PENGARUH OPTIMALISASI PERAN

advertisement
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
PENGARUH OPTIMALISASI PERAN
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN TERHADAP
DEKADENSI MORAL ANAK
Oleh
Roma Sembiring, M.Pd.K.
Abstrak
Pendidikan moral sangat penting bagi siswa
untuk meningkatkan kecerdasan, emosional dan
spiritual dan mengatasi terjadinya dekadensi moral.
Sekolah mengatur inovasi kreatif nilai-nilai moral
program pembelajaran dalam bentuk perilaku nyata
dan sikap, tidak hanya konseptual. Pendidikan moral
selalu menjadi masalah di sekolah. Meskipun
metodologi dan konten telah berubah selama beberapa
tahun terakhir, cara untuk menerapkan teori-teori dan
membawa ke dalam kelas dan internalisasi mereka
dalam anak masih salah satu penelitian penting.
Kata kunci: Pendidikan Agama Kristen, Dekadensi
Moral
A. Pendahuluan
1.1. Latar belakang
Dewasa ini, dunia mengalami dekadensi moral dan perlahan
nilai-nilai moral pun terkikis dan hilang. Beruntung jika para
pemikir dan cendekiawan segera menyadarinya dan mengevaluasi
masalah sosial secara mendalam dan berupaya mencari
solusinya. Moral dan nilai-nilainya seperti sebuah permata yang
sangat berharga di mana semua orang baik agamis maupun tidak
menggunakannya. Peran akhlak dapat disaksikan dalam politik,
ekonomi, sains dan teknologi serta perilaku indivu dan sosial1.
Fenomena runtuhnya solidaritas pendidikan moral di
sekolah mau tidak mau kita harus memikirkannya. Secara teoritas
dan faktual, pendidikan moral yang pertama dan utama adalah di
rumah. Faktor pertamanya adalah lingkungan keluarga terlalu
1
/Indonesian.irib.ir/headline2/-/asset_publisher,Tahun 2012 , Hal: 2
98
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
sempit sebagai tempat mendapatkan dan berlatih menerapkan nilainilai moral. Dari orang tua atau significant others yang lain anakanak pertama kali memperoleh nilai-nilai moralitas yang digunakan
sebagai acuan untuk hidup bersama. Tetapi harus pula diakui
bahwa menyerahkan pendidikan moral sepenuhnya kepada
orangtua ternyata tidaklah memadai. Hal yang terjadi banyak
orangtua masa kini hampir tidak punya waktu untuk mendidik
anak-anak. Semua diserahkan sepenuhnya pada sekolah. Fakta
disekolah seringkali nilai-nilai yang diberikan guru lebih diikuti
oleh anak-anak daripada dari orangtuanya.Faktor-faktor tersebut
memberikan pendidikan moral menjadi sebuah imperatif bagi
sekolah.2
Banyak orang beranggapan bahwa pendidikan moral anak
hanya tanggungjawab kedua orangtua, sehingga mereka acuh tak
acuh melihat perilaku immoral yang dilakukan oleh anak orang
lain. Sebenarnya pendidikan moral anak adalah tanggungjawab
sosial, dalam arti setiap anggota masyarakat seharusnya saling
peduli dan mengawasi serta saling melakukan langkah edukatif
terhadap perilaku anak-anak dalam komunitas tersebut, sekalipun
bukan anaknya sendiri.
1.2.Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang terurai diatas maka penulis
membuat tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi
penyebab terjadinya Dekadensi Moral Anak
2. Untuk mengetahui Apakah Dekadensi Moral Anak dapat
diatasi dengan mengoptimalkan peran pendidikan agama
kristen
B. Kajian Pustaka
2.1.Moral
2.1.1 Pengertian
Kata Moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti
kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah
istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam
2
Karma, Merancang Pendidikan Moral & Budi Pekerti, Thn 2004, Hal 2
99
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak
memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak
memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral
adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.
Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan
bahasa latin yaitu mores yang merupakan bentuk jamak dari
perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus umum
bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik
buruk terhadap perbuatan dan kelakuan3. Istilah moral biasanya
dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan,
kelakuan, sifat dan perangai yang dinyatakan benar, salah, baik,
buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral
dalam istilah dipahami juga sebagai:
1. Prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik
dan buruk.
2. Kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah.
3. Ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik.
Moral ialah tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika.
Moral terbagi menjadi dua yaitu:
1. Baik; segala tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika
sebagai baik.
2. Buruk; tingkah laku yang dikenal pasti oleh etika sebagai
buruk.
Menurut Hadiwardoyo moral dapat diukur secara subyektif
dan obyektif. Kata hati atau hati nurani memberikan ukuran yang
subyektif, adapun norma memberikan ukuran yang obyektif.
Apabila hati nurani ingin membisikan sesuatu yang benar, maka
norma akan membantu mencari kebaikan moral4. Kemoralan
merupakan sesuatu yang berkaitan dengan peraturan-peraturan
masyarakat yang diwujudkan di luar kawalan individu. Dorothy
Emmet(1979) mengatakan bahwa manusia bergantung kepada
tatasusila, adat, kebiasaan masyarakat dan agama untuk membantu
menilai tingkahlaku seseorang5. Moral berkaitan dengan moralitas.
3
Akbar reni-Hawadi, 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Grasindo,
Jakarta.
4
Iqbal,Ali . Altruisme: Helping Without Selfish.: , Thn 2009
5
Jamaris Martini, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman
kanak-kanak. UNJ, Jakarta, Thn 2003
100
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan
dengan etiket atau sopan santun. Moralitas adalah pedoman yang
dimiliki individu atau kelompok mengenai apa yang benar dan
salah berdasarkan standar moral. Moralitas dapat berasal dari
sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan
dari beberapa sumber. Standar moral ialah standar yang berkaitan
dengan persoalan yang dianggap mempunyai konsekuensi serius,
didasarkan pada penalaran yang baik bukan otoritas kekuasaan,
melebihi kepentingan sendiri, tidak memihak dan pelanggarannya
diasosiasikan dengan perasaan bersalah, malu, menyesal, dan lainlain.Moralitas memiliki tiga komponen:
1. Komponen afektif/emosional terdiri dari berbagai jenis
perasaan (seperti pe rasaan bersalah, malu, perhatian
terhadap perasaan orang lain, dan sebagainya) yang
meliputi tindakan benar dan salah yang memotivasi
pemikiran dan tindakan moral. Komponen afektif moralitas
(moral affect) merupakan berbagai jenis perasaan yang
menyertai pelaksanaan prinsip etika..
2. Komponen kognitif merupakan pusat dimana seseorang
melakukan konseptualtualisasi benar dan salah, dan
membuat keputusan tentang bagaimana seseorang
berperilaku. Komponen kognitif moralitas (moral
reasoning) merupakan pikiran yang ditunjuk seseorang
ketika memutuskan berbagai tindakan yang benar dan salah.
3. Komponen perilaku mencerminkan bagaimana seseorang
sesungguhnya berperilaku ketika mengalami godaan untuk
berbohong, curang, atau melanggar aturan moral lainnya.
Komponen perilaku moralitas (moral behavior) merupakan
tindakan yang konsisten terhadap moral seseorang dalam
situasi di mana mereka harus melanggarnya. Islam
menggambarkan bahwa memilih melakukan jalan yang
benar seperti menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.
2.1.2.Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah perubahan penalaran,
perasaan, dan perilaku tentang standar mengenai benar dan salah.
Perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal, yang
mengatur aktifitas seseorang ketika dia terlibat dalam interaksi
101
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
sosial dan dimensi interpersonal yang mengatur interaksi sosial dan
penyelesaian konflik. (Santrock, 2007 ;Gibbs,2003 ; Power,2004 ;
Walker &Pitts,1998)6. Perkembangan moral berkaitan dengan
aturan-atuaran dan ketentuan tentang apa yang seharusnya
dilakukan oleh seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain.
Untuk mempelajari aturan-aturan tersebut, Santrock memfokuskan
pada 4 pertanyaan dasar yaitu :
1. Bagaimana seseorang mempertimbangkan dan berpikir
mengenai keputusan moral?
2. Bagaiman sesungguhnya seseorang berperilaku dalam
situasi moral?
3. Bagaimana sesorang merasakan hal-hal yang berhubungan
dengan moral?
4. Apa yang menjadi karakteristik moral individu?
Pada usia Taman Kanak-kanak, anak telah memiliki pola
moral yang harus dilihat dan dipelajari dalam rangka
pengembangan moralitasnya. Orientasi moral diidentifikasikan
dengan moral position atau ketetapan hati, yaitu sesuatu yang
dimiliki seseorang terhadap suatu nilai moral yang didasari oleh
aspek motivasi kognitif dan aspek motivasi afektif. Menurut John
Dewey tahapan perkembangan moral seseorang akan melewati 3
fase, yaitu premoral, conventional dan autonomous.. Oleh sebab
itu, guru diharapkan memperhatikan kedua karakteristik tahapan
perkembangan moral tersebut.
2.1.3. Dekadensi Moral
Dekadensi berasal dari kata dekaden yang artinya keadaan
merosot dan mundur. Dengan demikian, dekadensi moral
merupakan keadaan moral yang merosot [jatuh] atau sementara
mengalami [dalam keadaan] mundur atapun kemunduran;
kemunduran dan kemorosatan yang terus menerus [sengaja atapun
tidak sengaja] terjadi serta sulit untuk diangkat atau diarahkan
menjadi seperti keadaan semula atau sebelumnnya7.
Komponen utama dan pertama yang seharusnya dapat
mengantisipasi terjadinya kemerosotan moral adalah orang tua
yaitu dengan memberikan pendidikan agama dan moral sejak dini
6
7
Oliph And Joey. Empathy-Altruism: The Existence. Thn : 2003
Hayu, Dekadensi Moral Anak Bangsa,Thn 2011, hal : 2
102
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
sekaligus memberikan contoh yang baik sehingga dapat ditiru dan
menjadi kebiasaan yang melekat .
Komponen berikutnya adalah lembaga pendidikan formal
tempat dimana anak seharusnya mendapatkan pendidikan dan
pengajaran bukan mendapatkan contoh buruk seperti : “sikap dan
ucap yang tidak pantas dilakukan oleh guru”.
Komponen masyarakat tidak kalah pentingnya dalam
pembentukan moral anak bangsa, dengan menjadi contoh sekaligus
pengontrol sikap mereka, contohnya mengingatkan dan tidak
membiarkan perbuatan amoral yang terjadi di depan mata
masyarakat atau dengan tidak membiarkan berdirinya fasilitasfasilitas hiburan yang mendorong terjadinya perbuatan amoral.
Seperti club malam atau diskotik dilingkungan rumah penduduk.
Pemerintah dalam hal ini menjadi komponen terpenting
sebagai pengatur undang-undang yang tidak boleh semena-mena
tanpa mempertimbangkan dampak negatif bagi pemrosotan moral
anak bangsa. Bila seluruh komponen telah memfungsikan tanggung
jawabnya maka dapat dipastikan kemerosotan moral anak bangsa
dapat diminimaliskan bahkan dapat di kembalikan pada fitrahnya
semula.
2.2. Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Dekadensi Moral dan
Etika Serta Penanganannya
Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Perilaku Menyimpang
Pada Remaja pendidikan agama diabaikan di sekolah, maka
didikan
agama
yang diterima
dirumah
tidak
akan
berkembang,bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya masyarakat
juga harus mengambil peranan dalam pembinaan moral.
Masyarakat yanglebih rusak moralnya perelu segera diperbaiki dan
dimulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat dengan
kita. Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar pengaruhnya
dalam pembinaan moral anak-anak.
Penurunan moral dan etika seorang guru biasanya dapat
disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah kurangnya
respon guru terhadap anak didik didalam proses pembelajaran atau
sebaliknya, kurangnya komunikasi antar guru, permasalahan
internal yang terjadi didalam diri seorang guru, dan remehnya guru
didalam mendidik anak didik serta kurangnya pendidikan agama.
103
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
Kurangnya respon guru terhadap anak didik didalam
pembelajaran atau sebaliknya memberikan andil didalam
menurunkan moral dan etika seorang guru, terkadang ketika
didalam proses belajar mengajar siswa kurang memberikan
apresiatif terhadap guru yang sedang mengajar didepan
kelas, misalnya ribut.
2. Menurunnya moral seorang guru juga dapat disebabkan
oleh kurangnya komunikasi antar guru. Dengan kurangnya
komunikasi antar guru, sehingga terkadang sesama guru
tidak dapat mengembangkan inovasi pembelajaran yang
efektif dan efisien. Kurangnya komunikasi antar guru juga
dapat berakibat pada tidak terselesaikannya permasalahan
yang terjadi pada anak didik, misalnya prestasi belajar, dan
permasalahan administratif.
3. Permasalahan internal dari guru itu sendiri juga
memberikan andil didalam mempengaruhi moral seorang
guru. Kita tidak dapat memungkiri, terkadang beberapa
guru.
4. Kurangnya pendidikan agama pada guru juga turut member
andil didalam penurunan moral dan etika dari seorang guru.
Dengan kurangnya pendidikan agama, guru terkadang cepat
emosi dan keluar dari koridor-koridor yang semestinya.
Faktor-faktor lain yang melatar belakangi terjadinya
kenakalan remaja adalah sebagai berikut bagai berikut:
a. Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya
kasih sayang,
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan
fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan
sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan
anak. Karena itu baik-buruknya struktur keluarga dan masyarakat
sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan
kepribadian anak.
Keadaan lingkungan keluarga yang menjadi sebab timbulnya
kenakalan remaja seperti keluarga yang broken home, rumah
tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ayah atau
ibunya, keluarga yang diliputi konflik keras, ekonomi keluarga
yang kurang, semua itu merupakan sumber yang subur untuk
memunculkan delinkuensi remaja.
1.
104
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
Dr. Kartini Kartono8 juga berpendapat bahwasannya faktor
penyebab terjadinya kenakalan remaja antara lain :
1. Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan
tuntunan pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah,
karena ayah dan ibunya masing–masing sibuk mengurusi
permasalahan serta konflik batin sendiri.
2. Kebutuhan fisik maupun psikis anak–anak remaja menjadi
tidak terpenuhi. Keinginan dan harapan anak–anak tidak
bisa tersalur dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan
kompensasinya.
3. Anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental
yang sangat diperlukan untuk hidup normal. Mereka tidak
dibiasakan dengan disiplin dan kontrol-diri yang baik.
b. Minimnya Pemahaman Tentang Keagamaan
Di dalam kehidupan berkeluarga kurangnya pembinaan
agama juga menjadi salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja
Dalam pembinaan moral, agama mempunyai peranan yang sangat
penting karena nilai-nilai moral yang datangnya dari agama tetap
tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat.
Dalam pembinaan moral ataupun agama bagi remaja
melalui rumah tangga perlu dilakukan sejak kecil sesuai dengan
umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana
yang benar dan mana yang salah, juga belum mengerti mana batasbatas ketentuan moral dalam lingkungannya. Karena itu pembinaan
moral pada permulaannya dilakukan di rumah tangga dengan
latihan-latihan, nasehat-nasehat yang dipandang baik. Maka
pembinaan moral harus dimulai dari orang tua baik perlakuan,
pelayanannya kepada remaja dapat memperlihatkan contoh teladan
yang baik melaksanakan shalat dan sebagainya yang merupakan
hal-hal yang mengarah kepada perbuatan positif karena apa yang
diperoleh dalam rumah tangganya akan dibawa kelingkungan
masyarakat. Oleh karena itu pembinaan moral dan agama dalam
keluarga penting sekali bagi remaja untuk menyelamatkan mereka
dari kenakalan dan merupakan cara untuk mempersiapkan hari
depan generasi yang akan datang, sebab kesalahan dalam
8
Kartini, Kartono, Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja. Jakarta. CV
Rajawali. 2001, Hal. 6
105
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
pembinaan moral akan berakibat negatif terhadap remaja itu
sendiri.
c. Pengaruh dari pada lingkungan sekitar
Di dalam kehidupan bermasyarakat, remaja sering
melakukan keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat
karena terpengaruh dengan budaya barat, pergaulan dengan teman
sebayanya yang mana sering mempengaruhi untuk mencoba.
Sebagai mana kita ketahui bahwa para remaja sangat senang
dengan gaya hidup yang baru tanpa melihat faktor negatifnya.
Karena dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengikutinya.
2.3.Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap Dekadensi
Moral Anak
Pendidikan Agama Kristen (selanjutnya PAK) untuk anak
digambarkan sebagai sebuah proses yang menolong setiap anak
untuk menempati setiap level perkembangannya sampai pada
kepenuhannya, dan juga dalam menghadapi soal hidupnya dalam
sebuah konteks konsep Kristen dan nilai dan tuntunan kesaksian
dari mereka yang lebih dewasa dalam iman. Juga sebagai persiapan
untuk hidup pada masa yang akan datang, yakni kehidupan pada
masa sekarang yang sedang menuju pada sebuah kapasitas yang
paling penuh dari jenjang usia dan dalam hadirat Allah 9.Pada
akhirnya anak dibawa pada penggenapan diri dan kedewasaan
dalam iman Kristen yang dicirikan melalui:
1. Penerimaan pribadi akan Yesus Kristus sebagai juruselamat
dan Tuhan,
2. Dewasa dalam pengambilan keputusan dan perilaku yang
mencerminkan
nilai-nilai
Kristiani
yang
sudah
terinternalisasi, serta
3. Kebenaran, kekudusan yang sejati, dan mencapai
kepenuhannya dalam meneladani Kristus10.
9
Carrie Lou Goddard, The Christian Education of Children, Marvin J.
Taylor, penyunting. An Introduction to Christian Education (New York:
Abingdon Press, 1966, Hal : 175.
10
Donald M. Joy, Why Reach and Teach Children?. Robert E. Clark, et.al,
penyunting. Childhood Education in the Church (Chicago: Moody Press, 1986),
19.
106
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
C. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan, dapat diambil kesimpulan bahwa
moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah istilah
manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan
yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral
disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai
positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak
yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah halhal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa
moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral
merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia
yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk.
Kepustakaan
kbar reni-Hawadi, Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta:
Grasindo, 2001
Azhari, Kurangnya Moral Pendidikan, 2012.
Carrie Lou Goddard, "The Christian Education of Children,"
Marvin J. Taylor, penyunting. An Introduction to Christian
Education, New York: Abingdon Press, 1966
Donald M. Joy, Why Reach and Teach Children?. Robert E. Clark,
et.al, penyunting. Childhood Education in the Church Chicago:
Moody Press, 1986
Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Penerbit
Erlangga, 1997
Diane E. Papalia & Sally Wendkos Olds, Human Development
Medison: McGraw-Hill Book Company, Thn 1981
Erik H. Erikson, Childhood and Society New York: WW. Norton
& Company, 1963
_____________ Identitas dan Siklus Hidup Manusia, Jakarta: PT.
Gramedia, 1989
F. J. Monks, et al., Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press, 1998
Hayu, Dekadensi Moral Anak Bangsa, 2011
/Indonesian.irib.ir/headline2/-/asset_publisher,Tahun 2012
Iqbal, Ali . Altruisme: Helping Without Selfish, 2009
107
Roma Sembiring, M.Pd.K-Pengaruh Optimalisasi
Peran Pendidikan Agama Kristen Terhadap
Dekadensi Moral Anak
Jamaris Martini, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia
Taman kanak-kanak, Jakarta: Univ. Negeri Jakarta, 2003
James W. Fowler, Stages of Faith, San Fransisco: Harper & Row
Publishers, 1981
Karma, Merancang Pendidikan Moral & Budi Pekerti, 2004.
Kartini, Kartono. Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja. Jakarta:
CV. Rajawali, 2001
Lawrence Kohlberg, Tahap-tahap Perkembangan Moral,
Yogyakarta: Kanisius, 1995
Oliph And Joey. Empathy-Altruism: The Existence. 2003
Purnama, Diana Septi, RUU Antipornografi & Pornoaksi Mendidik
Perkembangan Moral Anak, 2012
Randolph Crump Miller, Education for Christian Living, edisi
kedua, New Jersey: Prentice Hall, 1963
Reza, Pintui Ruth Beam, Storytelling for Children. Robert E. Clark,
et.al, penyunting. Childhood Education in the Church Chicago:
Moody Press, 1986
V. Gilbert Beers, Family Bible Library, Nashville: Southwestern,
1971
_____________, Teaching Theological Concepts to Children.
Robert E. Clark, et.al, penyunting. Childhood Education in the
Church, Chicago: Moody Press, 1986.
William Crain, Theories of Development, edisi ketiga, New Jersey:
Prentice Hall, 1992
108
Download