Malnutrisi dan Anemia Pada Penderita Tuberkulosis Paru

advertisement
Sheba Denisica Nasution | Malnutrisi dan Anemia pada Penderita Tuberkulosis Paru
Malnutrisi dan Anemia Pada Penderita Tuberkulosis Paru
Sheba Denisica Nasution
Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. TB merupakan penyakit infeksi yang menduduki
peringkat kedua kematian (1,5 juta kasus) terbanyak di dunia setelah infeksi oleh human immunodeficiency virus (HIV). TB
dapat menyebabkan bermacam-macam kelainan laboratorium seperti anemia, peningkatan sedimentasi eritrosit,
penurunan jumlah serum albumin, hiponatremia, gangguan fungsi hepar, leukositosis dan hipokalsemia. Malnutrisi dan
anemia merupakan komplikasi tersering pada penderita TB. Anemia pada penderita TB sebagai akibat dari penekanan
eritropoesis selain oleh karena defisiensi zat gizi dan sindrom malabsorbsi itu sendiri. TB dapat menyebabkan malnutrisi
oleh karena perubahan metabolik, kaheksia dan perubahan konsentrasi leptin dalam darah. Kedua kondisi tersebut juga
menjadi faktor resiko untuk kegagalan terapi, rekurensi dan kematian. Pengukuran Indeks massa tubuh (IMT) dan kadar
hemoglobin dapat digunakan untuk memprediksi keparahan dan resiko kematian penderita TB.
Kata kunci: anemia, malnutrisi, tuberkulosis
Malnutrition and Anemia in Tuberculosis Patient
Abstract
Tuberculosis (TB) is a major global health in the world. TB is an infectious disease that ranks as the second leading cause of
death (1,5 million cases) after human immunodeficiency virus (HIV) infection. TB can cause a variety laboratory
abnormalities such as anemia, increased erythrocyte sedimentation rate , low serum albumin level, hyponatremia,
abnormal liver function, leukocytosis and hypocalcemia. Malnutrition and anemia are common complication in TB. Anemia
in TB caused by suppression of erythropoesis besides nutrition deficiency and malabsorption syndrome. Malnutrition in TB
caused by metabolic changed, cachexia and changed of leptin consentration in serum Both of this condition also as risk
factor for treatment failure, recurrence and mortality in TB patient. Measurement of body mass index and hemoglobin
levels can be used as predictor for severity and mortality risk in TB patient.
Keywords: anemia, malnutrition, tuberculosis
Korespondensi: Sheba Denisica Nasution, Jalan Dr. Sutomo No. 26,HP 08976046446, Email [email protected]
Pendahuluan
Tuberkulosis (TB) merupakan penyebab
utama kematian dan kesakitan di dunia
terutama di negara-negara berkembang.1
Berdasarkan data WHO, pada tahun 2013
diperkirakan terdapat sembilan juta orang
dilaporkan sebagai kasus TB baru di dunia.2
Tuberkulosis menduduki peringkat kedua
kematian (1,5 juta kasus) yang disebabkan oleh
penyakit infeksi di dunia setelah infeksi human
immunodeficiency virus (HIV). Indonesia
menduduki peringkat ke-5 dengan angka
insiden kejadian TB terbesar di dunia setelah
India, Cina, Nigeria, Pakistan. Prevalensi
penyakit tuberkulosis berdasarkan diagnosis di
Indonesia pada tahun 2013 yaitu 0,4% dari
jumlah penduduk.3
Tuberkulosis
dapat
menyebabkan
bermacam-macam kelainan laboratorium
seperti anemia, peningkatan sedimentasi
eritrosit, penurunan jumlah serum albumin,
hiponatremia,
gangguan
fungsi
hepar,
leukositosis, dan hipokalsemia.4
Anemia
adalah komplikasi tersering dari penderita TB
dan faktor resiko untuk kematian.5 Banyak
penelitian menyatakan tingginya prevalensi
anemia pada penderita TB (16-94%).1,4
Terdapat berbagai macam patogenesis yang
menjelaskan hubungan TB dengan anemia.
Akan tetapi, banyak penelitian memperlihatkan
penyebab anemia pada TB yaitu dikarenakan
penekanan eritropoiesis oleh mediator
inflamasi yaitu IL-6 ,IFN-γ , IL-1β ,TNF-α.4
Kejadian anemia dapat diperberat oleh
defisiensi zat gizi dan sindrom malabsorbsi.4
Defisiensi besi adalah penyebab anemia pada
penderita TB.4 Anemia tanpa defisiensi besi
berhubungan juga dengan peningkatan resiko
TB rekurens.6
Anemia pada penderita
tuberkulosis juga dapat terjadi akibat status
nutrisi yang buruk pada penderita tuberkulosis
dibandingkan
dengan
individu
sehat.7
Parameter status nutrisi yang sering digunakan
adalah kadar albumin dan indeks massa
tubuh.8,9,10
Majority | Volume 4 | Nomor 8 | November 2015 | 29
Sheba Denisica Nasution | Malnutrisi dan Anemia pada Penderita Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis dapat menyebabkan atau
memperparah
malnutrisi
dengan
cara
mengurangi nafsu makan dan meningkatkan
katabolisme.11
Keadaan ini berhubungan
dengan keparahan penyakit TB dan prediktor
kematian pada penderita
TB. Penderita
dengan kenaikan berat badan yang rendah
selama terapi TB beresiko untuk gagal terapi
dan relaps dari penyakit TB.5 Kedua kondisi
inilah yang menjadi fokus pembahasan penulis
dalam tulisan ini.
Isi
Tuberkulosis
merupakan penyakit
menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis.2 Mycobacterium tuberculosis
merupakan bakteri berbentuk batang lurus
atau sedikit melengkung, tidak berspora, tidak
berkapsul dan berukuran lebar 0,3 – 0,6 μm
dan panjang 1 – 4 μm. Penyusun utama dinding
sel M.tuberculosis ialah asam mikolat, lilin
kompleks, trehalosa dimikolat yang disebut
“cord factor” dan mycobacterial sulfolipids
yang berperan dalam virulensi. Unsur lain yang
terdapat pada diniding sel bakteri tersebut
adalah polisakarida seperti arabinogalaktan
dan arabinomanan. Struktur dinding sel yang
kompleks
tersebut
menyebabkan
M.tuberculosis bersifat tahan asam yaitu
apabila sekali diwarnai dapat tahan terhadap
upaya penghilangan zat warna tersebut dengan
larutan asam alkohol.12
Menurut WHO pada tahun 2013
terdapat sembilan juta orang dilaporkan
sebagai kasus TB baru. Angka kematian yang
terjadi akibat TB yaitu 1.5 juta dan 0.4 juta
diantaranya disertai dengan infeksi sekunder
HIV.2 Menurut jenis kelamin, kasus BTA+ pada
laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu
hampir 1,5 kali dibandingkan kasus BTA+ pada
perempuan. Menurut kelompok umur, kasus
baru yang ditemukan paling banyak pada
kelompok umur 25-34 tahun yaitu sebesar
21,40% diikuti kelompok umur 35-44 tahun
sebesar 19,41% dan pada kelompok umur 4554 tahun sebesar 19,39%. Kasus baru BTA+
pada kelompok umur 0-14 tahun merupakan
proporsi yang paling rendah.3
Tuberkulosis merupakan penyakit sistem
respirasi dan menular.13 Bakteri akan keluar
dari sistem respirasi dan menginfeksi individu
yang lain melalui percikan (droplet) sputum
yang dibatukkan atau dibersinkan.14 Droplet
yang dikeluarkan, dapat melayang di udara
Majority | Volume 4 | Nomor 8 | November 2015 | 30
selama beberapa menit sampai beberapa jam
karena partikelnya berukuran 1–5 μm. Resiko
infeksi bergantung pada beberapa faktor,
seperti seberapa infeksiusnya sumber infeksi,
kontak terhadap sumber infeksi, jumlah basil
yang terdapat pada droplet, dan yang paling
penting adalah imunitas penjamu. Jalur utama
infeksi melalui paru-paru.13
Droplet yang terhirup dapat menghindari
sistem pertahanan di bronkus karena diameter
droplet yang kecil, yang kemudian droplet akan
masuk ke alveolus terminalis.13 Pada individu
yang tidak dapat menghancurkan seluruh
kuman, makrofag alveolus akan memfagosit
kuman TB yang sebagian besar dihancurkan.
Akan tetapi, sebagian kecil kuman TB yang
tidak dapat dihancurkan akan terus
berkembang biak di dalam makrofag dan
akhirnya menyebabkan lisis makrofag.
Selanjutnya, kuman TB membentuk lesi di
tempat tersebut, yang dinamakan fokus primer
ghon.15
Dari fokus primer ghon, kuman TB
menyebar melalui saluran limfe menuju
kelenjar limfe regional. Penyebaran ini
menyebabkan terjadinya limfangitis dan
limfadenitis. Jika fokus primer terletak di lobus
bawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan
terlibat adalah kelenjar limfe parahilus
(perihiler), sedangkan jika fokus primer yang
terletak di apeks paru, yang akan terlibat
adalah kelenjar paratrakeal. Gabungan antara
fokus primer, limfangitis, dan limfadenitis
dinamakan kompleks primer.15
Waktu yang diperlukan sejak masuknya
kuman TB hingga terbentuknya kompleks
primer secara lengkap disebut sebagai masa
inkubasi. Masa inkubasi TB bervariasi selama 212 minggu, biasanya berlangsung selama 4-8
minggu. Setelah imunitas selular terbentuk,
fokus primer di jaringan paru biasanya akan
mengalami
resolusi
secara
sempurna,
membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah
terjadi nekrosis perkijuan dan enkapsulasi.
Kelenjar limfe regional juga akan mengalami
fibrosis dan enkapsulasi, tetapi biasanya
penyembuhannya biasanya tidak sempurna
fokus primer di jaringan paru. Kuman TB dapat
tetap hidup dan menetap selama bertahuntahun dalam kelajar ini, tetapi tidak
menimbulkan gejala sakit TB.15
Gejala klasik klinis tuberkulosis paru
yaitu batuk kronik (>3 minggu), produksi
sputum, nafsu makan menurun, kehilangan
Sheba Denisica Nasution | Malnutrisi dan Anemia pada Penderita Tuberkulosis Paru
berat badan, demam, keringat malam, dan
hemoptisis.16 Batuk merupakan gejala yang
paling sering ditemukan dan terjadi karena
adanya iritasi bronkus. Sifat batuk dimulai dari
batuk kering (nonproduktif) kemudian setelah
adanya peradangan batuk menjadi disertai
dengan sputum (produktif). Keadaan yang
lanjut berupa batuk darah atau hemoptisis.17
Hemoptisis terjadi karena erosi pembuluh
darah di dinding kavitas, brokietaksis
tuberkulosa, ruptur pembuluh darah yang
berdilatasi di kavitas atau infeksi bakteri atau
fungal (Aspergillus mycetoma) di kavitas.18,19
Keadaan komorbid seperti anemia dapat
meningkatkan mortalitas pasien tuberkulosis.22
Anemia merupakan komplikasi tersering dari
tuberkulosis paru dan prevalensinya berkisar
16-94% di beberapa penelitian.1,4 Anemia
merupakan suatu kondisi dimana jumlah sel
darah merah atau kapasitas pembawa oksigen
lebih rendah daripada kebutuhan fisiologis
tubuh. Anemia dapat juga diartikan kadar
hemoglobin kurang dari 130 g/l pada laki-laki,
kurang dari 120 g/l pada wanita tidak hamil
dan kurang dari 110 g/l pada wanita hamil.
Anemia merupakan indikator dari nutrisi yang
buruk dan kesehatan yang buruk.23
Anemia biasanya berhubungan dengan
supresi sumsum tulang, defisiensi nutrisi,
sindrom
malabsorbsi
dan
kegagalan
pemanfaatan zat besi.24 Sindrom malabsorbsi
dan defisiensi nutrisi dapat memperparah
anemia.4 Pada tuberkulosis dapat terjadi
anemia defisiensi besi (anemia mikrositik
hipokromik) dan anemia akibat inflamasi
(anemia normositik normokromik). Anemia
dengan gambaran normositik normokromik
merupakan jenis anemia yang paling banyak
ditemukan pada tuberkulosis.1,4,24
Anemia pada TB yang diakibatkan
supresi eritropoesis oleh mediator inflamasi
merupakan patogenesis tersering dari anemia
pada TB.4 Kondisi ini terjadi karena adanya
disregulasi sistem imun terkait dengan respon
sistemik terhadap kondisi penyakit yang
diderita.13,25 Peningkatan sitokin proinflamasi
seperti TNF-α, IL-6, IL-1β serta Interferon-γ
berpengaruh terhadap penurunan eritroid
progenitor.7,13,25 Penurunan eritroid progenitor
ini menghambat diferensiasi dan proliferasi
eritrosit secara langsung.7
Anemia yang disebabkan oleh infeksi
kronik seperti TB mempunyai karakteristik
yaitu terganggunya homeostasis zat besi
dengan adanya peningkatan ambilan dan
retensi zat besi dalam sel RES. Zat besi
merupakan faktor pertumbuhan terpenting
untuk Mycobacterium tuberculosis. Retensi
besi pada sistem retikuloendotelial merupakan
salah satu mekanisme pertahanan tubuh.
Terganggunya
hemostatis
zat
besi
menyebabkan terjadinya pengalihan zat besi
dari sirkulasi ke tempat penyimpanan sistem
retikuloendotelial dan diikuti terbatasnya
persediaan zat besi untuk sel eritroid
progenitor. Hal ini menyebabkan terbatasnya
proses pembentukan eritrosit.7
Adapun patogenesis anemia akibat
inflamasi dapat dilihat pada Gambar 1. Pada
gambar bagian A menunjukkan adanya invasi
mikroorganisme, sel maligna atau reaksi
autoimun menyebabkan aktivasi sel T (CD3+)
dan monosit. Sel-sel ini meinduksi mekanisme
efektor imun dengan cara memproduksi
sitokin-sitokin seperti interferon-γ dari sel T
dan TNF-α, Interleukin-1, Interleukin-6 dan
Interleukin-10 (dari monosit atau makrofag).7
Sitokin-sitokin proinflamasi ini menyebabkan
penghambatan proliferasi dan diferensiasi dari
sel eritroid progenitor dan memicu penekanan
eritropoetin di ginjal.26
Gambar 1. Skema Patogenesis Anemia akibat
Inflamasi7
Bagian B menunjukkan interleukin-6 dan
lipopolisakarida menstimulasi ekspresi dari
hepsidin protein fase akut yang
akan
menurunkan absorbsi zat besi di diuodenum.8
Hepsidin akan meningkat selama inflamasi dan
infeksi. Hal ini menyebabkan disregulasi zat
besi disertai hipoferrimia dan anemia akibat
inflamasi. Hipoferremia dapat merupakan
Majority | Volume 4 | Nomor 8 | November 2015 | 31
Sheba Denisica Nasution | Malnutrisi dan Anemia pada Penderita Tuberkulosis Paru
pertahanan host untuk membatasi zat besi
untuk mikroorganisme.27
Bagian C menunjukkan interferon-γ dan
lipopolisakarida
atau
keduanya
akan
meningkatkan ekspresi dari divalent metal
transporter-1 (DMT-1) pada makrofag dan
menstimulasi pengambilan zat besi. Sitokin
interleukin-10 meningkatkan ekspresi reseptor
transferrin dan meningkatkan pemasukan
transferin ke dalam monosit. Interferon–γ dan
lipopolisakarida
menurunkan
ekpresi
ferroportin yang menghambat pengeluaran zat
besi dari makrofag dan juga dipengaruhi
hepsidin. Pada waktu yang sama, TNF-α, IL-1,
IL-6, dan IL-10 mempengaruhi ekspresi ferritin
serta menstimulasi penyimpanan dan retensi
zat besi di dalam makrofag. Mekanisme inilah
yang menyebabkan penurunan konsentrasi zat
besi di sirkulasi dan keterbatasan ketersediaan
zat besi untuk eritroid.7
Bagian D menunjukkan bahwa TNF-α,
interleukin-1 dan interferon-γ menghambat
produksi eritropoetin di ginjal.7 Bagian E
menunjukkan
TNF-α,
interferon-γ
dan
interleukin-1 menghambat diferensiasi dan
proliferasi sel eritroid progenitor secara
langsung. Selain itu, terbatasnya ketersediaan
jumlah zat besi dan penurunan aktivitas
biologis dari eritropoetin menyebabkan
penghambatan eritropoesis dan terjadi
anemia.7
Pada penderita anemia, keadaan
malnutrisi dapat menjadikan seseorang
memiliki massa tubuh yang tidak normal dan
memperburuk prognosis penderita.28 Pada
penderita anemia terdapat kelainan regulasi
serta nutrisi dalam tubuh. Kelainan nutrisi ini
berupa kekurangan albumin, folat, dan
mikronutrisi seperti selenium, zinc, vitamin B12,
vitamin D, dan zat besi6,29 sehingga memiliki
indeks massa tubuh dibawah normal.30
Indeks
massa
tubuh
dihitung
berdasarkan hasil pembagian berat badan
satuan kilogram dengan tinggi badan satu
meter kuadrat.28 Indeks masa tubuh pada
keadaan individu yang terserang penyakit
umumnya bervariasi. Pada penyakit metabolik
keadaan berat badan normal sampai berat
bedan berlebih sering ditemukan. Sedangkan
berat badan berlebih dan obesitas dapat
meningkatkan risiko hipertensi, diabetes
melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular dan
sindrom metabolik.31 Sedangkan pada penyakit
Majority | Volume 4 | Nomor 8 | November 2015 | 32
akibat inflamasi akut maupun kronik, keadaan
indeks massa tubuh cenderung menurun.32
Malnutrisi sering ditemukan pada
penderita TB paru. Penelitian di India
menunjukkan bahwa penderita TB tujuh kali
beresiko untuk mempunyai IMT <18,5 kg/m2
dan lingkar lengan tengah <24 cm.10 Aktivasi
respon imun selama infeksi akan meningkatkan
komsumsi energi.33 Malnutrisi pada TB juga
diperkirakan akibat penurunan jumlah protein
visceral, indeks antroprometri dan status
mikronutrisi.10
Hubungan
malnutrisi
dengan
tuberkulosis terdapat dua hubungan yaitu efek
tuberkulosis terhadap status nutrisi dan efek
malnutrisi terhadap manifestasi klinis dari
tuberkulosis sebagai akibat dari kelemahan
sistem imun.34 Malnutrisi juga merupakan
faktor resiko utama dari onset aktif
tuberkulosis dan juga malnutrisi dapat
memperburuk prognosis dari penyakit TB.33
Malnutrisi berpengaruh terhadap cell-mediated
immunity (CMI) dan CMI merupakan sistem
pertahanan tubuh utama untuk melawan TB.35
TB merupakan wasting or consumption
disease yang membuat adanya perubahan
metabolik pada penderita tuberkulosis.36
Perubahan metabolik yang terjadi adalah
anabolic block.30 Anabolic block merupakan
keadaan dimana asam amino tidak dapat
dibangun menjadi protein yang lebih
kompleks.30,36 Malnutrisi protein dapat
menyebabkan
anemia
normositik
normokromik dengan penurunan retikulosit
dan eritropoesis di sumsum tulang dan limpa.37
Selain itu, perubahan metabolik yang dapat
terjadi yaitu penurunan nafsu makan,
malabsorbsi
nutrisi
dan
malabsorbsi
38
mikronutrisi.
Defisiensi
mikronutrisi
merupakan
penyebab tersering dari imuodefisiensi
sekunder dan tuberkulosis. Pada penderita
tuberkulosis didapatkan defisiensi beberapa
mikronutrisi seperti zink, vitamin A dan
selenium.38 Hal ini menyebabkan terganggunya
respon imun tubuh.38,39 Defisiensi zink
menyebabkan penurunan aktivitas fagositosis
dan mengurangi jumlah sel T di sirkulasi.38,40
Zink mempunyai peranan yang penting dalam
kontribusi makrofag terhadap pertahanan
tubuh di tempat infeksi.38
Defisiensi vitamin A berpengaruh
terhadap fungsi normal dari limfosit B dan T,
aktivitas makrofag, pertahanan mukosa dan
Sheba Denisica Nasution | Malnutrisi dan Anemia pada Penderita Tuberkulosis Paru
epitel serta
respon antibodi. Vitamin A
dilaporkan dapat menghambatkan multiplikasi
basil virulen pada kultur makrofag manusia.
Selenium mempunyai fungsi penting dalam
pertahanan proses imun dan berperan penting
dalam pembersihan mycobacteria.38 Selenium
juga merupakan bagian terpenting dari enzim
antioksidatif seperti glutathion perioksidase
yang berfungsi memproteksi sel dari kerusakan
oksidatif.39
Tuberkulosis aktif berhubungan dengan
kaheksia, penurunan berat badan, konsentrasi
leptin di serum rendah. Leptin merupakan
mediator utama antara nutrisi dan imuntitas.33
Ketika muncul gangguan terhadap leptin, maka
akan terjadi anoreksia yang memungkinkan
terjadinya
keadaan
penurunan
status
nutrisi.32,36 Anoreksia menyebabkan kelainan
pada status nutrisi yang buruk dengan cara
mengurangi intake energi.5 Selain anoreksia,
terganggunya dari absorbsi nutrisi dan
peningkatan
katabolisme
berpengaruh
terhadap status nutrisi yang buruk.10
Inflamasi
oleh
M.
tuberculosis
menyebabkan
disregulasi
dari
sitokin
proinflamasi seperti TNF-α, IL-6,Interferon-γ
dan IL-1β.7 Disregulasi dari sitokin seperti IL-6
dan TNF-α akan menginduksi sintesis protein
fase reaktan, menghambat produksi serum
albumin dan pergeseran konsentrasi plasma
dari mikronutrien penting.41 Prevalensi anemia
akan meningkat pada status nutrisi yang
buruk.4
Indikator pengukuran status nutrisi
menggunakan
indeks
massa
tubuh.42
Pengukuran indeks massa tubuh dapat
mengetahui faktor resiko terhadap anemia
sehingga dapat menurunkan angka mortalitas
serta
morbiditas
pada
penderita
tuberkulosis.4,40 Penurunan indeks massa tubuh
menandakan adanya hubungan kejadian anemia
dengan mekanisme penurunan status nutrisi
karena wasting disease oleh M. tuberculosis dan
menyebabkan penurunan eritroid progenitor 36,42
serta penurunan kekebalan tubuh terhadap
infeksi mikroorganisme patogen.7,43 Penurunan
kekebalan tubuh dapat meningkatkan keparahan
penyakit dan mengurangi efekasi pengobatan
TB.36
Ringkasan
Tuberkulosis
dapat
menyebabkan
bermacam-macam kelainan seperti anemia,
peningkatan sedimentasi eritrosit, penurunan
jumlah
serum
albumin,
hiponatremia,
gangguan fungsi hepar, leukositosis dan
hipokalsemia. Anemia yang terjadi pada
tuberkulosis berupa anemia defisiensi besi
(anemia mikrositik hipokromik) dan anemia
akibat
inflamasi
(anemia
normositik
normokromik). Produksi sitokin proinflamasi
yang berlebih seperti TNF-α, IFN- γ dan IL-1
berpengaruh terhadap penurunan eritropoetin,
supresi respon sumsum tulang terhadap
eritropoetin dan merusak metabolisme zat besi
yang dapat mempengaruhi ketidakseimbangan
eritropoesis. Malnutrisi pada TB terjadi akibat
perubahan metabolik, kaheksia dan perubahan
konsentrasi leptin dalam darah. Perubahan
metabolik yang terjadi adalah proses anabolic
block, penurunan nafsu makan, malabsorbsi
nutrisi dan malabsorbsi mikronutrisi. Keadaan
nutrisi yang buruk dapat memperparah
keadaan anemia dan memperburuk prognosis
penyakit TB paru.
Simpulan
Tuberkulosis (TB) paru dapat menyebabkan malnutrisi dan anemia. Keadaan ini
dapat meningkatkan keparahan penyakit dan
mortalitas pada pasien TB. Pengukuran indeks
massa tubuh dan kadar hemoglobin dapat
dilakukan untuk meprediksi keparahan dan
risiko mortalitas akibat TB.
Daftar Pustaka
1. Monjur F, Rizwan F. A Cross-sectional
Study of Morphological Types of Anemia
in Pulmonary Tuberculosis Patient and
Associated Risk Indicators in a Selected
Hospital of Dhaka City , Bangladesh. Int J
Chem Environ Biol Sci. 2014;2(4):215–9.
2. World Health Organization. Global
Tuberculosis Report 2014. Geneva: WHO;
2014.
3. Kementrian
Kesehatan
Repbulik
Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia
Tahun
2013.
Jakarta:
Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia; 2014.
4. Lee SW, Kang YA, Yoon YS, Um S, Lee SM,
Yoo C, et al. The Prevalence and Evolution
of Anemia Associated with Tuberculosis.
korean Acad Med Sci. 2006;21(12):1028–
32.
5. Kawai K, Villamor E, Mugusi FM, Saathoff
E, Urassa W, Bosch RJ, et al. Predictors of
change in nutritional and hemoglobin
status among adults treated for
Majority | Volume 4 | Nomor 8 | November 2015 | 33
Sheba Denisica Nasution | Malnutrisi dan Anemia pada Penderita Tuberkulosis Paru
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
29.
tuberculosis in Tanzania. NIH Public
Access. 2011;15(10):1380–9.
Isanaka S, Mugusi F, Urassa W, Willett WC,
Bosch RJ, Villamor E, et al. Iron Deficiency
and Anemia Predict Mortality in Patients
with Tuberculosis. The Journal of
Nutritition. 2012; 350-357.
Weiss G, Goodnough LT. Anemia of
Chronic Disease. N Engl J Med.
2005;352(10):1011–23.
Aung KC, Feng L, Yap KB, Sitoh YY, Leong
IY, Ng TP. Serum albumin and hemoglobin
are associated with physical function in
community-living older persons in
Singapore.
J
Nutr
Heal
Aging.
2011;15(877):1–6.
Tsutsumi R, Tsutsumi YM, Horikawa YT,
Takehisa Y, Hosaka T, Harada N, et al.
Decline in anthropometric evaluation
predicts a poor prognosis in geriatric
patients. Asia Pac J Clin Nutr. 2012;21:44–
51.
Miyata S, Tanaka M, Ihaku D. The
prognostic significance of nutritional
status using malnutrition universal
screening tool in patients with pulmonary
tuberculosis.
Nutrition
Journal;
2013;12(1):1.
Bhargava A, Chatterjee M, Jain Y,
Chatterjee B, Kataria A. Nutritional Status
of Adult Patients with Pulmonary
Tuberculosis in Rural Central India and Its
Association with Mortality. PLoS One.
2013;8(10):1–11.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta:
PDPI; 2006.
Ahmad S. Pathogenesis , Immunology, and
Diagnosis of Latent Mycobacterium
tuberculosis Infection. Kuwait Univ.
2011;1–17.
Punnose AR. Tuberculosis. J Am Med
Assoc. 2013;309(9):938.
Rahajoe
N,
Setyanto
DB.
editor.Patogenesis
dan
Perjalanan
Alamiah. Dalam: Buku Ajar Respirologi
Anak. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia. 2013.
Reyn CF Von. Tuberculosis. N Engl J Med.
2013;368(8):745–55. Reyn CF Von.
among chinese women. Nutrition Journal;
2013;12(1):1.
Majority | Volume 4 | Nomor 8 | November 2015 | 34
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
30.
Tuberculosis.
N
Engl
J
Med.
2013;368(8):745–55.
Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis Paru.
Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
II Edisi IV. Jakarta: Publishing Interna;
2009.
Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL, Hauser
SL, Longo DL, Jameson JL, et al., editor.
Harrison’s principles of internal medicine.
Edisi ke-18. New York: McGraw Hill; 2012.
Serafino
RL.
Tuberculosis
2:
Pathophysiology and microbiology of
pulmonary tuberculosis. South Sudan
Med. 2013;6(1):10–2.
Palomino JC, Ritacco V, Leao SC.
Tuberculosis 2007 From basic science to
patient care. 2007.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta:
PDPI; 2011.
Naini RA, Moghtaderi A, Metanat M,
Mohammadi M, Zabetian M. Factors
associated with mortality in tuberculosis
patients. J Res Med Sci. 2013;52–5.
WHO. Haemoglobin Concentrations for
The Diagnosis of Anemia and Assesment
of Severity. Geneva: WHO Press. 2011;1–
5.
Turgut M, Uzun O, Ý EKÝTL, Özer O.
Pulmonary Tuberculosis Associated with
Autoimmune Hemolytic Anemia : An
Unusual
Presentation.
Turk
J
Haematologi.2002;19(4):477–80.
Kaufmann SHED. A Inflammation in
Tuberculosis: Interactions, Imbalances and
Interventions.
Current
Opinion
in
Immunology. Elsevier. 2013;25:441–9.
Morceau F, Dicato, M, Diederich D. ProInflammatory Cytokine-Mediated Anemia:
Regarding Molecular Mechanisms of
Erythropoiesis. Hindawi Publ Corp.
2009;2009:1–11.
Angelo GD, Coagulazione E, Chimicaclinica L, Microbiologia E, Ospedaliera A,
Abate SA. Role of hepcidin in the
pathophysiology and diagnosis of anemia.
2013;48(1).
Qin Y, Melse-boonstra A, Pan X, Yuan B,
Dai Y, Zhao J, et al. Anemia in relation to
body mass index and waist circumference
Lettow M Van, West CE, Meer JWM Van
Der, Wieringa FT, Semba RD. Low plasma
selenium concentrations , high plasma
Sheba Denisica Nasution | Malnutrisi dan Anemia pada Penderita Tuberkulosis Paru
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
human immunodeficiency virus load and
high interleukin-6 concentrations are risk
factors associated with anemia in adults
presenting with pulmonary tuberculosis in
Zomba district , Malawi. Eur J Clin Nutr.
2005;59:526–32.
Kenangalem E, Waramori G, Pontororing
GJ, Tjitra E. Tuberculosis Outcomes in
Papua , Indonesia : The Relationship with
Different Body Mass Index Characteristics
between Papuan and Non-Papuan Ethnic
Groups. PLoS One. 2013;8(9):1–9.
Ramel A, Halldorsson TI, Tryggvadottir EA,
Martinez JA, Kiely M, Bandarra NM, et al.
Relationship between BMI and body
fatness in three European countries. Eur J
Clin Nutr. Nature Publishing Group;
2013;67(3):254–8.
Zheng Y, Ma A, Wang Q, Ha X, Cai J,
Schouten et al. Relation of Leptin, Ghrelin
and Inflammatory Cytokineswith Body
Mass Index in Pulmonary Tuberculosis
Patients with and without Type 2 Diabetes
Mellitus. PLoS One. 2013;8:1–7.
Schaible U, Kaufmann S. Malnutrition and
infection: Complex mechanisms and global
impacts. PLoS Med. 2007;4(5):115
Oliveira MG, Delogo KN, Marinho H,
Gomes DM, Ruffino-netto A, Kritski AL, et
al. Anemia in hospitalized patients with
pulmonary tuberculosis. Bras Pneumol.
2014;40:403–10.
Cegielski JP, Mcmurray DN. The
relationship between malnutrition and
tuberculosis : evidence from studies in
humans and experimental animals.Int J
Tuberc Lung Dis. 2004;8:286–98.
Hood MLH. A Narrative Review of Recent
Progress
in
Understanding
The
Relationship Between Tuberculosis and
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
Protein Energy Malnutrition. Eur J Clin
Nutr. 2013;67:1122–8.
Borelli P, Blatt S, Pereira J, Maurino BB De,
Tsujita M, Xavier G, et al. Reduction of
erythroid progenitors in protein – energy
malnutrition. Britiish J Nutr. 2007;97:307–
14.
Gupta KB, Gupta R, Atreja A, Verma M,
Vishvkarma S. Tuberculosis and nutrition.
Lung India. 2009;26(1):9–16.
United States Agency for International
Development. Nutrition and Tuberculosis:
A review of the literature and
consideration for TB control programs.
Afrika: USAID,2008.
Nagu TJ, Spiegelman D, Hertzmark E,
Aboud S, Makani J, Matee MI, et al.
Anemia at the Initiation of Tuberculosis
Therapy Is Associated with Delayed
Sputum Conversion among Pulmonary
Tuberculosis Patients in Dar-es-Salaam ,
Tanzania. 2014;9(3).
Karyadi E, Schultink W, Nelwan RHH,
Gross R, Amin Z, Dolmans WM V, et al.
Community and International Nutrition
Poor Micronutrient Status of Active
Pulmonary Tuberculosis Patients in
Indonesia 1. Am Soc Nutr Sci. 2000:2953–
8.
Villamor E, Saathoff E, Mugusi F, Bosch RJ,
Urassa W, Fawzi W. Wasting and body
composition of adults with pulmonary
tuberculosis in relation to HIV-1
coinfection , socioeconomic status , and
severity of tuberculosis. Eur J Clin Nutr.
2006; 60:163–71.
Mehdi U, Toto RD. Anemia, diabetes, and
chronic kidney disease. Diabetes Care.
2009;32:1320–6.
Majority | Volume 4 | Nomor 8 | November 2015 | 35
Sheba Denisica Nasution | Malnutrisi dan Anemia pada Penderita Tuberkulosis Paru
Majority | Volume 4 | Nomor 8 | November 2015 | 36
Download