faktor penyebab medication error di rsud anwar

advertisement
FAKTOR PENYEBAB MEDICATION ERROR DI RSUD ANWAR
MAKKATUTU KABUPATEN BANTAENG
CAUSES FACTORS OF MEDICATION ERRORS AT REGIONAL GENERAL
HOSPITAL OF ANWAR MAKKATUTU BANTAENG REGENCY
Andi Thenry Bayang1, Syahrir Pasinringi1, Sangkala2
1
2
Bagian Administrasi Rumah Sakit, FKM, Universitas Hasanuddin,
Bagian Ilmu Administrasi Negara , FISIP, Universitas Hasanuddin,
Makassar
Alamat Korespondensi :
Andi Thenry Bayang, S.Farm, Apt
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin
Makassar, 90245
HP. 085255282252
Email : [email protected]
Abstrak
Kejadian medication error merupakan indikasi tingkat pencapaian patient safety, khususnya terhadap tujuan
tercapainya medikasi yang aman, data analisis kejadian medication error RSUD Anwar Makkatutu Kabupaten
Bantaeng tahun 2010 sebanyak 18 kasus, tahun 2011 sebanyak 16 kasus, dan tahun 2012 sebanyak 21 kasus.
Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi jenis dan penyebab medication error meliputi prescribing error,
dispensing error, dan administration error. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan
eksplanatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan telaah dokumen. Informan penelitian
adalah orang-orang yang terlibat langsung mulai dari proses peresepan hingga obat diterima oleh pasien. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa prescribing error meliputi kesalahan administratif dan prosedural yaitu resep
yang tidak lengkap, resep tidak terbaca, aturan pakai tidak jelas, penggunaan singkatan yang tidak lazim;
kesalahan dosis yaitu dosis yang tidak tepat; dan kesalahan terapeutik yaitu duplikasi terapi. Dispensing error
meliputi content error yaitu kesalahan membaca resep, obat tidak tepat, jumlah obat tidak tepat, dan kesalahan
bentuk sediaan obat; labeling error yaitu kesalahan penulisan aturan pakai. Administration error meliputi
kesalahan waktu pemberian obat, kesalahan teknik pemberian obat, dan obat tertukar pada pasien yang namanya
sama (right drug for wrong patient). Penyebab prescribing error adalah faktor lingkungan kerja yaitu gangguan
dan interupsi keluarga pasien; faktor petugas kesehatan yaitu pengetahuan, tulisan dokter yang buruk, beban
kerja yang berlebihan; faktor pasien yaitu pasien yang tidak kooperatif. Penyebab dispensing error adalah faktor
prosedur pengelolaan obat; faktor lingkungan kerja yaitu gangguan dan interupsi keluarga pasien; faktor petugas
kesehatan yaitu tulisan dokter yang tidak jelas, resep tidak lengkap (tidak ada keterangan bentuk sediaan obat),
dan beban kerja yang berlebihan; faktor pasien yaitu pasien yang tidak kooperatif. Penyebab administration
error adalah faktor petugas kesehatan yaitu budaya kerja; faktor lingkungan kerja yaitu kesibukan kerja; faktor
pasien yaitu keluarga pasien yang tidak kooperarif dan pemahaman keluarga pasien mengenai prosedur
pengambilan obat.
Kata kunci : keselamatan pasien, medication error, rumah sakit
Abstract
Incidence of medication errors is an indication of the level of achievement of patient safety,especially againts
the puspose the achievement of safe medication, data analysis of the incidence of medication error on regional
general hospital of Anwar Makkatutu Bantaeng Regency in 2010 as many as 18 cases, in 2011 as 16 casesand
in 2012 as 21 cases. The purpose of the research is to identify the type and the causes of medication errors
including prescribing error, dispensing error, and administration error. The research used qualitative approach
with explanative goal, the data were collected by conducting interview interview, observation amd document
study. Prescribing error includes administrative and procedural error such as incomplete prescription, illegible
prescription, direction for use is not clear,using unusual abbreviation, dosage error is innacurate dosage, and
therapeutic error is therapeutic duplication. Dispensing error covers content error i.e reading prescription
mistakenly, medicine is inaccurate, the sum of medicine is not correct, and error of forms of stock; labeling
error is error writing direction for use. Administration error including time and technique for taking drugs,
error in delivering medicines to the wrong patients (same names different persons and diseases). The causes of
prescribing error are work environment i.e interference of patients’ family; health workers factor such as
knowledge, doctors writing is bad, excessive workload; patients factors : patient’s are not cooperative. The
causes of dispensing error are dispensary procedure factors; work environment factors such as patients’ family
interruption; health workers factors such as doctors writing are obscure, incomplete prescription (no
description of drug stock form), and excessive workload; patients factors such as patient’s are not cooperative.
The causes of administration error are health worker factors such as work culture; work environment factors
such as the flurry of work; patient factors such as patients’ family is not cooperative and insufficient knowledge
on collecting medicine procedures.
Key words : patient safety, medication error, hospital
PENDAHULUAN
Kejadian medication error merupakan indikasi tingkat pencapaian patient safety,
khususnya terhadap tujuan tercapainya medikasi yang aman. Kriteria medication error
menurut Lisby et al (2005) terjadi pada tahap order/permintaan, transkripsi, dispensing,
administering, dan discharge summaries.
Dalam penelitiannya, Dwiprahasto (2006), menyatakan bahwa 11 % medication
error di rumah sakit berkaitan dengan kesalahan saat menyerahkan obat ke pasien dalam
bentuk dosis atau obat yang keliru.
Dalam penelitiannya, Aiken dan Clarke (2002) menyatakan bahwa kesalahan
pengobatan dan efek samping obat terjadi pada rata-rata 6,7% pasien yang masuk ke
rumah sakit. Di antara kesalahan tersebut, 25 hingga 50% adalah berasal dari kesalahan
peresapan (eliminasi) dan dapat dicegah.
Studi yang dilakukan Bagian Farmakologi Universitas Gajah Mada antara 20012003 menunjukkan bahwa medication error terjadi pada 97 % pasien Intensive Care
Unit (ICU) antara lain dalam bentuk dosis berlebihan atau kurang, frekuensi pemberian
keliru dan cara pemberian yang tidak tepat. Berdasarkan Laporan Peta Nasional
Keselamatan Pasien (Kongres PERSI 2007) kesalahan dalam pemberian obat menduduki
peringkat pertama (24,8%) dari 10 besar insiden yang dilaporkan (Kemenkes, 2008).
Data analisis kajian resep Instalasi Farmasi RSUD Anwar Makkatutu Bantaeng
tahun 2012, menunjukkan bahwa resep yang berpotensi menyebabkan terjadinya
medication error karena resep tidak lengkap yaitu sebesar 36,75%.Dengan melihat data
tersebut, menandakan bahwa peluang akan terjadinya medication error di rumah sakit
sangat besar.
Insiden medication error yang dilaporkan di RSUD Anwar Makkatutu Bantaeng
yaitu sebanyak 18 kasus (0,038 % dari total 46660 lembar resep yang dilayani) pada
tahun 2010 dan 16 (0,031 % dari total 51513 lembar resep yang dilayani) kasus pada
tahun 2011, kejadian ini antara lain disebabkan karena pemberian obat yang salah, dosis
yang tidak rasional, kesalahan rute pemakaian, adanya kegagalan komunikasi/salah
interpretasi antara prescriber dengan dispenser dalam "mengartikan resep" yang
disebabkan oleh tulisan tangan prescriber yang tidak jelas terutama bila ada nama obat
yang hampir sama serta keduanya mempunyai rute pemberian obat yang sama pula, dan
penulisan aturan pakai yang tidak lengkap. Tahun 2012 angka kejadian medication error
di RSUD Prof Dr. H.M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng mengalami peningkatan
menjadi 21 kasus (0,027 % dari total 77571 lembar resep yang dilayani).
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam
faktor penyebab
medication error di RSUD Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng.
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Rancangan penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng, yang
dilaksanakan pada bulan April – Mei 2013.
Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan tujuan eksplanatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap
informan untuk mendapatkan informasi tentang medication error.
Informan Penelitian
Teknik pengambilan informan dalam penelitian ini yaitu menggunakan informan
kunci (key informan). Informan penelitian ini adalah orang-orang yang terlibat langsung
mulai dari proses peresepan hingga obat diterima oleh pasien yaitu Dokter, Perawat,
Apoteker, Asisten
Apoteker RSUD Anwar Makkatutu. Jumlah sampel yang relatif
kecil pada umumnya digunakan pada suatu penelitian kualitatif untuk lebih memberikan
perhatian pada kedalaman penghayatan subyek (Green & Thorogood, 2009).
Teknik Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan 3 metode yaitu : Observasi, untuk
menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan; wawancara
mendalam, memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka
antara pewawancara dengan informan, dengan menggunakan pedoman wawancara; dan
telaah dokumen, dengan melakukan telaah sejumlah besar fakta dan data tersimpan
dalam bahan yang berbentuk dokumentasi berbentuk catatan harian, laporan, foto dan
sebagainya.
Teknik Analisis Data
Prosedur analisis data dimulai dengan proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi.
Analisis data menggunakan Model Miles dan Huberman, yaitu : reduksi data dengan
melakukan pemilahan, pemusnahan, penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi
data, memilih dan mengelompokkan data serta membuang data yang tidak diperlukan;
data display (Penyajian Data) yaitu menyajikan data dalam bentuk uraian singkat teks
yang bersifat naratif; Conclusion Drawing/Verification (Penarikan Kesimpulan dan
Verifikasi)
HASIL
Identifikasi Medication error
Medication errors berhubungan dengan praktisi, produk, prosedur, lingkungan
atau sistem yang melibatkan resep, dispensing, dan distribusi, penyiapan dan pemakaian,
pelabelan, pengemasan, penamaan, komunikasi, dan edukasi (Cohen, 1999). Adapun
tahap-tahap medication error dalam penelitian ini sebagai berikut :
Prescribing error
Prescribing error adalah kesalahan yang terjadi selama proses peresepan obat
meliputi. Hasil wawancara dengan informan mengenai jenis prescribing error yang
terjadi diperoleh informasi sebagai berikut:
“Dalam penulisan resep yang biasa terjadi adalah kesalahan penulisan dosis. Atau
kadang-kadang kita lupa menuliskan kadarnya, seperti natrium diklofenak lupa
dituliskan kadar 50 mg yang dibutuhkan, oleh pihak apotek diberikan kadar terkecil 25
mg. Hal tersebut karena tidak jelas kadar berapa yang diminta dalam resep”
(SP, 38 tahun)
Penuturan informan di bawah ini yang menyatakan bahwa prescribing error juga
termasuk resep dan tulisan tangan yang tidak terbaca, seperti kutipan di bawah ini :
“Dalam Penulisan resep untuk pasien rawat jalan harus kita perhatikan resep baik-baik,
karena kadang ada tulisan dokter yang tidak terbaca, jadi harus dikonfirmasi ke
dokternya dahulu”.
(AH, 29 tahun)
Kutipan berikut menuturkan bahwa kesalahan resep yang sering ditemukan
adalah tidak adanya aturan pakai, ungkapannya berikut ini :
“Masalah peresepan yang sering, pasien sering bolak-balik, karena tidak ada aturan
pakainya, tidak jelas nama obat nya, atau juga aturan pakai tidak tepat untuk spoit
aturan pakainya 3x1”.
(YL, 30 tahun)
Berdasarkan hasil observasi langsung dan telaah dokumen yang dilakukan,
menunjukkan bahwa dari total 11.026 lembar resep pada bulan april dan mei 2013,
terdapat resep dengan tulisan tangan yang tidak terbaca sebanyak 109 lembar resep
(0,98 %) pada poliklinik umum, poliklinik bedah dan instalasi rawat darurat; resep yang
tidak lengkap sebanyak 5.792 lembar resep (52,53 %) pada instalasi rawat inap, instalasi
rawat jalan, dan instalasi rawat darurat; tidak ada penulisan aturan pakai sebanyak 347
lembar resep (3,14 %) pada instalasi rawat darurat, instalasi rawat inap, poliklinik
umum; penulisan singkatan yang tidak lazim sebanyak 47 lembar resep (0,42 %) pada
poliklinik umum.
Dispensing error
Dispensing error adalah kesalahan yang terjadi selama proses peracikan obat
meliputi content errors dan labelling errors. Hasil penelitian yang diungkapkan oleh
informan mengenai jenis dispensing error yang terjadi berupa pemberian obat yang tidak
tepat, sebagai berikut
“Kesalahan dalam membaca resep karena obat LASA, karena nama obat yang hampir
sama. Hal tersebut yang bisa menyebabkan kesalahan”.
(AH, 29 tahun)
Informan lainnya mengungkapkan bahwa dispensing error yang terjadi seperti
obat tidak sesuai dengan resep berikut kutipannya :
“Kadang obat tidak sesuai dengan resep, itu biasa terjadi, kadang juga ada di resepkan
tapi tidak ada obatnya. Petugas apotek tidak menginformasikan kalau ada obat yang
kosong”.
(HK, 40 tahun)
Berdasarkan hasil observasi langsung dan telaah dokumen yang dilakukan di
Instalasi Farmasi, pada bulan april – mei 2013 menunjukkan bahwa jenis dispensing
error yang terjadi yaitu kesalahan penulisan aturan pakai 3 kali pada pasien asma
bronchial di poliklinik interna, pasien neuralgia di poliklinik syaraf, dan pasien diabetes
mellitus di perawatan interna; kesalahan pemberian sediaan obat 1 kali pada pasien
demam tyfoid di perawatan interna; jumlah obat yang tidak tepat 2 kali pada pasien
tonsilofaringitis dan pasien rhinitis alergi di poliklinik umum
.
Administration errors
Administration error adalah kesalahan yang terjadi selama proses pemberian obat
kepada pasien meliputi kesalahan teknik pemberian, rute, waktu, salah pasien.
Berdasarkan penuturan informan jenis Administration error yang terjadi berkaitan
dengan waktu pemberian obat :
“Administration error kendalanya di pemberian obat. Obat yang sudah waktunya
diberikan, yang harusnya berkesinambungan sesuai dengan rotasi jadwal yang ada,
misalnya untuk pemberian obat per 8 jam, begitu mau disuntikkan habis obatnya”.
(ZA, 28 tahun)
Informan di bahwah ini menegaskan adanya kesalahan teknik pemberian obat,
ungkapannya berikut ini :
“Kalau menyuntikkan ketesse injeksi kan perih rasanya, sebaiknya diencerkan terlebih
dahulu, supaya pasien tidak merasa kesakitan waktu disuntikkan, tapi ada juga teman
karena bersikap masa bodoh langsung disuntikkan tanpa diencerkan, sehingga pasien
merasa kesakitan”.
(AI, 37 tahun)
Sementara menurut informan lainnya menyatakan bahwa obat diberikan bukan
pada pasien yang tepat, misalnya bila nama pasien sama, sebagaimana diungkapkan oleh
informan berikut ini :
“Salah pemberian obat bukan pada orang yang tepat, misalnya obat sudah disiapkan
sesuai resep, tetapi pemberiannya bukan pada orang yang tepat”.
(AH, 29 tahun)
Berdasarkan hasil observasi langsung dan telaah dokumen yang dilakukan,
administration error yang terjadi di Instalasi Farmasi pada bulan februari 2013 yaitu
kesalahan pemberian obat pada pasien dengan nama yang sama sebanyak 1 kali pada
pasien neuralgia di poliklinik syaraf. Di perawatan interna pada bulan april – mei 2013
terjadi 2 kali kesalahan pemberian obat yaitu obat tidak disuntikkan.
Penyebab Medication Error
Hal yang dapat menyebabkan medication error adalah miskomunikasi antara
dokter dan farmasis yang dapat berupa penulisan resep yang tidak jelas, nama obat yang
mirip, aturan pakai yang tidak jelas, pemberian obat pada pasien dengan rute dan teknik
pemberian yang tidak tepat.
Prescribing error
Prosedur
Hasil wawancara yang dilakukan diperoleh informasi sebagai berikut :
“Masalah kekosongan obat juga bisa jadi penyebab kesalahan, yang bermasalah kalau
dokter menulis resep tapi tidak tersedia obat yang dimaksud, dapat diatasi dengan
komunikasi ke dokter, dapat diganti dengan obat lain yang sama zat aktifnya”.
(ZH, 30 tahun)
Dari hasil observasi dilapangan ditemukan bahwa masih sering terjadi
kekosongan obat khususnya untuk pasien umum yang disebabkan oleh proses pengadaan
obat untuk pasien umum yang masih menggunakan sistem tender, dimana kekurangan
sistem ini ada obat yang stagnan sampai kadaluarsa dan ada obat yang stok out
disebabkan karena pola penyakit dan pola pengobatan yang selalu berubah. Seringnya
terjadi kekosongan obat untuk pasien umum menyulitkan dokter pada saat penulisan
resep.
Lingkungan kerja
Informan mengungkapkan bahwa faktor lingkungan sangat dipengaruhi oleh
sikap keluarga pasien, terutama bila jumlah pasien sedang banyak, ungkapannya berikut
ini:
“Lingkungan kerja, pasti sangat berpengaruh terutama terhadap kinerja, termasuk
kalau pasien membludak, apalagi kalau ada pasien dan keluarga pasien yang marahmarah, jadi kalau kita sementara melayani pasien yang satu, pasien lain juga mau
dilayani, tentu itu yang mempengaruhi pikiran kita”.
(SP, 37 tahun)
Petugas kesehatan
Faktor petugas kesehatan yang berpengaruh terhadap prescribing error
berdasarkan hasil wawancara informan sebagai berikut :
“Tulisan yang tidak jelas itu tergantung dari dokternya memang ada sama sekali tidak
terbaca, yang kedua aturan pakai, aturan pakainya kembali ke dokternya. Dosisnya
masing-masing obat harus rasional. Nah, selama ini, ini yang menjadi masalah.
Mungkin karena faktor ketidaktahuan dari beberapa dokter”.
(HK, 40 tahun)
Informan lain mengungkapkan prescribing error disebabkan karena tulisan
dokter yang buruk. Hasil wawancara sebagai berikut :
“Mungkin juga karena tulisannya yang tidak terbaca. Tentu memang karena tulisannya
yang kurang bagus, apalagi kalau menulisnya itu karena terburu-buru. Karena
dokternya sendiri ada juga yang tulisannya memang jelek”.
(SP, 37 tahun)
Mengenai beban kerja, informan merasa juga berpengaruh terhadap kualitas
pekerjaan:
“Terjadinya kesalahan dalam peresepan juga dipengaruhi oleh beban kerja, apalagi
dokter yang masih rangkap-rangkap kerjaan struktural dan fungsional, tapi yaa
semaksimal mungkin kita bekerja dengan baik untuk pelayanan ke pasien”.
(HK, 40 tahun)
Pihak pasien
Pihak pasien dan keluarga pasien sendiri secara tidak langsung mempengaruhi
proses peresepan, hal ini diungkapkan oleh informan berikut :
“Kenyamanan dan ketenangan dalam bekerja memang sangat dibutuhkan. Karakter
orang-orang disini kan keras-keras, sedikit-sedikit marah. Nah kalau begitu kita juga
otomatis terganggu, pikiran terganggu”.
(HK, 40 tahun)
Dispensing error
Dispensing error terjadi pada tahap dispensing (peracikan), dari dispensing obat
di apotek hingga suplai obat kepada pasien.
Prosedur
Penyebab dispensing error dari faktor prosedur berkaitan dengan proses
penyimpanan obat yang kurang tepat khususnya untuk obat LASA, hal tersebut
diungkapkan oleh informan sebagai berikut :
“Paling sering kesalahan terjadi karena tulisan yang tidak jelas, atau karena tempatnya
obat yang bedekatan dan namanya mirip-mirip”
(ST, 37 tahun)
Dari observasi dilapangan penyimpanan obat di instalasi farmasi dilakukan
berdasarkan bentuk sediaan obat dan disusun secara alfabetis.
Lingkungan kerja
Informan mengungkapkan bahwa sikap keluarga pasien di loket ruang tunggu
tidak memberikan suasana yang tenang untuk melakukan dispensing.
“Kalau lingkungan sudah bagus, yang selalu jadi masalah keluarga pasien dan pasien
yang selalu berdiri di depan loket, mengganggu konsentrasi, penyebab medication error
kalau keluarga pasien tidak sabar”.
(AH, 29 tahun)
Petugas kesehatan
Salah satu penyebab dispensing error yang paling umum tulisan yang tidak jelas.
Hal ini dibutikan dengan ungkapan informan berikut ini :
“Penyebabnya kalau dari apoteknya sendiri, bisa saja kesalahan di dalam membaca
resep, obat yang sepintas sama kedengarannya atau mirip tulisannya, misalnya metil
prednisolon dan metil ergometrin”.
(AH, 29 tahun)
Mengenai faktor beban kerja, informan mengungkapkan bahwa beban kerja
sangat mempengaruhi terjadinya dispensing error :
“Beban kerja sangat berpengaruh sekali, karena kadang-kadang kita yang shift pagi,
resep banyak, lelah sangat berpegaruh bisa terjadi karena volume kerja tidak sesuai
dengan tenaga yang ada”.
(AH, 29 tahun)
Penyebab dispensing yang lain adalah karena tidak dicantumkan bentuk sediaan
obat pada resep:
“Oh selalunya juga karena tidak ada ditulis sediaannya di resep, seperti ketesse kan ada
dua macam, ada injeksi ada tablet, biasa tidak ada keterangannya di resep, hanya
ditulis jumlahnya 3, tidak jelas ketesse apa yang dimaksud, tablet atau injeksi”.
(ST, 37 tahun)
Pihak pasien
Dari pihak pasien dan keluarga pasien sendiri juga dapat menjadi penyebab
terjadinya kesalahan, seperti ungkapan berikut ini :
“Tekanan dari pasien atau keluarganya yang marah-marah karena menunggu lama.
Belum lagi berdiri di depan loket, disampaikan juga kadang ada yang tidak mengerti”.
(YL, 30 tahun)
Administration error
Prosedur
Pengelolaan obat secara tidak langsung berpengaruh terhadap proses pemberian
obat kepada pasien. Adanya kekosongan obat dapat menjadi faktor penyebab lambatnya
obat diberikan kepada pasien. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan informan berikut :
“Kendalanya disini begitu obat mau disuntikkan habis obatnya, baru disuruh ambil,
karena di apotek antrian akhirnya tiba waktunya untuk disuntikkan terlambat ,pasien
tidak melapor, kita juga sebagai petugas lalai, tidak mengongtrol obat pasien”.
(ZA, 28 tahun)
Dari observasi lapangan pendistribusian obat untuk pasien rawat inap
menggunakan sistem one day dose, yaitu peresepan untuk pemakaian satu hari.
Lingkungan kerja
Informan mengungkapan bahwa kesibukan kerja akibat jumlah pasien yang
berlebih juga menjadi penyebab administration error:
“Seperti waktu wabah DBD disini sampai pasien tidur pakai brankar karena tempat
tidur sudah penuh, yang sebenarnya maksimal disini hanya 12 orang jadi 30 orang, dari
situ mungkin ada yang tidak terkontrol yang sebenarnya diberikan obat, karena saking
sibuknya dengan jumlah perawat yang terbatas”.
(ZA, 28 tahun)
Petugas kesehatan
Mengenai administration error,informan mengungkapan bahwa penyebabnya
adalah faktor individu masing-masing petugas sehingga terjadi keterlambatan pemberian
obat:
“Sering sekali pemberian obatnya lambat, yang harusnya per delapan jam sudah tidak
per delapan jam mi malah jadi per sepuluh jam, tergantung masing-masing individu
perawatnya, ada yang cepat memberikan respon ada yang tidak”.
HK, 40 tahun)
Pihak pasien
Sikap pasien yang tidak kooperatif sehingga obat tidak tersedia saat akan
digunakan mengakibatkan keterlambatan pemberian obat, sebagaimana ungkapan
informan berikut ini:
“Kendalanya disini begitu obat mau disuntikkan habis obatnya, baru disuruh ambil,
karena di apotek antrian akhirnya tiba waktunya untuk disuntikkan terlambat ,pasien
tidak melapor, kita juga sebagai petugas lalai, tidak mengongtrol obat pasien”.
(ZA, 28 tahun)
Faktor lain yang diungkapkan oleh informan adalah masalah ketidaktahuan
pasien mengenai tempat dan prosedur pengambilan obat, berikut ungkapannya:
“Banyak juga keluarga pasien yang selalu bertanya, dimana urus jaminan, dimana
verifikasi, karena kebanyakan pasien/keluarga pasien belum tahu prosedur pengambilan
obat, masih mutar-mutar, itu yang memperlambat”
(HK, 40 tahun)
PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan jenis medication error yang terjadi di RSUD Anwar
Makkatutu yang meliputi tahap penulisan resep (prescribing error), tahap penyiapan
atau peracikan obat (dispensing error) sampai pada tahap pemberian obat kepada pasien
(administration error). Sedangkan penyebab prescribing error adalah faktor lingkungan
kerja, faktor petugas kesehatan, dan faktor pasien. Penyebab dispensing error adalah
faktor prosedur pengelolaan obat, faktor lingkungan kerja, faktor petugas kesehatan, dan
faktor pasien. Penyebab administration error adalah faktor petugas kesehatan, faktor
lingkungan kerja, dan faktor pasien.
Masalah prescribing error yang terjadi di RSUD Anwar Makkatutu adalah
kesalahan prosedural dan administratif berupa tulisan resep yang tidak terbaca,
penggunaan singkatan yang tidak lazim, dan
masalah kelengkapan resep. Masalah
kelengkapan resep yang sering terjadi adalah tidak adanya nama dokter penulis resep dan
tidak ada aturan pakai. Hal ini menyebabkan adanya hambatan ketika resep yang
bermasalah tersebut akan dikonfirmasi kepada penulisnya. Sebagai akibatnya, dapat
menghambat proses pengobatan pasien. Masalah lain yang terjadi adalah penulisan dosis
obat yang tidak tepat, dan kesalahan terapeutik yaitu adanya duplikasi terapi, dimana dua
obat dengan zat aktif yang sama diresepkan dalam waktu bersamaan. Dalam
penelitiannya, Anny (2007) menyatakan bahwa kesalahan peresepan yang paling banyak
dilakukan oleh dokter dalam penulisan resep adalah 86,0 % dokter tidak mencantumkan
umur pasien, 48,7% tidak mencantumkan berat badan, 14,4 % kesalahan menuliskan
aturan pakai (signa), terdapat penggunaan singkatan nama obat yang tidak lazim, dan
sebanyak 7,4 % menuliskan obat dengan dosis berlebih.
Jenis dispensing error yang terjadi di RSUD Anwar Makkatutu adalah content
error yaitu tulisan tangan yang tidak jelas dari nama obat yang membingungkan,
kesalahan pengambilan obat ini dapat berakibat fatal bagi pasien bila sampai pada tahap
pemberian karena obat yang diberikan tidak sesuai dengan penyakitnya. Jenis dispensing
error lain adalah adanya pemberian bentuk sediaan obat yang tidak tepat, karena dalam
resep tidak disebutkan sediaan apa yang dimaksud, jumlah obat yang tidak tepat sesuai
permintaan resep adalah jenis lain dari dispensing error, sehingga dapat menghambat
keberlanjutan pemberian obat kepada pasien. Dalam penelitiannya, Janartni (2013)
menyatakan bahwa kesalahan peracikan yang terjadi yaitu pemberian aturan pakai yang
salah, dosis yang salah diberikan kepada pasien baik under dose maupun over dose,
kurangnya informasi mengenai obat yang diberikan kepada pasien serta kesulitan dalam
membaca tulisan tangan dokter.
Jenis Administration error yang terjadi di RSUD Anwar Makkatutu adalah waktu
pemberian obat yang tidak tepat. Seperti pernyataan ZA, ada obat yang harus
disuntikkan setiap 8 jam secara berkesinambungan. Namun kadang melenceng dari jam
seharusnya. Administration error yang lain berupa teknik pemberian obat yang tidak
tepat, ada obat yang seharusnya di encerkan terlebih dahulu, tetapi diberikan secara
injeksi langsung. Hal ini tentu saja berakibat fatal pada diri pasien. Dalam penelitiannya,
Fitriani (2010) menyatakan bahwa jenis medication error yang terjadi selama tahun 2009
adalah salah waktu minum obat (20.9%), Interval waktu pemberian obat tidak tepat
(13.4%) dan Pemberian obat yang tidak rasional (12.4%). salah perhitungan dosis
(11,7%),
salah membaca resep (salah obat) (10,4%), salah penyerahan obat (salah
pasien) (8.46%).
Dalam penelitiannya, Taneja dan Wiegmann (2004) menyatakan bahwa tahap
prescribing dilaporkan paling rentan terjadinya kesalahan termasuk perhitungan dosis
obat, kesalahan dalam titik desimal, obat dengan nama yang mirip, dan penggunaan
singkatan yang tidak lazim. Lembar resep merupakan sarana komunikasi antara dokter
penulis resep dengan farmasis dalam pelayanan pengobatan kepada pasien. Prescribing
error disebabkan karena penulisan resep yang tidak jelas atau tulisan dokter yang buruk.
Tulisan dokter yang buruk dapat menyebabkan miskomunikasi antara dokter penulis
resep dengan farmasis. Tulisan dokter yang buruk dapat diakibatkan karena faktor
terburu-buru ataupun faktor individu, artinya tulisan tangan seorang dokter memang
buruk meskipun tidak sedang terburu-buru. Penyebab prescribing error yang lain adalah
adanya gangguan dan interupsi pada saat dokter menulis resep. Gangguan dan interupsi
yang terjadi adalah dari pihak pasien atau keluarga pasien, terutama pada saat jumlah
pasien banyak. Dalam penelitiannya, Mamarimbing (2011) menyatakan bahwa
ketidaklengkapan surat izin praktek dokter, alamat pasien, tanggal penulisan resep, jenis
kelamin, berat badan dan umur dapat berpotensi menyebabkan terjadinya medication
error.
Tulisan dokter yang kurang jelas merupakan faktor utama penyebab dispensing
error, dapat berupa penulisan aturan pakai yang tidak jelas, penulisan dosis yang tidak
jelas, ataupun bentuk sediaan obat yang tidak jelas, sehingga menyulitkan pembacaan
bila menuliskan nama obat yang serupa / LASA (look alike sound alike). Dalam
penelitiannya, O’Shea (1999) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang paling
mempengaruhi dispensing error adalah gangguan dan interupsi. Sikap keluarga pasien
yang tidak koperatif serta mendesak petugas di depan loket menjadi faktor yang dapat
mempengaruhi konsentrasi dan kesabaran petugas apotek dalam melakukan dispensing.
Sebuah pendapat yang juga dibenarkan oleh Beso et al (2005) menyatakan bahwa
tingginya beban kerja atau kurangnya tenaga staf, adanya interupsi dan distraksi selama
proses dispensing . Dalam penelitiannya, Smith (2004) menyatakan bahwa dispensing
error dapat terjadi akibat kemiripan nama obat (look alike sound alike) , petugas yang
kurang berpengalaman, jumlah petugas kurang memadai, salah salam proses transkripsi,
dan beban pekerjaan yang berlebihan.
Dalam penelitiannya, Anacleto et al (2005) menyatakan bahwa faktor kontribusi
dalam dispensing errors yaitu sistem kolektive; tindakan yang terpusat pada perawat
professional, dispensing obat oleh perawat, kegagalan membaca resep obat, rendahnya
partisipasi farmasis dalam issueyang berkitan dengan obat, sistem individual; masalah
dalam pembacaan salinan resep, tidak mengikuti petunjuk dispensing, dan sistem dosis
unit; keterbatasan
tenaga
terlatih dan peralatan spesifik untuk
penyiapan sediaan
parenteral.
Faktor kelalaian dan ketidaktelitian petugas merupakan hal dapat menyebabkan
administration error yaitu keterlambatan pemberian obat bagi pasien. Faktor kesibukan
kerja akibat banyaknya jumlah pasien dapat menjadi faktor penyebab kelalaian petugas.
Keluarga pasien yang tidak kooperatif merupakan salah satu faktor penyebab medication
error. Pemahaman keluarga pasien mengenai prosedur pengambilan obat juga
menyebabkan keterlambatan pemberian obat pada pasien. Dalam penelitiannya
Courtenay and Griffits, (2010) manyatakan bahwa aAdministration error memiliki resiko
yang signifikan kepada pasien. Kebanyakan administration error terjadi karena obat
tidak diberikan, kegagalan pemeriksaan identitas pasien, teknik pemberian yang tidak
tepat dan pemberian obat yang salah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian tersebut maka diperoleh kesimpulan bahwa jenis
prescribing error yang terjadi adalah kesalahan administratif dan prosedural yaitu resep
yang tidak lengkap, resep tidak terbaca, aturan pakai tidak jelas, penggunaan singkatan
yang tidak lazim, kesalahan dosis yaitu dosis yang tidak tepat, dan kesalahan terapeutik
yaitu duplikasi terapi. Jenis dispensing error yang terjadi adalah content error yaitu
kesalahan membaca resep, obat tidak tepat, jumlah obat tidak tepat, dan kesalahan
bentuk sediaan obat, labeling error yaitu kesalahan penulisan aturan pakai. Dan jenis
administration error terjadi adalah kesalahan waktu pemberian obat, kesalahan teknik
pemberian obat, dan obat tertukar pada pasien yang namanya sama. Sedangkan penyebab
prescribing error adalah faktor lingkungan kerja yaitu gangguan dan interupsi keluarga
pasien, faktor petugas kesehatan yaitu pengetahuan dokter, tulisan dokter yang buruk,
beban kerja yang berlebihan, faktor pasien yaitu pasien yang tidak kooperatif . Penyebab
dispensing error adalah faktor prosedur pengelolaan obat, faktor lingkungan kerja yaitu
gangguan dan interupsi keluarga pasien, faktor petugas kesehatan yaitu tulisan dokter
yang tidak jelas, resep tidak lengkap, dan beban kerja yang berlebihan, faktor pasien
yaitu pasien yang tidak kooperatif. Dan penyebab administration error adalah faktor
petugas kesehatan yaitu budaya kerja, faktor lingkungan kerja yaitu kesibukan kerja,
faktor pasien yaitu keluarga pasien yang tidak kooperarif dan pemahaman keluarga
pasien mengenai prosedur pengambilan obat.
Untuk mengatasi resiko kesalahan pemberian dan pemakaian pada pasien maka
perlu dikembangkan suatu sistem pemberian obat Unit Dose Dispensing, perlu diadakan
protap pelayanan resep yang ditempatkan sedemikian rupa agar dapat dibaca oleh setiap
petugas apotek dan penerapan prosedur double checking pada proses dispensing dan
pemberian obat dengan harapan medication error dapat diketahui sebelum obat sampai
kepada pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Aiken L H; Clarke S P; Sloane D M. (2002). Hospital nurse staffing and patient mortality, nurse
burnout, and job dissatisfaction. JAMA.
Anacleto TA; Rosa P.E; Cesarm C.C. (2005). Medication error and drug-dispensing system in a
hospital pharmacy. Clinics:60(4):325-332.
Anny VP; Soleha M; Sari ID. (2007). Kesalahan dalam Pelayanan Obat (Medication Error) dan
Usaha Pencegahannya. Bulletin Penelitian Sistem Kesehatan Volume 10 No 1 Januari
2007.
Beso A; Franklin B.D; Barber N. (2005) The frequency and potential causes of dispensing errors
in a hospital pharmacy. Parm World Sci:27:182-190.
Cohen, M.R. (1999). Medication Errors. The American Pharmaceutical Assosiation.
Courtenay M; Griffiths M. (2010). Medication Safety : An Essential Guide. Cambridge,
University Press.
Departemen Kesehatan. (2008). Tanggungjawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien
(Patient safety). Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Jakarta.
Dwiprahasto I,2006., “Intervensi Pelatihan untuk Meminimalkan Risiko Medication Error di
Pusat Pelayanan Kesehatan Primer”, Jurnal Berkala Ilmu Kedokteran 2006, XXXVIII,
http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/detail, diakses tanggal 30 November 2012
Fitriani. (2011). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Medication Error Di Rumah Sakit Umum
Haji Makassar Tahun 2010. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Green J; Thorogood N. (2009). Qualitative Methods for Health Research. Sage Publications.
Janartni R. (2013). The Study of Relationship between Manpower and Number of Medication
Error at One Hospital in Bandung. www.digilib.pharmacy.itb.ac.id . diakses tanggal 20
Juli 2013
Kohn LT; Corrigan JM; Donaldson MS. (1999). To Err Is Human. Washington DC National
Academy Press
Lisby M; Nielsen; L.P; Mainz, J. (2005). Errors in the medication process: frequency, type, and
potential. International Journal for Quality in Health Care: 17 (1): 15-22.
Mamarimbing M; Fatimawali; Bodhi W. (2011). Evaluasi Kelengkapan Administratif Resep
Dari Dokter Spesialis Anak Pada Tiga Apotek Di Kota Manado. Program Stusi Farmasi
FMIPA Unsrat Manado.
Mutmainah N. (2008). Kajian Medication Error Pada Kasus Stroke Di RS X Surakarta Tahun
2004. Jurnal Farmasi Indomesia Volume 4 No. 1 Januari 2008.
O’shea E. (1999). Factor contributing to medication errors: a literature review. Journal of
Clinical Nursing: 8.
Smith, J. (2004). Buiding a Safer NHS for patients : Improving Medication Safety. NHS.
London.
Taneja WCN; Wiegmann D (2004). The Role of Perception in Medication Errors : Implications
for Non-Technological Interventions. MJAFI 2004;60:172-176. Insitute of Aviation.
University of Illinois at Urbana-Champaign. USA.
Williams D.J.P. (2007). Medication error. JR Coll Physicians Edinb
Download