manfaat ekstrak rumput kebar terhadap penampilan

advertisement
MANFAAT EKSTRAK RUMPUT KEBAR (Biophytum
petersianum Klotzsch) TERHADAP PENAMPILAN
REPRODUKSI MENCIT PUTIH BETINA
PETRUS D. SADSOEITOEBOEN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2005
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul : Manfaat Ekstrak
Rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) terhadap Penampilan
Reproduksi Mencit Putih Betina, adalah karya saya sendiri dan belum diajukan
dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi
yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan
dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicamtumkan dalam Daftar
Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Agustus 2005
Petrus D. Sadsoeitoeboen
NRP: B651020021
ABSTRAK
PETRUS DOMINIKUS SADSOEITOEBOEN. Manfaat Esktrak Rumput Kebar
(Biophytum petersianum Klotzsch) terhadap Penampilan Reproduksi
Mencit Putih Betina. Dibimbing oleh BAMBANG PURWANTARA dan ITA
DJUWITA
Rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) merupakan tumbuhan perdu
yang tumbuh menyebar secara meluas di Afrika, Madagaskar dan Asia Tenggara
termasuk beberapa pulau lain di Indonesia, kecuali Semenanjung Malaka, Sumatera
dan Kalimantan. Di Irian Jaya Barat rumput ini hanya terdapat pada dataran tinggi
Kecamatan Kebar Kabupaten Manokwari dengan ketinggian rata-rata 500 – 600
meter dpl, dan lebih dikenal dengan nama rumput Kebar. Tumbuhan ini merupakan
salah satu tanaman yang dipakai secara turun temurun oleh penduduk Kebar
sebagai obat tradisional untuk berbagai keperluan kesehatan.
Penelitian ini untuk mengetahui kandungan bahan kimia rumput Kebar, dosis
terbaik pemberian ekstrak rumput Kebar dan pengaruhnya terhadap peningkatan
penampilan reproduksi mencit putih (Mus musculus albinus) betina. Kandungan
kimia yang terdapat dalam rumput Kebar (asam amino, protein, lemak, vitamin dan
mineral) dilakukan analisa dengan metode proksimat. Lama siklus estrus dilakukan
dengan metode ulas vagina selama 4 siklus yaitu 2 siklus sebelum perlakuan dan 2
siklus selama perlakuan. Jumlah anak sekelahiran diperoleh dengan cara
menghitung anak yang lahir dari setiap induk, sedangkan bobot lahir anak
sekelahiran diperoleh dengan cara menimbang anak yang lahir sesaat setelah
dilahirkan.
Digunakan mencit putih betina dewasa strain DDY 80 ekor dengan berat badan
berkisar antara 30 – 40 gram (rata-rata 35 gram), yang dibagi dalam dua kelompok
yaitu 40 ekor untuk koleksi embrio dan 40 ekor lainnya untuk mengetahui jumlah
anak, dan bobot anak sekelahiran serta jantan fertil 40 ekor sebagai pemacek (rasio
jantan betina, 1 : 2). Pemberian ekstrak rumput Kebar dilakukan dengan cara
mencekok mencit percobaan dengan dosis perlakuan 0.045 mg/g bb (dosis 1), dosis
0.09 mg/bb (dosis 2) dan dosis 0.135 mg/g bb. Pencekokan dilakukan selama 10
hari, kemudian induk langsung dikawinkan. 10 ekor induk dari masing-masing
perlakuan yang positif kawin (ditunjukkan dengan adanya sumbat vagina) pada hari
ke 4 dimatikan untuk koleksi embrio, sedangkan 10 ekor lainnya dibiarkan sampai
terjadi kelahiran.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat
perlakuan dan 10 ulangan. Jika terdapat perbedaan antar perlakuan, dilanjutkan
dengan uji Beda Nyata Terkecil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi kimia rumput Kebar
(Biophytum petersianum Klotzsch) terdiri dari protein 7.35%, lemak 0.72%, mineralmineral dalam bentuk Ca dan P masing-masing 1.52% dan 0.60%, dan terdiri atas 17
asam amino. Pemberian ekstrak rumput Kebar dosis 2 dan dosis 3 mampu
meningkatkan (P<0.05) rata-rata lama estrus, perkembangan embrio sampai tahap
blastosis, pertambahan bobot badan induk, jumlah anak dan bobot lahir masingmasing 63.60 ± 9.88 dan 63.60 ± 5.80 jam, 8.71 ± 1.11 dan 10.86 ± 1.68 sel, 0.35 ±
0.04 dan 0.31 ± 0.02 gram/ekor, 11.70 ± 0.67 dan 12.90 ± 0.99 ekor, 1.77 ± 0.11 dan
1.69 ± 0.10 gram/ekor.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak rumput Kebar mampu
memperpendek siklus estrus, memperpanjang lama estrus, meningkatkan jumlah
embrio, pertambahan bobot badan induk, jumlah anak sekelahiran serta bobot lahir
anak dan pemberian ekstrak rumput Kebar per oral sebanyak 0.135 mg/gram bobot
badan merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan penampilan reproduksi mencit
putih betina.
ABSTRACT
PETRUS DOMINIKUS SADSOEITOEBOEN. The Beneficial of Biophytum
petersianum Klotzsch Extract on the Reproduction Appearance
Performance of Female Mus musculus albinus. Under the supervision of
BAMBANG PURWANTARA and ITA DJUWITA.
Biophytum petersianum Klotzsch is a cushion plant which grows and
distribute from Africa, Madagascar and South-East Asia include few islands in
Indonesia, except to Malay Peninsula, Sumatera and Kalimantan. In Indonesian
Province of Irian Jaya Barat, this plant is restricted to the area of Kebar valley
(Kebar district, Manokwari regency) with altitude 500 – 600 m asl., and also
known as the Kebar’s grass. This plant has been used by local people for many
years as traditional drug through simple process for various health need.
The objective of this research is to identify the chemicals content of the
Kebar’s grass (Biophytum petersianum Klotzsch), and its effect on appearance of
the reproduction performance in female Mus musculus albinus. The chemicals
content (amino acids, proteins, lipids, vitamins and minerals) of the Kebar’s grass
extract were analyzed using proximate analysis methods. The periode of oestrus
cycle was done by vagina’s smear method for 4 cycles (2 cycles before the
treatment and 2 cycles during the treatment). Litter size was obtained by
calculating of each female, and the body weight litter obtained by weighing.
Eighty adult females (body weight mean 35 gram) were devided into four
groups, consist of females and well be analyzed for (a) quality and quantity of
embryos, (b) litter size and weight. Ten days before and during treatment (4
cyclus) all females were examined their oestrus cycle using vagina smear
methods. After treatment all females were mated with male mice (ratio 1 : 2).
Sign of mating was examined by the presenced of vaginal plug. Four days after
mating ten females of each group were sacrisfie followed by early embryo
collection; while ten other were breeded until partus to examine the litter size and
weight.
The experiment was designed by using completely random design with four
treatments and ten replications. The data were analyzed by using analysis of
variance and LSD was applied to compares statistical differences between each
treatments.
The results showed that the chemicals content of the Kebar’s grass extract
are protein 7.35%, lipid 0.72%, minerals; Ca, P, 1.52% and 0.60%, respectively
and 17 amino acids contains. The application of this extract with 0.090 and 0.135
mg/g body weight extend the oestrus length and increase number embryo,
increasing daily gain, mean of litter size and weight; 63.60 ± 9.88 and 63.60 ±
5.80 hours, 8.71 ± 1.11 and 10.86 ± 1.68 cells, 0.35 ± 0.04 dan 0.31 ± 0.02 gram,
11.70 ± 0.67 and 12.90 ± 0.99 weigth and 1.77 ± 0.11 dan 1.69 ± 0.10,
respectively.
In conclusion, Kebar’s grass extract extend the oestrus length, increase
quality and quantity of embryos, daily gain, litter size and litter weight. The oral
application of the Kebar’s grass extract 0.135 mg/g body weight, is the best to
can improve the reproduction performance of female Mus musculus albinus.
©Hak cipta milik Petrus D. Sadsoeitoeboen, tahun 2005
Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin dari
Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik
cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya
Manfaat Ekstrak Rumput Kebar (Biophytum
petersianum Klotzsch) terhadap Penampilan
Reproduksi Mencit Putih Betina
PETRUS D. SADSOEITOEBOEN
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada Program Studi Biologi Reproduksi
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2005
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian
: Manfaat Ekstrak Rumput Kebar
petersianum Klotzsch) terhadap
Reproduksi Mencit Putih Betina
Nama Mahasiswa
NRP
Program Studi
: Petrus D. Sadsoeitoeboen
: B651020031
: Biologi Reproduksi
(Biophytum
Penampilan
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. drh. Bambang Purwantara, M.Sc
Ketua
Dr. drh. Ita Djuwita, M.Phil
Anggota
Ketua Program Program Studi
Dekan Sekolah Pascasarjana IPB
Dr. drh. Tuty L. Yusuf, MS
Prof. Dr.Ir. Syafrida Manuwoto, M.Sc
Tanggal Ujian : 10 November 2005
Tanggal Lulus :
Biologi Reproduksi,
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Manokwari pada tanggal 31 Oktober 1965 dari
pasangan Joseph M Sadsoeitoeboen (Alm) dan Wihelmina Rejaan. Penulis
merupakan putra keenam dari tujuh bersaudara.
Tahun 1984 penulis lulus dari SMA Katholik St. Agustinus Sorong Irian
Jaya Barat dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Fakultas Pertanian
Universitas Negeri Cenderawasih melalui jalur Seleksi Sipenmaru. Penulis
memilih Program Studi Peternakan, Jurusan Budidaya Pertanian dan lulus pada
tahun 1989.
Tahun 1990 penulis diterima sebagai staf pengajar di Sekolah Pertanian
Pembangunan (SPP) Negeri Manokwari dan mengasuh bidang studi Reproduksi
Ternak, Ternak Potong Kerja, Swakarya Wirausaha dan Fisika. Tahun 2002
penulis diterima sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian
(STPP) Negeri Manokwari Irian Jaya Barat dan pada tahun yang sama penulis
diberi kesempatan untuk melanjutkan studi pada Program Magistes Sains (S2)
dan diterima di Program Studi Biologi Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan
pada Sekolah Pascasarjana IPB.
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
berkatNya penyusunan tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini memuat penelitian
tentang Manfaat Ekstrak Rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch)
terhadap Penampilan Reproduksi Mencit Putih Betina.
Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih
pada
bapak Dr. drh. Bambang Purwantara, M.Sc dan Ibu Dr. drh. Ita Djuwita, M.Phil.
masing-masing sebagai ketua dan anggota komisi pembimbing atas arahan dan
bimbingan mulai penyusunan rencana penelitian sampai penyelesaian tesis.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih dan
penghargaan kepada Ibu Dr. drh. Tuty L. Yusuf, MS, Ketua Program Studi Biologi
Reproduksi Sekolah Pascasarjana IPB yang bersedia menjadi Penguji Luar
Komisi dan telah memberikan banyak masukan bagi penyempurnaan tesis ini.
Khusus untuk Rani, drh.Candramaya siska, A. Selamet Aku, S.Pt, M.Si,
Ir. Wellem H Muskita dan tim Laboratorium Embriologi FKH IPB yang telah
banyak membantu dalam penelitian, Keluarga Besar Program Studi Biologi
Reproduksi SPs IPB, Badan Pengembangan SDM Departemen Pertanian RI dan
Pimpinan serta Keluarga Besar STPP Manokawari yang telah memberikan
bantuan dana dan izin melanjutkan pendidikan, melalui kesempatan ini ucapan
terima kasih dan penghargaan disampaikan.
Buat Istri tercinta Jakomina Karolina Marini, SH, M.Hum, anak-anakku
Fransiska Alfiani Merry dan Daniel Joseph Sadsoeitoeboen yang rela tinggal
ditinggal lama, selalu berdoa untuk Bapak mereka serta Mama, Bapak (Alm),
saudara-saudaraku dan keluarga Mertua yang terus mendorong keberhasilan
studi, hanya tesis ini dipersembahkan semoga semua pengorbanan yang ada
dapat membawa kebaikan dimasa datang.
Semoga tesis ini dapat bermanfaat dalam bentuk yang nyata sehingga
tujuan pemanfaatan dari hasil penelitian ini dapat diperoleh.
Bogor, Oktober 2005
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ..............................................................................................
Hal
iii
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................
Iv
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................
v
PENDAHULUAN..............................................................................................
1
Latar Belakang............................................................................................
1
Tujuan Penelitian.........................................................................................
2
Manfaat Penelitian.......................................................................................
2
Hipotesis......................................................................................................
2
TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................
3
Rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch).....................................
3
Sistimatika Rumput Kebar.....................................................................
3
Habitat Rumput Kebar ...........................................................................
4
Fungsi Biologi Ekstrak Rumput Kebar ...................................................
4
Biologi Mencit..............................................................................................
5
Fisiologi Reproduksi Mencit Putih .........................................................
5
Siklus Estrus...........................................................................................
6
Perkembangan Embrio Mencit ..............................................................
8
Peranan Asam Amino terhadap Perkembangan Embrio.......................
10
MATERI DAN METODE..................................................................................
12
Tempat dan Waktu Penelitian....................................................................
12
Materi Penelitian..........................................................................................
12
Rumput Kebar........................................................................................
12
Pembuatan Larutan Esktrak Rumput Kebar.....................................
12
Pemberian dan Dosis Esktrak Rumput Kebar...................................
12
Hewan Percobaan..................................................................................
13
Metode Penelitian........................................................................................
14
Analisa Proksimat...................................................................................
14
Penentuan Jumlah dan Berat Molekul Protein.......................................
14
i
Uji Biologis ............................................................................................
16
Penelitian Pendahuluan....................................................................
16
Penelitian Utama ..............................................................................
17
Rancangan Percobaan dan Analisis Statistik..............................................
18
Parameter Penelitian ..................................................................................
20
HASIL DAN PEMBAHASAN ..........................................................................
21
Penelitian Pendahuluan..............................................................................
21
Komposisi Kimia Rumput Kebar.............................................................
21
Jumlah dan Berat Molekul protein..........................................................
23
Uji Biologis pada Mencit Afkir................................................................
23
Penelitian Utama.........................................................................................
25
Siklus dan Lama Estrus..........................................................................
25
Jumlah Embrio.......................................................................................
28
Pertambahan Bobot Badan Induk, Jumlah Anak Sekelahiran
dan Bobot Lahir .....................................................................................
30
SIMPULAN DAN SARAN................................................................................
34
Simpulan.....................................................................................................
34
Saran..........................................................................................................
34
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................
35
LAMPIRAN......................................................................................................
39
ii
DAFTAR TABEL
No. Uraian
Hal
1. Data Biologis dan Reproduksi Mencit Laboratorium...............................
5
2. Komposisi Kimia Rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch)....
21
3. Komposisi Asam Amino Rumput Kebar (Biophytum
petersianum
Klotzsch) .................................................................................................
22
4. Data Siklus Estrus dan Jumlah Anak Mencit Afkir...................................
24
5. Rata-rata Siklus Estrus dan Lama Estrus................................................
25
6. Rata-rata Jumlah Embrio ........................................................................
28
7. Rata-rata Pertambahan Bobot Badan Induk, Litter Size dan Berat lahir
Anak .......................................................................................................
iii
30
DAFTAR GAMBAR
No. Uraian
Ha
l
1. Rumput Kebar............................................................................................
3
2. Gambaran Sitologi Vagina Mus musculus albinus Selama Siklus Estrus .
17
3. Alur Penelitian ...........................................................................................
19
iv
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Uraian
Hal
1.a.
Rata-rata Siklus Estrus dan Lama Estrus Mencit Putih (Mus
musculus) Betina Sebelum Perlakuan ............................................
39
1.b.
Anova Siklus Estrus Mencit Putih Betina Sebelum Perlakuan.........
39
1.c.
Anova Lama Estrus Mencit Putih Betina Sebelum Perlakuan ........
40
1.d.
Rata-rata Siklus Estrus dan Lama Estrus Mencit Putih (Mus
musculus) Betina Selama Perlakuan ..............................................
40
1.e.
Anova
Siklus
Estrus
Mencit
Putih
Betina
Selama
Perlakuan.........................................................................................
40
1.f.
Anova Lama Estrus Mencit Putih Betina Selama Perlakuan ..........
41
2.a.
Rata-rata Perkembangan Embrio Mencit putih (Mus musculus
albinus) Betina ................................................................................
42
2.b.
Anova Total Embrio Mencit Putih Betina..........................................
42
2.c.
Anova Embrio Tahap 2 – 4 Sel Mencit Putih Betina........................
43
2.d.
Anova Embrio Tahap Morula – Blastosis Mencit Putih Betina.........
43
2.e.
Anova Sel Telur yang Tidak Dibuahi/degenerasi Mencit Putih
Betina...............................................................................................
44
3.a.
Rata-rata Pertambahan Bobot Badan Induk, Jumlah Anak dan
Bobot Lahir anak Mencit putih (Mus musculus albinus)
Betina...............................................................................................
44
3.b.
Anova Pertambahan Bobot Badan Induk Mencit Putih
Betina...............................................................................................
45
3.c.
Anova Jumlah Anak Sekelahiran Mencit Putih ...............................
3.d.
Anova Bobot Lahir Anak Mencit Putih .............................................
4.
Hasil SDS-PAGE Rumput Kebar (Biophytum petersianum
Klotzsch)...........................................................................................
v
45
46
46
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Biophytum petersianum Klotzsch merupakan tumbuhan perdu yang tumbuh
menyebar secara meluas di Afrika, Madagaskar dan Asia Tenggara termasuk
beberapa pulau lain di Indonesia, kecuali Semenanjung Malaka, Sumatera dan
Kalimantan (Veldkamp, 1976). Di daerah Irian Jaya Barat spesies ini hanya
terdapat pada dataran tinggi kecamatan Kebar kabupaten Manokwari dan lebih
dikenal dengan nama rumput Kebar.
Tumbuhan ini merupakan salah satu tanaman yang dipakai secara turun
temurun oleh penduduk Kebar sebagai obat tradisional yang diolah secara
sederhana untuk berbagai keperluan kesehatan. Menurut Veldkamp (1976)
tumbuhan ini digunakan sebagai obat kumur (sariawan), penawar racun gigitan
ular dan obat pencuci perut untuk anak. Namun pada daerah dataran tinggi
kecamatan Kebar Kabupaten Manokwari tumbuhan ini lebih banyak digunakan
oleh penduduk setempat sebagai obat kesuburan wanita.
Dari informasi yang didapat banyak pasangan suami istri yang telah lama
belum memiliki keturunan (anak) dengan mengkonsumsi (minum) rebusan
tumbuhan rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) dapat memberikan
hasil yang memuaskan, bahkan ada beberapa wanita yang memiliki ovarium kiri
dan kanan tinggal separuh akibat kista dengan mengkonsumsi rebusan
tumbuhan rumput Kebar masih dapat menghasilkan keturunan (anak). Selain itu,
beberapa wanita menyatakan bahwa dengan mengkonsumsi rebusan rumput
Kebar dapat menormalkan siklus haid yakni yang semula 14 hari menjadi 28 – 30
hari.
Lebih lanjut diketahui dari Laporan Tahunan Dinas Peternakan Kabupaten
Manokwari tahun 2003 bahwa perkembangan ternak sapi Bali yang berada di
daerah dataran tinggi Kebar lebih cepat dibandingkan dengan daerah pesisir
pantai. Data laporan 3 tahun terakhir menunjukkan bahwa perkembangan Sapi
Bali di daerah Kebar adalah 44.37 % atau rata-rata pertahun 14.79 %. Namun
demikian, permasalahan dan kendala yang ada selama ini belum banyak laporan
mengenai bahan aktif yang terdapat dalam rumput Kebar, komposisi kimia,
metode dan dosis pemberian ekstrak rumput Kebar yang tepat dan pengaruhnya
terhadap penampilan reproduksi betina.
2
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang rumput Kebar,
khususnya yang berkaitan dengan peningkatan penampilan reproduksi hewan
betina.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui kandungan bahan kimia rumput Kebar (Biophytum petersianum
Klotzsch).
2. Mengetahui
pengaruh
ekstrak
rumput
Kebar
terhadap
peningkatan
penampilan reproduksi hewan betina (siklus estrus, jumlah embrio, jumlah
anak sekelahiran dan bobot lahir anak).
3. Mengetahui dosis terbaik dari ekstrak rumput Kebar terhadap peningkatan
penampilan reproduksi hewan betina
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
(1) Memberikan informasi tentang komposisi bahan kimia rumput Kebar.
(2) Sebagai bahan publikasi penting tentang fungsi dan manfaat rumput Kebar
terhadap peningkatan penampilan reproduksi betina.
(3) Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai informasi untuk
peningkatan kesuburan ternak pengganti hormon reproduksi.
Hipotesis
Hipotesis yang dijadikan landasan pada penelitian ini adalah pemberian
ekstrak rumput Kebar dapat meningkatkan penampilan reproduksi mencit putih
betina.
3
TINJAUAN PUSTAKA
Rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch)
Sistimatika Rumput Kebar
Sistimatika rumput Kebar menurut Veldkamp (1976) :
Kelas
Famili
Genus
Species
: Dycotiledoneae
: Oxalidaceae
: Biophytum
: Biophytum petersianum, Klotzsch.
Dengan ciri- ciri sebagai berikut :
Penducle
Daun
Bunga
Buah
Berkelamin
: berukuran sangat pendek
: bentuk obovate/umumnya bulat, mengumpul dan berpasangan.
pucuk daun 3 – 9 pasang.
: di bagian tengah daun rosette, berwarna kuning, jingga atau
merah
: bakal buah menumpang dan berlekuk/bersegi 5.
buah kotak atau buni mengandung biji berukuran kecil.
: dua (jantan dan betina)
Dibawah ini adalah salah satu bentuk rumput Kebar yang sudah siap di
panen.
d
tp
d
tp
pb
b
a
A
bh
b
pb
a
B
B
Gambar 1 Rumput Kebar (Biophytum petersianum, Klotzsch).
Keterangan :
A = Rumput jantan; B = Rumput betina
a = akar; b= batang; d=daun; bh= buah; tp(A)= tinggi pohon (10-12 cm);
pb(A)= panjang batang (8-10 cm); tp(B)= 5-6 cm; pb(B)= 2-3 cm.
4
Habitat Rumput Kebar
Rumput Kebar (Biophytum petersianum, Klotzsch) merupakan tumbuhan
perdu yang tumbuh pada ketinggian 500 – 600 m diatas permukaan laut.
Tanaman ini biasanya tumbuh berasosiasi dengan Paspalum konyugatum dan
Imperata cylindrica dengan permeabilitas tanah sedang (4.01 Cm/jam – 5.17
cm/jam), pH tanah agak masam sampai masam (5.6 – 4.6), disamping
kandungan sulfur tanah 0.04 % sampai 0.2 %. Tumbuh pada iklim basah dengan
curah hujan rata-rata 2383 mm/tahun, suhu 26.680C, kelembaban 82.97 % dan
intensitas cahaya matahari 64.87 lux (Imbiri, 1997).
Fungsi Biologis Ekstrak Rumput Kebar
Dari informasi yang ada banyak pasangan suami istri yang telah lama
belum memiliki keturunan (anak) dengan mengkonsumsi (minum) rebusan
tumbuhan rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) dapat memberikan
hasil yang memuaskan, bahkan ada beberapa wanita yang memiliki ovarium kiri
dan kanan tinggal separuh akibat kista dengan mengkonsumsi rebusan
tumbuhan rumput Kebar masih dapat menghasilkan keturunan (anak). Selain itu,
beberapa wanita yang juga mengalami masalah dalam siklus haid menyatakan
bahwa dengan mengkonsumsi rumput Kebar dapat menormalkan kembali siklus
haidnya.
Hasil uji pendahuluan yang dilakukan pada mencit-mencit betina afkir
(umur > 1.5 tahun) menunjukkan bahwa mencit yang diberi ekstrak rumput Kebar
dapat meningkatkan jumlah anak rata-rata dari 3 ekor menjadi 7 ekor bahkan
ada yang menjadi 11 ekor. Wajo (2005) melaporkan bahwa pemberian ekstrak
rumput Kebar melalui air minum dapat meningkatkan berat ovarium, menstimulir
perkembangan folikel, daya tetas telur serta meningkatkan motilitas spermatozoa
pada ayam buras.
Pasaribu dan Indyastuti (2004) melaporkan bahwa pemberian ekstrak
rumput Kebar mampu meningkatkan kandungan 17 ß-estradiol pada serum
darah mencit. Berdasarkan data-data tersebut diketahui bahwa ekstrak rumput
Kebar dapat meningkatkan penampilan reproduksi mencit putih betina, namum
mekanismenya secara pasti belum banyak dilaporkan.
5
Biologi Mencit
Mencit merupakan hewan yang biasa dipakai dalam penelitian atau
percobaan di laboratorium. Hewan ini dijadikan sebagai hewan model karena
mudah dipelihara, masa reproduksinya pendek dan berkembangbiak dengan
cepat. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) mencit laboratorium memiliki
data biologis dan reproduksi seperti tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1 Data biologis dan reproduksi mencit laboratorium
Sifat biologi
Lama hidup
Lama produksi ekonomis
Lama bunting
Kawin sesudah beranak
Umur sapih
Umur dewasa
Umur dikawinkan
Siklus kelamin
Siklus estrus
Lama estrus
Perkawinan
Ovulasi
Fertilisasi
Segmentasi ovum menjadi blastosel
Implantansi
Berat dewasa
Berat lahir
Jumlah anak
Perkawinan kelompok
Kecepatan tumbuh
Sumber : Smith dan Mangkoewidjojo (1988)
Waktu
1 – 2 tahun
9 bulan
19 – 21 hari
1 sampai dengan 24 jam
21 hari
35 hari
• 8 minggu
Poliestrus
4 – 5 hari
12 – 14 jam
pada waktu estrus, spontan
dekat akhir estrus, spontan
2 jam sesudah kawin
2.5 – 4.0 hari
4-5 hari sesudah perkawinan
Jantan 20 – 40 gram
Betina 18 --35 gram
0.5 – 1.00 gram
Rata-rata 6 ekor
4 betina : 1 jantan
1 gram/hari
Fisiologi Reproduksi Mencit Putih
Berdasarkan data biologi mencit, terlihat bahwa siklus estrus, lama estrus,
segmentasi ovum menjadi blastosel, jumlah anak dan rata-rata berat lahir
masing-masing 4 - 5 hari, 12 - 14 jam, 2.5 - 4 hari, rata-rata 6 ekor dengan berat
rata-rata 0.5 – 1 gram. Briggs dan Brotherton (1970) dalam Caropeboka (1980),
menyatakan bahwa pada tikus, siklus estrusnya juga berlangsung selama 4 – 5
hari yang dipengaruhi oleh berbagai kondisi lingkungan.
6
Siklus Estrus
Sekalipun hampir pada setiap hewan atau spesies mempunyai perbedaan
waktu siklus estrus, namun secara umum telah diketahui bahwa siklus estrus
umumnya dibagi menjadi 4 fase. Diketahui bahwa hampir tidak dapat dibedakan
kondisi fisiologis antara tikus dan mencit putih (Mus musculus albinus), namun
diduga perbedaan-perbedaan yang ada tergantung pada kondisi lingkungan dan
respon fisiologis secara individu antara tikus dan mencit putih.
Menurut Toelihere (1985), siklus estrus dibagi menjadi 4 fase, yaitu fase
proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Fase proestrus adalah fase sebelum
estrus yaitu periode dimana folikel de Graaf bertumbuh di bawah pengaruh FSH
dan menghasilkan sejumlah estradiol yang makin bertambah. Fase ini sering
disebut sebagai fase folikuler. Baker et al. (1980) menyatakan bahwa pada fase
proestrus dapat diketahui dengan adanya dominasi sel-sel epitel berinti yang
muncul secara tunggal atau bertumpuk (berlapis-lapis) jika dilihat dengan
menggunakan metode ulas vagina. Pada tikus fase ini berlangsung selama
kira-kira 12 jam (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Fase estrus adalah fase yang ditandai dengan keinginan kelamin dan
penerimaan pejantan oleh hewan betina untuk kopulasi. Pada fase ini folikel de
Graaf membesar dan menjadi matang. Pada fase ini estradiol yang berasal dari
folikel de Graaf yang matang akan menyebabkan perubahan-perubahan pada
saluran reproduksi betina (Toelihere, 1985). Menurut Briggs dan Brotherton
(1970) dalam Caropeboka (1980), fase estrus pada tikus berlangsung selama
9 – 15 jam, dan pada mencit berlangsung selama 12 jam (Smith dan
Mangkoewidjojo, 1988).
Baker et al. (1980) menyatakan bahwa pada fase estrus dapat diketahui
dengan adanya sel-sel tanduk yang banyak pada lumen vagina yang biasanya
nampak pada preparat ulas vagina. Kondisi demikian disebabkan oleh
banyaknya pembelahan mitosis yang terjadi didalam mukosa vagina dan sel-sel
baru yang menumpuk, sementara lapisan permukaan memiliki bentuk skuamosa
dan bertanduk. Sel-sel bertanduk ini terkelupas ke dalam lumen vagina
(Partodihardjo, 1992).
Fase estrus dipengaruhi mekanisme hormonal yaitu berhubungan antara
hormon-hormon hipotalamus-hipofisis (GnRH, LH, FSH), hormon-hormon ovarial
7
(estradiol dan progesteron) dan hormon uterus (prostaglandin). Proses estrus
sangat erat kaitannya dengan mekanisme sistem hormonal. Telah dilaporkan
oleh beberapa peneliti sebelumnya bahwa pada saat estrus konsentrasi estrogen
meningkat sesuai dengan pertumbuhan folikel de Graaf, dan selanjutnya di
bawah pengaruh serta peran LH yang disekresikan dari hipofisis anterior
terjadilah ovulasi dan selanjutnya terjadi pembentukan corpus luteum (CL). Pada
waktu CL telah mencapai ukuran maksimal dan fungsional akan terjadi
peningkatan konsentrasi progesteron. Menurut Silva et al. (2004) secara in
vitro FSH dapat mempengaruhi pertumbuhan folikel primordial pada kambing. Yu
et al. (2003) melaporkan bahwa FSH dan LH dapat mencegah terjadinya folikel
atresia.
Toelihere (1985) menyatakan bahwa progesteron merupakan hormon yang
dihasilkan oleh CL (sel luteal), plasenta dan korteks adrenal atas stimulasi LH.
Selanjutnya dijelaskan bahwa progesteron diangkut melalui aliran darah karena
ikatannya dengan globulin dan pengaturan progesteron kemungkinan karena
rangsangan LH.
Progesteron mempunyai fungsi mempersiapkan lingkungan uterus untuk
implantasi dan memelihara kebuntingan melalui peningkatan sekresi glandula
endometrium dan menghambat motilitas miometrium. Dengan adanya umpan
balik negatif dari hipothalamus maka estrus, ovulasi dan siklus estrus dapat
dicegah. Progesteron dalam jumlah kecil dengan adanya estrogen dapat
menyebabkan
timbulnya
tanda-tanda
estrus
dan
penerimaan
pejantan.
Disamping itu progesteron bekerja secara sinergis dengan estrogen merangsang
sekresi alveoli serta pertumbuhan kelenjar mammae. Menurut Guyton (1994)
fungsi utama estrogen adalah untuk menimbulkan proliferasi sel dan
pertumbuhan jaringan organ-organ kelamin serta jaringan lain yang berkaitan
dengan reproduksi.
Estrogen
(17
â-estradiol)
perkembangan duktus
adalah
hormon
steroid
pada
betina,
kelenjar mamae, bers ama oks itos in dan PGF 2á
meningkatkan frekuensi kontraksi uterus. Estrogen berpengaruh pada otak yang
ada hubungannya dengan tingkah laku estrus. Estrogen juga mengontrol
perubahan pada alat kelamin betina, produksi lendir pada uterus yang akan
mengubah
aktivitas
metabolismenya.
Kesemuanya
berlangsung
guna
mempersiapkan uterus untuk menerima ovum dan spermatozoa. Pada tikus yang
8
disuperovulasi akan terjadi peningkatan konsentrasi estradiol dan progesteron
dalam darah meningkat yang menghasilkan bertambahnya panjang siklus estrus
(Fitrianti, 2002).
Produksi etradiol selama fase luteal menginisiasi luteolisis. Hal ini dimediasi
oleh pembentukan reseptor oksitosin dalam endometrium ternak betina.
Keluarnya oks itos in dari CL mengikat res eptor menghas ilkan PGF 2á dan terjadi
luteolisis. Menurut Beard et al. (1994) terdapat korelasi positif antara konsentrasi
estradiol dan jumlah reseptor oksitosin uterus.
Pada fase metestrus ovarium mengandung corpora lutea dan folikel-folikel
kecil. Pada tikus fase ini berlangsung selama 10 - 14 jam, fase ini ditandai
dengan bertumbuhnya CL dari sel-sel granulosa folikel dengan cepat yang
dipengaruhi oleh Luteinizing hormone (LH) dari adenohyphofisa. Menurut Baker
et al. (1980) fase metestrus dapat diketahui dengan adanya dominasi sel-sel
tanduk dan sel-sel leukosit jika dilihat dengan menggunakan metode ulas vagina.
Fase luteal terjadi pada akhir periode metestrus dan pada tikus serta mencit
pada fase ini tidak mengalami perubahan uterus yang disebabkan oleh
progesteron akibat pendeknya rahim pada kedua species ini.
Smith dan Mangkoewidjojo (1988) menyatakan bahwa pada tikus fase
metestrus dibagi menjadi 2 stadium yaitu stadium 1 yang berlangsung kira-kira
15 jam dan stadium 2 kira-kira berlansung selama 6 jam. Diestrus adalah periode
terakhir dan terlama dari siklus estrus. Corpus luteum menjadi matang dan
pengaruh progestreon terhadap saluran reproduksi menjadi nyata (Toelihere,
1985).
Pada tikus
periode ini berlangsung selama 57-60 jam dan selama
periode ini terjadi penyusutan corpora lutea secara fungsional, rahim mengecil,
mukosa vagina menipis dan dipenuhi oleh leukosit.
Baker et al. (1980) menyatakan bahwa pada fase diestrus dapat diketahui
dengan adanya dominasi sel-sel leukosit dan sedikit sel-sel epitel yang berinti
jika dilihat dengan menggunakan metode ulas vagina.
Perkembangan Embrio Mencit
Proses perkembangan embrio dimulai dari bertemunya sel telur (ovum)
dengan spermatozoa. Hasil fertilisasi (zigot) akan mengalami pembelahan
secara mitosis dari satu sel menjadi dua sel, empat sel, delapan sel, 16 sel tanpa
terjadi perubahan ukuran zigot (Partodihardjo, 1992).
9
Menurut Pincus (1965) perkembangan embrio (embriogenesis) merupakan
proses perkembangan yang belum memiliki bentuk defenitif. Berdasarkan proses
dan ciri-ciri embrio, embriogenesis dibedakan menjadi 4 tahap yaitu tahap
pembentukan sigot (cleavage), tahap blastulasi, tahap gastrulasi dan tahap
neurulasi. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pada mencit kecepatan perkembangan
embrio setelah fertilisasi adalah untuk fase 2 sel (hari ke-1), fase 8 sel (hari
ke-2), fase morula (hari ke-3), fase blastosis (hari ke-3.5), fase gastrula (hari
ke-6.5) dan fase neurula (hari ke-7.5).
Menurut Sukra et al. (1989) blastomer yang sedang membelah akan
membentuk kelompok besar yang disebut morula. Pada tahap selanjutnya sel
morula mensekresikan cairan dan mengelilingi rongga di tengah yang berisi
blastomer kemudian terbentuk blastosis. Blastosis akan bergerak masuk ke
dalam uterus yang dipengaruhi oleh hormon steroid ovarium yaitu progesteron
dan estrogen.
Gardner et al. (1993) menyatakan bahwa pada embrio mencit selama fase
preimplantasi terjadi perubahan metabolisme energi, yaitu perubahan dari
metabolisme dasar piruvat pada stadium 1 sel ke metabolisme dasar glukosa
pada proses glikolisis aerobik, pada stadium selanjutnya. Telah diketahui bahwa
bentuk perubahan energi berkaitan dengan perubahan nutrisi. Selanjutnya pada
tahap 8-sel embrio dapat hidup dan berkembang dalam medium yang sumber
energinya
berasal
dari
glukosa
atau
sejumlah
rantai
karbon
lainnya.
Selama perkembangan embrio terjadi perubahan sumber energi yang
dibutuhkan. Pada embrio yang ditumbuhkan secara in vitro, pada tahap awal
membutuhkan piruvat sebagai sumber energi, namun ketika embrio telah
mencapai tahap 2 sel, sumber energinya selain piruvat juga membutuhkan,
oksaloasetat, laktat dan fosfoenel piruvat (Brinster, 1973).
Pada medium untuk fertilisasi in vitro, glukosa berfungsi sebagai sumber
energi bersama-sama laktat atau piruvat. Kebutuhan glukosa tergantung dari
stadium perkembangan embrio dan jenis hewan, sekalipun demikian asam-asam
amino dapat dimanfaatkan sebagai penghasil energi untuk perkembangan
embrio melalui jalur trikarboksilta (TCA) atau siklus krebs.
Roberts dan Bazer (1988) menyatakan bahwa pada periode implantasi
tingkat kematian embrional sangat tinggi dan merupakan waktu kritis bagi
kelangsungan embrio dan kebuntingan. Implantasi merupakan interaksi langsung
10
antara embrio trofoblas dan endometrium uterus. Guyton (1994), menyatakan
bahwa implantasi terjadi akibat sel-sel trofoblas yang berkembang pada
permukaan blastosis yang mensekresikan enzim proteolitik yang berfungsi
mencerna sel-sel endometrium. Sel-sel trofoblas juga membentuk pita-pita sel
yang masuk dan melekat ke dalam endometrium dan blastosis akan membentuk
lubang dan melekatkan diri pada endometrium.
Pada embrio tikus proses implantasi akan terjadi apabila estradiol dan
progesteron tercukupi (Arkaraviehien dan Kendle, 1990 dalam Carvalo, 2001).
Kekurangan estradiol dan progesteron akan menyebabkan kontraksi uterus yang
secara terus menerus sehingga menyebabkan aborsi.
Peranan Asam Amino terhadap Perkembangan Embrio
Cairan saluran reproduksi betina (in vivo) ditandai dengan tingginya
konsentrasi asam amino, dimana oosit dan embrio mempunyai suatu perbedaan
asam amino endogenous, yang menunjukkan bawa asam amino mempunyai
suatu fungsi biologis (Brisnter 1973). Pada kultur in vitro, asam amino dapat
meningkatkan perkembangan embrio mencit, kelinci, hamster, sapi dan domba
yang sangat bermanfaat untuk perkembangan 8 sel ke tahap blastosis. Gardner
et al. (1993) menyatakan bahwa penambahan asam amino spesifik pada media
kultur dapat mengurangi pengaruh hambatan perkembangan untuk mencapai
tahap perkembangan selanjutnya.
Perubahan pengamatan asam amino yang diperlukan selama periode
preimplantasi sesuai dengan perubahan fisiologi embrio sebagai kelanjutan
perkembangan. Peralihan dari sigot ke blastosis tidak hanya dihubungkan
dengan beberapa peristiwa morfologi, seperti morula kompak, pembentukan
blastosis, tetapi juga dengan perubahan umum dalam energi metabolisme zat
nutrisi.
Miyoshi et al. (1995) menambahkan bahwa kebutuhan asam amino selama
pembentukan blastosis pada tikus mungkin tidak untuk sintesis protein saja,
tetapi juga untuk melaksanakan metabolisme lain yang diperlukan, misalnya
sebagai substrak untuk menghasilkan energi. Ini dapat dipahami karena selama
masa preimplantasi pada mamalia, piruvat dan laktat dimetabolisme melalui
siklus asam trikarbosiklat (TCA) untuk menghasilkan energi.
11
Beberapa peneliti menyatakan bahwa asam amino sangat dibutuhkan
dalam jumlah tinggi pada tahap awal perkembangan embrio (Aurich dan Han,
1994). Brinster (1973) menyatakan bahwa sistin, triptofan, fenilalanin, lisin,
arginin, dan valin diperlukan pada pembelahan tahap awal pembentukan embrio
kelinci. Demikian juga menurut Chatot et al. (1989) bahwa glutamin dapat
membantu mengatasi hambatan perkembangan tahap 2 sel pada embrio tikus
yang dikultur.
Menurunnya jumlah anak sejalan dengan menurunnya jumlah blastosis
yang normal pada masa implantasi. Menurut Jones dan Krohn (1961) dalam
Sunarti (1992) menyebutkan bahwa menurunnya jumlah anak mencit, hamster
dan tikus tua disebabkan menurunnya jumlah implantasi.
Sunarti (1992) melaporkan jumlah sel telur yang diovulasikan menurun
dengan bertambahnya umur baik pada superovulasi maupun tidak melalui
superovulasi. Menurut Savio et al. (1992) dalam Melasari (1998), lama hidup
folikel dominan yang optimal adalah selama sembilan hari. Pertumbuhan folikel
yang melampaui batas waktu tersebut dapat mengakibatkan folikel dominan
menjadi persisten dan akan menurunkan fertilitas.
12
MATERI DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu dan Laboratorium
Embriologi Departemen Anatomi, Fisiologi dan Farmokologi FKH IPB Bogor,
Laboratorium Teknologi Pakan Ternak Fakultas Peternakan IPB. Penelitian ini
berlangsung selama lebih kurang 6 bulan.
Materi Penelitian
Rumput Kebar
Pembuatan Larutan Ekstrak Rumput Kebar
Rumput
Kebar yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari
kecamatan Kebar kabupaten Manokwari provinsi Irian Jaya Barat. Rumput
tersebut dikeringkan dengan penjemuran panas matahari. Pembuatan larutan
ekstrak rumput Kebar dilakukan di Laboratorium Embriologi Fakultas Kedokteran
Hewan IPB.
Rumput Kebar yang telah kering direbus (dimasak) semua bagian
tanamannya (akar, batang, daun) dalam aquabides dengan perbandingan 1 : 3
(100 gram dalam 3 liter aquabides) sambil diaduk dan dibiarkan mendidih hingga
tersisa larutan sebanyak 1 liter, kemudian larutan tersebut disaring dan dibiarkan
dingin lalu dibekukan dalam freezer untuk selanjutnya dijadikan bubuk dengan
metode pengering bekuan (Freeze Drying). Bubuk yang terbentuk dilarutkan
kembali dengan aquabides untuk membuat larutan ekstrak rumput Kebar sesuai
dosis pada perlakuan.
Pemberian dan Dosis Ekstrak Rumput Kebar
Penentuan Dosis
Penentuan dosis pada mencit didasarkan pada dosis standar yang
diberikan pada manusia. Dosis yang diberikan pada manusia sebanyak ± 30
gram rumput Kebar kering atau 0.95 gram bahan yang terlarut dalam 200 ml
larutan ekstrak rumput Kebar (Nilai hasil pengering bekuan di Laboratorium
Teknologi Pangan dan Gizi FATETA- IPB).
13
Dosis yang diberikan pada mencit ditentukan berdasarkan perhitungan
sebagai berikut :
Bobot badan manusia = 50/70 x 0.0026
= 0.0018571 (A)
Bobot badan Mencit / 20 x 0.0018571 (A)
= 35/20 x 0.0018571
= 0.003249998 (B).
Dosis standar yang diberikan pada mencit = (B) x dosis yang diberikan pada
manusia.
Dosis standar pada mencit = 0.003249998 x 0.95 gram = 0.003087498
gram atau 3.087498 mg • 3 mg/ekor/hari.
Pemberian Ekstrak Rumput Kebar
Pemberian ekstrak rumput Kebar pada setiap induk dari masing-masing
perlakuan sebanyak 0.2 ml per hari untuk setiap dosis perlakuan dan dilakukan
dengan cara mencekok selama 10 hari (dua siklus estrus), setelah itu mencit
dikawinkan. Mencit yang telah kawin sebanyak 10 ekor dari masing-masing
perlakuan pada hari keempat dibunuh untuk melihat jumlah embrio sedangkan
10 ekor lagi dari masing-masing perlakuan dibiarkan sampai melahirkan untuk
melihat jumlah anak yang lahir.
Pemberian ekstrak rumput Kebar yang akan dicobakan adalah sebagai
berikut :
Kontrol
Dosis 1 (D1)
Dosis 2 (D2)
Dosis 3 (D3)
: tanpa ekstrak rumput Kebar
: 0.045 mg/gram bobot badan
: 0.090 mg/gram bobot badan
: 0.135 mg/gram bobot badan
Hewan Percobaan
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit (Mus musculus
albinus) betina dewasa sebanyak 80 ekor dengan berat badan berkisar antara
30 – 40 gram (rata-rata 35 gram) dan jantan fertil sebanyak 40 ekor digunakan
sebagai pemacek. Hewan percobaan diperoleh dari Biofarma Bandung.
Penelitian menggunakan kandang percobaan hewan Laboratorium FKH
IPB, Bogor. Lingkungan kandang dibuat tidak lembab, ventilasi udara cukup dan
penyinaran otomatis dimana lama terang dan gelap masing-masing 12 jam.
Setiap kelompok hewan perlakuan dimasukkan dalam kotak plastik dengan
14
ukuran 40 cm x 30 cm x 15 cm untuk 10 ekor dan didalamnya diberi sekam padi
sebagai alas kandangnya.
Untuk memudahkan pengamatan terhadap jumlah anak yang lahir dan
rata-rata bobot badan lahir anak dari setiap induk perlakuan, maka setiap induk
yang telah bunting dimasukkan kedalam kotak yang berukuran 25 cm x 30 cm x
15 cm. Makanan yang diberikan pada hewan perlakuan berupa pellet ikan
dengan kandungan protein kasar berkisar antara 20 – 25 %. Makanan dan
minuman diberi secara ad libitum.
Metode Penelitian
Analisa Proksimat
Analisa proksimat dilakukan pada Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan
Departemen Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor. Analisa proksimat dilakukan untuk melihat prosentase
kandungan bahan yang terdapat dalam rumput Kebar (bahan kering, abu, protein
kasar, serat kasar, lemak kasar, bahan ekstrak tanpa nitrogen, kalsium, fosfor,
garam dan energi bruto). Disamping itu juga dilakukan analisa kandungan asam
amino, baik esensial maupun non esensial serta vitamin yang berpengaruh
dalam reproduksi yaitu vitamin A dan vitamin E.
Penentuan Jumlah dan Berat Molekul Protein
Untuk melihat jumlah protein yang terdapat dalam ekstrak rumput Kebar
dan besarnya berat molekul (BM) dari masing-masing protein tersebut,
menggunakan
metode
Sodium
Dodecyl
Sulphate
Poly
Acrylamid
Gel
Electrophoresis (SDS-PAGE). Prosedur kerja dilakukan sebagai berikut :
λ
Penyiapan bahan-bahan yang akan dipakai dalam analisa
λ
Pembuatan stok larutan Acrylamide, Amonium persulfat 10 % , SDS 10 %
dan larutan buffer.
λ
Pembuatan separating gel 12 % pada pH 8,8 sebanyak 30 ml yang terdiri dari
Bisacrylamide 12 ml; eaquabidestilata 10.05 ml; Tris HCl (pH 8.6) 7.5 ml;
S DS (10 %) 0.3 ml; Amonium pers ulfat (10 %) 150 ì l dan T emed 15 ì l;
kemudian campuran tersebut diaduk dan disedot dengan menggunakan pipet
lalu dimasukkan kedalam alat cetak secara perlahan-lahan agar tidak banyak
15
gelembung, tetapi jangan terlalu lambat agar tidak keburu mengeras
(mengental).
Setelah
itu
permukaan
gel
diberikan
beberapa
tetes
eaquabidestilata hingga rata dan dibiarkan hingga terbentuk gel atau selama
± 40 menit. Setelah 40 menit eaquabidestilata tersebut diisap sampai habis.
λ
Pembuatan stacking gel 4 % pada pH 6.8 sebanyak 5 ml yang terdiri dari
Bisacrylamide 0.65 ml; eaquabidestilata 3.05 ml; Tri HCl (pH 6.8) 1.25 ml;
S DS (10 %) 50 ì l; Amonium pers ulfat (10 %) 25 ì l dan T emed 5
ì l;
kemudian campuran tersebut diaduk dan disedot dengan pipet lalu
dimasukkan kedalam alat cetak (pada bagian atas separating gel) hingga
batas garis atas lalu masukkan brush sebagai alat pencetak sumur (well).
Kemudian permukaan gel diberi beberapa tetes aquabidestilata dan dibiarkan
± 50 menit hingga terbentuk gel. Setelah 50 menit brush ditarik secara
perlahan-lahan
agar
sumurnya
dapat
terbentuk
dengan
baik,
lalu
aquabidestilatanya diisap sampai habis.
λ
Pasang alat cetak yang terdapat gel pada piring elektroforesis lalu
dimasukkan dalam bak elektroforesis yang telah diisi larutan buffer dengan
posisi vertikal, kemudian bagian atas piring elektroforesis diisi juga dengan
larutan buffer.
λ
Penyediaan sampel dan marker yang akan dianalisa ditambahkan dengan
buffer contoh dengan perbandingan 4 : 1, kemudian sediaan sampel dan
marker direndam dalam air panas dengan suhu konstan 95ºC selama 5
menit.
λ
Masukkan sediaan sampel dan marker secara berurutan kedalam sumur
(well) yang tersedia pada gel.
λ
Alat elektroforesis dihubungkan dengan power suplay dengan kuat arus 3 mA
atau 150 volt selama ± 5 jam, atau sampel dan marker pada setiap sumur
sampai pada batas ± 1 cm dari sisi paling bawah (jangan melewati batas
bawah gel).
λ
Setelah itu gel dikeluarkan dan dilakukan pewarnaan dengan perak nitrat, lalu
dilakukan evaluasi (jumlah jenis protein dan berat molekulnya).
16
Uji Biologis
Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan ekstrak rumput Kebar dilakukan terhadap mencit
betina afkir (umur ± 1.5 tahun) sebanyak 12 ekor yang telah memiliki anak setiap
kelahiran hanya 3 ekor. Pengujian dilakukan dengan cara mencekok mencit
tersebut dengan ekstrak rumput Kebar selama 16 hari. Variabel yang diamati
adalah siklus estrus sebelum dan selama perlakuan dan jumlah anak sesudah
perlakuan.
Prosedur pengujian adalah sebagai berikut :
λ
Pembuatan ekstrak rumput Kebar berdasarkan aplikasi yang diberikan pada
manusia yaitu 30 gram rumput Kebar yang telah kering dimasak dengan
aquabidest sebanyak 600 ml dan dibiarkan mendidih hingga tersisa 200 ml,
kemudian larutan tersebut disaring lalu dibiarkan dingin.
λ
Mencit-mencit betina afkir sebanyak 12 ekor dibagi dalam 2 kelompok yaitu
masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor.
λ
Siklus estrus dilakukan dengan metode ulas vagina selama 10 hari (2 siklus),
yaitu 1 siklus sebelum dan 1 siklus selama perlakuan. Hasil ulasan difiksasi
dengan menggunakan methanol teknis selama 5 menit setelah itu dibiarkan
kering lalu diwarnai dengan pewarnaan Giemsa 10 % (direndam selama 30
menit), kemudian dicuci dengan air mengalir dan dibiarkan kering. Hasil
ulasan yang telah diwarnai diamati dibawah mikroskop cahaya
λ
Semua mencit afkir dari kedua kelompok tersebut diberikan perlakuan
ekstrak rumput Kebar dengan cara dicekok selama 5 hari (satu periode siklus
estrus), kemudian pada hari ke-6 dikawinkan (perbandingan 1 jantan : 3
betina)
λ
Selanjutnya semua mencit pada kelompok 1 setelah dikawinkan tidak
diberikan perlakuan ekstrak rumput Kebar dan dibiarkan sampai terjadi
kelahiran, sedangkan semua mencit pada kelompok 2 setelah dikawinkan
masih diberikan perlakuan ekstrak rumput Kebar sampai hari ke-16 lalu
dibiarkan sampai terjadi kelahiran.
λ
Pada saat terjadi kelahiran dilakukan evaluasi terhadap jumlah anak yang
lahir dari masing-masing induk tersebut.
17
Penelitian utama
Lama Siklus Estrus
Lamanya siklus estrus dilakukan dengan metode ulas vagina selama 4
siklus yaitu 2 siklus sebelum perlakuan dan 2 siklus selama perlakuan. Hasil
ulasan difiksasi dengan menggunakan methanol teknis selama 5 menit setelah
itu dibiarkan kering lalu diwarnai dengan pewarnaan Giemsa 10 % (direndam
selama 30 menit), kemudian dicuci dengan air mengalir dan dibiarkan kering.
Hasil ulasan yang telah diwarnai diamati dibawah mikroskop cahaya.
Penentuan fase siklus dari hasil ulas vagina dilakukan berdasarkan keberadaan
dan jumlah kualitatif sel-sel epitel vagina. Fase proestrus ditunjukkan oleh
keberadaan sel-sel epitel berinti, fase estrus oleh sel-sel pertandukan (cornified
cells), fase metestrus oleh sel-sel pertandukan dan sel-sel darah putih, dan fase
diestrus oleh sel-sel darah putih (Baker et al. 1980) dan hasil pengamatan ulas
vagina dapat diketahui lamanya siklus estrus yang terjadi yaitu jarak waktu
antara estrus pertama dan kedua baik sebelum maupun selama perlakuan.
ep
t
A
B
l
C
l
D
Gambar 2 Gambaran sitologi vagina Mus musculus albinus selama siklus estrus.
Keterangan : A=Proestrus; B=Estrus; C=Metestrus; D=Diestrus
ep= sel epitel; t=sel tanduk; l=sel leukosit
18
Jumlah Embrio
Pengamatan jumlah embrio dilakukan dengan cara sebagai berikut :
λ
Hewan perlakuan yang pada pemeriksaan sumbat vagina positif (telah
kawin), pada hari ke-4 dimatikan (dibunuh), lalu organ reproduksinya diambil
dan dicuci dalam larutan NaCl fisiologis.
λ
Kemudian masukkan kedalam cawan petri yang berisi larutan PBS untuk
dilakukan pembilasan terhadap tanduk rahim (kornua uteri) dengan
menggunakan larutan PBS.
λ
Embrio hasil pembilasan dalam cawan petri diamati dibawah mikroskop
cahaya dan dilakukan evaluasi.
Pertambahan Bobot Badan Induk
Pertambahan bobot badan induk diperoleh dengan cara menimbang setiap
induk dari masing-masing perlakuan dengan menggunakan timbangan mekanik
berkapasitas 200 gram dengan tingkat ketelitian 0.1 gram. Penimbangan
dilakukan sebelum perlakuan sebagai bobot badan awal dan sesudah perlakuan
sebagai bobot badan akhir.
Jumlah Anak dan Bobot Lahir Anak Sekelahiran
Jumlah anak sekelahiran diperoleh dengan cara menghitung anak yang
lahir dari setiap induk dari masing-masing perlakuan pada saat terjadi kelahiran,
sedangkan bobot lahir anak sekelahiran diperoleh dengan cara menimbang anak
yang lahir dari masing-masing induk perlakuan dengan menggunakan timbangan
mekanik berkapasitas 200 gram dengan tingkat ketelitian 0.1 gram sesaat
setelah kelahiran berakhir.
Rancangan Percobaan dan Analisis Statistik
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dosis ekstrak rumput Kebar dengan
sepuluh ulangan.
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit putih (Mus
musculus albinus) strain DDY betina dewasa sebanyak 80 ekor dengan berat
badan berkisar antara 30 – 40 gram (rata-rata 35 gram) dan mencit jantan fertil
19
sebanyak 40 ekor digunakan sebagai pemacek, dengan perbandingan 1 jantan
dan 2 betina. Hewan percobaan dibagi dalam dua bagian penelitian, yaitu 40
ekor digunakan untuk koleksi embrio dan histologi ovarium dan 40 ekor lainnya
digunakan untuk melihat jumlah anak sekelahiran serta bobot lahir anak. Alur
penelitian tertera pada gambar 3.
Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila terdapat perbedaan
yang nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (Steel
dan Torrie, 1991).
Model persamaan linier dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
Yij
i
j
ì
Ôi
Åij
=
=
=
=
=
=
ì + ôi + åij, dimana :
Banyaknya perlakuan.
Banyaknya ulangan dari setiap perlakuan.
Pengaruh rata-rata pengamatan.
Pengaruh adanya perlakuan ke i.
Random error dari percobaan.
8 0 ek or beti na i nduk
S ebel um per l ak uan
U l as vagi na ( 1 0 har i )
Kontrol
: 0.00 (20 ekor)
Dosis 1 (D1)
: 0.045 mg/gram bb ( 2 0 ek or )
Dosis 2 (D2)
: 0.090 mg/gram bb( 2 0 ek or )
Dosis 3 (D3)
: 0.135 mg/gram bb ( 2 0 ek or )
Pem ber i an ( 1 0 har i )
4 har i s es udah k awi n
( 4 0 ek or untuk k ol ek s i em br i o)
S el ama per l ak uan
U l as vagi na ( 1 0 har i )
Di k awi nk an
Pem el i har aan s ampai
l ahi r ( 4 0 ek or j um l ah
anak dan bobot l ahi r )
Gambar 3 Alur penelitian.
20
Parameter Penelitian
Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
λ
Siklus estrus, pengamatan dilakukan dengan metode ulas vagina selama
empat siklus yaitu dua siklus sebelum perlakuan dan dua siklus selama
perlakuan.
λ
Jumlah embrio diperoleh dari hasil pengamatan dibawah mikroskop
terhadap embrio yang dibilas dari tuba Fallopii induk pada umur kebuntingan
4 hari.
λ
Pertambahan bobot badan induk diperoleh dengan cara menimbang setiap
induk dari masing-masing perlakuan sebelum perlakuan dan setelah
perlakuan.
λ
Jumlah
anak
dan
bobot
anak
sekelahiran
diperoleh
setelah
masing-masing induk beranak. Jumlah anak sekelahiran diperoleh dengan
menghitung jumlah anak yang lahir dari masing-masing induk, sedangkan
bobot anak sekelahiran diperoleh dengan menimbang semua anak yang lahir
dari satu induk.
21
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian Pendahuluan
Komposisi Kimia Rumput Kebar
Hasil analisis komposisi kimia yang terkandung dalam rumput Kebar antara
lain protein kasar, serat kasar, lemak kasar, Beta-N, mineral-mineral dan
vitamin-vitamin. Komposisi kimia rumput Kebar tertera pada Tabel 2. Toelihere
(1985) menyatakan bahwa banyak faktor prenatal yang mempengaruhi kualitas
anak yang dihasilkan. Faktor-faktor tersebut antara lain hereditas, besar dan
umur induk, nutrisi, perkembangan embrio dalam endometrium sebelum
implantasi, jumlah anak dalam satu induk, posisi fetus dalam kornua uteri dan
ukuran plasenta.
Tabel 2 Komposisi kimia rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch)
Bahan penyusun
Bahan Kering
Abu
Protein Kasar
Serat Kasar
Lemak Kasar
Beta-N
Calsium (Ca)
Phospor (P)
NaCl
Vitamin A (IU)
Vitamin E (IU)
Jumlah (%)
89.06
12.76
7.35
35.85
0.72
32.38
1.52
0.60
0.09
199.30
13.27
Berdasarkan komposisi gizi dan asam amino yang terdapat pada rumput
Kebar diketahui bahwa kandungan zat-zat makanan yang tersedia sangat
dibutuhkan untuk pertambahan bobot badan induk dan bobot lahir anak mencit
putih. Hasil analisis komposisi kimia yang terdapat pada rumput Kebar terlihat
bahwa rumput Kebar mengandung hampir semua kebutuhan nutrien untuk
aktivitas produksi dan reproduksi pada mencit putih betina dewasa. Pemberian
ekstrak rumput Kebar memberikan tambahan nutrien berdasarkan dosis yang
dicobakan dalam penelitian ini. Rata-rata tambahan nutrien yang diperoleh dari
ekstrak rumput Kebar adalah 0.045 mg/g bobot badan, 0.090 mg/g bobot badan
dan 0.135 mg/g bobot badan masing-masing untuk dosis 1, dosis 2 dan dosis 3
dibandingkan mencit yang tanpa pemberian ekstrak rumput Kebar (kontrol).
22
Selain itu, pada protein rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch)
juga mengandung asam-asam amino yang sangat dibutuhkan untuk aktivitas
reproduksi dan produksi. Komposisi asam amino rumput Kebar tertera pada
Tabel 3. Lehninger (1994) menyatakan bahwa nutrisi dipergunakan oleh tubuh
untuk pertumbuhan, kebutuhan hidup pokok dan aktivitas reproduksi. Kebutuhan
nutrisi berbeda untuk masing-masing aktivitas. Pada semua hewan atau ternak
yang sedang tumbuh, bunting atau menyusui membutuhkan lebih banyak nutrien
dibandingkan dengan hewan atau ternak yang tidak berada dalam fase tersebut.
Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) bahan dasar makanan mencit
bervariasi. Kebutuhan dasar untuk mencit adalah protein 20-25%; lemak 10-12%,
pati 45-55%, serat kasar 4% atau kurang; dan harus berisi vitamin A 15.000 –
20.000 IU/kg, asam linoleat 5 – 10 g/kg; tiamin 15-10 mg/kg. Untuk mencit
dewasa rata-rata kebutuhan makanannya 3 – 5 gram ekor/hari dan bertambah
jika mencit dalam keadaan bunting atau menyusui.
Tabel 3 Komposisi asam amino rumput Kebar (Biophytum petersianum
Klotzsch)
Jenis asam amino
Asam Aspartat
Asam Glutamat
Serin
Glisin
Histidin
Arginin
Treonin
Alanin
Prolin
Tirosin
Valin
Metionin
Sistin
Iso-leusin
Leusin
Fenil-alanin
Lysin
Jumlah (%)
0.255
0.230
0.198
0.123
0.345
0.310
0.220
0.115
0.345
0.316
0.252
0.287
0.254
0.237
0.298
0.360
0.259
Pada penelitian ini, kandungan bahan makanan yang diberikan sesuai
dengan standar untuk mencit dewasa. Hasil analisis komposisi nutrien pada
rumput Kebar menunjukkan bahwa terdapat kandungan vitamin A dan vitamin E
masing-masing 199.30 dan 13.00 mg/100 ml IU (Tabel 2). Pemberian ekstrak
rumput Kebar melalui cekokan berarti memberikan tambahan nilai vitamin A dan
23
vitamin E pada mencit setiap hari berdasarkan dosis yang dicobakan. Menurut
Besenfelder et al. (1996) suplementasi beta-karoten (provitamin A) pada pakan
akan meningkatkan litter size pada tikus.
Jumlah dan Berat Molekul Protein
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rumput Kebar memiliki 4 jenis
protein dengan Berat Molekul (BM) masing-masing 14648.731, 17556.583,
49730.176, dan 52033.136 dalton. Berdasarkan hasil analisis elektroforesis,
ternyata rumput Kebar memiliki 2 jenis protein yang BM-nya hampir sama
dengan BM hormon Pregnant Mare Serum Gonadothropin (PMSG), yaitu pada
BM 17556.583 dan
52033.136 dalton. Telah diketahui bahwa
PMSG
mengandung FSH dan LH. Partodihardjo (1992) menyatakan bahwa FSH dan LH
memiliki BM yang berkisar antara 30000 sampai 67000 dalton.
Terdapat perbedaan BM FSH dan LH pada spesies yang berbeda termasuk
tumbuhan. Pada babi BM FSH adalah 29000 dalton, pada domba 67000 dalton
(Partodihardjo, 1992), sedangkan pada manusia menurut Atterwil dan Flack
(1992) BM FSH adalah 34000. Menurut Ball (1971) dalam Crosignam dan James
(1974), pada manusia BM FSH 31000, pada sapi 28300 dan babi 32095 dalton.
Selanjutnya BM LH menurut
Crosignam dan James (1974) pada manusia
adalah 26750 dalton, babi 27400, 30000 dalton pada manusia (Partodihardjo,
1992), pada domba 32000 dalton. Berdasarkan BM antara FSH dan LH terlihat
bahwa BM FSH cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan BM LH pada
beberapa spesies yang telah dilaporkan.
Uji Biologis pada Mencit Afkir
Hasil uji biologis pengaruh ekstrak rumput Kebar pada mencit putih betina
afkir (umur > 1.5 tahun) tertera pada Tabel 4.
24
Tabel 4 Data siklus estrus dan jumlah anak mencit afkir
Diberikan ekstrak rumput Kebar selama 5 hari
Siklus estrus (hari)
Jumlah anak (ekor)
Ulangan
Sebelum
Selama
Sebelum
Sesudah
1
4
3
3
2
2
5
4
3
1
3
5
4
3
0
4
5
4
3
1
5
5
4
3
2
6
5
4
3
0
Total
29
23
18
6
Rataan
4.83
3.83
3.00
1.00
Diberikan ekstrak rumput Kebar selama 16 hari
1
5
4
3
7
2
5
4
3
7
3
4
3
3
11
4
4
3
3
7
5
5
4
3
7
6
5
4
3
11
Total
28
22
18
50
Rataan
4.67
3.67
3.00
8.33
Berdasarkan data pada Tabel 4 terlihat bahwa, pemberian ekstrak rumput
Kebar selama 5 hari pada mencit afkir mampu memperpendek rata-rata siklus
estrus dari 4.83 menjadi 3.83 hari, namun tidak mampu meningkatkan jumlah
anak yang lebih banyak (rata-rata 1 ekor), sedangkan pemberian ekstrak rumput
Kebar selama 16 hari selain memperpendek rata-rata siklus estrus dari 4.67
menjadi 3.67 hari juga mampu meningkatkan rata-rata jumlah anak yang
dihasilkan dari 3 ekor menjadi 8.33 ekor.
Kondisi ini diduga disebabkan pada mencit afkir kemampuan untuk
memproduksi asam-asam amino dan zat-zat makanan untuk kebutuhan produksi
dan reproduksi mengalami penurunan sehingga diperlukan tambahan zat-zat gizi
yang berasal dari luar tubuh. Pemberian esktrak rumput Kebar mampu
menyuplai kebutuhan gizi untuk produksi dan aktivitas reproduksi, sehingga
mencit afkir dapat meningkatkan rata-rata kualitas produksi dan reproduksinya.
Sekalipun demikian suplai zat-zat gizi dibutuhkan dalam waktu yang relatif lebih
lama sehingga kebutuhan gizi yang diperlukan tersedia dalam jumlah yang
cukup.
Hasil analisis komposisi zat-zat makanan yang terdapat pada ekstrak
rumput kebar mengandung zat-zat gizi khususnya asam-asam amino yang
25
sangat dibutuhkan untuk produksi dan reproduksi sehingga mampu dalam
menjaga proses perkembangan embrio sampai lahir.
Penelitian Utama
Siklus dan Lama Estrus
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian ekstrak rumput
Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) dosis 1 (D1) , dosis 2 (D2), dosis 3 (D3)
memberikan pengaruh yang nyata (P<0.05) terhadap siklus estrus dan lama
estrus mencit putih betina (Mus musculus albinus).
Pemberian ekstrak rumput Kebar D1, D2 dan D3,
nyata (P<0.05)
memperpendek rata-rata lama estrus masing-masing 4.00 ± 0.00 hari
dibandingkan kontrol dengan lama estrus rata-rata 5 hari. Pada parameter
panjang estrus, perlakuan D2, dan D3 nyata (P<0.05) memperpanjang lama
estrus rata-rata 63.60 ± 9.88 jam dan 63.60 ± 5.80 jam dibandingkan D1 dan
kontrol dengan masing-masing panjang estrus 52.80 ± 6.20 jam dan 33.60 ± 9.47
jam (Tabel 5).
Berdasarkan data pada Tabel 5 terlihat bahwa perlakuan D1, D2 dan D3
mampu memperpendek rata-rata siklus estrus dari 4.70 – 4.80 hari sebelum
perlakuan menjadi rata-rata 4 hari selama perlakuan, sedangkan pada mencit
putih yang tidak diberikan esktrak rumput Kebar tidak terjadi perubhan rata-rata
siklus estrus yaitu 4.6 hari. Selanjutnya pada parameter lama estrus perlakuan
D1, D2 dan D3 pemberian ekstrak rumput Kebar mampu menambah lama estrus
selama perlakuan dibandingkan dengan sebelum perlakuan. Selanjutnya terlihat
bahwa peningkatan dosis akan meningkatkan rata-rata lama estrus.
Tabel 5 Rata-rata siklus dan lama estrus
Perlakuan
Kontrol
0.045 mg/bb
0.090 mg/bb
0.135 mg/bb
Parameter
Siklus estrus (hari)
Lama estrus (jam)
Sebelum
Selama
Sebelum
Selama
a
a
a
c
4.60± 0.52
4.60 ± 0.52
31.2 ± 4.37
33.60 ± 9.47
a
b
a
b
4.70± 0.48
4.00 ± 0.00
31.2 ± 5.51
52.80 ± 6.20
a
b
a
a
4.70± 0.48
4.00 ± 0.00
32.4 ± 5.80
63.60 ± 9.88
a
b
a
a
4.80± 0.42
4.00 ± 0.00
33.6 ± 6.45
63.60 ± 5.80
Keterangan : a,b,c,= huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0.05)
Analisis statistik lampiran 1.
Smith dan Mangkoewidjojo (1988), menyatakan rata-rata siklus estrus dan
lama estrus pada mencit laboratorium masing-masing 4-5 hari dan 12-14 jam.
26
Pada penelitian ini terlihat bahwa perlakuan pemberian ekstrak rumput Kebar D1,
D2 dan D3 mampu memperpendek rata-rata siklus estrus namun masih berada
dalam kisaran normal siklus estrus mencit. Sekalipun demikian, perlakuan D1,
D2 dan D3 mampu memperpanjang lama estrus dibandingkan dengan tanpa
pemberian ekstrak rumput Kebar (kontrol).
Menurut Toelihere (1985), siklus estrus dibagi menjadi 4 fase, yaitu fase
proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Fase proestrus adalah fase sebelum
estrus yaitu periode dimana folikel de Graaf bertumbuh di bawah pengaruh FSH
dan menghasilkan sejumlah estradiol yang makin bertambah. Fase ini sering
disebut sebagai fase folikuler. Fase estrus ditandai dengan keinginan kawin dan
penerimaan pejantan oleh hewan betina untuk berkopulasi. Pada fase ini folikel
de Graaf membesar dan menjadi matang. Fase ini estradiol yang berasal dari
folikel de Graaf yang matang, akan menyebabkan perubahan-perubahan pada
saluran reproduksi betina. Dalam selang waktu siklus estrus akan terjadi proses
pertumbuhan, perkembangan dan pematangan folikel serta menghasilkan
sejumlah estradiol dari ovarium yang distimulasi oleh FSH. Folikel yang telah
matang akan distimulasi oleh LH dan akan terjadi ovulasi. Folikel yang tidak
terovulasi akan mengalami atresia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rumput Kebar memiliki protein
dengan Berat Molekul (BM) yang sama dengan BM hormon Pregnant Mare
Serum Gonadothropin (PMSG). Solomon (1988) menyatakan bahwa PMSG
adalah hormon yang mempunyai bioaktifitas mirip FSH dan LH. Selanjutnya
dikatakan bahwa hormon ini punya peran fisiologis untuk merangsang
pembentukan folikel, sel-sel interstitial serta terbentuknya sel-sel luteal. Hogan et
al (1986) menyatakan bahwa PMSG menyebabkan sel folikel berproliferasi dan
kemudian folikel tersebut tumbuh didalam ovarium sehingga semakin bertambah
jumlahnya dan selanjutnya mengalami pematangan. Liu dan Hseuh (1987),
Canipari (1994) dan Mattioli (1994) menyatakan bahwa PMSG secara in vitro
dapat mengoptimalisasikan stimulasi sel-sel kumulus untuk mensekresikan
Progesteron, Estradiol dan Prostaglandin dengan kadar yang relatif cukup tinggi
dan dapat berperan dalam proses suplai nutrisi yang dibutuhkan oleh embrio.
Pasaribu dan Indyastuti (2004) yang melaporkan bahwa pemberian ekstrak
rumput Kebar dapat meningkatkan kadar 17 ß-estradiol dalam darah mencit
putih.
Selanjutnya dilaporkan oleh Wajo (2005) bahwa pemberian ekstrak
27
rumput Kebar akan perkembangan folikel ayam buras, karena diduga
mengandung
saponin
yang
merupakan
bahan
dasar
untuk
sintesis
hormon-hormon steroid.
Steroid dalam darah akan menyebabkan sel-sel granulosa menjadi sensitif
terhadap gonadotropin dan menstimulas proliferasi dan diferensiasi sel-sel
granulosa. Kondisi tersebut akan mempengaruhi aksis hiphothalamus-pituitaria
menyebabkan kenaikan konsentrasi LH dan meningkatkan frekuensi pelepasan
sampai mencapai puncak (Indrasari, 2003).
Fase estrus dipengaruhi mekanisme hormonal yaitu berhubungan antara
hormon-hormon hipotalamus-hipofisis (GnRH, LH, FSH), hormon-hormon ovarial
(estradiol dan progesteron) dan hormon uterus (prostaglandin). Telah dilaporkan
oleh beberapa peneliti sebelumnya bahwa pada saat estrus konsentrasi estrogen
meningkat sesuai dengan pertumbuhan folikel de Graaf, dan selanjutnya di
bawah pengaruh serta peran LH yang disekresikan dari hipofisis anterior
terjadilah ovulasi dan selanjutnya terjadi pembentukan corpus luteum (CL). Pada
waktu CL telah mencapai ukuran maksimal dan fungsional akan terjadi
peningkatan konsentrasi progesteron.
Telah diketahui bahwa semakin lama estrus semakin besar kesempatan
jumlah sel telur yang diovulasikan. Menurut Hafez (1987) makin tinggi angka
ovulasi, makin besar peluang fertilisasi yang akan terjadi sehingga lebih banyak
embrio yang dihasilkan. Pada penelitian ini diduga ekstrak rumput Kebar mampu
meningkatkan jumlah hormon estradiol sehingga merangsang peningkatan
hormon estrogen yang berfungsi menginduksi ovulasi.
Menurut Manalu dan Sumaryadi (1995), estradiol, progesteron serta faktor
pertumbuhan lain merupakan perangsang pertumbuhan jaringan uterus untuk
mempersiapkan perubahan biokimia uterus sebelum implantasi. Pada penelitian
ini terlihat kecenderungan peningkatan dosis ekstrak rumput Kebar akan
meningkatkan rata-rata lama estrus.
Telah diketahui, makin panjang lama estrus akan memberikan peluang
lebih besar kepada hewan untuk ovulasi. Dengan demikian, pemberian ekstrak
rumput Kebar pada D1 (0.045 mg/g bobot badan), D2 (0.09 mg/g bobot badan)
dan D3 (0.135 mg/g bobot badan), mampu meningkatkan rata-rata lama estrus
pada mencit putih betina.
28
Jumlah Embrio
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian ekstrak rumput
Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) dosis 1 (D1) , dosis 2 (D2), dosis 3 (D3)
memberikan pengaruh yang nyata (P<0.05) terhadap perkembangan embrio
mencit putih betina (Mus musculus albinus).
Rata-rata jumlah embrio (total embrio) yang dihasilkan pada perlakuan
dosis 3 (rata-rata 11.14 ± 1.68 embrio) nyata lebih banyak dibandingkan dosis 1,
dosis 2 dan kontrol (P<0.05) (masing-masing 8.57 ± 1.81,
8.86 ± 1.21 dan
8.14 ± 6.94 embrio). Hal ini didukung oleh kualitas embrio yaitu jumlah embrio
yang mampu berkembang mencapai tahap morula sampai blastosis pada
perlakuan 2 dan 3 (masing-masing 8.71 ± 1.11 dan 10.86 ± 1.68 embrio) nyata
lebih banyak (P<0.05) dibandingkan dengan pada perlakuan dosis 1 dan kontrol
(masing-masing 7.14 ± 3.53 dan 5.43 ± 2.30) (Tabel 6).
Tabel 6 Rata-rata jumlah embrio
Perlakuan
Embrio 2-4
sel
Kontrol
0.045 mg/bb
0.090 mg/bb
0.135 mg/bb
1.57 ± 2.07
ab
0.29 ± 0.76
b
0.14 ± 0.48
ab
0.29 ± 0.76
a
Parameter
Sel telur yang tidak
terbuahi-Degenerasi
Morulablastosis
c
5.43 ± 2.30
bc
7.14 ± 3.53
ab
8.71 ± 1.11
a
10.86 ± 1.68
a
1.14 ± 1.21
a
1.14 ± 2.19
a
0.00 ± 0.00
a
0.00 ± 0.00
Total
b
7.00 ± 2.00
b
7.43 ± 2.88
b
8.86 ± 1.21
a
11.14 ± 1.68
Keterangan : a = huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0.05)
Analisis statistik lampiran 2.
Data pada Tabel 6 menunjukkan rata-rata jumlah embrio (total embrio)
yang dihasilkan pada dosis 3 (11.14 ± 1.68 embrio) nyata lebih banyak
dibandingkan dosis 1, dosis 2 dan kontrol (P<0.05) (masing-masing 7.43 ± 2.88,
8.86 ± 1.21 dan 7.00 ± 2.00 embrio). Hal ini didukung oleh kualitas embrio yaitu
jumlah embrio yang mampu berkembang mencapai tahap blastosis pada dosis 2
dan 3 (masing-masing 8.71 ± 1.11 dan 10.86 ± 31.68 embrio) nyata lebih banyak
(P<0.05) dibandingkan dengan dosis 1 dan kontrol (masing-masing 7.14 ± 3.53
dan 5.43 ± 2.30).
Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat bahwa sebagian besar embrio yang
diperoleh pada hari keempat telah berada pada tahap morula-blastosis. Hal ini
sesuai dengan pendapat Pincus (1965), yang menyatakan bahwa pada hari
29
keempat embrio tikus berada pada tahap morula dan pada hari 4.5 berada pada
tahap blastosis.
Menurut Brinster (1973) cairan reproduksi betina (in vivo) ditandai dengan
tingginya konsentrasi asam amino, dimana oosit dan embrio mempunyai suatu
perbedaan asam amino endogenous yang menunjukkan bahwa asam amino
mempunyai fungsi biologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rumput
Kebar mempunyai 17 asam amino. Pemberian ekstrak rumput Kebar mampu
menyediakan asam amino yang dibutuhkan untuk perkembangan embrio.
Pada kelinci, sistin, triptopan, fenilalanin, lisin, arginin dan valin esensial
untuk pembelahan embrio. Diduga kondisi ini berlaku juga pada pembelahan
embrio mencit putih. Asam amino akan mengurangi hambatan perkembangan
embrio untuk mencapai perkembangan selanjutnya (Eriani, 1998). Berdasarkan
hasil penelitian diduga komposisi asam amino akan dimanfaatkan secara optimal
untuk perkembangan embrio mencit putih.
Selain itu pemberian esktrak rumput Kebar juga menyediakan nutrien yang
dibutuhkan mencit untuk perkembangan embrional. Selain kandungan asam
amino, ekstrak rumput Kebar juga mengandung vitamin A dan vitamin E. Pada
perlakuan penelitian dosis 1, dosis 2 dan dosis 3 terlihat adanya peningkatan
suplementasi vitamin A dan vitamin E. Menurut Parakkasi (1988), vitamin A
berperan dalam
menjaga keutuhan lapisan epitel dan jaringan reproduksi
hewan, dan vitamin E juga diduga turut berperan dalam menjaga pertumbuhan
embrio mencit putih, dimana salah satu fungsi vitamin E adalah menjaga
pertumbuhan embrio dari fase awal sampai lahir.
Vitamin E telah diketahui berfungsi sebagai antioksidan (Earl et al, 1997;
Gadea et al, 2000), yang tidak dapat diadur ular dalam sel termasuk sel embrio
sehingga dibutuhkan penambahan dari luar termasuk pakan dan air minum.
Dengan demikian pemberian ekstrak rumput Kebar mampu menyuplai kebutuhan
vitamin E, sehingga rata-rata kualitas embrio mencit putih dapat ditingkatkan.
Hardjopranjoto (1995) menyatakan kekurangan vitamin E pada tikus betina
dapat menyebabkan kematian fetus dan penyerapan kembali fetus awal oleh
dinding uterus. Dengan demikian esktrak rumput Kebar memberikan sumbangan
bagi perkembangan embrio sampai lahir.
30
Pertambahan Bobot Badan Induk, Jumlah Anak sekelahiran dan
Bobot Lahir
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian ekstrak rumput
Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) dosis 1 (D1) , dosis 2 (D2), dosis 3 (D3)
memberikan pengaruh yang nyata (P<0.05) terhadap pertambahan bobot badan
induk, jumlah anak sekelahiran (littes size) dan bobot lahir anak mencit putih
(Mus musculus albinus).
Pada parameter pertambahan bobot induk mencit terlihat bahwa perlakuan
D1 menghasilkan rata-rata pbb induk lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan D2, D3
dan kontrol, masing-masing 0.40 ± 0.03, 0.35 ± 0.04, 0.31 ± 0.02 dan 0.26 ± 0.02
gram/ekor/hari. Selanjutnya pada parameter liter size terlihat bahwa peningkatan
dosis esktrak rumput Kebar semakin meningkatkan rata-rata liter size berturutturut untuk D1, D2, D3 dibandingkan dengan kontrol adalah 10.80 ± 0.79,
11.70 ± 0.67, 12.90 ± 0.99 dan 8.40 ± 1.70. Untuk parameter berat lahir anak,
perlakuan D2 dan D3 (1.77 ± 0.11 dan 1.69 ± 0.10) nyata (P<0.05) menghasilkan
berat lahir anak dibandingkan D1 dan kontrol, masing-masing 1.47 ± 0.07 dan
1.46 ± 0.11 gram/ekor.
Tabel 7 menjelaskan rata-rata pertambahan bobot induk, liter size dan
berat lahir anak mencit putih putih yang diberikan esktrak rumput Kebar dosis 1,
dosis 2, dosis 3 dan kontrol.
Tabel 7 Rata-rata pertambahan bobot badan induk, litter size dan berat lahir
anak
Perlakuan
Kontrol
0.045 mg/bb
0.090 mg/bb
0.135 mg/bb
Pbb Induk
(g/ekor/hari)
d
0.26 ± 0.02
a
0.40 ± 0.03
b
0.35 ± 0.04
c
0.31 ± 0.02
Parameter
Litter Size
(ekor)
Berat lahir
(gram/ekor/hari)
d
8.40 ± 1.70
c
10.80 ± 0.79
b
11.70 ± 0.67
a
12.90 ± 0.99
b
1.46 ± 0.11
b
1.47 ± 0.07
a
1.77 ± 0.11
a
1.69 ± 0.10
Keterangan : a = huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0.05)
Analisis statistik lampiran 3.
Toelihere (1985) menyatakan bahwa faktor prenatal yang mempengaruhi
kualitas anak yang dihasilkan. Faktor-faktor tersebut antara lain hereditas, besar
dan umur induk, nutrisi, perkembangan embrio dalam endometrium sebelum
31
implantasi, jumlah anak dalam satu induk, posisi fetus dalam kornua uteri dan
ukuran plasenta.
Berdasarkan komposisi gizi dan asam amino yang terdapat pada rumput
Kebar diketahui bahwa kandungan zat-zat makanan yang tersedia sangat
dibutuhkan untuk pertambahan bobot badan induk dan bobot lahir anak mencit
putih betina. Berdasarkan hasil analisis komposisi kimia yang terdapat pada
rumput Kebar terlihat bahwa rumput Kebar mengandung hampir semua
kebutuhan nutrien untuk aktivitas produksi dan reproduksi pada mencit putih
betina dewasa.
Lehninger (1994) menyatakan bahwa nutrisi dipergunakan oleh tubuh untuk
pertumbuhan, kebutuhan hidup pokok dan aktivitas reproduksi. Kebutuhan nutrisi
berbeda untuk masing-masing aktivitas. Pada semua hewan atau ternak yang
sedang tumbuh, bunting atau menyusui membutuhkan lebih banyak nutrien
dibandingkan dengan hewan atau ternak yang tidak berada dalam fase tersebut.
Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) bahan dasar makanan mencit
bervariasi. Kebutuhan dasar untuk mencit adalah protein 20-25%; lemak 10-12%,
pati 45-55%, serat kasar 4% atau kurang; dan harus berisi vitamin A (15.000 –
20.000 IU/kg), asam linoleat 5 – 10 g/kg; tiamin (15-10 mg/kg). Untuk mencit
dewasa rata-rata kebutuhan makanannya 3 – 5 gram ekor/hari dan bertambah
jika mencit dalam keadaan bunting atau menyusui.
Pada penelitian ini, kandungan bahan makanan yang diberikan sesuai
dengan standar untuk mencit dewasa. Hasil analisis komposisi nutrien pada
rumput Kebar menunjukkan bahwa terdapat kandungan vitamin A dan vitamin E
masing-masing 199.30 dan 13.00 mg/100 ml IU (Tabel 1). Pemberian ekstrak
rumput Kebar melalui cekokan berarti memberikan tambahan nilai vitamin A dan
vitamin E pada mencit setiap hari berdasarkan dosis yang dicobakan.
Pemberian
ekstrak
rumput
Kebar
memberikan
tambahan
nutrien
berdasarkan dosis yang dicobakan dalam penelitian ini. Rata-rata tambahan
nutrien yang diperoleh dari
ekstrak rumput Kebar adalah 0.045 mg/g bobot
badan, 0.090 mg/g bobot badan dan 0.135 mg/g bobot badan masing-masing
untuk dosis 1, dosis 2 dan dosis 3 dibandingkan mencit yang tanpa pemberian
ekstrak rumput Kebar (kontrol).
Pada pertambahan bobot induk mencit terlihat bahwa perlakuan D1
menghasilkan rata-rata pbb induk nyata lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan D2,
32
D3 dan kontrol. Hal ini disebabkan peningkatan dosis esktrak rumput Kebar akan
meningkatkan rata-rata kandungan serat kasar yang dikonsumsi oleh mencit.
Diduga
peningkatan
kandungan serat kasar
pakan akan menghambat
pertambahan bobot badan mencit putih betina.
Hal ini disebabkan karena serat adalah bagian dari makanan yang tidak
dapat tercerna secara enzimatis. Menurut Linder (1992) serat yang kaya selulosa
merangsang
pemindahan
bahan
makanan
dalam
dan
melalui
saluran
pencernaan sehingga lambung cepat kosong. Dengan demikian, kesempatan
penyerapan zat-zat makanan menjadi lebih kecil dan terjadi penurunan
penyerapan unsur mikro dari zat-zat makanan yang terdapat dalam ekstrak
rumput Kebar.
Selanjutnya pada litter size terlihat bahwa peningkatan dosis esktrak
rumput Kebar semakin meningkatkan rata-rata litter size berturut-turut untuk D1,
D2, D3 dibandingkan dengan kontrol. Rata-rata litter size yang diperoleh dalam
penelitian ini (D3) lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan Rosa (2004) berkisar
antara 8.22 – 10.18 ekor/induk, Jaenuddin (2002) rata-rata 10.13 ekor/induk. Hal
ini dapat dipahami, karena setiap peningkatan dosis ekstrak rumput kebar
semakin meningkatkan rata-rata tambahan nutrien pada induk mencit. Kon dan
Cowie (1961) dalam Rosa (2004) menyatakan bahwa litter size sangat
bergantung pada umur dan ukuran tubuh induk, sedangkan nutrisi induk akan
menentukan ukuran bobot lahir anak mencit putih. Menurut Mystkowska (1980)
jumlah anak sekelahiran (Litter size) berhubungan erat dengan bobot lahir anak.
Jumlah anak sekelahiran yang lebih banyak umumnya menyebabkan bobot lahir
anak yang lebih kecil. Menurut Besenfelder et al. (1996) suplementasi
beta-karoten (provitamin A) pada pakan akan meningkatkan litter size pada tikus.
Berdasarkan
hasil
penelitian
terlihat
bahwa
perlakuan
dosis
3
menghasilkan jumlah anak lebih banyak namun rata-rata bobot anak lebih kecil
12.90 ± 0.99 ekor dan 1.69 ± 0.10 g/ekor dibandingkan perlakuan dosis 2 dengan
11.70 ± 0.67 anak dan 1.77 ± 0.11 g/ekor bobot lahir anak. Telah diketahui
bahwa pertumbuhan fetal tergantung pada pasokan makanan dan kemampuan
fetus menggunakan pakan. Terdapat hubungan yang erat antara pasokan
makanan dan perkembangan fetus. Hafez dan Hafez (2000) menyatakan bahwa
faktor lingkungan, nutrisi induk, litter size, ukuran plasenta dan tekanan iklim
akan mempengaruhi terhadap bobot lahir anak.
33
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan D2 menghasilkan
rata-rata bobot lahir anak lebih tinggi dibandingkan perlakuan D3 (P>0.05) dan
nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan D1 dan kontrol (P<0.05). Hasil yang
diperoleh pada perlakuan D2 dan D3 lebih tinggi dibandingkan dengan yang
dilaporkan Smith dan Mengkoewdijojo (1988) yang menyatakan bahwa bobot
lahir anak mencit putih berkisar antara 0.5 – 1 g/ekor, Fox et al. (1984) yang
melaporkan bobot lahir anak mencit putih berkisar antara 1.0 – 1.5 g/ekor dan
Rosa (2004) yang melaporkan bobot lahir anak mencit putih berkisar antara
1.47 – 1.51 g/ekor.
McDonals et al. (1988) menyatakan bahwa malnutrisi pada induk akan
menyebabkan kurang terpenuhinya nutrisi fetus sehingga dapat mengurangi
bobot lahir anak. Selain itu, jumlah anak yang lebih banyak menghasilkan ratarata bobot lahir yang lebih rendah, karena terjadinya persaingan dalam
memanfaatkan nutrisi yang berasal dari induk. Pada jumlah anak yang lebih
besar nutrisi anak akan terbagi menjadi lebih banyak dibandingkan jumlah anak
yang lebih sedikit. Menurut Mystkowska (1980) jumlah anak sekelahiran (litter
size) berhubungan erat dengan bobot lahir anak. Litter size yang lebih besar
umumnya menyebabkan bobot lahir anak yang lebih kecil.
34
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Ekstrak rumput Kebar mengandung zat-zat makanan dan 17 asam amino
yang dibutuhkan untuk meningkatkan penampilan reproduksi mencit putih
betina.
2. Ekstrak rumput Kebar mampu memperpendek siklus estrus, memperpanjang
lama estrus, meningkatkan jumlah embrio, pertambahan bobot badan induk,
jumlah anak sekelahiran dan bobot lahir anak pada mencit putih betina.
3. Pemberian ekstrak rumput Kebar sebanyak 0.135 mg/g merupakan dosis
terbaik untuk meningkatkan penampilan reproduksi mencit putih betina.
SARAN
1. Perlu diuji kandungan zat aktif dari rumput Kebar (Biophytum petersianum
Klotzsch)
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemberian ekstrak rumput
Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) terhadap penampilan reproduksi
pada manusia dan ternak lainnya.
3. Perlu
penelitian
lanjutan
untuk
menentukan
dosis
terbaik
dengan
meningkatkan konsentrasi ekstrak rumput Kebar diatas 0.135 mg/g bobot
badan.
35
DAFTAR PUSTAKA
Laporan Tahunan Dinas Peternakan. 2003. Kabupaten Manokwari dalam angka.
Hlm. 1-11
Atterwil CK, JD Flack. 1992. Endocrine toxicology. Cambridge University press.
Aurich. C and J. Han. 1994. In vitro maturation, fertilization and culture of bovine
oocyte in amodified Menezo. Anim.Reprod Sci. 35:153– 62.
Baker DEJ, JR Lindsey, SH Weisbroth. 1980. The laboratory rat. Vol. II.
Research applications. Academic Press Inc. London
Beard APM, G Hunter GE Lamming. 1994. Quantitative control of oxytosininduced estradiol PGF 2á releas e by proges terone and oes tradiol in ewes .
J. Reprod. And fert. 100 : 143-150
Besenfelder U, L Solti, J Seregi, M Muller, G Brem. 1996. Different roles for ßkaroten and Vitamin A in the reproduction on rabbits. Theriogenology. 1995
: 1583-1591
Brinster. R. L. 1973. Nutrition and metabolisme of the ovum, zygote and
blastocyt. In S. R. Geiger (Ed) Endocrinology. American physiological
society. Washington. Vol. II.p. 165 – 185.
Canipari. R. 1994. Cell–cell interactions and oocyte growth. Zygote.2:343 – 345.
Caropeboka AM. 1980. Pengaruh ekstrak akar phimpinella alpina koord.
Terhadap sistem reproduksi tikus. (Tesis). Bogor. Sekolah Pascasarjana,
Insitut Pertanian Bogor.
Carvalo ETL. 2001. Efektifitas penyuntikan PMSG dalam Superovulasi pada
bobot badan dan ukuran tubuh anak tikus putih saat lahir. (Skripsi). Bogor.
Fakultas Kedokteran Hewan, Insitut Pertanian Bogor.
Chatot. C. L, A. Ziomek, B. D. Bavister, J. L. Lewis and I. Torres. 1989. An
improved culture medium support development of random-bred 1-cel
mouse embryos in vitro. Reprod.Fertil. 86:679 – 688.
Crosignam PG,
FHT James. 1974. Recent progress in reproductive
endocrinology. Academic Press. London and New York.
Gadea J, E Selles, S Ruiz, P Coy, R Romar, C Matas, I Compas. 2000. Effect on
the presence of Gluthathione in the thawing diluent on the penetrability
capacity of porcine oocytes in vitro. Proceedings 14th ICAR, Stockholm 2-6
July 2000. 17:11. Abstract.
Earl CR, RJ Kelly, J Rowe, DT Amstrong. 1997. Gluthathione treatment of bovine
sperm enhances in vitro blasrocyts production rates. Theriogenology.
47:255. Abstract
Eriani K. 1998. Pengaruh penambahan asam amino dalam medium kultur bebas
serum terhadap perkembangan preimplantasi embrio mencit in vitro.
(Tesis). Bogor: Program pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
36
Fitirianti. 2002. Efektifitas penyuntikan prostaglandin F2á satu kali dan dua kali
untuk sinkronisasi estrus pada tikus putih (Rattus sp). (Skirpsi). Bogor:
Fakultas Kedokterann Hewan, Insitut Pertanian Bogor.
Fox JG, BJ Cohen, FM Leow. 1984. Laboratorty animal medicine. Academic
press, San Diego, California.
Gardner. D. K, and M. Lane. 1993. Amino acid and ammonium regulate mouse
embryo development in culture. Biol. Reprod. 18 : 337 – 350.
Guyton AC. 1994. Fisiologi Kedokteran bagian III. Edisi 7. Penerjemah. Ken
Ariata Tengadi, Penerbit buku kedoketarn EGC. Jakarta.
Hafez ESE. 1987. Mamalian eggs. In Reproduction in farm animal. 2th Lea and
Fabiger. Philadelphia. Hlm. 99-114.
Hafez ESE. 2000. Reproduction in farm animals. 6th. Edit. Lea and Febiger.
Philadelphia. Hlm. 140-155
Hardjopranjoto S. 1995. Ilmu kemanjiran pada ternak. Surabaya. Airlangga
University Press.
Hogan. B, F. Constantini and E. Lacy. 1986. Manipulating the mouse embryo.
Cold Spring Harbor Laboratory, USA.
Imbiri ANNH. 1997. Kajian tentang habitat rumput Kebar (Biophytum petersianum
Klotzsch) di Kecamatan Kebar Kabupaten Manokwari. (Skripsi) Faperta
Uncen Manokwari.
Indrasari W. 2003. Penggunaan hormon 17 ß-estradiol dan progesterone pada
medium TCM-199 dan D-MEM untuk fertilisasi in vitro Macaca fasicularis.
(Tesis). Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Jaenuddin. 2002. Respon reproduksi dan pertumbuhan mencit (Mus musculus)
dengan penambahan stimulan monogastrik. Skripsi. Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hlm. 20-29.
Lehninger AL. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jilid 3. Penerjemah M. Thenawijaya.
Jakarta. Erlangga. 5-40; 80-110.
Linder MC. 1992. Nutrisi dan Metabolisme makro dan mikromineral. dalam :
nutrisi dan metabolisme karbohidrat. Terjemahan Aminuddin Parakkasi.
Jakarta. Universitas Indonesia Press. 51-58.
Liu YX, AJW Hseuh. 1987. Plasminogen activator activity in cumulus-oocytes
complexes of gonadotrophin – Treated rats during preovulatory period. Biol.
Reprod. 36:1055–1062.
Manalu W dan MY Sumaryadi. 1995. Hubungan antara konsentrasi progesteron
dan estradiol dalam serum induk selama kebuntingan dengan total masa
fetus pada akhir kebuntingan. Prodising seminar nasional sains dan
Teknologi peternakan, Pengolahan dan komunikasi hasil pertanian. Balai
penelitian ternak, Pusat penelitian dan pengembangan peternakan, Balai
penelitian dan pengembangan pertanian. Ciawi, Bogor. Hal. 57-63.
37
Mattioli M. 1994. Transduction mechanisms for gonadotrophin-Induced oocyte
maturation in mammals. Zygote. 2:347–349.
McDonalds DP, RA Edwards, JFD Greenhalgh. 1988. Animal Nutrition. 4th Edit.
Longman Scientific and Technical Copublished with John Wiley and Sons,
Inc. New York. Hlm. 321-374
Melasari T. 1998. Efektifitas Sinkronisasi Estrus Menggunakan Progesteron dan
kombinasinya dengan esterogen terhadap respons estrus dan angka
kebuntingan pada Sapi potong. Tesis. Program Pascasarjana, Insitut
Pertanian Bogor.
Miyoshi K, LR Abeydeera, K Okudo, K. Niwa. 1995. Effect of osmolarity and
amino acids in a chemically defined medium on development of rat one-cell
embryos. Reprod. Fertil. 100:27-32
Mystkowska ET. 1980. The effect of litter size on body weight of young rats.
Theriogenology 25:273-275.
Parakkasi A. 1988. Ilmu gizi dan makanan ternak monogastrik. Bandung.
Angkasa
Partodiharjdo, S. 1992. Ilmu reproduksi hewan. Bogor. Fakultas Kedokteran
Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Pasaribu H, R Indyastuti. 2004. Efek infusa rumput Kebar (Biophytum
petersianum Klotzsch) terhadap kadar 17 ß-estradiol, jumlah folikel ovarium
dan tebal endometrium pada mencit (Mus musculus). (Skripsi). Jogyakarta.
Fakultas Biologi, Universitas Kristen Duta Wacana.
Pincus G. 1965. The control of fertility. Academic Press Inc. Nem York and
London. Ltd
Roberts RM, FW Bazer. 1988. The function of uterine secretions. J. Reprod.
Fert. 82:875-892
Rosa S. 2004. Performa reproduksi induk mencit (Mus musculus) oleh
penambahan bawang putih (Allium sativum) dalam pakan pada masa
bunting dan Laktasi. Skripsi. Fakultas peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Bogor. Hlm 16-25.
Silva JRV, R Van den Hurk, MHT de Matos, RR dos Santos, C Pessoa, MO de
Moraes, JR Fiqueiredo. 2004. Influences of FSH and EGF on primordial
follicles during in vitro culture of caprine ovarian cortical tissue.
Theriogenology 61:1691-1704.
Smith JB, S Mangkoewidjojo. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan
hewan percobaan di daerah tropis. UI Press. Jakarta. Hlm. 10-36
Solomon. S. 1988. The Placenta as an Endocrine organ : Steroids. Dalam The
Physiology of Reproduction dengan Editor : E. Knobil, J. Neill, L. L. Ewing,
G. S. Greenwald, C. L. Market, D. W. Pfaff. Hal : 2115 – 2122. Raven Press
Ltd. New York.
38
Sukra Y, L Rahardja, I Djuwita. 1989.
Bahan Pengajaran Embriologi.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan. Dirjen Dikti. Pusat Antar
Universitas Ilmu Hayat. Bogor. Insitut Pertanian Bogor.
Sunarti, 1992. Pengaruh umur induk terhadap perkembangan awal embrio
mencit (mus musculus albinus) hasil superovulasi. (Tesis). Program
Pascasarjana, Insitut Pertanian Bogor.
Steel. R. G. D, and J. H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika. Suatu
Pendekatan Biometrik. Alih Bahasa : Bambang Sumantri. Cetakan ke-2.
PT. Gramedia. Jakarta.
Toelihere MR. 1985. Fisiologi Reproduksi pada ternak. Angkasa. Bandung. Hlm.
266-299.
Veldkamp JF. 1976. Flora Malesiana Noordhoff
Leyden. The Nedherlands. Seri 1, Vol.7:151– 78.
International Publishing.
Wajo MJ. 2005. Pengaruh Pemberian Ekstrak Rumput Kebar (Biophytum
petersianum Klotzsch) melalui Air Minum terhadap Fertilitas Ayam Buras.
Laporan penelitian. Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu kelautan.
Universitas Negeri Papua.
Yu Y, W Li, Z Han, M Luo, Z Chang, J Tan. 2003. The effect of follicle-stimulating
hormone on follicular development, granulosa cell apoptosis and
steroidogenesis and its mediation by insulin-like growth factor-I in the goat
ovary. Theriogenology 60:1691-1704.
39
LAMPIRAN
Lampiran 1.a. Rata-rata siklus estrus dan lama estrus mencit putih (Mus
musculus albinus) betina sebelum perlakuan
Ulangan
siklus 1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
total
rataan
stdev
1
1
1.5
1
1.5
1
1
1.5
1.5
1.5
12.5
1.25
0.26
Kontrol
siklus 2
rataan
siklus 1
1.50
1.25
1.25
1.25
1.50
1.00
1.00
1.50
1.25
1.50
13
1.3
0.20
2
1.5
1
1.5
1.5
1
1.5
1.5
1
1
13.5
1.35
0.34
(hari)
2
1.5
1
1.5
1.5
1
1
1.5
1
1.5
13.5
1.35
0.34
Dosis 1
siklus 2
rataan
siklus 1
(hari)
1
1
1.5
1.5
1.5
1
1.5
1.5
1
1
12.5
1.25
0.26
Dosis 2
siklus 2
rataan
siklus 1
Dosis 3
siklus 2
(hari)
1.50
1.25
1.25
1.50
1.50
1.00
1.50
1.50
1.00
1.00
13
1.3
0.23
1
1
1.5
1
1.5
1.5
1.5
1.5
1
1
12.5
1.25
0.26
1.5
1
2
1.5
1.5
1.5
1.5
1.5
1.5
1
14.5
1.45
0.28
Lama estrus
rataan
Kontrol
Dos 1
(hari)
1.3
1.0
1.8
1.3
1.5
1.5
1.5
1.5
1.3
1.0
13.5
1.35
0.24
3
2
3
3
3
3
3
2
2
3
27
2.7
0.48
3
3
2
2
3
2
2
3
3
3
26
2.6
0.52
3.0
2.5
2.5
2.5
3.0
2.5
2.5
2.5
2.5
3.0
26.5
2.65
0.24
36
30
30
30
24
42
72
60
60
30
36
24
24
36
36
24
36
30
36
36
36
60
72
60
60
36
30
36
36
24
24
36
30
24
60
60
72
312
31.2
4.73
312
31.2
5.51
324
32.4
5.80
636
63.6
5.80
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Siklus estrus Sebelum Perlakuan
DF
3
36
39
R-Square
0.023810
Sum of Squares
0.20000000
8.20000000
8.40000000
C.V.
10.15448
Mean Square
0.06666667
0.22777778
F Value
0.29
Root MSE
0.477260
Pr > F
0.8304
Sesudah Mean
4.70000000
T tests (LSD) for variable: Siklus estrus Sebelum Perlakuan
Alpha= 0.05 df= 36 MSE= 0.227778
Critical Value of T= 2.03
Least Significant Difference= 0.4329
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
Mean
N
PER
A
A
A
A
A
A
A
4.8000
10
Dosis 1
4.7000
10
Dosis 2
4.7000
10
Dosis 3
4.6000
10
Kontrol
Lampiran 1.c. Anova lama estrus mencit putih betina sebelum perlakuan
Dependent Variable: Lama estrus Sebelum perlakuan
Source
Model
Error
DF
3
36
Sum of Squares
38.70000000
1213.20000000
Mean Square
12.90000000
33.70000000
Dos 3
36
30
30
Lampiran 1.b. Anova siklus estrus mencit putih betina sebelum perlakuan
Source
Model
Error
Total
Dos 2
(Jam)
F Value
0.38
Pr > F
0.7660
40
Total
39
R-Square
0.030913
1251.90000000
C.V.
18.16955
Root MSE
5.805170
BELUM Mean
31.95000000
T tests (LSD) for variable: Lama estrus Sebelum perlakuan
Alpha= 0.05 df= 36 MSE= 33.7
Critical Value of T= 2.03
Least Significant Difference= 5.2652
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
Mean
N
A
A
A
A
A
A
A
33.600
10
dosis 3
PER
31.800
10
dosis 2
31.200
10
Dosis 1
31.200
10
Kontrol
Lampiran 1.d. Rata-rata siklus estrus dan lama estrus mencit putih (Mus
musculus albinus) betina selama perlakuan
Ulangan
siklus 1
Kontrol
siklus 2
rataan
siklus 1
(Hari)
Dosis 1
siklus 2
rataan
siklus 1
(Hari)
Dosis 2
siklus 2
rataan
siklus 1
(Hari)
Dosis 3
siklus 2
Lama estrus
rataan
Kontrol
Dos 1
(Hari)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
total
rataan
2
1
2
2
1
2
2
1
1
2
16
1.6
1
1
1
2
1
1
2
1
1
1
12
1.2
1.50
1.00
1.50
2.00
1.00
1.50
2.00
1.00
1.00
1.50
14
1.4
3
3
2
2
2
2
2
2
3
2
23
2.3
2
2
2
2
2
2
2
2
2
3
21
2.1
2.50
2.50
2.00
2.00
2.00
2.00
2.00
2.00
2.50
2.50
22
2.2
3
3
2
2
3
3
3
2
3
3
27
2.7
3
3
2
2
3
2
2
3
3
3
26
2.6
3.0
3.0
2.0
2.0
3.0
2.5
2.5
2.5
3.0
3.0
26.5
2.65
3
2
3
3
3
3
3
2
2
3
27
2.7
3
3
2
2
3
2
2
3
3
3
26
2.6
3.0
2.5
2.5
2.5
3.0
2.5
2.5
2.5
2.5
3.0
26.5
2.65
stdev
0.52
0.42
0.39
0.48
0.32
0.26
0.48
0.52
0.41
0.48
0.52
0.24
60
60
48
48
48
48
72
72
48
48
72
60
72
60
60
60
72
60
48
24
24
36
48
48
60
60
60
60
72
72
60
60
60
72
336
33.6
528
52.8
636
63.6
636
63.6
9.47
6.20
9.88
5.80
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Siklus estrus Selama Perlakuan
DF
3
36
39
R-Square
0.529412
Sum of Squares
2.70000000
2.40000000
5.10000000
C.V.
Mean Square
0.90000000
0.06666667
F Value
13.50
Root MSE
6.221660
Pr > F
0.0001
Sesudah Mean
0.258198
4.15000000
T tests (LSD) for variable: siklus estrus selama Perlakuan
Alpha= 0.05 df= 36 MSE= 0.066667
Critical Value of T= 2.03
Least Significant Difference= 0.2342
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
Mean
N
A
4.6000
10
Kontrol
B
B
B
B
4.0000
10
Dosis 1
4.0000
10
Dosis 2
B
4.0000
10
Dos 3
36
24
36
48
24
36
Lampiran 1.e. Anova siklus estrus mencit putih betina selama perlakuan
Source
Model
Error
Total
Dos 2
(jam)
PER
Dosis 3
41
Lampiran 1.f. Anova lama estrus mencit putih betina selama perlakuan
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Lama estrus selama perlakuan
Source
Model
Error
Total
DF
3
36
39
R-Square
0.720207
Sum of Squares
6004.80000000
2332.80000000
8337.60000000
C.V.
15.07462
Mean Square
F Value
2001.60000000
30.89
64.80000000
Root MSE
8.049844
Pr > F
0.0001
ESTRUS Mean
53.40000000
Analysis of Variance Procedure
T tests (LSD) for variable: Lama estrus selama perlakuan
Alpha= 0.05 df= 36 MSE= 64.8
Critical Value of T= 2.03
Least Significant Difference= 7.3011
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
Mean
N PERL
A
A
A
63.600
10
Dosis 2
63.600
10
Dosis 3
B
52.800
10
Dosis 1
C
33.600
10
Kontrol
Lampiran 2.a. Rata-rata perkembangan embrio mencit putih (Mus
musculus albinus) betina
Kontrol
UL
PE
1
2
3
4
5
6
7
Total
Rataan
St Dev
0
0
4
5
0
1
1
11
1.57
2.07
MB
D
(sel)
9
0
8
0
5
3
3
0
5
1
5
2
3
2
38
8
5.43
1.14
2.30
1.21
Dosis 1
T
9
8
9
8
5
6
4
49
7.00
2.00
PE
MB
0
0
0
0
2
0
0
2
0.29
0.76
(sel)
10
11
8
7
0
7
7
50
7.14
3.53
Dosis 2
D
0
1
0
0
6
1
0
8
1.14
2.19
T
PE
10
11
8
7
2
7
7
52
7.43
2.88
MB
0
0
0
0
0
1
0
1
0.14
0.38
(sel)
8
8
8
8
9
9
11
61
8.71
1.11
Dosis 3
D
0
0
0
0
0
0
0
0
0.00
0.00
T
8
8
8
8
9
10
11
62
8.86
1.21
PE
2
0
0
0
0
0
0
2
0.29
0.76
MB
D
(sel)
10
14
10
11
9
12
10
76
10.86
1.68
Keterangan :
UL = ulangan
PE = Embrio 2 - 4 sel
M B = Morula sampai Blastosis
D = Degenerasi/sel telur yang tidak dibuahi
T = Total
Lampiran 2.b. Anova total embrio mencit putih betina
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Total embrio
Source
Model
DF
3
Sum of Squares
73.25000000
Mean Square
24.41666667
F Value
5.89
Pr > F
0.0037
0
0
0
0
0
0
0
0
0.00
0.00
T
12
14
10
11
9
12
10
78
11.14
1.68
42
Error
Total
24
27
R-Square
0.424199
99.42857143
172.67857143
C.V.
23.64781
4.14285714
Root MSE
2.035400
TOTAL Mean
8.60714286
T tests (LSD) for variable: Total Embrio
Alpha= 0.05 df= 24 MSE= 4.142857
Critical Value of T= 2.06
Least Significant Difference= 2.2455
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
Mean
N
PERL
A
11.143
7
Dosis 3
B
B
B
B
B
8.857
7
Dosis 2
7.429
7
Dosis 1
7.000
7
Kontrol
Lampiran 2.c. Anova embrio tahap 2 sampai 4 sel mencit putih betina
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable:
Source
DF
Model
3
Error
24
Total
27
R-Square
0.220000
Embrio Tahap 2 sampai 4 sel
Sum of Squares
Mean Square
9.42857143
3.14285714
33.42857143
1.39285714
42.85714286
C.V
Root MSE
206.5339
1.180193
F Value
2.26
Pr > F
0.1077
BELAH Mean
0.57142857
T tests (LSD) for variable: Embrio Tahap 2 sampai 4 sel
Critical Value of T= 2.06
Least Significant Difference= 1.302
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
A
A
B
B
B
B
B
A
A
A
Mean
N
PERL
1.5714
7
Kontrol
0.2857
7
Dosis 1
0.2857
7
Dosis 3
0.1429
7
Dosis 2
Lampiran 2.d. Anova embrio tahap morula sampai blastosis mencit putih
betina
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Morula sampai Blastosis
Source
Model
Error
Total
DF
3
24
27
Sum of Squares
112.10714286
130.85714286
242.96428571
Mean Square
37.36904762
5.45238095
F Value
6.85
T tests (LSD) for variable: Morula sampai Blastosis
Pr > F
0.0017
43
Least Significant Difference= 2.576
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
A
A
B
B
B
C
C
Mean
10.857
N
7
PERL
Dosis 3
A
8.714
7
Dosis 2
C
7.143
7
Dosis 1
5.429
7
Kontrol
Lampiran 2.e. Anova sel telur yang tidak terbuahi-degenerasi mencit putih
betina
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Sel telur yang tidak terbuahi-Degenerasi
Source
Model
Error
Total
DF
3
24
27
R-Square
0.195122
Sum of Squares
9.14285714
37.71428571
46.85714286
C.V.
219.3741
Mean Square
3.04761905
1.57142857
F Value
1.94
Root MSE
1.253566
Pr > F
0.1502
DEGE Mean
0.57142857
T tests (LSD) for variable: Sel telur yang tidak terbuahi-Degenerasi
Critical Value of T= 2.06
Least Significant Difference= 1.3829
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
A
A
A
A
A
A
A
Lampiran 3.a.
Mean
N
PERL
1.1429
7
Kontrol
1.1429
7
Dosis 1
0.0000
7
Dosis 2
0.0000
7
Dosis 3
Rata-rata Pertambahan bobot badan induk, jumlah anak
sekelahiran dan bobot lahir mencit putih (Mus musculus
albinus) betina
Kontrol
Dosis 1
PBB induk
(g/ekor)
Jumlah anak yang
lahir (ekor)
Rata-rata bobot
lahir (g/ekor)
PBB induk
(g/ekor)
0.26
0.25
0.27
0.28
0.25
0.24
0.29
0.25
0.27
0.26
2.62
0.262
0.015
8
7
7
8
8
8
10
10
9
9
84
8.4
1.07
1.47
1.61
1.65
1.45
1.48
1.51
1.32
1.34
1.35
1.37
14.55
1.455
0.11
0.39
0.46
0.43
0.36
0.37
0.4
0.38
0.39
0.42
0.41
4.01
0.401
0.030
Dosis 2
Jumlah anak yang Rata-rata bobot
lahir (ekor)
lahir (g/ekor)
11
11
12
10
12
10
10
11
11
10
108
10.8
0.79
1.49
1.4
1.39
1.55
1.33
1.51
1.55
1.51
1.49
1.5
14.72
1.472
0.07
Dosis 3
PBB induk
(g/ekor)
Jumlah anak
yang lahir (ekor)
Rata-rata bobot
lahir (g/ekor)
PBB induk
(g/ekor)
0.3
0.33
0.32
0.34
0.39
0.35
0.4
0.29
0.4
0.38
3.5
0.35
0.041
12
11
11
12
12
12
11
11
13
12
117
11.7
0.67
1.63
1.77
1.79
1.82
1.89
1.87
1.8
1.78
1.53
1.79
17.67
1.767
0.11
0.34
0.29
0.28
0.32
0.31
0.29
0.31
0.32
0.33
0.3
3.09
0.309
0.019
Jumlah anak yang Rata-rata bobot lahir
lahir (ekor)
(g/ekor)
14
14
12
13
11
13
13
14
12
13
129
12.9
0.99
1.58
1.55
1.81
1.78
1.82
1.69
1.67
1.59
1.79
1.65
16.93
1.693
0.10
44
Lampiran 3.b. Anova pertambahan bobot badan induk mencit putih betina
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Pertambahan Bobot Badan Induk
Source
Model
Error
Total
DF
3
36
39
R-Square
0.786361
Sum of Squares
0.10505000
0.02854000
0.13359000
C.V.
8.519307
0.028156
Mean Square
0.03501667
0.00079278
Root MSE
0.33050000
F Value
44.17
Pr > F
0.0001
BBINDUK Mean
Analysis of Variance Procedure
T tests (LSD) for variable: PBB INDUK
Least Significant Difference= 0.0255
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
Mean
N
PERL
A
0.40100
10
B
0.35000
10
Dosis 2
C
0.30900
10
Dosis 3
D
0.26200
10
Kontrol
Dosis 1
Lampiran 3.c. Anova jumlah anak sekelahiran mencit putih
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Jumlah Anak Sekelahiran
Source
Model
Error
Total
DF
3
36
39
R-Square
0.789703
Sum of Squares
108.90000000
29.00000000
137.90000000
C.V.
8.196598
Mean Square
36.30000000
0.80555556
F Value
45.06
Root MSE
0.897527
Pr > F
0.0001
JML Anak Mean
10.95000000
T tests (LSD) for variable: Jumlah Anak sekelahiran
Least Significant Difference= 0.814
Means with the same letter are not significantly different.
T Grouping
A
B
C
D
Lampiran 3.d.
Mean
12.9000
11.7000
10.8000
8.4000
N PERL
10 dosis 3
10 dosis 2
10 Dosis 1
10 Kontrol
Anova bobot lahir anak mencit putih
Analysis of Variance Procedure
Dependent Variable: Bobot Lahir
Source
DF
Sum of Squares
Mean Square
Model
3
0.73904750
0.24634917
Error
36
0.36303000
0.01008417
Total
39
1.10207750
R-Square
C.V.
Root MSE
0.670595
6.289022
0.100419
F Value
24.43
Pr > F
0.0001
BBLAHIR Mean
1.59675000
Analysis of Variance Procedure
T tests (LSD) for variable: Bobot Lahir anak
Critical Value of T= 2.03
Least Significant Difference= 0.0911
Means with the same letter are not significantly different.
45
T Grouping
Mean
A
A
A
B
B
B
N
PERL
1.76700
10
Dosis 2
1.69300
10
Dosis 3
1.47200
10
Dosis 1
1.45500
10
Kontrol
Lampiran 4. Hasil SDS-PAGE rumput Kebar (Biophytum petersianum
Klotzsch
A
B
52.033 KDa
17.556 KDa
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
Keterangan :
A. (1) Campuran utuh (akar, batang, daun); (2) Marker Berat Molekul (BM); (3) Akar; (4)
Batang; (5) Daun; (6) PMSG
B. (1) Marker Berat Molekul (BM); (2) Campuran utuh (akar, batang, daun); (3) Akar; (4)
Batang;
Download