bbbggggg - Universitas Mercu Buana

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
PENDIDIKAN
AGAMA
ISLAM
Manusia dan Agama
Fakultas
Program Studi
Fakultas?
Program
Studi
TatapMuka
01
Kode MK
DisusunOleh
Kode MK?
Dra. Eva Maulina. M.M
Abstract
Kompetensi
- Alam adalah mahluk Allah yang
- Mampu menjelaskan perspektif
-
-
diperankan tuhan bagi manusia
sebagai bahan yang mendorong
manusia
untuk
meneliti
fenomena alam
Manusia adalah mahluk ciptaan
Allah
yang
menggunakan
akalnya mampu memahami dan
mengamalkan
wahyu
dan
bertanggung
jawab
serta
berakhlak mulia
Beragama adalah kebutuhan
alami (fitrah manusia)
-
Agama tentang manusia alam
semesta
Mampu memerankan diri sebagai
mahluk mulia
Mampu menjelaskan peran Agama
bagi manusia dan menjadikannya
dalam kehidupan
2
DISUSUN OLEH ; DRA. EVA MAULINA, MM
MODUL IV
MANUSIA dan AGAMA
Artinya:“Ingatlah
ketika
Tuhanmu
berfirman
kepada
para
Malaikat
”Sesunggunya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi” Mereka berkata : Mengapa Engkau hendak menjadikan
khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
kepadanya
dan
menumpahkan
darah,
padahal
kami
selalu
bertasbih memuji Engkau dan mensucikan Engkau? “Tuhan
berfirman sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui”.1
QS al-Baqarah(2): 30
A. MANUSIA DAN ALAM SEMESTA
Sebelum Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama, alam
semesta telah diciptakan-Nya dengan tatanan kerja yang teratur, rapi dan serasi.
Keteraturan, kerapian dan keserasian alam semesta dapat dilihat pada
kenyataan. Berupa keteraturan, kerapian dan keserasian dalam hubungan
alamiah antara bagian-bagian didalamnya dengan pola saling melengkapi dan
mendukung. Misalnya, apa yang diberikan matahari untuk kehidupan alam
semesta. Selain berfungsi sebagai penerang diwaktu siang, matahari juga
berfungsi sebagai salah satu sumber energi bagi kehidupan. Dari pancaran gerak
edarnya yang bekerja menurut ketentuan Allah, manusia dapat menikmati
pertukaran musim, perbedaan suhu antara wilayah dengan wilayah yang lain.
2016
2
Pendidikan Agama Islam
Dra. Eva Maulina,MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3
Semua keteraturan dan ketentuan yang disebabkan sistem kerja matahari itu,
pada perkembangannya kemudian memebentuk sistem keteraturan dan
ketentuan lain yang telah ditetapkan oleh Allah. Misalnya iklim suatu daerah yang
berpengaruh pada keanekaan potensi alam, jenis flora dan fauna yang tumbuh
dan ada di daerah itu.
Keserasian,
kerapian
dan
keteraturan
yang
kita
yakini
sebagai
sunnatullah yakni ketentuan dan hukum yang ditetapkan Allah. Melalui
sunnatullah inilah, bumi dan alam semesta dapat bekerja secara sistematik
(menurut suatu cara yang teratur rapi) dan berkesinambungan, tidak berubahubah, tetap saling melengkapi. Misalnya, bagaimana matahari bekerja menurut
ketentuan Allah. Sejak diciptakan sampai akhir zaman, insya Allah, matahari
tetap berada pada titik pusat tata surya yang berputar mengelilingi sumbunya.
Dalam proses itu, menurut penelitian para ahli, gerak matahari selalu ketiggalan
3 menit 56 detik dari bintang-bintang yang ada di tata surya. Karena
keterlambatan itu, dalam 365 hari (jumlah hari dalam satu tahun) matahari sudah
melintasi sebuah ligkaran besar penuh di langit.2
Setiap waktu, secara teratur dan tetap matahari menyiramkan energi
kepada alam semesta, tanpa bergeser dari posisi yang ditetapkan Allah baginya.
Bumi, sebagai bagian alam semesta, menyerap sinar matahari yang turun secara
tetap, tidak berubah-ubah.
Dalam lingkup yang lain, bisa pula dilihat bagaimana sunnatullah
(ketetapan atau ketentuan-ketentuan Allah) berlaku pada benda atau makhluk
lain yang sepintas lalu, dianggap tidak berguna, namun ternyata bermanfaat
mempengaruhi benda atau makhluk lain. Lihatlah, bagaimana tumbuh-tumbuhan
yang membusuk atau kotoran hewan yang memiliki sunnatullah pada dirinya
sebagai pupuk untuk menumbuh suburkan tanaman.
Demikianlah kekuasaan dan kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya yang
menyebabkan masing-masing bagian alam ini berada dalam ketentuan yang
teratur rapi, hidup dalam suatu sistem hubungan sebab akibat sampai sampai ke
benda yang sekecil.apapun, ketentuan Allah ada dan berlaku, baik secara
mikrokosmos (berlaku terbatas pada zat benda kecil itu) maupun makrokosmos
(sistem yang menyeluruh)
Sunnatullah atau hukum Allah yang menyebabkan alam semesta selaras,
serasi dan seimbang dipatuhi sepenuhnya oleh partikel atau zarrah yang menjadi
4
unsur alam semesta ini. Ada tiga sifat utama sunnatullah yang disinggung dalam
Al-Qur’an yang dapat ditemukan oleh ahli ilmu pengetahuan dalam penelitian.
Ketiga sifat itu adalah : 1) Pasti, 2) Tetap, dan 3) Objektif
3
Sifat sunnatullah pertama adalah ketetapan, ketentuan, atau kepastian,
sebagaimana diutarakan dalam Al-Qur’an berikut ini :
Q.S, Al-Furqon (25): 2, yang artinya :
“Dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan
ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” 4
Q.S At-Thalaq (65) : 3 yang artinya :
“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (kepastian) bagi
tiap sesuatu” 5
Sifat sunnatullah yang pasti, tentu akan menjamin dan memberi
kemudahan kepada manusia membuat rencana. Seseorang yang memanfaatkan
sunnatullah dalam merencanakan satu pekerjaan yang besar, tidak perlu ragu
akan ketetapan perhitungannya dan setiap orang yang mengikuti dengan cermat
ketentuan-ketentuan yang sudah pasti itu bisa melihat hasil pekerjaan yang
dilakukannya. Karena itu pula, keberhasilan suatu pekerjaan (usaha atau amal)
dapat diperkirakan lebih dahulu. Jika dalam pelaksanaannya suatu rencana atau
pekerjaan orang itu kurang atau tidak berhasil, dapat dipastikan perhitungannya
yang salah bukan kepastian atau ketentuan yang terdapat dalam sunnatullah.
Manusia yang salah membuat suatu perhitungan atau perencanaan dengan
mudah dapat menelusuri kesalahan perhitungan dalam perencanaannya.
Sifat sunnatullah kedua yaitu tetap, tidak berubah-ubah.
Sifat ini diungkapkan dalam Al-Quran sebagai berikut :
Q.S Al-Isro (17): 77, yang artinya :
“Dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu”.
6
Sifat itu selalu terbukti dalam praktek, sehingga seseorang perencana
dapat menghindari kerugian yang mungkin terjadi kalau rencana dilaksanankan.
Dengan sifat sunnatullah yang tidak berubah-ubah itu seorang ilmuan dapat
memperkirakan gejala alam yang terjadi dan memanfaatkan gejala alam itu.
Karena itu seorang ilmuan dengan mudah memahami gejala alam yang satu
dikaitkan dengan gejala alam yang lain yang senantiasa mempunyai hubungan
yang konsisten.
Sifat sunnatullah yang ketiga adalah obyektif. Sifat ini tergambar pada
firman Allah sebagai berikut :
2016
4
Pendidikan Agama Islam
Dra. Eva Maulina,MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
5
Q.S. Al-Anbiya (21): 105, yang artinya :
“bahwasanya dunia akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh”
7
Q.S Ar-Rad (13): 11, yang artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merubah keadaan yang ada oleh mereka sendiri”. 8
Saleh, artinya baik atau benar. Orang yang baik dan benar adalah “orang
yang bekerja menurut sunnatullah”. Jadi sunnatullah-lah yang menjadi ukuran
kebaikan dan kebenaran itu. Orang yang berkarya sesuai atau menurut
sunnatullah adalah orang yang “saleh“ atau orang yang baik dan benar.
Kesalehan yang dikarenakan telah menepati sunnatullah merupakan kesalehan
umum (universal). Kesalehan universal ini sebagai sifat objektif secara /
keilmuan,
yang
biasanya
sangat
signifikan
dijumpai
dikalangan
para
pengembang IPTEK dan para intelektual lainnya.9. Mereka amat disiplin untuk
mengikuti logika cerdas dan sehat dibantu dengan upaya pembuktiaan hipotesis
yaitu penelitian (istiqra). Dengan demikian kebenaran yang terdapat dalam
sunnatullah adalah kebenaran objektif, berlaku bagi siapa saja dan dimana saja.
Untuk memperoleh predikat manusia saleh sekedar mentaati sunnatullah,
berlaku pada semua manusia tidak terbatas bagi kaum agamis semata sebab,
bagi yang tidak berkarya sebagaimana menurut keharusan aturan-aturan
sunnatullah, seperti pemalas, tidak menempati prinsip kerja yang efektif-efisienproduktif dan lain-lain, tidak akan mendapat keberuntungan.
Dengan demikian sunnatullah itu berlaku objektif, karena tidak dipandang
saleh bagi orang islam (misalnya) yang ingin kaya tapi pemalas. Karena orang
islam tersebut tidak saleh terhadap sunnatullah.
Dengan kata “khalifah” Allah SWT memandatkan tanggung jawab kepada
manusia untuk memakmurkan bumi dengan visi kekaryaan dan kepelayanan.
Kekaryaan lebih dominan mentaati sistem sunnatullah dan kepelayanan lebih
dominan mentaati system dinullah. Dengan kekaryaan dan kepelayanan atau
ketaatan kepada kedua sistem tadi maka terbentuklah esensi manusia sebagai
khalifah 10
Diketahui bahwa alam semesta diciptakan Allah dengan hukum-hukum
yang berlaku baginya yang kemudian diserahkan-Nya kepada manusia untuk
dikelola dan dimanfaatkan. Pengelolaan dan pemanfaatan alam semesta itu
6
sendiri. Manusia yang diberi “wewenang” mengelola dan memanfaatkan alam
semesta diberi kedudukan “istimewa” sebagai khalifah. “Khalifah” arti harfiahnya
adalah pengganti atau wakil. Menurut ajaran islam, manusia, selain sebagai abdi
diberi kedudukan sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta
terutama “mengurus” bumi ini. Agar dapat menjalankan kedudukannya itu diberi
bekal berupa potensi diantaranya adalah akal yang melahirkan berbagai ilmu
sebagai alat untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus
bumi ini. Ketika Adam diangkat menjadi khalifah dibumi, Allah mengajarkan
kepadanya ilmu pengetahuan tentang “nama-nama (benda)”, sebagaimana
firman-Nya :
Q.S Al-Baqarah (2): 31, yang artinya :
“Dia (Allah) telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda)
seluruhnya”. 11
Pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Adam ini merupakan
keunggulan komparatif manusia dari makhluk-makhluk lainnya.
Dengan akal dan ilmu yang dikuasainya akan mampu menjalankan
kedudukannya sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta
serta mengurus bumi ini untuk kepentingan hidup dan kepentingan manusia serta
makhluk hidup lain dilingkungannya. Untuk pelaksanaan kedudukan itu, manusia
akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Manusia akan ditanya
apakah dalam menjalankan “amanat” yang dipercayakan kepadanya itu, ia
mengikuti atau tidak mengikuti pola dan garis-garis besar kebijaksanaan yang
diberikan kepadanya melalui nabi dan rasul yang termuat dalam ajaran agama.
Berkenaan dengan alam semesta, Al-Qur’an banyak mengungkapkan
tentang fenomena-fenomena alam yang menghubungkan manusia dengan Allah
sebagai Pencipta. Ungkapan-ungkapan ayat-ayat Al-Qur’an tentang alam lebih
banyak diarahkan kepada proses penghayatan terhadap kekuasaan Allah untuk
mendorong manusia beriman kepada-Nya melalui pengamatan dan penelitian
tentang alam semesta.
Dalam konsep Islam, alam adalah makhluk Allah yang diperuntukkan bagi
manusia sebagai bahan yang mendorong manusia untuk menyelidiki dan meneliti
fenomena alam sebagai bagian dari tugas kekhalifahannya, seperti tercantum
dalam Al-Qur’an :
Q.S. Al-An’am (6): 165, yang artinya :
2016
6
Pendidikan Agama Islam
Dra. Eva Maulina,MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
7
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan
meninggikan sebagian dari kamu atas sebagian yang lain beberapa
tingkat, untuk mengujimu atas apa yang telah diberikan-Nya
kepadamu”. 12
Q.S. Al-Ghosyiah (88): 17-20, yang artinya :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia
diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gununggunung
bagaimana
ia
ditegakkan.
Dan
bumi
bagaimana
ia
dihamparkan”. 13
Kekhalifahan manusia berhubungan dengan kemampuan manusia
menggunakan potensi alam yang dimilikinya dihubungkan dengan fenomena
alam yang muncul disekelilingnya. Inilah sebenarnya yang menjadi latar
belakang mengapa pencarian ilmu pengetahuan didalam konsep Islam
merupakan sesuatu yang diwajibkan Allah. Orang berilmu akan memperoleh
kesempatan yang lebih besar untuk memerankan dirinya sebagai khalifah yang
mampu mengelola dan mengambil manfaat yang benar bagi perwujudan sistem
islam dimuka bumi ini.
Sehubungan
dengan
keharusan
manusia
untuk
mengenal
alam
sekelilingnya dengan baik, maka Allah memerintahkan dalam firman-Nya :
Q.S Yunus (10): 101, yang artinya :
“Katakanlah (wahai Muhammad) perhatikanlah apa yang ada di langit
dan di bumi. Tidaklah beranfaat tanda kekuasaan Allah dan rasulrasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak
beriman”.
14
Q.S Ali Imran (3): 190-191. artinya :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadaan terbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya
Tuhan kami, tiadakah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha
Suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka”. 15
8
Ayat ini memberikan penekanan kepada manusia untuk menyelidiki sifatsifat dan kelakuan alam sekelilingnya yang menjadi tempat tinggal dan sumber
hidupnya.Doa yang mengakhiri ayat diatas dapat dipahami secara kontekstual.
Betapa orang yang tidak melihat hikmah alam raya ini, yang menganggap bahwa
ciptaan Allah ini tidak berarti, mendapat sengsara di akhirat kelak, karena
pandangan itu merupakan sikap pesimisme terhadap alam raya, yang juga
merupakan bentuk penolakan (kufur) nikmat.
Fenomena alam itu, merupakan lapangan yang terbuka luas bagi
penyelidikan, penelitian atau observasi manusia dalam rangka memahami dan
membuka tabir keajaiban alam semesta ini. Pemahaman manusia ini adalah
kunci yang dapat membuka pintu keyakinan akan kekuasaan Allah sebagai
Pencipta seluruh alam semesta.16
B. HAKEKAT MANUSIA MENURUT ISLAM
Manusia adalah makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu ia telah
menjadi sasaran studi sejak dahulu, kini dan kemudian hari. Hampir semua
lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya
terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Para ahli telah
mengkaji manusia menurut bidang studinya masing-masing, tetapi sampai
sekarang para ahli masih belum mencapai kata sepakat tentang manusia. Ini
terbukti dari banyaknya penamaan manusia, misalnya homo sapien (manusia
berakal), homo economicus (manusia ekonomi) yang kadang disebut economic
animal (binatang ekonomi) dan sebagainya. Al-Qur’an tidak menggolongkan
manusia kedalam kelompok binatang (animal) selama manusia menggunakan
akalnya dan karunia lainnya. Namun, kalau manusia tidak mempergunakan akal
dan berbagai urgensi pemberian Allah yang sangat tinggi nilainya yakni
pemikiran (rasio), kalbu, jiwa, raga, serta panca indera secara baik dan benar, ia
akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi seperti hewan yang dinyatakan
Allah di dalam Al-Qur’an :
Q.S Al-Araf (7): 17, yang artinya :
“Mereka (maksudnya manusia punya hati tetapi tidak dipergunakan
untuk
memahami
ayat-ayat
Allah),
punya
mata
tetapi
tidak
dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda) kekuasaan Allah, punya
telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia)
2016
8
Pendidikan Agama Islam
Dra. Eva Maulina,MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
9
yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih
rendah (lagi) dari binatang itulah orang-orang yang lalai”. 17
Al-Quran mnyebutkan ‘manusia’ dengan kata :

‘Bani Adam’ (anak Adam, dalam terjemahan al-Qur’an)
Q.S : Al-Isra’ (17): 70 18

‘Basyar’ (manusia dalam kesamaan naluri dengan makhluk lain,
menurut Ali Sariti). Q.S Al-Kahfi (18): 110 19

‘aL-Insan/Insan’ (manusia dalam perbedaan dengan makhluk lain,
menurut Ali Sariti). Q.S AL-Insan (76): 1 20

‘an’Nass/Nass’ (manusia, dalam terjemah al’Quran)
Q.S An-Nass (114): 1 21
Berbagai rumusan tentang manusia telah dirumuskan oleh para ahli.
Salah satu diantaranya, berdasarkan studi isi Al-Quran dan Al Hadits, yang
maksudnya
:
Al-insan
(manusia)
adalah
makhluk
ciptaan
Allah
yang
mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta
mangamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya
dan berakhlak.
Allah menciptakan manusia dari “shalshalkal fakkhar” (Lumpur) dari
“hamain
masnun“
(tanah
hitam
yan
berbau
busuk).
Kemudian
Allah
menghembuskan ruh-Nya kedalam diri manusia ciptaan-Nya dan penciptaan
lengkaplah sudah.22 Seperti firman Allah didalam Q.S. As Sajadah (32) : 8-10,
yang artinya :
“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air
mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam
(tubuh)
nya
roh
ciptaan-Nya
dan
Dia
menjadikan
bagi
kamu
pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) kamu sedikit sekali
bersyukur 23
Makna simbolis pengertian diatas adalah bahwa manusia itu mempunyai dua
dimensi. Dimensi Ketuhanan dan dimensi kerendahan atau kehinaan, sedangkan
makhluk lain hanya mempunyai satu dimensi. Dalam pengertian simbolis
”Lumpur” menunjuk pada keburukan, kehinaan, tidak berarti, stagnan dan mati.
Dimensi keilahian mengajak manusia cenderung untuk mendekatkan diri kepadaNya, guna mencapai kemuliaan.
10
Karena hakikat kejadian manusia inilah, maka manusia pada satu saat
mencapai derajat yang tinggi tetapi pada saat yang lain dapat meluncur dalam
derajat kerendahan dan kehinaan yang sangat dalam dan paling rendah.
Kehormatan dan arti penting manusia terletak dalam kehendak bebas
untuk menentukan arah hidupnya. Hanya manusialah yang dapat mengendalikan
keinginan dan kebutuhan fisiologisnya, sehingga manusia dapat bebas
menentukan berbuat baik atau jahat, patuh setia atau memberontak
24
Al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan
sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk
lain. Manusia sebagai insan dan an-nas bertalian dengan hembusan Ilahi atau
roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang
aturan ketentuan Allah.
Menurut pandangan Murtadla Muttahhari manusia adalah makhluk serba
dimensi, Dimensi pertama, secara fisik manusia hampir sama dengan hewan,
membutuhkan makan, minum, istirahat dan menikah, supaya ia dapat hidup,
tumbuh dan berkembang. Dimensi kedua, manusia memiliki sejumlah emosi
yang bersifat etis, yaitu ingin memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian.
Dimensi ketiga, manusia mempunyai perhatian terhadap keindahan. Dimensi
keempat, manusia memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan. Dimensi kelima,
manusia memiliki kemampuan dan kekuatan yang berlipat ganda, karena ia di
karuniai akal, pikiran dan kehendak bebas, sehingga ia mampu menahan hawa
nafsu dan dapat menciptakan keseimbangan dalam hidupnya. Dimensi keenam,
manusia mampu mengenal dirinya sendiri. Jika ia sudah mengenal dirinya, ia
akan mencari dan ingin mengetahui: siapa penciptanya ?, mengapa ia
diciptakan?, dari apa ia diciptakan?,
bagaimana proses penciptaannya? dan
untuk apa ia diciptakan ?.25
C. EKSISTENSI DAN MARTABAT MANUSIA
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan,
sebagai khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai makhluk yang semi samawi
dan semi duniawi, yang dalam dirinya ada fitrah mengakui Tuhan, bebas
terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta; serta
karunia keunggulan atas alam semesta, langit dan bumi.
Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat Allah yang harus
dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas yang dipikul manusia di muka
2016
10
Pendidikan Agama Islam
Dra. Eva Maulina,MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
11
bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan; wakil Allah di muka
bumi untuk mengelola dan memelihara alam.
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan.
Manusia menjadi khalifah, berarti manusia mendapatkan mandat dari Tuhan
untuk mewujudkan kemakmuran dimuka bumi. Kekuasaan mengolah serta
mendaya gunakan apa yang ada dimuka bumi untuk kepentingan hidupnya
sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Allah.
Agar manusia dapat menjalankan kekhalifahannya dengan baik, Allah
telah mengajarkan kepada manusia kebenaran dalam segala ciptaan-Nya,
manusia dapat menyusun konsep-konsep serta melakukan rekayasa membentuk
wujud baru dalam alam kebudayaan.
Disamping peran manusia sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki
kebebasan, ia juga sebagai hamba Allah (Abdullah). Seorang hamba Allah harus
ta’at dan patuh kepada perintah Allah.
Kekuasaan manusia sebagai khalifah Allah dibatasi oleh aturan-aturan
dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu
hukum-hukum Tuhan baik yang tertulis dalam kitab suci al-Qur’an, maupun yang
tersirat dalam kandungan alam semesta (al-Kaun). Seorang wakil yang
melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari
kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya.
Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawabannya terhadap penggunaan
kewenangannya dihadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam
Al-Quran :
Q.S Fathir (35): 39, yang artinya :
“Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi.
Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa
dirinya sendiri...26
Makna yang esensial dari kata ’abd (hamba) adalah ketaatan, ketundukan
dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan dan kepatuhan manusia hanya layak
diberikan kepada Allah yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan dan
ketundukan pada kebenaran dan keadilan.
Dua peran yang dipegang manusia di muka bumi, sebagai khalifah dan
’abdun merupakan keterpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan
dinamika hidup yang sarat dengan kreatifitas dan amaliah yang selalu berpihak
pada kebenaran.
12
Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami, bahwa kualitas kemanusiaan
sangat tergantung pada kualitas komunikasinya dengan Allah dan kualitas
interaksi sosialnya dengan sesama manusia melalui muamalah.
D. PENGERTIAN AGAMA DALAM BERBAGAI BENTUKNYA
Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata
’din’ bahasa Arab dan kata ”religi” dari bahasa Eropa.Agama berasal dari
bahasa sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua
kata, a = tidak, dan gama = pergi, kacau jadi arti agama tidak pergi dan tidak
kacau, tetap ditempat, diwarisi turun menurun. Agama memang mempunyai sifat
yang demikian. Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks
untuk kitab suci dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci.
Selanjutnya dikatakan lagi Agama berarti tuntunan hidup bagi penganutnya.27
Din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum dalam
bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan patuh, hutang,
balasan kebiasaan. Agama memang membawa peraturan-peraturan yang
merupakan hukum, yang harus dipatuhi orang. Agama selanjutnya memang
menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada Allah
dengan menjalankan ajaran-ajaran agama. Agama lebih lanjut lagi membawa
kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan oleh seseorang menjadi hutang
baginya. Paham kewajiban kepatuhan membawa pula kepada paham balasan.
Yang menjalankan kewajiban dan patuh akan mendapat balasan baik dari
Tuhan. Yang tidak menjalankan kewajiban dan yang tidak patuh akan
mendapatkan balasan yang tidak baik.
Religi berasal dari bahasa Latin. Menurut satu pendapat asalnya ialah
relegere yang mengandung arti mengumpulkan, membaca. Agama memang
merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Allah. Ini terkumpul dalam
kitab suci yang harus dibaca. Tetapi menurut pendapat lain kata itu berasal dari
religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat
mengikat bagi manusia.Dalam agama selanjutnya terdapat pula ikatan antara ruh
manusia dengan Allah dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia
dengan Allah.28
Oleh karena itu agama diberi definisi-definisi antara lain sebagai berikut :
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang
harus dipatuhi.
2016
12
Pendidikan Agama Islam
Dra. Eva Maulina,MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
13
2. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup
tertentu.
3. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Allah kepada manusia melalui rasul.29
E. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AGAMA
Agama bagi manusia merupakan kebutuhan alamiah (fitrah) manusia.
Berbagai pendapat mengenai kefitrahan agama ini dapat dikaji pada beberapa
pemikiran. Misalnya Einsten menyatakan bahwa sifat sosial manusialah yang
pada gilirannya merupakan salah satu faktor pendorong terwujudnya agama.
Manusia menyaksikan maut merenggut ayahnya, ibunya, kerabatnya serta para
pemimpin besar. Direnggutnya mereka satu persatu, sehingga manusia merasa
kesepian dikala dunia telah kosong. Jadi harapan akan adanya sesuatu yang
dapat memberi petunjuk dan pengarahan, harapan menjadi pecinta dan dicintai,
keinginan bersandar pada orang lain dan terlepas dari perasaan putus asa,
semua itu membentuk dalam diri sendiri dasar kejiwaan untuk menerima
keimanan kepada Tuhan.30 William James seorang filosof Jerman menyatakan
bahwa kendatipun benar pernyataan bahwa hal-hal fisik dan material merupakan
sumber tumbuhnya beberapa keinginan batin, namun banyak pula keinginan
yang tidak bersesuaian dengan perhitungan-perhitungan material. Pada setiap
keadaan dan perbuatan keagamaan, kita selalu melihat berbagai bentuk sifat
seperti ketulusan, keikhlasan dan kerinduan, keramahan, kecintaan dan
pengorbanan. Gejala-gejala kejiwaan yang bersifat keagamaan memiliki
beberapa kepribadian dan karakteristik yang tidak selaras dengan semua gejala
umum kejiwaan manusia.31
Dari beberapa pendapat itu dapat dipahami bahwa manusia terutama
orang dewasa memiliki perasaan dan keinginan untuk melepaskan diri dari wujud
terbatas mereka dan mencapai wujud. Manusia tidak mungkin dapat melepaskan
keterbatasan dan ikatan tersebut kecuali berhubungan dengan Allah sebagai
sumber wujud. Melepaskan diri untuk mencapai sumber wujud ini menimbulkan
ketenangan dan ketentraman seperti yang diungkapkan dalam firman Allah :
Q.S Ar Rad (13): 28 yang artinya :
”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram
dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah
hati jadi tentram.32
14
Agama sebagai fitrah manusia melahirkan keyakinan bahwa agama
adalah satu-satunya cara pemenuhan semua kebutuhan manusia. Posisi ini
semakin tampak dan tidak mungkin dapat digantikan dengan yang lain. Orang
mempercayai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi kebutuhan akan agama
semakin mengecil bahkan hilang sama sekali, tetapi kenyataan yang ditampilkan
sekarang ini menampakkan dengan jelas semakin maju ilmu pengetahuan dan
teknologi yang dicapai manusia, kebutuhan akan agama semakin mendesak
berkenaan dengan kebahagian sebagai sesuatu yang abstrak yang akan digapai
manusia. Ilmu dan teknologi serta kemajuan peradaban manusia melahirkan jiwa
yang kering dan haus akan sesuatu yang bersifat rohaniah. Kekecewaan dan
kegelisahan batin senantiasa menyertai perkembangan kesejahteraan manusia.
Satu-satunya
cara
untuk
memenuhi
perasaan-perasaan
dan
keinginan-
keinginan, itu dalam bentuknya yang sempurna dan memuaskan adalah
perasaan dan keyakinan agama seperti diungkapkan dalam firman Allah :
Q.S Arum (30): 30,
Artinya : ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),
(tetaplah diatas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah)
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.33
Dari segi hubungan manusia dan Agama dapat ditelusuri melalui
pemenuhan kebutuhan intelektual manusia sebagai makhluk yang memiliki akal
pikiran atau rasio. Akal mendorong manusia untuk selalu ingin tahu tentang
berbagai hal yang dilihat, diraba dan dirasakannya karena itu manusia seringkali
disebut sebagai makhluk yang serba ingin tahu atau berfikir.
Dari keingin tahuan ini, manusia mencari dan menyelidiki apa yang ada
disekelilingnya. Informasi tentang pengalaman-pengalaman dan jawabanjawaban
tentang
apa
yang
diketahui
menyebabkan
manusia
memiliki
pengetahuan, teknologi dan budaya. Kendati pun demikian tidak berarti manusia
2016
14
Pendidikan Agama Islam
Dra. Eva Maulina,MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
15
memperoleh kepuasan, sebab sejalan dengan itu ada keinginan manusia untuk
membuka tabir misteri yang tidak dapat dijangkau dengan pengalaman dan
kemampuan akal semata-mata. Hal-hal yang luput dari indera dan akal manusia
itu adalah persoalan ghaib yang berkaitan dengan masalah ketuhanan.34
Manusia
dengan
pengalaman,
perasaan
dan
pengetahuannya
mempercayai adanya sesuatu yang supranatural. Dzat yang mengatur dan
menguasai sistem kehidupan alam ini.
Perasaan ketuhanan pada dasarnya telah dimulai sejak manusia berada
dalam peradaban kuno, yang dikenal dengan kepercayaan animisme dan
dinamisme yaitu kepercayaan akan roh-roh halus melalui perantara benda-benda
yang dianggap memiliki kekuatan magis.
Mencari kebenaran tentang Tuhan ternyata tidak dapat diperoleh manusia
melalui pikiran semata-mata, kecuali diperoleh dari Tuhan sendiri. Artinya
informasi tentang Tuhan dinyatakan oleh Tuhan sendiri, atau dengan kata lain.
Informasi tentang Tuhan diberitahukan oleh Tuhan sendiri bukan dipikirkan oleh
manusia, sehingga dengan demikian informasi itu akan dapat diyakini
kebenarannya.
Informasi tentang Tuhan yang datang dari Tuhan sendiri adalah suatu
kebenaran yang mutlak, karena datang dari Tuhan sendiri. Hal ini dilukiskan
dalam firman Allah :
Q.S AlBaqarah (2): 118, yang artinya :
”Dari orang-orang yang tidak mengetahui berkata : Mengapa Allah
tidak (langsung) berbicara kepada kami atau datang tanda-tanda
kekuasan-Nya kepada kami ?. Demikian pula orang-orang yang
sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu : hati
mereka serupa. Sesungguhnya kami telah menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan kami kepada kaum yang yakin”.35
Informasi itu hanya diberikan kepada orang yang dipilih Tuhan sendiri,
seperti firmannya :
Q.S Asy Syuun (42): 51, yang artinya :
“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata
dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dengan
dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat)
16
lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia
Kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”…36
Orang yang dipilih Allah untuk menerima informasi atau wahyu itu adalah
Nabi dan Rasul yang diberi jaminan oleh Allah sendiri untuk menginformasikan
wahyu kepada manusia lain dengan sebenarnya, seperti difirmankan-Nya :
Q.S An Najm (53): 2-3, yang artinya,
“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan
tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur;an) menurut kemauan hawa
nafsunya. tiadalah yang diucapkannya ttu tiada lain hanyalah wahyu
yang diwahyukan (kepadanya). 37
Dengan demikian jelaslah bahwa kebenaran tentang Tuhan dalam
konteks Islam tidak datang dari pikiran manusia, tetapi datang melalui Tuhan
sendiri melalui wahyu yang diterima salah satu manusia yang ditunjuk dan dipilih
Tuhan sendiri. Jadi yakinlah bahwa informasi yang diterima manusia tentang
Tuhan akan mutlak kebenarannya.
DAFTAR KUTIPAN
Departemen Agama RI. “Al qur’an dan terjemahannya”, (Surabaya,
CV. Jaya Sakti, 1997), cet ke-3, h. 13
2
Ali Mohammad Daud, ”Pendidikan Agama Islam”, (Jakarta Raja
Grafindo Persada, 1995), cet, ke-2, h 10
3
Departemen Agama RI, op. cit; h. 15
4
Ibid, h. 559
5
Ibid, h. 946
6
Ibid, h. 431
7
Ibid, h. 508
8
Ibid, h. 370
9
Ibid, h. 18
10
Muttahari, Murtadha, ”Perspektif alqur’an tentang manusia dan
Agama.” (Bandung, Mizan, 1993), cet ke-4 h. 117
11
2016
16
Departemen Agama RI, op. cit, h. 31
Pendidikan Agama Islam
Dra. Eva Maulina,MM
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
17
12
Ibid, h. 217
13
Ibid, h. 1055
14
Ibid, h. 322
15
Ibid, h. 109-110
16
Mutahhari, Murtadha, op. cit, h. 121
17
Departemen Agama RI, op. cit, h. 223
18
Ibid, h. 435
19
Ibid, h. 460
20
Ibid, h. 1003
21
Ibid, h. 1122
22
Shariati, Ali, ”On The Sociology of Islam,” (Berkeley, 1974), h. 67
23
Departemen Agama RI, op. cit, h. 661
24
Shariati, Ali, op. Cit. h. 38
25
Mutahhari, Murtadha, op. cit, h. 125
26
Departemen Agama RI, op. cit, h. 702
27
Nasution, Harun, ”Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya”, (Jakarta,
UI Press, 1986), cet ke-5, h. 9
28
Ibid, h. 10
29
Ibid, h. 12
30
Carrel, Alexis, ”Misteri Manusia”, (Bandung, Remadja Karya CV,
1987), cet ke-2, h. 36
31
Ibid, h. 36
32
Departemen Agama RI, op. cit, h. 373
33
Ibid, h. 645
34
Bueaille, Maurice, ”Asal-usul Manusia Menurut Bibel Al-Qur’an
Sains”, (Bandung,
Mizan, 1984), cet pertama, h. 30
35
Departemen Agama RI, op. cit, h. 31
36
Ibid, h. 791
37
Ibid, h. 871
Download