Document

advertisement
9
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Metode Demonstrasi
1. Pengertian Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi adalah cara mengajar dimana guru menunjukkan,
memperlihatkan sesuatu proses, sehingga seluruh siswa dalam kelas dapat
melihat, mengamati, mendengar mungkin meraba dan merasakan proses yang
dipertunjukkan oleh guru tersebut.1
Sedangkan menurut Basyiruddin Usman, demonstrasi adalah salah satu
teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang
dengan sengaja diminta atau siswa sendiri ditunjuk untuk memperlihatkan
kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu.2
Senada juga diungkapkan oleh Ramayulis bahwa istilah demonstrasi
dalam pengajaran dipakai untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang
pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasian
peralatan barang atau benda. kerja fisik itu telah dlakukan atau peralatan itu
telah dicoba lebih dahulu sebelum didemonstrasikan (guru, murid atau orang
1
2
hal. 45
Roestiyah NK, Strategi Belajar Mengaja, (Jakarta: RINEKA CIPTA, 1991), hal. 83
Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 202),
10
luar)
mempertunjukkan
sambil
menjelaskan
tentang
sesuatu
yang
didemonstrasikan.3
Cara penyajian metode demonstrasi dengan memperagakan atau
mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang
sedang dipelajari baik sebenarnya ataupun tiruan, yang disertai dengan
penjelasan lisan.4
Dalam metode demonstrasi proses penerimaan siswa terhadap pelajaran
akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dngan
baik dan sempurna. Selain itu siswa dapat mengamati dan memperlihatikan
apa yang diperhatikan selama pelajaran berlangsung.
Metode ini digunakan untuk menndapatkan gambaran yang lebih jelas
tentang hal- hal yang berhubungan dngan proses pengaturan sesuatu, proses
mengerjakan atau menggunakanya, komponen-komponen yang membentuk
sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain dan untuk mengetahui
atau melihat kebenaran sesuatu.5 Metode demonstrasi sering disamakan
dengan metode eksperimen, sebab guru bersama siswa mencoba mengerjakan
suatu, mengamati proses dan hasil. Metode demonsrasi dilakukan dalam
bentuk pertunjukan, serta hasilnya. Pertunjukan yang dimaksud lebih
mengarah pada aktifitas mempertontonkan, memperlihatkan kepada siswa
3
4
Ramayulis, Metodologi, hal. 168
Syaiful Bahri Djamarah, Srategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2010),
5
Ibid.hal. 90
hal. 90
11
tentang hal yang dipelajarinya. Pertunjukan ini dapat berupa penampilan atau
perbuatan atau gerak tertentu, dan sangat bermanfaat dalam pembelajaran
materi yang bersifat prosedur atau suatu pertunjuk.6
Adapun penggunaan teknik demonstrasi mempunyai tujuan agar siswa
mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu. Siswa juga
dapat menyaksikan kerjanya sesuatu. Bila siswa melakukannya sendiri
demonstrasi tersebut, maka ia dapat mengerti juga cara menggunakan sesuatu.
Dengan demikian siswa akan mengerti cara-cara penggunaan sesuatu,
sehingga mereka dapat memilih dan membandingkan cara yang terbaik, juga
mereka akan mengetahui kebenaran dari suatu teori dalam praktek.
Model demonstrasi ini dapat bersifat konstruktivis bila dalam
demonstrasi guru tidak hanya menunjukkan proses ataupun alatnya, tetapi
disertai banyak pertanyaan yang mengajak siswa berpikir dan menjawab
persoalan yang diajukan.7 Maka demonstrasi yang baik selalu diawali dengan
pertanyaan-pertanyaan dari guru, sehingga siswa berpikir dan membuat
hipotesis ataupun ide awal. Selama proses demonstrasi dan juga pada akhir,
guru tetap dapat terus mengajukan pertanyaan kepada siswa, dengan itu siswa
dibantu terus mengembangkan gagasan mereka dan aktif berpikir.
6
Imam Suyitno, Memahami Tindakan Pembelajaran: Cara Mudah Dalam Perencanaan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK), (Bandung: PT Adittama,2011), hal. 29
7
Paul Suparno, Metodologi Pembelajaran Fisika, Konstruktivistik &
Menyenangkan.(Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2007, hal. 142
12
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan teknik
metode demonstrasi sebagai berikut:8
a.
Guru harus mampu menyusun rumusan tujuan instruksional, agar dapat
memberi motivasi yang kuat pada siswa untuk belajar. Rumusan yang
dibuat
harus
jelas
kecakapan
dan
ketrampilan
yang
akan
diharapkandicapai oleh siswa sesudah demonstrasi itu dilakukan.9
b.
Pertimbangkanlah baik-baik apakah pilihan teknik anda mampu
menjamin tercapainya tujuan yang telah anda rumuskan.
c.
Amatilah apakah jumlah siswa memberi kesempatan untuk suatu
demonstrasi yang berhasil, bila tidak anda harus mengambil kebijakan
lain.
d.
Apakah anda telah meneliti alat-alat dan bahan yan akan digunakan
mengenai jumlah, kondisi, dan tempatnya
e.
Harus sudah menentukan garis besar langkah-langkah yang akan
dilakukan.
f.
Apaka waktu yang tersedia sudah cukup, seingga anda dapat memberi
keterangan bila perlu, dan siswa bisa bertanya.
8
9
hal. 31
Roestiyah nk, Srategi Belajar Mengajar, hal. 84
Hasibuan, Proses Belajar Mengajar , (Banduna: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2010),
13
g.
Selama demontrasi berlangsung guru harus memberi kesempatan pada
siswa untuk mengamati dengan baik dan bertanya.
h.
Anda perlu mengadakan evaluasi apakah demonstrasi anda lakukan itu
berhasil dan bila perlu demonstrasi bisa diulang.
Sedangkan menurut Trowbridge & Byee (1996) Yang perlu diperhatikan
selama demonstrasi yaitu:10
a.
Demonstrasi supaya sungguh jelas dapat dilihat siswa. Bila siswa uduk
terlebih yang duduk di belakang tidak melihat, mereka diminta maju ke
depan.
b.
Bicaralah yang keras sehingga siswa dapt mendengar apa yang anda
katakan.
c.
Libatkan sisa dalam proses, misalnya ikut mengamati, mengukur,
mencatat hasil.
d.
Mulailah dngan pertanaan awal, suruh siswa membuat hipotesis , baru
mulai ditunjukkan jalanya demonstrasi.
e.
Jelaskan apa yang anda lakukan, tujuannya, dan prosesnya.
f.
Bila anda bertanya kepada siswa , beri waktu mereka untuk berpikir dulu.
10
Ibid., hal. 144
14
g.
Gunakan apan tulis untuk menulis tujuan dari demo itu sehingga siswa
menjadi jelas dan dapat berpikir secara terfokus.
h.
Dalam mengambil kesimpulan, biarlah siswa menyimpulkan lebi dulu.
i.
Kadang demonstrasi perlu diulang beberapa kali agar jelas bagi siswa
j.
Dalam pelaksanaan perlu step by step, jangan loncat-loncat sehingga
siswa dapat menangkap.
2. Langkah-Langkah Metode Demonstrasi
Langkah-langkah dalam menggunakan metode demonstrasi adalah
sebagai berikut:11
a.
Merumuskan dengan jelas kecakapan atau ketrampilan apa yang
diperoleh setelah demonstrasi dilakukan
b.
Tentukan peralatan yang digunakan, kemudian dicoba dahulu agar dalam
pelaksanaan demonstrasi tidak mengalami kegagalan
c.
Menetapkan prosedur yang dilakukan, dan sebelum demonstrasi
dilakukan perlu diadakan percobaan terlebi dahulu.
d.
11
Menentukan lama pelaksanaan demonstrasi
Suwarno, Pengajaran Mikro, Pendeekatan Praktis Dalam Menyiapkan Pendidikan
Prefesional, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hal. 112
15
e.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberi komentar pada
saat maupun sesudah demonstrasi
f.
Meminta kepada siswa untuk mencatat hal-hal yang dianggap perlu
g.
Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan siswa
Adapun prosedur yang harus ditentukan dalam metode ini adalah:
a. Guru mempersiapkan alat peraga
b. Guru meminta siswa untuk mengamati secara cermat
c. Guru mulai mempraktekkan dengan jelas agar siswa dapat menirukan
d. Setelah itu beberapa kali diulang ulang oleh guru
e. Kemudian siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
f. Diminta semua anggota kelompok untuk menghafalkan gerakan dan vokap
g. Selanjutnya setiap kelompok disuruh maju untuk mempraktekkan
h. Terakhir klarifikasi dan kesimpulan.
16
3. Kebaikan metode demonstrasi
a. Keaktifan murid akan bertambah, lebih-lebih kalau murid diikut sertakan.
Beberapa masalah yang menimbulkan pertanyaan siswa akan dapat
dijawab mengamati proses demonstrasi.12
b. Pengalaman murid-murid bertambah karena murid-murid turut memantau
pelaksanaan suatu demonstrasi sehingga ia menerima pengalaman yang
bisa mengembangkan kecakapannya.
c. Pelajaran yang diberikan tahan lama. Dalam suatu demonstrasi, muridmurid bukan saja mendengar suatu uraian yanga diberikan oleh guru tetapi
juga memperhatikannya bahkan turut serta dalam pelaksanaan suatu
demonstrasi.
d. Pengertian lebih cepat dicapai. Murid dalam menanggapi suatu proses
adalah dengan mempergunakan alat pendengar, penglihat, dan bahkan
dengan perbuatannya sehingga memudahkan pemahaman murid dan
mehilangkan sifat verbalisme dalam belajar.
e. Perhatian anak-anak dapat dipusatkan dan titik yang dianggap penting
oleh guru dapat diamati oleh anak-anak seperlunya. Sewaktu demonstrasi
perhatian anak-anak hanya tertuju kepada suatu yang didemonstrasikan
12
Hasibuan, Proses Belajar Mengajar, hal. 30
17
sebab murid-murid lebih banyak diajak mengamati proses yang sedang
berlangsung dari ada hanya semata-mata mendengar saja
f. Mengurangi
kesalahan-kesalahan.
Penjelasan
secara
lisan
banyak
menimbulkan salah paham atau salah tafsir dari murid-murid apabila
penjelasan tentang suatu proses. Dapat membuat pengajaran menjadi lebih
jelas dan lebih konkret, sehingga menghindari kata-kata atau kalimat.13
g. Proses pengajaran lebih menarik.14
h. Memberikan motivasi yang kuat untuk siswa agar lebih giat belajar.15
3. Kelemahan dari metode demonstrasi
a. Metode ini memerlukan ketrampilan guru secara khusus, karena tanpa
ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif.16
Dalam hal ini dituntut pula guru harus mampu menjelaskan proses
berlangsungnya demonstrasi, denagan bahasa dan suara yang dapat
diitangkap oleh siswa.
13
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, hal. 91
Ibid., hlm. 91
15
Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, hal. 84
16
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, hal. 91
14
18
b. Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang
disamping memerlikan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa
mengambil waktu tau jam pelajaran lain.17
c. Demonstrasi akan merupakan metode yang tidak wajar bila alat atau benda
yang didemonstrasikan tidak dapat diamati dengan jelas oleh siswa.
Misalnya alat yang terlalu kecil atau penjelasan tidak terang.
d. Demonstrasi tidak efektif bila tidak diikuti kegiatan yang memungkinkan
siswa mencoba, yang merupakan pengalaman yang berharga bagi siswa.
e. Kadang-kadang suatu demonstrasi menjadi kurang bermakna bila tidak
dilakukan ditempat yang sebenarnya.
B. Prestasi belajar siswa
1. Pengertian Prestasi Belajar
Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa
dalam memperoleh prestasi. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan belajar. Karena kegiatan belajar merupakan
proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Untuk
mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu
17
Ibid., hal. 91
19
dilakukan evaluasi, tujuanya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh
siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung.Pengertian prestasi
belajar dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah penguasaan
ketrampilan atau pengetahuan yang di kembangkan melalui mata pelajaran,
lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh
guru.18
Dalam hal ini Winkel mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu
bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam
melakukan kegiatan belajaranya sesuai dengan bobot yang dicapainya.19
Sedangkan Menurut Saiful Bahri prestasi belajar adalah sebuah
kalimat yang terdiri dari dua kata yakni “prestasi” dan “belajar”. Antara
kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Prestasi adalah
hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara
individual maupun kelompok. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama
seseorang tidak melakukan suatu kegiatan. Sedangkan belajar adalah suatu
aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan
dari bahan yang telah dipelajari. Hasil dari aktivitas belajar terjadilah
perubahan dalam diri individu. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil
bila telah terjadi perubahan dalam diri individu. 20
18
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007) hal. 895
Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1996 ) hal. 162
20
Saifui Bahri Djamarah, Prestasi Belajar .............. hal. 19
19
20
Pencapaian prestasi belajar merujuk kepada tiga aspek diantaranya
adalah:
a. Prestasi belajar bidang kognitif
Tipe-tpe prestasi belajar bidang kognitif mencakup: (a) hafalan,
(b) pemahaman, (c) belajar penerapan, (d) analisis, (e) sistematis, dan
(f) evaluasi.
1. Pengetahuan hafalan merupakan pengetahuan mencakup aspekaspek faktual dan ingatan (suatu hal yang harus di ingat kembali).
2.
Pengetahuan
pemahaman
merupakan
pemahaman
yang
memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu
konsep, ada tiga macam
pemahamanhan yaitu: pemahaman
terjemahan, pemahaman penafsiran, pemahaman ekstrapolasi.
3. Belajar penerapan merupakan kesanggupan menerapkan dan
mengaptraksikan suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi
yang baru.
4. Analisis merupakan kesanggupan memecahkan, menguraikan suatu
integritas menjadi unsur-unsur atau sebagian-sebagian yang
mempunyai arti.
5. Sistematis merupakan lawan analisis. Analisis tekanannya adalah
pada kesanggupan menguraikan suatu integritas menjadi sebagian
yang bermakna.
21
6. Evaluasi merupakan kesanggupan memberikan keputusan tentang
nilai sesuatu berdasarkan judgment yang dimilikinya dan kriteria
yang digunakannya.
b. Prestasi belajar bidang afektif
Bidang afektif berkenan dengan sikap dan nilai. Tipe prestasi
belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku, seperti
perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai
guru dan teman, dan kebiasaan belajar.
c. Prestasi belajar bidang psikomotor
Tipe prestasi belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk
ketrampilan(skill), dan kemampuan bertindak seseorang. Adapun
tingkah terampilan itu: gerakan reflek, keterampilan pada gerakan
gerakan , kemampuan persepektual, kemampuan fisik seperti kekuatan
dan keharmonisan, gerakan gerakan yang berkaitan dengan skill, dan
gerakan ekspresi.21
2. Fungsi Prestasi Belajar
Prestasi belajar (achievement) semakin terasa penting untuk dibahas,
karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain:22
21
Tohirin, Psikologi pembelajaran pendidikan agama islam( jakarta: PT RAJAGRAFINDO
PERSADA,2005)hal.51
22
Zainal Arifin, EVALUASI PEMBELAJARAN, hal. 12
22
a.
Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan
yang telah dikuasai peserta didik.
b.
Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Para ahli
psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai “tendnsi keinginantahuan
(courisity) dan merupakan kebutuhan umum manusia”.
c.
Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.
Asumsinya adalah prestasi belajar dapat dijadikan pendorongpeserta
didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan berperan sebagai
umpan balik (feedback)dalam meningkatkan mutu pendidikan.
d.
Prestasi belajar sebagai indikator intrn dan ekstrn dari suatu inisiatif
endidikan. Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat
dijadikan indikator tingkat produktivitas suatu inisiatif pendidikan.
Asumsinya adalah kurikulum yang digunakan releven dengan
kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator ekstern dalam arti
bahwa tinggi rendahya prestasi dapat dijadikan ndikator tingkat
kesuksesan eserta didik di masyarakat. Asumsinya adalah kurikulum
yang digunakan releven pula dengan kebutuhan masyarakat.
e.
Prestasi belajar dapat dijadikan indikator daya serap (kecerdasan)
peserta didik. Dalam proses pembelajaran, peserta didik menjadi fokus
23
utama yang harus diperhatikan, karena peserta didiklah yang
diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran.
Sebagaimana telah dikemukakan diatas, bahwa pembelajaran sebagai
suatu sistem memiliki berbagai komponen yang saling berinteraksi,
berinterelasi dan berinterdependensi. Salah satu komponen pembelajaran
adalah evaluasi. Dari hasil evaluasi itulah akan dapat diketahui kemajuan
siswa. Dengan demikian, dapat difahami, bahwa presatsi belajar adalah
nilai pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari
disekolah yang menyangkut pengetahuan atau keakapan / keterampilan
yang dinyatakan sesudah hasil penilaian.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa
Prestasi belajar merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik
internal maupun eksternal. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
dan hasil belajar dapat digolongkan menjadi empat, yaitu ( a ) bahan
atau materi yang dipelajari ; ( b ) lingkungan ; ( c ) faktor instrumental ;
dan ( d ) kondisi peserta didik . faktor-faktor tersebut baik secara
terpisah
maupun
bersama-sama
memberikan
kontribusi
tertentu
terhadap prestasi belajar peserta didik.
Makmun ( 1999 ) mengemukakan
terlibat
dalam
pembelajaran,
dan
belajar, adalah ( 1 ) masukan mentah
komponen-komponen
berpengaruh
terhadap
yang
prestasi
( raw-input ). menunjuk pada
24
karakteristik individu yang mungkin dapat memudahkan atau justru
menghambat proses pembelajaran, ( 2 ) masukan instrumental. Uraian
di atas menunjukkan bahwa prestasi belajar bukanlah sesuatu yang
berdiri sendiri, tetapi merupakan hasil berbagai faktor yang
untuk
memahami tentang prestasi belajar, perlu didalami faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
a. Pengaruh Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
peserta didik
dapat
digolongkan
ke
dalam
faktor
sosial
menyangkut hubungan antarmanusia yang terjadi dalam berbagai
situasi sosial. Ke dalam faktor ini termasuk lingkungan keluarga,
sekolah, teman dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan faktor
non-sosial adalah faktor-faktor lingkungan yang bukan sosial
seperti lingkungan alam dan fisik ; misalnya: keadaan rumah,
ruang belajar, fasilitas belajar, buku-buku sumber, dan sebagainya.
Faktor
eksternal
dalam
lingkungan
keluarga
baik
langsung
maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap
Pencapaian hasil belajar peserta didik. Di samping itu, di
antara beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi proses dan
prestasi belajar ialah peranan faktor guru dan fasilitator. Dalam
sistem
pendidikan
dan
khususnya
dalam
pembelajaran
yang
berlaku dewasa ini peranan guru dan keterlibatannya masih
25
menempati
posisi
yang
penting.
Dalam
hal
ini , efektivitas
pengelolaan faktor bahan, lingkungan, dan instrumen sebagai
faktor-faktor
belajar,
utama yang mempengaruhi proses dan prestasi
hampir seluruhnya bergantung pada guru.
Guru sebagai pengelola kelas,
memelihara
lingkungan
Proses
guru bertanggung jawab
pembelajaran
khususnya
yang
berlangsung di kelas sebagian besar ditentukan oleh peran guru.
Peranan yang paling dianggap dominan yaitu :
1). Guru
sebagai
menguasai
demonstrator,
materi
guru
hendaknya
senantiasa
dan
senantiasa
pembelajaran
mengembangkan kemampuannya dalam bidang ilmu yang
dimilikinya. karena hal ini akan sangat menentukan hasil
belajar yang dicapai oleh peserta didik.
2). Fisik kelasnya, agar senantiasa menyenangkan untuk belajar
dan mengarahkan serta membimbing proses-proses intelektual,
sosial, emosional, moral, dan spiritual di dalam kelas, serta
mengembangkan
kompetensi
dan
kebiasaan
bekerja
dan
belajar secara efektif di kalangan peserta didik.
3). Guru sebagai fasilitator,
peran guru sebagai fasilitator erat
kaitannya dengan peran sebagai pengelola kelas, dalam hal
ini
guru
harus
mampu
dan
senantiasa
berusaha
untuk
memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik agar
26
dapat membentuk kompetensi dan mencapai tujuan secara
optimal.
4). Guru sebagai mediator, guru tidak hanya sebagai penyampai
informasi dalam pembelajaran, tetapi sebaagai perantara dalam
hubungan antar manusia, dengan peserta didik.
5). Guru sebagai evaluator,
guru harus mampu menilai proses
dan hasil belajar yang telah dicapai, serta memberikan umpan
balik terhadap keefektifan pembelajaran yang telah dilakukan.
Selain faktor guru, yang cukup memegang peranan penting
dalam
pencapaian
kepemimpinan
prestasi
kepala
belajar
sekolah,
peserta
karena
didik
kepala
juga
sekolah
mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengatur,
merancang dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan di
sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah mempunyai tanggung
jawab yang paling besar dalam menciptakan situasi kerja
secara keseluruhan di sekolah yang dipimpinnya.
b.
Pengaruh Faktor Internal
Sekalipun banyak pengaruh atau rangsangan dari faktor
eksternal yang mendorong individu belajar, keberhasilan belajar
itu akan di tentukan oleh faktor diri ( internal ) besrta usaha
yang dilakukannya.
27
Brata mengklasifikasikan faktor internal mencakup: ( a )
faktor-faktor fisiologis, yang menyangkut keadaan jasmani atau
fisik individu, yang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
keadaan jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi-fungsi
jasmani tertentu terutama panca indera, dan ( b ) faktor-faktor
psikologis, yang berasal dari dalam diri seperti intelegensi,
minat, sikap, dan motivasi.
Inteligensi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap
merupakan
tinggi
dasar
rendahnya
potensial
prestasi
bagi
belajar.
pencapaian
Inteligensi
hasil
belajar,
artinya hasil belajar yang dicapai akan bergantung pada tingkat
inteligensi, dan hasil belajar yang dicapai tidak akan melebihi
tingkat inteligensinya. Semakin tinggi tingkat inteligensi, makin
tinggi pula kemungkinan tingkat hasil belajar yang dapat
dicapai. Jika inteligeinya rendah, maka kecenderungan hasil
yang dicapainyapun rendah. Meskipun demikian, tidak boleh
dikatakan bahwa “taraf prestasi belajar di sekolah kurang,
karena banyak faktor lain yang mempengaruhinya.
Minat (interest), yaitu kecenderungan dan dan kegairahan
yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Oleh
karena itu, minat dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar
dalam mata pelajaran tertentu. Umpamanya, seorang peserta
28
didik yang menaruh minat besar terhadap kesenian akan
memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada yang lain.
Pemusatan perhatian
yang intensif tersebut
memungkinkan
peserta didik untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai
prestasi yang diinginkan.
Sikap adalah gejala internal
yang berdimensi efektif,
berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan
cara yang relatif
tetap terhadap obyek orang, barang, dan
sebagainya, baik secara positif maupun negatif.
Selain
faktor-faktor
sebagaimana
dikemukakan
diatas,
prestasi belajar juga dipengaruhi oleh waktu (time) dan kesempatan
(engangement). Waktu dan kesempatan yang dimiliki oleh setiap
individu berbeda sehingga akan berpengaruh terhadap perbedaan
kemampuan peserta didik. Dengan demikian, peserta didik yang
memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk belajar cenderung
memiliki prestasi yang tinggi daripada yang hanya memiliki sedikit
waktu dan kesempatan untuk belajar. Para ahli mengungkapkan
bahwa kepandaian seseorang itu sangat ditentukan oleh waktu dan
kesempatan. Setiap orang akan mampu mengerjakan sesuatu asal
diberi waktu dan kesempatan yang cukup untuk mengerjakannya.
Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa orang pandai dapat
mengerjakan banyak hal dalam waktu dan kesempatan yang relatif
29
singkat, sementara orang bodoh membutuhkan waktu dan
kesempatan yang banyak.23
Sehubungan dengan faktor faktor tersebut, guru
hendaknya dapat memberikan pelayanan individual yang berbeda
untuk setiap peserta didik, sehingga dapat mengembangkan dirinya
secara optimal.
C. Pembelajaran Bahasa Inggris di SD
1.
Bahasa inggris dalam kurikulum SD
Mata pelajaran Bahasa inggris pada dasarnya untuk menunjang
kurikulum yang dimana untuk memperkenalkan bahasa asing pada siswa
sejak dini. Maka dari itu setiap siswa tingkat sekolah dasar diwajibkan
untuk mempelajarinya. Meskipun untuk pelajaran bahasa inggris tidak
masuk dalam UAS BN. Untuk tingkat sekolah dasar.
2. Ruang lingkup bahasa inggris SD
Kegiatan siswa dalam pembelajaran bahasa inggris mencakup semua
kompentensi bahasa yang berupa keterampilan menyimak (listening),
berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).
Keterampilan bahasa ini disajikan secara terpadu, seperti apa yang terjadi
dalam kehidupan kita sehari-hari.
23
Mulyasa implementasi kurikulum ( jakarta: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2004) hal. 190
30
a.
Listening /menyimak, bagi sebagian siswa kegiatan ini dianggap sulit
karena kosa kata yang mereka miliki masih sangat terbatas. Kesulitan
mereka akan terbantu jika apa yang disampaikan guru di iringi
dengan gerakan tangan, ekspresi wajah, dan gerak tubuh. Anak-anak
dapat lebih memusatkan perhatian terhadap apa yang mereka
dengarkan jika disertai kegiatan yang melibatkan mereka, kemudahan
ini akan membuat mereka termotivasi dari pada jika mereka disuruh
mendengar kemudian menulis apa yang mereka dengar. Apalagi
bahasa inggris tidak mereka dengar di luar kelas maupun di rumah
b.
Speaking (ketrampilan berbicara), dari semua insting yang dimiliki
anak sebagai pebelajar muda bahasa inggris, insting untuk
berinteraksi dan berbicara adalah yang paling penting untuk
pembelajaran bahasa inggris. Anak-anak biasanya ingin segera
menggunakan bahasa yang mereka pelajari untuk berkomunikasi
dalam kegiatan speaking guru harus memperlihatkan tujuan dari
kegiatan tersebut. Pada kegiatan terkontrol dimana tujuannya adalah
mempraktikkan
bahasa
yang
dipelajari
dengan
benar
dan
mengutamakan accurancy, guru dapat mengoreksi kesalahan pada
waktu itu juga. Dalam kegiatan speaking yang bersifat lebih bebas,
misalnya pada kegiatan, games, role play dan questions and answer,
tujuannya
adalah
memberi
semangat
pada
siswa
untuk
31
mengemukakan idenya dan fokusnya pada content dan bukan pada
struktur.
c.
Reading (ketrampilan membaca), dalam kegiatan membaca, siswa
hendaknya mengerti tujuan dari kegiatan tersebut, apakah tujuan
mereka membaca untuk mengerti inti dari bacaan itu atau mereka
harus membaca untuk mendapatkan suatu informasi tertentu saja.
Dalam hal ini siswa tidak harus mengerti dari kata perkata melainkan
yang terpenting mereka bisa mengrti konteks dari suatu bacaan. Yang
terpenting dari guru adalah memberikan rambu-rambu agar siswa
memiliki strategi dalam membaca suatu wacana. Pengetahuan umum
dan perbendaharaan kata yang telah dimiliki serta penggunaan
gambar diharapkan dapat membantu anak dalam mengrti isi suatu
bacaan. Penggunaan awal ini merupakan dasar yang kemudian
ditambah dengan pengalaman belajar, akhirnya dia akan mendapat
pengetahuan baru. Ada beberapa hal yang dapat membantu agar
kegiatan membaca menjadi lebih menarik, antara lain :
1) Menggunakan gambar sebagai alat bantu
2) Memberikan pertanyaan-pertanyaan
3) Menunjukkan judul dan meminta siswa untuk menebaknya
4) Kalimat-kalimat
tidak
membingungkan siswa.
terlalu
panjang
agar
tidak
32
d.
Writing (ketrampilan menulis), ketrampilan menulis merupakan
kelanjutan dari kegiatan terdahulu. Kegiatan ini hendaknya
disesuiakan dengan usia dan tingkat kemampuan siswa dalam
menggunakan bahasa inggris. Writing merupakan ketrampilan yang
kompleks karena memerlukan kemampuan mengeja, struktur, dan
penggunaan kosa kata.
Kegiatan menulis dapat berupa menulis kalimat singkat untuk
menjelaskan suatu gambar, menyusun kalimat, menjawab pertanyaan,
atau menggabungakn penggalan kalimat sehingga menjadi kalimat
yang benar dan bermakna. Dapat dikatakan pula bahwa pembelajaran
pola bahasa yang diitegrasiakan melalui tiga kegiatan terdahulu
(listening, speaking, and reading) bisa untuk mengetahui apakah anakanak sudah menguasai bahasa inggris melalui kegiatan menulis.24
3.
Prestasi belajar bahasa inggris
1.
Menyimak ( listening)
Menyimak merupakan suatu ketrampilan berbahasa yang
dipelajari sebelum mereka belajar membaca. Bila mereka belajar
bahasa asing, apa yang disimak merupakan sumber utama bahasa asing
yang akan mereka pelajari.
25
karena itu, bahan yang disimak harus
benar sehingga siswa mendapatkan informasi dengan jelas maka
24
25
Suyanto English For Young hal. 23
Ibid, hal. 54
33
dengan itu siswa dapat lebih memusatkan perhatian terhadap apa yang
mereka pelajari kemudahan ini akan membuat mereka termotivasi.
Skill ini bisa dinilai dengan tes tulis. Tes bentuk esai dapat
berupa pertayaan yang memerlukam jawapan tertulis.
2.
Berbicara ( speaking)
Belajar untuk dapat berbicara lancar dan benar merupakan
salah satu tujuan utama bahasa, terutama bahasa inggris.26 Pada
ketrampilan ini dapat meningkatkan kemampuan siswa pada
pengucapan atau pelafalan bahasa inggris.
Skill ini dapat dinilai dengan performance yaitu dengan siswa
dapat menunujukkan kemampuannya seperti berdialok.
3.
Membaca ( reading)
Ketrampilan ini dapat nmeningkatkan kemampuan siswa
dengan mengerti inti dari suatu bacaan untuk mendapatkan suatu
informasi tertentu saja. Skill ini bisa dievaliasi dengan performen yaitu
dengan siswa disuruh membaca didepan.
4.
Menulis ( writing)
Ketrampilan merupakan ketrampilan yang paling sulit karena
karena melibatkan kemampuan tata bahasa, kosa kata, dan ejaan. Skill
26
Ibid, 57
34
dapat melatih siswa untuk menulis dengan cermat. Skill ini dapat
dinilai dengan tes tulis.
Download