Studi Sosial Ekonomi tentang Keterkaitan antara

advertisement
METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
Bawaan sumber daya fisik seperti kekayaan sumber daya alam (natural
resource endowment), sumber daya manusia dan sumber daya buatan manusia
tidak lagi mencukupi untuk menjelaskan terjadinya perbedaan hasil-hasil
pembangunan di berbagai wilayah di Indonesia.
Diperlukan pengetahuan
mengenai keterkaitan berbagai konsep sumber daya fisik dan non-fisik untuk
menjelaskan perbedaan tersebut. Sesungguhnya, modal pembangunan tidak hanya
mencakup modal yang bersifat material seperti natural capital, real capital,
human capital, financial capital dan foreign capital, namun juga modal yang
bersifat non-material seperti social capital (modal sosial) (Bourdieu, 1980;1986,
Gylvason, 2002).
Modal sosial tidak terlepas dari modal ekonomi (economic capital) dan
modal budaya (cultural capital) namun juga bukan merupakan bagian
daripadanya. Modal sosial tertambat (embedded) dalam struktur sosial masyarakat
yang bersifat mikro (individu), meso (institusi sosial) maupun makro (stratifikasi
sosial) sehingga mempengaruhi rasionalitas individu dalam setiap tindakannya.
Kecenderungan individu untuk memaksimalkan keuntungan selalu dibatasi oleh
norma-norma sosial dalam masyarakat (Bourdieu, 1986; Lawang, 2005).
Beugelsdijk dan Smulders (2003), menggambarkan fungsi utilitas
individu sebagai kombinasi kepuasan dari upaya untuk menghasilkan barang
konsumsi dan kepuasan yang dihasilkan saat membangun interaksi sosial. Semua
pihak yang berinteraksi diasumsikan memiliki kekuatan yang sama sehingga
fungsi utilitas individu tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut:
u = U(c,s)
Uc, Us > 0,
dimana c adalah usaha untuk menghasilkan barang konsumsi dan s adalah usaha
untuk membangun interaksi sosial melalui partisipasi dalam jaringan kerja sosial
sedangkan Uc dan Us berturut-turut adalah marginal utility dari barang konsumsi
dan interaksi sosial.
Keterbatasan individu dalam penguasaan dan pemilikan sumber daya
yang harus dialokasikan untuk tujuan ekonomi dan sosial akan teratasi apabila
43
individu tersebut mampu membangun jaringan kerja ekonomi dan sosial.
Jaringan kerja sosial merupakan sumber modal sosial yang dibedakan atas modal
sosial mengikat (Bonding social capital, f) dan modal sosial menyambung
(bridging social capital, v). Masing-masing jaringan kerja memiliki interaksi
sosial yang spesifik sehingga dalam keadaan keseimbangan keduanya akan
bersifat substitutif dan saling melengkapi yang dapat dinyatakan sebagai berikut:
s = S (ƒ,ν),
Sƒ , S ν > 0,
ƒ(ν) menyatakan intensitas partisipasi dalam jaringan kerja f (untuk intensitas
partisipasi dalam jaringan kerja v tertentu) yang diukur dari curahan waktu untuk
masing-masing jaringan kerja. Diasumsikan fungsi tersebut merupakan constant
elasticity of substitution function.
Insting manusia untuk berkumpul dan berinteraksi secara intensif (faceto-face relationship) akan menimbulkan eksternalitas bagi dirinya maupun
kelompoknya.
Eksternalitas positif dari interaksi sosial tersebut dinyatakan
sebagai modal sosial yang dapat memberi pengaruh positif dan negatif terhadap
pembangunan. Pengaruh positif akan terjadi apabila interaksi yang terbangun
mampu menekan perilaku negatif (rent-seeking dan oportunistik) dan memperkuat
sistem kontrol sehingga mengurangi biaya transaksi. Sebaliknya pengaruh negatif
disebabkan oleh adanya trade-off sumber daya untuk aktivitas ekonomi dan sosial.
Sumber daya yang dibutuhkan untuk membangun modal sosial akan mengurangi
ketersediaan sumber daya untuk aktivitas ekonomi.
Individu harus memutuskan seberapa besar dia melakukan konsumsi
yang dibatasi oleh pendapatannya dan seberapa besar dia dapat membangun
modal sosial melalui interaksi sosial. Pilihannya dibatasi oleh waktu maupun
dana yang dimilikinya.
c = ( n0 – ƒ – ν ) w + x, ............................................(1)
dimana n0 adalah total waktu yang tersedia untuk bekerja dan berinteraksi sosial, ƒ
dan ν adalah waktu yang tercurah untuk berinteraksi sosial dalam jaringan kerja
yang bersifat bonding (ƒ) maupun bridging (ν), w adalah upah individu dan x
adalah transfer yang bisa bernilai positif maupun negatif dan dapat dinyatakan
sebagai selisih dari manfaat aktual perilaku rent-seeking dan biaya yang harus
44
ditanggungnya.
Persamaan ini menunjukkan bahwa terdapat trade off antara
konsumsi material dan interaksi sosial yang dapat menghambat aktivitas ekonomi.
Untuk membahas dampak potensial modal sosial yang bersifat positif
terhadap ekonomi maka diasumsikan bahwa interaksi sosial pada jaringan kerja
tertentu mempengaruhi derajat perilaku oportunistik. Partisipasi dalam jaringan
kerja yang terbuka akan menghindari perilaku rent-seeking seperti korupsi,
pemerasan, sikap tidak bertanggung jawab dan tidak dipercaya. Secara ringkas
tujuan individu adalah memaksimalkan utilitasnya dan dapat dinyatakan sebagai
berikut:
Memaksimalkan:
u = U(c,s) .............................................(2)
dengan kendala:
s = S (ƒ,ν)
−
−
c = ( 1 – ƒ – ν - z ) w + ( 1- ν ) [ B(z) w − D ( z ) w ]
_
dimana z adalah waktu yang tercurah untuk perilaku rent-seeking. B(z) w adalah
_
manfaat (benefit) yang diharapkan dari perilaku rent-seeking sedangkan w adalah
upah rata-rata. Individu yang tidak memiliki bridging social capital, v, akan
berpeluang dimanfaatkan oleh individu lain sehingga manfaat aktual yang
_
_
dimilikinya sebesar (1-v) B (z) w , sedangkan (1-v) D (z) w adalah kerugian
(damaged) yang ditimbulkan oleh perilaku rent-seeking.
First-order condition untuk maksimisasi dapat dinyatakan sebagai
berikut:
_
(1-ν) Bz (z) w = w ..............................................................(3)
⎡
_ ⎤
⎢
sv ( f , v )
w⎥
= 1 − ⎢ D( z ) − B( z ) ⎥ .............................................( 4)
S f ( f , v)
w⎥
⎢
⎣⎢
⎦⎥
U c (c, S ( f , v )) S f ( f , v )
=
......................................................(5)
U s (c, S ( f , v ))
w
Persamaan (3) menunjukkan kondisi untuk optimal rent seeking yang
menyatakan bahwa tambahan manfaat dari rent-seeking harus sama dengan
marginal opportunity cost. Persamaan (4) menentukan trade off optimal antara
dua tipe interaksi jaringan kerja, dimana sisi kiri menunjukkan jumlah waktu
maksimum yang dicurahkan untuk membangun bridging sosial capital akan sama
45
dengan partisipasinya sedangkan sisi kanan menunjukkan bonding social capital.
Menghabiskan waktu dengan teman akan memiliki biaya yang lebih rendah
dibandingkan dengan menghabiskan waktu dengan jaringan kerja yang lebih luas
apabila kerugian yang disebabkan oleh rent-seeking sangat tinggi. Persamaan (5)
menentukan trade off optimal antara konsumsi material dan interaksi sosial dalam
jaringan kerja yang bersifat bonding.
Modal sosial bukan merupakan modal yang tersedia tanpa usaha dan
bersifat statis. Oleh karena itu harus diciptakan dan selalu dipelihara. Usaha
untuk menjaga kelangsungan modal sosial sangat dipengaruhi oleh atmosfir
politik dan dapat dilakukan dengan cara membangun interaksi dan kerjasama.
Poulsen dan Svendsen (2003) menganalisis akses kerjasama dalam one-shot
prisoner’s dilemma game di suatu wilayah dimana individu yang selalu
berinteraksi dengan lainnya secara acak akan berhadapan dengan dua pilihan yaitu
bekerjasama (Cooperative atau C) atau tidak bekerjasama (Defect atau D).
Ganjaran dari permainan dilema tahanan digambarkan dalam Tabel 6 berikut:
Tabel 6 Ganjaran (Payoff ) bagi Pelaku dalam Permainan Dilema Tahanan
Strategi Pelaku
Bekerjasama (C)
Tidak Bekerjasama (D)
Bekerjasama (C)
1,1
b,a
Tidak Bekerjasama (D)
a,b
0,0
dimana a > 1 dan b < 0.
Jika individu hanya memaksimalkan ganjaran untuk
dirinya maka pilihan yang diambil adalah (D) dan hasil akhirnya adalah masingmasing individu tidak memperoleh manfaat.
Ada tiga kelompok norma sosial
yang bersifat tertambat (embedded) dalam preferensi individu. Pertama, norma
sosial resiprokal (R) yaitu perilaku individu yang sangat tergantung dari apa yang
dilakukan oleh individu lain. Apabila orang lain memilih untuk bekerjasama (C)
maka ia akan bekerjasama (C), sebaliknya jika pihak lain memilih untuk defect
(D) maka ia juga akan melakukan hal yang sama (D). Individu yang melakukan
resiprokal ini tidak selalu memaksimalkan penghasilannya. Kedua, selfish (S)
yaitu individu yang selalu memilih untuk defect (D). Individu yang bersifat
selfish tidak pernah percaya pada orang lain, tidak pernah memberi, tidak
tersenyum walaupun saat memperoleh pertolongan.
Terakhir, altruism (A)
46
dimana individu yang mengikuti norma ini selalu memilih untuk bekerjasama (C).
Tipe altruism akan selalu memperlakukan orang lain seperti apa dia ingin
diperlakukan. Ganjaran (Payoff) dapat digambarkan melalui matriks berikut:
Tabel 7 Ganjaran bagi Pelaku Berdasarkan Norma Altruism, Resiprokal dan
Selfish
Strategi berdasarkan
Norma Sosial
Altruism
Resiprokal
Selfish
Altruism
1
1
b
Resiprokal
1
1
0
Selfish
a
0
0
Orang yang altruism akan dapat memaksimumkan ganjaran hanya bila
bertemu orang yang bersifat altruism atau resiprokal tetapi tereksploitasi oleh
orang yang bersifat selfish. Orang yang bersifat selfish tidak akan memperoleh
ganjaran bila bertemu orang resiprokal atau sesama selfish. Sedangkan individu
yang resiprokal akan selalu diuntungkan.
Peluang individu yang altruism
memperoleh ganjaran sama dengan individu yang resiprokal, namun peluang
altruism untuk dieksploitasi berbeda dengan resiprokal.
Peluang selfish
memperoleh ganjaran lebih kecil, yaitu hanya jika bertemu orang yang bersifat
altruism.
Svendsen dan Svendsen (2004) menyatakan bahwa modal sosial
meningkatkan
sistem
kontrol
terhadap
perilaku-perilaku
pembonceng (free rider) dan pencari rente (rent seeking).
oportunistik,
Individu memang
cenderung berperilaku oportunistik, mementingkan diri sendiri dan hanya akan
berusaha untuk mewujudkan tujuan bersama apabila tujuan-tujuan individunya
terpenuhi. Kecenderungan tersebut akan mampu ditekan apabila terbangun modal
sosial yang kuat karena sistem kontrol yang terbangun dari modal sosial tersebut
akan meningkatkan tambahan biaya untuk berperilaku oportunistik (MCsc)
sehingga tambahan manfaat yang diperolehnya (MB) tidak lagi memadai seperti
dijelaskan pada Gambar 7. Oleh karena itu, besar kecilnya jumlah individu yang
berperilaku oportunistik seringkali dijadikan sebagai indikator kuat lemahnya
modal sosial masyarakat.
47
Rp/Unit
MCsc
MC
MB
A
Sumber: Svendsen dan Svendsen, 2004
Opportunism
Gambar 7 Peran Modal Sosial dalam Menekan Perilaku Oportunistik
Modal sosial yang terbangun dari adanya rasa saling percaya, jaringan
kerja dan norma yang kondusif akan mengurangi biaya kontak, kontrak dan
kontrol sehingga dapat meniadakan biaya transaksi yang tinggi. Selanjutnya, rasa
saling percaya juga memudahkan terbangunnya jaringan kerja yang efisien dan
memberi manfaat pada proses produktif dalam pembangunan ekonomi wilayah.
Interaksi sosial yang didasari oleh rasa percaya yang kuat akan memiliki nilai
ekonomi dan sekaligus menjadi alat peredam konflik.
Kemampuan modal sosial dalam meredam konflik menambah arti penting
modal sosial bagi pembangunan di Indonesia mengingat keberagaman etnis dan
budaya yang ada berpotensi menjadi sumber-sumber konflik. Saat ini, masyarakat
cenderung hanya memiliki mekanisme penyelesaian konflik seperti perangkat
hukum dan aturan-aturan yang menjamin adanya perlakuan yang adil terhadap
semua kelompok (Narayan dan Pritchett, 1999). Sesungguhnya strategi terbaik
adalah menghindari terjadinya konflik dengan cara membangun rasa percaya
melalui interaksi sosial (weak ties) dalam ruang-ruang publik (public space)
seperti taman kota yang aman, sarana transportasi umum yang berkualitas,
fasilitas olah raga dan rekreasi.
Interaksi dalam setiap aktivitas sosial mendorong masyarakat untuk
memiliki ikatan sosial antar kelompok (weak ties) sehingga terjadi keseimbangan
dengan ikatan yang terbangun dalam keluarga (strong ties). Kedua ikatan tersebut
(weak ties dan strong ties) berperan penting dalam upaya membangun rasa
48
percaya dan stabilitas sosial ekonomi. Frijters, Bezemer dan Dulleck (2003)
membangun model yang mempertimbangkan pentingnya ikatan-ikatan (weak ties
dan strong ties) sebagai sumber terbangunnya relational capital (RC) dalam suatu
proses produktif. Model tersebut dinyatakan sebagai berikut:
y t = y ( At , H t − H trc , R C t , K t )
...........................................(6)
dimana yt adalah produksi yang terjual di pasar pada waktu t; H t adalah
angkatan kerja; H t − H trc adalah input tenaga kerja bersih yang digunakan untuk
produksi; H trc adalah tenaga kerja yang tercurah untuk menghasilkan RCt
(relational capital); At adalah parameter teknologi sedangkan Kt adalah kapital
fisik. yt adalah fungsi yang bersifat constant return to scale. Perekonomian
terdiri dari sejumlah individu sehingga dimungkinkan untuk mengaggregatkan
model tersebut menjadi model pertumbuhan ekonomi makro standar sebagai
berikut:
yt = y( At f ( H t − H trc , RCt ), K t ) .....................................(7)
dimana At f ( H t − H trc , RCt ) adalah kombinasi input yang terdiri dari At adalah
produktivitas dari kombinasi tenaga kerja dan jumlah kontak. Masing-masing
individu dan rumah tangga menentukan jumlah tenaga kerja dan kapital pisik dan
investasi dalam RC dengan mengalokasikan tenaga kerja sejumlah H trc .
Sejalan dengan pemikiran tersebut, Beugelsdijk dan Smulders (2003)
melakukan koreksi terhadap tenaga kerja efektif (H) yang dinyatakan sebagai
berikut:
H = N [(1-v)(1-ζB)-f-z] h, ............................................................(8)
dimana N adalah jumlah pelaku dalam pertumbuhan ekonomi, h adalah
tenaga kerja berkualitas yang tersedia, (1-v-f-z) h adalah tenaga kerja efektif yang
tersedia pada tingkat upah w, sedangkan (1-ζB(z))h adalah tenaga kerja yang
tercurah untuk aktivitas rent seeking.
Perkembangan penelitian modal sosial
ternyata masih memiliki berbagai keterbatasan. Paling tidak ada tiga keterbatasan
utama yang masih menjadi perdebatan, yaitu: (1) keterbatasan yang berkaitan
dengan analisis keterkaitan antara modal sosial dengan indikator hasil-hasil
pembangunan ekonomi wilayah seperti indeks pembangunan manusia (IPM),
indeks kemiskinan (IKM) dan keadilan sosial (equity); (2) keterbatasan yang
49
berkaitan dengan analisis penentuan indikator modal sosial yang dominan, dan (3)
keterbatasan mengenai arah hubungan modal sosial dan kesejahteraan, baik pada
tingkat mikro maupun makro.
Perdebatan pandangan mengenai keterkaitan antara indikator modal sosial
dan indikator pembangunan ekonomi menjadi landasan utama penelitian ini.
Hubungan
saling
mempengaruhi
antar
indikator
modal
sosial
dengan
kesejahteraan rumah tangga dan pembangunan menyebabkan penggunaan analisis
ordinary least square (OLS) tidak lagi memadai karena akan menghasilkan
penduga parameter yang bias dan bersifat spurious.
Penelitian ini juga mengembangkan pemikiran mengenai investasi
bersama yang seharusnya dilakukan oleh semua pelaku pembangunan dalam
membangun modal sosial. Pemikiran tersebut didasarkan pada kekhawatiran akan
terjadinya proses pelemahan modal sosial yang disebabkan oleh ketiadaan insentif
untuk melakukan pemeliharaan hubungan ataupun jaringan kerja antar individu,
individu dengan pemerintah daerah atau antar pemerintah kabupaten dan provinsi.
Kerangka pemikiran yang dikembangkan tersebut dijelaskan pada Gambar 8.
Hipotesis
Berdasarkan berbagai kajian mengenai modal sosial dan pembangunan
ekonomi wilayah serta kerangka pemikiran penelitian yang telah dibangun maka
dapat dinyatakan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1. Komponen modal sosial yang dominan dan memberi kontribusi terbesar
adalah rasa percaya.
2. a.
Modal sosial menyambung (bridging social capital) berpengaruh positif
terhadap PDRB, sebaliknya modal sosial mengikat (bonding social
capital) berpengaruh negatif terhadap PDRB.
b.
Terdapat hubungan saling mempengaruhi (keterkaitan) antara modal
sosial dengan kesejahteraan rumah tangga, pembangunan ekonomi
wilayah (IPM), kemiskinan (IKM), output (PDRB), pertumbuhan
ekonomi wilayah (Laju PDRB) dan total faktor produktivitas (TFP).
3. Strategi terbaik bagi pemerintah kabupaten, provinsi dan masyarakat dalam
upaya merevitalisasi modal sosial adalah bekerjasama (cooperative).
50
Bonding
social capital
Modal Sosial
Tujuan
Pembangunan Ekonomi Wilayah
ƒ
ƒ
ƒ
ƒ
General Trust
Thin Trust
Thick Trust
Kepercayaan thp inst.
Formal/informal
T
R
U
S
T
ƒ
Indeks Kepadatan
jaringan kerja
Indeks Partisipasi
Jumlah Teman
N
E
T
W
O
R
K
Meningkatkan Akses Masyarakat
Meningkatkan Pendapatan
ƒ
ƒ
Bridging
social capital
ƒ Pekerjaan
ƒ Akses
pendidikan,
kesehatan,
rasa aman
ƒ Partisipasi
ƒ Menekan free
rider, rentseeking dan
inequality
ƒ Pendapatan
RT
ƒ IPM
ƒ IKM
ƒ Rasio Gini
ƒ Laju
PDRB
ƒ PDRB
perkapita
ƒ TFP
Analisis Two Stage Least Square
STRATEGI
Menekan Kesenjangan
ƒ
ƒ
Bantuan Uang dan
Fisik
Perilaku Free Rider
N
O
R
M
Analisis Kualitatif dan Kuantitatif
Analisis Model Persamaan Struktural
P
E
M
P
R
O
v
P
E
M
K
A
B
Analisis Game
Gambar 8 Kerangka Pemikiran Analisis Modal Sosial
M
A
S
Y
A
R
A
K
A
T
51
Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penentuan Provinsi Bali sebagai daerah penelitian dilakukan secara
sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan indikator pertumbuhan maupun
pembangunan ekonomi wilayah dan indikator kultural. Saat ini, Bali menghadapi
dilema yang mengarah pada konflik kepentingan antara pelestarian budaya
(kelompok inward looking) dan peningkatan keterbukaan (kelompok outward
looking) dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui sektor
pariwisata.
Penentuan kabupaten juga dilakukan secara sengaja (purposive) melalui
beberapa pertimbangan indikator sosial dan ekonomi wilayah.
Berdasarkan
pertimbangan tersebut maka ditentukan Kabupaten Jembrana, Kabupaten Badung,
Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Karangasem sebagai daerah penelitian. Dua
kecamatan di masing-masing kabupaten dipilih melalui stratifikasi berdasarkan
lokasi kecamatan terhadap ibukota kabupaten yaitu kecamatan yang memiliki
lokasi terdekat dan terjauh. Penentuan lokasi desa juga didasarkan pada lokasi
terdekat dan terjauh dari ibukota kecamatan.
Faktor jarak terhadap pusat pemerintahan kabupaten dan kecamatan
dipertimbangkan sesuai dengan tujuan untuk memperoleh gambaran modal sosial
dalam masyarakat yang belum berkembang dan masyarakat maju. Selain itu,
pendekatan ini juga dilakukan untuk memberikan gambaran modal sosial dalam
kelompok masyarakat seperti masyarakat yang memiliki mata pencaharian di
sektor pertanian dan pariwisata sebagai sektor dominan di Bali.
Metode Penentuan Responden
Responden yang diteliti adalah kepala rumah tangga yang bertempat
tinggal di desa penelitian, anggota subak, anggota Himpunan Pramuwisata
Indonesia (HPI), serta anggota Asita (Asosiasi Perjalanan Wisata) dan PHRI
(Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia). Rumah tangga dipilih secara acak
dari masing-masing desa penelitian yang telah ditetapkan. Jumlah responden
ditentukan melalui kuota sebanyak 25 orang pada masing-masing desa dengan
pertimbangan homogenitas populasi.
52
Berdasarkan metode stratified random sampling yang digunakan, maka
responden dapat dikelompokkan atas:
(1) responden yang bertempat tinggal jauh dari pusat pemerintahan (pusat
kota) umumnya merupakan daerah perdesaan.
(2) responden yang bertempat tinggal dekat dengan pusat pemerintahan
(pusat kota) umumnya merupakan daerah perkotaan.
Proses penentuan daerah penelitian dan pengambilan responden dalam penelitian
ini digambarkan pada Gambar 9.
Unit analisis pada tingkat meso adalah institusi sosial seperti organisasi
pertanian (Subak), pariwisata (HPI, Asita dan PHRI) dan organisasi adat (Banjar
Adat). Masing-masing dua kelompok subak ditentukan secara acak di wilayah
maju (Kabupaten Badung dan Gianyar) dan wilayah belum berkembang
(Kabupaten Jembrana dan Karangasem), sedangkan organisasi kepariwisataan
hanya ada di tingkat provinsi.
Informasi dikumpulkan dari masing-masing
anggota subak dan anggota HPI, Asita dan PHRI yang ditentukan secara acak
proposional sebesar lima persen dari jumlah anggota masing-masing kelompok.
Provinsi Bali
8 Kabupaten dan 1 Kota
Purposive
Sampling
Kabupaten Jembrana, Badung,
Gianyar , Karangasem
Stratified
Sampling
Jarak dari pusat
kabupaten dan kecamatan
2 Kecamatan di masing-masing
kabupaten dan 2 desa di masingmasing kecamatan
Random
Sampling
400 responden
Gambar 9 Kerangka Pemilihan Sampel (sampling frame)
53
Metode Pengumpulan dan Pengukuran Data
Data yang dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ini mencakup data
primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan selama bulan Maret hingga
September 2005. Selain itu, dikumpulkan pula informasi dari responden kunci
yang ditentukan secara purposive sesuai dengan informasi yang ingin diperoleh
seperti Bendesa, Bendesa Adat, Klian Subak, Penyuluh Pertanian serta Pakar.
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data primer mengenai
komponen modal sosial di tingkat individu dan kelompok adalah kuisioner yang
terbagi atas 5 kelompok pertanyaan, yaitu: (1) pertanyaan mengenai kelompok
dan jaringan kerja; (2) rasa percaya dan solidaritas; (3) kegiatan bersama dan
kerjasama; (4) informasi dan komunikasi, dan (5) pendapatan rumah tangga.
Pengukuran Indikator (Peubah Manifes) Modal Sosial di Tingkat Mikro
Identifikasi modal sosial di tingkat mikro dilakukan dengan analisis
kualitatif dan kuantitatif terhadap respons yang diberikan oleh responden melalui
jawaban kuisioner.
Unit analisis adalah rumah tangga.
Analisis kualitatif
dilakukan terhadap data yang bersifat nominal dan ordinal seperti tingkat
pendidikan, kesehatan, rasa percaya (trust), kesediaan memberi bantuan.
Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk data yang bersifat interval dan
rasio seperti besarnya keluarga, pengeluaran rumah tangga, indeks partisipasi,
indeks heterogenitas, kepadatan organisasi, jumlah teman dan tingkat kontribusi
anggota.
Modal sosial dalam penelitian ini merupakan variabel laten endogen yang
ditentukan oleh variabel laten eksogen. Komponen modal sosial yang merupakan
variabel laten eksogen adalah jaringan kerja, rasa percaya dan norma. Variabel
laten eksogen tersebut akan diukur melalui berbagai indikator (peubah manifes)
yang berbeda beda di tingkat mikro, meso dan makro. Tabel 8 menggambarkan
peubah manifes dari variabel laten eksogen, notasi yang digunakan dalam
pembahasan selanjutnya, serta pertanyaan dalam kuisioner yang digunakan untuk
mengukur masing-masing peubah manifes tersebut di tingkat mikro.
54
Pengukuran modal sosial berkaitan erat dengan pengukuran tentang sikap
seseorang terhadap orang lain atau kelembagaan yang ada dalam masyarakat
dimana dia berada. Kesalahan dalam penetapan indikator seringkali menimbulkan
bias yang mempengaruhi hasil analisis data.
Oleh karenanya, penelitian ini
mencoba menekan adanya bias-bias yang mungkin muncul dalam pengumpulan
data dan penetapan indikator dengan cara melakukan konfirmasi ulang terhadap
jawaban yang diberikan oleh responden.
Tabel 8 Definisi Variabel Modal Sosial di Tingkat Mikro serta Pertanyaan dalam
Kuisioner
Variabel
Rasa
percaya
(Trust)
Jaringan
kerja
(Network)
Norma
Altruism
(Norm)
Definisi
Notasi dalam Persamaan
Persentase responden yang
menyatakan mereka percaya
pada sesama etnis (thick trust),
etnis lain (thin trust),
pengelola pemerintah, pekerja
profesional (respons alternatif:
mereka tidak mempercayai
tetangga)
Aware (Kesadaran berhati-hati)
GN Trust (Rasa Percaya)
DT (Dinamika Rasa Percaya)
TAE (Thick Trust)
TBE (Thin Trust)
PEMKAB (Trust terhadap
pemerintah kabupaten)
PEMPROP (Trust terhadap
pemerintah provinsi )
POLISI (Trust terhadap polisi )
GURU (Trust terhadap Guru)
Rata-rata keanggotaan dalam
berbagai organisasi formal dan
informal, lokal dan regional
yang diikuti
Persentase responden yang
menyatakan bahwa akan selalu
membantu kegiatan yang
bermanfaat bagi banyak orang
walau tidak menguntungkan
diri sendiri (respons alternatif :
tidak membantu atau hanya
memikirkan diri sendiri)
DN (Kepadatan jaringan kerja)
SEXP(Pengeluaran sosial)
EMPL (Jumlah anggota
keluarga yang bekerja)
FRIEND (Jumlah teman)
HN (Kesediaan saling Bantu)
BNTFSK (kemudahan
memperoleh Bantuan
Fisik)
CC (Kemudahan menitipkan
anak)
CHL (Jumlah anak yang
sekolah)
FR (Jumlah free rider)
Pertanyaan
dalam
Kuisioner*
2.1
2.2A
2.4
2.3J
2.3I
2.3D
2.3E
2.3F
2.3G
1.1
5.4
5.6
1.24; 1.28
2.2C, D; 2.5
2.6
1.27
1.28
2.2 B
Disarikan dari Putnam (1993), Grootaert et al. (2004) (cetak biru) dan pemikiran peneliti.
* Lampiran 1
Di tingkat mikro, rasa percaya diukur melalui indikator (peubah manifes)
rasa percaya sosial (general trust atau GN Trust ), kesadaran untuk bersikap hatihati (aware), dinamika trust (DT) dan Partisipasi dalam setiap kegiatan
55
(PARTSP). Jaringan kerja diukur melalui peubah manifes kepadatan jaringan
kerja (NW), pengeluaran sosial (SEXP) dan jumlah teman yang diajak berkeluh
kesah (FRIEND). Norma diukur melalui peubah manifes kesediaan menjaga
anak-anak tetangga, kerabat maupun teman (CC), jumlah orang yang bersikap
sebagai free rider (FR) dan kesediaan membantu secara fisik (BNTFSK).
Indikator (Peubah Manifes) Modal Sosial di Tingkat Meso
Modal sosial di tingkat meso mengukur rasa percaya antar anggota
maupun rasa percaya anggota terhadap pemimpinnya, kepatuhan pada normanorma bersama serta ikatan-ikatan antar kelompok yang memberi manfaat bagi
anggota kelompok yang bersangkutan.
Tabel 9 Definisi Variabel Modal Sosial di Tingkat Meso serta Pertanyaan dalam
Kuisioner
Variabel
Rasa percaya
(Trust)
Jaringan Kerja
(Network)
Definisi
Rasa percaya organisasi tertentu
terhadap organisasi lain
Rasa percaya terhadap pemimpin
kelompok
Hubungan
dengan
organisasi
sejenis di wilayah yang sama
Hubungan
dengan
sejenis di wilayah lain
Kepatuhan
anggota
terhadap
Norma (Norm)
Notasi dalam
Persamaan
organisasi
DN
Pertanyaan
dalam
Kuisioner*
1.15
LEADERSP
1.16
Bonding1
1.17
1.18
Bonding2
Hubungan dengan organisasi lain
di wilayah yang sama
Bridg1
Hubungan dengan organisasi lain
di wilayah lain
Bridg2
1.19
1.20
Kesediaan membayar dana
kelompok untuk setiap aktivitas
DANAKEL
Kesediaan membayar dana awal
DANAWL
1.21
1.22
Disarikan dari Grootaert et al. (2004); Miguel, et al. (2002); Brata (2004) (cetak biru) dan
dikembangkan berdasarkan pemikiran peneliti.
* Kuisioner tersedia pada Lampiran 1
56
Rasa percaya diukur melalui indikator (peubah manifes) kepadatan
jaringan kerja dan kepemimpinan, jaringan kerja diukur dari keterkaitan
organisasi dengan organisasi lain sedangkan norma diukur berdasarkan kesediaan
menanggung pembiayaan organisasi. Pengukuran modal sosial di tingkat meso
lebih mencerminkan karakteristik kelompok yang dalam penelitian ini dibedakan
atas tiga kelompok sebagai unit analisis, yaitu: (1) Komunitas Subak; (2)
Komunitas Pariwisata dan (3) Komunitas Desa Pakraman.
Secara rinci,
pengukuran peubah manifes di tingkat meso disajikan pada Tabel 9.
Indikator (Peubah Manifes) Modal Sosial di Tingkat Makro
Pengukuran indikator modal sosial di tingkat makro sedikit berbeda
dengan pengukuran indikator modal sosial di tingkat mikro dan meso, karena
menggunakan data panel dari seluruh kabupaten dan kota di Bali selama jangka
waktu lima tahun sejak tahun 1999 hingga tahun 2004. Indikator-indikator yang
digunakan pada penelitian ini, didasarkan atas indikator yang telah digunakan oleh
peneliti terdahulu (Putnam, 1993; Collier, 1998, Knack dan Keefer, 1997). Data
sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Biro Pusat Statistik, Dinas
Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Biro Ekonomi dan Bappeda mencakup Data Bali
Membangun, Kabupaten Dalam Angka, PODES, pola konsumsi dan distribusi
pendapatan serta SUSENAS.
Pada tingkat makro, modal sosial dibedakan pula atas bonding social
capital (modal sosial mengikat) dan bridging social capital (modal sosial
menyambung). Modal sosial yang berdasarkan ikatan yang mengikat (bonding)
terbangun
dalam
organisasi
yang
memiliki
homogenitas
tinggi
dalam
keanggotaannya yaitu desa pakraman. Semakin banyak jumlah desa pakraman
per-1000 penduduk menunjukkan adanya interaksi yang semakin intensif yang
membangun bonding social capital (SCbnd). Sebaliknya, indikator yang
menggambarkan terbangunnya bridging social capital (SCbrd) adalah jumlah
organisasi lain per-1000 penduduk.
Komponen modal sosial yang dipertimbangkan dalam analisis di tingkat
makro ini adalah rasa percaya (trust), norma (norm) dan jaringan kerja (network).
Rasa saling percaya akan menjadi landasan yang kuat untuk membangun
57
kerjasama sehingga peluang terjadinya konflik dalam kerjasama tersebut menjadi
semakin kecil.
Tabel 10 Variabel Laten dan Indikator (Peubah Manifes) Modal Sosial
Tingkat/Unit Analisis
Variabel Laten
Indikator (Peubah Manifes)
Mikro / Rumah Tangga
Rasa Percaya (Trust)
Jaringan Kerja (Network)
Norma (Norm)
1. Rasa Percaya (Fukuyama, Miguel
et al.)
1.1 Rasa percaya umum
1.2 Rasa kehati-hatian
1.3 Thick trust
1.4 Thin trust
2. Jaringan kerja (Putnam, Grootaert,
Brata)
2.1 Kepadatan jaringan kerja
2.2 Partisipasi
2.3 Jumlah teman
2.4 Dinamika partisipasi
3. Norma
3.1 Kesediaan membantu fisik,
uang dan perhatian
3.2 Jumlah free rider
Meso / Kelompok
Rasa percaya (Trust)
Jaringan Kerja (Network)
Norma (Norm)
1. Rasa Percaya (Miguel et al.; Brata)
1.1 Kepadatan jaringan kerja
1.2 Leadership
2. Jaringan kerja (Coleman,Putnam)
2.1 Keterkaitan antar organisasi
sejenis (Bonding)
2.2 Keterkaitan dengan
organisasi lain (Bridging)
3. Norma
3.1 Kepatuhan membayar iuran
kelompok
3.2 Kesediaan membayar dana
awal
Makro / Wilayah
Rasa percaya (Trust)
Jaringan Kerja (Network)
Norma (Norm)
1.
2.
3.
Rasa Percaya (Collier)
1.1 jumlah konflik
1.2 jumlah desa adat
1.3 Kepadatan penduduk
Jaringan kerja (Putnam)
2.1 Jumlah organisasi pemuda
2.2 Jumlah organisasi seni dan
olah raga
2.3 Jumlah organisasi wanita
Norma
3.1 jumlah organisasi sosial
Sumber : Disarikan dari penelitian terdahulu dan kerangka pemikiran peneliti
Nama dalam ( ) adalah peneliti terdahulu yang telah menggunakan variabel tersebut
58
Di Bali, frekwensi kegiatan bersama (collective action) masih sangat
tinggi terutama berkaitan dengan aktivitas desa dan banjar pakraman seperti
membersihkan lingkungan rumah, tempat peribadatan (pura) dan upacara adat
serta keagamaan. Namun demikian, kegiatan bersama saja tidak cukup menjadi
indikasi terbangunnya rasa percaya karena kegiatan bersama tersebut didasari oleh
adanya sanksi sosial yang kuat. Proksi rasa percaya antar masyarakat yang lebih
memadai untuk kondisi di Bali adalah adanya konflik antar masyarakat yang
diselesaikan di lembaga formal. Indikator norma diproksi dari jumlah lembaga
sosial formal dan informal yang ada di suatu wilayah sedangkan jaringan kerja
diproksi dari jumlah organisasi profesi di wilayah tersebut.
Pada Tabel 10 disajikan secara rinci keterkaitan antara variabel laten dan
indikator (peubah manifes) yang digunakan pada berbagai tingkat analisis.
Variabel laten yang digunakan dalam penelitian ini meliputi rasa percaya (trust),
jaringan kerja (network) dan norma (norm) dengan indikator (peubah manifes)
yang berbeda-beda di masing-masing tingkat (unit) analisis. Beberapa indikator
(peubah manifes) merupakan indikator pada penelitian terdahulu, sedangkan
sebagian lainnya disarikan dari berbagai pustaka modal sosial dan hanya
digunakan dalam penelitian ini.
Metode Analisis Data
Uji Beda Rataan Indikator Modal sosial
Di Wilayah Maju dan Wilayah Belum Berkembang
Data primer dianalisis dengan menggunakan analisis non-parametrik agar
dapat dideskripsikan secara terinci mengenai hubungan antar masing-masing
indikator yang membangun variabel rasa percaya, jaringan kerja dan norma.
Hipotesis tentang hubungan antar indikator tersebut diuji berdasarkan nilai
korelasi Spearman. Selain itu, dilakukan pula uji beda dua sampel yang tidak
berhubungan untuk mengetahui apakah dua populasi memiliki sifat-sifat yang
identik. Adapun hipotesis yang diuji dapat dirumuskan sebagai berikut:
H 0 : μ M = μ BB
H1 : μ M ≠ μ BB
59
dimana:
μM
μ BB
= rata-rata populasi di wilayah maju
= rata-rata populasi di wilayah belum berkembang
Hipotesis awal (H0) menyatakan bahwa rata-rata populasi di wilayah
belum berkembang identik dengan rata-rata populasi di wilayah maju sedangkan
hipotesis alternatifnya adalah rata-rata populasi di daerah belum berkembang tidak
identik dengan rata-rata populasi di wilayah maju. Hipotesis tersebut digunakan
untuk masing-masing indikator modal sosial yang diamati.
Dasar pengambilan keputusan:
Jika probabilitas lebih besar dari (>) α, maka H0 diterima
Jika probabilitas lebih kecil dari (<) α, maka tidak terdapat cukup bukti untuk
menerima H0.
Metode analisis data disesuaikan dengan tujuan penelitian yang
diinginkan dan sifat data yang diperoleh.
Alur pemikiran penelitian yang
mengaitkan antara tujuan penelitian, jenis data yang diperlukan, sumber data,
metode analisis serta proses pengolahan datanya dijabarkan secara rinci pada
Gambar 10.
Analisis terhadap seluruh variabel secara bersama-sama dilakukan
melalui uji nilai tengah multi variate (peubah ganda). Pengujian yang digunakan
adalah statistik T2 Hotelling yang tersedia dalam program SPSS. Analisis ini
bertujuan menguji hipotesa berikut:
H0: Semua indikator modal sosial di wilayah berkembang sama dengan
wilayah maju (μ = μ0)
H1: Setidak-tidaknya ada satu indikator modal sosial yang berbeda antara
wilayah maju dan wilayah belum berkembang (μ ≠ μ0)
Kriteria pengambilan keputusan adalah:
Jika probabilitas lebih besar dari (>)α, terima H0.
Jika probabilitas lebih kecil dari (<)α, tidak terdapat cukup bukti untuk
menerima H0.
60
Tujuan Umum
Mempelajari
Modal Sosial dan
Mengetahui
Keterkaitannya
dengan
Kesejahteraan
Rumah Tangga,
Pertumbuhan,
Kemiskinan dan
Pembangunan
ekonomi wilayah
serta menganalisis
strategi pelaku
dalam
pembangunan
modal sosial
Tujuan Khusus
Jenis Data
Mengidentifikasi
faktor-faktor dominan
modal sosial di tingkat
mikro dan meso
Data primer
dan Sekunder
Menganalisis
keterkaitan modal
sosial dan pendapatan
rumah tangga
Menganalisis
keterkaitan modal
sosial dan
pertumbuhan,
kemiskinan serta
pembangunan
ekonomi wilayah
Analisis strategi
pemerintah provinsi,
kabupaten dan
masyarakat dalam
revitalisasi modal
sosial
Data primer
Sumber Data
400 responden di 4
Kabupaten Jembrana,
Badung, Gianyar,
Karangasem dan 3
kelompok komunitas
Subak, Banjar, HPI,
PHRI dan Asita
400 responden di 4
Kabupaten Jembrana,
Badung, Gianyar dan
Karangasem
Metode
Analisis
Output
analisis
Structural
Equation
Model
Indikator modal
sosial yang nyata
di tingkat mikro
dan meso
Two Stage
Least Square
Data Panel
Data Panel dari 8
kabupaten dan 1 kota
tahun 1999 – 2004
meliputi PDRB, PAD,
pertumbuhan output,
Tenaga kerja, modal
fisik dan data sosial
kependudukan
Two Stage
Least Square
Data Primer
dan Sekunder
Data Pengeluaran
sosial masyarakat,
bantuan pemda untuk
aktivitas sosial
Extensive
Game
Hubungan saling
mempengaruhi
antara modal
sosial di tingkat
mikro dengan
kesejahteraan
rumah tangga
Hubungan saling
mempengaruhi
antara modal
sosial di tingkat
makro dengan
indikator
pembangunan
ekonomi wilayah
Strategi terbaik
menguatkan
modal sosial
tingkat meso di
Bali
Gambar 10 Alur Pemikiran dan Proses Penelitian Modal Sosial di Bali
Kajian dan
Pembahasan
Sintesis
mengenai
keterkaitan
modal sosial
dengan
kesejahteraan
dan
pembangunan
ekonomi
wilayah serta
kajian
komparatif
terhadap
teori-teori
dan hasil
penelitian
terdahulu
61
Identifikasi Faktor-Faktor Dominan Modal Sosial:
Pendekatan Pemodelan Persamaan Struktural
(Structural Equation Modelling)
Untuk mengetahui signifikansi indikator yang membangun modal sosial
digunakan analisis pemodelan persamaan struktural (structural equation
modelling atau SEM). SEM adalah analisis yang sangat umum dan merupakan
teknis analisis ragam ganda (multivariate) yang sangat kuat (powerful). Asumsi
yang diterapkan sangat fleksibel dan menggunakan analisis faktor penegasan
(confirmatory factor analysis atau CFA) untuk mengurangi kesalahan yang
disebabkan oleh pengukuran. SEM memungkinkan untuk mengatasi masalah
autokorelasi pada data rangkai waktu (time series), data yang tidak terdistribusi
secara normal maupun data yang tidak lengkap. Selain itu, SEM memungkinkan
untuk mengukur dampak langsung maupun tidak langsung. Model SEM secara
statistik dapat dinyatakan sebagai: DATA = MODEL + GALAT.
Analisis ini dapat menggambarkan bagaimana indeks modal sosial
terbentuk dari beberapa indikator atau membangun gugus indikator baru yang
lebih tepat karena adanya sifat mengelompok dari gugus yang dibangun semula.
SEM sudah digunakan secara luas dalam mengukur perilaku. SEM juga dikenal
dengan nama model struktur ragam bersama (covariance structur models) karena
menggambarkan struktur kovarian antar variabel yang dipandang sebagai
kombinasi dari analisis faktor dan regresi. Penggunaan SEM sebagai alat analisis
data kuantitatif bertujuan melihat hubungan antara modal sosial dengan trust,
network dan norm melalui variabel yang diamati seperti rasa percaya antar etnis
(thick trust), rasa percaya terhadap etnis lain (thin trust), kepadatan organisasi
(network density), partisipasi serta norma saling bantu (altruisme).
Ukuran goodness of fit (GoF) model dapat dilihat dari nilai Chi-square,
goodness of fit index (GFI), adjusted goodness-of-fit index (AGFI), root mean
square residual (RMSR or RMR), standardize root mean square residual,
standardized RMR (SRMR), centrality index (CI), noncentrality index, relative
non-centrality index, comparative fit index, incremental fit index dan normed fit
index. Beberapa peneliti menyatakan bahwa ukuran GoF tersebut tidak mutlak
harus dipenuhi secara total. Terpenuhinya beberapa kriteria saja sudah cukup
62
untuk memutuskan apakah model tersebut cocok atau tidak cocok.
Kriteria
statistik dari kebaikan model sangat sensitif dengan ukuran sampel dan seluruh
GoF merupakan beberapa fungsi dari Chi-square dan derajat bebas. Sebagian
besar indeks kecocokan tersebut tidak hanya mempertimbangkan kebaikan model
namun juga kesederhanaannya. RMSE adalah ukuran goodness of fit yang harus
diperhatikan
apabila
(approximations).
tujuan
permodelan
untuk
melakukan
pendugaan
Nilai RMSE harus memiliki nilai yang relatif kecil (<0.05).
Model memiliki kecocokan yang sempurna apabila indeks kebaikan (GFI) sama
dengan satu. Namun Hair et al. (1998) dan Bollen (1989) menyatakan bahwa
model dapat diterima bila P-value >0.05 dengan RMSE ≤ 0.08 .
Terdapat beberapa kriteria yang berkembang berkaitan dengan efek dari
masing-masing variabel laten terhadap indikator (peubah manifes), salah satunya
adalah kriteria Kline (1998) yang menyatakan bahwa ada dua kategori untuk
mengukur efek variabel laten terhadap indikator (peubah manifes).
Kategori
pertama dibedakan atas (1) <0.2 tidak nyata ; (2) 0.2 – 0.5 kecil; (3) 0.5 – 0.8
sedang dan (4) >0.8 besar.
Kategori kedua mendefinisikan efek atas tiga
kelompok yaitu (1) <0.1 kecil; (2) mendekati 0.3 dikategorikan sebagai medium
dan (3) mendekati 0.5 dikategorikan besar. Ukuran kecocokan model ditentukan
dari p-value nilai Chi-square, Goodness of Fit Index (GFI), adjusted goodness-of-
fit index (AGFI), root mean square residual (RMSR atau RMR) dan standardized
root mean square residual (SRMR).
Salah satu program SEM yang popular adalah Linear Structural Relation
(LISREL) yang diperkenalkan oleh Jöreskog dikembangkan awal tahun 1970-an
merupakan program yang sangat berguna untuk menentukan model persamaan
struktural dan multilevel data pengamatan yang bersifat lintang waktu (cross-
section). Model LISREL dibangun dalam tiga persamaan matriks yaitu (1) model
pengukuran variabel laten eksogen x = λxξ + δ; (2) model pengukuran variabel
laten endogen y = λyη + ε, dan (3) model persamaan struktural η = Вη + Гξ +ζ,
dimana :
η
ξ
ζ
В
Г
=
=
=
=
=
vector galat dari peubah laten endogenus m x 1
vector galat dari peubah laten eksogenus n x 1
vector galat bagi persamaan struktural berukuran m x 1
matriks koefisien dari η berukuran m x m
matriks koefisien dari ξ berukuran m x n
63
x
y
=
=
=
=
=
=
=
λx
λy
δ
ε
e
vektor indikator peubah laten eksogenus q x 1
vektor indikator peubah laten eksogenus p x 1
matriks koefisien regresi (loading) x terhadap ξ berukuran q x n
matriks koefisien regresi (loading) y terhadap η berukuran p x m
vektor galat pengukuran dari x berukuran q x 1
vektor galat pengukuran dari y berukuran p x 1
error
e-AWARE
AWARE
λ
ε
e-PARTSP
PARTSP
λ
SC
e-DT
DT
Trust
γ
e-GNTRUST
GNTRUST
Norm
Network
λ
CC
e-CC
FR
e-FR
e-BNTFSK
BNTFSK
e-NW
NW
(1)
e-SEXP
SEXP
e-FRIEND
FRIEND
e-DN
λ
DN
e-LEADERSP
LEADERSHIP
e-BONDING1
BONDING1
e-BONDING2
BONDING2
e-BRIDG1
BRIDG1
e-BRIDG2
BRIDG2
e-DANAAWL
DANAAWL
e-DANAKEL
DANAKEL
Trust
ξ1
γ
Modal
Sosial
Network ξ2
λ
ε
γ
Norm ξ3
(2)
Gambar 11 Model Persamaan Struktural Modal Sosial
di Tingkat Mikro (1) dan Meso (2)
Signifikansi dari model LISREL terletak pada terintegrasinya model
pengukuran analisis faktor dan model persamaan struktural ekonometrik.
Jöreskog dan Sörbom (1999) memperkenalkan dua indeks kecocokan suatu model
yaitu Goodness of Fit Index (GFI) dan adjusted goodness of fit index (AGFI) yang
menggambarkan tingkat kompleksitas dari model.
Indeks lain adalah Tucker
Lewis Index (TLI) yang lebih dikenal sebagai Non-Normed Fit Index atau NNFI
64
dan Normed Fit Index (NFI). Hasil simulasi menunjukkan bahwa indeks sangat
dipengaruhi oleh besarnya sampel.
Hipotesis dapat dinyatakan sebagai berikut :
H0: Model Cocok (model sudah sesuai dengan data empiris)
H1: Model Tidak Cocok (model belum sesuai dengan data empiris)
Kriteria penerimaan hipotesis nol:
Apabila nilai p-value lebih besar dari 0.05 maka terima H0 atau dikatakan
model telah cocok (tidak cukup bukti untuk menolak H0) sedangkan jika p-value
kurang dari 0.05 maka tolak H0 atau model tidak cocok (tidak terdapat kesesuaian
antara model dan data).
Analisis Keterkaitan antara Modal Sosial dan Kesejahteraan:
Pendekatan di Tingkat Mikro dan Makro
Analisis Keterkaitan antara Modal Sosial dan Kesejahteraan Rumah Tangga
Ibanez et al. (2002), mengembangkan model analisis modal sosial
individu i di wilayah j yang dinyatakan dengan SCij ditentukan oleh karakteristik
individu, karakteristik rumah tangga atau komunitas, gugus dari kontrol wilayah,
gugus dari kontrol etnis ETij dan faktor galat, εij. Menurutnya, modal sosial dapat
diukur melalui dua cara yaitu (1) keanggotaan dalam kelembagaan formal dan
informal dan (2) melalui pengukuran interdependensi informal yang berdasarkan
pada keterlibatan individu dalam aktivitas bersama. Analisis modal sosial dalam
penelitian ini memodifikasi model Ibanez, yang secara matematis dapat
dinyatakan sebagai berikut :
sexp ij = β 0 + β 1tm n ij + β 2 inc ij + β 3 w ilij + ε ij ................................(9)
dimana:
sexpij = modal sosial individu i di wilayah j yang diproksi dari pengeluaran
sosial
tmnij
= jumlah teman individu ke i di wilayah ke j.
incij
= tingkat pendapatan rumah tangga dari individu ke i di wilayah ke j.
wilij
= variabel dummy dari wilayah.
0 untuk wilayah belum berkembang dan 1 untuk wilayah maju.
εij
= sisaan (error term)
65
Modal sosial individu yang menetap di suatu wilayah ditentukan oleh
luasnya jaringan kerja informal yang dibangunnya, besarnya pendapatan rumah
tangganya serta karakteristik wilayah dimana dia menetap. Luasnya jaringan
kerja informal yang umumnya memiliki keanggotaan yang lebih heterogen,
memberi peluang yang lebih besar untuk memperoleh informasi yang lebih
beragam.
Pendapatan menjadi faktor penting yang dipertimbangkan dalam
menganalisis modal sosial mengingat pembentukan jaringan kerja dan asosiasi
seringkali memerlukan biaya dalam konteks membutuhkan waktu dan sumber
daya lainnya. Oleh karenanya, individu atau rumah tangga dengan pendapatan
yang lebih tinggi akan mencurahkan sumber daya lebih banyak dalam
pembentukan jaringan kerja agar pembentukan tersebut menjadi lebih mudah.
Indeks modal sosial dihitung berdasarkan pada indeks kepercayaan,
indeks altruisme, indeks kepadatan organisasi dan indeks partisipasi dalam
pengambilan keputusan. Penghitungan indeks dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
Indeks modal sosial =
(nilai teramati − nilai terendah)
( nilai tertinggi − nilai terendah)
Dampak modal sosial terhadap kesejahteraan di tingkat mikro (rumah
tangga) dianalisis menggunakan model reduced form seperti yang digunakan oleh
Grootaert (1999) dengan beberapa modifikasi. Model analisis yang digunakan
tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut:
incij = α 0 + α1Sexpij + α 2 empij + α 3 nwij + α 4 part + ε ij ............................(10)
dimana :
incij = pendapatan rumah tangga ke i di wilayah j
sexpij = pengeluaran sosial rumah tangga ke i di wilayah j
empk = jumlah anggota yang bekerja dari rumah tangga i di wilayah j
nwij
= kepadatan jaringan kerja
partij = partisipasi dalam pengambilan keputusan kelompok
ε
= error term
Analisis peran modal sosial terhadap kesejahteraan individu maupun
rumah tangga berkaitan erat dengan peran modal sosial dalam menciptakan
peluang untuk meningkatkan pendapatan dan memperbaiki dimensi kesejahteraan
66
seperti kesehatan dan pendidikan.
Analisis ini dapat dilakukan dengan
mengasumsikan bahwa modal sosial adalah salah satu modal yang dimiliki
individu atau rumah tangga selain aset fisik seperti tanah, rumah, dan sawah.
Modal sosial pada persamaan (10) diproksi dengan menggunakan pengeluaran
sosial.
Asumsi lain yang perlu diperhatikan secara hati-hati adalah asumsi
bahwa modal sosial merupakan limpahan aset yang bersifat eksogen, yaitu aset
yang menentukan pendapatan dan konsumsi, padahal sebaliknya, pendapatan juga
menentukan modal sosial.
Dalam terminologi ekonometrika, modal sosial
dikatakan sebagai faktor endogen sehingga estimasi menggunakan Ordinary Least
Squares (OLS) akan menghasilkan koefisien penduga yang bias. Pemecahan
masalah endogenitas ini dilakukan dengan menggunakan penduga variabel
instrumen yaitu variabel yang menentukan modal sosial tetapi tidak menentukan
kesejahteraan (tidak ditentukan oleh kesejahteraan rumah tangga). Model yang
menggunakan penduga variabel instrumen tersebut kemudian dianalisis dengan
Two Stage Least Square (TSLS).
Analisis Keterkaitan antara Modal Sosial dan Pertumbuhan, Kemiskinan,
Pembangunan Ekonomi Wilayah dan Total Factor Productivity
Peran modal sosial dalam kinerja perekonomian dianalisis melalui model
pertumbuhan dengan memasukkan modal sosial sebagai salah satu input dalam
proses produksi. Dalam menganalisis peran modal sosial ini, diasumsikan bahwa
modal sosial adalah benar-benar merupakan modal (Grootaert, 1999) yang bila
tidak dilakukan reinvestasi akan mengarah pada kerusakan dan memperburuk
kinerja ekonomi.
Berdasarkan pada hasil penelitian Glaeser et al. (2001), dapat ditunjukkan
bahwa individu yang melakukan investasi dalam sumber daya manusia untuk
meningkatkan kapabilitasnya juga melakukan investasi dalam modal sosial.
Pernyatakan tersebut berimplikasi bahwa pertumbuhan ekonomi yang diukur
melalui tambahan output akan dicapai bila terjadi pula peningkatan dalam stok
modal sosial.
67
Penelitian ini menggunakan pola pikir pertumbuhan standar. Pertumbuhan
ekonomi dijelaskan oleh sejumlah variabel ekonomi penting seperti initial level of
income serta proksi untuk modal fisik dan manusia. Model yang dibangun dapat
dinyatakan sebagai berikut:
Yt = F (Kt, HCt, At, SCt) ....................................................................(11)
dimana : Kt, HCt, SCt berturut-turut adalah kapital fisik, modal manusia dan
modal sosial sedangkan At adalah faktor produktivitas pengelolaan ekonomi
pemerintahan yang diukur dari laju PDRB. Ht mencakup tingkat pendidikan dari
angkatan kerja.
Model yang dibangun dalam penelitian ini dikembangkan berdasarkan
pada teori pertumbuhan baru (New Growth Theory) yang dikombinasikan dengan
model Heliwel dan Putnam (2000), Knack dan Keefer (1997) serta Beugeldijk dan
Smulder (2003). Variabel terikat (dependent variable) tidak saja meliputi
indikator pertumbuhan tetapi juga indikator pembangunan ekonomi dan
kemiskinan (IPM dan IKM). Sedikit berbeda dengan model pertumbuhan, maka
model pembangunan ekonomi yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan
atas pertimbangan adanya keterkaitan (sifat simultan) antar modal sosial dan
indikator hasil-hasil pembangunan.
Indikator atau variabel bebas ditentukan dengan berbagai pertimbangan
dari hasil penelitian terdahulu. Putnam (1993) berpendapat bahwa pemerintahan
dengan rasa saling percaya yang lebih baik akan mampu menyediakan jasa-jasa
yang lebih efektif bagi masyarakatnya. Knack dan Keefer (1997) menyatakan
bahwa masyarakat yang saling percaya tidak saja mampu memperoleh insentif
untuk melakukan inovasi dan mengakumulasi modal fisik namun juga modal
manusia.
Pendapat Beugeldijk dan Smulder (2003) juga menjadi salah satu
pertimbangan sehingga variabel bebas dalam model penelitian ini meliputi juga
jaringan kerja yang bersifat mengikat (bonding) maupun menyambung (bridging),
net enrollment ratio selain indikator rasa percaya dan norma.
Keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya mempertimbangkan
ketersediaan faktor fisik (HCt) namun juga faktor non-fisik seperti modal sosial
(SCt) dan keadaan yang berkeadilan (Eqt) yang sangat bergantung pada distribusi
68
pendapatan penduduknya. Total faktor produktivitas (At) juga seringkali memberi
pengaruh yang nyata terhadap indikator pertumbuhan dan pembangunan. Kondisi
sumber daya alam di Bali relatif homogen di setiap kabupaten sehingga
ketersediaan faktor fisik yang dipertimbangkan hanyalah ketersediaan tenaga
kerja. Secara rinci, spesifikasi model yang digunakan adalah sebagai berikut:
Y jt ( SD ) = F ( Eq jt , HC jt , A jt , SC jt )........................................................(12 )
Eq jt = E ( PdGK
jt
HC jt = H ( NERSD
)......................................................................................(13 )
jt
, NERSMP , NERSMA , YK jt )..............................(14 )
jt
jt
SC jt = S ( Tr jt , Nm jt , Nw jt , Y jt )................................................................(15 )
dimana :
Yjt(sd)
Eqjt
HCjt
Ajt
PdGkjt
NER SDjt
NER SMPjt
NER SMAjt
SCjt
SCbndjt
SCbrdjt
Trjt
Nmjt
Nwjt
PADjt
Ykjt
j
t
: Output pada sustainable development (IPM, IKM, PDRB, PAD)
: Indeks Equity diproksi dari gini ratio
: Sumber daya manusia diproksi berdasarkan jumlah tenaga kerja
berkualitas
: Produktivitas pengelolaan pemerintahan diukur berdasarkan total
factor productivity (TFP)
: Jumlah KK Miskin
: Rasio pendaftaran neto (Net enrollment ratio) tingkat SD
: Rasio pendaftaran neto (Net enrollment ratio) tingkat SMP
: Rasio pendaftaran neto (Net enrollment ratio)tingkat SMA
: Modal sosial yang diproksi dari persentase etnis non-Bali
: Bonding social capital diproksi dari jumlah desa adat per-1000
penduduk
: Bridging social capital diproksi dari etnis non-Bali per-1000
penduduk
: Rasa saling percaya diproksi dari jumlah kasus (konflik) per-1000
penduduk
: Norma saling bantu diproksi dari jumlah organisasi sosial per1000 penduduk
: Jaringan kerja diproksi dari jumlah organisasi profesi per-1000
penduduk
: Pendapatan Asli Daerah
: PDRB per kapita
: Wilayah ke j
: Tahun ke t
Keadilan adalah keadaan yang bersifat normatif.
Dalam konteks
penelitian ini, keadilan diartikan sebagai suatu keadaan dimana tidak terdapat
kesenjangan pendapatan yang tinggi antar golongan.
Keadaan ideal yang
69
diharapkan adalah tercapainya angka gini ratio yang semakin rendah. Keadilan
dipengaruhi oleh jumlah penduduk miskin atau semakin sedikit jumlah penduduk
miskin maka semakin rendah gini ratio.
Sumber daya manusia ditunjukkan oleh jumlah tenaga kerja berkualitas
yang ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh besarnya penduduk usia produktif
yang masih bersekolah (net enrollment ratio atau NER). Semakin tinggi NER
menunjukkan bahwa semakin kecil jumlah penduduk usia sekolah yang bekerja.
Hal tersebut berarti pula bahwa tenaga kerja yang tersedia adalah tenaga kerja usia
produktif yang sudah menyelesaikan sekolahnya atau paling tidak menamatkan
sekolah lanjutan atas sehingga dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi NER
semakin tinggi kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.
Modal
sosial
adalah
faktor
produksi
yang
sebelumnya
tidak
dipertimbangkan dalam model-model pertumbuhan ekonomi maupun model
pembangunan ekonomi wilayah. Dalam penelitian ini, modal sosial diproksi dari
jumlah etnis lain yang ada dalam suatu komunitas lokal. Adanya perbedaan etnis
akan membangun modal sosial yang mampu menciptakan keuntungan-keuntungan
ekonomi dalam proses produktif (Beugeldijk dan Smulder, 2003) sebaliknya
homogenitas dalam suatu kelompok atau komunitas hanya akan membangun
inward looking yang bersifat negatif misalnya selalu menyalahkan orang lain atau
kelompok lain atas kegagalan atau ketidaknyamanan yang terjadi (Grootaert
(1999); Dwipayana (2005)). Narayan dan Pritchet (1999)1 menyatakan masyarakat
yang heterogenous akan lebih mampu membangun sistem kontrol dan
menghindari perang saudara (civil war).
Indikator keberhasilan pembangunan yang digunakan adalah Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) yang
merupakan suatu indeks komposit mencakup tiga bidang mendasar dari proses
pembangunan manusia terdiri atas usia hidup (longetivity), pengetahuan
(knowledge), dan standar hidup layak (decent living).
Secara umum, metode
penghitungan IPM yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan
metode yang digunakan the United Nations Development Programme (UNDP)
maupun Badan Pusat Statistik (BPS).
1
Lihat Narayan dan Pritchett (1999) Cents and Sociability: Household Income and Social Capital
in Rural Tanzania
70
Usia hidup diukur melalui indikator angka harapan hidup waktu lahir
(life expectancy birth) yang mencakup data rata-rata anak yang dilahirkan hidup
dan rata-rata anak yang masih hidup per wanita usia 15–49 tahun. Badan Pusat
Statistik (BPS) menggunakan data tiga hingga empat tahun sebelum survei yang
diperoleh dari dua sumber data yaitu Sensus Penduduk, Survei Penduduk antar
Sensus dan Survei Sosial Ekonomi Nasional.
Pengetahuan diukur menggunakan angka melek huruf (literacy rate)
penduduk 15 tahun ke atas dan rata-rata lama sekolah (mean years of schooling).
BPS mengganti rata-rata lama sekolah dengan indikator partisipasi sekolah dasar,
menengah dan tinggi. Angka melek huruf diperoleh dari kemampuan membaca
dan menulis. Komponen terakhir adalah standar hidup layak yang diukur dari
PDRB riil per-kapita yang telah disesuaikan. Angka maksimum dan minimum
masing-masing indikator disesuaikan dengan standar global dari UNDP seperti
tercantum pada Tabel 11.
Tabel 11 Nilai Minimum dan Maksimum Indikator Komponen IPM
Indikator
(1)
Angka Harapan Hidup (thn)
Angka Melek Huruf (thn)
Rata-rata lama sekolah (thn)
Konsumsi per kapita yang
disesuaikan (Rp)
Nilai Maksimum
(2)
85
Nilai Minimum
(3)
25
100
0
15
0
1 332 720
900 000
Sumber : UNDP dan BPS, 2003
Analisis Strategi Revitalisasi Modal Sosial:
Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Masyarakat
Memfungsikan kembali modal sosial dalam masyarakat tidak dapat
dilakukan melalui aggregasi modal sosial individu maupun rumah tangga
walaupun keputusan investasi dalam modal sosial ditentukan oleh individu.
Modal sosial di tingkat meso akan terbangun bila kelompok-kelompok dalam
masyarakat saling berhubungan. Ada tiga kelompok pengambil keputusan dalam
membangun modal sosial di tingkat meso yang memiliki hirarki vertikal yaitu
71
pemerintahan provinsi (pemprov), pemerintahan kabupaten/kota (pemkab) dan
masyarakat (swasta) itu sendiri.
Hirarki vertikal seringkali memberi dampak
negatif terhadap modal sosial bila hubungan yang terbangun bersifat substitusi,
namun sebaliknya bila hubungan yang terbangun bersifat komplemen maka
hirarki vertikal akan menguatkan modal sosial tersebut.
Hubungan antara
pemerintah dan masyarakat dalam merevitalisasi modal sosial bukanlah hubungan
searah melainkan hubungan dua arah yang saling menguatkan (mutually
reinforcing relations). Sifat komplemen memungkinkan terbangunnya hubungan
yang saling menguntungkan melalui proses difusi pengetahuan dan rasa saling
percaya. Rasa percaya inilah yang menjadi komponen utama penguatan modal
sosial di tingkat meso.
Strategi masing-masing pemain dalam proses memfungsikan kembali
modal sosial dapat berupa sikap altruisme (A atau selalu mementingkan
kesejahteraan pihak lain), resiprokal (R atau mementingkan pihak lain bila pihak
lain juga melakukan hal yang sama), dan selfish (S atau sikap yang selalu
mementingkan diri sendiri). Masing-masing pihak memiliki kewenangan untuk
memutuskan norma sosial yang akan dipilih antara sifat altruism, resiprokal atau
egois (selfish).
Interaksi antar pengambil keputusan ini akan mempengaruhi
investasi modal sosial yang bersifat penting bagi perkembangan ekonomi wilayah.
Pay-off masing masing pemain diukur dari biaya investasi yang harus
dikeluarkan untuk membangun modal sosial baik melalui pendidikan, kesehatan,
maupun untuk membangun jaringan kerja. Apabila pemain bersifat altruisme
maka biaya tersebut ditanggung sendiri, sebaliknya jika bersifat selfish maka tidak
mau menanggung biaya sama sekali sedangkan bersifat resiprokal berarti pay-off
ditanggung dan dirasakan bersama. Melalui diagram pohon (tree diagram) dapat
dijelaskan seperti pada Gambar 12.
Analisis peran ini akan menggunakan Extensive Norm-game yang
merupakan perluasan dari tiga pemain dalam prisonner’s dilemma game (Axelrod
1997). Untuk analisis norm-game, asumsi rasionalitas yang merupakan asumsi
standar dalam game theory, diabaikan. Analisis ini termasuk dalam co-operative
games dimana masing-masing pemain mengetahui strategi yang dimiliki pemain
72
lainnya. Pemilihan strategi oleh masing-masing pemain bergantung pada harapan
dan tingkat rasa saling percaya yang dimilikinya.
Berdasarkan ganjaran optimum yang ingin dicapai maka dapat ditentukan
keseimbangan yang dikenal dengan nama Nash Equilibrium yaitu sekelompok
strategi, satu untuk setiap pelaku (pemain) sedemikian sehingga tidak ada pemain
yang memiliki insentif untuk mengubah strategi secara sepihak. Pemain berada
dalam keseimbangan (equilibrium) jika perubahan strategi yang dilakukan oleh
salah satu dari mereka mengarahkannya pada ganjaran yang lebih buruk
dibandingkan dengan mempertahankan strategi sebelumnya.
A
Masyarakat
Masyarakat
R
Masyarakat
S
P
E
M
K
A
B
A
Pemprov
R
S
Pemprov
Pemprov
Analisis Game antara pemerintah
kabupaten dan provinsi
Analisis Game antara pemerintah kabupaten
dan masyarakat
Gambar 12 Interaksi antar Stake Holder dalam Pembangunan Modal Sosial
Secara rinci, Extensive Norm-game dalam penelitian ini akan
dikembangkan dengan tiga pelaku dan dua strategi, yaitu bekerjasama
(cooperative)
atau
tidak
bekerjasama
(non-cooperative).
Bekerjasama
membangun modal sosial di Bali akan memberi keuntungan berupa terciptanya
keadaan yang aman sehingga masyarakat maupun pemerintah dapat melaksanakan
proses produksinya dengan baik. Sebaliknya keputusan untuk tidak bekerjasama
akan melemahkan sistem kontrol dan memungkinkan terjadi keadaan yang tidak
aman untuk melakukan proses produktif.
Selama ini masyarakat, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota telah
melakukan investasi modal sosial namun terkesan tanpa koordinasi sehingga
masyarakat di Kabupaten Badung, Gianyar dan Kota Denpasar memperoleh
73
bantuan yang lebih tinggi dibandingkan kabupaten lainnya.
Kesenjangan ini
tentunya akan berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat membangun modal
sosialnya. Secara sederhana, interaksi dua pemain (masyarakat dan pemkab)
dalam membangun modal sosial digambarkan pada Tabel 12.
Tabel 12 Ganjaran Pemerintah Kabupaten dan Masyarakat Berdasarkan Alokasi
Bantuan Dana Sosial untuk Masing Masing Desa Adat di Bali, Tahun
2005
Pemerintah
Kabupaten
Tidak Bekerjasama
Bekerjasama
Masyarakat
Bekerjasama
Jembrana (18979.23 ; 347.870)
Karangasem (37000 ; 83100)
Badung (56097.07 ; 516.540)
Gianyar (34440.31 ; 233.90)
Jembrana (630 ; 347.870)
Karangasem (1850 ; 83100)
Badung (11900 ; 516.540)
Gianyar (3192 ; 233.90)
Tidak Bekerjasama
Jembrana (18979.23 ; 99.045)
Karangasem (37000 ; 81)
Badung (56097.07 ; 190.059)
Gianyar (34440.31 ; 114.157)
Jembrana (630 ; 99.045)
Karangasem ( 1850 ; 81)
Badung (11900 ; 190.059)
Gianyar ( 3192 ; 114.157)
Sumber: Data Primer 2005 dan Data Bali Membangun, 2005
Cetak Biru adalah ganjaran (payoff ) pemerintah kabupaten
Masyarakat dan pemerintah kabupaten (pemkab) atau provinsi (pemprov)
masing-masing hanya memiliki dua strategi yaitu bekerjasama (C) atau tidak
bekerjasama (NC) dengan ganjaran tertentu. Apabila pemkab memilih bermain
dengan strategi X2 (NC) maka masyarakat akan berespons dengan strategi Y2
(NC). Hal tersebut akan menyebabkan kedua pemain berada dalam kondisi Nash
Equilibrium dimana masing-masing pemain tidak memiliki insentif untuk
merubah strategi permainannya.
Penilaian ganjaran dapat dilakukan secara endogen dan eksogen.
Ganjaran yang ditentukan secara endogen sangat bergantung pada perilaku
masing-masing pihak, dimana ganjaran satu pihak akan dipengaruhi oleh ganjaran
pihak lawan. Ganjaran (payoff) pada kasus membangun modal sosial ditentukan
secara eksogen berdasarkan pada biaya sosial yang dikeluarkan serta penerimaan
masing-masing pihak.
Keputusan masing-masing pihak untuk membangun
kerjasama berarti bersedia menanggung biaya sosial yang diperlukan dalam
74
membangun interaksi tersebut. Keputusan masing-masing pemain untuk bersikap
altruism akan memberikan tambahan pendapatan, sebaliknya keputusan untuk
tidak bekerjasama (selfish) akan menyebabkan ketiadaan informasi yang simetris
dan timbunya rasa saling mencurigai sehingga menghambat terbangunnya modal
sosial serta berkembangnya konflik sehingga menimbulkan rasa ketidaknyaman
yang akhirnya menekan aktivitas ekonomi wilayah maupun rumah tangga.
KINERJA PEMBANGUNAN SOSIAL EKONOMI DI PROVINSI BALI
Provinsi Bali terdiri atas delapan kabupaten dan satu kota, merupakan
salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki luas wilayah relatif kecil yaitu
hanya 0.29 persen dari seluruh luas wilayah Indonesia. Luas wilayah masingmasing kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Bali berturut-turut adalah
Kabupaten Buleleng dengan luas terbesar yaitu 1365.88 km2 atau 24.25 persen
dari luas provinsi, diikuti oleh Jembrana 841.80 km2 (14.94 %); Tabanan 839.30
km2 (14.90%) dan Karangasem 839.54 km2 (14.90%), sedangkan wilayah lainnya
adalah Kabupaten Badung 418.52 km2, Gianyar 368 km2, Klungkung 315 km2,
Bangli 520.81 km2 dan Kota Denpasar 123.98 km2; dengan luas total kelima
wilayah tersebut sebesar 31.01 persen dari luas provinsi.
Sebagai daerah tujuan wisata, Provinsi Bali menghadapi ancaman
berkaitan dengan dampak negatif dari akulturasi budaya yang dibawa oleh
wisatawan luar negeri. Upaya menekan dampak negatif tersebut sesungguhnya
dapat dilakukan sejak awal dengan memetakan terlebih dahulu keadaan sosial
budaya saat ini dan perubahan yang telah terjadi. Pemetaan tersebut diharapkan
dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penetapan kebijakan pembangunan dan
memberi arah yang jelas terhadap tujuan pembangunan yang ingin dicapai di masa
yang akan datang. Karakteristik sosial budaya serta norma masyarakat tentunya
tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor seperti letak geografis, topografis
serta sejarah terbangunnya masyarakat tersebut.
Bali Utara dan Bali Selatan dipisahkan oleh pegunungan yang
membentang di tengah-tengah Pulau, memanjang dari barat ke timur.
Berdasarkan perbedaan topografis, Bali dapat dibagi atas wilayah datar (0-2%)
seluas 106 775 hektar, bergelombang (diatas 2-15%) seluas 124051 hektar, curam
(diatas 15-40%) seluas 171932 hektar dan sangat curam (di atas 40%) seluas
160908 hektar (Profile Daerah Bali, 2003).
Letak geografis dan topografis wilayah berkaitan erat dengan mata
pencaharian utama penduduk yang menetap di wilayah tersebut. Sebagian besar
perdesaan dan perkotaan di Bali terletak di dataran dengan topografis datar.
Keberagaman lokasi perdesaan dan perkotaan menyebabkan mata pencaharian
76
masyarakat menjadi sangat beragam sesuai dengan potensi sosial, ekonomi dan
budaya wilayahnya. Mata pencaharian utama penduduk di Bali adalah pegawai
negeri sipil, petani, penyedia jasa pariwisata, nelayan, pedagang, maupun pekerja
seni.
Meskipun Bali dikenal mancanegara karena kepariwisataannya tetapi
sektor pertanian masih merupakan sektor andalan bagi sebagian besar masyarakat.
Hal ini disebabkan oleh (1) tingginya nilai sosial lahan yang membatasi pemilik
lahan untuk menjual seluruh lahannya; (2) keterikatan dan tanggung jawab yang
tinggi terhadap keberadaan sanggah1 yang berada di desa asal; dan (3) sanksi
moral bagi individu yang menjual lahan warisan. Bagi masyarakat di Bali, lahan
pertanian merupakan warisan turun temurun yang harus dijaga karena memiliki
nilai-nilai religius. Selain itu, tingginya produktivitas lahan menjadi alasan lain
yang menyebabkan masih berperannya sektor pertanian.
Keberhasilan
pembangunan pertanian di Bali tidak terlepas dari peran subak serta tersedianya
prasana dan sarana transportasi yang memudahkan proses pemasaran produk
pertanian (Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 1999).
Sebesar 79.45 persen desa di Provinsi Bali masih menjadikan pertanian
tanaman pangan sebagai sumber mata pencaharian utama dan hanya 9.18 persen
desa bergantung pada aktivitas jasa pariwisata yang terkonsentrasi di Kota
Denpasar dan Kabupaten Badung. Perbedaan mata pencaharian utama masingmasing desa, cenderung mendorong munculnya ketimpangan pendapatan antar
golongan masyarakat maupun antar wilayah kabupaten/kota sebagai contoh
kesenjangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di berbagai kabupaten (Kabupaten
Badung, Gianyar dan Kota Denpasar dibandingkan dengan Kabupaten Bangli,
Karangasem dan Jembrana) (Gambar 13).
Berdasarkan data Tabel Input-Output Bali tahun 1998, backward effect
sektor pariwisata di Bali memang relatif tinggi terutama kemampuannya
menyerap produk-produk pertanian dan industri makanan minuman, namun di sisi
lain terjadi kebocoran wilayah (regional leakages) yang tinggi pula.
Upaya
penyediaan komoditas pendukung kepariwisataan tersebut belum maksimal,
ditunjukkan dari banyaknya produk pertanian yang dihasilkan di luar wilayah
1
Tempat persembahyangan keluarga batih yang beragama Hindu
77
Provinsi Bali terutama Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat ataupun
impor luar negeri (Dinas Perdagangan Provinsi Bali, 2004). Salah satu penyebab
rendahnya penyerapan hasil-hasil pertanian Bali di sektor pariwisata adalah
Kontribusi PAD (%)
rendahnya mutu produk dan kurangnya diversifikasi produk pertanian di Bali.
70
60
50
40
30
20
10
0
0.00
Badung
Denpasar
Gianyar
Klungkung
20.00
40.00
60.00
Tabanan
Karangasem
Buleleng JembranaBangli
80.00
100.00
120.00
% Desa/Kota dengan Mata Pencaharian Pertanian
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Bangli
Karangasem
Buleleng
Denpasar
Klungkung
Jumlah KK Miskin per
1000 Penduduk
Gambar 13a Kontribusi PAD dan Persentase Perdesaan/Perkotaan dengan Mata
Pencaharian Pertanian, Tahun 2004
100
Karangasem
80
60
Jembrana
Buleleng
Klungkung
Tabanan
Gianyar
Bangli Badung
40
20
0
0
5
10
Denpasar
15
20
25
30
35
40
Jum lah Perkotaan per 100 km 2 Luas Wilayah
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Bangli
Karangasem
Buleleng
Denpasar
Klungkung
Sumber: Statistik Potensi Desa Provinsi Bali, 2003; Bali Membangun 2005
Gambar 13b Banyaknya Perkotaan dan Jumlah Kemiskinan di Bali,
Tahun 2004
Transformasi struktur perekonomian Bali ternyata tidak disertai dengan
transformasi struktur ketenagakerjaan.
Oleh karenanya terdapat ketimpangan
struktur ketenagakerjaan. Sektor kepariwisataan tidak mampu menyerap seluruh
tenaga kerja sektor pertanian karena karakteristik tenaga kerja yang dibutuhkan di
sektor kepariwisataan sangat berbeda dengan karakteristik tenaga kerja pertanian.
78
Norma dan budaya yang berkembang di sektor pertanian sangat terkait dengan
ajaran Agama Hindu sedangkan di sektor pariwisata berkaitan dengan nilai-nilai
global dan relatif kurang menyerap nilai-nilai tradisional sebagai salah satu
keunikan Bali. Hal tersebut menjadi satu faktor penghambat berjalannya proses
transformasi ketenagakerjaan.
Akhirnya, pengembangan kawasan wisata di
daerah pertanian mendorong terjadinya pengangguran dan mempercepat proses
pemiskinan bagi kelompok-kelompok tertentu.
Berbeda dengan wilayah kabupaten, Kota Denpasar tidak lagi memiliki
kawasan perdesaan dan seluruh wilayahnya merupakan perkotaan padahal
wilayah kabupaten lain masih didominasi oleh wilayah perdesaan dengan mata
pencaharian utama di sektor pertanian. Masyarakat di Kota Denpasar memiliki
mata pencaharian yang lebih beragam seperti pedagang besar dan eceran, jasa
pariwisata maupun industri pengolahan. Perbedaan mata pencaharian tidak saja
mempengaruhi kondisi ekonomi tetapi juga kehidupan sosial, kehidupan
berorganisasi dan berkelompok dari masing-masing masyarakat di Bali.
Karakteristik Sosial
Karakteristik sosial menekankan pada kehidupan sosial masyarakat yang
mencakup aktivitas masyarakat dalam organisasi sosial kemasyarakatan,
kelompok profesi, kelompok seni dan olah raga yang tumbuh dan berkembang di
Bali. Karakteristik sosial ini berkaitan erat dengan berkembangnya modal sosial
dan berpengaruh pula pada proses pembangunan ekonomi wilayah. Beberapa
organisasi sosial kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang di Bali adalah
desa adat, subak, subak abian serta sekaa (sekehe) kesenian dan olah raga.
Kelompok-kelompok yang tumbuh dan berkembang dalam suatu
masyarakat menjadi wadah untuk berinteraksi bagi anggota masyarakat. Interaksi
yang intensif dan berulang-ulang tersebut dapat menekan terjadinya Prisonner’s
dilemma (dilema tahanan) yaitu keadaan saling mencurigai yang mengarah pada
pengambilan keputusan-keputusan yang merugikan semua pihak.
Oleh karena
itu, pembahasan kelompok menjadi penting dalam analisis modal sosial, terutama
dalam kaitannya dengan pengukuran modal sosial masyarakat yang mencakup
keterlibatan masyarakat dalam kelompok tersebut.
79
Di Bali terdapat perbedaan bentuk dan fungsi antara desa dinas dan desa
pakraman yang kemudian terbagi dalam struktur yang lebih kecil yaitu banjar
dinas dan banjar pakraman. Desa dan banjar dinas berkaitan dengan semua
aktivitas administrasi kependudukan sedangkan desa dan banjar pakraman
berkaitan dengan kegiatan keagamaan. Luasan wilayah desa atau banjar dinas
dapat saja tidak sama dengan desa dan banjar pakraman.
Desa dan banjar
pakraman juga seringkali dikenal dengan sebutan desa dan banjar adat.
Desa pakraman memiliki ciri-ciri sebuah desa dan berperan seperti
sepasang suami-istri dengan desa dinas. Desa pakraman terdiri atas satu atau
beberapa banjar pakraman. Pimpinan desa pakraman dikenal dengan nama
bendesa adat dan dipilih oleh krama desa pakraman. Kekuasaan tertinggi berada
pada sangkep (paum, parum)2. Perbedaan mendasar antara desa dinas dan desa
pakraman adalah anggota desa pakraman merupakan penyungsung (anggota) pura
kahyangan tiga yang sama, sedangkan anggota desa dinas tidak memiliki
keterikatan tersebut. Keterikatan dalam desa/banjar pakraman umumnya terjadi
karena garis keturunan patrilineal, walaupun tidak menutup kemungkinan adanya
keanggotaan desa pakraman yang disebabkan oleh tempat domisili (krama
tamiu).
Desa pakraman telah dibangun sejak jaman Bali Kuna, tepatnya sejak
kedatangan Mahayogi Markandya Purana yang diperkirakan terjadi pada abad ke8. Kata keraman dalam Prasasti Bwahan tahun 916 Çaka3 diartikan sebagai
kelompok masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu. Pola kehidupan
masyarakat yang disebut pakraman ini lebih dimantapkan oleh Mpu Kuturan yaitu
seorang rohaniawan yang juga ahli tatanegara. Mpu Kuturan menata kehidupan
masyarakat dalam desa pakraman dan memperkenalkan kelompok-kelompok
yang lebih kecil sesuai dengan profesinya seperti banjar, subak maupun sekaasekaa lainnya. Desa ataupun banjar pakraman berperan dalam membina umat
Hindu terkait dengan aktivitas (upakara-upakara) adat dan keagamaan.
Dalam pemahaman modal sosial, interaksi intensif antar individu dalam
desa/banjar pakraman akan membangun modal sosial mengikat (bonding social
capital) karena desa/banjar pakraman merupakan kelompok yang homogen
2
3
Rapat anggota desa pakraman
Tahun Çaka berbeda 79 tahun dari tahun Masehi.
80
ditinjau dari nilai dan norma yang dianutnya.
Semakin banyak waktu yang
tercurah untuk membangun modal sosial dalam desa adat (bonding social capital)
akan mengurangi kesempatan untuk membangun modal sosial dengan kelompok
lain yaitu modal sosial menyambung (bridging social capital).
Jumlah Desa Dinas dan Desa Pakraman Tahun 2004
Jumlah Desa Pakraman
400
350
Tabanan
300
Gianyar
250
200
Karangasem
Buleleng
Bangli
150
Badung
100
50
Klungkung
Jembrana
Denpasar
0
0
20
Jembrana
40
Tabanan
Badung
60
80
100
Jumlah Desa Dinas
Gianyar
Klungkung
Bangli
120
Karangasem
Buleleng
140
160
Denpasar
Sumber: Data Bali Membangun, 2005
Gambar 14 Jumlah Desa Dinas dan Desa Pakraman di Bali, Tahun 2004
Organisasi lain yang juga berkembang di Bali, khususnya dalam
masyarakat pertanian adalah subak. Keberadaan subak sangat bergantung pada
ketersediaan lahan pertanian. Subak dibedakan atas subak di lahan sawah dan
tegalan. Organisasi subak yang telah dikenal secara luas adalah subak yang ada di
lahan sawah, sedangkan subak di tegalan (lahan kering) dikenal dengan nama
subak abian, namun kedua organisasi tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu
meningkatkan hasil pertanian.
Nilai-nilai dalam subak telah diakui keefektifannya dalam mengelola
sumber daya air untuk aktivitas pertanian. Anggota subak adalah petani yang
mengolah lahan pertanian dalam satu aliran pengairan.
Nilai-nilai bersama
(collectivism) mengikat anggota subak dengan tujuan bersama yaitu memelihara
kelestarian sistem pengairan tersebut. Permasalahan ataupun konflik yang terjadi
antar anggota subak ini diselesaikan sesuai dengan awig-awig maupun sima yang
berlaku. Jumlah organisasi subak terbesar ada di Kabupaten Gianyar (515 subak),
81
sedangkan Kabupaten Tabanan, yang dikenal sebagai ”lumbung padi” di Bali,
hanya memiliki 278 organisasi subak.
Tingginya jumlah subak dapat mendorong terbangunnya interaksi yang
intensif antar petani sehingga terjadi arus informasi yang lebih merata. Terdapat
kecenderungan bahwa semakin tinggi jumlah subak (per 1000 ha lahan sawah),
maka semakin tinggi tingkat produktivitas lahan sawah, kecuali di wilayah
Kabupaten Buleleng (Bali Utara) yang memiliki tingkat kesuburan lahan sawah
relatif lebih rendah dibandingkan dengan kabupaten lain yang berada di Bali
Produktivitas Lahan Sawah
Selatan.
61
60
Gianyar
59
Denpasar
58
57
Karangasem
Badung
56
Klungkung
Jembrana
55
54
Tabanan
53
52
Bangli
51
50
0.00
2.00
4.00
6.00
8.00
10.00
Buleleng
12.00
14.00
16.00
18.00
Jumlah Subak per 1000 Ha Lahan Sawah
Jembrana
Tabanan
Badung
Denpasar
Gianyar
Klungkung
Bangli
Karangasem
Buleleng
Sumber: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, 2005
Gambar 15 Jumlah Subak per 1000 Ha Lahan sawah dan Produktivitas di
Kabupaten/Kota di Bali, Tahun 2004
Selain subak, organisasi yang masih aktif di Bali khususnya di perdesaan
adalah sekaa yaitu kelompok orang yang memiliki aktivitas bersama, baik bersifat
temporer maupun permanen, seperti sekaa tari, sekaa gong dan sekaa gaguritan
serta banyak lainnya yang memiliki aktivitas kesenian; sekaa nyamuh, sekaa
semal, sekaa nandur, sekaa nampah yang bersifat sosial produktif berkaitan
dengan aktivitas menjaga kelestarian lingkungan.
Aktivitas sekaa di bidang
budaya dan kesenian bersifat formal sehingga memperoleh bantuan dana dari
pemerintah melalui Dinas Kebudayaan sebaliknya dengan sekaa yang bersifat
informal dimana sebagian besar anggota sekaa ini merupakan anggota dadia4.
4
Tempat persembahyangan bersama dalam lingkup keluarga besar.
82
Jumlah per 1000 penduduk
Jumlah Organisasi per 1000 Penduduk di Bali, 2004
5
4
3
2
1
0
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Klungkung
Bangli
Karang
Asem
Buleleng
Kota
Denpasar
Tipe organisasi di masing-masing Kabupaten/kota
Total Organisasi Sosial per 1000 penduduk
Jumlah Desa Adat Per 1000 penduduk
Sumber: Data Bali Membangun, 2005
Gambar 16 Jumlah Organisasi Sosial dan Desa Pakraman per 1000 penduduk
di Bali, Tahun 2004
Pada umumnya, sekaa yang bersifat formal memperoleh pembinaan dari
pemerintah kabupaten maupun provinsi.
Kelompok kesenian paling banyak
berkembang di Kabupaten Gianyar, daerah kesenian dan kebudayaan paling
terkenal di Bali, sedangkan kelompok olah raga berkembang pesat di dua
kabupaten yaitu Tabanan dan Buleleng. Kabupaten Jembrana merupakan wilayah
dengan organisasi seni per 1000 penduduk yang terendah (0.83) sedangkan Kota
Denpasar merupakan wilayah dengan jumlah organisasi kepemudaan (Karang
Taruna) yang paling rendah. Secara umum, kepadatan organisasi di Denpasar
adalah yang terkecil. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh banyak masyarakat
yang berstatus pendatang dari kabupaten maupun provinsi lain yang telah terikat
dengan organisasi di wilayah asalnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
penelitian Knack dan Keefer (1997) di 29 negara-negara Eropa yang menyatakan
bahwa migrasi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap modal sosial
terutama kepadatan organisasinya.
Modal sosial di wilayah yang didominasi
pendatang (migran) relatif lebih lemah.
Bali tidak terlepas pula dari masalah kesejahteraan sosial masyarakatnya.
Pertumbuhan PDRB yang relatif tinggi ternyata disertai dengan peningkatan
masalah sosial seperti penyalahgunaan narkoba, pekerja seks komersial, tuna
wisma
serta
kriminalitas.
Terbatasnya
kemampuan
pemerintah
untuk
83
menanggulangi masalah sosial tersebut menyebabkan masalah sosial terus
menerus bertambah dari tahun ke tahun. Selama kurun waktu lima tahun sejak
tahun 1999 hingga 2003, pertambahan jumlah keluarga miskin cukup signifikan
yaitu 147.24 persen sedangkan pertumbuhan penduduk sebesar 10.92 persen dan
Jumlah KK Miskin per 1000
Penduduk
pertumbuhan PDRB sebesar 124 persen (Data Bali Membangun, 2004).
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Karangasem
Jembrana
Buleleng
Klungkung
0
10
20
30
40
Gianyar
Badung
Tabanan
Kota Denpasar
Bangli
50
60
70
80
90
Pengeluaran untuk Jasa Publik (%)
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Bangli
Karang Asem
Buleleng
Kota Denpasar
Klungkung
Sumber: Bali dalam Angka dan Bali Membangun, 2004
Gambar 17
Persentase Pengeluaran untuk Jasa Publik dan Jumlah KK Miskin
per Kabupaten di Bali, Tahun 2004
Kemiskinan adalah fenomena yang terjadi di setiap wilayah. Grootaert
(1999) menyatakan bahwa peluang terjadinya kemiskinan dapat ditekan melalui
modal sosial terutama adanya jaringan kerja yang kuat antar masyarakat.
Terbangunnya jaringan kerja meningkatkan akses seseorang terhadap lembagalembaga keuangan baik formal maupun informal dan juga meningkatkan akses
terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan yang akhirnya memutus rantai
kemiskinan melalui peningkatan kualitas hidup. Bagaimanapun, jaringan kerja
yang efektif akan mampu mengatasi kemiskinan apabila terbangun rasa percaya
dan norma yang kuat.
Collier (1998) menyatakan padatnya penduduk di suatu wilayah akan
meningkatkan interaksi antar mereka sehingga terbangun modal sosial yang kuat.
Sebaliknya, rendahnya interaksi dapat melemahkan fungsi sistem kontrol sosial
masyarakat. Namun kenyataan di Kota Denpasar bertentangan dengan pendapat
Collier. Kota Denpasar memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Bali namun
84
disertai pula oleh tingginya angka kriminalitas per 1000 penduduk yang
menunjukkan lemahnya sistem kontrol.
Jumlah tindakan kriminalitas tertinggi
adalah pencurian diikuti dengan penganiayaan termasuk pencurian benda-benda
yang disakralkan oleh umat Hindu. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan hasil
penelitian Knack dan Keefer (1997).
Jumlah Konflik per 1000
Penduduk
4
Kota Denpasar
3.5
3
2.5
2
1.5
Buleleng
1
Bangli
Tabanan
Badung
Karang Asem Gianyar Klungkung
Jembrana
0.5
0
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5
Organisasi Sosial per 1000 Penduduk
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Klungkung
Bangli
Karang Asem
Buleleng
Kota Denpasar
Sumber: Data Bali Membangun, 2005
Gambar 18 Jumlah Konflik dan Organisasi Sosial per 1000 Penduduk di Bali,
Tahun 2004
Indikator lain yang dapat menunjukkan modal sosial di suatu wilayah
adalah kuantitas konflik yang terjadi di wilayah tersebut.
Konflik yang
diselesaikan melalui lembaga formal seperti pengadilan menunjukkan bahwa
peran sosial pemimpin masyarakat mulai melemah. Di Bali, konflik tidak hanya
terjadi antar masyarakat namun juga antara masyarakat dengan pemerintah, antar
banjar adat, antar partai politik maupun antar kelompok etnis. Hingga tahun 2007,
ada kecenderungan peningkatan jumlah konflik dan kriminalitas seperti terjadinya
dua kali pemboman tahun 2002 dan 2004 dan konflik antar kelompok agama yang
berbeda bahkan ada konflik antar desa adat yang memuncak sehingga terjadi
pengrusakan rumah pada saat hari raya Nyepi tahun 2005 - 2007.
Sesungguhnya sistem keamanan lingkungan di Bali tidak saja dilakukan
oleh pemerintah tetapi juga dilakukan oleh desa pakraman yang dikenal dengan
istilah pecalang. Keikutsertaan desa pakraman menjaga keamanan di Bali melalui
keberadaan pecalang tersebut diharapkan dapat meningkatkan sistem kontrol
85
terhadap seluruh aktivitas penduduk. Hubungan antara jumlah desa pakraman dan
jumlah konflik yang terjadi di seluruh kabupaten/kota di Bali Tahun 2004
disajikan pada Gambar 19. Ada kecenderungan bahwa semakin tinggi jumlah
desa pakraman semakin rendah jumlah konflik yang terjadi.
Selama ini,
pembentukan desa pakraman memang didasarkan atas keberadaan pura
Khayangan Tiga yang pada umumnya lebih banyak terdapat di kabupatenkabupaten yang belum berkembang di bandingkan dengan wilayah yang telah
berkembang.
Jumlah Konflik
Jumlah Desa Pakraman dan Jumlah Konflik
2000
Denpasar
1800
1600
1400
1200
1000
800
600
Bangli
400
Badung
200
Jembrana
Klungkung
0
0
50
100
150
Buleleng
Karangasem Gianyar
200
250
300
Tabanan
350
400
Jumlah Desa Pakraman
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Klungkung
Bangli
Karangasem
Buleleng
Denpasar
Gambar 19 Jumlah Desa Pakraman dan Jumlah Konflik di Bali Tahun 2004
Karakteristik Ekonomi
Kinerja perekonomian digambarkan melalui karakteristik ekonomi
wilayah yang telah dicapai hingga tahun 2004, meliputi Pendapatan Asli Daerah,
Dana Perimbangan, Pendapatan Domestik Regional Bruto Belanja Pemerintah
untuk Pelayanan Publik khususnya modal pembangunan. Kinerja pemerintah juga
digambarkan oleh rataan pendapatan penduduk serta persentase pendapatan yang
dapat dinikmati oleh 40 persen penduduk berpendapatan terendah, 40 persen
penduduk pendapatan menengah serta 20 persen penduduk berpendapatan
tertinggi.
86
Sumber pembiayaan pembangunan Provinsi Bali adalah pendapatan asli
daerah (PAD) yang terdiri atas pajak, retribusi dan pendapatan perusahaan daerah.
Kontribusi PAD provinsi terhadap penerimaan daerah relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan kontribusi PAD kabupaten.
Kontribusi PAD terhadap
penerimaan kabupaten yang tertinggi terjadi di Kabupaten Badung sedangkan
terendah di Kabupaten Bangli. Hal ini berkaitan erat dengan sumber penerimaan
pajak. Kabupaten Badung, Gianyar dan Kota Denpasar memperoleh penerimaan
dari pajak hotel dan restoran yaitu aktivitas yang sangat berkaitan dengan
perkembangan jasa kepariwisataan. Sebaliknya dengan kabupaten-kabupaten lain
yang lebih mengandalkan sektor primer seperti pertanian, perikanan dan
perkebunan.
Tabel 13
Kabupaten/Kota
Karakteristik Ekonomi Wilayah Bali, 2004
Kontribusi PAD
(%)
Pengeluaran
(000 Rp)
Jembrana
4.70
237 008 548
Persentase
Pengeluaran Jasa
Publik (%)
31.39
Tabanan
13.60
363 824 562
29.05
Badung
57.90
652 953 580
62.65
Gianyar
16.65
353 748 753
70.75
Klungkung
6.47
199 019 168
81.30
Bangli
4.06
202 700 708
68.32
Karangasem
7.80
282 930 390
76.99
Buleleng
5.64
372 711 068
84.96
Denpasar
26.00
397 450 647
32.51
Bali
69.39
840 372 564
51.70
Sumber: Bali dalam Angka, 2005
Pengeluaran pemerintah yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat
adalah pengeluaran untuk pelayanan publik. Kabupaten Jembrana, Tabanan dan
Kota Denpasar hanya mengalokasikan sejumlah kecil penerimaannya untuk
pelayanan publik dan lainnya untuk biaya pegawai padahal sesungguhnya
diharapkan bahwa belanja pelayanan publik seharusnya dapat lebih ditingkatkan
dari keadaan sekarang. Ketersediaan jasa pelayanan publik yang memadai akan
menjadi salah satu indikator terbangunnya modal sosial yang kuat seperti
dinyatakan Putnam (1995).
87
Karakteristik Kesejahteraan
Karakteristik kesejahteraan masyarakat diukur dari indikator tingkat
pendapatan dan distribusi pendapatan di masing-masing wilayah penelitian.
Masyarakat di Kabupaten Karangasem memiliki rataan pendapatan terendah
dibandingkan dengan ketiga kabupaten lainnya selama lima tahun terakhir.
Sebaliknya Kabupaten Badung selalu memiliki rataan pendapatan tertinggi tidak
saja dibandingkan dengan ketiga kabupaten yang merupakan wilayah penelitian
tetapi juga di Bali.
Tingginya rataan pendapatan masyarakat di Kabupaten
Badung berkaitan dengan produk jasa yang dihasilkan oleh sebagian besar
masyarakat mengingat Kabupaten Badung memang telah terkenal di seluruh
mancanegara sebagai daerah tujuan wisata yang paling diminati di Bali maupun di
Indonesia.
Gini Ratio di Wilayah Penelitian
0.4
0.35
Gini Ratio
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Tahun
Jembrana
Tabanan
Badung
Denpasar
Bangli
Klungkung
Buleleng
Karangasem
Gianyar
Sumber: BPS, 2005
Gambar 20 Gini Ratio Kabupaten/Kota di Bali, Tahun 2005
Seluruh kabupaten di Provinsi Bali memiliki distribusi pendapatan yang
relatif merata. Kabupaten Badung, sebagai kabupaten terkaya dengan rataan
pendapatan penduduk tertinggi ternyata memiliki tingkat pemerataan yang
terendah.
Dengan kata lain, 40 persen penduduk berpenghasilan terendah di
Kabupaten Badung menikmati persentase terkecil dari jumlah pendapatan yang
ada. Keadaan tersebut menjadi ironis mengingat Kabupaten Badung memiliki
bawaan sumber daya alam dan sumber daya fisik buatan manusia yang relatif
88
berlimpah. Adanya kesenjangan yang tinggi antar golongan masyarakat
penghasilan rendah, sedang dan tinggi menunjukkan bahwa telah terjadi
pengelolaan pemerintahan dan pembangunan yang bias pada daerah, kelompok
dan golongan tertentu.
Salah satu faktor yang menyebabkan kesenjangan pendapatan adalah
perbedaan jenis mata pencaharian penduduk. Pendapatan penduduk yang memiliki
mata pencaharian di sektor pertanian relatif lebih rendah dibandingkan dengan
sektor jasa mengingat nilai produk pertanian memang lebih rendah. Selain itu,
sebagian besar petani di Bali hanya mengusahakan tanaman pangan, hortikultura
dan perkebunan secara tradisional. Di sisi lain, keterkaitan pertanian tanaman
pangan dengan pariwisata relatif lemah akibat rendahnya kualitas produk
pertanian yang dihasilkan masyarakat sehingga tidak mampu memenuhi standar
kualitas yang disyaratkan oleh sektor pariwisata.
Karakteristik Spesifik Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian dikelompokkan atas: (1) wilayah yang belum
berkembang dan (2) wilayah maju, didasarkan atas karakteristik ekonomi yang
telah dicapai, namun masing-masing kabupaten tetap memiliki karakteristik
spesifik yang berbeda dengan kabupaten lainnya. Karakteristik spesifik tersebut
berkaitan erat dengan keadaan geografis, topografis maupun lokasinya terhadap
pusat pemerintahan
Kabupaten Jembrana
Daerah penelitian di Kabupaten Jembrana meliputi kecamatan Mendoyo
dan Kecamatan Negara. Dua desa di Kecamatan Negara yang dipilih sebagai desa
penelitian dalah Dauh Waru dan Sangkar Agung sedangkan dua desa lainnya di
Kecamatan Mendoyo adalah Yeh Embang dan Yeh Embang Kangin. Secara
geografis, kondisi wilayah penelitian di Kabupaten Jembrana seluruhnya
merupakan dataran rendah, dimana dua desa terletak di daerah pantai sedangkan
dua desa lainnya bukan pantai.
Mata pencaharian utama penduduk Kabupaten Jembrana sebagian besar di sektor
pertanian. Oleh karena itu, organisasi yang dominan di kabupaten ini adalah
organisasi tradisional subak. Jumlah subak di Kecamatan Negara sebanyak 37
89
dengan jumlah anggota 4608 orang sedangkan di Kecamatan Mendoyo 17 subak
dengan anggota sejumlah 3819. Komoditi yang dihasilkan sangat beragam sesuai
dengan ketersediaan air. Secara umum, petani menanami lahannya sebanyak satu
hingga dua kali setahun kemudian menyelinginya dengan sayur-sayuran atau
palawija. Namun di beberapa tempat di desa Yeh Embang dan Yeh Embang
Kangin hanya menanam padi satu hingga dua kali setahun dan setelah itu
dibiarkan bero.
Tabel 14 Karakteristik Wilayah Penelitian di Kabupaten Jembrana, 2005
Karakteristik
Kondisi
Daerah
Letak
Desa
(km)
Jumlah
penduduk
(org)
Jumlah
Rumah
Tangga
(KK)
Total
area
2
(km )
jarak dari
Ibukota
Kecamatan
Kecamatan
Desa
Negara
Dauh Waru
Dataran
rendah
Bukan
pantai
6920
1752
10.76
0
Sangkaragung
Dataran
rendah
Bukan
pantai
4227
1058
5.27
5
Yeh Embang
Dataran
rendah
pantai
6775
1787
35.49
3
Yeh Embang
Kangin
Dataran
rendah
pantai
3665
1004
45.79
5
Mendoyo
Sumber: Monografi Desa, 2004; Hasil wawancara dengan Bendesa, 2005
Kebijakan pertanian dilakukan pemerintah kabupaten melalui Dinas
Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (Dinas Perkutut). Ada dua kebijakan yang
ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan dan direspons positif oleh petani yaitu
kebijakan penetapan harga dasar dan kebijakan penanaman tanaman alternatif
(beras ketan) yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Selain itu, juga diberlakukan
kebijakan bebas biaya pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat di Kabupaten
Jembrana.
Bagaimanapun,
kebijakan-kebijakan
populer
yang
ditetapkan
pemerintah tersebut ditujukan untuk meningkatkan rasa percaya masyarakat
terhadap para penyelenggara pemerintahan di tingkat kabupaten.
Di daerah penelitian, fasilitas publik yang tersedia untuk masyarakat
perdesaan maupun perkotaan meliputi prasarana dan sarana transportasi yang
memadai hingga seluruh desa dapat dicapai dengan moda transportasi mobil dan
motor, prasarana dan sarana kesehatan seperti puskesmas terdapat di Dauh Waru
sedangkan puskesmas pembantu terdapat di Sangkar Agung dan Yeh Embang.
90
Kantor pos terdapat di Dauh Waru, penerangan dengan listrik sudah tersedia di
seluruh desa, sedangkan media informasi (radio, televisi, surat kabar) dan
telekomunikasi juga telah tersedia di seluruh daerah penelitian.
Partisipasi masyarakat dalam setiap aktivitas bersama masih tinggi karena
takut menanggung sanksi sosial dan sanksi adat yang dikenakan apabila tidak
berpartisipasi.
Aktivitas bersama yang rutin dilakukan adalah ayahan yaitu
kegiatan untuk menjaga kelestarian saluran irigasi dan ketersediaan air pertanian.
Selain itu, gotong royong untuk menjaga kebersihan lingkungan juga rutin
diadakan, sedangkan partisipasi terhadap keluarga yang mengalami musibah
kematian dilakukan melalui peturunan5 berupa sumbangan beras, kelapa dan di
beberapa tempat berupa upakara untuk pembakaran mayat.
Kabupaten Badung
Kabupaten Badung adalah kabupaten dengan PAD dan PDRB tertinggi di
Bali. Berbeda dengan kabupaten lainnya, tiga wilayah kecamatan dipilih untuk
menjadi sampel karena karakteristik geografis, topografis, demografis dan sosial
ekonomi Kabupaten Badung sangat bervariasi yaitu Kecamatan Kuta Selatan,
Kuta dan Petang.
Dua kecamatan pertama merupakan dataran rendah yang
terletak di daerah pantai sedangkan kecamatan terakhir merupakan dataran tinggi
dan terletak di daerah pegunungan.
Karakteristik geografis dan topografis
kecamatan yang berada di daerah pantai memang relatif sama namun mata
pencaharian utama masyarakat di Kecamatan Kuta adalah
jasa pariwisata
sedangkan masyarakat di Kecamatan Kuta Selatan selain di sektor jasa juga
sebagai nelayan.
Berdasarkan data SUSENAS tahun 2002 dan 2003, jumlah penduduk yang
memiliki lapangan usaha utama pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan
peternakan meningkat 8.70 persen, sedangkan lapangan usaha lain menunjukkan
penurunan, kecuali keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan.
Tingkat
partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga mengalami penurunan dari 66.31 persen
menjadi 64.67 persen. Hal ini berkaitan dengan terjadinya tragedi bom pertama
yang sempat melumpuhkan perekonomian Bali pada Oktober 2002. Penurunan
5
Peturunan adalah sumbangan wajib bagi setiap rumah tangga di Bali
91
TPAK diikuti oleh meningkatnya jumlah perkara kejahatan ataupun pelanggaran
yang dilaporkan pada tahun 2003 sebesar 131.97 persen dibandingkan tahun 2002.
Di antara ketiga kecamatan sampel, Kecamatan Kuta Selatan memiliki
wilayah terluas dengan jumlah penduduk terpadat. Desa dan kelurahan yang
menjadi sampel ditentukan sesuai dengan kriteria lokasi dari ibukota kabupaten
dan kecamatan, yaitu Kelurahan Jimbaran (Kuta Selatan), Legian (Kuta) serta
Desa Pelaga (Petang). Seperti halnya kepadatan di tingkat kecamatan, kepadatan
penduduk di desa/Kelurahan juga tertinggi di Kelurahan Jimbaran dibandingkan
dengan Legian dan Pelaga.
Tabel 15 Karakteristik Wilayah Penelitian di Kabupaten Badung, 2005
Karakteristik
Kondisi
Daerah
Letak
Desa
(km)
Jumlah
penduduk
(Org)
Jumlah
Rumah
Tangga
(KK)
Total area
2
(km )
jarak dari
Ibukota
Kabupaten
Kecamatan
Desa/Kelurahan
Kuta
Legian
Dataran
rendah
pantai
3329
766
3.05
9.6
Kuta
Selatan
Jimbaran
Dataran
rendah
pantai
19268
3791
20.5
18.3
Pelaga
Dataran
Tinggi
Bukan
pantai
5083
1061
39.25
30
Petang
Sumber: Monografi Desa, 2004 ; Hasil wawancara dengan Bendesa, 2005
Seluruh wilayah penelitian dapat dijangkau karena memiliki sarana
transportasi yang memadai untuk moda transportasi motor dan mobil. Kondisi
jalan dalam keadaan baik dengan fasilitas penerangan listrik di semua desa.
Fasilitas telekomunikasi dan media informasi seperti telepon, surat kabar, radio
serta televisi tersedia bagi masyarakat. Fasilitas kesehatan seperti puskesmas
telah terbangun di setiap desa/kelurahan.
Kelembagaan tradisional6 yang bertujuan untuk saling tolong menolong
masih terjaga dengan baik. Kegiatan bersama (collective action) wajib diikuti
oleh semua kepala keluarga. Kompensasi ketidakhadiran dikenakan dalam bentuk
6
Kelembagaan tradisional yang masih terjaga seperti sekaa resik, gotong royong dan paktu. Sekaa
resik adalah kelompok untuk membersihkan lingkungan di pura atau tempat-tempat
persembahyangan sedangkan gotong royong adalah aktivitas bersama yang dilakukan masyarakat
dalam menjaga kebersihan lingkungan di tempat umum atau saat melakukan aktivitas
pembangunan sarana publik. Paktus adalah aktivtas untuk saling membantu pada saat salah
seorang anggota masyarakat mengalami musibah kematian.
92
denda uang.
Kelembagaan modern juga berkembang pesat seperti lembaga
keuangan desa yang dikenal dengan Lembaga Perkreditan Desa (LPD).
Perkembangan yang pesat terutama terjadi pada pemilikan sisi aset organisasi.
Jumlah LPD di Kecamatan Kuta Selatan, Kuta dan Petang berturut-turut masingmasing 9 (sembilan), 6 (enam) dan 15 (lima belas) unit, dengan modal hampir
seratus kali lebih besar dibandingkan LPD di kabupaten lain. Hal ini disebabkan
oleh modal awal yang lebih besar dan kinerja unit simpan pinjam yang lebih
efisien. Secara umum, kondisi sosial ekonomi Kelurahan Jimbaran merupakan
yang terbaik dibandingkan dengan wilayah penelitian lainnya.
Kabupaten Gianyar
Kabupaten Gianyar memiliki jumlah penduduk 375631 jiwa, terdiri atas
188499 laki-laki dan 187132 perempuan, dengan jumlah penduduk laki-laki dan
perempuan yang berimbang di setiap desa/kelurahan yang dipertegas dengan
angka sex ratio berkisar antara 95.50 hingga 107.60 pada tahun 2003.
Sebaran
penduduk antar desa/kelurahan dan kecamatan mengalami ketimpangan dengan
kecamatan terpadat adalah Kecamatan Gianyar (1427 jiwa per Km2) sedangkan
Kecamatan Payangan hanya 460 jiwa per Km2.
Sama halnya dengan kabupaten lainnya, wilayah penelitian di Kabupaten
Gianyar dapat dijangkau dengan moda transportasi mobil dan motor karena
kondisi jalan dalam keadaan sedang hingga baik. Sarana telekomunikasi tersedia
di semua wilayah penelitian walaupun terkonsentrasi di Kelurahan Gianyar.
Demikian pula dengan fasilitas listrik, radio, televisi dan surat kabar. Fasilitas
kesehatan tersedia di puskesmas maupun puskesmas pembantu untuk seluruh
masyarakat. Fasilitas pelayanan pos terdapat di seluruh kecamatan namun di
Kecamatan Payangan hanya tersedia 1 kantor pos pembantu berbeda dengan
Kecamatan Ubud, Sukawati dan Gianyar.
Kelembagaan gotong royong (bentuk collective action) masih terpelihara
terutama untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, kantor maupun
lokasi persembahyangan bersama. Norma saling bantu tetap terbangun dalam
ikatan banjar maupun banjar adat terutama terutama saat adanya kematian serta
93
pengabenan seperti ngejot7, arisan, paktus8 dimana masing-masing anggota
(krama) mengeluarkan beras, kelapa, gula serta uang sesuai dengan kesepakatan
mereka. Besaran yang disepakati oleh masing-masing desa ataupun banjar
berbeda-beda disesuaikan dengan keadaan ekonomi anggotanya. Sekaa dalam
bidang kesenian berkembang pesat demikian pula sekaa resik, subak dan subak
abian.
Tabel 16 Karakteristik Wilayah Penelitian di Kabupaten Gianyar, 2005
Karakteristik
Kondisi
Daerah
Letak
Desa
(km)
Jumlah
penduduk
(Org)
Jumlah
Rumah
Tangga
(KK)
Total area
2
(km )
jarak dari
Ibukota
Kecamatan
Gianyar
Dataran
rendah
pantai
9929
2339
2.07
0
Petak
kaja
Dataran
Tinggi
Bukan
pantai
5183
790
3.25
10
Melinggih
Kelod
Dataran
rendah
Bukan
pantai
2708
1008
4.02
2.5
Buahan
kaja
Dataran
Tinggi
Bukan
pantai
3776
865
10.75
7
Kecamatan
Desa
Gianyar
Payangan
Sumber: Hasil Wawancara dengan Bendesa/Lurah, 2005
Seperti halnya di Kabupaten Badung, sektor perdagangan, hotel dan
restoran memberi kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Gianyar. PDRB
per kapita di Kecamatan Payangan (Rp 6685439.05) ternyata lebih besar
dibandingkan dengan Kecamatan Gianyar (Rp 5827791.25). Selain itu,
Kecamatan Payangan memiliki pertumbuhan PDRB tertinggi dibandingkan
kecamatan lainnya.
Lapangan usaha penduduk terkonsentrasi pada industri
pengolahan makanan dan minuman (33.22 persen) diikuti dengan pertanian,
kehutanan, perkebunan, perikanan serta perdagangan besar, eceran dan rumah
makan.
Permodalan masyarakat dibantu oleh lembaga-lembaga keuangan formal
dan non-formal. Salah satu kembaga keuangan formal yang dimiliki oleh desa
adalah Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang terdapat hampir di setiap desa
dengan sumber dana dari APBD pemerintah kabupaten.
Jumlah LPD di
Kecamatan Gianyar 39 unit sedangkan di Payangan 40 unit.
7
8
Menyampaikan makanan berupa nasi, beragam jajanan, buah dan lauk
iuran beras, kelapa dan uang saat ada kematian
Selain LPD,
94
pendanaan masyarakat juga difasilitasi oleh KUD, Bank Pembangunan Daerah,
Bank Rakyat Indonesia dan lembaga perbankan swasta lainnya.
Jumlah kriminalitas yang dilaporkan terbanyak terjadi di Kecamatan
Gianyar. Sebagai ibukota kabupaten, Kecamatan Gianyar semakin rentan
terhadap tindak kriminalitas terutama penganiayaan, pencurian dan penggelapan.
Jumlah keluarga prasejahtera di Kecamatan Gianyar lebih besar dibandingkan
Kecamatan Payangan walaupun bukan jumlah tertinggi. Secara umum,
ketersediaan fasilitas pelayanan publik terlengkap terdapat di Kecamatan Gianyar
dan sebaliknya terdapat di Kecamatan Payangan.
Kabupaten Karangasem
Kabupaten Karangasem adalah Kabupaten di ujung timur Pulau Bali.
Kondisi ekonomi wilayah memiliki kesamaan dengan Kabupaten Jembrana yang
didominasi oleh sektor pertanian. Sebagian besar penduduk memiliki pekerjaan
utama di sektor pertanian sehingga kontribusi pendapatan terbesar berasal dari
sekot pertanian. Berbeda dengan kabupaten lain, jumlah penduduk yang memiliki
mata pencaharian di sektor pertanian berkurang 31.18 persen pada tahun 2003,
sedangkan di sektor industri dan perdagangan naik masing masing sebesar 8.63
persen dan 10.75 persen.
Fakta tersebut menunjukkan adanya transformasi
ketenagakerjaan dari sektor primer ke sektor sekunder (industri) dan tersier (jasa
perdagangan).
Tabel 17 Karakteristik Wilayah Penelitian di Kabupaten Karangasem, 2005
Karakteristik
Kondisi
Daerah
Letak
Desa
(km)
Jumlah
penduduk
(Org)
Jumlah
Rumah
Tangga
(KK)
Total area
2
(km )
jarak dari
Ibukota
Kecamatan
Manggis
Dataran
rendah
pantai
5911
1187
9.85
0
Nyuh
Tebel
Dataran
rendah
pantai
6416
1502
4.65
7
Bebandem
Dataran
tinggi
Bukan
pantai
8110
1933
15
0
Sibetan
Dataran
Tinggi
Bukan
pantai
8269
1838
11.25
3
Kecamatan
Desa
Manggis
Bebandem
Sumber: Hasil Wawancara dengan Bendesa, 2005
95
Sebagai kabupaten termiskin di Bali, Kabupaten Karangasem memang
memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi terendah yang diikuti pula oleh tingkat
pembangunan ekonomi9 yang rendah. Rendahnya indikator kesejahteraan tersebut
ternyata tidak disertai dengan buruknya indikator distribusi pendapatan yang
ditunjukkan oleh indikator gini ratio yang rendah, artinya tidak terdapat
kesenjangan pendapatan yang lebar. Sayangnya, pemerataan tersebut terjadi pada
standar hidup yang rendah atau dengan pernyataan lain, di Kabupaten
Karangasem terjadi pemerataan keadaan kemiskinan.
Bantuan pemerintah kabupaten untuk pembangunan masing-masing desa
pakraman sebesar 7.5 juta rupiah sedangkan bantuan pemerintah provinsi 25 juta
rupiah per tahun. Bantuan tersebut sebagian besar digunakan untuk membiayai
upakara10 dalam persembahyangan bersama yang dilakukan setiap 7 bulan sekali
ataupun setahun sekali.
pembangunan fisik.
Selain itu, bantuan tersebut juga dialokasikan untuk
Sayangnya, hanya sebagian kecil yang digunakan untuk
investasi di bidang sosial seperti membangun rasa saling percaya antar anggota,
membangun jaringan kerja antar desa adat dalam suatu wilayah maupun
melakukan revisi terhadap norma-norma yang kurang relevan dalam kehidupan
masa kini ataupun antisipasi terhadap kehidupan di masa yang akan datang.
Aktivitas kelompok masih terbina melalui kegiatan bulan bakti oleh banjar dinas,
kematian dan pengabenan oleh banjar adat. Partisipasi masyarakat masih tetap
tinggi walaupun sanksi uang (bakatan) yang dikenakan sangat kecil hanya sebesar
Rp 500 ,- per sekali ketidakhadiran.
Tingginya partisipasi masyarakat di Bali memang diakui oleh banyak
pihak berkaitan dengan sanksi sosialnya.
Hal ini juga terjadi di Kabupaten
Karangasem. Masyarakat merasa sangat ketakutan apabila dikenai sanksi sosial
seperti kesepekang, dikucilkan oleh masyarakat atau diperlakukan tidak wajar
ketika melaksanakan upacara adat dan keagamaan.
Prasarana dan sarana transportasi di Kabupaten Karangasem dalam kondisi
sedang hingga baik sehingga dapat dilalui oleh mobil dan motor ke seluruh desa.
Bebandem adalah desa dengan fasilitas publik terlengkap dimana tersedia sebuah
9
Indikator pembangunan ekonomi yang rendah ditunjukkan oleh IPM rendah, IKM tinggi, tingkat
kemiskinan tinggi serta pendapatan per-kapita rendah.
10
Alat-alat yang diperlukan dalam upacara adat
96
puskesmas, satu kantor pos serta pelanggan media cetak dan listrik terbanyak. Di
Desa Manggis dan Nyuh Tebel terdapat puskesmas pembantu sedangkan di
Sibetan belum terbangun.
Di kedua kecamatan tidak terdapat lahan sawah yang
beririgasi teknis dan sebagian besar lahan kering merupakan perkebunan, kecuali
di Bebandem terdapat lahan hutan negara seluas 1 055 000 Ha.
Jumlah kepala keluarga (KK) yang tergolong Pra KS dan KS I masingmasing sebesar 14 047 KK dan 16 432 KK. Jumlah ini lebih terkonsentrasi di
Kecamatan Karangasem, Abang dan Bebandem sedangkan di Kecamatan
Manggis relatif rendah. Selama ini, bantuan untuk KK miskin (Pra KS maupun
KS I) berupa beras 20 kg serta kemudahan memperoleh jaminan kesehatan dengan
menggunakan kartu askes.
Wilayah Belum berkembang
Dua kabupaten yaitu Kabupaten Jembrana dan Karangasem termasuk
wilayah
belum
berkembang.
Kriteria
utama
yang
digunakan
dalam
pengelompokan tersebut adalah pendapatan asli daerah (PAD) dan pendapatan
domestik regional bruto (PDRB).
Karakteristik lain adalah kontribusi sektor
pertanian dalam pendapatan regional serta jumlah masyarakat yang bekerja di
sektor pertanian.
Berdasarkan hasil penelitian karakteristik responden di wilayah belum
berkembang menunjukkan bahwa telah tersedia sarana komunikasi seperti kantor
pos yang dapat dicapai rata-rata dalam jangka waktu 15 - 30 menit perjalanan
dari tempat tinggal mereka.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sarana untuk
berkomunikasi melalui media surat hanya tersedia di tempat-tempat tertentu saja.
Sarana komunikasi lain seperti telepon tersedia pada jarak yang relatif lebih dekat,
dapat dicapai dalam waktu kurang dari 15 menit.
Rataan frekwensi responden membaca koran hanya sekali dalam
seminggu.
Frekwensi responden menonton televisi lebih tinggi dibandingkan
dengan memperoleh informasi dari radio. Mereka menonton televisi setiap hari
dan mendengar radio hanya beberapa kali dalam seminggu.
Sebagian besar
responden menyatakan bahwa tidak terdapat dinamika yang berarti dalam
komunikasi, dengan kata lain komunikasi tetap sama dibandingkan dengan
97
keadaan lima tahun sebelumnya, sedangkan sarana transportasi selalu dalam
keadaan baik sepanjang waktu.
Wilayah Maju
Dua kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Badung dan Gianyar temasuk
dalam kelompok wilayah maju. Kedua wilayah tersebut memiliki pendapatan asli
daerah (PAD) dan pendapatan regional domestik bruto (PDRB) yang tinggi.
Tingginya pendapatan tersebut disebabkan oleh tingginya nilai produk yang
dihasilkan yaitu produk jasa pariwisata. Jumlah sarana akomodasi bagi wisatawan
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di Bali.
Hasil penelitian mengenai karakteristik responden di wilayah maju
menunjukkan bahwa responden rata-rata harus menempuh 15–30 menit perjalanan
untuk mencapai kantor pos. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelayanan publik
untuk aktivitas membangun jaringan kerja dan komunikasi melalui surat sama
dengan di wilayah belum berkembang yaitu hanya tersedia di tempat tertentu saja.
Sarana komunikasi melalui telepon dapat dicapai dalam jarak kurang dari 15
menit.
Sarana informasi melalui media cetak tersedia di setiap desa dengan
jumlah terbatas dan frekwensi responden membacanya relatif tinggi yaitu
beberapa kali dalam seminggu. Frekwensi responden menonton televisi lebih
tinggi dibandingkan dengan mendengarkan radio maupun membaca koran.
Dinamika komunikasi menuju kekeadaan yang lebih baik dan sarana prasarana
transportasi baik sepanjang waktu.
Uji beda rataan dari dua sampel yang bebas menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan yang nyata antara karakteristik responden di wilayah belum
berkembang dan wilayah maju kecuali pada ketersediaan kantor pos.
Uji
signifikansi dilakukan pada taraf kepercayaan 95 persen. Responden di wilayah
maju memiliki frekwensi yang lebih tinggi dalam membaca koran, mendengarkan
radio maupun menonton televisi. Ketersediaan sarana telekomunikasi lebih baik
dan interaksi ke daerah lainpun lebih tinggi. Hasil analisis deskriptif tersebut
menunjukkan bahwa akses dan dinamika masyarakat di wilayah maju lebih baik
dibandingkan dengan wilayah belum berkembang.
98
Tingginya mobilitas responden di wilayah maju merupakan akibat dari: (1)
jenis mata pencaharian. Pekerjaan di sektor non-pertanian membutuhkan interaksi
yang lebih intensif dengan daerah lainnya yang mengharuskan responden untuk
memiliki mobilitas yang tinggi; (2) migrasi. Responden di wilayah maju sebagian
besar merupakan penduduk pendatang yang berasal dari wilayah yang belum
berkembang. Kewajiban terhadap organisasi adat dan keluarga membuat mereka
harus tetap menjaga interaksi dengan daerah asal.
Hasil analisis deskriptif mengenai karakteristik masyarakat di wilayah
maju dan belum berkembang menunjukkan pula bahwa proses pembangunan di
Bali mengalami bias pada daerah tertentu yaitu pembangunan yang cenderung
lebih mengutamakan daerah berbasis pariwisata dibandingkan dengan daerah
pertanian. Keadaan tersebut sangat memprihatinkan mengingat Bali termasuk
daerah subur dan terkenal karena kekuatan budaya di bidang pertanian.
Tabel 18 Independent Samples Test Sarana Informasi dan Komunikasi
di Wilayah Belum Berkembang dan Wilayah Maju, 2005
df
Sig. (2-tailed)
Jarak ke pos
347
.107
Perbedaan
Rataan
0.11
Frekwensi baca koran
344
.000
1.15
Frekwensi dengar radio
348
.001
0.55
Frekwensi nonton tv
348
.000
0.13
Sarana komunikasi
348
.000
0.65
Dinamika Komunikasi
346
.039
0.14
Dinamika Sarana
transportasi
Interaksi ke daerah lain
346
.000
0.24
344
.000
-0.51
Sumber: Data Primer, 2005
Masyarakat di daerah maju, menyatakan bahwa komunikasi dalam lima
tahun terakhir tetap sama sedangkan masyarakat di wilayah belum berkembang
semakin baik. Di daerah maju, kondisi prasarana transportasi selama lima tahun
terakhir tetap sama, selalu dalam keadaan baik sedangkan di wilayah belum
berkembang tetap buruk, hanya dapat dilalui sewaktu-waktu.
Hal tersebut
menunjukkan bahwa pembangunan di wilayah belum berkembang mengalami
kelambatan dibandingkan dengan pembangunan wilayah maju di Bali.
KARAKTERISTIK MODAL SOSIAL DI EMPAT KABUPATEN DI BALI:
Rasa Percaya (Trust), Jaringan Kerja (Network) dan Norma (Norm)
Tingginya stok modal sosial masyarakat dicirikan oleh adanya rasa
percaya, tingginya kepadatan jaringan kerja, ikatan masyarakat yang kuat,
pertukaran informasi, tingginya frekwensi kegiatan bersama, serta kepatuhan
terhadap norma bersama untuk mewujudkan harapan bersama dan menghindari
sifat oportunistik individu.
pembangunan
yang
Modal sosial mendorong terjadinya suatu proses
beretika
dan
bermoral
yang
bertujuan
mencapai
keseimbangan melalui distribusi hasil-hasil pembangunan yang merata dan
berkelanjutan. Selain indikator tersebut, tingginya partisipasi masyarakat pada
setiap kegiatan bersama, tingkat toleransi, tingkat heterogenitas etnis dan tingkat
kriminalitas juga merupakan indikator modal sosial dalam suatu masyarakat
(Stone, 2001).
Saat ini di Indonesia, terdapat indikasi terjadinya pelemahan modal sosial
masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya peningkatan intensitas dan frekwensi
kerusuhan antar warga masyarakat dalam satu wilayah baik antar etnis, suku,
agama maupun antara masyarakat dan aparat pemerintahan, rendahnya partisipasi
masyarakat
terutama
dalam pemeliharaan
hasil-hasil
pembangunan
munculnya penolakan-penolakan terhadap kebijakan pemerintah.
dan
Dharmawan
(2002) menyatakan bahwa reformasi di Indonesia memang diikuti oleh
pemiskinan rasa percaya yang mengganggu stabilitas ekonomi.
Membangun rasa percaya membutuhkan biaya dan waktu namun
menghancurkannya dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Paling tidak ada
dua cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya, yaitu: (1)
membangun interaksi intensif yang berulang-ulang; dan (2) memahami dengan
baik wakil–wakil (representasi) populasi di suatu wilayah, insentif yang mereka
terima serta latar belakang populasi tersebut. Sebaliknya, melemahnya rasa
percaya masyarakat akan terjadi apabila kemauan baik untuk melakukan kegiatan
bersama semakin menipis dan masyarakat memiliki kecenderungan bertindak
asosial.
Berita media cetak di Bali (Bali Post, Nusa dan DenPost) edisi April
hingga Oktober 2006, menunjukkan berbagai indikator melemahnya modal sosial.
100
Salah satunya adalah reaksi penolakan terhadap berbagai kebijakan pemerintah di
Kabupaten Jembrana, Gianyar, Bangli dan Karangasem hingga tingkat desa.
Indikasi melemahnya rasa percaya antar kelompok juga ditunjukkan melalui
tindakan pengeroyokan masyarakat terhadap anggota satuan polisi pamong praja,
melemahnya koalisi antar partai, perusakan rumah warga oleh kelompok lainya,
bentrokan antar warga masyarakat, perusakan sarana-sarana pelayanan publik.
Melemahnya rasa percaya yang diikuti pula oleh melemahnya jaringan
kerja ditunjukkan melalui penurunan partisipasi dalam aktivitas bersama,
kesediaan saling tolong menolong serta berkurangnya peran pimpinan kelompok
dan teman, terutama dalam penyebaran informasi (Majalah Hindu Raditya, 1988).
Selain itu, aturan-aturan yang rigid (kaku) dalam desa pakraman tidak mampu lagi
menekan terjadinya pelanggaran dan pembangkangan terhadap aturan adat.
Ketidaktaatan masyarakat terhadap aturan adat dan agama serta melemahnya
kontrol masyarakat terhadap orang lain ditunjukkan oleh meningkatnya kasus
bunuh diri, pencurian pratima (benda-benda keagamaan yang disakralkan) serta
konflik antar warna (kasta) yang disertai dengan pelanggaran hak pada hari raya
Nyepi, pada saat umat seharusnya mampu menekan hawa nafsunya (Bali Post,
Maret 2007 mengenai konflik di Desa Tusan, Klungkung). Konflik-konflik antar
kelompok terus terjadi pada empat tahun terakhir ini.
Secara keseluruhan, bab ini mencoba untuk menggambarkan
setiap
komponen modal sosial di Bali secara spesifik. Pembahasan dilakukan terhadap:
(1) modal sosial individu yang bertempat tinggal di perdesaan dan perkotaan,
pengelompokkan yang didasarkan pada jarak tempat tinggal ke ibu kota
kabupaten dan kecamatan, serta ketersediaan fasilitas pelayanan publik; dan (2)
modal sosial individu yang berada di wilayah belum berkembang dan wilayah
maju. Pembahasan mengenai pembentukan modal sosial tidak terlepas dari
pemahaman mengenai struktur sosial masyarakat. Struktur sosial pada tulisan ini
merujuk pada organisasi sosial dan hubungan sosial antar aktor dalam organisasi
tersebut. Bourdieu (1986) menyatakan bahwa terdapat keeratan hubungan antara
tindakan sosial seseorang dengan hasil ekonomi yang diperoleh.
Pemikiran
tersebut menjadi dasar pemaparan struktur sosial di Bali sebelum membahas
mengenai komponen modal sosial.
101
Struktur Sosial dalam Pembentukan Modal Sosial di Bali
Struktur sosial masyarakat di Bali sangat beragam dan dapat dibedakan
atas struktur sosial tradisional dan modern. Struktur sosial tradisional berkaitan
erat dengan perkembangan Agama Hindu di Bali dan aktivitas masyarakat
pertanian di perdesaan sedangkan struktur sosial modern terkait dengan jenis
pekerjaan dan hobi (kesenangan) yang berkembang pesat di perkotaan.
Berdasarkan proses pembentukannya, struktur sosial tradisional dikelompokkan
sebagai struktur sosial objektif yang diterima begitu saja dari satu generasi
sebelumnya melalui sosialisasi. Struktur sosial modern seringkali muncul dari
interaksi sosial antar subyek karena adanya makna (meaning) bersama, maupun
karena penghargaan sosial atau penghargaan ekonomi yang diperoleh (Lawang,
2005).
Struktur sosial tradisional yang ada saat ini sesungguhnya dibangun oleh
Mpu Kuturan saat pertama kali datang ke Bali dengan tujuan untuk menyebarkan
Agama Hindu1. Oleh karena itu, keanggotaannya relatif lebih homogen terutama
ditinjau dari sisi agama yang dianut anggotanya.
Struktur sosial tradisional
dibangun berdasarkan sistem kasta (Catur Warga) dan tingkatan hidup manusia
(Catur Asrama). Sistem kasta mengelompokkan masyarakat berdasarkan
statusnya seperti pemuka agama (brahmana), pelaksana pemerintahan (ksatria),
pedagang (waisya) dan kelompok buruh (sudera). Saat ini, struktur sosial tersebut
semakin samar karena adanya penyimpangan pemahaman mengenai kasta yang
lebih banyak diartikan sebagai klan. Struktur sosial di Bali juga dibedakan atas
kelompok usia, yaitu (1) Brahmacarya (usia sekolah), (2) Grahasta (usia kerja),
(3) Wanaprasta (usia menyepi untuk mendekatkan diri dengan Tuhan), dan (4)
Moksa (saat jiwa (atman) bersatu dengan pencipta-Nya). Setiap individu akan
melewati setiap tahapan tersebut sehingga organisasi sosial yang diikutinya pun
disesuaikan dengan kelompok usianya.
Kentalnya pengaruh agama dalam struktur sosial tradisional memang
menyebabkan hubungan sosial kemasyarakatan yang relatif kaku (rigid) sehingga
1
Mpu Kuturan melakukan perjalanan suci ke Bali bersama beberapa pengikutnya. Sepanjang
perjalanan tersebut terjadi interaksi dengan penduduk asli sehingga terjadi perkawinan yang
kemudian berkembang menjadi berbagai kelompok masyarakat yang membangun struktur sosial di
Bali (Ardhana, 1994; Couteau, 1995).
102
seringkali dinyatakan sebagai struktur sosial yang kurang mampu menyesuaikan
dengan tuntutan zaman. Kekakuan tersebut mengakibatkan terjadinya benturanbenturan antara kebutuhan sosial dan kebutuhan ekonomi.
Sesungguhnya
dikotomi tersebut tidak perlu terjadi karena dalam Agama Hindu sendiri sudah
diatur melalui ajaran Catur Asrama, dimana setiap manusia melalui beberapa
tingkatan dalam proses kehidupannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai pada
masing-masing tahapan tidak berbenturan.
Berdasarkan luasan cakupannya, struktur sosial di Bali dibedakan atas
keluarga batih, dadia (mikro), banjar pakraman dan desa pakraman (meso) dan
makro (kelompok masyarakat dalam wilayah kabupaten).
Rigiditas dalam
hubungan dalam struktur sosial tradisional mendorong terbentuknya modal sosial
yang mengikat (bonding social capital) terutama yang dilandasi oleh rasa percaya
antar sesama kelompok yang kuat. Narayan dan Pritchett (1999) dan Grootaert
(2001), menyatakan bahwa modal sosial yang berkembang di suatu wilayah
memang ditentukan oleh derajat homogenitas antar anggota masyarakatnya.
Ditinjau dari sisi agama dan etnis, derajat homogenitas dalam struktur sosial
tradisional di Bali tergolong tinggi, karena hampir seluruh anggota berasal dari
etnis dan agama yang sama.
Namun sesungguhnya, modal sosial tersebut
terbangun pula dalam derajat heterogenitas yang tinggi ditinjau dari sisi kasta
(warna). Secara umum, hubungan antar kasta memiliki struktur yang horisontal
namun di beberapa wilayah, kasta Brahmana dan Ksatria masih dianggap sebagai
kasta yang memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan dua kasta lainnya. Saat ini,
modernisasi seringkali menimbulkan benturan-benturan antar kasta tersebut.
Keterikatan masyarakat dalam suatu organisasi tradisional (seperti banjar
pakraman atau desa pakraman dan subak) tampaknya lebih disebabkan oleh
ketaatan terhadap agama serta sanksi sosial daripada kuatnya rasa percaya sosial
dalam masyarakat tersebut.
Hal ini harus diantisipasi karena dapat menjadi
sumber terbangunnya konflik laten. Organisasi yang tidak dibangun atas rasa
saling percaya melainkan hanya norma-norma, akan tumbuh menjadi organisasi
yang memiliki fondasi yang lemah untuk dapat dikelompokkan sebagai modal
sosial dan berperan dalam mengatasi konflik-konflik yang mungkin timbul di
masa yang akan datang, apalagi sanksi-sanksi yang disepakati tidak diterapkan
103
secara konsisten terhadap semua pihak. Knight (1992) dalam Pretty dan Ward
(2001) menyatakan bahwa masyarakat dapat saja terorganisasi dengan baik
(memiliki kelembagaan yang kuat dan mekanisme resiprokal) tanpa didasarkan
atas rasa percaya, melainkan rasa takut dan kekuatan namun akan mendorong
terwujudnya eksploitasi antar golongan.
Struktur sosial modern berkembang dalam masyarakat di Bali seiring
dengan berkembangnya berbagai mata pencaharian dan kebutuhan akan
pengakuan masyarakat terhadap profesi tertentu yang mendorong seseorang untuk
berkumpul dan membentuk organisasi formal (Fukuyama, 1999). Struktur sosial
modern tentunya harus mampu menjadi komplemen dari struktur sosial tradisional
yang telah terbangun, bukan menjadi pesaing yang dapat meniadakan nilai-nilai
tradisional yang arif dan bijak (indigenous knowledge).
Struktur sosial modern tidak saja bersifat horisontal namun juga bersifat
vertikal.
Struktur sosial yang bersifat vertikal seringkali kurang mampu
membangun rasa percaya dan kerjasama dibandingkan dengan struktur sosial yang
bersifat horisontal karena keanggotaan dalam jaringan kerja vertikal memiliki
tujuan yang sangat beragam. Sebaliknya, jaringan kerja horisontal, umumnya
terbentuk karena adanya tujuan dan kepentingan yang bersifat resiprositas.
Jaringan kerja horisontal di Bali meliputi kelompok seni, kelompok olah raga,
kelompok arisan tetangga dan yang sejenisnya.
Aldridge et al. (2002) menyatakan bahwa struktur sosial dipengaruhi oleh
berbagai faktor, salah satunya adalah migrasi atau mobilitas penduduk. Migrasi di
Bali tidak saja dilakukan oleh penduduk antar kabupaten di Bali, namun juga oleh
masyarakat dari luar Pulau Bali seperti Pulau Jawa dan Madura, Pulau Lombok
dan lain sebagainya. Wilayah-wilayah yang menjadi pusat pengembangan
pariwisata merupakan daerah tujuan migrasi seperti terjadi di Sanur, Kuta dan
Nusa Dua yang dikenal sebagai segitiga emas pengembangan pariwisata di Bali.
Keterbukaan suatu wilayah akan meningkatkan heterogenitas.
Narayan dan Pritchett (1999) juga menyatakan bahwa menjaga
keheterogenan masyarakat dapat menghindari terjadinya perang saudara (civil
war) di suatu wilayah. Grootaert (2001) dan Dwipayana (2005) mempertegas
dengan menyatakan bahwa derajat homogenitas dalam kelompok akan
104
menentukan cara pandang masyarakat terhadap masalah yang dihadapinya.
Masyarakat yang homogen akan memiliki inward looking yang kurang
bermanfaat bagi pembangunan dan outward looking yang selalu memandang
dunia luar sebagai penyebab kehancuran, kerusakan dan ketidakberhasilan dalam
membangun diri sendiri.
Modal Sosial di Empat Wilayah Kabupaten di Bali:
Jembrana, Badung, Gianyar dan Karangasem
Pandangan Putnam (1993), Fukuyama (2000) dan Grootaert (2002)
menjadi dasar rujukan utama dalam kajian ini. Bali memiliki karakteristik yang
unik yaitu perpaduan antara daerah wisata dan daerah pelestarian budaya. Di satu
sisi, pemerintah mendorong pembangunan berbagai sarana pariwisata untuk
menarik jumlah wisatawan yang tinggi namun di sisi lain pemerintah tetap
menginginkan pelestarian seni dan budaya masyarakat (Ajeg Bali). Dua hal yang
bersifat saling bertentangan, karena seni dan budaya sangat dipengaruhi oleh
intensitas interaksi antar individu, kecuali masyarakat Bali memiliki rasa percaya
yang tinggi terhadap orang lain sekaligus memiliki norma yang kuat untuk
membentengi dirinya dari kebudayaan luar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat (83.35
persen) di Bali menyatakan selalu berhati-hati terhadap orang lain dan hanya
16.65 persen menyatakan bahwa mereka percaya dan tidak perlu berhati-hati
terhadap orang lain. Perjalanan sejarah masyarakat Bali menunjukkan bahwa
sikap kehati-hatian orang Bali telah terjadi sejak dahulu yang ditunjukkan oleh
adanya komunitas penduduk asli yang hingga kini bersifat tertutup seperti
masyarakat di Trunyan dan Tenganan. Kalaupun terjadi peleburan antara
komunitas penduduk asli dengan pendatang, maka hal tersebut hanya terjadi
dalam jumlah yang relatif kecil dan sanksi dari peleburan tersebut umumnya
berupa hilangnya hak dalam kelompok.
Rasa Percaya (Trust), Jaringan kerja (Network) dan Norma (Norm) Individu
di Perkotaan dan Perdesaan
Rasa percaya boleh jadi bersifat sangat individual (Erikson, 1950; Allport,
1961; Cattell, 1965; Rosenberg, 1956; 1957 dalam Delhey dan Newton, 2002),
105
namun mungkin juga merupakan karakteristik suatu sistem sosial (Putnam, 2000).
Rasa percaya sosial merupakan bagian dari karakteristik individu, yang mencakup
optimisme, keyakinan pada kerjasama, bahwasanya individu dapat menerima
perbedaan dan hidup bersama dengan penuh kedamaian. Namun ada keraguan
terhadap hubungan antara rasa percaya dan interaksi antar individu: penyebab
ataukah akibat? Apakah rasa percaya yang tumbuh antar individu mendorong
individu-individu tersebut untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama
ataukah interaksi yang menyebabkan tumbuhnya rasa percaya? Ambiguitas
tersebut tidak akan menimbulkan masalah bila kedua komponen memperoleh
perhatian yang sebanding dalam upaya membangun modal sosial.
Hasil analisis non-parametrik menunjukkan adanya perbedaan yang nyata
antara sikap kehati-hatian masyarakat perkotaan dan perdesaan di Bali.
Masyarakat
perdesaan
memiliki
sikap
kehati-hatian
yang
lebih
tinggi
dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Rataan indikator rasa percaya juga
menunjukkan bahwa rasa percaya masyarakat di perdesaan terhadap etnis lain
relatif rendah dibandingkan dengan rasa percaya masyarakat perkotaan. Sikap
kehati-hatian dan rendahnya rasa percaya terhadap etnis lain tersebut dapat
mempengaruhi interaksi sosial yang seharusnya terbangun.
Rasa percaya
masyarakat perkotaan menyebabkan mereka lebih terbuka terhadap orang lain
sehingga akses menjadi lebih luas. Keadaan ini mempertegas pendapat Fukuyama
(1995), yang menyatakan rasa percaya (trust) akan meningkatkan kekuatan dan
daya saing ekonomi serta memungkinkan terjadinya proses pertukaran tanpa rasa
takut akan terjadinya kecurangan (Levi, 1996).
Terdapat perbedaan yang nyata antara dinamika rasa percaya yang
dirasakan oleh masyarakat perdesaan dan perkotaan. Individu yang menetap di
perdesaan menyatakan bahwa rasa percaya yang mereka miliki saat ini sama saja
dengan rasa percaya pada tahun-tahun sebelumnya, sedangkan individu yang
menetap di perkotaan menyatakan bahwa rasa percaya yang mereka miliki saat ini
semakin buruk dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya. Dampak berbagai
krisis kurang dirasakan oleh masyarakat perdesaan sebaliknya krisis ekonomi dan
gangguan keamanan menjadi alasan utama mengapa rasa percaya masyarakat
perkotaan semakin buruk.
% masyarakat perkotaan yang
menyatakan percaya thp orang
lain
106
30
Gianyar
25
Badung
Karangasem
20
15
10
Jembrana
5
0
0
5
10
15
20
% masyarakat perdesaan yang menyatakan percaya thp orang lain
Jembrana
Badung
Gianyar
Karangasem
Sumber : data primer, 2005
% responden yang menjawab “sebagian besar orang dapat dipercaya” untuk
pertanyaan ” Secara umum apakah sebagian besar orang dapat dipercaya?”
Gambar 21 Pemetaan Wilayah Berdasarkan Persentase Masyarakat Perdesaan
dan Perkotaan yang Memiliki Rasa Percaya terhadap Orang Lain di
Bali, Tahun 2005
Komponen lain dari modal sosial yang diamati dalam penelitian ini adalah
jaringan kerja formal dan informal. Jaringan kerja informal ditunjukkan oleh
jumlah teman dekat yang dipercayai untuk berkeluh kesah maupun dimintai
pendapat dan pandangannya mengenai berbagai hal. Setiap individu di perkotaan
memiliki jumlah teman yang lebih banyak dibandingkan dengan yang di
perdesaan. Jumlah teman dapat menjadi jaringan sosial yang memberi jaminan
bahwa ada orang lain yang setiap saat bersedia membantu.
Jaringan kerja formal merupakan jaringan kerja dalam organisasi.
Ketergantungan masyarakat perkotaan di Bali terhadap satu organisasi, tidak
nampak dalam kehidupan bermasyarakatnya yang ditunjukkan oleh beragam jenis
organisasi terpenting bagi kehidupannya, seperti: banjar pakraman, subak, PKK,
pengajian, kelompok agama, posyandu, olah raga, arisan maupun organisasi
modern yang bergerak dalam profesi tertentu.
Sebaliknya, sebagian besar
masyarakat perdesaan menyatakan bahwa organisasi tradisional subak dan banjar
pakraman merupakan kelompok terpenting yang berkaitan langsung dengan
tingkat kesejahteraannya.
Keragaman organisasi yang tumbuh dan berkembang dalam suatu wilayah
berkaitan dengan kemampuan serta keahlian yang dimiliki oleh anggota
masyarakat di wilayah tersebut. Misalnya di Bali, perkembangan kelompok olah
107
raga tidak sepesat kelompok seni.
Kelompok seni berkembang pesat di
Kabupaten Badung dan Gianyar serta wilayah-wilayah
kota di Kabupaten
Karangasem. Fenomena tersebut dapat dipahami mengingat perkembangan seni
sangat memerlukan bakat dan ketrampilan untuk menekuninya.
Tabel 19 Keanggotaan Masyarakat dalam Berbagai Organisasi di Bali, 2005
Kabupaten
Kelompok
Sosial (%)
Desa
Kota
Desa
Badung
Kota
Desa
Gianyar
Kota
Karangasem Desa
Kota
Sumber : data primer, 2005
Jembrana
Ada
kecenderungan
Kelompok
Olah Raga
(%)
Kelompok
Seni (%)
Kelompok
Profesi (%)
0
6.25
13.16
48.00
75.00
51.11
0
36.36
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
5.26
16.00
16.67
4.44
0
22.73
berkembangnya
kelompok-kelompok
100.00
93.75
81.58
36.00
8.33
44.45
100.00
40.91
kesenian
berkaitan dengan perkembangan pariwisata seperti di Kabupaten Badung dan
Gianyar serta di perkotaan Kabupaten Karangasem. Seni adalah pekerjaan yang
memancar dari hati, tidak berkembang bila hanya mengandalkan ketekunan.
Masyarakat akan mampu membangun dan meningkatkan ekspresi keseniannya ke
tingkat yang lebih tinggi apabila kebutuhan pokoknya (sandang, pangan dan
papan) telah terpenuhi. Oleh karenanya, peluang berkembangnya kesenian akan
semakin tinggi di wilayah maju dimana tingkat penghasilan dan kesejahteraannya
relatif lebih tinggi. Namun hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena seringkali
terjadi sebaliknya, tingginya nilai jual produk seni mendorong masyarakat untuk
semakin giat mengembangkan keseniannya.
Komponen ketiga dari modal sosial yang diamati dalam penelitian ini
adalah norma saling bantu.
Kehidupan sosial masyarakat tradisional di Bali
dibatasi oleh norma-norma yang tersusun dalam suatu aturan adat (awig-awig)
tertulis maupun tidak tertulis. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang nyata antara sikap saling bantu di perdesaan maupun di
perkotaan.
108
Pemetaan Wilayah Berdasarkan
Kepadatan Organisasi Sosial
Pemetaan Wilayah Berdasarkan
Kepadatan Organisasi Profesi
Kepadatan Organisasi di
Perkotaan
Kepadatan Organisasi di
Perkotaan
60
Gianyar
50
Badung
40
Karangasem
30
20
10
Jembrana
100
Jembrana
80
60
Badung
20
0
0
0
0
10
20
30
40
50
60
70
Karangasem
Gianyar
40
20
80
40
60
80
100
120
Kepadatan Organisasi di Perdesaan
Kepadatan Organisasi di Perdesaan
Jembrana
Badung
Gianyar
Jembrana
Karangasem
Badung
Gianyar
Karangasem
Sumber: Data Primer, 2005
Gambar 22 Pemetaan Wilayah Berdasarkan Kepadatan Jaringan Kerja Profesi
dan Jaringan Kerja Sosial di Bali, Tahun 2005
Bantuan fisik dan keuangan mudah diperoleh dalam masyarakat perdesaan
maupun perkotaan. Perbedaan yang nyata terdapat pada indikator kemudahan
menitipkan anak dan rumah, terutama saat orang tua atau pemilik rumah harus
bertugas ke luar kota. Demikian pula dengan indikator pembonceng (free rider)
yang menunjukkan adanya individu asosial yang memanfaatkan orang lain demi
keuntungan sendiri. Menitipkan anak lebih mudah di perkotaan dibandingkan
dengan di perdesaan.
Hal ini mungkin berkaitan dengan sikap kehati-hatian
masyarakat perkotaan yang lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat
perdesaan.
Pemetaan Wilayah Berdasarkan
Kesediaan Memberi Bantuan Fisik
Pemetaan Wilayah Berdasarkan
Kesediaan Memberi Bantuan Uang
90
Karangasem
80
Gianyar
Jembrana
70
Badung
60
50
40
30
20
10
0
84
86
88
90
92
94
96
98
100
% Masyarakat Perdesaan yang bersedia memberi
bantuan fisik
Jembrana
Badung
(a)
Gianyar
Karangasem
102
%Masyarakat Perkotaan yang
bersedia memberi bantuan uang
% Masyarakat perkotaan yang
bersedia memberi bantuan fisik
100
35
Karangasem
30
Gianyar
25
20
Badung
Jembrana
15
10
5
0
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
%Masyarakat perdesaan yang bersedia memberi
bantuan uang
Jembrana
Badung
(b)
Gianyar
Karangasem
109
Pemetaan Wilayah Berdasarkan Jumlah Free rider
%Masyarakat Perkotaan yang
menyatakan ada free rider
10
Jembrana
9
8
Karangasem
7
6
5
4
3
2
Gianyar
Badung
1
0
0
10
20
30
40
50
60
% Masyarakat Perdesaan yang menyatakan ada free rider
Jembrana
Badung
Gianyar
Karangasem
Sumber: data primer, 2005
(c)
Gambar 23 Pemetaan Wilayah Berdasarkan Indikator Free Rider di Bali,
Tahun 2005
Nilai korelasi spearman menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif
yang kuat antara kesediaan individu membantu secara fisik, menitipkan anak,
partisipasi dalam organisasi, kepadatan jaringan kerja serta rasa percaya dengan
jumlah pembonceng (free rider) yang ada di wilayah tersebut artinya semakin
banyak jumlah pembonceng (free rider) dapat memperlemah norma saling bantu
baik secara fisik, kemungkinan menitipkan anak pada tetangga, melemahkan rasa
percaya, menurunkan kepadatan jaringan kerja maupun partisipasi dalam
organisasi. Korelasi antara bantuan fisik dan jumlah pembonceng (free rider)
ditunjukkan dalam Gambar 24.
jml yang bersedia mem bantu (%)
Korelasi antara Bantuan Fisik dan Adanya Free Rider
100
80
60
40
20
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10 11 12 13 14 15 16 17
Bantuan Fisik (%)
Jml yang merasa ada Free Rider (%)
Linear (Bantuan Fisik
(%))
Sumber: analisis data primer, 2005
Gambar 24 Korelasi Bantuan Fisik dan Jumlah Free Rider di Bali, Tahun 2005
110
Pembonceng adalah fenomena yang melemahkan partisipasi, rasa percaya
dan reciprocal norm. Oleh karena itu, pihak berwenang seperti pemerintah, swasta
maupun pemimpin masyarakat harus dapat menetapkan kebijakan untuk menekan
tumbuhnya pembonceng dalam masyarakat.
Beberapa penelitian terdahulu
menyatakan bahwa adanya pembonceng dapat diatasi melalui penetapan iuraniuran wajib seperti compulsary contribution maupun pengenaan pajak oleh
pemerintah. Saat ini, sanksi yang diberlakukan bagi anggota masyarakat yang
tidak berpartisipasi dalam organisasi terutama dalam organisasi tradisional di Bali
adalah sanksi moral. Sanksi moral yang berkaitan dengan hubungan manusia
dangan penciptanya memang masih relevan dan efektif bagi masyarakat di Bali
saat ini, namun perkembangan teknologi dan kemajuan peradaban harus mulai
dipertimbangkan agar faktor-faktor yang dapat menghancurkan modal sosial di
Bali dapat dihindarkan. Nominal denda yang ditetapkan relatif kecil berkisar Rp
500 hingga Rp 1000 untuk setiap ketidakhadiran dalam aktivitas bersama.
Rendahnya sanksi tersebut mungkin menjadi salah satu alasan berkembangnya
perilaku pembonceng di Bali.
Tabel 20 Uji Beda Rataan Indikator Modal Sosial Individu di Perdesaan dan
Perkotaan di Empat Kabupaten, 2005
Indikator Modal Sosial
Desa
Pendapatan Rumah Tangga
922. 012
(000 Rp/bln)
Rasa Percaya (GN Trust)
2.30
Kehati-hatian (Aware)
1.95
Kepadatan jaringan kerja (DN)
3.27
Jumlah Teman (Friend)
3.15
Partisipasi (PARTS)
2.47
Pengeluaran Sosial (000 Rp/bln)
142.870
(SEXP)
Menitipkan anak (CC)
1.33
Pembonceng (Free Rider atau FR)
3.90
Memberi Bantuan Fisik
1.93
Memberi Bantuan Uang
2.99
Sumber : Analisis Data Primer, 2005
Kota
P-Value
2087.533
(Mann-Whitney)
0.000
2.75
1.91
3.13
3.52
2.20
151.011
0.573
0.005
0.000
0.018
0.000
0.000
1.46
3.81
1.91
2.88
0.026
0.000
0.114
0.365
Lokasi tempat tinggal juga dipertimbangkan sebagai faktor yang
mempengaruhi terbangunnya modal sosial individu.
Hasil analisis non-
parametrik menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa kesejahteraan
rumah tangga, jumlah teman, pengeluaran sosial dan kemudahan menitipkan anak
111
di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan. Sebaliknya, sikap
kehati-hatian, kepadatan jaringan kerja, partisipasi masyarakat perdesaan dan
jumlah pembonceng lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan,
sedangkan rasa percaya sosial (general trust atau GN Trust), kemudahan memberi
bantuan fisik dan uang tidak berbeda nyata.
Rasa Percaya (Trust), Jaringan kerja (Network) dan Norma (Norm) Individu
di Wilayah Belum Berkembang dan Wilayah Maju
Sebagian besar indikator modal sosial merupakan sikap seseorang atau
kelompok orang terhadap orang atau objek tertentu seperti rasa percaya, tolong
menolong, kesetiakawanan, rasa aman, dan jaringan kerja.
Rasa percaya,
kesediaan menjalin jaringan kerja dan mematuhi norma yang berlaku merupakan
respons terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.
Penelitian ini mencoba mengukur modal sosial sebagai variabel laten
(variabel konsepsional) melalui variabel terukur (indikator) rasa percaya, jaringan
kerja dan norma. Pretty dan Ward (2001), menyatakan bahwa rasa percaya adalah
pabrik yang menghasilkan kerjasama.
Fukuyama (1995) mendefinisikan rasa
percaya sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran dan perilaku
kooperatif yang muncul dalam sebuah komunitas yang didasarkan pada normanorma yang dianut bersama oleh anggota komunitas tersebut. Salah satu upaya
membangun rasa percaya dapat dilakukan melalui aktivitas yang bersifat
resiprokal yang memungkinkan terjadinya pertukaran.
DeFilippis (2001), menyatakan bahwa pembangunan ekonomi tidak
sekedar membutuhkan adanya koneksi atau ikatan-ikatan (bonding maupun
bridging capital) namun lebih pada tingkat partisipasi anggota yang terlibat dalam
ikatan-ikatan tersebut. Ketiadaan partisipasi dalam suatu jaringan kerja sosial
yang kuat, tidak saja mengurangi bahkan dapat meniadakan rasa percaya sehingga
modal sosialpun kurang terbangun (Coleman, 1990). Semakin banyak ikatan akan
menunjukkan stok modal sosial yang semakin baik. Namun demikian, ikatanikatan tersebut harus selalu dapat diperbaharui untuk menyesuaikan dengan
kemajuan teknologi dan tuntutan zaman. Selain itu, ikatan-ikatan tersebut akan
semakin baik apabila hubungan yang terbangun didalamnya merupakan ikatan
yang bersifat dua arah, bukan searah.
112
Pada beberapa kasus, ketiadaan ikatan atau keterisolasian seseorang atau
suatu komunitas memang memberikan manfaat namun sebagian besar
keterisolasian menyebabkan terhambatnya proses pembangunan dan proses
peningkatan kesejahteraan individu dan wilayah. Lin (2001), menyatakan bahwa
faktor utama yang mempengaruhi luasnya jaringan kerja dan tingkat rasa percaya
seseorang adalah adanya kelompok sosial, budaya dan agama.
Indikator rasa percaya adalah jawaban dari pertanyaan ”seberapa besar
seseorang mempercayai orang lain yang berasal dari etnis yang sama (thick trust)
dan etnis lain (thin trust)”(Gambetta, 1998; Fukuyama (1995) dalam Pretty dan
Ward, 2001). Indikator sikap kehati-hatian diukur dari rataan terhadap jawaban
pertanyaan ”apakah kita dapat percaya terhadap orang lain ataukah kita harus
selalu berhati-hati”. Pemetaan terhadap hasil pengukuran kedua indikator tersebut
ditunjukkan pada Gambar 25.
Rasa Percaya (General
Trust)
Pemetaan Wilayah Berdasarkan Sikap Kehati-hatian dan
Rasa percaya (General Trust)
2.8
Wilayah Maju
2.7
2.6
2.5
2.4
Wilayah Belum
Berkembang
2.3
2.2
1.8186
1.8187
1.8188
1.8189
1.819
1.8191
1.8192
1.8193
1.8194
Sikap Kehati-hatian
Wilayah Belum Berkembang
Gambar 25
Wilayah Maju
Pemetaan Wilayah Berdasarkan Sikap Kehati-hatian dan Rasa
Percaya di Bali, Tahun 2005
Indikator-indikator tersebut merupakan indikator yang digunakan oleh
Putnam (1993) maupun Grootaert (1999) dalam penelitian modal sosial
sebelumnya. Hasil uji beda rataan berbagai indikator modal sosial di wilayah
belum berkembang dan wilayah maju menunjukkan bahwa indikator rasa percaya,
kepadatan organisasi dan norma saling bantu berbeda secara nyata di kedua
wilayah tersebut. Hasil analisis ini mendukung hasil analisis Putnam (1993),
Fukuyama (1995) dan Grootaert (1999).
Rasa percaya masyarakat di wilayah
113
maju lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah belum berkembang, demikian
pula dengan kesediaan menjaga anak. Tingginya rasa percaya dan sikap saling
bantu merupakan indikasi kuatnya modal sosial. Namun kepadatan organisasi di
wilayah belum berkembang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah maju
(sejalan dengan Knack dan Keefer, 1997).
Tabel 21 Uji Beda Rataan Indikator Modal Sosial Individu di Wilayah
Belum berkembang dan Wilayah Maju di Bali, 2005
Indikator
Wilayah Maju
Rasa Percaya
Kemudahan
Menitipkan
anak (Norma saling bantu)
Kepadatan jaringan kerja
(Network Density)
Sumber : Analisis Data Primer, 2005
Wilayah Belum
Berkembang
P-Value
(Mann-Whitney)
2.76
1.46
2.30
1.33
0.00
0.09
3.13
3.27
.000
Rasa Percaya dan Dinamikanya
Di Bali terdapat lembaga adat yang hingga saat ini memiliki peran untuk
menjaga budaya Bali dan mengikat kuat anggotanya melalui penerapan sanksi
moral.
Eksistensi lembaga adat (desa/banjar pakraman) ini tetap terjaga
mengingat fungsi yang dijalankannya berhubungan erat dengan aktivitas
keagamaan. Tingginya frekwensi aktivitas yang dilakukan menyebabkan
tingginya intensitas interaksi antar individu dari etnis yang sama dan mengurangi
intensitas interaksi dengan etnis lain. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasa
percaya antar sesama etnis (thick trust) lebih tinggi dibandingkan dengan rasa
percaya terhadap etnis lain (thin trust). Uji beda dua sampel yang independent
menunjukkan bahwa thick trust di wilayah belum berkembang lebih kuat
dibandingkan dengan di wilayah maju, sedangkan thin trust tidak berbeda nyata.
Terdapat hubungan nyata yang negatif antara rasa percaya terhadap
sesama etnis (thick trust) dengan rasa percaya terhadap etnis lain (thin trust)
artinya semakin kuat rasa percaya terhadap sesama etnis cenderung diikuti oleh
melemahnya rasa percaya terhadap etnis lain. Lemahnya rasa percaya terhadap
etnis lain (thin trust) harus diwaspadai mengingat dampaknya terhadap kerukunan
antar etnis, kelompok maupun golongan yang cenderung semakin heterogen di
114
Bali. Rendahnya thin trust akan berpengaruh terhadap interaksi antar kelompok
masyarakat lokal dengan kelompok masyarakat pendatang, wisatawan maupun
pencari kerja. Rendahnya thin trust cenderung akan mengurangi pula sikap
keterbukaan (openness behaviour) yang merupakan salah satu komponen penting
dalam pengembangan kepariwisataan Bali.
Level Thick dan Thin Trust Masyarakat di Bali, 2005
20.40
21.55
Sangat rendah
18.39
Rendah
10.92
20.00
Sangat
rendah
rendah
sedang
tinggi
0.29
2.01
Sangat Tinggi
0.29
0.29
2.87
0.86
0.29
0.29
1.44
1.44
5.75
0.00
Sedang
Tinggi
1.44
5.00
1.72
10.00
7.18
15.00
2.59
Thick Trust
25.00
sangat
tinggi
Thin Trust
Gambar 26
Keterkaitan antara Rasa Percaya Individu terhadap Individu
Sesama Etnis maupun Beda Etnis di Bali, Tahun 2005
Ada kemungkinan rendahnya thin trust masyarakat di Bali disebabkan
oleh rendahnya intensitas interaksi antar penduduk lokal dengan pendatang karena
sesungguhnya masyarakat Bali merupakan masyarakat yang sangat toleran,
mudah beradaptasi dengan sistem yang terbuka (Artadi (1993) dalam Robinson
(1995)). Seperti telah diketahui secara luas, padatnya aktivitas dalam desa/banjar
pakraman dapat menjadi penyebab rendahnya intensitas interaksi antar penduduk
lokal dan pendatang. Selain itu, beragam pengalaman baik dan buruk yang
pernah dialami masyarakat Bali akan membentuk sikap dan rasa percaya mereka.
Tabel 22 Hasil Analisis Beda Rataan (Uji Mann-Whitney) Rasa Percaya Di Bali,
Tahun 2005
Indikator
Rasa Percaya (General Trust)
Rasa Percaya antar Sesama Etnis
(Thick Trust)
Rasa Percaya Terhadap Kinerja Polisi
Sumber : Analisis Data Primer, 2005
Wilayah Belum
Berkembang
2.30
3.32
Wilayah
Maju
2.76
3.13
P-Value
(Mann-Whitney)
.000
.063
3.00
2.49
.000
115
Rasa percaya masyarakat di wilayah belum berkembang dan di wilayah
maju terhadap kinerja aparat keamanan juga berbeda nyata.
Masyarakat di
wilayah belum berkembang memiliki rasa percaya yang lebih tinggi terhadap
aparat keamanan (polisi) dibandingkan dengan masyarakat di wilayah belum
berkembang. Kinerja aparat adalah faktor utama yang dapat membangun rasa
percaya masyarakat. Masyarakat akan memiliki rasa percaya yang tinggi kepada
aparat apabila kinerjanya baik dan bersih, yang dicerminkan dari kemampuannya
mewujudkan keamanan dan ketenteraman bagi masyarakat.
Rasa percaya bersifat dinamis yang dinamikanya dipengaruhi oleh faktorfaktor intensitas interaksi, kebudayaan, pengalaman dan institusi (Azwar, 2005).
Masyarakat mengakui bahwa rasa percaya mereka bersifat dinamis tidak statis.
Sebanyak 59.41 persen masyarakat di wilayah maju menyatakan bahwa rasa
percaya mereka telah berubah dalam lima tahun terakhir, 30 persen menyatakan
rasa percaya mereka semakin baik sedangkan 29.41 persen merasakan rasa
percaya yang semakin melemah.
Sebaliknya di wilayah belum berkembang,
sebagian besar masyarakat (63.01 persen) menyatakan tidak terjadi perubahan
rasa percaya. Hanya 19.18 persen merasakan adanya perubahan ke arah yang
semakin baik, sedangkan sisanya (17.81 persen) menyatakan rasa percaya yang
semakin memburuk.
Persentase Jml
Masy
80
63.01
60
40
30
40.59
29.41
S e ma k i n Kua t
19.18 17.81
20
S e m a k i n Le m a h
Te t a p
0
Maju
Belum Berkembang
Su mb e r : D a t a P r i me r , 2 0 0 5
Wilayah
Gambar 27 Dinamika Rasa Percaya dan Lokasi Tempat Tinggal, Tahun 2005
Di wilayah belum berkembang, norma-norma kebersamaan masih
mengikat kuat sehingga mampu menjadi benteng pertahanan yang menahan
masuknya berbagai nilai-nilai baru yang tidak dikehendaki bersama.
Secara
116
umum, di Bali dikenal konsep menyamabraya yang masih berakar kuat dalam
kehidupan masyarakat. Konsep tersebut menyiratkan bahwa keluarga tidak hanya
berarti keluarga batih tetapi juga tetangga maupun anggota banjar lainnya.
Menyamabraya berarti saling bantu dalam menghadapi masalah yang bersifat
material maupun non material. Kekuatan norma tersebut tentunya harus dilandasi
oleh sikap saling percaya dan bersifat resiprokal. Rasa percaya tidak saja
memelihara keberlangsungan norma-norma yang mengandung nilai kearifan
namun juga mendasari keputusan seseorang untuk bergabung dalam suatu
kelompok maupun sebaliknya memisahkan diri dari kelompok yang telah diikuti
sebelumnya.
Dinam ika Rasa Percaya berdasarkan Tingkat Kehati-Hatian
Masyarakat
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
51.71
49.02
29.41
24.71
Semakin Baik
21.5723.57
Semakin Buruk
Tetap
Dinam ika Rasa Percaya
Dapat Dipercaya
Perlu Hati-Hati
Gambar 28 Dinamika Rasa Percaya Berdasarkan Tingkat Kehati-hatian
Masyarakat di Bali, Tahun 2005
Suatu kelompok atau komunitas yang masing-masing anggotanya
memiliki rasa percaya yang tinggi dikatakan kaya akan modal sosial.
Ahli
sosiologi, antropologi dan ilmu politik menyatakan bahwa rasa percaya memiliki
peran penting berkaitan dengan pelaksanaan aktivitas bersama (colective action).
Kuat lemahnya modal sosial dalam suatu masyarakat dapat diukur melalui tinggi
rendahnya tingkat rasa percaya antar masyarakat yang juga tergambarkan melalui
partisipasi masing-masing anggota dalam aktivitas bersama dan intensitas
kegiatan tersebut. Oleh karena itu, seringkali pula dikatakan bahwa rasa percaya
atau modal sosial adalah barang publik (public good), setiap anggota memiliki
kesempatan memanfaatkannya namun seringkali merasa tidak berkewajiban untuk
117
memeliharanya. Salah satu upaya untuk menjaga modal sosial adalah melalui
sikap tolong menolong antar anggota masyarakat.
Semua masyarakat yang memiliki rasa percaya tinggi bersedia
memberikan bantuan namun hanya 23.53 persen selalu membantu, 47.36 persen
menyatakan hampir selalu membantu dan 29.11 persen menyatakan kadangkadang membantu. Sebaliknya, ada sebagian kecil masyarakat yang memiliki
kepercayaan rendah atau kelompok masyarakat yang selalu berhati-hati
menyatakan jarang bahkan tidak pernah membantu orang lain (2.26 persen) dan
sisanya selalu memberi bantuan pada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa
secara tidak langsung, masyarakat di Bali selalu berupaya untuk menjaga
hubungannya dengan pihak lain dengan cara selalu bersikap saling bantu
membantu (menyamabraya). Menjaga hubungan sosial tersebut dalam pengertian
lain berarti menjaga modal sosial dalam masyarakat. Sikap hati-hati yang mereka
miliki tidak mengurangi sikap saling bantu. Sikap tolong-menolong masyarakat di
Bali lebih bersifat resiprokal yang terpelihara
karena adanya kepercayaan
terhadap norma yang dikenal dengan hukum karma (karma pahala)1.
Kesediaan Memberi
Bantuan Fisik
Keterkaitan Indikator Kemudahan Memperoleh Bantuan Fisik
dan Sikap Kehati-hatian
1.94
Wilayah Belum
Berkembang
1.935
1.93
1.925
1.92
1.915
1.91
1.8186
Wilayah Maju
1.8187
1.8188
1.8189
1.819
1.8191
1.8192
1.8193
1.8194
Sikap Kehati-hatian
Wilayah Belum Berkembang
Wilayah Maju
Gambar 29 Kesediaan Membantu Orang Lain Berdasarkan Tingkat Kehati-hatian
Masyarakat di Bali, Tahun 2005
1
Dikenal dengan Karma Pala, diyakini bahwa setiap perbuatan akan membuahkan hasil
118
Jaringan Kerja dan Partisipasi
Kepadatan jaringan kerja masyarakat adalah jumlah organisasi yang ada
dalam suatu masyarakat dimana seseorang terlibat di dalamnya. Rataan kepadatan
jaringan kerja tertinggi terdapat di Kabupaten Gianyar sedangkan yang terendah
di Kabupaten Jembrana.
Sedikitnya ada dua organisasi yang diikuti oleh
masyarakat di Kabupaten Jembrana dan Karangasem (banjar pakraman dan
subak), sedangkan di Kabupaten Badung dan Gianyar ada sejumlah anggota
masyarakat yang hanya ikut dalam satu organisasi saja, yaitu banjar pakraman.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepadatan jaringan kerja masyarakat di
Bali relatif rendah (3.19) jika dibandingkan dengan hasil penelitian Grootaert
(1999) di tiga provinsi lainnya yaitu Jambi (3.7), Jawa Tengah (6.0) dan Nusa
Tenggara Timur (6.5).
Di Bali, kepadatan jaringan kerja di wilayah belum berkembang hanya
3.27 sedangkan di wilayah maju lebih rendah yaitu 3.13.
Hasil penelitian
menunjukkan pula bahwa organisasi yang terpenting bagi sebagian besar
masyarakat di Bali adalah banjar pakraman. Tidak terdapat hubungan antara rasa
percaya dan kepadatan jaringan kerja. Kedua hasil penelitian tersebut
mempertegas bahwa keikutsertaan masyarakat dalam suatu organisasi bukan
didasarkan atas rasa percaya.
Kenyataannya, keikutsertaan seseorang dalam
organisasi banjar/desa pakraman memang bukan didasarkan atas rasa percaya
terhadap pemimpin atau anggota lain dalam organisasi tersebut melainkan
keharusan (sanksi adat).
Keterkaitan Kepadatan Jaringan Kerja dan Partisipasi
Partisipasi
2.8
Wilayah Maju
2.75
2.7
2.65
Wilayah Belum
Berkembang
2.6
2.55
3.14
3.16
3.18
3.2
3.22
3.24
3.26
3.28
3.3
3.32
3.34
Kepadatan Jaringan Kerja
Wilayah Belum Berkembang
Wilayah Maju
Gambar 30 Pemetaan Wilayah Berdasarkan Tingkat Partisipasi Masyarakat dan
Kepadatan jaringan kerja di Bali, Tahun 2005
119
Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa rasa percaya tidak berkaitan
dengan partisipasi dalam pengambilan keputusan. Masyarakat yang memiliki
tingkat rasa percaya yang rendah maupun tinggi tetap saja memberi partisipasi
dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kelompok. Hal ini
ditunjukkan oleh jumlah masyarakat yang berpartisipasi aktif dalam setiap
aktivitas kelompok baik pada tingkat rasa percaya rendah maupun tinggi. Analisis
ini memang masih dilakukan secara umum tanpa melakukan pengelompokan,
sehingga hasil yang diperoleh mungkin saja belum dapat menggambarkan
% Jml Masyarakat
yang Berpartisipasi
spesifikasi karakteristik wilayah atau kelompok.
56.86
60.00
51.89
50.00
40.00
20.00
10.00
25.38
23.53
30.00
7.84
11.76
11.74
10.98
0.00
Tinggi
Rendah
Rasa percaya
Pemimpin
sangat aktif
kadang-kadang aktif
tidak berpartisipasi
Gambar 31 Keterkaitan Rasa percaya dan Partisipasi Masyarakat di Bali,
Tahun 2005
Norma dan Awig-Awig
Ketaatan pada norma-norma yang berlaku dalam organisasi banjar
pakraman mendorong setiap anggota untuk memberikan kontribusi sesuai dengan
ketetapan yang telah disepakati. Norma yang bersifat resiprokal menjadi alasan
lain yang mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan
banjar pakraman.
Pengeluaran untuk kegiatan sosial merupakan indikator lain
yang digunakan untuk memproksi modal sosial dalam penelitian ini.
Hasil
analisis menunjukkan terdapat korelasi yang nyata antara pengeluaran sosial
dengan
kepadatan jaringan kerja, partisipasi serta jumlah pembonceng (free
rider). Di wilayah belum berkembang, semakin tinggi pengeluaran sosial
berkorelasi positif dengan kepadatan jaringan kerja, berkorelasi negatif dengan
120
partisipasi dan jumlah pembonceng artinya semakin tinggi kepadatan jaringan
kerja seseorang, maka semakin banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan.
Penduduk di wilayah belum berkembang sebagian besar merupakan
petani, pedagang kecil dan pengusaha industri rumah tangga.
Anggota
masyarakatnya dibedakan atas anggota aktif dan tidak aktif. Umumnya, anggota
tidak aktif adalah penduduk asli yang melakukan migrasi ke wilayah lain namun
tetap terikat dengan keberadaan tempat pemujaan leluhurnya. Kewajiban anggota
tidak aktif untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersama dapat diganti dengan
denda (dedosan). Oleh karena itu, mereka umumnya harus menanggung lebih
banyak pengeluaran sosial, sehingga besarnya pengeluaran sosial akan berkorelasi
dengan rendahnya partisipasi fisik. Namun demikian, dedosan dapat menjadi
media yang mendorong munculnya individu-individu yang bersikap sebagai
pembonceng, terutama bila besarnya denda relatif kecil dan dapat dilakukan tanpa
alasan yang kuat.
Di wilayah maju, pengeluaran sosial memiliki korelasi positif yang nyata
dengan partisipasi dan berkorelasi negatif dengan kepadatan jaringan kerja dan
jumlah pembonceng.
Semakin tinggi partisipasi semakin tinggi pengeluaran
sosial. Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam pemahaman
mengenai partisipasi di wilayah maju dan belum berkembang. Berbeda dengan
wilayah belum berkembang, partisipasi di wilayah maju diukur pada nilai nominal
yang dikeluarkan oleh setiap anggota masyarakat. Pada umumnya, pimpinan
kelompok di wilayah maju adalah individu yang telah memiliki kemapanan
finansial sedangkan pimpinan kelompok di wilayah belum berkembang adalah
individu yang memiliki curahan waktu lebih besar.
Simpulan Akhir Bab
Pembahasan bab ini menekankan pada analisis komponen modal sosial
seperti rasa percaya, jaringan kerja dan norma. Indeks rasa percaya individu di
empat kabupaten di Bali berada dalam kategori rendah. Hal ini ditunjukkan oleh
sikap kehati-hatian yang tinggi terhadap individu lainnya. Persentase individu
yang menyatakan percaya terhadap individu lain hanya 16. 38 persen.
Hal
tersebut berada dibawah Cina (59.63 %), Jepang (37.59 %), Korea Selatan (33.57
121
%), India (31.15 %) bahkan Afrika Selatan (26.63 %). Kepadatan jaringan kerja
individu dalam kategori sedang (3.19) namun lebih rendah dibandingkan
kepadatan jaringan kerja individu di Jambi (3.7), Jawa Tengah (6.0) maupun Nusa
Tenggara Timur (6.5) yang dihasilkan dari penelitian Grootaert (1999). Norma
saling bantu berada dalam kategori tinggi.
Komponen norma merupakan
indikator yang belum diamati oleh peneliti lainnya. Analisis deskriptif
menunjukkan bahwa modal sosial individu di wilayah belum berkembang lebih
rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan modal sosial di wilayah maju.
IDENTIFIKASI FAKTOR DOMINAN MODAL SOSIAL
DI EMPAT KABUPATEN DI BALI:
Pendekatan Pemodelan Persamaan Struktural
(Structural Equation Modelling)
Pada bab sebelumnya telah ditunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang
nyata antara tingkat rasa percaya, kepadatan jaringan kerja dan norma saling bantu
masyarakat di wilayah belum berkembang dan wilayah maju.
Hasil analisis
tersebut sesuai dengan pendapat Knack dan Keefer (1997) yang menyatakan
bahwa modal sosial memang sangat bervariasi dan berbeda-beda antar wilayah
demikian pula dengan dampaknya. Oleh karenanya, keterkaitan modal sosial
tidak dapat diberlakukan secara umum dan menjadi blue print bagi seluruh
wilayah. Peranan modal sosial, khususnya rasa percaya, akan lebih dirasakan oleh
masyarakat di wilayah-wilayah miskin (Rothstein, 2004).
Bab ini mencoba melakukan kajian empiris terhadap komponen dominan
yang membangun modal sosial di Bali.
Secara rinci struktur bab ini
menggambarkan hal-hal sebagai berikut: (1) penentuan indikator modal sosial
dominan di tingkat individu (tingkat mikro) yang bertempat tinggal di wilayah
belum berkembang (undeveloped) dan wilayah maju (developed region), serta (2)
penentuan indikator modal sosial dominan di tingkat kelompok (tingkat meso)
terutama pada komunitas pertanian (subak), banjar/desa pakraman dan
kepariwisataan (PHRI, Asita dan HPI).
Pengelompokan tersebut dilakukan
dengan pertimbangan bahwa keragaman karakteristik antar berbagai komunitas
maupun antar wilayah akan berpengaruh terhadap modal sosial.
Seperti telah dinyatakan dalam bab metodologi penelitian, indikator
kebaikan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai chi square, root
mean square residual (RMSE) dan adjusted goodness of fit index (AGFI). Hasil
analisis komponen dominan modal sosial yang dibangun berdasarkan model
umum untuk Bali, menunjukkan bahwa model tersebut cukup valid (nilai RMSE
lebih kecil dari 0.08 dan nilai AGFI lebih besar dari 0.8). Namun, nilai chi square
nyata (lebih kecil dari 0.05) menunjukkan model kurang fit (kurang sesuai)
dengan data empiris. Kekurangsesuaian model dengan data membutuhkan sikap
kehati-hatian dalam pengambilan kesimpulan mengenai kontribusi masing-masing
variabel tersebut.
Salah satu penyebab kekurangsesuaian model dengan data
123
empiris adalah keragaman karakteristik sosial ekonomi di wilayah penelitian
sehingga nilai masing-masing indikator akan cenderung saling meniadakan.
Berdasarkan model umum tersebut, rasa percaya ternyata merupakan satusatunya variabel yang nyata. Secara umum, Putnam (1995) dan Fukuyama (1999)
memang menyatakan bahwa rasa percaya adalah bagian terpenting dari modal
masyarakat untuk berdemokrasi secara sehat. Di Bali, seluruh indikator (peubah
manifes) rasa percaya memberi pengaruh nyata kecuali thin trust. Hasil analisis
ini menunjukkan bahwa semakin kuat rasa percaya pada sesama etnis (thick trust),
rasa percaya pada pengelola pemerintahan, rasa percaya pada penyelenggara
keamanan dan rasa percaya pada penyelenggara pendidikan, akan memperkuat
variabel laten rasa percaya dan akhirnya memperkuat modal sosial.
Komponen Modal Sosial di Tingkat Mikro:
Modal Sosial Individu di Wilayah Belum Berkembang dan Wilayah Maju
Uji signifikansi terhadap pengaruh indikator modal sosial secara
keseluruhan dilakukan dengan analisis peubah ganda (analisis multivariate).
Hasil analisis
menunjukkan bahwa nilai T2 Hotelling nyata (F = 1421.688,
probabilitas = 0.000) yang berarti secara keseluruhan, nilai indikator modal sosial
di wilayah maju lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan wilayah
belum berkembang. Putnam (1993), Beugelsdijk dan van Schaik (2003) dan Iyer
et al. (2005) memang menyatakan bahwa modal sosial bervariasi, sesuai dengan
letak geografis, tingkat pendapatan rumah tangga maupun keragaman etnisnya.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih rinci mengenai komponen
dominan modal sosial kemudian dilakukan analisis SEM di masing-masing
wilayah belum berkembang dan wilayah maju melalui dua tahap yaitu: (1)
menentukan kontribusi masing-masing indikator (peubah manifes) terhadap
variabel laten eksogen (rasa percaya, jaringan kerja dan norma); (2) menentukan
kontribusi variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogen (modal sosial).
Hasilnya adalah sebagai berikut:
124
Modal Sosial Individu di Wilayah Belum Berkembang
Wilayah belum berkembang dalam penelitian ini meliputi Kabupaten
Jembrana dan Karangasem yang terletak masing-masing di ujung barat dan timur
Provinsi Bali. Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa P-value 0.11671 (lebih
besar dari 0.05) adalah tidak nyata, artinya ada kesesuaian model dengan data
empiris (model fit). Nilai Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) 0.821 lebih
besar dari 0.8 sehingga model dianggap cukup baik untuk menggambarkan
keterkaitan antar variabel laten dan indikatornya (peubah manifes). Modal sosial
di wilayah belum berkembang ditentukan secara nyata oleh variabel rasa percaya,
jaringan kerja dan norma. Norma merupakan variabel yang memberi kontribusi
paling dominan.
Variabel rasa percaya ditentukan secara nyata oleh indikator rasa percaya
sosial (general trust), dinamika rasa percaya dan partisipasi. Kontribusi terbesar
untuk variabel laten rasa percaya berasal dari partisipasi artinya semakin tinggi
rasa percaya ditunjukkan oleh semakin tingginya partisipasi individu dalam
organisasi. Pertimbangan memasukkan partisipasi ke dalam variabel laten rasa
percaya didasarkan pendapat Azwar (2005), yang menyatakan bahwa sikap
seseorang tidak cukup jika dinilai hanya melalui penanyaan langsung namun juga
harus disertai dengan observasi terhadap perilaku. Partisipasi adalah perilaku
yang dapat diobservasi berkaitan dengan pernyataan tentang rasa percaya
seseorang. Individu yang memiliki rasa percaya yang tinggi terhadap pimpinan
maupun lembaga tertentu akan berpartisipasi dalam setiap aktivitas bersama.
Semua indikator (peubah manifes) jaringan kerja memberi kontribusi yang
nyata terhadap variabel laten jaringan kerja (network).
Namun, kontribusi
terbesar berasal dari indikator jumlah teman. Semakin tinggi kepadatan jaringan
kerja, semakin banyak teman dan semakin tinggi pengeluaran untuk kegiatan
sosial akan menguatkan jaringan kerja individu tersebut. .
Variabel laten norma ditentukan secara nyata oleh indikator jumlah
pembonceng (free rider), kemudahan menitipkan anak oleh tetangga, dan
kesediaan memberi bantuan fisik. Semakin berkurangnya perilaku free rider,
semakin mudah menitipkan anak pada tetangga serta memperoleh bantuan fisik
125
maka semakin kuat norma individu. Indikator dominan yang memberi kontribusi
terbesar adalah kemudahan menitipkan anak.
Tabel 23 Variabel Laten dan Signifikansi Masing-Masing Indikator
terhadap Variabel Laten Modal Sosial di Wilayah Belum
Berkembang di Bali, 2005
Variabel laten
Rasa Percaya*
Indikator
(kesadaran
percaya –
untuk
kehati-
t-hit
-0.081
-1.128
0.2330
3.015*
-0.176
-2.371*
0.741
3.640*
0.399
3.018*
-0.376
-2.497*
3. Bantuan fisik
0.264
3.353*
Jaringan Kerja*
1. Kepadatan jaringan kerja
0.295
2.918*
(0.431)
2. Pengeluaran sosial
0.263
2.295*
3. Jumlah teman
Sumber : Hasil analisis data primer, 2005
* nyata pada tingkat 5 persen
0.306
3.353*
(0.402)
1. Aware
bersikap
hatian)
Koefisien
2. General trust
3. Dinamika trust
4. Partisipasi
Norma*
1. Titip anak
(0.454)
2. Jumlah free rider
Ketiga variabel laten memberi kontribusi yang nyata dan positif terhadap
pembentukan modal sosial. Hasil tersebut menunjukkan bahwa membangun atau
menguatkan modal sosial di wilayah belum berkembang tidak dapat dilakukan
hanya melalui perbaikan salah satu komponen saja karena ketiganya memberi
kontribusi yang nyata.
Penguatan modal sosial harus dilakukan melalui
peningkatan rasa percaya, peningkatan partisipasi, menekan peluang munculnya
individu yang bersikap sebagai pembonceng, menjaga keberlangsungan norma
saling memberi bantuan fisik dan memperluas jaringan kerja (kehidupan
berorganisasi).
Norma merupakan variabel laten eksogen yang memberi konrtibusi paling
dominan terhadap variabel laten endogen modal sosial.
Hasil tersebut
menunjukkan bahwa norma masih mengikat kuat terhadap kehidupan sosial
masyarakat di wilayah belum berkembang. Perubahan norma yang kecil saja akan
berdampak besar terhadap perubahan modal sosial.
Oleh karena itu, upaya
126
terpenting menjaga modal sosial dapat dilakukan melalui penguatan norma saling
bantu dan tidak memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi (menekan
adanya pembonceng).
Modal Sosial Individu di Wilayah Maju
Wilayah maju dalam penelitian ini adalah kabupaten Kabupaten Badung
dan Kabupaten Gianyar. Hasil analisis persamaan struktural (SEM) menunjukkan
bahwa model yang dibangun memiliki nilai p (P-Value) yang lebih besar dari 0.05
yang menunjukkan bahwa model modal sosial yang dibangun memiliki
kesesuaian dengan data, valid dan dapat diterima. Demikian pula dengan nilai
RMSE yang lebih kecil dari 0.08 dan nilai AGFI lebih besar dari 0.8 yaitu 0.942.
Berdasarkan kriteria kecocokan model, dapat dinyatakan bahwa secara statistik,
model persamaan struktural yang diperoleh memiliki validitas yang tinggi.
Tabel 24 Variabel Laten dan Signifikansi Masing-Masing Indikator
di Wilayah Maju di Bali, 2005
Variabel laten
Rasa Percaya*
Indikator
(kesadaran
percaya –
untuk
kehati-
t-hit
0.448
4.383*
0.477
4.509*
0.245
3.024*
0.253
2.997*
0.027
0.403
-0.549
-7.238*
3. Bantuan fisik
0.733
6.248*
Jaringan Kerja
1. Kepadatan jaringan kerja
0.363
5.160*
(-0.101)
2. Pengeluaran sosial
-0.532
-5.409*
-0.254
-4.001*
(0.453)
1. Aware
bersikap
hatian)
Koefisien
2. General trust
3. Dinamika trust
4. Partisipasi
Norma
1. Titip anak
(0.104)
2. Jumlah free rider
3. Jumlah teman
Sumber : Hasil analisis data primer, 2005
* nyata pada tingkat 5 persen
Variabel laten rasa percaya menjadi satu-satunya komponen dominan
modal sosial yang memberi kontribusi nyata di wilayah maju. Variabel rasa
percaya tersebut ditentukan secara nyata oleh indikator (peubah manifes) sikap
kehati-hatian (aware), rasa percaya umum (general trust), dinamika rasa percaya
dan partisipasi.
127
Hasil analisis tahap kedua menunjukkan bahwa ada keterkaitan yang kuat
dan positif antara rasa percaya dan jaringan kerja (0.914), sebaliknya dengan
norma. Jaringan kerja memiliki keterkaitan negatif yang kuat dengan norma yaitu
-0.90, artinya semakin kuat norma yang berlaku akan membatasi masyarakat Bali
yang ada di wilayah maju untuk membangun jaringan kerja.
Berbeda dengan wilayah belum berkembang, membangun maupun
menguatkan modal sosial di wilayah maju hanya efisien bila dilakukan melalui
upaya memperkuat rasa percaya (trust).
Upaya tersebut ditentukan secara
dominan oleh rasa percaya sosial (general trust) sehingga harus memperoleh
perhatian terbesar. Selain itu, sikap kehati-hatian, partisipasi dan dinamika rasa
percaya juga dapat memperkuat rasa percaya masyarakat (Tabel 24).
Komponen Modal Sosial di Tingkat Meso:
Modal Sosial Kelompok Tradisional dan Modern
Berdasarkan sistem pengelolaannya, organisasi kemasyarakatan di Bali
dibedakan atas organisasi tradisional dan modern sedangkan berdasarkan proses
pembentukannya dibedakan atas organisasi formal dan non-formal.
Pada
umumnya, organisasi non-formal terbentuk dari adanya hubungan keluarga
maupun kekerabatan.
Sebaliknya, organisasi formal memiliki karakteristik
anggota yang sangat beragam sesuai dengan jenis dan tujuan organisasi (Gambar
32).
Masyarakat di Bali, terikat dalam organisasi tradisional formal maupun
non-formal seperti sekaa, dadia, subak dan desa/banjar adat. Sekaa dan dadia
merupakan organisasi tradisional non-formal karena keanggotaannya tidak
mengikat dan umumnya tidak memiliki awig-awig tertulis, sedangkan subak dan
desa/banjar adat adalah organisasi tradisional formal yang keanggotaannya
mengikat serta memiliki awig-awig tertulis maupun tidak tertulis. Anggota sekaa
umumnya bersifat temporal dan memiliki hubungan kekerabatan yang kuat dan
terbentuk sesuai dengan tujuan aktivitasnya seperti sekaa manyi, sekaa nandur,
sekaa gong, sekaa suling dan lainnya. Dadia adalah kelompok keluarga (extended
family) yang memiliki hubungan patrilineal. Jumlah anggota sekaa dan dadia
umumnya lebih kecil dibandingkan dengan subak dan desa/banjar adat. Ikatan
128
yang terbangun antar anggota sekaa maupun dadia didasarkan atas rasa
kebersamaan dan resiprositas. Setiap anggota dalam kelompok tradisional tidak
akan bersikap ragu-ragu untuk memberikan bantuan kepada anggota lainnya
karena adanya rasa percaya (trust), bahwa kelak, pada saat yang diperlukan,
anggota lain pasti akan mengulurkan tangan untuk membantu mereka (hukum
karma).
Modern
Klub olah raga, arisan,
dan hobbi
Organisasi Profesi,
Institusi Pemerintahan
Non-Formal
Formal
Sekaa dan Dadia
Kelompok adat dan
Subak
Tradisional
Sumber : Data Primer, 2005
Gambar 32 Klasifikasi organisasi di Bali berdasarkan proses pembentukan dan
Sistem pengelolaannya, 2005
Organisasi sosial tradisional yang mengkoordinasikan segala kegiatan
administratif masyarakat dikenal dengan nama banjar. Khusus untuk masyarakat
yang beragama Hindu, organisasi sosial yang mengordinasikan segala aktivitas
berkaitan dengan kegiatan sosial dan keagamaan disebut banjar pakraman. Setiap
anggota masyarakat yang beragama Hindu memiliki kewajiban yang sama dalam
banjar pakraman.
Sesuai dengan pembentukannya, anggota organisasi tradisional umumnya
merupakan penduduk yang telah menetap lama sehingga memiliki kehidupan
bertetangga dan keluarga (extended family) yang lebih erat. Mereka umumnya
mengelola tanah warisan yang telah berlangsung secara turun temurun.
Sebaliknya, anggota organisasi modern sebagian besar merupakan kelompok
129
pendatang di kota atau daerah-daerah yang menjadi pusat pengembangan sarana
kepariwisataan.
Iyer et al. (2005) menyatakan bahwa perbedaan karakteristik wilayah atau
komunitas berkaitan erat dengan modal sosial yang terbangun. Masyarakat di
wilayah tertentu mampu membangun modal sosial menyambung (bridging social
capital) yang kuat sedangkan masyarakat di wilayah lain akan lebih mampu
membangun modal sosial mengikat (bonding social capital). Individu tertentu
hanya percaya terhadap individu-individu yang telah dikenal sejak lama (strong
thin trust), sedangkan individu lain mudah mempercayai orang yang baru
dikenalnya (strong thick trust).
Kekentalan hubungan dalam suatu jaringan kerja apabila tidak disertai
dengan kekentalan antar kelompok dalam suatu wilayah, akan memudahkan
terjadinya penolakan-penolakan atau penghancuran terhadap orang-orang yang
ada di luar kelompok tersebut.
Hal tersebut akan meningkatkan frekwensi
pergesekan-pergesekan antar kelompok seperti perkelahian antar banjar adat,
kelompok masyarakat, dan penolakan-penolakan terhadap berbagai kebijakan
lembaga eksekutif dan legislatif yang ditetapkan di suatu wilayah.
Organisasi non-formal dan tradisional umumnya menerapkan sanksi moral
sedangkan organisasi formal modern tidak mengenal sanksi moral.
Proses
pembentukan organisasi formal modern lebih disebabkan oleh desakan kebutuhan
ekonomi daripada sosial. Oleh karena itu, organisasi modern seringkali tidak
mampu mengikat anggotanya secara emosional namun lebih pada rasionalitas
keinginan-keinginan pribadi (individual interest).
Modal Sosial dalam Subak
Struktur masyarakat Bali sedang mengalami perubahan secara gradual.
Masyarakat agraris berubah dan bermigrasi ke kota menjadi masyarakat
pariwisata. Komposisi etnis penduduk menjadi berubah, kasta dan wargapun
menjadi alat untuk mencapai tujuan politis.
Perubahan-perubahan tersebut
menyebabkan fungsi-fungsi sosial kelembagaan tradisional menjadi berkurang.
Kerjasama dan rasa aman yang merupakan produk dari terjaganya kelembagaan
130
tradisional menjadi barang langka dan membutuhkan biaya tinggi untuk
memperolehnya.
Saat kontribusi sektor pariwisata melemah yang disebabkan oleh faktor
internal maupun eksternal, masyarakat mulai mempertimbangkan untuk kembali
memfungsikan sektor pertanian seperti menjadi buruh tani.
pembangunan
yang
selama
ini
cenderung
memihak
Namun bias
sektor
pariwisata
menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dalam luasan yang besar dan secara
otomatis telanjur meniadakan organisasi subak yang keberadaannya berkaitan erat
dengan ketersediaan lahan pertanian di banyak daerah di Bali.
Subak adalah organisasi pengelola air untuk aktivitas pertanian yang telah
terbangun sejak dahulu dan hingga saat ini masih berperan penting dalam
keberhasilan usaha pertanian di Bali. Selama ini, tidak ada sistem kontrak formal
yang dilakukan oleh masing-masing anggota subak. Pembagian air dilakukan
dengan landasan sikap saling percaya antar anggota subak sesuai dengan aturan
yang telah ditentukan turun-temurun. Norma-norma dalam subak disepakati serta
ditaati oleh para anggota.
Keanggotaan subak bukan disebabkan oleh lokasi tempat tinggal tetapi
lokasi lahan sawah yang dikelolanya. Oleh karena itu, seringkali anggota subak
tidak saling bertetangga, bahkan mereka bertempat tinggal dalam wilayah desa
administratif maupun desa adat yang berbeda. Oleh karenanya, interaksi antar
anggota subak hanya terjadi saat-saat proses produksi maupun upacara
keagamaan.
Rendahnya kuantitas interaksi tersebut dapat menjadi salah satu
faktor yang mempengaruhi modal sosial dalam komunitas subak. Namun hasil
analisis non-parametrik menunjukkan bahwa perbedaan lokasi tempat tinggal
tidak menyebabkan anggota subak memiliki rasa percaya (trust) yang rendah
terhadap sesamanya. Thick trust anggota subak lebih tinggi dibandingkan dengan
thin trust-nya. Rasa percaya secara umum, memiliki hubungan positif yang nyata
dengan partisipasi anggota terhadap organisasinya. Implikasinya, peningkatan
rasa percaya cenderung akan diikuti dengan meningkatnya partisipasi dalam
organisasi tersebut. Dinamika partisipasi anggota subak-pun menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang nyata antara dinamika partisipasi dengan thick trust
anggota.
131
Pada tingkat kepercayaan 80 persen dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan negatif yang nyata antara rasa percaya dengan jumlah pembonceng
(free rider) artinya semakin banyak jumlah anggota yang bersikap sebagai
pembonceng cenderung akan melemahkan rasa percaya antar anggota. Di sisi
lain, dapat disimpulkan pula bahwa terdapat hubungan negatif yang nyata antara
jumlah anggota yang bersikap sebagai pembonceng dengan kesediaan anggota
memberi bantuan fisik terhadap orang lain artinya, semakin tinggi jumlah
pembonceng cenderung akan memperkecil kesediaan anggota memberi bantuan
fisik terhadap sesamanya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa anggota subak
cenderung bersikap resiprokal dibandingkan dengan altruisme.
Variabel laten modal sosial kelompok subak terdiri dari variabel laten rasa
percaya (trust), jaringan kerja (network) dan norma (norm). Namun berbeda
dengan indikator teramati dalam modal sosial individu, indikator teramati dalam
modal sosial kelompok adalah kepadatan jaringan kerja, kepemimpinan,
keterkaitan dengan organisasi lain yang memiliki tujuan sama dalam satu wilayah
(bonding 1) dan wilayah lain (bonding 2), keterkaitan dengan organisasi lain yang
memiliki tujuan berbeda dalam suatu wilayah (bridg 1) dan wilayah lain (bridg 2),
apresiasi terhadap dana kelompok maupun dana awal yang harus ditanggung
anggota tersebut.
Nilai Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) model adalah 0.914
menunjukkan bahwa model modal sosial subak dapat digunakan untuk
menggambarkan hubungan antar variabel laten endogen, variabel laten eksogen
dan indikator yang teramati (peubah manifes). Namun, nilai chi-square nyata dan
RMSE lebih besar dari 0.08 menunjukkan bahwa model tidak fit (kurang sesuai)
dengan data yang menuntut peneliti untuk berhati-hati dalam mengambil
kesimpulan.
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa variabel laten rasa percaya tidak
memberi kontribusi yang nyata terhadap variabel modal sosial.
Sebaliknya
variabel laten jaringan kerja (network) dan norma (norm) memberi kontribusi
yang nyata. Sebagian besar indikator jaringan kerja memiliki tanda yang negatif,
kecuali indikator keterkaitan organisasi subak dengan organisasi lain yang
memiliki tujuan yang berbeda di wilayah lain (Bridg 2), namun indikator tersebut
132
tidak nyata.
Implikasinya, jaringan kerja subak akan semakin baik apabila
anggota subak mengurangi interaksinya dengan organisasi lain, yang sejenis
(sesama subak) maupun organisasi yang tidak sejenis, yang ada di satu wilayah
maupun wilayah lain.
Tabel 25
Variabel Laten dan Signifikansi Masing-Masing Indikator terhadap
Variabel Laten Modal Sosial dalam Komunitas Subak di Bali, 2005
Variabel laten
Indikator
Rasa Percaya
1.
Kepadatan
(DN)
2.
Leadership
Jaringan Kerja*
1.
(0.580)
Koefisien
0.346
4.534*
0.893
7.768*
Bonding (1)
-0.109
-4.162*
2.
Bonding(2)
-3.881
-44.596*
3.
Bridging(1)
-0.075
-2.861*
4.
Bridging (2)
0.044
Norma*
1.
Dana Kelompok
0.827
8.430*
(0.216)
2.
Dana Awal
-1.187
-8.871*
(0.078)
jaringan
kerja
t-hit
1.705
Sumber : Hasil analisis data primer, 2005
*nyata pada tingkat 5 persen
Variabel laten norma memberi pengaruh nyata dan positif. Indikator
kesediaan menanggung dana untuk aktivitas kelompok berpengaruh positif,
sedangkan indikator dana awal berpengaruh negatif. Subak adalah organisasi
yang
tidak
berorientasi
ekonomi
melainkan
berorientasi
keberlanjutan
ketersediaan air untuk produksi padi di lahan sawah. Sebagian norma bersifat
tidak tertulis dan sebagian lainnya sudah tertulis. Semakin kuat norma yang
mengikat anggota maka semakin besar partisipasi anggota pada setiap aktivitas
kelompok yang berkaitan dengan penyediaan upakara untuk menjaga keselamatan
dan keberhasilan usaha pertanian mereka. Hal tersebut tentunya berdampak pada
semakin tinggi biaya-biaya yang harus ditanggung oleh anggota.
Kesediaan
anggota memberi kontribusi pada setiap kegiatan bersama yang dilaksanakan oleh
organisasi dapat menjadi indikator kuatnya rasa memiliki dan tanggung jawab
anggota terhadap keberlangsungan organisasi. Saat ini, pemerintah menyediakan
berbagai bantuan dana yang berkaitan dengan keikutsertaan subak dalam lomba
subak. Campur tangan pemerintah yang besar tersebut berpeluang mengurangi
133
rasa memiliki anggota subak, yang akhirnya dapat melemahkan kontrol sosial
anggota subak terhadap keberadaan organisasi subak tersebut.
Dalam komunitas subak, upaya membangun modal sosial dapat dilakukan
melalui penguatan jaringan kerja dan norma dimana kontribusi jaringan kerja
lebih besar dibandingkan dengan norma. Hasil penelitian ini mengindikasikan
bahwa modal sosial subak dapat ditingkatkan melalui jaringan kerja dan
penguatan norma-norma tradisional yang memiliki kearifan dan melibatkan
seluruh anggota.
Modal Sosial dalam Organisasi Kepariwisataan
Komunitas pariwisata terdiri dari beberapa kelompok yang dibedakan atas
lapangan pekerjaannya yaitu kelompok pramuwisata (HPI), pemilik hotel dan
restoran (PHRI) serta pemilik biro perjalanan wisata (Asita). Ketiga kelompok
tersebut memiliki karakteristik yang relatif sama yaitu merupakan organisasi yang
dikelola secara modern dan bersifat formal.
Seluruh anggotanya memiliki
pekerjaan di sektor pariwisata dengan standar kualitas pendidikan formal yang
lebih tinggi dibandingkan dengan anggota subak.
Analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif
yang nyata antara thick trust dan thin trust. Korelasi tersebut menunjukkan bahwa
semakin tinggi rasa percaya terhadap orang yang dikenal, maka semakin tinggi
pula rasa percaya terhadap orang yang tidak dikenal. Hasil analisis indikator
norma menunjukkan bahwa kesediaan memberi bantuan fisik berkorelasi nyata
dan negatif dengan jumlah pembonceng (free rider). Semakin banyak jumlah
individu yang bersikap sebagai pembonceng maka semakin lemah norma saling
bantu sehingga mengurangi kesediaan individu untuk memberi bantuan fisik
kepada individu lainnya.
Kesejahteraan berkorelasi nyata dan positif dengan pengeluaran sosial dan
sikap kehati-hatian, namun berkorelasi negatif dengan thick trust dan thin trust.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kesejahteraan
seseorang maka semakin besar pengeluaran sosial yang harus ditanggungnya dan
semakin besar sikap kehati-hatiannya.
Selanjutnya, semakin tinggi tingkat
kesejahteraan individu, semakin rendah rasa percaya terhadap individu lain.
134
Berdasarkan kriteria kebaikan model maka model struktural modal sosial
untuk komunitas pariwisata merupakan model yang valid karena sebagian besar
kriteria kebaikan model dipenuhi seperti nilai chi-square tidak nyata (P>0.05),
nilai AGFI adalah 0.804 dan RMSE kurang dari 0.08.
Modal sosial dipengaruhi secara nyata hanya oleh variabel rasa percaya
sedangkan jaringan kerja dan norma tidak nyata. Membangun atau menguatkan
modal sosial dalam komunitas pariwisata hanya dapat dilakukan melalui
peningkatan rasa percaya antar individu maupun kelompok yang terlibat dalam
aktivitas kepariwisataan tersebut. Selanjutnya, membangun rasa percaya
sebaiknya dilakukan melalui peningkatan kepadatan jaringan kerja masing-masing
anggota sehingga dapat diharapkan terjadi interaksi yang semakin intensif yang
sangat berguna untuk membangun rasa saling mempercayai atau menghilangkan
rasa saling mencurigai.
Tabel 26 Variabel Laten dan Signifikansi Masing-Masing Indikator
terhadap Variabel Laten Modal Sosial dalam Komunitas
Pariwisata di Bali, 2005
Variabel laten
Rasa Percaya*
(0.522)
Indikator
1.
Kepadatan jaringan
(DN)
2. Leadership
Jaringan Kerja
1. Bonding (1)
(0.291)
2. Bonding(2)
3. Bridging(1)
4. Bridging (2)
Norma
1. Dana Kelompok
(0.479
2. Dana Awal
Sumber : Hasil analisis data primer, 2005
*nyata pada tingkat 5 persen
Koefisien
kerja
t-hit
2.672
0.081
12.732*
1.369
0.158
0.503
0.917
0.265
0.438
-0.183
1.215
3.026*
3.398*
1.992*
1.250
-1.183
Selain itu, interaksi yang intensif dapat pula terjadi jika frekwensi kegiatan
bersama semakin ditingkatkan yang sekaligus dapat berfungsi sebagai media
interaksi untuk membangun rasa percaya.
Ada hubungan yang tidak dapat
dijelaskan secara sederhana antara rasa percaya dan kerjasama. Rasa percaya
adalah pabrik yang menghasilkan kerjasama, selanjutnya kerjasama akan
memungkinkan rasa percaya menjadi semakin kuat atau sebaliknya, melemah.
Sektor pariwisata adalah sektor jasa yang harus dikelola dengan biaya promosi
yang tinggi. Upaya promosi tidak lepas dari rasa percaya yang harus dibangun
135
artinya membangun rasa percaya di sektor pariwisata selain akan menguatkan
modal sosial juga akan menjadi upaya penting untuk mempromosikan
kepariwisataan Bali.
Penguatan modal sosial dalam komunitas pariwisata akan menyebabkan
semakin menguatnya rasa percaya.
Rasa percaya tersebut akan melandasi
terbangunnya kerjasama sehingga jaringan kerja pariwisata tersebut menjadi
semakin luas. Kerjasama formal yang berlandaskan atas rasa percaya tersebut
sangat berperan dalam pengembangan usaha kepariwisataan terutama menekan
biaya-biaya transaksi dan biaya komunikasi.
Hasil analisis sekali lagi
menekankan bahwa sektor pariwisata adalah sektor yang harus mengutamakan
kerjasama antar individu dalam satu organisasi maupun antar organisasi.
Kebutuhan akan jaringan kerja yang luas menunjukkan bahwa sektor pariwisata di
Bali tidak dapat berdiri sendiri.
Modal Sosial dalam Banjar/ Desa Pakraman
Proses modernisasi telah terjadi di Bali.
Namun dalam deras arus
modernisasi tersebut, masyarakat Bali tetap memiliki keyakinan religi yang relatif
kuat walaupun kehidupan dan nilai-nilai tradisional semakin berubah. Masyarakat
di Bali semakin heterogen tidak saja dalam hal sistem kepercayaan tradisional dan
sistem kekerabatannya namun juga dalam agama dan budaya yang berpengaruh
terhadap pola pikir dan pola perilakunya. Bali, sebagai tujuan wisata internasional,
menghadapi berbagai tantangan dan cobaan yang bersifat internal maupun
eksternal yang merupakan konsekwensi logis dari majunya pariwisata dan proses
global. Salah satu upaya untuk menghadapi ancaman eksternal dilakukan melalui
pemberdayaan desa adat.
Desa adat atau desa pakraman adalah lembaga desa yang bergerak di
bidang sosial budaya dan keagamaan. Sangat sulit untuk membedakan antara
kegiatan budaya dan keagamaan di Bali karena telah menyatu ibarat kain dengan
motif-motifnya yang saling memperindah keberadaannya. Masyarakat desa di
Bali yang terintegrasi dalam proses modernisasi akan mengalami ancaman dalam
kekompakan sosial dan kelestarian lembaga-lembaga adatnya akibat adanya
monetisasi (Couteau, 1995). Modal sosial diharapkan dapat melindungi
136
masyarakat di Bali, perdesaan maupun perkotaan, dari ancaman disintegrasi
tersebut.
Model persamaan struktural modal sosial dalam komunitas desa adat
memiliki beberapa kriteria kebaikan model yaitu nilai chi-square yang tidak nyata
(>0.5), RMSE lebih kecil dari 0.08 dan nilai AGFI lebih besar dari 0.8. Nilai chisquare yang tidak nyata menunjukkan bahwa ada kesesuaian antara model dan
data sehingga model dapat diterima dan valid digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan.
Tabel 27 Variabel Laten dan Signifikansi Masing-Masing Indikator
terhadap Variabel Laten Modal Sosial dalam Komunitas
Banjar/Desa Pakraman di Bali, 2005
Variabel laten
Rasa Percaya*
(0.380)
Jaringan Kerja*
(0.391)
Norma
(0.073)
Indikator
Koefisien
t-hit
1.101
1.586
0.230
1.368
Bonding (1)
0.867
4.233*
2.
Bonding(2)
0.267
2.608*
3.
Bridging(1)
0.600
3.492*
4.
Bridging (2)
0.294
2.454*
1.
Dana Kelompok
0.232
1.745*
-0.717
-1.794*
1.
Kepadatan
(DN)
2.
Leadership
1.
jaringan
kerja
2. Dana Awal
Sumber : Hasil analisis data primer, 2005
*nyata pada tingkat 5 persen
Hasil analisis menunjukkan bahwa modal sosial dipengaruhi secara nyata
oleh variabel rasa percaya dan jaringan kerja. Rasa Percaya memberi kontribusi
nyata terhadap variabel laten endogen modal sosial namun tidak ada indikator
yang dapat menjelaskan secara nyata bagaimana rasa percaya tersebut dibangun.
Berbeda halnya dengan kontribusi variabel laten eksogenus jaringan kerja yang
memiliki nilai lebih besar dan juga nyata. Membangun Jaringan kerja dapat
dilakukan dengan membangun hubungan baik terhadap semua organisasi yang ada
dalam wilayah yang sama maupun di luar wilayah.
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa indikator dari variabel laten rasa
percaya adalah kepadatan jaringan kerja dan pola kepemimpinan namun kedua
indikator tersebut tidak signififan. Selanjutnya, seluruh indikator dari variabel
137
laten jaringan kerja memiliki kontribusi nyata yang meliputi interaksi antar
organisasi desa adat dalam satu wilayah (bonding 1) maupun wilayah lain
(bonding 2) serta interaksi antar organisasi yang berbeda tujuan di wilayah yang
sama (bridging 1) maupun berbeda (bridging 2). Pada tingkat kepercayaan yang
lebih rendah, seluruh indikator dari variabel norma juga berpengaruh nyata.
Simpulan Akhir Bab
Modal sosial tertambat pada struktur sosial yang terbangun dalam suatu
masyarakat. Oleh karena itu, komponen dominan modal sosial berbeda-beda
sesuai dengan karakteristik struktur sosial ekonominya (Putnam (1993),
Beugelsdijk dan van Schaik (2003), dan Iyer et al. (2005)). Di Bali, komponen
dominan modal sosial di wilayah maju adalah rasa percaya sedangkan komponen
modal sosial di wilayah belum berkembang adalah rasa percaya, jaringan kerja,
dan norma yang kontribusinya sangat dominan.
Komponen dominan modal sosial dalam organisasi modern (komunitas
pariwisata) adalah rasa percaya.
Jaringan kerja merupakan komponen yang
memberi kontribusi paling dominan terhadap modal sosial dalam organisasi
tradisional (komunitas subak dan komunitas banjar pakraman). Selain jaringan
kerja, komponen modal sosial yang memberi kontribusi nyata dalam komunitas
subak adalah norma sedangkan dalam komunitas banjar pakraman adalah rasa
percaya.
Hasil analisis komponen dominan modal sosial tersebut menunjukkan
bahwa membangun modal sosial individu di suatu wilayah maupun membangun
modal sosial kelompok dalam suatu komunitas tidak dapat dilakukan melalui
suatu pola yang sama. Ketertambatan modal sosial dengan struktur sosialnya
harus menjadi pertimbangan utama.
ANALISIS PERAN MODAL SOSIAL DAN KETERKAITANNYA
DENGAN INDIKATOR KESEJAHTERAAN:
Analisis di Tingkat Mikro dan Makro
Pemahaman pembangunan ekonomi seringkali diartikan sama dengan
pertumbuhan ekonomi padahal keduanya merupakan hal yang berbeda. PDRB,
PAD serta laju PDRB merupakan indikator pertumbuhan ekonomi wilayah
sedangkan indikator pembangunan ekonomi wilayah selain mencakup indikator
pertumbuhan ekonomi juga mempertimbangkan indikator sosial dan kelembagaan
termasuk distribusi kesejahteraan. Seringkali, tingginya pertumbuhan ekonomi
diikuti oleh terjadinya peningkatan ketimpangan pendapatan antar wilayah
maupun antar kelompok masyarakat yang keduanya dapat menjadi pemicu konflik
dan ketidakamanan.
Pembangunan di Bali sejak dulu dijiwai oleh agama Hindu yang diperkaya
oleh kebhinekaan nilai-nilai budaya seluruh daerah di Indonesia. Interaksi yang
terbangun antara penduduk lokal dan pendatang, tidak saja memberi dampak pada
kehidupan ekonomi namun juga perubahan kehidupan sosial. Bali sesungguhnya
telah mengalami pengaruh luar sejak jaman Kerajaan Majapahit. Salah satu bukti
adanya pengaruh luar tersebut adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan
kasta. Ardhana (1994) menyatakan bahwa kelompok Bali asli (Bali Aga) tidak
mengenal istilah kasta, artinya kelompok masyarakat Bali yang berkembang saat
ini dan terikat dalam sistem kasta bukanlah penduduk asli Bali. Menurutnya
kekawin Jawa, Nagarakrtagama, menguatkan fakta bahwa kebudayaan Jawa
sangat mendominasi Bali sejak abad ke 14. Pengembangan kebudayaan Jawa di
Bali dimulai sejak adanya pusat-pusat kerajaan di setiap kabupaten
yang
menyerupai galaksi mengelilingi Bali kecuali di Kabupaten Jembrana.
Pusat
Galaksi tersebut terdapat di Klungkung (Artadi, 1993).
Pengaruh negara asing juga telah terjadi sejak masuknya pedagang
Portugis tahun 1586 yang kemudian diikuti oleh misi Belanda tahun 1597.
Hubungan yang terbangun lebih bersifat hubungan penjualan orang-orang Bali
sebagai budak yang didorong oleh tekanan masalah sosial bukan masalah
ekonomi. Kerajaan Karangasem adalah kerajaan pertama yang meminta
pertolongan pihak luar terutama untuk meningkatkan kekuatannya agar mampu
139
memperluas kekuasaannya di Lombok. Upaya ini diikuti oleh Kerajaan
Klungkung dan Badung. Perjanjian yang mereka tandatangani menyetujui bahwa
kerajaan-kerajaan tersebut berada di bawah kekuasaan Belanda dan saat itu
menjadi pertanda mulai masuknya pengaruh budaya asing di Bali (Couteau,
1995).
Interaksi dalam perdagangan juga mendorong masuknya pengaruh budaya
daerah lain dalam budaya masyarakat di Bali saat ini, terutama dalam hal
pembangunan pemukiman serta tatacara berbusana. Pitana (1994) menyatakan
bahwa perubahan dan dinamika merupakan suatu yang hakiki dalam masyarakat
dan kebudayaan tak terkecuali perubahan dalam masyarakat Bali. Perubahan
memang seringkali menimbulkan rasa kekhawatiran terhadap kelestarian
kebudayaan Bali namun tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan membawa nilainilai positif yang dapat meningkatkan kesejahteraan manusia.
Perubahan dalam suatu masyarakat tidak saja meliputi perubahan nilainilai, norma-norma dan pola-pola perilaku sosial tetapi juga susunan kelembagaan
masyarakat dan struktur sosial (Artadi, 1993). Perubahan bukan merupakan suatu
masalah apabila membawa kebaikan bagi semua pihak, sebaliknya akan menjadi
masalah jika perubahan tersebut hanya menguntungkan kelompok tertentu dan
merugikan kelompok lain, membangun satu sektor melalui peniadaaan sektor lain,
atau memajukan satu wilayah dengan cara mencuci sumber daya daerah lain
(backwash).
Menurut Sujana (1994), proses industrialisasi di Bali telah
menghasilkan manusia-manusia Bali yang majemuk, sangat berambisi menguasai
status, materi dan uang.
Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa
komponen modal sosial yang dominan di Bali sangat beragam sesuai dengan
karakteristik wilayah dan komunitasnya. Bab ini ditujukan untuk menganalisis
keterkaitan modal sosial dan pembangunan ekonomi wilayah.
Hasil analisis
diharapkan dapat menjawab apakah modal sosial berperan terhadap kesejahteraan
masyarakat dan pembangunan ekonomi di Bali dan sebaliknya apakah
kesejahteraan
masyarakat
dan
pembangunan
ekonomi
berperan
dalam
pembangunan modal sosial. Analisis keterkaitan di tingkat mikro didasarkan atas
data modal sosial di empat kabupaten yaitu Kabupaten Jembrana, Kabupaten
140
Karangasem, Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar, sedangkan analisis di
tingkat makro didasarkan atas data panel dari seluruh kabupaten/kota di Bali.
Struktur Perekonomian Bali
Perkembangan pesat di sektor pariwisata menyebabkan terjadinya loncatan
dari sektor primer ke sektor tersier dalam perekonomian Bali.
Transformasi
sektoral tersebut dapat dilihat dari dominasi kontribusi sektor perdagangan, hotel
dan restoran menggantikan dominasi sektor pertanian dalam produk regional
domestik
bruto
(PDRB)
Provinsi
Bali.
Sesungguhnya,
perkembangan
kepariwisataan di Bali sangat didukung oleh sektor pertanian mengingat icon
kepariwisataan di Bali adalah pariwisata budaya dengan keindahan alam termasuk
pemandangan lahan sawah dan terasering yang dibangun oleh masyarakat
pertanian di perdesaan.
Sayangnya, perkembangan kepariwisataan diduga
menjadi penyebab terjadinya alih fungsi lahan produktif ke penggunaan nonproduktif yang secara tidak langsung mengancam keberadaan sektor pertanian dan
menghilangkan beberapa kelembagaan pertanian yang sudah mapan seperti subak
(rata-rata 1675 ha/tahun lahan sawah yang terkonversi pada periode tahun 1999 –
2004).
Hampir seluruh usaha pertanian di Bali merupakan usaha pertanian
tradisional (berupa usahatani padi dan palawija, vanili, cengkeh, kopi serta
tanaman hortikultura), tidak ada perkebunan besar, baik milik negara (BUMN)
maupun swasta.
Posisi tawar petani lemah dan upaya pemerintah provinsi
maupun kabupaten untuk memperkuat posisi tawar ini belum optimal. Luasan
lahan pertanian yang diusahakan oleh rumah tangga petani relatif sempit.
Sebaliknya, sektor pariwisata adalah sektor modern yang pengelolaannya
dilakukan secara profesional.
Perkembangan pesat di sektor pariwisata telah
menjadi faktor penarik bagi tenaga kerja produktif yang berada di sektor pertanian
dan mendorong sebagian petani untuk menjual lahan mereka, pindah berusaha di
sektor jasa karena bekerja di sektor pertanian tidak lagi menarik.
Berbeda dengan peran pemerintah di sektor pertanian, peran pemerintah
dalam memperkuat kepariwisataan relatif lebih besar. Pada saat kontribusi sektor
perdagangan, hotel dan restoran melemah dan berada pada keadaan paling
141
tertekan di tahun 2003, pertumbuhan sektor ini turun hingga mencapai angka 0.46
yang disebabkan oleh terjadinya keadaan tidak aman (ledakan bom) pada Oktober
2002, pemerintah terus menerus menggiatkan aktivitas promosi ke berbagai pasar
wisata di dalam dan luar negeri. Sebagai daerah tujuan wisata nasional dan
internasional, gangguan keamanan memang sangat mempengaruhi jumlah
kunjungan wisata dan lama tinggal wisatawan di Bali.
35
30
25
20
15
10
5
0
1996*
1997*
1998*
1999*
2000*
2001*
2002*
2003*
2004**
P ertumbuhan P DRB P ertanian
P ertumbuhan P DRB P erdagangan, Ho tel dan resto ran
Distribusi persentase P DRB P ertanian
Distribusi persentase P DRB P erdagangan, Ho tel dan Resto ran
Sumber: Data Bali Membangun Tahun 1999 – 2004
∗ Berdasarkan harga konstan 1993
** Berdasarkan harga konstan tahun 2000
Gambar 33 Perkembangan Pertumbuhan dan Kontribusi Sektoral
terhadap PDRB Bali Tahun 1996 – 2004
Salah satu kebijakan pemerintah dalam menciptakan keamanan dilakukan
dengan melibatkan organisasi tradisional seperti desa pakraman dengan harapan
dapat meningkatkan kontrol terhadap lingkungannya.
Sistem kontrol yang
dikembangkan mengadopsi aturan dan norma dalam desa pakraman tersebut
yang sebagian besar dijiwai Agama Hindu.
Aturan dan norma-norma yang
mengatur tata cara berperilaku dan melaksanakan aktivitas sosial dan keagamaan
tersebut memang tidak bersifat kaku (rigid) karena masyarakat Bali mengenal
adanya desa, kala, patra1. Fleksibilitas tersebut merupakan salah satu faktor yang
mendukung upaya untuk mewujudkan kerukunan antar etnis dan pemeluk agama
yang berdomisili di Bali. Kerjasama dan kerukunan antar umat akan mewujudkan
1
Bersifat lokal dan sangat berbeda dari desa satu ke desa lainnya
142
kondisi yang kondusif bagi perkembangan kepariwisataan yang selama ini
merupakan sektor andalan dalam perekonomian di Bali.
Tabel 28 Struktur Perekonomian Bali, Tahun 2004
SEKTOR
Tingkat Tenaga kerja (%)
Pertumbuhan PDRB*
Kontribusi Sektoral (%)*
2002
32.2
2004
37.13
2002
3.67
2004
3.66
2002
22.26
2004
22.07
0.5
1.02
2.00
4.38
0.64
0.65
14.50
10.38
5.00
3.71
9.55
9.58
0.1
0.44
16.82
3.76
1.51
1.47
7.9
5.69
4.14
5.09
3.97
3.90
24.2
26.69
-0.08
4.65
30.18
30.63
5.1
4.69
4.54
5.17
10.80
10.28
1.2
1.17
3.60
7.97
7.24
7.32
14.3
12.79
2.50
4.02
13.84
14.10
1715452
1835165
3.04
4.62
(100)
(100)
Sumber: Bali dalam Angka, 2005; Data Bali Membangun, 2005
* Berdasarkan harga konstan tahun 2000
18423860
juta
19963243
juta
Pertanian
Pertambangan dan
Penggalian
Industri
Pengolahan
Listrik, Gas dan
Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel
dan Restoran
Pengangkutan dan
Komunikasi
Keuangan,
Persewaan dan Jasa
Perusahaan
Jasa-jasa
Bali (total)
Norma yang fleksibel dan bersifat universal2 karena didasarkan atas desa,
kala, patra, ternyata memberi peluang bagi sekelompok kecil masyarakat untuk
melakukan tindakan-tindakan yang mementingkan kelompok atau golongannya.
Dominasi kelompok atau golongan tertentu terhadap kelompok atau golongan lain
seringkali menimbulkan kesenjangan, konflik dan perlawanan dari kelompok
minoritas yang berpeluang menciptakan keadaan yang tidak aman.
Collier (1998) menyatakan bahwa semakin tinggi kepadatan penduduk
maka interaksi sosial semakin intensif karena jarak tidak lagi menjadi penghambat
untuk membangun interaksi tersebut. Aktivitas bersama yang dihasilkan dari
adanya interaksi sosial yang intensif tersebut dapat meningkatkan produktivitas
ekonomi. Sesungguhnya, pendapat Collier tersebut tidak sepenuhnya sesuai di
setiap wilayah karena tingginya kepadatan penduduk seringkali disertai dengan
adanya peningkatan konflik dan kriminalitas. Kepadatan penduduk yang tinggi
2
Adanya komersialisasi Ngaben Ngerit, komersialisasi Banten atau penggunaan tanah Laba Pura.
143
seharusnya disertai dengan penguatan norma-norma dan penetapan sanksi apabila
norma-norma tersebut tidak dipatuhi. Di Bali, perakitan dan peledakan bom justru
terjadi di daerah pariwisata paling padat di Bali yaitu Denpasar dan Kuta. Hal
tersebut menunjukkan bahwa tingginya kepadatan penduduk di wilayah maju
disertai dengan melemahnya norma dan sanksi sehingga sistem kontrol sosial
masyarakat terhadap aktivitas orang lain semakin melemah dan tidak efektif.
Pendapatan, Pemerataan Pendapatan dan Kemiskinan di Bali
Modal sosial berperan penting dalam upaya mengurangi jumlah
kemiskinan (Woolcock, 2000). Adanya hubungan yang erat antar individu dalam
suatu kelompok masyarakat, yang disebut modal sosial mengikat (bonding social
capital), menjadi aset penting untuk mengatasi risiko terutama ketika terjadinya
goncangan (shock) dalam perekonomian dan sering kali ia menjadi jaminan kredit
dan asuransi bagi si miskin. Sementara semakin banyak jaringan kerja yang
terbina antar wilayah dan antar karakteristik penduduk yang berbeda (modal sosial
menyambung atau bridging social capital) berperan mengurangi ketidakmerataan
distribusi pendapatan (Alesina dan La Ferara, 2000).
Menurut Granovetter
(1973), modal sosial menyambung (bridging social capital) yang dibutuhkan
untuk memperbaiki kinerja sosial ekonomi bukan modal sosial mengikat.
Masyarakat dalam suatu komunitas kecil lebih mampu membangun
interaksi dan komunikasi personal yang intensif sehingga dapat memilih individuindividu yang dapat dipercaya. Norma bersama dan resiprositas yang terbangun
dalam komunitas mendorong terjadinya pengelolaan sumber daya bersama
(common resource ) secara lebih efisien seperti terpeliharanya sistem irigasi dan
tanah desa (Ostrom dalam North, 1990). Norma dapat pula menjadi penghambat
ketika kelompok tersebut mengisolasi anggotanya dari pengaruh eksternal
maupun mengurangi akses individu lainnya untuk masuk dalam kelompok
tertentu seperti terjadi di Italia Selatan (Putnam, 1993). Menurut Knowles (2005),
modal sosial tidak hanya berperan positif dalam pembangunan ekonomi, namun
dapat pula berperan sebagai rem yang membatasi perkembangan teknologi dan
ide-ide baru.
144
Di Bali, ada indikasi peningkatan jumlah kemiskinan. Hingga tahun 2004,
jumlah keluarga (KK) miskin per 1000 penduduk terus meningkat. Pada periode
tahun 1998 hingga 2001, peningkatan jumlah KK miskin tersebut diikuti dengan
penurunan tingkat penggangguran sedangkan tahun 2002 dan 2004 terjadi
sebaliknya, peningkatan jumlah penduduk miskin diiringi dengan peningkatan
tingkat pengangguran. Hal ini disebabkan karena menurunnya jumlah kedatangan
wisatawan ke Bali sehingga banyak industri pariwisata yang melakukan
Jumlah penduduk Miskin
pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya.
60000
2004
2003
50000
2002
2001
40000
2000
30000
1999
1998
20000
10000
0
0
1
2
3
4
5
Tingkat Pengangguran di Bali (%)
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Sumber: Bali Membangun, 2005
Gambar 34 Tingkat pengangguran dan Jumlah Penduduk Miskin
Di Bali Tahun 1998 - 2004
Di sisi lain, pada periode tahun 1998 hingga tahun 2000, angka Gini ratio
terus menerus menurun yang menunjukkan bahwa distribusi pendapatan semakin
baik. Periode tersebut merupakan periode krisis di Indonesia. Pendapatan per
kapita mengalami tekanan dan berada pada kondisi stagnan. Tahun 2001, terjadi
peningkatan pendapatan per kapita yang tajam namun disertai pula dengan
distribusi pendapatan yang semakin memburuk (Gini ratio meningkat tajam).
Pada periode tahun 2001 hingga tahun 2004, saat terjadi peledakan bom di Bali,
pendapatan perkapita kembali stagnan walaupun berada pada tingkat yang lebih
tinggi dibandingkan dengan periode 1998-2000.
Distribusi pendapatan tahun
2004 kembali membaik dibandingkan dengan tahun 2001.
Keadaan tersebut
145
mengindikasikan bahwa membaiknya sektor pariwisata di Bali akan menyebabkan
pendapatan per kapita meningkat sebaliknya dstribusi pendapatan memburuk.
Dapat dinyatakan bahwa perbaikan sektor pariwisata hanya dinikmati oleh
kelompok tertentu.
0.24
Gini Ratio
0.235
2002
1998
2001
0.23
0.225
0.22
2003
1999
2004
0.215
0.21
2000
0.205
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
7000
Pendapatan Per Kapita Rp000
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
Sumber: Data Bali Membangun, 2005
Gambar 35
Distribusi Pendapatan Penduduk (Gini Ratio) dan Jumlah Keluarga
Miskin di Bali, Tahun 2004
Indeks Pembangunan dan Indeks Kemiskinan Manusia di Bali
Indikator keberhasilan pembangunan di suatu wilayah diukur berdasarkan
indeks pembangunan manusia (IPM) yang terdiri atas komponen daya beli, indeks
harapan hidup dan indeks pendidikan. Pada Tabel 29 ditunjukkan bahwa Badung
merupakan kabupaten dengan kinerja ekonomi terbaik di Bali ditinjau dari
kemampuannya mencapai pendapatan asli daerah (PAD) maupun pendapatan per
kapita tertinggi. Namun, indeks pembangunannya lebih rendah dibandingkan
dengan Kabupaten Tabanan dan Kota Denpasar. Tingginya pendapatan wilayah
ternyata tidak serta merta diikuti oleh kemampuan wilayah tersebut mencapai
tingkat pembangunan yang tinggi maupun menekan kemiskinan.
Tingginya angka harapan hidup di Kabupaten Badung merupakan
konsekwensi logis dari tingginya tingkat pendapatan per kapita penduduk. Angka
harapan hidup tersebut diukur berdasarkan dua komponen yaitu rata-rata bayi
yang lahir hidup dan rata-rata anak yang hidup dari ibu yang berusia 15-49 tahun.
Sebaliknya, Kabupaten Karangasem yang memiliki tingkat pendapatan per kapita
146
terendah juga memiliki angka harapan hidup terendah. Rendahnya angka harapan
hidup dapat disebabkan oleh tekanan faktor kemiskinan yang menyebabkan
rendahnya tingkat kesehatan serta keadaan gizi ibu dan anak di wilayah tersebut.
Tabel 29 Indikator Keberhasilan Pembangunan di Bali, 2004
Kabupaten/
Kota
Jembrana
7 949 226 000
PDRB Per
kapita
(Juta Rupiah)
6 056.07
71.9
23.5
Angka
Harapan
Hidup
68.60
Tabanan
33 970 626 324
5 019.78
70.4
16.8
68.30
Badung
114 056 502 993
12 593.26
70.1
15.4
72.85
Gianyar
43 958 660 000
6 763.53
67.7
18.2
68.27
Klungkung
10 276 421 541
6 709.84
64.6
17.9
64.40
6 400 114 949
4 910.15
66.7
19.4
69.23
Karangasem
23 228 140 850
3 959.81
59.3
25.7
63.43
Buleleng
19 697 819 000
4 917.03
63.9
17.4
69.37
Denpasar
85 840 426 925
8 964.74
74.9
12
71.03
Bangli
PAD
IPM
IKM
Sumber : Biro Keuangan Provinsi Bali, 2005; BPS, 2005
Indeks pembangunan manusia mempertimbangkan pula komponen
pengetahuan yang salah satu pengukurannya dilakukan melalui tingkat partisipasi
murni (Net Enrollment atau NER). Pada setiap strata pendidikan (SD, SMP dan
SMU), tingkat partisipasi murni di Kabupaten Badung berada dibawah Kabupaten
Tabanan.
Tabel 30 Tingkat Partisipasi Murni di Provinsi Bali, 2004
Kabupaten/Kota
NER-SD
NER-SMP
NER- SMA
Jembrana
100.05
80.26
35.53
Tabanan
109.81
77.36
40.43
Badung
107.30
69.73
34.57
Gianyar
95.89
75.62
27.17
Klungkung
98.43
62.62
41.40
Bangli
88.73
55.23
17.40
Karangasem
100.85
57.07
29.23
Buleleng
88.83
53.49
31.02
Denpasar
83.15
72.75
50.84
Sumber : Data Bali Membangun, 2005
147
Ukuran NER memang seringkali bias.
dijangkau
karena
prasarana
dan
sarana
Suatu wilayah yang mudah
transportasi
yang
memadai,
memungkinkan mobilitas penduduk yang tinggi khususnya untuk mengikuti
pendidikan yang lebih berkualitas di wilayah lain seperti terjadi di Kabupaten
Badung.
Rendahnya NER-SMP dan NER-SMA di Kabupaten Badung
dibandingkan Kabupaten Tabanan dan Kota Denpasar, tidak selalu menunjukkan
rendahnya minat masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Hal tersebut dapat
disebabkan oleh tingginya minat masyarakat di Kabupaten Badung untuk
bersekolah di sekolah-sekolah menengah yang ada di Kota Denpasar atau di
Kabupaten Tabanan karena mutu proses pendidikannya memang lebih baik
dibandingkan dengan sekolah menengah di Kabupaten Badung, terutama bagi
masyarakat Badung yang memiliki pendapatan tinggi.
Berdasarkan komponen indeks pembangunan manusia dapat diketahui,
bahwa rendahnya indeks pembangunan manusia di Bali disebabkan oleh relatif
rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat. Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) di Provinsi Bali tahun 2002 berada pada tingkat yang lebih rendah
dibandingkan dengan tahun 1996, walaupun lebih tinggi dibandingkan dengan
tahun 1999. Penurunan tersebut dapat disebabkan oleh melemahnya daya beli
masyarakat yang ditunjukkan oleh indikator melemahnya pengeluaran riil per
kapita. Berbagai krisis, yang dimulai sejak tahun 1997, menjadi salah satu faktor
yang menyebabkan melemahnya daya beli masyarakat tersebut.
Krisis yang
terjadi tidak saja berupa krisis ekonomi, namun juga krisis kepercayaan dan
kepemimpinan sehingga proses pemulihan ekonomi berjalan sangat lambat.
Perbandingan nilai IPM dan IKM dan berbagai komponennya disajikan pada
Tabel 31.
Tahun 1996, konsumsi riil per kapita di Bali mencapai angka tertinggi di
Indonesia namun angka melek huruf yang mampu dicapai hanya 79.4 persen
setingkat diatas Irian Jaya, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Timor
Timur, dan Jawa Timur (Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 1996).
Demikian pula dengan rata-rata lama sekolah hanya 6.3 menunjukkan bahwa ratarata pendidikan yang dicapai masyarakat hanya setingkat sekolah dasar (SD).
148
Seperti halnya dengan pembangunan manusia tahun 1996, komponen
pembangunan manusia tahun 1999 di Provinsi Bali mampu mempertahankan daya
beli per kapita yang tinggi (rangking 3 di Indonesia) namun persentase penduduk
yang melek huruf tetap rendah. Rata-rata lama pendidikan hanya 6.8 tahun, relatif
rendah bila dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Nilai tertinggi di
Indonesia untuk komponen rata-rata lama pendidikan mencapai 9.7 tahun. Hal
tersebut menunjukkan bahwa hingga tahun 1999, investasi masyarakat di bidang
pendidikan masih relatif rendah yang akan berpengaruh pada kualitas sumber
daya manusia di masa yang akan datang. Windia (2003) menyatakan bahwa
tingginya tingkat pengeluaran masyarakat Bali memang relatif lebih banyak
tercurah untuk kegiatan konsumtif dan upacara keagamaan.
Tabel 31
Komponen Indeks Pembangunan Manusia di Bali, 1996 – 2002
Komponen
1996
1999
2002
71.0
65.7
67.5
Usia Harapan Hidup (Tahun)
69.7
69.5
70.0
% Melek Huruf
79.4
82.7
84.2
Rata-rata Lama Pendidikan
6.3
6.8
7.6
609.0
587.9
596.3
18.5
18.7
17.3
Penduduk yang tidak mencapai usia 40 thn
8.2
11.7
9.5
Angka buta huruf dewasa
21.0
17.3
15.8
Penduduk tanpa akses pada air bersih
36.0
34.2
27.8
IPM
Pengeluaran Per kapita (ribu rupiah)
IKM
4.2
14.9
Penduduk tanpa akses pada fasilitas sarana
kesehatan
Sumber: Indeks Pembangunan Manusia, 1996; Laporan Pembangunan Manusia, 2004
19.8
Komponen pengukuran kemiskinan menunjukkan terjadinya peningkatan
persentase penduduk yang tidak mencapai usia 40 pada tahun 1999 dibandingkan
dengan tahun 1996. Keadaan perekonomian yang belum stabil dan diwarnai oleh
krisis ekonomi, berpeluang menjadi faktor penyebab tekanan hidup sehingga
meningkatkan persentase penduduk yang tidak mencapai usia 40 serta
menurunkan usia harapan hidup masyarakat. Komponen lain yang menunjukkan
terjadinya penurunan kualitas hidup adalah meningkatnya jumlah penduduk yang
149
tidak memiliki akses terhadap kesehatan. Komponen ini menjadi indikator bahwa
kesehatan menjadi barang langka yang hanya bisa diperoleh dengan biaya tinggi.
Masalah kemiskinan bukanlah masalah yang sederhana. Namun,
Pemerintah daerah seringkali menyederhanakan permasalahan tersebut dan
mendefinisikannya sebagai keadaan yang tidak berkecukupan. Sesungguhnya ada
aspek sosial yang melekat dalam kemiskinan tersebut.
Aspek sosial yang
berkaitan dengan kemiskinan tersebut meliputi empati, sikap saling bantu,
kemampuan membangun jaringan kerjasama, rasa percaya, yang semuanya
merupakan indikator terbangunnya modal sosial.
Analisis Modal Sosial Tingkat Mikro di Empat Kabupaten
Model yang dikembangkan untuk menganalisis keterkaitan modal sosial di
tingkat rumah tangga (tingkat mikro) dinyatakan seperti pada persamaan (10)
dengan beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan keadaan sosial budaya
setempat. Modal sosial diproksi dengan besarnya pengeluaran sosial masingmasing rumah tangga (sexp). Sementara tingkat kesejahteraan rumah tangga
diproksi dengan besarnya pendapatan (inc) yang diperoleh keluarga.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa modal sosial di tingkat mikro
di Bali dipengaruhi secara nyata (berdasarkan uji F) oleh tingkat kesejahteraan
rumah tangga (inc), tingkat kemajuan ekonomi wilayah (wil), dan kepadatan
jaringan kerja (nw). Namun dari ketiga variabel tersebut, hanya tingkat
kesejahteraan rumah tangga (inc) dan tingkat kemajuan ekonomi wilayah (wil)
yang berpengaruh nyata. Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin kuat modal
sosial yang mereka miliki. Meningkatnya pendapatan rumah tangga sebesar satu
rupiah akan meningkatkan modal sosial sebesar 0.04, ceteris paribus. Relatif
rendahnya dampak peningkatan pendapatan rumah tangga terhadap peningkatan
modal sosial tampaknya berkaitan erat dengan kuatnya norma yang berlaku
sehingga semua kegiatan menjadi beban bersama. Dengan kata lain, jumlah
pembonceng relatif rendah.
Tingkat kemajuan ekonomi wilayah memberi kontribusi positif terhadap
pembentukan modal sosial berarti modal sosial di wilayah belum berkembang
lebih rendah dibandingkan dengan modal sosial di wilayah maju.
Hal ini
150
memperkuat hasil analisis deskriptif yang telah dilakukan pada bab sebelumnya
dan sejalan dengan hasil penelitian Putnam (1983) di Italia.
Lebih jauh, tingkat kesejahteraan rumah tangga (inc) dipengaruhi secara
nyata oleh modal sosial (sexp), jumlah anggota keluarga yang bekerja (emp),
partisipasi dalam organisasi terpenting (part) dan kepadatan jaringan kerja (nw).
Namun dari keempat variabel tersebut, hanya tiga variabel yaitu jumlah anggota
keluarga yang bekerja (emp), partisipasi dalam organisasi terpenting (part) dan
modal sosial (sexp) yang berpengaruh nyata. Variabel jumlah anggota keluarga
yang bekerja tampak berpengaruh positif terhadap tingkat kesejahteraan. Semakin
banyak jumlah anggota keluarga yang bekerja maka semakin sejahtera rumah
tangga tersebut. Variabel modal sosial (sexp) ternyata juga berpengaruh positif
terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga. Meningkatnya pengeluaran untuk
modal sosial sebesar satu rupiah akan meningkatkan pendapatan rumah tangga
sebesar 2.366 rupiah, ceteris paribus.
Tabel 32 Hasil Analisis Keterkaitan antara Berbagai Variabel Modal Sosial
dan Pendapatan Rumah Tangga
Variabel
Konstanta
Jumlah anggota rumah tangga
yang bekerja (emp)
Kepadatan jaringan kerja (nw)
Partisipasi dalam pengambilan
keputusan kelompok (part)
Modal sosial (sexp)
Dummy wilayah (wil)
Pendapatan (inc)
Koefisien regresi dengan TSLS
Pendapatan (inc)
Modal Sosial (sexp)
-223092.9
(33847)
136352.7
(186217)
117195.2**
(64066)
13092.18
(37242)
-3381.959
(55275)
419808.9***
(76696)
2.388**
(1.277)
70173.84***
(22439)
0.040402***
(0.017)
Sumber: Analisis Data Primer, 2005
Angka dalam ( ) menunjukkan simpangan baku (standard deviation)
***nyata pada 5 persen ** nyata pada 10 persen *nyata pada 20 persen
Hasil analisis pada Tabel 32 menunjukkan adanya sifat saling
mempengaruhi antara modal sosial dan tingkat kesejahteraan rumah tangga
151
sehingga dapat disimpulkan bahwa pada tingkat mikro, ada keterkaitan yang nyata
antara modal sosial dan kesejahteraan rumah tangga.
Hasil penelitian ini
memperkuat hasil penelitian peneliti sebelumnya yang dilakukan secara parsial
seperti hasil penelitian Grootaert (2001) dan Brata (2004) yang menyatakan
bahwa partisipasi menyebabkan akses masyarakat terhadap sumber finansial
menjadi lebih besar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraaan.
Analisis Modal Sosial di Tingkat Makro
Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa modal sosial di tingkat
makro tidak hanya memberi dampak positif namun juga negatif.
Salah satu
komponen modal sosial di tingkat makro dinyatakan sebagai ketersediaan
organisasi olah raga dan budaya (Putnam, 1993). Modal sosial tertambat dalam
struktur sosial masyarakat. Di Bali, struktur sosial masih relatif kuat dan terjaga
hingga saat ini. Struktur sosial tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah
satunya adalah migrasi penduduk. Struktur sosial yang bersifat terbuka memberi
peluang yang lebih besar bagi individu untuk masuk ke suatu wilayah atau
sebaliknya meninggalkan wilayah tersebut. Oleh karenanya, penelitian ini
menggunakan persentase jumlah pendatang terhadap penduduk lokal sebagai
indikator modal sosial sesuai pendapat Glaeser, et al. (2002), Beugelsdijk dan
Smulders (2003), dan metode pengukuran modal sosial yang diusulkan Australian
Institute of Family Studies (2002). Semakin besar persentase jumlah etnis lain
terhadap penduduk lokal menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki tingkat
keterbukaan yang tinggi. Keragaman etnis yang tinggi juga menunjukkan telah
terbangunnya modal sosial antar individu dan organisasi yang heterogen.
Collier (1998) menyatakan bahwa modal sosial dapat diproksi dengan
tingkat kepadatan penduduk. Menurutnya, kepadatan penduduk yang tinggi akan
meningkatkan interaksi sosial dan akhirnya menumbuhkan rasa saling percaya.
Wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi akan memiliki modal sosial
masyarakat yang semakin kuat pula. Masyarakat yang memiliki modal sosial
yang kuat dicirikan oleh adanya ikatan yang kuat, kepadatan jaringan kerja yang
tinggi, kerjasama, rasa percaya dan resiprositas serta norma saling berbagi yang
sangat efektif untuk menekan adanya sikap oportunis. Rasa percaya ditentukan
152
oleh homogenitas, komposisi populasi dan tingkat ketidaksamaan (inequality).
Rasa percaya yang tinggi ditemukan pada wilayah dengan ras dan komposisi
populasi yang homogen serta tingkat inequality yang rendah.
Tabel 33 Karakteristik Sosial Demografi Wilayah Bali, 2004
Kabupaten/Kota
Kepadatan
Penduduk
Jiwa/km2
% jumlah
Etnis nonBali3
Jembrana
263
Tabanan
26.33
Jumlah Desa
pakraman per
100000
penduduk4
25
Organisasi
Sosial per
100000
penduduk5
26
474
4.12
67
23
Badung
853
5.75
34
22
Gianyar
1030
0.92
64
16
Klungkung
540
4.28
60
42
Bangli
403
2.00
91
40
Karangasem
464
4.84
59
20
Buleleng
445
8.01
27
25
Denpasar
3599
16.14
9
15
Sumber : Bali Dalam Angka, 2005
Berbeda dengan pendapat Collier (1998), kepadatan penduduk di berbagai
wilayah kabupaten/kota di Bali ternyata tidak disertai dengan tingginya kepadatan
organisasi. Pesatnya pembangunan berbagai sarana kepariwisataan dan tingginya
tingkat kesejahteraan penduduk di Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar dan
Kota Denpasar menjadi faktor penarik bagi penduduk dari kabupaten atau
provinsi lain untuk melakukan migrasi ke daerah-daerah tersebut sehingga
kepadatan penduduk di Kota Denpasar, Kabupaten Badung dan Kabupaten
Gianyar sebagai daerah tujuan migrasi, mencapai empat hingga sepuluh kali lebih
tinggi dibandingkan dengan kabupaten lainnya (Tabel 33). Namun kepadatan
jaringan kerja di ketiga wilayah tersebut relatif lebih rendah dibandingkan dengan
wilayah lainnya di Bali. Sekali lagi dapat ditunjukkan bahwa kuatnya keterikatan
penduduk dengan daerah asalnya, menghambat terbangunnya jaringan kerja baru
di daerah tujuan migrasi di Bali.
3
Digunakan sebagai indikator mengukur modal sosial (social capital)
Merupakan indikator modal sosial mengikat (bonding social capital)
5
Merupakan indikator norma saling bantu
4
153
Variabel respons terdiri atas beberapa indikator pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi wilayah meliputi indeks pembangunan manusia (IPM),
indeks kemiskinan manusia (IKM), laju pendapatan domestik regional bruto (laju
PDRB), pendapatan domestik regional bruto (PDRB) serta pendapatan asli daerah
(PAD).
Modal Sosial dan Kemiskinan
Badan Pusat Statistik (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai suatu
kondisi seseorang yang hanya dapat memenuhi makanannya kurang dari 2100
kalori per kapita per hari. Kemiskinan bersifat sangat majemuk yang meliputi
rendahnya tingkat pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin
kehidupan berkesinambungan, kelaparan dan kekurangan gizi, rendahnya tingkat
kesehatan, keterbatasan dan kurangnya akses kepada pendidikan dan layanan
pokok lainnya, kondisi tidak wajar dan kematian akibat penyakit yang terus
meningkat, kehidupan bergelandang dan tempat tinggal yang tidak memadai,
lingkungan yang tidak aman serta diskriminasi dan keterasingan sosial.
Kemiskinan juga dicirikan oleh rendahnya tingkat partisipasi dalam proses
pengambilan keputusan dan dalam kehidupan sipil, sosial dan budaya.
Seseorang bisa saja memiliki pendapatan yang telah memenuhi kebutuhan
minimum namun bila pendapatan tersebut jauh lebih rendah dari keadaan
masyarakat maka orang tersebut dalam keadaaan miskin. Kemiskinan dapat pula
dibedakan atas gejala ekonomi dan sosial.
Gejala ekonomi dari kemiskinan
penduduk ditunjukkan oleh rendahnya pendapatan sedangkan gejala sosial
ditunjukkan oleh tingginya jumlah kekurangan gizi, buta huruf, penyakit,
lingkungan hidup yang kotor, tingginya kematian bayi, rendahnya harapan hidup.
Indikator kemiskinan yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks
kemiskinan manusia (IKM). Analisis keterkaitan modal sosial dan kemiskinan
telah pula mempertimbangkan adanya sifat endogenitas antara kedua variabel
tersebut. Oleh karena itu, metode analisis data yang digunakan sama dengan
analisis keterkaitan modal sosial dan pembangunan yaitu metode two stage least
squares (TSLS).
Peluang F-statistik sangat nyata (0.00).
Nilai R2 0.5451
menunjukkan bahwa 54.51 persen variasi (keragaman) variabel tak bebas (IKM)
154
dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas dalam model, yaitu: pendapatan
wilayah (PAD), tingkat keadilan (Eq), indeks pembangunan manusia (IPM),
modal manusia (HC) dan modal sosial (SC). Secara matematis dapat dinyatakan
sebagai berikut:
IKM = 57.681* - 6.90E-06 PAD + 10.33 Eq – 0.591IPM*** - 1.21E-05 HC** + 0.106 SC
(7.80)
(8.36E-06)
(11.45) (0.12)
(6.56E-06)
(0.07)
Keterangan:
Angka dalam kurung menunjukkan simpangan baku (standard deviation)
***nyata pada 5 persen, ** nyata pada 10 persen
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa kemiskinan di Bali dipengaruhi
secara nyata oleh tingkat pembangunan (IPM) dan modal manusia (HC). Kedua
variabel tersebut memberi pengaruh yang negatif artinya semakin tinggi tingkat
pembangunan dan semakin banyak jumlah tenaga kerja berkualitas maka jumlah
kemiskinan akan semakin menurun. Meningkatnya indeks pembangunan sebesar
satu satuan akan menurunkan indeks kemiskinan sebesar 0.591 sedangkan
meningkatnya kualitas modal manusia sebesar satu satuan akan menurunkan
indeks kemiskinan 1.21E-05. Pada tingkat kepercayaan yang lebih rendah (85
persen) dapat dinyatakan bahwa modal sosial memberi pengaruh terhadap
keadaan kemiskinan di suatu wilayah (Lampiran 13).
Modal Sosial dan Pertumbuhan Ekonomi Wilayah
Pembahasan mengenai keterkaitan modal sosial dengan pertumbuhan
ekonomi wilayah diawali dengan pembahasan mengenai keterkaitan modal sosial
dengan produktifitas faktor total. Selain tenaga kerja dan modal fisik, total factor
productivity (TFP) diyakini memiliki peran yang nyata terhadap pencapaian
pertumbuhan yang tinggi.
Harris (2002) dalam Knowles (2005) menyatakan
bahwa ada 13 faktor yang berkaitan dengan TFP mencakup laju pajak marjinal,
laju inflasi, kesenjangan pendapatan, mobilitas tenaga kerja dan ukuran sektor
publik.
Namun Denison dalam Hayami (2000) berusaha menguraikan sisaan
(residual) dalam fungsi produksi dan menyatakan bahwa sisaan (residual) dalam
fungsi produksi yang selama ini dipahami sebagai total factor productivity (TFP)
tidak hanya mencakup perubahan teknologi namun juga aspek lain seperti
pendidikan, umur dan jenis kelamin. Berdasarkan pemikiran yang berkembang
155
mengenai sisaan tersebut, maka pelitian ini mencoba mengembangkan pengertian
TFP tersebut dengan mempertimbangkan indikator modal sosial dalam
penghitungan sisaan fungsi produksi tersebut.
Hasil analisis regresi di Bali menunjukkan bahwa TFP dipengaruhi oleh
modal sosial menyambung (SCbrd), modal sosial mengikat (SCbnd), tingkat
kemajuan ekonomi wilayah (wil), dan kepadatan jaringan kerja (Nw).
Dari
keempat variabel tersebut, hanya modal sosial menyambung (SCbrd), modal
sosial mengikat (SCbnd), dan tingkat kemajuan ekonomi wilayah (wil) yang
berpengaruh nyata. Secara matematis, hasil analisis dapat dirumuskan sebagai
berikut:
TFP
= -0.11 + 0.008 SCbrd*** + 2.13 SCbnd* + 0.41 wil* -1.69 Nw
(R2 =15%)
(1.01) (0.032)
(1.38)
(0.41)
(2.58)
Keterangan:
Angka dalam kurung menunjukkan simpangan baku (standard deviation)
*** nyata pada 5 persen ** nyata pada 5 ≤ p <10 persen *nyata pada 10 ≤ p <20 persen
Nilai R2 yang relatif kecil (0.15) menunjukkan rendahnya kemampuan
model menjelaskan keragaman TFP. Knowles (2005) menyatakan bahwa faktorfaktor yang berkaitan dengan TFP memang sebagian besar merupakan indikator
ekonomi bukan indikator sosial. Bagaimanapun, model yang dibangun tersebut
memiliki nilai F yang nyata artinya model cukup valid untuk menjelaskan bahwa
secara bersama-sama variabel sosial yang dipertimbangkan dalam model
berpengaruh nyata terhadap TFP. Bagaimanapun hanya indikator modal sosial
menyambung (bridging social capital atau SCbrd) yang berpengaruh positif dan
nyata terhadap TFP. Semakin kuat interaksi masyarakat etnis Bali dengan nonBali (yang dikenal dengan weak ties) dapat meningkatkan TFP.
Keterkaitan modal sosial dengan output (PDRB) dianalisis melalui model
double log terhadap output wilayah (PDRB) maupun output per kapita (PDRB per
kapita). Hasil analisis menunjukkan bahwa output wilayah (PDRB) dipengaruhi
secara nyata oleh variabel modal sosial mengikat (SCbnd), modal sosial
menyambung (Scbrd), kepadatan jaringan kerja (Nw), norma saling bantu (Nm)
dan tingkat kemajuan ekonomi (wil).
Sedangkan output (PDRB) per kapita
156
dipengaruhi secara nyata oleh modal sosial mengikat (SCbnd) dan Jaringan kerja
(Nw). Hasil analisis yang diperoleh dinyatakan pada Tabel 34.
Tabel 34 Hasil Analisis Variabel Modal Sosial terhadap Output dan Output per
kapita di Bali, Tahun 2005 (pendekatan Model Double Log)
Variabel Terikat
Variabel Bebas
Output (PDRB)
PDRB per kapita
5.26***
(0.22)
0.05
(0.09)
Modal sosial menyambung (SCbrd) yang
didasari oleh thin trust
13.83***
(0.91)
0.003
(0.086)
0.01
(0.107)
0.121
(0.16)
- 0.387**
(0.207)
Modal sosial mengikat
didasari oleh thick trust
-0.516
(0.377)*
-1.21***
(0.34)
Konstanta
Total faktor produktivitas (TFP)
Pertumbuhan tenaga kerja (PTK)
Pertumbuhan modal tetap (PMT)
Norma (Nm)
(SCbnd) yang
-0.36
(0.68)
0.469***
(0.21)
Jaringan Kerja (Nw)
-0.889**
(0.44)
Dummy Wilayah (wil)
-0.499*
(0.38)
0.502**
(0.29)
Keterangan:
Angka dalam kurung menunjukkan simpangan baku (standard deviation)
***nyata pada 5 persen, ** nyata pada 10 persen, *nyata pada 20 persen
Variabel Dummy bernilai 0 untuk wilayah belum berkembang; 1 untuk wilayah maju
Kepadatan jaringan kerja (Nw), modal sosial mengikat (SCbnd) yang
didasari oleh thick trust dan modal sosial menyambung (SCbrd) yang didasari
oleh thin trust, memberi pengaruh yang negatif artinya ada trade off antara tingkat
modal sosial dan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.
Hal ini
sesungguhnya bertentangan dengan konsep modal sosial yang berkembang.
Modal sosial di Bali kelihatannya menjadi suatu anomali namun Beugelsdijk dan
Smulders (2003) menjelaskan bahwa dampak jaringan kerja pada ekonomi dapat
bersifat positif atau negatif tergantung pada dominasi antara dampak negatif
crowding out waktu kerja dan dampak positif berupa proteksi terhadap perilaku
rent-seeking. Di Bali, ada indikasi bahwa ikatan-ikatan dalam organisasi adat
157
maupun non-adat telah menyebabkan kuatnya dampak crowding out sehingga
terjadi substitusi antara tenaga kerja untuk aktivitas produktif ke aktivitas sosial.
Sanksi moral yang ketat seringkali menyebabkan masyarakat di Bali
memilih untuk mengorbankan waktu kerja efektif mereka. Hal tersebut dilakukan
agar mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan adat. Oleh karenanya, semakin
luas jaringan kerja yang bersifat bonding maupun bridging akan berimplikasi
secara langsung terhadap pengurangan waktu kerja efektif yang akhirnya akan
berdampak terhadap output yang dapat dihasilkan.
Sebaliknya, norma saling bantu memberi pengaruh positif dan nyata.
Norma saling bantu menjadi jaminan sosial yang selalu tersedia saat dibutuhkan.
Kuatnya norma saling bantu tersebut akan menekan perilaku oportunistik seperti
rent-seeker dan free rider (pembonceng).
Nilai koefisien determinasi
menunjukkan 65 persen keragaman PDRB dapat dijelaskan oleh variabel-variabel
dalam model.
Hasil analisis terhadap keterkaitan berbagai komponen modal sosial dan
output per kapita (PDRB per kapita) menunjukkan bahwa modal sosial
menyambung (SCbrd) tidak lagi berpengaruh nyata, hanya modal sosial mengikat
(SCbnd) dan kepadatan jaringan kerja (Nw) yang berpengaruh nyata. Namun
demikian, pengaruh variabel modal sosial menyambung (SCbrd), modal sosial
mengikat (SCbnd) maupun kepadatan jaringan kerja (Nw) tetap saja negatif.
Nilai R2 menjadi lebih kecil yaitu 0.53 artinya hanya 53 persen keragaman output
per kapita yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas dalam model tersebut.
Hasil analisis keterkaitan modal sosial dengan indikator pertumbuhan
ekonomi wilayah menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB hanya dipengaruhi
secara nyata oleh pengeluaran riil per kapita masyarakat.
Semakin tinggi
pengeluaran riil, semakin besar konsumsi sehingga semakin tinggi pertumbuhan
ekonomi di Bali. Variabel lain seperti keadilan (Eq), modal manusia (HC) dan
modal sosial (SC) tidak berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan tersebut.
Pertumbuhan PDRB = 1.325385 + 1.013045Eq + 0.007921Yk*** - 7.76E-7HC - 0.01920 SC
(1.92)
(10.45)
(0.003)
(4.5E-6)
Keterangan:
Angka dalam kurung menunjukkan simpangan baku (standard deviation)
***nyata pada 5 persen
(0.02)
158
Modal Sosial dan Pembangunan Wilayah
Dua model dikembangkan untuk mengetahui peran modal sosial terhadap
pembangunan wilayah (IPM). Model pertama mempertimbangkan PAD sebagai
indikator kesejahteraan wilayah sedangkan model kedua mempertimbangkan
pendapatan per kapita (Yk) sebagai indikator kesejahteraan wilayah. Perbedaan
tersebut
dilakukan
dengan
pertimbangan
bahwa
PAD
adalah
manfaat
produktivitas pengelolaan yang dinikmati oleh komunitas sedangkan pendapatan
per kapita merupakan manfaat produktivitas pengelolaan yang dirasakan oleh
individual.
Hasil analisis menggunakan metode two stage least square pada program
SAS menunjukkan bahwa modal sosial di Bali memberi kontribusi yang positif
dan nyata terhadap tingkat pembangunan. Variabel keadilan (Eq), sumber daya
manusia (HC) dan modal sosial (SC), hanya mampu menggambarkan 12 - 13
persen dari variasi pembangunan di Bali. Kecilnya nilai R2 umumnya disebabkan
oleh jenis data panel yang digunakan dan menunjukkan bahwa masih banyak
faktor lain yang mempengaruhi pencapaian tingkat pembangunan manusia.
Secara terinci, hasil analisis dinyatakan pada Tabel 35.
Model pertama mempertimbangkan PAD sebagai salah satu faktor yang
mempengaruhi modal sosial. Hasil analisis regresi model pertama menunjukkan
bahwa tingkat pembangunan dipengaruhi secara nyata oleh modal sosial (SC) dan
tingkat keadilan (Eq) di wilayah tersebut. Sumber daya manusia (HC) ternyata
tidak berpengaruh secara nyata terhadap pembangunan di suatu wilayah. Semakin
tinggi tingkat keadilan dan modal sosial maka semakin tinggi pembangunan
ekonomi di Bali.
Sebesar 69 persen variasi modal sosial dapat dijelaskan oleh rasa percaya
(Tr), norma (Nm), jaringan kerja (Nw) dan pendapatan wilayah (PAD). Keempat
variabel tersebut memberi pengaruh nyata. Variabel rasa percaya (Tr), kepadatan
jaringan kerja (Nw) dan pendapatan wilayah (PAD) memberi pengaruh negatif
sedangkan norma saling bantu (Nm) berpengaruh positif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa semakin kuat rasa percaya, yang ditunjukkan oleh semakin
159
rendahnya jumlah konflik, akan menyebabkan semakin kuatnya modal sosial di
Bali.
Tabel 35
Hasil Analisis Keterkaitan Modal Sosial dan Pembangunan Wilayah
di Bali, Tahun 2005
Variabel
Konstanta
Tingkat keadilan (Eq)
Sumber daya manusia (HC)
Modal Sosial (SC)
Rasa percaya sesama etnis
(Tr)
Norma (Nm)
Jaringan Kerja (Nw)
Pendapatan wilayah (PAD)
Model 1
Model 2
Variabel Terikat
IPM
SC
-4.79E12***
13.41***
(7.79)
(2.98)
1.87E13**
(39.47)
344731
(0.00)
4.01E10***
(0.097)
-13.71***
(5.82)
Variabel Terikat
IPM
SC
61.36***
13.28***
(7.79)
(4.39)
8.31**
(39.43)
7.76E-6
(0.0.00)
0.22***
(0.096)
-21.26***
(7.05)
268.95***
(61.73)
-17.93***
(12.91)
-0.00006***
(0.00)
Pendapatan per kapita (Yk)
166.33***
(66.24)
2.31
(13.71)
-105E-14
(1.49E-12)
Keterangan:
Angka dalam kurung menunjukkan simpangan baku (standard deviation)
***nyata pada 5 persen, ** nyata pada 10 persen, *nyata pada 20 persen
Hasil analisis mengindikasikan bahwa semakin tinggi PAD maka semakin
lemah modal sosial. Dampak penurunan modal sosial akibat meningkatnya PAD
tersebut relatif kecil yaitu 0.00006. Namun hal tersebut tidak dapat diabaikan.
Penurunan modal sosial di wilayah-wilayah kaya dan maju berkaitan erat dengan
semakin banyaknya public space yang diprivatisasi sehingga mengurangi fasilitas
untuk berinteraksi seperti disewakannya banjar menjadi tempat berdagang, taman
kota menjadi mal dan ruko, privatisasi pantai oleh pemilik hotel, ketiadaan sarana
transportasi yang memadai, dan berkurangnya fasilitas olah raga. Menurut
Narayan (1999), public space merupakan tempat melakukan aktivitas sosial yang
mendorong masyarakat untuk memiliki weak ties. Beberapa faktor penyebab
yang mendorong terjadinya pengalihan public space tersebut adalah: (1)
rendahnya komitmen pemerintah yang ditunjukkan pula oleh rendahnya alokasi
160
pendapatan daerah yang digunakan untuk pembangunan sosial dan budaya
(4.55%); (2) tingginya biaya imbangan (opportunity cost) untuk membangun
public space.
Jaringan kerja (Nw) juga memberi kontribusi yang negatif terhadap modal
sosial di suatu wilayah. Semakin banyak jaringan kerja per 1000 penduduk berarti
interaksi sosial penduduk semakin intensif. Hal tersebut dapat meningkatkan
sistem kontrol masyarakat sehingga wilayah tersebut menjadi semakin ekslusif,
semakin sulit bagi pendatang untuk menetap di daerah tersebut. Dampak negatif
tersebut berupa menguatnya modal sosial mengikat relatif terhadap modal sosial
menyambung.
Semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat yang menetap di suatu
wilayah di Bali semakin kuat hambatan bagi pendatang untuk menetap di wilayah
tersebut.
Hambatan tersebut berupa tingginya biaya hidup, ketatnya seleksi
administrasi dan sebagainya. Data menunjukkan bahwa keterbukaan wilayah
belum berkembang memang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah maju yang
ditunjukkan oleh tingginya persentase etnis non-bali terhadap etnis bali di wilayah
belum berkembang seperti Kabupaten Jembrana dan Karangasem.
Berbeda dengan variabel rasa percaya antar etnis (Tr), jaringan kerja (Nw)
dan pendapatan wilayah (PAD), variabel norma (Nm) memberi kontribusi yang
positif terhadap modal sosial. Semakin kuat rasa saling bantu yang ditunjukkan
oleh semakin banyaknya organisasi sosial akan meningkatkan modal sosial.
Organisasi sosial umumnya memiliki satu tujuan yang sama (collective goals)
yaitu membantu golongan yang lemah dan miskin tanpa membedakan usia,
golongan, kasta, jenis kelamin, agama maupun suku. Oleh karena itu, norma
saling bantu yang kuat tidak saja membangun rasa percaya yang semakin kuat
namun juga menjadi jaminan sosial. Berbeda dengan model 1, pendapatan riil per
kapita (Yk) pada model 2 tidak berpengaruh nyata terhadap modal sosial. Modal
sosial hanya dipengaruhi secara nyata oleh rasa percaya (Tr) dan norma (Nm).
Kedua model menunjukkan hasil yang relatif sama, yaitu bahwa pembangunan
dipengaruhi secara nyata hanya oleh modal sosial (SC) dan distribusi pendapatan
(Eq). Konsistensi hasil tersebut menggambarkan bahwa modal sosial berpengaruh
secara positif dan nyata terhadap pembangunan. Kontribusi tenaga kerja (HC)
161
yang tidak nyata dapat disebabkan oleh pemilihan variabel instrumen maupun
pengukuran yang kurang sesuai.
Simpulan Akhir Bab
Di tingkat mikro, modal sosial berkaitan secara positif dan nyata, dengan
pendapatan rumah tangga. Semakin sejahtera rumah tangga semakin besar
kemampuannya untuk membangun modal sosial. Sesuai dengan Putnam (1993),
modal sosial dapat menjadi jaminan sosial bahwa seseorang akan memberi
bantuan saat dibutuhkan sehingga modal sosial yang kuat menunjukkan besarnya
peluang individu untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pula.
Menurut
Bourdieu (1986), modal sosial juga mampu menjelaskan mengapa modal ekonomi
(economi capital) dan modal budaya (cultural capital) yang sama dapat
menghasilkan keuntungan yang berbeda. Modal sosial individu di wilayah maju
lebih tinggi dibandingkan dengan modal sosial individu di wilayah belum
berkembang
Di tingkat makro, modal sosial di Bali memiliki keterkaitan nyata dengan
indeks pembangunan manusia (IPM). Modal sosial yang kuat akan mendorong
tercapainya pembangunan manusia yang lebih tinggi (sesuai dengan hasil
penelitian Sabatini, 2005).
Namun modal sosial tidak berkaitan dengan
kemiskinan maupun pertumbuhan ekonomi wilayah (pertumbuhan PDRB).
Modal sosial yang dibedakan atas modal sosial mengikat (bonding social capital)
dan modal sosial menyambung (bridging social capital) hanya memiliki
hubungan searah dengan output wilayah (PDRB) maupun output per kapita. Hasil
analisis menunjukkan bahwa modal sosial mengikat (bonding social capital),
modal sosial menyambung (bridging social capital) dan kepadatan jaringan kerja
(Nw) memberi kontribusi negatif terhadap output wilayah maupun output per
kapita. Hal ini tidak sepenuhnya bertentangan dengan pendapat Putnam (1993)
maupun Beugelsdijk dan Smulder (2003) namun juga tidak sepenuhnya
mendukung. Menurut Putnam (1993), modal sosial menyambung (bridging social
capital) memang seharusnya memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan
ekonomi wilayah sebaliknya modal sosial mengikat (bonding social capital)
menekan pertumbuhan ekonomi wilayah.
Namun, Beugelsdijk dan Smulder
162
(2003) serta Bartolini dan Bonati (2004) meyakini bahwa kontribusi negatif modal
sosial menyambung (bridging social capital) terhadap pertumbuhan ekonomi
wilayah dapat terjadi disebabkan oleh besarnya dampak crowding out waktu kerja
melebihi dampak positif yang berasal dari pengurangan biaya transaksi dan biaya
pengawasan terhadap perilaku rent-seeking. Bagaimanapun, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa modal sosial menyambung (bridging social capital)
berpengaruh positif terhadap total faktor produktivitas (TFP).
STRATEGI REVITALISASI MODAL SOSIAL
DI EMPAT KABUPATEN DI BALI
Modal Sosial: Dasar Penentuan Strategi
Dale dan Onyx (2005) menyatakan bahwa keterkaitan pembangunan
ekonomi wilayah dan modal sosial sulit untuk dipahami. Namun demikian, peran
modal sosial dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dapat dijelaskan
melalui beberapa mekanisme. Modal sosial memfasilitasi terjadinya proses adopsi
yang lebih cepat dan juga menekan biaya-biaya transaksi dalam proses produksi.
Penggunaan modal sosial yang tepat akan meningkatkan akses setiap orang untuk
memperoleh pengetahuan, pendidikan, kesehatan, rasa aman dan lapangan kerja
sehingga lebih sejahtera.
Hasil analisis terdahulu menunjukkan bahwa rasa percaya masyarakat di
Bali berada dalam kategori relatif lemah dibandingkan beberapa negara lainnya di
dunia, kepadatan organisasi pada kategori sedang dan norma pada kategori kuat.
Di Bali, modal sosial mengikat (bonding social capital) dan modal sosial
menyambung (bridging social capital) memberi pengaruh negatif terhadap
pertumbuhan (PDRB). Modal sosial mengikat (bonding social capital) yang
berlandaskan atas rasa percaya terhadap sesama etnis (thick trust), berbeda nyata
dan lebih kuat dibandingkan dengan modal sosial menyambung (bridging social
capital) yang berlandaskan atas rasa percaya terhadap etnis lain (thin trust).
Perbedaan tersebut perlu memperoleh perhatian mengingat kuatnya ikatan
bonding tidak selalu memiliki dampak yang positif terhadap pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi wilayah (Iyer et al, 2005).
Rendahnya rasa percaya terhadap etnis lain (thin trust) akan menimbulkan
sifat saling mencurigai dan berpotensi menimbulkan konflik antar etnis padahal
konflik-konflik yang bersifat potensial maupun laten, harus dihindari mengingat
Bali sebagai daerah tujuan wisata yang memerlukan keamanan dan kenyamanan.
Oleh karenanya, keseimbangan antara thick trust dan thin trust tersebut harus
terus dijaga. Alesina dan La Ferrara (2000), menyatakan bahwa melemahnya rasa
percaya dapat disebabkan oleh pengalaman yang menimbulkan traumatis. Indeks
dari berbagai komponen modal sosial ditunjukkan pada Tabel 36.
164
Tabel 36 Indeks Rasa Percaya, Kepadatan Jaringan Kerja dan Norma
di Empat kabupaten di Bali, Tahun 2005
Komponen
Nilai paling Nilai tidak
diharapkan diharapkan
Rata-Rata
Indeks
2
1
1.16
0.16
1. Bonding (Thick Trust)
5
1
3.21
0.55
2. Bridging (Thin Trust)
5
1
1.81
0.16
3. Pemerintah kabupaten
5
1
2.48
0.37
4. Pemerintah provinsi
5
1
2.27
0.32
5. Polisi
5
1
2.71
0.43
6. Guru
5
1
3.35
0.59
7
1
3.19
0.37
4
1
3.51
0.84
2. Partisipasi
4
1
2.68
0.56
Norm individu
5
1
4.09
0.77
1. Titip anak
4
1
3.60
0.95
2. Free rider
5
1
3.85
0.71
Rasa Percaya individu
Kepadatan Jaringan
Kerja individu
1. Jumlah Teman
Sumber : Analisis Data Primer, 2005
Di antara berbagai profesi yang ada, profesi guru memperoleh rasa percaya
tertinggi dari masyarakat Bali.
Secara umum, rasa percaya terhadap semua
profesi berada pada kategori sedang. Rasa percaya masyarakat terhadap kinerja
pegawai provinsi memiliki indeks terendah sedangkan rasa percaya terhadap
kinerja pegawai kabupaten setingkat lebih tinggi.
Rendahnya rasa percaya
tersebut dapat menjadi faktor penghambat bagi upaya peningkatan partisipasi
masyarakat dalam program-program pembangunan.
Partisipasi anggota masyarakat di Bali dalam kegiatan bersama berada
pada kategori sedang.
masyarakatnya.
Demikian pula kepadatan jaringan kerja (organisasi)
Partisipasi merupakan faktor penting dalam proses difusi
informasi dan kelekatan sosial. Indikator-indikator tersebut dan tingginya indeks
jumlah teman dekat menunjukkan bahwa intensitas hubungan sosial di Bali relatif
kuat.
Norma yang masih mengikat kuat dalam masyarakat Bali adalah norma
saling memberi bantu fisik terutama saat adanya kegiatan adat. Selain itu, gotong
royong untuk menjaga lingkungan masih sering dilakukan. Menitipkan anak dan
165
rumah pada tetangga, relatif masih mudah dilakukan. Namun demikian, hal yang
tidak diharapkan sudah mulai tumbuh dalam masyarakat yaitu adanya individu
individu yang bersikap sebagai pembonceng (free rider). Indeks free rider di Bali
termasuk kategori tinggi. Sebagian besar masyarakat merasa ada yang telah
memanfaatkan kebaikan yang mereka berikan pada pihak lain. Dengan kata lain,
sudah mulai tumbuh jiwa asosial dalam masyarakat Bali. Salah satu faktor yang
dapat diduga menyebabkan hal tersebut adalah lemahnya sanksi yang dikenakan
terhadap anggota dalam suatu organisasi yang melalaikan tugasnya. Sanksi moral
yang dahulu sangat efektif karena malu dan takut bila dikucilkan, saat ini mulai
melemah. Menurunnya keefektifan sanksi moral disebabkan oleh munculnya
alternatif untuk menghindari sanksi tersebut seperti berdomisili pada dua desa
pakraman maupun membeli ayahan1. Gejala tumbuhnya pembonceng tersebut
seharusnya ditekan sejak awal, jika tidak, akan memberi dampak negatif terhadap
keberadaan modal sosial masyarakat.
Pada bab sebelumnya telah ditunjukkan pula bahwa rasa percaya, yang
menjadi dasar untuk membangun kerjasama, merupakan faktor yang memberi
kontribusi nyata terhadap variabel modal sosial dan pertumbuhan ekonomi di
Bali. Namun hasil analisis menunjukkan pula bahwa indeks rasa percaya
masyarakat terhadap etnis lain, pegawai pemerintah provinsi maupun kabupaten,
relatif rendah.
Oleh karenanya, diperlukan suatu sikap politik yang mampu
menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat terutama berkaitan
dengan upaya-upaya meningkatkan investasi di bidang sosial (revitalisasi modal
sosial), terutama dalam rangka pemberdayaan masyarakat.
Berkaitan dengan upaya membangun modal sosial, muncul pertanyaan
mengenai strategi apakah yang harus dipilih oleh masyarakat dan pemerintah di
Bali untuk merevitalisasi modal sosial? Bekerjasama ataukah tidak bekerjasama?
Bekerjasama seringkali merupakan hasil dari terbangunnya rasa percaya.
Williamson (1988) dalam Casson dan Godley (2000), menyatakan bahwa rasa
percaya tidak dapat ditumbuhkan oleh salah satu sumber saja. Seringkali rasa
saling percaya tumbuh berdasarkan hubungan yang setara antara masyarakat dan
pemerintahnya.
1
Oleh karenanya, keputusan untuk bekerjasama berarti semua
Ayahan adalah kewajiban masyarakat untuk memberi bantuan fisik maupun finansial kepada
tetangga atau kelompok pada saat dilaksanakan kegiatan adat.
166
pihak harus membangun kesetaraan dan
menanggung biaya sosial secara
bersama-sama. Berapa besar ganjaran (payoff) yang diperoleh setiap aktor atau
stakeholder pembangunan di Bali jika mereka memilih strategi bekerjasama atau
tidak bekerjasama? Apakah strategi tersebut dapat menghasilkan suatu keadaan
keseimbangan Nash (Nash Equilibrium) yaitu keadaan dimana tidak ada peluang
bagi masing-masing pihak untuk mengubah strateginya karena strategi yang telah
dipilih merupakan strategi terbaik?
Strategi Membangun Modal Sosial:
Bekerjasama (cooperative) atau Tidak Bekerjasama (non-cooperative)
Bekerjasama adalah salah satu cara untuk menguatkan modal sosial.
Kerjasama sesungguhnya telah mencakup ketiga komponen dalam modal sosial
yaitu rasa percaya, jaringan kerja dan norma. Namun membangun kerjasama
untuk memelihara dan menguatkan modal sosial yang merupakan common pool
resources membutuhkan kemauan politis (political will) yang besar. Sekelompok
orang tidak akan dapat membangun kerjasama jika tidak ada organisasi yang
mewadahi mereka. Prasyarat terbangunnya organisasi adalah adanya rasa percaya
dan norma yaitu aturan yang mengatur cara mereka berperilaku dalam organisasi
tersebut.
Membangun dan menguatkan modal sosial di Bali tidak hanya dapat
dilakukan oleh masyarakat saja. Paling tidak, ada tiga aktor (player) yang terlibat
dalam upaya penguatan modal sosial di Bali yaitu pemerintah kabupaten,
pemerintah provinsi dan masyarakat.
Secara teoritis, Schubick (1995)
menyatakan bahwa bekerjasama hanya akan menguntungkan apabila memenuhi
kriteria berikut:
ν (S∪T) ≥ ν (S) + ν(T) ;
dimana:
ν
=
ν (S∪T)
ν (S)
ν(T)
S,T
=
=
=
=
adalah fungsi karakteristik (characteristic function) yang
diformulasikan oleh John von Neuman.
manfaat yang diperoleh apabila bekerjasama
manfaat yang diperoleh individu S bila memutuskan bekerja sendiri
manfaat yang diperoleh individu T bila memutuskan bekerja sendiri
aktor yang terlibat dalam interaksi
167
Perilaku setiap aktor dalam suatu organisasi dapat digambarkan dengan
baik oleh Axelrod (1984) melalui Teori Permainan (Game Theory). Permainan
(Game) adalah suatu situasi strategis dimana terdapat keterkaitan antar dua atau
lebih aktor yang membuat keputusan. Masing-masing aktor memperoleh
penghargaan (reward) atas keputusannya. Nilai dari penghargaan (reward) yang
diperoleh tergantung pada keputusan yang dibuat oleh pihak lain (Kimbrough,
2002).
Analisis permainan ini menjadi penting, mengingat perilaku ekonomi
masyarakat di Bali masih terikat kuat pada norma-norma bersama (collective
norms). Sebagai contoh keterikatan masyarakat dengan daerah asalnya karena
adanya sanggah kemulan1. Seringkali masyarakat di Bali mengorbankan waktu
kerja agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan bersama (collective action) yang
berkaitan dengan adat dan agama di daerah asalnya. Keputusan rumah tangga dan
individu dalam membentuk kelompok dan berorganisasi pun masih dipengaruhi
oleh struktur sosial tradisional (sistem kasta). Batasan-batasan norma tersebut
menyebabkan keputusan masyarakat dan individu tidak hanya didasarkan oleh
rasionalitas.
Perilaku pemain tidak lagi mengarah pada sikap altruism namun
menuju sikap yang resiprokal karena sikap tersebut menghindarkan mereka dari
tindakan tereksploitasi oleh pihak lain (pembonceng).
Tabel 37 Bantuan Dana per Tahun untuk Desa Pakraman
di Empat Kabupaten di Bali, Tahun 2004
Pengeluaran
Sosial
Jembrana
Badung
Gianyar
Karangasem
Provinsi
25 000 000
25 000 000
25 000 000
25 000 000
Kabupaten
10 000 000*)
100 000 000
12 000 000
10 000 000
Masyarakat
per 100 pddk
9 904 400
19 005 900
11 415 700
8 100 000
Sumber : Data Primer, 2005
*) bukan bantuan rutin, nominalnya bergantung pada kebutuhan desa pakraman
1
Tempat masyarakat Hindu Bali memuja Tuhan dan leluhurnya.
168
Selama ini, pemerintah kabupaten dan provinsi melakukan investasi sosial
yang bertujuan untuk memelihara dan menjaga keberlangsungan aktivitas sosial
dalam organisasi sekaa, desa pakraman dan subak. Besarnya investasi sosial
tersebut ditetapkan secara eksogen berdasarkan kemampuan keuangan pemerintah
bukan berdasarkan hasil kajian teoritis terhadap optimasi biaya sosial yang
dibutuhkan (Tabel 37). Kabupaten yang memiliki PAD tinggi memberikan dana
operasional yang tinggi pula kepada masing-masing desa pakraman dan
organisasi lain yang ada di wilayahnya, sebaliknya kabupaten yang memiliki PAD
rendah memberi bantuan jauh lebih rendah, sesuai dengan kemampuannya.
Hingga saat ini, ada kecenderungan bahwa sebagian besar dana tersebut
digunakan untuk biaya operasional dan pemeliharaan bangunan fisik (tempat
persembahyangan bersama) sedangkan investasi sosial untuk membangun dan
menguatkan modal sosial melalui aktivitas bersama relatif diabaikan.
Proksi
yang
digunakan
sebagai
ukuran
keterlibatan
masyarakat,
pemerintah kabupaten dan provinsi dalam membangun modal sosial dalah
besarnya kontribusi masing-masing pihak dalam aktivitas sosial yang dinyatakan
dengan istilah pengeluaran sosial (social expenditure).
Semakin tinggi
pengeluaran sosial berarti semakin tinggi investasi yang dialokasikan untuk
aktivitas sosial sehingga dapat diharapkan bahwa semakin tinggi pula stok modal
sosial dalam kelompok tersebut. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka dapat
ditentukan besarnya ganjaran (payoff) dari modal sosial di masing masing
kabupaten.
Ganjaran masing-masing aktor dalam analisis permainan untuk
membangun modal sosial di Bali ditunjukkan pada Tabel 12 (Bab Metodologi
Penelitian).
Sesungguhnya terdapat beberapa strategi yang dapat dipilih oleh masingmasing aktor yang berperan dalam proses pembangunan modal sosial, yaitu
bersikap altruism, resiprokal ataupun selfish. Namun dalam penelitian ini, ketiga
sikap tersebut dikelompokkan atas dua strategi, yaitu: (1) tidak bekerjasama; dan
(2) bekerjasama. Memilih bekerjasama berarti aktor harus bersedia saling bantu
dalam membangun modal sosial dengan cara (1) pemerintah provinsi dan
kabupaten memfasilitasi terbangunnya modal sosial seperti penyediaan fasilitas
fisik dan bantuan dana; (2) masyarakat menjaga hubungan sosialnya dengan
169
menjaga norma saling bantu dan interaksi (silahturahim) dengan sesamanya.
Ketiga aktor yakni pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan masyarakat
harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membangun modal sosial karena modal
sosial tidak akan terbangun secara sepihak.
Modal sosial yang tidak terjaga dan terpelihara akan menyebabkan adanya
situasi dan kondisi tidak aman yang menekan produktivitas kerja masyarakat di
semua sektor perekonomian, terutama sektor kepariwisataan sebagai sektor
dominan di Bali.
Ketidakamanan akan berakibat pada menurunnya jumlah
wisatawan dan lama tinggal wisatawan di Bali. Apabila pemerintah kabupaten
dan masyarakat bekerjasama, maka ganjarannya akan berupa peningkatan
pendapatan rumah tangga dan regional. Sebaliknya, keputusan masyarakat untuk
tidak bekerjasama berarti bertindak selfish atau masing-masing individu tidak
membangun modal sosialnya yang berimplikasi pada rendahnya pengeluaran
untuk aktivitas sosial masyarakat. Keputusan untuk tidak bekerjasama memang
akan melemahkan pengawasan terhadap orang lain sehingga memungkinkan
munculnya berbagai konflik yang memicu rasa ketidakamanan dan situasi yang
tidak kondusif untuk melaksanakan aktivitas produktif.
Situasi yang tidak
kondusif tersebut akan menyebabkan hilangnya sebagian pendapatan masyarakat
karena menekan perkembangan industri pariwisata seperti turunnya kunjungan
wisata dan semakin pendeknya length of stay wisatawan.
Analisis terhadap upaya membangun modal sosial di Bali dilakukan
melalui extensive game analysis, yang memiliki karakteristik sebagai berikut: (1)
ada pemain-pemain dalam permainan (player), (2) masing-masing pemain
bergerak sesuai dengan informasi yang dimilikinya (strategy), dan (3) ganjaran
(payoff) yang diterima oleh masing-masing pemain untuk setiap kombinasi
gerakan-gerakan yang dipilih oleh para pemain (Anwar, 2002).
Penentuan
pemerintah kabupaten sebagai aktor utama disesuaikan dengan pertimbangan
adanya kebijakan otonomi daerah yang memberi otonomi kepada pemerintah
kabupaten untuk bertindak sebagai penentu kebijakan. Setiap keputusan yang
diambil oleh masing-masing aktor dapat dinyatakan sebagai berikut:
170
δij
ij ≠ ji
dimana:
δ ij
=
B
=
Sexp =
i,j
=
⎧ Bekerjasama (cooperative), Jika B≥Sexp
⎫
=⎨
⎬
Tidak
Bekerjasama
(non-cooperative),
jika
B<
Sexp
⎩
⎭
keputusan yang diambil oleh aktor i terhadap aktor j
keuntungan (benefit) yang diterima dari interaksi sosial yang terbangun
biaya sosial (social expenditure) yang harus ditanggung oleh aktor
aktor dalam interaksi sosial
Analisis permainan dilakukan melalui Program Gambit. Hasil analisis
tersebut dibagi dalam dua kelompok yaitu: (1) permainan yang menganalisis
interaksi antara pemerintah kabupaten dan masyarakat, dan (2) permainan yang
menganalisis interaksi antara pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi.
Hasil analisis permainan menunjukkan bahwa terdapat dua keseimbangan Nash
(Multiple Nash Equilibria) dalam setiap interaksi antara pemerintah kabupaten
dan masyarakat, dan antara pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi. Nash
Equilibrium adalah keadaan dimana setiap peserta dalam permainan memilih
strategi terbaik bilamana strategi pihak lain diketahui (Anwar, 2002). Secara lebih
spesifik dapat dinyatakan bahwa Nash Equilibrium adalah suatu keseimbangan
dimana setiap pemain tidak dapat lagi mengubah strategi permainannya dengan
tujuan untuk meningkatkan keuntungannya.
Gambar 36 Ganjaran bagi Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Jembrana
dalam Membangun Modal Sosial Tahun 2005
Adanya dua keseimbangan Nash ( Nash Equilibrium) yang terjadi dalam
setiap interaksi yang dianalisis menunjukkan bahwa interaksi antar aktor
pembangunan di wilayah berkembang dan wilayah maju tidak berbeda dan akan
171
menghasilkan outcome yang sama, yaitu Dua Nash Equilibrium. Keseimbangan
tersebut tercapai apabila pemerintah kabupaten memilih strategi untuk
bekerjasama, baik dengan masyarakat maupun dengan pemerintah provinsi.
Demikian pula halnya dengan strategi masyarakat dan pemerintah provinsi, yaitu
bekerjasama dengan pemerintah kabupaten. Pilihan untuk bekerjasama memiliki
konsekwensi menanggung bersama-sama biaya untuk membangun modal sosial.
Apabila pemerintah Kabupaten Jembrana memilih untuk bekerjasama
dengan masyarakat maka ganjaran yang diperoleh sebesar Rp 1 879.23 juta per
tahun dan masyarakat memperoleh rataan peningkatan pendapatan riil sebesar Rp
3 478 700 per kapita per tahun.
Rataan biaya sosial yang dikeluarkan oleh
masyarakat adalah sebesar Rp 99 044 per bulan untuk membangun modal sosial
individu. Pihak pemerintah kabupaten harus mengalokasikan dana sebesar Rp
630 juta rupiah per tahun untuk investasi modal sosial yang merupakan biaya
untuk membangun atau memelihara prasarana dan sarana yang dapat digunakan
untuk melakukan aktivitas bersama.
Gambar 37 Ganjaran bagi Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Badung dalam
Membangun Modal Sosial Tahun 2005
Strategi pemerintah daerah Kabupaten Badung untuk bekerjasama dengan
masyarakatnya dalam membangun modal sosial juga menghasilkan ganjaran yang
berupa rataan peningkatan pendapatan wilayah sebesar Rp 56 097 juta per tahun,
dan rataan peningkatan pendapatan riil bagi masyarakat sebesar Rp 6 198 480 per
kapita per tahun atau Rp 516 540 per kapita per bulan.
172
Gambar 38 Ganjaran bagi Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Gianyar dalam
Membangun Modal Sosial Tahun 2005
Keseimbangan Nash dalam interaksi antara pemerintah daerah (pemda) di
Kabupaten Gianyar dan masyarakat juga berjumlah dua yaitu bila pemda
bekerjasama dan masyarakat juga bekerjasama. Ganjaran untuk pemda Gianyar
berupa rataan peningkatan pendapatan wilayah (PDRB) sebesar Rp 34 440.31 juta
per tahun sedangkan ganjaran bagi masyarakat berupa rataan peningkatan
pendapatan rumah tangga sebesar Rp 233 930 per bulan .
Gambar 39 Ganjaran bagi Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Karangasem
dalam Membangun Modal Sosial Tahun 2005
Sama halnya dengan pemerintah daerah (pemda) lainnya, strategi dominan
bagi pemda Karangasem adalah melakukan kerjasama dengan menyediakan
fasilitas bagi masyarakat untuk berinteraksi dalam kelompok dengan cara
melakukan investasi modal sosial. Strategi tersebut akan memberikan ganjaran
sebesar Rp 37 000 juta per tahun kepada pemerintah daerah dan rataan
peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar Rp 83 100 per bulan.
173
Secara umum, dapat dinyatakan bahwa keputusan pemerintah kabupaten
untuk bekerjasama dengan masyarakatnya dalam membangun dan menguatkan
modal sosial akan memberikan tambahan pendapatan bagi wilayah danrumah
tangga. Tambahan pendapatan yang diperoleh jauh melebihi tambahan pendapatan
masing-masing pihak apabila memilih strategi tidak bekerjasama (noncooperative) sesuai dengan Schubick (1995).
Analisis
permainan
antara
pemerintah
kabupaten
dan
provinsi
dikelompokkan atas: (1) pemerintah kabupaten di wilayah maju (Badung) dengan
pemerintah provinsi; (2) pemerintah kabupaten di wilayah belum berkembang
(Karangasem) dengan pemerintah provinsi. Hasil analisis menunjukkan hal yang
sama dengan hasil analisis permainan antar pemerintah kabupaten dan
masyarakat. Strategi terbaik yang harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten di
wilayah belum berkembang dan di wilayah maju terhadap pemerintah provinsi
adalah bekerjasama.
Demikian pula sebaliknya, pemerintah provinsi harus
mengambil kebijakan-kebijakan yang mampu membangun kerjasama dengan
pemerintah kabupaten.
Gambar 40 Ganjaran bagi Pemerintah kabupaten di Wilayah Maju dan Pemerintah
Provinsi Bali dalam Membangun Modal Sosial Tahun 2005
Secara keseluruhan, hasil analisis game menunjukkan bahwa kerjasama
adalah strategi terbaik yang harus dipilih oleh masyarakat, pemerintah kabupaten
maupun provinsi. Implikasi hasil penelitian ini menunjukkan krusialnya upaya
untuk menekan egoisme regional yang tumbuh seiring dengan penetapan
kebijakan otonomi daerah sejak 2001.
Kebijakan-kebijakan kabupaten yang
bersifat mementingkan wilayah sendiri dan bersikap non-cooperative sudah
seharusnya dihentikan. Demikian pula dengan kebijakan pemerintah Provinsi
174
Bali yang bersifat bias kepada wilayah atau pusat-pusat pengembangan pariwisata
sebaiknya ditiadakan lagi.
Gambar 41 Ganjaran Pemerintah kabupaten di Wilayah Belum Berkembang dan
Pemerintah Provinsi Bali dalam Membangun Modal Sosial Tahun
2005
Hasil penelitian ini juga mendukung pendapat Coleman (1988) yang
menekankan pentingnya struktur yang bersifat tertutup (closure) untuk
mengefektifkan norma.
Struktur sosial yang bersifat closure dapat dibangun
melalui organisasi-organisasi yang bersifat antar wilayah. Organisasi tersebut
tidak hanya melibatkan partisipasi masyarakat namun juga para eksekutif dan
legislatif. Dengan demikian, norma di satu kabupaten tidak akan bertentangan
dengan norma di kabupaten lainnya.
Bentuk closure yang dimaksud adalah
sebagai digambarkan pada Gambar 42 berikut:
Pemerintah
kabupaten A
Pemerintah
kabupaten B
Organisasi Ai
Pemerintah
kabupaten A
Pemerintah
kabupaten B
Organisasi Bj
Organisasi Ai
Masyarakat A
Organisasi Bj
Masyarakat B
Masyarakat A
(a)
Masyarakat B
(b)
Gambar 42 Perbedaan antara struktur sosial yang bersifat non-closure (a) dan
struktur sosial yang bersifat Closure (b)
175
Kegiatan bersama lebih mudah diorganisasikan di wilayah yang relatif
homogen. Namun di sisi lain, heterogenitas merupakan alat peredam terjadinya
pemberontakan antar masyarakat sipil (perang saudara) dengan pemerintah karena
keragaman etnis akan menumbuhkan sistem kontrol yang baik antar etnis tersebut.
Oleh karena itu, keragaman etnis tidak harus dihindari melainkan harus
dipertahankan melalui kebijakan-kebijakan yang inklusif dan berkeadilan.
Simpulan Akhir Bab
Modal sosial merupakan modal yang terbangun dari interaksi sosial. Oleh
karenanya, seringkali terjadi konflik kepentingan antar individu yang terlibat di
dalam interaksi tersebut yang penyelesaiannya hanya dapat dilakukan melalui
interaksi yang berulang-ulang. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat dua
keseimbangan Nash dalam setiap interaksi yang dibangun antara masyarakat dan
pemerintah kabupaten, yaitu (1) pada saat pemerintah kabupaten memutuskan
untuk memilih strategi bekerjasama (cooperative) dan masyarakat merespons
dengan memilih strategi bekerjasama (cooperative) pula, dan (2) saat pemerintah
kabupaten memutuskan untuk tidak bekerja sama (non-cooperative) yang
direspons oleh masyarakat dengan sikap non-cooperative pula. Namun ganjaran
tertinggi hanya akan dicapai apabila semua pihak memilih strategi untuk
bekerjasama. Hal yang sama juga terjadi pada interaksi antara pemerintah
kabupaten dan pemerintah provinsi. Singkatnya, adanya biaya sosial yang harus
bersedia ditanggung oleh masing-masing aktor dalam strategi bekerjasama
ternyata jauh lebih rendah daripada manfaat sosial. Apalagi jika diperhitungkan
pemanfaatan ruang sosial yang menyertainya yang menambah suburnya
demokratisasi.
Download