WORKSHOP ARSITEKTUR

advertisement
http://karyailmiah.polnes.ac.id
WORKSHOP ARSITEKTUR
SEBAGAI PENUNJANG KEBERHASILAN
PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) PENDIDIKAN ARSITEKTUR
Sujoko Hastanto
(Staf Pengajar Jurusan Desain Politeknik Negeri Samarinda)
Abstrak
SUJOKO HASTANTO : Sebagai salah disiplin ilmu, maka pendidikan arsitektur
merupakan pendidikan yang berorientasi pada konsep rancangan dan hasil rancangan, yang
tidak hanya teori-teori desain yang diajarkan, tetapi sesungguhnya lebih berorientasi pada
konsep dan hasil dari penerapan–penerapan teori yang diajarkan. Melihat dari tuntutantuntutan yang muncul sangat perlu kiranya mahasiswa dapat memahami teori desain yang
diajarkan di bangku kuliah dengan serangkaian aplikasi teori lainnya, namun sangat penting
pula apabila mahasiswa dapat mengenali dengan baik obyek perancangan termasuk materialmaterial pendukung perancangan. mahasiswa arsitektur perlu diberikan pengetahuan pokok
mengenai material, sehingga mereka tidak akan asing dengan lingkup pekerjaan mereka.
Begitupula apabila hal itu dikaitkan dengan disiplin ilmu lain di sekitar mereka.
Berbicara mengenai bahan/material arsitektural kita tidak hanya berbicara tentang
keanekaragaman bahan, tetapi lebih dari itu pengenalan akan ukuran, bentuk, inovasi model,
pilihan warna, kemungkinan alternatif penggunaan dan sebagainya, menjadi hal yang sangat
penting. Hal ini juga untuk menghindari kefiktifan bahan sehingga desain akan lebih nyata,
bahkan desain yang berpangkal pada desain eksperimental dan imajinatif sekalipun. Workshop
arsitektur dapat berperan sebagai perpustakaan bahan, merupakan pendamping dari
perpustakaan berbasis literatur buku; tempat melakukan eksperimen berbagai media bahan, di
sini dapat dikembangkan dan diolah berbagai materi dan produk bahan baru; maupun sebagai
media apresiasi bagi karya-karya mahasiswa yang berorientasi kepada keberhasilan setiap isi
dan tujuan mata kuliah perancangan.
Kata kunci : Arsitektur, Bahan/material, Perancangan, Workshop Arsitektur
PENDAHULUAN
Pendidikan
arsitektur
merupakan
pendidikan yang berorientasi pada konsep
rancangan dan hasil rancangan. Pendidikan ini
mencakup tidak hanya teori-teori desain yang
diajarkan, tetapi sesungguhnya lebih berorientasi
pada konsep dan hasil dari penerapan–penerapan
teori yang diajarkan. Berangkat dari fenomena ini
tentunya desain harus memiliki keterkaitan antara
pengembangan ilmu pengetahuan; dalam hal ini
yang berkaitan dengan desain, keterkaitan ilmu
tersebut dengan kebutuhan masyarakat, serta
wujud nyata dari aplikasi teori-teori yang
ditransformasikan dalam wujud benda guna hasil
perancangan.
Riset / 2211
Perkembangan pembangunan dewasa ini
ditandai dengan meningkatnya bermacam-macam
bahan bangunan dan munculnya bahan bangunan
yang baru. Keadaan tersebut memungkinkan
berbagai ragam alternatif pemilihan bahan
bangunan dalam meng-konstruksi-kan gedung.
(Frick, 1999: hal v). Melihat dari tuntutan-tuntutan
yang muncul sangat perlu kiranya mahasiswa
dapat memahami teori desain yang diajarkan di
bangku kuliah dengan serangkaian aplikasi teori
lainnya, namun sangat penting pula apabila
mahasiswa dapat mengenali dengan baik obyek
perancangan
termasuk
material-material
pendukung perancangan.
Seorang Arsitek perlu untuk mengerti dasar
struktur yang mereka kerjakan. Mereka tidak perlu
mengetahui semua aspek teknik, mereka tidak
JURNAL EKSIS
Vol.8 No.2, Agustus 2012: 2168 – 2357
perlu mengerjakan teknik-teknik yang khusus
dalam arsitektur, tetapi mereka harus mengenali
secara dekat aspek dasar struktur dan mereka
harus mengerti pokok-pokok dasar dari material
yang digunakan untuk membangun sebuah gedung
(Rupp, 1989:hal 9). Dari hal yang dikemukakan
oleh Rupp, jelas sekali bahwa mahasiswa arsitektur
perlu diberikan pengetahuan pokok mengenai
material, sehingga mereka tidak akan asing dengan
lingkup pekerjaan mereka. Begitupula apabila hal
itu dikaitkan dengan disiplin ilmu lain di sekitar
mereka.
PROSES
BELAJAR
MENGAJAR
PENDIDIKAN ARSITEKTUR
(PBM)
Desain adalah hal yang komplek dan
merupakan sebuah keterampilan yang saling
berkaitan. Desain bukan kemampuan yang
diperoleh dalam sekejap dengan mengandalkan
kekuatan yang tersembunyi, tetapi merupakan
keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktekan
seperti halnya bermain olahraga atau instrumen
musik (Lawson, 1980: hal 6). Pendidikan arsitektur
merupakan satu hal yang keberadaannya harus
diikuti
dengan
pengolahan
keterampilan,
merupakan sebuah proses berkelanjutan dan
penguasaan terhadap detail-detail pekerjaan yang
diperlukan harus selalu dikembangkan. Proses
perancangan selalu diawali dengan pengumpulan
data, baik data-data fisik, literatur perancangan
maupun data-data asumtif yang membangun pola
pikir perancangan, yang kemudian diselesaikan
dengan
membuat
analisis-analisis
data
perancangan yang dilanjutkan dengan membuat
sketsa-sketsa desain sampai kepada penemuan
desain akhir yang sekaligus sebagai kesimpulan
perancangan.
Dengan pengerjaan waktu perancangan
yang relatif berjalan sepanjang 14 - 16 minggu per
semester, merupakan waktu yang berhak dan wajib
digunakan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan
setiap target perancangan berupa gambar kerja
perancangan dan deskripsi dari konsep desain.
Pekerjaan mendesain merupakan tugas yang
cukup “ menyenangkan” bagi mahasiswa, karena di
dalamnya tentu saja melibatkan banyak unsur
emosional, estetika, teknik, logika yang semuanya
berbaur menjadi satu menyusun sebuah karya
perancangan. Mahasiswa bebas untuk berkreasi,
berimajinasi,
mencipta,
mewujudkan
ide,
menyelaraskan fungsi dan estetika yang muncul
dalam bentuk gambar-gambar yang sangat
menarik,
presentatif,
dan
bahkan
sangat
monumental. Tetapi pada kenyataannya apakah
semuanya itu bisa diwujudkan atau setidaknya
dapat dipertanggungjawabkan secara faktual?
Kenyataan yang banyak dijumpai adalah bahwa
mahasiswa lebih memperhatikan kualitas gambar
dan ide-ide yang muncul. Hal ini dapat dijumpai
JURNAL EKSIS Vol.8 No.2, Agustus 2012: 2168 – 2357
ketika di dalam presentasi desain mahasiswa
cenderung untuk menanyakan kembali atau
menjawab dengan perkiraan segala sesuatu yang
menyangkut sisi aplikatif desain. Sesuai proses
yang diharapkan, mata kuliah perancangan yang
menjadi inti pembelajaran ditunjang dengan mata
kuliah lain sebagai pendukung sudah seharusnya
mempersyaratkan
penguasaan-penguasaan
keilmuan lain yang menunjang seperti, fisika,
konstruksi, teknologi bahan dan sebagainya.
Penguasaan bahan secara benar menunjukkan
bahwa penguasaan mahasiswa terhadap mata
kuliah yang diadakan di studio perancangan tidak
menjadi sesuatu yang abstraksi tetapi lebih kepada
sesuatu yang riil dan aplikatif.
TEKNOLOGI BAHAN
Bangunan biasanya dikonotasikan dengan
rumah, gedung ataupun segala sarana, prasarana
atau infrastruktur dalam kebudayaan atau
kehidupan
manusia
dalam
membangun
peradabannya seperti halnya jembatan dan
konstruksinya serta rancangannya, jalan, sarana
telekomunikasi.
Umumnya sebuah peradaban suatu
bangsa dapat dilihat dari teknik-teknik bangunan
maupun sarana dan prasarana yang dibuat
ataupun ditinggalkan oleh manusia dalam
perjalanan sejarahnya. Karena bangunan berkaitan
dengan kemajuan peradaban manusia, maka
dalam perjalanannya, manusia memerlukan ilmu
atau teknik yang berkaitan dengan bangunan atau
yang menunjang dalam membuat suatu bangunan.
Perkembangan ilmu pengetahuan tidak terlepas
dari hal tersebut seperti halnya arsitektur, teknik
sipil yang berkaitan dengan bangunan. Bahkan
penggunaan trigonometri dalam matematika juga
berkaitan dengan bangunan yang diduga
digunakan pada masa Mesir kuno dalam
membangun Piramida.
Bahkan pada masa sekarang, bangunan
bangunan berupa gedung tinggi dianggap
merupakan ciri kemajuan peradaban manusia.
Pada awalnya manusia hanya memanfaatkan apa
yang ada di alam sebagai sarana dan prasarana
ataupun infrastruktur dalam kehidupannya. Seperti
halnya memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal.
Kemudian memanfaatkan apa yang ada di alam
sebagai bahan-bahan untuk membuat infrastruktur
seperti halnya batu, tanah dan kayu. Kemudian
setelah ditemukan bahan bahan tambang yang
dapat digunakan untuk membuat alat atau benda
yang menunjang sebuah bangunan seperti halnya
barang logam dan mengolah bahan bahan alam
seperti mengolah batuan kapur, pasir dan tanah.
Dalam perkembangannya, manusia membuat
bahan bahan bangunan dari hasil industri atau
buatan manusia yang bahan-bahannya bakunya
diambil dari alam.
Riset / 2212
http://karyailmiah.polnes.ac.id
Dengan melihat perkembangan bahan
bangunan yang digunakan untuk membangun
rumah, rata-rata saat ini dinding rumah banyak
yang menggunakan bata ataupun batako, sehingga
perlu diperhatikan sekali pengetahuan dasar teknis
cara membangun rumah yang benar.
Gambar 2.
Beberapa contoh material yang diperlukan
dalam perancangan
Gambar 1.
Material dalam pembangunan rumah tinggal.
(Kesesuaian gambar rancangan dengan gagasan
material yang dipikirkan perlu terus dibangun untuk
menghindari desain-desain yang tidak bisa
dikerjakan secara nyata)
Bervariasinya bahan bangunan yang
beredar di Indonesia baik dari segi performance
maupun kualitas, merefleksikan teknologi proses
produksinya. Kondisi ini memberikan keuntungan
kepada konsumen untuk memilih jenis bahan
bangunan yang akan dipakai sesuai dengan
keperluan dan fungsinya.
Pengaruh perkembangan dan kemajuan
teknologi produksi bahan bangunan, serta
pengaruh lain yang tidak kalah pentingnya adalah
perkembangan industri bahan bangunan dari tahun
1989 sampai dengan 2004 ini sangat pesat dan
jauh berbeda dengan kondisi pada era 90-an.
Banyak produk bahan bangunan yang beredar di
pasar, meskipun bentuknya sama namun kualitas
dan harganya sangat berbeda. Bagi sebagian
masyarakat, terutama dari golongan menengah ke
bawah tidak akan mempermasalahkan kondisi ini,
yang lebih penting adalah harganya terjangkau.
Namun bagi perencana, pelaksana dan masyarakat
menengah ke atas, kualitas akan lebih penting
dibandingkan harganya.
Disamping itu telah
banyak produk bahan bangunan baru yang beredar
di pasar, disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemajuan teknologi industri bahan bangunan,
sehingga diharapkan dapat membantu menekan
kerugian
terutama
dalam
penyelenggaraan
pembangunan yang berkualitas.
Riset / 2213
Pengembangan bahan-bahan yang inovatif
tidak disertai pemakaian bahan-bahan tersebut
pada bangunan baru dikarenakan para perancang
dan kontraktor ragu-ragu untuk mencoba bahanbahan baru tersebut, hal ini disebabkan jika terjadi
suatu kesalahan akan mengakibatkan kerugian
biaya yang cukup besar. Sehingga pemilihan
bahan material bangunan harus benar-benar
diperhitungkan, baik dari sisi bentuk maupun
biayanya. Tujuan pengembangan bahan bangunan
adalah untuk mencari bahan bangunan baru yang
lebih murah, baik dalam hal pemasangan,
pemeliharaan dan pengaruhnya pada manusia dan
lingkungan.
Lima bahan struktur bangunan hasil dari
evolusi arsitektur yang paling bisa diandalkan
dalam membangun rumah, gedung, kuil, dan
bangunan lainnya, dan masih menjadi favorit untuk
digunakan hingga saat ini karena terbukti kuat dan
tahan lama adalah :
1)
Kayu
Gambar 3.
Kayu sebagai material bangunan
Sebagai bahan konstruksi bangunan, kayu
memiliki banyak kelebihan sehingga menjadi salah
satu yang paling diandalkan sejak dulu hingga kini.
Selain dapat digunakan sebagai bahan utama
konstruksi seperti kolom dan penyangga atap, kayu
juga dapat digunakan sebagai elemen dekoratif.
Kayu memang lebih ringan dibandingkan dengan
batu. Namun kekuatannya tidak diragukan lagi.
Apalagi jika sudah mengalami proses pengeringan
JURNAL EKSIS
Vol.8 No.2, Agustus 2012: 2168 – 2357
yang baik. Kelebihan lainnya adalah mudah
dipotong dalam berbagai ukuran, bahkan dibentuk
dengan berbagai pola. Namun kayu juga memiliki
beberapa kelemahan. Antara lain rentan terhadap
kerusakan akibat lembab sehingga dapat
membusuk, dan keropos akibat digerogoti
serangga seperti rayap. Api juga menjadi musuh
besar bagi kayu. Walaupun memiliki beberapa
kerentanan, bangunan kayu sebenarnya bisa
bertahan lama, hanya memang tak setahan bahan
lainnya. Sebagai informasi tambahan, bangunan
kayu tertua di dunia diduga adalah Horyu-ji, sebuah
kuil di Jepang yang dibangun pada abad ke-8.
2)
Bata
dalam daya tegang (tension) dan tarik (stress).
Dimana terdapat sumber daya yang bisa digali dan
terdapat alat pemotong yang presisi, batu dapat
menjadi bahan alami yang sangat kuat dan
berguna. Tidak seperti batu bata, batu dapat
ditumpuk atau disusun tanpa bantuan adukan
semen dan dapat mendukung beban vertikal yang
berat. Batu juga material yang anti berubah betuk
(deformasi), tahan terhadap cuaca dan api, dan
dapat mendukung tampilan interior walau tanpa
polesan. Ada begitu banyak struktur batu yang unik
dengan berbagai tekstur yang masih menjadi daya
tarik bagi unsur dekoratif pada konstruksi modern
sekalipun.
4)
Beton
Gambar 4. Bata sebagai elemen bangunan
Batu bata termasuk material konstruksi
yang tahan lama, tahan cuaca, tahan api, mudah
dibuat, dan mudah dipasang. Umumnya terbuat
dari tanah liat, batu bata telah digunakan pada
struktur kuno seperti saluran air di Roma,
Pantheon, dan Tembok Besar China. Beberapa
eksperimen telah menghasilkan perkembangan
bentuk dan cetakan untuk membuat batu bata yang
seragam dimensinya, sehingga dapat ditumpuk
dengan mudah dan menghasilkan dinding yang
halus dengan sudut yang bersih. Dengan teknologi
yang lebih baik, sekarang telah terdapat batu bata
yang disebut hebel, yang merupakan campuran
dari pasir kuarsa, kapur dan semen. Hebel
memang lebih ringan dan kuat. Namun harganya
juga lebih mahal dari bata konvensional.
3)
Batu
Gambar 5.
Batu sebagai bahan bangunan
Batu merupakan material yang tahan lama
namun juga menantang untuk ditambang, berat
untuk dipindahkan, dan memiliki keterbatasan
JURNAL EKSIS Vol.8 No.2, Agustus 2012: 2168 – 2357
Gambar 6.
Beton sebagai material dasar bangunan
Beton adalah agregat yang tersusun dari
sejumlah bahan seperti batu dan pasir yang
dicampur dengan bahan pengikat seperti semen
dan air.
Campuran ini kemudian dibiarkan
mengering dan mengeras. Beton merupakan bahan
yang fleksibel yang dapat dibentuk di tempat, atau
dituangkan ke dalam cetakan yang setelah
mengeras baru kemudian diangkut. Walaupun
sudah dibuat sejak ratusan tahun yang lalu, namun
pada sekitar tahun 1860 barulah ditemukan ide
bahwa beton bisa diperkuat untuk meningkatkan
daya dukungnya (jumlah gaya atau tegangan agar
bisa menahan beban yang lebih berat), sehingga
beton mulai diterima secara luas. Beton bertulang
dapat dibentuk menjadi berbagai bentuk dengan
struktur pendukung batang baja sempit yang
tertanam tepat di dalam beton ketika adukan
material
penyusunnya
dituangkan.
Adanya
tulangan baja (rebar) pada beton membuat beton
menjadi bahan yang ideal untuk pembentuk
struktur dinding, balok, lantai, pondasi, rangka, dan
banyak aplikasi lainnya. Penggunaan batang logam
dan jala bersama-sama dengan media beton akan
menjadikannya struktur beton bertulang yang relatif
murah, fleksibel, dapat diandalkan, dan ekonomis.
Kemajuan teknologi di abad ke-20 telah
menjadikan beton bertulang sebagai „pemain‟ yang
lebih besar dalam desain bangunan modern dan
konstruksi. Beton pra-cetak dibuat di bawah kontrol
proses
manufaktur
dengan
meningkatkan
Riset / 2214
http://karyailmiah.polnes.ac.id
karakteristik reduksi kadar air dan membatasi
kapasitas penyebarannya. Sedangkan pada beton
pra-tarik, dibuat dengan membentangkan helaian
baja yang ditarik saat beton dikeraskan,
meningkatkan kekuatan tegangan beton bertulang,
dan melawan tekanan lendut.
5)
Besi dan Baja
Gambar 7.
Besi dan baja sebagai material bangunan
Saat membangun gedung bertingkat
(terutama pencakar langit), bahan bangunan yang
lebih kuat tentu sangat diperlukan untuk
mendukung struktur yang lebih tinggi. Gedunggedung tinggi akan menempatkan banyak beban
pada dinding terluarnya, yaitu semacam kerangka
penyangga yang diperlukan untuk menyokong
beban. Bisa kita lihat bahwa baja memiliki peran
ganda dalam konstruksi bangunan, yaitu dapat
tertanam dalam beton sebagai elemen pendukung,
atau justru menjadi pondasi itu sendiri. Baja dapat
dengan mudah diprefabrikasi agar dapat dipasang
dengan cepat dan mudah, baik dengan cara dilas,
dikeling, atau dibaut di tempat.
Selain itu baja dapat didaur ulang hingga
100 persen, sehingga cocok dengan konsep green
building. Baja juga merupakan pilihan yang relatif
ekonomis bagi bangunan komersial maupun bagi
bangunan perumahan. Munculnya teknologi baja
yang memungkinkan orang untuk merancang dan
membangun struktur gedung yang lebih tinggi telah
mengubah wajah arsitektur dan memperluas cara
kita menemukan solusi kreatif untuk bangunan
pencakar langit.
KENDALA BELAJAR MERANCANG
MAHASISWA ARSITEKTUR
wawancara
dengan
beberapa
kelompok
mahasiswa arsitektur mengenai pengetahuannya
tentang
bahan/material,
penulis
menjumpai
setidaknya ada beberapa kendala yang dihadapi
dalam merancang, diantaranya adalah, yang
pertama tidak tahu wujud dari benda yang akan
digunakan dalam item perancangan, kedua tidak
tahu ukuran-ukuran yang ada di pasar, ketiga tidak
tahu model-model inovasi terbaru dari produk
bahan yang ada di pasar, keempat tidak tahu
penerapan konstruksi pemasangan dari bahan
yang akan digunakan. Beberapa hal yang menjadi
catatan adalah mahasiswa sering mengalami
banyak perubahan desain berkaitan dengan
kendala desain yang dihadapi di lapangan.
Beberapa hal lain yang menjadi kendala adalah
bahwa disiplin ilmu desain merupakan hal baru
yang diketahui di perguruan tinggi, berbeda dengan
keilmuan lain seperti fisika, matematika, bahasa
dan lain sebagainya.
Di dalam studio perancangan, mahasiswa
mengerjakan tugas perancangan secara fiktif,
artinya apa yang selama ini diajarkan di pendidikan
arsitektur merupakan proyek fiktif yang kajiankajian perancangannya riil. Contohnya adalah
mahasiswa yang sedang merancang Taman
Edukasi, Dayak Center, Rumah Sakit Orthopedi,
dan banyak lagi judul-judul yang fenomenal
lainnya, semuanya merupakan kajian proyek fiktif.
Permasalahan bukan dari segi desain fiktifnya,
melainkan melalui keadaan seperti ini dapat
diartikan bahwa hasil rancangan mahasiswa yang
bersifat fiktif, akan menjadi bertambah fiktif pula
karena antara yang digambar, diangankan, dikaji
permasalahannya, menjadi kurang tepat karena
tidak adanya pemahaman bahan/material yang
benar.
BAGI
Secara umum bisa anggap bahwa setiap
mahasiswa
arsitektur
memiliki keterampilan
menggambar yang baik. Anggapan ini diasumsikan
dari banyaknya peminat jurusan arsitektur yang
tidak berhasil masuk karena tidak lolos dalam
seleksi menggambar. Yang menjadi masalah disini
adalah kemampuan mahasiswa arsitektur dalam
mengetahui dan mengenali beraneka ragam
material yang berpotensi digunakan sebagai
material pembentuk ruang.
Dalam suatu
Riset / 2215
JURNAL EKSIS
Gambar 8.
Hasil perancangan arsitektur
Vol.8 No.2, Agustus 2012: 2168 – 2357
manusia, yang selalu berbeda dan selalu memiliki
ciri spesifik di setiap tempat pendidikan, yang pasti
selalu menuju perkembangan ke arah yang lebih
positif. Dengan memfungsikan workshop sebagai
tempat bagi para mahasiswa untuk mengeluarkan
daya kreasi dan apresiasi terhadap kegiatan yang
menunjang perancangan, maka akan didapatkan
pola pikir yang efektif dan efisien pada diri
mahasiswa dalam merancang.
Gambar 9.
Perancangan Gubahan Massa
Gambar 11.
Workshop di Jurusan Desain Politeknik Negeri
Samarinda
Gambar 10.
Hasil karya Perencanaan Tapak
WORKSHOP ARSITEKTUR SEBAGAI
APRESIASI
MEDIA
Laboratorium
sebagai
wadah
pengembangan dari ilmu pengetahuan terapan
sangat
penting
peranannya
dalam
mengembangkan,
menemukan,
melahirkan
inovasi-inovasi baru berkaitan dengan setiap
disiplin ilmunya.Hampir di setiap perguruan tinggi
yang menyelenggarakan pendidikan arsitektur
memiliki mata kuliah tersebut. Mata kuliah yang
disusun sebagai tempat mahasiswa memperoleh
pengetahuan-pengetahuan
seputar
materialmaterial pembentuk desain.
Disebutkan bahwa mata kuliah tersebut
dititikberatkan pada pengetahuan-pengetahuan
dasar mengenai bahan-bahan, sehingga mahasiwa
dapat mengerti dengan baik berbagai macam hal
mengenai bahan yang akan digunakan dalam
karya rancangan mereka. Kurikulum pengetahuan
bahan di setiap perguruan tinggi penyelenggara
pendidikan arsitektur berkembang sesuai dengan
kebutuhan dan disesuaikan dengan tujuan
pemantapan keilmuan arsitektur dari masingmasing institusi pendidikan arsitektur. Demikian
pula silabus yang diturunkan dari kurikulum berupa
komponen tugas-tugas yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan bahan berkembang sesuai dengan
pengalaman, situasi, sumber daya alam dan
JURNAL EKSIS Vol.8 No.2, Agustus 2012: 2168 – 2357
Gambar 12.
Meubelair hasil workshop mahasiswa Jurusan
Desain Politeknik Negeri Samarinda
(meubelair sebagai pendukung interior bangunan)
KESIMPULAN
Mahasiswa arsitektur dengan segala
keberadaannya tidak dapat hanya dengan
mengandalkan kemampuan menggambar dan
gagasan-gagasan yang inovatif saja untuk
mencapai hasil studi yang baik dan layak diterima
dalam lingkungan pekerjaan desain di masyarakat.
Pendidik arsitektur harus memberi fasilitas kepada
mahasiswa dengan melengkapi pengetahuannya
mengenai
beragam
bahan-bahan
(material
bangunan).
Mahasiswa arsitektur harus diperlengkapi
dengan pengetahuan bahan secara utuh agar hasil
perancangannya
menjadi
lebih
maksimal.
Berbicara mengenai bahan, tidak hanya berbicara
tentang keanekaragaman bahan, tetapi lebih dari
Riset / 2216
http://karyailmiah.polnes.ac.id
itu pengenalan akan ukuran, bentuk, inovasi model,
pilihan warna, kemungkinan alternatif penggunaan
dan sebagainya, menjadi hal yang sangat penting
untuk mahasiswa.
Hal ini ini juga untuk
menghindari kefiktifan bahan sehingga desain akan
lebih nyata, bahkan desain yang berpangkal pada
desain eksperimental dan imajinatif sekalipun.
Workshop arsitektur dapat berperan sebagai
perpustakaan bahan, merupakan pendamping dari
perpustakaan berbasis literatur buku; tempat
melakukan eksperimen berbagai media bahan, di
sini dapat dikembangkan dan diolah berbagai
materi dan produk bahan baru; maupun sebagai
media apresiasi bagi karya-karya mahasiswa yang
berorientasi kepada keberhasilan setiap isi dan
tujuan mata kuliah perancangan.
DAFTAR PUSTAKA
Frick, Heinz. 1999.
Ilmu Bahan Bangunan:
Eksploitasi, pembuatan, penggunaan
dan pembuangan. Yogyakarta : Kanisius.
Keraf A.Sonny dan Mikhael Dua. 2001. Ilmu
Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis.
Yogyakarta : Kanisius.
Lawson, Bryan. 1980.
How Designers Think.
London : The Architectural Press Ltd.
Mulyasa,E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah :
Konsep Strategi dan Implementasi.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Rupp, William. 1989. Construction Materials For
Interior Design. New York : Whitney
Library of Design.
Setiawan, A.P. 2005. Laboratorium Bahan Interior
sebagai Pendukung Keberhasilan Proses
Pembelajaran Desain Interior (Dimensi
Interior Vol. 3 No. 1 Juni 2005; hal 6579). Surabaya : Jurusan Desain Interior,
Fakultas Seni dan Desain.
Siagian, I.S. 2005. Bahan Bangunan yang Ramah
Lingkungan (Salah Satu Aspek Penting
dalam
Konsep
Sustainable
Development). e-USU Repository.
Sugiarto, A. 2005. Kajian Persyaratan Umum
Bahan Bangunan di Indonesia. Jakarta :
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Permukiman, Departemen Pekerjaan
Umum.
www.tabloidhunianku.com
2012)
Riset / 2217
(Thursday,
10
May
JURNAL EKSIS
Vol.8 No.2, Agustus 2012: 2168 – 2357
Download