Semburan Lumpur, Indikator Mudah Kandungan Hidrokarbon

advertisement
Semburan Lumpur, Indikator Mudah Kandungan
Hidrokarbon
Dikirim oleh humas3 pada 25 April 2011 | Komentar : 1 | Dilihat : 5375
Arief Rahman (kiri) dan Joko
Wiyono (kanan) menjadi
pembicara pada kuliah tamu
AAPG Student Chapter UB
Mud Volcano (gunung lumpur) merupakan indikator paling mudah untuk menentukan adanya kandungan
hidrokarbon. "Apalagi jika lumpur tersebut sudah menyembur seperti di Sidoarjo, bisa dipastikan hidrokarbon juga
menyembur ke permukaan," Joko Wiyono dari Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) menyampaikan hal ini
saat menjadi pembicara di kuliah tamu, Sabtu (23/4) di Ruang Pertemuan Jurusan Fisika. Kegiatan ini
diselenggarakan oleh American Association of Petroleum Geologists (AAPG) Student Chapter Universitas
Brawijaya (UB). Hadir juga sebagai pembicara dalam kesempatan tersebut, Arief Rahman dari PT. Hexindo
Gemilang Jaya. Keduanya merupakan alumni Geofisika FMIPA Universitas Brawijaya(UB).
Untuk lebih mengenal indikator lainnya dalam petroleum system, dalam paparannya Arief menyampaikan dasardasar geologi struktur. Tiga komponen penting yang disampaikannya adalah joint (kekar), fault (patahan/sesar) dan
fold (lipatan). Ketiganya merupakan bentuk khusus bebatuan yang merupakan hasil deformasi atau perubahan
bentuk karena tekanan (stress).
Dengan mengkombinasikan antara geologi struktur dan petroleum system, geologists serta geophysicists kemudian
mengakurasi keberadaan hidrokarbon (minyak dan gas bumi). Berbasis pada lima komponen yang disebutnya
sebagai "Pancasila" Geologists dan Geophysicists ia menerangkan bagaimana eksplorasi dilakukan. Kelima
komponen tersebut meliputi batuan induk (source rock), reservoir, jebakan (trap) dan batuan penutup (seal/cap
rock). Selain bermanfaat dalam dunia perminyakan, pengetahuan ini menurutnya juga penting untuk merunut
sejarah geologis sebuah wilayah.
"Sumatera dan Jawa itu dulunya satu pulau yang kemudian terpisah karena adanya pemekaran (spreading)",
terangnya. Fenomena lain yang ada di kedua pulau tersebut adalah penunjaman (subduction) yakni tabrakan antara
dua lempeng, lempeng Australia dan Eurasia. "Karena densitasnya lebih tinggi, maka lempeng samudera kemudian
ter-subduksi, membentuk cairan dan menjadi magma. Hasil dari subduksi ini bisa berupa palung laut ataupun
pegunungan berapi. Karena itu di sepanjang pulau Jawa dan Sumatera berjejer pegunungan berapi seperti Gunung
Semeru, Gunung Merapi, Gunung Slamet dan Gunung Kerinci.
Fenomena geologis lain terkait tingginya tingkat kebencanaan di Pulau Sumatera adalah banyaknya patahan yang
berimplikasi pada tingginya proses geodinamika yang disebut tektonik.
"Patahan ini merupakan pisau bermata dua karena menimbulkan bencana sekaligus berkah", kata Joko. Disebut
berkah karena menurutnya patahan merupakan jalur migrasi minyak dari batuan induk ke batuan reservoir ketika
membuka. "Semakin banyak patahan akan semakin banyak bencana dan semakin banyak pula minyak yang
bermigrasi", kata dia. [nok]
Artikel terkait
Dr. Johan Noor: Fisika Medis Semakin Dibutuhkan Dunia Radiologi
Geofisika Dalam Dunia Kerja
Dosen FMIPA UB Pemateri Konferensi Nasional CI+BI
Dosen FMIPA UB Ikuti PAR di Australia
Download