perang, hukum humaniter, dan perkembangan internasional

advertisement
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
PERANG, HUKUM HUMANITER,
DAN PERKEMBANGAN INTERNASIONAL
Oleh : Listyo Budi Santoso, SH
Abstrak :
Dewasa ini perkembangan teknologi dan peradaban manusia semakin maju pada
setiap tahunnya. Hal tersebut memicu berkembangnya peralatan dan teknik-teknik
berperang yang baru. Sejalan dengan hal tersebut, norma-norma yang akan
melandasi hukum perang atau lebih sering dikenal sebagai International
Humanitarian Law (Hukum Humaniter Internasional) dituntut untuk berkembang
pula. Tujuan utama hukum hunaniter adalah memberikan perlindungan dan
pertolongan kepada yang menderita/ menjadi korban perang, baik mereka secara
nyata/ aktif turut serta dalam permusuhan (koombat), maupun mereka yang tidak
turut serta dalam permusuhan. Yang perlu lebih ditekankan adalah perlindungan
terhadap penduduk sipil saat berlangsungnya konflik bersenjata. Penekanan
pada masalah tersebut timbul atas banyaknya pelangaran hak-hak sipil dalam
konflik bersenjata Sipil digunakan sebagai tameng dalam banyak hal, seperti
penempatan sipil dalam military object maupun sebagai alat untuk mencapai
kepentingan militer dari masing-masing pihak.
Kata Kunci : Perang, Masyarakat Sipil, Hukum Humaniter
A. Pendahuluan
Kejahatan perang dan
pelanggaran berat hak asasi
manusia (yaitu kejahatan terhadap
kemanusiaan
dan
genosida)
merupakan
sebagian
dari
kejahatan internasional yang
berada dalam lingkup hukum
pidana internasional. Masih ada
banyak kejahatan internasional
lainnya yang dapat dikatakan
sebagai bagian dari isi hukum
pidana internasional. Sekalipun
bersifat internasional, dalam
kenyataannya hukum pidana
14
internasional
tidak
dapat
dilepaskan sama sekali dari
hukum pidana nasional. Dalam
hal ini Bassiouni, seorang pakar
ternama
hukum
pidana
internasional, mengatakan bahwa
hukum
pidana
internasional
adalah aspek-aspek hukum pidana
dari hukum internasional dan
aspek-aspek hukum internasional
dari hukum pidana nasional “...
criminal
law
aspects
of
international
law
and
international aspects of national
criminal law...”.
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
Beberapa
kejahatan
lainnya
(selain
genosida,
kejahatan terhadap kemanusiaan
dan kejahatan perang) yang
dikategorikan sebagai kejahatan
internasional dan masuk dalam
diplomatik, hukum laut, hukum
perjanjian
internasional
dan
hukum angkasa.
Dibandingkan
dengan
cabang
hukum
internasional
publik lainnya, hukum humaniter
ruang lingkup hukum pidana
internasional
antara
lain:
perbudakan, pembajakan laut dan
udara, terorisme, dan kejahatan
narkoba.
Untuk
kejahatankejahatan internasional tersebut
umumnya berlaku yurisdiksi
universal di mana setiap negara
mempunyai suatu keunikan yaitu
bahwa
sekalipun
ketentuanketentuan yang mengaturnya
dibuat melalui suatu perjanjian
multilateral atau melalui hukum
kebiasaan internasional, namun
substansinya banyak mengatur
hal-hal
yang
menyangkut
boleh melakukan tindakan hukum
atau mengadili pelaku dari
kejahatan-kejahatan
dimaksud
sekalipun misalnya kejahatan
tersebut dilakukan oleh bukan
warga negaranya serta tidak
menimbulkan kerugian langsung
terhadap negaranya.
Hukum
humaniter
internasional
atau
hukum
humaniter adalah nama lain dari
apa yang dulu disebut dengan
individu, atau dengan kata lainnya
subjek
hukumnya
juga
menyangkut individu. Hal ini
cukup
unik,
karena
pada
umumnya
subjek
hukum
internasional publik adalah negara
atau organisasi internasional.
Hukum
humaniter
banyak
mengatur tentang perlindungan
bagi orang-orang yang terlibat
atau tidak terlibat dalam suatu
peperangan.
Dalam
hukum
hukum perang atau hukum
sengketa
bersenjata. Hukum
humaniter merupakan salah satu
cabang dari hukum internasional
publik,500 yaitu bidang hukum
yang mengatur masalah-masalah
lintas batas antar negara. Cabang
hukum
internasional
publik
lainnya antara lain hukum
humaniter dikenal dua bentuk
perang atau sengketa bersenjata,
yaitu sengketa bersenjata yang
bersifat internasional dan yang
bersifat noninternasional. Pada
perkembangannya,
pengertian
sengketa bersenjata internasional
diperluas dalam Protokol I tahun
1977 yang juga memasukkan
15
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
perlawanan terhadap dominasi
kolonial, perjuangan melawan
pendudukan asing dan perlawanan
terhadap rezim rasialis sebagai
bentuk-bentuk lain dari sengketa
bersenjata internasional. Hukum
humaniter juga mengatur sengketa
bersenjata
yang
bersifat
noninternasional, yaitu sengketa
bersenjata yang terjadi didalam
suatu wilayah negara. Dalam
situasi-situasi tertentu, sengketa
bersenjata yang tadinya bersifat
internal (noninternasional) bisa
berubah sifat menjadi sengketa
bersenjata
yang
bersifat
internasional. Hal yang terakhir
ini
disebut
dengan
internasionalisasi konflik internal
(internationalized
internal
conflict). Namun demikian tidak
semua
sengketa
bersenjata
internal bisa menjadi bersifat
internasional apabila ada campur
tangan
dari
negara
lain.
Berkenaan
dengan
berbagai
perkembangan
hal-hal
sebagaimana
tersebut
diatas
bagaimanakah
perkembangan
pengaturan hukum humaniter dan
juga pengaturan mengenai hukum
perang
serta
berbagai
perkembangannya ?
B. Prinsip-Prinsip Dasar Hukum
Humaniter
16
Peradilan militer harus
didasarkan pada perkembanganperkembangan
baru
dalam
perkembangan hukum humaniter
termasuk dalam hal penggunaan
kekuatan senjata,perubahan sifat
dan bentuk perang, bentuk
ancaman,
perkembangan
teknologi, dan sistem komando,
kendali,
komunikasi,
dan
intelijen (command, control,
communication, and intelligent,
C3I).
Salah satu prinsip penting
dalam hukum humaniter adalah
prinsip pembedaan (distinction
principle). Prinsip pembedaan
ini
adalah
prinsip
yang
membedakan antara kelompok
yang dapat ikut serta secara
langsung dalam pertempuran
(kombatan) disatu pihak, dan
kelompok yang tidak ikut serta
dan harus dilindungi dalam
pertempuran (penduduk sipil).
Di
samping
prinsip
pembedaan,
dalam
hukum
humaniter dikenal pula prinsipprinsip lain, yaitu:
1. Prinsip kepentingan militer
(military
necessity).
Berdasarkan prinsip ini
pihak yang bersengketa
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
dibenarkan menggunakan
kekerasan
untuk
menundukkan lawan demi
tercapainya tujuan dan
keberhasilan perang.
Dalam prakteknya, untuk
menerapkan
asas
kepentingan militer dalam
rangka
penggunaan
kekerasan terhadap pihak
lawan, suatu serangan harus
memperhatikan
prinsipprinsip berikut:
a. Prinsip proporsionalitas
(proportionality
principle), yaitu: “prinsip
yang diterapkan untuk
membatasi
kerusakan
yang disebabkan oleh
operasi militer dengan
mensyaratkan
bahwa
akibat dari sarana dan
metoda berperang yang
digunakan tidak boleh
tidak proporsional (harus
proporsional)
dengan
keuntungan militer yang
diharapkan.”
b. Prinsip
pembatasan
(limitation
principle),
yaitu
prinsip
yang
membatasi penggunaan
alat-alat dan cara-cara
2.
3.
4.
berperang yang dapat
menimbulkan
akibat
yang luar biasa kepada
pihak musuh.
Prinsip
Perikemanusiaan
(humanity).
Berdasarkan
prinsip ini maka pihak yang
bersengketa
diharuskan
untuk
memperhatikan
perikemanusiaan, di mana
mereka
dilarang untuk
menggunakan
kekerasan
yang dapat menimbulkan
luka yang berlebihan atau
penderitaan yang tidak
perlu. Oleh karena itu
prinsip ini sering juga
disebut
dengan
“unnecessary
suffering
principle”.
Prinsip
Kesatriaan
(chivalry).
Prinsip
ini
mengandung arti bahwa di
dalam perang, kejujuran
harus
diutamakan.
Penggunaan alat-alat yang
tidak terhormat, perbuatan
curang dan cara-cara yang
bersifat khianat dilarang.
Prinsip
pembedaan.
Berdasarkan prinsip ini pada
waktu terjadi perang/konflik
bersenjata harus dilakukan
17
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
pembedaan antara penduduk
sipil (“civilian”) di satu
pihak dengan “combatant”
serta antara objek sipil di
satu pihak dengan objek
militer di lain pihak.
Berdasarkan prinsip ini
hanya kombatan dan objek
militer yang boleh terlibat
dalam perang dan dijadikan
sasaran. Banyak ahli yang
berpendapat bahwa prinsip
pembedaan ini adalah yang
paling
penting
dalam
prinsip-prinsip
hukum
humaniter. Oleh karena itu
pada bagian ini akan
diuraikan sedikit lebih rincil
tentang prinsip pembedaan
yang dimaksud.
Prinsip
utama
dalam
penggunaan
senjata
sebagaimana
diatur
dalam
hukum humaniter adalah bahwa
selama
perang
nilai-nilai
kemanusiaan harus dihormati.
Tujuannya bukan untuk menolak
hak negara untuk melakukan
perang
atau
menggunakan
kekuatan
senjata
untuk
mempertahankan diri (selfdefence),
18
melainkan
untuk
membatasi penggunaan senjata
oleh suatu negara dalam
menggunakan hak berperang
tersebut
untuk
mencegah
penderitaan dan kerusakan yang
berlebihan dan yang tidak sesuai
dengan tujuan militer. Dengan
demikian hukum humaniter
ditujukan untuk “melindungi
beberapa kategori dari orangorang yang tidak atau tidak lagi
turut serta dalam pertempuran
serta untuk membatasi alat dan
cara berperang”.1 Berdasarkan
tujuan ini, hukum humaniter
mengatur dua hal pokok yaitu:
1). memberikan alasan bahwa
suatu perang dapat dijustifikasi
yaitu bahwa perang adalah
pilihan terakhir (the last resort),
sebab atau alasan yang benar
(just cause), didasarkan atas
mandat
politik
(keputusan
politik, political
authority)
yang demokratis, dan untuk
tujuan yang benar (right
intention);
2).
Membatasi
penggunaan kekuatan bersenjata
dalam peperangan atas dasar
prinsip proporsionalitas dan
diskriminasi
(proportionality
dan discrimination). Dua hal
pokok ini yang kemudian
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
menjadi
dasar
prinsip
pertanggungjawaban komando
(command responsibility) yaitu
bahwa bahwa seorang komandan
mempunyai tanggung jawab
untuk
menegakkan
hukum
konflik bersenjata atau hukum
perang atas dasar dua hal pokok
tersebut di atas.
Dua prinsip penggunaan
senjata ini harus menjadi bagian
terpenting
dalam
hukum
peradilan militer yaitu larangan
penggunaan
senjata
yang
menyebabkan kerusakan atau
penderitaan yang tidak ada
kaitan dengan tujuan-tujuan
perang dan membedakan sasaran
militer (combatants) dan sipil
(non-combatants).
1. Prinsip proporsionalitas
Prinsip
proporsionalitas
ditujukan agar perang atau
penggunaan senjata tidak
menimbulkan
korban,
kerusakan dan penderitaan
yang berlebihan yang tidak
berkaitan dengan tujuantujuan
militer
(the
unnecessary
suffering
principles).
Prinsip
ini
tercantum dalam Pasal 35 (2)
Protokol Tambahan I: “It is
prohibited
to
employ
weapons, projectiles and
material and methods of
warfare of a nature to cause
superfluous
injury
or
unnecessary suffering”. Jadi
yang menjadi inti masalah
adalah apakah langkah atau
serangan militer dengan
menggunakan senjata tertentu
proporsional terhadap tujuantujuan untuk memperoleh
keunggulan
militer.
Ketentuan ini masih bisa
ditafsirkan secara terbuka;
ada yang mengatakan bahwa
ketentuan ini tidak melarang
penggunaan senjata yang
menyebabkan
penderitaan
luar biasa atau meluas,
melainkan hanya penderitaan
atau kerusakan yang tidak
perlu.
Hal
ini
tentu
menimbulkan perdebatan dari
sudut pandang atau aspek
kemanusiaan yaitu apakah
penderitaan itu mencakup
aspek fisik atau psikologis
dan apakah juga mencakup
pengaruh dari penderitaan
dan
kerusakan
tersebut
terhadap masyarakat. Prinsip
‘unnecessary suffering’ juga
19
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
harus
dilihat
dengan
membandingkan senjata yang
dipakai yaitu bahwa ‘it is
unlawful to use a weapon which
causes more suffering or
injury than another which
offers the same or similar
military advantages’.
Tetapi ada faktor lain yang
harus
diperhatikan
oleh
prinsip di atas yaitu masalah
ketersediaan senjata dan
logistik yang akan dipakai.
Juga
harus
diperhatikan
bahwa semakin ke bawah
rantai komando, semakin
kecil atau terbatas pilihanpilihan penggunaan senjata.
Komandan atau mereka yang
berada di jajaran atas rantai
komando yang bertanggung
jawab dalam merencanakan
dan memutuskan operasi
militer mempunyai opsi-opsi
yang lebih luas dalam
menggunakan
senjata
dibanding
prajurit
di
lapangan. Masalah ini harus
menjadi perhatian dalam
peradilan militer, terutama
ketika seorang prajurit di
lapangan
menghadapi
tuntutan di pangadilan atas
tuduhan penggunaan senjata
20
ilegal dalam suatu operasi
militer.
Masalah lain yang harus
diperhatikan dalam memberi
makna prinsip unnecessary
adalah
apakah
suffering
senjata itu sendiri ataukah
penggunaannya pada situasi
tertentu atau khusus yang
membuat senjata tersebut
dilarang. Kompleksitas lain
adalah pada akhirnya sulit
membuat penilaian tentang
perimbangan
atau
perbandingan antara tujuan
keuntungan-keuntungan
militer dan akibat yang
ditimbulkan dari penggunaan
suatu
senjata;
serta
membandingkan hasil analisa
di atas dengan kemungkinankemungkinan lain yang akan
muncul dari penggunaan
senjata alternatif.
2. Prinsip diskriminasi
Prinsip
diskriminasi
mengandung 3 komponen: a).
larangan tentang serangan
terhadap penduduk sipil dan
obyek-obyek sipil yang lain;
b). bahkan jika target
serangan adalah sasaran
militer, serangan terhadap
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
obyek tersebut tetap dilarang
jika “May be expected to
cause incidental loss of
civilian life, injury to
civilians, damage to civilian
objects or a combination
thereof, which would be
excessive in relation to the
concrete and direct military
advantage anticipated”; c).
jika terdapat pilihan dalam
melakukan
serangan,
minimalisasi korban dan
kerusakan atas obyek-obyek
sipil harus menjadi prioritas.
Selain itu semua senjata yang
ketika digunakan tidak bisa
membedakan sasaran militer
dan sipil harus dilarang.
Senjata-senjata yang tingkat
akurasinya rendah adalah
contoh dari situasi di atas.
Misalnya penggunaan Scud
dalam Perang Teluk 1991.
Prinsip
diskriminasi
mengandung dua elemen:
absolut dan relatif. Semua
obyek sipil
HARUS tidak
pernah dijadikan sebagai
target serangan. Elemen
relatif
adalah
dengan
membandingkan
antara
prinsip diskriminasi dan
proporsionalitas.
Prinsip
proporsionalitas penggunaan
senjata
harus
selalu
memperhatikan
keseimbangan
antara
keuntungan-keuntungan
militer dengan jumlah korban
sipil yang ditimbulkan. Tetapi
jika
keuntungan
militer
tersebut bisa dicapai dengan
menggunakan senjata tertentu
yang bisa meminimalisir
korban sipil dibandingkan
dengan senjata yang lain,
maka hal ini harus dilakukan.
Oleh karena itu perlu dilakukan
analisis mendalam baik pada
tingkat persiapan, pelaksanaan,
atau bahkan penilaian untuk
melihat apakah dalam situasi
tertentu seorang komandan
mempunyai beberapa opsi yang
memungkinkannya
untuk
memilih penggunaan senjata
dengan korban sipil yang
minimal.
3. Beberapa prinsip lain
yang perlu diperhatikan adalah:
harus memperhatikan masalah
lingkungan
hidup
(environment). Pasal 35 (3)
Protokol Tambahan I: “It is
prohibited to employ methods
or means of warfare which are
intended, or may be expected to
21
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
causewidespread, long term
and severe damage to the
natural environment”. Semula
ketentuan ini tidak dianggap
sebagai
hukum
kebiasaan
internasional tentang perang.
Tetapi perkembangan baru
menunjukkan bahwa prinsip di
atas menjadi makin kuat
posisinya
dalam
hukum
kebiasaan
internasional.
Akibatnya, pilihan yang tersedia
bagi seorang komandan dalam
melakukan operasi militer atau
serangan
militer
harus
mencakup analysis tentang
kerusakan lingkungan yang
mungkin
diakibatkan
oleh
serangan
tersebut.
Aspek
lingkungan hidup juga menjadi
faktor penting dalam melihat
masalah proporsionalitas dalam
penggunaan senjata. Hal lain
adalah larangan penggunaan
senjata yang mempunyai
akibat berlebihan pada negara
netral.
Perkembangan
baru
menunjukkan bahwa dalam
masalah-masalah internasional
yang
makin
kompleks,
penggunaan senjata tertentu atau
cara berperang tetap dianggap
ilegal atau bertentangan dengan
prinsip-prinsip
kemanusiaan
atau paling tidak menjadi
22
perdebatan, meskipun hal itu
belum atau tidak diatur dalam
ketentuan
hukum
internasional yang sudah ada
tentang penggunaan senjata.
Hal ini didasarkan atas
argumen bahwa:
“In
any armed conflict, the right
of the Parties to the conflict
to choose methods or means
of warfare is not unlimited”.2
(Dalam
setiap
sengketa
bersenjata, hak para pihak
yang terlibat dalam sengketa
untuk memilih cara dan alat
berperang adalah tidak tak
terbatas).
Dalam kaitan ini muncul
beberapa jenis persenjataan
yang menjadi isu sentral
dalam hukum perang dan
aturan tentang penggunaan
senjata: Senjata laser, ranjau
darat, senjata kimia, senjata
nuklir. Tulisan ini tidak akan
mengupas
secara
rinci
masalah di atas. Cukup
dikemukakan bahwa batasanbatasan penggunaan senjatasenjata tertentu di atas
didasarkan
pada
prinsip
bahwa pilihan para pihak
yang terlibat konflik untuk
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
menggunakan senjata adalah
terbatas karena harus ada
pembedaan antara sasaran
militer dan sasaran sipil dan
harus proporsional untuk
menghindari
‘unnecessary
suffering’.
C. Pertanggungjawaban
komando
(command
responsibility). Dalam Hukum
Humaniter
Semua
ketentuanketentuan di atas menjadi dasar
pemberlakukan
prinsip
pertanggungjawaban komando
(command
responsibility).
Beberapa hukum humaniter
internasional
tentang
pertanggung jawaban komando
tersebut antara lain:
a.
Pasal 1 The Hague
Regulations:
The laws, rights, and duties
of wars apply not only to
armies, but also to militia and
volunteer corps fulfilling the
following conditions: 1. to be
commanded by a person
responsible
for
his
subordinates; 2. to have a fixed
distinctive emblem recognizable
at a distance; 3. to carry arms
openly; and 4. to conduct their
operations in accordance with
the laws and customs of war.
b. Pasal 86 Protokol Tambahan
pada Konvensi Jenewa 1977
tentang Failure to
Act:
(1). The High Coontracting
Parties and the Parties to
the conflicts shall repress
grave breaches, and take
measures necessary to
suppress
all
other
breaches,
of
the
Conventions
or
this
Protocol which result from
a failure to act when under
a duty to do so.
(2). The fact that a breach of the
Conventions or of this
Protocol was committed by
a subordinate does not
absolve his superiors from
penal
or
disciplinary
responsibility, as the case
may be, if they knew, or
had information which
should have enabled them
to
conclude
in
the
circumstances at the time,
that he was committing or
was going to commit such a
breach and if they have not
taken all feasible measures
power to
prevent or repress the
breach.
within
Menurut
their
pasal
ini
seorang
23
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
komandan harus bertanggung
jawab terhadap pelanggaran atau
tindakan kejahatan dalam konflik
bersenjata justru karena ia
TIDAK melakukan tindakan
untuk mencegah terjadinya
kejahatan tersebut.
c. Pasal 87 Protokol Tambahan
pada Konvensi Jenewa 1977
tentang
Duty
of
Commanders:
(1). The High Contracting
Parties and the Parties to
the conflict shall require
military commanders, with
respect to members of the
armed forces under their
command
and
other
persons under their control,
to prevent and where
necessary to,to suppress
and report to competent
authorities breaches of the
Conventions
and
this
Protocol;
(2) In order to prevent and
suppress the breaches,
High Contracting Parties
and Parties to the conflict
shall
require
that,
commensurate with their
level of responsibility,
commanders ensure that
members of their armed
forces
under
their
24
command are aware of
their obligations under
the Conventions and this
Protocol;
(3). The High Contracting
Parties and Parties to the
conflict shall require any
commander who is aware
that subordinates or other
persons under his control
are going to commit or
have committed a breach of
the Conventions or of this
Protocol, to initiate such
steps as are necessary to
prevent such violations of
the Conventions or of this
Protocol,
and
where
appropriate, to initiate
disciplinary or penal action
against violator thereof.
d. Pasal 28 Statuta Roma Tahun
1998:
A military commander or
person effectively acting as a
military commander shall be
criminally responsible for crimes
within the jurisdiction of the court
committed by forces under his or
her effective command and
control, or effective authority and
control as the case may be, as a
result of his or her
failure
to exercise control properly over
such forces, where:
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
(a).
That military commander
or person either knew or,
owing to the circumstances
at the time, should have
known that forces were
committing or about to
adanya tindakan kejahatan
dilakukan
bawahan.
yang
3.
commit such crimes and
(b).
That military commander
or person failed to take all
necessary and reasonable
measures within his or her
power to prevent or repress
their commission or to
submit the matter to the
competent authorities for
investigation
of
prosecution.
Ketentuan-ketentuan hukum
humaniter yang mengatur tentang
pertanggungjawaban komando di
atas mengandung 3 aspek penting
yang
harus
dipenuhi
untuk
menentukan seorang perwira atau
komandan harus bertanggung jawab
atas
tindakan
kejahatan
ada
hubungan
atasanbawahan
dalam
kasus
terjadinya tindakan kejahatan
yang telah dilakukan. Ini
ditunjukkan dengan buktibukti yang jelas, saksi,
dokumen, dsb.
2.
atasan
diduga
mengetahui
atau
patut mengetahui
komandan atau atasan gagal
untuk
mencegah
atau
menindak
(menghukum)
pelaku kejahatan tersebut
atau menyerahkan pelakunya
kepada
pihak
yang
berwenang.
Untuk menentukan seorang
komandan bersalah atas tindakan
kejahatan perang dan kejahatan
kemanusiaan perlu dibuktikan
bahwa:
1. prajurit pelaku kejahatan
berada di bawah komando
atau
kontrol
atasan
tertuduh.
2.
atasan tertuduh mengetahui
secara aktual (actual notice),
yaitu
mengetahui
atau
diberitahu tentang terjadinya
tindak kejahatan perang dan
kemanusiaan
pada
saat
tindak kejahatan tersebut
berlangsung.
bawahannya:
1.
oleh
3.
atasan tertuduh mengetahui
secara
konstruktif
(constructive notice) yaitu
telah
terjadi
tindak
pelanggaran dalam skala
besar sehingga tertuduh atau
pasti sampai
pada kesimpulan bahwa ia
seseorang
25
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
4.
mengetahui
tindak
kejahatan tersebut
atasan
tertuduh
mengetahui ada tindak
kejahatan
tetapi
menunjukkan sikap yang
secara sengaja tidak acuh
terhadap konsekuensi dari
sikap membiarkan tersebut
(imputed notice).
5. atasan tertuduh gagal
mengambil
langkahlangkah yang perlu dalam
kewenangannya
untuk
mencegah
atau
menghukum
tindak
kejahatan
ketika
ia
mempunyai
wewenang
dan
kekuasaan
untuk
melakukan hal tersebut.
Apa yang terjadi pada
Milosevic, Jenderal Yamashita,
Perdana Menteri Tojo, Menteri
Luar Negeri Hirota, dan Perdana
Menteri Kambanda dari Rwanda
merupakan contoh yang sangat
menarik
mengenai
prinsip
tanggung
jawab
komando.
Milosevic memenuhi semua
kriteria/ketentuan di atas untuk
dinyatakan bertanggung jawab
atas kejahatan perang, kejahatan
kemanusiaan, dan genocide
dalam konflik di Yugoslavia dan
26
Kosovo.
Tojo,
Yamashita,
Hirota, dan Kambanda tidak
mempunyai interaksi langsung
dengan para prajurit yang
melakukan tindak kejahatan di
lapangan. Tetapi mereka harus
bertanggung
jawab
karena
kegagalan
mereka
untuk
mencegah tindakan brutal para
prajurit mereka padahal para
pemimpin tersebut mempunyai
kekuasaan dan kewenangan
untuk itu. Selain itu, terungkap
bukti yang kuat bahwa mereka
telah
menerima
informasi
tentang
tindakan
kejahatan
sehingga
bisa
disimpulkan
bahwa mereka mengetahui ada
tindak kejahatan.
Perlu ditergaskan di sini
bahwa tidak satu pun dari Tojo,
Yamashita,
Hirota,
dan
Kambanda dinyatakan bersalah
karena kejahatan yang dilakukan
prajurit langsung di bawah
kekuasaannya atau komandonya.
Mereka dinyatakan bersalah
semata-mata karena meraka
dianggap mengetahui atau patut
tahu tindak kejahatan tetapi
gagal
menghentikannya.
Seandainya mereka berusaha
mencegah tindak kejahatan yang
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
dilakukan para prajurit di
lapangan, tentu mereka akan
dinyatakan tidak bersalah.
Kejadian ini memberikan
alasan mengapa penting bahwa
seorang kepala pemerintahan
atau siapa saja yang terlibat
dalam pembuatan keputusan
perlu
mengembangkan
mekanisme
pelaporan
dan
pengawasan
yang
memungkinkan
pengambilan
langkah-langkah
yang
diperlukan secara efektif. Dan
bagi para pemimpin militer,
mereka
perlu
mengembangkangkan
sistem
pengawasan dan pelaporan yang
bisa berfungsi pada tingkat
paling
bawah,
melalui
pembentukan investigasi militer
yang independen. Dalam kaitan
ini, baik kepala pemerintahan
atau negara dan pemimpin
militer
akan
dilihat
dari
kemampuan
mereka
mengembangkan
sistem
pelaporan dan pengawasan serta
kebijakan sehingga seorang
perwira
atau
komandan
mengetahui dan sadar tentang
adanya tindak kriminal yang
dilakukan oleh prajurit di
lapangan
dan
mempunyai
mekanisme untuk mencegah dan
menghukum tindak kejahatan
tersebut.
D. Jenis Tindak Kejahatan dalam
Pertanggungjawaban
Komando
Jenis-jenis
pelanggaran
terhadap Konvensi Jenewa 12
Agustus 1949:
1. Pembunuhan
yang
disengaja;
2. Penganiayaan atau tindakan
yang merendahkan martabat
manusia,
termasuk
percobaan-percobaan
biologi, dengan sengaja
mengkibatkan penderitaan
hebat;
3. Pemilikan dan perusakan
harta benda secara meluas
yang tidak dapat dibenarkan
berdasarkan
kepentingan
militer dan dilakukan secara
tidak sah dan dengan semena-
mena;
4. Memaksa tawanan perang
untuk
mengabdi
pada
Penguasa Perang;
5. Dengan sengaja menghilangkan
hak-hak tawanan perang atas
peradilan
teratur
yang
dan
sebagaimana
27
jujur
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
ditegaskan dalam Konvensi
Jenewa III;
6.
Memindahkan
atau
menstransfer
penduduk
dengan paksa;
7.
Menjatuhkan
hukum
kurungan;
8. Melakukan penyanderaan.
Jenis pelanggaran berat menurut
Protocol I, 1977:
1. Menjadikan penduduk sipil
atau orang sipil sebagai
sasaran;
Juga:
1. Pemindahan penduduk sipil
yang di wilayahnya sendiri ke
wilayah yang diduduki atau
dari wilayah yang diduduki
ke dalam atau ke luar
wilayahnya;
2. Penundaan pemulangan para
tawanan perang atau tawanan
sipil
yang
tidak
dapat
dibenarkan;
3. Praktek apartheid
diskriminatif;
4.
2. Serangan membabi buta yang
menimbulkan kerugian yang
obyek sipil;
3.
Menjadikan daerah-daerah
yang tidak dipertahankan atau
demiliterised
zone
5. Menyalahgunakan lambanglambang perlindungan seperti
lambang
Palang
Merah
Internasional dan lambanglambang lainnya yang diakui
oleh
Konvensi-konvensi
Jenewa dan protokolnya.
28
kesenian
5. Menghilangkan hak-hak atas
peradilan yang jujur dan
teratur bagi orang-orang yang
sebagai
sasaran serangan;
4. Menjadikan seseorang yang
tak berdaya sebagai sasaran
serangan;
Menyerang
monumenmonumen sejarah yang jelasjelas diakui dan bangunan-
bangunan pusat
dan keagamaan;
besar pada sipil atau obyek-
dan
dilindungi
berdasarkan
konvensi atau pasal 85 ayat
2 Protokol ini.
Kejahatan menurut
Roma 1998:
1.
Statuta
Kejahatan perang (War
pemerkosaan,
Crimes):
perbudakan sex, pemaksaan
prostitusi,
pemaksaan
kehamilan dan bentukbentuk
kekerasan
seks
lainnya.
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
2. Genosida (Genocide): tindakan
yang
dilakukan
untuk
memusnahkan sebagian atau
seluruhnya suatu bangsa,
etnis, ras, dan agama
3.
Kejahatan
terhadap
kemanusiaan (Crimes against
humanity): serangan secara
langsung
dan
meluas
terhadap penduduk sipil;
4. Agresi (aggression).
Dari jenis-jenis kejahatan yang
mempunyai
konsekuensi
pertanggungjawaban komando di
atas sangat jelas bahwa ada dua
hal penting yang ditekankan yaitu
pembedaan antara sasaran sipil
dan militer yang kemudian
dirinci ke dalam perlindungan
pada orang yang tidak ikut
bertempur atau tidak berdaya lagi
(termasuk di dalamnya tawanan
perang) dan benda-benda obyek
tertentu. Selain itu, berdasarkan
prinsip proporsionalitas dan
juga untuk melindungi obyekobyek
sipil,
juga
diatur
pelarangan penggunaan senjatasenjata tertentu.
E. Perkembanganperkembangan internasional
baru
Ada beberapa perkembangan
baru yang membuat prinsip-prinsip
penggunaan
senjata
dan
pertanggungjawaban
komando
makin
kompleks.
Tetapi
perkembangan-perkembangan
tersebut pada waktu yang sama
justru
memperluas
atau
memperkuat, karena interpretasi
dan penyebaran nilai demokrasi
dan hak azasi manusia, aturanaturan dan hukum internasional
tentang perang dan penggunaan
senjata.
Saat ini muncul apa yang
disebut sebagai Revolutionary in
Military Affairs (RMA) yang
merupakan gabungan dari tiga
aspek : sistem informasi
(information system), sistem
persenjataan (weaponry system),
dan ruang angkasa (space).
Sistem informasi telah menjadi
bagian terpenting dari kekuatan
nasional, termasuk kekuatan
militer. Perang Teluk 1991 dan
aksi militer NATO terhadap
Yugoslavia menujukkan hal ini.
Sistem
persenjataan dengan
mengintegrasikan
sistem
informasi melalui satelit dan
komputer akan merubah sifat
perang menjadi cepat, akurat,
dan efisien. Selama tahun 1943,
misalnya, angkatan udara AS
29
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
menyerang hanya 50 target di
Jerman. Dalam Perang Teluk
kekuatan udara koalisi mampu
melakukan serangan 150 kali
hanya dalam waktu sehari
dengan tingkat keakuratan tinggi
dengan munculnya apa yang
disebut bom pintar (smart
weapons). Ukuran senjata juga
menjadi lebih kecil dengan
kekuatan yang lebih besar.
Karena ketergantungan pada
sistem informasi, perang yang
akan
datang
akan
juga
menjadikan
jaringan
dan
infratsruktur komunikasi sebagai
target serangan militer baik
penghancuran
secara
fisik,
maupun
melalui
perang
komputer
dan
elektronik.
Integrasi
antara
sistem
persenjataan
dan informasi
membutuhkan ruangan atau
space.
Penguasaan
ruang
angkasa menjadi faktor penting
dan arena perang di masa depan.
Dengan karakteristik seperti
itu, RMA akan membawa
implikasi
pada
hukum
humaniter. Kontrol komandan
terhadap bawahan tidak lagi
dibatasi oleh birokrasi yang
berjenjang. Komandan dapat
30
dengan langsung melihat apa
yang terjadi di lapangan. Apa
yang disebut kontrol efektif
atasan terhadap bawahan tidak
lagi diartikan bahwa komandan
harus
membawahi
seorang
prajurit di lapangan. Kontrol
efektif bisa dilakukan oleh
atasan yang lebih tinggi yang
tidak berada di lapangan melalui
penggunaan
teknologi
komunikasi
dan
informasi.
Selain itu, perang modern
dicirikan juga oleh makin
besarnya ketergantungan militer
pada sipil, mulai dari kontral
pembuatan persenjataan pada
perusahaan-perusahaan
sipil/komersial, sampai dengan
keterlibatan sipil dalam sistem
informasi militer, misalnya
komputer
dan
satelit.
Masalahnya
adalah
garis
pemisah antara sasaran sipil dan
militer menjadi kabur karena
keterlibatan sipil dalam operasi
militer. Apakah obyek-obyek
seperti itu juga harus diikat oleh
aturan-aturan
internasional
tentang perang? Perang modern
yang melibatkan non-state actors
juga akan mempersulit masalah
diskriminasi
dan
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
proporsionalitas. Apakah suatu
organisasi
regional
atau
internasional terikat oleh aturanaturan
hukum
humaniter?
Demikian pula halnya dengan
ketika perang dan pertempuran
menjadi virtual obyek militer
dan militer menjadi sulit
dipisahkan.
Ketika
sistem
informasi dan persenjataan sudah
sangat maju dengan tingkat akurasi
yang tinggi, maka masalahnya
bukan
mengukur
atau
membandingkan antara korban
yang akan jatuh dan keuntungan
militer
yang
akan
dicapai,
melainkan apakah komandan atau
perancang
operasi
militer
mengetahui atau patut diduga
mengetahui ada obyek sipil dalam
sasaran yang akan diserang.
Serangan
terhadap
jaringan
komunikasi dan pusat listrik yang
sangat vital bagi C3I akan
menyulitkan obyek sipil. Serangan
terhadap
satelit
juga
akan
membahayakan
sistem
penerbangan. Masalah- masalah ini
akan menjadi isu sentral dalam
hukum
humaniter
untuk
masa
sekarang dan masa depan.
F. Penutup
Pada saat ini dan masa yang
akan datang sebagian besar konflik
akan menyebabkan kompleksitas
yang lebih sulit dalam menerapkan
hukum humaniter, terutama prinsip
proporsionalitas dan diskriminasi.
Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor. Akan banyak keterlibatan
non-state actors dalam konflik
bersenjata, sebagian besar konflik
tidak lagi antar negara (inter-state
conflicts). Kesulitan ini lahir akibat
kemajuan teknologi yang pada satu
sisi membawa keuntungan dengan
adanya senjata yang akurat, tetapi
pada sisi lain membawa keterkaitan
antara sipil dan militer makin erat,
sehingga suatu serangan terhadap
sasaran militer akan membawa
implikasi pada kehidupan sipil.
Kesenjangan kemampuan akan
mendorong pihak lemah untuk
melakukan perang secara asimetris,
bahkan menyembunyikan identitas
mereka
bukan
sebagai
combatants. Jika semua bisa
dilihat oleh teknologi secara
transparan, maka pihak yang lebih
lemah akan mengatakan: “If I
cannot hide, perhaps I can survive
by appearing to the enemy to be
the other than what I am” Ini
membawa
kesulitan
dalam
mengidentifikasi combatants dan
non-combatants. Tafsiran atas
masalah ini tergantung dari
posisi dan kekuatan masingmasing negara.
31
Pena Justisia Volume VII No.14, tahun 2008
Daftar Pustaka
Arlina Permanasari, Fadillah Agus,
et.al.,
Pengantar
Hukum
Humaniter, ICRC, Jakarta,
1999.
Agus, Fadillah. 1997. Hukum
Humaniter Suatu Perspektif.
Jakarta: Pusat Studi Hukum
Humaniter Universitas Tri
Sakti
Additional Protocols to the Geneva
Conventions of 12 August 1949
(Geneva, 1977).
Hukum
Haryomataram.
1988.
Humaniter (Hukum Perang).
Jakarta:
Penerbit
Bumi
Nusantara Jaya
32
Pietro
Verri,
Dictionary
of
International Law of Armed
Conflict,
International
Committee of the Red Cross,
Geneva, 1992.
Undang-undang No. 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia
Undang-undang No. 26 Tahun 2000
tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia
Download