatee.blogspot.com/
2009/05/semua-tentang-udang-windu.html. di
akses pada Tanggal 06 Mei 2014
Rusyana, Adun. Zoologi Invertebrata. Bandung:
ALFABETA, 2011.
Syamsurisal.2011. Studi Beberapa Indeks Komunitas Malrozoobentos di Hutan Mangrove, Universitas Hassanudin, Makasar.
Wyban, James A dan james M. Sweeny. 1991. Interive Shrimp Production Technologi.Oceanic Institute Hawaii, Hawaii.
Download