Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Bisnis dan
Masyarakat
CSR sebagai Rantai Pasok
(SCM)
Fakultas
Program Studi
Program
Pascasarjana
Magister
Akuntansi
Abstrak
Tatap Maya
Kode MK
Disusun Oleh
09
A11531EL
Dr. Hermiyetti
(T-201)
Kompetensi
Supply Chain Management Memahami tentang
(SCM) menekankan pada pola CSR dan SCM
terpadu menyangkut proses aliran
produk dari supplier, manufaktur,
retailer hingga pada konsumen
akhir. Dalam konsep SCM rangkaian
aktivitas antara supplier hingga
konsumen akhir adalah dalam satu
kesatuan tanpa sekat yang besar.
Mekanisme
informasi
antara
berbagai
komponen
tersebut
berlangsung secara transparan.
Definisi dan ruang lingkup CSR sebagai Rantai Pasok
CSR dan Perusahaan
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan konsep yang menyeimbangkan
perusahaan dalam mendapatkan keuntungan dengan aspek sosial dan lingkungan.
“Perusahaan modern adalah perusahaan yang seharusnya mentransformasi diri menjadi
institusi sosial” kata Berle dan Means dalam bukunya The Modern Corporation and Private
Property. Rachel Carson dalam bukunya yang berjudul Silent Spring
menyatakan bahwa
pestisida dapat meatikan lingkungan dan kehidupan, maka perusahaan harus sadar akan
lingkungan, karena rusaknya lingkungan akan membawa kehancuran bersama. Buku
Beyond the Bottom Line, tulisan Courtney C. Brown menekankan adanya tanggungjawab
social bagi perusahaan di samping mencari keuntungan dan memperhatikan lingkungan.
Pada 2004, perusahaan yang dinobatkan sebagai Nomor 1 untuk CSR ini adalah
Fannie Mae. Perusahaan ini membeli hipotik dari peminjam lokal dan membuatnya paket
untuk dijual sebagai sekuritas.
Pada 2003, lebih dari $240 milyar hipotik rumah yang
didanai, yang diperuntukkan 1,6 juta kaum minoritas untuk pembelian rumah yang pertama
kalinya. Prioritas ini meningkat 60 % setiap tahunnya. Bahkan $ 10 juta dari Fannie Mae
bekerjasama dengan institusi keuangan Islam untuk membuka perumahan di Kalifornia
Selatan untuk kaum Muslim. Sistem pembayarannya menggunakan sistem syariah.
Procter & Gamble merupakan perusahaan yang menduduki Nomor 2. Perusahaan ini
dinilai memberikan pelayanan istimewa kepada kaum minoritas, wanita dan masyarakat.
Perusahaan ini membantu para pemuda yang tidak beruntung di Vietnam, memberantas
anak-anak yang kekurangan nutrisi di India dan menyediakan pertolongan pada gempa
bumi di Turki. Perusahaan-perusahaan yang akan bertahan dalam jangka panjang adalah
perusahaan seperti Fannie mae dan Procter & Gamble, yang perduli terhadap masyarakat
yang kurang mampu atau masyarakat dalam kesulitan dan ramah terhadap lingkungan.
Sebaliknya perusahaan yang tidak peka terhadap masyarakat yang tidak beruntung, bahkan
mengusir mereka, mencela mereka, menyakiti mereka, mengambil hak mereka,
menumpahkan darah mereka dan tidak ramah dengan lingkungan serta perusahaan yang
arogan, maka perusahaan tersebut tidak akan berumur panjang dan akan bangkrut.
Corporate
Social
Responsibility
(CSR),
merupakan
wacana
yang
sedang
mengemuka di dunia perusahaan multinational. Wacana ini digunakan oleh perusahaan
2016
2
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
dalam rangka mengambil peran menghadapi perekonomian menuju pasar bebas.
Perkembangan pasar bebas yang telah membentuk ikatan-ikatan ekonomi dunia dengan
terbentuknya AFTA, APEC dan sebagainya, telah mendorong perusahaan dari berbagai
penjuru
dunia
untuk
secara
bersama
melaksanakan
aktivitasnya
dalam
rangka
mensejahterakan masyarakat di sekitarnya.
Pemikiran yang melandasi Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan) yang sering dianggap inti dari etika bisnis adalah bahwa perusahaan tidak
hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomi dan legal (artinya kepada pemengang
saham atau shareholder) tetapi juga kewajiban-kewajiban terhadap pihak-pihak lain yang
berkepentingan (stakeholder) yang jangkauannya melebihi kewajiban-kewajiban di atas.
Tanggung jawab sosial dari perusahaan terjadi antara sebuah perusahaan dengan semua
stakeholder, termasuk di dalamnya adalah pelanggan atau customer, pegawai, komunitas,
pemilik atau investor, pemerintah, supplier bahkan juga kompetitor.
Perkembangan CSR secara konseptual baru di kemas sejak tahun 1980-an yang
dipicu sedikitnya oleh 5 hal berikut: (1). Maraknya fenomena “take over” antar korporasi
yang kerap dipicu oleh keterampilan rekayasa finansial. (2). Runtuhnya tembok Berlin yang
merupakan simbol tumbangnya paham komunis dan semakin kokohnya imperium
kapitalisme secara global. (3) Meluasnya operasi perusahaan multinasional di negaranegara berkembang, sehingga di tuntut supaya memperhatikan: HAM, kondisi sosial dan
perlakukan yang adil terhadap buruh. (4) Globalisasi dan menciutnya peran sektor publik
(pemerintah) hampir di seluruh dunia telah menyebabkan tumbuhnya LSM (termasuk
asosiasi profesi) yang memusatkan perhatian mulai dari isu kemiskinan sampai pada
kekuatiran akan punahnya berbagai spesies baik hewan maupun tumbuhan sehingga
ekosistem semakin labil. (5) Adanya kesadaran dari perusahaan akan arti penting merk dan
reputasi perusahaan dalam membawa perusahaan menuju bisnis berkelanjutan.
MANAJEMEN RANTAI PASOK (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT -SCM)
Supply Chain Management (SCM) menekankan pada pola terpadu menyangkut
proses aliran produk dari supplier, manufaktur, retailer hingga pada konsumen akhir. Dalam
konsep SCM rangkaian aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu
kesatuan tanpa sekat yang besar. Mekanisme informasi antara berbagai komponen tersebut
berlangsung secara transparan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Supply Chain Management (SCM) adalah
suatu konsep yang menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan
2016
3
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pola-pola pendistribusian produk secara tradisional. Pola baru ini menyangkut aktivitas
pendistribusian, jadwal produksi, dan logistik.
Dari 2 definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fokus utama dari SCM adalah
sinkronisasi proses untuk kepuasan pelanggan. Semua supply chain pada hakekatnya
memperebutkan pelanggan dari produk atau jasa yang ditawarkan. Semua pihak yang
berada dalam satu rantai supply chain harus bekerja sama satu dengan lainnya semaksimal
mungkin untuk meningkatkan pelayanan dengan harga murah, berkualitas, dan tepat
pengirimannya.
SCM diperlukan oleh perusahaan yang sudah mengarah pada pengelolaan dengan
sistem just in time, karena konsep just in time sangat menekankan ketepatan waktu
kedatangan material dari pemasok sampai ke tangan konsumen sesuai dengan yang
ditetapkan. Artinya, kedisiplinan dan komitmen seluruh mata rantai harus benar-benar
dilaksanakan, sehingga apabila terjadi penyimpangan pada salah satu mata rantai saja,
maka akan mengganggu pasokan material secara keseluruhan dan menghambat
kelancaran tugas dari mata rantai yang lain, karena tidak adanya persediaan.
Rantai pasok
merupakan suatu proses proses yang dimulai dari pengumpulan
sumber daya yang ada dilanjutkan dengan
pengelolaan
menjadi produk jadi untuk
selanjutnya didistribusikan dan dipasarkan sampai pelanggan akhir dengan memperhatikan
biaya, kualitas, ketersediaan, pelayanan purna jual, dan faktor reputasi. Rantai pasok
melibatkan supplier, manufacturer, dan retailer yang saling bersinergis dan bekerja sama
satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung. (Wisner, Tan, dan Leong, 2012, p.
6)
2016
4
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 2.1 A Generic Supply Chain (Wisner, Tan, dan Leong, 2012, p. 6).
Sebuah rantai pasok terdiri dari semua pihak yang terlibat, baik langsung maupun
tidak langsung, dalam memenuhi permintaan pelanggan. Rantai pasok meliputi tidak hanya
produsen dan pemasok, tetapi juga pengangkut, gudang, pengecer, dan bahkan pelanggan
sendiri. Dari masing-masing organisasi, seperti produsen, rantai pasok mencakup semua
fungsi yang terlibat dalam menerima dan memenuhi permintaan pelanggan. Fungsi ini
menyeluruh namun tidak terbatas pada pengembangan produk baru, pemasaran, operasi,
distribusi, keuangan, dan layanan pelanggan (Chopra, Meindl, 2010, p.20). Terdapat
hubungan erat antara desain dan manajemen aliran rantai pasokan (produk, informasi, dan
dana) (Chopra, Meindl, 2010, p.23).
Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management-SCM)
Terdapat beberapa pengertian mengenai rantai pasok yang terdapat pada literatur
dan menurut berbagai asosiasi profesional. Beberapa definisi yang dikemukakan dari tiga
organisasi praktisi dari manajemen rantai pasok yang dikutip pada buku Principles of Supply
Chain Management (Wisner, Tan, Leong, 2012, p. 7-8).
Menurut lembaga The Council of Supply Chain Management Professional (CSCMP)
mendefinisikan manajemen rantai pasok sebagai: “Perencanaan dan manajemen dari
2016
5
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
seluruh aktivitas yang terkait dalam sumber daya dan pengadaan, pengkonversian dan
seluruh aktivitas manajemen logistik. Sebagai bagian yang lebih penting, rantai pasok
meliputi koordinasi dan kolaborasi dengan rekanan seperti pemasok, perantara, atau jasa
orang ketiga, serta pelanggan”.
Menurut lembaga The Institute for Supply Chain Management (ISM) mendefinisikan
manajemen rantai pasok sebagai: “Desain dan manajemen dari seamless, sebuah proses –
proses terkait dengan usaha pemberian nilai tambah dalam dan antar batas organisasional
untuk menemukan kebutuhan pelanggan akhir yang sebenarnya”.
Menurut lembaga The Singapore-based Logistic & Supply Chain Management
Society, mendefinisikan manajemen rantai pasok sebagai: “Hasil koordinasi dari teknikteknik terkait untuk merencanakan dan mengeksekusi seluruh tahapan di dalam jaringan
global guna mengadakan bahan baku dari penyedia, mentransformasinya menjadi barang
jadi, dan mengirim produk dan jasa kepada para pelanggan”.
Risiko Rantai Pasok
Risiko rantai pasok merupakan ketidakpastian terjadinya suatu peristiwa yang bisa
menjadi satu atau beberapa pasangan atau jaringan di dalam rantai pasok dan dapat
mempengaruhi (umumnya dalam arti negatif) pencapaian tujuan bisnis perusahaan (Pinto,
2007, p.4).
Risiko rantai pasok mengacu pada kemungkinan dan dampak ketidakcocokan antara
demand dan supply. Sumber risiko adalah lingkungan, organisasi atau penyedia variabel
rantai terkait yang tidak dapat diprediksi dengan pasti dan yang berdampak pada variabel
hasil rantai pasok. Risk consequences adalah fokus variabel hasil rantai pasok seperti
misalnya biaya atau kualitas, yaitu bentuk yang berbeda di mana berbagai macam risiko
menjadi terwujud (Juttner, Peck, Christopher, 2003, p.7).
Menurut Gaudenzi, dan Borghesi, faktor risiko dapat dipertimbangkan dalam
beberapa hal:
1. Apa yang mendorong risiko
2. Dimana risikonya, dan
3. Apa risiko yang terkait dengan risiko lain.
Risiko rantai suplai dan faktor risiko rantai pasokan dapat diidentifikasi dalam berbagai
cara - tergantung pada perspektif yang digunakan. Namun, penilaian risiko rantai pasok
harus dikaitkan dengan tujuan spesifik dari rantai suplai yang harus "membimbing" para
pemilih indikator risiko (Gaudenzi, Borghesi, 2006, p.114-115).
Christopher dan Peck (2003), diinsipirasi dari Mason-Jones dan Towill (1998),
mengkatagorikan risiko rantai pasok menjadi lima katagori:
1. Internal ke perusahaan: process, control
2016
6
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2. Eksternal ke perusahaan tetapi internal ke jaringan pasokan: demand supply
3. Eksternal ke jaringan: environmental.
Spekman dan Davis (2004) menyarankan dimensi untuk memahami risiko rantai
pasok dengan membaurkan:
1. Pergerakan fisik material
2. Aliran informasi
3. Aliran keuangan
4. Keamanan dari sistem informasi internal perusahaan
5. Hubungan antara relasi rantai pasok
6. Corporate social responsibility dan pengaruhnya pada reputasi perusahaan (Zsidisin,
Ritchie, 2010, p.55).
Manajemen Risiko Rantai Pasok
Manajemen risiko rantai pasok atau supply chain risk management adalah sebuah
kontribusi bagi proses pengambilan keputusan pada pengembangan dari penerapan
manajemen rantai pasok. Supply chain risk management menurut (Zsidisin, 2005 p. 3)
merupakan suatu kejadian potensial dari kecelakaan atau kegagalan untuk menangkap
peluang dari inbound supply yang akan berakibat pada kehilangan atau berkurangnya
pendapatan pada sektor keuangan.
Komponen SCRM mungkin didefinisikan secara berbeda dalam pembagian subdivisi
atau dari masing-masing fungsi terkecil, meskipun demikian definisi dari komponen risiko
mengacu pada:
1.
Identifikasi risiko dan permodelan risiko: menyatukan beberapa sumber risiko
berdasarkan persamaan karakter risiko, yang mungkin memicu adanya hubungan
secara fungsi akan efektifitas dan efisiensi.
2.
Analisis risiko, penilaian dan dampak risiko: dalam hal kemungkinan kejadian dan
potensi konsekuensi.
3.
Manajemen risiko: menghasilkan dan mempertimbangkan skenario alternatif dan solusi,
menilai manfaat masing-masing, memilih solusi dan melakukan implementasi.
4.
Monitoring dan evaluasi risiko: pemantauan, pengendalian dan pengelolaan solusi dan
menentukan dampak dari hasil performa bisnis.
5.
Pembelajaran perorangan dan organisasi termasuk menyampaikan pengetahuan:
berusaha untuk menangkap, mengambil kesimpulan, menyaring dan menyebarkan
pelajaran dan pengalaman kepada orang lain dalam organisasi yang terkait anggota
rantai pasokan (Zsidisin, Ritchie, 2010, p.4-5).
2016
7
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Menurut Pinto, Supply chain risk management adalah sebuah identifikasi yang
sistematis dan penilaian dari gangguan rantai pasok untuk mengendalikan paparan dari
risiko atau mengurangi dampak negatif dari kinerja rantai pasok. Manajemen dari risiko
termasuk pemgembangan dari desain strategi yang berkelanjutan untuk mengawasi,
memitigasi, mengurangi, atau mengeliminasi risiko (Pinto, 2007, p.2).
Manajemen risiko rantai pasok berbeda bentuk manajemen risiko secara umum,
karena munculnya karakteristik khusus dari risiko rantai pasok yang memiliki beberapa
aspek yang perlu diperhatikan, seperti interaksi kompleks dalam berbagai mitra bisnis
(Suharjito et al, 2012, p.90).
Tujuan manajemen risiko rantai pasokan (SCRM) adalah mengawasi, memantau dan
mengevaluasi risiko rantai pasokan, tindakan mengoptimalkan dalam rangka mencegah
gangguan (yaitu, terjadinya suatu peristiwa yang menyebabkan gangguan bisnis), dan
dengan cepat memulihkan dari gangguan (Pinto, 2007, p.4).
Dalam mendefinisikan konsep manajemen risiko rantai pasokan, adalah relevan
dengan membedakan empat konstruksi dasar: sumber pasokan rantai risiko, konsekuensi
risiko, driver risiko dan strategi mitigasi risiko. Konstruksi ini membantu tidak hanya untuk
menyelidiki konsep, tetapi memberikan dasar untuk mensintesis tema yang muncul dan isuisu untuk penelitian masa depan (Juttner, Peck, Christopher, 2003, p.6).
Risiko
Pengertian risiko menurut ISO/IEC Guide 73 pada tahun 2002 halaman 2 risiko
merupakan “Kombinasi dari probabilitas dari suatu peristiwa dan konsekuensi”. Risiko dapat
ditemukan lebih dari satu konsekuensi dari suatu peristiwa dan konsekuensi bisa positif atau
negatif. Untuk keselamatan dan risiko lingkungan, sebagian besar konsekuensi merupakan
dampak negatif dalam nilai dan dampak kesehatan manusia dalam hal kematian dan risiko
morbiditas (Shortreed, Hicks, Craig, 2003, p.6).
Secara formal, risiko secara umum dapat didefinisikan sebagai:
Risk ={(L1,O1), (L2,O2), … , (Ln, On)}.
(L)= kumpulan pasang kemungkinan.
(O)= hasil (atau dampak).
dimana Oi dan Li menunjukkan hasil i dan kemungkinan terkait. Pola distribusi
(kemungkinan, hasil) pasangan disebut profil risiko (Pinto, 2007, p.3-4). Definisi risiko juga
harus memiliki dimensi waktu atau horizon waktu tertentu (hari, bulan, tahun, dll) dan
perspektif tertentu atau pandangan yang mendefinisikan unit analisis (batas, apa yang tidak
termasuk, dll) (Pinto, 2007, p.4).
Risiko didefinisikan sebagai ketidakpastian yang beralasan secara probabilistik
(kuantitatif), risiko dapat diartikan sebagai berikut:
2016
8
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Risk = (probabilitas kemungkinan kejadian akan muncul) x (konsekuensi jika hal tersebut
terjadi) (Zsidisin, Ritchie, 2010, p.54).
Manajemen Risiko
Manajemen risiko menjadi kegiatan yang semakin penting dalam perusahaan dan
organisasi. Seperti kegiatan pengelolaan lainnya, manajemen risiko membantu organisasi
memenuhi tujuannya melalui alokasi sumber daya untuk melakukan perencanaan, membuat
keputusan, dan melaksanakan kegiatan yang produktif (Shortreed, Hicks, Craig, 2003, p. 4).
Manajemen risiko berfokus pada ketidakpastian yang dihadapi organisasi:
ketidakpastian dalam probabilitas terjadinya peristiwa, ketidakpastian dalam nilai organisasi
konsekuensi peristiwa, dan ketidakpastian lainnya yang berada di luar harapan. Umumnya
risiko adalah probabilitas rendah, tapi tinggi peristiwa konsekuensi dapat menyebabkan
gangguan besar bagi organisasi. Manajemen risiko, seperti kegiatan manajemen lainnya,
harus praktis, efisien, dan membantu organisasi bertahan dan sejahtera. Pertumbuhan
manajemen risiko secara langsung terkait dengan meningkatnya jumlah risiko sebuah
organisasi menghadapi akibat kompleksitas dan interaksi di dunia, pengawasan yang lebih
besar oleh stakeholders dan media, dan sebagainya (Shortreed, Hicks, Craig, 2003, p.5).
Pengertian manajemen risiko, menurut panduan standar manajemen risiko dari
AIRMIC, ALARM, IRM: 2002 halaman 2 merupakan bagian utama dari setiap manajemen
strategis organisasi. Fokus manajemen risiko yang baik adalah identifikasi dan pengurangan
risiko yang bertujuan untuk menambah maksimum nilai yang berkelanjutan untuk semua
kegiatan organisasi.
Kerangka Kerja Manajemen Risiko
Proses manajemen risiko terdiri dari serangkaian langkah yang, bila dilakukan
secara berurutan, memungkinkan perbaikan berkelanjutan dalam pengambilan keputusan
(NSW Department of State and Regional Development, 2005, p.21).
2016
9
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 2 Proses manajemen risiko berdasarkan AS/NZS 4360 (NSW Department of State
and Regional Development, 2005, p.21).
1. Metode Identifikasi:
Brainstorming memungkinkan berbagai pengetahuan dan pengalaman pribadi untuk
dibawa bersama-sama untuk mengidentifikasi risiko (NSW Department of State and
Regional Development, 2005, p.51).
2. Metode Analisis:
Untuk
memperkirakan
tingkat
risiko
dengan
menggabungkan
konsekuensi
(consequences) dan kemungkinan (likelihood) dalam matriks (NSW Department of State
and Regional Development, 2005, p.53) dan mengembangkan profil risiko (NSW
Department of State and Regional Development, 2005, p.59).
3. Metode Evaluasi:
Evaluasi risiko melibatkan membandingkan tingkat risiko yang ditemukan selama proses
analisis dengan sebelumnya ditetapkan kriteria risiko, dan memutuskan apakah risiko ini
memerlukan penanganan. Hasil evaluasi risiko adalah daftar prioritas risiko yang
memerlukan tindakan lebih lanjut (NSW Department of State and Regional
Development, 2005, p.33).
2016
10
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kerangka Kerja Manajemen Risiko Rantai Pasok
Empat konstruksi dasar konsep manajemen risiko rantai pasok yang memungkinkan
untuk mengidentifikasi aspek kritis terkait konsep manajerial:
1. Menilai sumber risiko untuk rantai pasok,
2. Mengidentifikasi
konsep
risiko
rantai
pasok
dengan
mendefinisikan
paling
konsekuensi risiko yang paling relevan,
3. Melacak driver risiko dalam strategi rantai pasok dan
4. Melakukan mitigasi risiko dalam rantai pasok.
Sedangkan aspek-aspek penting dapat diambil sebagai langkah berurutan dalam
proses manajerial (Juttner, Peck, Christopher, 2003, p.9).
Taksonomi dari Pengukuran dan Strategi Manajemen Risiko
Dalam mengambil keputusan penanganan risiko, dapat mengacu pada pemilihan
strategi manajemen risiko. Pilihan dalam strategi manajemen risiko tidaklah terbatas.
Pemilihan strategi secara umum secara prinsip dapat dibagi menjadi tindakan penghindaran,
pengurangan, pengalihan, dan penerimaan risiko (USCG 2001; Knight 1999) (Zsidisin,
Ritchie, 2010, p.93)
Tabel 1 Taksonomi dari Pengukuran dan Strategi Manajemen Risiko
(Zsidisin, 2010, p.93)
Strategi manajemen risiko
Katagori dari
pengukuran
A (Avoid)
Penghindaran
-
Eliminasi
R (Reduce)
Pengurangan
-
Mengurangi frekuensi dari
penyebab risiko (preventif)
Mengeliminasi beberapa
penyebab risiko
Mengurangi frekuensi dari
konsekuensi.
Mengurangi atau memitigasi
konsekuensi (mitigasi)
Pengalihan risiko melalui
kontrak
Pengalihan risiko melalui
asuransi
Pengalihan secara fisik
Berbagi risiko
Menerima risiko
T ( Transfer)
Pengalihan
-
A (Accept)
2016
11
Penerimaan
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
-
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Perintah
Sukarela
secara
non
regulasi
/ regulasi
pengawasan
- Secara teknologi
-
Secara operasional
-
Secara manajerial
-
Pelatihan /
pendidikan
-
Ilmu pengetahuan /
informasi
-
Secara metodologi
-
Keuangan
-
Hukum
-
Dan lainnya
Pada tabel 1 menggambarkan taksonomi dari pengukuran dan strategi manajemen
risiko. Pengukuran suatu risiko dapat mempengaruhi risiko yang lainnya yang berhubungan,
sedangkan beberapa risiko dapat dikerucutkan menuju satu risiko. Dalam pemilihan strategi
risiko, dapat dikumpulkan beberapa risiko terkait untuk menetapkan suatu manajemen risiko
(Zsidisin, Ritchie, 2010, p.93).
Tanggung Jawab Mengelola Rantai Pasok "Supply Chain"
Salah satu tujuan utama perusahaan melakukan kegiatan tanggung jawab sosial
atau corporate social responsibility (CSR) adalah mengurangi interupsi bisnis, termasuk
yang timbul akibat kiprah pemasoknya. Konsekuensi positif dari melakukan CSR adalah
membangun reputasi baik bagi perusahaan. Jika perusahaan atau organisasi tidak mampu
membina, memonitor, dan mengevaluasi pemasoknya agar menjalankan praktik bisnis yang
etis maka reputasi perusahaan atau organisasi tersebutlah yang dipertaruhkan.
Pemasok merupakan salah satu pemangku kepentingan utama bagi perusahaan dalam
semua jenis industri, baik yang memproduksi barang maupun jasa. Setiap industri memiliki
jenis pemasok yang berbeda sesuai jenis industrinya. Perusahaan industri jasa, misalnya
sektor pendidikan, pemasoknya adalah para narasumber. Pemasok pada industri perbankan
misalnya adalah para penyedia teknologi informasi dan jaringannya, penyedia peralatan dan
peranti lunak, serta penyedia layanan keamanan. Pada industri pertambangan, para
kontraktor juga bisa diperhitungkan sebagai salah satu pemasok.
Risiko Rantai Pasok
Semua jenis pemasok ini tentu memiliki potensi risiko yang perlu dikelola agar tidak sampai
menjadi pengganggu kelancaran operasi perusahaan. Terdapat (3) tiga jenis risiko yang
dihadapi perusahaan dalam rantai pasok, yakni :
1. risiko operasional yang berkaitan dengan gangguan pengiriman barang dan jasa;
2. risiko keuangan yang terjadi jika terdapat perubahan harga barang dan jasa; serta
3. risiko reputasi yang berhubungan dengan hilangnya reputasi baik perusahaan.
Definisi rantai pasok, menurut Wikipedia, adalah suatu sistem yang bisa terdiri dari
organisasi, manusia, teknologi, aktivitas, informasi, dan sumber daya yang menggerakkan
suatu produk atau jasa dari para pemasok ke konsumen. Rantai pasok ini penting dikelola
agar perusahaan tidak mengalami kerugian sebagai akibat dari kesalahan dari pemasoknya.
Suatu perusahaan atau organisasi dapat saja kehilangan reputasi akibat praktik bisnis tidak
etis yang dilakukan para pemasoknya. Perilaku para narasumber yang kurang etis atau
kurang profesional, misalnya, dapat merusak reputasi lembaga pendidikan yang
memperkerjakannya. Jika pemasok membayar upah pegawainya di bawah upah minimum
atau tidak memperhatikan kondisi tempat kerja para pegawainya, ini dapat merusak reputasi
2016
12
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
perusahaan yang membeli jasa pasokannya. Contohnya, kasus perusahaan Foxconn di
China yang terjadi baru-baru ini. Karyawan pada perusahaan pemasok komponen untuk
membuat produk-produk perusahaan Apple ini banyak yang bunuh diri. Selain upah pegawai
di perusahaan Foxconn di bawah upah minimum, di perusahaan ini juga terdapat beberapa
pekerja berusia 12-15 tahun dengan waktu kerja pegawai 12 jam nonstop. Meskipun operasi
perusahaan yang tidak etis ini tidak dilakukan langsung Apple, tetapi reputasi perusahaan
komputer ternama ini sempat memburuk karena ulah praktik bisnis tidak etis yang dilakukan
pemasoknya.
Standar dan Peraturan
Dalam ruang lingkup global, terdapat ISO 28000 yang khusus mengatur standardisasi
sistem keamanan bagi rantai pasok. Sementara itu, pedoman tanggung jawab sosial
organisasi, ISO 26000, juga menjelaskan bahwa para pemasok harus melakukan tanggung
jawab sosial untuk tujuh isu utama, yakni tata kelola, hak asasi manusia (HAM), lingkungan
hidup, praktik pekerja, praktik bisnis yang adil, isu konsumen, serta kontribusi kepada
konsumen
dan
masyarakat.
Jadi
pemasok
punya
kewajiban
sama
dengan
perusahaan/organisasi yang merupakan konsumen mereka.
Di Indonesia terdapat Peraturan Presiden No 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru
Pengembangan Sistem Logistik Nasional. Dalam Lampiran peraturan tersebut dipaparkan
bahwa Bank Dunia telah melakukan survei terhadap 155 negara atas kinerja logistik, dan
mengeluarkan Indeks Kinerja Logistik (Logistics Performance Index/LPI), di mana Indonesia
berada di peringkat 75. Hal ini menunjukkan rendahnya kinerja kita.
Ruang Lingkup
Selanjutnya, masih dalam Lampiran dijelaskan bahwa ruang lingkup logistik adalah bagian
dari rantai pasok (supply chain) yang menangani arus barang, arus informasi, dan arus uang
melalui proses pengadaan (procurement), penyimpanan (warehousing), transportasi
(transportation), distribusi (distribution), dan pelayanan pengantaran (delivery services)
sesuai jenis, kualitas, jumlah, waktu dan tempat yang dikehendaki konsumen, secara aman,
efektif dan efisien, mulai dari titik asal (point of origin) sampai dengan titik tujuan (point of
destination). Sementara itu, aktivitas pokok logistik meliputi pengadaan, produksi,
pergudangan, distribusi, transportasi, dan pengantaran barang.
Diketahui bahwa persoalan rantai pemasok pada salah satu perusahaan dalam industri
tambang adalah kebijakan dan tata kelola; komunikasi dan pemahaman kebijakan;
manajemen
2016
13
pengelolaan
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
pemasok;
dan pelaporan kinerja. Hasil penelitian
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Veritia
menunjukkan bahwa perusahaan tidak memperbaharui kode etik yang telah dibuat.
Perusahaan juga tidak menyosialisasikan kode etik tersebut kepada para pemasok; metode
pengawasan tidak disiplin; kurang berkolaborasi dengan pemasok untuk menyusun kode
etik; dan tidak ada sistem untuk menerima dan merespons keluhan.
Pentingnya Tata Kelola
Selain hal-hal yang tercantum dalam standar, pedoman, dan peraturan tersebut, terdapat
persoalan penting dalam rantai pasok, yakni tata kelola (governance). Isu tata kelola,
misalkan pada proses pengadaan, terdapat diskon yang tidak dilaporkan, di mana diskon
dapat berupa diskon barang atau diskon harga. Selain itu terdapat praktik “arisan tender”
untuk para pemasok sehingga kualitas praktik bisnis pemasok tidak diseleksi. Nilai
penyusutan dari barang yang dibeli oleh perusahaan terkadang juga tidak diperhitungkan
sehingga merugikan perusahaan karena membeli dengan harga terlalu tinggi. Jadi, kriteria
pemilihan pemasok tidak jelas. Tata kelola dapat diwujudkan dalam bentuk kode etik untuk
para pemasok. Akan tetapi prinsip tata kelola penting dicantumkan dalam kode etik tersebut.
Misalnya, transparansi dan akuntabilitas. Tantangan yang dihadapi perusahaan dalam
mengelola rantai pasok adalah biaya yang tinggi, kinerja pemasok yang kurang memenuhi
standar, dan terbatasnya informasi mengenai pemasok yang baik. Oleh sebab itu, terdapat
beberapa kegiatan yang dapat diusulkan untuk mengelola rantai pasok, seperti dalam
berikut ini :
Kegiatan Mengelola Rantai Pasok, dimodifikasi dari Wallenius Wilhelmsen Logistics:
Tantangan
- Biaya tinggi
- Kinerja buruk pemasok
- Terbatasnya informasi
Kegiatan
- Perencanaan pembelian
- Manajemen proyek
- Pelaporan kinerja
- Manajemen klaim
- Pembelian dan kontrak
- Administrasi pembayaran
Manfaat
- Biaya rendah
- Dapat diandalkan
- Meningkatnya kontrol
2016
14
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
CSR adalah kegitan yang menciptakan manfaat (impact building), bukan sekadar pencitraan
(image building). Maka, membuat program pendidikan kepada pemasok agar menjalankan
praktik bisnis etis merupakan upaya perusahaan untuk menciptakan manfaat bagi
pemangku kepentingannya, yang pada akhirnya dapat menciptakan citra baik bagi
perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Rolf G. Poluha: Application of the SCOR Model in Supply Chain Management. Youngstown,
NY 2006, ISBN 1-934043-10-9
Stiglitz, Joseph E. 2006. Making Globalization Work, New York: W.W. Norton &
Company,Inc.
Suyanto, M. 2004, Smart In Entrepreneur : Belajar dari Kesuksesan Pengusaha Top Dunia,
Andi Yogyakarta
Suyanto, M. 2007, Revolusi Strategi : Mengubah Proses Bisnis Meledakkan Perusahaan,
Andi Yogyakarta.
Wheelen, Thomas L. and Hunger, J. D. 2006. Strategic Management and Business Policy,
Tenth Edition, New York : Prentice-Hall.
Zimmerer, Thomas W. and Scarborough, Norman M. 1998, Essential of Entrepreneurship
and Small Business Management, Prentice-Hall Inc.
2016
15
Bisnis dan masyarakat
Dr. Hermiyetti
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download