BAB I - Karya Tulis Ilmiah

advertisement
REFERAT
"INFLUENZA"
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat dalam Mengikuti Ujian
Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Di Badan Rumah Sakit Daerah Wonosobo
Diajukan Kepada Yang Terhormat
dr. Suprapto, Sp.PD
Disusun Oleh :
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
BADAN RUMAH SAKIT DAERAH WONOSOBO
2008
LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
INFLUENZA
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat dalam Mengikuti Ujian
Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Di Badan Rumah Sakit Daerah Wonosobo
Disusun Oleh :
Dipresentasikan pada tanggal:
Mengetahui,
Dosen Pembimbing
dr. Suprapto, Sp.PD
ii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehairat Allah WT, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya semata akhirnya penulis dapat menyelesaikan referat ini
tepat pada waktunya.
Tujuan dari penulisan referat ini selain sebagai syarat untuk mengikuti
ujian kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kesehatan Anak di Badan Rumah Sakit
Daerah Wonosobo juga untuk menambah pengetahuan tentang “INFLUENZA”.
Adapun dalam penyusunan referat ini kami banyak mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan kali ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Suprapto, Sp.PD selaku dosen pembimbing dan penguji bagian
Ilmu Penyakit Dalam BRSD Wonosobo.
2. dr. H. Rusdi Idrus, Sp.PD selaku dosen pembimbing bagian Ilmu
Penyakit Dalam BRSD Wonosobo.
3. dr. Arlyn Yuanita, Sp.PD atas bimbingannya.
4. Rekan-rekan koas seangkatan dari FKUMY atas dukungan dan
kerjasamanya.
5. Segenap karyawan dan karyawati BRSD Wonosobo.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan referat
ini,
untuk
itu
penulis
mengharapakan
sarana
dan
kritik
untuk
iii
menyempurnakannya. Harapan penulis semoga referat ini dapat menambah
pegetahuan penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Wonosobo, Juni 2008
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Halaman Judul…………………………………………………………………i
Halaman Pengesahan………………………………………………………….ii
Kata Pengantar………………………………………………………………..iii
Daftar Isi…………………………………………………………………..…..v
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….…….1
1. Latar Belakang………………………………………………………...……1
2. Tujuan Penulisan……………………………………………………………2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………...3
1. Definisi…………………………………………………………………....4
2. Epidemiologi………………………………………………………………4
3. Etiologi………………………………………………………………........6
4. Sifat virus Influenza…………………………………………………….....7
5. Patogenesis……………………………………………….........................9
6. Gambaran Klinik…………………………………………………….........10
7. Diagnosis……………………………………………………………….....12
8. Diagnosis Banding………………………………………………………...17
9. Penatalaksanaan……………………………………………………………18
10. Komplikasi…………………………………………………………...…....19
11. Pencegahan…………………………………………………………….......20
BAB III KESIMPULAN……………………………………………...............22
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….....23
v
BAB I
PENDAHULUAN
I.A Latar Belakang
Influenza atau biasa disebut "flu", merupakan penyakit tertua dan paling
sering didapat pada manusia. Influenza juga merupakan salah satu penyakit yang
mematikan. Penyakit influenza pertama kali diperkenalkan oleh Hipocrates pada
412 sebelum Masehi. Pandemi pertama yang terdokumentasi dengan baik muncul
pada 1580, dimana muncul dari Asia dan meyebar ke Eropa melalui Africa.
Sampai saat ini telah terdokumentasi sebanyak 31 kemungkinan terjadinya
pandemi influenza dan empat di antaranya terjadi pada abad ini yakni pada 1918
(Spanish flu) yang menyebabkan 50-100 juta kematian oleh virus influenza A
subtipe H1N1, 1957 (Asia flu) yang meyebabkan 1-1,5 juta kematian oleh virus
influeza A subtipe H2N2, dan 1968 (Hongkong flu) yang menyebabkan 1 juta
kematian oleh virus ifluenza A subtipe H3N2. (1)
Penyakit tersebut hingga saat ini masih mempengaruhi sebagian besar
populasi manusia setiap tahun. Virus influenza mudah bermutasi dengan cepat,
bahkan seringkali memproduksi strain baru di mana manusia tidak mempunyai
imunitas terhadapnya. Ketika keadaan ini terjadi, mortalitas influenza berkembang
sangat cepat.
Di Amerika Serikat epidemi influenza yang biasanya muncul setiap tahun
pada musim dingin atau salju menyebabkan rata-rata hampir 20.000 kematian.
Sedangkan di Indonesia atau di negara-negara tropis pada umumnya kejadian
vi
wabah influenza dapat terjadi sepanjang tahun dan puncaknya akan terjadi pada
bulan Juli. (2)
Karena sifat-sifat materi genetiknya, virus influenza dapat mengalami
evolusi dan adaptasi yang cepat, dapat melewati barier spesies dan menyebabkan
pandemic pada manusia. Burung air liar dan itik menjadi sumber virus yang
potensial sebagai pemicu
pandemi
di
Indonesia. Sedangkan ternak babi
berperan sebagai tempat reassortment virus avian influenza (VAI) dengan virus
human influenza. Burung puyuh dapat juga menjadi tempat reassortment dari
VAI
asal berbagai
burung
yang
dijual
di
pasar
burung.
Sementara
peternakan unggas menyediakan hewan peka dalam jumlah yang banyak yang
memungkinkan VAI mengalami evolusi yang cepat. Suatu Rencana Gawat
Influenza diusulkan untuk segera dikembangkan. (3)
WHO menyatakan bahwa awal tahun 2006 ini merupakan saat terdekat
terjadinya pandemi flu sejak pandemi terakhir tahun 1968. Data yang ada
menunjukkan bahwa wabah avian influenza hanya kurang satu syarat lagi untuk
menjadi ”calon” pandemi, yaitu belum ditemukan bukti penularan antarmanusia di
masyarakat. Pengalaman masa lalu, pandemi tahun 1918, misalnya, menunjukkan
bahwa korban manusia dapat sampai puluhan juta orang. (4)
Diseluruh dunia hingga April 2007 terdapat 172 kasus flu burung yang
terkonfirmasi. Seperti dapat terlihat dari laporan WHO kasus terbanyak di
Vietnam (93 kasus) dan Indonesia menduduki peringkat ke-2 dengan 81 kasus
namun jumlah kematian di Indonesia yang tertinggi, yaitu 63 dari 81 kasus.
vii
I.B Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, dan gejala
klinis influenza sehigga dapat menegakkan diagnosis guna melakukan
penanganan yang tepat.
viii
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.A Definisi
Influenza yang dikenal sebagai flu adalah penyakit pernapasan yang sangat
menular dan disebabkan oleh virus influenza tipe A, B dan bisa juga C. (5)
Influenza merupakan suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan
terutama ditandai oleh demam, menggigil, sakit otot, sakit kepala dan sering
disertai pilek, sakit tenggorok dan batuk non produktif. (6)
Influenza adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang burung dan
mamalia yang disebabkan oleh virus RNA famili orthomyxoviridae. (1)
II.B Epidemiologi
Influenza merupakan penyakit yang dapat menjalar dengan cepat di
lingkungan masyarakat. Walaupun ringan penyakit ini tetap berbahaya untuk
mereka yang berusia sangat muda dan orang dewasa dengan fungsi
kardiopulmoner yang terbatas. Juga pasien yang berusia lanjut dengan penyakit
ginjal kronik atau ganggugan metabolik endokrin dapat meninggal akibat penyakit
yang dikenal tidak berbahaya ini. Serangan penyakit ini tercatat paling tinggi pada
musim dingin di negara beriklim dingin dan pada waktu musim hujan di negara
tropik.
Pada saat ini sudah diketahui bahwa pada umumnya dunia dilanda
pandemi oleh influenza 2-3 tahun sekali. Jumlah kematian pada pandemi ini dapat
ix
mencapai puluhan ribu orang dan jauh lebih tinggi dari pada angka-angka pada
keadaan non-epidemik. (6)
Risiko komplikasi, kesakitan, dan kematian influenza lebih tinggi pada
individu di atas 65 tahun, anak-anak usia muda, dan individu dengan penyakitpenyakit tertentu. Pada anak-anak usia 0-4 tahun, yang berisiko tinggi komplikasi
angka morbiditasnya adalah 500/100.000 dan yang tidak berisiko tinggi adalah
100/100.000 populasi. Pada epidemi influenza 1969-1970 hingga 1994-1995,
diperkirakan jumlah penderita influenza yang masuk rumah sakit 16.000 sampai
220.000/epidemik.
Kematian influenza dapat terjadi karena pneumonia dan juga eksaserbasi
kardiopulmoner serta penyakit kronis lainnya. Penelitian di Amerika dari 19
musim influenza diperkirakan kematian yang berkaitan influenza kurang lebih 30
hingga lebih dari 150 kematian / 100.000 penderita dengan usia > 65 tahun. Lebih
dari 90% kematian yang disebabkan oleh pneumonia dan influenza terjadi pada
penderita usia lanjut. (2)
Di Indonesia telah ditemukan kasus flu burung pada manusia, dengan
demikian Indonesia merupakan negara ke lima di Asia setelah Hongkong,
Thailand, Vietnam dan Kamboja yang terkena flu burung pada manusia.
Hingga 5 Agustus 2005, WHO melaporkan 112 kasus A (H5N1) pada
manusia yang terbukti secara pemeriksaan mikrobiologi berupa biakan atau PCR.
Kasus terbanyak dari Vietnam, disusul Thailand, Kamboja dan terakhir Indonesia.
Hingga Agustus 2005, sudah jutaan ternak mati akibat avian influenza.
Sudah terjadi ribuan kontak antar petugas peternak dengan unggas yang terkena
x
wabah. Ternyata kasus avian influenza pada manusia yang terkonfirmasi hanya
sedikit diatas seratus. Dengan demikian walau terbukti adanya penularan dari
unggas ke manusia, proses ini tidak terjadi dengan mudah. Terlebih lagi penularan
antar manusia, kemungkinan terjadinya lebih kecil lagi.
II.C Etiologi
Pada saat ini dikenal 3 tipe virus influenza yakni A, B dan C. Ketiga tipe
ini dapat dibedakan dengan complement fixasion test. Tipe A merupakan virus
penyebab influenza yang bersifat epidemik. Tipe B biasanya hanya menyebabkan
penyakit yang lebih ringan dari tipe A dan kadang-kadang saja sampai
mengakibatkan epidemi. Tipe C adalah tipe yang diragukan patogenitasnya untuk
manusia, mungkin hanya menyebabkan gangguan ringan saja. Virus penyebab
influenza merupakan suatu orthomixovirus golongan RNA dan berdasarkan
namanya sudah jelas bahwa virus ini mempunyai afinitas untuk myxo atau
musin.(6)
Virus influenza A dibedakan menjadi banyak subtipe berdasarkan tanda
berupa tonjolan protein pada permukaan sel virus. Ada 2 protein petanda virus
influenza A yaitu protein hemaglutinin dilambangkan dengan H dan protein
neuraminidase dilambangkan dengan N. Ada 15 macam protein H, H1 hingga
H15, sedangkan N terdiri dari sembilan macam, N1 hingga N9. Kombinasi dari
kedua protein ini bisa menghasilkan banyak sekali varian subtipe dari virus
influenza tipe A.
xi
Semua subtipe dari virus influenza A ini dapat menginfeksi unggas yang
merupakan pejamu alaminya, sehingga virus influenza tipe A disebut juga sebagai
avian influenza atau flu burung. Sebagian virus influenza A juga menyerang
manusia, anjing, kuda dan babi. Variasi virus ini sering dinamai dengan hewan
yang terserang, seperti flu burung, flu manusia, flu babi, flu kuda dan flu anjing.
Subtipe yang lazim dijumpai pada manusia adalah dari kelompok H1, H2, H3
serta N1, N2 dan disebut human influenza .
Sekarang ini dihebohkan dengan penyakit flu burung atau avian influenza
dimana penyebabnya adalah virun influenza tipe A subtipe H5N1. Virus avian
influenza ini digolongkan dalam Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). (7)
II.D Sifat Virus Influenza
Virus influenza mempunyai sifat dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari
pada suhu 220C dan lebih dari 30 hari pada suhu 00C. Mati pada pemanasan 600C
selama 30 menit atau 560C selama 3 jam dan pemanasan 800C selama 1 jam.
Virus akan mati dengan deterjen, disinfektan misalnya formalin, cairan yang
mengandung iodin dan alkohol 70%.(7)
Struktur antigenik virus influenza meliputi antara lain 3 bagian utama
berupa: antigen S (atau soluble antigen), hemaglutinin dan neuramidase. Antigen
S merupakan suatu inti partikel virus yang terdiri atas ribonukleoprotein. Antigen
ini spesifik untuk masing-masing tipe. Hemaglutinin menonjol keluar dari
selubung virus dan memegang peran pada imunitas terhadap virus. Neuramidase
juga menonjol keluar dari selubung virus dan hanya memegang peran yang minim
xii
pada imunitas. Selubung inti virus berlapis matriks protein sebelah dalam dan
membran lemak disebelah luarnya. (6)
Salah satu ciri penting dari virus influenza adalah kemampuannya untuk
mengubah antigen permukaannya (H dan N) baik secara cepat atau mendadak
maupun lambat. Peristiwa terjadinya perubahan besar dari struktur antigen
permukaan yang terjadi secara singkat disebut antigenic shift. Bila perubahan
antigen permukaan yang terjadi hanya sedikit, disebut antigenic drift. Antigenic
shift hanya terjadi pada virus influenza A dan antigenic drift hanya terjadi pada
virus influenza B, sedangkan virus influenza C relatif stabil. Teori yang mendasari
terjadinya antigenic shift adalah adanya penyusunan kembali dari gen-gen pada H
dan N diantara human dan avian influenza virus melalui perantara host ketiga.
Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa adanya proses antigenic shift akan
memungkinkan terbentuknya virus yang lebih ganas, sehingga keadaan ini
menyebabkan terjadinya infeksi sistemik yang berat karena sistem imun host baik
seluler maupun humoral belum sempat terbentuk.
Sejak dulu diduga kondisi yang memudahkan terjadinya antigenic shift
adalah adanya penduduk yang bermukim didekat daerah peternakan unggas dan
babi. Karena babi bersifat rentan terhadap infeksi baik oleh avian maupun human
virus makan hewan tersebut dapat berperan sebagai lahan pencampur (mixing
vesel) untuk penyusunan kembali gen-gen yang berasal dari kedua virus tersebut,
sehingga menyebabkan terbentuknya subtiper virus baru. (7)
xiii
II.E Patogenesis
Transmisi virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya pada
traktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) yang
membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran napas. Pada dosis infeksius, 10
virus/droplet, maka 50% orang-orang yang terserang dosis ini akan menderita
influenza. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus.
Setelah virus berhasil menerobos masuk kedalam sel, dalam beberapa jam
sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini kemudian akan
menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat meninggalkan sel
untuk pindah ke sel lain. Virus influenza dapat mengakibatkan demam tetapi tidak
sehebat efek pirogen lipopoli-sakarida kuman Gram-negatif. (6)
Masa inkubasi dari penyakit ini yakni satu hingga empat hari (rata-rata dua
hari). Pada orang dewasa, sudah mulai terinfeksi sejak satu hari sebelum
timbulnya gejala influenza hingga lima hari setelah mulainya penyakit ini. Anakanak dapat menyebarkan virus ini sampai lebih dari sepuluh hari dan anak-anak
yang lebih kecil dapat menyebarkan virus influenza kira-kira enam hari sebelum
tampak gejala pertama penyakit ini. Para penderita imunocompromise dapat
menebarkan virus ini hingga berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan. (8)
Pada avian influenza (AI) juga terjadi penularan melalui droplet, dimana
virus dapat tertanam pada membran mukosa yang melapisi saluran napas atau
langsung memasuki alveoli (tergantung dari ukuran droplet). Virus selanjutnya
akan melekat pada epitel permukaan saluran napas untuk kemudian bereplikasi di
dalam sel tersebut. Replikasi virus terjadi selama 4-6 jam sehingga dalam waktu
xiv
singkat virus dapat menyebar ke sel-sel di dekatnya. Masa inkubasi virus 18 jam
sampai 4 hari, lokasi utama dari infeksi yaitu pada sel-sel kolumnar yang bersilia.
Sel-sel yang terinfeksi akan membengkak dan intinya mengkerut dan kemudian
mengalami piknosis. Bersamaan dengan terjadinya disintegrasi dan hilangnya silia
selanjutnya akan terbentuk badan inklusi. Adanya perbedaan pada reseptor yang
terdapat pada membran mukosa diduga sebagai penyebab mengapa virus AI tidak
dapat mengadakan replikasi secara efisien pada manusia. (7)
II.F Gambaran Klinis
Pada umumnya pasien yang terkena influenza mengeluh demam, sakit
kepala, sakit otot, batuk, pilek dan kadang-kadang sakit pada waktu menelan dan
suara serak. Gejala-gejala ini dapat didahului oleh perasaan malas dan rasa dingin.
Pada pemeriksaan fisik tidak dapat ditemukan tanda-tanda karakteristik kecuali
hiperemia ringan sampai berat pada selaput lendir tenggorok.
Gejala-gejala akut ini dapat berlangsung untuk beberapa hari dan hilang
dengan spontan. Setelah periode sakit ini, dapat dialami rasa capek dan cepat lelah
untuk beberapa waktu. Badan dapat mengatasi infeksi virus influenza melalui
mekanisme produksi zat anti dan pelepasan interferon. Setelah sembuh akan
terdapat resistensi terhadap infeksi oleh virus yang homolog.
Pada pasien usia lanjut harus dipastikan apakah influenza juga menyerang
paru-paru. Pada keadaan tersebut, pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan bunyi
napas yang abnormal. Penyakit umumnya akan membaik dengan sendirinya tapi
xv
kemudian pasien acapkali mengeluh lagi mengenai demam dan sakit dada.
Permeriksaan radiologis dapat menunjukkan infiltrat di paru-paru. (6)
Avian Influenza
Masa inkubasi AI sangat pendek yaitu 3 hari, dengan rentang 2-4 hari.
Manifestasi klinis AI pada manusia terutama terjadi di sistem respiratorik mulai
dari yang ringan sampai berat. Manifestasi klinis AI secara umum sama dengan
gejala ILI (Influenza Like Illness), yaitu batuk, pilek dan demam. Demam
biasanya cukup tinggi yaitu >380C. Gejala lain berupa sefalgia, nyeri tenggorokan,
mialgia dan malaise.
Adapun keluhan gastrointestinal berupa diare dan keluhan lain berupa
konjungtivitis. Spektrum klinis bisa sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik, flu
ringan hingga berat, pneumonia dan banyak yang berakhir dengan ARDS (Acute
Respiratory Distress Syndrome). Perjalanan klinis AI umumnya berlangsung
sangat progresif dan fatal, sehingga sebelum sempat terfikir tentang AI, pasien
sudah meninggal. Mortalitas penyakit ini hingga laporan terakhir sekitas 50%.
Kelainan laboratorium rutin yang hampir selalu dijumpai adalah lekopenia,
limfopenia dan trombositopenia. Cukup banyak kasus yang mengalami gangguan
ginjal berupa peningkatan nilai ureum dan kreatinin. Kelainan gambaran
radiologis toraks berlangsung sangat progresif dan sesuai dengan manifestasi
klinisnya namun tidak ada gambaran yang khas. (7)
xvi
II.G Diagnosis
Menetapkan diagnosis pada saat terjadi wabah tidak akan banyak
mengalami kesulitan. Di luar kejadian wabah, diagnosis influenza kadang-kadang
terhambat oleh diagnosis penyakit lain. Diagnosis pasti penyakit influenza dapat
diperoleh melalui isolasi virus maupun pemeriksaan serologis. Untuk mengisolasi
virus diperlukan usap tenggorok atu usap hidung dan harus diperoleh sedini
mungkin; biasanya pada hari-hari pertama sakit. Diagnosis serologis dapat
diperoleh melalui uji fiksasi komplemen atau inhibisi hemaglutinasi. Akan dapat
ditunjukkan kenaikan titer sebanyk 4 kali antara serum pertama dengan serum
konvalesen atau titer tunggal yang tinggi. Pada saat ini antiinfluenza IgM dapat
digunakan di beberapa tempat. Diagnosis cepat lainnya dapat juga diperoleh
dengan pemeriksaan antibodi fluoresen yang khusus tersedia untuk tiper virus
influenza A. PCR dan RT-PCR sangat berguna untuk diagnosa cepat virus lainnya
yang dapat pula menyerang saluran napas antara lain adeno-virus, parainfluenza
virus, rinovirus, respiratory syncyial virus, cyomegalovirus dan enterovirus.
Keterlibatan berbagai jenis virus ini dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan
serologis atau isolasi langsung. (6)
Avian Influenza
Diagnostik (7)
Uji Konfirmasi :
1. Kultur dan identifikasi virus H5N1.
2. Uji Real Time Nested PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk H5.
3. Uji serologi :
xvii
a. Imunofluorescence (IFA) test : ditemukan antigen positif dengan
menggunakan antibodi monoklonal Influensa A H5N1.
b. Uji netralisasi : didapatkan kenaikan titer antibodi spesifik
influensa A/H5N1 sebanyak 4 kali dalam paired serum dengan uji
netralisasi.
c. Uji penapisan : a). Rapid Test untuk mendeteksi Influensa A. b). HI
Test dengan darah kuda untik mendeteksi H5N1. c). Enzyme
Immunoassay (ELISA) untuk mndeteksi H5N1.
Pemeriksaan Lain
Hematologi : hemoglobin, lekosit, trombosit, hitung jenis lekosit, total limfosit.
Umumnya ditemukan leukopeni, limfositopeni atau limfositosis relatif dan
trombositopeni.
Kimia : albumin/globulin, SGOT/SGPT, ureum, kreatinin, kreatin kinase, analisa
gas darah. Umumnya dijumpai penurunan albumin, peningkatan SGOT/SGPT,
peningkatan ureum dan kreatinin, peningkatan kreatin kinase, analisa gas darah
dapat normal atau abnormal. Kelainan laboratorium sesuai dengan perjalanan
penyakit dan komplikasi yang ditemukan.
Pemeriksaan Radiologi : pemeriksaan foto toraks PA dan lateral (bila diperlukan).
Dapat ditemukan gambaran infiltrat di paru yang menunjukkan bahwa kasus ini
adalah pneumonia.
DEFINISI KASUS
Departemen Kesehatan RI membuat kriteria diagnosis flu burung sebagai berikut :
1. Pasien dalam Observasi
xviii
Seseorang yang menderita demam/panas >380C disertai satu atau lebih
gejala di bawah ini : a). batuk, b). sakit tenggorokan, c). pilek, d). napas
pendek/sesak napas (pneumonia) di mana belum jelas ada atau tidaknya
kontak dengan unggas sakit/mati mendadak yang belum diketahui
penyebabnya dan produk mentahnya. Pasien masih dalam observasi klinis,
epidemiologis dan pemeriksaan laboratorium.
2. Kasus Suspek AI H5N1
Seseorang yang menderita demam/panas ± 380C disertai satu atau lebih
gejala di bawah ini : a). batuk, b). sakit tenggorokan, c). pilek, d). napas
pendek/sesak napas (pneumonia) dan diikuti satu atau lebih keadaan di bawah
ini : 1). pernah kontak dengan unggas (ayam, itik, burung) sakit/mati
mendadak yang belum diketahui penyebabnya dan produk mentahnya dalam 7
hari terakhir sebelum timbul gejala di atas, 2). pernah tinggal di daerah yang
terdapat kematian unggas yang tidak biasa dalam 14 hari terakhir sebelum
timbul gejala di atas, 3). pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam
7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas, 4). pernah kontak dengan
spesimen AI H5N1 dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
(bekerja di laboratorium untuk AI), 5). ditemukan lekopeni ≤ 3000/µl atau
mm, 6). ditemukan adanya titer antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan HI
test menggunakan eritrosit kuda atau tes ELISA untuk influensa A tanpa
subtipe.
xix
Atau
Kematian akibat Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS) dengan satu atau
lebih keadaan dibawah ini

Leukopeni atau limfopenia (relatif/Diff.count) dengan atau tanpa
trombositopenia (trombosit < 150.000).

Foto thorax menggambarkan peneumonia atipikal atau infiltrat di kedua
sisi paru yang makin meluas pada serial.
3. Kasus Probabel AI H5N1
Kriteria kasus suspek ditambah dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini:

Ditemukan adanya kenaikan titer antibodi minimal 4 kali terhadap H5
dengan pemeriksaaan HI test menggunakan eritrosit kuda atau ELISA test.

Hasil laboratorium terbatas untuk influenza H5 (dideteksi antibodi spesifik
H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan neutralisasi test.
(Dikirim ke referensi laboratorium).

Dalam waktu singkat menjadi pneumonia berat/gagal nafas/meninggal dan
terbukti tidak ada penyebab lain.
4. Kasus Konfirmasi Influenza A/H5N1
Kasus suspek atau probabel dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini:

Kultur virus positif influenza A/H5N1

PCR positif influenza A/H5N1

Pada imnofluorescence (IFA) test ditemukan antigen positif dengan
mengunakan antibodi monoklonal influenza A/H5N1
xx

Kenaikan titer antibodi spesifik influenza A/H5N1 sebanyak 4 kali dalam
paired serum dengan uji netralisasi.
KELOMPOK RISIKO TINGGI
Kelompok yang perlu diwaspadai dan berrisiko tinggi terinfeksi flu burung
adalah:

Pekerja
peternakan
atau
pemrosesan
unggas
(termasuk
dokter
hewan/insinyur peternakan).

Pekerja laboratorium yang memproses sampel pasien / unggas terjangkit.

Pengunjung peternakan/pemrosesan unggas (1 minggu terakhir).

Pernah kontak dengan unggas (ayam, itik, burung) sakit/mati mendadak
yang belum diketahui penyebabnya dan atau babi serta produk mentahnya
dalam 7 hari terakhir.

Pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam 7 hari terakhir.
Kriteria Rawat

Suspek flu burung dengan gejala klinis berat yaitu ; 1) sesak napas dengan
frekuensi napas ≥ 30 kali/menit, 2) nadi ≥ 100 kali/menit. Ada gangguan
kesadaran, 3) kondisi umum lemah.

Suspek dengan lekopenia

Suspek dengan gambaran radiologi pneumonia
Kasus probable dan confirm
xxi
II.H Diagnosis Banding
Banyak penyakit yang memiliki gejala yang menyerupai flu (flu like syndrom)
sehingga influenza dapat didiagnosis banding : (9)
1. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrom) adalah penyakit infeksi saluran
napas yang disebabkan oleh virus Corona dengan sekumpulan gejala klinis
yang berat. Perbedaan dengan influenza adalah cara penularannya, yaitu
dengan kontak langsung membran mukosa, serta pada gejala pernapasan
rasa sesak lebih berat dirasakan di banding pada influenza yang tidak
terdapat sesak napas.
2. Common cold (selesma) adalah suatu infeksi virus pada selaput hidung,
sinus dan saluran udara besar yang disebabkan oleh rhinovirus (80%).
Gejala-gejala penyakit ini biasanya tidak timbul demam, tetapi demam
yang ringan dapat muncul saat gejala, dan gejala-gejala yang lain tidak
sehebat influenza. Hidung mengeluarkan cairan yang encer dan jernih dan
pada hari-hari pertama jumlahnya sangat banyak sehingga mengganggu
penderita.
Selanjutnya sekret hidung menjadi lebih kental, berwarna
kuning-hijau dan jumlahnya tidak terlalu banyak.
3. Infeksi saluran pernapasan atas merupakan suatu penyakit infeksi pada
saluran pernapasan atas yang banyak disebabkan oleh virus dan
mempunyai gejala-gejala seperti flu, akan tetapi pada infeksi saluran
pernapasan atas mempunya gejala-gejala lain seperti rhinitis, sinusitis,
nasopharyngitis, pharyngitis, epiglotitis, laryngitis, laringotrakeitis dan
trakeitis.
xxii
4. Infeksi parainfluenza virus juga mempunyai gejala yang hampir sama
dengan infeksi virus influenza dimana yang terdiri dari HPIV-1, HPIV-2,
HPIV-3 dan HPIV-4 yang
5. Meningitis merupakpan penyakit radang pada selaput otak. Dimana gejala
awal dari penyakit ini menyerupai flu seperti demam, sefalgia, nausea,
vomitus, photofobia sedangkan pada pemeriksaan fisik terdapat kaku
kuduk positif.
II.I Penatalaksanaan
Pasien dapat diobati secara simtomatik. Obat oseltamivir 2x75 mg sehari
selama 5 hari akan memperpendek masa sakit dan mengurangi keperluan
tambahan antimikroba untuk infeksi bakteri sekunder. Zanamivir dapat diberikan
secara lokal secara inhalasi, makin cepat obat diberikan makin baik. Untuk kasus
dengan komplikasi yang sebelumnya mungkin menderita bronkitis kronik,
gangguan jantung atau penyakit ginjal dapat diberikan antibiotik. Pasien dengan
bronkopneumonia sekunder memerlukan oksigen. Pneumonia stafilokok sekunder
harus diatasi dengan antibiotik yang tahan betalaktamase dan kortikosteroid dosis
tinggi. (6)
Avian Influenza
Prinsip penatalaksanaan AI adalah : istirahat, peningkatan daya tahan
tubuh, pengobatan antiviral, pengobatan antibiotik, perawatan respirasi,
antiinflamasi, imunomodulator. (7)
xxiii
Mengenai antiviral maka antiviral sebaiknya diberikan pada awal infeksi
yakni pada 48 jam pertama. Adapun pilihan obat :
1. Penghambat M2 : a. amantadin (symadine), b. rimantidin (flu-madine).
Dengan dosis 2x/hari 100 mg atau 5mg/kgBB selama 3-5 hari.
2. Penghambat neuramidase (WHO) : a. zanamivir (relenza), b. oseltamivir
(tamiflu). Dengan dosis 2 x 75 mg selama 1 minggu.
Departemen Kesehatan RI dalam pedomannya memberikan petunjuk
sebagai berikut :

Pada kasus suspek flu burung diberikan Oseltamivir 2 x 75 mg selama 5
hari, simtomatik dan antibiotik jika ada indikasi.

Pada kasus probable flu burung diberikan Oseltamivir 2 x 75 mg selama 5
hari, antibiotik spektrum luas yang mencakup kuman tipik dan atipikal,
dan steroid jika perlu seperti pada kasus pneumonia berat, ARDS.
Respiratory Care di ICU sesuai indikasi.
Sebagai profilaksis, bagi mereka yang berisiko tinggi, digunakan Oseltamivir
dengan dosis 75 mg sekali sehari selama 7 hari sampai 6 minggu.
II.J Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada virus influenza adalah:
-
Pneumonia influenza primer, ditandai dengan batuk yang progresif,
dispnea, dan sianosis pada awal infeksi. Foto rongten menunjukkan
gambaran infiltrat difus bilateral tanpa konsolidasi, dimana menyerupai
ARDS.
xxiv
-
Pneumonia bakterial sekunder, dimana dapat terjadi infeksi beberapa
bakteri (seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia,
Haemophilus influenza). (9)
II.K Pencegahan
Yang paling pokok dalam menghadapi influenza adalah pencegahan.
Infeksi dengan virus influenza akan memberikan kekebalan terhadap infeksi virus
yang homolog. Karena sering terjadi perubahan akibat mutasi gen, antigen pada
virus influenza akan berubah, sehingga seseorang masih mungkin diserang
berulang kali dengan galur (strain) virus influenza yang telah mengalami
perubahan ini. Kekebalan yang diperoleh melalui vaksinasi sekitar 70%. Vaksin
influenza mengandung virus subtipe A dan B saja karena subtipe C tidak
berbahaya. Diberikan 0,5 ml subkutan atau intramuskuler. Vaksin ini dapat
mencegah tejadinya mixing dengan virus yang sangat pathogen H5N1 yang
dikenal sebagai penyakit avian influenza atau flu burung. Nasal spray flu vaccine
(live attenuated influenza vaccine) dapat juga digunakan untuk pencegahan flu
pada usia 5-50 tahun dan tidak sedang hamil. Vaksinasi perlu diberikan 3-4
minggu sebelum terserang influenza. Karena terjadi perubahan-perubahan pada
virus maka pada permulaan wabah influenza biasanya hanya tersedia vaksin
dalam jumlah terbatas dan vaksinasi dianjurkan hanya untuk beberapa golongan
masyarakan tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi dengan
kemungkinan komplikasi yang fatal. (6)
Golongan yang memerlukan imunoprofilaksis ini antara lain:
xxv
1. Pasien berusia diatas 65 tahun.
2. Pasien dengan penyakit yang kronik seperti kardiovaskuler, pulmonal,
renal, metabolik (termasuk diabetes melitus), anemia berat dan pasien
imunokompromise. Dianjurkan diberikan vaksin setiap tahun menjelang
musim dingin atau musim hujan.
3. Juga mereka yang melaksanakan fungsi pelayanan masyarakat yang vital
memerlukan vaksinasi, seperti misalnya pegawai yang bertugas di unit
darurat medis di rumah sakit. Mereka mungkin dapat menularkan penyakit
ke pasien yang dirawat.
Pencegahan dengan kemoprofilaksis untuk mereka yang tidak dapat
diberikan vaksinasi karena menderita alergi terhadap protein dalam telur dapat
diusahakan dengan pemberian rimantadine 200 mg dua kali sehari atau
amantadine 100 mg tiap 12 jam masing-masing selam 4-6 minggu. Juga bila tidak
tersedia vaksin, cara pencegahan ini juga dapat diterapkan. Pemberian amantadine
harus hati-hati pada mereka dengan gangguan fungsi ginjal atau yang menderita
penyakit konvulsif. Pada usia lanjut cukup diberika amantadine 100 mg sekali
sehari mengingat penurunan fungsi ginjal. Juga pada bersihan kreatinin antara 4060 ml/menit berlaku hal yang sama. Pada bersihan kreatinin antar 10-15 ml/menit
dapat diberikan 200 mg amantadine sekali seminggu.
Meluasnya penyebaran penyakit ini dalam masyarakat dapat dicegah
dengan meningkatkan tingkah laku higienik perorangan. (6)
xxvi
BAB III
KESIMPULAN
1. Influenza merupakan suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan yang
sangat menular dapat menyerag burung dan mamalia.
2. Influenza disebabkan oleh virus influenza tipe A, B dan C yang
merupakan suatu orthomixovirus golongan RNA.
3. Virus influenza tipe A mempunyai banyak subtipe, diantaranya H5N1
yang menyebabkan flu burung dan termasuk HPAI.
4. Penularan virus influenza melalui droplet dan lokalisasinya di traktus
respiratorius.
5. Gejala klinis influenza adalah demam, sefalgia, mialgia, batuk, pilek dan
disfagia.
6. Diagosis ditegakkan dari anamesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
7. Komplikasi influenza dapat terjadi pneumonia influenza primer dan
pneumonia bakterial sekunder.
8. Influenza dapat diobati secara simtomatik, dan dengan antiviral dapat
memperpendek angka sakit.
9. Pencegahan
dengan
vaksin
bagi
golongan
yang
memerlukan
imunoprofilaksis.
xxvii
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, 2007. Influenza. Diakses dari http://en.wikipedia.org/influenza
2. Chandra G., Influenza: Dampak dan Pencegahannya. Aventis Pasteur
Indonesia. Diakses dari http://www.tempo.co.id/medika
3. Mahardika, dkk. 2005. Aspek Epidemiologi Virus Avian Influenza.
Denpasar. Diakses dari http://www.uplek.org/pdf/aspek_epidemologi.pdf
4. Aditama Y., 2006. Mendeteksi dan Mencegah Pandemi Influenza. Diakses
dari http://www.kompas.com/Ilmu_peng.
5. NSW Health Department Indonesia, 2003. Influenza. Diakses dari
http://www.health.nsw.gov.au/mhcs/.
6. Nelwan, R.H.H., 2006. Influenza dan Pencegahannya. Buku Ajar Penyakit
Dalam. FKUI: Jakarta.
7. Nainggolan L., dkk., 2006. Influenza Burung. Buku Ajar Penyakit Dalam.
FKUI: Jakarta.
8. Titin L., 2008. Seputar Influenza. Diakses dari http://www.medistra.com
9. Derlet R., 2007. Influenza. Diakses dari http://www.emedicine.com/
influenza.
xxviii
Download