BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuhan Daun

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tumbuhan Daun Afrika
2.1.1 Morfologi Tumbuhan Daun Afrika
Vernonia amygdalina Del. atau yang biasa disebut Daun Afrika
adalah tumbuhan semak yang berasal dari benua Afrika dan bagian lain dari
Afrika, khususnya Nigeria, Kamerun dan Zimbabwe dan negara yang
beriklim tropis salah satunya adalah Indonesia. Tumbuhan ini dapat
ditemukan di halaman rumah, sepanjang sungai dan danau, ditepi hutan, dan
di padang rumput (Yeap et.al., 2010).
Daun Afrika mempunyai batang tegak, tinggi 1-3 m, bulat, berkayu,
berwarna coklat; daun majemuk, anak daun berhadapan, panjang 15-25 cm,
lebar 5-8 cm, berbentuk seperti ujung tombak, tepi bergerigi, ujung runcing,
pangkal membulat, pertulangan menyirip, berwarna hijau tua; akar
tunggang, berwarna coklat kotor (Ibrahim, et al., 2004; Ijeh, 2010).
2.1.2 Sistematika Tumbuhan
Berikut adalah sistematika tumbuhan (Ibrahim, et al., 2004):
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Bangsa
: Asterales
Suku
: Asteraceae
6
Marga
: Vernonia
Spesies
: Vernonia amygdalina Del.
2.1.3 Nama Daerah
Daun Afrika memiliki nama lain seperti bitter leaf (daun pahit) di
Nigeria,Shiwaka di Nigeria bagian Utara, Grawa di Amharic, Ewuro di Yoruba,
Etidot di Ibibio, Onugbu di Igbo, Ityuna di Tiv, Oriwo di Edo, Chusar-doki di
Hausa Shiwaka (Ijeh, 2010), Nan Fei Shu (Cina), dan daun Kupu-kupu
(Malaysia). Daun Afrika juga memiliki nama daerah di Indonesia seperti daun
pahit di pulau Jawa dan daun insulin di kota Padang.
2.1.4 Kandungan Tumbuhan
Hasil penelitian (Ejoh, et al., 2007; Ijeh, 2010) menunjukkan bahwa
tanaman daun Afrika banyak mengandung nutrisi dan senyawa kimia, antara lain
sebagai berikut: protein 19,2%, serat 19,2%, karbohidrat 68,4%, lemak 4,7%;,
asam askorbat 166,5 mg/100 g, karotenoid 30 mg/100 g, kalsium 0,97 g/ 100 g,
besi 7,5 mg/100 g, fosfor, kalium, sulfur, natrium, mangan, tembaga, zink,
magnesium dan selenium. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun Afrika
antara lain: saponin (vernoniosida dan steroid saponin), seskuiterpen lakton
(vernolida, vernoladol, vernolepin, vernodalin dan vernomygdin), flavonoid,
koumarin, asam fenolat, lignan, xanton, terpen, peptida dan luteolin. Hasil
penelitian (Setiawan, 2012) menunjukkan bahwa daun Afrika mengandung
flavonoid, glikosida, saponin, tannin, dan triterpenoid/steroid.
2.1.5 Khasiat Tumbuhan
Daun Afrika banyak digunakan untuk obat-obatan dan banyak penelitian
yang telah dilakukan seperti obat antibakteri dan antifungi (Erasto, et al., 2006),
7
antimalaria (Njan, et al., 2008), antikanker (Oyugi, 2009), antioksidan (Igile, et
al., 1994; Nwanjo, 2005), antidiabetes (Nwawnjo dan Nwokoro, 2004;
Atangwho, et al., 2007; Setiawan, 2012; Yusrina, 2014), analgetik (Njan, et al.,
2008), inotropik dan kronotropik (Sembiring, 2013) dan antimutagenik (Ginting,
2012).
2.2. Kanker
Kanker adalah penyakit pertumbuhan sel dengan terjadinya gangguan
atau hilangnya mekanisme pengontrol pertumbuhan dan pembelahan. Adanya
gangguan tersebut menghasilkan pertumbuhan baru dan menghasilkan masa
jaringan yang abnormal yang disebut tumor (Sukardja, 2000).
Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel
jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Dalam perkembangannya, selsel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat
menyebabbkan kematian. Kanker sering dikenal oleh masyarakat sebagai tumor,
padahal tidak semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak
normal atau abnormal (Hanahan, et al., 2000).
Tumor dibagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas.
Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas. Sebagian besar
tumor jinak tidak menyebabkan masalah serius dan dapat di buang dengan
proses pembedahan. Tumor ganas dapat menyebar dan merusak fungsi suatu
organ. Suatu individu dengan tumor ganas dikatakan mengidap kanker. Selama
masa perkembangan sel kanker mampu menghasilkan dan melepas sel pioner
yang dapat berpindah, menginvasi jaringan didekatnya, kemudian pindah
8
ketempat lain, membentuk koloni dan tumbuh di tempat itu. Penyebaran sel
kanker diluar tempat asalnya disebut dengan metastasis (Hanahan, et al., 2000).
Berdasarkan lokasinya kanker atau yang merupakan tumor ganas dapat
dibedakan sebagai berikut: karsinoma (pada jaringan kelenjar), sarkoma (pada
jaringan penghubung), limfoma (pada ganglia limfatik) dan leukimia (pada sel
darah) (Siswandono, et al., 2000).
Bentuk-bentuk tumor menurut jaringan tempat neoplasma berasal
yaitu (Tjay dan Rahardja, 2007) :
a. Adenoma: benjolan malignan pada kelenjar, misalnya pada prostat dan
mamma.
b. Limfoma: kanker pada kelenjar limfe, misalnya penyakit (non) Hodgkin
dan P. Burkitt yang beciri benjolan rahang.
c. Sarkoma: neoplasma ganas yang berasal pembuluh darah, jaringan ikat, otot
atau tulang, misalnya sarkoma Kaposi, suatu tumor pembuluh di bawah
kulit tungkai bawah dengan bercak-bercak merah.
d. Leukemia: kanker darah yang berhubungan dengan produksi leukosit
yang abnormal yang sangat tinggi dan eritrosit yang sangat berkurang.
f. Myeloma: kanker pada sumsum tulang, misalnya penyakit Kahler
(multiple myeloma) dengan pertumbuhan liar sel-sel plasma di sumsum.
g. Melanoma: neoplasma kulit yang luar biasa ganasnya, terdiri dari sel-sel
pigmen, yang dapat menyebar dengan pesat.
Kanker terjadi melalui beberapa tingkat yaitu:
a. fase inisiasi: DNA dirusak akibat radiasi atau zat karsinogen (radikal bebas).
9
Zat-zat inisiator ini mengganggu proses reparasi normal, sehingga terjadi
mutasi DNA dengan kelainan kromosomnya. Kerusakan DNA diturunkan
kepada anak-anak sel dan seterusnya.
b. fase promosi: zat karsinogen tambahan (co-carsinogens) diperlukan sebagai
promotor untuk mencetuskan proliferasi sel. Dengan demikian, sel-sel rusak
menjadi ganas.
c. fase progesi: gen-gen pertumbuhan yang disktivasi oleh kerusakan DNA
mengakibatkan mitosis dipercepat dan pertumbuhan liar dari sel-sel ganas.
Tumor menjadi manifes (Tjay dan Rahardja, 2002).
2.2.1 Kanker Serviks
Kanker merupakan istilah umum yang digunakan untuk mendiskripsikan
suatu rangkaian penyakit mematikan yang dapat mempengaruhi bagian tubuh
yang berbeda. Penyakit ini ditandai dengan pembelahan sel abnormal yang cepat
dan tidak terkendali. Semakin lama sel abnormal tersebut akan membentuk suatu
massa, tumbuh menjadi tumor. Pembelahan tak terkendali bukanlah hal utama
yang menyebabkan bahayanya kanker. Disamping pembelahan yang tak
terkendali, sel abnormal ini dapat berlanjut ke tahap invasi jaringan lain dan
menginisiasi pertumbuhan abnormal di situs lain, yang disebut dengan proses
metastasis (Sarkarar, et al., 2011).
Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan
perilaku sel epitel serviks. Sel kanker serviks pada awalnya berasal dari epitel
serviks yang mengalami mutasi genetik sehingga mengubah perilakunya. Sel
yang bermutasi ini melakukan pembelahan sel yang tidak terkendali, immortal
dan menginvasi jaringan stroma dibawahnya. Keadaan yang menyebabkan
10
mutasi genetika yang tidak dapat diperbaiki akan menyebabkan terjadinya
pertumbuhan kanker ini (Densen, 2008).
Pencetus kanker tidaklah sedikit, salah satunya adalah abnormalitas
struktur dan jumlah kromosom yang menyebabkan beberapa gen penting akan
hilang. Disamping hilangnya gen, abnormalitas kromosom juga dapat
menyebabkan over activation gen lain dan produksi protein abnormal. Mutasi
kromosom sulit diperbaiki oleh sel itu sendiri, sehingga seharusnya (pada sel
normal) sel akan melakukan “bunuh diri”. Namun pada kanker, gen yang
mengkode mekanisme self suicide terganggu, sehingga sel yang mengalami
abnormalitas kromosom akan tetap membelah tak terkendali (Kleinsmith, 2006).
Faktor
resiko yang merupakan pencetus kanker serviks, antara lain
(Rasjidi, 2007):
a. Infeksi Human Papiloma Virus (HPV), yang termasuk golongan papovavirus
yaitu virus DNA bersifat mutagen memiliki ukuran 55 nm. Tipe HPV antara
lain 16, 18, 31, 33, 35, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, diperkirakan masih
banyak beberapa tipe lain. Di Indonesia tipe virus risiko tinggi penyebab
kanker adalah 16, 18 dan 52. Tipe ini menimbulkan lesi rata dan tidak
terlihat sedangkan tipe resiko rendah menimbulkan pertumbuhan seperti
jengger ayam pada tipe HPV 6 dan 11.
b. Berganti-ganti mitra seks
c. Merokok, asap rokok bersifat karsinogen dan mutagen.
d. Defisiensi terhadap asam folat, vitamin C, E, beta karoten dihubungkan
dengan risiko kanker serviks.
11
Kanker leher rahim atau yang biasa disebut kanker serviks merupakan
jenis kanker yang terjadi pada sel rahim dan vagina. Menurut World Cance
Report (2008) kanker ini berasal dari epitel metaplasi di daerah scuacolumner
junction, yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan mukosa kanalis servikalis.
Kanker ini timbul karena adanya infeksi persisten Human Papiloma Virus
(HPV). Morfologi serviks dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Morfologi serviks yang terserang HPV (Anonim, 2013)
Human Papiloma Virus termasuk virus yang sederhana, non-eveloped,
dengan materi genetikanya berupa double stranded DNA (dsDNA). HPV
memiliki oncoge E6 dan E7 yang memproduksi protein pengganggu aktivitas
p53 dan protein Rb. Protein p53 merupakan komponen sentral dalam
penghentian proliferasi sel melalui siklus sel dan kematian sel (apoptosis). Pada
kanker serviks, protein E6 akan meningkatkan p53 dan merusaknya.
Oncoprotein E7 menyerang protein Rb yang bertanggung jawab dalam
menghambat proliferasi melalui G1 retriction point pada siklus sel. Jika Rb
terfosforilasi, maka siklus sel akan berlanjut dar G1 ke S. Pada sel terjadi
inaktivasiprotein Rb yang dapat menghentikan siklus sel pada checkpoint G1
sebagai bentuk regulasi pembelahan sel, akan tetapi adanya oncoprotein E7 yang
12
mengikat Rb, proses checking oleh Rb tidak lagi terjadi, sehingga sel akan
melanjutkan siklus selnya dan membelah. Gangguan pada p53 dan Rb inilah
yang dapat memicu terjadinya kanker serviks (Kleinsmith, 2006). Morfologi
HPV dan genome HPV dapat dilihat pada Gambar 2.2.
a
b
Gambar 2.2 (a) morfologi HPV, (b) genome HPV (Borutto dan Comperetto,
2012).
Sel kanker serviks tumbuh bertahap, dimulai dari adanya lesi prakanker
yang disebut intraepithelial neoplasi (Cervical Intraepithelial Neoplasia = CIN).
CIN terbagi menjadi 3 tingkatan, CIN 1 menandakan adanya replikasi HPV
yang aktif dan jarang menjadi kanker, sebagian besar dapat sembuh dan spontan.
Sebaliknya CIN 2 dan 3 merupakan prekursor kanker yang potensial. CIN dapat
berkembang menjadi kanker serviks invasif (Kobayashi, et al., 2004).
2.2.2 Pencegahan Kanker Serviks
Sel-sel yang abnormal dari kanker serviks dapat dideteksi dengan suatu
test yang disebut pap smear test. Pap smear merupakan metode pemeriksaan selsel yang diambil dari serviks dan kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk
melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut (Riono, 1999).
13
2.2.3 Pengobatan Kanker
Pengobatan kanker dapat dilakukan dengan cara pembedahan, radiasi,
kemoterapi, endokrinoterapi atau imunoterapi. Cara pembedahan, terutama
dilakukan untuk tumor padat yang terokalisasi. Cara radiasi digunakan sebagai
pengobatan penunjang sesudah pembedahan. Pemberian kemoterapi terutama
untuk pengobatan tumor tidak terlokalisasi seperti leukimia. Endokrinoterapi
merupakan bagian dari kemoterapi, yaitu penggunaan hormon tertentu untuk
pengobatan tumor pada organ yang poliferasinya tergantung hormon, seperti
pada karsinoma payudara dan prostat. Sedangkan cara imunoterapi masih dalam
penelitian, dan masa mendatang kemungkinan berperan dalam pencegahan
mikrometastasis (Siswandono, et al., 2000).
Obat antikanker mempengaruhi proses kehidupan sel yang terdiri dari
beberapa fase sebagai berikut (Siswandono,et al., 2000):
a. Fase mitotik (M), fase terjadinya pembelahan aktif . Replikasi kromosom
terpisah menjadi dua inti anak sel yang berlangsung selama 1 jam. Setelah
fase ini terdapat dua alternatif yaitu:
a. Menuju fase G1 dan memulai proses proliferasi.
b. Menuju fase istirahat (G0). Pada fase istirahat (G0) kemampuan sel
berpoliferasi hilang dan sel meninggalkan siklus secara tidak terpulihkan.
b. Fase post mitotik (G1), terjadi sintesis RNA dan protein. Pada akhir fase G1
terjadi sintesis RNA yang optimum. Fase ini umumnya terjadi kurang lebih 5
jam.
c. Fase sintetik (S), terjadi replikasi DNA dengan bantuan DNA-polimerase yang
menghasilkan DNA baru, sehingga rantai tunggal DNA menjadi rantai ganda.
14
Fase ini terjadi selama 7 jam.
d. Fase post sintetik (G2), fase ini dimulai apabila sel sudah menjadi tetraploid
dan x mengandung dua DNA, kemudian sintesis RNA dan protein dilanjutkan.
Fase ini terjadi selama 3 jam. Selanjutnya kembali ke fase mitotik.
Obat antikanker digolongkan menjadi lima kelompok yaitu senyawa
pengalkilasi, antimetabolit, antikanker produk alam, hormon dan golongan lainlain (Siswandono, et al., 2000).
a. Senyawa pengalkilasi merupakan senyawa reaktif yang dapat mengalkilasi
DNA, RNA dan enzim-enzim tertentu.
b. Antimetabolit yaitu senyawa yang dapat menghambat jalur metabolik untuk
kehidupan dan reproduksi sel kanker. Berdasarkan sifat antagonismenya
dibagi menjadi antagonis pirimidin, antagonis purin, antagonis asam folat dan
antagonis asam amino.
c. Antikanker produk alam adalah senyawa yang dihasilkan dari produk alam
dan memiliki khasiat sebagai antikanker. Antikanker produk alam terbagi
menjadi antibiotika antikanker, antikanker produk tanaman dan produk
hewan.
d. Hormon biasanya digunakan sebagai pengobatan tambahan setelah
pembedahan, dikombinasikan dengan antikanker lainnya. Beberapa
neoplasma dapat dikontrol oleh hormon androgenmprogestin dan estrogen
serta hormon adrenokortikoid.
e. Golongan lain-lain contohnya mitotan, 1-asparaginase, sisplatinum,
mikosantron dan asam klordonat.
15
2.3 Kultur Sel
Kultur sel adalah kultur sel-sel yang berasal dari organ atau jaringan
yang telah diuraikan secara mekanis dan atau secara enzimatis menjadi suspensi
sel. Suspensi sel tersebut kemudian dibiakkan menjadi satu lapisan jaringan
(monolayer) di atas permukaan yang keras (botol, tabung dan cawan) atau
menjadi suspensi sel dalam media penumbuh. Monolayer tersebut dapat
diperbanyak lagi, disebut subkultur atau pasase. Apabila dipasase terus menerus
maka dihasilkan sel lestari (cell line).
Sel lestari memiliki beberapa sifat yaitu:
a. Terjadi peningkatan jumlah sel
b. Sel-sel tersebut memiliki daya tumbuh yang tinggi
c. Sel-sel tersebut seragam
d. Biasanya sel-sel tersebut mengalami perubahan fenotipe atau transformasi
(Malole, 1990).
2.3.1 Sel HeLa
HeLa cell line diturunkan dari sel epitel kanker leher rahim (serviks)
manusia. Sel ini di diisolasi tahun 1915 dari rahim wanita penderita kanker leher
rahim bernama Henrietta Lacks yang berusia 31 tahun. HeLa cell line tumbuh
sebagai sel yang semi melekat (ATTC, 2011). HeLa cell line dapat digunakan
untuk test antitumor, transformasi, uji tumorgenesis, biologi sel dan invasi
bakteri. Sel ini secara morfologi merupakan sel eptelial yang sudah dimasuki
oleh Human Papiloma Virus (HPV) tipe 18. Sel ini bersifat immortal dan sangat
angresif sehingga mudah untuk dikultivasi tetapi sel ini mudah menginvasi
kultur sel lain (Doyle, et al., 2000).
16
Sel HeLa adalah sel kanker leher rahim akibat infeksi Human Papiloma
Virus (HPV 18) sehingga mempunyai sifat yang berbeda dengan sel leher rahim
normal. Sel kanker leher rahim yang di infeksi HPV diketahui mengekspresikan
2 onkogen, yaitu E6 dan E7. Protein E6 dan E7 terbukti dapat menyebabkan
sifat imortal ini tidak bersifat tumorigenik hingga suatu proses genetik terjadi.
Jadi, viral onkogen tersebut tidak secara langsung menginduksi pembentukan
tumor, tetapi menginduksi serangkaian proses yang pada akhirnya menyebabkan
sifat kanker (Goodwin dan DiMaio, 2000).
2.3.2 Sel Vero
Sel Vero merupakan sel yang didapatkan dari ginjal African Green
Monkey oleh peneliti Jepang pada tahun 1962. Sel Vero berfungsi sebagai
kontrol positif yang mewakili sel normal pada tubuh manusia. Sel Vero dipakai
juga pada penelitian bidang virus, bakteri intraseluler dan parasit. Pada
pengembangan vaksin, sel Vero digunakan untuk mengembangkan vaksin virus
influenza. Hingga kini telah dikenal beberapa tipe sel Vero, yaitu Vero 76 dan
Vero E6 (Witsqa, 2014).
Tipe-tipe sel Vero memiliki karakteristik dan sifat tertentu. Vero 76
memiliki karakteristik pertumbuhan yang lebih lambat daripada sel Vero awal.
Vero 76 biasa digunakan pada deteksi dan perhitungan virus demam hemoragi
dengan uji plaque. Vero E6 menunjukkan efek penghambatan kontak sehingga
sesuai untuk propagasi virus yang bereplikasi lambat (Witsqa, 2014).
Sel Vero dapat disimpan dalam nitrogen cair atau pada suhu 800C dalam
waktu lama. Stok beku ini memerlukan pengembangbiakan terlebih dahulu
sebelum dilakukan eksperimen. Sel Vero merupakan sel yang tak dapat
17
berkembang apabila berada dalam suspensi. Kondisi percobaan juga harus
dipertahankan sterilisasinya agar terhindar dari kontaminasi (Witsqa, 2014).
Sel Vero bukan merupakan sel kanker. Mekanisme pertumbuhan dan
penghambatannya sama dengan sel normal, oleh karena itu terdapat pula
mekanisme penghentian pertumbuhan. Sel Vero yang terus berkembang semakin
lama akan memenuhi luas area media yang digunakan. Kemudian terjadi kontak
antar sel mengakibatkan sel menerima sinyal untuk menghentikan pertumbuhan
(Sheets, 2000).
2.4 Uji Anti Proliferatif
Kemampuan sel untuk bertahan hidup dapat diartikan tidak hilangnya
kemampuan metabolik atau proliferasi dan dapat diukur dari bertambahnya
jumlah sel, meningkatnya jumlah protein atau DNA yang disintesis.
Kemampuan sel untuk bertahan hidup inilah yang menjadi dasar uji antikanker
(Kusumadewi, 2011).
Metode kuantifikasi sel yang banyak digunakan dalam penelitian
antipoliferatif adalah metode haemocytometer dan metode MTT.
a. Perhitungan secara langsung (metode haemocytometer)
Haemocytometer merupakan perangkat gelas bersama coverslip tipis, terbagi
dalam sembilan area dengan empat area pojok sebagai area menghitung
jumlah sel. Ketebalan chamber adalah 0,1 mm dengan kapasitas 10 µl cairan
berisi sel dalam area 0,9 mm3. Beberapa hal perlu diperhatikan saat
menghitung sel dengan haemocytometer adalah harus tersuspensi rata dan
jumlah sel minimum yang dihitung adalah seratus (Kusumadewi, 2011).
18
Sel yang melekat perlu ditripsinasi untuk mensuspensikan sel dalam larutan.
Tripan blue biasa digunakan untuk membedakan sel hidup dan sel mati. Sel
hidup tidak terwanai, bulat dan relatif kecil dibandingkan dengan sel mati.
Sedangkan sel mati membengkak dan berwarna biru (Doyle, et al., 2000).
b. Perhitungan secara tidak langsung dengan metode MTT
MTT assay dapat digunakan untuk mengukur proliferasi sel secara
kolorimetri. Metode ini berdasarkan pada perubahan garam tetrazolium (3(4,5-dimetitiazol-2-il)-2,5-difeniltetrazolium
bromida)
(MTT)
menjadi
formazan dalam mitokondria yang aktif pada sel hidup. MTT diabsorbsi ke
dalam sel hidup dan pecah melalui reaksi reduksi oleh enzim reduktase
dalam rantai respirasi mitokondria menjadi formazan yang terlarut dalam
SDS 10% berwarna ungu (Doyle, et al., 2000).
Warna
ungu
formazan
dapat
dibaca
absorbansinya
secara
spektofotometri dengan ELISA reader pada panjang gelombang 552-554 nm.
Absorbansi tersebut menggambarkan jumlah sel hidup. Semakin kuat intensitas
warna ungu yang terbentuk, absorbansi akan semakin tinggi, hal ini
menunjukkan bahwa semakin banyak MTT yang diabsorbsi ke dalam sel hidup
dan dipecah melalui reaksi reduksi oleh enzim reduktase dalam rantai respirasi
mitokondria sehingga formazan yang terbentuk juga semakin banyak,
absorbansi ini yang akan digunakan untuk menghitung persentase sel hidup
sebagai respon (Sieuwerts, 1995).
19
Berikut ini reaksi reduksi MTT menjadi Formazan dapat dilihat pada Gambar
2.2:
Gambar 2.3 Reaksi reduksi MTT menjadi Formazan (Stockert, et al., 2012).
2.5 Sitotoksik
Pada industri obat, kosmetik maupun zat tambahan makanan perlu
dilakukan penelitian praklinis sebelum produk tersebut dirilis ke pasaran. Salah
satu uji praklinis yang dilakukan adalah uji sitotoksisitas. Toksisitas dapat
diartikan dengan suatu mekanisme kompleks terjadi secara in vivo yang dapat
menyebabkan kerusakan tingkat se luler. Sifat sitotoksisitas inilah yang menjadi
prinsip pengobatan kanker, namun obat antikanker juga dapat menimbulkan efek
alergi dan inflamasi (Freshney, 2000).
Efek sitotoksisitas dari suatu senyawa yang menyebabkan kematian sel
dapat dipelajari dengan teknik kultur sel. Teknik kultur sel hewan merupakan
metode untuk mempelajari karakter suatu sel hewan dalam variasi sistemik yang
muncul selama keadaan normal (homoestatis) dan ketika diberi stress pada suatu
penelitian. Salah satu jenis kultur sel yang biasanya digunakan adalah cell line.
Cell line merupakan primary culture yang telah disubkultur dan menghasilkan
20
beberapa garis anakan sel yang sama maupun berbeda fenotip. Cell line dengan
lifespan terbatas disebut dengan finite cell line, tumbuh dengan jumlah generasi
yang terbatas sekitar 20-80 population doubling sebelum akhirnya mati. Jumlah
doubling tergantung pada garis anakan, variasi klonal dan kondisi kultur, akan
tetapi hal tersebut berlaku untuk suatu sel yang ditumbuhkan dibawah kondisi
yang sama (Freshney, 2000).
21
Download