BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Timur Tengah dikenal sebagai pusat dari Agama Islam. Hal tersebut
dikarenakan Agama Islam lahir dan berkembang dari kota Mekah, yang sekarang
terletak di negara Saudi Arabia. Hingga kemudian kekuatan Islam mampu
menguasai hampir seluruh daerah di Timur Tengah (Amin, 2009: 65). Abu Bakar
(11-13 H / 632-634 M) sebagai Khalifah pertama setelah wafatnya Nabi
Muhammad, mulai memperluas daerah kekuasaan Islam ke luar Mekah. Daerah
kekuasaan Islam terus meluas dari Maroko sampai India, bahkan sampai di
Indonesia. Salah satu daerah yang mampu dikuasai Islam dan menjadi pusat
peradaban Islam adalah Mesir. Islam masuk ke tanah Mesir pada tahun 18 H atau
639 M, ketika Khalifah Umar bin Khatab berkuasa. Khalifah Umar bin Khatab
waktu itu memerintahkan Amr bin Ash sebagai panglima dengan 4000 pasukan
untuk menyerbu Mesir. Setelah 7 bulan pengepungan, Mesir mampu dikuasai oleh
pasukan Muslim. Kota pertama yang jatuh ke tangan Islam adalah Alexandria yang
ketika itu adalah pusat kekuasaan Bizantine di Afrika Utara (Ali, 2003: 163-164).
Mesir adalah daerah yang telah memiliki peradaban kuno dan maju, selain itu
Mesir adalah daerah yang subur karena keberadaan Sungai Nil, karena kesuburan
inilah tanah Mesir disebut sebagai “anugerah sungai Nil” (Ali, 2003: 164). Sejak
4000 tahun sebelum masehi, Mesir telah memiliki peradaban yang tinggi, terbukti
dengan adanya kerajaan Mesir Kuno yang dipimpin oleh Raja bergelar Firaun.
Setelah Islam masuk dan mampu menguasai tanah Mesir, banyak bermunculan
1
2
kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri dan berpusat di sana, seperti Kerajaan
Fatimiyah (969M – 1171M) dan Kerajaan Mamluk (1250M – 1517M) (Amin,
2009:279). Kerajaan Islam yang cukup berpengaruh atas berdirinya Mesir Modern
adalah Kerajaan Fatimiyah, yang berpusat di Kairo dan memiliki peninggalan besar
yaitu Masjid Al-Azhar yang merupakan awal dari berdirinya Universitas Al-Azhar.
Masjid Al-Azhar dibangun oleh Khalifah Mu’idz li Dinilah Ma’ad bin Manshur
(931M-975M), khalifah keempat dari Dinasti Fathimiyah yang menguasai Mesir
kala itu. Selain untuk tempat ibadah, Masjid Al-Azhar juga berfungsi sebagai pusat
kebudayaan dan pendidikan dari paham Syiah, yang merupakan paham resmi
kerajaan. Tetapi sejak Shalahudin Al-Ayyubi menguasai Mesir pada tahun 1711 M,
kurikulum pendidikan di Al-Azhar diubah dari paham Syiah menjadi paham Sunni
(Al-Kattani, 2009:25). Sampai sekarang Masjid dan Universitas Al-Azhar masih
berdiri dan menjadi salah satu pusat pembelajaran Islam terbesar di dunia (Amin,
2009:254).
Selain Kairo yang menjadi ibukota Mesir, banyak juga kota lain yang terkenal
di Mesir, salah satunya kota Alexandria atau Iskandariyah. Kota Alexandria
dibangun oleh Alexander the Great dari Macedonia pada 323 SM (Al-Kattani,
2009:20). Banyak peninggalan sejarah di kota ini. Salah satu peninggalan yang
paling menarik adalah Gereja Santo Markus, sebagai pusat Kristen Ortodok Koptik
Mesir dan di sana bertahta pemimpin tertinggi dari gereja tersebut yang bergelar
Paus. Berbeda dengan Paus yang bertahta di Vatikan, Roma sebagai pemimpin
tertinggi pengikut Gereja Katolik Roma, Paus yang berkedudukan di kota
Alexandria adalah pemimpin tertinggi dari pengikut Gereja Kristen Ortodok Koptik
Mesir (Suleeman, dalam gkiki.com diakses 5 Oktober 2015).
3
Gereja Kristen Ortodok Koptik Mesir memiliki pengikut sekitar 10% dari 83
juta penduduk Mesir yang mayoritas muslim (bbc.com diakses 16 September
2015). Jumlah tersebut adalah jumlah minoritas kristen terbesar di Timur Tengah
(bbc.com diakses 5 Oktober 2015). Saat ini pemimpin Gereja Kristen Ortodok
Koptik Mesir adalah Paus Tawadros II yang merupakan Paus ke-118. Paus
Tawadros II diangkat menjadi pemimpin tertinggi gereja tersebut pada tahun 2012
di Gereja Santo Reweiss di Abbassiya, Kairo, Mesir (copticchurch.net diakses 21
September 2015) yang menggantikan Pemimpin Gereja Kristen Ortodok Koptik
Mesir sebelumnya yaitu Paus Shenouda III, yang memimpin sejak tahun 1971
sampai tahun 2012.
Paus Shenouda III dilahirkan di Desa Salam, Provinsi Asiut di daerah Mesir
Utara dari keluarga Kristen yang religius dengan nama Nazer Gayed. Sejak
berumur 16 tahun, Nazer Gayed muda telah aktif di Sekolah Minggu untuk
memperdalam pengetahuan tentang agama Kristen. Sejak lulus dari Cairo
University, Nazer Gayed muda bergabung ke Seminari dan menjadi biarawan. Pada
18 Juli 1954 Nazer Gayed diangkat menjadi Frather dengan gelar Fr. Antonius ElSriyani. Kemudian pada 30 September 1962, Fr. Antonius El-Sriyani diangkat oleh
Paus Kyrillos VI sebagai Bishop dengan gelar Bishop Shenouda sekaligus diberi
kepercayaan menjadi Bishop Pendidikan Kristen dan Presiden Seminari Theologi
Kristen Koptik. Sejak menjabat menjadi kepala seminari, jumlah murid terus
bertambah hingga tiga kali lipat. Kemudian pada 14 November 1971, Bishop
Shenouda diangkat menjadi Paus ke-117 dari Gereja Kristen Ortodok Koptik
dengan gelar Paus Shenouda III. Selain menjadi pemimpin tertinggi Gereja Kristen
Ortodok Koptik, Paus Shenouda III masih aktif menjadi editor untuk majalah El-
4
Keraza dan menjadi pengajar pada Seminari di Kairo, Alexandria dan Institusi
Pendidikan Tinggi Koptik di seluruh dunia. Paus Shenouda III juga mendirikan
Seminari di berbagai negara selain Mesir, seperti di Amerika, Australia dan negaranegara persemakmuran Inggris. Selama hidup, Paus Shenouda III telah mengarang
101 buku dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti bahasa Inggris,
Prancis, Jerman, Itali dan bahasa-bahasa lainya. Paus Shenouda III juga Paus
Kristen Ortodok Koptik pertama yang melakukan kunjungan ke Vatikan, Roma
setelah 1500 tahun hal itu tidak dilakukan. Dalam kunjungannya ke Vatikan, Paus
Shenouda III bertemu dengan Paus Paulus VI untuk membicarakan isu kekristenan,
juga membuat persetujuan dalam membangun persatuan diantara umat (Mikhail,
dalam copticchurch.net diakses 21 September 2015).
Selama sekitar 41 tahun masa kepemimpinannya di Gereja Orthodok Koptik,
banyak yang telah dilakukan Paus Shenouda III. Terutama tentang toleransi di
Mesir, terbukti ketika Paus Shenouda III meninggal di tahun 2012, ucapan duka dan
rasa kehilangan tidak hanya datang dari pemeluk Kristen saja, tetapi juga datang
dari kaum Muslim yang diwakili Syeikh Agung Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed AlTayeb dan Pemimpin Tertinggi (Mursyid) Ikhwanul Muslimin, Mohamed Badie
yang mengatakan bahwa kematian Paus Shenouda III adalah sebuah kehilangan
besar bagi Mesir, karena Paus Shenouda III adalah bapak toleransi bagi Mesir
(antaranews.com diakses 17 September 2015)
Banyak buku yang dikarang Paus Shenouda III selama 41 tahun memimpin
Gereja Ortodok Koptik, ada sekitar 101 buku dan banyak diantaranya telah
diterjemahkan dalam berbagai bahasa, buku-buku tersebut antara lain berisi tentang
5
pemikiran, nasehat dan sebagian yang lain tentang tafsir dari Bible atau Alkitab.
Salah satu bukunya yang berisi tentang tentang pemikiran dan ajaran mengenai
kehidupan adalah buku berjudul “Ten Concepts” atau Sepuluh Konsep, dalam buku
itu Paus Shenouda III menuangkan pemikirannya tentang konsep kehidupan mulai
dari konsep ketuhanan, manusia, kehidupan sosial serta kehidupan yang diajarkan
oleh Gereja. Salah satunya adalah konsep tentang “Cinta dan Persahabatan”.
Konsep Cinta dan Persahabatan ini erat pengaruhnya dengan hubungan sosial
manusia di tengah banyaknya perbedaan. Dalam hal ini toleransi beragama yang
terjadi di Mesir antara penganut Kristen Koptik sebagai minoritas dan Islam sebagai
agama mayoritas, juga hubungan dengan agama-agama lain yang hidup di Mesir.
Hal unik dari toleransi beragama di Mesir inilah yang menarik penulis untuk
membuat penelitian tentang minoritas Kristen Ortodok Koptik Mesir, yang diwakili
tokoh utama sekaligus pemimpin tertinggi yaitu Paus Shenouda III. Selama kurang
lebih 41 tahun menjabat dalam tahta suci sebagai Paus Gereja Kristen Orthodok
Koptik ke-117 tahun 1971-2012, pemikiran serta kontribusinya terhadap kerukunan
beragama di Mesir sangatlah menarik untuk dikaji. Maka tidak salah jika julukan
“bapak toleransi Mesir” disematkan padanya dan merupakan suatu kehilangan
besar bagi Mesir setelah meninggalnya Sang Paus pada tahun 2012.
Penelitian tentang Paus Shenouda III atau tentang Kristen Koptik Mesir sampai
saat ini belum dilakukan di Program Pendidikan Sastra Arab UNS begitu juga yang
berkaitan tentang toleransi beragama. Maka dari itu sebagai tinjauan pustaka ada
beberapa tulisan terkait Paus Shenouda III, antara lain:
6
Pertama, Artikel berjudul “Pope Kyrillos VI and the Spiritual Leadership”
karya Father Raphael Ava Mina (1986). Artikel ini membahas tentang Paus
Kyrillos VI yang merupakan Paus Gereja Orthodok Koptik Mesir ke-116 tahun
1959-1971. Dalam buku ini dipaparkan tentang biografi Paus Kyrillos VI sejak
lahir, proses menjadi seorang biarawan, hingga mendapatkan jabatan spiritual
sebagai Paus. Dijelaskan bahwa pada masa Paus Kyrillos VI bertahta, Katedral
Santo Markus di Alexandria direnovasi, selain itu dibangun sebuah gereja baru di
Anba Rouis dan Biara Santo Mina di Mariout, Mesir sehingga Paus Kyrillos VI
juga mendapat julukan “Bapa Mina”. Selain itu dijelaskan tentang prestasi-prestasi
Paus Kyrillos VI dalam menyebarkan Gereja Orthodok Koptik ke seluruh dunia,
seperti Asia, Eropa dan Amerika. Hal ini merupakan sebuah sejarah karena untuk
pertama kalinya, Gereja Orthodok Koptik dibangun di luar Mesir. Buku ini juga
memaparkan tentang kepemimpinan spiritual Paus Kyrillos VI dalam Gereja
Orthodok Koptik yang penuh dengan pengabdian dan kebijaksanaan. Buku ini
memiliki perbedaan dan persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis.
Perbedaanya adalah pada tokoh yang dikaji sebagai objek penelitian, pada buku ini
membahas Paus Kyrillos VI sedangkan penelitian yang akan dilakukan penulis
adalah tentang Paus Shenouda III. Tetapi dua hal ini memiliki kesamaan, yaitu
kedua tokoh ini adalah Paus dari Gereja Orthodok Koptik Mesir, Paus Kyrillos VI
adalah Paus ke-116 dan Paus Shenouda III adalah penggantinya. Dua tokoh ini
sama-sama tokoh yang peduli terhadap toleransi beragama dan tokoh yang pluralis
dari Mesir. Penelitian yang dilakukan penulis akan membahas tentang toleransi
menurut Paus Shenouda III berdasarkan pemikiran beliau yang tertuang dalam buku
“Ten Concepts”.
7
Kedua, Buku berjudul “Abba Kyrillos Patriach and Solitary” karya John
Watson (1996). Buku ini membahas tentang Paus Kyrillos VI sebagai Pemimpin
Gereja Orthodok Koptik ke-116. Buku ini menjelaskan tentang biografi Paus
Kyrillos VI mulai dari lahir dengan nama Azer Youssef Atta, dan kemudian
mendapat pendidikan agama yang kuat hingga akhirnya menjadi seorang biarawan.
Paus Kyrillos VI diangkat menjadi Paus pada 10 Mei 1959 dan memimpin Gereja
Koptik lebih dari 10 tahun, prestasi dan capaian atas kebijakannya sangatlah banyak
terutama dalam penyebaran Gereja Koptik di seluruh dunia. Paus Kyrillos VI
adalah pemimpin yang bijak, cerdas dan merupakan tokoh yang cukup berpengaruh
dalam Mesir Modern. Paus Kyrillos juga merupakan tokoh yang dekat dengan
mayoritas Muslim di Mesir. Paus Kyrillos VI hidup pada masa pemerintahan Gamal
Abdul Nasser, keduanya diceritakan sebagai dua sosok yang saling menghormati
dan sangat menghindari terjadinya konfrontasi. Perbedaan mendasar antara buku
ini dengan penelitian yang akan dilakukan penulis adalah pada objek kajian, yaitu
antara Paus Kyrillos VI yang bertahta pada 1959-1971 dan Paus Shenouda III yang
bertahta setelahnya yaitu tahun 1971-2012 pada Gereja Koptik Mesir. Buku ini
membahas tentang masa bertahta Paus Kyrillos VI dan kebijakannya selama
menjabat dalam Gereja Koptik. Sedangkan, penelitian yang akan dilakukan penulis
adalah membahas tentang toleransi menurut Paus Shenouda III berdasarkan
pemikiran beliau yang tertuang dalam buku “Ten Concepts”.
Ketiga, Buku berjudul “The 30th Anniversary Of The Enthronement Of His
Holiness Pope Shenouda III : To The Apostolic Throne Of St. Mark 1971-2001”
karya Maged Attia, BA LLB (2001) dari Sydney, Australia. Buku ini diterbitkan
sebagai peringatan 30 tahun bertahta Paus Shenouda III sebagai pemimpin Gereja
8
Orthodok Koptik. Dalam buku ini dibahas tentang biografi Paus Shenouda III,
diawali dari kelahiran, pendidikan dan proses ia menjadi seorang Paus, pemimpin
tertinggi Gereja Orthodok Koptik. Selain itu, buku ini membahas tentang prestasi
dan hal-hal yang telah dilakukan Paus Shenouda III selama 30 tahun bertahta dalam
Gereja Koptik antara lain, upaya perluasan Gereja Koptik di seluruh dunia, dan
kunjungan ke gereja-gereja lain seperti di Kepausan Katolik di Vatikan Roma, dan
gereja-gereja Orthodok Timur tengah lain seperti Palestina dan Suriah. Buku ini
juga menjelaskan tentang kebijakan-kebijakan Paus Shenouda III dalam internal
Gereja Koptik seperti kebijakan membuat instansi khusus dibawah pengawasan
Gereja Koptik untuk pendidikan, wanita dan pemuda, hal ini merupakan bukti
kepedulian Paus Shenouda III terhadap hal tersebut. Buku ini dan penelitian yang
akan dilakukan penulis memiliki kesamaan, yaitu Paus Shenouda III sebagai objek
kajian. Tetapi, dalam buku ini hanya menjelaskan biografi dan hal-hal yang
dilakukan Paus Shenouda III selama 30 tahun menjabat dari tahun 1971-2001.
Penelitian yang akan dilakukan penulis adalah tentang pemikiran Paus Shenouda
III yang tertuang dalam buku “Ten Concepts” serta implikasinya terhadap toleransi
beragama di Mesir.
Keempat, Artikel yang ditulis oleh Fabian Weinert dari Arab-West Report (30
Juni 2014) yang merupakan review dari sebuah thesis yang ditulis oleh Matthias
Gillé berjudul “The Coptic Orthodox Church under Pope Shenouda III Observation
about this Theologhy and Biography”. Tulisan ini membahas tentang Gereja
Orthodok Koptik selama kepemimpinan Paus Shenouda III selama 40 tahun dan
kebijakan-kebijakan internal yang ia lakukan. Dalam tulisan ini, kehidupan Gereja
Orthodok Koptik didasarkan pada biografi Paus Shenouda III dan kehidupan
9
theologi yang berpengaruh terhadap kehidupan gereja. Artikel ini lebih membahas
Paus Shenouda III dalam kehidupan internal gereja, seperti ajaran-ajaran dan tata
ibadah menurut Paus Shenouda III sebagai pemimpin gereja. Artikel ini juga
menulis tentang kehidupan Paus Shenouda III dibawah kepemimpinan Presiden
Anwar Sadad dan Hosni Mubarak, hal ini juga dianggap mempengaruhi kebijakan
Paus Shenouda III terhadap kehidupan gereja. Kebijakan lain yang dilakukan Paus
Shenouda III adalah pada reformasi gereja dan membuat kebijakan untuk mewadahi
pemuda dan wanita dengan membuat instansi kepemudaan dan kewanitaan dibawah
Gereja Koptik. Kebijakan Paus Shenouda III lain yang ditulis dalam artikel ini
adalah tentang kehidupan beragama dan dominasi Muslim yang kuat sebagai
minoritas di Mesir. Banyak ditemukan kesamaan artikel ini dengan penelitian ytang
akan dilakukan penulis, tetapi perbedaan mendasar adalah pada cara pandang
melihat pemikiran dan kebijakan Paus Shenouda III. Artikel ini adalah sebuah
review dari sebuah thesis yang mendasarkan kebijakan Paus Shenouda III berdasar
biografi dan theologinya, sedangkan penelitian yang akan dilakukan penulis adalah
pemikiran Paus Shenouda III berdasar buku yang ia tulis berjudul “Ten Concepts”.
Kelima, Artikel tentang Paus Shenouda III yang ditulis oleh Fr. Mikhail E.
Mikhail dari Gereja Santo Markus di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat yang
dipublikasikan dalam situs resmi Gereja Orthodok Koptik, Coptic Church
(www.copticchurch.org, diakses pada 28 September 2014 pukul 20.39 wib). Artikel
ini menceritakan tentang biografi Paus Shenouda III mulai kelahiran, pendidikan
dan proses menjadi biarawan, hingga ia mendapat jabatan spiritual sebagai Paus
Gereja Orthodok Koptik. Selain itu, artikel ini menyebutkan tentang prestasi Paus
Shenouda III dalam perluasan Gereja Orthodok Koptik ke seluruh dunia, kunjungan
10
Paus Shenouda III ke pusat Gereja Katolik Roma di Vatikan, Roma yang
merupakan hal bersejarah karena kunjungan pertama kali dilakukan setelah 1500
tahun. Artikel ini juga menjelaskan tentang Paus Shenouda III sebagai sosok yang
menjunjung persatuan dan toleransi beragama antara Muslim dan Kristen di Mesir.
Diceritakan pula wafatnya Paus Shenouda III di tanggal 17 Maret 2012 setelah
kurang lebih 40 tahun bertahta sebagai Paus.
Keenam, Artikel berjudul His Holiness Pope Shenouda III yang ditulis Carolyn
M
Ramzi
dan
dipublikasikan
dalam
situs
“Library
of
Congres”
(www.memory.loc.gov diakses pada 24 Februari 2016 pukul 14.50). Artikel ini
menjelaskan tentang biografi Paus Shenouda III mulai dari kelahiran, pendidikan
dan proses ia menjadi seorang Paus Gereja Orthodok Koptik ke-117 menggantikan
Paus Kyrillos VI. Artikel ini juga menceritakan tentang sosok Paus Shenouda III
yang merupakan tokoh karismatik Mesir, yang mampu mendamaikan hubungan
anatara Muslim dan Kristen di Mesir dan merupakan tokoh pelindung minoritas
Kristen di Mesir pada masa Presiden Anwar Sadad (1970-1981), Paus Shenouda III
pernah diasingkan di Anba Bishoy atau Biara Santo Bishoy di Mesir dan dibebaskan
ketika Presiden Hosni Mubarak berkuasa setelah terbunuhnya Presiden Anwar
Sadad oleh Ekstrimis Muslim pada 6 Oktober 1981. Selain itu, Paus Shenouda III
juga membuktikan jiwa toleransinya dengan mengunjungi Gereja Santo Petrus di
Vatikan, Roma bertemu Paus Paulus VI setelah 1500 tahun hal itu tidak pernah
dilakukan. Artikel ini membahas tentang biografi Paus Shenouda III, sehingga
memiliki kemiripan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis. Jika artikel ini
hanya membahas secara singkat biografi Paus Shenouda III sekaligus kehidupannya
pada masa Presiden Anwar Sadad, maka penelitian yang dilakukan penulis akan
11
dibuat lebih luas karena membahas tentang pemikiran Paus Shenouda III dalam
buku “Ten Concept” serta implikasinya terhadap toleransi kehidupan beragama di
Mesir.
Ketujuh, Artikel berjudul “His Holiness Pope Shenouda III - 117th Pope of
Alexandria and Patriarch of the See of St. Mark” yang ditulis Bishop Youssef,
seorang Bishop dari Keuskupan Gereja Orthodox Koptik, Amerika Serikat bagian
Selatan dalam situs resmi Coptic Orthodox Diocese of the Southern United States
(www.suscop.org diakses pada 8 Maret 2016 pada 12.09). Artikel ini menjelaskan
tentang biografi dan kehidupan Paus Shenouda III dalam Gereja Orthodok Koptik
Mesir. Dijelaskan pula tentang doktrin Paus Shenouda III yang terkenal yaitu
“Pengetahuan yang Benar dan Cinta” yaitu doktrin yang mengajarkan manusia
untuk belajar dari sesuatu yang benar dan untuk saling berkasih sayang dan
menabur cinta terhadap sesama. Selain itu, artikel ini juga membahas tentang
kepemimpinan Paus Shenouda III dan kehidupannya sebagai seorang pengajar dan
pengkhotbah yang sangat karismatik. Dipaparkan pula bahwa Paus Shenouda III
melakukan banyak kunjungan terhadap Gereja lain seperti Katolik Roma di
Vatikan, Orthodok Rusia, dan Patriak Konstantinopel di Turki sebagai bentuk
perdamaian antar gereja. Selain itu Paus Shenouda III telah membangun banyak
gereja dan biara di Mesir dan luar negeri seperti Amerika Serikat dan negara-negara
di Eropa dan Asia. Penelitian yang akan dilakukan penulis memiliki kesamaan
dengan artikel ini dengan membahas doktrin dan pemikiran Paus Shenouda III.
Penelitian yang akan dilakukan penulis akan membahas tentang pemikiran Paus
Shenouda III dalam buku “Ten Concepts” sehingga akan dipaparkan lebih luas
tentang
pemikiran
tersebut.
Dalam
penelitian
ini,
penulis
juga
akan
12
mengungkapkan tentang implikasi pemikiran tersebut terhadap toleransi beragama
di Mesir.
Kedelapan, Artikel berjudul Pope Shenouda, The Arab World’s Most
Influential Cristian Leader has Passed Away yang ditulis Drs. Cornelis Hulsman,
dipublikasikan pada situs www.arabwestrepost.info pada17 Maret 2012 (diakses
pada 23 Maret 2016 pukul 07.28). Artikel ini membahas tentang biografi Paus
Shenouda III dan kehidupan Paus Shenouda III ketika masa kepemimpinan Paus
Kyrillos VI (1959-1971) yang ketika itu masih menjadi seorang Bishop Pendidikan
dan bergelar Bishop Shenouda. Selain itu, artikel ini juga menunjukan kehidupan
Paus Shenouda III dibawah kekuasaan Presiden Anwar Sadad (1971-1981) dan
sempat mengalami pengasingan karena mengkritik kebijakan pemerintah. Terakhir,
artikel ini menunjukan kehidupan Paus Shenouda III dibawah kepemimpinan
Presiden Hosni Mubarak (1981-2011) yang pada masa kekuasaannya, Paus
Shenouda III dibebaskan dari pengasingan dan sama-sama berjuang untuk
kemakmuran Mesir. Keduanya pun menjadi sahabat baik dan saling mendukung,
hingga lengsernya Hosni Mubarak pada Revolusi Mesir 2011, Paus Shenouda III
tetap memberikan dukungan kepada Hosni Mubarak sampai akhir hayat. Artikel ini
memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis tentang
kehidupan Paus Shenouda III, tetapi yang menjadi perbedaan adalah penelitian
yang akan dilakukan penulis tentang pemikiran Paus Shenouda III dalam buku “Ten
Consepts”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
13
1. Bagaimanakah pemikiran humanisme Paus Shenouda III?
2. Bagaimanakah pengaruh pemikiran humanisme Paus Shenouda III terhadap
toleransi beragama di Mesir?
C. Tujuan Penelitian
Dari latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah,
1. Mendiskripsikan pemikiran humanisme Paus Shenouda III yang berkenaan
tentang toleransi beragama.
2. Mendiskripsikan pengaruh dari pemikiran humanisme Paus Shenouda III
terhadap perwujudan toleransi beragama di Mesir.
Selain tujuan penelitian yang mengacu pada rumusan masalah, Pertama hal ini
untuk membuka wawasan tentang Timur Tengah secara lebih luas. Kedua
memberikan pengetahuan tentang agama-agama minoritas dan juga tokoh-tokoh
yang berpengaruh di Timur Tengah serta memberikan pengetahuan tentang
toleransi beragama yang ada di Timur Tengah terutama Mesir.
D. Manfaat Penelitian
Dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian diatas, maka manfaat
penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang Timur Tengah secara lebih luas,
terutama tentang minoritas dan toleransi beragama disana. Hasil dari penelitian ini
dapat membuka wawasan tentang Timur Tengah yang ternyata banyak minoritas
ditengah mayoritas pemeluk Islam sebagai mayoritas, salah satunya Kristen
14
Ortodok Koptik Mesir yang telah hidup lebih dari 2000 tahun yang lalu di Mesir.
Serta menambah pengetahuan tentang tokoh-tokoh minoritas yang cukup
berpengaruh di Timur Tengah, salah satunya Paus Shenouda III.
Manfaat lain dari penelitian ini adalah untuk lebih mengenal tentang kehidupan
di Timur Tengah yang majemuk. Serta akan menambah wawasan tentang
kehidupan Kristen Ortodok Koptik Mesir sebagai minoritas kristen terbesar di
Timur Tengah, tentang kehidupan pemimpinnya ke-117 yaitu Paus Shenouda III,
pemikiran dan pengaruhnya bagi pemeluk Kristen Koptik dan rakyat Mesir, juga
tentang toleransi beragama yang ada di Mesir.
E. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis membatasi permasalahan yang dikaji pada
kehidupan dan pemikiran Paus Shenouda III sebagai pemimpin tertinggi Gereja
Kristen Ortodok Koptik Mesir pada tahun 1971-2012. Masalah yang dikaji antara
lain tentang biografi Paus Shenouda III yang terdiri dari latar belakang pendidikan
dan proses ia mendapatkan jabatan spiritual, kemudian pemikiran humanis Paus
Shenouda III yang tertuang dalam buku ”Ten Concepts”, dan
pengaruhnya
terhadap kehidupan toleransi beragama di Mesir.
F. Landasan Teori
Penelitian ini merupakan penelitian kajian Timur Tengah yang berusaha
mengungkapkan pengaruh pemikiran dari objek kajian yaitu Paus Shenouda III
terhadap toleransi beragama di Mesir. Penelitian ini dijabarkan dengan cara
deskriptif analitik yang diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang pengaruh
15
Paus Shenouda III terhadap toleransi beragama yang ada di Mesir. Maka, sebagai
landasan penelitian digunakan dua teori, yaitu Teori Humanisme untuk
menganalisa tentang pemikiran humanisme Paus Shenouda III dan Teori Difusi
untuk menganalisa pengaruh pemikiran tersebut terhadap toleransi antar umat
beragama di Mesir.
Menurut kamus bahasa Inggris Oxford (dalam Pickels, 2014:18) kata humanism
dapat bermakna: (1) keyakinan manusia terhadap Kristus; (2) karakter atau kualitas
menjadi seorang manusia; (3) suatu sistem atas pemikiran dan tindakan berdasarkan
minat seseorang atau umat manusia secara umum; agama kemanusiaan; (4) hasrat
tentang studi kebudayaan manusia, budaya tulisan, secara sistem kaum humanis,
studi tentang bangsa Roma dan Yunani yang juga hadir di masa Renaisans.
Proses Difusi adalah tersebarnya unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru
dunia bersama dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di
muka bumi (Koentjaraningrat, 1990: 244)
Menurut pemikiran difusionisme bahwa kebudayaan itu berasal dari pangkal
yang satu dan disuatu tempat tertentu, saat manusia baru saja muncul ke dunia.
Kemudian kebudayaan induk itu menyebar dan berkembang ke banyak kebudayaan
baru karena lingkungan hidup, alam dan waktu (Sulasman & Gumilar, 2013: 155156)
G. Elliot Smith (1871-1937) dan W.J. Perry (1887-1949) berpendapat bahwa
peradaban besar yang pernah ada pada masa lampau merupakan hasil persebaran
yang berasal dari Mesir. Teori ini muncul setelah penelitian dua tokoh ini setelah
16
melakukan kajian arkeologis di Mesir. Teori dari dua tokoh ini disebut juga
Heliolithic Theory (Sulasman & Gumilar, 2013: 156).
Fritz Graebner dan Pater Wilhelm Schmidt, pendiri aliran difusi Jerman-Austria
berpendapat bahwa manusia lebih suka meminjam kebudayaan lain, karena pada
dasarnya manusia itu bukan pencipta ide baru. Mereka juga mengemukakan bahwa
unsur-unsur kebudayaan dapat menyebar secara berkelompok atau secara satu-satu
dan melalui jarak yang jauh (Ihromi, 2006: 58)
Franz Boas (1858-1942) juga berpendapat bahwa, unsur-unsur persamaan yang
dimiliki oleh sebuah kebudayaan sangat diperhatikan secara cermat untuk
kemudian dimasukkan dalam kategori kulturkreis atau daerah atau lingkungan dan
kulturschuichten atau lapisan kebudayaan. Dengan cara ini, maka akan diketahui
unsur-unsur kebudayaan yang ada dalam beragam kebudayaan dunia (Sulasman &
Gumilar, 2013: 157).
Clark Wissler (1870-1947) menyatakan bahwa, ada konsep yang disebut culture
area yang merupakan pembagian dari kebudayaan Indian di Amerika ke dalam
daerah-daerah yang merupakan kesatuan mengenai corak kebudayaan di dalamnya
(Sulasman & Gumilar, 2013: 158).
Kaplan & Manners (dalam Sulasman & Gumilar, 2013:159-160) mengatakan,
bahwa dua kebudayaan dalam lingkungan yang sama, salah satunya mampu
melebarkan sayap dengan merugikan budaya lain. Hal ini berarti, budaya pertama
dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkunganya dibandingkan dengan budaya
yang digusurnya.
17
Menurut Maurice Merleau-Ponty, bahwa pada tingkat individu, pembentukan
identitas seseorang selalu dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya tempat ia
berlokasi, melalui proses adaptasi dan pembelajaran, baik secara alamiah maupun
yang berkonstruksi. Selain itu, seseorang harus membangun eksistensinya sebagai
seorang individu atau sebagai bagian dari suatu komunitas yang lebih besar, seperti
sosial, etnik, dan budaya. Keberadaan seseorang di tengah komunitasnya dibangun
salah satunya melalui proses perbandingan seseorang dengan orang lain (atau
sejumlah orang) dan memunculkan perbedaan yang unik satu sama lain (Sulasman
& Gumilar, 2013: 160)
Dari berbagai teori difusi menurut beberapa tokoh diatas, penelitian ini akan
menggunakan teori difusi menurut Maurice Merleau-Ponty, yang menjelaskan
tentang peran individu dan eksistensinya terhadap suatu kelompok seperti dalam
bidang sosial, etnik, dan budaya, serta peran seorang individu dalam memunculkan
perbedaan unik antara satu dengan yang lain. Teori ini sesuai dengan peran Paus
Shenouda III sebagai pemimpin tertinggi dari Gereja Kristen Ortodok Koptik
sekaligus tokoh perdamaian dan “bapak toleransi Mesir” yang berperan dalam
kerukunan beragama di Mesir.
G. Sumber Data
Objek kajian yang difokuskan dalam penelitian ini adalah tentang pemikiran
humanisme Paus Shenouda III sebagai pemimpin tertinggi dari Gereja Kristen
Ortodok Koptik Mesir yang terdapat pada buku “Ten Concepts” serta pengaruhnya
terhadap toleransi beragama di Mesir. Sumber data yang digunakan dalam
penelitian ini ada dua, yaitu sumber data primer dan sekunder.
18
1. Sumber Data Primer
Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah referensi yang berkaitan
dengan objek penelitian, yaitu pemikiran Paus Shenouda III selama menjadi
pemimpin tertinggi Gereja Kristen Ortodok Koptik Mesir ke-117 tahun 1971 – 2012
yang dituangkan dalam buku “Ten Concepts” (1994).
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder diambil dari beberapa buku yang mendukung dan dari
beberapa situs resmi Kristen Ortodok Koptik, juga portal berita online.
H. Metode Penelitian
Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, penelitian yang
bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek
penelitian, misalnya perilaku, presepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya,
secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada
suatu konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah
(Moleong, 2007:6). Metode kualitatif adalah penelitian melalui pengamatan, atau
penelaahan dokumen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena data
yang digunakan berupa kepustakaan yang diperoleh melalui buku referensi dan
bukan data yang berbentuk angka.
Penelitian ini adalah penelitian bersifat deskriptif yaitu, penelitian yang
berusaha mendeskripsikan suatu fenomena/peristiwa secara sistematis sesuai
dengan apa adanya untuk memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini
(Dantes, 2012:51). Namun dalam penelitian ini lebih kepada penelitian yang
19
menggunakan metode penelitian deskriptif analitik yang merupakan metode dengan
cara menguraikan sekaligus mengalanisis (Ratna, 2010:335). Penelitian ini
menggunakan analisis fungsional, bahwa data yang dikumpulkan atau yang
diperoleh berisi analisis data yang bersifat menjelaskan, menuturkan, memaparkan,
menguraikan dan menganalisa pemikiran Paus Shenouda III terhadap toleransi
beragama di Mesir. Penelitian ini juga menggunakan teknik analisis psikologis
untuk mendeskripsikan tentang pemikiran tokoh yang menjadi objek penelitian
yaitu Paus Shenouda III. Penelitian juga menggunakan teknik analisis sosiologis
untuk mendiskripsikan sosiologi masyarakat objek penelitian yaitu masyarakat
Mesir.
Terdapat beberapa tahapan dalam penelitian ini, yaitu: Tahap pertama,
pemilihan topik. Topik pada penelitian ini adalah pemikiran tokoh Kristen Koptik
dan pengaruhnya terhadap toleransi beragama di Mesir.
Tahap kedua, teknik pengumpulan data dan sumber data yang berhubungan
dengan objek kajian. Teknik pengumpilan data pada penelitian ini menggunakan
teknik penelitian pustaka (library research). Pengumpulan data dengan teknik
pustaka, yaitu mengumpulkan data yang berkaitan dengan objek penelitian melalui
buku, jurnal, internet yang mendukung penelitian ini, selain itu studi pustaka
dilakukan ke berbagai perpustakaan untuk mendukung penelitian ini, antara lain:

Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Perpustakaan Universitas Gajah Mada Yogyakarta

Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
20

Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta

Perpustakaan Ignatius Yogyakarta

Perpustakaan Ganesha Surakarta
Tahap ketiga, teknik analisis data. Data yang telah diperoleh kemudian
dianalisis. Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka peneliti membagi analisa
awal terdiri dari pemikiran Paus Shenouda III, kemudian analisa tentang pengaruh
pemikiran Paus Shenouda III terhadap toleransi beragama di Mesir. Dari analisa
tersebut maka akan dapat diambil kesimpulan.
Tahap keempat, mendeskripsikan hasil dari analisa ke dalam bentuk laporan
tertulis maupun gambar yang kemudian ditambahkan kesimpulan dari hasil
penelitian dan saran yang berguna bagi peneliti lain yang akan melanjutkan
penelitian tersebut.
I. Sistematika Penulisan
Hasil penelitian ini disajikan dalam tiga bab yang terdiri dari beberapa sub-bab,
dengan rincian sebagai berikut:
Bab I adalah gambaran formal penelitian yang terdiri dari pendahuluan yang
berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian, pembatasan masalah, tinjauan pustaka, landasan teori, sumber data,
metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II merupakan konsep material penelitian berisi pembahasan, yang terdiri
dari deskripsi tentang biografi Paus Shenouda III, deskripsi pemikiran humanis
Paus Shenouda III dalam kepemimpinannya di Gereja Kristen Ortodok Koptik
21
Mesir, dan disajikan pula pengaruh pemikiran Paus Shenouda III terhadap toleransi
beragama yang ada di Mesir dalam hubungan sosial, politik dan keberagamaan.
Semua disajikan dalam bentuk deskripsi dan analisa.
Bab III adalah penutup yang berisi kesimpulan yang merupakan ringkasan
jawaban dari rumusan masalah dan saran untuk peneliti lain yang akan melakukan
penelitian lanjutan pada objek yang sama. Terakhir terdapat daftar pustaka dan
lampiran.
Download