Bab I PARTAI POLITIK PENGANTAR Partai politik merupakan

advertisement
Bab I
PARTAI POLITIK
A. PENGANTAR
Partai politik merupakan sarana bagi warga Negara untuk turut serta atau
berpartisipasi dalam proses pengelolaan Negara. Dewasa ini partai politik sudah sangat
akarab di lingkungan kita. Sebagai lembaga politik, partai politik bukan bukan sesuatu yang
ada dengan sendirinya. Kelahirannya mempunyai sejarah yang cukup panjang, meskipun juga
belum cukup tua. Bisa dikatakan partai politik merupak
organisasi yang baru dalam
kehidupan manusia, jauh lebih muda dibandingkan dengan organisasi Negara. Dan dia baru
ada di Negara yang modern.
Sebagai subjek penelitian ilmial, partai politik tergolong relatif muda. Baru pada awal
abad ke-20 studi mengenai masalah ini di mulai. Sarjana-sarjana yang berjasa memelopori
antara lain adalah M.Ostrogorsky (1902), Robert Michels (1911), Maurice Duverger (1951),
dan Sigmund Neumann (1956). Setelah itu, beberapa sarjana behaviralis, seperti Joseph
Lapalombara dan Myron Weiner, secara khusus meneropong masalah dalam hubungannya
dengan pembangunan politik. Kedua sarjana ini kemudian menuangkan pemikiran dan hasil
studinya dalam bukunya yang berjudul Political Parties and Political Development (1966)1.
Di samping itu , G. Sartori dengan bukunya Parties and Party Systems: A Framework for
Analysis (1976)2. Merupakna ahli lebih kontemporer yang terkenal.
Dari hasil karya sarjana-sarjana ini, nampaknya ada usaha serius kearah penyusunan
teori yang komperhensif (menyeluruh) mengenai partai politik. Akan tetapi, sampai pada
waktu itu, hasil yang capai masih jauh dari sempurna. Bahkan bias dikatakan tertinggal, bila
dibandingkan dengan penelitian-penelitian bidang lain dalm ilmu politik.
1
Joseph Lapalombara dan Myron Weiner, political Parties and Political Development (Princeton:
Princeton University Press, 1966).
2
G. Sartori dengan bukunya Parties and Party Systems: A Framework for Analysis (Cambridge:
Cambridge University Press 1976)
1
B. SEJARAH PERKEMBANGAN PARTAI POLITIK
partai politik pertama-tama lahir di Negara-negara Eropa Barat. Dengan meluasnya
gagasan bahwa rakya merupakan factor yang perlu diperhitungkan serta di ikut sertakan
dalam proses politik, maka partai politik telah lahir secara spontan dan berkembang manjadi
penghubung antara rakyat disatu pihak dan pemerintah dipihak lain.
Pada awal perkembangannya3, pada akhir dekada 18-an di Negara-negara barat
seperti Inggris dan Prancis, kegiatan politik dipusatkan pada kelompok-kelompok politik dan
parlemen. Kegiatan ini mula-mula bersifat elitis dan aristokratis, mempertahankan
kepentingan kaum bangsawan terhadap tuntutan-tuntutan raja.
Dengan meluasnya hak pilih, kegiatan politik juga berkembang di luar parlemen
dengan terbentuknya panitia-panitia pemilihan yang mengatur pengumpulan suara para
penduduknya menjelang pemilihan umum. Oleh karena dirasa perlu memperoleh dukungan
dari berbagai golongan masyarakat, kelompok-kelompok politik di perlemen lambat laun
juga berusaha mengembangkan organisasi massa. Maka pada akhir abad ke-19 lahir lah partai
politik, yang pada masa selanjutnya berkembang menjadi penghubung (Link) antara rakyat
disatu pihak dengan pemerintah di pihak lain.
Partai semacam ini dalam praktiknya hanya mengutamakan kemenangan dalam
pemilihan umum, sedangkan pada masa antara dua pemilihan umum biasanya kurang aktif.
Lagipula partai sering tidak memiliki siplin partai yang ketat, dan pemungutan iuran tidak
terlalu di pentingkan. Partai ini dinamakan patronage party (partai lindungan yang dapat
diliat dalam rangka patron-client relationship), yang juga bertindak sebagai semacam broker.
Partai menggunakan berdasarkan keunggulan jumlah anggota; maka dari itu ia sering
dinamakan partai massa. Oleh karena itu ia biasanya terdiri atas pendukung dari berbagai
aliran politik dalam masyarakat, yang sepakat untuk bernaung dibawahnya untuk
memperjuangkan suatu program tertentu. Program ini biasnya luas dan agak kabur karena
harus memperjuangkan terlallu banyak kepentingan yang berbeda-beda.
“Perkembangannya” Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT. Ikrar Mandiriabadi Press
2008) halaman 398.
3
2
Dalam perkembangan selanjutnya di dunia Barat timbul partai yang lahir di luar
parlemen.4 Partai-partai ini kebanyakan berstandar pada suatu asas ideology atau
Weltanschauung tertentu seperti Sosialisme, Fasisme, Komunisme, Kristen Demokrat, dan
sebagainya. Dalam partai semacam ini disiplin partai sangat ketat.
Pimpinan partai yang biasanya sangat sentralisasi menjaga kemurnian doktrin politik
yang dianut dengan jalan mengadakan saringan terhadap calon anggotanya dan mencatat
anggotanya yang menyimpang dari garis partai yang telah ditetapkan. Maka dari itu partia
semacam itu sering dinamakan partai Kader, partai Ideologi, atau Partai Asas (Sosialisme,
Fasisme, Komunisme,Sosial Demokrat). Ia mempunyai pandangan hidup yang digariskan
dalam kebijakan pimpinan dan berpedoman pada disiplin partai yang ketat dan mengikat.
Pendidikan kader sangat diutamakan dalam partai jenis ini. Terhadap calon anggota
diadakan saringan, sedangkan untuk menjadi anggota pimpinan disyaratkan lulus melalui
beberapa seleksi.untuk memperkuat ikatan bain dan kemurnian ideologi, maka dipungut iuran
secara teratur dan disebarkan keorgan-organ partai yang memuat ajaran-ajaran serta
keputusan-keputusan yang telah dicapai pimpinan. Partai kader biasanya lebih kecil dari pada
partai massa.
Akan tetapi pembagian tersebut diatas sering dianggap kurang memuaskan karena
dalam setiap partai ada unsure lindungan (patronage) serta perekatan (brokerage) disamping
pandangan Ideologi/Asas/Pandangan hidup
C. DEFINISI PARTAI POLITIIK
Partai politik berangkat dari anggapan bahwa dengan membentuk wadah organisasi
mereka bis menyatukan orangporang yang memiliki pemikiran serupasehingga pikiran dan
orientasi mereka bias dikonsilidasikan. Dengan begitu pengaruh mereka bias lebih besar
dalam pembuatan dan pelaksanaan keputusan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah salah satu kelompok
terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang
sama. Tujuan kelompok ini adalah untuk memproleh kekuasaan politik (biasanya) dengan
cara konstitusional untuk melaksanakan programnya,
4
Pemagian dalam partai yang pempunyai parliamentary origin dan yang mempunyai extra-parliammentary
origin diambil dari Maurice Duverger, Political Parties (London: Methuen and Co., 1954), halaman. Xxxvii.
3
Banyak sekali defenisi dari partai politik yang buat oleh para sarjana. Beberapa
defenisi yang di buat oleh para ahli ilmu klasik dan kontemporer5.
Carl J. Friedrich menuliskannya sebagai berikut:
Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan
tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintah bagi pimpinan
pertainya dan berdasarkan penguasaan ini, memberikan kepada anggotanya
kemanfaatan yang bersiafat idiil serta materil.
Simangun Neumann dalam buku karyanya. Modern Political Parties, meggunakan
defenisi berikut,;
Pertai politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis politik politik yang berusaha
menguasai kekusaan pemerintah serta merebut dukungan rakyak melalui persaingan
denga suatu golongan atau golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda.
Menurut Neumann, partai
menghubungkan
politik merupakan perantara
kekuatan-kekuatan
dan
ideology social
dengan
yang besar
yang
lembaga-lembaga
pemerintah yang resmi.
D. FUNGSI-FUNGSI PARTAI POLITIK
Berdasarkan kajian literatur yang ada setidaknya terdapat 5(lima)fungsi dasar dari keberadaan
partai politik6, yaitu:
1. Fungsi Artikulasi Kepentingan
Artikulasi kepentingan adalah suatu proses penginputan berbagai kebutuhan,tuntunan
dan kepentingan melalui wakil-wakil kelompok yang masuk dalam lembaga
legislatif,agar kepentingan,tuntunan,dan kebutuhan kelompoknya dapat terwakili dan
terlindungi dalan pembuatan kebijakan politik.
Bentuk artikulasi yang paling umum di semua sistem politik adalah pengauhanjuan
permohonan secara individual kepada para anggota dewan (legislatif), atau kepada
Kepala Daerah,Kepala Desa,dst.Kelompok kepentingan yang ada untuk lebih
mengefektifan
tuntutan
dan
kepentingan
kelompoknya,mengelompokkan
“Ahli ilmu klasik dan kontemporer”, prof. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar ilmu politik,ed. Revisi (Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama), halaman 404.
6
“Fungsi partai pilitik”, Fadillah Putra,Partai Politik dan Kebijakan Politik,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar press
2003), hal.9.
5
4
kepentingan,kebutuhan dan tuntutan kemudian menyeleksi sampai di mana hal
tersebut bersentuhan dengan kelompok yang di wakilinya.
2. Fungsi Agregasi Kepentingan
Agregasi kepentingan merupakan cara bagaimana tuntutan yang di lancarkan oleh
kelompok-kelompok
yang berbeda,di
gabungkan menjadi
alternatif-alternatif
pembuatan kebijakan publik.
Agregasi kepentingan dalam sistem politik di Indonesia berlangsung dalam diskusi
lembaga legislatif.DPR berupaya merumuskan tuntutan dan kepentingan-kepentingan
yang di wakilinya.Semua tuntutan dan kepentingan seharusnya tercangkup dalam
usulan kebijaksanaan untuk selanjutnya di tetapkan sebagai Undang-Undang.Namun
penetapan kebijaksanaan (UU) bukanlah hak semata-mata pihak legislatif.DPR
bersama presiden memiliki hak untuk mengesahkan Undang-Undang.Kedudukan
DPR dan Presiden dalam fungsi agregasi kepentingan adalah sama,sebab kedua
lembaga ini berhak untuk menolak Rancangan Undang-Undang(RUU).
3. Fungsi Sosialisasi Politik
Sosialisasi Politik merupakan suatu cara untuk memperkenalkan nilai-nilai
politik,sikap-sikap dan etika politik yang berlaku atau yang di anut oleh suatu
negara.Menurut Gabriel Almound,7dalam bukunya Sosialisasi politik, terdapat dua hal
yang penting,yaitu: pertama,bahwa sosialisasi politik berjalan terus menerUus selama
hidup seseorang.Sikap-sikap dan nilai-nilai yang didapatkan dan terbentuk pada masa
kanak-kanak akan selalu di sesuaikan atau akan diprkuat sementara ia mengalami
berbagai pengalaman sosial.Kedua, Sosialisasi politik dapat terwujud transmisi dan
pengajaran.Artinya, dalam sosialisasi itu terjadi interaksi antara suatu sikap dan
keyakinan politik yang dimiliki oleh generasi tua terhadap generasi muda yang
cenderung masih flesibel menerima pengaruh ajaran.Transmisi dan pengajaran
tersebut dapat berwujud:
a.Interaksi langsung,yaitu berupa pengajaran formal ataupun doktrinasi suatu
ideologi.Contoh:pengajaran mata kuliah Pancasila di Perguruan Tingi
b.Interaksi tak langsung,yang sangat erat pengaruhnya pada masa kanakkanak,dimana berkembang sifat penurut atau sikap pembangkangan terhadap orang
tua,guru atau teman yang mempengaruhi sikapnya di masa dewasa terhadap
pemimpin politiknya dan terhadap sesama warga negara.Misal, ketika masa kanak-
7
Gabriel Almound, Sosial Politik, Loc It.
5
kanak,pengalaman yang didapatkannya adalah terjadinya perpecahan keluarga dan
otoriter orang tua.
Sosialisasi politik di jalankan melalui bermacam-macam lembaga antara
lain:Keluarga,Sekolah,Kelompok pergaulan,Pekerjaan dan media masa.
4. Fungsi Rekrumen Politik
Rekrutmen politik adalah suatu proses seleksi atau rekrutmen anggota-anggota
kelompok untuk mewakili kelompoknya dalam jabatan-jabatan administrasi maupun
politik.Setiap sistem politik memiliki sistem atau prosedur-prosedur rekrutmen yang
berbeda.Anggota kelompok yang di seleksi adalah yang memiliki suatu kemampuan
atau bakat yang sangat di butuhkan untuk suatu jabatan atau fungsi politik.
Pola perekrutan anggota partai disesuaikan dengan sistem politik yang di
anutnya.Di Indonesia,perekrutan politik berlangsung melalui pemilu setelah setiap
calon peserta yang di usulkan oleh partainya di seleksi secara ketat oleh suatu badan
resmi.Seleksi ini di mulai dari seleksi administratif,penelitian khusus(litsus)yaitu
menyangkut kesetiaan pada ideologi negara.
5. Fungsi Komunikasi Politik
Komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang di jalan kan oleh partai politik
dengan segala struktur yang tersedia,mengadakan komunikasi informasi,isu dan
gagasan politik.Media-media masa banyak berperan sebagai alat komunikasi politik
dan membentuk kebudayaan politik.Partai politik menjalankan fungsi sebagai alat
mengkomunikasikan
pandangan
dan
prinsip-prinsip
partai,program
kerja
partai,gagasan partai,dsb.Sistem komunikasi politik di Indonesia dikembangkan
dengan dasar komunikasiyang bebas dan bertanggung jawab.Setiap media masa bebas
memberitakan suatu hal selama tidak bertentangan dengan atuaran yang berlaku,tidak
membahayakan kepentingan negara dan masyarakat.
Dari kelima fungsi pokok partai politik tersebut di atas,hal yang dapat kita petik
adalah sebuah kesadaran bahwa realitas kehidupan bermasyarakat tidak dapat lepas
dari dinamika riil politik yang berlaku didalamnya.Kesadaran bahwa relitas sosial
tidak dapat dilepaskan dari realitas politik,telah banyak di ungkap oleh pakar-pakar
studi kebijakan publik baik Grindle dan Thomas(1991)maupun Howlett dan
Ramesh(1994).Sehingga implikasi dari pandangan seperti ini adalah bahwa kebijakan
publik sesungguhnya lebih kental nuansa politiknya dari pada nuansa manajerial
proses pengambilan keputusan semata.
6
Dengan
demikian,seluruh
masyarakat
sesungguhnya
adalah
aktor-aktor
politik.Sebab mereka semua pada dasarnya adalah juga aktor kebijakan secara
komprehensif,yaitu baik sebagai pelaku maupun sebagai kelompok sasaran.Oleh karena
itu,pelembagaan atas posisi masyarakat sebagai sejatinya aktor politik itulah yang
menyebabkan bahwa keberadaan organisasi politik, utamanya partai politik diperlukan dalam
menjalankan lima fungsi tersebut diatas.
E. PARTAI POLITIK DI INDONESIA
Di Indonesia partai politik
8
telah merupakan bagian dari kehidupan politik selama
kurang lebih seratus tahun. Di Eropa Barat, terutama di Inggris, partai politik telah muncul
jauh sebelumnya sebagai sarana partisipasi beberapa kelompok masyarakat, yang kemudian
meluas menjadi partisipasi seluruh masyarakat dewasa. Saat ini partai politik di temukan di
hampair semua Negara di Dunia.
Umumnya dianggap bahwa pwrtai politik adalah sekelompok manusia terorganisir,
yang anggota-anggotanya sedikit banyak mepunyai orientasi nalai-nilai serta cita-cita yang
sama, dan memiliki tujuan untuk memproleh kekuasaan politik serta mempertahankan guna
melaksanakan program yang telah ditetapkan.
Di Indonesia kita mengenal sistem multi-partai, sekalipun gejala partai-tunggal dan
dwi-pwrtai tidak asing dalam sejarah kita. Sistem yang kemudian berlaku berdasarkan sistem
tiga orsospol dapat di kategorikan sebagai sistem multi-partai dengan dominasi satu partai.
Tahun 1998 mulai masa Reformasi, Indonesia kembali ke sistem multi-partai (tanpa dominasi
satu partai).
1. Zaman kolonial
Partai politik pertama-tama halir pada zaman kolonial sebagai manifestasi bangkitnya
kesadaran nasional. Dalam suasana itu semua organisasi, apakah ia bertujuan social (seperti
Budi Utomo dan Muhammadiyah) atau terang-terangan menganut asas politik/agama (seperti
Serikat Islam dan Partai Katolik) atau asas politik skuler (seperti PNI danPKI), memainkan
peran penting dalam berkembangnya pergerakan nasional. Pola kepertaian masa itu
menujukan keaneka ragaman dan pola ini kita hidupkan kembali pada zaman merdeka dalam
bentuk multi-partai.
8
Sekalipun Golkar dalam masa orde Baru tidak secara resmi menganggap dirinya partai politik, akan tetapi
dalam pembahasan ini Golkar tercakup dalam istilah “partai politik” pada ummunya.
7
Pada tahun 1918 pihak Belanda mendirikan Volksraad yang berfungsi sebagai badan
perwakilan. Ada beberapa partai serta organisasi yang mamanfaatkan kesempatan untuk
bergerak memalui badan ini (yangdinamakan ko, namun ada juga yang menolak masuk di
dalamnya yang di namakan non-ko) .Pada awalnya partisipasi organisasi Indonesia sangat
terbatas.Dari 38 anggota,di samping ketua seorang Belanda,hanya ada 15 orang
Indonesia,diantaranya 6 anggota Budi Utomo dan sarekat Islam.Komposisi baru berubah
pada tahun 1931 waktu di terima perinsip”mayoritas pribumi”,sehingga dari 60 oranganggota
ada 30 orang pribumi9.Pada tahun1939 fraksi pribumi terpenting dalam volksraad antara lain
fraksi
nasional
Indonesia(FRANI)
yang
merupakan
gabungan
dari
beberapa
fraksi,diantaranya parindra dan perhimpunan pegawai bestuur bumiputra(PPBB).Ketua
volksraad tetap orang belanda.
Di samping itu,ada usaha untuk meningkatkan persatuan nasional melalui
penggabungan partai partai politik dan memperjuangkan” Indonesia berparlemen”.Dalam
rangka itu,pada tahun 1939 Gabungan Politik Indonesia (GAPI,yang merupakan gabungan
partai partai beraliran Nasioanal ),dan majelisul Islamil a’laa Indonesia(MIAI,yang
merupakan gabungan partai partia beraliran Islam yang terbentuk pada tahun 1937
)bersepakat untuk bersama sama membentuk komite rakyat Indonesia(KRI).Karena KRI
kurang aktif ,maka pada tahun 1941 dibentuk Majelis Rakyat Indonesia(MRI)yang mencakup
tidak hanya partai politik tetapi juga organisasi serikat sekerja dan organisasi nonpartai
lainnya.
Dalam kenyataannya organisasi organisasi kemasyarakatan dan partai mengalami
kesukaran untuk bersatu dan membentuk satu front untuk menghadapi pemerintah
colonial.Keadaan ini berlangsung sampai pemerintah Hindia Belanda ditaklukan oleh tentara
kerajaan jepang.Akan teteapi pola kepartaian yang telah terbentuk di jaman colonial
kemudian dilanjutkan dan menjadi landasan untuk terbentuknya pola sistim multi-partai di
jaman merdeka.
9
Visman Report, Jilid I (Batavia: Landsdrukkerij, 1941), Prof. Miariam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik,
halaman 423.
8
2. Zaman Demokrasi Indonesia
Masa Perjuangan Kemerdekaan(1945-1949)
Menyerahnya tentara hindia belanda kepada tentara jepang yang disusul dengan
kalahnya tentera jepang,membulatkan tekat kita untuk melepaskan diri baik dari kolonialisme
belanda maupun dari fasisme jepang,dan mendirikan suatu Negara modern yang demokratis.
Sesudah proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 agustus 1945 keaadaan ini berubah
total.Pada tanggal 18 agustus,Soekarno dan Moh.Hatta dipilih sebagai presiden dan wakil
presiden oleh panitia persiapan kemerdekaan Indonesia(PPKI)dan pada tanggal 22 agustus 45
panitia tersebut dalam sidang terakhirnya menetapkan aturan peralihan UUD 45 selama
UUD45 belum dapat dibentuk secara sempurna.Selain itu,panitia menetapkan berdirinya
badan keamanan rakyat (BKR yang kemudian menjadi TNI)dan komite nasional Indonesia
(KNI kemudian di kembangkan menjadi komite nasional I ndonesia pusat atau KNIP ).KNIP
menjadi pembantu presiden sebelum MPR dan DPR dapat didirikan ,seperti yang disebutkan
dalam pasal IV aturan tambahan dan peralihan UUD45 yang berbunyi:
Sebelum majelis permusyawaratan rakyat ,dewan perwakilan rakyat,dan dewan
pertimbangan agung dibentuk menurut UUD ini,segala kekuasaannya dijalankan oleh
presiden dengan bantuan sebuah komite nasional.10 “Bersamaan dengan itu,dibentuk
pula
suatu
partai
politik
sebagai
alat
perjuangan,yakni
partai
nasional
Indonesia(PNI),dimana oleh presiden Soekarno diharapkan akan menjadi “motor
perjuangan rakyat”.11
BKR dan KNIP segera dibentuk dan langsung memainkan peran yang
penting.Keanggotaan KNIP di ambil dari pemuka masyarakat dari berbagai golongan dan
daerah agar seluruh Indonesia terwakili,ditambah dengan anggota PPKI yang tidak diangkat
menjadi menteri.KNI daerah juga dibentuk di daerah daereah.Karena kesibukan membentuk
KNI di daerah,pembentukan PNI untuk sementara ditunda.
Seiring dengan usaha untuk membentuk badan-badan aparatur Negara timbul juga
hasrat di beberapa kalangan untuk mendobrak suasana politik otoriter dan refresif yang telah
berjalan selama tiga setengah tahun pendudukan jepang, kearah kehidupan yang demokratis.
Hal ini terjadi Dallam beberapa tahap.
10
Ensiklopedia Nasional Indonesia, halaman 26.
Pidato Presiden Soekarno yang dimuat di Merdeka, 25 agustus 1945, dalam jhon D. Legge Soekarno:
Sebuah Biografi Politik (Jakarta: penerbit Sinar Harapan, 1985), halaman 244.
11
9
Tahap pertama, atas prakarsa beberapa politisi muda, diusahaka agar kedudukan
KNIP yang tadinya sebagai pembatu Presiden, menjadi suatu badan yang mempunyai
wewenang legislatif. Sebelum MPR dan DPR dapat didirikan pemerintah tidak bertanggung
jawab kepada pihak siapa pun.
Untuk itu, pada tanggal 16 Oktober, dalam sidang paripurna KNIP (resat) yang di
ketuai Mr. Kasman Singodimedjo dan dihadiri oleh sebagian besar mentri kabinet serta Wakil
Presiden Mooh. Hatta, ditetapkan bahwa selama MPR dan DPR belum dapat dibentuk, KNIP
diberi kewenangan legislatif dan wewenang untuk turut menetapkan Garis-garis besar haluan
Negara (Maklumat No. X tanggal 16 Oktober 1945 yang ditandatangani Wakil Presiden Moh.
Hatta).
Tahap kedua, Badan Pekerja mengusulkan agar para mentri bertanggung jawab
kepada KNIP yang telah berubah menjadi palemen sementara (ministerial responsibility).
Usalan ini disetujui oleh Presidan pada tanggal 14 November 1945, (Maklumat Pemerintah)
dan selanjutnya disetujui oleh NKIP dalam sidang plenonya pada tanggal 25-27 November
1945.12 Denga demikian mulai 14 November 1945 sistem pemerintahan presidensial telah
berubah menjadi system parlementer.13 Sitem ini selanjutnya di kukuhkan dalam UUD RIS
1949, UUD Sementara 1950 ( dan selanjutnya telah disepakati dalam Konstituante sebelum
dibubarkan), sehingga tetap berlaku selam empat belas tahun, ya itu sampai bulan juli 1959
saat Indonesia kembali ke UUD 1945.
3. Zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Zaman ini di tandai pertama dengan diperkuatnya kedudukan presiden, antara lain dengan
diperkuatnya kedudukan presiden, antara lain dengan ditetapkanya sebagai Presiden seumur
hidup melalui TAP MPR No III/1963. Kedua pengakuan peranan partai politik , kecuali PKI
yang malahan mendapat kesempatan berkembang. Ketiga, peningkatan peranan militer
sebagai kekuatan sosial politik. Kadang-kadang masa ini dinamakan periode segitiga
12
Wilopo, Zaman Pemerintahan Partai dan Kelemahan-kelemahanya (Jakarta: Yayasan Idayu, 1978), hlm.
10-12. Mohammad Hatta,Memoir (Jakarta: PT Tintamas, 1979), hlm. 472-473 dan 480. John D. Legge,
Soekarno: Sebuah Biografi Politik, hlm. 245-248. Secretariat DPR-GR, Seperempat Abad Dewan Perwakilan
Rakayat Republik Indonesia (Jakarta, 1970), hml. 8-11. Prof. Miriam Budiardjo, Dasa-dasar Ilmu Politik,
(Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Press 2008), hml. 426.
13
Oleh J.A Logemann ini disebut “een vrijwillige zelfbeperking van de presidentiele marcht (suatu
pembatasan diri secara suka rela terhadap kekuasaan presiden) J.A. Logemann, Het Staatsrecht van Indonesea
( Jakarta, 1954), hlm. 36. Op. Cip.
10
Soekarno, TNI, dan PKI (dengan Presiden Soekarno di sudut paling atas) kerena merupakan
perebutan kekuasaan antara tiga kekuatan itu.
Dalam rangka melaksanakan konsep Demokrasi Terpimpin berdasarkan UUD 1945
Presiden Soekarano membentuk alat-alat kenegaraan seperti MPR dan DPA. Selain itu juga
di bentuk suatu Dewan Nasional yang terdiri dari 40 orang anggota yang separuhnya terdiri
dari golongan fungsional, seperti golongan buruh, tani, pengusaha, wanita, pemuda, wakilwakil berbagai agama, wakil daerah, dan wakil ABRI. Komposisi Dewan Nasional
mencerminkan pemikiran bahwa di luar partai politik beberapa kelompok masyarakat
(termasuk ABRI) perlu di dengar suaranya dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam
proses politik.
Dalam rangka memperkuat badan ekskutif dimulailah beberapa ihtiar untuk
menyederhanakan sitem partai dengan mengurangi jumlah partai melaluai Penpres No.
7/1959. Maklumat Pemerintah 3 November 1945 yang menganjurkan pembentukan partaipartai dicabut dan ditetapkan syarat yang harus dipenuhi oleh partai untuk diakui oleh
pemerintah. partai yang kemudia dinyataka memenuhi syarat adalah PKI, PNI, NU, Partai
Katolik, Partindi, Parkindo, Partai Murba, PSII Arudji, IPKI, Partai Islam Perti, sedangkan
beberapa partai lain dinyatakan tidak memenuhi syarat. Dengan dibubarkanya Masyumi dan
PSI pada tahun 1960 yang tersisa tinggal sepuluh partai pilitik saja.14
4. Zaman Demokrasi Pancasila (1965-1998)
Salah satu tindakan MPRS ialah mencabut kembali ketetapan No III/1963 tentang penetapan
presiden Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Tindakan lain yang dilakukan oleh Orde
baru adalah pembentukan KPI melalui TAP MPRS No. XXV/1966, sedangkan Partindo yang
telah menjalin hubungan erat dengan PKI, dibekukan pada tahun yang sama.
Sementara itu terjadi perdebatan melaui berbagai seminar dan media massa, antara
lain perlunya mendirikan demokrasi dan membentuk suatu system politik yang demokratis
dengan merombak struktur politik yang telah ada. Partai politik yang menjadi sasaran utama
dari kecaman masyarakat dianggap telah bertindak memecah belah karena terlalu
mementingkan ideology serta kepentingan masing-masing. Keterlibatan ini sedemikian
dalamnya sehingga mereka tidak sampai menyusun program kerja yang dapay dilaksanakan.
14
R.Wiyono, Organisasi kekuasaan Sosial Politik di Indonesia (bandung: Penerbit Alumni, 1982), hml. 2930. Prof. Miriam Budiardjo, Dasa-dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Press 2008), hml. 441
11
Salah satu yang pada masa itu menarik perhatian adalah Seskoad, Bandung, lembaga
yang sedikit banyak bertindak pusat pemikir (think tank) untuk Orde Baru. Salah satu
pristiwa yang penting adalah diadakannya Seminar Angkatan Darat II di Bandung pada tahun
1966. Beberapa perwira ABRI dan beberapa tokoh sipil diundang untuk membicarakan
masalah-masalah yang menyangkut penegakan Orde Baru. Beberapa cendikiawan dari
kalangan Universitas diundang untuk memberikan makalah dan berpartisipasi dalam diskusi.
Salah satu makalah yang berjudul Pemilihan Umum dan Orde Baru membahas tentang dua
sitem pemilihan, yaitu system perwakilan berimbang (atau sistem proporsional) dan system
distrik yang umumnya belum dikenal di Indonesia.15
Sebagai hasil perdebatan, baik dalam seminar Angkatan Darat maupun diluar,
akhirnya system distrik dituang dalam rancangan undang-undang pemilihan umum yang di
ajukan pada perlemen pada awal tahun 1967 bersama dua RUU lainnya. Akan tetapi ternyata
rancangan-rancangan undang-undang sangat dikecam oleh partai-partai politik, tidak hanya
karena dianggap dapat merugikan mereka, akan tetapi karena mencakup beberapa ide baru,
seperti duduknya wakil ABRI sebagai anggota parlemen.
Akhirnya pada tanggal 27 Juli 1967 pemerintah dan partai-partai mencapai suatu
komromi dimana kedua belah pihak member konsesi. Pemerintah mengalah dengan
menyetujui system pemilihan umum proposional, tetapi dengan beberapa modifikasi antara
lain tiap kabupaten akan dijamin sekurang-kurangnya satu kursi sehingga perwakilan dari
luar daerah jawa akan seimbang dengan perwakilan dari Jawa. Di pihak lain, partai-partai
mengalah dengan diterimanya ketenatuaan bahwa 100 anggota parlemen dari jumlah total
460 akan diangkat dari golongan ABRI (75) dan non ABRI (25) dengan ketentuan bahwa
golongan militer tidak akan menggunakan haknya untuk memilih dan dipilih. Berdasarkan
Knsensus itu pada tanggal 8 Desember 1967 RUU diterima baik oleh perlemen dan pemilihan
umum Orde Baru yang diikuti oleh sepuluh partai politik (termasuk Golkar) diselenggarakan
pada tahun 1971.
5. Zaman Reformasi
Periode reformasi bermula ketika Presiden Soeharto turun dari kekuasaan 21Mei 1998.Sejak
itu hari demi hari ada tekanan atau desakan agar di adakan pembaharuan kehidupan politik
kea rah yang lebih demokratis.Di harapkan bahwa dalam usaha ini kita dapat memanfaatkan
15
Miriam Budiardjo,”pemilihan Umum dan Orde Baru”, makalah yang disampaikan pada seminar Angkatan
Darat II di Bandung 1966.
12
pengalaman kolektif sewlama tiga periode 1945 sampai 1998.Dalam konteks kepartaian ada
tuntutan agar masyarakat mendapat kesempatan untuk mendirikan partai.Atas dasr itu
pemerintah yang di pimpin oleh BJ Habibiedan parlemen mengeluarkan UU No 2/1999
tentang partai politik.Perubahan yang di dambakan ialah mendirikan suatu system dimana
partai-partai politik tidak mendominasi kehidupan politik secara berlebihan,akan tetapi yang
juga tidak member peluang kepada eksekutif untuk menjadi terlalu kuat(exsecutive
heavy).Sebaliknya,kekuatan eksekutif dan legislative diharapkan menjadi setara atau
nevengeschikt sebagaimana di amatkan dalam UUD 1945.
Partai politik yang mendaftarkan diri ke departemen kehakiman berjumlah 141.Tetapi
setelah di seleksi tidak semuanya dapat menguji pemilihan umum1999.partai politik yang
memenuhi syarat untuk menjadi peserta pemilihan umum hanya 48 saja.
Hasuil pemilu umum 1999 menunjukkan bahwa tidak ada partai yang secara tunggal
mendominasi pemerintahan dan tidak ada partai yang memegang posisi mayoritas mutlak
yang dapat mengendalikan pemerintahan.PDIP yang memperoleh suara dan kursi paling
banyak(35.689.073 suara dan 153 kursi)ternyata tidak dapat menjadikan Megawaty Soekarno
Putri(Ketua umum)Presiden RI yang ke-4.Dengan adanya koalisi partai-partai islam dan
beberapa partai baru menjadi kubu teraendiri di DPR,yang di kenal dengan poros
tengah,Posisi PDIP menjadi kalah kuat.Sebagai akibatnya yang di pilih oleh MPR menjadi
npresiuden adalah pendiriu PKB,partai yang di DPR hanya memperoleh 51 kursi,yaitu
KH.Abdurrahman Wahid.16
16
Angka ini merupakan angka resmi Komisi pemilihan Umum,dimana penulis menjadi anggota Tim 11 yang
antara lain bertugas menyeleksi partai politik yang bakan mengikuti Pemilu 1999.
13
BAB II
IDEOLOGI POLITIK
A. ASAL USUL ISTILAH “IDEOLOGI”
Filsuf Prancis, Antoine Destutt de Traciy (1754-1836),menciptakan istilah ideologi
pada 1796. De tracy adalah seorang bangsawan yang bersimpati pada Revolusi Prancis
(1789). De Tracy adalah pengikut Rasional , gerakan abad k2-18 yang di kenalkan sebagai
Pencerahan yang kritis terhadap otoritas tradisional dan mistifikasi ajaran agama.
De Tracy memandang Ideologi sebagai Ilmu tentang pikiran manusia (sebagai biologi
dan zoologi adalah ilmu tentang spesies) yang mampu menunjukan arah yang benar menuju
masa depan.
Pengaitan ideologi dengan ilmu dan kajian yang objektif ternyata tidak bertahan lama.
Istilah ideologi segera menjadi istilah negatif yang mengacu pada objek, bukan pada bentuk
kajian dan sering dibedakan dengan pendekatan ilmiah. Tokoh pertama yang menggunakan
istilah ini dengan negatif adalah Napoleon Bonaparte (1769-1821) . Sejak itu Napoleon mulai
menjadi kritikus yang mempertautkan “ideologi” dengan karakter seperti keinginan a priori
untuk mengubah cara lama dan memperbaiki kehidupan masyarakat , dan mendukung
kepercayaan yang cocok dengan kepentingan mereka yang memiliki keinginan itu (de Trecy
adalah pendukung pemerintahan republik yang liberal, yang membayangkan suatu dunia baru
dimana para cendekiawan seperti dirinya akan memiliki peran yang signifikan.
B. PENDAPAT MARK DAN PARA PENGIKUTNYA
Ideologi sebagai konsep yang negatif sangat penting dalam karya Karl Mark (18181883). Seorang filsuf politik terkemuka, John Plamenatz, menulis bahwa Mark-lah yang lebih
dari pada orang lain dalam memperkenalkan kata itu pada ranah teori politik dan sisial, dan ia
menggunakannya dalam semua pengertian tersebut Berbeda-beda.
Pernyataan Marxis yang paling dikenal mengenai ideologi terdapat dalam The
German Ideologi yang ditulis Mark bersama Friederich Engels (1820-1895) pada 1840-an.
14
Ide-ide kelas penguasa berada dalam setiap masa ide-ide yang berkuasa, yakni kelas
yang merupakan kekuatan material dalam masyarakat, sekaligus merupakan kekuatan
intelektual yang berkusa. Kelas yang memiliki alat produksi material, sekaligus mengontrol
waktu atas produksi mental akan tunduk kepadanya.
Mark tidak percaya bahwa pandangannya adalah “ideologi” dengan melihat bahwa
pandangannya didasarkan pada pemahaman yang ilmiah atas sejarah dan kemenangan
niscaya kelas buruh dan sosialisme.17
Karl Marx:
Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam
masyarakat.
V.I. Lenin (1870-1924)
Juga menganggap Marxisme sebagai suatu ilmu, namun ia menerima bahwa
“ideologi” kata yang tidak bisa di batasi pada masyarakat kapitalis atau prakapitalis (seorang
Marxis
“revisionis”,
Eduard
Bernstein
1850-1932
tidak
lama
sebelumnya
juga
menghubungkan sosialisme dengan ideologi).
Definisi lain
Selain definisi di atas, berikut ada beberapa definisi lain tentang ideologi18:
Gunawan Setiardjo :
Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan atau aqidah 'aqliyyah (akidah yang
sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan.
Destutt de Tracy:
Ideologi adalah studi terhadap ide – ide/pemikiran tertentu. 2 april 2004
Descartes:
Ideologi adalah inti dari semua pemikiran manusia. 5 mei 2004
17
18
Op cip
“Definisi” http://www.pengertianahli.com/2013/05/pengertian-ideologi-menurut-para-ahli.html
15
Machiavelli:
Ideologi adalah sistem perlindungan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa. 1
agustus 2006
Thomas H:
Ideologi adalah suatu cara untuk melindungi kekuasaan pemerintah agar dapat
bertahan dan mengatur rakyatnya. 23 oktober 2004
Francis Bacon:
Ideologi adalah sintesa pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup. 5 januari 2007
Napoleon:
Ideologi keseluruhan pemikiran politik dari rival–rivalnya. 22 desember 2003
Muhammad Ismail:
Ideologi (Mabda’) adalah Al-Fikru al-asasi al-ladzi hubna Qablahu Fikrun Akhar,
pemikiran mendasar yang sama sekali tidak dibangun (disandarkan) di atas
pemikiran pemikiran yang lain. Pemikiran mendasar ini merupakan akumulasi
jawaban atas pertanyaan dari mana, untuk apa dan mau ke mana alam, manusia dan
kehidupan ini yang dihubungkan dengan asal muasal penciptaannya dan kehidupan
setelahnya? 24 april 2007
Dr. Hafidh Shaleh:
Ideologi adalah sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi rasional
(aqidah aqliyah), yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan
manusia. Pemikiran tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode untuk
mengaktualisasikan ide dan solusi tersebut, metode mempertahankannya, serta
metode menyebarkannya ke seluruh dunia. 12 november 2008
Taqiyuddin An-Nabhani:
16
Mabda’ adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud
aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan
hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping
hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia
ini. Atau Mabda’ adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta,
manusia, dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah dan thariqah. 17 juli 2005.
Ideologi-ideologi Kontemporer
Ideologi yang bermunculan cukup banyak, dan ini diakibatkan bervariasinya
kenyataan dan individu yang menerjemahkannya ke dalam ideologi yang dicetuskannya.
Namun, untuk kebutuhan tulisan ini akan dicukupkan pada beberapa ideologi yang bersifat
“mainstream”. Dari ideologi-ideologi tersebut, dapat diturunkan varian-variannya.
1. Kapitalisme
Secara bahasa, kapitalisme adalah paham tentang kapital (modal). Jika dikembangkan
lebih lanjut, maka Kapitalisme berarti paham ekonomi yang didasarkan pada penginvestasian
uang dalam rangka menghasilkan uang. Kapital tidak harus berupa uang, tetapi aset-aset lain
(misalnya tanah, bangunan, kendaraan) yang bisa diinvestasikan untuk menghasilkan uang.
Uang yang dihasilkan dari investasi tersebut kembali digunakan untuk investasi untuk
menghasilkan uang.
Kapitalisme terdiri atas 3 varian, yaitu Kapitalisme Pedagang, Kapitalisme Produksi,
dan Kapitalisme Finansial. Kapitalisme Pedagang (Merchant Capitalism) termasuk jenis
Kapitalisme yang paling tua. Kapitalis (pelaku permodalan) menginvestasikan hartanya untuk
mencari barang yang langka dan memiliki keuntungan jika diperdagangkan. Investasi tidak
harus berupa uang, melainkan dapat termasuk kendaraan, barang kebutuhan primer, barang
berharga, dan sejenisnya. Kapitalisme Pedagang menuntut pembukaan pasar yang nantinya
akan dilakukan monopoli atasnya.
Kapitalisme Produksi (Production Capitalism) dilakukan oleh Kapitalis yang memiliki
alat dan cara produksi. Bentuk yang paling dikenal adalah “pabrik.” Pabrik digunakan untuk
memproduksi barang tertentu, untuk kemudian dipasarkan. Untuk memproduksi barang,
pemilik pabrik membutuhkan pekerja (labor). Labor ini sekaligus juga konsumen dari barang
yang mereka produksi. Barang yang dihasilkan ditukar dengan uang di “pasar” (market).
Keuntungan dari penjualan digunakan Kapitalis untuk diinvestasikan ke dalam pabriknya,
17
ataupun pada kegiatan lain. Uang, cara produksi, alat produksi, pasar, profit, dan uang, adalah
konsep-konsep kunci untuk menganalisis Kapitalisme Produksi ini.
Kapitalisme Keuangan (Financial Capitalism) merupakan bentuk terbaru dari
Kapitalisme. Dalam Kapitalisme Keuangan, modal diinvestasikan bukan ke dalam bentuk
barang, tenaga kerja, atau pabrik. Uang diinvestasikan ke dalam sellisih uang. Komoditas
produksi Kapitalisme Keuangan adalah saham dan nilai tukar uang (valuta). Pasar dalam
kegiatan Kapitalisme Keuangan adalah “bursa efek.” Kapitalisme Keuangan inilah yang
kerap menciptakan devaluasi (penurunan) nilai mata uang dunia.
2. Sosialisme
Sosialisme tumbuh sebagai kritik atas Kapitalisme, khusnya Kapitalisme Produksi. Menurut
Michael Newmann, Sosialisme adalah ideologi yang minimal ditandai oleh : (1)
komitmennya untuk menciptakan masyarakat yang egalitarian (sama); (2) Seperangkat
kepercayaan bahwa orang bisa membangun sistem egalitarian alternatif yang didasarkan pada
nilai-nilai solidaritas dan kerjasama; (3) pandangan yang optimistik yang memandang
manusia dan kemampuannya dapat bekerja sama antara satu dengan lainnya, dan (4)
keyakinan bahwa adalah mungkin untuk membuat perubahan secara nyata di dunia ini
melalui agen-agen yang terdiri atas mereka-mereka yang sadar.
Sosialisme, sama seperti Kapitalisme, memiliki “pecahan.” Sosialisme sendiri adalah konsep
induk dari ideologi-ideologi yang muncul kemudian, di mana satu sama lain kerap bertolak
belakang dalam kegiatannya. Ideologi-ideologi tersebut adalah Sosialisme Utopia, Marxisme,
Komunisme, Anarkisme, Sosial Demokrasi, dan sejenisnya.
3. Liberalisme
Liberalisme berkembang sejalan dengan Kapitalisme. Perbedaannya, Kapitalisme
berdasarkan determinisme Ekonomi, sementara Liberalisme tidak semata didasarkan pada
ekonomi melainkan juga filsafat, agama, dan kemanusiaan. J. Salwyn Schapiro menyatakan
bahwa Liberalisme adalah “… perilaku berpikir terhadap masalah hidup dan kehidupan yang
menekankan pada nilai-nilai kemerdekaan individu, minoritas, dan bangsa.”
18
Lebih lanjut, Schapiro menjelaskan serangkaian prinsip dari Liberalisme yaitu : (1)
keyakinan mengenai pentingnya kemerdekaan untuk mencapai setiap tujuan yang
diharapkan; (2) semua manusia memiliki hak-hak yang sama di depan hukum yang
dimaksudkan bagi kemerdekaan sipil; (3) tujuan utama dari setiap pemerintahan adalah
mempertahankan kebebasan, persamaan, dan keaman dari semua warga negara; (4) adanya
kebebasan berpikir dan berekspresi; (5) liberalisme yakin akan adanya kebenaran yang
obyektif, bisa ditemukan melalui kegiatan berpikir menurut metode riset, eksperimen, dan
verifikasi; (6) agama merupakan hal yang harus ditoleransi; (7) liberalisme berpandangan
dinamis mengenai dunia, dan; (8) kaum liberal adalah mereka yang idealis (hendak mencapai
tujuan) melalui praktek-praktek yang dipertimbangkan.
Liberalisme terutama berkembang di Inggris, terutama sejak Glorious Revolution, di
mana Kekuasaan Monarki Absolut Inggris dibatasi. Tokoh liberalisme adalah John Locke dan
John Stuart Mill. Locke melalui karyanya Two Treatises of Government mensyaratkan tujuan
pemerintahan untuk melindungi hak milik yang diperintah. Sementara John Stuart Mill
melalui karyanya On Liberty, yang mengawali sistem demokrasi dengan mekanisme suara
terbanyak.
4. Neoliberalisme
Pada perkembangannya, ideologi Liberalisme terpecah. Satu lebih mendekati
Sosialisme, dan lainnya mendekati kapitalisme (ekonomi). Neoliberalisme adalah pecahan
ideologi Liberalisme yang mendekati kapitalisme, sementara yang mendekati sosialisme
disebut sebagai New Liberalism (Liberalisme Baru). Ideologi Neoliberalisme ini yang
dituding menunggangi aksi militer Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah dan Asia
Selatan.
Neoliberalisme adalah cara pandang kebijakan yang menekankan pada kebutuhan untuk
adanya kompetisi pasar yang bebas (free market competition). Liberalisme sekaligus
merupakan ideologi (seperangkat gagasan yang terorganisir) dan praktek (seperangkat
kebijakan). Beberapa prinsip Neoliberalisme adalah:

keyakinan bahwa perkembangan ekonomi yang berkelanjutan adalah penting untuk
mencapai kemajuan umat manusia,

kepercayaan diri bahwa pasar bebas adalah tempat alokasi sumber daya yang paling
efektif;
19

penekanannya pada peran minimal intervensi negara dalam hubungan sosial dan
ekonomi, dan

komitmennya pada kemerdekaan perdagangan dan permodalan.

Neo Liberalisme kerap dikaitkan dengan globalisasi, yang mengindikasi penguatan
dalam arus modal dan perdagangan dunia. Ini mengakibatkan beralihkan perimbangan
kekuasaan dari negara kepada pasar. Pemerintah pada titik ini memiliki sedikit
pilihan, dan memutuskan untuk mengadopsi kebijakan Neoliberal dalam rangka
mencapai daya saing ekonomi.
Neoliberal, sebab itu, memberi kepercayaan yang demikian besar kepada perusahanperusahan untuk berinvestasi dan “memperluas” usaha. Dampak dari kebijakan Neoliberal
adalah, negara yang tidak memiliki daya saing ekonomi akan tunduk pada pemodal dari
negara lain. Kondisi ini kemudian menciptakan ketergantungan dan kemiskinan di negara
tanpa daya saing tersebut.
5. Fundamentalisme
Jika sosialisme, liberalisme, kapitalisme, dan neoliberalisme menekankan pada aspek
pemikiran sekular, maka fundamentalisme menekankan pada aspek non-sekular. Kerap kali
fundamentalisme tidak saja terjadi di dalam kelompok Islam melainkan juga di kelompokkelompok Kristen dan Yahudi.
Fundamentalisme dari kelompok agama muncul akibat semakin duniawinya pola
hidup masyarakat, kegagalan kapitalisme dan liberalisme dalam menciptakan keadilan sosial,
dan ancaman-ancaman modernisasi yang semakin mendesak kehidupan beragama.
Fundamentalisme dalam kelompok Islam dapat disebutkan Ikhwan al-Muslimin,
berdiri di Mesir tahun 1924. Pendirinya, Hasan al-Banna adalah seorang guru sekolah.
Ikhwan al-Muslimin mendominasi pemikiran politik Sunni di sepanjang era 1970-an dan
1980-an di Mesir, Sudan, Syria, dan Yordania. Kelompok yang mewakili Syiah adalah
Fadayan-I Islam, yang berdiri tahun 1940-an di Iran. Kelompok ini didirikan oleh Navab
Safavi dan mengalami pelarangan oleh pemerintah Shah Irah tahun 1956. Fadayan-I Islam
kembali bangkit pasca keberhasilan Revolusi Islam Iran di bawah pimpinan Ayatollah
Khalkhali.
Pemikiran-pemikian kelompok di atas banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh seperti
Sayyid Qutb (1906-1966), Abul A’la al-Mawdudi (1903-1979). Mawdudi ini kemudian
berhasil mendirikan Jama’ah Islamiyah tahun 1972. Basis gerakan Jama’ah Islamiyah adalah
di Pakistan, di mana kelompok ini berusaha mengubah sistem politik Pakistan menjadi
20
Sistem Politik Islam. Bimbingan pemerintahan Islam yang akan dilangsungkan di Pakistan
memiliki kerangka teoretis di dalam karya Mawdudi, Khilafah dan Kerajaan.
Ayatullah Ruhollah Khomeini merupakan pemimpin fundamentalis Syiah di Iran. Ia
berhasil memimpin Revolusi Islam Iran tahun 1979 dan menggulingkan kekuasaan Shah Iran.
Khomeini kemudian mendidirikan pemerintahan Islam yang didasarkan atas Syiah Itsna
Asy’ariyah (Syiah Imam Dua Belas). Sementara Imam ke-12 (Al Mahdi Al Muntazzar)
masih dalam kondisi ghaib, pemerintahan sementara dipegang oleh Wilayatul Faqih.
Wilayatul Faqih adalah pemerintahan yang dianggotai para Ulama Syiah dan memiliki
kekuasaan tertinggi di dalam pemerintahan sehari-hari.
Fundamentalisme kelompok-kelompok Kristen dapat ditelusuri hingga ke saat Pasca
Civil War (akhir 1800-an). Kelompok-kelompok Kristen di Amerika Serikat merasa
mendapat ancaman terhadap doktrin beragama setelah mewabahnya imigrasi, industrialisasi,
Darwinisme, dan sosialisme. Pada tahun 1960-an, para pengkhotbah dari kelompok
fundamentalis mulai tampil di televisi-televisi, dan mereka bicara isu-isu politik.
Salah satu kelompok fundamentalis Kristen yang terkemuka adalah Moral Majority,
didirikan di Amerika Serikat tahun 1979 oleh Reverend Jerry Falwell. Isu-isu yang
dikembangkan kelompok ini adalah anti-aborsi, mendirikan rumah bagi orang-orang miskin,
sakit, dan rehabilitasi pecandu alkohol. Mereka juga menekan pemerintah untuk menerbitkan
undang-undang pelarangan judi, pornografi, prostitusi, dan melarang kerja pada hari Minggu.
Kelompok fundamentalis Kristen secara keras menolak pengajaran Darwinisme di sekolahsekolah, oleh sebab bertentangan dengan ajaran kitab suci yang menekankan pada
Kreasionisme.
Fundamentalis kelompok Yahudi diwakili Zion (orangnya Zionis). Gerakan mereka
adalah mendirikan negara Yahudi di Palestina, yang menurut Talmud adalah Tanah yang
Dijanjikan Tuhan kepada bangsa Yahudi. Tokoh Zion adalah Theodore Herzl, seorang
Yahudi yang hidup di Basel, Swiss, yang mendirikan Zion tahun 1918. Tahun 1948, Zion
berhasil mendirikan negara Yahudi di Palestina lewat bantuan Inggris.
Kelompok fundamentalis Yahudi semakin kuat setelah Perang 6 Hari pada tahun
1967. Perang antara Israel melawan aliansi Mesir, Yordania, dan Suriah ini dimenangkan
oleh Israel. Israel berhasil menguasai wilayah Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir,
Dataran Tinggi Golan dari Suriah, dan Tepi Barat juga Yerusalem Timur dari Yordania.
Sementara Zion kemudian terpecah ke dalam 2 partai : Partai Likud dan Partai Buruh.
Partai Buruh ini lebih moderat dan mulai membicarakan kemerdekaan Palestina serta
mengembalikan wilayah yang direbut dalam Perang 6 Hari. Sementara itu, Partai Likud pun
21
terpecah ke dalam partai-partai fundamentalis yang lebih keras. Contoh dari partai-partai
tersebut adalah Partai Morasha dan Partai Kach. Partai Kach ini dimotori oleh Rabbi Meir
Kahane, bersifat violence, dengan tujuan mengusir seluruh orang Palestina dari Tanah Israel.
Namun, Partai Kach bersifat minoritas di Israel, tetapi sangat agresif.
C. IDEOLOGI-IDEOLOGI POLITIK
Dalam materi ini, membahas ideologi politik yang berhubungan dengan pemikiran
politik.Pendapat ini pun memunculkan jebakan potensi lainnya 19.Bahkan diantara akademisi
yang menyebut diri mereka”teoritikus politik”,sering terdapat kencenderungan untuk
meremehkan ideologi sebagai bentuk pemikiran yang inferior,dan atau dengan sendirinya
melibatkan pendekatan normatif yang tidak di ikuti sampai saat ini dalam kajian “filsafat
politik”.Sekumpulan akademikus yang mempelajari bidang rendahan ini meliputi pemikir
pemikir besar(Mark,Mill,dll),atau konsep konsep penting (hak,keadilan,dll).Namun dengan
mengutip freeden:
Ideologi adalah bentuk pemikiran politik yang memberikan akses langsung yang
penting
untuk
memahami
bentuk
dan
sifat
teori
politik,kekayaan,ragam,dan
rinciannya.penelitian akademis terhadaap ideologi harus disertakan dengan kajian filsafat
politik.
Kajian ideologi politik dalam pengertian ini tertarik dengan persoalan seperti:siapa
yang merupakan pemikir pentingnya dan apa pernyataan utama dari suatu ideologi?Sampai
dimana pertentangan atau ketegangan dalam suatu ideologi?Mengapa beragam aspek suatu
ideologi di tekankan pada pelbagai waktu dan mengapa terbentuk beragam sintesis?Bagi
mereka yang menyukai definisi singkat,berikut adalah basis buku ini:
Suatu ideologi politik adalah sekumpulan kepercayaan dan pemikiran empiris dan
normatif yang relatif koheren dengan terfokus terhadap masalah masalah hakikat
manusia,proses sejarah,dan pengaturan sosiopolitik.Ideologi ini biasanya berhubungan
dengan suatu progam untuk persoalan tertentu dalam jangka pendek.dengan tergantung pada
hubungannya dengan struktur nilai yang dominan,suatu ideologi dapat berlaku sebagai
kekuatan yang menciptakan kestabilan atau kekuatan radikal.Pemikir pemikir tertentu bisa
menanamkan
inti
ideologi
,namun
menyebut
seseorang
sebagai
“
pencetus
ideologi”atau”penganut ideologi” biasanya dianggap negatif.Oleh karena itu,istilah “filsuf
politik”atau “teoritikus politik” lebih tepat sebagai seorang pemikir yang mampu
19
Roger Eatwell dan Anthony wrigh,Ideologi politik kontemporer,(Yogyakarta:2004)
22
mengembangkan suatu tingkat perdebatan yang rumit.Ideologi politik sesungguhnya
merupakan hasil pemikiran kolektif.Ideologi
merupakan “tipe ideal”,yang jangan
dicampuradukkan dengan gerakan,partai,atau rezim tertentu yang menggunakan nama itu.
Keterangan terakhir ini menekankan persoalan paling akhir.Apabila ideologi politik
melibatkan kajian atas pelbagian pemikir,gerakan,partai,dan renzim,tidak adakah persoalan
yang berkenaan dengan konstruksi sesungguhnya dari suatu ideologi?Fasisme adalah contoh
yang baik sebab merupakan ideologi yang mengangkat isu isu paling mendasar tentang
konstruksi tersebut.
Salah satu masalah penting dalam membangun ideologi fasisme adalah apakah
fokusnya terutama harus diberikan kepada setiap fasis(tulisan dan pidatonya),atau penekanan
harus diberikan pada gerakan dan kebijakan renzim-persoalan yang lebih banyak dikaji oleh
sejarawan.Sebagai tokoh fasis(biasanya bukan pemimpin) dapat memberikan tingkat
pemikiran tinggi yang menjadi minat teoretisi politik akademis,namun belum jelas
bagaimana,atau apakah,tokoh tersebut mempengaruhi gerakan dan renzim.Lebih lanjut
fasisme Italia dan Nazisme Jerman memiliki tahap gerakan dan rezim ynag berlainan.Fasisme
dalam tahap sebelum berkuasa cenderung bersifat radikal,misalnya sangat kritis terhadap
agama dam kapitalisme.Setelah berkuasa Fasisme lebih mengakomodasi kepentingan
kepentingan agana dan kapitalisme.Oleh sebab itu banyak pihak akan beranggapan bahwa
model fasisme yang tidak didasarkan pada praktik rezim yang konkret sebagai sesuatu yang
ganjil.
Kalangan marxis tidak menganggap ada persoalan disini.Fasisme akan dianggap
sebagai contoh kesadaran palsu yang terutama dipahami berdasarkan pengaruh pengaruh
yang mendasar.Analisis semacam itu memandang fasisme sebagia hasil dari krisis
kapitalisme,sebagai bentuk”kediktatoran modal” yang dibutuhkan manakala krisis ekonomi
berarti tidak lagi memungkinkan memelihara”kebebasan borjuis”.Harus ditambahkan bahwa
tak perlu menjasi seorang Marxis untuk berpendapat bahwa ideologi fasis terutama harus
dilihat berdasarkan peran sosialnya.Kalangan fungsionalis juga melihatnya terutama dalam
pengertian usaha mengahiri anomi atau menyiapkan masyarakat di Jerman,Itali,dan Jepang
demi kecenderungan yang dipercaya elite berasal dari perang yang dibutuhkan gun menjamin
keagungan bangsa(suatu usaha untuk menciptakan apa yang disebut Dhurkheim
sebagia”solidaritas mekanis”)
23
Pendapat
pendapat
ini
akan
muncul
kembali,dan
pendapat
lain
juga
mengemuka,apabila kita memikirkan bagaimana menjelaskan”ekologisme”.Haruskah kita
mempelajari pemikir pemikir besar,atau partai dengan gerakan hijau yang sesungguhnya?
partai dan gerakan itu jelas merupakan campuran ideologi,dan sampai kadar tertentu mungkin
saja melakukan kompromi untuk menarik dukungan.Sehingga benar saja jika gerakan
lingkungan memperoleh masa setelah itu.Atau haruskah ekologisme dipahami terutama
dalam pengertian
basis sosialnya.Pelbagai literatur sosiologi memperlihatkan bahwa
keanggotaan gerakan lingkungan cenderung generasi muda yang terdidik dan bekerja di
sektor ekonomi nonproduksi.Namun pakah ini berarti kita harus menyebut ekologisme
sebagai ideologi kelas menengah(sebagaimana kerap di istilahkan untuk fasisme,kendati
dalam kasus fasisme penekanan diberikan pada basis”borjuis kecil”bukan basis kelas
menengah
profesional)
persoalan
seperti
ini
sangat
sah
dalam
sosiologi,namun
pengggunaanya yang sia sia untuk memehami ideologi per se dapat dipandang dengan
mempertimbangakan kasus hipotesis partai hijau yang menjadi partai nasional besar.Tak
pelak partai ini harus menarik basis kelas dan usia yang luas:akankah ekologisme dengan
demikian menjadi ideologi “semua kelas”?perlu sekali menanbahkan bahwa historiografi
terakhir menunjukkan bahwa Nazisme,jauh dari sosok partai kelas menengah,menarik
dukungan dari semua kelas yang penting.Jadi justru mereduksi ideologi ideologi dalam basis
kelas dalam pengertian dukungan.
Pendapat ini memunculkan pernyataan penting yang tidak bisa dijawab dengan
sederhana.Pertanyaan
itu
terancam
menimbulkan
perdebatan
metodologis.Meskipun
demikian sangat penting mengutarakan dua hal berkenaan dengan fasisme sebagai
kesimpulan disini.
Pertama,mempelajari “praktik” tidak dengan sendirinya dianggap memberikan
pandangan yang lebih benar dibandingakan mengkaji ide ide politik.Walaupun apa yang
benar benar dilakukan fasisme jangan pernah dilupakan(terutama dalam melihat
kekejaamannya),rezim rezim fasis utama berumur pendek dan melalui masa yang
bergejolak.Bahkan gerakan itu hanya cenderung ada dalam periode yang singkat.Oleh karena
itu kajian kajian yang terutama terfokus pada gerakan dan rezim ini jangan dilihat dengan
sendirinya memberikan kunci bagi fasisme”yang sesungguhnya”.(Bandingkan dengan
menyebutkan bahwa Marxisme harus dimengertti terutama dengan sejarah komunisme soviet
selama sepuluh atau duapuluh tahun setelah 1917,atau ekologisme harus dipahami dengan
melihat program program partai lingkungan atau pidato para pemimpinnya).
24
Kedua,historiografi terakhir memperlihatkan bahwa hubungan antara fasisme dan
dunia bisnis ternyata kompleks,namun dalam keadaan stabil fasisme justru lebih
mempengaruhi dunia bisnis ketimbang sebaliknya.Bahkan dikalangan Marxis terdapat
perdebatan
besar
mengenai
sampai
dimana
ideologi
dapat
di
reduksi
menjadi
kepentingan,dan mengenai “otonomi relatif”negara-isu yang di singgung pada awal.
25
Daftar Pustaka
Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT. Ikrar Mandiriabadi Press
2008
Fadillah Putra,Partai Politik dan Kebijakan Politik,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar press 2003),
Ensiklopedia Nasional Indonesia, halaman 26
Roger Eatwell dan Anthony wrigh,Ideologi politik kontemporer,(Yogyakarta:2004)
http://www.pengertianahli.com/2013/05/pengertian-ideologi-menurut-para-ahli.html
Wilopo, Zaman Pemerintahan Partai dan Kelemahan-kelemahanya (Jakarta: Yayasan Idayu,
1978),
Mohammad Hatta,Memoir (Jakarta: PT Tintamas, 1979),
. John D. Legge, Soekarno: Sebuah Biografi Politik
Secretariat DPR-GR, Seperempat Abad Dewan Perwakilan Rakayat Republik Indonesia
(Jakarta, 1970.
26
Download