PIRETROID DAN ANTINYAMUK Nyamuk merupakan serangga

advertisement
PIRETROID DAN ANTINYAMUK
Nyamuk merupakan serangga yang sangat mengganggu di rumah tangga. Penggunaan
antinyamuk sebagai pengendali nyamuk di rumah tangga sudah sangat sering digunakan oleh
masyarakat. Namun demikian antinyamuk juga sering disalahgunakan oleh beberapa orang
sebagai alat untuk mencelakakan dirinya sendiri. Berdasarkan data kejadian keracunan tahun
2011 – 2015 akibat penggunaan
antinyamuk di rumah tangga yang dilaporkan ke Sentra
Informasi Keracunan Nasional BPOM sebanyak 2467 total kejadian keracunan. Antinyamuk
yang digunakan dalam rumah tangga dikemas dengan berbagai bentuk penggunaannya,
disemprot, dibakar, elektrik bahkan dioleskan pada kulit.
Penggunaan pestisida rumah tangga atau antinyamuk mengalami beberapa kali pergantian
penggunaan bahan aktif dikarenakan dampaknya pada kesehatan manusia. Zat aktif yang pernah
digunakan untuk pestisida rumah tangga, hygiene dan sanitasi, diantaranya diklorvos dan
klorpirifos yang termasuk dalam golongan organofosfat. Kedua zat aktif tersebut umumnya
terdapat pada produk antinyamuk yang disemprot. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian
Nomor : 39/Permentan/SR.330/7/2015 kedua bahan aktif tersebut diklasifikasikan ke dalam
kelompok pestisida yang dilarang penggunaannya. Menurut The WHO Recommended
Classification of Pesticides by Hazard and Guidelines to Classification 2009, diklorvos dilarang
penggunaannya untuk pestisida rumah tangga karena termasuk formulasi pestisida kelas Ib
dengan tingkat bahaya sangat berbahaya sekali, sedangkan klorpirifos termasuk formulasi
pestisida kelas II dengan tingkat bahaya sedang. Diklorvos merupakan pestisida golongan
organofosfat yang bekerja menghambat enzim asetilkolinesterase (AChE). Enzim ini sangat
mempengaruhi sistem saraf, jika enzim ini dihambat pembentukannya dapat menyebabkan mual
dan muntah, gelisah, berkeringat dan tremor otot tingkat tinggi. Sama halnya dengan diklorvos,
klorpirifos merupakan golongan organofosfat, dengan efek neurologis pada janin dan anakanak.6,7
Zat aktif lainnya yang digunakan untuk pestisida rumah tangga, hygiene dan sanitasi adalah
Propoksur. Zat ini umumnya terdapat pada produk antinyamuk yang disemprot, dibakar dan
elektrik.
Menurut The WHO Recommended Classification of Pesticides by Hazard and
Guidelines to Classification 2009, zat aktif ini digolongkan sebagai pestisida dengan tingkat
bahaya sedang (kelas II) yang menyebabkan propoksur tidak diperbolehkan digunakan sebagai
bahan aktif dalam pestisida rumah tangga. Propoksur merupakan pestida golongan karbamat
yang bekerja menghambat enzim asetilkoinesterase (AChE) yang berpengaruh terhadap sistem
saraf manusia. Umumnya kejadian keracunan zat ini biasanya karena terhirup yang dapat
meyebabkan mual dan muntah, berkeringat, pandangan kabur serta jantung berdebar.2,3,6
Saat ini zat aktif antinyamuk yang dianggap relatif aman untuk kesehatan dan mempunyai
potensi insektisida (potensi mengendalikan nyamuk dan serangga lainnya) yang lebih tinggi
namun dengan dosis rendah serta mampu membasmi nyamuk dengan cepat serta
direkomendasikan oleh WHO adalah insektisida golongan Piretroid. Piretroid merupakan
insektisida kimia, namun secara alami Piretroid ditemukan pada bunga krisantemum, diantaranya
transfluthrin, biphenthrin, cifluthrin, deltamethrin, etofenprox, α-cihalothrin, tetramethrin, dallethrin, d-phenothrin, cypermethrin, imiprothrin, prallethrin, permethrin. 1,2,3
Gambar 1. Bunga Krisantemum
Piretroid sebagai antinyamuk
Zat aktif piretroid umumnya terdapat pada produk antinyamuk dalam bentuk semprot, bakar
maupun elektrik. Golongan Piretrin sebagian besar telah menggantikan Propoksur dalam produk
antinyamuk. Berbagai merk produk antinyamuk sebagian besar sudah diganti kandungannya
menjadi golongan piretrin/piretroid, diantaranya transfluthrin, deltametrin, sipermetrin, alletrin.
Sifat piretroid yang memiliki sifat lipofilik (lebih menyukai lemak) sehingga zat ini dengan
sangat mudah dapat menembus kitin (eksoskeleton) dari serangga/ nyamuk dan melumpuhkan
Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui penghambatan ion natrium yang menyebabkan piretroid efektif
melumpuhkan nyamuk dan serangga lainnya.4
Berdasarkan struktur kimianya, piretroid dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu piretroid Tipe I dan
Tipe II. Piretroid Tipe I yang tidak terdapat molekul alfa siano (contoh : allethrin, resmethrin, dphenothrin dan permethrin) dan piretroid Tipe II terdapat molekul alfa siano (contoh :
deltamethrin, cypermethrin, cifluthrin dan fenvalerat). Menurut WHO, antinyamuk untuk
penyemprot ruangan adalah α-cipermetrin, bifenthrin, cifluthrin, deltametrin, etofenprox dan αcihalothrin. Sediaan yang beredar di pasaran bahan aktif yang sering digunakan diantaranya
transfluthrin, tetramethrin, d-allethrin, d-phenothrin, cypermethrin, imiprothrin, prallethrin,
cifluthrin, permethrin.1,2,4
Efek Piretroid terhadap Kesehatan
Keracunan piretroid dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas dan efek iritasi langsung.
Sementara untuk reaksi lain yang ditimbulkan akibat tertelan zat ini yaitu pusing, sakit kepala,
mual, muntah, nyeri perut hingga diare. Sedangkan apabila terhirup zat tersebut dapat
menyebabkan asma pada pasien dengan riwayat penyakit asma, sakit kepala, pusing, rasa lelah,
lemah serta perasaan tidak bertenaga.
Hal ini tergantung pada sensitifitas masing-masing
individu. 5,8,9
Apabila zat tersebut kontak dengan kulit dapat menyebabkan rasa terbakar di kulit dan eritema.
Efek langsung terhadap kulit yang ditimbulkan dan biasanya umum terjadi yaitu parastesia
(sensasi abnormal berupa kesemutan, tertusuk, atau terbakar pada kulit).
Bila secara tidak
sengaja kontak dengan mata akan menyebabkan iritasi, nyeri hingga bengkak pada kelopak mata
disertai produksi air mata yang berlebihan dan rasa takut terhadap cahaya.5,8,9
Menurut The WHO Recommended Classification of Pesticides by Hazard and Guidelines to
Classification 2009, pestisida ini dikelompokkan formulasi pestisida kelas II (bahaya sedang).
Apabila tertelan golongan pestisida ini akan cepat disebarkan ke Sistem Saraf Pusat (SSP) karena
piretroid memiliki sifat yang larut terhadap lemak yang menimbulkan gejala keracunan yaitu
berkeringat, suhu tubuh meningkat, kejang, gangguan pernapasan, koma.
Pertolongan Pertama Pada Korban Keracunan4
a. Terhirup :
Pindahkan korban ke tempat berudara segar dan lebih aman, berikan oksigen. Berikan
pernapasan buatan jika dibutuhkan. Longgarkan pakaian yang melekat ketat, seperti kerah
baju, dasi, atau ikat pinggang.
b. Kontak dengan mata
:
Lakukan irigasi dengan larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) atau setidaknya air bersih
mengalir, sekurangnya selama 15-20 menit dengan membuka kelopak mata dan dipastikan
tidak ada lagi bahan kimia yang tertinggal.
c. Kontak dengan kulit
:
Segera tanggalkan pakaian, perhiasan, dan sepatu yang terkontaminasi. Bersihkan bahan
kimia yang masih menempel di kulit dengan hati-hati. Cuci dan sikat kulit – terutama untuk
lipatan kulit, kuku, dan rambut menggunakan sabun dan air mengalir yang banyak sampai
dipastikan tidak ada bahan kimia yang tertinggal, sekurangnya selama 15-20 menit.
d. Tertelan :
Jangan lakukan induksi muntah. Jangan berikan apapun melalui mulut pada korban yang
tidak sadarkan diri. Longgarkan pakaian yang melekat ketat, seperti kerah baju, ikat
pinggang, atau dasi. Bilas mulut menggunakan air bersih, bila pasien sadar. Posisikan kepala
korban ke arah kiri dengan mulut lebih rendah untuk mencegah aspirasi jika terjadi muntah.
Segera bawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat.
Daftar Pustaka
1. Department of Health and Human Services. 2003. Toxicological Profile for Pyrethrins and
Pyrethroids. Toxic Subtances and Disease Registry : US
2. Atchison D., et all. 2012. Pyrethroids and Their Effects on Ion Channels. Lisencee INTECH
3. Word Health Organization. 2005. Safety of Pyrethroids for Public Health Use. WHO/ CDS/
WHOPES/ GCDPP
4. Goldfrank, L.R. et al. (eds.). 1994. Goldfrank’s Toxicologic Emergencies, 5th ed. Nowark:
Appleton and lange
5. Olson, K.R. 2012. Poisoning and Drug overdose sixth edition. Norwalk : Appleton and
Lange.
6. The WHO Recommended Classification of Pesticides by Hazard and Guidelines to
Classification 2009
7. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 39 Tahun 2015 tentang Pendaftaran Pestisida
8. Ellenhorn, Matthew J. 1997. Ellenhorn’s Medical Toxicology: Diagnosis and Treatment of
Human Poisoning 2nd edition. USA: Williams and Wiskins.
9. New
Zealand
National
Poisons
Centre.
2015.
http://www.toxinz.com/Spec/2780731/275960 (23 Juli 2016).
Pyrethrin.
Diunduh
dari:
Download