the impact of advertising and price promotion

advertisement
PENGARUH IKLAN DAN PROMOSI HARGA TERHADAP EKUITAS MEREK
Agus Mahendra Wibowo
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKP Yogyakarta
ABSTRACT
Marketing communications may provide the means for developing strong, customer-based brand
equity. Among marketing communication tools, advertising and price promotion have always
played a pivotal role. Hence, this research examines the effect of perceived advertising spending
and price promotion on brand equity across experience goods/services. Jean was chosen as
goods because it’s quality can be judged well before and after purchase or use it and bank was
chosen as experience products due to its quality is unable to judge before use and able to judge
quality after use. This research finds that advertising has significant positive impact on brand
equity for both goods product and experience product. However, price promotion, for goods
product, has significant negative impact on brand awareness and brand association and, for
experience product (banking service), has positive effect on perceived quality and brand loyalty.
In order to build strong brand equity effectively, managers must invest in the advertising but
considering product categories when applying price promotion.
Key Word:
Advertising, Price Promotion, Brand Equity, Product Category
merek di memori dan kemampuan konsumen
PENDAHULUAN
merek, ukuran dari nilai
untuk mengidentifikasi merek di bawah
keseluruhan merek, adalah konsep kunci
kondisi yang berbeda" dan mendefinisikan
dalam manajemen merek. Ekuitas merek
citra merek sebagai "persepsi mengenai
diidentifikasi sebagai sumber keunggulan
sebuah merek yang tercermin oleh asosiasi
kompetitif bagi banyak organisasi. Keller
merek dalam memori konsumen".
Ekuitas
(2003) menyebut konsep ekuitas merek
Ekuitas merek-pelanggan adalah satu
sebagai "efek diferensial pengetahuan merek
set yang berhubungan dengan asosiasi merek
terhadap respon konsumen ". Selanjutnya,
yang dimiliki oleh konsumen dalam memori.
Keller mengusulkan (1) pengetahuan merek
Dalam
sebagai pusat definisi ekuitas merek dan
dianggap sebagai keyakinan, mempengaruhi,
tingkat pengetahuan merek meningkatkan
dan
probabilitas
berkaitan
pemilihan
merek,
(2)
perspektif
pengalaman
dengan
ini,
ekuitas
subyektif
merek
merek
lain
yang
(yaitu,
sikap
mendefinisikan pengetahuan merek dalam
terhadap merek, brand image, dll), penelitian
hal kesadaran merek dan image,
dan (3)
yang ada terhadap ekuitas merek digunakan
brand awareness sebagai "kekuatan jejak
untuk mengidentifikasi empat "komponen"A
1
kognitif
dari
ekuitas
merek
berbasis
pelanggan seperti sikap terhadap merek,
kekuatan preferensi, pengetahuan merek,
lanjut atas pemilihan konsumen terhadap
merek ketika merek itu sudah hafal.
Kualitas
yang
dirasakan
dapat
dan merek heuristik (Girish dan Clayton,
mempengaruhi keputusan pembelian dan
2004).
Untuk memperluas ekuitas merek
loyalitas merek secara langsung, terutama
dengan memasukkan konstruksi, seperti
bila pelanggan belum dirangsang oleh
loyalitas merek, kesadaran merek, persepsi
bujukan atau tidak dapat membuat analisis
kualitas, dan asosiasi merek
rinci. Asosiasi Merek dapat membantu
Ekuitas merupakan seperangkat aset
pelanggan untuk berurusan dengan atau
dan kewajiban terkait dengan merek, yang
mengingat informasi dan menjadi dasar
menambah nilai atau mengurangi nilai dari
perbedaan produk, yang akan memberikan
sebuah produk dalam hubungannya dengan
alasan pembelian bagi pelanggan dan timbul
pelanggan. Nilai ekuitas merek berasal dari
perasaan positif (Ali Hasan, 2010).
lima aset ekuitas merek (loyalitas merek,
Aset merek eksklusif lainnya (paten,
kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi
merek dagang, distributor dll) lebih sulit
merek dan aktiva lainnya), di mana persepsi
diukur dari perspektif pelanggan. Dalam hal
kualitas dan asosiasi merek merupakan dua
ini, ini membuat kesan kualitas, loyalitas
aset yang paling penting.
Semua aset
merek, kesadaran merek dan asosiasi merek
ekuitas merek ini memberi nilai tambah bagi
sebagai variabel ukuran ekuitas merek
perusahaan dan pelanggan.
berdasarkan prestasi atau kinerja merek
Loyalitas
merek
pada
(Keller, 2003). Dari sudut pandang ini dapat
pelanggan dapat mempertahankan serangan
ditemukan bahwa ekuitas merek dapat
dari pesaing, dan dampak upaya-upaya
membawa
pemasaran produsen yang lebih kompetitif
produsen. Nilai pelanggan dari ekuitas
untuk menarik pelanggan setia dari merek
merek adalah dasar untuk menciptakan nilai
lain yang tidak memuaskan.
Kesadaran
produsen. Dalam lima aset ekuitas merek,
merek bisa memberikan keakraban untuk
loyalitas merek dapat dipengaruhi oleh
merek dan sinyal dari kekukuhan dan janji
dimensi kunci lain (kesadaran merek, kesan
jika pelanggan tahu merek, dan pada saat itu
kualitas dan asosiasi merek) dari ekuitas
akan
merek, sehingga loyalitas merek dapat
mempengaruhi
didasarkan
pertimbangan
nilai
bagi
konsumen
dan
pelanggan untuk merek dan pengaruh lebih
2
dianggap sebagai dasar utama dari ekuitas
terhadap
merek dan independen dari dimensi lain
komunikasi yang efektif memungkinkan
Berdasarkan uraian diatas maka fokus
penelitian dirumuskan sebagai berikut : (1)
apakah iklan berpengaruh terhadap ekuitas
ekuitas
merek.
Artinya,
formasi kesadaran merek dan citra merek
yang positif.
Gambar 1. Kerangka Konseptual
merek untuk produk barang dan produk
pengalaman/jasa. (2) apakah harga promosi,
Iklan
untuk produk barang, memiliki dampak
Ekuitas
Merek
terhadap kesadaran merek dan asosiasi
merek, dan (3) apakah produk pengalaman
(layanan perbankan), berpengaruh terhadap
persepsi kualitas dan loyalitas merek.
KONSTRUKSI
TEORITIS


DAN
Kategori
Produk
HIPOTESIS PENELITIAN
Gambar

Harga
Promosi

Persepsi
Kualitas
Loyalitas
Merek
Kesadaran
Merek
Asosiasi
Merek
1 menunjukkan kerangka
konseptual, yang menjelaskan
efek dari
belanja iklan dan harga promosi pada ekuitas
merek, diantarai oleh peran kategori produk
sebagai variable moderator.
Ketika konsumen melihat belanja iklan
yang tinggi, ini memberikan kontribusi
untuk persepsi mereka tentang tingkat
Hubungan Iklan dan Brand Equity
kepercayaan bahwa
manajer pemasaran
Periklanan pengeluaran, sebagai alat
dalam produk, belanja iklan yang dirasa
komunikasi pemasaran utama di pasar
memiliki efek positif, tidak hanya pada
konsumen, harus dipertimbangkan ketika
ekuitas merek secara keseluruhan, tetapi
menentukan
komunikasi
juga pada masing-masing elemen yang
pemasaran pada konsumen, dan persepsi
terdiri dari; kesadaran, persepsi dan kualitas,
bahwa pesan memprovokasi antara individu-
asosiasi dan loyalitas merek. Loyalitas
individu target yang berbeda (Angel dan
merek dianggap sebagai dimensi dan hasil
Manuel, 2005).
dari ekuitas merek (Morgan, 2000).
efek
dari
Keller (2003) mencatat
bahwa komunikasi pemasaran berkontribusi
3
Hubungan
antara
yang
mempengaruhi tidak hanya kualitas merek
untuk
yang dipersepsikan, tetapi juga mendukung
dibenarkan oleh
keputusan pembelian dengan meningkatkan
penelitian yang berbeda. Hubungan antara
nilai produk. Oleh karena itu pengeluaran
belanja komunikasi pemasaran dan investasi
iklan cenderung positif terhadap ekuitas
pada merek, yang melibatkan persepsi
merek.
kualitas yang lebih tinggi. Hubungan antara
yang akan diuji secara empiris diusulkan
investasi dalam komunikasi pemasaran dan
tentang pengeluaran iklan dan ekuitas merek
kualitas mempengaruhi tidak hanya kualitas
sebagai berikut.
merek dirasakan, tetapi juga mendukung
H1
dirasakan
dan
komunikasi
pemasaran
kualitas
pengeluaran
Berdasarkan logika ini hipotesis
Skala ariabel ekuitas merek seperti
: Pengeluaran Iklan Mempengaruhi
Ekuitas Merek
H1a : Iklan pengeluaran yang positif
berkaitan dengan persepsi kualitas.
H1b : Iklan pengeluaran yang positif
berkaitan dengan loyalitas merek.
H1c : Iklan pengeluaran yang positif
berkaitan dengan brand awareness.
H1d : Iklan pengeluaran yang positif
berkaitan dengan asosiasi merek.
"brand awareness" dan "sikap merek" dapat
Hubungan antara Harga Promosi dan
menggunakan
Brand Equity
keputusan pembelian dengan meningkatkan
nilai produk, penerima iklan menganggap
pengeluaran iklan dirasakan pada merek
sebagai
upaya
menegaskan
kembali
keputusan pembelian.
"efek
paparan"
untuk
meningkatkan evaluasi pelanggan terhadap
Promosi penjualan mengikis ekuitas
merek. "Efek paparan" akan berarti jika
merek, dan biasanya, harga disesuaikan oleh
dampak beberapa tujuan pemasaran terjadi
produsen sebagai metode promosi langsung
secara berulang. Konsumen akan memiliki
untuk meningkatkan pembelian pelanggan.
lebih banyak sikap positif untuk tujuan
Sebagian besar efek dari pemotongan harga
pemasaran jika dampak yang muncul secara
terlihat dalam jangka pendek pilihan merek.
teratur. "Efek paparan " merupakan faktor
Promosi meningkatkan sensitivitas harga
kunci untuk mengubah preferensi dan sikap.
pada pelanggan yang tidak setia.
Validasi pengaruh "efek paparan" pada
tetapi umumnya tidak tahan saat efek jangka
"pengetahuan merek", " sikap merek ",
panjang dipertimbangkan.
"keakraban
dan
dengan menggunakan harga promosi berarti
kepercayaan. Hubungan antara investasi
penurunan ekuitas merek. Harga dianggap
dalam komunikasi pemasaran dan kualitas
sebagai standar skala kualitas produk tidak
merek",
pembelian
Akan
Dalam hal ini,
4
langsung oleh pelanggan. Ini adalah konsep
mengusulkan hipotesis untuk diuji secara
bahwa harga berkorelasi positif dengan
empiris adalah sebagai berikut :
kualitas produk, yaitu harga yang lebih
H2
tinggi, lebih baik kualitasnya.
Penggunaan harga promosi memiliki efek
H2a
negatif terhadap ekuitas merek, karena
H2b
dianggap
H2c
bahwa
konsumen
merasakan
hubungan negatif antara ekuitas merek dan
perlu menggunakan insentif untuk penjualan
yang mempengaruhi tingkat kemapanan
H2d
: Harga
promosi
mempengaruhi
ekuitas merek;
: Harga promosi negatif yang terkait
dengan persepsi kualitas;
: Harga promosi negatif yang terkait
dengan loyalitas merek;
: Harga promosi negatif yang terkait
dengan brand awareness;
: Harga promosi negatif yang terkait
dengan asosiasi merek.
Kategori Produk
harga (Donthu dan Lee, 2000). Penjualan
promosi pada umumnya, dan khususnya
harga
promosi,
dianggap
melemahkan
ekuitas merek meskipun memili manfaat
jangka pendek yang mereka berikan kepada
keseluruhan,
efek
jangka
panjang harga promosi penjualan yang
negative, oleh karena itu harga promosi
mungkin memiliki pengaruh negatif pada
persepsi pelanggan diferensial membuat
kesadaran persepsi pelanggan pada kualitas,
dan kemudian mempengaruhi ekuitas merek
produk dan kesediaan pembelian pelanggan.
Kegiatan berdasarkan penurunan harga dapat
menempatkan
konsumen
merek
akan
ketidakstabilan,
produk
ditetapkan
pada
sebuah kontinum produk barang (goods),
pengalaman (experience), atau kepercayaan
(credence) --- GEC, atas dasar evaluasi
pelanggan terhadap barang/jasa dengan cara
konsumen (Yoo, Donthu dan Lee, 2000).
Secara
Kategori
dalam
bahaya,
terprovokasi
dengan
kebingungan
dan
variabilitas menyebabkan kualitas image
tidak stabil. Oleh karena itu, penelitian ini
yang berbeda.
Produk barang didominasi
oleh informasi atribut lengkap bisa diperoleh
sebelum membeli, pada produk pengalaman
/jasa, pelanggan dapat mengevaluasi setelah
mengkonsumsi, dan barang kepercayaan
didominasi oleh atribut bahwa pelanggan
tidak dapat memverifikasi bahkan setelah
digunakan . Atribut barang dapat dianalisis
dalam tiga sifat, pengalaman, produk barang
dan kepercayaan. Produk barang memiliki
karakteristik
yang
dapat
diidentifikasi
melalui pemeriksaan dan sebelum membeli.
Pengalaman, di sisi lain, memiliki fitur yang
terungkap hanya melalui konsumsi.
Kenyataan bahwa konsumen tidak bisa
memastikan kualitas dan nilai kepercayaan,
5
produk, dan pengalaman. Produk barang,
Karena
kesulitan
mendapatkan
seperti yang didefinisikan oleh kerangka
informasi prepurchase, maka memberikan
GEC, bahwa ketidakpastian pra-pembelian
informasi tambahan dapat mengurangi risiko
adalah rendah.
bagi pelanggan.
kepercayaan
Pada pengalaman, dan
yang
ditandai
Selain itu, kepercayaan
dengan
barang/jasa sangat profesional dan terkait
ketidakpastian yang lebih tinggi, sehingga
dengan tingkat variabilitas yang lebih tinggi,
strategi iklan untuk penjual barang mungkin
hal ini lebih sulit bagi pelanggan untuk
akan sangat berbeda dari kepercayaan dan
menilai
produk pengalaman.
kepercayaan
Meskipun, hubungan
positif antara kualitas merek
dan belanja
iklan yang diharapkan, hubungan akan
kualitas
atau
barang/jasa,
pengalaman,
harga
murah
sehingga dapat menjadi petunjuk bagi
keterbatasan kualitas.
berbeda dengan produk yang berbeda. Oleh
Peneliti berpendapat bahwa dampak
karena itu, penelitian ini mengusulkan
harga promosi pada ekuitas merek untuk
hipotesis yang akan diuji secara empiris
produk barang/jasa berbeda dari yang non-
dirumuskan sebagai berikut :
produk
H3: Dampak iklan terhadap ekuitas merek
kepercayaan).
barang
(pengalaman
Maka
hipotesis
dan
yang
untuk produk barang berbeda dari yang
diusulkan untuk diuji secara empiris adalah :
non
H4 : Dampak promosi harga pada ekuitas
barang/jasa
(pengalaman
dan
kepercayaan).
merek untuk produk barang/jasa berbeda
dari yang non-produk
Variabilitas produk barang / jasa
rendah
juga
membuatnya
layak
kepercayaan) barang / jasa.
bagi
konsumen untuk memperoleh pengetahuan
penuh tentang kinerja produk sebelum
membeli.
(pengalaman dan
METODE PENELITIAN
Definisi dan Pengukuran
Harga akan menjadi pendorong
utama untuk pelanggan.
Untuk layanan
Penelitian ini berfokus pada tiga
kepercayaan, harga mungkin bukan atribut
konstruksi yaitu iklan, promosi harga dan
yang paling penting.
ekuitas merek.
dan pengetahuan
Pengeluaran periklanan,
meningkat sepanjang ada kontinuitas dari
sebagai alat komunikasi pemasaran utama di
kepercayaan untuk jasa.
pasar konsumen, harus dipertimbangkan
ketika menentukan efek dari komunikasi
6
pemasaran pada konsumen, dan persepsi
terhadap merek. tingkat pengenalan merek
bahwa pesan memprovokasi antar individu
adalah
dari target yang berbeda. Oleh karena itu,
kesadaran merek pada tingkat yang lebij
iklan dalam penelitian ini didefinisikan
tinggi.
sebagai
serangkaian atribut berwujud dan tidak
persepsi
subjektif
konsumen
terhadap merek.
Skala
mereka
Asosiasi
yang
merek
menghadirkan
terkait
dengan
berwujud yang terkait dengan merek, dan
pengukuran
dikembangkan
pada kondisi apa sikap konsumen yang
dengan referensi dari Yoo et al. (2000)
mungkin menguntungkan untuk memilih
Martin
merek.
(2000).
Harga
promosi
berarti
pengurangan harga jangka pendek seperti
penjualan khusus.
Hal ini diukur sebagai
Semua item diukur dengan skala
Likert yang disedrhanakan menjadi 5 point.
Pretest Kategori Produk
persepsi subjektif konsumen, frekuensi dari
Riset ini memilih tiga kategori produk:
harga promosi yang digunakan untuk merek.
jean, restoran cepat saji, dan bank. Sampel
Skala ekuitas
mencakup empat
pretest berjumlah 85 mahasiswa. Tabel 1
dimensi inti:, kualitas merek, loyalitas
menunjukkan bahwa jean, restoran cepat saji
merek, kesadaran merek dan asosiasi merek.
adalah produk barang, mahasiswa dapat
merek
Kualitas didefinisikan sebagai penilaian
menilai kinerja dari setiap layanan baik
subjektif yang dilakukan oleh konsumen
sebelum maupun setelah digunakan, untuk
mengenai
produk.
menilai kinerja dari setiap layanan lebih
Loyalitas merek memainkan peranan yang
besar dari 3,0 pada skala lima poin. Namun,
luar biasa dalam menghasilkan ekuitas
skor tertinggi sebelum dan setelah pembelian
merek, bukan hanya karena kemampuan
pada produk Jean.
untuk mempertahankan pelanggan setia,
responden dapat menilai kualitas Jean itu
tetapi
juga karena loyalitas pelanggan
baik sebelum dan sesudah membeli atau
meluas ke merek lain (terutama pada
menggunakannya. Jadi Jean terpilih sebagai
portofolio perusahaan).
Dalam riset ini,
produk barang dalam riset ini ini. Sementara
kesetiaan brand mengacu pada komitmen
kemampuan untuk menilai mutu sebelum
keseluruhan yang loyal terhadap merek
digunakan kurang dari 3,0 dan kemampuan
tertentu.
untuk menilai kualitas setelah digunakan
keunggulan
Kesadaran
tingkat
persepsi
merek
suatu
diukur
subjektif
sebagai
konsumen
Ini berarti bahwa
lebih besar dari 3,0, adalah bank.
Oleh
karena itu, desain kuesioner formal dalam
7
penelitian ini memilih jean sebagai produk
barang
dan
bank
sebagai
pengalaman.
produk
Tabel 1. Statistik Deskriptif dari Kategori Produk
Jean
Restoran
cepat saji
Bank
Sebelum
membeli
Setelah
penggunaan
Sebelum
membeli
Setelah
penggunaan
Sebelum
membeli
Setelah
penggunaan
N
Minimum
Maksimum
Mean
85
2.00
5.00
3.5059
Std.
Deviasi
0.81099
85
3.00
5.00
4.2353
0.47926
85
1.00
5.00
3.4941
0.88133
85
2.00
5.00
4.1882
0.69854
85
1.00
5.00
2.9059
0.88133
85
2.00
5.00
3.6824
0.83398
Pengumpulan Data dan Analisis
(iklan dan harga promosi).
Survei dengan menggunakan kuesioner
Uji sampling
menggunakan
dilakukan pada bulanDesember 2010 sampai
KMO
bulan Februari, 2011. Sampel penilitian ini
menunjukkan bahwa nilai KMO adalah
adalah mahasiswa yang sering mengunjungi
0,744 yang berarti analisis faktor mencapai
gerai penjualan jean, restoran cepat saji dan
tingkat sedang.
bank tempat mereka melakukan transaksi
perbedaan sebesar 86,49%, cukup untuk
untuk
mewakili data asli.
berbagai
kepentingan
seperti
(Kaiser-Meyer-Olkin)
tes
yang
Persentase akumulasi
Faktor loading setiap
pembayaran KRS, mengambil uang dan lain
item lebih besar dari 0,5 menunjukkan
sebagainya, Jumlah sampel yang terambil
adanya validitas konvergen.
200 orang.
Reliabilitas dan Validitas Tes
Analisis eksploratori faktor – AEF
digunakan untuk ekstraksi komponen pokok
dan rotasi diterapkan pada setiap item. Skala
komunikasi pemasaran meliputi 6 item (tabel
3). 6 item ini diekstraksi menjadi 2 faktor
Skala ekuitas merek meliputi 12 item
(tabel 4). ke 12 item ini diekstraksi menjadi
4 faktor-
Pengujian sampling dengan uji
KMO yang menunjukkan bahwa nilai KMO
adalah 0,896 yang berarti analisis faktor
mencapai
tingkat
tinggi.
Persentase
akumulasi perbedaan sebesar 82,38%, cukup
8
untuk mewakili data asli.
Faktor loading
awareness α = 0,906 dan asosiasi merek α =
setiap item lebih besar dari 0,5 menunjukkan
0,916.
adanya validitas konvergen.
konstruksi menunjukkan konsistensi internal
Skala komunikasi pemasaran meliputi
6 item (table 5).
menjadi
dua
ke 6 item diekstraksi
factor
(iklan
dan
harga
Nilai alpha untuk masing-masing
yang memadai.
Cronbach's
α
Bank
diukur
melalui
konsistensi setiap item.
promosi). Dari sampling dengan uji KMO
Semua dimensi memiliki lebih besar
yang menunjukkan bahwa nilai KMO adalah
dari nilai yang disarankan sebesar 0,7 - iklan
0,788 yang berarti analisis faktor mencapai
α = 0,937, harga promosi α = 0,917, persepsi
tingkat sedang.
Persentase akumulasi
kualitas α = 0,866, loyalitas merek α =
perbedaan adalah sebesar 87,51%, cukup
0,747, brand awareness α = 0,908 dan
untuk mewakili data asli.
asosiasi merek α = 0,891. Nilai alpha untuk
Faktor loading
setiap item lebih besar dari 0,5 menunjukkan
masing-masing
adanya validitas konvergen.
konsistensi internal yang memadai.
Skala ekuitas merek meliputi 12 item
konstruksi
menunjukkan
Bank
(Tabel 6). 12 item ini diekstraksi 4 faktor :
persepsi kualitas, loyalitas merek, kesadaran
merek dan
asosiasi merek.
Pengujian
sampling dengan uji KMO menunjukkan
bahwa nilai KMO adalah 0,851 yang berarti
kebugaran analisis faktor mencapai tingkat
tinggi.
Persentase akumulasi perbedaan
sebesar 80,43%, cukup untuk mewakili data
asli. Faktor loading setiap item lebih besar
dari 0,5 menunjukkan validitas konvergen.
Cronbach's α Jean diukur melalui
konsistensi setiap item.
memiliki
lebih
besar
Semua dimensi
dari
nilai
yang
disarankan sebesar 0,7 - iklan α = 0,943,
promosi harga α = 0,895, persepsi kualitas α
= 0,832, loyalitas merek α = 0,840, brand
Analisis Korelasi Pearson digunakan
untuk analisis antar variabel.
Tabel 10
menunjukkan analisis hubungan antara iklan,
promosi harga dan ekuitas merek bank.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada
hubungan positif yang signifikan antara
iklan dan persepsi kualitas (= 0,385, p r
<0,01), loyalitas merek (r = 0,236, p <0,01),
brand awareness (r = 0,158, p <0,05) dan
asosiasi merek (r = 0,360, p <0,01). Ada
hubungan positif yang signifikan antara
promosi harga dan persepsi kualitas (r =
0,337, p <0,01), loyalitas merek (p r = 0,271,
<0,01) dan asosiasi merek (r = 0,211, p
<0,01).
Ini berarti bahwa promosi harga
bank memiliki efek positif terhadap ekuitas
9
merek, terutama pada persepsi kualitas,
biaya iklan dan promosi harga.
loyalitas merek dan asosiasi merek.
menghindari dampak collinearity antara
Analisis Regresi
variabel
Jean
mengadopsi diagnostik collinearity.
Iklan berpengaruh positif signifikan
independen,
penelitian
Untuk
penelitian
menunjukkan
ini
Hasil
bahwa
VIF
terhadap persepsi kualitas (β 0,343, t =>
(Variance Inflation Factor) kurang dari 10.
1,645), loyalitas merek (β 0,232, t => 1,645),
Artinya,
kesadaran merek (β 0,566, t => 1,645) dan
berpengaruh
asosiasi merek (β = 0,481, t> 1,645). Harga
estimasi model regresi.
promosi
berpengaruh
negatif
signifikan
tingkat
collinearity
secara
signifikan
tidak
terhadap
Riset ini mencoba untuk memperluas
terhadap brand awareness (β =- 0,180, t <-
ekuitas
1,645) dan asosiasi merek (β =- 0,108, t <-
konstruksi loyalitas merek, kesadaran merek,
1,645) Harga promosi pengaruh negatif tidak
kesan
signifikan terhadap persepsi kualitas (β =-
Spesifikasi
0,078,> t - 1,645). Selain itu, harga promosi
karena konstruksi yang sama muncul untuk
tidak
memainkan peran ganda. Sebagai contoh,
berpengaruh
signifikan
terhadap
loyalitas merek (β 0,013, t = <1,645).
merek
kualitas
dengan
dan
konseptual
menggunakan
asosiasi
bisa
merek.
bermasalah
loyalitas merek dianggap sebagai dimensi
dan hasil dari ekuitas merek. Oleh karena
Bank
itu, penelitian ini lebih lanjut meneliti
Iklan berpengaruh positif signifikan
hubungan antara loyalitas merek, kesadaran
terhadap persepsi kualitas (β 0,296, t =>
merek, persepsi kualitas, dan asosiasi merek
1,645), loyalitas merek (β 0,149, t => 1,645),
dengan memperlakukan loyalitas merek
kesadaran merek (β 0,174, t => 1,645) dan
sebagai
asosiasi merek (β = 0,329, t> 1,645). Harga
menunjukkan bahwa, untuk jean, persepsi
promosi
berpengaruh
positif
signifikan
kualitas
variabel
terikat.
berpengaruh
positif
Tabel
13
signifikan
terhadap persepsi kualitas (β = 0,231),
terhadap loyalitas merek (β 0,392, t =>
loyalitas merek (β = 0,209). Harga promosi
1,645) dan asosiasi merek berpengaruh
tidak berpengaruh signifikan terhadap brand
awareness (β =- 0,038) dan asosiasi merek (β
= 0,073). Analisis korelasi menggambarkan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara
positif signifikan terhadap loyalitas merek (β
= 0,317, t> 1,645). Kesadaran merek tidak
berpengaruh signifikan terhadap loyalitas
merek bank (β =- 0,037, t> -1,645). Persepsi
10
kualitas, kesadaran merek dan asosiasi
variabel independen menjelaskan kesadaran
merek semua berpengaruh positif signifikan
merek (adjusted R ² = 0,364) dan asosiasi
terhadap loyalitas merek (β 0,380, t =>
merek (adjusted R ² = 0,245) lebih baik dari
1,645), (β 0,158, t => 1,645), (β = 0,269, t>
melihat kualitas (adjusted R ² = 0,119) dan
1,645).
loyalitas merek (adjusted R ² = 0,044). Ini
membuktikan
PEMBAHASAN
bahwa
marketer
harus
mempertimbangkan faktor penting lainnya
Berdasarkan hasil analisis di atas,
penelitian
ini
menemukan
iklan
yang
memiliki hubungan positif yang signifikan
terhadap ekuitas merek produk barang dan
produk jasa.
Selanjutnya, hasil analisis
regresi menemukan bahwa promosi harga
tidak
berpengaruh
signifikan
terhadap
loyalitas merek merek jean. Hal ini karena
konsumen tertarik terhadap merek oleh
utilitas transaksi yang memberikan harga
promosi (sesaat), dan ketika akhir promosi,
mereka kehilangan minat pada merek.
Dengan
demikian,
perubahan
loyalitas
merek setelah berakhirnya promosi tidak
mungkin terjadi kecuali merek ini dianggap
unggul dan memenuhi kebutuhan konsumen
lebih
baik
daripada
merek
pesaing.
Meskipun harga promosi tidak memiliki
dampak yang signifikan terhadap persepsi
kualitas, arah dan harapan tetap menjadi
nilai negatif. Saat melihat kekuatan penjelas
dari model regresi, adjusted R ², ada
perbedaan besar antara kekuatan penjelas
dari pengeluaran iklan dan harga promosi
untuk dimensi ekuitas merek.
ketika menyelidiki loyalitas merek.
Selain itu, ditemukan bahwa promosi
harga secara signifikan berpengaruh positif
terhadap persepsi kualitas dan loyalitas
merek bank.
ini mungkin karena bank
adalah layanan industri berskala besar.
Ketika Bank menggunakan harga promosi
berjangka pendek, konsumen tidak akan
mempertanyakan kepada orang lain tentang
kualitas pelayanan bank, atau harga seperti
tingkat bunga dan biaya layanan dapat
menjadi salah satu faktor kunci bagaimana
pelanggan menilai kualitas bank. Penelitian
ini juga menemukan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara harga
promosi dan kesadaran merek atau asosiasi
merek, karena dan tinggi rendahnya harga
bisa sama-sama kuat terkait merek dalam
memori yang membawa manfaat kepada
konsumen.
Riset ini menunjukkan bahwa iklan
berpengaruh
positif
signifikan
terhadap
ekuitas merek produk jean dan bank.
Namun, tingkat dampaknya tidak sama,
Kedua
11
hasilnya,
dapat
diketahui
bahwa
iklan
persepsi kualitas, 0,083 pada loyalitas
memiliki dampak lebih tinggi pada empat
merek, 0,016 pada kesadaran merek, dan
dimensi ekuitas merek produk barang (jean)
0.125 pada asosiasi merek.
(koefisien standar) dari pada yang produk
bank.
Dengan kata lain, adjusted R ² nilainilai dari kekuatan penjelas pengeluaran
Harga promosi berpengaruh moderat
iklan dan harga promosi pada layanan
yang berbeda pada ekuitas merek karena
perbankan semuanya kurang dari 15%. Ini
perbedaan kategori produk, ini berarti bahwa
menunjukkan
harga
moderator terhadap ekuitas merek non
promosi
membuat
pengaruh
bertentangan mengenai produk tangible dan
bahwa
pengaruh
variabel
produk barang yang berbeda.
intangible. Harga promosi dalam kesadaran
merek dan asosiasi merek jean memiliki
dampak
negatif
Namun,
Penelitian ini meneliti iklan di kategori
persepsi
produk barang dan non barang. Di kedua
kualitas dan loyalitas merek di industri
kategori, merek dengan anggaran iklan yang
perbankan. Loyalitas merek konsumen pada
lebih tinggi menghasilkan tingkat yang lebih
berpengaruh
signifikan.
KESIMPULAN
positif
terhadap
produk barang dapat ditingkatkan, jika
tinggi secara substansial dari ekuitas merek.
identifikasi integral pada kualitas produk dan
Riset ini mencatat bahwa perusahaan
asosiasi merek yang baik dapat ditingkatkan.
periklanan berkontribusi terhadap ekuitas
Loyalitas merek sangat dipengaruhi oleh tiga
merek dan loyalitas meningkat.
dimensi ekuitas merek produk layanan bank.
iklan menunjukkan hubungan kausal yang
Kekuatan
variable
Belanja
penjelas
menguntungkan bagi tiga dari empat dimensi
pengeluaran iklan dan harga promosi pada
ekuitas merek. Semakin tinggi belanja iklan
ekuitas merek (adjusted R ²), pengeluaran
untuk merek, semakin baik kualitas produk
periklanan dan harga promosi memiliki
seperti yang dirasakan oleh konsumen,
kekuatan penjelas yang lebih baik pada
semakin tinggi tingkat kesadaran merek dan
kesadaran merek jean dan asosiasi merek
asosiasi yang lebih terkait dengan produk,
pada layanan perbankan.
pembentukan loyalitas merek.
Dalam layanan
perbankan, R ² nilai disesuaikan dari
kekuatan penjelas pengeluaran iklan dan
kegiatan
periklanan
yang
Artinya,
efektif
memungkinkan formasi kesadaran merek
harga promosi menunjukkan 0,178 pada
12
dan kualitas yang dirasakan positif, loyalitas
merek
merek dan asosiasi merek.
demikian,
Untuk meringkas, iklan memiliki efek
dan
asosiasi
merek.
statistik
membuktikan
Namun
produk
bahwa
barang
promosi
harga
positif terhadap ekuitas merek. Oleh karena
memiliki dampak negatif yang signifikan
itu, hipotesis H1a, H1b, H1c dan H1d
pada kesadaran merek dan asosiasi merek.
diterima.
Oleh karena itu, H2 sebagian diterima.
Pertanyaan
penelitian
yang
menyangkut penelitian ini adalah apakah
Riset ini menguji secara sistematik
harga promosi dapat memberikan kontribusi
driver kemungkinan perbedaan di kategori
terhadap konstruksi ekuitas merek.
produk dan implikasi dari temuan ini.
Harga
promosi memiliki efek negatif terhadap
Hasilnya
ekuitas merek dalam jangka panjang. Harga
produk memang memiliki efek moderat di
promosi
antara harga promosi dan ekuitas merek.
sebagai
meningkatkan
insentif
penjualan
telah
untuk
terbukti
Hasil
membuktikan
penelitian
bahwa
kategori
menunjukkan
bahwa
memiliki efek negatif terhadap ekuitas
kategori produk yang memoderasi hubungan
merek.
antara iklan, harga promosi dan ekuitas
Meskipun mereka dapat menyebarkan
merek. Pengaruh iklan dan harga promosi
manfaat jangka pendek kepada konsumen,
pada ekuitas merek berbeda dari produk
dari perspektif strategis menunjukkan efek
barang dan non barang (pengalaman dan
negatif ini dapat mempengaruhi kualitas
kepercayaan). Dibandingkan produk barang,
yang dirasakan dari produk buruk, karena
produk jasa secara positif lebih efektif
manfaat
beriklan di ekuitas merek.
yang diperoleh melalui harga
promosi tidak bertahan lama, dan tidak
menularkan
keamanan
atau
keyakinan
Arah dan dimensi dampak harga
promosi pada ekuitas merek dalam kategori
bahwa merek harus menginspirasi berkaitan
berbagai produk berbeda.
Dalam produk
dengan utilitas yang diharapkan.
jean,
negatif
Namun,
mengadopsi
perspektif
memiliki
signifikan
pada
dampak
kesadaran
merek
yang
dan
pengetahuan merek berbasis ekuitas merek
asosiasi merek. Produk non barang (bank),
konsumen, riset ini menunjukkan bahwa
memiliki dampak positif yang signifikan
harga promosi dari bank berguna untuk
terhadap kualitas dan loyalitas merek.
menciptakan ekuitas merek karena efek
Kategori produk memberikan sebuah efek
positif pada persepsi kualitas, loyalitas
moderator pada hubungan antara ekuitas
13
merek dan harga iklan atau promosi.
meningkatkan
loyalitas
pelanggan
dan
Dengan demikian hipotesis H3 dan H4
meningkatkan
laba
diterima.
produk non barang, harga promosi dapat
perusahaan.
Untuk
meningkatkan kualitas dan loyalitas merek.
Implikasi Manajerial
Di pasar yang kompetitif dan dinamis,
Banyak
perusahaan
menghabiskan
ratusan
besar
miliar
pada
komunikasi pemasaran, seperti iklan dan
harga promosi.
promosi
Apakah iklan dan harga
memperkuat
ekuitas merek?
manajer
atau
melemahkan
Bagaimana seharusnya
mengalokasikan
sumber
daya
keuangan untuk iklan dan harga promosi?
Mengapa bisnis bersedia untuk membayar
begitu banyak untuk nama merek?
Untuk
membangun ekuitas merek yang kuat dan
efisien, manajer harus berinvestasi dalam
iklan, namun mempertimbangkan kategori
produk ketika menerapkan harga promosi.
Karena harga promosi bisa menyiratkan
rendahnya kualitas produk barang, mungkin
tidak meningkatkan ekuitas merek.
jangka pendek dengan harga promosi,
mungkin tidak sesuai dengan persepsi
kualitas tinggi, dan akan mengurangi ekuitas
seharusnya
tidak
promosi.
Manajer
marketing
mix
mengoperasikan
Dengan
Manajer
menggunakan
harus
yang
dan
demikian
komunikasi pemasaran untuk seluruh merek.
Untuk
tujuan
memasukkan
ini,
foresight
manajer
harus
strategis
dalam
perencanaan pemasaran dengan melihat ke
depan
dan
penalaran
mundur
dalam
membuat keputusan yang optimal. Dengan
melihat ke depan, setiap manajer merek,
ramalan
masa
depan
rencananya
dan
mengantisipasi keputusan harus dibuat oleh
merek pesaing lainnya; dengan penalaran
mundur, manajer harus secara optimal
keputusan
yang
dibuat
dapat
sebagai
tanggapan terhadap strategi terbaik dari
semua merek.
Oleh karena itu, terlepas dari produk
barang atau non barang, persepsi pelanggan
Meskipun memiliki manfaat dalam
merek dalam jangka-panjang.
para manajer harus menyadari pentingnya
harga
menerapkan
akurat
untuk
mengelola
merek.
mereka
dapat
dalam pengeluaran iklan memiliki dampak
positif terhadap ekuitas merek. Dari hasil
penelitian
ini
menunjukkan
bahwa
pengeluaran iklan dirasakan oleh pelanggan
mendekati angka 3 untuk industri jeans dan
kategori perbankan di-point 5. Oleh karena
itu, bagaimana mempromosikan pengeluaran
iklan dirasakan oleh pelanggan adalah upaya
14
masa depan untuk manufaktur, khususnya
DAFTAR PUSTAKA
untuk industri perbankan.
Ali
Hasan,
2010.
Marketing-ed3.
Yogyakarta: Media Presindo. hlm 84,
142-162.
Angel
F. Villarejo-Ramos, Manuel J.
Sa´nchez-Franco. 2005, ‘The impact
of marketing communication and
price promotion on brand equity’,
Brand Management, vol.12, No.6,
431-444.
Keterbatasan penelitian dan saran
Beberapa keterbatasan penelitian ini.
Pertama, riset ini berkonsentrasi pada efek
pengeluaran iklan dan harga promosi. Oleh
karena itu direkomdasikan Interaksi upaya
pemasaran
lain
yang
perlu
dipelajari,
misalnya harga, kekuatan distribusi dan citra
toko.
Kedua, riset ini hanya menekankan
pada perbandingan non produk barang dan
produk barang. Setiap perbandingan produk
barang, pengalaman dan kepercayaan tidak
tercakupi. Sepadan dengan kerangka GEC,
disarankan agar penelitian mendatang dapat
melibatkan analisis lebih mendalam dan
perbandingan lebih dari dua jenis produk dan
diusulkan untuk menguji model pengukuran
pada sampel konsumen lain. Ketiga, subjek
penelitian ini adalah mahasiswa, oleh karena
itu penelitian mendatang dapat memperluas
sampel ke konsumen umum, dan Keempat,
penelitian masa depan dapat mengungkap
hubungan
sebab
dan
akibat
menggunakan analisis longitudinal.
jika
Girish N. Punj, Clayton L. Hillyer. 2004. ‘A
cognitive model of customer-based
brand
equity
for
frequently
purchased products: conceptual
framework and empirical results’,
Journal of Consumer Psychology,
14(1&2), 124-131.
Keller, K. L. 2003, ‘Strategic Brand
Management’, Upper Saddle River,
NJ: Prentice-Hall.
Martin, F. A. 2000 ‘Medicio´n de la calidad
de servicio percibida en el transporte
pu´ blico urbano: Metodologı´a y
relacio´n
con
variables
de
marketing’, doctoral dissertation,
University of Seville, Spain.
Morgan, R. P. 2000. ‘A consumer-oriented
framework
of
brand
equity’,
International Journal of Market
Research, 42, 65–78.
Yoo, B., Donthu, N. and Lee, S. 2000 ‘An
examination of selected marketing
mix elements and brand equity’,
Journal of the Academy of Marketing
Science, Vol. 28, No. 2, pp. 195–211.
BISNIS MICE SEBAGAI POTENSI UNGGULAN PARIWISATA DI YOGYAKARTA
15
M. Agus Prayudi
Dosen Akademi Pariwisata Indraphrasta Yogyakarta
Abstract
Mice in the tourism industry is type of tourism activity in which a large group, usually carefully
planned, take departure together for particular purpose. The mice world is a world that has not
received optimal attention from the tourism agent in Indonesia . Mice is very promising,
especially for the Yogyakarta city, which is the education and tourism city and of course often to
be the scene of meetings and exhibitions either regional, national and even international. Mice
business is very reasonable to be developed in Yogyakarta because the city has various
advantages either the hotel facilities, convention hall, human resources, means and
infrastructure of transportation, telecommunications networks and availability the type of
culinary and handicrafts tourism.
Keywords: Mice, Meeting, Incentive, Convention and Exhibition
Pariwisata merupakan salah satu industri
pariwisata di tingkat lebih luas, baik nasional
raksasa dunia yang mendorong pertumbuhan
maupun
sektor ekonomi paling cepat.
peningkatan
Pada 2008,
internasional.
Di
kepercayaan
Indonesia,
dari
dunia
diperkirakan wisatawan di dunia mencapai
internasional terhadap negara ini sebagai
920 juta, tetapi karena terjadinya krisis
tujuan wisata yang menarik mendorong
global, jumlah kunjungan menurun 4%
tumbuhnya
bisnis
MICE
(Meeting,
menjadi 880 juta pada 2009. Walau terjadi
Incentive,
Conference,
and
Exhibition),
penurunan, industri pariwisata terutama di
terutama sejak 2007.
Asia Pasifik sudah kembali pulih, sehingga
Dampak besar bisnis MICE dapat
pada 2010 kontribusi pariwisata pada PDB
dilihat dari perolehan devisa pariwisata
mencapai 9,2% (US $5.751 milyar) dengan
dengan
pertumbuhan 0,5% serta menciptakan 235,8
konvensi internasional skala besar seperti
juta
dari
PATA Travel Mart dan Global Climate
kesempatan kerja dunia) (Kusmayadi, 2010
Change yang berhasil diadakan di Indonesia
diktipari .org).
pada 2010. Peran Departemen Kebudayaan
kesempatan
kerja
(8,1%
diadakannya
sejumlah
kegiatan
Salah satu penentu perkembangan
dan Pariwisata (Depbudpar), para pelaku
dunia pariwisata di suatu daerah adalah
bisnis MICE, INCCA (Indonesia Congress
terbukanya daerah itu terhadap pertumbuhan
and Convention Association), dan perguruan
16
tinggi
penting
perkembangan
dalam
dan
mendukung
pertumbuhan
bisnis
minat
dengan
tujuan
dan
kepentingan
membahas suatu permasalahan bersama.
MICE dalam konteks promosi pariwisata di
Kedua, incentive mengacu pada perjalanan
Indonesia, terutama di sepuluh kota besar
insentif yang merupakan suatu kegiatan
yang ditetapkan sebagai destinasi unggulan
perjalanan yang diselenggarakan oleh suatu
MICE,
Bandung,
perusahaan untuk karyawan dan mitra usaha
Yogyakarta, Surabaya, Bali, Medan, Batam,
sebagai imbalan penghargaan atas prestasi
Padang, Makasar dan Ma-nado. Keberadaan
mereka
Direktorat MICE di Depbudpar diharapkan
penyelengaraan konvensi yang membahas
mampu mendorong semakin meningkatnya
perkembangan kegiatan perusahaan yang
industri jasa MICE di negara ini.
bersangkutan dan/atau kegiatan pameran.
antara
lain:
Jakarta,
yang
berkaitan
dengan
Ketiga, convention, yaitu pertemuan
A. Apa Bisnis MICE?
Bisnis MICE merupakan bisnis jasa
sekelompok orang (negarawan, usahawan,
kepariwisataan yang bergerak di seputar
cendekiawan, profesional dan sebagainya)
Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran
untuk mambahas masalah yang berkaitan
(Meeting,
dengan
Incentive,
Convention,
and
Exhibition, yang disingkat MICE). Keempat
jenis kegiatan kepariwisataan ini merupakan
kepentingan
bersama,
biasanya
dengan jumlah peserta banyak.
Keempat,
exhibition,
yaitu bentuk
usaha untuk memberi jasa pelayanan bagi
kegiatan mempertunjukkan, memperagakan,
suatu
memperkenalkan,
pertemuan
sekelompok
orang,
mempromosikan,
dan
khususnya para pelaku bisnis, cendekiawan,
menyebarluaskan informasi hasil produksi
eksekutif pemerintah dan swasta, untuk
barang atau jasa maupun informasi visual di
membahas
yang
suatu tempat tertentu dalam jangka waktu
bersama,
tertentu untuk disaksikan langsung oleh
produk-produk
masyarakat dalam meningkatkan penjualan,
berkaitan
termasuk
berbagai
dengan
persoalan
kepentingan
memamerkan
memperluas pasar dan mencari hubungan
bisnis.
Pertama, meeting merupakan rapat atau
pertemuan
sekelompok
orang
yang
dagang.
Usaha
jasa
MICE
tidak
dapat
tergabung dalam sebuah asosiasi, di mana
dipisahkan dari mata rantai usaha di bidang
perusahaan
kepariwisataan dan berbagai sektor usaha
yang mempunyai
kesamaan
lainnya.
Penyelenggaraan
MICE
selalu
17
melibatkan banyak sektor usaha atau industri
internasional
dan
berkembang pesatnya
dan banyak pihak, yang menimbulkan
teknologi informasi dan transportasi. Kota
pengaruh ekonomi berlipat ganda (multiplier
besar khususnya Jakarta, dan kota-kota besar
effect) yang menguntungkan dan dapat
lain yang berdekatan, masih menyumbang
dirasakan oleh banyak pihak, khususnya
persentase terbesar dalam mendatangkan
karena daya-pengeluaran finansial (spending
tamu yang menginap dalam kerangka bisnis
power) dari segmen MICE tinggi, sekitar 8-
MICE.
10 kali wisatawan biasa. Di antara pihak
Dalam kapasitas sebagai pengambil
yang potensial mendapatkan keuntungan
kebijakan, pemerintah sudah mengatur dunia
besar bisnis MICE adalah Percetakan, Hotel,
pariwisata melalui Undang-Undang Nomor
Perusahaan Sovenir, Biro Perjalanan Wisata,
10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan,
Transportasi,
Conference
yang menyebutkan ada 13 sektor usaha
Kecil
pariwisata, yaitu: (1) Daya Tarik Wisata, (2)
Organizer
Professional
(PCO),
Usaha
dan
Menengah (UKM), dan Event Organizer.
Kawasan Pariwisata, (3) Jasa Transportasi
B. Potensi Perkembangan Bisnis MICE
Makanan & Minuman, (6) Penyediaan
di Indonesia
Secara
Wisata, (4) Jasa Perjalanan Wisata, (5) Jasa
global,
industri
MICE
di
Akomodasi, (7) Penyelenggaraan Kegiatan
berbagai kawasan ASEAN, Asia Pasifik,
Hiburan & Rekreasi, (8) Penyelenggaraan
Eropa dan Amerika Serikat pada 2007 rata-
Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi
rata mengalami pertumbuhan dua digit, dan
& Pameran, (9) Jasa Informasi Pariwisata,
kondisi ini memiliki dampak positif terhadap
(10 Jasa Konsultan Pariwisata, (11) Jasa
industri MICE di Indonesia. Intinya, kondisi
Pramu Wisata, (12) Wisata Tirta, dan (13)
global bisnis itu mendorong bisnis MICE di
Spa. Terkait dengan MICE, pada Mei 2009
negara ini. Pada dekade 1990-an, bisnis
diterbitkan Peraturan Menteri Kebudayaan
MICE
dan
menjadi
bagian
penting
dari
Pariwisata
Nomor
perkembangan kepariwisataan di Indonesia,
18/UM.001/MKP/2009
walaupun di negara-negara industri maju
Penggunaan Jasa dan Produk Usaha Mikro
bidang pariwisata ini sudah jauh lebih
Kecil Menengah dalam Kegiatan Pertemuan,
berkembang
Perjalanan
sebelumnya.
Pesatnya
Insentif,
tentang
Pedoman
Konferensi
dan
perkembangan bisnis MICE terjadi seiring
Pameran. Diharapkan, kesempatan terbuka
semakin
lebar
terbukanya
perdagangan
bagi
pelaku
UMKM
untuk
18
mempromosikan jasa dan produknya dalam
kegiatan pertemuan, perjalanan insentif,
C. Bisnis MICE di Yogyakarta
konferensi, dan pameran atau bisnis MICE.
Yogyakarta adalah daerah tujuan
Sejumlah penyelenggaraan kegiatan MICE
wisata utama di Pulau Jawa, Indonesia.
di Indonesia terbukti memberi kontribusi
Kombinasi unik antara candi-candi kuno,
konkret
sejarah, tradisi, budaya, pendidikan dan
dalam
pembangunan
ekonomi,
antara lain berbentuk penerimaan cadangan
kekuatan
devisa
singkat,
sangat menarik untuk dikunjungi. Kota ini
penerimaan pajak, penyerapan tenaga kerja
merupakan daerah tujuan wisata MICE yang
dan pengembangan infrastruktur di kota
banyak diminati berbagai kalangan, karena
besar
memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk
dalam
seperti
Bandung,
waktu
Batam,
Semarang,
relatif
Medan,
Jakarta,
Yogyakarta,
Bali,
Makassar, dan Manado.
alam
menjadikan
Yogyakarta
mendukung kegiatan itu. Di kota ini,
misalnya, banyak terdapat hotel dan gedung
Penghasilan besar dari bisnis MICE itu
pertemuan yang mempunyai standar MICE
dapat diperoleh dari subsektor bisnis MICE,
dan siap menggelar berbagai kegiatan, baik
antara lain: usaha akomodasi seperti hotel,
skala nasional maupun internasional.
wisma, dan losmen; usaha jasa penyewaan
Berdasarkan
data
kantor
Dinas
audio visual, usaha konsumsi baik berbentuk
Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta
restoran maupun perusahaan jasa boga atau
(DIY), sampai sekarang di daerah ini tercatat
katering; usaha suvenir yang meliputi pusat
terdapat 33 hotel berbintang, dan 835 hotel
perbelanjaan, toko-toko hadiah, perusahaan
melati,
kerajinan
pertemuan
dari
berbagai
bahan
tekstil
di
samping
yang
sejumlah
dapat
gedung
mendukung
pakaian, kulit, kerajinan bambu, kayu, dan
Yogyakarta sebagai tujuan wisata MICE.
rotan; usaha jasa hiburan seperti orkestra,
Banyaknya
sendratari, sanggar kesenian dan kebudayaan
pameran maupun kegiatan lainnya berskala
serta lawak, dan usaha jasa pengiriman cepat
nasional maupun internasional yang digelar
(ekspres) dan pelayaran (shipping). Semua
di Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa
jenis usaha ini bisa dikelola oleh UMKM
posisi Yogyakarta sebagai salah satu daerah
atau setidaknya melibatkan banyak sektor
pariwisata berbasis MICE semakin kokoh.
UMKM, terutama di kota-kota besar seluruh
Indonesia.
peserta
seminar,
komvensi,
Pengembangan kegiatan bisnis MICE
menjadi
salah
satu
prioritas
program
19
pengembangan pariwisata karena kegiatan
jasa
yang digelar di kota akan berdampak positif
mendukung
terhadap
kerangka bisnis MICE. Sekarang, fasilitas
sektor
Silaturahmi
Insan
pariwisata.
Forum
Pariwisata
(Fosipa)
wisata
kebutuhan
menyambut
berbagai
untuk
optimis
kegiatan
masyarakat
dan
dalam
termasuk
Indonesia yang berpusat di Yogyakarta
wisatawan di Yogyakarta semakin lengkap.
mempunyai anggota dari kalangan pelaku
Ketika wisatawan mau belanja, misalnya,
usaha wisata, baik pengelola hotel, restoran,
pilihan wisata belanja semakin banyak
jasa transportasi wisata, dan pramuwisata se
tersedia,
Jawa-Bali serta sebagian Sumatera. Di
didirikannya pusat perbelanjaan mo-dern di
samping itu, banyaknya kegiatan MICE
berbagai sudut kota ini.
dapat
memberikan
keuntungan,
mengingat
semakin
banyak
yaitu
Tidak hanya urusan belanja, untuk
meningkatkan penghasilan, termasuk para
wisata MICE yang lain di Yogyakarta sangat
pemangku
memadai. Banyak hotel berbintang, Jogja
kepentingan
(stakeholder)
pariwisata. Misalnya, produk kerajinan,
Expo Center (JEC), Malioboro
Mall,
rumah makan atau restoran, dan hotel
Ambarukmo Plasa, termasuk Gedung Pasifik
banyak diuntungkan banyaknya kegiatan
Hall di Jalan Magelang, adalah beberapa
MICE, baik nasional, regional maupun
tempat konvensi dan pameran yang banyak
internasional.
diminati para pengunjung. Dibandingkan
Sebagai kota wisata, Yogyakarta terus
lainnya, Pasifik Hall masih unggul karena
berbenah dan menambah berbagai fasilitas
tempatnya yang luas dan fasilitas yang
yang dibutuhkan wisatawan. Bertambahnya
memadai. Tempatnya juga stategis dan
hotel, restoran, pusat perbe-lanjaan dan
mudah dijangkau. Banyak masyarakat dari
fasilitas
semakin
luar Yogyakarta mau mengikuti seminar,
memanjakan para wisatawan untuk merasa
pertemuan kantor, pa-meran sampai hajatan
nyaman berkunjung ke Yogyakarta. Selain
pernikahan menggunakan tempat ini.
olah
raga
tentu
itu, kondisi kota ini yang aman
menjadi
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui
daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk
bahwa salah satu fasilitas sangat penting
mengadakan acara skala nasional, regional
dalam
maupun
adalah ruang pertemuan (hall) dan hotel.
internasional,
baik
seminar,
suatu
penyelenggaraan
hotel
dan
konvensi
pameran, pertemuan, dan lain sebagainya.
Pertumbuhan
jumlah
kamar
Dengan kondisi seperti itu banyak pelaku
berikut fasilitas-fasilitasnya secara langsung
20
akan
berpengaruh
penyediaan
transportasi lokal yang relatif memadai,
fasilitas pendukung untuk usaha wisata
terutama armada angkutan darat dalam kota,
MICE. Di antara hotel yang sangat terkenal
seperti taksi, transjogja, bis umum, kereta
untuk penyelenggaraan bisnis MICE antara
api dengan tarif relatif murah. Kondisi ini
lain: hotel Bintang 5 (Aquila Prambanan
didukung dengan kondisi jalan yang baik
Hotel dan Melia Purosani Hotel); hotel
dan lalu-lintas yang relatif tidak sering
Bintang 4 (Natour Garuda Hotel, Santika
mengalami
kemacetan.
Hotel,
pada
Sahid
terhadap
ini
Yogya
berpengaruh
Jayakarta
Hotel,
kemudahan bagi wisatawan konvensi, baik
Radisson Plaza Hotel); hotel Bintang 3
selama berlangsungnya konvensi maupun
(Mutiara Hotel, Puri Artha Hotel, Sriwedari
setelah acara itu selesai.
Hotel,
kenyamanan
sangat
Hotel,
International
Garden
Hal
dan
Hotel & Cottages, Phoenix Heritage Hotel);
Selain itu, ada juga fasilitas yang
hotel Bintang 2 (Mendut Hotel, Matahari
sangat mendukung berkembangnya bisnis
Hotel); hotel Bintang 1 (Cakra Kembang
MICE,
Hotel, Air Langga Hotel, Dwi Pari Hotel)
telekomunikasi secara memadai. Yogyakarta
(Dinas Pariwisata Yogyakarta, 2007).
banyak memiliki tempat yang melayani jasa
yaitu
tersedianya
sarana
Perkembangan hotel yang ada di
telekomunikasi yang dapat digunakan untuk
Yogyakarta sangat dipengaruhi pula oleh
tujuan lokal, interlokal, dan interlokal.
akses dari dan/atau ke dunia pariwisata
Berkembangnya Warnet (Warung Internet),
internasional. Dibukanya
Bandar Udara
jaringan telpon kabel yang dipadu dengan
Adisucipto Yogyakarta sebagai bandar udara
speedy dari Telkom, jaringan komunikasi
internasional pada 21 Februari 2004 telah
wireless
membuka
bagi
pesatnya perkembangan inovatif berbagai
internasional,
merek komputer dan HP dengan kualitas
termasuk bisnis MICE di kota budaya ini.
jauh lebih tinggi memperbesar peluang
Lokasi geografisnya yang strategis jelas
berkembangnya pariwisata, termasuk bisnis
membuat kota Yogyakarta mudah dijangkau
MICE.
baik
udara
tersebut sangat membantu pengguna jasa
maupun darat. Untuk transportasi udara,
telekomunikasi, baik untuk penduduk lokal
jarak Bandara Adisucipto hanya sekitar 8 km
maupun untuk wisatawan.
peluang
pengembangan
sangat
pariwisata
menggunakan
lebar
transportasi
untuk
Semua
koneksi
fasilitas
Internet,
dan
telekomunikasi
dari pusat kota, dan didukung dengan
21
Akhirnya, kehadiran wisatawan di
kaitannya
dengan
mata-rantai
usaha
Yogyakarta tidak dapat dilepaskan juga dari
kepariwisataan lainnya, mulai dari usaha
berkembangnya wisata kuliner di kota
yang besar seperti hotel berbintang, usaha
budaya
transportasi,
ini.
Berdirinya
berbagai
hotel
akomodasi
sampai
usaha
informal
seperti
usaha
berbintang yang menyediakan berbagai jenis
terkecil
masakan dan fasilitas restoran yang bertaraf
pembuatan dan penjualan cenderamata. Pada
internasional
mendukung
tingkat yang lebih riil, di antara pihak yang
pertumbuhan bisnis MICE internasional. Di
mendapat keuntungan dari perkembangan
lokasi tengah kota dan pinggiran kota juga
bisnis ini adalah: pengusaha transportasi,
terdapat rumah makan dengan berbagai tipe
baik tingkat lokal, interlokal, nasional
dengan berbagai jenis makanan seperti
maupun internasional; akomodasi, baik hotel
Indonesian Food, Chinese Food, European
berbintang maupun tak-berbintang; restoran;
Food, Sea Food, Pizza, Fried Chicken,
hibur-an; shooping; cenderamata. Akhirnya,
Thailand Food, Japanese Food, dan lain-lain
pemerintah juga dapat menetapkan pajak
menambah khasanah wisata kuliner di
dengan lebih banyak obyek dan subyek
Yogyakarta. Dengan demikian Yogyakarta
pajak terkait dengan berbagai acara bisnis
mempunyai jumlah dan jenis rumah makan
MICE yang diadakan di berbagai gedung
yang cukup banyak untuk melayani selera
pertemuan besar.
sangat
wisatawan, termasuk mereka yang terlibat
dalam penyelenggaraan bisnis MICE.
Beragamnya fasilitas penyelengga-raan
dan
Uraian mengenai keterkaitan antarsektor usaha yang berhubungan dengan
penyelenggaraan
bisnis
MICE
tersebut
pariwisata di Yogyakarta menjadi daya tarik
memperlihatkan keunggulan bisnis MICE
luar biasa dalam penyelenggaraan acara
dibandingkan atraksi atau usaha pariwisata
pertemuan, insentif, konvensi dan pameran
lainnya. Penyelenggaraan suatu acara bisnis
untuk memeriahkan obyek-obyek wisata
MICE akan memberikan efek berlipat ganda
yang ada. Pengembangan yang disengaja
(multiplier effect) yang lebih luas dan lebih
atas bisnis MICE ini tentu akan memicu
besar terhadap sektor-sektor pendukung
perkembangan acara itu di masa yang akan
pariwisata yang lain.
datang. Karena itu, dapat dikatakan bahwa
usaha wisata MICE
memiliki dampak
D. Kendala Bisnis MICE di Yogyakarta
berlipatganda (multiplier effect) yang sangat
22
Dalam perkembangannya sekarang,
terkait dengan bisnis MICE cenderung tidak
diakui
juga
diikutsertakan menjadi satu informasi. Fakta
menghadapi kendala dalam pengembangan
seperti itu sebenarnya juga menunjukkan
bisnis MICE. Sebagaimana disebutkan di
semakin ketatnya persaingan yang terjadi di
atas, bisnis MICE banyak berhubungan
antara pelaku usaha wisata MICE, baik
dengan
tingkat lokal, nasional, regional maupun
harus
antara
bahwa
kombinasi
bisnis
dan
Yogyakarta
kepentingan
khusus
pertemuan,
insentif,
internasional.
konvensi dan pameran. Dalam kerangka itu,
diperlukan
pemenuhan
program pemasaran terpadu yang melibatkan
fasilitas MICE yang memadai dan layanan
berbagai pihak yang terkait dengan wisata
yang ramah serta berkualitas. Hanya saja,
konvensi dapat menyediakan informasi dan
sumber daya manusia yang mensuplai bisnis
menyajikannya dalam bentuk promosi yang
ini belum memadai, baik di dalam maupun
utuh dan dapat meraih pasar secara bersama-
di
adaka-lanya
sama. Sinergi ini sangat penting jika para
pelaksanaan acara dalam kerangka bisnis
pelaku bisnis MICE ingin dapat bersaing
MICE tidak berlangsung dengan baik dan
kuat dalam pariwisata MICE di tingkat
tidak sedikit yang kurang memuaskan.
internasional. Singapura menjadi salah satu
Pembenahan fasilitas harus terus dilakukan,
negara pesaing besar di dalam bisnis MICE,
termasuk dalam masalah peralatan dengan
baik dari jalur Australia sampai Korea
teknologi tinggi seperti alat presentasi audio
maupun dari Asia Pasifik ke Eropa dan
visual, sound system, lighting, komputer,
Amerika Serikat. Dengan kualitas sumber
telekomunikasi pada setiap kamar dengan
daya manusia yang tidak memadai, para
jaringan internasional, dan serupa itu.
pelaku bisnis MICE di Indonesia, dalam hal
luar
Di
banyak
hotel,
upaya
Padahal, kalau ditangani dengan baik,
sehingga
samping itu,
dalam
kerangka
ini Yogyakarta cenderung akan kalah saing.
pemasaran, program promosi untuk bisnis
Dalam
MICE juga masih relatif terbatas atau
koordinasi antara pemerintah dan swasta
parsial.
dalam kerangka kemitraan sangat penting,
Masing-masing
hotel
masih
konteks
MICE dan mempromosikan fasilitas MICE
pengelola perguruan tinggi, baik universitas,
sendiri-sendiri.
sekolah tinggi, institut, politeknik dan serupa
transportasi, obyek dan atraksi wisata yang
kiprah
dari
dan
begitu
restoran,
dengan
keterpaduan
membuat program pemasaran untuk wisata
Promosi
pula
itu,
para
itu.
23
promosi dan pemasaran serta kemitraan
E. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat
antara
pemerintah
dan
swasta
dalam
disimpulkan bahwa bisnis MICE sangat
pengembangan dan penyelenggaraan acara
layak dikembangkan di Yogyakarta karena
MICE, terutama untuk tingkat nasional,
kota ini memiliki berbagai keunggulan, baik
regional
dilihat dari fasilitas perhotelan, gedung
membangun daya saing dan keunggulan
pertemuan,
bersama.
sarana
dan
prasarana
dan
internasional
untuk
transportasi, jaringan telekomunikasi dan
DAFTAR PUSTAKA
ketersediaan berbagai jenis wisata termasuk
Fandy Tjiptono, 2006, Pemasaran Jasa,
Malang, Bayumedia Publishing.
kuliner dan kerajinan. Rasa aman tinggal di
Yogyakarta cenderung membuat banyak
wisatawan tinggal lebih lama, yang pada
gilirannya akan menimbulkan efek yang
berlipat ganda dari bisnis wisata MICE.
Dengan predikat sebagai kota wisata, kota
Yogyakarta sangat potensial dikembangkan
lebih lanjut menjadi kawasan tujuan wisata
MICE dengan cakupan fasilitas yang lebih
luas dan berkualitas. Untuk itu, sinergi di
antara para bisnis MICE dalam kegiatan
Philip Kotler, John Bower, James Makens,
2002, Pemasaran Perhotelan dan
Kepariwisataan,
Edisi
Bahasa
Indonesia, Jakarta, PT Prenhallindo.
Oka A. Yoeti, 2003, Manajemen Pemasaran
Hotel, PT Perca, Jakarta
---------------, 2007, Hotel
Jakarta, PT Perca.
Marketing,
Undang-undang Republik Indonesia Nomor
10
Tahun
2009
Tentang
Kepariwisataan.
24
FAKTOR YANG MENENTUKAN OMZET PENJUALAN JAMU
Siti Eny Walsiati
Staf Pengajar di Akademi Pariwisata Indraphrasta
Abstract
Jamu is an herbal traditional product. Jamu often considered by society as alternative way from
chemical medicines. In order to increase the quality and keep the hygiene, Jamu must be
managed and produced in modern way. Some factors, which are considered as important aspect
of selling number; are: condition and capability of the seller, market condition, company
condition, promotion, as well as customer service quality.
Keyword: jamu, selling number
tradisi meracik dan meminum jamu sejak
PENDAHULUAN
periode
A. Latar Belakang Masalah
kerajaan
dibuktikan
Hindu-Jawa.
dengan
adanya
Hal
ini
Prasasti
Sejak berabad abad lamanya, jamu
Madhawapura dari jaman Majapahit yang
dipercaya memiliki khasiat tinggi untuk
menyebut adanya profesi ‘tukang meracik
menjaga kesehatan termasuk mengobati
jamu’ yang disebut Pada relief candi
berbagai penyakit. Jenis jamu tertentu juga
Borobudur (th 800 – 900 masehi) juga
dipercaya
menggambarkan adanya kegiatan peracikan
dapat
mempertajam
aura
kecantikan seorang perempuan termasuk
jamu.
membuatnya awet muda. Namun, rasa pahit
Beberapa hal yang membedakan antara
dan bau kurang enak jamu seringkali
jamu dengan obat kimia modern, salah
mengalahkan keinginan mereguk khasiatnya.
satunya adalah bahan pembuatnya. Jamu
Istilah “JAMU” merupakan sebutan
menggunakan berbagai macam tumbuh-
orang Jawa terhadap obat hasil ramuan
tumbuhan yang langsung diambil dari alam.
tumbuh-tumbuhan asli baik daun, batang dan
Sedangkan obat kimia modern dihasilkan
akar dari alam. Jamu sebenarnya merupakan
dari senyawa bahan-bahan kimia sintetis.
seni dalam pengobatan tradisional. Tidak
Oleh karena itu, tingkat efek samping jamu
ada
kapan
relatif sangat minim dibanding dengan obat
munculnya tradisi minum jamu. Masyarakat
kimia modern. Dengan kata lain jamu
yang
dapat
memastikan
Indonesia paling tidak sudah mempunyai
25
merupakan obat alami yang bebas efek
dalamnya. Konsumen pun tidak keberatan
samping.
meski harus menyeduh sendiri ramuan
Seiring merebaknya gaya hidup sehat
bahan-bahan jamu yang dibeli.
dan alamiah, jamu kembali ditengok orang.
Gencarnya promosi budaya back to
Jamu yang sesungguhnya adalah racikan
nature yang mendorong masyarakat kembali
berbagai dedaunan berkhasiat obat dipercaya
pada pemanfaatan bahan-bahan alami juga
minim efek samping, tidak seperti obat-
banyak
obatan kimia. Terpuruknya perekonomian
permintaan masyarakat akan jamu. Menurut
Indonesia beberapa tahun belakangan ini
Sidik Raharjo (31), pimpinan produsen jamu
juga membawa dampak diliriknya kembali
godok dan instan Merapi Farma di Sariharjo,
jamu dalam membantu mengobati berbagai
Ngaglik menyatakan dalam harian Kompas
penyakit yang oleh beberapa masyarakat
(16/07/2007) bahwasanya saat ini konsumen
terutama
menengah
juga semakin pintar. Mereka dapat memilih
dianggap paling efektif dilihat dari segi
obat-obatan yang paling sedikit mengandung
harganya yang relatif lebih terjangkau.
risiko atau efek samping negatif.
kalangan
ekonomi
Konsumsi obat-obatan tradisional di
Selain
memengaruhi
itu,
peningkatan
turunnya
daya
beli
masyarakat, seperti jamu godok, dalam
masyarakat untuk mengonsumsi obat-obatan
beberapa tahun terakhir terus mengalami
kimia yang semakin mahal juga mendorong
peningkatan. Bermacam-macam jamu untuk
masyarakat
berbagai penyakit seperti asam urat, diabetes
alternatif yang mereka percayai aman untuk
mellitus, ataupun kolesterol tinggi banyak
dikonsumsi. Pasca gempa 27 Mei, sebagian
diminati masyarakat. Produksi jamu-jamuan
masyarakat yogyakarta, khususnya yang
tersebut pun terus bertambah. saat ini
tinggal di Bantul kehilangan pekerjaan
masyarakat banyak mencari jamu-jamuan
pokok mereka, sehingga praktis dalam hal
berbahan
Kekhawatiran
pengobatan mereka lebih mengadalkan akan
masyarakat terhadap efek samping obat-
khasiat jamu dibandingkan dengan obat-
obatan kimia secara langsung memang
obatan kimia yang harganya melambung.
meningkatkan
Bahan-bahan
dasar
mentah.
konsumsi
jamu-jamuan
untuk
mencari
rempah
banyak
obat-obat
pembuat
terdapat
di
jamu
berbahan mentah. Mereka lebih tenang
sebenarnya
daerah
ketika melihat sendiri bahan- bahan jamu
pedesaan akan tetapi kurang diperdayakan
dan yakin tidak ada campuran lain di
oleh masyarakat untuk membuat bahan
26
ramuan jamu sendiri oleh karena repot serta
daun, akar, serta umbi tanaman untuk obat
memakan waktu dalam pembuatannya dan
dan perawatan kecantikan. Di candi terbesar
tidak tahan lama dalam penyimpanannya.
ini juga tergambar jelas pahatan pohon
General Manager Operation PT Air
Mancur, James M Sinambela, Selasa (24/6)
kalpataru yang melambangkan alam sebagai
sumber kesehatan.
dalam harian Kompas mengatakan, selain
meningkatkan
standardisasi
Dalam sejarahnya, ilmu jejamuan ini
produk,
semula ini hanya dimiliki oleh bangsawan di
pengusaha jamu juga harus melakukan
dalam keraton untuk menjaga keindahan
inovasi
masyarakat
raga dan kesehatan mereka. Kemudian, pada
cenderung menginginkan obat-obatan yang
awal abad XVII, ahli botani Belanda
murah, tanpa efek samping tetapi juga
bernama Jacobus Bontius menemukan 60
praktis
jenis tanaman obat berkhasiat di Indonesia,
produk.
tanpa
Saat
repot
ini
membuatnya
atau
memperolehnya.
dan
menulisnya
dalam
buku
Histiria
Naturalist et Medica Indiae. Penemuan ini
dilanjutkan
PEMBAHASAN
oleh
disempurnakan
A. Jamu
Van
Rheede,
Gregorius
lalu
Everhardus
Rumphius yang berdiam di Maluku dan
Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional
menghimpunnya dalam buku Herbarium
dari Indonesia. Belakangan populer dengan
Amboinense.
sebutan herba atau herbal (Depdikbud.1995).
pendudukan
Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa
modern sudah banyak dijumpai, terbitlah
bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-
buku
akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah.
Soloensis (Kompas, 9/10/2004)
Ada juga menggunakan bahan dari tubuh
hewan,
seperti
empedu
kambing
atau
tangkur buaya.
Sementara
Jepang,
pada
saat
Formularium
masa
obat-obatan
Medicamentorum
Akhirnya, ilmu jamu-jamuan yang
semula hanya dikuasai kerabat keraton pun
menyebar kepada masyarakat luas, terutama
Pembuatan jamu Nusantara ini telah
di sekitar tembok keraton. Lambat laun,
berlangsung sejak zaman batu. Hal ini dapat
jamu
dilihat
Candi
sehingga mulai diperjualbelikan di warung,
Borobudur yang menggambarkan kegiatan
oleh tabib, atau dijajakan berkeliling oleh
meramu, menumbuk, dan memanfaatkan
tukang-tukang jamu Jawa berkebaya yang
dari
salah
satu
relief
pun
mengalami
komersialisasi
27
cantik. Bakul jamu yang gandes luwes itu
penjual jamu gendong atau keliling yang
biasanya berjualan bersama, dan berangkat
meramu bahan jamunya sendiri. Hanya jamu
berbondong-bondong berkeliling kampung
tertentu seperti kunir asem dan beras kencur
sambil menggendong keranjang berisi botol
yang
jamu.
Sedangkan untuk jamu lain, sudah tersedia
masih
diolah
tangan
sendiri.
Industrialisasi jamu saat ini sudah
bahan serbuk buatan pabrik yang tinggal
berkembang dengan munculnya pabrik-
seduh saja kemudian ditambahkan dengan
pabrik jamu besar seperti Nyonya Meneer,
bahan-bahan lain seperti telur atau madu.
Sido Muncul pada, dan Air Mancur. Kini,
Meskipun prinsip pembuatan jamu
pasar jamu telah dipenuhi oleh sekitar 600
pada dasarnya sama, cara pembuatan yang
produsen jamu dari skala rumah tangga
dipilih tukang jamu gendong atau keliling
sampai pabrik besar dengan ribuan pekerja.
lain-lain. Ada yang menggunakan cara
Jamu pun dikenal lebih banyak orang,
tumbuk, ulek, atau pipis. Bakul jamu yang
terlihat dari makin menjamurnya outlet jamu
bermodal menggunakan blender. Ada pula
di berbagai sudut kota, iklannya yang
penjual yang tinggal mencampur bahan-
berjejal di berbagai media, dan omzet
bahan yang sudah berupa serbuk. Alam
penjualan yang mencapai sekitar Rp 2,4
tropis ini memberikan kesempatan 30.000
triliun per tahun
spesies flora untuk tumbuh, dan 8.000 jenis
Dalam industri jamu terdapat tiga jenis
di antaranya adalah tanaman yang memiliki
produk, yaitu jamu tradisional yang masih
khasiat obat. Meski baru ratusan spesies
mempertahankan resep warisan leluhur,
yang telah termanfaatkan sebagai bahan
jamu
berdasarkan
baku obat tradisional atau jamu. Dan
referensi, serta fitofarmaka. Fitofarmaka
tanaman obat yang paling populer bagi
berasal dari tanaman yang sudah melalui
orang Jawa adalah jahe, kencur, kunyit,
proses
temulawak, temu ireng, kapulaga, lengkuas,
yang
uji
persyaratan
dikembangkan
klinis
formal
dan
pre
produk
uji
klinis
pengobatan
(Ibid).
Namun
serta lempuyang
Berdasarkan cara pembuatan, jamu
dengan
dibedakan menjadi jamu pipis, seduhan,
tradisional
infus, serbuk, pil, kapsul, dan sirup. Selain
kalah saing dengan jamu-jamu buatan
itu ada juga jamu parem, pilis, lulur, dan
prabrik. Hal ini terlihat dari sedikitnya
mangir. Jamu pipis dan seduhan merupakan
perkembangan
kini,
seiring
zaman,
jamu
28
jamu yang paling tradisional, paling dikenal
dasar pembuatan kulit kapsul adalah gelatin
masyarakat luas, dan bertahan sampai kini.
yang bersumber dari tulang dan kulit
Jamu ini pula yang selalu dijajakan penjual
binatang. Selain itu, bahan perekat pada
jamu
pembuatan tablet dan kaplet juga perlu
keliling
Semuanya
ke
kampung-kampung.
berfungsi
sama,
untuk
diwaspadai. Biasanya digunakan magnesium
menyembuhkan, merawat, dan mencegah
stearat yang merupakan turunan dari lemak
penyakit. Sementara parem, pilis, lulur, dan
sebagai pengikat.
mangir lebih banyak diasosiasikan sebagai
jamu perawatan kecantikan.
2. Alkohol dalam jamu cair
Penjualan jamu secara nasional turun
Jamu cair perlu dicermati sebab adanya
30 persen pada Juni dan Juli 2007 (Kompas
penggunaan alkohol. Jamu cair biasanya
3/8/2007).Hal
berasal dari ekstraksi bahan aktif dari bahan
itu
disebabkan
sebagian
konsumen khawatir adanya jamu yang
jamu.
menggunakan bahan kimia obat sebagai
menggunakan
campurannya. Untuk mendongkrak kembali
menggunakan alkohol. Pada jamu instan
omzet
Badan
berbentuk bubuk, alkohol biasanya telah
Pengawas Obat dan Makanan sebaiknya
diuapkan hingga kering. Namun pada jamu
menyosialisasikan jamu yang baik kepada
cair biasanya residu alkoholnya masih cukup
masyarakat. Mengontrol pengrajin-pengrajin
tinggi, sehingga menjadikannya tidak halal.
jamu yang nakal serta perlu adanya inovasi
3. Penambahan
penjualan
jamu
maka
baru yang berhubungan dengan jamu agar
ekstraksi
air--,
telur
ini
--selain
kadang-kadang
mentah
ketika
akan meminum jamu seduh
menyarakat mempunyai alternatif lain cara
mengkonsumsi jamu.
Proses
Telur yang sering dipakai oleh para
tukang jamu adalah telur ayam kampung
Beberapa hal yang harus diperhatikan
atau telur bebek. Dengan kandungan gizinya
dalam mengkonsumsi jamu (yahoo.com
yang lengkap, telur ini dikenal sebagai
6/12/2007) yaitu :
makanan yang memberikan efek kesehatan.
1. Kulit kapsul dan bahan perekat tablet
Telur
jamu
disajikan
mentah
atau
setengah
matang. Dari segi kandungan gizi, telur
Jamu dengan bentuk kapsul perlu
mentah lebih baik, karena proteinnya belum
dikaji ulang terkait dengan aspek apakah
mengalami kerusakan (denaturasi). Namun
kulit kapsul tersebut halal atau tidak. Bahan
pada kondisi dimana wabah virus flu burung
29
cukup marak, penggunaan telur mentah ini
berjamur. Keberadaan air dalam jamu cair
perlu dipertimbangkan.
juga memungkinkan tumbuhnya bakteri.
4. Penggunaan anggur obat dalam jamu
7. Penggunaan simplisia hewan
Bahan yang sering dianggap obat dan
banyak
dikonsumsi
masyarakat
Jamu dipersepsikan oleh masyarakat
adalah
awam sebagai obat yang berasal dari
anggur obat atau sering dikenal dengan
tumbuhan. Padahal tidak selalu demikian.
nama anggur kolesom. Bahan ini adalah
Definisi simplisia (jamu) secara farmasi
minuman fermentasi yang terbuat dari
ialah bahan alamiah yang digunakan sebagai
perasan buah anggur. Dari segi bahan dan
obat dan belum mengalami pengolahan apa
proses pembuatan sama persis dengan
pun. Kecuali dinyatakan lain, ia berupa
pembuatan wine atau minuman keras yang
bahan yang dikeringkan. Simplisia terdiri
berasal dari anggur. Dalam minuman ini
dari dua jenis, yakni simplisia nabati dan
juga ditambahkan ramuan-ramuan lain yang
hewani. Keduanya merupakan bagian utuh,
dianggap berkhasiat bagi kesehatan.
bagian, atau eksudat dari masing-masing
5. Penggunaan senyawa-senyawa kimia
tumbuhan atau hewan dan bukan merupakan
senyawa
sintetik dalam jamu
Belakangan ini, sering terdengar razia
terhadap
produk
jamu
yang
ternyata
dicampur dengan senyawa-senyawa sintetik
kimia
menggunakan
kehalalan
murni.Jika
simplisia
menjadi
hewan,
terkait
jamu
tentu
dengan
penyembelihan hewan tersebut
obat di dalamnya. Hal ini bertentangan
dengan ketentuan tentang definisi jamu.
Keberadaan
senyawa-senyawa
kimia
di
dalamnya berbahaya karena interaksinya
dengan bahan lain dan efeknya terhadap
B. Faktor – Faktor Penentu Omzet
Penjualan
1. Wirausaha
Pada
umumnya
masyarakat
tubuh tidak dianalisis secara akurat.
menganggap wirausaha sinonim dengan
6. Tanggal kadaluwarsa jamu
pengusaha. Pengusaha yang hebat berarti
Kebanyakan produk jamu rumahan,
tanggal
kadaluwarsanya
sering
wirausaha yang hebat , yang unggul.
tidak
Anggapan itu banyak benarnya namun untuk
dicantumkan. Padahal jamu tetap memiliki
keperluan pembinaan dan pengembangan
masa pakai. Simplisia dalam jamu bisa
yang sistematis, operasional dan berjenjang,
30
ada baiknya digunakan pengertian yang
Sumber dana yang mencukupi (money); (c)
lebih tajam.
Peralatan dan mesin yang tepat guna
Pekerja
bebas,
pengusaha
dan
(machine); (d) Cara kerja yang efektif
wirausaha kesemuanya adalah orang-orang
(methods); (e) Pasar dan langganan yang
yang terlibat langsung dalam kegiatan usaha
setia (markets).
(bisnis). Pekerja bebas adalah orang yang
Man atau manusia adalah unsur utama
melakukan suatu usaha yang mandiri atau
dari suatu perusahaan, haruslah mampu
tanpa majikan akan tetapi tidak berorientasi
mengelola usaha yang dijalankannya. Unsur
untuk memperoleh keuntungan. Bila pekerja
permodalan,
bebas bekerja bersama-sama dalam suatu
pemasaran
ruangan maka koordinasinya yang biasanya
keberhasilan
adalah pemasok modal utama bukan sekedar
Pengusaha
pekerja bebas, tetapi pengusaha, karena
dikualifikasikan
disitu telah berlangsung proses perusahaan.
Memiliki rasa percaya diri atau sikap
Wirausaha dapat dipahami dari menguraikan
mandiri yang tinggi untuk berusaha mencari
istilah tersebut. Wira berarti utama, gagah,
penghasilan
luhur,
pejuang.
perusahaan; (b) Mau dan mampu menangkap
Sedangkan wirausaha berarti pejuang yang
peluang usaha yang menguntungkan; (c)
gagah, luhur, berani dan pantas menjadi
Mau dan mampu bekerja keras dan tekun
teladan dalam bidang usaha. Dengan kata
dalam menghasilkan barang dan jasa serta
lain wirausaha adalah orang-orang yang
mencoba cara kerja yang lebih tepat dan
mempunyai sifat kewirausahaan yaitu :
efisien; (d) Mau dan mampu berkomunikasi,
keberanian mengambil resiko, keutamaan,
tawar-menawar dan musyawarah dengan
kreatifitas dan keteladanan dalam menangani
berbagai pihak yang besar pengaruhnya pada
nusaha atau perusahaan dengan berpijak
kemajuan usahanya terutama para pembeli
pada kemauan dan kemampuan sendiri.
atau langganan; (e) Menghadapi hidup dan
Pada dasarnya suatu bentuk usaha jasa atau
menangani usaha dengan terencana, jujur,
barang
hemat dan disiplin; (f) Mencintai kegiatan
berani,
apapun
teladan,
baik
atau
itu
berbentuk
peralatan,
tidak
tata
dapat
cara
dan
perlepas
dari
sebuah
perusahaan
kecil.
yang
handal
dapat
sebagai
dan
(g)
berikut
keuntungan
Mau
dan
:
(a)
melalui
perusahaan mapuan home industri tidak
usahanya;
mampu
lepas dari unsur manajemen yaitu : (a)
meningkatkan kapasitas diri sendiri dan
Sumber daya manusia yang baik (man); (b)
kapasitas perusahaandengan memanfaatkan
31
dan memotivasi orang lain; (h) Berusaha
pentingnya hubungan antara membangun
mengenal dan mengendalikan lingkungan
relasi dan mengirimkan jasa ke pelanggan
serta
dan kinerja keuangan perusahaan. Tiga isu
menggalang
kerjasama
yang
menguntungkan dengan berbagai pihak.
penting tentang strategi bisnis yaitu
a.
2. Strategi Bisnis
Strategi
Siapa : Menentukan pelanggan yang
akan dilayani
bisnis
adalah
serangkaian
Pelanggan
dapat
dibagi
menjadi
komitmendan tindakan yang terintegrasi dan
kelompok-kelompok berdasarkan perbedaan
terkoordinasi,
untuk
dalam kebutuhan mereka. Disebut sebagai
menyediakan nilai kepada para pelanggan
segmentasi pasar, ini merupakan suatu
dan mendapatkan keunggulan kompetitif
proses
dengan
kompetensi-
dengan kebutuhanyang sama dikelompokkan
kompetensi inti dari pasar produk individual
kedalam individu dan kelompok yang dapat
dan
Jadi
diidentifikasi. Segmentasi pasar merupakan
keyakinan
proses dua langkah dalam menamakan pasar
perusahaan tentang dimana dan bagaimana
produk yang luas dan mensegmentasikan
ia
dibandingkan
mereka untuk memilik pasar sasaran dan
dengan lawan-lawannya. Berkaitan dengan
mengembangkan bauran pemasaran yang
lingkungan
dan
cocok. Hampir setiap cirri manusia dan
interaksi yang dimiliki perusahaan maka
organisasi yang dapat diidentifikasi bias
sudah
karyawan
digunakan untuk membagi suatu pasar
memahami apa yang menjadi keunggulan
kedalam bsegmen-segmen yang berbeda satu
perusahaan. Pertanyaan-pertanyaan tentang
sama lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi
strategi perusahaan dimasa dating dan
segmentasi pelanggan misalnya : (i) faktor
keunggulan
menjadi
demografis (usia, pendapatan, seks dll); (ii)
dasarnya harus dipecahkan dengan cepat
faktor sosiodemografis (kelas social, tahap
untuk
dalam siklus hisup berkeluarga); (iii) faktor
yang
mengeksploitasi
spesifik
strategi
dirancang
(Thomson.2001:151).
bisnis
memiliki
merefleksikan
keunggulan
persainagn
selayaknya
perusahaan
semua
kompetitif
yang
memungkinkan
dilakukannya
tindakan-tindakan strategis yang efektif.
dimana
melaluinya
orang-orang
geografis (perbedaan kultural, regional dan
Para pelanggan adalah dasar dari
nasional); (iv) faktor psikologis (gaya hidup,
keberhasilan strategi bisnis. Perusahaan
cirri-ciri kepribadian); (v) faktor persepsi
perusahaan
(segmentasi manfaat, pemetaan persepsi).
terus
menerus
menekankan
32
b. Apa : menentukan kebutuhan pelanggan
yang ingin dipuaskan
pesaing dengan ciri-ciri yang dapat diterima
para pelanggan. Implementasi yang efektif
Ketika sebuah perusahaan memutuskan
dari
strategi
kepemimpinan
biaya
ini
siapa yang akan ia layani, ia harus secara
memungkinkan perusahaan menghasilkan
bersamaan
laba di atas rata-rata selain adanya faktor-
mengidentifikasi
kebutuhan
kelompok pelanggan sasaran yang dapat
faktor kompetitif yang kuat seperti berikut.
dipuaskan oleh barang dan jasanya. Suatu
Pertama,
persaingan
dengan
para
keunggulan kompetitif tambahan meningkat
pesaing yang sudah ada. Memiliki posisi
bagi mperusahaan-perusahaan yang mampu
biaya rendah merupakan pertahanan yang
mengantisipasi dan kemudian memuaskan
berharga dalam menghadapi para pesaing,
kebutuhan yang sebelumnya tidak diketahui
karena posisi yang menguntungkan sebagai
oleh pelanggan. Kemampuan yang secara
pemimpin biaya, para pesaing akan ragu
positif dan kontinu memberi kejutan pada
dengan basis harga.
para
pelanggannya
memungkinkan
Kedua,
kekuatan
perusahaan itu menghasilkan laba rata-rata
pembeli
karena selalu menciptakan kembali dirinya
berkuasa dapat mendesak pemimpin biaya
dari waktu ke waktu.
untuk
c. Bagaimana : Menentukan kompetensi
harga tersebut tidak akan didesak sampai
inti yang diperlukan untuk memuaskan
ketingkat harga dimana pesaing industri
kebutuhan pelanggan
lainnya dapat menghasilkan laba-di atas rata-
Perusahaan menggunakan kompetensikompetensi
intinya
untuk
menerapkan
(pelanggan).
tawar-menawar
mengurangi
Pelanggan
harga-harganya,
yang
tapi
rata.
Ketiga,
kekuatan
tawar
menawar
strategi penciptaan-nilai dan memuaskan
suplier. Pemimpin biaya beroperasi dengan
kebutuhan pelanggan.
margin
yang
lebih
besar
dari
para
pesaingnya. Diantara banyak keuntungan,
3. Tipe-tipe Strategi Bisnis
margin lebih tinggi yang relatif dengan
a. Strategi kepemimpinan biaya
margin
Strategi kepemimpinan biaya adalah
serangkaian
dirancang
tindakan
untuk
integratif
yang
memproduksi
atau
para
pesaing
memungkinkan
pemimpin biaya untuk menerapkan kenaikan
harga suplier. Dengan cara laian, pemimpin
biaya yang kuat dapat mndesak para suplier
mengirimkan barang-barang atau jasa pada
biaya paling rendah, relatif terhadap para
33
untuk menahan harga mereka, mengurangi
dalam hal-hal yang penting bagi mereka.
margin mereka dalam proses tersebut.
Dengan strategi diferensiasi, atribut dan
Keempat, peserta potensial. Melalui
karakteristik unik produk perusahaan (selain
usaha yang terus menerus untuk mengurangi
biaya) memberikan nilai bagi pelanggan.
biaya ketingkat yang lebih rendah dari para
Strategi ini memusatkan diri pada investasi
pesaingnya, pemimpin biaya menjadi sangat
dan pengembangan ciri yang terus menerus
efisien.
dan
Karena
mereka
meningkatkan
bukan
fokus
pada
biaya,
yang
margin laba, tingkat efisien yang selalu
membedakan barang dan jasanya dalam hal
diperbaiki ini menjadi halangan masuk yang
yang dihargai oleh pelanggan, yaitu sebagai
signifikan bagi peserta bisnis yang potensial.
berikut.
Margin laba pemimpin biaya yang rendah
mengharuskan
pemimpin
biaya
untuk
Pertama,
pesaing
persaingan
yang
sudah
dengan
ada.
para
Pelanggan
menjual produknya dalam volume yang
cenderung menjadi pembeli yang setia
lebih besar untuk mendapatkan laba di atas
terhadap produk yang didiferensiasi dengan
rata-rata.
cara-cara yang bermakna bagi mereka.
Kelima, Produksi pengganti. Ketika
Ketika
kesetiaan
mereka
pada
barang
dihadapkan dengan kemungkinan substitusi,
meningkat, kepekaan pelanggan terhadap
pemimpin biaya lebih memiliki fleksibilitas
kenaikan harga berkurang.
dari para pesaingnya. Untuk mmpertahankan
Kedua, kekuatan tawar-menawar pembeli
para pelanggannya, pemimpin biaya dapat
(pelanggan). Keunikan diferensiasi barang
mengurangi harga barang atau jasanya.
dan jasa mengisolasi suatu perusahaan dari
Tetap dengan harga yang lebih rendah dan
persaingan
kualitas yang dapat diterima, pemimpin
kepekaan
biaya
harga.
meningkatkan
kemungkinan
pelanggan akan memilih produknya daripada
kompetitif
pelanggan
Ketiga,
dan
terhadap
kekuatan
kenaikan
tawar-menawar
produk pengganti.
suplier.
b. Strategi diferensiasi
mengimplementasikan strategi diferensiasi
Strategi
perusahaan
yang
adalah
membebankan harga premium untuk produk
yang
produknya, suplier harus memasok bahan-
dirancang untuk memproduksi barang atau
bahan yan berkualias tinggi. Adapun biaya
jasa yang dianggap para pelanggan berbeda
suplier yang relatif tinggi dibebankan pada
serangkaian
diferensiasi
Karena
mengurangi
tindakan
integratif
34
biaya tambahan perlengkapan ke pelanggan
pemberian hadiah sering mempengaruhi
dengan
penjualan. Dalam hal ini diperlukan dana
menaikkan
harga
dari
produk
uniknya.
yang tidak sedikit. Dalam bentuk promosi
Keempat, Peserta potensial. Loyalitas
pelanggan
mengatasi
dan
kebutuhannya
keunikan
produk
untuk
diferensial
merupakan hambatan yang substansial bagi
masuknyan
peserta
bisnis
potensial.
Memasuki suatu industri dengan kondisi
seperti ini menuntut investasi sumberdaya
dengan kemasan yang menarik bagi pembeli.
Ketiga, Harga yang terjangkau, pemberian
pelayanan
dan
tempat
penjualan
yang
strategis.
KESIMPULAN
Produk jamu banyak diminati semua
yang signifikan dan kemauan untuk bersabar
kalangan
mencari loyalitas pelanggan.
pengganti pengobatan non medis yang lebih
Kelima, Produk pengganti. Perusaan-
masyarakat,
sebagai
produk
murah dan terjangkau harganya. Namun
perusahaan yang menjual barang dan jasa
dalam
bermerek pada pelnggan
memperhatikan faktor-faktor seperti konsep
yang loyal
pengelolaan
bisnis
jamu
harus
dalam
wirausaha, konsep strategi bisnis, strategi
substitusi.
diferensiasi produk. Disamping itu tempat
Sebaliknya, perusahaan yang tidak meiliki
yang strategis sangat dibutuhkan konsumen
loyalitas merek lebih tunduk pada pelanggan
untuk mudah memperoleh produk jamu yang
yang biasanya mereka akan beralih produk
tetap higienis dikonsumsi.
memiliki
posisi
menghadapi
yang
efektif
produk-produk
yang menawarkan bentu-bentuk diferensiasi
DAFTAR PUSTAKA
yang melayani fnsi yang sama.
C. Faktor – Faktor Lain (Swastha dan
Irawan : 1990)
Pertama,
Kondisi
organisasi
perusahaan. Pada perusahaan besar, biasanya
masalah penjualan ditangani oleh bagian
tersendiri (Bagian Penjualan) yang dipegang
orang-orang yang ahli dibidang penjualan.
Kedua, Faktor yang tidak kalah pentingnya
adalah : periklanan, peragaan, kampanye,
Darwin
Bangun,
1989,
Manajemen
Perusahaaan, Dep. P & K, Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan, Jakarta.
Geofferey
G.
Meredith,
1992,
Kewirausahaan Teori dan Praktek, PT.
Pustaka Binawan Pressindo.
Gilarso T. 1992, Ilmu Ekonomi Bagian
Makro, Yogyaakrta, Kanisius
http://www.geocities.com/jamuherbacure/Ja
mu.htm
35
http://id.wikipedia.org/wiki/Gula#Pembuata
n_gula
Indriyo Gitosudarmo, 1996, Pengantar
Bisnis, Edisi 2, BPFE, Yogyakarta
LPPM, 1996, Manajemen Umum, Modul 1
Proses
Manajemen,
Pendidikan
Manajemen Multi Media, Jakarta
Kompas. 9 Oktober 2004. Jamu Gendong
Bertahan Ditengah Himpitan Industri
Marbum,
B.N.
1996,
Manajemen
Perusahaan Kecil, PT. Pustaka
Binaman Presendo, Jakarta.
________16 Juli 2007. Industri Kecil.
Konsumsi Jamu Tardisional Terus
Alami Peningkatan
Michael A. Hitt., dkk, 2001. Manajemen
Strategi Daya saing dan Globalisasi.
Jakarta. Salemba Jakarta
________ 27 Juli 2007. Industri Jamu
Indonesia hadapi Tantangan Besar
Tarsi Tarmudji, Manajemen Bisnis, Liberty,
Yogyakarta
________ 3 Agustus 2007. Obat-obatan.
Penjualan Jamu Turun
Wisnu Giyono. 2002. Jiwa Wirausaha
Penduduk Desa Tertinggal di DIY.
Laporan Penelitian. Yogyakarta :
Akpar Buana Wisata
36
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN KELUARGA
DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) MELALUI PENDAMPINGAN
KADER PAUD DESA SUMBERSARI, MOYUDAN, SLEMAN, YOGYAKARTA
Sri Muliati Abdullah
Rahma Widyana
Kamsih Astuti
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta
ABSTRACT
The center of early childhood education (ECE) is the right of organizational community to be the
center of early childhood stimulation activities. ECE will be able to have an optimal role when
supported by adequate resources both human resources, financial resources and educational
facilities. Given the importance of early childhood education as a place of early learning for the
next generation, the SCT team was moved to take part in coaching and mentoring in early
childhood education. The purpose of the activities is to educate, to train, and to assist trainers of
early childhood education, became a pilot group in early childhood education in Sumbersari.
Then this group stimulates the formation of new ECE in the village, to educate the cadres of the
PKK in early childhood education, giving direction in the administration of early childhood
education, to empower communities, build awareness and increase of community participation in
early childhood education programs. Group partners are four nonformal groups of early
childhood education under PKK Sumbersari guidance that will be a pilot and nine pioneering
groups of early childhood education will be initiated its establishment. The method for the
application of science and technology are: (a) Education and training for trainers of early
childhood childhood education, about Early Childhood Development, Education and early
childhood learning, and socialization and community empowerment and (b) Assistance pilot
trainer to provide guidance for the others PKK cadres to initiated the establishment of early
childhood education. The implementation of this community service for 3 months. Outcomes from
these activities is a pilot group on early childhood education that stimulates the formation of
another group of early childhood education in the village Sumbersari. At the end of activities, all
of dukuh in the village Sumbersari (13 dukuh) has been established early childhood education,
this means that each dukuh in the village Sumbersari already has a group of early childhood
education providers.
Keywords: early childhood group, the PKK cadres Sumbersari Village, education, training,
mentoring.
37
Pendahuluan
Desa Sumbersari memiliki wilayah
seluas 546.000,5 Ha, dengan jarak 3 km dari
pusat kecamatan Moyudan, 15 km dari pusat
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih
lanjut.”
Permasalahan Mitra
Kabupaten Sleman, dan 12 km dari pusat
propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa
ini terdiri dari 13 dusun yaitu Dusun
Tegalrejo, Klisat, Nasri, Semingin, Tumut,
Menulis,
Tiwir,
Blendung,
Bendosari,
Ngaglik, Gesikan, Nglahar, dan Sombangan.
Berdasarkan data penduduk per Desember
2008, jumlah penduduk berusia 0-6 tahun
sebanyak 579 jiwa. Menyikapi hal ini, mulai
tahun 2007, PKK desa Sumbersari merintis
pendirian lembaga Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) jalur nonformal sebagai upaya
penumbuhan dan pengembangan anak usia
dini khususnya yang berusia praTK. PAUD
Dalam perjalanan selama hampir 2
tahun,
PAUD
desa
Sumbersari
telah
menunjukkan suatu kemajuan. Namun tidak
dapat disangkal, kendala atau hambatan juga
banyak dialami. Berdasarkan hasil focus
group discussion (FGD) yang dilakukan tim
pengusul proposal dengan para kader PKK
desa dan kader PAUD dari 4 dusun pada
tanggal 21 Mei 2009, diperoleh data
permasalahan
yang dapat
dikategorikan
menjadi dua yaitu permasalahan pengelolaan
PAUD dan permasalahan masyarakat.
1. Permasalahan pengelolaan oleh Kader
ini menerima peserta didik usia 2 sampai 5
PAUD, meliputi:
tahun. Diharapkan setelah anak mengikuti
a. Penyelenggaraan
PAUD
PAUD ini dapat siap masuk sekolah Taman
melingkupi
Kanak-Kanak. Tujuan didirikannya lembaga
Sumbersari. Baru 4 dari 13 dusun yang
PAUD ini sesuai dengan isi UU no. 20 tahun
berinisiatif menyelenggarakan PAUD.
2003, pasal 1, butir 14 yaitu seperti berikut:
Kesadaran perangkat dusun, khususnya
“Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
adalah “suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak lahir sampai
dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan
jasmani dan rohani agar anak memiliki
seluruh
dusun
belum
desa
kader PKK dari 9 dusun yang lain untuk
memberi
pelayanan
PAUD,
perlu
dimunculkan.
b.Kegiatan PAUD di 4 dusun belum dapat
dilaksanakan sesuai jadwal. Hal ini
terkait dengan jumlah pendidik yang
sangat terbatas. Ketika pendidik sedang
38
mempunyai
kesibukan
bekerja
atau
mempunyai acara keluarga, mereka tidak
masuk. Bahkan ketika semua pendidik
saat
itu
berhalangan
hadir,
PAUD
memenuhi
pengetahuan
mereka
tentang kurikulum.
e. Terbatasnya kondisi tempat kegiatan,
ruang dan alat untuk belajar, ruang
diliburkan. Hal ini menimbulkan kendala
bermain
dalam rutinitas penyelenggaraan PAUD.
permainan edukatif dirasakan pula
c. Kualifikasi tingkat pendidikan dan
sebagai
latar
belakang
pendidik
PAUD
memenuhi
ideal
pendidikan
yang
persyaratan.
pendidik PAUD
para
kurang
Ketentuan
minimnya
kendala
proses
alat
belajar
mengajar.
2. Permasalahan masyarakat, meliputi:
a. Masyarakat
dari
4
dusun
yang
S1
mempunyai PAUD (Dusun Menulis,
PAUD. Para pendidik PAUD belum
Blendung, Tiwir, dan Nglahar) belum
ada
seluruhnya
yang
adalah
serta
memenuhi
ketentuan
aktif
mengikutsertakan
tersebut. Hanya pendidik PAUD dusun
anaknya mengikuti kegiatan PAUD.
Blendung
yang tingkat
dan latar
Kalaupun
belakang
pendidikannya
mendekati
seluruhnya aktif mengantar anaknya
ideal.
d. Kurang
telah
terdaftar
belum
sesuai jadwal hari kegiatan PAUD.
terpenuhinya
persyaratan
Ketika orangtua sedang mempunyai
kualifikasi tingkat pendidikan dan latar
kesibukan, anak tidak diantar ke
belakang pendidikan para pendidik
PAUD. Bahkan di Kelompok Bermain
PAUD,
PAUD dusun Nglahar, jumlah anak
kebutuhan
menyebabkan
untuk
besarnya
mengetahui
dan
mengembangkan kurikulum. Meskipun
rambu-rambu
kurikulum
dari
berkurang cukup banyak.
b. Partisipasi masyarakat untuk terlibat
sebagai
pendidikan
PAUD
masih
pemerintah telah ada, namun pendidik
rendah. Hal ini dikarenakan pekerjaan
merasakan banyak keterbatasan dalam
sebagai pendidik PAUD merupakan
mengembangkan
pekerjaan sosial / sukarela (tidak ada
Sebenarnya
para
kurikulum.
pendidik
telah
imbalan gaji), sehinggahanya sedikit
mengikuti beberapa pelatihan tentang
yang
bersedia
PAUD, namun dirasakan cukup untuk
pendidik PAUD.
bergabung
sebagai
39
Gambaran Ipteks yang ditransfer pada mitra:
PENDAMPINGAN INTEGRATIF
(khususnya untuk kelompok PAUD percontohan)
o
o
o
o
Permasalahan
PAUD tingkat
dusun di Desa
Sumbersari
o
o
o
o
Peningkatan pengetahuan tentang
perkembangan anak usia dini pada
kader PAUD dgn pendidikan &
pelatihan :
Perkembangan anak usia dini
Permasalahan perkembangan anak usia dini
Deteksi dini terhadap penyimpangan
perkembangan anak usia dini
Dinamika keluarga dlm mewujudkan
pengasuhan yang ideal untuk anak usia dini
Kelompok PAUD
percontohan
dgn
pengetahuan
dan
ketrampilan yang diperoleh dari
pendampingan
TIM
dapat
melakukan
penberdayaan
masyarakat
Transfer metode pendidikan anak usia
dini:
teknik stimulasi dan pendidikan anak usia
dini
sosialisasi dan pengayaan kurikulum PAUD
penyelenggaraan wadah pendidikan anak
usia dini yang ideal di PAUD tingkat dusun
metode pendidikan pada keluarga tentang
PAUD
 membangun kesadaran kader
PKK dusun untuk merintis
PAUD
 memberikan
contoh
dan
arahan
tentang
penyelenggaraan PAUD
 mengedukasi masyarakat ttg
PAUD
 meningkatkan partisipasi aktif
masyarakat dalam program
PAUD
Transfer
metode
pemberdayaan
masyarakat yg efektif :
o Strategi pelibatan partisipasi masyarakat
dalam PAUD (peningkatan kesadaran
masyarakat tentang pentingnya PAUD)
o Strategi keterpaduan PAUD di seluruh dusun
di desa Sumbersari
o Strategi koordinasi, monitoring dan evaluasi
oleh PKK-PAUD tingkat desa
LUARAN :
PAUD percontohan dapat
menstimulasi terbentuknya
PAUD-PAUD lain di desa
Sumbersari
a. Perkembangan anak usia dini, meliputi:
Metode Penerapan IPTEKS
Perkembangan
Berdasarkan identifikasi permasalahan di
atas, tim dan mitra menetapkan metode
penerapan ipteks yakni :
1. Peningkatan
pengetahuan
ketrampilan melalui pendidikan dan
pelatihan, khususnya pada kader dari 4
PAUD. Secara rinci, materi pelatihan
usia
dini,
Permasalahan perkembangan anak usia
dini,
deteksi
penyimpangan
dan
anak
dini
terhadap
perkembangan
anak
usia dini dan dinamika keluarga dalam
mewujudkan pengasuhan yang ideal
untuk anak usia dini Pendidikan dan
pembelajaran anak usiagaraan, wadah
kader PAUD adalah sebagai berikut.
40
pendidikan anak usia dini yang ideal di
berdirinya PAUD. Pendampingan ini
PAUD tingkat dusun;
dilakukan setelah kelompok PAUD di
b. Metode pendidikan dan pemberdayaan
masyarakat,
meliputi:
Dusun Menulis, Blendung, Nglahar, dan
Strategi
Tiwir diberi pendidikan dan pelatihan
pelibatan partisipasi masyarakat dalam
oleh Tim. Keempat PAUD ini (PAUD
PAUD
percontohan)
(peningkatan
masyarakat
kesadaran
tentang
pentingnya
IbM
dengan didampingi Tim
melakukan
sosialisasi
dan
PAUD); Strategi keterpaduan PAUD
memberikan motivasi
penyelenggaraan di seluruh dusun di
PKK di dusun lain untuk merintis
desa Sumbersari; Strategi koordinasi,
penyelenggarakan PAUD. Selanjutnya
monitoring dan evaluasi oleh PAUD
tim akan memberikan pendampingan
desa terhadap PAUD dusun.
pada mitra dalam proses perintisan
2. Pendampingan kader PAUD percontohan
PAUD
di
pada kelompok
dusun
lain.
untuk melakukan pendampingan pada
kader PKK dari dusun yang belum
memiliki
PAUD
untuk
merintis
Adapun tahapan pemberdayaan masyarakat
Kajian Teoritis Penerapan Ipteks
meliputi :
Pemberdayaan masyarakat merupakan
upaya yang disengaja untuk memfasilitasi
masyarakat
lokal
dalam
merencanakan,
memutuskan dan mengelola sumberdaya
lokal yang dimiliki sehingga pada akhirnya
mereka
memiliki
kemampuan
dan
kemandirian (Subejo dan Supriyanto, 2004).
Pemberdayaan masyarakat bertujuan agar
kelompok
sasaran
dapat
menggalang
berbagai potensi yang ada dalam dirinya
dan memanfaatkan potensi yg dimiliki untuk
mengatasi
permasalahan
yg
dihadapi.
Tahap 1, pengembangan konsep sesuai
dengan
tujuan
dan
sasaran
program
berdasarkan hasil community needs analysis;
bersamaan
dengan
mengikut-sertakan
tahap
ini
adalah
(melibatkan
peran
komunitas/masyarakat) atau yang lazim
disebut dengan Involve.
Tahap 2, mensosialisasikan program
kepada seluruh komunitas, agar mereka
merasa memiliki program sekaligus ikut
bertanggungjawab terhadap pelaksanaan dan
keberhasilan program.
41
Tahap
3,
Proses
pemberdayaan
berasal
dari
luar
komunitas,
program
masyarakat, yaitu : (a) Pengembangan
pemberdayaan akan diikuti dengan terminasi
kelompok, (b) Penyusunan rencana dan
atau disengagement, sedangkan bila agen
pelaksanaan kegiatan, (c) Monitoring dan
pemberdaya berasal dari internal komunitas
evaluasi partisipatif .
pemberdayaan akan lebih diarahkan pada
Tahap 4, Pemandirian Masyarakat.
proses pemberdayaan yang berkelanjutan.
Pembahasan pemberdayaan sebagai program
Pemberdayaan dilakukan mulai dari level
dan sebagai suatu proses terkait erat dengan
psikologis-personal-masyarakat :
posisi
agen
Apabila
pemberdayaan
masyarakat.
pemberdaya
masyarakat
agen
Level
Psikologis
Personal
Mengembangkan pengetahuan, wawasan,
kompetensi, motivasi, kreasi, dan kontrol diri.
Masyarakat
Menumbuhkan rasa memiliki, gotong rotong, mutual trust, kemitraan,
kebersamaan, solidaritas sosial dan visi kolektif masyarakat.
Pendekatan yang digunakan dalam
harga
diri,
kemampuan,
mengemukakan keinginannya, agar dapat
ini
menolong dirinya sendiri. Pendekatan ini
help.
menempatkan pihak luar sebagai pendorong
Cooperative self help adalah pendekatan
timbulnya kebutuhan masyarakat, sebagai
yang
kegiatan
adalah
pemberdayaan
melalui
masyarakat
cooperative
self
kerjasama
dalam
pihak
sukarela,
saling
masyarakat, dan sebagai pihak yang tidak
membantu untuk mengatasi masalahnya
memaksakan keinginannya pada masyarakat.
sendiri,
Secara
mengutamakan
masyarakat
dan
secara
memanfaatkan
kelompok-
yang
menanggapi
rinci
prosedur
kebutuhan
pelaksanaan
kelompok masyarakat setempat. Pendekatan
pemberdayaan masyarakat adalah sebagai
ini
berikut : (a) pemaparan masalah PAUD oleh
merupakan
upaya
pengembangan
masyarakat yang dimulai dari bawah tanpa
kader
PAUD;
(b)
Identifkasi
melibatkan secara langsung pihak luar dalam
penyelenggaraan kegiatan PAUD yang telah
pelaksanaannya. Pendekatan cooperative self
dilakukan oleh kader PKK dusun yang
help memberi kesempatan masyarakat untuk
dikoordinir oleh kader PKK desa; (c) Kontak
42
dengan tim ahli, terdiri dari dua kegiatan
orang dewasa harus diarahkan dari berpusat
yaitu pelatihan kader dan konsultasi kader.
pada bahan pengajaran kepada pemecahan-
Dengan
pemecahan masalah; (e) Motivasi belajar
demikian
akan
terjadi
alih
pengetahuan ttg PAUD dari tim ahli kepada
orang
kader; (d) Diseminasi pengetahuan ttg
pemberian pujian dan hukuman kepada
PAUD oleh kader percontohan kepada kader
dorongan dari dalam diri sendiri serta karena
PAUD rintisan.
rasa ingin tahu; (f) Peer teaching..
Upaya peningkatan pengetahuan mitra
IbM melalui metode pendidikan pelatihan,
dewasa
Dalam
harus
teori
diarahkan
pembelajaran
dewasa menyebutkan bahwa
dari
orang
orang-orang
menggunakan konsep Andragogi. Andragogi
dewasa itu akan membawa pengalaman dan
berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani,
keahliannya ke lingkungan belajar. Dengan
yakni Andra berarti orang dewasa dan
memberi kesempatan pada mereka untuk
agogos
menggambarkan
berarti
memimpin.
Perdefinisi
dan
membagikan
andragogi kemudian dirumuskan sebagau
pengalaman mereka dalam kelompok, bisa
"Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang
menguatkan partisipan untuk melakukan.
dewasa belajar" (Craig, 1987). Knowles
(dalam Craig, 1987), memiliki asumsi
sebagai berikut: (a) Orang dewasa perlu
dibina untuk mengalami perubahan dari
kebergantungan kepada pengajar kepada
kemandirian dalam belajar. Orang dewasa
mampu mengarahkan dirinya mempelajari
sesuai kebutuhannya; (b) Pengalaman orang
dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di
dalam kegiatan belajar untuk memperkaya
dirinya dan sesamanya; (c) Kesiapan belajar
orang dewasa bertumbuh dan berkembang
terkait dengan tugas, tanggung jawab dan
HASIL
PELAKSANAAN
DAN
PEMBAHASAN
1. Pendampingan PAUD percontohan di
4 pedukuhan Desa Sumbersari
Tim
Pengabdian
IbM
melaksanakan
pendampingan
empat
yang
PAUD
telah
terhadap
diharapkan
dapat
menjadi PAUD percontohan dan melakukan
pendampingan bagi sembilan PAUD lain
yang belum memiliki PAUD. Keempat
PAUD tersebut dapat dilihat dalam Tabel
berikut.
masalah kehidupannya; (d) Orientasi belajar
43
Tabel 1. Daftar PAUD Percontohan
NO.
1
2
3
4
NAMA PAUD
PAUD Mekarsari
PAUD Bhakti Siwi
PAUD Arumsari
PAUD Mekarsari
DUKUH
Menulis
Tiwir
Nglahar
Blendung
Deskripsi hasil evaluasi kelayakan PAUD di 4 (empat) dukuh setiap aspek diuraikan dalam Tabel 2.
a. Tempat belajar
Tabel 2.Deskripsi Aspek Tempat Belajar di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI
DUKUH
DESKRIPSI
Menulis
Ruangan berukuran 5 x 5 m, cukup memadai. Tanah milik bersama dari desa,
lahan dan permainan outdoor digunakan bersama dengan TK
Tiwir
Ruangan berukuran 7 x 4 m, cukup memadai tapi kurang leluasa untuk gerak anak
24 orang, tempat bermain cukup luas
Blendung
Ruangan berukuran 4 x 9 m, kurang leluasa untuk menampung 32 siswa, tempat
bermain outdoor juga kurang luas (kurang lebih 2x9 meter)
Nglahar
Ruangan berukuran 5 x 7 m, memadai untuk tempat belajar 12 siswa, tempat
bermain outdoor cukup luas
b. Alat Pembelajaran
Tabel 3. Deskripsi Aspek Alat Pembelajaran di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI DUKUH
Menulis
Tiwir
Blendung
Nglahar
DESKRIPSI
 Alat permainan edukatif cukup memadai , sebagian sudah berumur lama
 Alat penunjang proses belajar cukup memadai, dan lengkap, lemari, loker,
meja kursi cukup.
 Alat makan memadai, bahan plastik dan ketersediaan cukup
 Alat permainan edukatif relatif masih sedikit, kurang memenuhi untuk
jumlah siswa yang ada.
 Alat penunjang proses belajar relatif masih minimal dan seadanya, meja
kursi cukup untuk jumlah anak, tetapi belum memiliki loker untuk tempat
dan mainan dan tas anak
 Alat makan memadai, aman dan ketersediaan cukup
 Alat permainan edukatif memadai dan cukup lengkap tapi jumlah belum
sesuai dengan kebutuhan siswa.
 Alat penunjang proses belajar cukup memadai, tersedia dalam jumlah
cukup. Papan tulis belum ada, loker mainan kurang, loker tas belum ada.
 tersedia memadai, sesuai dengan jumlah siswa.
 Alat permainan edukatif cukup memadai tapi variasi masih kurang, tapi
PAUD ini cenderung memanfaatkan materi dari alam (misalnya daun,
dsb).
 Alat penunjang proses belajar cukup memadai, tersedia meja kursi, namun
belum ada papan tulis, loker tas masih jadi satu dengan loker mainan
 Alat makan memadai, aman dan ketersediaan cukup
44
c. Pengelolaan kelas
Tabel 4. Deskripsi Aspek Pengelolaan Kelas di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI
DUKUH
DESKRIPSI
PENILAIAN
Menulis
Metode pembelajaran cukup bervariasi dan menarik. Kelas
dibedakan atas 3 kelompok (kelompok 2 tahun, 3 tahun dan 4
tahun), pembelajaran diberikan berdasarkan usia
Baik
Tiwir
Metode pembelajaran menyenangkan, usia 2 – 4 tahun dijadikan
satu kelas, namun pendekatan dilakukan sesuai dengan kebutuhan
Baik
Blendung
Metode mengajar cukup menarik dan bervariasi, hal ini didukung
dengan relatif intens para guru mengikuti pelatihan PAUD
Baik
Nglahar
Metode mengajar cukup menarik, anakdapat konsentrasi dan
memperhatikan. Pendekatan terhadap perilaku anak sesuai dengan
kebutuhan anak
Baik
d. Pengajar
Tabel 5. Deskripsi Aspek Pengajar di PAUD Rintisan Percontohan
Jumlah pengajar dan
siswa
Pengajar
Siswa
5
17
4
24
4
33
3
12
PAUD DI
DUKUH
Menulis
Tiwir
Blendung
Nglahar
Pendidikan
S1
0
0
1
0
SMA/SPG
5
3
2
3
Penilaian
SMP
0
1
1
0
Memadai
Sedang
Sedang
Memadai
e. Administratif
Tabel 6. Deskripsi Aspek Administrasi di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI
DUKUH
DESKRIPSI
Menulis
Buku administrasi sekolah telah lengkap
Tiwir
Buku administrasi seperti buku induk, buku kegiatan pembelajaran, buku keuangan
dan buku tamu sudah ada, hanya saja belum memiliki buku pemantauan
perkembangan siswa dan buku kegiatan pembelajaran masih sangat umum, belum
dibuat rutin harian
Blendung
Buku administrasi sekolah telah lengkap
Nglahar
Buku administrasi sekolah telah lengkap
45
f. Kurikulum
Tabel 7. Deskripsi Aspek Kurikulum di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI
DUKUH
DESKRIPSI
Menulis
Mengacu pada menu generik PAUD, Satuan pembelajaran sudah disusun dan
direalisasikan.
Tiwir
Mengacu pada menu generik PAUD, sudah ada satuan pembelajaran harian
Blendung
Mengacu pada menu generik PAUD, sudah ada satuan pembelajaran harian
Nglahar
Mengacu pada menu generik kelompok A, SAP direncanakan bersama oleh guru,
tapi belum dibuat secara tertulis
g. Jadwal Akademik
Tabel 8. Deskripsi Aspek Jadual Akademik di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI
DUKUH
Menulis
Tiwir
Blendung
Nglahar
DESKRIPSI








Jam belajar setiap hari kamis dan sabtu (jam 8.00-10.00).
Sudah ada jadual akademik
Pembelajaran dilaksanakan setiap rabu dan sabtu jam 8 - 10
Jadual sudah ada, tapi baru agenda mingguan dan bulanan (agenda/ satuan pembelajaran
harian belum ada)
Pembelajaran dilaksanakan setiap hari selasa dan kamis jam 8-10
Sudah memiliki jadual akademik
Pembelajaran dilaksanakan 4 x seminggu, yakni hari senin sampai dengan kamis jam 8 - 11
Sudah memiliki jadual akademik
h. Kegiatan evaluasi
Tabel 9. Deskripsi Aspek Kegiatan Evaluasi di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI
DESKRIPSI
DUKUH
Menulis
 Rapat rutin intra pengurus dilaksanakan usai mengajar
 Pertemuan rutin orang tua- pendidik dilaksanakan 1 bulan sekali dgn agenda kerja bakti atau
membahas masalah anak
 Terima raport dilaksanakan setiap 6 bulan sekali
Tiwir
 Rapat rutin intra pengurus telah dilaksanakan
 Pertemuan rutin orang tua- pendidik belum rutin dilaksanakan, dilaksanakan hanya pada saat
ada hal yang perlu dibicarakan bersama
 Terima raport dilaksanakan setiap 6 bulan sekali
Blendung  Rapat rutin intra pengurus telah dilaksanakan
 Pertemuan rutin orang tua- pendidik sudah rutin dilaksanakan
 Terima raport dilaksanakan setiap 6 bulan sekali
Nglahar
 Rapat rutin intra pengurus dilaksanakan setiap hari kamis membicarakan materi
pembelajaran
 Pertemuan rutin orang tua- pendidik sudah rutin dilaksanakan, parenting class dilaksanakan
setiap 3 bulan
 Terima raport dilaksanakan setiap 6 bulan sekali
46
i. Keterlibatan Orang Tua
Tabel 10. Deskripsi Aspek Keterlibatan Orang Tua di PAUD Rintisan Percontohan
PAUD DI
DUKUH
Menulis
DESKRIPSI
 Kehadiran anak mengikuti PAUD relatif rutin
 Saat jam belajar, sebagian besar siswa masih ditunggui orang tua walau di
luar kelas
 Kesadaran orang tua untuk datang pertemuan cukup baik.
 Kehadiran anak mengikuti PAUD relatif rutin dan semakin baik. Prosentase
kehadiran semakin meningkat
 Saat jam belajar, sebagian besar siswa masih ditunggui
 Kehadiran orang tua dalam pertemuan yang diselenggarakan sekolah cukup
baik
 Kehadiran anak mengikuti PAUD relatif rutin
 Saat jam belajar, sebagian besar siswa masih ditunggui orang tua
 Kehadiran orang tua dalam pertemuan yang diselenggarakan sekolah cukup
baik
 Kehadiran anak mengikuti PAUD relatif rutin
 Saat jam belajar, tidak ada siswa yang ditunggui siswa
 Kehadiran orang tua dalam pertemuan yang diselenggarakan sekolah cukup
baik
Tiwir
Blendung
Nglahar
2. Pendampingan perintisan pendirian
PAUD
di
9
pedukuhan
Desa
dilaksanakan
Nglahar).
Sembilan
dukuh
yang
didampingi meliputi: Sombangan, Tegalrejo,
Klisat, Nasri, Semingin, Tumut, Gesikan,
Sumbersari
Kegiatan
dan
selanjutnya
oleh
Tim
yang
IbM
telah
adalah
Bendosari dan Ngaglik.
Deskripsi
hasil
pendampingan
pendampingan untuk merintis berdirinya
perintisan berdirinya PAUD di sembilan
PAUD di sembilan dukuh yang ada di Desa
dukuh di Desa Sumber Sari dapat dilihat
Sumber
dalam Tabel 11.
Sari
dengan
melibatkan
para
pengurus PKK desa dan pelaksana PAUD
dari
empat dukuh yang telah memiliki
PAUD (dukuh Menulis, Blendung, Tiwir
47
Tabel 11. Tabel Deskripsi Hasil Pendampingan Perintisan PAUD Di 9 Dukuh
DUKUH
NAMA
PAUD
DESKRIPSI
Sombangan
Tunas
Bangsa
Pada saat pendampingan sekaligus dilakukan launching pembukaan
PAUD “Tunas Bangsa”. Pada saat pendampingan, pengurus telah
terbentuk, dengan pak dukuh sebagai pelindung/penasehat. Telah
terdaftar pula peserta didik PAUD. Buku-buku administratif telah dibuat
lengkap.
Tegalrejo
Melati
Selama sebulan sebelum pendampingan PAUD sudah berjalan satu
bulan sekali bersamaan dengan Posyandu. Pada saat pendampingan,
ditetapkan oleh pengurus PKK dihadiri pengurus PKK tingkat kelurahan
dan warga yang hadir ke depan diselenggarakan sebulan 2 kali
Klisat
Mekar Sari
Sebelum pendampingan, pembinaan anak usia dini dilakukan 2x sebulan
setelah pelayanan Posyandu. Setelah pendampingan, pengurus PAUD
terbentuk , kegiatan PAUD dilaksanakan seminggu sekali. Jumlah balita
yang terdata sebanyak 27 orang.
Nasri
Dahlia Indah
Saat pendampingan dilakukan pembentukan pengurus PAUD dipimpin
pak dukuh disaksikan oleh ibu-ibu yang mempunyai putra-putri usia
dini. Terbentuk pengurus PAUD. Kegitan dilaksanakan 1 minggu sekali.
Semingin
Kuncup
Mekar
Sebelum pendampingan telah dilakukan dua kali pertemuan untuk
membentuk pengurus PAUD dan rapat pengurus baru untuk
merencanakan kegiatan PAUD dan penggalian dana. Pada saat
pendampingan sekaligus dilaksanakan peresmian berdirinya PAUD
‘Kuncup Mekar’ oleh Ketua TP PKK Desa Sumbersari. Kegiatan
pembelajaran dilaksanakan seminggu sekali setiap hari Sabtu, tempat di
rumah Bapak Dukuh. Jumlah siswa 23 anak, usia 2-4 tahun. Buku-buku
administrasi juga sudah tersedia lengkap.
Tumut
Tunas
Harapan
Telah terbentuk pengurus PAUD dengan pak dukuh sebagai penasehat.
Sosialisasi telah dilakukan saat ada pertemuan posyandu, sekaligus
langsung dibuka pendaftaran untuk peserta didik.
Gesikan
Sekar Melati
Telah terbentuk susunan pengurus, juga telah terdaftar peserta didik
PAUD. Buku-buku administratif telah dipersiapkan lengkap. Pada saat
pendampingan, sekaligus diresmikan pembukaan / launching PAUD
Sekar Melati.
Bendosari
Kuncup
Mekar
Susunan pengurus telah terbentuk dan telah dilakukan pendataan calon/
prospek peserta didik. Tempat kegiatan PAUD bertempat di rumah pak
dukuh.
Ngaglik
Tunas
Pertiwi
Telah tersusun laporan kegiatan lengkap yang meliputi pembentukan
pengurus PAUD, rencana sosialisasi dan rencana kegiatan pembelajaran.
Jumlah siswa sebanyak 36 anak, berusia 2 – 5 tahun. Tempat kegiatan
PAUD ada dua yaitu di rumah Bapak Dukuh dan di rumah salah
seorang warga RT Madean karena lokasi RT Madean yang jauh dari
rumah Pak Dukuh. Kegiatan dilaksanakan seminggu sekali setiap hari
Sabtu (tiga kali kegiatan dilakukan ) di dua tempat, dan sekali dalam
sebulan dilakukan terpusat di rumah Pak Dukuh.
48
Gambaran kesiapan setiap dukuh dalam merintis pendirian PAUD terlihat dalam tabel 12
Tabel 12. Kesiapan 9 Dukuh di Desa Sumber Sari dalam Perintisan Berdirinya PAUD
DUSUN
Dukuh
Sombangan
Tegalrejo
Klisat
Nasri
Semingin
Tumut
Gesikan
Bendosari
Ngaglik
KESIAPAN/KETEREDIAAN
Administrasi Pengurus
Sarana
*
/guru
belajar
1,2,3,4,5,6
4
Sedikit
3
6
Belum ada
1,2,3,4,5,6
4
Belum ada
6
9
Belum ada
1,2,3,4,5,6
4
Sedikit
6
4/6
Belum ada
1,2,3,4,5,6
7
Sedikit
1,2,3,4,5,6
4
Belum ada
6
4
Sedikit
Prospek
siswa
20
25
27
28
23
23
22
20
36
Tempat
Rumah Bu Dukuh
Rumah Bu Dukuh
Rumah Bu Dukuh
Rumah Bu Dukuh
Rumah Bu Dukuh
Rumah Bu Dukuh
Rumah Bu Sri Kawit
Rumah Bu Dukuh
Rumah Bu Dukuh
Keterangan:
1. Buku induk
4. Buku Catatan Perkembangan
2. Buku kegiatan
5. Buku Kas dan Inventaris APE & Barang
3. Daftar Hadir
6. Buku Tamu
Dari hasil pendampingan yang dilakukan tim
pelaksanaan dan hari serta jam belajar. Tabel
ke
selengkapnya dapat dilihat dalam Tabel 13.
masing-masing
dukuh,
dihasilkan
kesepakatan tentang rencana waktu mulai
Tabel 13. Rencana Waktu Pelaksanaan PAUD yang Disepakati
DUKUH
WAKTU
HARI DAN JAM
BELAJAR
MULAI
PELAKSANAAN:
Sombangan
3 xseminggu
Senin, Rabu, Kamis
Nopember 2010
Tegalrejo
2 kali sebulan
Minggu ke 1dan ke 3,
hari minggu jam 8.30
Klisat
2 x sebulan
Jum’at
Nopember 2010
Nasri
1 x seminggu
8 -10
Nopember 2010
Semingin
1 x seminggu
Sabtu
13 Nopember 2010
Tumut
2 x seminggu
Gesikan
1 x seminggu
Sabtu 09.00 – 11.00
6 Nopember 2010
Bendosari
1 x seminggu
Jum’at
5 Nopember 2010
Ngaglik
1 x seminggu
Sabtu
7 Nopember 2010
Nopember 2010
Nopember 2010
49
Kendala permasalahan yang dihadapi
oleh setiap dukuh dalam upaya merintis
pendirian PAUD
yang terungkap saat
pendampingan dapat dilihat dalam Tabel 14.
Tabel 14. Kendala/ Permasalahan Dukuh dalam Merintis Pendirian PAUD
DUKUH
KENDALA/PERMASALAHAN YANG DIHADAPI
Sombangan Keterbatasan sarana dan prasarana termasuk alat peraga, dan masih
membutuhkan pendampingan. Disamping itu masih perlu disosialisasikan
kepada orangtua tentang keberadaan PAUD di dukuh Sombangan,
sementara permasalahan selama ini adalah sulit mempertemukan semua
orang tua yang memiliki anak balita.
Tegalrejo
Keterbatasan dana, mengingat kondisi ekonomi masyarakat menengah ke
bawah dan membutuhkan pendampingan dari yang sudah berpengalaman
Klisat
Keterbatasan sarana dan prasarana belajar, APE belum ada. Jumlah
pendidik sangat terbatas karena banyak kader PKK yang belum percaya
diri untuk menjadi pendidik.
Nasri
Keterbatasan sarana dan prasarana belajar, serta APE belum ada.
Antusiasme masyarakat masih perlu ditingkatkan melalui sosialisasi yang
lebih gencar. Beberapa pengurus masih merasabelum percaya diri untuk
menjadi pendidik.
Semingin
Kesadaran orang tua calon siswa masih perlu ditingkatkan melalui
sosialisasi oleh kader PAUD pada berbagai kegiatan pedukuhan.
Tumut
Pengurus PAUD telah ada, namun jumlah yang bersedia menjadi pendidik
masih terbatas. Sarana dan prasarana belajar seperti APE masih perlu
ditambah.
Gesikan
Para pelaksana merasa belum memiliki pengalaman dalam mendidik dan
mengelola PAUD, dan ketersediaan fasilitas mainan relatif belum ada.
Bendosari
Sarana dan prasarana belajar serta APE belum ada. Sosialisasi PAUD ke
masyarakat masih perlu ditambah melalui berbagai kegiatan di pedukuhan.
Ngaglik
Lokasi terpencar jauh, ada 1 RT yang jaraknya jauh kurang lebih 1 km
Luaran Kegiatan
tujuan kegiatan yakni 4 kelompok PAUD
terdampingi menjadi model percontohan
Metode penerapan ipteks di atas
efektif, terbukti dari hasil luaran yang
yang menstimulasi terbentuknya kelompok
PAUD lain di desa Sumbersari. Pada semua
dihasilkan dari kegiatan ini sesuai dengan
50
pedukuhan
di
desa
Sumbersari
(13
model
percontohan
yang
menstimulasi
pedukuhan) telah berdiri PAUD, beserta
terbentuknya kelompok PAUD lain di desa
struktur pengelola dan pengajar, tempat dan
Sumbersari beserta struktur pengelola dan
waktu pelaksanaan.
pengajar, tempat dan waktu pelaksanaan.
Program-program di atas dapat dijamin
Dengan berdirinya pos PAUD di semua
keberlanjutannya karena :
pedukuhan
a. Telah terbentuk 4 pos PAUD sebagai
pedukuhan) telah berdiri PAUD, hal ini
model
percontohan
yang
dapat
digunakan sebagai acuan belajar bagi 9
PAUD
rintisan
yang
baru
dimulai
berarti
di
desa
masyarakat
Sumbersari
di
(13
masing-masing
pedukuhan telah mempunyai wadah untuk
kegiatan pendidikan anak usia dini.
Kelompok mitra kegiatan ini yakni
kegiatannya.
dapat
kelompok PAUD jalur non formal di bawah
dilakukan oleh 4 pos PAUD contoh
PKK Desa Sumbersari, Moyudan, Sleman,
sehingga dapat membina PAUD rintisan
DIY, yang terdiri dari 4 PAUD menjadi
b. Model
pendampingan
yang
c. Pengurus PKK desa Sumbersari telah
dilatih
dan
berkomitmen
melakukan
untuk
kontrol/pengawasan
model percontohan 9 PAUD yang dirintis
pendiriannya. Metode penerapan ipteks yang
digunakan : (a) Pendidikan dan pelatihan
seluruh
diberikan pada kader PAUD, dengan materi
Sumbersari,
Perkembangan Anak Usia Dini, Pendidikan
sekaligus mengawasi penggunaan Alat
dan pembelajaran anak usia dini, dan
Permainan Edukatif yang dihibahkan
Sosialisasi serta pemberdayaan masyarakat
untuk
dan
pelaksanaan
pedukuhan
PAUD
di
menjadi
di
Desa
aset
PAUD
desa
(b)
Pendampingan
percontohan
Sumbersari.
d. Dukungan dari aparat pemerintah desa
dan masyarakat untuk pelaksanaan
untuk
kader
PAUD
melakukan
pendampingan pada kader PKK dari dusun
yang belum memiliki PAUD untuk merintis
berdirinya PAUD.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Kesimpulan
1. Kader PAUD
Luaran yang dihasilkan dari kegiatan
ini sesuai dengan tujuan kegiatan yakni 4
kelompok
PAUD
terdampingi
menjadi
a. Kader PAUD untuk dapat secara
berkesinambungan
meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan untuk
51
dapat
menambah
kualitas
sebagai
pendidik PAUD. Beberapa cara yang
dapat ditempuh yakni : (1) masuk ke
jaringan
HIMPAUDI
(Himpunan
2. Aparat pemerintah Desa Sumbersari,
khususnya kader PKK
a. Secara
rutin
menyelenggarakan
pertemuan pengurus
dan pendidik
Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia)
PAUD dari masing-masing pedukuhan
di
untuk
kecamatan
Moyudan;
(2)
membahas
sekaligus
Mengundang nararsumber yang ahli di
mengevaluasi kemajuan PAUD di
bidangnya; (3) Mengirim pengurus
Desa Sumbersari;
atau pendidik PAUD secara bergilir
b. Membantu
memfasilitasi
proses
untuk mengikuti pelatihan tentang ke-
pengajuan perijinan pendirian PAUD
PAUD-an
masing-masing pedukuhan;
yang
diselenggarakan
pemerintah maupun institusi lain.
c. Mengawasi
penggunaan
aset
Alat
b. Tak henti-hentinya untuk melakukan
Permainan Edukatif yang dihibahkan
sosialisasi pada masyarakat tentang arti
ke Pemerintah Desa Sumbersari dalam
pentingnya
hal ini PKK Desa Sumbersari;
banyak
PAUD
agar
semakin
masyarakat
mempercayakan
yang
pendidikan
putra-
putrinya di PAUD.
c. Menjalin kerjasama dan hubungan baik
dengan masyarakat, untuk dapat saling
d. Memfasilitasi
PAUD
memperoleh
dana
pemerintah
maupun
bantuan
dari
untuk
dari
sumber
lainnya.
Daftar Pustaka
membantu dalam melakukan swadaya
pengadaan sarana maupun prasarana
belajar
yang
mampu
diupayakan
bersama.
d. PAUD
percontohan
(PAUD
dari
pedukuhan Blendung, Nglahar, Menulis,
dan Tiwir) diharapkan terus melakukan
pembinaan pada PAUD rintisan (PAUD
dari 9 dusun lainnya)
Craig, R.L. 1987. Training and Development
handbook: A Guide to Human
Resource Development. Third Edition.
New York: McGraw-Hill Book
Company.
Harmonisasi Pemberdayaan Masyarakat
dengan Pembangunan Berkelanjutan.
Buletin Ekstensia. Pusat Penyuluhan
Pertanian Departemen Pertanian RI vol
19 th XI 2004. Diunduh dari
http://subejo.staf.ugm.ac.id/wpcontent/supriyanto-ekstensia.pdf
52
HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN NARSISTIK DENGAN PERILAKU
KONSUMTIF PADA REMAJA DI YOGYAKARTA
Yusi Ambarwati
Ranni Merli Safitri
Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta
ABSTRACT
This study aims to determine the correlation between the narcissistic personality to the
consumptive behavior in adolescents. The hypothesis put forward is that there is a positive
correlation between the narcissistic personality to consumptive behavior. The higher narcissistic
personality, the higher the consumptive behavior. Conversely, the lower the narcissistic
personality, the lower the consumptive behavior in adolescents. Research subjects were 65
students in grade 1 and 2 SMU Negeri 3 Yogyakarta aged between 12-17 years. Data collection
methods used was narcissistic Personality Scale and Consumptive Behavior Scale. Results of
analysis of data showed that there was a highly significant positive correlation between the
narcissistic personality to consumptive behavior, with correlation r xy = 0.523 (p <0.01), so the
hypothesis proposed was accepted
Keywords: narcissistic personality, Consumptive behavior
Perilaku remaja yang suka berbelanja ini
PENDAHULUAN
masa
dijadikan acuan oleh para produsen untuk
peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa.
memasarkan produk-produnya. Alasannya
Pada masa ini remaja senang mencoba hal-
karena pola konsumsi individu biasanya
hal baru untuk menentukan jati dirinya. Pada
terbentuk ketika remaja, disamping itu
umumnya remaja akan mulai memperhatikan
karakteristik
penampilannya. Hal ini sesuai dengan
terpengaruh iklan, teman, tidak realistis, dan
pendapat Hurlock (2002) yang mengatakan
cenderung boros dalam menggunakan uang
bahwa penampilan bagi remaja sangat
(Tambunan, 2001). Selain itu, (Tinarbuko,
penting, yaitu sebagai daya tarik fisik, usaha
2006) mengatakan bahwa remaja pada
mencari dukungan sosial, dan popularitas.
umumnya belum dapat menentukan prioritas
Sebagai
kebutuhannya
Masa
remaja
usaha
merupakan
untuk
mendukung
remaja
yang
sendiri
sehingga
dalam
keputusan
membeli
lebih
penampilannya tersebut biasanya remaja
membuat
suka
mengandalkan emosi daripada rasio.
berbelanja,
asesoris.
seperti
pakaian
dan
mudah
Tahap perkembangan pada remaja
cenderung memiliki permasalahan dalam
53
pergaulan, karena dalam masa pencarian
konsumtif. Perilaku membeli pada remaja
identitas diri tersebut remaja berusaha
yang berlebihan serta tidak sesuai dengan
melakukan hal-hal yang dapat menunjang
kebutuhan
penampilan
sebagai perilaku konsumtif.
supaya
mendapat
perhatian
tersebut
dapat
digolongkan
sehingga diterima oleh kelompok pergaulan
Pendapat senada diungkapkan oleh
tertentu (Sarwono, 2001). Hal ini dapat
Neufeldt (dalam Zebua dan Nurdjyayadi,
dilihat dari kebiasaan dan gaya hidup remaja
2001), yang mengungkapkan bahwa perilaku
dewasa ini yang cenderung mengarah pada
konsumtif digambarkan sebagai tindakan
gaya hidup mewah yang kemudian dapat
yang tidak rasional dan bersifat kompulsif,
menimbulkan pola hidup konsumtif (Lina
secara ekonomis menimbulkan pemborosan,
dan Rosyid, 1997). Berdasarkan wawancara
serta
dan observasi yang peneliti lakukan terhadap
kecemasan dan rasa tidak aman.
secara
psikologis
mengakibatkan
beberapa remaja yang masih bersekolah dan
Perilaku konsumtif dapat disebabkan
beberapa alumni SMU Negeri 3 yang
oleh beberapa faktor. Engel, dkk (1994)
dikenal sebagai SMU favorit, yang berusia
menyebutkan beberapa faktor internal yang
14-19 tahun (28 Oktober-15 November
dapat mempengaruhi perilaku konsumen,
2006), dapat disimpulkan bahwa perilaku
diantaranya, motivasi, proses belajar dan
membeli
remaja
pengalaman, kepribadian dan konsep diri,
tersebut lebih banyak dilakukan karena
keadaan ekonomi, dan gaya hidup. Faktor
mengikuti trend saat itu. Remaja-remaja
eksternal terdiri dari kebudayaan, kelompok
tersebut mengungkapkan alasan-alasan yaitu
sosial, kelompok referensi, keluarga, dan
supaya dapat berpenampilan up to date dan
status sosial. Penelitian terdahulu yang
lebih percaya diri dalam bergaul.
dilakukan oleh Lina dan Rosyid (1997)
yang
dilakukan
para
Karakter remaja yang suka mencoba
menyebutkan bahwa perilaku konsumtif
hal-hal baru cenderung akan mengikuti
pada umumnya dilakukan oleh remaja. Salah
mode-mode terbaru, hal ini diperkuat dengan
satu
banyaknya majalah-majalah remaja yang
mempengaruhi perilaku konsumtif tersebut
menampilkan produk-produk yang sedang
adalah
trend, karenanya Loudon dan Bitta (dalam
kepribadian
Lina dan Rosyid, 1997) menyatakan bahwa
mempengaruhi perilaku konsumtif adalah
remaja adalah kelompok yang berorientasi
kepribadian narsistik.
faktor
yang
kepribadian.
yang
diperkirakan
Dalam
hal
kemungkinan
dapat
ini
besar
55
Fausiah
dan
menggolongkan
Widury
kepribadian
(2005)
narsistik
sebagai gangguan kepribadian kelompok B,
idolanya daripada melihat usaha idolanya
untuk mencapai kesuksesan (Sabirin, 2005).
Ketertarikan remaja pada atribut yang
yakni gangguan kepribadian yang memiliki
dikenakan
perasaan kuat bahwa individu tersebut
perilaku
merupakan seseorang yang penting dan
sebenarnya
merasa bahwa dirinya unik. Fausiah dan
membeli pakaian, sepatu atau tas hanya
Widury
individu
karena sedang trend atau supaya menyerupai
dengan kepribadian narsistik merasa dirinya
idolanya. Perilaku membeli yang tidak
spesial,
mencari
sesuai dengan kebutuhan dan cenderung
ketenaran, sehingga sulit menerima kritik
berlebihan dapat digolongkan pada perilaku
dari orang lain.
konsumtif.
menambahkan
ambisius,
Maria
dkk
bahwa
dan
suka
(2001)
menyebutkan
idolanya
dapat
membeli
tidak
dilihat
barang-barang
dibutuhkan,
Perilaku
dari
yang
misalnya
konsumtif
tersebut
biasanya dimanfaatkan oleh para produsen
beberapa karakteristik kepribadian narsistik
untuk
yaitu; rasa sensitif terhadap kritik atau
ditujukkan khusus untuk remaja. Iklan
kegagalan, kebutuhan yang besar untuk
produk melalui berbagai media yang mudah
dikagumi, dan kurangnya empati. Remaja
didapatkan oleh remaja merupakan salah
yang memiliki rasa bangga terhadap diri
satu cara produsen dalam menarik perhatian
sendiri dapat dikatakan bahwa remaja itu
remaja.
memiliki kepribadian narsistik. Kepribadian
narsistik
merupakan
perasaan
bangga
memasarkan
produknya
yang
Berdasarkan pemaparan di atas dapat
disimpulkan
bahwa
remaja
memiliki
berkepribadian
narsistik
terhadap diri sendiri dan selalu merasa lebih
kecenderungan
dari
yang dapat menyebabkan remaja tersebut
individu
membuat
lain.
individu
Keadaan
yang
tersebut
berkepribadian
narsistik selalu berusaha tampil lebih dari
individu
lain.
ini
Hipotesis
yang
diajukan
dalam
mempengaruhi
penelitian ini adalah ada hubungan positif
perilakunya dalam hal mengkonsumsi suatu
antara kepribadian narsistik dengan perilaku
barang.
konsumtif pada remaja. Semakin tinggi
Biasanya
berkepribadian
dengan
Hal
berperilaku konsumtif.
narsistik
atribut-atribut
remaja
yang
lebih
tertarik
yang
dikenakan
kepribadian
perilaku
narsistik,
konsumtifnya,
semakin
dan
tinggi
sebaliknya,
56
semakin rendah kepribadian narsistik, maka
semakin rendah perilaku konsumtifnya.
sebagai alat pengumpul data.
Metode analisis data dalam peneltian
ini menggunakan teknik analisis korelasional
METODE
Variabel-variabel
digunakan
Product Moment dari Karl Pearson. Alasan
dalam penelitian ini adalah kepribadian
menggunakan teknik tersebut adalah: 1)
narsistik sebagai variabel bebas dan perilaku
untuk mengatahui ada tidaknya hubungan
konsumtif
tergantung.
antara variabel perilaku konsumtif dan
Subjek penelitian yang digunakan dalam
kepribadian narsistik, 2) jenis datanya
penelitian ini adalah remaja kelas 1 dan 2
interval.
sebagai
yang
variabel
SMU Negeri 3 Yogyakarta yang berusia 13-
HASIL DAN DISKUSI
17 tahun dan berjumlah 60 siswa.
Metode
pengumpulan
data
dalam
penelitian ini menggunakan Skala Perilaku
Konsumtif dan Skala Kepribadian Narsistik.
Skala perilaku Konsumtif terdiri dari 37
aitem dalam bentuk kalimat pernyataan
favorable dan unfavorable dengan 4 kategori
respon yaitu SS (Sangat Sesuai), S (Sesuai),
TS (Tidak Sesuai) dan STS (Sangat Tidak
Sesuai). Aitem-aitem di atas memiliki
koefisien validitas bergerak antara 0,274
sampai 0,679, dan koefisien reliabilitas
sebesar 0,9105 sehingga layak digunakan
sebagai alat pengumpul data. Skala kedua
yang digunakan adalah Skala Kepribadian
Narsistik yang terdiri dari 32 aitem dalam
bentuk kalimat pernyataan favorable dan
unfavorable. Aitem-aitem di atas memiliki
koefisien validitas bergerak antara 0,279
sampai 0,658, dan koefisien reliabilitas
sebesar 0,8854 sehingga layak digunakan
Berdasarkan
hasil
uji
normalitas
sebaran diperoleh untuk data variabel bebas
yaitu kepribadian narsistik, besarnya KS – Z
= 0,074, dengan taraf signifikansi sebesar
0,2 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa
sebaran
variabel
kepribadian
narsistik
terdistribusi normal, sedangkan variabel
tergantung yaitu perilaku konsumtif pada
remaja besarnya; KS – Z = 0,083, dengan
taraf signifikansi sebesar 0,2 (p > 0,05).
Hasil tersebut menunjukkan data variabel
perilaku konsumtif terdistribusi normal.
Berdasarkan hasil uji linieritas antara
variabel
kepribadian
perilaku
konsumtif
narsistik
diperoleh
dengan
nilai
F
linieritas sebesar 24,028, dengan taraf
signifikansi sebesar 0,000
(p < 0,05).
Hasil uji linieritas menunjukkan bahwa
hubungan
antara
variabel
kepribadian
narsistik dengan perilaku konsumtif adalah
linier.
57
Analisis korelasi Product Moment
diperoleh
rxy
=
0,523
dengan
tujuan
supaya
dapat
taraf
menyerupai gaya sang idola, selain itu
signifikansi 0,000 (p < 0,01), yang artinya
remaja cenderung ingin menjadi perhatian
ada hubungan yang sangat signifikan antara
teman-teman dan lingkungannya. Kegiatan
variabel
dengan
konsumsi tersebut dapat menjadi berlebihan
perilaku konsumtif para remaja. Hal tersebut
apabila remaja terlalu mementingkan atribut
menyatakan
diterima.
yang dapat menunjang penampilannya. Hal
Koefisien determinasi (R) variabel narsistik
itu dapat terjadi pada remaja yang memiliki
terhadap perilaku konsumtif yang diporeh
kecenderungan kepribadian narsistik.
kepribadian
bahwa
dengan
idolanya
narsistik
hipotesis
sebesar 0,273 atau variabel kepribadian
Halgin
dan
narsistik memberikan sumbangan terhadap
mengatakan
bahwa
variabel perilaku konsumtif sebesar 27,3%,
kepribadian
narsistik
sedangkan 72,7% dipengaruhi oleh variabel
mementingkan
lain.
realistis. Individu yang memiliki kepribadian
diri
Whitbourne
(1997),
individu
dengan
memiliki
sendiri
yang
rasa
tidak
Berdasarkan analisis korelasi product
narsistik yang tinggi pada umumnya selalu
moment, secara umum hasil penelitian
merasa istimewa, arogan, angkuh, dan
menunjukkan bahwa kepribadian narsistik
merasa hanya individu yang status sosialnya
mempunyai hubungan positif yang sangat
tinggi yang dapat menghargai dan mengerti
signifikan
konsumtif.
kebutuhannya. Pendapat serupa dari Fausiah
Artinya, semakin tinggi kepribadian narsistik
dan Widury (2005) mengatakan bahwa
semakin tinggi pula perilaku konsumtif yang
kepribadian narsistik adalah perasaan yang
terjadi pada remaja dan sebaliknya, semakin
kuat bahwa individu tersebut merupakan
rendah kepribadian narsistik semakin rendah
seseorang yang penting dan merasa bahwa
pula perilaku konsumtif pada remaja. Hal
dirinya unik. Selain itu, individu dengan
tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang
kepribadian narsistik merasa dirinya spesial,
diajukan diterima.
ambisius, dan suka mencari ketenaran,
dengan
perilaku
Pada umumnya remaja memiliki idola
yang dijadikan panutan untuk berperilaku
dan berpenampilan (Lina dan Rosyid, 1997).
sehingga sulit menerima kritik dari orang
lain.
Karakteristik kepribadian narsistik di
Remaja mulai kegiatan konsumsinya dengan
atas dewasa ini
terdapat pada beberapa
membeli barang-barang seperti yang dipakai
remaja, sehingga remaja menjadi konsumtif
58
supaya dapat berpenampilan lebih dari yang
kepribadian narsistik rendah, yaitu sebanyak
lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock
47 subjek atau 72,3%. 27,7% atau sebanyak
(2002) yang mengatakan bahwa penampilan
18 subjek berada pada taraf sedang, dan
bagi remaja sangat penting, yaitu sebagai
tidak ada subjek yang memiliki taraf
daya tarik fisik, usaha mencari dukungan
kepribadian tinggi. Subjek dalam penelitian
sosial, dan popularitas. Akibat minat yang
ini tidak memperlihatkan kecenderungan
berlebihan terhadap penampilan tersebut
kepribadian narsistik. Namun demikian hasil
akan mendorong remaja untuk berperilaku
korelasi menunjukkan adanya hubungan
konsumtif.
positif yang sangat signifikan.
Neufeldt
(dalam
dan
Rendahnya kategorisasi tersebut dapat
Nurdjyayadi, 2001) mengungkapkan bahwa
dikarenakan ketika subjek mengisi skala
perilaku konsumtif digambarkan sebagai
banyak bertanya kepada teman-temannya
tindakan yang tidak rasional dan bersifat
sehingga jawaban cenderung sama satu
kompulsif, secara ekonomis menimbulkan
subjek
pemborosan,
dikatakan bahwa dalam penelitian ini subjek
serta
Zebua
secara
psikologis
dengan
mengakibatkan kecemasan dan rasa tidak
mengisi
aman.
diserability.
subjek
skala
lainnya.
berdasarkan
Social
Dapat
social
diserability
adalah
Hasil kategorisasi perilaku konsumtif
kecenderungan pada subjek penelitian yang
terhadap siswa kelas 1 dan 2 di SMU Negeri
menjawab sesuai jawaban sebagian besar
3 Yogyakarta menunjukkan sebagian besar
subjek (www.wikipedia.org).
subjek memiliki taraf perilaku konsumtif
Selain
yang rendah, yaitu sebanyak 39 subjek atau
kategorisasi
60%. Sisanya sebanyak 26 subjek atau 40%
subjek yang hanya 65 siswa, pemberian
berada dalam taraf sedang, dan tidak ada
skala secara klasikal, dan reliabilitas variabel
subjek yang berada dalam taraf perilaku
perilaku konsumtif sebesar 0,9105, yang
konsumtif
tersebut
berarti masih terdapat variasi eror sebesar
menunjukkan bahwa subjek penelitian ini
8,95% pada variabel tersebut. Reliabilitas
tidak menunjukkan adanya kecenderungan
variabel
perilaku
kategorisasi
0,8854, yang berarti masih terdapat variasi
kepribadian narsistik juga menunjukkan
eror sebesar 11,46% pada variabel tersebut
bahwa sebagian besar subjek memiliki taraf
yang
yang
tinggi.
konsumtif.
Hasil
Hasil
itu
penyebab
disebabkan
kepribadian
juga
dapat
rendahnya
karena
narsistik
menjadi
jumlah
sebesar
penyebab
59
Disorders.
Benchmark.
rendahnya kategorisasi. Pada kenyataannya
subjek penelitian ini memperlihatkan ciri-ciri
konsumtif, diantaranya atribut-atribut yang
dikenakan oleh sebagian besar subejek
penelitian adalah bermerk terkenal, seperti
tas, sepatu, ponsel, hingga laptop yang
dibawa saat pengisian angket penelitian.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan yang telah dikemukakan pada
bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan positif yang sangat signifikan
antara kepribadian narsistik dengan perilaku
konsumtif pada remaja.
Saran kepada subjek penelitian adalah
untuk mempertahankan kepribadian narsistik
dan perilaku konsumtifnya yang rendah.
Saran untuk peneliti selanjutnya, supaya
memperhatikan faktor-faktor lain seperti
media
massa,
lingkungan,
kelompok
referensi atau idola, dan besarnya uang saku.
DAFTAR PUSTAKA
Engel, J.F, Blackwell, R.D, Miniard P.W.
1992. Perilaku Konsumen. Budiyanto
(pen.) 1994. Jakarta: Binarupa Aksara.
Fausiah, F. dan Widury, J. 2005. Psikologi
Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UIpress.
Halgin, R.P. & Whitbourne, S.K. 1997.
Abnormal Psychology: The Human
Experience
of
Psychological
USA:
Brown
&
Hurlock,
E,B.
2002.
Psikologi
Perkembangan Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi
Kelima. Jakarta: Erlangga.
Lina
& Rosyid, H.F. 1997. Perilaku
Konsumtif Berdasar Locus of Control
Pada Remaja Putri. Psikologika.. No.4
TahunII. Hal 5-13.
Maria, H., Prihanto,S., & Sukamto, M. 2001.
Hubungan
Antara
Ketidakpuasan
Terhadap
Sosok
Tubuh
(Body
Dissatisfaction)
dan
Kepribadian
Narsistik dengan Gangguan Makan
(Kecenderungan anorexia dan bulimia
nervosa). Anima,Vol.16, No. 3. Hal.
272-289.
Sabirin, Eka. 2005. Kenapa Kita Doyan
Belanja? http://kompas.com/kompas.
Edisi 26 Agustus 2005. Diakses pada
tanggal 13 November 2006.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2001. Psikologi
Remaja. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Tambunan,. R 2001. Remaja dan Perilaku
Konsumtif.
http//www.epsikologi.com/remaja.
Edisi
19
November 2001. Diakses pada tanggal
2 April 2006.
Tinarbuko, S. 2006. Pola Hidup Konsumtif
Masyarakat
Yogya.
https://www.kompas.com
Edisi
7
Februari 2006. Diakses pada tanggal
25 Mei 2007.
Wikipedia.http://en.wikipedia.org/wiki/Socia
l_desirability_bias. Diakses pada 23
Oktober 2007.
Zebua, A.S & Nurdjayadi, R.D. 2001
Hubungan Antara Konformitas dan
Konsep
Diri
Dengan
Perilaku
Konsumtif Pada Remaja Putri.
Phronesis. Vol.3. No. 6. hal. 7260
PENINGKATAN KOMPETENSI BERBAHASA INGGRIS FUNGSIONAL
KONTEKSTUAL BAGI CALON PEKERJA MIGRAN KECAMATAN MOYUDAN
KABUPATEN SLEMAN
Hermayawati, dkk
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Mercu Buana Yogyakarta
ABSTRACT
The District of Moyudan, Sleman Yogyakarta has a relatively high unemployment rate with the
job seekers of 6.109 male and 5.293 female. Most of them (especially female) desiredly want to
work at overseas as Indonesian Overseas Workers, or Tenaga Kerja Indonesia (TKI). The
problem is, they must not merely have job-skill, but also have to be able to use the target
language in the job target country, at least English as a means of communication with their new
environment. In facts, several research showed that they are not able to communicate in English
well. Meanwhile, English is a key instrument to communicate especially with their employers.
Based on this fact, this program of Ipteks bagi Masyarakat (IbM) aimed at conducting English
training especially for community of the migrant workers candidates. The training program was
held by using Functional English Learning Model (Materi Ajar Bahasa Inggris Fungsional
/MABIF). The training was conducted for 24 meetings and followed by 40 participants. They
consisted of 20 undergraduates degree, 17 higher level students, and 3 person were the
graduates of Senior Highschools. This program resulted: (1) MABIF with level of significance of
 = 0.04; (2) Article of Publication in a Daily Regional Newspaper (Kedaulatan Rakyat) and a
Journal (Socio-Humaniora); (3) Training Certificate showed Functional English Mastery; and
(4) the Existence/the establishment of Association of Moyudan’s Overseas Worker Candidates
(Paguyuban Calon Pekerja Migran di Moyudan) to keep the project sustainability. Kata kunci:
Functional English, Migrant, MABIF
PENDAHULUAN
Kecamatan Moyudan berjarak 15 Km
dari pusat Kota Yogyakarta dan 4 Km dari
perguruan tinggi Penulis. Sebagai salah satu
wilayah Kabupaten Sleman Daerah Istimewa
Yogyakarta, Moyudan wajib ikut serta
dalam mewujudkan visi daerahnya, yaitu
menuju masyarakat Sleman yang lebih
sejahtera pada tahun 2010. Masalahnya,
hingga saat ini angka pengangguran masih
relatif tinggi dan tentunya perlu solusi.
Menurut data yang ada di Kecamatan,
jumlah pencari kerja mencapai 6.109 lakilaki dan 5.293 perempuan dan di antaranya
ingin bekerja di luar negeri sebagai Tenaga
Kerja Indonesia di luar negeri (TKI).
61
Mekipun
termasuk
yang
menyimpulkan bahwa TKI kurang diminati
subur, kebanyakan penduduk usia muda di
di sembilan negara Asia-Pasifik dan Timur
wilayah
kurang
Tengah, yaitu Singapura, Malaysia, Taiwan,
berminat untuk bertani atau pun menjadi
Hong Kong, Korea, Jepang, Saudi Arabia,
perajin. Berdasarkan data yang ada, terdapat
Iran, dan Amerika. Pengguna jasa di
sekitar 40 orang pencari kerja yang tertarik
sembilan negara tersebut lebih memilih
untuk bekerja di luar negeri, baik di sektor
tenaga kerja dari Philipina, India, dan
domestik (sebagai penatalaksana rumah
Vietnam, yang dipandang lebih terampil
tangga/PRT) maupun di sektor formal,
dalam berkomunikasi dan mengurus rumah
terutama sebagai buruh pabrik. Dengan
tangga
bekerja di luar negeri, mereka berharap akan
(Depnakertrans, 2000: i-ii). Implikasinya,
mendapatkan penghasilan yang jauh lebih
proses pelatihan bahasa asing (Inggris)
tinggi dibanding di Indonesia sehingga akan
Calon
dapat menyejahterakan keluarga mereka.
Optimalisasi pelatihan bahasa Inggris salah
Kecamatan
wilayah
Moyudan
Permasalahan utama yang dihadapi
dibandingkan
TKI
satunya
(CTKI)
dapat
dengan
kurang
meningkatkan
pencari
(Hermayawati, 2007: 323-324).
migran
kurang
mampu
berbahasa Inggris. Padahal, bahasa Inggris
merupakan
sarana
kualitas
dengan
materi
ajarnya
ajar merupakan komponen
untuk
kunci dan sarana pembantu ketercapaian
berkomunikasi dengan lingkungan bekerja
tujuan program pembelajaran dan pelatihan
mereka di luar negeri. Hal ini dapat
pada semua tataran belajar. Untuk itu
dimaklumi jika mengingat bahwa kualitas
penyusunannya
sumber daya manusia Indonesia berada di
dengan analisis kebutuhan target (Richards,
urutan paling bawah di antara negara-negara
2001: 21, 257). Pemilihan atau penyusunan
Asia-Pasifik
materi ajar tidak terlepas dari kualitas guru
lain
utama
Materi
optimal.
dilakukan
oleh mitra program adalah: kebanyakan
kerja
TKI
(Madya,
2001:
1;
atau
penelitian
bersama
bersangkutan. Namun pada kenyataannya,
Penelitian
Universitas
Lembaga
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
bahwa
guru,
(Depnakertrans) tahun 2000, yang berjudul:
pembelajaran
“Situasi
kurang tepat dalam memilih atau pun
Sembilan
Negara”,
penelitian
yang
hasil
di
dan
program
berbagai
TKI
Indonesia
perencana
disesuaikan
Gunarwan, 2004: 11-12). Selain itu, hasil
antara
pun
mestinya
dan
menunjukkan
perencana
program
pelatihan
seringkali
62
menyusun materi ajar bagi peserta didiknya.
berbagai kenyataan sebagaimana disebutkan
Dengan kata lain, muatan materi ajar yang
di muka, model MABIF secara normatif
digunakan para guru seringkali tidak sesuai
telah disesuaikan dengan kebutuhan program
dengan
IbM ini.
kebutuhan
peserta
didik
yang
notabene sama dengan kebutuhan pengguna
lulusan (Hermayawati, 2005: 47-51; 2007:
323-324). Sebagai akibatnya, output dan
METODE
1. Pelaksanaan Program
outcome-nya kurang berterima di dunia kerja
Sesuai dengan fenomena permasalahan
(Depnakertrans, 2000: i-ii) karena kurang
yang ada, program IbM ini menggunakan
sesuai dengan tuntutan yang ditargetkan.
metode penyuluhan, pendidikan dan latihan.
atas
Materinya menggunakan Model Materi Ajar
bersifat
Bahasa Inggris Fungsional (MABIF) yang
kompleks (Byram & Fleming, 1998: 11),
sebenarnya merupakan temuan penelitian
baik menyangkut tata bahasa maupun dalam
disertasi yang berjudul: “Pengembangan
hal berinteraksi dan beradaptasi dengan
Materi
budaya mereka (Koentjaraningrat, 2002:
Pendekatan
132-133).
Pengembangan
Permasalahan
menunjukkan
tersebut
bahwa
Bahasa
di
bahasa
merupakan
alat
ajar
Bahasa
Inggris
Fungsional
di
dengan
(Penelitian
PJTKI
Jakarta)”
komunikasi yang paling efektif. Tanpa
(Hermayawati, 2008: 324-325) yang telah
penguasaan bahasa yang digunakan sehari-
terbukti efektif dan sengaja digunakan
hari, orang akan kesulitan berinteraksi,
menjadi
termasuk para TKI di lingkungan bekerja
Program ini. Model Materi Ajar Bahasa
mereka.
Inggris Fungsional (MABIF) sebenarnya
Model
Pembelajaran
dalam
Kesalahpahaman dalam berinteraksi
secara khusus didesain bagi para calon
yang terjadi secara terus menerus dari waktu
tenaga kerja Indonesia (CTKI) yang sedang
ke waktu antara pekerja dan majikan dapat
menjalani pelatihan di Perusahaan Jasa
memicu kekerasan yang berujung pada
Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) Jakarta.
penolakan
yang
Namun demikian, model ini telah juga telah
bersangkutan. Jika terjadi secara masal, tentu
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
hal tersebut akan mengakibatkan rendahnya
peserta pelatihan dan users mereka di luar
posisi tawar (bargaining position) para
negeri. Sebagai ilustrasi, ciri-ciri MABIF
pencari kerja di luar negeri. Atas dasar
disajikan pada Tabel 1.
terhadap
pekerja
63
Tabel 1. Ciri-Ciri Materi Ajar Bahasa Inggris Fungsional/ MABIF
Aspek
Bahasa Materi Ajar Bahasa Inggris Fungsional/MABIF
No. yang Dipelajari
1.
Bentuk Wacana
Materi ajar ditampilkan dalam bentuk percakapan otentik (Authentics
Dialogues, Monologues) yang sesuai dengan tujuan dan analisis kebutuhan
target.
2.
Aspek Linguistik
Pengembangan aspek linguistik difokuskan pada pemenuhan kebutuhan
pembelajar, yaitu penguasaan speaking skill yang melibatkan aspek struktur,
kosakata, pelafalan, kefasihan, dan pemahaman pertuturan (listening
comprehension).
3.
Aspek Semantik
Kosakata yang sebagian besar diakses dari materi ajar lama disajikan secara
kontekstual dan terpadu dalam bentuk dialog dengan mengacu pada konsep
Minimum-adequate Vocabulary.
4.
Aspek Pragmatik/ Aspek pragmatik yang terkait dengan budaya penutur target disajikan secara
Budaya
terpadu (embedded) di dalam wacana.
5.
Keterampilan
berbahasa
(L.Skills)
Keterampilan berbicara (speaking skill) yang meliputi unsur struktur,
kosakata, pelafalan, kefasihan/kecepatan bertutur, dan pemahaman (listening
comprehension).
6.
Keterkaitan
antarkonsep
(Networking)
Ada keterkaitan antarmateri/antarkonsep berbahasa (yaitu penggunaan fungsi
bahasa “Imparting and seeking factual informations” yang tersaji dalam
bentuk wacana dan tercantum secara berurutan di dalam Bab atau Unit Pokok
Bahasan) secara luwes dan seimbang.
7.
Tata
Ringkasan Materi ajar diurutkan dari mudah ke sulit; sederhana ke agak kompleks;
(Structured
disertai tampilan language focus dan sentence patterns yang dapat digunakan
Summaries)
sebagai dasar pemahaman pertuturan target bagi pembelajar.
8.
Tampilan Naskah
Materi ajar dibuat menarik bagi penggunanya karena pertuturan ditampilkan
dalam bentuk dialog-dialog otentik disertai dengan ilustrasi yang dapat
memperjelas pemahaman konsep pertuturan target.
2. Pelaksanaan Kegiatan
Program kegiatan IbM ini didasarkan
pelatihan,
peserta
diklat
akan
mampu
atas asumsi sebagai berikut: (a) para peserta
menggunakan fungsi-fungsi bahasa target
diklat rata-rata memiliki kemampuan awal
yang
(intakes)
mereka,
bahasa
Inggris
pada
taraf
cocok
dengan
level
kemampuan
yaitu “imparting and seeking
pembelajaran pemula (threshold dan/atau
factual informations” untuk berkomunikasi
false-beginning level), yaitu pembelajar yang
dengan orang lain, baik di dalam maupun di
sudah pernah belajar bahasa Inggris selama
luar pelatihan; (c) jika hal itu terjadi, para
bertahun-tahun tetapi tetap tidak mampu
peserta
menggunakannya; (b) setelah mengikuti
menggunakan bahasa target tersebut dengan
akan
mampu
berkomunikasi
64
para pengguna (users), manakala mereka
kecamatan berfungsi sebagai rekomendator
bekerja di luar negeri; dan (d) instruktur dan
dan legitimator pelaksanaan kegiatan yang
peserta
didukung
pelatihan
akan
dapat
oleh
empat
Kalurahan
yang
menyebarluaskan Model MABIF yang yang
meliputi: Kalurahan Sumbersari, Sumber
memungkinkan untuk dipelajari sendiri oleh
Agung, Sumber Rahayu, Sumber Arum.
penggunanya.
Namun atas dasar kesepakatan bersama dan
Pelaksanaan
program
IbM
ini
melibatkan 40 orang partisipan. Instruktur
diklat adalah dua orang dosen pendidikan
bahasa Inggris (PBI) dan sekaligus adalah
Ketua dan Anggota Tim IbM. Dalam
melaksanakan diklat, instruktur dibantu oleh
lima orang mahasiswa PBI FKIP Universitas
Mercu
Buana
Yogyakarta.
Sebagai
gambaran, berikut ini disajikan langkahlangkah pelaksanaan programnya.
Mengidentifikasi masalah  menentukan
masalah utama  menganalisis kebutuhan
program

menentukan
tujuan

menyusun/mengembangkan materi diklat 
memberikan pengarahan tentang pelaksanaan
kegiatan  melaksanakan kegiatan sesuai
jadwal
 mengevaluasi program 
menganalisis hasil evaluasi  melakukan
perbaikan program  hasil akhir (terampil
berbahasa Inggris pada level ambang, diseminasi
melalui Artikel Publikasi dan Sustainability).
3. Partisipasi Mitra dalam Pelaksanaan
berbagai pertimbangan yang ada, kegiatan
dipusatkan
di
Kalurahan
Sumbersari.
Pertimbangan terhadap lokasi pusat kegiatan
tersebut didasarkan pada berbagai faktor
berikut: (1) letak geografisnya yang paling
strategis di antara empat kelurahan yang ada;
(2) tempatnya luas dan lebih kondusif
dibanding
tiga
kelurahan
lainnya;
(3)
pemukiman penduduk saling berdekatan
sehingga
memudahkan
antarpelaku
kegiatan;
Sumbersari
merupakan
komunikasi
(4)
Kelurahan
daerah
terdekat
dengan perguruan tinggi Tim Pelaksana IbM
sehingga lebih memperlancar pelaksanaan
kegiatan; (5) fasilitas yang ada lebih
memadai daripada tempat lain.
4. Evaluasi Hasil Kegiatan
Evaluasi
program
IbM
ini
menggunakan dua bentuk instrumen yang
berupa tes tulis (paper-and-pencil test) dan
Program
tes lisan (oral production test). Untuk
Mitra utama program IbM ini adalah
lembaga
Kecamatan
Moyudan
yang
keperluan tersebut penulis menyusun kisikisi tes tulis dengan memadukan konsep
didukung sepenuhnya oleh sumber daya
Gronlund
manusia yang ada. Dalam hal ini, lembaga
Rubrik/Panduan Penskoran Bahasa Lisan
(1978:
50-51)
dan
model
65
(O’Malley & Pierce, 1996: 67) lengkap
tertera pada Tabel 2.
dengan jenjang skala penskorannya, seperti
Tabel 2. Tabel Spesifikasi 90-Butir tes Tulis Penguasaan Fungsi Bahasa Target
Content Areas on:
Imparting and
seeking factual
informations
Total number of
test items/
descriptors
(1)
(2)
(3)
(4)
Total
Identifying
Reporting
Describing
&
Narrating)
Correcting
(Agreeing
Asking (for
help
/invitation/
Five
Variables
67
4
10
/Denying)
questions)
9
90
Tabel 2 menunjukkan bahwa tes tulis
kepentingan dan frekuensi penggunaannya
yang berjumlah 90 butir soal meliputi
di dalam komunikasi khusus bagi penutur
pengembangan
pada tataran pemula (false beginners).
kecakapan
menggunakan
fungsi bahasa target, yaitu “imparting and
Komponen kecakapan berbicara yang
seeking factual informations” yang meliputi
diuji
kategori identifying, reporting (termasuk
kecepatan berbicara, kosakata, struktur, dan
describing
correcting
pemahaman (terhadap pertuturan orang lain).
(termasuk agreeing dan denying), dan asking
Kriteria yang digunakan ada dua kategori.
(for help, questions, dan invitation) (Van Ek,
Secara
1987: 113). Penentuan jumlah butir soal
berbicara
pada masing-masing variabel fungsi bahasa
Penskoran Bahasa Lisan (O’malley &
dilakukan dengan mempertimbangkan taraf
Pierce, 1996: 67) dengan rentang skala 1-2,
dan
narrating),
adalah
pelafalan,
holistik
kefasihan
penilaian
menggunakan
atau
kemampuan
Rubrik/Panduan
khusus bagi level pemula seperti tercantum
pada Tabel 3.
66
Tabel 3. Rubrik Penskoran Bahasa Lisan untuk Level Pemula
Rating
Scale
2
1
Descriptions on Speaking Skill
Speaking Skill Components
Mastery
- Begins to communicate personal and survival
needs
Fluency
- Speaks in single-word utterances and short
patterns
Structure/Pronunciation
- Uses functional vocabulary
Vocabulary
- Understands words and phrases; requires
repetitions
Comprehension
- Begins to name concrete objects
Vocabulary/ Pronunciation
- Repeats words and phrases
Fluency/Structure
- Understands little or no English
Comprehension
Skor
satu
diperoleh
jika
peserta
Pengembangan butir-butir instrumen
mampu: menyebutkan nama objek benda
menggunakan dua bentuk tes, yaitu tes tulis
atau pun orang (begins to name concrete
dan tes lisan. Butir-butir tes tulis ditekankan
objects); menirukan kata dan frase dengan
pada
lafal
menggunakan fungsi-fungsi bahasa target.
yang benar (repeats words and
phrases);
dan
memahami
pertuturan
Tes
kemampuan
lisan
yang
peserta
bertujuan
dalam
mengukur
sederhana orang lain (understands little or
kompetensi berbicara pada tataran ambang
no English). Peserta mendapat skor dua jika
ini menggunakan kriteria penilaian O’malley
mampu: mengucapkan tuturan pada level
& Pierce (1996: 76) sebagai berikut: (1)
bahasa pemula (begins to communicate
validitas
personal and survival needs); menggunakan
penilaian hendaknya mengukur kompetensi
tuturan dan pola kalimat pendek (speaks in
pemahaman/menyimak dan berbicara, dan
single-word utterances and short patterns);
aktivitas
menggunakan kosakata fungsional (uses
pengajaran; (2) validitas butir-butir soal
functional vocabulary); memahami kosakata
(task validity), yaitu penilaian hendaknya
atau pun frase yang terkadang perlu didengar
benar-benar
berulangkali
pemahaman dan berbicara, bukan mengukur
(understands words and
phrases; requires repetitions).
aspek
isi
(content
tersebut
validity),
menjadi
mengukur
menyangkut
yaitu
bagian
kemampuan
kognitifnya;
(3)
67
kesesuaian dengan tujuan dan kemampuan
Pierce,
menyesuaikan/
Penggunaan
bahasa
mengembangkan
target
konsep
(purposefulness
and
transferability), yaitu penilaian hendaknya
1996:
68;
Bailey,
kelima
2005:
komponen
2).
tersebut
diintegrasikan ke dalam penggunaan fungsifungsi bahasa target tersebut di muka.
merefleksikan tujuan memahami konteks
Ketiga, pengukuran kesesuaian materi
dan berbicara dalam kehidupan sehari-hari;
tes
dan
kemampuan peserta dalam menggunakan
(4)
keotentikan,
hendaknya
mengukur
yaitu
penilaian
kecakapan
siswa
dalam memahami dan berbicara yang sesuai
yang
bertujuan
untuk
mengukur
fungsi-fungsi bahasa target yang telah
dipelajari,
terutama dalam
menjawab
dengan tataran peserta tes. Berikut ini
pertanyaan-pertanyaan penguji. Jika peserta
dikemukakan
mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan
penjelasan
masing-masing
butir kriteria penilaian tersebut.
penguji dengan menggunakan bahasa target
Pertama, pengukuran validitas isi yang
dilakukan melalui kegiatan oral interview
menyangkut
penggunaan
fungsi-fungsi
secara
tepat,
maka
pengukuran
dapat
dikatakan sesuai dengan tujuan wawancara.
Keempat,
pengukuran
keotentikan
bahasa target, dikembangkan dalam materi
materi
ajar alternatif, yaitu kategori “imparting and
kemampuan
seeking factual information”, yang meliputi
tuturan dan berinteraksi dengan penguji,
fungsi-fungsi bahasa: identifying, reporting
termasuk
(termasuk
pragmatika bahasanya. Lingkup penguasaan
describing
dan
narrating),
dilakukan
peserta
melalui
dalam
pemahaman
pengukuran
memahami
budaya
dan
correcting (yang meliputi agreeing dan
bahasanya
disagreeing), dan asking (termasuk di
penggunaan
dalamnya asking for information dan asking
berhubungan dengan kebutuhan interaksi
for help).
sehari-hari (survival needs) di negara target
Kedua, pengukuran
butir
soal
pengukuran
berfokus
yang
validitas butir-
dilakukan
kemampuan
pada
kecakapan
peserta
terutama
difokuskan
pada
fungsi-fungsi bahasa yang
bekerja, terutama sebagai penatalaksana
melalui
rumah tangga/PRT. Tabel 4 merupakan
yang
Matriks Kegiatan Penilaian Bahasa Lisan
pemahaman,
khusus bagi peserta tes (false beginners).
pelafalan, kefasihan (speed of speaking),
Selain tes tulis, tes wawancara (scored-
kosakata, dan tata bahasa (O’malley &
interview) juga dilakukan secara individual
68
oleh dua orang evaluator (interviewer).
data kuantitatif, yaitu hasil pengukuran yang
Materi tes meliputi pengukuran kemampuan
berupa informasi numerik. Data kuantitatif
siswa dalam menggunakan fungsi-fungsi
dikumpulkan dari peserta tes dengan topik
bahasa asking: for help/for information;
yang ditargetkan dan dapat dianalisis secara
identifying
statistik sehingga menghasilkan ketentuan-
reporting:
cued
someone/something;
describing/narrating.
Desscriptions/Stories
pengukuran
penguasaan
fungsi-fungsi
correcting.
bahasa
siswa
dan
Picture-
ketentuan
khusus.
Berdasarkan
meliputi
tersebut,
penulis
menggunakan
terhadap
pendekatan ini melalui instrumen dalam
describing
Information
Gap
dan
meliputi
konsep
jenis
bentuk tes tulis sebagai sarana pengumpul
data numeriknya.
pengukuran penguasaan peserta terhadap
Tes tulis dilakukan melalui langkah-
fungsi-fungsi bahasa describing, asking
langkah sebagai berikut: (1) membuat kisi-
for/giving information, dan giving direction.
kisi tes penguasaan fungsi-fungsi bahasa
Roleplays meliputi pengukuran penguasaan
target
siswa terhadap fungsi-fungsi bahasa asking
informations:
for/giving
correcting, dan asking), yang integratif ke
information
dan
correcting:
agreeing/disagreeing.
(imparting
dalam
Prosedur pelaksanaan tes ini mengacu
and
seeking
identifying,
keterampilan
factual
reporting,
berbicara;
(2)
merancang butir-butir tes; (3) menyiapkan
pada konsep Cohen et al. (2000: 392) dan
komponen
Richards (2001b: 296-297), yaitu bahwa
penilaian, tabel konversi nilai, dan lembar
pada pelaksanaan evaluasi program bahasa,
jawab; (4) melaksanakan tes tulis; dan (5)
pengumpulan
mengadakan test-scoring dengan rentang
pendekatan
data
dilakukan
kualitatif
dan
dengan
kuantitatif.
penilaian,
yaitu
pedoman
skor 1-90.
Pendekatan kualitatif menghasilkan data
Tes lisan dilakukan dengan langkah-
kualitatif, yaitu hasil pengukuran yang tidak
langkah sebagai berikut: (1) wawancara
dapat
pendahuluan; (2) wawancara lanjutan; dan
diekspresikan
secara
numeriki.
Pendekatan kualitatif diperoleh dari hasil
(3)
penyimpulan
hasil
wawancara.
pengumpulan berbagai informasi, yang di
Wawancara dimulai dengan pertanyaan-
antaranya adalah interviu, yang menjadi alat
pertanyaan sosial seperti “How are you to
pengumpul data lisan dalam kegiatan IbM
day?”, “What city do you from?”, “How long
ini. Pendekatan kuantitatif menghasilkan
have you studied English?”, dan “Are you
69
married?” untuk membiasakan peserta tes
tingkat penguasaan kecakapan berbicara
menjawab
otomatis,
menggunakan fungsi-fungsi bahasa target
karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu
dan kelima unsur keterampilan berbicara.
akan selalu dijumpai di mana pun, termasuk
Wawancara diakhiri secara luwes agar
di negara tujuan bekerja para calon pekerja
peserta
migran.
kecakapan berbicara merupakan pengalaman
pertanyaan
secara
Kedua, wawancara lanjutan untuk
menganggap
bahwa
ujian
yang menyenangkan.
menjajaki kemampuan peserta tes dalam
menerapkan kelima komponen kecakapan
tes
Keempat,
melakukan
pengumpulan
data dan menganalisis hasilnya. Data berupa
berbicara (termasuk pengetahuan budaya
skor tes tulis (0 - 90) dan tes lisan yang
dan pragmatika bahasa yang diekspresikan
dilakukan dengan kriteria penskoran model
oleh pewawancara) secara terpadu ke dalam
“Rubrik Penskoran Bahasa Lisan bagi
fungsi-fungsi bahasa ”imparting and seeking
Pembelajar
factual
informations”,
berikut:
“Name?;
“Destination?”;
seperti
“Age?”;
dan
“Got
Pemula
(Beginner’s
Rubric Scoring of Oral-language)” dengan
“Address?”;
rentang skala skor 0 – 2. Tes kecakapan
it?”.
pemahaman sosial budaya
Level
tuturan
Tes
berbicara
dilakukan
secara
lisan
(oral
diwujudkan
production test) (O’malley & Pierce, 1996:
dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan berikut
67; Bailey, 2005: 84). Namun demikian,
ini: “What you have to do in the morning
dalam
time, when your employers have not got
menggunakan tes tulis dan tes lisan demi
up?” atau “What you have to do if there is a
menjaga kesahihan hasil pengukuran dan
call while your employers are outsides”.
keluasan target cakupan penguasaan semua
Dalam
unsur
hal
ini,
penguji
secara
rileks
mengamati dan menilai respons peserta tes
kegiatan
dan
area
IbM
ini
linguistik
penulis
yang
telah
diajarkan.
yang diarahkan pada penggunaan unsurunsur ketrampilan berbicara dan fungsi
HASIL KEGIATAN
bahasa target.
Hasil kegiatan IbM bagi calon pekerja
Ketiga, penyimpulan hasil wawancara
dilakukan
sesuai
setelah
dengan
pengujian
tujuan
dipastikan
atau
target
pelaksanaannya. Penyimpulan berfokus pada
migran di Kecamatan Moyudan ini adalah
sebagai
berikut.
Pertama,
peningkatan
kecakapan berbicara para peserta pelatihan
yang
dibuktikan
melalui
pengujian
70
efektivitas MABIF dengan taraf signifikansi
lingkungan Kecamatan Moyudan Sleman,
 = 0.04. Pengujian kecakapan berbicara
Yogyakarta. Paguyuban ini dibentuk sebagai
meliputi pelafalan, tata bahasa, kosakata,
upaya untuk menjamin keberlangsungan
kefasihan, dan pemahaman menggunakan
(sustainability) program IbM. Paguyuban ini
fungsi-fungsi bahasa level threshold/false
berfungsi sebagai wadah kegiatan praksis
beginning
yaitu
pelatihan berbahasa Inggris lisan (English
imparting and seeking factual informations
speaking club) yang anggota dan pelaksana
(Van Ek, 1987: 113) serta dengan penerapan
kegiatannya adalah para lulusan pelatihan.
konsep
(minimum-
Para lulusan yang merupakan pencari kerja
pemahaman
lulusan berbagai perguruan tinggi negeri dan
pengetahuan sistem gramatikal bahasa target
swasta membentuk kelompok belajar yang
yang cukup untuk memahami kebutuhan
siap bekerja di luar negeri dan bertugas
dasar
(minimum-adequate
merekrut dan menyediakan fasilitas yang
grammar) (Wilkins, 1987: 97). Skor kedua
diperlukan oleh para peserta pelatihan
bentuk tes dari kedua kelompok partisipan
berikutnya
merupakan data pengujian yang kemudian
bimbingan dosen dan mahasiswa bahasa
dianalisis menggunakan uji-t.
Inggris UMBY.
adequate
(Bailey,
kosakata
2005:
minimum
vocabulary)
komunikasi
Kedua,
30),
dan
sertifikasi
bagi
peserta
secara
Keempat,
swadaya
di
terwujudnya
bawah
Artikel
penguasaan berbahasa
Publikasi sebagai sarana penyebarluasan
Inggris untuk survival life. Sertifikasi yang
pengalaman atau pun informasi menyangkut
dilegalisasi oleh LPPM Universitas Mercu
hasil pelaksanaan kegiatan yang dapat
Buana ini dapat digunakan sebagai bukti
digunakan
rekomendasi untuk
inspirasi bagi peneliti dan pengabdi sejenis.
pelatihan khusus
mengikuti pelatihan
lanjutan di lembaga penyelenggara pelatihan
sebagai
referensi
atau
pun
SIMPULAN
bagi calon tenaga kerja migran yaitu PJTKI
(Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia)
Berdasarkan berbagai penjelasan di
dan BLKLN (Balai Latihan Kerja untuk
atas dapat disimpulkan bahwa IbM ini
Luar Negeri) Depnakertrans.
menghasilkan: (1) Kecakapan berbahasa
Inggris terutama untuk survival life; (2)
Ketiga,
terbentuknya
“Paguyuban
Calon Tenaga Kerja Migran” khususnya di
Sertifikat Pelatihan
Inggris
Fungsional;
Penguasaan bahasa
(3)
terbentuknya
71
Paguyuban Calon Pekerja Migran untuk
menjamin keberlangsungan (sustainability)
program IbM ini (4) Artikel Publikasi
sebagai sarana diseminasi hasil kegiatan.
DAFTAR PUSTAKA
Depnakertrans RI.
---------. 2007. Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 81 Tahun 2006
Tentang Badan Nasional Penempatan
dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar
Negeri (BNP2TKI). Jakarta: Biro
Hukum Depnakertrans RI.
Bailey, Kathleen M. 2005. Practical English
Language Teaching Speaking. New
York: McGraw-Hill.
Dubin, Fraida. & Olshtain, Elite. 1992.
Course Design: Developing programs
and materials for language learning.
Cambridge: Cambridge University
Press.
Byram, Michael. & Fleming, Michael. 1998.
Language Learning in Intercultural
Perspective (Approaches through
drama and ethnography). Cambridge,
UK: Cambridge University Press.
Fromkin, Victoria., et al. 2003. An
Introduction to Language. USA:
Heinle,
a
part
of
Thomson
Corporation.
Brown, Douglas, H. 1996. Teaching by
Principles: An Interactive Approach to
Language
Pedagogy.
Englewood
Cliffs, New Jersey 07632: PrenticeHall, Inc.
---------. 2000. Principles of Language
Learning and Teaching: Fourth
Edition. New York: Addison Wesley
Longman, Inc. A Pearson Education
Company.
Cohen, Louis., et al. 2000. Research
Methods in Education. Great Britain:
TJ International
Ltd, Padstow,
Cornwall.
Gronlund, Norman E. 1978. Stating
Objectives for Classroom Instruction:
Second Edition. New York: Macmillan
Publishing Co., Inc.
Gunarwan,
Asim.
2004.
Pragmatik,
Kebudayaan, dan Pengajaran Bahasa.
Surakarta: UNS.
Hammerly, H. 1991. Fluency and Accuracy:
Toward
Balance
in
Language
Teaching and Learning. Clevedon:
Multilingual Matters, Ltd.
Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis
kompetensi: Pengembangan Silabus.
Jakarta: Dirjen Dikdasmen Depdiknas.
Hermayawati. 2007. The Relevance of
English Learning Materials at the
Senior Highschools to the Culture’s
Conservation
and
Tourism
Development in Yogyakarta City:
Makalah hasil penelitian disajikan
dalam Jurnal Bahasa, Sastra, dan
Pengajarannya, terakreditasi ISSN
1693-623X Vol. 5, No. 1, edisi April
2007. Surakarta: Prodi PBI PPs UNS.
Depnakertrans RI. 2000. Situasi TKI di 9
Negara: A Cooperative Research
between the research centre of the
University of Indonesia and The
Department of Man-power. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan
---------. 2009. Developing Functional
English Learning Materials for the
Migrant Domestic Worker Candidates:
Makalah dalam “Jurnal Bahasa, Sastra,
dan Pengajarannya”, PBI PPs UNS
Surakarta ISSN 1693-623X Vol. 6,
Cunningsworth, Alan. 1995. Choosing Your
Coursebook. Great Britain: The Bath
Press.
72
No.1, Eds. April 2009. Surakarta: PPs
UNS.
Hutchinson, Tom & Waters, Alan. 1994.
English for Specific Purposes: a
Learning-centred
Approach.
Cambridge: Cambridge University
Press.
Johnson, Elaine B. 2007. Contextual
Teaching
and
Learning
(Edisi
Terjemahan). Bandung: MLC.
O’malley, J.Michael. & Pierce, Valdez,
Lorraine. 1996. Authentic Assessment
for English Language Learners:
Practical Approaches for Teachers.
USA: Addison-Wesley Publishing
Company, Inc.
Richards,
J.C.
2001.
Curriculum
Development in Language Teaching.
Cambridge: Cambridge University
Press.
Koentjaraningrat.
2002.
Kebudayaan
Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:
PT Gramedia.
Tomlinson, Brian. & Masuhara, Hitomi.
2004. Developing Language Course
Materials.
Singapore:
SEAMEO
Regional Language Centre.
Littlewood, William. 1992. Teaching Oral
Communication: A Methodological
Framework.
Cambridge,
Massachusetts 02142 USA: Blackwell
Publishers.
Van Ek. 1987. The Threshold Level (an
extract). Oxford: Oxford University
Press.
McDonough, Jo. & McDonough, Steven.
1997. Research Methods for English
Language Teachers. New York: St
Martin’s Press Inc.
Wilkins,
D.A.
1987.
Grammatical,
Situational and Notional Syllabuses (an
extract). Oxford: Oxford University
Press.
73
PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP PENGUNGKAPAN
TANGGUNGJAWAB SOSIAL / SOCIAL DISCLOSURE
Nugraeni
Staf pengajar pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Mercu Buana Yogyakarta
ABSTRACT
The issue which becomes a concern of community today is the role of a company to its
environment, both external environment and internal environment of the company. In addition to
profit-oriented activities, companies need to conduct other activities, such as activities to provide
a safe working environment for its employees, ensure that no pollution to its surrounding area is
produced from the production process, transparent duty stationing of employess, to produce safe
products for consumers, and maintaining the external environment to achieve corporate social
responsibility. Disclosure of social responsibility is one of the selected media to show concern of
the company to the surrounding community. CSR (Corporate Social Responsibility) disclosure is
useful as added value for a company as well as reducing the social costs arising from company
activities. In addition to above mentioned benefits of CSR, the company can gain legitimacy by
demonstrating social responsibility through CSR disclosure in the media and in the company's
annual report. Results of several studies concluded that the percentage of management
ownership and type of industry has significant influence in company policy in expressing social
information; company size and structure of ownership significantly influence the broad of
voluntary disclosure in corporate annual reports.
Keywords: management ownership, social disclosure
PENDAHULUAN
FASB Concepts Statement No. 1
maupun lingkungan ekstern perusahaan.
dalam Kieso (2002) menyatakan bahwa
Perusahaan
beberapa informasi yang bermanfaat lebih
memberi manfaat positif terhadap ekonomi
baik disajikan dalam laporan keuangan, dan
juga berkontribusi terhadap menurunnya
beberapa lainnya lebih baik disajikan dengan
kondisi
menggunakan media pelaporan keuangan
perusahaan mendapat kritik karena telah
selain laporan keuangan. Isu yang sedang
menciptakan masalah sosial seperti polusi,
menjadi perhatian masyarakat saat ini yaitu
penyusutan sumber daya, limbah, mutu dan
peran
keamanan produk, hak dan status karyawan,
suatu
perusahaan
terhadap
lingkungannya, baik lingkungan intern
mempunyai
sosial
peran
masyarakat.
selain
Beberapa
keselamatan kerja dan lain-lain.
74
Berubahnya
kondisi
lingkungan
manajemen. Agar laporan keuangan yang
ekonomi banyak berpengaruh pada dunia
sudah diperiksa oleh akuntan publik dapat
usaha.
menjadi
Untuk
dapat
lebih
bersaing,
dasar
yang
berguna
bagi
perusahaan dihadapkan pada kondisi untuk
pengambilan keputusan, salah satu cara yang
dapat
dalam
dapat ditempuh adalah dengan membuat
mengungkapkan informasi perusahaannya,
kriteria perlunya disclosure (pengungkapan)
sehingga
tertentu
lebih
transparan
akan
lebih
membantu
para
pengambil keputusan dalam mengantisipasi
kondisi yang semakin berubah. Tujuan
laporan
keuangan
informasi
yang
adalah
menyediakan
menyangkut
posisi
yang
dapat
mencakup
semua
perusahaan publik (Irawan, 2006: 19).
Menurut
Statement
of
Financial
Accounting Concepts (SFAC) No. 1, tujuan
pelaporan
adalah
untuk
memberikan
keuangan, kinerja serta perubahan posisi
informasi yang berguna bagi investor, calon
keuangan suatu perusahaan yang dapat
investor, kreditur, calon kreditur dan para
bermanfaat bagi sejumlah pengguna dalam
pemakai lainnya dalam membuat keputusan
pengambilan keputusan. Laporan keuangan
investasi, kredit dan keputusan lainnya
yang
secara rasional. Menurut Susanto (1992)
disusun
diharapkan
untuk
dapat
tujuan
memenuhi
tersebut
kebutuhan
Subroto (2003) dan Irawan (2006) informasi
bersama sebagian besar pengguna.
yang terkandung dalam laporan keuangan
Profesi akuntan sebagai penyedia informasi
sangat
tidak dapat melepaskan diri dari situasi
mengalokasikan dana-dana investasi secara
perkembangan
Semakin
efisien dan produktif. Daarough (1993)
besar suatu usaha bisnis, semakin dirasakan
Subroto (2003) Irawan (2006) menunjukkan
perlunya informasi akuntansi, baik untuk
arti pentingnya informasi laporan keuangan
pertanggung jawaban maupun untuk dasar
dengan menyatakan bahwa, perusahaan –
pengambilan
Berhubungan
perusahaan memberikan laporan keuangan
dengan pengujian informasi keuangan dari
kepada berbagai stakeholder, dengan tujuan
pihak luar (investor), profesi akuntan perlu
untuk memberikan informasi yang relevan
mengatur cara-cara pengujian informasi
dan tepat waktu agar berguna dalam
keuangan suatu badan usaha dan memberi
pengambilan
jasa audit untuk menentukan kewajaran
monitoring,
laporan
pembuatan kontrak-kontrak. Irawan (2006)
perekonomian.
keputusan.
keuangan
yang
disusun
oleh
penting
sebagai
keputusan
penghargaan
dasar
untuk
investasi,
kinerja
dan
75
menyatakan
bahwa
investasi
kualitas
dipengaruhi
keputusan
oleh
kualitas
pengungkapan perusahaan yang diberikan
melalui laporan tahunan. Agar informasi
PEMBAHASAN
Pertanggungjawaban social perusahaan
(CSR)
Dauman dan Hargreaves (1992) dalam
yang disajikan dalam laporan keuangan
Sulastini
dapat dipahami dan tidak menimbulkan
tanggung jawab perusahaan dapat dibagi
salah interpretasi, maka penyajian laporan
menjadi tiga level sebagai berikut :
keuangan
1. Basic responsibility (BR)
harus
pengungkapan
disertai
yang
dengan
cukup
(adequate
disclosure).
(2007)
menyatakan
bahwa
Pada level pertama, menghubungkan
tanggung jawab yang pertama dari suatu
Saat
ini
perusahaan
pihak-pihak
semakin
managerial
menyadari
bahwa
perusahan, yang muncul karena keberadaan
perusahaan tersebut
seperti;
perusahaan
perusahaan tidak lagi dihadapkan pada
harus membayar pajak, memenuhi hukum,
tanggung jawab yang berpijak pada single
memenuhi
bottom
perusahaan
memuaskan pemegang saham. Bila tanggung
(corporate value) yang direfleksikan dalam
jawab pada level ini tidak dipenuhi akan
kondisi keuangannya (financial) saja, namun
menimbulkan dampak yang sangat serius.
juga harus berpijak pada triple bottom lines
2. Organization responsibility (OR)
line,
yaitu
nilai
standar
pekerjaan,
dan
yaitu memperhatikan masalah sosial dan
lingkungannya. Dunia usaha bukan lagi
sekedar
kegiatan
menciptakan
profit
ekonomik
demi
untuk
kelangsungan
usahanya, melainkan tanggung jawab sosial
dan
lingkungan.
Jika
menggantungkan
semata-mata pada kesehatan finansial tidak
akan
menjamin
perusahaan
akan
bisa
Pada level kedua ini menunjukan
tanggung
jawab
memenuhi
perusahaan
perubahan
untuk
kebutuhan
”Stakeholder” seperti pekerja, pemegang
saham, dan masyarakat di sekitarnya.
3. Sociental responses (SR)
Pada
level
ketiga,
menunjukkan
tumbuh secara berkelanjutan (sustainable)
tahapan ketika interaksi antara bisnis dan
(Adhianta 2008)
kekuatan
lain
dalam
masyarakat
yang
demikian kuat sehingga perusahaan dapat
tumbuh
dan
berkembang
secara
berkesinambungan, terlibat dengan apa yang
76
terjadi
dalam
lingkungannya
secara
keseluruhan.
dengan para karyawan serta perwakilan
Tanggung jawab perusahaan tidak
hanya
ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama
terbatas
pada
keluarga
mereka,
komunitas
keuangan
setempat maupun masyarakat umum untuk
perusahaan, tetapi juga harus bertanggung
meningkatkan kualitas kehidupan dengan
jawab
yang
cara yang bermanfaat baik bagi bisnis
ditimbulkan oleh aktivitas operasional yang
sendiri maupun untuk pembangunan (The
dilakukan perusahaan. Adapun Teuku dan
World Business Council for Sustainable
Imbuh (1997) Nur Cahyonowati (2003)
Development (WBCSD) Ambadar, 2008:19
dalam
Djoe mee 2009). Konsep CSR melibatkan
terhadap
kinerja
mereka,
masalah
sosial
Sulastini (2007) mendeskripsikan
tanggung jawab sosial sebagai kewajiban
tanggung
organisasi yang tidak hanya menyediakan
pemerintah,
barang dan jasa yang baik bagi masyarakat,
masyarakat,
tetapi
(lokal). Kemitraan ini tidaklah bersifat pasif
juga
mempertahankan
kualitas
lingkungan sosial maupun fisik, dan juga
dan
memberikan
tanggung
kontribusi
positif
terhadap
jawab
kemitraan
lembaga
serta
statis.
sumber
komunitas
Kemitraan
jawab
antara
ini
secara
setempat
merupakan
sosial
antara
kesejahteraan komunitas dimana mereka
stakeholders.
berada. Sedangkan menurut Ivan Sevic
Economic
Accounting):
(Hasibuan,2001) Sulastini (2007) tanggung
pengaturan,
pengukuran
jawab sosial diartikan bahwa perusahaan
pengungkapan pengaruh ekonomi sosial dari
mempunyai tanggung jawab pada tindakan
kegiatan
yang mempengaruhi konsumen, masyarakat,
mengukur
dan lingkungan. Selain itu Weston dan
kegiatan perusahaan terhadap lingkungan,
Brigham
mencakup: Financial, Managerial Social
menyatakan
berperan
(1990)
bahwa
aktif
Sulastini
(2007)
perusahaan
harus
dalam
menunjang
kesejahteraan masyarakat luas.
Corporate Social Responsibility (CSR)
atau tanggung jawab sosial perusahaan
Definisi
daya
perusahaan.
dan
Accounting
SEA
menyangkut
analisis,
Bertujuan
melaporkan
dan
(Social
Social
dan
untuk
pengaruh
Auditing
(Harahap,2004:349 Djoe mee 2009).
Pengungkapan
(disclosure)
tanggung
jawab sosial
Menurut
Hackston
dan
Milne,
didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk
tangggung jawab sosial perusahaan sering
memberikan kontribusi bagi pembangunan
disebut
juga
sebagai
corporate
social
77
responsibility
atau
social
disclosure,
cenderung
membatasi
persepsi
tentang
corporate social reporting, social reporting
tanggung jawab sosial yang dilaporkan.
merupakan
Pendekatan
proses
pengkomunikasian
kedua
dengan
dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan
pengungkapan
ekonomi
kelompok
perusahaan pada suatu pengujian peran
khusus yang berkepentingan dan terhadap
informasi dalam hubungan masyarakat dan
masyarakat secara keseluruhan (Sembiring,
organisasi. Pandangan yang lebih luas ini
2005) dalam Sri Sulastini (2007). Hal
telah menjadi sumber utama kemajuan
tersebut
jawab
dalam pemahaman tentang pengungkapan
organisasi dalam hal ini perusahaan, di luar
tanggung jawab sosial perusahaan dan
peran tradisionalnya untuk menyediakan
sekaligus merupakan sumber kritik yang
laporan keuangan kepada pemilik modal,
utama terhadap pengungkapan tanggung
khususnya
jawab sosial perusahaan.
tersebut
organisasi
terhadap
memperluas
pemegang
dibuat
tanggung
saham.
dengan
Perluasan
asumsi
bahwa
Banyak
tanggung
meletakkan
teori
jawab
yang
sosial
menjelaskan
perusahaan mempunyai tanggung jawab
mengapa
yang lebih luas dibanding hanya mencari
mengungkapkan informasi yang berkaitan
laba untuk pemegang saham (Gray et.al
dengan aktivitasnya dan dampak yang
(1995) Hasibuan (2001) Sulastini (2007).
ditimbulkan oleh perusahaan tersebut. Gray
Menurut Gray et.al. dalam Sembiring (2005)
et.al. (1995) dalam Henny dan Murtanto
Sulastini (2007) ada dua pendekatan yang
(2001) Sulastini (2007). menyebutkan ada
secara signifikan berbeda dalam melakukan
tiga studi yaitu :
penelitian tentang pengungkapan tanggung
1. Decision usefullness studies.
jawab
sosial
pengungkapan
perusahaan.
tanggungjawab
Pertama,
sosial
perusahaan
Sebagian
dilakukan
oleh
dari
para
cenderung
studi-studi
yang
peneliti
yang
perusahaan mungkin diperlakukan sebagai
mengemukakan teori ini menemukan bukti
suatu suplemen dari aktivitas akuntansi
bahwa informasi sosial dibutuhkan oleh para
konvensional. Pendekatan ini secara umum
pemakai laporan keuangan. Dalam hal ini
akan menganggap masyarakat keuangan
para analis, banker, dan pihak lain yang
sebagai
pengungkapan
dilibatkan dalam penelitian tersebut diminta
tanggung jawab sosial perusahaan dan
untuk melakukan pemeringkatan terhadap
pemakai
utama
informasi akuntansi.
Informasi akutansi
78
tersebut
tidak
terbatas
pada
informasi
pembenaran dari para stakeholders dalam
akuntansi tradisioanal yang telah dikenal
menjalankan
selama ini, namun juga informasi lain yang
Sehingga berakibat semakin besar pula
relatif baru dalam wacana akuntansi. Mereka
kecenderungan
menempatkan informasi aktivitas social
diri terhadap keinginan para stakeholders-
perusahaan pada posisi yang moderately
nya.
important
sebagai
Informasi yang diungkapkan dalam laporan
dalam
keuangan tahunan dapat dikelompokkan
untuk
pertimbangan
digunakan
oleh
para
users
pengambilan keputusan
operasi
perusahaannya.
perusahaan
mengadaptasi
menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib
2. Economic theory studies
(Mandatory disclosure) dan pengungkapan
Studi ini menggunakan agency theory
sukarela
(Voluntery
dan positive accounting theory, dimana teori
Pengungkapan
tersebut
pengungkapan
menganalogikan
manajemen
disclosure).
wajib
yang
merupakan
diharuskan
oleh
sebagai agen dari suatu prinsipal. Dalam
peraturan yang berlaku, dalam hal ini adalah
penggunaan
prinsipal
peraturan yang ditetapkan oleh lembaga
diartikan sebagai pemegang saham atau
yang berwenang. Sedangkan pengungkapan
traditional users lain. Namun pengertian
sukarela
prinsipal tersebut meluas menjadi seluruh
melebihi dari yang diwajibkan.
interest
agency
group
theory,
pengungkapan
yang
yang
Menurut Hendriksen (2002) Hartanti
bersangkutan. Sebagai agen manajemen
(2005) ada tiga konsep pengungkapan yang
akan berupaya mengoperasikan perusahaan
umumnya diusulkan, adalah sebagai berikut
sesuai
:
dengan
perusahaan
adalah
keinginan
publik
(1)
Pengungkapan
cukup
(Adequate
(stakeholder).
disclosure). Pengungkapan cukup adalah
3. Social and political theory studies
pengungkapan minimum yang disyaratkan
Studi di bidang ini menggunakan teori
oleh peraturan yang berlaku, dimana angka
stakeholders, teori legitimasi organisasi, dan
yang
teori ekonomi politik. Teori stakeholders
dengan
mengasumsikan
Pengungkapan wajar (Fair disclosure), yaitu
perusahaan
bahwa
ditentukan
eksistensi
oleh
disajikan
dapat
benar
oleh
diinterpretasikan
investor
(2)
para
Pengungkapan yang wajar secara tidak
stakeholders. Perusahaan berusaha mencari
langsung menyiratkan suatu etika, yaitu
79
memberikan perlakuan yang sama kepada
pengungkapan
semua pemakai laporan keuangan; (3)
manufaktur adalah 68 item.
Pengungkapan penuh (Full disclosure), yaitu
menyangkut
penyajian
informasi
yang
wajib
perusahaan
Menurut Murtanto (2006) Sulastini
(2007), pengungkapan kinerja perusahaan
relevan. Bagi sebagian orang pengungkapan
seringkali
penuh berarti penyajian informasi secara
(voluntary disclosure)
berlimpah sehingga tidak tepat. Menurut
Adapun
mereka, terlalu banyak informasi akan
mengungkapkan
membahayakan. Karena penyajian rinci dan
sukarela antara lain:
yang tidak penting justru akan mengaburkan
oleh
dilakukan
secara
sukarela
oleh perusahaan.
alasan-alasan
perusahaan
kinerja
sosial
secara
1. Internal Decision Making
informasi yang signifikan membuat laporan
Manajemen membutuhkan informasi
keuangan sulit ditafsir.
Di Indonesia yang menjadi otoritas
pengungkapan
Setiap
wajib
perusahaan
adalah
publik
Bapepam.
diwajibkan
membuat laporan keuangan yang diaudit
oleh akuntan publik independen sebagai
sarana
pertanggungjawaban,
terutama
kepada pemilik modal. Bapepam melalui
untuk menentukan efektivitas informasi
sosial tertentu dalam mencapai tujuan sosial
perusahaan.
Walaupun
hal
ini
sulit
diidentifikasi dan diukur, namun analisis
secara sederhana lebih baik daripada tidak
sam sekali.
2. Product Differentiation
Surat Keputusan Bapepam No. 06/PM/2000
Manajer perusahaan memiliki insentif
tanggal 13 Maret 2000 tentang Pedoman
untuk membedakan diri dari pesaing yang
Penyajian Laporan Keuangan mensyaratkan
tidak bertanggung jawab secara sosial
elemen-elemen
seharusnya
kepada masyarakat. Akuntansi kontemporer
keuangan
tidak memisahkan pencatatan biaya dan
perusahaan-perusahaan publik di Indonesia.
manfaat aktivitas sosial perusahaan dalam
Kemudian untuk pedoman penyajian dan
laporan keuangan, sehingga perusahaan yang
pengungkapan laporan keuangan perusahaan
tidak peduli sosial akan terlihat lebih sukses
publik industri manufaktur diatur melalui
daripada perusahaan yang peduli. Hal ini
Surat Edaran Ketua Bapepam No. SE-
mendorong perusahaan yang peduli sosial
02/PM/2002 tanggal 27 Desember 2002.
untuk mengungkapkan informasi tersebut
diungkapkan
yang
dalam
laporan
Dalam Surat Edaran tersebut total item
80
sehingga masyarakat dapat membedakan
mereka dari perusahaan lain.
terdapatnya implikasi keuangan dari masalah-masalah
lingkungan”.
Bagian Definisi paragraf 08 dinyatakan :
3. Enlightened Self-Interest
Perusahaan melakukan pengungkapan
untuk menjaga keselarasan sosialnya dengan
para stakeholder karena mereka dapat
”........Pengungkapan
tambahan,
bagaimanapun,
diperlukan atau dianjurkan agar merefleksikan secara
penuh berbagai dampak lingkungan yang timbul dari
berbagai aktivitas dari suatu perusahaan atau industri
khusus”.
Bagian
Pengungkapan
paragraf
41
mempengaruhi pendapatan penjualan dan
dinyatakan seperti berikut:
harga saham perusahaan.
Ikatan
dalam
Akuntansi
Pernyataan
Indonesia
Standar
(IAI)
Akuntansi
Keuangan (PSAK) Nomor 1 (revisi 2004)
”......... Pengungkapan yang demikian itu dapat
dimasukkan dalam laporan keuangan, dalam catatan
atas laporan keuangan atau, dalam kasus-kasus
tertentu dalam suatu seksi laporan di luar laporan
keuangan itu sendiri. ......”.
Sulastini (2007) paragraf sembilan secara
Berdasarkan pernyataan PSAK di atas,
implisit menyarankan untuk mengungkapkan
menunjukkan kepedulian akuntansi terhadap
tanggung jawab akan masalah sosial sebagai
masalah-masalah sosial yang merupakan
berikut :
pertanggungjawaban
“Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan
seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan
laporan nilai tambah (value added statement),
khususnya bagi industri dimana faktor-faktor
lingkungan hidup memegang peran penting dan bagi
industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok
pengguna laporan yang memegang peranan penting”
Dalam Exposure Draft PSAK no 20
tahun
2005,
Masnila
(2008)
tentang
Akuntansi Lingkungan bagian Pendahuluan
paragraph 01 dinyatakan bahwa :
”......perusahaan-perusahaan
pada
masa
kini
diharapkan atau diwajibkan untuk mengungkapkan
informasi mengenai kebijakan dan sasaran-sasaran
lingkungannya, program-program yang sedang
dilakukan dan kos-kos yang terjadi karena mengejar
tujuan-tujuan
ini
dan
menyiapkan
serta
mengungkapkan risiko-risiko lingkungan. Dalam area
akuntansi, inisiatif yang telah digunakan untuk
memfasilitasi pengumpulan data dan untuk
menigkatkan kesadaran perusahaan dalam hal
sosial
perusahaan.
Belum adanya standar baku yang merinci
peraturan mengenai pengungkapan sosial
mengakibatkan
keleluasaan
perusahaan
dan
memiliki
kebebasan
untuk
mengungkapkan informasi sosial tersebut.
Struktur kepemilikan dan pengungkapan
tanggungjawab sosial
Pengungkapan
kinerja
lingkungan,
sosial dan ekonomi bertujuan untuk menjalin
hubungan komunikasi yang baik dan efektif
antara
perusahaan
dengan
publik
dan
stakeholders lainnya tentang bagaimana
perusahaan
telah
mengintegrasikan
corporate social responsibilty (CSR): –
lingkungan dan sosial – dalam setiap aspek
81
kegiatan
operasinya
2007).
memonitor perusahaan. Perusahaan dengan
memperoleh
kepemilikan institusional yang besar (lebih
legitimasi dan memaksimalkan kekuatan
dari 5%) mengindikasikan kemampuannya
keuangannya dalam jangka panjang dengan
untuk
memonitor
memperlihatkan
besar
kepemilikan
Perusahaan
(Darwin,
juga
dapat
tanggung
jawab
sosial
manajemen.
Semakin
institusional
melalui pengungkapan CSR dalam media
semakin
termasuk dalam laporan tahunan perusahaan
perusahaan dan diharapkan juga dapat
(Oliver, 1991; Haniffa dan Coke, 2005; Ani,
bertindak
2007)
pemborosan
dan
Kiroyan
(2006).
Hal
ini
efisien
pemanfaatan
maka
sebagai
pencegahan
yang
aktiva
terhadap
dilakukan
oleh
mengindikasikan bahwa perusahaan yang
manajemen (Faizal, 2004 dalam Arif, 2006).
menerapkan
Hal ini berarti kepemilikan institusi dapat
CSR
mengharapkan
akan
direspon positif oleh para pelaku pasar.
menjadi
Kepemilikan asing dalam perusahaan
merupakan pihak yang dianggap concern
terhadap pengungkapan tanggung jawab
sosial
perusahaan.
Negara-negara
pendorong
perusahaan
untuk
melakukan pengungkapan tanggung jawab
sosial.
Lebih lanjut dalam joernalakuntansi
luar
2010, dalam posisi sebagai bagian dari
terutama Eropa dan United State merupakan
masyarakat, operasi perusahaan seringkali
negara-negara yang sangat memperhatikan
mempengaruhi
isu-isu sosial; seperti pelanggaran hak asasi
Eksistensinya
manusia, pendidikan, tenaga kerja, dan isu
anggota
lingkungan
kaca,
eksistensinya pun dapat terancam bila
pembalakan liar, serta pencemaran air. Hal
perusahaan tidak dapat menyesuaikan diri
ini juga yang menjadikan dalam beberapa
dengan
tahun terakhir ini, perusahaan multinasional
masyarakat tersebut atau bahkan merugikan
mulai mengubah perilaku mereka dalam
anggota komunitas tersebut. Oleh karena itu,
beroperasi demi menjaga legitimasi dan
perusahaan,
reputasi perusahaan (Simerly dan Li, 2001;
mencoba memperoleh kesesuaian antara
Fauzi, 2006) dalam joernalakuntansi 2010.
tindakan organisasi dan nilai-nilai dalam
Struktur
adalah
masyarakat umum dan publik yang relevan
kepemilikan institusional, dimana umumnya
atau stakeholder-nya (Dowling dan Pfeffer,
dapat
1975 dalam Haniffa fan Cooke, 2005; Ani,
seperti,
efek
kepemilikan
bertindak
sebagai
rumah
lain
pihak
yang
masyarakat
dapat
diterima
masyarakat,
norma
yang
melalui
sekitarnya.
top
sebagai
sebaliknya
berlaku
dalam
manajemennya
82
2007).
Keselarasan
antara
tindakan
organisasi dan nilai-nilai masyarakat ini
tidak
selamanya
diharapkan.
berjalan
Tidak
jarang
seperti
akan
(Henderson et al, 2004, Nurhayati, et al,
2006).
yang
terjadi
Perusahaan multinasional atau dengan
kepemilikan
asing
utamanya
melihat
perbedaan potensial antara organisasi dan
keuntungan legitimasi berasal dari para
nilai-nilai sosial yang dapat mengancam
stakeholrder-nya
legitimasi perusahaan. Menurut Sethi dalam
berdasarkan atas home market (pasar tempat
Haniffa dan Cooke (2005); Ani (2007), hal
beroperasi)
ini
dapat
menghancurkan
legitimasi
dimana
yang
secara
dapat
tipikal
memberikan
eksistensi yang tinggi dalam jangka panjang
organisasi yang berujung pada berakhirnya
(Suchman, 1995 dalam Barkemeyer, 2007).
eksistensi perusahaan.
Pengungkapan
Suchman (1995) dalam Barkemeyer
(2007)
memberikan
definisi
mengenai
tanggung
jawab
sosial
merupakan salah satu media yang dipilih
untuk
memperlihatkan
organisational legitimacy sebagai berikut:
perusahaan
“Legitimacy is a generalized perception or
sekitarnya.
assumption that the actions of an entity are
perusahaan memiliki kontrak dengan foreign
desirable, proper, or appropriate within
stakeholders baik dalam ownership dan
someocially constructed system of norms,
trade, maka perusahaan akan lebih didukung
values, beliefs, and definitions”. Nasi, Nasi,
dalam melakukan pengungkapan tanggung
Philips, and Zyglidopoulos, 1997 dalam
jawab sosial. Penelitian Tanimoto dan
Nurhayati, Brown, dan Tower, 2006 dalam
Suzuki (2005), dalam melihat luas adopsi
joernalakuntansi 2010, mengatakan bahwa
GRI dalam laporan tanggung jawab sosial
“Legitimacy theory focuses of the adequacy
pada
of corporate social behaviour”. Ini berarti
membuktikan bahwa kepemilikan asing pada
bahwa society judge organisasi berdasarkan
perusahaan publik di Jepang menjadi faktor
atas image yang akan mereka ciptakan untuk
pendorong terhadap adopsi GRI dalam
diri mereka sendiri. Selanjutnya organisasi
pengungkapan tanggung jawab sosial.
dapat menetapkan legitimasi mereka dengan
memadukan
antara
kinerja
terhadap
kepedulian
Dengan
perusahaan
Susanto
masyarakat
kata
publik
(dalam
lain,
di
Marwata,
di
apabila
Jepang,
2006),
perusahaan
meneliti luas pengungkapan sukarela dalam
dengan ekspektasi atau persepsi publik
laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di
BEJ, menemukan pemilikan saham oleh
83
investor asing dalam penelitian ini tidak
hasil bahwa institutional ownership tidak
memiliki
memiliki
hubungan
pengungkapan
dengan
sukarela
dalam
luas
hubungan
terhadap
CSR.
laporan
Selanjutnya, Mani (2004) Kasmadi dan
tahunan. Kepemilikan institusional adalah
Susanto (2006), menguji faktor-faktor yang
kepemilikan saham perusahaan oleh institusi
menentukan luas pengungkapan sukarela
keuangan, seperti perusahaan asuransi, bank,
dalam laporan tahunan perusahaan di India,
dana pensiun, dan asset management (Koh,
menemukan financial institution investment
2003; Veronica dan Bachtiar, 2005). Tingkat
tidak
kepemilikan institusional yang tinggi akan
terhadap
menimbulkan usaha pengawasan yang lebih
laporan tahunan perusahaan di India.
besar oleh pihak investor institusional
sehingga
dapat
menghalangi
berhubungan
secara
pengungkapan
signifikan
sukarela
dalam
Anggraini (dalam Dumadia, 2009)
perilaku
melakukan penelitian terhadap faktor-faktor
opportunistic manajer. Perusahaan dengan
yang mempengaruhi keputusan perusahaan
kepemilikan institusional yang besar (lebih
untuk mengungkapkan informasi sosial di
dari 5%) mengindikasikan kemampuannya
dalam laporan keuangan tahunan pada
untuk memonitor manajemen (Arif, 2006).
perusahaan-perusahaan
Shleifer and Vishny (1986) Barnae dan
Rubin
(2005),
ini
Indonesia.
menggunakan
variabel
institutional
prosentase kepemilikan manajemen, tingkat
shareholders, dengan kepemilikan saham
leverage, biaya politis, dan profitabilitas.
yang
untuk
Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan
keputusan
bahwa persentase kepemilikan manajemen
institusi
dan tipe industri berpengaruh signifikan
besar,
memantau
perusahaan.
bahwa
Penelitian
di
memiliki
insentif
pengambilan
Sebagai
bentuk
memerlukan pengungkapan CSR terjadi
terhadap
pada perbankan Eropa, dimana perbankan di
mengungkapkan informasi sosial. Irawan
Eropa
(2006)
menerapkan
kebijakan
perusahaan
dalam
kebijakan
dalam
hanya
kepada
mempengaruhi pengungkapan antara lain
mengimplementasikan
saham publik dan status perusahaan, dimana
CSR dengan baik. Barnae dan Rubin (2005)
adanya perbedaan dalam proporsi saham
dalam joernalakuntansi 2010,
melakukan
yang dimiliki oleh investor luar dapat
CSR sebagai
mempengaruhi kelengkapan pengungkapan
konflik berbagai shareholder menunjukkan
oleh perusahaan. Hal ini karena semakin
pemberian
pinjaman
perusahaan
yang
penelitian untuk
melihat
bahwa
faktor-faktor
yang
84
banyak pihak yang membutuhkan informasi
menyediakan lingkungan kerja yang aman
tentang perusahaan, semakin banyak pula
bagi karyawannya, menjamin bahwa proses
detail-detail butir yang dituntut untuk dibuka
produksinya tidak mencemarkan lingkungan
dan
pengungkapan
sekitar perusahaan, melakukan penempatan
perusahan semakin luas. Dessy Amalia
tenaga kerja secara jujur, menghasilkan
(2005) Kumala Dewi (2007) hasil penelitian
produk yang aman bagi para konsumen, dan
menujukkan bahwa ukuran perusahaan dan
menjaga
struktur kepemilikan memiliki pengaruh
mewujudkan kepedulian sosial perusahaan.
dengan
demikian
yang signifikan terhadap luas pengungkapan
lingkungan
eksternal
untuk
Disclosure dalam laporan keuangan
sukarela dalam laporan tahunan perusahaan.
tahunan merupakan sumber informasi untuk
SIMPULAN
pengambilan keputusan investasi. Keputusan
investasi sangat tergantung dari mutu dan
Perusahaan memiliki kewajiban sosial
atas apa yang terjadi disekitar lingkungan
masyarakat. Selain menggunakan dana dari
pemegang
saham,
perusahaan
juga
menggunakan dana dari sumber daya lain
yang berasal dari masyarakat (konsumen)
sehingga hal yang wajar jika masyarakat
mempunyai
harapan
tertentu
terhadap
perusahaan. Tanggung jawab sosial adalah
suatu
bentuk
seharusnya
pertanggungjawaban
dilakukan
perusahaan,
yang
atas
dampak positif maupun dampak negatif yang
luas pengungkapan yang disajikan dalam
laporan
tahunan.
Mutu
dan
luas
pengungkapan laporan keuangan tahunan
masing-masing
berbeda.
Perbedaan
ini
terjadi karena karakteristik dan filosofi
manajemen masing-masing perusahaan juga
berbeda. Selain digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan, disclosure dalam
laporan keuangan tahunan juga digunakan
sebagai
sarana
pertanggungjawaban
manajemen keuangan atas sumber daya yang
dipercayakan.
ditimbulkan dari aktivitas operasionalnya,
dan mungkin sedikit-banyak berpengaruh
terhadap
masyarakat
internal
maupun
eksternal dalam lingkungan perusahaan.
Selain melakukan aktivitas yang berorientasi
pada laba, perusahaan perlu melakukan
aktivitas lain, misalnya aktivitas untuk
Dengan adanya PSAK No 1 (revisi
2004) diharapkan menambah kesadaran
perusahaan
sosialnya
untuk
melaporkan
terhadap
perusahaan.
mengungkapkan
kegiatan
lingkungan
Geliat
tanggung
untuk
jawab
sekitar
selalu
sosial
dalam bentuk CSR reporting sudah nampak
85
dan perusahaan mulai tidak ragu lagi. Bagi
perusahaan dengan menjalankan praktik
akuntansi dan pelaporan atas aktivitas
sosialnya diharapkan dapat memberikan
nilai tambah yang diperoleh dari para
stakeholdernya. Namun begitu tidak semua
perusahaan
mengungkapkan
aktivitas
sosialnya.
Pengungkapan
perusahaan
selain
CSR
berguna
untuk
nilai
bagi
tambah
perusahaan juga mengurangi biaya sosial
yang timbul nanti dari aktivitas perusahaan.
Selain
itu
perusahaan
memperoleh
juga
legitimasi
memperlihatkan
tanggung
dapat
dengan
jawab
sosial
melalui pengungkapan CSR dalam media
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Irawan, 2006, “Faktor-faktor Yang
Mempengaruhi
Kelengkapan
Pengungkapan Laporan Keuangan
Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta”,
Skripsi S1, Fakultas Ekonomi UII,
Yogyakarta.
David S.Gelb; Joyce A.Strawser, “Corporate
Social Responsibility and Financial
Disclosures:An
Alternative
Explanation for Increased Disclosure”,
Journal of Business Ethics, Vol. 33,
No. 1 (Sep., 2001) pp 1-13.
Dewi Hartanti, 2005 : “ Pengaruh Faktorfaktor
Fundamental
Terhadap
Kelengkapan Pengungkapan Laporan
Keuangan Perusahaan Manufaktur
Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”,
Skripsi S1, Universitas Negeri
Semarang.
para pelaku pasar. Kepemilikan asing dalam
Dessy Amalia, 2005, “Faktor- Faktor Yang
Mempengaruhi Luas Pengungkapan
Sukarela (Voluntary Disclosure) Pada
Laporan Tahunan Perusahaan”, Jurnal
Akuntansi Pemerintah, Vol 1, No. 2,
November 2005
perusahaan merupakan pihak yang dianggap
Djoe2x’s Blog-http://djoe2x.wordpress.com
termasuk dalam laporan tahunan perusahaan.
Perusahaan
yang
menerapkan
CSR
mengharapkan akan direspon positif oleh
concern terhadap pengungkapan tanggung
jawab
sosial
perusahaan.
kepemilikan
lain
adalah
institusional,
dimana
Struktur
kepemilikan
umumnya
dapat
bertindak sebagai pihak yang memonitor
perusahaan. Kepemilikan institusi dapat
menjadi
pendorong
perusahaan
untuk
Edi Subiyantoro, Saarce Elsye Hatane,
“Dampak
Perubahan
Kultur
Masyarakat
Terhadap
Praktik
Pengungkapan Laporan Keuangan
Perusahaan Publik di Indonesia”,
Jurnal
Manajemen
Dan
Kewirausahaan, Vol. 9, No. 1, Maret
2007: 18-29
http://joernalakuntansi.wordpress.com
http://www.dumadias.blogspot.com
melakukan pengungkapan tanggung jawab
http://www.Theowordpower’s.webblog.com
sosial.
Kieso Donald E; Jerry J.Weygandt; Terry D.
Warfield,
2002,
“Intermediate
86
Accounting”, Edisi Kesepuluh, Jilid 3,
Erlangga, Jakarta.
Kumala Dewi, 2009 “ Pengaruh Luas
Pengungkapan Laporan Keuangan
Tahunan Pada Perusahaan Manufaktur
di
Bursa
Indonesia
Terhadap
Keputusan oleh Investor”, Fakultas
Ekonomi,
Jakarta.
Universitas
Gunadarma,
Sri Sulastini, 2007, “Pengaruh Karakteristik
Perusahaan terhadap Social Disclosure
Perusahaan Manufaktur yang telah go
public”, Skripsi S1 Universitas Negeri
Semarang.
87
PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN KUALITAS AUDIT
TERHADAP PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONCIBILITY (CSR)
Imannuel Wiryawan (Staf Pengajar Fak Ekonomi Univ Kristen Imanuel)
Martinus Budiantara (Staf Pengajar Fak Ekonomi Univ Mercu Buana Yogyakarta)
Abstract
Companies are sometimes less aware of the importance of environment upon the success of the
business. Problems related to the environment, such as environmental pollution, should not occur
if the company's activity is accompanied by a concern for society and the environment. Such
conditions require that firms are not only oriented towards profit, but also accompanied by
attention to the surrounding environment. This study examines the effect of audit quality and
institutional ownership of corporate social disclosure responcibility.
Key word: corporate social responcibility, institutional ownership, audit quality
dengan
PENDAHULUAN
perhatian
terhadap
lingkungan
Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh
disekitarnya.
aktivitas bisnis yang ada di suatu negara.
Dua motivasi yang mendasari perusahaaan
Perusahaan-perusahaan akan saling bersaing
dalam
untuk menjadi pemimpin di bidang industri
(Corporate
masing-masing. Pada mulanya, keberhasilan
mengungkapkan
Social
aktivitas
Respocibility)
CSR
dalam
laporan keuangan. Dua motivasi tersebut
perusahaan tidak banyak diikuti dengan
didasarkan pada teori stakeholders dan teori
kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
legitimasi.
Perusahaan kurang menyadari akan arti
disebutkan bahwa perusahaan akan memilih
pentingnya lingkungan terhadap kesusksesan
stakeholders yang dianggap penting dan
usaha. Permasalahan yang terkait dengan
mengambil
lingkungan, seperti pencemaran lingkungan,
menghasilkan hubungan harmonis antara
seharusnya tidak terjadi apabila aktivitas
perusahaan
perusahaan disertai dengan suatu kepedulian
terhadap
masyarakat
Kondisi
seperti
perusahaaan
tidak
dan
ini
hanya
Dalam
teori
tindakan
dan
stakeholders
yang
stakeholdesrnya.
dapat
Oleh
karena itu, perusahaan mempertimbangkan
lingkungan.
aktivitas serta pengungkapan CSR dengan
mengharuskan
harapan agar mempunyai hubungan yang
berorientasi
terhadap laba saja, namun juga disertai
baik dengan para stakeholders perusahaan.
Teori
legitimasi
perusahaan
menyebutkan
sebaiknya
bahwa
menunjukkan
berbagai aktivitas sosial perusahaan agar
88
tujuan perusahaan diterima masyarakat. Oleh
leverage,
karena itu, perusahaan mempertimbangkan
sensitivity),
aktivitas serta pengungkapan CSR dengan
(media exposure) terhadap CSR.
harapan memperoleh legitimasi dari publik.
Pada umumnya perusahaan yang besar
Perusahaan
mengungkapkan lebih banyak informasi
menggunakan
pengungkapan
sensitivitas
serta
industri
(industry
pengungkapan
media
CSR untuk membenarkan atau melegitimasi
dibandingkan
dengan
perusahaan
aktivitas perusahaan di mata masyarakat.
Perusahaan
besar
pada
Hal ini dikarenakan, pengungkapan aktivitas
mempunyai jenis produk yang banyak,
CSR akan menunjukkan tingkat kepatuhan
sistem informasi yang canggih, serta struktur
suatu perusahaan seperti kepatuhan terhadap
kepemilikan
norma-norma yang berlaku, serta harapan-
memungkinkan dan membutuhkan tingkat
harapan publik kepada perusahaaan tersebut.
pengungkapan
Berdasarkan
studi
empirik,
yang
umumnya
lengkap,
secara
kecil.
sehingga
luas
(
Suripto,
1999,Zaleha, 2005)
menunjukkan bahwa aktivitas pengungkapan
Penelitian yang dilakukan oleh Adams
CSR beragam pada semua perusahaan
et al. (1998), Cullen and Christopher (2002),
industri.
juga
Hamid (2004), Haniffa dan Cooke (2005),
menunjukkan bahwa perilaku pengungkapan
Hossain et al. (1995), Neu et al.(1998), dan
CSR sangat penting dan secara sistematis
Patten
dipengaruhi oleh variasi perusahaan dan
menunjukkan hubungan yang signifikan
karakteristik industri yang mempengaruhi
antara
biaya-manfaat pengungkapan.
pengungkapan sosial. Sementara Hackston
Beberapa literatur
dan Milne (1996), Zaleha (2005) dan
Studi
empirik
lain
penelitian yang
(1991),
dalam
ukuran
perusahaan
dengan
Anggraeni
(1995), Neu et al.(1998), dan Patten (1991),
hubungan dari kedua variabel tersebut.
terdapat
beberapa
variabel
tidak
(2008)
dilakukan oleh Cooke (2005), Hossain et al.
dalam Reverte (2008) menunjukkan bahwa
(2006)
Reverte
menemukan
Sensitivitas industri dapat didefinisikan
yang
sebagai seberapa besar tingkat industri
kemungkinan menjelaskan variasi luasnya
tersebut bersinggungan langsung dengan
pengungkapan CSR dalam laporan tahunan.
konsumen dan kepentingan luas lainnya.
Munif (2010) menguji pengaruh
ukuran
Oleh karena itu, pada umumnya perusahaan
perusahaan (zise), keuntungan (profitability),
yang mempunyai sensitivitas industri yang
struktur kepemilikan (ownership structure),
tinggi
terhadap
lingkungannya
akan
89
memperoleh perhatian yang tinggi mengenai
mendesak kebijakan manajer dalam aktivitas
lingkungan tersebut dibandingkan dengan
CSR
perusahaan-perusahaan
mempengaruhi
yang
mempunyai
sensitivitas industri yang lebih rendah
yang
kepemilikan
potensi
umumnya
tinggi
dalam
langsung
kesuksesan
keuangan
Perusahaan yang mempunyai struktur
perusahaan tersebut mempunyai dampak
lebih
tidak
perusahaa
terhadap lingkungannya. Hal ini dikarenakan
yang
secara
yang
akan
terdispersi,
memperbaiki
pada
kebijakan
mempengaruhi kondisi serta keberadaan
pelaporan keuangan perusahaan dengan
lingkungan tersebut (Branco dan Rodrigues,
menggunakan pengungkapan CSR untuk
2008).
mengurangi asimetri informasi. Sedangkan
Pada beberapa penelitian yang telah
perusahaan dengan struktur kepemilikan
dilakukan menunjukkan bahwa perusahaan-
yang terpusat pada umumnya lebih kurang
perusahaan
manufaktur
termotivasi untuk mengungkapkan informasi
perusahaan mempunyai pengaruh negatif
tambahan pada kegiatan CSR perusahaan.
pada lingkungan, maka pengungkapan dan
Hal ini dikarenakan para shareholder pada
pelaporan
perusahaan
yang
akan
proses
lebih
informative
tersebut
dapat
memperoleh
dibandingkan dari industri lainnya (Reverte,
informasi secara langsung dari perusahaan
2008). Penelitian yang dilakukan oleh
(Reverte, 2008). Penelitian yang dilakukan
Anggraini
adanya
Brammer and Pavelin (2008); Prencipe
pengaruh yang signifikan antara sensitivitas
(2004); dalam Reverte (2008) menunjukkan
industri dengan pengungkapan tanggung
hubungan
jawab sosial.
kepemilikan dan pengungkapan tanggung
Pada umumnya, perusahaan dengan tingkat
jawab sosial.
(2006)
menunjukkan
leverage yang tinggi akan mengurangi
yang
positif
antara
struktur
Pengungkapan media merupakan salah
pengungkapan tanggung jawab sosial yang
satu
dibuatnya agar tidak menjadi perhatian dari
lingkungan.
para debtholders. Brammer dan Pavelin
penting pada pergerakan mobilisasi sosial,
(2008)
juga
misalnya kelompok yang tertarik pada
menyatakan bahwa tingkat utang yang
lingkungan (Patten, 2002b dalam Reverte,
rendah
kreditor
2008). Pengungkapan CSR pada media,
yang
diharapkan perusahaan akan mempunyai
dalam
akan
perusahaan
Reverte
membuat
mengurangi
(2008)
para
tekanan
sumber
utama
Media
pada
informasi
mempunyai
peran
90
citra yang positif di mata publik, sehingga
perusahaan mendapatkan legitimasi atas
praktik CSR. Hal inilah yang menjadi bagian
pada
proses
membentuk
membangun
norma
yang
institusi,
diterima
dan
legitimasi praktik CSR.
Pengertian CSR menurut Wikipedia
Indonesia menyatakan bahwa :
“ Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate
Social Responsibility adalah suatu konsep bahwa
organisasi, khususnya perusahaan adalah memiliki
suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan,
pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam
segala aspek operasional perusahaan “
Perumusan Masalah
1.
Bagaimana pengaruh
terhadap
kualitas audit
pengungkapan
corporate
disimpulkan
social responcibility (CSR).
2.
Bagaimana
pengaruh
Dari kedua definisi tersebut dapat
kepemilikan
institusional terhadap pengungkapan
terintegrasi
dijalankan
bisnis
perusahaan,
memperhatikan kepentingan stakeholders
memberikan
Tujuan Penelitian
manfaat/kesejahteraan
bagi
masyarakat.
Untuk mengetahui pengaruh kualitas
audit
terhadap
pengungkapan
Corporate Social Respocibility (CSR).
2.
dengan
CSR
(pemangku kepentingan) dengan harapan
corporate responsibility (CSR)
1.
bahwa
Untuk
mengetahui
kepemilikan
pengungkapan
pengaruh
institusional
Corporate
terhadap
Social
Menurut Daniri (2007) CSR lahir dari
desakan
masyarakat
atas
perilaku
perusahaan yang biasanya selalu fokus untuk
memaksimalkan laba, mensejahterakan para
pemegang
saham,
dan
mengabaikan
tanggung jawab sosial seperti perusakan
Responcibility (CSR).
lingkungan, eksploitasi sumber daya alam,
Tinjauan dan Pengembangan Hipotesis
Corporate Social Responsibility (CSR)
Seperti
dikemukakan
oleh
Robins
(2005) adalah sebagai berikut:
dan lain sebagainya. Konsep dan praktik
CSR bukan lagi dipandang sebagai suatu
cost center tetapi juga sebagai suatu strategi
perusahaan
yang
dapat
memacu
dan
menstabilkan pertumbuhan usaha secara
CSR is a concept whereby companies integrate
social and environmental concerns in their
business operations and stakeholder relations on
a voluntary basis; it is about managing
companies in a socially responsible manner.
jangka panjang. Oleh karena itu penting
untuk mengungkapkan CSR sebagai wujud
pelaporan tanggung jawab sosial kepada
masyarakat.
91
secara drastis dari perusahaan yang terkena
Good Corporate Governance (GCG)
Menurut
Daniri
(2004),
dengan
kasus.
mengutip riset Berle dan Means pada tahun
Persoalan tata kelola perusahaan
1934, isu GCG muncul karena terjadinya
menjadi semakin jelas terlihat. Negara
pemisahan
antara
Amerika Serikat yang dikenal sebagai
pengelolaan
perusahaan.
kepemilikan
dan
Pemisahan
ini
negara
acuan
penerapan
tata
kelola
memberikan kewenangan kepada pengelola
perusahaan yang baik menjadi diragukan
(manajer/direksi) untuk mengurus jalannya
karena kasus-kasus manipulasi akuntansi.
perusahaan, seperti mengelola dana dan
Ada tuduhan yang menyebutkan bahwa
mengambil keputusan perusahaan atas nama
pemicu munculnya kasus manipulasi justru
pemilik. Pemisahan ini didasarkan pada
karena mekanisme tata kelola perusahaan di
principal-agency theory yang dalam hal ini
Amerika Serikat (Mayangsari, 2003).
manajemen cenderung akan meningkatkan
keuntungan
pribadinya
perusahaan.
keuangan
Selain
yang
daripada
memiliki
baik,
perusahaan
Penerapan
Corporate
Governance
tujuan
diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk
kinerja
memberikan keyakinan kepada para investor
juga
akan menerima return atas dana yang
diharapkan memiliki tata kelola yang baik.
diinvestasikan, dan yakin bahwa manajer
Corporate Governance atau sering disebut
tidak
dengan tata kelola perusahaan mulai banyak
menginvestasikan dana ke proyek-proyek
dibicarakan
berbagai
yang tidak menguntungkan dan berkaitan
skandal di dunia bisnis yang melibatkan
dengan bagaimana investor mengontrol para
manipulasi akuntansi. Skandal akuntansi
manajer.
sejak
terjadinya
yang terjadi pada perusahaan-perusahaan
akan
menggelapkan
atau
Corporate Governance
tidak
meliputi
besar seperti Enron, Xerox, Tyco, Global
serangkaian hubungan antara manajemen
Crossing, dan Worldcom. Terungkapnya
perusahaan,
skandal
direksi
akuntansi
bekurangnya
khususnya
mengakibatkan
kepercayaan
masyarakat
masyarakat
keuangan
dan
dewan
direksinya
dewan
komisaris),
(dewan
para
pemegang saham dan stakeholders lainnya.
dalam
Corporate Governance juga merupakan
pasar uang dan pasar modal, salah satu
suatu yang memfasilitasi penentuan sasaran-
indikatornya adalah turunnya harga saham
sasaran dari suatu perusahaan, dan sebagai
sarana
pencapaian
sasaran
dan
sarana
92
menentukan
(OECD,
teknik
1999).
monitoring
Corporate
kinerja
Governance
semua
pihak
(stakeholders).
yang
berkepentingan
Secara
lebih
rinci,
harus memberikan insentif yang tepat bagi
terminologi Corporate Governance dapat
dewan direksi dan manajemen dalam rangka
dipergunakan untuk menjelaskan peranan
mencapai sasaran, harus dapat memfasilitasi
dan perilaku dari Dewan Direksi, Dewan
monitoring yang efektif dan mendorong
Komisaris, pengurus (pengelola) perusahaan,
penggunaan sumber daya yang efektif.
dan para pemegang saham (FCGI, 2001).
Penerapan good corporate governance
Sebagaimana yang diuraikan oleh OECD
diyakini mampu menciptakan kondisi yang
(2004), yang dikutip oleh FCGI dalam
kondusif dan landasan yang kokoh untuk
terbitannya ada empat unsur penting dalam
menjalankan operasional perusahaan yang
CG yaitu:
baik, efisien dan menguntungkan. Penerapan
a. Keadilan (Fairness), yaitu kepastian
good corporate governance dapat didorong
perlindungan atas hak seluruh pemegang
dari dua sisi, yaitu etika dan peraturan.
dari penipuan (fraud) dan penyimpangan
Dorongan dari etika (ethical driven) datang
lainnya serta adanya pemahaman yang
dari kesadaran individu-individu, pelaku
jelas mengenai hubungan berdasarkan
bisnis untuk menjalankan praktik bisnis yang
kontrak diantara penyedia sumber daya
mengutamkan
perusahaan dan pelanggan.
kelangsungan
hidup
perusahaan, kepentingan stakeholders, dan
menghindari
cara-cara
menciptakan
keuntungan sesaat. Di sisi lain, dorongan
dari peraturan (regulatory driven) memaksa
perusahaan untuk patuh terhadap peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Kedua
pendekatan ini memiliki kekuatan dan
kelemahannya masing-masing dan seharusya
saling
melengkapi
untuk
menciptakan
b. Transparansi
(Transparancy),
yaitu
keterbukaan mengenai informasi kinerja
perusahaan,
baik
ketepatan
waktu
maupun akurasinya. Hal ini berkaitan
dengan kualitas informasi akuntansi
yang dihasilkan.,
c. Akuntabilitas
(Accountability),
yaitu
penciptaan sistem pengawasan yang
lingkungan bisnis yang sehat (KNKG,
efektif
2006).
wewenang, peranan, hak dan tanggung
Tujuan dari Corporate Governance
adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi
berdasarkan
pembagian
jawab dari pemegang saham, manajer,
dan auditor.
93
d. Pertanggungjawaban
(Responsibility),
untuk saham perusahaan yang memiliki CG
yaitu pertanggungjawaban perusahaan
yang lebih baik (wellgoverned company atau
kepada stakeholders dan lingkungan
WGC) dibandingkan perusahaan lain dengan
dimana perusahaan itu berada. CG
kinerja keuangan relatif sama.
timbul karena kepentingan perusahaan
untuk
memastikan
penyandang
dana
kepada
Penelitian Terdahulu
pihak
Klapper dan
(principal/investor)
bahwa dana yang ditanamkan digunakan
secara tepat dan efisien. Selain itu
dengan CG, perusahaan memberikan
kepastian bahwa manajemen (agent)
bertindak yang terbaik demi kepentingan
Love (2002) dalam
Darmawati, dkk.(2005) menemukan adanya
hubungan
positif
antara
corporate
governance dengan kinerja perusahaan yang
diukur
dengan
Penemuan
ROA
penting
dan
lain
Tobins
adalah
Q.
bahwa
penerapan corporate governance di tingkat
perusahaan.
perusahaan lebih memiliki arti dalam Negara
Penerapan good corporate governance
diyakini mampu menciptakan kondisi yang
berkembang dibandingkan dalam negara
maju.
kondusif dan landasan yang kokoh untuk
Wahyuni (2005) meneliti pengaruh
menjalankan operasional perusahaan yang
antara Current ratio, ROE, Total Asset Turn
baik, efisien dan menguntungkan. Coombes
Over dan DER terhadap harga saham.
dan Watson (2000) dalam Fachrurozi (2007)
Hasilnya menunjukkan bahwa current ratio,
menyatakan bahwa pemegang saham saat ini
ROE, total asset turn over (TAT), dan DER
sangat
aktif
perusahaan
dalam
karena
meninjau
kinerja
berpengaruh
pemegang
saham
harha saham.
secara
signifikan
terhadap
menganggap bahwa CG yang lebih baik
Siallagan
akan memberikan imbal hasil yang lebih
tinggi bagi pemegang saham. Tujuh puluh
lima persen dari investor mengatakan bahwa
praktek CG paling tidak sama pentingnya
dengan kinerja keuangan ketika investor
mengevaluasi
investasi.
perusahaan
Bahkan
80%
untuk
dari
tujuan
investor
mengatakan akan membayar lebih mahal
dan
Machfoedz
(2006)
meneliti hubungan mekanisme corporate
governance,
kualitas
laba
dan
nilai
perusahaan. Dalam penelitian ini mekanisme
corporate
governance
diproksi
oleh
kepemilikan manajerial, keberadaan komite
audit,
dan
independen.
proporsi
Hasil
dewan
komisaris
menunjukkan
bahwa
94
mekanisme
corporate
governance
Adhi Cahya Bramantya (2010) dalam
mempengaruhi nilai perusahaan (Tobin’s Q).
penelitiannya menemukan bahwa kinerja
dan Wirakusuma (2007)
keuangan yang terdiri dari rasio Size, ROA,
meneliti pengaruh kinerja keuangan terhadap
dan Leverage berpengaruh secara simultan
nilai
dengan
terhadap pengungkapan CSR. Secara parsial
mempertimbangkan CSR dan corporate
kinerja keuangan yang berpengaruh terhadap
governance
pengungkapan CSR adalah variabel Size dan
Yuniasih
perusahaan
sebagai
variabel
moderasi.
Kinerja keuangan diproksikan dengan ROA,
sedangkan
corporate
Leverage.
governance
diproksikan dengan kepemilikan manajerial.
Hasilnya mengindikasikan bahwa ROA
berpengaruh
perusahaan,
positif
terhadap
pengungkapan
CSR
dapat
nilai perusahaan, akan tetapi kepemilkan
tidak
hubungan
antara
dapat
ROA
dengan
nilai
Nurkhin (2009) meneliti corporate
governance dan profitabilitas, pengaruhnya
terhadap pengungkapan tanggung jawab
perusahaan.
Kepemilikan Institusional
Hipotesis
memoderasi
perusahaan.
sosial
Pengungkapan CSR
nilai
memoderasi hubungan antara ROA dengan
manajerial
Kualitas Audit
Hasil
penelitian
H1 :
Kualitas Audit berpengaruh positip
terhadap pengungkapan CSR.
H2 : Struktur kepemilikan institusional
berpengaruh terhadap pengungkapan
CSR
H3 :
Kualitas
Audit
dan
struktur
kepemilikan institusional secara
bersama
sama
mempengaruhi
pengungkapan CSR
menunjukkan bahwa Profitabilitas terbukti
berpengaruh positif terhadap CSR. Rahayu
Sri (2010) dalam penelitian menemukan
bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh
METODE PENELITIAN
Populasi
yang
digunakan
dalam
signifikan terhadap hubungan antara ROE
penelitian ini adalah seluruh perusahaan
terhadap Tobins Q, pengungkapan CSR
yang termasuk dalam kelompok industri
tidak
manufaktur yang telah terdaftar di BEI.
mempengaruhi
hubungan
kinerja keuangan dan nilai perusahaan.
antara
Dipilihnya satu kelompok industry yaitu
industri
manufaktur
sebagai
populasi
95
dimaksudkan untuk menghindari bias yang
dipublikasikan. Data diperoleh antara lain
disebabkan oleh efek industri (industrial
dari Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).
effect), dan selain itu sector manufaktur
memiliki
jumlah
terbesar
Metode Pengumpulan Data
perusahaan
Metode
dibandingkan sektor lainnya.
yang
digunakan
dalam
penelitian ini adalah metode dokumentasi,
Sampel
yaitu
Sampel
catatan-catatan
ditentukan
perusahaan yang diperlukan yang terdapat
berdasarkan purposive sampling yang berarti
didalam annual report perusahaan yang
pemilihan
kriteria
menjadi sampel penelitian seperti informasi
perusahaan
pengungkapan CSR, kualitas audit, struktur
manufaktur yang dijadikan sampel antara
kepemilikan institusional, dan data lain yang
lain adalah seperti berikut: (a) Semua
diperlukan. Pengukuran kinerja CSR adalah
perusahaan yang termasuk dalam kelompok
melalui laporan kegiatannya, yakni dengan
industri manufaktur yang terdaftar di BEI
metode content analysis yang merupakan
dan mempublikasikan laporan keuangan
suatu cara pemberian skor pada pengukuran
tahun 2009; ((b) Perusahaan sampel tidak
pengungkapan sosial laporan tahunan yang
mengalami
dilakukan dengan pengamatan mengenai ada
tertentu.
penelitian
mempelajari
sampel
Adapun
berdasarkan
kriteria
delisting
selama
periode
pengamatan; (c) Tersedia laporan keuangan
tidaknya
perusahaan secara lengkap pada tahun 2009,
ditentukan dalam laporan tahunan, apabila
baik secara fisik maupun melalui website
item informasi tidak ada dalam laporan
www.idx.co.id atau pada website masing-
keuangan maka diberi skor 0, dan jika item
masing perusahaan; (d) Memiliki data
informasi yang ditentukan ada dalam laporan
keuangan yang berkaitan dengan variabel
tahunan maka diberi skor 1.
penelitian secara lengkap.
suatu
item
informasi
yang
Variabel Independen
Jenis dan Sumber Data
Kualitas Audit
Jenis data yang digunakan dalam
DeAngello
(1981)
mendefinisikan
penelitian ini adalah data sekunder. Data
audit
penelitian diambil dari laporan tahunan
kemungkinan
perusahaan
memberikan a) penemuan mengenai suatu
yang
telah
diaudit
dan
quality
sebagai
“pasar
bahwa
auditor
menilai
akan
pelanggaran dalam sistem akuntansi klien;
96
dan
b)
adanya
pelanggaran
dalam
pencatatannya.“ Pada public sector, GAO
(1986) mendefinisikan audit quality yaitu
lain-lain tenaga kerja, 10 item produk, 9 item
keterlibatan masyarakat, dan 2 item umum.
Metode Analisis
pemenuhan terhadap standar profesional dan
Penelitian
terhadap syarat-syarat sesuai perjanjian,
yang harus dipertimbangkan. Pengertian lain
yang digunakan berkaitan dengan studi
mengenai audit quality adalah analisis
terhadap kualitas yang ditinjau dari aturan
yang dibuat oleh aparatur pemerintah.
Kemudian dari tiga pendekatan tersebut
Schroeder (1986) dan Carcello (1992)
mengidentifikasi adanya hubungan antara
atribut kualitas audit dan kualitas audit yang
dirasakan (dalam Lowensohn, 2007).
ini
sederhana. Sebelum analisis dilaksanakan,
terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi
klasik untuk menghasilkan nilai parameter
model penduga yang sah. Nilai tersebut akan
terpenuhi jika hasil uji asumsi klasiknya
memenuhi asumsi normalitas, serta tidak
terjadi heteroskedastisitas, autokorelasi, dan
multikolinearitas.
Uji Autokorelasi
Correlations
Inde
ks
CSR INST
Pengungkapan CSR ad pengungkapan
informasi yang berkaitan dengan tanggung
Pengukuran CSR mengacu pada 78 item
Pearson Indeks CSR
Correlation
INST
pengungkapan yang digunakan oleh Siregar
(2008). Pengukuran variabel ini dengan
indeks pengungkapan sosial, selanjutnya
Pengungkapan sosial merupakan data
yang diungkap oleh perusahaan berkaitan
dengan aktifitas sosialnya yang meliputi 13
item lingkungan, 7 item energi, 8 item
.093
.364
.093
1.000
-.054
.364
-.054
1.000
.
.172
.000
.172
.
.290
UKAD
.000
.290
.
Indeks CSR
107
107
107
INST
107
107
107
UKAD
107
107
107
Sig.
(1- Indeks CSR
tailed)
INST
N
UKA
D
1.000
UKAD
ditulis CSR dengan membandingkan jumlah
pengungkapan yang diharapkan.
dengan
menggunakan teknik analisis regresi linear
Variabel Dependen Pengungkapan CSR
jawab perusahaan di dalam laporan tahunan.
diuji
Uji Signifikansi/Pengaruh Simultan (Uji
Statistik F)
kesehatan dankeselamatan kerja, 29 item
97
Dari hasil uji Anova diperoleh bahwa
ANOVAb
Sum of
Squares df
Model
1
Regression
.025
kepemilikan institusional dan kualitas audit
Mean
Square
2
F
.013 8.824
Sig.
.000
a
Residual
.148 104
Total
.173 106
secara bersama-sama berpengaruh terhadap
pengungkapan CSR. Hal ini dapat dilihat
dari nilai signifikasnsi < 0,05
.001
a. Predictors: (Constant), UKAD, INST
b. Dependent Variable: Indeks CSR
Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1
B
(Constant)
Standardized
Coefficients
Std. Error
-.014
.021
INST
.019
.015
UKAD
.022
.005
Beta
t
Sig.
-.697
.488
.113
1.239
.218
.370
4.075
.000
a. Dependent Variable: Indeks CSR
Dari hasil perhitungan uji t, dapat
dilihat
bahwa
kepemilikan
institusional
secara parsial tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan CSR. Hal ini dapat dilihat
dari nilai Sig > 0,05. Sedangkan kualitas
audit secara parsial berpengaruh terhadap
pengungkapan CSR.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini,
Fr
Reni
Retno.
2006.
”Pengungkapan Informasi Sosial dan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pengungkapan Informasi Sosial dalam
Laporan Keuangan Tahunan (Studi
Empiris pada Perusahaan-Perusahaan
yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta)”.
Makalah
Disampaikan
dalam
Simposium Nasional Akuntansi Ke-9.
Padang, 23 – 26 Agustus.
Branco, M. C. dan Rodrigues, L. L. 2008.
“Factors
Influencing
Social
Responsibility
Disclosure
by
Portuguese Companies”. Journal of
Business Ethics (2008) 83:685–701
DOI 10.1007/s10551-007-9658-z.
98
Daniri, Mas Achmad 2009. “Mengukur
Kinerja Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan. Informasi CSR Sangat
Terbatas, Bisnis Indonesia, 8 Juni
2009.
Daniri, Mas Achmad, 2008, “Jadikan GCG
Bermakna”, Bisnis Indonesia, 21
Desember 2008.
Hasyir, Dede Abdul, 2009, “Pengungkapan
Informasi Pertanggungjawaban Sosial
Pada Laporan Tahunan Perusahaan ‐
Perusahaan Publik di Bursa Efek
Jakarta”. Working Paper in Accounting
and Finance, Universitas Padjajaran
Bandung.
Herawaty, Vinola, 2008, “Peran Praktek
Corporate
Governance
Sebagai
Moderating Variable Dari Pengaruh
Earnings Management Terhadap Nilai
Perusahaan”, Simposium Nasional
Akuntansi 11 Pontianak 23-24 Juli
2008.
Herdinata,
Christian,
2008,
“Good
Corporate Governance vs Bad
Corporate Governance: Pemenuhan
Kepentingan Antara Para pemegang
Saham Mayoritas dan Pemegang
Saham Minoritas”, The 2nd National
Conference UKWMS, Surabaya.
IICG, 22 Februari 2010, “Corporate
Governance”, http://www.iicg.org.
Medley, Patrick. 1997. “Environmental
Accounting – What Does It Mean to
Professional Accountants? Journal of
Accounting
Auditing
&
Accountability”. Vol.10 No.4. p. 594600.
Midiastuty, Pratana dan Machfoedz,
Mas’udz, 2003, “Analisis Hubungan
Mekanisme Corporate Governance
dan Indikasi Manajemen Laba”,
Simposium Nasional Akuntansi VI.
Nurlela, Rika dan Islahuddin, 2006,
“Pengaruh
Corporate
Social
Responsibility
Terhadap
Nilai
Perusahaan
Dengan
Prosentase
Kepemilikan Manajemen Sebagai
Variabel Moderating”, Universitas
Syah Kuala.
Rosmasita, Hardhina, 2007, “Faktor-faktor
Yang Mempengari Pengungkapan
Sosial (Social Disclosure) Dalam
Laporan
Keuangan
Tahunan
Perusahaan Manufaktur di BEJ”,
Universitas
Islam
Indonesia,
Yogyakarta.
Sabeni, Arifin, 2005, “Peran Akuntan Dalam
Menegakkan Prinsip Good Corporate
Governance
(Tinjauan
Perspektif
Agency Theory)”, Pidato Pengukuhan
Guru Besar , Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro.
Sekaran, Uma, 2006, “Metodologi Penelitian
Untuk Bisnis, Edisi 4”, Salemba
Empat, Jakarta.
Siallagan, Hamonangan dan Machfoedz,
Mas’udz,
2006,
“Mekanisme
Corporate Governance, Kualitas Laba
dan Nilai Perusahaan”, Simposium
Nasional Akuntansi 9 Padang.
Siregar, Baldric, 2008, “ Seminar Peran
Akuntan dalam Pengukuran CSR”, Ina
Garuda Yogyakarta, 11 Desember
2008.
www.srsn.com
www.yahoofinance.com
Yuniasih, Ni Wayan dan Wirakusuma, Made
Gede, 2007, ”Pengaruh Kinerja
Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan
Dengan Pengungkapan Corporate
Social Responsibility Dan Good
Corporate
Governance
Sebagai
Variabel Pemoderasi”, Universitas
Udayana, Bali.
99
Download